7 Destinasi Wisata Alam di Indonesia yang Ramah Lingkungan

Nayla Syarifah Nurfauziyah

Destinasi Wisata Alam di Indonesia yang Ramah Lingkungan, Traveling Tanpa Merusak Alam: Panduan Lengkap Eco-Travel untuk Pemula
Traveling Tanpa Merusak Alam: Panduan Lengkap Eco-Travel untuk Pemula

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan alam terbesar di dunia. Dari Sabang hingga Merauke, terdapat ribuan destinasi wisata yang menawarkan panorama luar biasa. Namun, seiring meningkatnya aktivitas pariwisata, isu kerusakan lingkungan menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2024, sekitar 37% wisatawan domestik kini mulai memilih destinasi berbasis eco-tourism karena dinilai lebih berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal (sumber: Dinas Lingkungan Hidup Banjarbaru).

Destinasi Wisata Alam di Indonesia yang Ramah Lingkungan
Destinasi Wisata Alam di Indonesia yang Ramah Lingkungan

Tren ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap bumi. Wisata ramah lingkungan atau ekowisata menekankan keseimbangan antara rekreasi dan konservasi. Wisatawan dapat menikmati alam sekaligus berperan menjaga kelestarian flora, fauna, dan budaya setempat. Artikel ini membahas tujuh destinasi wisata alam di Indonesia yang berhasil menerapkan prinsip ramah lingkungan dan layak dikunjungi bagi traveler yang peduli pada keberlanjutan.

1. Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur

Sebelum menjelajah lebih jauh, penting memahami bahwa kawasan ini bukan sekadar objek wisata, melainkan habitat bagi satwa purba yang dilindungi dunia. Taman Nasional Komodo merupakan salah satu warisan alam UNESCO yang menampung populasi terakhir komodo di bumi.

Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, pengelola menetapkan sistem kuota pengunjung setiap tahun. Kebijakan ini bertujuan melindungi flora dan fauna dari tekanan wisata massal. Setiap pengunjung wajib mengikuti jalur trekking resmi dan didampingi pemandu berlisensi.

Wisatawan bisa menikmati panorama Pulau Padar, snorkeling di Pink Beach, atau menyelam di perairan Komodo yang kaya biota laut. Aktivitas dilakukan di zona tertentu agar tidak mengganggu habitat alami komodo dan terumbu karang di sekitarnya.

2. Raja Ampat, Papua Barat Daya

Dari Nusa Tenggara Timur, perjalanan berlanjut ke timur Indonesia, tepatnya di Raja Ampat—surga bawah laut yang dikenal di seluruh dunia. Keindahan gugusan pulaunya dan kejernihan air lautnya menjadikan tempat ini ikon ekowisata Indonesia.

Masyarakat lokal di Raja Ampat terlibat langsung dalam pengelolaan kawasan wisata. Mereka membentuk kelompok konservasi yang menjaga terumbu karang dan biota laut dari kerusakan. Sistem biaya konservasi juga diterapkan, di mana dana yang terkumpul digunakan untuk pelestarian ekosistem laut.

Selain diving dan snorkeling, wisatawan dapat belajar tentang konservasi laut bersama masyarakat adat setempat. Pulau Arborek dan Piaynemo menjadi destinasi favorit yang menampilkan perpaduan antara pesona alam dan edukasi lingkungan.

3. Desa Wisata Nglanggeran, Gunungkidul

Menuju Pulau Jawa, Desa Nglanggeran di Yogyakarta menjadi bukti nyata bahwa pariwisata bisa sejalan dengan konservasi alam dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Desa ini meraih penghargaan Best Tourism Village dari UNWTO karena berhasil menjaga keseimbangan antara pelestarian alam dan ekonomi lokal. Warga memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak lingkungan, seperti budidaya kakao organik dan pengolahan air bersih.

Wisatawan dapat mendaki Gunung Api Purba, menikmati panorama Embung Nglanggeran, atau belajar membuat cokelat lokal bersama warga. Homestay di desa ini dibangun dengan bahan ramah lingkungan dan dikelola secara mandiri oleh penduduk setempat.

4. Taman Nasional Bali Barat, Bali

Sebelum menikmati gemerlap wisata pantai Bali, kawasan barat pulau ini menawarkan ketenangan dan keaslian alam. Taman Nasional Bali Barat menjadi salah satu area konservasi terpenting di Pulau Dewata.

Kawasan ini merupakan tempat tinggal burung Jalak Bali, spesies endemik yang hampir punah. Pemerintah dan komunitas lokal menjalankan program penangkaran untuk mengembalikan populasi satwa ini ke alam bebas.

Pengunjung bisa menjelajahi hutan mangrove, trekking di jalur hutan tropis, hingga snorkeling di Pulau Menjangan. Semua aktivitas diatur dalam konsep eco-tourism zone, di mana pengunjung wajib mengikuti panduan pelestarian lingkungan.

5. Tangkahan, Sumatera Utara

Kawasan Leuser dikenal sebagai paru-paru dunia, dan Tangkahan menjadi salah satu pintu gerbang untuk mengenalnya lebih dekat. Wisata di sini menawarkan pengalaman menyatu dengan alam yang belum banyak tersentuh.

Dahulu, warga sekitar Tangkahan banyak bergantung pada penebangan liar. Namun, kini mereka beralih menjadi penjaga hutan dan pemandu wisata setelah memahami pentingnya pelestarian. Model community-based tourism ini terbukti efektif meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga lingkungan.

Trekking di hutan tropis, river tubing di Sungai Buluh, dan mandi bersama gajah jinak menjadi pengalaman unik di Tangkahan. Wisatawan juga diajak belajar tentang konservasi gajah dan upaya pencegahan perburuan liar.

6. Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Menyeberang ke Pulau Borneo, Pulau Derawan dikenal dengan lautnya yang biru jernih dan kehidupan bawah laut yang menakjubkan. Namun keindahan ini juga diimbangi dengan komitmen kuat terhadap kelestarian alam.

Pulau Derawan menjadi tempat penyu hijau bertelur setiap tahun. Pemerintah dan lembaga konservasi bekerja sama menjaga area peneluran dengan membatasi aktivitas wisata malam. Beberapa penginapan di pulau ini juga menggunakan panel surya untuk mengurangi emisi karbon.

Selain snorkeling dan diving, wisatawan dapat berkunjung ke Danau Kakaban untuk melihat ubur-ubur tak menyengat atau mengunjungi Pulau Sangalaki, lokasi konservasi penyu terbesar di Kalimantan Timur.

7. Wae Rebo, Flores

Perjalanan terakhir membawa wisatawan ke pegunungan Flores, tepatnya di Desa Wae Rebo yang terkenal dengan keaslian budaya dan arsitektur rumah adatnya.

Desa ini berada di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, dikelilingi hutan tropis yang masih alami. Penduduk hidup dengan prinsip menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Tidak ada polusi suara, tidak ada penggunaan listrik berlebihan, dan sampah harus dibawa turun kembali oleh wisatawan.

Perjalanan menuju Wae Rebo memakan waktu sekitar empat jam trekking. Setibanya di sana, wisatawan akan disambut oleh penduduk dengan upacara adat. Menginap di rumah kerucut Mbaru Niang menjadi pengalaman berharga yang mengajarkan kesederhanaan dan rasa syukur terhadap alam.

Tips Wisata Alam yang Bertanggung Jawab

Untuk menjaga keberlanjutan destinasi alam di Indonesia, wisatawan perlu menerapkan prinsip tanggung jawab selama perjalanan. Beberapa langkah sederhana berikut bisa menjadi panduan praktis:

  1. Kurangi sampah plastik dengan membawa botol minum dan tas kain sendiri.
  2. Gunakan produk lokal agar ekonomi masyarakat sekitar tumbuh.
  3. Hormati alam dan budaya tanpa mengambil benda alami atau memberi makan satwa liar.
  4. Gunakan transportasi hijau seperti sepeda atau transportasi umum.
  5. Dukung kegiatan konservasi dengan membayar tiket dan mengikuti aturan kawasan.

Keindahan alam Indonesia tidak hanya untuk dinikmati, tetapi juga dijaga agar tetap lestari bagi generasi mendatang. Dari Komodo hingga Wae Rebo, seluruh destinasi tersebut mengajarkan makna harmoni antara manusia dan alam. Setiap langkah kecil yang dilakukan wisatawan—seperti memilih penginapan ramah lingkungan atau tidak membuang sampah sembarangan—menjadi kontribusi besar bagi masa depan pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

Menjadi wisatawan yang peduli bukanlah beban, melainkan bentuk cinta terhadap bumi yang memberi keindahan tanpa batas. Indonesia memiliki segalanya—tugas manusia adalah menjaganya.

Baca Juga

Tinggalkan komentar