Trip Gelombang, Menelusuri Kampung Halaman Alfa di Pusuk Buhit

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

*Tulisan ini juga terbit di majalah Dunia Melancong

“Welcome to Sianjur Mula-mula and Feel The Miracle!”

Keajaiban seringkali terwujud dengan ajaib, seperti namanya. Keajaiban tersebut, ketika mewujud, maka namanya disebut-sebut sebagai kebahagiaan. Seperti beberapa waktu lalu saat saya dan kemanaaja.com mengadakan sebuah perjalanan menelusuri kampung halaman Alfa Sagala, tokoh utama dalam novel Supernova, Gelombang karya Dee Lestari.

Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula
Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula

Sebenarnya, saya sudah sangat lama tertarik untuk berkeliling Pulau Samosir sampai ke Sianjur Mula-mula dan kaki Pusuk Buhit, sebuah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Batak. Niat itu, lama terpendam karena memikirkan jarak dan akses untuk menuju ke sana. Saya tahu dan telah membaca banyak refrensi tentang betapa menariknya dan kayanya situs-situs yang ada di sana. Banyak mitos, banyak cerita, banyak folklore, juga tinggalan-tinggalan kebudayaan yang menarik untuk dipelajari. Tapi lama sekali niat itu tertahan dan tertunda.

Kali ini saya pantas berterima kasih kepada Dee Lestari yang membangkitkan kembali keinginan tersebut. Lewat novel berseri terbarunya, Supernova Gelombang, hasrat saya tersebut seperti tergelitik kembali. Rasanya ingin menyaksikan langsung kaki Pusuk Buhit, Aek Sipitu Dai, dan Sianjur Mula-mula yang disebut-sebut di dalam novel. Saya memang sangat mudah tergoda dengan tokoh-tokoh menarik dan cerita tentang mereka dalam novel. Maafkan saya yang jika sudah jatuh hati akan melakukan banyak hal untuk mengenal dengan details keseluruhan cerita.

Ide Trip Gelombang pun menggelontor begitu saja. Bersama dengan 4 orang teman yang juga pembaca Gelombang, kami siap menjelajahi Sianjur Mula-mula dan bertemu dengan “Alfa”.

Kabut di atas Danau Toba
Kabut di atas Danau Toba

Not Easy

Iya, tidak mudah. Bukan rute perjalanan dan medannya yang tidak mudah, tapi keputusan kami untuk melakukan perjalan kali ini tidak mudah. Entah kenapa, perjalanan kali ini mengalami cukup banyak tantangan yang butuh kebulatan tekad agar bisa melakukan perjalanan spiritual ini.

Iya, kami menyebutnya perjalanan spiritual karena perjalanan kali ini adalah sebuah perjalanan untuk berkenalan dengan kampung halaman tokoh yang hidup dalam imajinasi kami. Lagi pula tempat yang kami tuju bukan tempat sembarangan, sebuah tempat yang dipercaya oleh masyarakat Batak sebagai tempat penting dan sakral. Sebuah tempat dengan sejarah panjang dan memiliki ikatan yang kuat dengan masyarakat Batak seluruh dunia. Pusuk Buhit, tempat pertama kali Debata Mula Jadi Nabolon pertama kali menurunkan orang Batak dan membangun kehidupan di sana. Begitu menurut mitos penciptaan dalam masyarakat Batak.

Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.
Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.

Seperti saya, teman saya yang lain, Melzna ternyata juga sudah sangat lama memiliki keinginan berdiri lebih dekat dengan Pusuk Buhit, paling tidak di kakinya. Bukan seperti selama ini yang hanya melihat dari jauh.

Tantangan itu mulai dari pembatalan dari teman-teman yang sudah berjanji ikut tapi tiba-tiba membatalkan. Sebagian dengan alasan yang jelas sebagian tanpa alasan. Ya… sudahlah. Jadilah kami mencari-cari teman yang lain yang ujung-ujungnya membuat saya sepakat dengan pendapat para traveler senior, “Nggak mudah menemukan teman jalan, selain belum tentu cocok waktu, juga belum tentu cocok kantong dan minatnya.” Tapi kami ya tetap go a head dong…

Tantangan berikutnya, penginapan yang sudah di-booking tapi pada hari H mendadak batal karena pemilik penginapan mengaku sudah full padahal sudah di-book malam sebelumnya. Ngeselin nggak itu?

Menara Pandang Tele
Menara Pandang Tele

Selanjutnya, salah satu tim dari kemanaaja, Thicka, pagi hari di jadwal keberangkatan tiba-tiba mengirimkan pesan kalau dia batal ikut karena mendadak jatuh sakit. Mimisan dan mendadak lemas. Kesal, marah, sedih, semuanya bercampur satu. Ingin rasanya waktu itu membatalkan saja trip yang sudah dirampungkan di malam sebelumnya. Tapi saya sudah terlanjur bertekad bulat, trip harus berjalan. Syukurnya teman-teman yang lain juga sepakat untuk lanjut terus… dan keajaiban sudah berlangsung sejak saat itu. Thicka memaksa diri untuk tetap ikut, dengan keyakinan yang sama dengan kami, perjalanan ini akan baik-baik saja buatnya.

Ada lagi, dalam perjalanan, Andi, fotografer andalan kami, dalam perjalanan mendadak didera sakit kepala hebat. Seperti dilanda gempa katanya. “Benar-benar penuh tantangan,” kata Melzna, teman saya. Thank God, kami semuanya diberkati dengan keyakinan yang kami miliki.

Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.
Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.

Sianjur Mula-mula

Setelah menempuh perjalanan dengan menginap semalam di Berastagi (karena kondisi fisik beberapa teman yang kurang baik) kamipun tiba di Sianjur Mula-mula. Kami menikmati perjalanan dan pagi yang berkabut sepanjang perjalanan di Tele. Menara Pandang Tele hari itu tidak menjanjikan pemandangan yang jernih. Tapi untungnya hari yang didominasi rintik sepanjang jalan tidak berlangsung lama. Langit di Sianjur Mula-mula sangat bersahabat. Langit jernih dengan udara segar sehabis hujan. Langit sudah terbuka. Kampung Sianjur Mula-mula yang menjadi destinasi utama kami sudah ada di depan mata. Perkampungannya kelihatan biasa saja. Jalanan sedang diperbaiki, untuk membuatnya semakin layak sebagai kawasan Geopark mungkin karena tahun 2015 Pulau Samosir dan Danau Toba yang mengelilinginya sudah akan menjadi kawasan Geopark dunia.

Perbukitan menuju Pusuk Buhit
Perbukitan menuju Pusuk Buhit

Rumah-rumah dari kayu dan beberapa berbentuk rumah panggung masih tampak di desa ini. Ada antusias melihat kampung Alfa. Kami rasanya melihat masa kecil Alfa Sagala, tokoh bermarga Sagala yang memang marga asli dari Desa Sianjur Mula-mula, juga Marga Limbong.

Entah dimanapun itu letak rumah Alfa, kami merasakan sudah berada di rumah masa kecil Alfa, bertamu dan disambut dengan ramah. Desa kecil ini dikelilingi oleh bukit-bukit indah yang menghijau tregradasi. Hijau tua, hijau muda, hijau yang menyegarkan mata.

Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai
Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai

Aek Sipitu Dai

Mata air dengan pancuran dengan tujuh rasa yang berbeda-beda, Aek Sipitu Dai. Kami menjadikan tempat ini juga sebagai destinasi wajib. Penasaran dengan rasanya yang rupa-rupa itu dan juga karena menjadi salah satu bagian yang juga dicerita-ceritakan dalam Gelombang.

Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai
Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai

Tempatnya tak seperti yang saya bayangkan. Dalam pikiran saya, lokasinya tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dan tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari karena kesakralannya. Saya agak menyayangkan hal itu. Ah seandainya kesakralan itu dijaga, tentu tempat ini akan lebih memiliki banyak daya tarik.

Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar
Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar

Sebelum mencoba cicip rasa masing-masing pancurannya, kami bertemu dengan Bapak Sagala, juru kunci Aek Sipitu Dai sekaligus pegawai Dinas Pariwisata setempat. Beliau memberikan informasi sebagai introduction, tentang sejarah Raja Batak, Sejarah Sianjur Mula-mula, dan sejarah Aek Sipitu Dai. Kepada beliau kami bercerita tentang novel Gelombang yang kami bawa serta waktu itu. Ah betapa terkesimanya beliau dengan setting yang banyak mengambil tempat di Sianjur Mula-mula sekaligus tokoh utamanya yang bermarga Sagala.

Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai
Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai

Kami pun mencoba rasa dari masing-masing pancuran air. Sebelum mencoba jangan lupa ucapkan “Horas” kata Bapak Sagala. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Mengucapkan “Horas” sebelum meminum air yang ternyata rasa dari tiap pancuran memang berbeda-beda. Ada pancuran air untuk ibu-ibu, untuk para dukun, pancuran air penyembuh, dan lain-lain. Rasanya beragam, ada yang terasa soda tawar tanpa gula, sebagian terasa manis, sebagiannya lagi rasa soda dengan kadar yang sangat sedikit. Tidak ada penjelasan ilmiah di sini. Saat dibawa ke sumber mata airnya yang tepat berada di belakang pancuran di bawah sebatang pohon hariara besar dan rimbun, aliran air tenang yang membentuk kolam panjang.

Sumber mata air Aek Sipitu Dai
Sumber mata air Aek Sipitu Dai

Setelah berfoto bersama, sebagai tanda persaudaraan kami menghadiahkan buku Gelombang untuk Bapak Sagala yang sudah sangat ramah dan sepertinya sangat tertarik dengan Gelombang.

Tanah Ponggol
Tanah Ponggol

Batu Hobon, Sopo Tatea Bulan, Huta Raja Batak di Kaki Pusuk Buhit

Batu hobon adalah bagian menarik dari Sianjur Mula-mula, sebuah situs batu yang dipercaya sebagai batu berongga tempat si Raja Batak, Guru Tatea Bulan menyimpan harta bendanya. Batu berongga ini merupakan sisa-sisa dari proses vulkanis yang terjadi pada Gunung Toba ribuan tahun silam. Konon banyak pihak yang berniat membuka tempat penyimpanan ini tetapi tidak berhasil dan justru ditimpa malapetaka.

Situs Batu Hobon
Situs Batu Hobon

Situs ini berada di sebuah tanah datar luar yang dikelilingi bukit-bukit cantik. Di bukit yang tepat berada di seberang Batu Hobon terdapat Sopo Tatea Bulan, sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat patung si Raja Batak beserta keturunan, pengawalnya, serta sejumlah kendaraan si Raja Batak seperti naga, gajah, singa, harimau, dan kuda. Di tempat ini di antara pebukitan yang indah tak sedikit orang mengadakan ritual kebudayaan dan kepercayaan. Seperti saat kami kemari, kami urung masuk karena ada yang tengah melakukan upacara.

Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon
Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon

Pemandangan menuju ke tempat ini sangat luar biasa. Pun di luasnya halamannya. Kita bisa menyaksikan bukit-bukit berbaris, bersinggungan dan berlapis-lapis yang diinterupsi air terjun di sela-selanya. Seperti terjepit. Hijaunya sangat memanjakan mata. Belum lagi barisan kerbau yang merumput di kemiringan bukit serta hamparan sawah hijau kekuningan yang sangat luas dihiasi perkampungan dengan rumah-rumah adat Batak. Sangat istimewa. Saya tidak berhenti mengagumi keindahannya, tak pula malu berteriak-teriak bahagia dan bersyukur.

Sopo Tatea Bulan
Sopo Tatea Bulan

Tak jauh dari Sopo Tatea Bulan terdapat perkampungan atau Huta Si Raja Batak, yang diyakini sebagai tempat awal di Raja Batak mendirikan perkampungan. Di tempat ini tengah dibangun pusat informasi Geopark Toba.

Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Aek Sipitu Dai
Aek Sipitu Dai
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.

Kejutan Besar

Kejutan besar yang sangat membesarkan hati datang saat kami sedang dalam penyebrangan menuju Parapat. Di atas kapal feri, sebuah notification dari instagram membuat mobil kami penuh teriakan gaduh. Dee Lestari adalah penyebab kerusahan tersebut. Postingannya membuat kami berbahagia sekaligus terharu. Dia menulis:

“Inspired by Alfa Sagala and organized by @kemanaajacom #Gelombang’s readers made a trip to Sianjur Mula-mula, the birth place of Batak civilization. They meet Pak Sagala, Juru Kunci/ guide of the village. A year ago I did the same trip and interviewed Pak Sagala. After the book was out I thought about sending him #Gelombang but I didn’t have his address. The universe worked in wondrous way. This group gave him my book upon their visit. I just knew about this last night when they tagged me. I am so touched and relieved. Alfa made his way home. Thank you, dear readers. Bless your, kindness. <3”

Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai
Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai

Dengan dukungan semesta, Alfa menemukan jalannya pulang, ke Sianjur Mula-mula, bersama-sama dengan kami. Dan Bapak Sagala sudah menerima niat yang sudah terbangun di hati Dee, melalui kami. Tawa bahagia dan keajaiban yang kami rasakan sepanjang perjalanan telah membawa kami pulang, pada hati kami. Perjalanan spiritual kali ini membawa banyak kenangan bahagia.

Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit
Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit

2 thoughts on “Trip Gelombang, Menelusuri Kampung Halaman Alfa di Pusuk Buhit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *