The Friendly Melaka

Teks dan Foto oleh @PerempuanThicka

Malaka adalah sebuah kota kecil yang ramah. Seperti teman baru, Malaka memberikan keseruan yang bikin setiap orang betah bersamanya

Perjalanan saya ke Malaka Malaysia sebenarnya adalah ketidaksengajaan yang indah. Awalnya, saya dan beberapa teman akan melipir ke Filipina dengan membeli tiket promo jauh-jauh hari. Beberapa minggu sebelum keberangkatan, pihak maskapai penerbangan tersebut me-refund tiket kami. Jadilah saya hanya memiliki tiket Medan – KL yang sudah terlanjur terbeli. Waktu keberangkatan sudah dekat dan untuk membeli tiket ke Manila saya sudah tak mampu karena harga tiket melambung tinggi. Rencana tak hanya batal sampai di situ, teman-teman saya yang tadinya janjian traveling bareng membatalkan keberangkatannya dengan alasan yang beragam.

Jadilah saya sebatang kara yang tak mau merugi karena tiket Medan – KL yang sudah terlanjur dibeli. Saya sudah beberapa kali melipir ke Kuala Lumpur, baik untuk jalan-jalan ataupun urusan pekerjaan. Setelah putar otak dengan sebegitu pusingnya, akhirnya saya memutuskan untuk melipir ke Malaka. Malaka adalah sebuah kota cantik di sebelah tenggara Kuala Lumpur. Setelah googling, cari info plus booking penginapan, saya akhirnya mantap untuk menjelajah di Malaka tentunya sendirian!

Walaupun saya traveling-nya (hanya) ke Malaysia yang notabene dekat, saya tetap aja agak sedikit khawatir. Maklum, saya belum terlalu sering melakukan perjalanan yang benar-benar sendirian. Karena kurang pengalaman menjadi solo traveler, tentunya saya membawa benda-benda yang mungkin akan menghilangkan rasa bosan di perjalanan. Isi iPod dengan lagu-lagu favorit, membawa buku Finish This Book-nya Keri Smith yang sungguh amat sangat seru sekali, membawa jurnal pribadi dan tentunya Paul The Traveler, boneka monyet pelangi yang selalu saya bawa kemana-mana.

Petualangan jadi solo-traveler ternyata diuji sesaat setelah menjejakkan kaki ke LCCT (Low Cost Carrier Terminal). Maklum, penerbangan saya adalah penerbangan terakhir dan karena bus ke Malaka adanya pagi, makanya saya memutuskan untuk nginap di bandara. Ajakan teman untuk nginap di rumahnya di Kuala Lumpur saya tolak dengan alasan pengin ngerasain nginap di bandara yang tak seberapa itu. Meja dan kursi sebuah gerai sandwich saya jadikan “tempat tidur” dan orang-orang yang bernasib sama seperti saya, saya anggap saja room-mates yang menyenangkan. Sepanjang malam saya ngobrol dengan manusia yang rupa-rupa warnanya. Ada ibu dan anak asa Inggris, perempuan Malaysia dan anaknya yang lucu, gadis asal Filipina, sepasang suami istri dari Nepal sampai mas-mas pegawai gerai sandwich menjadi teman yang menyenangkan sepanjang malam. Bermodal 11.9 RM, saya bisa menikmati sandwich enak, wifi gratis dan tidur dengan posisi duduk yang aduhai. Nginap di bandara ternyata menyenangkan meskipun menghadiahi saya pinggang dan punggung yang teramat pegal.

Paginya saya melanjutkan perjalanan ke Malaka. Dari LCCT saya menaiki bus yang tiketnya dibeli di counter bus penerbangan domestik. Karena masih pagi, sepertinya mbak-mbak counter-nya belum datang. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya counter dibuka. Dengan membayar tiket seharga 24.3 RM, saya akhirnya menuju Malaka dengan bus yang bagus dan menyenangkan karena saya sempat berkenalanan dengan dua turis asal China yang lucu sekali. Perjalanan ditempuh kurang lebih tiga jam. Sepanjang perjalanan tidak ada pemandangan yang istimewa. Kiri dan kanan saya adalah deretan kebun sawit yang terbentang sepanjang jalan. Daripada bosan saya akhirnya melanjutkan tidur yang sempat tertunda. Dan tanpa terasa akhirnya saya sudah sampai di Melaka Bus Station. Hore, I am in Melaka now!

Welcome to Melaka!
Welcome to Melaka!

Dari Melaka Bus Station saya harus naik bus nomor 17 dan berhenti di Stadthuys atau lebih dikenal dengan Red Square. Nah dari situ saya melanjutkan jalan kaki menuju Jalan-Jalan Emas Hostel yang berada di kawasan China Town. Niatnya mau jalan kaki, eh ternyata saya nyasar dan harus naik taksi menuju hostel. Di hostel saya menginap di mix dormitory seharga lima puluh ribu saja. Murah? Emang. Hostel ini menyenangkan karena tidak terlalu besar, banyak para backpacker yang menyenangkan dan ada free coffee and tea all day long. Selain itu, lokasi hostel ini juga strategis. Kalo mau kemana-mana dari sini semuanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Kalo mau naik sepeda juga bisa, dengan menyewa sepeda seharga 15 RM aja, kamu bisa menggunakan sepeda itu sepanjang kamu menginap di hostel. Asik ‘kan?

Jalan Jalan. Salah satu hostel asik di China Town

Hari pertama di Malaka saya habiskan dengan jalan-jalan di sekitar China Town. Setelah membalas rasa kantuk dengan tidur sampai sore, sorenya saya lanjutkan buat foto-foto di sekitar Jonker Street yang tersohor itu. China Town di Malaka memiliki keunikan khas yang menyenangkan. Berbeda dengan Penang, di sini semuanya tampak lebih mini. Bangunan-bangunan tua serta toko-toko berjejer rapi warna-warni. Di dekat hostel ada Kuil Hindu yang setiap jam lima sore mengadakan ritual sembahyang diiringi musik syahdu. Setiap sore saya selalu mampir ke sini sekedar menikmati musik dan ngobrol dengan bapak penjaga kuil. Dua rumah dari kuil ada Mesjid Kampung King yang sudah ada sejak 1784 dan merupakan salah satu mesjid tertua di Malaysia.

Bapak ini yang menjadi teman baru saya selama di Malaka.

Yang menyenangkan lagi dari stay di China Town adalah kamu bisa melihat banyak sekali mural dan bangunan-bangunan yang unik. Sekilas seperti berada di syuting film kolosal masa lalu. Makanan juga gampang ditemukan di sini. Beruntunglah bagi mereka yang bisa makan makanan non-halal karena di sini adalah surga kuliner buat kalian. Di sini segalanya sangat fotogenik dan kalo bahasa sekarang bilangnya instagramgenic, Kalo weekend Jonker Street mendadak ada pasar malam yang rame banget. Di sana ada macam-macam yang bisa kamu beli. Mulai dari makanan sampai souvenir. Selain itu, di Jonker Walk juga banyak street artist yang beraksi.

Keramaian Jonker Walk

Hari pertama saya habiskan dengan berjalan-jalan di sekitar hostel dan menjalin pertemanan bersama teman sekamar. Teman sekamara saya untungnya seru-seru. Ada Thomas, cowok Perancis yang juga aktor teater. Ada tiga cewek Polandia yang ramah dan lucu. Ada cewek Inggris yang kalo ngomong bikin saya terbang ke awang-awang sangkin indahnya. Ada cowok Jepang dan Vietnam yang kelucuannya bikin saya ngakak tak henti-henti. Intinya menjadi solo-traveler ternyata tak pernah membuat saya merasa kesepian.

Mix dorm seharga 50 ribu semalam. Tempat traveler berbagai negara berkumpul.

Hari kedua saya menyewa sepeda dari hostel. Daripagi saya sudah berkeliling Malaka. Mulai dari Stadthuys atau Red Square yang tersohor. Jika mau ke sini disarankan datang pagi-pagi saat para turis belum ramai. Karena jika sudah ramai agak kesulitan untuk mengambil foto karena banyak sekali manusia yang berlalu lalang.

Red Square yang tersohor
Christ Church Melaka

Dari Stadthuys saya melanjutkan perjalanan ke Francis Xavier Church, gereja gothic yang satu ini memang indahnya bukan main. Gereja ini sudah berdiri sejak 1849 dan menjadi salah satu gereja paling indah di Malaka. Oh iya saya juga sempat mengunjungi Christ Church yang tak kalah kecenya. Puas ‘main’ di dua gereja tadi, saya akhirnya mengunjungi St. John’s Fort yang merupakan bangunan tersohor yang menjadi most visit di Melaka. Untuk mencapai tempat ini saya diharuskan melewati banyak anak tangga yang bikin kaki pegal juga. Ha-ha-ha. Tapi sesampainya di puncak pegalnya kaki tadi terbayar dengan keindahan bangunan heritage yang memukau. Meskipun sempat turun hujan sebentar, saya benar-benar menikmati bangunan ini. Pretty impressive!

St. John’s Fort

Setelah menjelajah St. John’s Fort, tak lenggap rasanya jika tidak berkunjung ke Fort A Famosa. Bangunan yang satu ini dibangun oleh bangsa Portugis pada 1511. Di sini kamu bisa puas foto-foto dan jika capek di sekitarnya banyak aneka becak hias yang warnanya sungguh menyilaukan mata dan mereka memiliki sound system yang lagunya bikin tertawa. Di Fort A Famosa saya sempat ngobrol sama bapak-bapak pelukis yang katanya pernah tinggal di Surabaya. Dan karena saya solo-traveler, si bapak ini juga yang akhirnya motoin saya. *terharu*

Foto saya satu-satunya di Malaka. Itupun karena ada yang mau bersedia motoin. :”)

Selain bangunan-bangunan yang saya sebutin tadi, di Malaka kamu juga bisa berkunjung ke banyak museum yang tersebar di sana. Oh iya kamu juga harus tahu kalo semua tempat yang saya kunjungi tadi itu gratis alias tidak dipungut biaya apapun. Dan hampir semua tempat di Malaka itu gratis jadi asik banget buat para backpacker kayak saya. Hi-hi-hi.

Setelah puas berkeliling tempat-tempat yang wajib dikunjungi, saya memutuskan untuk makan siang di China Town, ya pastinya di rumah makan muslim. Katanya kalo ke Malaka nggak sah kalo nggak nyobain laksa dan cendolnya. Jadilah saya mencicipi dua makanan itu dengan bahagia. Kebetulan saya makan cendol di sebuah warung yang dekorasinya vintage sekali. Everything that I see there was so old and classy. Yang menyenangkan ternyata ibu penjualnya ramah dan suka bercanda. Jadilah saya dikasih diskon harga cendol yang awalnya 4 RM jadi 3 RM saja. Alhamdulillah.

Malaka adalah kota yang walkable. Makanya saya hanya sekali menggunakan sepeda yang saya sewa karena merasa jalan kaki lebih menyenangkan dilakukan di kota ini. Dengan berjalan kaki saya bisa bertemu hal-hal menarik. Saya bisa ngobrol sama banyak orang yang saya lewati. Seperti bapak penjual daging babi, ibu bertato Snoopy sampai seorang ibu tua yang bercerita tentang sukanya dia dengan keindahan Indonesia. Malam harinya saya berkeliling Jonker Street dan mencicipi jajanan yang enak dan murah. Oh iya, saya sempat juga makan di kedai kopi bernama Kedai Kopi Chung Wah. Awalnya Thomas roommate saya itu mengajak saya makan siang bersama dan kami melewati kedai kopi ini dengan antrian yang sungguh panjang sekali. Karena penasaran saya dan Thomas mengantri di tempat makan fenomenal ini. Ternyata oh ternyata yang mereka jual adalah rice balls and chicken hainan. Untung rasanya lezat jadi ngantri panjang dan lama yang tadi dilewati bisa terbayar.

Antrian yang sungguh panjang demi chicken rice ball

Saya menghabiskan empat hari di Malaka dan buat saya rasanya kurang. Meskipun Malaka adalah kota kecil, tapi kota ini menyimpan banyak sekali kesenangan yang pas buat orang yang suka segala sesuatu yang old and classy seperti saya. Malaka tak hanya menyenangkan karena keindahannya, tetapi juga orang-orangnya yang friendly dan welcome sekali dengan pendatang. Oh iya, bagi kamu yang ingin menikmati Malaka dari kapal feri, di sini juga disediakan. Kamu bisa menjelajah dengan menggunakan feri yang berlabuh di sepanjang Sungai Malaka. Hari terakhir di Malaka sebelum saya bertolak ke Kuala Lumpur saya mendapat teman baru. Seorang ibu India penjaga loket bus. Jika saya ke Malaka lagi, ibu ini mengundang saya main ke rumahnya dan berjanji mau masak yang enak buat saya.

Melaka River

Malaka memberi kenangan yang tak terlupakan. Saya pasti akan kembali ke kota ini dengan alasan yang satu: manusia.

How to get there?

  • Dari bandara LCCT kamu bisa langsung naik bus ke Malaka dengan tarif 24 RM dengan lama perjalanan kurang lebih 3 jam.
  • Dari Pudu Raya Bus Station KL dan Terminal Bersepadu Selatan ada banyak bus menuju Malaka. Dengan tarif yang lebih murah dari tarif dari LCCT.

Search on this sides:

http://expressbusmalaysia.com/

http://backpackingmalaysia.com/things-to-do/terminal-bersepadu-selatan-tbs/kuala-lumpur

Where to stay:

  • Di Malaka banyak sekali penginapan dan hostel. Jika kamu traveling dengan low budget, stay-lah di hostel yang banyak tersebar di kawasan Jonker Street di China Town. Harga penginapan di sini beragam. Mulai dari Rp. 50 ribu sampai Rp. 200 ribu. Tergantung jenis kamar dan penginapannya. Jika kamu sendirian saya sarankan menginap di dormitory karena kamu bakalan dapat teman baru yang asik.
  • Kamu bisa cari hostel di hostelworld.com dan pilih-pilih sesuai keinginan.

Best time to visit:

  • Bagi kamu yang suka keramaian weekend adalah waktu yang pas untuk berkunjung ke Malaka. Kenapa? Karena ada night market yang memang buka pada weekend saja. Jika kamu suka ketenangan, weekdays adalah pilihan yang tepat.

Need to try:

  • Cendol Melaka adalah salah satu dessert tersohor yang harus dicoba.
  • Jajanan pasar yang beragam di night market.
  • Laksa dan rice balls & chicken hainan. Oh iya coba juga Sambal Asam Malaka yang katanya lezat itu. Bagi yang suka kopi boleh tuh cobain nongkrong di kedai kopi tua ala peranakan.

Must visit:

  • Selain tempat yang saya sebutin di atas, ada sebuah mesjid indah bernama Mesjid Selat Malaka yang terletak di pinggir laut. Mesjid ini indah sekali dengan arsitektur yang keren dan dipeluk selat dengan sangat sempurna. Sayang saya mengunjungi mesjid ini pada malah hari sehingga tidak terlalu total dalam menikmati keindahannya.

6 thoughts on “The Friendly Melaka”

  1. Aduh baru baca yg ini. Puas banget lebih detail bgt penjelasannya. Tar aku baca juga yg lain, thanks yaa kaka-kaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *