Lingga, The Ancient Karo Village

Sebagiannya telah ambruk dimakan waktu. Terendap di antara duka rumah-rumah adat Karo Desa Lingga. Tapi untungnya kerja keras Badan Warisan Sumatra dan dukungan banyak pihak, dua buah rumah adat Karo, Belang Ayo dan Rumah Gerga kini terpelihara dengan baik.

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Andi Gultom @andigultom

 

Rumah Gerga
Rumah Gerga

Kalau kita bercerita tentang situs kebudayaan, maka buat kamu para penyuka wisata budaya, Desa Lingga adalah salah satu desa di Sumatera Utara yang wajib masuk dalam daftar kunjung. Desa budaya ini di awal 2014 lalu mendapatkan penghargaan dari World Monument Fund, sebuah lembaga internasional yang konsen mengurusi situs-situs kebudayaan.

Desa Lingga berada di Kabupaten Karo,Sumatera Utara. Kabupaten Karo sendiri adalah salah satu Kabupaten yang berada di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut. Karo terkenal dengan lanskap alam pengunungan dan hasil bumi seperti sayur-sayuran segar, jeruk, markisa, terong belanda, dan aneka buah lainnya. Desa Lingga berada lebih kurang 15 km dari Brastagi, kota besar di Tanah Karo dan 5 km dari Kabanjahe, ibukotaKabupaten Karo.

Perjalanan menuju Desa Lingga bisa dilakukan dengan kendaraan pribadi atau menumpang kendaraan umum. Dari Medan dapat dengan menumpang bus seperti Sinabung Jaya, Sutra, Murni, dan Serasi Borneo hingga terminal Kabanjahe. Dari sana perjalanan bisa diteruskan dengan menumpang angkutan dalam kota menuju Desa Lingga.

Kampung Karo Yang Unik

Lingga merupakan perkampungan BatakKaro yang unik. Seperti namanya, Desa ini sejak dulu berada dalam kekuasaan Sibayak Lingga, didominasi masyarakat keturunan Marga Sinulingga. Desa Lingga memiliki rumah-rumah adat Karo yang diperkirakan berumur sekitar 250 tahun. Sekitara lima tahun lalu, saat berkunjung ke sana, saya masih menemukan beberapa rumah adat Karo di sana. Menurut cerita yang saya dengar rumah adat di sana sekitar 22 rumah. Tapi saya tidak menemukan jumlah sebesar itu. Tahun lalu saat kembali berkunjung kesana, saya hanya menemukan hanya dua rumah adat utama yang tersisa di sana. Itupun dua rumah yang berada dalam pengawasan Badan Warisan Sumatra (BWS) yang bekerja keras menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, juga masyarakat setempat untuk melestarikannya.

Tentang keseluruhan bangunannya, saya memang terkesima. Kompleks ini memang sangat kaya dengan rumah-rumah adat Karo yang sudah sangat tua nan cantik dan cerdas pembuatannya. Lihat saja bentuknya. Perhitungannya yang sempurna. Nilai-nilai filosofis yang dikandungnya, ukirannya dekoratifnya, pemilihan kayu, penyusunan bentuk, keserasian dengan alam labil indonesia, tentunya telah melalui proses trial dan error yang panjang. Kekayaan tradisonal kita memang selalu masterpiece.

Rumah adat Karo yang telah lapuk. Foto ini saya ambil lebih dari lima tahun lalu.
Rumah adat Karo yang telah lapuk. Foto ini saya ambil lebih dari lima tahun lalu.

Tapi hati saya segera mencelos. Berapa lama lagikah rumah-rumah nan cantik ini akan bertahan? Rumah yang beberapa tahun lalu saya lihat hampir amburk sekarang tidak ada lagi. Saya teringat dengan rumah itu, rumah yang tidak dihuni, kayu-kayu kokohnya memperlihatkan rangka. Setahun, dua tahun, saya mencoba mereka-reka. Apa dalam rentang waktu itu, saat kembali, saya masih bisa melihatnya? Atau ini untuk terakhir kali. Bila ia, yang akan saya ingat adalah ijuk penutup atap yang sudah sompel di sana-sini, badan bangunan yang miring, dan beberapa ternak yang ditambatkan. Hati saya benar-benar mencelos waktu itu. Sinulingga, Sekretaris Desa yang menyambut kami dengan ramah ternyata mengetahui pikiran saya. “Saya juga merasakannya,” katanya memecah jeda sepi beberapa saat. Sedari tadi Bapak ini menemani saya berkeliling, bercerita banyak tentang Desa Lingga. “Biaya perawatannya sangat mahal, lagi pula tidak semua orang mau tinggal di rumah ini. Kalau tidak ada penghuninya rumah akan cepat rusak. Agar ijuknya awet harus ada kehidupan di dalam rumah,” katanya melanjutkan. Ingatan itu membuat air mata saya menetes. Tapi saya tidak tau harus berbuat apa lebih banyak. Mungkin menuliskan perasaan ini bisa bermanfaat, saya pikir.

Pak Sinulingga yang waktu itu banyak bercerita kepada saya. “Kehidupan ditandai dengan adanya asap. Ada yang memasak makanan. Asap akan membuat rumah ini awet,” lanjutnya tanpa menunggu pertanyaan dari saya. Bagi masyarakat Karo, dapur memang mempunyai arti. Dalam masyarakat Karo dikenal istilah Rakut Sitelu, silsilah persaudaraan, seperti tungku dapur yang terdiri atas tiga buah batu. Kalimbubu, anak beru, dan sembuyak. Pembagian tugas, hak, dan tanggung jawab dalam sistem kekerabatan.

Beberapa telah ambruk total dan tak berbekas. “Seperti rumah raja yang seharusnya ada dipojokan sana,”ceritanya lagi. Beberapa sisa-sisa bangunan yang telah rusak malah diangkut ke Bali dan dikonstruksi ulang di sana. Menjadi bagian Desa budaya di Bali. Entah apa tujuannya. Tapi setahu saya, menurut beberapa literatur yang pernah saya baca, Bali memiliki kesamaan budaya dengan masyarakat Karo. Terutama masyarakat Bali asli atau Bali Aga. Beberapa kosa katanya mirip, beberapa bahkan sama persis.

Rumah adat Belang Ayo
Rumah adat Belang Ayo

Ia terus bercerita. Kami terus berjalan berkeliling. Memasuki satu persatu rumah adat. Tuan rumah menyambut kami ramah. Rumahadat Karo biasanya dihuni oleh 6-8 keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Itulah sebabnya rumah ini disebut Rumah Si Waluh Jabu, artinya Rumah Delapan Rumah Tangga. Rumah adat Karo tidak memiliki ruangan atau sekat-sekat berupa dinding kayu atau lainnya. Semuanya lempang begitu saja. Tapi kini, rumah yang ada di Desa Lingga ini dibuat dengan kamar-kamar sesuai dengan jumlah keluarga yang menghuninya.

Rumah ini seperti kebanyakan rumah adat tradisional di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, dibangun dengan tiang-tiang kokoh, tanpa menggunakan paku logam sebagai perekatnya dan merupakan rumah panggung. Tingginya kira-kira 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah. Kolong rumah sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan kayu dan sebagai kandang ternak. Ciri khas masyarakat agraris.

Teras rumah yang memiliki tangga dan balai-balai
Teras rumah yang memiliki tangga dan balai-balai

Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu menghadap ke barat dan satu lagi menghadap ke sebelah timur. Ukuran pintunya kecil. Setiap tamu yang masuk harus menunduk tanda memberi hormat kepada pemilik rumah. Di depan masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu bulat. Serambi ini disebut ture, tempat bertenun, mengayam tikar atau untuk tempat naki-naki, kencan istilah sekarang.

Atap rumah adat Karo terbuat dari ijuk. Di kedua ujung atapnya terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga, disebut ayo-ayo dengan puncaknya tanduk atau kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah. Tanduk itu dipercaya sebagai penolak bala.

Desa Lingga memiliki bangunan tradisional seperti rumah adat, jambur, geriten, lesung, sapo page (sapo ganjang)dan museum karo. Geriten digunakan sebagai tempat penyimpanan kerangka jenazah leluhur. Tapi saat ini kebanyakan bangunan-bangunan itu tak ada lagi. Yang masih bisa kita temukan adalah beberapa rumah siwaluh jabu, griten, kantur-kantur,Rumah Belang Ayo, Rumah Gerga dan museum Lingga. Museum ini disebut jugaMuseum Karo Lingga. Dalam museum ini kita bisa melihat benda tradisional Karo seperti capah (piring kayu besar untuk sekeluarga), tungkat atau tongkat, dan alat-alat musik tradisional Karo.

Atap ijuk yang membuat rumah hangat saat dingin dan adem saat cuaca terik
Atap ijuk yang membuat rumah hangat saat dingin dan adem saat cuaca terik

Tahun ini, saat saya kembali melakukan perjalan ke desa ini, saya berbahagia setidaknya dua rumah ada yang ada di sana saat ini terawat dengan baik dan dihuni. Semoga untuk beratus tahun ke depan bisa tetap dilestarikan.

Puncak Kejayaan Raja-raja Lampau

Setelah berkeliling kampung, kami melepas salam dan bergegas menuju Uruk. Uruk kalau di-Indonesia-kan berarti di atas Bukit. Berdasarkan cerita yang kami dengar dari penduduk, di uruk terdapat makam raja-raja lampau Desa Lingga. Kami keluar dari Kampung melewati gapura kampung penanda daerah wisata. Tertulis di atasnya, “Selamat Datang di Desa Budaya Lingga”. Kami membalikkan badan melihat sebentar dari kejauhan.

Uruk terletak sekitar 1,5 kilometer menuju sebuah puncak bukit. Simpang menuju uruk sekitar 100 meter sebelah kiri gapura. Di seberang sebuah Sekolah Dasar. Tak ada kendaraan menuju ke sana. Mengendarai sepeda motor juga susah karena jalannya menanjak. Jalan datar hanya sekitar 500 meter. Sebelah kiri kanannya adalah perladangan milik penduduk. Lalu saat jalan makin mendaki, di kanan jalan terdapat sebuah jurang dibatasi tanaman-tanaman perdu.

Lelah juga. Kami sampai ngos-ngosan. Berhenti sebentar sekadar menarik nafas. Di tengah jalan kami bertemu dengan dua orang bapak. Mereka adalah keturunan salah satu Sibayak Lingga. Mereka bermarga Sinulingga. Kebetulan sekali mereka juga sedang menuju uruk untuk membersihkan makan. Memotong rumput dan menjaga kerapiannya. Sebuah senapan angin tersandar dipunggung Pak Sinulingga. Sambil berjalan kami bercerita, sesekali ia membidikkan senapan ke arah pohon. Membidik musang yang katanya suka merusak hasil pertanian. Jumlahnya berlebih jadi tidak masalah bila diburu, begitu katanya.

Setibanya di Uruk, Sinulingga kemudian sibuk membabat rumput, membersihkan, dan merawat. Kami sibuk memperhatikan makam, berkeliling, berpose, memotret, dan menikmati pemandangan. Kami berada di puncak tinggi Desa Lingga. Sekeliling kosong, keluasan udara. Jurang ada di sisi-sisinya. Desa Lingga terlihat tak terlalu jelas dari atas. Pepohonan mendominasi. Udara segar terasa benar. Ilalang tidak terlalu tinggi di pojok sana.

Uruk, tempat makam raja-raja Lingga
Uruk, tempat makam raja-raja Lingga

Kami memperhatikan nisan makam. Tertulis nama raja-raja masa lalu itu. Entah berapa generasi. Di satu makam tertulis “Sibayak Pa Tiran, Raja Kelelong Sinulingga, Siencikep Kerajaan Lingga, Mulai Tahun 1934-1947”. Pa Tiran nama panggilan Raja Desa Lingga yang bernama asli Raja Kelelong Sinulingga. Ia adalah penguasa (siencikep) Kerajaan Lingga pada tahun 1934-1947. Dari nisan yang ada dimakam tahulah kami, ia lahir pada tahun 1904 dan meninggal pada tahun 1963. Sekitar lima makam besar ada di sana. Sayangnya makam-makam ini tidak terkesan mistis. Biasa saja karena telah direnovasi dan dilapisi keramik.

Raja-raja atau sibayak ini adalah bentukan Belanda pada zaman penjajahan untuk bernegosiasi dengan penguasa dan masyarakat setempat. Pada jaman dahulu desa Lingga terbagi dalam beberapa sub desa yang disebut kesain.Kesain merupakan pembagian wilayah desa yang namanya disesuaikan dengan marga yang menempati wilayah tersebut. Ada Kesain Rumah Jahe, Kesain Rumah Bangun, Kesain Rumah Berteng, Kesain Rumah Julu, Kesain Rumah Mbelin, Kesain Rumah Buah, Kesain Rumah Gara, Kesain Rumah Kencanen, Kesain Rumah Tualah, kesemuanya merupakan kesain milik marga atau klan Sinulingga. Sedangkan untuk non Sinulingga terdiri dari tiga kesain, Kesain Rumah Manik, Kesain Rumah Tarigan, dan Kesain Rumah Munte.

Berkeliling kebun sayur penuduk
Berkeliling kebun sayur penuduk

Desa Lingga memang menarik secara filosofis dan budaya. Tidak bila Anda mencari kemewahan dan kenyamanan fasilitas. Liburan yang ditawarkan adalah keluhuran budaya, isu yang tengah marak dibicarakan. Postmodernisme membuat orang-orang merindukan sentuhan masa lalu. Orang beromansa dengan keindahan klasik. Mewarnai kekinian dengan keluhuran masa lalu. Para kalangan babyboomer berlomba-lomba mencari kesenangan menuju daerah-daerah berbudaya eksotik seperti Desa Lingga. Perbincangan kebudayaan dan heritage menjadi begitu seksi. Hitung-hitungan ekonomi bisa diterapkan di sini.

Kalau mau melirik bisnis ini, masih belum terlambat. Keuntungan ekonominya akan membantu pelestarian kebudayaan kita. Atau paling tidak mari kita lirik, mulai dari kita yang berusaha mencintainya. Saya tidak bisa berbuat banyak. Saya telah tuliskan, mudah-mudahan membuat kita bisa semakin mencintai dan memaknainya.

Gereta lembu, transportasi tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk berangkat ke ladang
Gereta lembu, transportasi tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk berangkat ke ladang

How to get there:

Desa ini tidak terlalu jauh kok dari kota Kabanjahe. Untuk menjangkaunya, dari Medan kamu bisa naik kendaraan pribadi atau menumpang kendaraan umum seperti Sutra, Sinabung Jaya, Murni atau Borneo. Dari terminal Kabanjahe kamu bisa menumpang angkutan dalam kota menuju Desa Lingga.

What to do:

Di Desa Lingga kamu bisa berkunjung ke Museum Lingga, di sana kamu bisa lihat berbagai peninggalan kebudayaan Karo yang unik. Selain itu kamu bisa melihat arsitektur rumah adat Karo yang luar biasa. Nikmati filosofi bangunannya dan kalau sempat tinggallah satu malam di sana. Rasanya akan berbeda. Seperti saya, bermainlah ke Uruk, ke makam raja-raja. Pemandangan luar biasa dari atas puncak bukit akan memanjakan mata. Dan… saat pulang kamu bisa singgah di pasar buah Berastagi, membeli beberapa buah khas Karo juga tanaman bunga-bungaan yang lucu-lucu.