SEBULAN KELILING JAWA (PART 6- END)

Teks: Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

UNPREPARED ADVENTURE TO ‘PANTAI LAUT SELATAN’.

Semoga kalian masih betah membaca perjalanan saya keliling Jawa. Ini adalah bagian akhir dari rangkaian tulisan perjalanan sebulan keliling Jawan. Setelah beristirahat satu hari, Brewok rencananya mau menguber kerjaan yang menumpuk dulu selama beberapa hari sebelum jalan-jalan lagi.

Siang itu kami makan siang di angkringan dekat ISI, nasi dan sayur ambil sepuasnya, seperti biasa. Yang dihitung hanya lauk, saya ambil sate usus dan bakso. Harganya? Masih di bawah 10 ribu. Jadi saat kami makan, Brewok menerima whatsapp dari Andrew, si kawan bule. Dia ‘otw’ ke Wonosari, menuju Pantai Selatan, dan besok dia akan terbang ke luar negeri. Dari kemarin-kemarin kami sudah berencana untuk ke Wonosari bareng-bareng. Tapi sering kali bentrok dengan jadwal saya dan Brewok mau pergi, hari ini juga, rencananya kami mau fokus berkarya saja di rumah. Sambil mengunyah, kami berdiskusi apakah bisa menyusul hari ini. Brewok harus bertanggung jawab dengan jadwal kerjanya sendiri, harus bisa menyelesaikannya tepat waktu walau hari ini berangkat. Jadilah kami berangkat mendadak, langsung setelah makan siang. Tanpa persiapan apa-apa. Jam menunjukkan pukul 12 siang, juga menghindari pulang terlalu malam.

Jalannya sungguh stressful bagi saya. Lagi-lagi naik turun terjal dan belok-belok curam, saya mual lagi. Melintasi Imogiri, Gua Maria Tritis. Memakan waktu hampir 3 jam. Mendekati pos penjualan tiket menuju tempat wisata pantai-pantai, kami dicegat saat Brewok mau melewati loket hohoho. Brewok menyebutkan nama villa milik temannya (yang memang benar adanya) seolah kami ada kepentingan dengan pemiliknya/tempat tersebut, kami dibebaskan lagi dari tiket masuk.

PANTAI INDRAYANTI
Kami tiba di Pantai Indrayanti, dari pos retribusi tadi ke pantai lumayan jauh juga, memakan waktu 20 menitan. Ada banyak pantai yang bisa dipilih di situ, Brewok lebih kenal Pantai Indrayanti. Dan sinyal hape ternyata tenggelam. Tidak bisa menghubungi Andrew, tadi sudah janjian di Pantai Indrayanti. Andrew melalui jalur kota yang lebih jauh, kami melalui rute lebih pendek. Harusnya dia sudah tiba. Kami jalan menuju pantai dulu. Ohh saya benar-benar terpesona dengan pemandangannya. Hamparan ombak yang lebih tinggi dan kencang daripada yang saya lihat di Pantai Parangtritis, batu karang di pesisir, menghipnotis saya beberapa menit menikmatinya dari jauh, sebelum saya perlahan menginjakkan kaki dia atas bebatuan karang yang berwarna hijau dan coklat karena tertutup lumut dan tanaman laut lainnya. Anehnya tidak licin, saya mengamati dari dekat, banyak makhluk-makhluk laut! Antara geli dan penasaran, kami menyentuh satu persatu, ada makhluk seperti siput tanpa cangkang, warnanya hijau kecoklatan. Kamuflase di antara baru karang, tersamar sekali, dan ternyata banyak jumlahnya, saya jadi berhati-hati berjalan. Ada juga bintang laut tapi kaki-kakinya berduri halus, Brewok iseng menarik mereka keluar dari sarang (don’t try this).

Berjalan menyusuri pantai
Berjalan menyusuri pantai
Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Ada bintang laut
Ada bintang laut

Saya berlari-lari di pasir putih halusnya, mengejar kepiting kecil berwarna putih yang terbang tertiup angin, saya senang sekali, saya tersungkur bermain dengan segala sesuatu di pantai itu! Rupanya brewok sudah jauh berjalan ke arah salah satu sisi, saya menyusul, sampai salah satu ujung, di dekat bebatuan karang besar, ada mas-mas yang memancing ikan, ada ikan-ikan kecil terlihat di air jernih itu, tetapi mereka sungguh lincah, jangan harap untuk menangkapnya. Lalu kami mulai mencari Andrew. Selangkah demi selangkah kami telusuri perjalanan hingga ke pantai sebelahnya, lalu keluar sampai ke area parkiran, tidak ketemu juga, sambil mencoba memghubungi terus. Lalu saat nyaris putus asa dan berjalan kembali ke motor kami, Andrew lewat naik motor, akhirnya kami bertemu. Dia habis dari pantai yang lain. Lalu brewok mengusulkan untuk mengunjungi satu pantai lagi, yakni Pantai Wediombo, pantai yang ada kolam alaminya di antara batu karang. Jaraknya masih sekitar 10 km lagi. Saya ikut saja.

Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Cakep
Cakep

PANTAI WEDIOMBO & INSIDEN KECIL YANG JADI PELAJARAN

Sesampainya di Wediombo, saya masih dipertemukan dengan lautan yang lebih menderu-deru ombaknya, bebatuan indah bersusun, jam menunjukkan pukul 3. Saya memotret pemandangan, Brewok dan Andrew jalan duluan sambil mengobrol. Saya ketinggalan jauh sekali, mungkin karena kaki saya pendek juga, atau saya terlalu menikmati indahnya goresan Sang Pencipta ini.

Pantai Wediombo
Pantai Wediombo

Foto 76-wediombo (3)

Saya tidak tau sampai seberapa berjalan, mereka menghilang di balik bebatuan. Karena saya mulai sibuk merekam video saat posisi dekat sekali dengan ombak. Beberapa langkah menaiki bebatuan besar, sampailah saya di sebuah kolam yang terbentuk di tengah bebatuan. Kolam kecil dan dangkal, terisi air laut sedada. Ada beberapa pengunjung juga yang sedang berenang, ber-selfie ria di atas batu karang, ada juga yang duduk menunggu. Brewok dan Andrew memanjat ke sebuah batu yang tinggi, tiba-tiba mereka berteriak, saya sampai kaget. Rupanya kena cipratan ombak yang membentur dinding batu tersebut. Pakaian mereka sedikit basah. Lalu Brewok melepaskan kaosnya dan berenang di kolam. Sedangkan Andrew berjalan jauh ke ujung lagi untuk merekam video. Saya juga mengeksplor memanjat ke batu yang tinggi walau saya sebenarnya takut. Saya merasa tempat ini berbahaya sekali. Saya merekam dari batu yang tertinggi, tiba-tiba ombak menghantam dan saya terkena cipratannya sedikit. Saya kaget sekali dan berpegangan kuat pada batu. Saya merekam sebentar lagi lalu turun, melanjutkan merekam ombak di teluk kecil di bawahnya, di samping kolam. Lalu saya menghentikan rekaman dan memperhatikan.

 Foto 77-wediombo (4)

Ombak di teluk kecil itu makin lama makin tinggi. Sepertinya mulai pasang. Ada orang yang masih bermain di atas bebatuan, saya takut ombak yang lebih kuat menghantam. Benar saja, tiba-tiba ombak yang sangat tinggi datang, yang tadinya hanya cipratan, menguyur kuat mereka, dua pemuda itu jatuh tergelincir dari batu, menuju kolam, kolam yang mendadak dalam karena volume air yang bertambah. Mereka kelihatan panik, struggle untuk meraih darat dan kemudian berhasil naik, bersiap-siap pergi dari situ. Saya, Brewok, dan Andrew juga bergegas kembali karena air mulai pasang. Kami menemui rombongan tadi tak jauh dari sana, seorang pemuda duduk berlumuran darah di kaki, betis, dan bokong. Tangan sebelah kanannya luka parah. Darahnya bercampur dengan air laut di atas batu. Dia mengigil karena shock dan kedinginan. Saya menawarkan dia memakai sweater Andrew. Seorang pemuda dari rombongan lain bersama Andrew membopongnya. 3 rombongan yang tak saling kenal dalam satu tempat tadi akhirnya berjalan bersama. Satu temannya yang juga terjatuh, tidak mengalami luka parah, hanya sedikit lecet di tangan dan kaki. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat karena jalan cukup jauh dan dia masih kesakitan. Dia sudah beruntung, tidak mengenai kepala. Jika tadi mengenai kepala, bisa berakibat kematian.

Saya sudah takut sekali saat kejadian itu. Memang lautan itu tidak boleh untuk bermain-main, mereka sudah dinasehati warga setempat agar jangan bermain terlalu lama disitu karena sudah mau pasang. Apalagi konon katanya Pantai Laut Selatan ini punya cerita mistik yang kental. Sampai di warung tepi pantai, kami basuh lukanya dengan air hangat, sembari menenangkan diri. 3 rombongan ini jadi saling berkenalan dan mengobrol. Si korban ini, asalnya jakarta. Sedang liburan di Jogja. Mereka mungkin tidak bisa melanjutkan liburan selanjutnya.

Cukup menenangkan diri, hari sudah cukup gelap. Mereka ijin pulang. Saya, Brewok, dan Andrew kelaparan. Kami makan di warung itu. Seporsi ikan nila bakar dengan satu dandang nasi yang bisa buat berdua, daaannn sambal bawangnya enak! dihargai 25 ribu. Cukup memuaskan. Kami melihat ada api dari bawah, dekat pesisir. Selesai makan kami bergegas kesitu. Kami pikir api unggun, rupanya itu sampah yang dibakar, yasudah kami sekalian menghangatkan diri sebentar sambil menatap langit. Bertabur bintang dan bulannya penuh, terang, dan besar. Indah sekali. Saya rasa saya tidak punya kesempatan untuk melihat milkyway liburan kali ini, padahal sudah berharap ada kesempatan. Jam menunjukkan pukul 6.30 saja. Tapi sudah terasa seperti jam 9 malam. Duduk-duduk sebentar dan kami diberitahu penjaga warung akan mematikan lampu warung. Wow… ternyata satu pantai sudah gelap semua. Kami bergegas pulang. Parkiran juga hanya tinggal dua motor kami.

WHAT A LOVE-HATE ROAD TO GO BACK

Keluar dari area pantai, jalur stresful tadi lebih stresful lagi kali ini. Gelap gulita! Tidak ada lampu jalan. Saya sudah teler saja. Sekitar setengah jam perjalanan, ternyata ban bocor. Kami harus cari tambal ban malam-malam, di tengah kegelapan, di desa kecil itu. Kami temui satu tambal ban, tidak ada orangnya, Brewok mengetuk pintu rumahnya. Syukurlah masnya ada, tapi menunggu dia selesai makan. Padahal selesai dia makan dia berencana pergi. Beruntung kami tidak terlambat mendatanginya. Kami dipersilakan duduk di terasnya oleh mbaknya. Mungkin istrinya. Saya permisi menggunakan kamar kecil. Kamar kecilnya tidak kecil, ada kolam besar berisi air. Seperti kolam pemandian. Hahaha. Lalu saya baru diberitahu mereka sulit air. Jadi air itu ditampung. Tak lama setelah kami duduk, mbaknya keluar membawa tiga gelas teh hangat dan satu toples krupuk. Kami tersentuh sekaliii. Ya ampun, jadi tidak enak hati.

Menunggu ban sepeda motor ditambal
Menunggu ban sepeda motor ditambal

Sungguh keramahan yang diberikan disini menghangatkan hati. Di keadaan dingin dan panik seperti ini. Tehnya nikmat sekali. Sekitar setengah jam sampai selesai pengerjaan bannya, kami berangkat pulang. Beberapa saat setelah itu saya mau buang air kecil lagi, juga kedinginan, singgah ke kantor polisi untuk pinjam toilet, berujung ngobrol dengan beberapa polisi, lalu bergerak lagi. Kembali melewati Imogiri, Andrew mau duluan karena harus packing dan berangkat pagi-pagi. Kami mau cari sate klathak lagi, hehehe, untuk ketiga kalinya. Sate klathak Pak Pong yang di pasar. Ramai sekali. Tempatnya adalah pasar tradisional yang beroperasi pagi-siang hari, jika malam tutup dan Sate Pak Pong ini beraksi. Lesehan beralaskan tikar, agak gelap. Nikmatnya tetap nomor satu. Tidak lama-lama, kami beranjak dan membayar seharga 50 ribu untuk dua porsi. Sampai di rumah pukul 11 malam. Tepar lagi.

DINNER KURANG ROMANTIS

Sore ini mau dinner romantis di resto Rosella Easy Dining di Sleman, agak jauh tapi sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Sekitar 30 menit dari Sewon, mencari-cari… menerka-nerka… saya mengetahui resto ini dari artikel yang saya baca sebelum ke Jawa. Link artikelnya: www.qraved.com/journal/restaurants/12-restoran-di-jogja-yang-harus-banget-kamu-coba/

Sebuah resto pinggir sawah dengan setting romantis. Jalan Kabupaten KM. 5, Sleman. Jalan Kabupaten lumayan panjang, kami menelusuri sampai ujung yang mendekati Ringroad Utara. Akhirnya ketemu… tapi. kok. sepi. tidak ada tanda-tanda kehidupan, saya mengintip ke dalam, memang setting yang romantis, di pinggir sawah. Tiba-tiba saya ditegur oleh tetangga di situ bahwa mereka tutup hari ini, tidak biasanya. Saya patah hati sekali, kecewa. Kami kembali, di jalan Kabupaten tadi kami melihat satu resto yang nggak kalah romantis. Dikelilingi kolam atau sungai kecil. Dengan remang-remang lampu kuning dan lilin-lilin. Tapi tutup juga, entah hari spesial apa saat itu. Lalu kami kembali ke daerah Sewon. Sesuai artikel, masih ada resto yang menarik hati selain Rosella. Kami ke jalan Tirtodipuran, mencari Mediterranea Restaurant. Sesampainya di dalam, penuh dengan turis barat. 90%nya turis barat. Saya memesan Duck Confit (steak bebek) seharga 67 ribu dan brewok memesan Beef Carpacio (irisan daging sapi yang ternyata setengah matang) seharga 55 ribu. Lalu saya tambah pasta Penne Tuna & Spinach seharga 50an ribu. Minum Ice Lime 12 ribu dan Matcha Latte 28 ribu.

Dinner yang butuh perjuangan
Dinner yang butuh perjuangan

Saya puas sekali dengan pesanan saya, daging bebeknya empuk dan gurih. Ada salad dan wedges kentang yang disajikan bersama keju dan krim. Cukup kenyang buat satu orang, bahkan bisa buat berdua. Sedangnya pesanan Brewok, Beef Carpacionya, agak mengecewakan, tidak sesuai selera kami, itu juga hanya sebagai makanan pembuka. Disajikan sepertinya setengah matang dan dingin, dan diberi asam. Tapi habis juga kami santap. Pasta Pennenya lumayan lezat, wangi. Kami duduk juga tidak lama, sampai disana saja sudah hampir pukul 10. Resto ini beroperasi pukul 11 pagi sampai 11 malam, tutup setiap hari Senin. Saat membayar, semua makanan tersebut dihargai 220 ribu. Dan tidak ada Ppn! Semua harga makanan & minuman sudah termasuk pajak dll. Saya acungi 4 jempol dari 5 jempol saya untuk resto ini. Kenyang perut, saatnya pulang dan beristirahat. Worthed untuk memperoleh buncit besok pagi. Oh ya, saya diundang Mbak Maya untuk bakar Sate Klathak besok pagi di rumahnya di Kaliurang. Jam 7 pagi, duh?! Pagi sekali.

HOMEMADE SATE KLATHAK (PART 4) DAN ICIP-ICIP KUE DI CINEMA BAKERY

Mbak Maya benar-benar menjemput saya jam 7 pagi, sampai di rumahnya di Kaliurang jam 8. Bersama satu teman Mbak Maya dari Tasikmalaya, Mbak Vina, kami bertiga langsung beraksi di dapur. Dibantu ayahnya Mbak Maya, kami memotong-motong daging domba muda, menusukkan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Dibakar oleh ayahnya Mbak Maya. Kira-kira kami dapati 35 tusuk. Habis kami santap berempat, diteras rumah Mbak May, digelar tikar, ada kolam dan banyak tanaman. Duh saya betah sekali dengan suasana-suasana seperti ini. Saya makin sedih menjelang pulang.

Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya
Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya

Yuk makan sate klathak
Yuk makan sate klathak

Jam 1 siangnya saya ada janji makan siang dengan Brewok dan temannya di dekat XXI Empire, Resto Platers. Saya diantar Mbak May lagi. Duh saya merepotkan Mbak Maya sekali, jauh dari rumahnya. Saya hanya beri hadiah kuping-kupingan kucing yang dia sukai dari Popcon Asia di Jakarta kemarin. Selesai makan siang dan chit-chat sebentar, saya dan Brewok mau nonton bioskop di XXI. Mission Impossible: Rogue Nation. Saya membayangkan nonton dengan romantis. Yang saya dapati? Dia tidur. Okay. Spesial sekali. Mungkin dia punya momen yang lebih romantis dalam mimpinya.

Cinema Bakery
Cinema Bakery

Setelah usai film, kami menyeberang, ada Cinema Bakery, beberapa hari di Jogja saya tiba-tiba ingin makan kue-kue cantik yang enak, saya diberitahu teman bahwa bakery ini enak, pemiliknya orang Prancis. Saya tahu disini tidak memiliki cafe pattiserrier sebanyak Medan. Konsep cafe ini adalah cinema, dekorasi interiornya berhubungan dengan film-film. Unik dan luas, juga nyaman. Ada ruangan yang mungkin bisa digunakan untuk nonton film bareng. Saya langsung panik memesan beberapa kue, harganya relatif murah ketimbang kue-kue cantik di Medan bahkan (maaf) banyak yang rasanya kurang sesuai dengan harga. Harga disini berkisar belasan ribu sampai 35 ribu. Saya pesan cake Tiramissu kesukaan saya, Red Velvet, dan Brewok mau Strawberry Shortcake dan sebiji macaron. Minum espresso dan lemon squash. Selesai itu, saya pesan Quiche Beef lagi. Total semua? 160 ribu sekian. Kenyang super (lagi), worthed untuk membuncit (lagi). Good days for satisfy my belly, tasted very good.

Kue-kue Cinema Bakery
Kue-kue Cinema Bakery 

LAST DAY IN JOGJA, HUTAN PINUS, DAN SATE KLATHAK (LAGI)

Hari terakhir di Jogja, saya mulai lemes. Brewok bertanya kemana lagi saya hendak pergi. Saya sudah kehabisan ide, juga tidak ingin terlalu capek. Dia punya ide mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri. Kami berangkat siang itu. Jarak ditempuh sekitar 40 menit. Di perjalanan kita bisa melihat kota Jogja dari ketinggian, Mangunan, dari celah-celah pohon kayu putih. Jalannya masih berbelok curam dan naik turun. Syukurlah tidak banyak dan tidak terlalu parah. Memasuki kawasan tersebut, disuguhi pemandangan pohon-pohon pinus yang tinggi-tinggi menjulang. Sayangnya saya kurang bisa menikmati karena di perjalanan saya kelilipan abu rokok Brewok, yang membuat saya rusak mood seharian (pemirsa sekalian, harap kurangi/ hindari rokok ya). Kami berfoto di sela-sela pohon pinus. Sesekali memandang ke atas menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh gesekan ranting di atas sana. Teduh dan tenang.

Perjalanan menuju hutan pinus
Perjalanan menuju hutan pinus
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan Pinus
Hutan Pinus
Langit-langit yang cantik ya...
Langit-langit yang cantik ya…

Tampak juga banyak pasangan yang menikmati momen romantis disana (ngenes, dapat pasangan yang nggak romantis). Ada photoshoot cosplay juga. Kami jalan menaiki bukit, ada tempat di mana mereka membangun beberapa rumah pohon tanpa atap. Cukup memancing adrenalin untuk memanjat ke atas, di terpa angin kencang dan pondoknya bergoyang, dibangun di antara dua pohon tinggi. Mood booster saya juga setelah mencoba itu. Antara excited dan ketakutan.

Berani nyoba?
Berani nyoba?

Tak lama, kemudian kami turun, menjelajahi satu jalan kecil, sekitar setengah kilo ke bawah, ada Batu Tumpeng, hanya batu-batuan yang saling bertindihan. Kami kembali ke pintu masuk, ada petunjuk suatu mata air, sekitar 1 km masuk. Kawan-kawan tidak perlu masuk, cukup jauh ke bawah, dan ternyata mata air yang sudah dimodif, bukan alami. Sudah cukup lelah kami menjelajah, kami pulang.

Melewati Imogiri, tebak apa yang saya singgahi lagi di Imogiri? Betul. Sate Klathak lagi. Ehehe, ke-6 kalinya. Tapi kali ini saya ingin Tengkleng, kata Mbak Vina itu enak sekali, klamut-klamut daging yang melekat pada tulang-tulang, mungkin iga atau semacamnya. Kami ke Pak Pong yang terkenal dan biasanya ramai itu. Terrrnyata, Tengklengnya kosong. Saya sedih dan menyesal baru ingin mencarinya sekarang, di saat-saat terakhir. Akhirnya saya pesan Tongseng saja, bentuknya potongan daging, dengan kuahnya. Brewok pesan klathak, saya pasti merampoknya. Penuh perut, dan kami pulang. Saya beberes, packing untuk pulang ke Medan besok.

Makan di Pak Pong (lagi)
Makan di Pak Pong (lagi)

PULANG KE JOGJA LAGI LAIN KALI!

Pulang? Jogjalah sebenarnya tempat saya (dan banyak orang) berpulang. Jogja adalah kota dimana semua orang merasa nyaman, hangat, dan tenang. Saya akan pulang ke Jogja lagi tahun depan, doakan. Juga berencana mengunjungi tempat-tempat lain, nominasinya Surabaya, Bromo, Bali. Sudah cukup perjalanan hampir sebulan ini, kantong juga sudah kosong, terima kasih buat kawan-kawan semua, Mbak May, terlebih tur guide saya , Mas Brewok. Hahaha. Puji kepada Tuhan dengan segala keindahan alamnya dan saya bersyukur dan pantas bisa meluangkan waktu dan hartaku untuk mengaguminya. Sampai jumpa, Java. Semoga tulisan saya ada manfaatnya bagi teman-teman yang akan mengunjungi tempat-tempat istimewa ini, indah rasanya bisa saya bagikan pengalaman berharga ini dalam tulisan panjang lebar begini supaya bisa dinikmati. Hahaha! Semoga ya….

Studionya Mas Brewok
Studionya Mas Brewok

Yang berkunjung / berdomisili di Jogja, jangan sungkan untuk mengunjungi workshop kerajinan kulit Monkey x Rabbit milik Brewok di Dusun Karangnongko, Sewon, Bantul, kontek aja 089669974368. Maaf promo dan bukan titipan sponsor. :p

(END)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 4)

Teks: Sal Nath/ Foto Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

MEMBAWA PULANG ULAR DARI PASAR SATWA DAN TANAMAN HIAS

Hari itu saya bikin janji dengan Mbak Maya teman dunia maya yang menjadi nyata. Kami ke Pasty alias Pasar Satwa dan Tanaman Hias. Di jalan Bantul KM1. Tempat itu terdiri dari dua area yang terletak bersebrangan. Saya memasuki area satwa dan isinya tentu saja bermacam ragam hewan. Banyak kerajinan sangkar burung dan perlengkapan memelihara hewan. Ada aneka burung, kucing, anjing, monyet, ayam, tupai, reptil, dan kelinci. Lalu saya berhenti sejenak di sebuah toko penuh dengan ular. Saya melihat ada kumpulan ular kurus berwarna hijau terang meliuk-liuk di akuarium kecil dari salah satu pajangannya. Saya iseng meminta ijin untuk mengeluarkan ular tersebut, alhasil saya membawa pulang Ular Pucuk untuk menjadi teman main seminggu. Seharga 30 ribu (saya tawar jadi 20 ribu), Mbak Maysun tidak takut, malah ikut excited karena dia juga penyayang binatang. Teman-teman geleng-geleng saya bermain dengan ular dengan bisa level medium itu. Lucu saja. Kurus, hijau terang, meliuk-liuk. Benar-benar jadi teman bermain saya beberapa hari saat brewok sibuk bekerja.

Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja
Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja

MAKANAN JOGJA? SIAP-SIAP PANIK.

Tidak pusing mencari makan di Jogja. Tidak perlu takut mahal. Sudah tidak asing terdengar bahwa makanan Jogja itu murah meriah dan enak-enak! Suatu malam Brewok mengajak saya ke salah satu cafe (sebenarnya lebih tepat disebut warung makan) yang kata doi termasuk mahal, tapi enak. Wow benar saja, enak-enak! Saya langsung ketagihan, makan disitu hampir tiap hari. Mahal? Tidak. Ikan lele/ayam/cumi/ nila yang goreng/bakar/saus tiram/saus mentega/saus padang/ dll bisa didapati seharga 7 ribu – 13 ribu. Nasi cuma 2 ribu. Minuman ya seperti dimana-mana di Jogja itu 2 ribu sampai 5 ribu. Yah sekali makan agaknya belasan ribu saja paling mahal. Berdua sekitar 20-an ribu saja setiap makan. Eits, belum saya sebutkan namanya, namanya Cafe AngSa (Angkringan Santo) letaknya persis belakang kampus ISI Fakultas Seni Rupa, Jl. Ali Maksun itu lagi. Sebuah warung makan sederhana, banyak mahasiswa /mahasiswi ISI yang selalu nongkrong disitu, buka dari siang sampai pukul 01.00 dini hari. Wajib coba dan hati-hati ketagihan. Ada kucing manja yang selalu mengeong minta makan.

Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!
Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!

Beberapa hari disini, makan di berbagai angkringan dan warung makan, ternyata sering menjumpai sambal bawang disini, pedasnya wow. Saya jarang menemui sambal ini di Medan. Rasanya cocok sekali dengan lidah saya yang suka pedas. Setelah perut kenyang, pulang ditiup-tiup angin malam Jogja yang dingin. Sambil sesekali menegadah ke atas, melihat jernihnya langit, bertabur bintang, saya bersyukur sekali masih ada kota yang nyaman seperti Jogja ini.

PANTAI PARANGTRITIS & SATE KLATHAK IMOGIRI.

Mas Brewok mengajak ke Pantai Parangtritis di suatu sore, perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit saja dari Sewon. Rutenya sangat simpel, hanya lurus dari Jalan Parangtritis ke arah selatan. Masih jalan kota, jalan besar. Melewati Pasar Seni Gabusan, central kerajinan kulit Manding. Memasuki area retribusi, saya pikir kami harus membayar tiket masuk, tapi… Brewok… dengan santainya nyosor masuk melewati pos pembelian tiket. Ups? “Nggak usah bayar kan, pasang saja tampang sangar, percaya diri, jalan lurus, dipikir warga sini toh.” Jjjiiiah Beb, jangan sering-sering yaaa, walau tiket juga mungkin murah saja, kita terkadang juga perlu berpartisipasi mensejahterakan tempat-tempat wisata seperti ini.

Well, saya sempat beberapa kali berujar kenapa tidak tampak tanda-tanda ada pantai, karena pandangan tertutup pohon-pohon, semak belukar dan gumuk pasir, gumuk pasir adalah gurun pasir yang terbentuk dari pasir pantai yang tertiup, jadi kamu bisa berfoto disana seolah di gurun pasir, juga bisa sand-boarding. Lalu suatu ketika, ada celah dimana saya melihat, horizon yang indah! Saya langsung excited. Kami cari tempat parkir dan bergegas menuju pantai. Ada ombak yang tinggi! Ini ombak tinggi yang pertama saya lihat. Beberapa foto dijepret dekat landmark tulisan Pantai Parangtritis.

Kami sadar harus mengisi perut di salah satu warung dekat pantai. Sedihnya, pemandangan sunset tidak sempat kami nikmati lama karena kami terlalu lama di warung makan. Tapi pemandangan sehabis itu masih tidak mengecewakan saya. Indah. Refleksi langit yang jatuh ke pasir yang basah menghipnotis saya.

Selamat datang di Pantai Parangtritis
Selamat datang di Pantai Parangtritis 

Pasir halus memanjakan telapak kaki, angin sepoi-sepoi memancing kami untuk mencicipi wedang ronde yang dijual di tepi pantai itu. Kalau siang hari ada jasa menunggangi kuda di pesisir, tapi karena sudah menjelang malam, mereka sudah pada bubar. Juga ada yang berjualan jajanan seafood seperti udang dan kerang, juga sudah pada pulang. Brewok pernah bilang ini pantai yang ‘biasa-biasa’ saja disana, wah bagi saya ini sudah cukup luar biasa, nggak sabar mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul yang katanya maut sekali indahnya. Langit sudah mulai gelap, pulangnya kami melewati Imogiri, kami singgah ke rumah kawan kami di daerah Sindet. Mas Apriyadi Kusbiantoro, seorang komikus yang sedang naik daun, bukan hanya di negara sendiri tapi di Eropa, dengan komik legendarisnya, Lemuria.

Sunset yang memanjakan mata
Sunset yang memanjakan mata

Selesai ngobrol, kami mulai merasa lapar dan berencana hunting makanan lagi di perjalanan pulang, masih di daerah Imogiri, papan reklame “Sate Klathak” bertebaran sepanjang jalan, disitu memang pusatnya. Karena sate klathak terkenal Pak Pong itu sedang ramai, kami singgah ke warung klathak yang lain. Dua tusuk dengan kuah gulai, satu nasi. Seporsinya 25 ribu. Sejujurnya saya kurang kenyang, hahaha. Ini sate klathak kedua setelah mencicipi klathak pertama kali di pinggir jalan saat bersama Mbak Maya sepulang dari Pasty kemarin, sekitar jalan Parangtritis juga.

Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)
Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)

GEMBIRA LOKA ZOO DAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA DI TAMAN KULINER CONDONGCATUR

Pagi ini kami mengembalikan ular pucukku ke penjualnya di pasar satwa, tadinya mau dilepas atau dihibahkan ke teman, tapi berhubung ular ini beracun medium, takutnya membahayakan masyarakat, juga belum menemukan teman yang berminat memeliharanya. Setelah itu kami ke kebun binatang Gembira Loka, buka dari pukul 08.30 sampai 15.30. Tiket satu orangnya Rp. 20 ribu. Dibekali satu lembar map dan peraturan-peraturan di dalam. Jadi, benar bahwa gosipnya bonbin ini besar dan lengkap. Dari orang utan, harimau, beruang, buaya, macan, ikan-ikan langka, burung unta, dan ada ruang interaksi bebas dengan macam-macam burung. Ada hewan pendatang baru yang digemari masyarakat, Jack si penguin afrika. Ada jadwal show untuk si Jack yakni pukul 09.30 – 13.00 setiap hari, feeding time harimau setiap hari minggu dan libur nasional pukul 12.00. Ada juga jadwal khusus untuk menunggangi kuda, gajah, dan banyak lagi. Ada sarana Bumper Boat, berkeliling menggunakan kapal kecil, perahu kayuh, kolam tangkap, terapi ikan, sepeda sewa dan sirkuit ATV. Juga ada fasilitas mengelilingi rute bonbin dengan Taring, transpor keliling. Kami cukup lelah berjalan dan menelusuri semua sudut bonbin. Syukur ada beberapa warung di ujung perjalanan. Menengak sesuatu yang segar sambil duduk beristirahat memandangi kolam.

Kebun Binatang Gembira Loka
Kebun Binatang Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Lihat di belakang saya ada apa? :D
Lihat di belakang saya ada apa? 😀

Tak lama kemudian kami capsus ke Taman Kuliner Condongcatur. Kebetulan event Festival Kesenian Yogyakarta sedang berlangsung. Di dalamnya kami dapati banyak sekali stand yang berjualan barang-barang kerajinan dan makanan. Di tengah-tengah ada lapangan yang di-instal panggung yang cukup megah. Sebenarnya kami kemari menantikan konser dari teman saya, nama beliau Maz Inung. Sebut saja gitaris Tiga Gunung Lima Lautan. Seorang bapak dengan multi talenta yang sudah mengukir banyak prestasi. Saya belum sempat bertemu dengan beliau selama di Jogja. Hari ini berharap bisa melihat penampilannya dan menyapa walau sebentar. Sempat mengantri lama membeli sebuah jajanan minuman berkemasan dot bayi, kami duduk sambil mengenyot dot, duduk lesehan di tengah lapangan yang sudah ramai. Menonton wayang orang atau ketoprak dalam bahasa jawa, saya salut dengan penampilan mereka yang maksimal sampai akhir. Tepuk tangan meriah dari penonton, menyambut acara selanjutnya.

Pertunjukan kesenian yang memukau hati
Pertunjukan kesenian yang memukau hati

MC memperkenalkan Maz Inung yang berkostum putih ala primitif Amerika, dengan kursi roda dia tidak pernah kehilangan pesonanya. Melantunkan tembang-tembang yang kritis dan penuh motivasi untuk masyarakat jogja, dengan iringan genderang dan dayang-dayang penari. Konser beliau sungguh memukau. Saya dan Brewok segera menyusul beliau setelah penampilannya. Hanya sempat mengobrol sebentar dan beliau segera pamit karena ada urusan lagi. Benar-benar sibuk sekali. Tak lama baru datang kawan kami yang telat hadir, Mas Rangga, seorang pujakesuma (putra jawa kelahiran Sumatra, Medan juga) yang berdomisili di Bantul. Bersama anak dan istrinya yang seorang berkebangsaan Belanda. Well acara sudah habis dan banyak toko yang sudah tutup, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kami mongobrol sambil berdiri, yang akhirnya Brewok olahraga menemani Kenji, anak mereka yang sekitar 3 tahunan, main kejar-kejaran di lapangan, 2 jam. Brewok senang dengan anak kecil. Akhirnya kami pulang dan beristirahat pukul 1 dini hari. Sebenarnya besok pagi-pagi kami akan berangkat ke Semarang…. well… we made a mistake. Or not. What a good night anyway. (to be continued)

Taman Kuliner Congcat
Taman Kuliner Congcat