Trunyan, Makam dan Cerita Tentang Bali Aga

Teks dan Foto oleh @Eka Dalanta

Traveling- it leaves your speechless, then turns you in to a storyteller. –Ibn Batutta-

Berada di Bali, buat saya punya keasyikan sendiri. Meskipun Bali kata banyak teman rasanya sudah terlalu mainstream, tapi bagi saya, saya tetap ingin menginjakkan kaki di Bali. Bahkan setelah perjalanan kali ini juga.

Ini cerita tentang perjalanan saya, suatu hari di hidup saya, saat berada di sini. Di sebuah negeri yang kabarnya adalah Negeri Dewata. Negeri yang sudah tersohor sebagai tujuan wisata terbesar di Indonesia.

Berada di tempat baru selalu menimbulkan pengalaman-pengalaman baru. Pengalaman pertama pada sebuah perjalanan akan membuat kita kehabisan kata-kata. Takjub, terkagum, dan tentu saja puas. Apalagi saat berada di sini. Di sebuah tempat yang kaya dengan segala keindahan. Cerita perjalanan memang selalu menarik diceritakan. Barang dapat habis dijual-beli. Tapi pengalaman, yah, pengalaman tak akan pernah habis untuk diingat dan diceritakan. Dan sekarang, setelah perjalanan kali ini, saatnya saya memainkan peran sebagai tukang cerita.

Banyak tempat menarik di Bali. Pantai Sanur misalnya. Pantai ini terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya yang luar biasa bagus. Atau Nusa Dua. Atau Pantai Kuta yang terkenal dengan ombak besarnya, hiburan malamnya, tempat belanjanya, dan penginapan murahnya di Jalan Poppies. Sebagai perjalanan pertama ke Bali, saya juga tidak melewatkan tempat-tempat wisata yang sudah umum tersebut. Lalu, atas rekomendasi salah seorang kawan yang orang Bali asli, Kunthayuni, seorang perempuan Bali asli, Hindu yang taat, vegetarian dan… sangat ramah. Sebenarnya Kuntha belum pernah juga ke tempat ini. Tapi ia menjamin, perjalanan ke sana akan sangat menarik. Lengkap, pemandangan pegunungan yang indah, danau, pengalaman budaya, plus sedikit kesan magis. Namanya Desa Trunyan.

Saya sudah pernah mendengar tentang Trunyan sebelumnya. Sebuah perkampungan adat Bali Aga atau Bali mula-mula yang saya dengar cerita sebagai perkampungan dengan nilai-nilai budaya yang sangat kental. Apalagi saya memang selalu sangat terkesan dengan kebudayaan. Jadilah saya juga sangat antusias menyambut usulan dari Kuntha.

Lalu suara rindik, musik khas Bali pun mengalun lembut merdu di mobil yang kami tumpangi. Kami sedang menuju Desa Trunyan, sebuah desa yang berada di pinggiran Danau Batur dengan latar Gunung Agung. Pemandangan indahnya sudah terbayang di mata saya. Pemilik mobil yang kami tumpangi adalah Hendra, seorang kawan baru di Bali, teman kuliah adik Kuntha. Pertemanan yang rumit bukan? Ya… begitulah pertemanan. Dan dalam perjalanan, menemukan teman baru adalah salah satu bonus terbesar. Bonus yang tak akan kau terima bila tidak bergerak kemana-mana. 😀

Dan, berenam kami duduk manis di Kijang yang meluncur mulus di jalanan berliku. Tentang bilangan itu juga menurutku cukup magis. Enam, enam adalah angka genap. Angka gena[p adalah angka yang diharuskan dalam perjalanan menuju Trunyan. Setidaknya menurut Ibu Kuntha begitu. Sebelum kami berangkat ia menyarankan supaya kami pergi dengan jumlah angka genap. Ada larangan tak tertulis jika ingin berpergian ke tempat-tempat seperti Desa Trunyan atau tempat-tempat lain di Bali yang masih kental dengan nilai-nilai budaya. “Jangan berjumlah ganjil, nanti bakalan ada yang ngenepi,” kata Kuntha yang katanya saran itu ia dapatkan dari Sang Ibu. Agak bergidik sih mendengar penuturannya itu. Dan sepertinya filosofi ganjil-genap ini masih sangat kental di Bali. Sedikit tidak realitis. Toh, budaya, agama, dan kepercayaan tak selalu harus sejalan dengan logika. Ya sudahlah, tak perlu diperdebatkan, tidak ada ruginya juga kalau kami berangkat berenam, setidaknya kalau dibutuhkan sharing biaya transportasi, harganya akan jadi lebih ringan kan. He-he-he… lagi pula, sebagai orang baru, saya ikut saja. Di mana bumi diinjak di situ langit di junjung.

Perjalanan dari Sanur menuju Desa Trunyan cukup jauh. Karena tak satupun di antara kami yang sudah pernah ke sana, sebuah peta lokal Bali siap menjadi acuan . Kalau-kalau kami butuh petunjuk jalan mana yang harus kami lalui. Selain mengandalkan GPRS. Setelah melewati beberapa desa dan kabupaten, akhirnya kami tiba di Desa Trunyan. Desa ini terletak di sebelah timur bibir Danau Batur, di sebelah barat Gunung Abang, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan orang harus menyeberang Danau Batur selama 30 menit dengan perahu bermotor. Kalaupun ingin melewati jalan darat, harus melewati jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang. Dan tentu saja, cukup jauh.

Danau Batur Dilihat dari Ketinggian
Danau Batur Dilihat dari Ketinggian

Menumpang sebuah perahu bermotor –ingat walaupun banyak penawaran dengan harga murah, sebaiknya naikilah perahu dengan membeli tiketnya di loket resmi, lebih aman- kami menyeberangi Danau Batur. Danau ini luasnya sekitar 80 Km persegi dengan kedalaman sekitar 15 meter –ini saya ketahui dari struk tiket yang kami beli di loket. Kami memutuskan naik perahu bermotor yang ada di pinggiran Danau Batur. Pemandangannya seperti scene sebuah serial FTV. He-he-he… Angin pegunungan dan percikan air dari samping perahu yang kami tumpangi bergantian menyapa.

Lalu setelah 30 menit di atas perahu, pintu gerbang pemakaman desa sudah terlihat. Sebuah gapura berwarna merah bata. Makam tersebut adalah tujuan perjalanan wisata kita kali ini. Udara desa Trunyan sangat sejuk, suhunya rata-rata 17º Celcius. Desa Trunyan ini merupakan sebuah desa kuno, desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Aga, berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti Bali asli.

Saya dalam Perjalanan Menuju Trunyan
Saya dalam Perjalanan Menuju Trunyan

Tentang asal-usul mereka ini, ada dua versi kepercayaan penduduk desa. Versi pertama, orang Trunyan adalah orang Bali Turunan. Mereka percaya bahwa leluhur mereka ‘turun’ sebagai dewi dari langit ke bumi Trunyan. Versi kedua, orang Trunyan hidup dalam sistem ekologi dengan adanya pohon Taru Menyan, sejenis pohon yang menyebarkan bau-bauan wangi. Dari perpaduan kata “taru” dan “menyan” berkembang kata Trunyan untuk menyebut nama desa mereka.

Tahukah kalian? Pohon taru menyan ini adalah pohon berbau harum yang tumbuh di desa ini. Tinggi dan besar dengan akar-akar tunggang besar yang telah muncul ke permukaan. Berada di bawahnya seperti mencium aroma bau cendana. Agak mirip memang. Berada lama-lama di bawahnya mungkin bisa menghilangkan bau badan. Hu-hu-hu… Bau-bauan yang dikeluarkan pohon inilah yang membuat awet dan menghilangkan bau mayat yang diletakkan di bawah pohon tanpa perlu dikubur dengan menggali tanah dalam-dalam. Itulah pemakaman desa Trunyan, sebuah makam tanpa kubur. Mayat-mayat diletakkan dengan muka terbuka dan hanya dibungkus kain putih dan “ancak saji”. Upacara pemakaman ini dikenal sebagai upacara mepasah. Kultur inilah yang menjadikan desa ini menarik dijadikan sebagai objek wisata.

Pintu Gerbang ke Pemakaman
Pintu Gerbang ke Pemakaman

Memasuki pintu gerbang makam, barisan tengkorak kepala yang telah lama dan lumutan berjejer rapi di atas tangga batu. Puluhan. Sebagiannya tak tertata di sana. Tulang-tulang juga banyak berserakan di tanah. Agak menyeramkan memang. Tapi saya ingat kembali pesan Kuntha, “Walau merasa sedikit jijik dan bergidik, jangan meludah atau mengeluh!” Ah… lagi-lagi, sebagai orang baru, saya ikut saja. Mungkin inilah yang disebut sebagai kearifan lokal.

Di sebelah kiri pintu gerbang makam, tak jauh dari tempat saya berdiri, sebuah makam yang dikelilingi pagar bambu. Masih baru kata Made, penduduk lokal yang menawarkan diri sebagai pemandu. Mayat itu baru berumur beberapa bulan. Bekal sesaji seperti sandal, sendok, piring, penganan yang telah mengering masih ada di atas makam. Mayat tersebut telah mengering dan menghitam. Sebagian tulang tengkorak sudah terlihat.

Selamat Datang di Trunyan
Selamat Datang di Trunyan

Lalu Made bercerita banyak. Bapak 35 tahunan ini menceritakan perbedaan antara tulang tengkorak laki-laki dan perempuan. “Yang ini perempuan,” katanya sembari menunjuk salah satu tulang tengkorak yang sudah lumutan. “Tulang tengkorak perempuan pada bagian ubun-ubun lebih datar karena terbiasa menjunjung hasil pertanian,” jelas Made.

Belulang di Pemakaman
Belulang di Pemakaman

Ia juga menceritakan tentang cara pemakaman orang Trunyan. Ternyata, tidak semua penduduk dimakamkan di makam ini. Wah… lalu bagaimana? Ada dua cara. Pertama meletakkan jenazah di atas tanah di bawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan, dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal dengan kematian yang wajar.

Yang kedua adalah dikubur/dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh -seperti cacar dan lepra- dan orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri. Tempat pemakamannya juga berbeda. Pemakaman yang kini kami kunjungi adalah Sema Wayah, diperuntukkan untuk pemakaman jenis mepasah. Ada lagi Sema Bantas, diperuntukkan untuk penguburan, dan Sema Nguda, diperuntukkan untuk kedua jenis pemakaman yaitu mepasah (exposure) maupun penguburan. Cukup unik bukan?

Jejeran Tengkorak yang Diatur Rapi
Jejeran Tengkorak yang Diatur Rapi

Akhirnya nanti, menyebut Trunyan, akan selalu membawa ingatan pada sebuah desa kecil yang letaknya terpencil di tepi Danau Batur, di kaki Bukit Abang. Terbayang pula suasana kehidupan masyarakat Bali tempo dulu dengan tradisi yang masih kuat di desa itu. Hanya saja, sebagai saran, bila ke Trunyan, sediakanlah uang receh. Akan banyak sumbangan yang perlu Anda berikan. Mulai dari biaya parkir, pengemis, pedagang akesoris yang sedikit memaksa, bonus ekstra untuk guide lokal yang berinisiatif menjadi guide tanpa diminta, bonus untuk navigator cilik, serta sumbangan di makam.

Jangan pula terkecoh dengan nominal uang yang mereka letakkan di kotak sumbangan. Akan selalu ada nominal besar sehingga Anda sungkan menyumbang sedikit. Modus yang cukup cerdas bukan? So… nikmati saja perjalanannya, sumbanglah seberapa Anda bisa, yang penting ikhlas.

Antother View From Trunyan
Antother View From Trunyan

How to get there:

Untuk menuju Desa Trunyan, dari Denpasar atau Kuta kamu bisa menyewa mobil atau sepeda motor. Sesampainya di Kintamani, carilah Desa Kedisan di pinggir Danau Batur, lalu kamu bisa menyeberang dengan menggunakan transportasi umum perahu motor di sana. Carilah konter resmi yang menggenakan harga sekitar Rp. 80.000.

What to do:

Di desa ini kamu bisa menikmati pemandangan Gunung Agung yang dibalut kabut selama perjalanan menyebarangi Danau Batur. Kemudian, selain menikmati menyebarangi danau sesampainya di desa kamu bisa melihat pohon taru menyan yang luar biasa itu sekaligus melihat pemakaman tradisional yang sangat khas.

Notes:

-Bawalah uang receh, jangan terkecoh dengan uang sumbangan di arena pekuburan yang memang sepertinya disengaja diisi dengan uang bernominal besar.

-Kemungkinan ketidaknyamanan karena banyaknya penjual yang menjajakan aksesoris pasti ada. Nikmati saja.