Suku Karo, Pesta Tahunan, dan Beras

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Andi Gultom @andigultom

Masyarakat kita adalah masyarakat agraris, maka beras menjadi salah satu corak kebudayaan kita. Termasuk Karo!

Rumah adat tradisional Karo di Desa Lingga
Rumah adat tradisional Karo di Desa Lingga

Setiap bulan Agustus lalu, tepatnya 17 Agustus, keluarga besar saya dari pihak ibu beramai-ramai pulang kampung. Agenda ini adalah agenda tahunan yang sebisa mungkin dipenuhi. Kewajibannya tak kalah besar dengan kehadiran di saat Tahun Baru atau perayaan keagamaan.

Merayakan 17-an di kampung halaman? Nasionalis benar!!! Merayakan 17-an memang jadi salah satu tujuannya, tapi agenda utamanya adalah pesta tahunan yang dalam masyarakat Karo, suku saya, salah satu suku di Sumatera Utara yang tersebar di Dataran Tinggi Karo dan sekitarnya, disebut dengan kerja tahun atau merdang merdem.

Kerja tahun atau merdang merdem adalah sebuah perayaan tradisi yang hingga kini masih diselenggarakan masyarakat Karo setahun sekali. Waktu pelaksanaannya di tiap daerah dalam kebudayaan Karo berbeda-beda. Seperti kampung halaman ibu saya yang merayakannya di setiap 17 Agustus. Saya pernah pula menghadiri beberapa acara kerja tahun di kampung halaman teman dengan waktu yang berbeda. Ada yang di bulan Juli, ada juga di bulan Oktober.

Lalu apa yang menarik dari keseluruhan rangkaian aktivitas kebudayaan ini? Saya menemukan benang merah pengikat antara tujuan pelaksanaan perayaan dengan ragam penganan (kuliner) sepanjang acara sebagai simbol selebrasi. Merdang merdem, dulunya adalah sebuah upacara selebrasi yang dilaksanakan setelah acara menaman padi di sawah. Karena itu dilakukan setahun sekali, ingat zaman dulu sistem pertanian kita masih mengandalkan musim. Keberhasilan musim tanam juga sangat ditentukan oleh curah hujan dan cuaca.

Seperti halnya sebagian besar masyarakat Indonesia dengan  corak dan kebudayaan agraris, Legenda Dewi Sri yang ada dalam sistem kepercayaan masyarakat Jawa sebagai simbol Dewi Kesuburan dan pertanian, pun berlaku di kelompok masyarakat agraris Suku Karo.

Refleksi kepercayaan yang sama juga ada dalam Suku Karo di Sumatera Utara sebagai bagian dari masyarakat agraris nusantara. Pesta tahunan merdang merdem adalah satu tradisi yang merefleksikannya. Kerja tahun adalah sebuah ritual atau upacara penyembahan kepada Sang Pencipta, Beraspati Taneh (yang dalam kepercayaan Pemena, kepercayaan asli Suku Karo, sebagai penguasa tanah). Tujuannya agar setiap aktivitas pertanian yang dilakukan bisa menghasilkan panen yang berlimpah. Ada doa-doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta agar tanaman padi diberkati, bebas dari hama dan menghasilkan panen yang berlimpah.

Kalau upacara dilakukan pada masa panen (ngerires), ini yang biasa dilakukan di kampung halaman ibu saya juga di daerah Batu Karang , maka tradisi ini sebagai wujud ucapan syukur kepada sang pencipta penguasa alam semesta dan keseluruhan semesta karena panen yang berhasil. Rasa-rasanya hampir sama halnya dengan perayaan thanksgiving di Amerika dan Kanada. Oh ya, kerja dalam bahasa Karo berarti pesta lho.

Selain di masa awal penanaman atau merdang merdem (biasa dilakukan di sekitar wilayah Kabanjahe, Berastagi, dan Simpang Empat) dan pada masa panen (ngerires), beberapa daerah melakukannya lengkap mulai dari masa awal penanaman, pertumbuhan (nimpa bunga benih),  masa menjelang panen atau mahpah (biasa dilakukan di Barus Jahe dan Tiga Panah) hingga masa panen (ngerires).

Momen yang melibatkan seluruh warga kampung ini biasanya juga dimanfaatkan anak-anak muda untuk mencari jodoh. He-he-he… Karena perayaan biasanya dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron, acara tari tradisional Karo yang melibatkan pasangan muda-mudi. Pokoknya meriahlah…

Rangkaian kegiatan tradisi kerja tahun ini biasanya dilaksanakan selama enam hari. Cukup panjang ya? Iya! Selama enam hari akan ada kegiatan yang berbeda-beda. Hari pertama disebut juga cikor-kor, penanda  pelaksanaan kerja tahun. Ditandai dengan kegiatan mencari kor-kor (sejenis serangga yang tinggal dalam tanah) di ladang. Hari kedua atau cikurung, penduduk mencari kurung (sejenis hewan sawah) di areal persawahan. Hari ketiga, disebut ndurung, orang-orang mencari nurung (ikan) di sungai. Pada hari keempat aktifitas diisi kegiatan mantem atau penyembelihan lembu dan atau babi.

Hari kelima atau matana adalah puncak upacara perayaan kerja tahun. Di hari ini rasa syukur ditunjukkan dengan saling mengunjungi sesama warga. Di hari ini, semua penganan disajikan. Pada hari keenam dilaksanakanlah nimpa atau kegiatan membuat cimpa (makanan khas Karo yang terbuat dari beras atau ketan). Tapi sekarang, di hampir seluruh daerah dengan kebudayan Karo, rangkaian kegiatan itu sudah mengalami penyederhanaan. Kerja tahun hanya berlangsung dalam satu atau dua hari saja.

Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, sebagai upacara perayaan dan ucapan syukur, keseluruhan rangkaian acara dirayakan dengan ragam kuliner dari beras. Mendoakan tanaman padi agar tumbuh subur dan memberikan hasil panen yang berlimpah dirayakan dengan aneka penganan dari beras.

Ada beberapa peganan yang menjadi kuliner khas perayaan acara-acara adat Suku Karo, terutama pada saat kerja tahun. Dan… semuanya terbuat dari beras berikut turunannya, tepung beras maksud saya. He-he-he… Ada beberapa penganan yang selalu ada di acara-acara istimewa tersebut.

Cimpa
Cimpa ini paling enak bagian intinya, gula merah dengan kelapa yang dicampur lada dan rempah lainnya.
Cimpa ini paling enak bagian intinya, gula merah dengan kelapa yang dicampur lada dan rempah lainnya.

Cimpa yang paling banyak dikenal adalah penganan yang terbuat dari beras ketan sebagai bahan utamanya dan sebagai intinya adalah campuran gula dan kelapa parut. Cimpa dibungkus dengan daun pisang. Tapi akan lebih afdol rasanya kalau cimpa dibungkus dengan daun singkut. Sejenis tanaman berdaun lebar yang tumbuh di daerah pegunungan dan biasa digunakan sebagai ganti tali pengikat juga obat-obatan. Saya sulit menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk menyebutkan jenis daun ini. Tapi yang pasti, penggunaan daun ini membuat cimpa menjadi sangat khas.

Sebenarnya cimpa terbagi atas beberapa jenis. Tapi cimpa jenis ini adalah salah satu yang menjadi favorit saya. Makanan dari ketan dengan inti kelapa dan gula merah yang sangat sedap. Campuran lada dan garam yang pas membuat rasanya tidak hambar. Kalau masyarakat Karo menyebut makanan tersebut la mbergeh. Jenis cimpa lainnya yang juga favorit saya adalah cimpa matah. Seperti namanya matah, yang berarti mentah, mengolah jenis cimpa satu ini tidak memerlukan bantuan api. Tidak perlu dimasak. Wah… gimana caranya? Apa enaknya beras yang tidak dimasak? Hey, jangan protes dulu sebelum Anda mencobanya sendiri. Percayalah nenek moyang kita sangat jenius! Ada banyak penemuan luar biasa yang telah mereka hasilkan dari hasil trial and error beratus ataupun mungkin berjuta kali sampai kemudian menemukan formula yang tepat dan meninggalkannya sebagai warisan kebudayaan. Kali ini kita berbicara tentang warisan budaya kuliner.

Cimpa matah terbuat dari tepung pulut putih, dicampur dengan merica, kelapa, dan gula merah yang ditumbuk menjadi satu dalam sebuah wadah yang disebut lesung. Nikmatnya penganan yang satu ini sangat sebanding dengan kerja keras dan lelah menumbuk dan menjadikan keseluruhan adonan menyatu sempurna menjadi makanan. Campuran yang telah menjadi merata tersebut kemudian dibuat sekepal-sekepal. Dalam masyarakat Batak Toba mirip dengan penganan pohul-pohul.

Jenis cimpa lainnya adalah cimpa unung-unung. Namanya, buat saya terkesan agak aneh. Cimpa jenis ini dibuat dari tepung pulut hitam atau tepung pulut putih yang dicampur dengan santan dan gula merah lalu dibungkus dengan daun pisang sebelum dikukus sampai matang. Saya tidak terlalu suka dengan jenis cimpa yang satu ini. Terlalu biasa dan tidak senikmat cimpa biasa yang memiliki inti kelapa dan gula merah di tengahnya.

Adalagi cimpa tuang. Penganan yang satu ini nggak akan bosan memakannya. Tapi sudah agak jarang ada. Terbuat dari tepung pulut putih, sagu, telur, kelapa, dan gula merah yang dicampur menjadi satu adonan. Adonan ini lalu digoreng di atas panci yang sudah diolesi daging lemak sapi. Rasanya… saya hampir lupa rasanya karena terakhir kali memakannya sewaktu masih kecil. He-he-he…

Cimpa Bohan, salah satu cimpa yang dimasak di dalam bambu.
Cimpa Bohan, salah satu cimpa yang dimasak di dalam bambu.

Sewaktu menghadiri kerja tahun di kampung salah satu teman saya di Desa Munte, hem… sekitar 3-4 tahun lalu, saya juga menemukan cimpa bohan. Seperti namanya cimpa ini dimasak dengan cara dimasukkan ke dalam buluh bambu kemudian di panggang di atas api sampai matang benar. Unik sekali cara pengolahannya. Memasak cimpa bohan ini lebih lama dibandingkan dengan lemang. Dan… karena kandungan airnya jauh lebih sedikit, maka ruas-ruas batang bambu yang sudah diisi adonan harus dimasak dekat dengan api. Tapi harus dijaga agar masaknya merata dan sampai ke dalam.

Seperti halnya cimpa yang lainnya, cimpa bohan juga terbuat dari tepung beras ketan hitam ataupun putih dicampur dengan kelapa dan gula.

Lemang

Jenis makanan lainnya, Lemang. Lemang sebenarnya bukan makanan yang menjadi milik Suku Karo satu-satunya. Beberapa masyarakat kebudayan lain di Indonesia juga mengenal jenis penganan ini. Masyarakat Minang misalnya. Bahkan jenis makanan yang terbuat dari beras pulut (ketan) yang dimasak dalam bungkusan daun pisang dalam buku bambu ini juga ditemukan di negara tetangga, Malaysia. Biasanya sebagai makanan pada hari raya Idul Fitri.

Lemang atau dalam bahasa Karo disebut rires, bisa dinikmati dengan berbagai saus pelengkap. Pada musim durian, sausnya akan dicampur dengan durian. Tapi pada masyarakat Karo biasa dimakan dengan saus yang disebut tengguli, terbuat dari gula merah. Hampir mirip dengan lupislah. Tapi lupis dimasak dengan dikukus sementara lemang dengan dipanggang dalam buku bambu. Nah, kalau di kampung halaman ibu saya, teman memakan lemang adalah cincang ikan atau babi yang  juga dimasak dalam buluh bambu.

Lemang dan tengguli. Enaknya bikin tamboh-tamboh.
Lemang dan tengguli. Enaknya bikin tamboh-tamboh.

Masyarakat Karo memang telah mencoba berbagai cara untuk mengolah beras. Termasuk dengan membakarnya, yang merupakan cara memasak untuk kalangan para raja. Luar biasa bukan?

Keistimewaan lemang masyarakat Karo adalah lemangnya biasa dimasak dengan kunyit, merica, dan lada hitam. Jadi warnanya kekuningan, bukan putih pucat. Aromanya juga sangat nikmat.

Tape

Tape. Olahan beras lainnya yang juga sangat biasa dihidangkan di berbagai acara kerja tahun. Untuk tape, rasa kecut manisnya beras ketan yang telah difermentasikan yang dibungkus dengan dedaunan, tentu kita semua sudah pernah merasakannya. Semakin baik menyimpan dan menjauhkan dari cahaya matahari, tentu rasa manisnya tape akan meningkat.

Tape ketan merah, satu lagi perayaan dengan beras.
Tape ketan merah, satu lagi perayaan dengan beras.

Negara kita sangat kaya. Seperti uraian saya di atas tentang tradisi kerja tahun dan penganan untuk selebrasinya. Kerja tahun adalah bentuk gotong-royong dalam masyarakat Karo, gotong-royong dalam bertani, sekaligus bentuk kedaulatan pangan, ucapan syukur dan penghargaan kepada alam dan penciptanya. Budaya agraris masyarakat Karo ini adalah sebuah social heritage yang perlu dijaga.

3 thoughts on “Suku Karo, Pesta Tahunan, dan Beras”

  1. Makanan karo itu memang terkenal uenak banget……….. walau masakan kampung tp rasa dan gizinya tak kalah dr makanan hotel. He he……….
    mari tetap lestarikan makanan karo terutama yg terbuat dr ketan/pulut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *