SEBULAN KELILING JAWA (PART 5)

Teks oleh Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

PERJALANAN KE SEMARANG DAN MUSEUM KERETA API AMBARAWA.

Rencananya berangkat ke Semarang pagi-pagi sekali tapi karena tadi malam kami kecapaian, akhirnya kami berangkat pukul 2 siang, dengan badan pegal-pegal. Saya dapat informasi kalau berangkat siang akan terjebak macet. Yasudahlah saya pasrah saja. Dari Jogja ke Semarang akan melewati Magelang, Soropadan dengan wisata pasar buahnya, Banaran, dengan kebun kopinya, Ambarawa dengan rawa bening dan museum kereta api kunonya, lalu Ungaran dengan candi Songonya.

Kami hanya singgah ke Ambarawa Railway Museum, sebuah museum kereta api kuno, dibangun tahun 1976 di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dengan membayar kalau tidak salah 10 ribu rupiah, kami berfoto ria di beberapa gerbong kereta api kuno yang dipajang, juga di bekas stasiun yang nuansanya sungguh eksotik di mata saya. Di sini juga ada fasilitas berkeliling Ambarawa dengan kereta api kuno, dengan membayar 50 ribu rupiah perorangnya, tetapi hanya beroperasi pada hari Minggu dan hari libur. Sayang sekali kami tidak bisa mencobanya. Puas menikmati, kami bergerak lagi.

Ambarawa Railway Station
Ambarawa Railway Station
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman

Sampai di Semarang, di rumah keluarganya nya Mas Brewok, di Kaligawe, salah satu jalan Pantura, kami langsung tepar. Tapi sempat dong makan ayam bakar dulu di warung kecil simpang rumah.

Besok paginya, setelah main ke rumah sebelah yang juga saudara Brewok, saya diajari menembak dengan senapan angin milik Papa Brewok, seperti janjinya. Berkutatlah saya dan Brewok dengan senapan angin dibawah terik matahari di kebun sebelah rumah, senapan ini tidak pernah dipakai untuk menembak makhluk hidup, hanya untuk olahraga. Dari sekitar 7 kali mencoba, hanya sekali, kena sasaran. Saya menyerah. Terik matahari di Semarang cukup luar biasa. Apalagi rumah Brewok di dekat pantai. Pantai yang main ke rumah. Hehehe. Maksudnya adalah air pasang yang masuk ke dalam rumah, tanah Semarang tiap tahunnya turun 5cm.

Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.
Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.

CAFE IGA BAKAR DAN ANGKRINGAN PINGGIR JALAN

Esoknya kami ada janji bertemu Febri di tempat kerjanya, di Tandhok Ribs & Coffee Jl. Papandayan. Saya jadi ingin Iga Bakar. Sekalian kopdar bareng teman-teman Semarang lainnya. Mengobrolkan gambar, pekerjaan, hobi. Saya order seporsi iga bakar seharga 45 ribu. Sebenarnya saya mau order lagi karena nafsu makan masih menggebu-gebu, tapi teralihkan karena obrolan dan candaan kami terlalu seru malam itu. Sampai cafenya tutup, saya belum ingin pulang. Pukul 10 malam, kami mutar-mutar mencari tempat tongkrongan, kami dapati angkringan yang masih buka, di simpang Jl. Menteri Supeno. Saya sungguh bersyukur, setiap saya mengunjungi Semarang, saya diajak nongkrong di pinggir jalan sungguhan seperti ini. Duduk beralaskan tikar di atas trotoar di persimpangan. Makan nasi kucing dan beberapa gorengan, tentu saja murah meriah. Sampai pukul 12 malam kami bubar. Entah kenapa momen malam itu ‘sesuatu’ sekali, saya menikmati malam, melupakan semua keluh kesah sesaat, bersama orang-orang yang menyenangkan dan jauh dari realita kota asalku. Memandang malam dan teman-teman ini, saya banyak bersyukur, walau kadang mereka ngobrol tanpa subtitle.

Iga Thandok, makan iga dulu.
Iga Thandok, makan iga dulu.
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe

MENCARI ES KRIM DI TENGAH TERIK SEMARANG

Well, sore besoknya saya bersama dua mas-mas sangar ini nongkrong di Cafe Es Grim House, saya ingin mendinginkan efek cuaca panas Semarang ini. Sepertinya agak sulit menemukan cafe yang menyediakan menu-menu es krim di sini. Dan ternyata sajiannya juga tidak terlalu istimewa seperti yang saya bayangkan, seperti tempatnya juga, yang sederhana. Tidak seperti kota Medan yang kian ramai dengan cafe-cafe cantik yang menyediakan menu es dan kue-kue yang ‘wow’, harga juga ‘wow’ sih. Harga makanan di Semarang masih tergolong standar dan cocok di kantong. Walau tak semurah Jogja.

Bosan nongkrong melihat mereka mengobrol tanpa subtitle, saya ingin mencicipi lumpia. Sempat kecewa siang tadi karena kehabisan lumpia basah (non halal) yang terkenal di Jl. Lombok, daerah Pecinan dekat kali. Jika pengen sekali, ternyata harus memesan pagi-pagi, sebelum kehabisan. Di sebelahnya ada warung es campur dan sejenisnya yang juga terkenal, banyak artis makan disitu. Dalam pencarian darurat, kami memilih Lumpia Express, di Jl. M.T.Haryono. Sebuah restoran yang menyediakan lumpia siap saji, bermacam pilihan dengan range harga belasan ribu. Singkat cerita saya tidak begitu suka, entah memang resto tersebut yang rasanya kurang enak atau rasa lumpia di Semarang itu memang seperti itu, hanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya memang tidak sempat mencicipi di tempat lain, besok kami akan melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi Dieng.

Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.
Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.

ROAD TO DIENG, DESA DI ATAS AWAN

Berangkat ke Dieng jam 7 pagi dari rumah, saya sangat mengantuk. Ini pertama kalinya saya menderita kantuk akut di atas motor, sampai membahayakan diri. Beberapa kali saya tertidur di boncengan, masih satu jam pertama. Mas Brewok setiap menyadari saya tertidur, dia pelankan motor dan membangunkan saya. Sampai kesekian kalinya, kami memutuskan untuk berhenti untuk beristirahat di depan Indomaret daerah Temanggung, yang menyediakan meja dan kursi. Saya dengan lunglai langsung duduk dan meletakkan kepala di atas dekapan tangan di atas meja. Saya tidur kurang lebih 10 menit, sampai mengences. Hahaha. Lalu kami mengemil dan minum sebotol kopi, sambil saya mengumpulkan nyawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Sudah segar. Tiga jam sisanya saya celingak-celinguk menikmati pemandangan. Dari Temanggung, menuju Wonosobo. Sepanjang perjalanan sudah banyak kebun dan barisan gunung tampak dari kejauhan. Yang perlahan mendekat. Kami memutari gunung, dataran tinggi Dieng letaknya di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Memasuki kabupaten Wonosobo, saya mulai merasakan hawa sejuk. Suhu pada siang hari berkisar 12o-20o C dan malam hari mencapai 6o-10o C, pada musim kemarau (Juli-Agustus) subuhnya terkadang mencapai 0oC! sampai membekukan embun! Ketinggian Dieng ini 2000m di atas permukaan laut. Saya sungguh tidak sabar menikmati keindahan dan petualang di atas sana.

Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.

THE LEGENDARY ‘TELAGA WARNA’

Tahu-tahu kami sudah memasuki area wisata Telaga Warna, jam menunjukkan pukul 12 siang, sesuai rencana, kami memang akan mengunjungi tempat wisata dahulu lalu beristirahat di kerabatnya Brewok di daerah Batur Banjarnegara. Membayar tiket seharga 5 ribu perorang, tak jauh dari pintu masuk, pemandangan Telaga Warna yang legendaris itu sudah menyapa. Saya dan Brewok iseng bermain turis-turisan, karena saya sering sekali dikira warga asing. Kami berbahasa enggris seharian, hahaha!

Telaga itu sedang sedikit surut karena kemarau. Kami berjalan memutari telaga, berfoto di padang rumput kering. Kami juga menyinggahi beberapa gua di situ. Tapi banyak yang sedang ditutup. Sambil berjalan santai menikmati, saya teringat, bahwa orang-orang sepertinya mengambil foto dari ketinggian, saya penasaran dimana ada jalur yang lebih tinggi, ternyata Mas Brewok juga. Tak lama berjalan, ada sebuah jalur kecil yang tampaknya menuju atas, kami langsung bergegas naik. Tanah pasir berdebu sedikit mengganggu, syukur kami punya masker. Jalannya cukup sempit dan licin karena pasirnya. Tiba di suatu ketinggian dimana tampaknya cukup bagus mengambil foto, kami berhenti, sambil ngos-ngosan. Menikmati keindahan alam ini, telaga indah yang dikelilingi bukit tinggi. Warnanya benar mempesona. Dinamai Telaga Warna ya karena konon warna air di telaga ini berubah-ubah, menjadi biru, hijau, dan kuning. Penyebabnya adalah kandungan sulfur yang tinggi.

Telaga warna
Telaga warna yang indahnya amat memanjakan mata
Masih Telaga Warna
Masih Telaga Warna

Lalu kami memandangi jalur selanjutnya, ragu dalam hati untuk melanjutkan atau tidak, karena sudah cukup lelah sampai disitu. Tak sampai semenit berpikir, kami naik, berharap mendapati kesempatan lebih bagus. Tapi sialnya, sekitar 200 meter menaiki itu, saya merasa jalur ini memang sudah di puncak bukit, tapi, arahnya ke hamparan kebun dan sawah, telaganya sama sekali tidak tampak. Sambil bernafas keras, kami turun lagi. Di depan kami ada cabang jalur. Firasat saya merupakan rute lebih singkat untuk turun, semoga tidak salah. Voila, benar… kami sampai di tepi telaga di sisi lainnya. Mendapati beberapa wisatawan sedang berjalan juga. Mendekati tempat awal kami memulai, ada penjual jagung bakar, dan tempat yang asik untuk duduk. Tentu saja kami makan jagung bakar, sebatang berdua, duduk di sebuah teras, di tepi telaga. Saya mengamati dari jauh, sebuah maskot hidup Mickey Mouse yang kesepian, jasa berfoto bersamanya dikenakan biaya 5 ribu, tak ada seorang pun menghiraukannya, aku membayangkan siapa dan bagaimana wajah dibalik kostum itu.

Beberapa meter dari si Mickey Mouse, ada sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana sambil bernyanyi, bintangnya adalah seorang gadis kecil yang berjoget ria menghibur pengunjung. Letak mereka tepat setelah pintu masuk. Iringan musik itu membuat si Mickey Mouse sedikit ikut bergoyang. Tapi tetap saja membuat saya sedih melihatnya.

Telaga Warna lagi.
Telaga Warna lagi.
Nikmati keindahan Telaga Warna
Nikmati keindahan Telaga Warna
foto 55-telaga warna (6)
Melompat dan berbahagia di pemandangan cantik seperti ini

KAWAH SIKIDANG & KOMPLEKS CANDI ARJUNA

Well, kami keluar dari situ dan mengunjungi tempat wisata selanjutnya, tak jauh dari situ. Kawah Sikidang, membayar 10 ribu sudah termasuk mengunjungi kompleks candi Arjuna yang juga terletak dekat dari situ. Memasuki area kawah, berbatu-batu, naik turun, berpasir putih, ada kuning-kuningnya, itu belerang. Ada yang sedang foto prewedding. Lumayan luas, dari kejauhan tampak asap putih, uap panasnya lumayan terasa dari jauh, beberapa rombongan juga berjalan menuju ke situ.

Di sana ada sebuah kolam yang dipagari, mata airnya mendidih dan beruap, sampai saya awalnya tidak melihat ada mata air di situ karena dikepul uap. Kawah Sikidang ini mempunyai cerita legenda tentang seorang pemuda berkepala Kijang yang dijebak dan terkubur di sana oleh wanita yang menghindari lamarannya, ini link cerita legendanya http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/264-legenda-kawah-sikidang

Kawah ini masih aktif sampai sekarang dan mengeluarkan uap panas yang berganti-ganti posisinya. Ada banyak kawah di Dieng, beberapa dijadikan pembangkit listrik tenaga uap.

Sikidang
Sikidang

Foto 57-sikidang (2)

 

Masih Sikidang
Masih Sikidang

Foto 59-sikidang (4)

Selesai dari situ, kami pergi ke Kompleks Candi Arjuna. Ada 5 candi kecil, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada. Sebuah prasasti di dekat Candi Arjuna, menunjukkan pembangunan Candi sekitar 809 SM. Wow. Kemudian kami melihat ada bapak dengan kuda, rupanya berjualan jasa menunggangi kuda, kami tergoda mencoba. Menyenangkan sekali! Tapi andai kudaku yang putih dan besar, bertanduk dan bersayap (does unicorn exist?). Saya sudah lelah, jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami bergegas menuju Batur, kediaman kerabat Brewok yang hendak kami tumpangi. Pemandangan jadi senja, dan kami menembus awan.

Desa di atas awan
Desa di atas awan
Senja yang memikat
Senja yang memikat
Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

 

Di Komplek Candi Arjuna
Di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna

 

Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. :D
Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. đŸ˜€
Candi Arjuna
Candi Arjuna

 

https://youtu.be/Mgdg-xlc8b4

https://youtu.be/Nw2e4J-nNqw

SWEET PLACE TO REST, BATUR

Perjalanan sekitar 20 menit itu kami jalani dengan tubuh mengigil. Saya sempat merekam kami menembus kabut tebal alias awan. Ya, kami memang sedang berada di desa di atas awan. Tangan saya benar-benar mati rasa sampai terasa sakit saat merekam beberapa menit. Saya langsung pakai sarung tangan kembali setelah selesai merekam. Senja dan pemandangannya itu membuat saya hanya bisa terpaku diam. Antara dingin dan sulit bernafas karena Brewok membawa kencang motornya, wajah ditampar angin yang dingin, kaki saya mengigil naik turun sendirinya. Kami memasuki sebuah perkampungan, desa Batur Kota Banjarnegara.

Setibanya di rumah saudara Brewok, saya sedikit lega karena tidak sedingin di luar. Lantainya dialasi karpet. Lantai dapurnya plasteran semen, disediakan beberapa sandal, saya coba berjalan tanpa sandal itu, diiingiin. Saya mau buang air, toiletnya di luar rumah, dengan halaman penuh bunga yang tumbuh subur di depannya. Saya coba memasukan tangan ke dalam airnya, wooww, seperti air es. Tapi percaya atau tidak, saya mandi dan keramas setelah itu. Karena tidak tahan rasanya sudah kotor dan rambut lepek hari itu. Penduduk disitu juga nggak rutin mandi setiap hari lho. Ya maksud saya, selain karena merasa kotor, juga sebagai tantangan, pengalaman berharga, toh untuk pertama dan terakhir di situ edisi tahun ini, besok pagi tampaknya tidak akan bisa mandi.

Brewok hanya berani cuci muka dan gosok gigi. Hih! Kami mengobrol sampai larut malam, sempat membuat pemanas dengan arang dibakar di dalam sebuah tungku, perapian ala kami. Lagi-lagi tidak ada subtitle yang di-instal. Baiklah lalu kami bubar dan tidur. Kasur dingin-dingin empuk dengan selimut super tebal dan berat. Seketika langsung terlelap, serasa di kamar ber-AC. Sialnya saya terbangun pukul 5 subuh dan ingin buang air kecil. Harus… keluar rumah… gelap… dan airnya dingin sekali. Tapi percayalah saya malah excited sekali. Lalu kembali tidur, menahan excited subuh-subuh itu.

Desa Batur
Desa Batur

MENUJU CURUG SI KARIM, KEMBALI KE JOGJA

Seperti biasanya kami ‘mengecas’ energi terlalu lama, tadinya akan bergerak jam 8, akhirnya kami bergerak jam 10. Menuju Air Terjun Si Karim. Kata penduduk, dari sini sudah dekat, tapi jalannya rusak parah, ada jalan lebih mulus tapi harus memutar ke kota. Brewok mau mencoba melalui rute rusak itu. Awalnya ‘biar dicoba dulu’ tapi sesampainya kami disana, suatu jalan kecil yang menurun, sepertinya tidak ada kata untuk kembali. Jalannya terjal turun dan berkelok ekstrem, masih dengan membawa ransel besar di antara kakinya. Jalannya rusak dan isinya bebatuan agak besar, kiri kanan tanaman. Saya memilih turun dan berjalan kaki di beberapa belokan terjal, sambil menenteng ranselnya, sedangkan Brewok cukup ahli pelan-pelan menyusuri jalan bebatuan itu. Ini memacu adrenalin sekali. Sepertinya Mas Brewok bukan orang yang takut mati. Sayang saya tidak sempat mengambil foto jalanan tersebut. Karena berkonsentrasi dan agak tegang. Lumayan jauh turunnya, sekitar 4 km dengan turun mengesot dan berbelok-belok ekstrem seperti itu.

Saya yakin juga sampai disana, ada jalur keluar ke kota yang disebutkan mereka, kalau untuk naik saya pesimis sekali, kelihatan mustahil. Kami sampai dan menghela nafas panjang. Sebuah tebing batu yang gersang dengan kucuran air yang… tidak terlalu deras. Ada beberapa orang yang sedang bermain air di atas sana, kemudian pergi tak lama sesudah kami sampai. Saya senang memanjat. Saya naik duluan dan duduk-duduk. Saya tanya pada Brewok apakah dia bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi itu untuk berfoto. Mas Brewok kelihatannya ragu untuk memanjat, tapi kemudian dia memanjat dengan hati-hati. Sedikit mengeluh licin karena banyak lumut, dan mulai khawatir untuk melanjutkan. Walau akhirnya dia sampai di tempat yang saya tunjuk, saya mengambil beberapa foto lalu dia kembali. Oopps… brewok tergelincir! Dia jatuh tengkurap bergantung disana. Setengah badannya sudah basah. Sebelah tangannya berpegang pada batu yang kering.

Saat itu saya masih santai melihatnya dari bawah, berharap dia masih ada kesempatan untuk bangun, tapi kelihatannya tidak. Malah dia bilang biar dia seluncuran ke bawah saja, saya bilang itu tindakan yang gila, minimal luka berat, patah tulang atau kebentur kepala, kalau dia mati atau kenapa-kenapa di situ saya bagaimana pulangnya. Tidak ada orang yang bisa menolong juga di situ. Saya pun segera memanjat, entahlah bagi saya mudah sekali memanjatnya, walau kaki sedikit basah. Tidak selicin yang dia bilang juga. Dia sempat melarang saya naik menolong. Tapi saya sudah sampai di atas dan menariknya. Saya duduk disitu, melihat-lihat pemandangan lagi. Dia turun perlahan dengan kondisi cukup kacau. Mungkin ada memar, bahu pegal, baju dan celana basah juga ada tambahan aksesoris lumut di pakaian. Kami kenakan sepatu dan siap-siap pualng. Masih tertawa-tawa dengan kejadian tadi. Syukurlah tidak kenapa-kenapa, syukurlah ada saya. Ho-Ho! *ejekBrewok

Curug Sikarim
Curug Sikarim
Curug Sikarim juga
Curug Sikarim juga

Setelah tenang, kami tancap gas keluar dari situ, keluar ke Wonosobo ‘mengisi perut’ sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Kata Brewok dari sini ke jogja hanya sisa sekitar 3 jam. Sedikit lega, walau saya memang sudah mulai terbiasa dengan perjalanan jauh seperti itu. Hanya saja punggung, pinggang sampai bokong saya yang terasa lelah sekali, banyak menahan berat badan saat jalanan naik turun terjal. Satu jam terakhir, kami sedang berada di Magelang dan beristirahat. Brewok bertanya apakah berniat untuk singgah ke Borobudur, walau kami sudah pernah mengunjunginya tahun lalu. Mungkin untuk mengusir rasa mualku di perjalanan (padahal naik motor kan), saya mengiyakan.

Membayar 30 ribu perorang, saya sempat dicurigai sebagai warga asing, karena turis asing harga tiketnya lebih mahal. Spontan dong kami tidak main bahasa inggris-inggrisan lagi, saya berbahasa dengan logat Medan yang agak kental untuk bertanya toilet di mana, barulah mbaknya yakin saya orang Indonesia. Si Mbak memberitahu bahwa tempat itu akan tutup pukul 5. Jam menunjukkan pukul 4 lewat. Saya baru sadar. Yasudah kami bergegas masuk. Yang saya keluhkan adalah jarak dari parkiran ke candinya lumayan jauh, apalagi kami sudah sangat lelah, Brewok menenteng ransel yang lumayan berat itu. Dia kelihatan lelah dan berkeringat.

Menaiki tangga depan Borobudur, kami beristirahat di bangku batu di teras di depan candi. Saya katakan bahwa saya akan berkeliling sendiri saja dan dia bisa duduk beristirahat di situ. Dia tidak mau. Saya ngotot mau jalan sendiri, dia jalannya sudah sempoyongan dan lambat. Saya akhirnya naik dan memisahkan diri. Saya naik sampai atas, saya pergi ke arah barat, di mana pemandangan senja dan matahari terbenam sungguh indah dari sana. Saya duduk, saya tahu Brewok akan ke situ juga. Beberapa menit kemudian, dia muncul. Saya ajak duduk di tepi teras, di antara stupa. Banyak bule sedang bersantai dan berfoto juga.

Semua mulai bubar setelah ada announcement tempat sudah mau tutup dan dihimbau untuk turun. Brewok rebahan beralaskan ransel, saya menikmati pemandangan beberapa saat lagi. Lalu kami bersiap-siap pulang. Rute pulang dialihkan, tidak sama dengan rute kedatangan, diputar agak jauh dan melalui pasar-pasar yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan. Juga museum. Singkat cerita, kami sampai di Jogja dan tepar sampai besok siang. (to be continued)

One thought on “SEBULAN KELILING JAWA (PART 5)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *