SEBULAN KELILING JAWA (PART 4)

Teks: Sal Nath/ Foto Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

MEMBAWA PULANG ULAR DARI PASAR SATWA DAN TANAMAN HIAS

Hari itu saya bikin janji dengan Mbak Maya teman dunia maya yang menjadi nyata. Kami ke Pasty alias Pasar Satwa dan Tanaman Hias. Di jalan Bantul KM1. Tempat itu terdiri dari dua area yang terletak bersebrangan. Saya memasuki area satwa dan isinya tentu saja bermacam ragam hewan. Banyak kerajinan sangkar burung dan perlengkapan memelihara hewan. Ada aneka burung, kucing, anjing, monyet, ayam, tupai, reptil, dan kelinci. Lalu saya berhenti sejenak di sebuah toko penuh dengan ular. Saya melihat ada kumpulan ular kurus berwarna hijau terang meliuk-liuk di akuarium kecil dari salah satu pajangannya. Saya iseng meminta ijin untuk mengeluarkan ular tersebut, alhasil saya membawa pulang Ular Pucuk untuk menjadi teman main seminggu. Seharga 30 ribu (saya tawar jadi 20 ribu), Mbak Maysun tidak takut, malah ikut excited karena dia juga penyayang binatang. Teman-teman geleng-geleng saya bermain dengan ular dengan bisa level medium itu. Lucu saja. Kurus, hijau terang, meliuk-liuk. Benar-benar jadi teman bermain saya beberapa hari saat brewok sibuk bekerja.

Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja
Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja

MAKANAN JOGJA? SIAP-SIAP PANIK.

Tidak pusing mencari makan di Jogja. Tidak perlu takut mahal. Sudah tidak asing terdengar bahwa makanan Jogja itu murah meriah dan enak-enak! Suatu malam Brewok mengajak saya ke salah satu cafe (sebenarnya lebih tepat disebut warung makan) yang kata doi termasuk mahal, tapi enak. Wow benar saja, enak-enak! Saya langsung ketagihan, makan disitu hampir tiap hari. Mahal? Tidak. Ikan lele/ayam/cumi/ nila yang goreng/bakar/saus tiram/saus mentega/saus padang/ dll bisa didapati seharga 7 ribu – 13 ribu. Nasi cuma 2 ribu. Minuman ya seperti dimana-mana di Jogja itu 2 ribu sampai 5 ribu. Yah sekali makan agaknya belasan ribu saja paling mahal. Berdua sekitar 20-an ribu saja setiap makan. Eits, belum saya sebutkan namanya, namanya Cafe AngSa (Angkringan Santo) letaknya persis belakang kampus ISI Fakultas Seni Rupa, Jl. Ali Maksun itu lagi. Sebuah warung makan sederhana, banyak mahasiswa /mahasiswi ISI yang selalu nongkrong disitu, buka dari siang sampai pukul 01.00 dini hari. Wajib coba dan hati-hati ketagihan. Ada kucing manja yang selalu mengeong minta makan.

Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!
Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!

Beberapa hari disini, makan di berbagai angkringan dan warung makan, ternyata sering menjumpai sambal bawang disini, pedasnya wow. Saya jarang menemui sambal ini di Medan. Rasanya cocok sekali dengan lidah saya yang suka pedas. Setelah perut kenyang, pulang ditiup-tiup angin malam Jogja yang dingin. Sambil sesekali menegadah ke atas, melihat jernihnya langit, bertabur bintang, saya bersyukur sekali masih ada kota yang nyaman seperti Jogja ini.

PANTAI PARANGTRITIS & SATE KLATHAK IMOGIRI.

Mas Brewok mengajak ke Pantai Parangtritis di suatu sore, perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit saja dari Sewon. Rutenya sangat simpel, hanya lurus dari Jalan Parangtritis ke arah selatan. Masih jalan kota, jalan besar. Melewati Pasar Seni Gabusan, central kerajinan kulit Manding. Memasuki area retribusi, saya pikir kami harus membayar tiket masuk, tapi… Brewok… dengan santainya nyosor masuk melewati pos pembelian tiket. Ups? “Nggak usah bayar kan, pasang saja tampang sangar, percaya diri, jalan lurus, dipikir warga sini toh.” Jjjiiiah Beb, jangan sering-sering yaaa, walau tiket juga mungkin murah saja, kita terkadang juga perlu berpartisipasi mensejahterakan tempat-tempat wisata seperti ini.

Well, saya sempat beberapa kali berujar kenapa tidak tampak tanda-tanda ada pantai, karena pandangan tertutup pohon-pohon, semak belukar dan gumuk pasir, gumuk pasir adalah gurun pasir yang terbentuk dari pasir pantai yang tertiup, jadi kamu bisa berfoto disana seolah di gurun pasir, juga bisa sand-boarding. Lalu suatu ketika, ada celah dimana saya melihat, horizon yang indah! Saya langsung excited. Kami cari tempat parkir dan bergegas menuju pantai. Ada ombak yang tinggi! Ini ombak tinggi yang pertama saya lihat. Beberapa foto dijepret dekat landmark tulisan Pantai Parangtritis.

Kami sadar harus mengisi perut di salah satu warung dekat pantai. Sedihnya, pemandangan sunset tidak sempat kami nikmati lama karena kami terlalu lama di warung makan. Tapi pemandangan sehabis itu masih tidak mengecewakan saya. Indah. Refleksi langit yang jatuh ke pasir yang basah menghipnotis saya.

Selamat datang di Pantai Parangtritis
Selamat datang di Pantai Parangtritis 

Pasir halus memanjakan telapak kaki, angin sepoi-sepoi memancing kami untuk mencicipi wedang ronde yang dijual di tepi pantai itu. Kalau siang hari ada jasa menunggangi kuda di pesisir, tapi karena sudah menjelang malam, mereka sudah pada bubar. Juga ada yang berjualan jajanan seafood seperti udang dan kerang, juga sudah pada pulang. Brewok pernah bilang ini pantai yang ‘biasa-biasa’ saja disana, wah bagi saya ini sudah cukup luar biasa, nggak sabar mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul yang katanya maut sekali indahnya. Langit sudah mulai gelap, pulangnya kami melewati Imogiri, kami singgah ke rumah kawan kami di daerah Sindet. Mas Apriyadi Kusbiantoro, seorang komikus yang sedang naik daun, bukan hanya di negara sendiri tapi di Eropa, dengan komik legendarisnya, Lemuria.

Sunset yang memanjakan mata
Sunset yang memanjakan mata

Selesai ngobrol, kami mulai merasa lapar dan berencana hunting makanan lagi di perjalanan pulang, masih di daerah Imogiri, papan reklame “Sate Klathak” bertebaran sepanjang jalan, disitu memang pusatnya. Karena sate klathak terkenal Pak Pong itu sedang ramai, kami singgah ke warung klathak yang lain. Dua tusuk dengan kuah gulai, satu nasi. Seporsinya 25 ribu. Sejujurnya saya kurang kenyang, hahaha. Ini sate klathak kedua setelah mencicipi klathak pertama kali di pinggir jalan saat bersama Mbak Maya sepulang dari Pasty kemarin, sekitar jalan Parangtritis juga.

Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)
Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)

GEMBIRA LOKA ZOO DAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA DI TAMAN KULINER CONDONGCATUR

Pagi ini kami mengembalikan ular pucukku ke penjualnya di pasar satwa, tadinya mau dilepas atau dihibahkan ke teman, tapi berhubung ular ini beracun medium, takutnya membahayakan masyarakat, juga belum menemukan teman yang berminat memeliharanya. Setelah itu kami ke kebun binatang Gembira Loka, buka dari pukul 08.30 sampai 15.30. Tiket satu orangnya Rp. 20 ribu. Dibekali satu lembar map dan peraturan-peraturan di dalam. Jadi, benar bahwa gosipnya bonbin ini besar dan lengkap. Dari orang utan, harimau, beruang, buaya, macan, ikan-ikan langka, burung unta, dan ada ruang interaksi bebas dengan macam-macam burung. Ada hewan pendatang baru yang digemari masyarakat, Jack si penguin afrika. Ada jadwal show untuk si Jack yakni pukul 09.30 – 13.00 setiap hari, feeding time harimau setiap hari minggu dan libur nasional pukul 12.00. Ada juga jadwal khusus untuk menunggangi kuda, gajah, dan banyak lagi. Ada sarana Bumper Boat, berkeliling menggunakan kapal kecil, perahu kayuh, kolam tangkap, terapi ikan, sepeda sewa dan sirkuit ATV. Juga ada fasilitas mengelilingi rute bonbin dengan Taring, transpor keliling. Kami cukup lelah berjalan dan menelusuri semua sudut bonbin. Syukur ada beberapa warung di ujung perjalanan. Menengak sesuatu yang segar sambil duduk beristirahat memandangi kolam.

Kebun Binatang Gembira Loka
Kebun Binatang Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Lihat di belakang saya ada apa? :D
Lihat di belakang saya ada apa? 😀

Tak lama kemudian kami capsus ke Taman Kuliner Condongcatur. Kebetulan event Festival Kesenian Yogyakarta sedang berlangsung. Di dalamnya kami dapati banyak sekali stand yang berjualan barang-barang kerajinan dan makanan. Di tengah-tengah ada lapangan yang di-instal panggung yang cukup megah. Sebenarnya kami kemari menantikan konser dari teman saya, nama beliau Maz Inung. Sebut saja gitaris Tiga Gunung Lima Lautan. Seorang bapak dengan multi talenta yang sudah mengukir banyak prestasi. Saya belum sempat bertemu dengan beliau selama di Jogja. Hari ini berharap bisa melihat penampilannya dan menyapa walau sebentar. Sempat mengantri lama membeli sebuah jajanan minuman berkemasan dot bayi, kami duduk sambil mengenyot dot, duduk lesehan di tengah lapangan yang sudah ramai. Menonton wayang orang atau ketoprak dalam bahasa jawa, saya salut dengan penampilan mereka yang maksimal sampai akhir. Tepuk tangan meriah dari penonton, menyambut acara selanjutnya.

Pertunjukan kesenian yang memukau hati
Pertunjukan kesenian yang memukau hati

MC memperkenalkan Maz Inung yang berkostum putih ala primitif Amerika, dengan kursi roda dia tidak pernah kehilangan pesonanya. Melantunkan tembang-tembang yang kritis dan penuh motivasi untuk masyarakat jogja, dengan iringan genderang dan dayang-dayang penari. Konser beliau sungguh memukau. Saya dan Brewok segera menyusul beliau setelah penampilannya. Hanya sempat mengobrol sebentar dan beliau segera pamit karena ada urusan lagi. Benar-benar sibuk sekali. Tak lama baru datang kawan kami yang telat hadir, Mas Rangga, seorang pujakesuma (putra jawa kelahiran Sumatra, Medan juga) yang berdomisili di Bantul. Bersama anak dan istrinya yang seorang berkebangsaan Belanda. Well acara sudah habis dan banyak toko yang sudah tutup, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kami mongobrol sambil berdiri, yang akhirnya Brewok olahraga menemani Kenji, anak mereka yang sekitar 3 tahunan, main kejar-kejaran di lapangan, 2 jam. Brewok senang dengan anak kecil. Akhirnya kami pulang dan beristirahat pukul 1 dini hari. Sebenarnya besok pagi-pagi kami akan berangkat ke Semarang…. well… we made a mistake. Or not. What a good night anyway. (to be continued)

Taman Kuliner Congcat
Taman Kuliner Congcat

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *