SEBULAN KELILING JAWA (PART 3)

Teks: Sal Nath / Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

LUMPIA BASAH, CAT CAFE, LALU ‘PULANG’ KE JOGJA!

Saya dijemput Mas Beruang jam 10 pagi, mencari lumpia basah yang katanya enak di Simpang Dago. Benar enak, cocok dengan selera saya. Lumpia yang diisi telur, daging dan sayur-sayuran, dan belepotan kuah kentalnya. Ada banyaakk… sekali pilihan yang tertera di kaca gerobak tersebut, harga cukup terjangkau, sekitar 9 ribu sampai belasan ribu. Kenyang sekali makan satu porsi. Beruang makan seblak, makanan khas bandung juga yang merupakan kerupuk yang direbus, makaroni, bumbu, perasa, dan, pastinya, pedas! Porsinya cukup besar.

Lumpia basah
Lumpia basah

Selesai makan dan bengong sejenak kekenyangan, meratapi masa lalu lagi… saya dibawa ke Cat’s Village, sebuah kafe kucing hasil desain Mas Beruang. Bertempat di Jalan Banda. Jadi untuk bermain dan mengemil di Cat’s Village, satu jam pertama dikenakan 50 ribu satu orang. Tambahan 30 menit dikenakan 15 ribu. Atau paketan 2 jam dikenakan 75 ribu. Pada saat itu ada paket spesial, 130 ribu (belum termasuk pajak) , berdua, dengan masing-masing satu jam bermain bersama kucing, satu porsi snack (french fries/onion ring/spicy tofu) dan dua tea (classic/mint/strawberry/lemon tea). Cat area-nya berada di lantai 2, di tangga kami diharuskan menukar sepatu kami dengan sepatu khusus mereka. Fluffy!

Di lantai dua, ada sekitar 7-10 ekor kucing, yang katanya sebenarnya ada sekitar 12 kucing cantik di situ. Ada yang berjalan lenggak-lenggok kesana kemari, sisanya tidur. Ada peraturan tidak boleh mengganggu kucing yang sedang tidur, tidak boleh memaksa gendong kucing jika mereka tampak tidak mau. Syukur ada beberapa yang mau saya apa-apakan.

Cat Cafe
Cat Cafe

 

Imut banget kucing di cat cafe :D
Imut banget kucing di cat cafe 😀

Tidak mau hilang kesempatan, saya selfie dengan mereka! Jadi Mas Meruang ini juga pecinta kucing, dia sering kemari juga memantau proyek dan bermain bersama kucing, lalu kenapa saya bayari ya? Yasudahlah. Puas bermain dan menyeruput minuman sampai tetes terakhir, saya diantar pulang, di jalan saya minta berhenti dan minta difoto di atas motor antiknya, jepret! Sampai di depan rumah keluarga, saya berpamitan dengan Mas Beruang, besoknya saya akan berangkat ke Jogja, sampai ketemu lagi kapan-kapan. That was sweet moment in Bandung.

Jogja... Jogja... keliling Jogja...
Jogja… Jogja… keliling Jogja…

Pukul 4 sore kami ke Cihampelas Walk jalan-jalan sebentar untuk mengisi perut sebelum mengantar saya dan Brewok ke Stasiun Kiaracondong, kereta api pukul 7.15 malam. Kami makan di Burger King, agak kesal karena rupanya kami harus buru-buru (dan saya sebal karena mahal-mahal). Ternyata kami terjebak macet di perjalanan menuju stasiun, berangkat dari Ciwalk jam 6, sampai di stasiun jam 6.55-an, nyaris sekali. Sudah sempat panik. Sebaiknya berangkat lebih awal saja jika ada keperluan berpergian penting di Bandung. Setelah saya mengarungi Bandung, saya berpendapat bahwa Bandung itu, MACET! Dan masih ditemukan banyak pengendara yang semena-mena, tiba-tiba belok. Jalanannya juga banyak satu arah dan sempit. Bedanya dengan kota kelahiran saya itu, di Bandung masih menaati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Sampai jumpa Bandung! Kereta Api tiba di jalur pukul 7 lewat. Saya dan Brewok berangkat ke Jogja, ini kereta api perjalanan jauh pertama saya (lagi-lagi pertama).

 MY LOVELY DJOGJA!

Perjalanan 8 jam di kereta bisnis seharga 220 ribu beli via online itu ternyata tidak terlalu menyiksa saya yang takut mabok darat ini. Cukup nyaman! Mungkin juga karena excited sudah mendekati Jogja tercinta. Mungkin lain kali boleh mencoba ekonomi kalau kepepet dana. Tiba di stasiun Tugu Yogyakarta jam 4 pagi. Tidak ada kawan yang menjemput, becak tidak muat dengan dua manusia, satu koper besar, satu kardus besar, dua ransel besar. Seandainya teman-teman berkunjung sendirian dan tidak membawa banyak barang, lebih baik memilih ojek.

Kami tidak ada pilihan lain, kami jalan ke luar stasiun dengan bawaan berat ini, mencari taksi di luar stasiun dan ingat berpesan untuk memakai hitungan argo! Jika tidak, mereka menawarkan harga tinggi untuk sampai ke tujuan kami, kontrakan Mas Brewok di Sewon. Aslinya dengan argo hanya kena 30-an ribu. Saya beri 50 ribu. Tadinya supir-supir tadi menawarkan harga 65-75 ribu, hayo yah pak… Kami tiba di kediaman mas Brewok, studio Monkey x Rabbit, di dusun Karangnongko. Tidak sempat saya melihat-lihat, kami langsung tepar dan beristirahat sampai hampir siang.

 BELANJA KEBUTUHAN RUMAH

Pagi itu kami ke toko serba ada belakang kampus ISI, toko Mugiharjo, Jalan Ali Maksun. Sakti sekali lengkap dan murahnya. Saya belanja untuk melengkapi beberapa kebutuhan rumah yang tidak ada di kontrakan Brewok, saya mau nge-teh (dengan daun teh murni), tapi tak ada saringan. Dasar para lelaki lajang kos-kosan. Satu lagi yang awkward, saya hendak menyapu kontrakan brewok yang seperti kapal pecah terutama di studionya. Sapu di Jawa itu bulunya yang lentur sekali ya, menggunakan gabah, anu, batang padi, saya merasa kurang wow menyapunya jika tidak menggunakan sapu yang bulunya plastik yang agak tegang (pengaruh anak kota). Saya ngotot beli sapu plastik itu, ada satu, harganya agak mengukir penyesalan sih, 45 ribu. Yang akhirnya mereka tetap memakai sapu lembek itu, yang katanya jauh lebih bersih. Saya tetap belum terima itu.

Keliling Malioboro
Keliling Malioboro

Saya minta ke Malioboro siang itu. Tetap banyak barang-barang menggiurkan. Tapi saya sudah latihan untuk tidak boros membeli barang-barang tidak penting. Belanjanya akan saya simpan di akhir saja saat dekat tanggal pulang, menyesuaikan uang saku yang tersisa. Saya mencari reparasi jam, saya punya jam tua peninggalan nenek, umurnya sudah 50-60 tahun, masih jalan. Hanya kacanya retak sedikit dan talinya sudah usang, singkat cerita saya mencari berhari-hari dan kemana-mana di Jogja, tidak menemukan tempat yang punya perlengkapan untuk jam saya ini, mereka juga bilang bahwa tidak ada semacam itu di Jogja. Atau saya harus lebih detail mencari, tapi yasudahlah, di Medan ada, tapi mahal. Tidak ada pilihan, tidak harus juga, tidak mau buang-buang waktu. Saya berjalan-jalan sepanjang Malioboro, tidak belanja, tapi saya selalu tergiur dengan barang di dalam Hamzah Batik (Mirota Batik), saya beli celana panjang model kain perca, lucu, juga untuk persiapan ke Dieng nanti, jeng-jeng-jeng, Dieng. Harganya 60an ribu.

Sebenarnya barang-barang yang ada di Mirota Batik ini bisa didapati di luar dengan harga yang lebih murah, ada yang sama harganya. Tapi.. di tempat ini kental dengan suasana Jogjanya, barangnya pun sungguh lengkap. Mulai dari oleh-oleh kecil-besar, wayang, pakaian, koleksi kain batik, kemeja, terusan batik, barang antik, pokoknya segala jenis batik, lampu unik, harga tidak mahal. Semuanya tentang Jogja bisa kamu beli sekaligus disini kalau tidak mau repot atau capek mutar-mutar. Tapi ada beberapa barang yang tidak saya temukan di luar, maka saya beli. Saya berkali-kali mengunjungi Malioboro dan Mirota Batik selama di Jogja. Saya beli beberapa gantungan kunci unik bentuk tahu dan tempe yang mirip aslinya (ada sangat banyak gantungan kunci keren di sana), lalu suatu hari saya terpesona lagi dengan sebuah celana ponggol batik (karena baju sudah mainstream) dan beberapa dupa aromatheraphy. (to be continued) 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *