SEBULAN KELILING JAWA (PART 2)

Teks dan Foto: Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

CIWALK, ITB, GEDUNG SATE, JALAN ASIA- AFRIKA.

Good Morning, Bandung! Saya sudah ada janji jalan-jalan pagi ini dengan teman. Saya dijemput di depan gang, dia seorang pria besar tegap dengan Honda CB100 tuanya (katanya sih udah dimodif jadi 125). Kami jalan-jalan di Cihampelas Walk dan sekitarnya. Saat berkeliling, akhirnya kami merindukan makan siang, pilihan jatuh pada restoran Jepang, Yoshinoya, di lantai 2 Ciwalk. Saat saya mencari tempat duduk, saya melihat seorang yang sedang merokok seorang diri di bangku outdoor. “Koh Zaidi!” hahahahaha suatu kebetuan sekali bertemu Zaidi sekali lagi. Saya dan beruang –sebut saja begitu- duduk semeja dengan Zaidi dan mengobrol. Dia memang berpetualang sendiri. Jalan kaki dari stasiun ke penginapan, dari penginapan ke Ciwalk ini. Selesai makan siang kami, kami hendak melanjutkan jalan, berpamitan dengan Zaidi, apakah bakal bertemu di mana lagi?

Berkeliling Cihampelas
Berkeliling Cihampelas

Beruang mengajak saya mengunjungi kampusnya, Institut Teknologi Bandung (ITB). Jajan susu murni dan jus di depan kampus dulu baru mengarungi isi ITB. Arsitekturnya bernuansa tua dan tradisional, kata Beruang, bukannya tradisional, tapi kuno. Struktur bangunannya masih menggunakan kayu-kayu besar, bukan tiang/besi/beton. Banyak pepohonan dan tanaman yang terawat nan bersih. Di tengah-tengah ITB ada dua buah kolam, satunya namanya Indonesia Raya yang ini sudah kering kolamnya, satunya lagi namanya Indonesia tenggelam. Lalu dia mengajak saya mendekati kolam tersebut dan menjelaskan. Pola mozaik dalam kolam Indonesia Raya itu menandakan notasi lagu Indonesia Raya. Sedangkan di kolam bulat yang airnya hijau keruh itu, ternyata di dalamnya ada peta Indonesia. Hahaha, boleh… boleh….

Foto 9
Institut Teknologi Bandung

 

Ini dia kolam ITB itu
Ini dia kolam ITB itu

Setelah itu kami singgah di depan Gedung Sate, di Gasibu, sebuah lapangan, dengan beberapa anak tangga membatasinya. Kami mengambil beberapa foto dan duduk-duduk, mengobrol tentang masa lalu (tjieehh). Cerahnya langit mulai memudar, saya diantar pulang.

Gasibu
Gasibu
Foto 13
Menikmati pemandangan kota

Wajahnya Mas Brewok dan Mama sudah kusut dan jelek, karena saya pergi seharian padahal kami berencana menikmati malam di Jalan Asia–Afrika. Jalanan ini dihiasi temaram lampu jalanan yang manis, banyak tempat untuk duduk menikmati malam di sana. Banyak bar dan toko lukisan. Banyak warga dan turis juga tampak bercengkrama dengan sahabat atau keluarganya, damainya tempat ini. Tapi karena saya sudah lelah dan mengantuk, agak hilang kesadaran sambil saya berjalan. Lalu kami pulang dan beristirahat.

foto 14
Malam di Jalan Asia Afrika

TANGKUBAN PERAHU & PEMANDIAN AIR PANAS CIATER.

Kami berangkat ke Tangkuban Parahu pukul 8 pagi naik mobil keluarga, sorenya akan ke Ciater atau Sari Ater suatu tempat rekreasi dan pemandian air panas. Perjalanan pagi yang cerah dan sejuk, kami singgah mencicipi bubur ayam (saya lupa nama jalannya) rasanya enak! Tiba di Tangkuban Parahu pukul 10, membayar biaya retribusi 18 ribu per kepala. Coba menyetir sedalam-dalamnya supaya tidak lelah berjalan kaki terlalu jauh. Semakin dalam dan kabut tebal mulai menyelimuti. Sampai di suatu tempat yang tampaknya cocok memarkirkan mobil, kami berhenti. Begitu membuka pintu mobil, angin berhembussss dinginnnn. Kami langsung foto-foto di tempat itu. Kemudian jalan menyusuri tepi kawah yang dipagari. Kawah berwarna putih dan bebatuan abu-abu dan putih pucat. Mas Brewok tiba-tiba bertanya, “Mana yang bentuknya perahu,” saya tidak tahu menjawab, diam saja, dan terus berjalan sampai ujung dan tidak lupa berfoto di setiap spot yang bagus.

Gunung Tangkuban Perahu, serba putih dimana-mana
Gunung Tangkuban Perahu, serba putih dimana-mana
Saya pose juga di Tangkuban Perahu. Hehehe
Saya pose juga di Tangkuban Perahu. Hehehe

Mama saya dan keluarga juga sibuk berfoto berbagai pose. Banyak penjual menjajakan dagangan sambil berjalan sedikit mengejar-ngejar tamu, seperti strawberry, raspberry, blueberry, gelang-gelang, gantungan kunci. Ada fitur naik kuda juga! Jika malas berjalan, tamu dan anak-anak bisa naik kuda mengelilingi area tersebut. Toko oleh-oleh juga berjejer, baju, sweater, topi, berbagai kerajinan tangan, dan ternyata, harganya cukup murah apalagi pintar menawar. Saya lebih banyak duduk dan menikmati pemandangan saja.

 

Bareng Bang Brewok berlatar Tangkuban Perahu
Bareng Bang Brewok berlatar Tangkuban Perahu

Perjalanan kembali kami memutuskan untuk berpencar. Saya dan Brewok hendak melihat-lihat toko dan berniat belanja. Banyak toko yang menjual baju, oleh-oleh, kerajinan tangan dan benda unik lainnya, syukur saya sudah melatih diri untuk tidak banyak belanja apalagi benda-benda yang kurang bermanfaat. Mengingat koper bisa saja overweight seperti saat berangkat dari Medan ke Jakarta kemarin. Saya kemudian memperhatikan seorang bapak yang tampak sedang ‘mengupas’ sebuah batang kayu, saya samperin dan mengobrol sedikit. Jadi yang sedang dia kerjakan adalah pohon batik, corak yang terbentuk di pohon tersebut mempunyai pattern yang unik layaknya batik. Indahnya alam ini sampai ke dalam-dalamnya.

Pohon bonsai yang saya ceritakan
Pohon batik

Brewok mengincar sebuah pedang samurai. Saya tanya apakah itu worthed to buy, mengingat susah bawanya, mahal dan apa manfaatnya. Harga pembukaaan yang ditawarkan si penjual adalah 500 ribu. Saya punya skill tawar-menawar yang cukup baik. Di dompet saya kebetulan sisa 350 ribuan. Pecahan uang kecil pula. Jadi saya sungguhan menunjukkan isi dompet saya pada mas penjual, sembari menawar dan mengeluarkan selembar demi selembar sambil menghitung, saya bilang bahwa saya hanya bisa bayar 325 ribu. Tidak ada uang lagi, tidak ada ATM dekat sini dan butuh banyak pertimbangan untuk membawanya ke Jogja. Mungkin Masnya kasihan pada saya lalu mengiyakan, deal 325 ribu. Sisa 25 ribu saya mau jajan saya bilang. Brewok berjalan dengan senyum sumringah menenteng samurai yang sudah dibungkus rapi tersebut.

Lalu saya cemas bagaimana jika saya menemukan benda lucu yang bisa dibeli, sedangkan dompet sudah kosong. Saya harus mencari Mama yang mungkin sudah balik ke mobil. Benar saja, di ujung deretan toko, saya menemukan sebuah toko yang menarik hati. Sebuah toko dengan bonsai-bonsai lucu ber-pot-kan bongkahan kayu yang artistik! Saya amati satu persatu, saya suka yang kecil-kecil. Namun saya bingung membawanya pulang nanti. Bawa ke jogja naik KA 8 jam lalu bawa pulang Medan naik pesawat. Apakah awet, tidak akan mati. Bapak penjual mengatakan itu tidak akan mudah mati. Di bawa dalam kardus saja. Disemprot air seminggu 2-3 kali saja cukup. Saya semakin tertarik. Untuk yang kecilnya di hargai 125 ribu. Yang berukuran sedang 250 ribu. Sepertinya benda ini jarang ditemukan (ber-pot-kan bongkahan kayu) Dan saya belum tawar. Segera saya menarik tangan Brewok dan berlari mencari Mama, sampai di mobil, mereka sedang mengunyah entah apa. “MAAAAHH, minta duit! Nanti saya ganti,” saya minta 300 ribu. Saya selipkan 200 ribu dalam kantung. Dan menyisakan 125 ribu dalam dompet. Segera lagi kami kembali ke toko tersebut.

Bonsai lucu yang jadi incaran saya
Bonsai lucu yang jadi incaran saya

“Pak… saya cuma dapat 100 ribu… uang saya sisa 125 ribu… tapi saya mau yang ini…” sambil menunjuk bonsai yang agak besar yang harganya 250 ribu. Saya mau potnya diganti, ternyata bisa. Saya mau bongkahan kayu yang lebih imut. Supaya tidak makan tempat dan tidak berat. Bapak itu mengiyakan permintaan saya, cara memelas saya berhasil lagi. Sungguh senang luar biasa. Perlahan-lahan bonsai dengan tanah yang berselimut lumut itu dipindahkan ke pot kayu yang lebih kecil. Lalu di-packing dalam kardus. Saya bayar dan pergi, dengan hati riang gembira. Seperti Brewok dengan samurainya. Saya beli rapsberry dan strawberry, dua kotak buah itu saya tawar dan dapat, 20 ribu. Kembali ke mobil, semuanya tidur pulas. Hahaha. Kami bergerak ke Ciater, sambil makan raspberry dan strawberry yang kata mama sepertinya itu sudah disiram pemanis buatan. Iya juga, terasa pahit di bibir. Tapi manisnya pemandangan dan cuaca tadi, ramahnya penjual-penjual, dan manisnya bonsaiku, terasa pas. Samurai tidak manis. Tidak perlu di-mention.

Sebelum memasuki Ciater (maaf saya tidak sempat mengambil banyak foto), kami sempat ‘nge-load’ perut sebentar di warung makan terdekat. Setelah ‘full-tank’ kami masuk, membayar loket seharga 25 ribu per orang kalau tidak salah, yang menurutku lumayan merogoh kocek, karena di dalam masih ada tempat-tempat yang berbayar. Area yang pertama kami dapati adalah Curug Jodo, alias air terjun jodoh, mitosnya… buat yang kelelahan mencari jodoh, bisa coba bermain di kolam tersebut.. Cieee… Curug Jodo ini bentuknya sebuah kolam kecil, jernih dan dangkal berdasar bebatuan, dengan air mancur yang tidak terlalu besar di salah satu sisinya. Kami bergegas melepas sandal dan melipat celana, wah airnya panas sekali! Mereka menikmati kolam tersebut sampai ke tengah, saya cuma duduk merendam kaki yang sesekali diangkat. Kulit saya mungkin sedikit lebih tipis dan sensitif. Berendam sedikit saja sudah merah-merah seperti matang. Lalu saya ganti celana pendek dan kaos siap basah. Saya dan Brewok duluan melanjutkan rute, kami menemukan pondok Fish Spa Teraphy, dan sebuah lapangan dengan fasilitas panahan. Wah kami penasaran sekali ingin mencoba. Pertama kami mencoba fish teraphy dulu, dihargai cukup mahal, 40 ribu seorang. Setelah diberikan keterangan oleh penjaga, saya dan Brewok perlahan mencelupkan kaki ke kolam bulat berisi ikan-ikan kecil. Pertama, airnya dingin! Kedua, geli sangat! Tak lama kemudian Mama dan keluarga ikut mencoba, kami berteriak kegelian. Begitu juga beberapa turis lain satu kolam. Kaki Brewok tentunya kotor sekali, ikan yang hinggap jauh lebih banyak dari kami. Kurang lebih 15 menit kami beranjak.

Mama dan lainnya jalan duluan, lagi-lagi berpencar. Saya dan brewok mencoba panahan seharga 25 ribu untuk 12 anak panah, 12 ribu untuk 6 anak panah. Kami mencoba 12 anak panah saja, ganti-gantian pakainya. Walau tempat dan bow-nya tidak dibuat terlalu profesional, tapi cukup menghibur rasa penasaran sayalah bagaimana rasanya melesatkan anak panah. Tidak ada arm bracer, pelindung lengan supaya tidak tercambuk oleh ekor panah. Saya lebih ahli mengenai target dibanding Brewok, padahal ini kali pertama saya memegang panah, dan saya malah kesulitan menarik bow-nya. Selesai 12 panah, kami keluar dari lapangan dengan lengan kiri merah-merah, sedikit sakit. Hilang dalam beberapa menit.

Main panahan. Mungkin kamu perlu latihan panahan dulu sebelum memanah hati adek itu. :D
Main panahan. Mungkin kamu perlu latihan panahan dulu sebelum memanah hati adek itu. 😀

Saya dapat whatsapp dari Mama bahwa mereka di kolam Wangsa Dipa. Kami turun lagi. Masuk ke kolam pemandian air panas itu dengan membayar lagi, 25 ribu lagi seorang. Di dalam ada sebuah toko menjual celana pendek, kaos renang, celana dalam dan lain-lain, jika kamu lupa membawa pakaian renang, bisa dibeli di situ. Disana hanya terdiri dari dua kolam berendam sekitar 6x6m, dengan kedalaman yang berbeda Airnya panass… mencapai 42 derajat, mereka mengeluh-eluh kepanasan. Mengeliat keluar masuk kolam karena tidak tahan lama-lama dengan panasnya. Maksimal lama berendam adalah 15 menit, lalu masuk lagi setelah beberapa saat. Total lama berendam seperti itu maksimal 2 jam. Karena saya saja memang merasakan lemas dan pusing setelah berendam kira-kira 10 menit setengah badan saja.

Nyobain fish therapy. Ayo tebak yang mana kaki saya... :p
Nyobain fish therapy. Ayo tebak yang mana kaki saya… :p

Mau tantangan? Setelah ‘direbus’ seperti itu, silakan coba bilas badan dengan air dingin yang terletak beberapa meter dari pinggir kolam. Rasakan sensasinya, berteriak sedikit tidak dilarang. Segar-segar gimana gitu, memang lelah di tubuh langsung hilang. Hahaha. Ada penjual es krim melintas di tepi kolam, dengan harga selangit. Saya makan es krim Spongebob jelek itu, harganya 15 ribu. Yasudahlah. Oh ya saya baca ada permainan Flying Fox, tapi keburu tutup, pukul 4 saat itu. Yasudahlah. Kami bergegas pulang. Di perjalanan pulang, saya dan Brewok setelah tertidur, tiba-tiba disuguhi es lilin, terkenal enak di daerah Lembang, Mama juga beli tahu. Dan begitu sampai di rumah, kami langsung tepar. (to be continued)

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=ySZGWp0AK1Q[/embedyt]

One thought on “SEBULAN KELILING JAWA (PART 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *