SEBULAN KELILING JAWA (PART 1)

 Teks dan Foto: Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

“Hampir sebulan, kemana aja sih kamu??”

Kemana-mananya sih biar saya ceritakan disini. Mungkin tidak detail-detail setiap tempatnya yah, kalau detail saya bisa sekalian bikin novel, hahaha… Well anggap ini sebagai tips dan info buat teman-teman yang ingin mengunjungi daerah-daerah tersebut. Yang kamu butuhkan adalah, waktu cuti (liburan) yang diatur sedemikian rupa, supaya panjang maksudnya, teman yang lincah bermotor, tempat numpang tidur, persediaan uang saku, satu lagi, energi. Mungkin foto tidak begitu lengkap, saya simpan penderitaan hilangnya kamera mirrorless, mengabadikan semua ini menggunakan kamera hape ‘agak smart’. Tapi saya mengambil video sebagai penggantinya 😀 Enjoy!

THE HECTIC JAKARTA, THE AWESOME GOJEK AND THE POPCON ASIA

Jadi awalnya saya terbang ke Jakarta karena saya dan teman-teman berpartisipasi dalam event Popcon Asia 2015 tanggal 7-9 Agustus 2015 lalu. Bertempat di JCC Senayan. Saya terbang dari Medan tanggal 5 pagi, sampai disana saya dijemput teman dan ‘diletakkan’ di rumah salah satu kenalan saya bertempat di daerah Tebet Timur. Sempat cemas dengan transportasi di Jakarta, karena yang sangat menakutkan di Jakarta adalah traffic dan jauhnya satu tempat ke tempat yang lain. Di tengah kecemasan itu, datang pertolongan-pertolongan tidak terduga. Disana saya bertemu dengan partner alias mas pacaaarr yang juga menumpang di situ. Sebut saja Mas Brewok – bukan nama asli-.

Jadi malam itu saya mencoba aplikasi GoJek karena saya ada janji mau bertemu seorang teman di Pondok Indah Mall, kata teman saya itu jarak dari Tebet Timur ke Pondok Indah Mall tidak jauh (dan ternyata dia salah). Dari pukul 5 sampai pukul 6 sore aplikasinya dodol sekali, mungkin bugs atau apa, tidak merespon saat submit orderan (yang sedang promo 10 ribu kemana saja dengan jarak max 25km) dan baru ter-order pukul 6 lewat, satu jam saya menunggu. Status masih ‘mencari driver’ homaigat saya janji dengan teman saya ini pukul 5 sebenarnya, untunglah dia mengerti keadaan saya dan juga berusaha menenangkan saya yang sudah mau menangis bertemu mumetnya Jakarta. Pukul 7 lewat ada suara motor di depan, ternyata ada GoJek yang menurunkan penumpang di sebelah rumah. Beliau menawarkan untuk dia antar saja, dan meng-cancel orderan yang saya tunggu-tunggu itu. Jadi… ini pertama kalinya saya naik ojek seumur hidup. Sepanjang jalan saya mengobrol dengan beliau. Sebut saja namanya Ami –sepertinya memang nama asli- seorang bapak-bapak berparas umur 40an, sedikit oriental. Saya akui saya cukup tersanjung dengan pemandangan malam itu. Mungkin baru pertama kalinya naik ojek dan berkeliling Jakarta.

 

Jakarta di malam hari. Selamat datang...
Jakarta di malam hari. Selamat datang…

 

Saya sempat bertanya juga ada apa dengan pelayanan GoJek di smartphone itu, “Ya gimana ya bu, Pondok Indah Mall itu kan jauh sekali, Bu, dengan bayaran 10 ribu, mereka ya kalau bisa memilih ya milih yang dekat-dekat saja. Tidak munafik kan, Bu…” “Oh tentu saja,” pikirku. Lagipula para ojekers ngojek kapan saja mereka mau, kebanyakan mereka punya pekerjaan lain, begitu kata Mas Ami. Mas Ami ini ngojek-nya sore sampai malah hari saja. Seharinya bisa dapat Rp.100-150 ribu dari Senin sampai Sabtu. Kalikan saja berapa buat nambahin pemasukan.

Ternyataaa… dari Tebet Timur Dalam ke Pondok Indah Mall itu jauuuuhhhh sekali, bisa bayangkan tidak, 1,5 jam loh, Guys, ongkos yang sudah di-deal-kan tadi di awal adalah, 45 rebu. Goddam*t. Murah ya? Disitu dia meminta saya untuk menyimpan nomor hp-nya supaya bisa dipanggil saat saya butuhkan. He’s nice person. Dan memang, dia sangat membantu saya di Jakarta.

Tiba di toko teman saya di mall tersebut sudah pukul 8.30, mall akan tutup pukul 10 malam. Teman saya mengajak dinner romantis (dia cewe kok hehehe) di Tratoria, restoran Italian. Saya ditraktir sebuah steak tenderloin yang tidak ada dalam buku menu, namanya “Filleto do Manzo”, fillet tenderloin sapi yang diberi saos keju gorgonzola dan madu, that’s sweet. Yang suka manis pasti demen. Tapi, harganya, sepertinya 200 ribu seporsinya. Makan berdua dengan minuman, 560 ribu. Okay, cool. Thanks, Sis atas traktirannya. Saya di antar pulang dengan mobil, berangkat pukul 11 malam sampai di rumah jam 1.30 dini hari. She’s a quite complicated person like me, serasa ketemu kakak sendiri, hahaha. Perfectionist dan rempong. Syukurnya saya lumayan lupa dengan gundah hari itu.

Next Day!

Teman kami dari Semarang yang turut membantu, Febri –pria, nama asli- tiba di Jakarta, dan kami sudah berpesan pada si ojek Ami, untuk menjemput Febri dari stasiun Senen ke JCC. Dia stand by dan tepat waktu. Ongkos? 35 ribu. Kami mulai prepare acara sore itu, berpapasan denga tibanya Febri yang baru saja menempuh perjalanan kereta api 6 jam. Pekerjaan selesai jam 10. Ngomong-ngomong akhirnya kami pindah tumpangan lagi malam itu ke Akademi Samali, daerah jalan Guru Mughni. Karena pemilik rumah di Tebet ada urusan mendadak keluar kota. Aksam adalah sebuah studio/forum/ perpustakaan komik Indie, semacam itulah, isinya alat gambar dan komik. Setelah meminta ijin pada pemiliknya yang ramah dan naik daun sebagai komikus dan kegemarannya pada kopi. Sebut saja namanya mas Beng Rahadian –kali ini sepertinya nama asli- jadi ‘Aksam’ ini sering jadi tempat tumpangan tidur tamu luar kota, tapi ala kadarnya saja, jika beramai-ramai, seperti kemarin itu, tidurnya geletakan bertaburan di lantai. Percayalah, itu mengasikkan sekali. Warteg depan Aksam juga nikmat sekali, itu warteg pertama saya.

Hilang kecemasan saya tentang semerawut kota Jakarta, transportasi ke JCC cukup sederhana dengan TransJakarta, Rp.3.500 per-orang. Asyiknya, kami terasa ramai dan kompak. Memang beramai-ramai. Ada teman baru dari Malaysia. Namanya Zaidi. Temannya Mas Beng yang sedang berlibur ke Jakarta, dan ikut dengan kami kemana saja. Saya, Mas Brewok, Febri, Zaidi, dan beberapa mahasiswa ISI Jogja yang juga buka stand di Popcon, kebetulan sama-sama menginap di Aksam.

Begini kami numpuk di satu  'markas'
Begini kami numpuk di satu ‘markas’
Nikmatin ibukota
Nikmatin ibukota

The Popcon Day

Wow… acara Popcon berlangsung fantastis dan ramai tepat di jalur stand kami. Artist Alley, di tengah-tengah, stand kami di buka sekatnya dengan stand Digidoy dari Medan, stand kami paling cantik dan luas! Pengunjung terus berdatangan, transaksi terus jalan. Sulit bersantai (mungkin saya saja, saya tidak bisa duduk diam kalau sedang ‘jualan’). Banyak master-master gambar mengunjungi kami. Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu teman-teman dunia maya yang sudah berlangsung selama 5-6 tahun ini.

 

The Day. Popcon Day. Stand kami rame.
The Day. Popcon Day. Stand kami rame.

 

Suasana rame di Popcon Day.
Suasana rame di Popcon Day.

 

Selama 3 hari acara berlangsung, tiba di Aksam sudah malam, makan warteg terus, beramai-ramai dan bertukar cerita horor, tidur geletakan (saya mengusai sofa dong, ngomong-ngomong lagi, saya cewe sendiri), penderitaan karena AC yang terlalu ‘sejuk’ (bahasa malaysia dingin : sejuk) dan mengakibatkan kami menderita ‘kesejukan’ hahaha. Banyak kata-kata Malaysia yang terasa janggal di telinga kami dari mulut Zaidi malah jadi bercandaan. Dia juga membaur dengan kegilaan dan kocaknya kami. Walau ada beberapa peristiwa mistik, tetap terasa hangat dan menyenangkan di sana. Sampai pada tanggal 10 Agustus, sehari setelah acara, semua bersiap-siap pulang. Saya dan Brewok meneruskan perjalanan ke Bandung dengan X-trans. Febri pulang ke Semarang naik KA, dan Zaidi ke Bandung naik KA. Over all, Jakarta tasted sweet this time.

 [embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=dXqumglMHOA[/embedyt]

BANDUNG, THE NEXT CITY!

Shoot! Terjebak macet karena kami berangkat pukul 2 siang dari Jakarta, tiba di Bandung pukul 7 malam. Harusnya kami ikut ide Zaidi untuk naik KA. Tapi barang bawaan kami sungguh banyak dan berat. Agak sulit menjangkau stasiun, sedangkan pool X-Trans dekat dari Aksam. Tiba di daerah Gatot Subroto Bandung, dijemput mama saya dan keluarga disana, mama kebetulan juga sedang liburan ke Bandung. Dan kami langsung mengisi perut dan tepar. Saya siap untuk Bandung! (to be contiunued)

4 thoughts on “SEBULAN KELILING JAWA (PART 1)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *