Pulau Penyengat, Kawasan Cagar Budaya Tanjung Pinang

Teks & Foto oleh Sahat Farida Berlian @sahatfarida

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

 

Hujan turun dengan lebat, namun saya tetap berangkat ke Penyengat. Sementara sebagian besar penduduk Penyengat pergi ke Tanjung Pinang bersekolah ataupun bekerja, saya jalan-jalan, sendirian.

Selamat datang di Pulau Penyengat
Selamat datang di Pulau Penyengat

SEKITAR 3 km dari Tanjung Pinang, ibukota provinsi Kepulauan Riau melalui jalur laut, Pulau Penyengat bisa kita jangkau. Sebuah pulau tak terlalu besar berukuran 2500 x 750 meter, pulau situs sejarah. Dari dermaga, membayar Rp. 6.000 untuk satu kali perjalanan menggunakan pompong, spead bot transportasi umum warga di sini, sekitar 15 menit kita akan tiba.

Pulau Penyengat merupakan bagian dari kota Tanjung Pinang, Kecamatan Tanjung Pinang Kota, Kelurahan Penyengat Desa Penyengat. Berkeliling pulau, saya menyewa becak motor dengan biaya Rp 30.000/jam.

Tiba di airport Pulau Penyengat.
Tiba di airport Pulau Penyengat.
Pulau Penyengat Adalah Sejarah

Menurut tutur cerita dan sejarah yang dibakukan, pulau mungil di muara sungai Riau ini merupakan salah satu pulau yang banyak disinggahi pelaut untuk mengambil air tawar. Lebih lanjut, Penyengat menjadi nama pulau itu, karena pelaut yang disengat binatang (semacam lebah) ketika mengambil air tawar. Tersengat, sambil berlari ia berteriak penyengat, penyengat.

Masjid Raya Pulau Penyengat
Masjid Raya Pulau Penyengat

Masuk dari dermaga, kita akan menjumpai Masjid Raya Penyengat. Masjid ini merupakan tempat ibadah warga Penyengat yang telah berusia ratusan tahun. Kuning dan hijau merupakan warna yang mendominasi. Kuning merupakan warna kebesaran kerajaan Melayu, dan Hijau merupakan warna perlambang Islam.

Masjid Raya Penyengat merupakan Masjid megah yang didirikan oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803. Masjid ini mengalami renovasi di tahun 1832 jaman Raja Abdurrahman. Bangunan utama Masjid berukuran 18 x 20 meter, ditopang 4 tiang beton. Ke empat sudut berdiri menara tempat Bilal mengumandangkan Adzan, jauh sebelum adanya teknologi pengeras suara.

Yang unik dari Masjid ini adalah, menurut cerita, bangunan ini dibuat dari putih telur yang digunakan sebagai bahan perekat bangunan. Di Masjid ini ada 13 kubah, dan 4 menara, yang jika digabungkan ada 17 jumlah menara dan kubah, melambangkan jumlah rakaat sholat fardhu. Sisi kiri dan kanan depan Masjid terdapat bangunan tempat pertemuan, biasa di sebut Rumah Sotoh. Ada beberapa makam di kawasan Masjid, makam keturunan Raja. Nisan mereka ditutup kain kuning.

Dinding bangunan tua bersejarah.
Dinding bangunan tua bersejarah.

 

Melanjutkan perjalanan, kita akan menemukan bangunan tua yang kini hanya tinggal dinding saja. Bangunan yang terdiri dari dua lantai dahulu merupakan rumah tabib, atau balai pengobatan di masa kerajaan. Dari Balai Tabib lurus lalu berbelok ke kiri. Kita akan temukan komplek makam. Komplek makam ini terdiri dari makam Raja Hamidah (Engku Puteri) Permaisuri Sultan Mahmud Shah III Riau – Lingga (1760 – 1812). Makam Raja Ahmad (Penasihat Kerajaan), Makam Raja Ali Haji (Pujangga Kerajaan), Makam Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau – Lingga IX dan Raja Aisyah (Permaisuri).

Makam salah satu pahlawan.
Makam salah satu pahlawan.

Terpisah, terdapat komplek makam yang lebih megah. Makam Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau – Lingga IV (1725 – 1784). Di pulau ini, tersebar banyak makam. Mengelilingi pulau ini, di kanan kiri akan kita lihat makam. Makam tempat orang bersemayam setelah kehidupan di dunia padam, makam tempat menggali sejarah, makam tempat mengingat mati bagi mereka yang masih hidup.

Separuh pulau ini sudah kita jelajahi, mari melanjutkan perjalanan. Makam Raja Ja’far dan Raja Ali.

Raja Ja’far Yang Dipertuan Muda Riau VI (1805 – 1832) meninggal di Daik, Lingga. Dahulu, Daik adalah sebuah kota yang menjadi pusat kerajaan Melayu, Negara Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga. Raja Ja’far menjabat kedudukan sebagai Yang Dipertuan Muda Riau pada tahun 1806-1813. Raja Ja’far adalah pengembang pertambangan di Singkep. Makam mereka berada dalam kompleks yang luas, bernaung kubah tebal berwarna kuning.

Makam para tokoh yang dibalut kain kuning.
Makam para tokoh yang dibalut kain kuning.

Kemudian Balai Adat. Replika rumah adat Melayu yang berfungsi untuk melakukan pertemuan, menjamu tamu-tamu penting. Hari masih hujan saat saya berkunjung. Pintu Balai Adat masih terkunci. Bang Ayung, pengemudi becak motor yang saya tumpangi menjelaskan bahwa orang jarang keluar jika hujan. Hujan angin yang lebat sedari pagi. Hujan terus turun hingga malam hari.

Balai Melayu
Balai Melayu

Balai Adat Indera Perkasa, berada langsung di garis pantai, pintunya tepat menghadap laut lepas. Sekarang ini Balai Adat digunakan sebagai tempat pertemuan masyarakat Pulau Penyengat serta tempat diselenggarakannya perhelatan adat. Di dalamnya terdapat pelaminan pengantin dan juga perkakas-perkakas Raja dan Tuan Putri. Saya ketahui ini berdasar cerita, sehari itu Balai Adat tidak dibuka. Di sini juga terdapat sumur yang berusia ratusan tahun. Saya telat mengetahui tradisi cuci muka dari air sumur ini. Konon, sumur ini merupakan sumur pertama sumber mata air di Penyengat.

pulau penyengat
Bangunan dengan warna khas Melayu

Bukit Kursi. Bukit Kursi adalah sebuah bukit yang berada di Penyengat. Bukit ini merupakan bukit tempat untuk memantau pergerakan musuh, Benteng. Bukit ini dikelilingi parit kurang lebih sedalam 5 meter. Di beberapa sudutnya ditempatkan meriam. Menuju Benteng Bukit Kursi kita harus berjalan menanjak kurang lebih 200 meter. Undakan tangga licin berbahaya saat hujan. Undakan tangga menuju Benteng Bukit Kursi kita akan melewati komplek makam Raja Abdurrahman Yang Dipertuan Muda Riau VII (1832 – 1844).

Bangunan di sisi kanan bawah komplek makam Raja Abdurrahman adalah gudang mesiu. Dindingnya berketebalan kira-kira 30 cm dengan jendela berjeruji besi. Suara akan memantulkan gaung dari bangunan ini jika kita berbicara. Saya terkejut ketika mendengar gaung ketika menghela nafas. Sendirian, hujan, di komplek makam. Keterkejutan yang tidak menyenangkan.

 

Salah satu komplek Makam.
Salah satu komplek Makam.
Pahlawan Nasional

Raja Haji Fisabilillah merupakan pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No 072/TK/1887. Raja Haji Fisabilillah pernah menjadi panglima tertinggi melawan penjajahan Belanda. Beliau gugur dengan tragis pada 18 juni 1874di Teluk Ketapang saat bertarung dengan pasukan Belanda. Sebelum dipindahkan ke Penyengat, Raja Haji Fisabilillah dimakamkan di Melaka. Raja Haji Fisabilillah, namanya diabadikan sebagai nama bandara internasional di Tanjung Pinang, pulau Bintan.

Cucu Raja Haji Fisabilillah, Raja Ali Haji juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan yang cukup. Ayahnya, Raja Ahmad bergelar Engku Haji Tua, dikenal sebagai intelektual muslim, sedangkan Ibunya adalah putri dari Kerajaan Selangor. Menurut cerita, Raja Ali Haji juga sempat belajar ke Batavia, Kairo, dan Mekah.

Kubah-kubah berwarna kuning.
Kubah-kubah berwarna kuning.

Puluhan karya sastra lahir dari tangan beliau, antara lain Gurindam Dua Belas, Bustanul Katibin, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Ia juga merupakan peletak dasar pertama tata bahasa Melayu melalui buku ‘Pedoman Bahasa’ yang ditulis tahun 1885-1886, cikal bakal Bahasa Melayu standar yang kemudian ditetapkan sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia dalam Kongres Pemuda 1928. Raja Ali Haji adalah seorang pengarang, pujangga kerajaan kebanggan. Ia adalah orang besar di Tanah Melayu. Sebagai pengarang, karyanya abadi.

Jika menjejakkan kaki di Tanjung Pinang, singgahkanlah diri ke pulau Penyengat. Wisata murah meriah yang kaya akan sejarah. Catatan ini kuranglah lengkap, akan lebih menyenangkan jika anda langsung yang datang.

The Contributor!
Penulis di depan situs bersejarah Pulau Penyengat.
Penulis di depan situs bersejarah Pulau Penyengat.

Sahat Farida Berlian adalah seorang perempuan pemberani, memiliki cita-cita yang kuat untuk melakukan sesuatu bagi tanah airnya. Gemar memelajari sejarah karena buatnya sejarah penting untuk dipelajari. Temukan dia di akun twitternya @sahatfarida.

 

3 thoughts on “Pulau Penyengat, Kawasan Cagar Budaya Tanjung Pinang”

  1. Pulau Penyengat memang menarik, kebetulan beberapa tahun lalu pernah kesana, dibawa puter2 naik becak.
    Jadi teringat saat menumpang kapal kayu kecil dari pelabuhan Tanjung Pinang menuju P. Penyengat, walau cuma menyeberang selama 15 menit tapi deg2an juga karena ombak bikin kapal mengayun2… hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *