Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 2-End)

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Paling terkesan dengan penyu, garis pantai yang bercahaya saat gelap malam, dan tentara-tentara penjaga yang ternyata ramah.

Here we are! Kami sudah tiba di Pulau Berhala.

Setelah menuntaskan agenda pribadi dan mengisi perut, kami meletakkan barang-barang di kamar-kamar yang sudah disediakan. Jangan khawatir, di Pulau Berhala, meskipun tidak ada penginapan seperti hotel atau guest house, rumah tinggal para tentara dan navigator penjaga pulau biasa digunakan jika ada tamu yang datang. Jumlahnya cukup banyak, bisa untuk menampung sekitar 200 orang dan sepertinya memang dipersiapkan untuk para wisatawan. Kamar-kamar tersebut terawat baik dengan lantai keramik yang bersih, bangunan baru, dan kasur yang empuk. Ini jauh lebih baik dari yang saya bayangkan.

Di tempat ini, jangan pernah berniat untuk menjadikannya sebagai lokasi berbulan madu karenaaaaa… ada aturan yang sudah ditetapkan. Kamar antara laki-laki dan perempuan dipisah, tidak boleh bersatu meskipun itu untuk suami istri. Ini sudah menjadi aturan baku. Tentang kenapa, katanya berpantang sekaligus mungkin demi kenyamanan penghuni pulau ya. Hehehe…

Kamu bisa nginap di sini...
Kamu bisa nginap di sini…

Nah selain bisa menginap di kamar-kamar yang sudah disediakan, tepat di depan dermaga dan kamar-kamar di sebelah timur pulau, pengunjung bisa juga menikmati sensasi berlibur out door. Ya artinya, kamu harus membawa perlengkapan berkemah sendiri. Silahkan bawa tenda dan gelar sendiri tenda di areal aman di pinggiran pantai. Pinggiran pantai yang aman dari air pasang cukup luas kok. Bisa untuk 3-5 tenda di dekat dermaga. Di dekat kamar-kamar di sebelah timur dermaga lokasi berkemah jauh lebih luas lagi.

Berkemah di pinggiran pantai pasti memberikan kesan yang berbeda. Bisa mendengar suara debur ombak secara langsung adalah suasana mahal, tidak bisa dimiliki di kota yang tiap hari dipenuhi berisik suara kendaraan sampai larut malam. Kamu bisa merasakan angin laut, melihat bintang-bintang yang terlihat jauh lebih banyak karena tidak dihajar polusi cahaya. Ahhhh… ini kemewahan luar biasa. Itulah sebabnya saya sangat menyukai duduk dekat dengan alam.

Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.
Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.

Saya dan beberapa teman-teman lain (Ayuni dan Rancid) memang tidak membawa tenda, tapi kok rasanya kalau bergabung di kamar para cewek sudah terlalu sempit. Akhirnya dengan gagah perkasa kami memutuskan tidur dengan tikar di bawah pohon beratapkan langit dan berdindingkan udara malam pinggiran pantai. Ceileh…. Ya meskipun kemudian harus tergusur karena hujan yang mendadak deras. Kami akhirnya tidur di teras kamar cowok yang cukup luas dan cukup aman dari angin. Kami menggelandang dengan leluasa di dinginnya hujan Pulau Berhala.

Garis pantai dan para diver yang baru menepi
Garis pantai dan snorkeler yang suka memancing ikan.

Oh ya… untuk kamar-kamar tersebut, setiap tamu dikenakan biaya Rp. 30.000 per orangnya. Hitungannya bukan per malam tapi per kunjungan. Jadi meskipun dalam sekali kunjungan kamu tinggal selama 1 minggu di Pulau Berhala, bayarannya tetap Rp. 30.000. Saya terkesan lagi dengan sistem pembayaran yang sangat nyaman ini.

Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok...
Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok…

Ngomong-ngomong soal aturan, ada beberapa aturan lagi yang harus dipatuhi setiap pengunjung di pulau ini. Para pengunjung berpantang membunuh setiap binatang hutan di Pulau Berhala. Baik itu burung, tupai, atau ular sekalipun. Seperti kejadian di minggu pagi saat dari arah kamar para tentara penjaga pulau terdengar suara gaduh. Ternyata seekor ular piton ingin memangsa ayam peliharaan mereka. Para tentara hanya mengusir ular tersebut pergi, mereka tidak membunuhnya. Pelestarian untuk menjaga keseimbangan alam. Sebab memang predator terbesar musuh alam semesta sesungguhnya adalah manusia dengan segala keserakahannya. Tssssah… saya ngomongnya sudah melantur. Hehehe…

Aturan lainnya adalah, para pengunjung disarankan untuk menjaga tutur dan sikap, aturan berpantang seperti pada beberapa tempat untuk membagun mitos dan sikap menjaga sekaligus menghormati diterapkan di Pulau Berhala.

Facing 768 Stairs

165 anak tangga pertama
165 anak tangga pertama

Hari belum terlalu sore saat kami tiba di Pulau Berhala. Beberapa teman langsung mengajak untuk melihat langit dan laut dan keluasan samudra di sekeliling Pulau Berhala dari ketinggian menara suar. Ajakan ini rasanya cukup menggoda. Biarlah sementara Bang Onny dan team sedang khusyuk bermain-main dengan mainan barunya, drone untuk menangkap gambar Pulau Berhala dari atas, saya memutuskan ikut bergabung dengan tim yang akan mengalahkan tangga-tangga menuju menara suar. Toh besok pagi belum tentu akan ada teman lain yang ingin menaiki menara suar.

Berbekal sebotol air minum, saya dan Andi dari kemanaaja berjalan bersama 5 orang lainnya ditambah dengan satu orang navigator penjaga pulau. Perjalanan ke menara suar terus menaik. Setelah menyelesaikan 165 anak tangga pertama, kami harus terus berjalan dan menuntaskan sekitar 615 anak tangga lagi. Wow… membayangkannya saja saya sudah teler. Tapi saya ingat lagi kata teman saya, Ridho Golap, “Jangan bayangkan jauhnya atau susahnya naik, tapi bayangkan apa yang kau dapatkan begitu sampai di puncak.” Iya, saya sadar kalimatnya benar. Saya hanya akan membayangkan apa yang akan saya lihat begitu tiba di atas puncak. Kalaupun nanti mengecewakan, saya tetap berbahagia karena saya sudah berhasil mengalahkan rasa tidak kuat atau malas dan berhasil menuntaskan rasa penasaran. Oh ya jangan kalian bayangkan kalau Ridho Golap itu bijak kali orangnya ya. Hahaha waktu ngomong seperti itu sebenarnya dia hanya ngelantur saja kok. *biggrin

Masih kuat kakak....
Masih kuat kakak….

Kami berjalan pelan-pelan, nafas sudah terasa ngos-ngosan. Beberapa kali kami berhenti menjaga jarak masing-masing dan berusaha mengatur nafas. Tangga-tangga semakin tinggi. Di kiri tangga terdapat rel dari kayu sampai ke puncak tangga untuk mengangkut muatan-muatan bahan bangunan untuk membangun menara suar dan menara komunikasi yang tengah dibangun. Anak-anak tangga sebagian terasa licin karena berlumut. Untung tidak ada hujan sore itu.

Pegangan tangga di kiri atau kanan sebagian sudah lapuk dan rusak. Langkah-langkah kami kecil saja dan hati-hati. Parada, salah satu teman tampak paling tersiksa. “Aku udahan ajalah,” katanya yang disambut suara ngos-ngosan kami sambil berkata, “Ayo, pelan-pelan aja.” Well… kami semua tiba di ujung tangga sekitar 30 menit kemudian. Si abang yang menjadi guide kami cukup sabar menghadapi nafas pendek-pendek dan langkah-langkah kecil kami.

Untuk melihat dari puncak menara, kami harus menaiki tangga lagi, sekitar 4 tingkat ruangan dengan tangga nyaris 90 derajat pada tingkat keempat. Untuk yang phobia ketinggian seperti saya dan Andi, saya salut dengan keberanian kami. Hehehe…

Jalan menuju menara suar
Jalan menuju menara suar

Di atas menara suar, angin cukup kencang membuat kadang suara hilang terbawa angin saat tengah berbicara. Langit sedang tidak terlalu bagus sore itu. Langit datar, flat, tidak ada goresan biru yang membuat indah. Langit serba abu-abu yang juga membuat laut mati warna. Laut tidak tampak biru. Tapi saya ingin tetap menikmati apapun yang saya temukan di sana. Angin, keluasan, kebebasan, dan keberanian mengalahkan rasa takut. Kami berhasil menghadapi 768 anak tangga yang tak banyak bicara tapi sangat menguras tenaga.

Kami pun bergegas pulang karena hari sudah semakin sore mendekati pukul lima. Saran dari abang guide, sebaiknya sudah tiba di bawah sebelum pukul enam karena akan sangat gelap dan tidak terlalu aman berjalan dalam gelap di tangga-tangga berlumut. Jalan turun memang tak bikin lelah tapi cukup bikin nyali ciut bila melihat ke bawah. 😀

Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.
Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.

Rumah Untuk Penyu

Keistimewaan lain Pulau Berhala adalah pulau ini merupakan tempat konservasi penyu. Penyu hijau, satwa asli pulau ini sendiri. Penangkaran penyu tersebut, menurut Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu penjaga pulau dari Angkatan Darat yang bertugas jaga, sudah mulai dilakukan sejak Pulau Berhala dikelola, sekitar tahun 2006. Sejak itu pula sudah lebih ribuan penyu yang dilepas kembali ke habitatnya, ke laut begitu mencapai usia dewasa. Penangkaran penyu yang dikelola oleh tentara ini saat ini sedang merawat lebih dari 30 tukik (anak penyu) berusia satu bulan. Saat tukik berusia tiga bulan nanti, tukik-tukik ini dilepas ke laut karena dirasa sudah cukup dewasa dan mampu menjaga dirinya bertahan dari pemangsa dan kesulitan alam. Selain tukik-tukik, di wadah penangkaran ada ratusan telur yang tengah dieramkan.

Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.
Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.

Oh ya para tentara penjaga pulau biasa berpatroli malam hari untuk mengumpulkan telur-telur penyu agar tidak sampai dimangsa oleh elang, ular atau hewan-hewan pemangsa lainnya. Dan… ternyata mereka pernah bertemu dengan penyu raksasa seberat lebih dari satu ton.

Untuk melihat penyu dewasa dan jejak-jejak mereka naik ke daratan, kita harus ke arah timur pulau, sekitar 15 menit berjalan bila melalui anak-anak tangga bila air sedang pasang atau 5 menit melalui pinggiran pantai ke arah timur bila air sedang surut. Malam itu, air sedang pasang, tak aman bila kami menyusur pinggiran pantai. Kami melalui anak-anak tangga.

Bila ingin bertemu dengan penyu, kita tidak boleh berisik. Mereka akan takut ke daratan bila mendengar suara berisik. Setiap makhluk hidup secara insting akan menghindari bahaya dan pemangsa. Meskipun niatan kami bukan sebagai pemangsa, percayalah, tak ada penyu yang bisa membaca pikiran kita, seperti kita juga tak akan pernah fasih menyelami pikiran orang lain.

Kami berjalan tenang, malam pekat. Bintang-bintang di atas langit bersinar sangat terang dan indah. Andi berusaha merekam momen bintang-bintang tersebut dengan kameranya.

Bermain-main di atas pasir.  Tukik berbahagia...
Bermain-main di atas pasir. Tukik berbahagia…

Di pasir pantai, jejak-jejak penyu terlihat beberapa. Bekas kemarin malam kata abang guide. Yang membuat takjub lagi adalah keajaiban di garis pantai. Garis pantai yang menyala terang, garis berwarna biru mengikuti lekuk sisa-sisa hempasan ombak. Garis biru yang dihasilkan plankton-plankton. Mereka bercahaya dalam gelap. Bahkan jika kakimu terhempas ombak dan mereka menempal di sandal, sendalmu kerlap seperti bintang biru. Saya suka memperhatikan mereka.

Sayang malam itu belum ada penyu yang naik ke pantai. Kami diminta untuk diam dan tenang, duduk bercakap-cakap tak jauh dari penginapan di sisi timur dermaga. Kami meringkuk di bawah jaket menunggu datangnya penyu. Namun sebelum penyu datang ke pinggiran pantai, hujan sudah mengusir kami pulang. Sudahlah, hari itu kami tidak berjodoh dengan penyu.

Dijaga Sepasang Pulau Yang Mesra

Bagian menarik lainnya dari pulau ini adalah mitos tentang dua pulau penjaga di sisi kiri dan kanan Pulau Berhala. Adalah Pulau Sokong Kakek di sebelah barat dan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur. Sepasang pulau ini dimitoskan sebagai sepasang kakek dan nenek penghuni pertama Pulau Berhala. Entah bagaimana ceritanya, saya kurang mendapatkan rinciannya.

Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar
Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar

Pulau Sokong Kakek akan terlihat jelas saat kita berada di puncak menara suar. Pulau ini bila air surut bisa disinggahi para nelayan. Tidak ada garis pantai di sini, hanya ada lubang besar seperti celah gua sangat besar yang bisa dimasuki. Tapi cukup pengap, begitu cerita nelayan yang saya dapatkan dari tentara penjaga. Bila air naik tentu saja pulau ini tidak bisa disinggahi.

Sedangkan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur, bila air sedang surut, kita bisa menyeberanginya dengan berjalan kaki dari Pulau Berhala. Pantainya menyatu dengan Pantai Pulau Berhala. Di pulau ini terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam si nenek.

Begitulah, dua hari terasa berjalan lambat di Pulau Berhala. Saya sangat menikmati keramahan tentara penjaga yang menemani berkeliling pulau dengan kapal patroli juga melihat bagian-bagian lain pualu. Saya tidak dirong-rong gadget karena memang tidak ada sinyal, saya punya banyak waktu dengan saya dan pikiran-pikiran saya saat duduk atau rebahan menikmati angin laut di pinggir pantai.

Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.
Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.

How to get there:

Untuk menuju Pulau Berhala, dari Dermaga Tanjung Beringin di Serdang Bedagei, kamu harus mengontak pos tentara untuk diizinkan menyebrang pulau. Kapal sudah disediakan oleh mereka. Untuk satu kapal bermuatan lebih dari 30 orang sekarang dikenakan biaya Rp. 4 juta (sebelum BBM naik Rp. 3 juta). Jadi memang sebaiknya beramai-ramai agar bisa sharing biaya.

Untuk penginapan hanya dikenakan biaya Rp. 30 ribu per orang. Untuk makan, bila beramai-ramai dan tak membawa bekal sendiri, kamu bisa meminta disediakan juru masak yang akan men-charge Rp. 15.000 untuk sekali makan. Silahkan hitung sendiri berapa kali kebutuhan makan kamu di pulau.

Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli
Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *