Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 1

Cara kami menikmati perjalanan

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

Jauh dekat 4000. Eh bukan, ini bukan angkot. Kami sedang dalam perjalanan ke Pulau Berhala. Jauh dekat, jangan pikirkan jauhnya.

Saya paling demen kalau ada yang nge-SMS atau nelpon terus nanya begini nih, “Ka, minggu depan kemana?” atau “Ka, weekend ini ada kegiatan?” Ini sih biasanya pasti ajakan jalan kemana atau ngelakuin sesuatu di akhir pekan, yang kalau memang belum ada jadwal pasti langsung saya jawab, “Belum ada rencana kok….”

Sama kayak minggu lalu waktu tiba-tiba Bang Onny Kresnawan, partner kerja dari Sineas Film Documentary (SFD) -yang banyak berkontribusi di masa-masa awal karier saya (halah)- nelpon dan melontarkan pertanyaan sejenis. Awalnya sih mikir bakal diajakin gawean bareng. Hahaha. Mikirnya udah gawean aja. Ternyata Bang Onny ngajakin liburan rame-rame dengan teman-teman media dan penulis lainnya ke Pulau Berhala.

Bang Onny dan tim SDF sedang dalam pengerjaan video pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), lokasi administratif Pulau Berhala. Karena memang kapal penumpang ke Pulau Berhala yang dikelola oleh TNI itu muatannya sampai 30-an orang, sayang kalau kosong, sekalian deh Bang Onny mengajak teman-teman dari berbagai media untuk liburan bareng dan tentu saja menuliskan cerita perjalanan ke sana. Termasuk kemanaaja.com…

Berhala Island
Berhala Island

Kecil di Keluasan Samudra

Pulau Berhala adalah satu dari sekian banyak pulau kecil yang berada di wilayah perbatasan perairan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Pulau Berhala berada di Selat Malaka, berbatasan dengan Malaysia.

Sebagai pulau terluar Indonesia, pulau ini menjadi wilayah penjagaan perairan, melihat arus masuk kapal-kapal asing, jangan sampai pula diklaim oleh negara lain.

Dari Medan kami berangkat menuju Serdang Bedagai (Sergei) menuju sebuah dermaga kecil di Desa Tanjung Beringin. Dermaga ini adalah daerah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Perkampungan menuju dermaga sangat menarik. Sebuah perkampungan tua yang kemungkinan besar dulu adalah China Town.  Dermaga dan pelabuhan selalu menjadi tempat asal mula gerak perekonomian tumbuh. Dari dermaga kami melewati muara sungai menuju lautan. Cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam. Apalagi  demi keamanan kapal dan air yang tidak sedalam lautan, kapal bergerak sangat lambat. Fuih…

Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.
Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.

Perjalanan ke Pulau Berhala lebih lama dari yang saya bayangkan, sekitar 4 jam. Saya sudah pernah ke Pulau Pandang yang juga berada di Selat Malaka. Waktu itu waktu tempuhnya berkisar 3 jam. Jadi, awalnya saya berekspektasi waktu tempuhnya juga mungkin hanya berkisar tiga jam. Sedikit bosan memang bila tidak pandai menikmati laut dan setiap keadaan. Apalagi kalau sudah mulai mabuk laut dan sesak pipis. Untuk yang pertama saya syukurnya aman. Perjalanan pulang pergi aman dari mabuk laut. Tapi tidak dengan yang kedua. Dalam perjalanan pulang saya benar-benar dihajar rasa tidak nyaman kebelet pipis yang harus saya tahan sekitar satu jam. Seperti yang saya bilang tadi, untuk situasi seperti itupun kita harus pandai-pandai menikmati keadaan.

Selo aja Ka, nggak usah pikirkan sesak pipisnya. Pikirkan yang lainlah,” kata Bang Ridho Golap seperti komentarnya juga waktu membahas perjalanan yang rasanya tak sampai-sampai waktu beberapa mulai mengeluh bosan.

“Pikirkan aja nanti kalau udah sampai apa yang bisa kita lihat,” katanya melengos sambil merokok kretek.

Oh ya tentang mengatasi mabuk laut, termasuk mabuk darat, saya sudah mendapatkan jurus jitu mengatasinya. Andi yang mengajari. April lalu saat kami berlibur ke Sabang, dalam perjalanan darat dengan bus yang AC-nya kelewat dingin, saya mabuk darat. Mabuk yang nggak perlu minum alcohol. Hahaha. Andi menyarankan saya untuk duduk menekuk lutut, lalu menekan perut dengan bantal atau tas. Cukup manjur. Pun untuk perjalanan laut, jika sudah terasa mual, saya siap mengambil jurus jitu, rebahan atau duduk dengan menekuk lutut. Ternyata jitu sodara-sodara!!!

Perjalanan berangkat kami tak terlalu diberkati dengan cuaca yang cerah. Di kejauhan langit kelihatan gelap, hujan sudah nampak di kejauhan, di berbagai sisi. Rintik-rintik, sehingga meskipun tak besar, membuat laut sedikit berombak. “Jakpot aku dua kali,” kata Amri, salah satu teman jurnalis saat sudah turun dari kapal, yang ternyata waktu di kapal tak satupun kami menyadarinya. Hihihi….

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal kayu yang aman untuk ditumpangi sampai ke tujuan. Dilengkapi pelampung dan lampu untuk malam hari tapi tidak dilengkapi dengan toilet dan atap yang mumpuni. Jadilah di tengah keluasan Selat Malaka, kami menikmati hujan di atas kapal. Sembari berhujan-hujan ria, saya, Andi, Bang Zen, Buyung, dan Bang Ridho Golap, bercakap-cakap tentang entah apa saja.

Mulai tentang Sponge Bob yang naïf, Squidward yang paling realistis sekaligus paling narsis, tentang kenapa Sandy Cheeks si tupai yang bisa ada di Bikini Bottom. Juga tentang dialog-dialog dan kalimat Mr. Crap yang mengejutkan dan sangat tidak cocok untuk tontonan anak kecil. Kami juga mencoba membayangkan bagaimana Pi bisa bertahan dengan Richard Parker di tengah lautan.

Percakapan kemudian berpindah-pindah dari tentang laut, tentang burung yang terbang mendekati kapal pencari ikan, tentang burung yang singgah beristirahat di kayu-kayu yang mengapung di tengah laut. Seperti kayu tersebut, kapal kami mengapung-apung di tengah samudra. Kami seperti burung yang duduk beristirahat menunggu tiba di pulau.

Get closer to Berhala Island
Get closer to Berhala Island

Yes… Akhirnya Tiba di Berhala

Hampir 4 jam kapal kami sudah berjalan dengan kecepatan santai. Sejam sejam lalu, Pulau Berhala sudah kelihatan. Terasa semakin dekat dan terus semakin dekat. Tampak tiga gugusan pulau. Dua pulau kecil di kiri dan kanan dengan satu pulau utama yang jauh lebih besar dari keduanya. Pulau Berhala diapit dua pulau kecil di sisi kiri dan kanannya. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek. Tentang kedua pulau ini nantikan di part selanjutnya ya. 😀

Welcome gate
Welcome gate

Usai sudah cerita kami di atas kapal yang melebar kemana-mana, dermaga Pulau Berhala yang kokoh sudah kelihatan. Di atas puncak bukit tampak menara suar dengan lambang burung garuda di atasnya. Dermaga ini kelihatan masih baru. Pantas saja, menurut marinir yang saya ajak ngobrol, dermaga tersebut baru selesai sekitar awal tahun 2014 lalu.

Garis Pantai dan air yang menggoda.
Garis Pantai dan air yang menggoda.

Langit tidak lagi semendung di perjalanan tadi. Garis kebiruan di langit tampak cantik. Pun garis pantai yang kebiruan sudah sangat menggoda untuk disentuh. Saya bahagia, akhirnya sampai dan bisa menghirup udara laut dengan leluasa dari atas dermaga. Tulisan Welcome to Berhala Island ditulis dengan warna merah putih ditemani bendera merah putih memberi tanda jika mereka yang baru saja tiba sedang berada di teritori negara Indonesia. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek kelihatan mesra menjaga Pulau Berhala. Jika dilihat dari jauh ketiganya tampak seperti tubuh penyu degan kepala, tempurung, dan kakinya.

Well, saya sudah tiba di Berhala, waktunya cuci muka, menuntaskan hajat yang tertahan selama di perjalanan dan tentu makan siang yang sudah tertunda. Selamat datang di Pulau Berhala.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *