Ngobrol Seru Bareng Trinity The Naked Traveler

Teks dan Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta 

Traveler blogger yang sangat fenomenal ini baru saja mengeluarkan sepasang sandal jepit baru (eh buku deng maksudnya) setelah perjalanan mengelilingi 22 negara selama satu tahun penuh.

Buku ke-10 dan 11-nya ini diberi judul 1 Year Round-the-World Trip Part 1 dan 2. Isinya, pasti dong travelogue atau catatan-catatan perjalanan selama mengelilingi 22 negara bareng sahabatnya, Yasmin. Dan… dalam rangka promosi buku baru ini juga, Trinity menyempatkan diri buat ngobrol dengan pembaca buku-bukunya di beberapa kota, termasuk Medan. Sambil terus membiarkan sosok Yasmin tetap menjadi misteri. *evilgrin *jutekinmbaktrinity

kemanaaja.com setelah acara meet and greet dan book signing beruntung bisa ngobrol dan rekam video pendapat Mbak Trinity tentang kota Medan (video di postingan selanjutnya ya… :D). Ini nih hasil obrolan seru bareng Mbak Trinity di sepanjang acara yang diadakan 13 November lalu di Toko Buku Gramedia Gajah Mada, Medan.

Saat diskusi dengan pembaca TNT
Saat diskusi dengan pembaca TNT

Semua negara punya kesannya masing-masing, tapi Kuba memang luar biasa ya. Negara ini kan diembargo oleh Amerika. Mereka tidak menggunakan dan tidak bisa menggunakan produk-produk buatan Amerika. Kayak gmail, facebook, dll. Untuk email mereka pakai yahoo yang buatan Spanyol. Awalnya ya memang agak seram, satu bulan nggak bisa diakses sama yang lain. Sampai Mama almarhum waktu itu juga minta ke abang saya yang memang kerja sebagai polisi, “Itu coba cari dulu adik kamu ada dimana sekarang…” Kuba memang menyenangkan dan cantik, tapi agak sulit. Karena dunianya terbagi dua antara orang lokal dan turis. Mata uangnya juga dua, turis hanya boleh memakai fasilitas turis. Sehingga agak susah untuk blend in atau gaul.

Orang tua saya nggak apa-apa karena memang sudah menjadi pekerjaan saya. Full time traveler, freelance writer. Lagian rencana jalannya sudah di sounding jauh-jauh hari. Dari tahun 2012 sudah dikasi tau mau jalan-jalan setahun penuh. Paling ditanya aja kayak gini, nanti kamu di sana gimana, uang gimana, ini itu gimana, saya bilang beres. Ya udah mereka nggak perlu khawatir.

Orang tua saya dan orang tua Yasmin dari kami kecil nggak pernah nakut-nakutin. Didikannya yang penting bebas bertanggung jawab. Tapi memang sebelum pergi setahun ini kami sudah siapain surat warisan, eh wasiat. Emangnya gue punya apa yang bisa diwarisin. Hahaha. Semuanya itu kami cc-in ke Ibu dan keluarga. Sampai sedetail itu. Yasmin misalnya kalau dia kenapa-napa nah dia bilang bawa aja ke Islamic Centre terdekat biar nggak ngerepotin. Jadi kita sampai siapin asuransi dan lain sebagainya deh.

Ibu saya baca semua buku-buku saya. Kuncinya sebenarnya biar orang tua nggak terlalu khawatir, kalau jalan jangan cerita yang buruk-buruk. Cerita yang baik-baik saja.

Pasti budgeting. Perjalanan setahun ini juga. Sama aja kayak jalan-jalan biasa seminggu atau dua minggu, budget itu dihitung per hari. Misalnya kayak di Peru, 30 dolar sehari. 10 dolar untuk tinggal, 15 dollar untuk makan dan sisanya ya untuk transportasi dll. Kalau udah kelebihan kita stop dan besok harus hemat lagi. Jangan lupa juga bawa debit card dan kartu kredit, kartu kredit itu penting untuk booking-booking.

Saya nggak perlu hipnotis Yasmin buat ngajak jalan setahun karena memang udah niat jalan-jalan sama. Mencari teman jalan yang pas pasti sulit, pertama, duitnya nggak sama, cutinya juga nggak sama. Yasmin itu adalah satu dari sekian banyak teman yang saling udah tau, berapa rekeningnya juga saya udah tau. Kita berangkat dari jumlah uang yang sama jadi mudah hitungannya. Untuk nemu teman yang kayak gitu butuh proses. Mulai dari zaman kuliah, kerja dan sampai jalan kayak kemarin itu. Nah dia juga pernah nanya, “Kalau misalnya gue nggak ikut, elu jalan nggak?” Saya pasti akan tetap jalan, cuma belum belum tau juga bisa sampe 22 negara atau nggak.

Biar hemat tiap hari kita masak. Kami cari hostel yang perabotnya lengkap dan bisa untuk masak. Jadi kita tinggal belanja di pasar atau super market. Yang masak pasti tetap Yasmin. Hahaha. Perjalanan ini juga bikin kami sadar kalau masakan Indonesia itu ribet banget. Kalau bule seribet-ribetnya paling sandwich atau spaggeti, itupun pake saos tomat kalengan. Kalau kita minimal harus 3 ya, ada nasi, lauk, sayur dan begitu siap masak, wuihhhh peralatannya numpuk sampe yang lain nggak bisa masak nungguin kita. Biar mudah, kami bawa bumbu instan kayak bumbu ayam goreng, sambal pecal, sambal terasi sachet. Yasmin bawa itu sekitar 20 sachet. Ada pengalaman lucu seputar sambel terasi. Terasi itu ternyata bau banget jadi harus nunggu sepi dulu baru masak. Sampe suatu hari, kejadian juga. Kirain udah sepi eh ternyata ada dua bule yang masuk. Mereka bilang gini nih, “Ini kayaknya ada tikus mati deh,” yang satu lagi bilang, “Bukan deh ini kayaknya bau kaki.” Hahaha…

kemanaaja.com dan blogger-blogger Medan yang hadir di acara Meet and Geet bareng Trintiy
kemanaaja.com dan blogger-blogger Medan yang hadir di acara Meet and Geet bareng Trintiy

Makanan paling enak itu di Medan. Taste-nya itu dan nggak pelit bumbu. Mau yang halal nggak halal semuanya enak banget. Pokoknya kalau ke Medan bawa obat anti kolesterol gitu deh.

Pengalaman lucu di Amerika Latin, karena udah bulan ke sepuluh, kami pun mau menghemat belanja. Paling murah di sana itu jeroan, jadi kita beli paket jeroan yang 7000 udah dapat seplastik jeroan, mau bentuknya udah acak kadut ya bodo amat. Rencananya mau beli ati karena mau buat sambel goreng ati. Pas ke pasar pesannya pakai bahasa Spanyol, Corazon yang kami pikir artinya hati. Yang dikasi itu bukannya ati, bentuknya gede banget warna itam, rupanya dikasi jantung. Corazon itu jantung. Ya… karena sense of survival-nya lebih tinggi ketimbang kejijikan tetap dimakan dong…

Orang bilang bahwa perjalanan adalah menemukan diri sendiri, tapi buat aku, aku bisa bilang kalau aku nggak seromantis itu. Buatku traveling is traveling, the great affair is to move. Sepulang berjalan aku malah semakin prihatin sama Indonesia kalau dibandingan sama negara yang kita anggap kecil dan miskin. Ternyata mereka lebih maju terutama soal mental. Mereka mengantri, konsen sama lingkungan hidup, nggak buang sampah sembarangan, kalau belanja mereka nggak sediain kantongan plastic. Perjalanan ngasi kita ‘mata baru’. Aku terinspirasi dari film The Motorcycle Diaries, setelah perjalanan keliling Amerika Latin, Che Guevara itu langsung bikin revolusi. Saya juga, tapi bingung mau revolusi apa di Indonesia. Hehehe…

Kita di Indonesia itu terlalu nyaman di comfort zone yang kadang justru itu jadi ironi. Dalam kekacauan Indonesia kita justru menikmatinya. Semuanya gampang, nyebrang sembarangan, buang sampah sembarangan, mau jungkir balik ya semuanya sesuka hati.

Ngomongin cowok, cowok Italia ganteng tapi gatal. Turki itu ganteng memang tapi gampangan, kalau Brazil, ganteng, ramah, terus hangat, mereka bau testesteron. Aura maskulin dan seksualitasnya menguar. Hahaha… Cuma masalahnya di Brazil bukan cuma cowoknya, cewek-ceweknya juga cakep banget. Mau bersaing jadi nggak pede. Kalau Kuba bedanya lagi mereka benar-benar negara yang tertutup, jadi cowok-cowoknya itu nggak ada pengaruh dari Amerika. Mereka itu cowok-cowok yang orisinal, sedikit kampung, nggak tau merek, berhubung aku penggemar cowok daerah bukan Jakarta atau kota, jadi mereka itu waduhhhh… bener-benar cakepnya bikin bergetar. Cuma mereka agak tertutup, susah bergaul dengan mereka. Justru itu bikin tambah termehek-mehek. Hesteknya gemez, pakai z. Hehehe….

Oh ya aku nggak nulis guide book karena aku itu messy banget, nggak detail. Jadi sebelum memutuskan nulis aku kenali diri sendiri makanya milih jadi penulis cerita pendek tentang perjalanan.

Sesi foto bareng pembaca dan book signing
Sesi foto bareng pembaca dan book signing

Perjalanan memang bikin kita makin kenal sama teman kita. Yang jelek dari Yasmin, Yasmin itu orangnya jutek, benar-benar jutek apalagi kalau lagi PMS. Tapi marahnya ya masih masuk akal. Kadang kalau ada yang isengin, gue tinggal senggol dia aja, jadilah dia marah-marah. Juteknya dia ini dibanding semua kebaikan dan have fun jalan bareng, ketutuplah. Kalau aku, yang paling bikin sebel Yasmin itu, aku orangnya nggak bisa ngitung. Paling payah. Dia kan logis banget anaknya. Dia yang rajin nyatet semua pengeluaran kami. Tiap hitungan pengeluaran, dia pasti langsung bilang, “Nggak bisa ngitung lagi?” sambil mulai deh juteknya. Hahaha…

Saya sering nulis di blog dan social media tentang bagaimana negara yang saya kunjungi mengelola wisata mereka. Aku justru nggak punya koneksi dengan dinas pariwisata apapun di Indonesia. Herannya lagi sampe sekarang aku nggak ada dihubungi sama dinas pariwisata apapun. Padalah aku sering diundang Tourism Board negara asing buat nulis tentang wisata mereka. Aku ngelakuin apa yang aku bisa, semoga didengar. Tapi ya kayaknya seringan dianggap resek. Tantangan paling besar sebagai penulis itu aku kalau nulis tentang Indonesia, ternyata nggak semua bisa dan sudah terbuka. Misalnya dulu aku nulis tentang Gorontalo, aku dihajar habis-habisan sama orang Gorontalo. Mereka bilang, “Enak aja, kantor gubernur kita dikatain warna pink kayak Disneyland.” Lha bukannya bener, kok gue yang dimarahin. Begitupun di Jambi, masuk satu situs di museumnya kita dikunciin, yah mereka marah-marah, bilang itu nggak bener. Sampe sekarang aku juga nggak nulis tentang Medan, Sumatera Utara, dan Danau Toba, mungkin juga karena takut kali ya… hehehe… Orang batak pulak, atut aku. Hehehe… (Hem… gimana pendapat anak Medan? *wink)

2 thoughts on “Ngobrol Seru Bareng Trinity The Naked Traveler”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *