Menuju Jogja, Menuju Pulang

Teks & Photo oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Tak perlu lahir dan besar di Jogja untuk mendapatkan sensasi ‘pulang’. Setiap orang pasti berbeda dalam mengartikan pulang itu sendiri. Tetapi satu hal, ada sesuatu tentang Jogja yang membuat saya ingin kembali padanya.

Saya masih ingat betul perjalanan dan ide gila yang akhirnya membawa saya kembali ke kota pelajar ini. Waktu itu, saya bersama seorang teman yang kebetulan belum pernah berkeliling Jawa ingin melakukan express traveling, dimana kota yang akan kami sambangi salah satunya adalah Jogja. Mendekati perayaan Waisak, antusiasme orang-orang meningkat untuk mengunjungi kota ini. Ya, melalui Jogja, kita bisa menuju Borobudur yang berada di Magelang.

NB : Tolong jangan bilang kalau kalian masih menganggap Candi Borobudur yang tersohor itu berada di Jogja ya..

Jalan-jalan sore di kawasan wajib senyum. Malioboro.
Jalan-jalan sore di kawasan wajib senyum. Malioboro.

Bertolak dari kota Bandung pada pagi buta, kami menumpangi kereta dan memakan waktu kurang lebih 9 jam perjalanan dan tiba pada sore hari. Selama berada di kereta, hati saya merasa adem karena sebentar lagi saya akan pulang. Iya, pulang ke Jogja. Pulang kepada keramahan dan kehangatan orang-orangnya. Ketika kembali lagi ke kota ini, senang rasanya mendapati tidak ada yang berubah. Setidaknya, tidak ada penambahan mall yang menjulang tinggi dan hampir mencakar langit.

Tanpa mengenal kata lelah, setibanya kami di stasiun Tugu, kaki langsung melangkah ke tempat dimana kita bisa menemukan ikon kota Jogja. Ya, tentu saja Malioboro. Setiap yang datang kesini selalu menyempatkan diri ke kawasan wajib senyum ini. Pedagang dan pembeli semua tumpah ruah di sepanjang jalan ini. Di sepanjang jalan juga, kita akan sering berpapasan dengan kereta kuda yang parkir atau bahkan lalu lalang di jalanan. Pemandangan seperti ini sulit ditemukan di Ibukota bukan?

Pasar yang tidak boleh dilewatkan kalau sedang main ke Malioboro. Pasar Beringharjo.
Pasar yang tidak boleh dilewatkan kalau sedang main ke Malioboro. Pasar Beringharjo.

Saya setuju dengan predikat kota pelajar yang diberikan kepada Jogja. Saya pikir, semua orang disini dilatih untuk menjadi pelajar yang ulet dan berjiwa seni tinggi. Belajar untuk membuat setiap yang datang betah dan hendak kembali lagi seperti saya.

Kedatangan kami tepat satu hari sebelum perayaan Waisak digelar. Kebetulan, waktu itu libur panjang dan semua orang dari segala penjuru daerah memadati Jogja. Niat awal perjalanan ini kami lalukan sebenarnya adalah untuk melihat dan mengikuti prosesi Waisak di pelataran candi Borobudur. Sialnya, cuaca menghentikan. Hujan serta angin deras menyambut kami malam itu. Teman saya mengatakan bahwa tidak apa kami batal ke Borobudur. Toh itu perayaan keagamaan, bukan untuk wisatawan. Saya pun mengiyakannya.

Batalnya perjalanan ke Magelang membuat kami berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh di Jogja. House of Raminten. Tempat ini sangat familiar baik dikalangan setempat maupun wisatawan. Pasalnya, selain menjual oleh-oleh khas kota Gudeg, tempat ini memiliki café yang berada di lantai 2 dan selalu mementaskan kabaret setiap Jum’at dan Sabtu. Kami memutuskan untuk makan malam ditempat itu sambil menunggu pertunjukan kabaret yang akan dimulai pada pukul 8 malam.

Salah satu menu yang segar di House of Raminten.
Salah satu menu yang segar di House of Raminten.

Pukul 8 tepat lampu-lampu mulai berubah dari terang menjadi gelap. Kemudian lampu sorot diarahkan kepanggung dan menyinari sosok manusia yang sedang mengenakan gaun hitam. Inilah pertunjukan cabaret itu. Pertunjukan yang diisi oleh sekelompok waria yang bertingkah dengan kocak hingga bisa mengocok isi perut kita. Saya tak bisa berhenti tertawa melihat pertunjukan lips sing yang mereka pertunjukkan pada malam itu. Saya rasa, siapapun yang datang ke Jogja pada akhir pekan wajib melihat pertunjukan ini.

Semacam Alda Risma ala House of Raminten.
Semacam Alda Risma ala House of Raminten.

Nicki Minaj is in the house yooo...
Nicki Minaj is in the house yooo…

Tepat sehari setelah perayaan Waisak digelar di Borobudur, kami memutuskan untuk berangkat menuju Magelang untuk melengkapi list perjalanan. Menuju candi Buddha terbesar, candi Borobudur. Menggunakan taksi sewaan seharga Rp.450.000,-, kami bertolak menuju Magelang. Sengaja kami memilih taksi karena keterbatasan waktu. Sebelumnya, kami juga sempat mengunjungi candi Prambanan. Candi hindu terbesar yang menjadi saksi perkembangan hindu di Indonesia. Wisata ke Jawa, khususnya Jogja dan sekitarnya, adalah wisata candi. Merugilah kita, jika bagian yang terbesarnya tidak kita kunjungi.

Halama belakang Prambanan emang fotoable banget gaes.
Halaman belakang Prambanan emang fotoable banget gaes.

Borobudur, Magelang atau Jogja?

Candi Borobudur adalah mahakarya yang dibangun pada masa Dinasti Wangsa Syailendra. Dibangun pada tahun yang diperkirakan 750 – 800 Masehi, candi Borobudur sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Borobudur berada 15 km di selatan Magelang atau 40 km dari Jogja. Pada tahun 1991, UNESCO mengukuhkannya sebagai salah satu situs warisan dunia.

Wisatawan yang sedang berfoto diantara stupa Borobudur.
Wisatawan yang sedang berfoto diantara stupa Borobudur.

Salah satu dari ratusan ukiran di dinding candi Borobudur yang agung.
Salah satu dari ratusan ukiran di dinding candi Borobudur yang agung.

Borobudur berarti ‘biara di perbukitan’. Menurut beberapa informasi, kata Borobudur berasal dari bukti tertulis yang ditulis oleh Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa Sir Thomas Stamford Raffles. Kata Borobudur sendiri berarti biara di perbukitan. Tak heran jika dari dulu hingga sekarang, Candi ini digunakan sebagai tempat ibadah bagi agama Buddha. Setiap tahun menjelang Waisak, tempat ini selalu dipadati oleh umat Buddha yang akan mengikuti perayaan keagamaan. Tidak hanya umat Buddha, beberapa wisatawan juga akan memadati tempat ini untuk melihat prosesi perayaan Waisak yang dipenuhi oleh biksu dan umat Buddha.

Pemandangan dari salah satu pintu keluar Candi Borobudur.
Pemandangan dari salah satu pintu keluar Candi Borobudur.

Sekembalinya dari Magelang, saya bersama teman seperjalanan menghabiskan waktu beberapa hari lagi di Jogja. Rasanya 3 hari tidak cukup untuk menuntaskan rindu. Jogja bukan hanya tentang angkringan murah, seniman ukir, batik tulis, lebih dari itu keramahan dan kehangatan orang-orang yang menyambut membuat saya merasakan pulang.

Candi Mendut. Salah satu candi yang akan kita jumpai ketika menuju ke Candi Borobudur.
Candi Mendut. Salah satu candi yang akan kita jumpai ketika menuju ke Candi Borobudur.

Kalau kembali ke Jogja, pengin duduk-duduk santai di angkringan sambil mendengarkan para pengamen mengumandangkan lagu Kla Project. Nikmati bersama, suasana Jogja.

How to get there

Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk bisa sampai di Yogyakarta. Dari Medan kita bisa menggunakan pesawat langsung kesana atau transit di Jakarta. Bisa pula dengan menempuh jalur darat kalau kebetulan bertolak dari Jakarta atau Bandung. Ambillah kereta malam atau kereta pagi.

What to do

Menilik pengalaman 2 tahun lalu ketika saya terakhir berkunjung kesana sewaktu Waisak, usahakan pergi disaat low season. High season membuat Jogja terlalu ramai. Dan jika tujuannya ingin mengikuti Waisak di Borobudur, Magelang, mohon jangan sampai mengganggu ritual keagaamannya. Bagaimanapun kita adalah orang yang menjunjung tinggi toleransi beragama. Utamakan kepentingan yang memebutuhkan yaitu umat Buddha yang mengikuti perayaan Waisak. Dan jangan lewatkan kabaret show di House of Raminten setiap Jum’at dan Sabtu. Worth to see!

One thought on “Menuju Jogja, Menuju Pulang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *