Menggatalkan Kaki, Mengoleksi Ingatan, Membagi Cerita!

Teks oleh Eka Dalanta @ekadalanta *artikel ini pernah dimuat di Aplaus The Lifestyle

You are still young.  Free… do yourself a favor.  Before it’s too late, without thinking too much about it first, pack a pillow and a blanket and see as much of world as you can. You will not regret it. One day it will be too late.”  -The Namesake, Jhumpa Lahiri

MESKIPUN terbilang newbie di dunia per-travel-an, saya memang si kaki gatal. Kata teman-teman, saya gadis petualang, dalam arti sesungguhnya, tentu tanpa makna ganda atau makna tambahan *wink. Saya suka berjalan, kapan saja di mana saja. Suka melihat, memperhatikan, menonton orang, dan menemukan teman-teman baru.

Dalam sebuah perjalanan
Dalam sebuah perjalanan

Itu saya sekarang! Dulu saya anak rumahan, yang menahan rasa suka kemana-mana karena dibatasi langkah kakinya. Perempuan yang suka berjalan murah ini, mendapat kepercayaan penuh sejak menjejakkan kaki di bangku kuliah. Dengan prestasi akademik yang terjaga baik, menyibukkan diri di kegiatan ekstra di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya seperti mendapatkan garansi bebas kemana saja dengan syarat wajib lapor dan pintar-pintar menjaga diri. Saya beruntung punya Mama yang rela sering ditinggal anak gadisnya dan melepasnya melihat hal-hal ajaib di luar rumah. Tapi waktu itu gerak saya masih terbatas, sebatas kemampuan saya mendapatkan sponsor dari kampus saat ada kegiatan pelatihan atau sejenisnya. Uang saku saya masih terbatas.

Singapura, perjalanan makin jauh
Singapura, langkah terus semakin bergerak

Saya nggak ingat kapan persisnya pertama kali jatuh cinta sama kegiatan perjalanan. Buat saya dulu, kegiatan perjalanan ini seperti kegiatan berlari. Saya memang senang berlari. Teman saya pernah bilang, “Nggak apa-apa kamu suka berlari, asal nggak lari dari kenyataan.” Tapi nyatanya, saya awalnya memang lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa hidup tidak sepersis apa yang diinginkan, bahwa semuanya tak berjalan semulus harapan. Halah, kok jadi curhat pulak ya! He-he-he… Tapi sekarang nggak lagi kok.

Oke, kembali ke perjalanan, saya selalu suka berjalan, sendiri ataupun dengan siapapun, dua-duanya sama menyenangkannya. Perjalanan terjauh pertama saya dimulai saat saya duduk di bangku kuliah. Tujuan pertamanya adalah kota Bandung demi sebuah pelatihan jurnalistik dari Pers Mahasiswa. Itulah sebabnya, sampai sekarang, Bandung memiliki tempat istimewa di hati dan ingatan saya. Di perjalanan pertama saya ini, Jakarta-Bandung-Semarang, saya menemukan kecintaan saya pada perjalanan. Jauh lebih besar dari sebelumnya. Dalam perjalanan ini saya belajar tentang kebodohan, gengsi, keberanian, rasa takut, cemas, rasa malu, juga belajar percaya. Dan kemudian tersenyum mensyukuri semua ketika itu sudah menjadi kenangan.

Danau Singkarak, sebuah perjalanan pada perjalanan selanjutnya
Danau Singkarak, sebuah perjalanan menuju perjalanan selanjutnya

Perjalanan pertama saya ini terbilang spektakuler untuk orang yang tidak pernah melangkah jauh. Saya tak dapat tiket kereta Bandung-Semarang, tapi terlalu gengsi untuk pulang kembali ke tempat pelatihan. And thank God, saya dapat tiket dari calo. Belajar percaya, saya naik kereta, duduk di depan pintu kereta dekat dapur, menikmati perjalanan, melihat pinggiran laut sembari duduk menekuk lutut, dan minum kopi bersama pegawai kereta. Dan ajaibnya, saya kemudian mendapatkan tempat tidur. Tak dapat kursi, saya “dianugerahi” tempat tidur. Sesuatu banget kan? Modalnya, belajar percaya pada orang baru, mensyukuri tiap peristiwa, dan tidak mengeluh pada situasi seperti apapun. Ini tentu menjadi momen luar biasa buat anak kuliahan yang baru “lepas nyusu” seperti saya. Sesederhana cerita ini, begitulah kecintaan saya pada ingatan perjalanan, juga ketika melakukannya. Begitulah… perjalanan saya kemudian dimulai. Belum terlalu jauh, belum keliling Indonesia, dan masih beberapa negara di luar Indonesia. Tapi saya suka melakukannya. Pun kalau cuma ke Berastagi di akhir pekan. Siapa bilang itu tidak bisa disebut perjalanan? Nikmati tiap detailnya dan kamu akan semakin mencintai kehidupan.

Ngapel dulu. (baca: makan apel)
Ngapel dulu. (baca: makan apel)

Buat kalian tahu!

  1. Perjalanan tak selalu membuatmu kaya secara finansial, malah menguras kantong dan tabungan. Kecuali kalau kamu memang traveler writer atau orang yang digaji untuk melakukan perjalanan. Tapi percayalah, lebih dari kekayaan finansial, kamu akan mendapatkan kekayaan pengalaman. Tahu banyak hal dan membuka pikiran kamu agar tak picik.
  2. Perjalanan juga membawamu bertemu dengan orang-orang baru. Mendapatkan teman-teman baru, keluarga baru, atau juga mungkin pacar baru. Bhikhikhikkk…
  3. Perjalanan mengajarkan kita rendah hati. Mata terbuka, melihat dunia besar, dan sadar betapa kecilnya kitas. 😀
  4. Perjalanan menghadiahkan kita cerita dan kenangan, yang tak akan habis dimakan waktu dan zaman. Selalu ada ingatan yang bikin kita senyum-senyum sendiri, kecuali kamu tiba-tiba amnesia.
  5. Ketika akan melakukan perjalanan, sebaiknya rencanakan dengan baik. Detailkan perjalanan karena itu akan sangat memudahkan kamu. Perjalanan mengajarkan kamu menjadi manager yang baik. Tapi ingat, jangan abaikan spontanitas yang membuat hidup bahagia dan berwarna.
  6. Selalu berpikiran baik. Percayalah, selalu saja ada orang baik yang bersedia kamu minta tolongin. Pikiran positif membawa kebaikan datang mendekat padamu.
  7. Jangan menunggu orang lain. Untuk merencanakan perjalanan, jangan tunggu orang lain. Waktunya kadang susah matching-nya. Kenapa takut jadi independen traveler. Tenang aja, di perjalanan, seperti keajaiban, kamu akan sering ketemu dengan rekan perjalanan yang tepat. Siapa tahu jodoh juga kan ya? Hi-hi-hi…
  8. Nikmati tiap perjalanan, jangan suka mengeluh, buang pikiran sempit. Selamat datang di dunia perjalanan. Mari menggatalkan kaki.

 

2 thoughts on “Menggatalkan Kaki, Mengoleksi Ingatan, Membagi Cerita!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *