Maronan

Teks oleh: Eka Dalanta & Foto oleh: Andi Gultom

 

“Selalu ada yang menarik di pasar tradisional. Kita akan menemukan realitas sehari-hari masyarakat sebuah tempat di sana.”

membersihkan-bawang

 

Saat berlibur di Danau Toba, sebuah jaminan mata Anda akan dimanjakan dengan kecantikan pemandangan alam yang luar biasa. Selain menikmati alam dan budayanya, sangat menarik juga berkunjung ke pasar tradisional di daerah yang Anda tuju di pinggiran Danau Toba.

 

Di desa-desa di pinggiran Danau Toba, pasar tradisional berlangsung sepekan sekali di tiap desa. Masyarakat Batak Toba menyebutnya dengan Onan, artinya hari pasar atau pekan. Tiap-tiap desa punya waktu yang berbeda-beda sehingga bagi para petani yang ingin menjual hasil pertanian atau kebunnya bisa pergi ke desa yang sedang menyelenggarakan onan.

Turun dari kapal membawa hasil pertanian
Turun dari kapal membawa hasil pertanian

Kali ini saya mengajak Anda ke salah satu sisi Danau Toba di Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Balige merupakan kota yang dikunjungi Presiden Jokowi dalam Karnaval Danau Toba yang diadakan baru-baru ini.

Pisang Parapat
Pisang Parapat

Onan Balige diadakan setiap hari Jumat. Pasar tradisional ini sangat ramai dan jauh lebih besar dari onan di beberapa desa lain di seputaran Danau Toba karena Balige merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa. Onan Balige di mulai dari pasar di tengah kota, dan kita akan terus berjalan menerobos keramaian onan menuju pelabuhan. Orang-orang dari berbagai desa yang berdekatan dengan Balige datang membawa hasil pertanian dan peternakan. Para pedagang dan petani juga datang dari desa-desa di Pulau Samosir yang terdekat dengan Balige.

 

Berjalanlah menuju arah pelabuhan. Kita akan melihat riuhnya para petani datang dari berbagai desa menumpang kapal-kapal kayu yang bergerak merapat. Para petani turun membawa aneka hasil bumi untuk dijual dan dibawa pulang kembali setelah menukar (membelanjakannya) dengan aneka kebutuhan pokok lainnya.

Menurunkan Kerbau dari Kapal
Menurunkan Kerbau dari Kapal

Sangat menarik berkeliling dan melihat-lihat di pasar-pasar tradisional seperti di tempat ini. Kita akan menemukan lokalitas yang sangat kental. Pada tutur kata dan bahasa, pada berbagai komoditas hasil bumi yang dijual. Di Balige kita bisa melihat aneka rerempahan khas Batak, seperti andaliman, bawang batak, bawang samosir, dan komoditas khas lokal lainnya. Pisang Parapat misalnya yang hanya bisa kita temukan di daerah di seputaran Danau Toba.

Ikan Mujair Danau Toba
Ikan Mujair Danau Toba

Oh ya saya juga melihat pedagang Raru. Kayu khas untuk membuat minuman tuak yang membuatnya mengalami fermentasi dan menciptakan rasa unik di dalamnya. Juga pedagang kayu pinus. Potongan-potongan kayu pinus biasa digunakan masyarakat di sini sebagai kayu bakar.

Pedagang Raru
Pedagang Raru

Jika sedang berkunjung ke Onan Balige, sempatkanlah pula melihat keunikan Onan Horbo atau pasar kerbau. Letaknya di ujung pelabuhan, ujung dari pasar tradisional di Onan Balige. Di pasar ini, para pedagang kerbau membawa kerbau-kerbau dari berbagai desa menuju Onan Balige dengan menumpang Kapal Kayu. Kapal kayu merupakan alat transportasi utama di Danau Toba. Puluhan kerbau diturunkan dari dalam kapal melalui danau.

Menarik Kerbau Turun
Menarik Kerbau Turun

Saat kapal sudah menepi, satu-persatu kerbau digiring turun melompat ke dalam danau. Kerbau-kerbau melompat lalu berenang menepi. Sebuah pemandangan unik yang tidak biasa.

Kayu Pinus untuk Kayu Bakar
Kayu Pinus untuk Kayu Bakar

Seperti di sini, karakteristik alam, budaya, dan lokalitas terlihat begitu polos. Sebuah alasan untuk saya selalu menyempatkan diri berkeliling dan berkenalan dengan lokalitas di tiap pasar tradisional. (Tulisan ini juga terbit di Majalah Gema Pelabuhan, Pelabuhan Indonesia 1 (Pelindo 1) Edisi Desember 2016)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *