Liburan di Sabang, Santai Banget…

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

*Artikel ini juga terbit di Majalah Dunia Melancong 

 

Berlibur santai di sini tanpa merasa mati bosan.

 

April lalu dalam rangka merayakan ulang tahun sekaligus pemenuhan kebutuhan melangkahkan kaki, saya memilih Sabang sebagai destinasi perjalanan. Dan kali ini, masih dalam rangka menikmati perjalanan on budget, saya berangkat dengan menumpang kendaraan umum.

Ada banyak sekali pilihan bus menuju Banda Aceh. Kebanyakan busnya adalah bus-bus dengan kondisi yang sangat baik dan nyaman untuk perjalanan sekitar 12 jam. Kursi yang empuk, air conditioner yang sehat (bahkan kelewat dingin he-he-he), snack yang wajar, serta selimut dan bantal untuk membantu kenyamanan tidur selama perjalanan. pilihannya sebenarnya ada 2 cara untuk mencapai Banda Aceh. Pertama, lewat jalur darat seperti yang saya lakukan kali ini (tentu saja bisa dengan membawa kendaraan pribadi) dan kedua, lewat jalur udara. Perbedaan ongkosnya sebenarnya tidak terlalu mencolok, tapi dalam perjalanan terencana, biaya adalah rincian yang sudah diatur dengan baik.

Pertunjukan Gratis Lumba-lumba
Atraksi lumba-lumba di perairan Sabang.
Atraksi lumba-lumba di perairan Sabang.

Kami sudah tiba di Banda Aceh. Untuk menuju Sabang kita harus menyeberangi dari Pelabuhan Ulee Lheu menuju Pelabuhan Balohan di Sabang. Ada dua jenis layanan penyeberangan di sini. Dengan kapal lambat dan dengan kapal cepat. Kapal lambat membutuhkan waktu penyeberangan sekitar 1,5 jam dengan biaya Rp. 25.000 per orang, sedangkan kapal cepat 45 menit dengan biaya Rp. 65-85.000. Kami memililih yang kapal cepat untuk berangkat ke Sabang dan kapal lambat saat pulang. Pertimbangannya, setelah lelah seharian di jalan, kami ingin segera tiba di penginapan dan beristirahat. Sedangkan saat pulang nanti, kami ingin menikmati pemandangan laut dengan leluasa dari atas geladak kapal. Dan… tentu saja, kami ingin melihat gerombolan lumba-lumba yang sering melompat-lompat beratraksi, menjadi tontonan gratis.

Tentang lumba-lumba ini, kami sangat beruntung, dalam perjalanan kembali ke Banda Aceh, tidak hanya satu, lebih dari 5 gerombolan lumba-lumba memamerkan dirinya. Di sisi kiri kapal, sisi kanan, bagian belakang, puluhan lumba-lumba mencuri perhatian. Dalam perjalanan saya sebelumnya, saya tidak melihat lumba-lumba sebanyak ini. Bahagia sekali rasanya melihat jumlah mereka yang masih sangat banyak.

Setibanya di Pelabuhan Balohan, banyak penjual jasa becak, rental mobil, dan rental sepeda motor yang menawarkan jasa mereka. Harga rental sepeda motor di sini sekitar Rp. 100.000 – Rp. 150.000 per-hari. Sepeda motor tersebut bisa disewa sejumlah hari yang kita suka. Tapi harga ini belum termasuk bahan bakar minyak. Kami juga memilih menyewa sepeda motor.

Dari pusat kota kami memutuskan segera menuju Iboih, tempat yang kami pilih sebagai tempat menginap selama 4 hari berikutnya. Alasannya, Iboih saat ini adalah destinasi wisata paling ramah di Sabang dengan puluhan pilihan penginapan yang memberikan pemandangan laut yang indah. Begitu bangun pagi, kita bisa langsung menikmati beningnya dan birunya air laut, menonton ikan-ikan dan karang, juga duduk santai di dermaganya yang nyaman. Perjalanan menuju Iboih juga memanjakan mata dengan laut lepas di sisi kiri kita. Gugusan pulau-pulau kecil seperti Pulau Klah, Pulau Rondo dan pulau lainnya membuat kita terkagum-kagum. Semuanya photoable banget, bahkan dengan asal jepret. He-he-he…

 

Tugu Kilomerter Nol Indonesia.
Tugu Kilomerter Nol Indonesia.
Titik Nol, Indonesia Bagian Barat Bermula di Sini

Ini adalah kali kedua juga saya menginjakkan kaki di titik nol Indonesia di bagian barat. Rasanya masih tetap sama. Takjub dengan keluasan Samudera Hindia di hadapannya yang terbentang tanpa jarak. Kalau saya sanggup berenang tanpa lelah, mungkin saya bisa sampai ke Srilanka atau India dengan berenang dari sini. He-he-he…

Perjalanan menuju Titik Nol dari Iboih membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Hari sudah sore. Setelah memilih penginapan dan meletakkan barang-barang, kami langsung menuju Titik Nol. Iya… kami memang tak kenal lelah, walaupun niat awalnya ingin beristirahat, tapi godaan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin sangat besar.

Dari atas tugu Kilometer Nol Indonesia.
Dari atas tugu Kilometer Nol Indonesia.

Mengendarai sepeda motor yang kami sewa, kami menuju Titik Nol sebelum hari menjadi gelap. Katanya, pemandangan matahari terbenam di sini sangat indah. Sayangnya, kami lupa kalau matahari cukup lama tenggelam di sini. Pukul 7 malam, matahari masih terlihat santai turun. Kami tidak terlalu beruntung karena sunset hari itu tidak terlalu bagus. Seharian memang langit tidak terlalu cerah. Di sini akhirnya kami duduk melihat laut, memotret Titik Nol dan mencicipi segelas kopi ditemani goring pisang raja. Itu tak bisa didustakan nikmatnya.

Yang paling saya suka dari perjalanan menuju Titik Nol adalah hutan-hutan hijau luar biasa di sepanjang perjalanan. Paru-paru saya rasanya menjerit bahagia kegirangan menghirup udara sangat bersih cenderung adem. Saya merentangkan tangan menikmati kehijauan hutan-hutan tropis di sepanjang pinggiran jalan. Apalagi, dedaunan luruh di jalanan itu memberikan kesan natural yang tak bisa dibantahkan.

Jalanan indah menuju Kilometer Nol Indonesia.
Jalanan indah menuju Kilometer Nol Indonesia.
Pantai-pantai Indah

Buat para pencinta pantai dan pasir, Sabang adalah sebuah kemewahan. Dengan sinar matahari yang cukup, senja yang berlangsung lebih lama, matahari terbit yang harus diburu karena pagi lebih cepat di sini, pasir, air yang bening, aneka spesies laut yang menarik, dan ketidak terburu-buruan yang ditawarkan, semuanya adalah satu kesatuan maha sempurna. Ada 4 buah pantai yang kami eksplorasi selama di Sabang, Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pantai Sumur Tiga, dan Pantai Ujung Karang (baca juga artikel sebelumnya 5 Famous Beaches in Sabang). Sebenarnya ada dua lagi pantai yang masuk dalam daftar kami, Pantai Aneuk Hitam dan Pantai Pasir Putih. Keduanya gagal kami datangi.

Menikmati matahari terbit di dermaga Iboih
Menikmati matahari terbit di dermaga Iboih

Aneuk Hitam, kami memutuskan tidak jadi ke sana setelah sekian jam berkeliling mencari-cari Benteng Jepang, kami sudah terlanjur lelah. He-he-he padahal kata kakak di peningapan tempat kami meninap, itu tidak jauh lagi dari Benteng Jepang. Salah siapa coba? Sabang kurang siap dengan penanda yang menunjukkan daerah wisatanya. Kita harus mencari-cari sendiri atau bertanya kepada orang lain, itupun jika ada. Kadang kala kita tidak menemui orang untuk ditanyakan dalam jarak yang cukup jauh. Seperti halnya kami yang kesulitan menemukan Benteng Jepang. Ya kok rasanya terlalu jauh gitu….

Nah… kalau Pantai Pasir Putih, katanya tempat ini sangat bagus untuk melihat sunset. Sayangnya pantai ini jarang sekali didatangi orang karena jaraknya yang sangat jauh. Butuh waktu 1 jam lagi dari Titik Nol. Kami terlalu takut mengambil resiko pulang terlalu malam di sana melewati jalanan berliku dengan tikungan, turunan dan tanjakan yang harus diawasi. Apalagi jalanannya tidak ramai dilewati orang. Ya… jadilah kami memutuskan mencoret pantai ini dari daftar kunjungan.

Keliling Kota Sabang Tak Kalah Asik

Tak puas bila tak melihat kehidupan sosial dari sebuah tempat. Pasar tradisional, pusat jajanan, pusat kota, dan duduk menikmati wisata kulinernya menjadi pilihan kami. Cobalah Mie Pulau Baru atau yang biasa disebut mie jalak. Mie seharga Rp. 30.000 ini memang tidak murah, tapi rasanya sangat pantas untuk harga tersebut.

Tugu Kembar Sabang-Merauke
Tugu Kembar Sabang-Merauke

Di pusat kota Sabang kita juga bisa menemukan Tugu Kembar Sabang-Merauke. Tugu yang terdapat di dua kota di Indonesia. Satu di titik awal ujung barat Indonesia, satunya lagi di titik awal ujung timur Indonesia.

Satu hal lagi yang tak kalah menarik perhatian saya, pusat kota dengan pohon trembesi (ki hujan) tua yang sangat rimbun meneduhkan kota. Mirip dengan di seputaran Lapangan Merdeka, Medan. Bedanya, pohon trembesi di sini diberi keleluasaan dan kebebasan hidup sedang yang di Medan dihimpit beton-beton dan sepertinya sengaja dibiarkan mati.

Pohon trembesi tua di tengah kota Sabang yang masih terjaga baik.
Pohon trembesi tua di tengah kota Sabang yang masih terjaga baik.

Pohon-pohon trembesi ini membuat kota Sabang menjadi sangat teduh. Terasa nikmat dan santai dengan bangunan-bangunan tuanya yang sangat kaya. Apalagi… kota ini memiliki jam bekerja dan jam istirahat. Dari jam 1 siang Anda akan sulit menemukan toko yang masih buka. Mereka akan beristirahat sejenak dan buka kembali di pukul 5 sore. Santai sekali bukan?

Bagaimanapun, selama di Sabang, saya tak berhenti merasa takjub.

One thought on “Liburan di Sabang, Santai Banget…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *