Killing time at Pandang Island

Teks & foto oleh Eka Dalanta @ekadalanta

Keindahan air laut yang bening di Pulau Pandang
Keindahan air laut yang bening di Pulau Pandang

“Di sini waktu telah mati.”

Di tempat ini, jauh dari keriuhan dan suara berisik lalu-lalang kendaraan bermotor, suara klakson, dan keberisikan buatan manusia. Di sini berisik hanya tersedia untuk suara kapal nelayan yang sesekali datang menangkap ikan atau membawa penumpang. Di sini berisik juga hanya berlaku untuk deburan ombak menghempas batu-batu pantai, serta desau angin yang selalu berlomba mengalahkan pecahan ombak di batu-batu besar. Di tempat ini waktu memang telah menjadi mati! Susah membedakan kamu sedang berada di jam berapa. Semuanya terasa sangat lambat dan perlahan.

Saya melewatkan waktu yang lambat dengan kelegaan yang luar biasa, sangat santai. Tidak ada gangguan pesan singkat via SMS atau BBM apalagi dering bunyi telepon. Tidak ada jaringan operator seluler manapun yang menjangkau pulau ini dengan baik. Kalaupun ada, itupun tidak konsisten, hanya akan diperolah jika mendaki bukit atau memanjat pohon. Hehehe. Purba sekali rasanya.

Pulau Pandang dari Puncak Bukit
Pulau Pandang dari Puncak Bukit

Berjarak sekitar 14 mil dari daratan besar Pulau Sumatra, pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Sumatera Utara yang berada di Selat Malaka. Pulau Pandang secara geografis berada di Kabupaten Batubara. Tepatnya di desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram. Letaknya sekitar 145-an kilometer dari sebelah tenggara Kota Medan.

Perjalanan dari Medan menuju Batubara memakan waktu sekitar 4 jam. Dari sebuah dermaga kecil, dimana sebuah kapal nelayan kecil untuk menangkap ikan bisa kita tumpangi untuk menuju kesana. Tapi tidak bisa dilakukan dengan mendadak. Kita harus membuat janji karena tidak selalu ada kapal yang akan berangkat.

Kapal ini jugalah yang saya tumpangi menuju Pulau Pandang,. Pukul empat subuh, kapal kecil kami bergerak sederhana, sesederhana bentuk dan ukuran kapal serta suara mesinnya yang ribut. Membelah malam dan arus air menuju lautan. Air yang semula kelihatan kecokelatan saat masih dekat perkampungan nelayan kemudian berganti warna, terus berganti warna, menjadi semakin biru.

Bebatuan besar cantik di Pulau Pandang
Bebatuan besar cantik di Pulau Pandang

Ada aroma akrab yang menguar di udara. Amis laut, asin garam, kebebasan yang menyatu bersama kabut pagi lautan. Saya mencium kebahagiaan. Kami semua terlihat bahagia meskipun dingin malam membuat kami duduk saling merapat. Tersusun rapi seperti barisan ikan asin yang sedang dijemur.

Matahari mulai muncul, tak ada sambutan sunrise waktu itu. Sudah tiga jam lebih di lautan, kami belum tiba juga. Padahal sejak tadi pulau kecil itu sudah terlihat. “Ah Pulau Pandang, dekat dipandang aja rupanya,” guyon salah satu teman dalam perjalanan kali ini. Dalam hati, saya tertawa dan setuju.

Welcome to Pandang Island
Welcome to Pandang Island

Pulau Pandang, Here I Come…

Pukul setengah delapan pagi dan kami bersama tim Green Family Adventure sudah menjejakkan kaki di dermaga Pulau Pandang. Perjalanan yang tempuh lebih dari tiga jam. Itu karena kecepatan kami hanya 6 knot atau 6 mil/jam. Begitu kata Pak Zul, ketua tim navigasi di Pulau Pandang.

Oh ya Pulau Pandang adalah pulau yang tidak dihuni oleh masyarakat umum. Pulau seluas sekitar enam hektar ini dijaga secara tetap oleh beberapa orang petugas navigasi dari TNI Angkatan Laut serta beberapa nelayan yang secara tetap datang setiap minggu untuk menangkap ikan.

Sebuah papan kecil yang dibuat oleh TNI angkatan laut menjadi penanda. “Welcome to Pandang Island.”

Tiba di Pulau Pandang
Tiba di Pulau Pandang

Take a Time, Sun Bathing, Lay Down on The Sand

Kalau kamu bukan penggila berenang, menyelam, atau snorkeling, bukan berarti kamu tidak bisa menikmati liburan di pulau ini. setidaknya, kamu adalah penikmat pantai, aroma asinnya atau hembusan anginnya. Kamu bisa duduk santai, mencelupkan kaki ke air yang beningnya luar biasa serta bikin adem, juga pasirnya yang bikin nyaman. Duduk santai di ayunan atau hammock di pinggir pantai juga tidak kalah menyenangkannya.

Seperti saya dan teman saya, kami menghabiskan setengah hari dengan tiduran di pasir, meluruskan badan, dan berjemur di bawah sinar matahari. Memejamkan mata, merasakan hembusan angin, dan pecahan suara ombak, sangat bisa melepaskan penat. Semua penat terasa terbawa air laut saat menyapa kaki dan kemudian mundur ke lautan luas.

Atau kalau kamu sedang belajar yoga, ketenangan tempat ini sangat menjanjikan.

Tenda-tenda kami di Pulau Pandang
Tenda-tenda kami di Pulau Pandang

Trekking, Walking Around and Photo Hunting

Menjelajah pulau bisa juga menjadi alternatif kegiatan yang bisa dilakukan. Pulau ini cukup luas. Kamu bisa berjalan mengitari pulau. Kejutan seperti batu-batu besar yang indah, karang-karang serta kulit kerang yang bentuknya lucu bisa kamu temukan. 

Trekking di pagi atau sore hari bagus untuk badan. Kamu bisa trekking di bagian lain dari pulau di sebelah timur. Sedikit mendaki bukit, tanpa perjuangan yang luar biasa, kamu sudah bisa melihat wow-nya keindahan laut Indonesia. Bayangkan, kita bisa berhadapan muka dengan muka dengan Selat Malaka.

Dari ketinggian ini, mata akan lepas memandang. Jangan terlalu jauh juga menembus semak-semak kecil di atas bukit meskipun untuk mendapatkan foto terbaik, kita harus berdiri di pinggir bukit. Semak-semak kecil bisa jadi menipu mata. Pokoknya hati-hati saja.

Catch The Sunset

Sunset di Pulau Pandang
Sunset di Pulau Pandang

Ini salah satu momen yang selalu saya tunggu jika berada di pantai. Memotret senja dan menikmati jatuhnya matahari di satu titik di ujung lautan. Melihat matahari terbenam di pulau ini sangat nikmat bila duduk di salah satu bukitnya. Bukit yang menuju Batu Belah, sebuah situs yang dianggap keramat. Menaiki sekitar 50-an anak tangga, kita sudah berada di salah satu spot terbaik melihat matahari terbenam.

Meet The Folklore

Batu Belah
Batu Belah

Salah satu keajaiban Indonesia dalah segudang cerita mistis yang beredar di masyarakat. Banyak tempat wisata yang menyimpan cerita-cerita serupa. Entah memang sengaja dibangun untuk menarik perhatian atau agar tempat tersebut dijaga.

Pulau Pandang punya Batu Belah. Batu belah adalah batu berukuran besar, mungkin 5-6 pelukan tangan orang dewasa yang berada di salah satu bukit, tempat saya teman-teman menunggu matahari terbenam. Batu belah ini, seperti namanya, terbelah dengan irisan sempurna. Seolah-olah dipotong dengan pisau raksasa dengan sangat rapi. Tanpa gerigi atau kerusakan tak rata pada dua potongannya. Irisan batu ini saling menindih membentuk sudut sekitar 30 derajat.

Di celah irisannya, sejumlah sajen bisa kita temukan. Menurut Pak Zul dan beberapa nelayan yang saya ajak bercerita, batu belah bagi sebagian orang dijadikan sebagai tempat sakral. Biasa dilakukan oleh suku Tionghoa dan Jawa yang datang khusus untuk sembahyang ke tempat ini.

Snorkeling and Fishing

Snorkeling dan memancing
Snorkeling dan memancing

Inilah surga bagi penyuka lautan. Di tempat ini, tidak perlu beratus meter ke tengah laut, kamu sudah bisa snorkeling dan menikmati keindahan bawah laut. Saat duduk di pinggiran pantai, ikan-ikan sudah sangat manja menggoda buat berenang. Kalau tertarik dengan snorkeling, memancing atau berburu ikan, jangan lupa membawa peralatan sendiri.

Di pantai berair jernih ini, rasanya tidak cukup sekali saja membasahkan diri. Aneka ikan cantik selalu membuat gemas untuk melihat mereka dari dekat. Meskipun berkali-kali disengat plankton, perjalan di Pulau Pandang akan diakhiri dengan senyum puas, seluas Selat Malaka. Hehehe.

Bersantai di Pulau Pandang
Bersantai di Pulau Pandang

Guide to Pandang Island:

How to get there:

Untuk mencapai Pulau Pandang, diperlukan pemandu karena perjalanannya bukanlah perjalanan yang mudah. Dibutuhkan persiapan yang baik. Karena bukan merupakan daerah wisata komersil, sewaktu tiba di Batubara, sebaiknya sudah ada kenalan yang akan mengantarkan kepada nelayan yang menawarkan jasa ke Pulau Pandang. Sebelumnya, kamu juga harus sudah mengantongi izin dari TNI Angkatan Laut untuk masuk ke pulau terluar Sumut ini.

Important Notes:

  1. Jangan lupa membawa kebutuhan pribadi. Di tempat ini tidak ada warung apalagi swalayan. Jangan lupa juga membawa air putih secukupnya agar tidak dehidrasi, setidaknya perhitungkan 2,5 liter perharinya.
  2. Sangat banyak nyamuk di sini, jadi jangan lupa juga membawa lotion anti nyamuk.
  3. Sunblock perlu untuk menjaga kulit tidak menjadi rusak dan luka.
  4. Untuk tempat menumpang tidur, kamu bisa menumpang di rumah para penjaga navigasi yang beberapa memang disewakan. Kalau ingin tidur di tenda dekat pantai, silahkan membawa tenda sendiri.
  5. Hindari memberatkan ransel dengan membawa pakaian terlalu banyak dan barang tidak penting lainnya.
  6. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan itu wajib. Jangan membuang sampah sembarangan di pantai ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *