Jejak Siar Islam di Barus

Teks dan Foto dari Majalah Dunia Melancong @duniamelancong (Konten tulisan ini juga terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015) 

Barus dahulu dikenal sebagai salah satu bandar atau pelabuhan perdagangan terbesar dan teramai di dunia sehingga membuka pintu masuk agama Islam pertama kalinya di Indonesia. Beberapa jejak siar Islam di kota tua ini masih bisa dilihat hingga saat ini, menjadi destinasi wisata religi bagi para peziarah.

Kota Barus terkenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Indonesia. Sejumlah literatur mengatakan bahwa di kota pesisir barat Sumatera Utara inilah awal mula masuknya agama Islam di Indonesia. Di Barus hingga kini masih bertahan makam para syekh yang berjasa menyebarkan agama Islam di Barus. Di antaranya, Makam Mahligai di Desa Dakka, dimana dimakamkan Syekh Rukkunuddin yang diperkirakan berusia 102 tahun dan wafat di tahun 48 Hijriyah. Selain Syekh Rukkunuddin, terdapat ratusan makam lainnya, yang diyakini adalah makam para pengikut-pengikutnya.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Tiba di gerbang Makam Mahligai, akan terlihat ratusan nisan di atas tanah seluas setengah hektar yang diukir bergaya arab. Beberapa di antaranya diukir lengkap dengan lafal-lafal Islam berbahasa arab kuno. Sementara sebagian lainnya, hanya merupakan nisan batu biasa berbentuk bulat lonjong, namun tetap terkesan kuno.

Untuk masuk ke dalam makam, pengunjung tidak dipatok tarif masuk, hanya jika ingin bersedekah atau ber-infaq untuk biaya perawatan makam disediakan kotaknya dekat pintu masuk. Kepada pengunjung juga diberi beberapa larangan, di antaranya tidak diperkenankan memakai sepatu atau sendal, tidak boleh duduk di atas makam, serta himbauan untuk tidak meminta kepada arwah, karena meminta hanya kepada Allah SWT.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Komplek Makam Mahligai ini memiliki kontur tanah berbukit dan telah diberikan jalan-jalan setapak untuk memudahkan pengunjung untuk melihat-lihat. Ada sekira 215 makam yang terdapat di dalamnya dengan bentuk dan ukuran nisan yang berbeda. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh tentang sejarah situs sejarah ini di lokasi. Seorang penjaga makam yang juga bertani karet di sekitar makam menjadi sumber informasi oral sembari istirahat di bale dan menyeruput kopi panas.

Macao tua di ketinggian
Macao tua di ketinggian

Berbeda dengan Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi berada di Desa Pananggahan. Jaraknya lebih dekat dari pusat Kecamatan Barus, meski untuk menuju makam tidak semudah menuju makam Mahligai. Pasalnya selain berjalan kaki di jalan setapak sejarak 300 meter, perjalanan kaki kembali harus ditempuh menaiki 700 lebih anak tangga dengan kemiringan 70 derajat.

Tiba di lokasi makam yang berada di 200 meter di atas permukaan laut itu, tersaji pemandangan sawah, lautan dan beberapa pulau di teluk Sibolga yang cantik. Terlihat juga hamparan hutan dan sawah hijau, tak lupa sembari rehat sejenak di bawah pohon di dalam lokasi makam. Jangan lupa, saat masuk ke dalam makam, lepaskan sepatu atau sendal yang dipakai.

Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi
Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi

Di dalam makam seluas sekitar 10×20 meter di puncak bukit itu, akan terlihat makam Syekh Mahmud berukuran panjang lebih kurang 7 meter. Bersebelahan dengan makam Syekh Mahmud, terdapat 5 makam pengikutnya yang tersusun berdekatan. Bagi pengunjung yang membacakan ayat-ayat Alqur’an, di lokasi makam disediakan beberapa Alqur’an mini.

Beberapa pengunjung memiliki kebiasaan tersendiri sebelum meninggalkan makam, yakni mengikatkan kain, plastik atau tali, yang dipercaya sebagai mitos tanda sudah pernah menginjakkan kaki di lokasi spiritual itu. Seperti di lokasi tempat religi manapun terdapat aturan yang harus diikuti oleh pengunjung. Di antaranya tidak berbuat sembarangan, misalnya membuang sampah atau bahkan berfikiran dan bertindak yang senonoh.

Makam tua yang masih sering diziarahi
Makam tua yang masih sering diziarahi

Selain dua makam itu, juga terdapat sejumlah makam syekh lainnya yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Barus. Di antaranya, makam Syekh Tuan Ambar, Syekh Ibrahim Syah, Syekh Mahdum, Syekh Kayu Manang, Syekh Tuan Pinago, Syekh Tuan Kinali dan Syekh Tuan Jantikan. Kami sempat mendatangi makam Syekh Tuan Pinago di tepi sungai Aek Sirahar. Sayang, makam tersebut sudah tergerus abrasi. Sebuah nisan yang diyakini milik Syekh Tuan Pinago diikat di sebatang pohon kelapa agar tidak terbawa arus jika sekali-kali banjir kembali melanda. Sementara makam lainnya sudah tergerus dan dibawa arus sungai.

Makam di tepi sungai Aek Sirahar
Makam di tepi sungai Aek Sirahar

Salah satu makam yang juga rusak adalah makam Syekh Tuan Kinali. Makam yang terletak di Desa Kinali tersebut berada di komplek pemakaman warga. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke sana, hampir tak bisa dikenali sama sekali dimana lokasi makam tokoh penyiar agama tersebut, sebab terhimpit dengan nisan lain dan tidak ada petunjuk. Seorang petani yang tinggal di dekat komplek makam akhirnya menunjukkan nisan Syekh Tuan Kinali, yakni sebuah nisan dengan kain kafan yang menutupi kepala nisannya.

Nisan Syekh Tuan Pinago
Nisan Syekh Tuan Pinago

Sangat disayangkan minimnya perhatian terhadap situs sejarah agama di Kota Barus tersebut. Padahal makam-makam para syekh tersebut menjadi jejak penyiaran Islam di Sumatera yang harus dilestarikan. (*)

Transportasi Umum dan Penginapan//

  1. Sampri rute Medan-Barus selama 12 jam perjalanan
  2. Beberapa penginapan level melati bisa ditemui di Kota Barus dengan tarif Rp100 ribu per malam

One thought on “Jejak Siar Islam di Barus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *