Jalan-jalan Ke Grand Palace Yuk…

Teks & Foto: Sahat Farida @sahatfarida

Istana Ajaib Raja Thailand!

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan datang ke Bangkok, Thailand. Undangan kegiatan dari Asia Pasific Women Law and Development. Selama seminggu berkegiatan, hanya memiliki kesempatan yang sangat sedikit untuk berjalan-jalan. Itupun mencuri waktu jam makan siang sesi persidangan.

Crowded turis memasuki Grand Palace
Crowded turis memasuki Grand Palace

Dari gedung United Nations, Bangkok, yang bertempat di jalan 76 Rajadamnern Nok Ave, saya dan dua orang teman peserta kegiatan naik taksi menuju Grand Palace. Beruntungnya kami, karena mendapatkan supir taksi yang tidak menembak harga. Sebelumnya, saat pertama menginjakkan kaki di Thailand, dari Suvarnabhumi saya menggunakan taksi terdaftar. Namun ketika di tengah jalan, di dalam tol, supir taksi mematikan argo meter dan meminta tarif yang fantastis. Di dalam mobil kami berdebat, saya potret nomor taksi dan wajah supir taksi, dan mengancam akan melaporkan ke perusahaan tempatnya bekerja. Argo kembali dinyalakan. Dengan perasaan yang kesal, supir taksi mengantarkan saya ke tempat tujuan. Saya merasa menang, meski kesal. Kejadian ini tak membuat saya menilai general semua supir taksi di sini. Kebetulan saja saya dapat yang kurang baik.

Kembali ke tema awal, dari kantor UN ke Grand Palace, kami hanya membayar argo taksi sebanyak 60 bath. 55 bath argo resmi, 5 bath sebagai tip untuk supir taksi yang baik. Kami hanya punya waktu satu jam untuk berjalan-jalan meninggalkan arena sidang. Sekitar 15 menit di perjalanan, tibalah kami, Grand Palace. Sebuah kawasan istana, dahulu digunakan sebagai tempat tinggal raja, di dalamnya juga terdapat kuil Budha, yang sangat indah.

Counter tiket, tiket masuknya seharga 500 bath
Counter tiket, tiket masuknya seharga 500 bath

500 bath, itulah uang yang kami tukarkan untuk sebuah tiket mengunjungi kawasan ini. Cukup mahal bagi saya, mengingat waktu yang sangat singkat untuk kami bisa bereksplorasi di sini. Pengunjung ramai sekali siang itu, keluar masuk cukup berdesakan. Cuaca terik khas tropis dan pengunjung yang pada tak membuat kami surut semangat. Kami hanya memiliki waktu yang singkat.

Komplek Grand Palace
Komplek Grand Palace

Kawasan ini besar, sangat besar. Rasanya akan lebih menyenangkan jika memiliki waktu seharian untuk berjalan-jalan. Mengnikmati semua yang tersedia di sini, patung, ukiran, doa, dan nyanyian. Kami berjalan cepat, memanfaatkan waktu yang singkat. Memandang, berfoto, kemudian kembali berjalan. Tak semua kami kunjungi. Hanya bagian-bagian yang rasanya diperlukan dan kami anggap menarik.

Saya dan teman saya siap berkeliling Grand Palace
Saya dan teman saya siap berkeliling Grand Palace

Orang-orang masih ramai, rata-rata berwajah Asia, sebagian besar dari mereka mungkin saja penganut Budha. Kami berfoto, berjalan, berfoto.

Di dalam kuil. Rasanya inilah waktu yang saya paksakan untuk bisa sedikit lengang untuk tenang. Menyaksikan ukiran-ukiran yang disajikan di sini. Menyaksikan kilau keemasan. Dominan emas dan merah warna-warni di dalam kuil. Jika Anda masuk ke dalam kuil, hormatilah kuil ini, meskipun Anda tidak beragama.

Ukiran di dinding kuil
Ukiran di dinding kuil

Saya menyaksikan beberapa pengunjung yang masih nakal, tidak menaati peraturan dari pengelola. Misal, menggunakan pakaian mini (baik lelaki maupun perempuan) meskipun di depan petugas sudah melarang, dan juga menjalankan fungsi mereka untuk mengeliminir pengunjung yang menggunakan pakaian mini. Sebagian pengunjung juga masih ada yang sibuk memotret di dalam kuil. Ada banyak papan larangan untuk tidak memotret di dalam kuil. Jika ketahuan, kamera Anda akan disita. Petugas tidak akan ragu menyita kamera Anda, dan tidak akan peduli rengekan Anda meminta kamera kembali. Anda harus berurusan dengan kantor pengelola jika mau kamera kembali.

Sebagai pengunjung, saya juga kurang berkenan menyaksikan pengunjung lain yang memotret area dalam kuil. Jika boleh, potretlah isi dalam kuil melalui ingatan dan perasaan saja.

Patung-patung di dalam kuil
Patung-patung di dalam kuil

“Come on Sahat.” Teman-teman saya sudah berisik, mengajak saya untuk kembali berjalan. Saya ucapkan terimakasih kepada kuil, dengan harapan kelak saya bisa kembali ke sini dan sungguh-sungguh menikmati. Berulang kali mereka memanggil, berbisik-bisik tentunya, saya pun beranjak bangkit mengikuti mereka. Kami berdiskusi, tepatnya tentang waktu yang menipis karena harus kembali ke kantor UN.

Tipikal bangunan suci di Thailand
Tipikal bangunan suci di Thailand

Dari kuil kami teruskan berjalan, kini tak lagi masuk ke dalam ruangan dan menghikmati. Hanya sekedar tahu saja tentan ornamen yang tersedia di sini. Kelompok perempuan duduk rapi merapalkan mantra yang indah, kami hanya melewatinya. Kami sibuk mencari pintu keluar. Di setiap sisi padat dengan manusia. Terburu-buru kami berlari, mencari sebuah pintu. Setelah agak sedikit tersasar (kami malah mendapati pintu ke kawasan tempat tinggal para biksu) kami kembali berlari. Pintu kedua, kami dapati pintu yang kami lalui ketika masuk tadi. Tidak bisa lewat pintu ini. Terengah-engah. Berkeringat. Kami dapati pintu keluar. Di luar, masih ada beberapa bangunan indah bersejarah yang terpaksa tidak kami pedulikan. Kami harus segera menuju gerbang keluar. Berdesak-desakan, akhirnya kami keluar, segera mencari taksi. Hati-hati menawar taksi di sini. Tak semua supir taksi seperti supir taksi yang mengantarkan kami tadi. Rata-rata mereka minta harga lebih dari 100% untuk mengantarkan kami kembali. Begitupun supir tuk-tuk. Meski waktu masuk ruang sidang, kami nekat untuk mencari supir taksi dengan harga bersahabat, minimal sesuai argo meter.

Grand Palace, akhirnya saya berkeliling di dalamnya
Grand Palace, akhirnya saya berkeliling di dalamnya

Gedung UN, Bangkok, Thailand. Udara sejuk begitu kontras dengan keadaan di luar. Setibanya kami di gedung ini, kami sempatkan tertawa terlebih dahulu. Tentang kegilaan, tiket 500 bath dan waktu yang sangat singkat. Lain kali, kami akan kembali berkunjung dengan lebih hikmat. Semoga!

4 thoughts on “Jalan-jalan Ke Grand Palace Yuk…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *