Festival Danau Toba 2014, Belum Seluarbiasa Seharusnya

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

*Tulisan tentang FDT 2014 dari penulis juga akan terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Desember

Saya selalu percaya bahwa Danau Toba adalah salah satu keajaiban terbesar untuk pariwisata Sumatera Utara.

View cantik di Balige
View cantik di Balige

Sehingga rasanya sangat pantas sekali Danau Toba dikelola dengan baik, dikemas dengan sangat baik, difasilitasi dengan baik agar dapat dijadikan sebuah destinasi wisata yang tak kehabisan daya tarik.

Begitulah, September lalu, saya dan teman-teman dengan antusias merencanakan perjalanan ke salah satu daerah pinggir Danau Toba, Balige. Kali ini dalam rangka menghadiri Festival Danau Toba 2014. Diadakan pada 17-21 September, festival ini adalah kali kedua diselenggarakan, setelah yang pertama tahun lalu dan dideklarasikan sebagai pengganti Pesta Danau Toba yang dengan anehnya pula tahun ini kembali diselenggarakan di waktu yang bersamaan. Festival Danau Toba 2014 di Balige dan langsung dikoordinasikan dengan pemerintah pusat dan Pesta Danau Toba 2014 di Parapat yang dikelola oleh pemerintah kabupaten. Tumpah tindih yang menurut saya sangat aneh.

Oke, mari kita abaikan sebentar keanehan tersebut. Saya dan 3 orang teman, Andi dari kemanaaja dan 2 orang teman perjalanan lainnya, Melda dan Kak Lolo. Melda adalah teman baik yang juga beberapa kali sudah menulis untuk kemanaaja.com. Iya… Melda si Kribo yang kocak itu. Tapi sekarang dia nggak kribo lagi. He-he-he… Kak Lolo adalah teman Mel, kami baru berkenalan dan perjalanan memang selalu mengajak kita bertemu, berkenalan dan kemudian mempunyai teman-teman baru.

Berempat kami menumpang mobil travel menuju Balige, tuan rumah Festival Danau Toba (FDT) 2014. Balige yang berada di Kabupaten Tobasa adalah salah satu Kabupaten yang mengelilingi Danau Toba. Perjalanan, seperti biasanya, membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam. Jalanannya lumayan bagus sampai kemudian setelah melewati Parapat, jalanan sedikit rusak dan membuat tidak nyaman. Penyelenggaraan event internasional yang tidak didukung infrasturktur yang memadai. Izinkan saya menulis dengan jujur.

Ngomong-ngomong soal infrasturktur pariwisata Danau Toba saya selalu berandai-andai seandainya ada lapangan terbang di Pulau Samosir atau paling tidak sebuah jalan tol menuju Parapat. Sesuatu yang meringkas waktu, menjadikan Danau Toba destinasi akhir pekan yang tak membuat lelah, dan tentu menarik lebih banyak wisatawan. Tapi, ya saya masih berandai-andai saja kok.

Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan
Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan

Kami sudah tiba di Balige, Balige sangat ramai hari itu. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai sentra lokasi FDT juga cukup ramai oleh orang-orang, terutama di Lapangan Sisingamangaraja dan Dermaga. Dua lokasi penyelenggaraan event lainnya adalah TB Silalahi Centre dan Sekolah Del.

Keriuhan sudah tampak dalam kerumunan yang bergembira. Hilir mudik mobil memberikan woro-woro mengundang orang-orang untuk menonton di salah satu titik acara. Berulang-ulang. Mengingatkan dan memudahkan para penonton memilih ingin menonton apa.

Kami menginap di Ompu Herti, salah satu hotel di pinggiran Danau Toba. View-nya memang tak langsung menghadap Danau Toba. Kalau mau duduk menikmati Danau Toba, silahkan bersantai di restoran hotel yang tepat berada di seberang hotel. Di restoran ini, semua tamu hotel bisa menikmati ketenangan Danau Toba sembari menikmati sarapan pagi, bagian dari fasilitas hotel.

Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.
Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.

Tepat di samping restoran, adalah dermaga yang menjadi salah satu pusat aktivitas FDT 2014, perlombaan Solu Bolon dan renang 1 kilometer.

Sayang memang saya dan teman-teman tidak sempat menyaksikan acara pembukaan. Tapi cerita dari Liston, teman, seorang jurnalis yang sudah sejak hari pertama mengikuti acaranya. Pembukaan diadakan di TB Silalahi Centre dan Lapangan Sisingamangaraja. Ratusan siswa SMA 1 Balige berbaris cantik di sepanjang jalan menuju TB Silalahi Centre sembari membentangkan ulos Sadum, ulos indah dengan warna-warna cerah sepanjang 226 meter. Ada sekitar 210 siswa yang dilibatkan dan membuat kegiatan ini masuk ke dalam rekor MURI sebagai ulos terpanjang. Liston juga cerita kalau ada permainan margalah dan tarian-tarian tradisional dari berbagai suku di Indonesia. Tortor cawan (tarian dengan mangkuk yang diisi air dan dedaunan) yang ditampilkan secara kolosal memberi sentuhan sendiri pada acara pembukaan ini.

Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional
Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional

Masih Kurang Luar Biasa

Ada banyak rangkaian acara lagi yang mengisi FDT 2014. Festival pemilihan penyanyi, pameran tenun tradisional batak, kompetisi solun bolon, lomba renang, lomba arung jeram, fashion show, tari tortor massal, lomba foto landscape Danau Toba, pameran foto, seminar pariwisata dan lain sebagainya.

Solu Bolon, salah satu atraksi kebudayaan yang sudah turun-temurun menjadi salah satu pertunjukan menarik yang ingin saya saksikan. Agendanya jatuh pada hari Sabtu (20/9). Di dermaga, para peserta sudah siap bertanding. Antusias masyarakat tak kalah besarnya dengan para atlet. Teriakan-teriakan pemberian dukungan terdengar membuat riuh. Para atlet terlihat gagah dilatari riak kecil Danau Toba. Gerakan tangan yang serentak mengayuh, ritme yang sangat enak dilihat. Saya penonton yang tekun. Dan Kabupaten Samosir jadi bintang dalam perlombaaan ini. Tiga posisi besar berhasil mereka bawa pulang.

Peserta solu bolon yang semangat buat menang
Peserta solu bolon yang semangat buat menang

Di antara menyaksikan berbagai pertunjukan, pagi harinya, kami masih mengejar matahari pagi dan menikmati jalan berkeliling di pinggiran Danau Toba. Balige lebih menarik dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Kami juga menumpang kapal wisata dari dermaga untuk sekadar berkeliling Danau Toba dan merasakan rambut dan pipi digoda manja angin danau. Sisi Danau Toba di sini tak kalah cantik.

Pohon hariara dan Danau Toba
Pohon hariara dan Danau Toba

Keramaian masih terus bertambah dan belum surut. Apalagi di malam terakhir acara. Di Lapangan Sisingamangaraja, keramaian di luar Lapangan berubah seperti pasar malam. Puluhan pedagang membuka lapak jualan. Aneka mainan anak-anak, makanan, dan entah apalagi yang mungkin orang tertarik untuk membeli. Roda perekonomian berputar. Dan sepertinya cukup kencang malam itu.

Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja
Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja

Di dalam Lapangan Sisingamangaraja, malam itu dua layar besar dibentangkan dan memutar 2 film nasional yang berbeda. Seperti layar tancap. Filmnya cukup menarik tapi sayangnya tak cukup kondusif untuk ditonton. Perhatian terbagi antara mau menonton layar tancap atau melihat performa di atas panggung.

Saya juga tertarik dengan diskusi fotografi dan pameran foto yang diadakan di Lapangan DI Panjaitan. Apalagi teman Kak Lolo, Mas Barry Kusuma menjadi salah satu juri dan pembicara diskusi fotografinya. Kami pun meninggalkan keramaian di Lapangan Sisingamangaraja menuju keramaian lainnya di Lapangan DI Panjaitan.

Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014
Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014

Di Sini keramaian tidak terlalu hingar. Puluhan foto peserta lomba dipamerkan dengan pencahayaan yang cukup. Setelah acara diskusi fotografi, anak-anak muda ramai merapat. Ah rupanya Bang Tongam Sirait, musisi Batak yang lagu-lagunya juga menjadi koleksi iPod saya menjadi bintang tamu. Saya, seperti banyak anak muda Batak lainnya sangat antusias. Saya bahagia melihat keriaan anak-anak muda sekaligus lagu-lagu dan cara bernyanyi Bang Tongam yang asyik. Ada semangat dan kebahagiaan saya lihat malam itu.

Sebagai wisatawan lokal, saya sangat menikmati lagu-lagu Bang Tongam, tapi belum dengan keseluruhan kemasan FDT 2014. Diskusi fotografi dengan pembicara berpengalaman seperti kekurangan cahaya. Cahaya listrik dalam arti sesungguhnya. Performa Bang Tongam samar dalam redup cahaya taman. Dan lagi, saya tak melihat banyak tamu luar kota apalagi tamu internasional. Mungkin promosi dan persiapan masih kurang mumpuni. Kalau menurut pikiran sok tau saya, akan lebih baik kalau agenda tahunan ini sudah masuk kalender event jauh-jauh hari dengan paket-paket wisata yang menjanjikan kemudahan sekaligus kebahagiaan. Toh sesungguhnya promo pariwisata kita tak kekurangan biaya ‘kan? Harusnya! Semoga FDT tahun depan bisa lebih baik.

4 thoughts on “Festival Danau Toba 2014, Belum Seluarbiasa Seharusnya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *