Kejuaraan Selancar di Pulau Krui, Surga Selancar Baru Dunia

Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Selatan Sumatera semakin mendunia. Hamparan keindahan pantai di Krui kini bukan lagi lokasi wisata, tetapi telah menjelma menjadi surga bagi para peselancar internasional. Krui terpilih menghelat kejuaraan berselancar berskala internasional, bertajuk Krui Pro 2017 World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS). Kompetisi ini terselenggara berkat sinergi antara Pemerintah Daerah Lampung Barat, Kementerian Pariwisata, World Surf League, Asian Surfing Championship, dan Persatuan Selancar Ombak Indonesia.

Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain
Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain

Matahari mulai tenggelam dan gulungan ombak setinggi 4-6 kaki menutup sesi terakhir Krui Pro yang sangat bersejarah. Para pemenang World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS) dinobatkan pertama kalinya di Selatan Sumatera, Indonesia. Kedua pemenang dari kategori pria dan wanita liga internasional ini, Keijiro Nishi (Jepang) dan Lucy Callister (Australia), merupakan pemenang baru di liga WSL QS.

 

Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain
Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain

Lucy Callister menunjukkan kemampuan terbaiknya di antara seluruh peselancar wanita dari Australia dan berhasil mengalahkan Ellie Francis di babak final. Callister dan Francis telah banyak mencuri perhatian selama ajang ini berlangsung, dengan kemampuan kedua peselancar menggunakan tangan bagian belakang mereka untuk menempatkan mereka di babak final. Di babak final, Callister sangat selaras dengan ombak di Krui, yang menempatkan dirinya berada di ombak terbaik dan memperoleh nilai yang tertinggi.

Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain
Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Ini bukan haya kemenangan pertama saya di QS, tetapi ini juga pertama kalinya saya berhasil masuk ke babak final QS dan saya merasa sangat senang,” kata Callister. “Saya hanya memiliki sedikit kesempatan di ajang Junior tahun lalu dan saya tahu bahwa saya harus bekerja keras untuk mendapatkan kesempatan untuk menang. Saya memiliki beberapa hasil buruk di awal tahun ini dan saya sempat merasa ragu terhadap kemampuan saya dalam berselencar dan berlomba. Namun, saya memutuskan untuk mengikuti beberapa ajang QS 1000 untuk memperoleh kepercayaan diri saya kembali dan berhasil. Saya merasa sangat senang dan semangat untuk terus mengikuti ajang ini.

Sebagian besar peselancar datang ke Selatan Sumatera tanpa kehadiran keluarga mereka, namun Callister mengikuti ajang ini sebagai bagian dari acara liburan keluarga dirinya. “Saya juga sangat senang keluarga saya ada disini, kami sampai di Sumatera lebih dahulu untuk liburan keluarga dan ajang ini. Sekarang, saya sangat semangat untuk pulang ke rumah membawa piala, ini adlah liburan terbaik saya. Saya merasa sangat spesial atas kehadiran Ibu, Ayah, Kakak, dan Adik saya di sini,” katanya.

Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain
Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain

Keijiro Nishi dari Jepang berhasil memenangkan WSL QS untuk kategori pria dengan gaya berselancarnya yang unik, kencang, dan keras. Pria yang lucu ini berhasil mencuri perhatian seluruh penonton sepanjang minggu ini. Posisi pertama di babak final diperebutkan oleh Nishi dan Moses Le Grice, namun Nishi berhasil memenangkan babak ini dengan mendapatkan nilai 9.00 di ombak terakhirnya.

Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain
Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Kemenangan ini sangat luar biasa!” seru Nishi. “Kami semua mendapatkan ombak yang bagus di minggu ini, namun ombak terbesar dan terbaik dapat kami rasakan pada saat babak final, kami sangat beruntung. Saya tahu bahwa saya harus menemukan ombak yang terbuka untuk melakukan beberapa putaran besar dan saya mendapatkannya di akhir perlombaan sehingga saya dapat memenangkan pertandingan ini. Saya masih tidak percaya. Saya mencintai Krui, saya akan kembali lagi kesini tahun depan,” katanya lagi.

 

Moses Le Grice berhasil memasuki babak final setelah berhasil mengalahkan Jean Da Silva di babak semi final. Le Grice memulai minggu ini dengan pelan tapi penonton dapat melihat bahwa dia mengalami peningkatan di setiap babak dan dalam setiap ombak yang dia arungi kepercayaan diri Le Grice terus bertambah.

 

“Saya mengalami kesulitan terhadap ombak yang saya arungi di awal-awal ajang ini,” kata Le Grice. “Namun, di babak pertama, saya berusaha tenang dan mencoba untuk bersenang-senang di ajang ini dan kemudian saya baru merasa lebih baik dan mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Krui Pro merupakan ajang yang sangat bagus, kualitas ombak dan berselancar disini sangat tinggi sehingga ketika saya berhasil memasuki babak final hal itu membuat saya semakin percaya diri.

Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain
Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain

Ellie Francis menggunakan kemampuan tangan bagian belakangnya dengan lembut dan kuat untuk membawa dirinya ke babak final, namun mendapatkan dirinya tidak begitu selaras dengan ombak, Francis kehilangan beberapa kesempatan dan pada akhirnya gagal melakukan berbagai aksi yang bagus.

 

“Saya merasa frustasi sudah sampai di babak final tapi kalah karena saya merasa sangat dekat untuk dapat memenangkan ajang ini,” kata Francis. “Namun, saya tetap merasa senang karena kami memperoleh ombak terbaik di ajang ini dan sekarang saya merasa sangat percaya diri untuk turus mengikuti kejuaraan WSL QS,” pungkas Francis. (rel)

 

Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 2-End)

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Paling terkesan dengan penyu, garis pantai yang bercahaya saat gelap malam, dan tentara-tentara penjaga yang ternyata ramah.

Here we are! Kami sudah tiba di Pulau Berhala.

Setelah menuntaskan agenda pribadi dan mengisi perut, kami meletakkan barang-barang di kamar-kamar yang sudah disediakan. Jangan khawatir, di Pulau Berhala, meskipun tidak ada penginapan seperti hotel atau guest house, rumah tinggal para tentara dan navigator penjaga pulau biasa digunakan jika ada tamu yang datang. Jumlahnya cukup banyak, bisa untuk menampung sekitar 200 orang dan sepertinya memang dipersiapkan untuk para wisatawan. Kamar-kamar tersebut terawat baik dengan lantai keramik yang bersih, bangunan baru, dan kasur yang empuk. Ini jauh lebih baik dari yang saya bayangkan.

Di tempat ini, jangan pernah berniat untuk menjadikannya sebagai lokasi berbulan madu karenaaaaa… ada aturan yang sudah ditetapkan. Kamar antara laki-laki dan perempuan dipisah, tidak boleh bersatu meskipun itu untuk suami istri. Ini sudah menjadi aturan baku. Tentang kenapa, katanya berpantang sekaligus mungkin demi kenyamanan penghuni pulau ya. Hehehe…

Kamu bisa nginap di sini...
Kamu bisa nginap di sini…

Nah selain bisa menginap di kamar-kamar yang sudah disediakan, tepat di depan dermaga dan kamar-kamar di sebelah timur pulau, pengunjung bisa juga menikmati sensasi berlibur out door. Ya artinya, kamu harus membawa perlengkapan berkemah sendiri. Silahkan bawa tenda dan gelar sendiri tenda di areal aman di pinggiran pantai. Pinggiran pantai yang aman dari air pasang cukup luas kok. Bisa untuk 3-5 tenda di dekat dermaga. Di dekat kamar-kamar di sebelah timur dermaga lokasi berkemah jauh lebih luas lagi.

Berkemah di pinggiran pantai pasti memberikan kesan yang berbeda. Bisa mendengar suara debur ombak secara langsung adalah suasana mahal, tidak bisa dimiliki di kota yang tiap hari dipenuhi berisik suara kendaraan sampai larut malam. Kamu bisa merasakan angin laut, melihat bintang-bintang yang terlihat jauh lebih banyak karena tidak dihajar polusi cahaya. Ahhhh… ini kemewahan luar biasa. Itulah sebabnya saya sangat menyukai duduk dekat dengan alam.

Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.
Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.

Saya dan beberapa teman-teman lain (Ayuni dan Rancid) memang tidak membawa tenda, tapi kok rasanya kalau bergabung di kamar para cewek sudah terlalu sempit. Akhirnya dengan gagah perkasa kami memutuskan tidur dengan tikar di bawah pohon beratapkan langit dan berdindingkan udara malam pinggiran pantai. Ceileh…. Ya meskipun kemudian harus tergusur karena hujan yang mendadak deras. Kami akhirnya tidur di teras kamar cowok yang cukup luas dan cukup aman dari angin. Kami menggelandang dengan leluasa di dinginnya hujan Pulau Berhala.

Garis pantai dan para diver yang baru menepi
Garis pantai dan snorkeler yang suka memancing ikan.

Oh ya… untuk kamar-kamar tersebut, setiap tamu dikenakan biaya Rp. 30.000 per orangnya. Hitungannya bukan per malam tapi per kunjungan. Jadi meskipun dalam sekali kunjungan kamu tinggal selama 1 minggu di Pulau Berhala, bayarannya tetap Rp. 30.000. Saya terkesan lagi dengan sistem pembayaran yang sangat nyaman ini.

Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok...
Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok…

Ngomong-ngomong soal aturan, ada beberapa aturan lagi yang harus dipatuhi setiap pengunjung di pulau ini. Para pengunjung berpantang membunuh setiap binatang hutan di Pulau Berhala. Baik itu burung, tupai, atau ular sekalipun. Seperti kejadian di minggu pagi saat dari arah kamar para tentara penjaga pulau terdengar suara gaduh. Ternyata seekor ular piton ingin memangsa ayam peliharaan mereka. Para tentara hanya mengusir ular tersebut pergi, mereka tidak membunuhnya. Pelestarian untuk menjaga keseimbangan alam. Sebab memang predator terbesar musuh alam semesta sesungguhnya adalah manusia dengan segala keserakahannya. Tssssah… saya ngomongnya sudah melantur. Hehehe…

Aturan lainnya adalah, para pengunjung disarankan untuk menjaga tutur dan sikap, aturan berpantang seperti pada beberapa tempat untuk membagun mitos dan sikap menjaga sekaligus menghormati diterapkan di Pulau Berhala.

Facing 768 Stairs

165 anak tangga pertama
165 anak tangga pertama

Hari belum terlalu sore saat kami tiba di Pulau Berhala. Beberapa teman langsung mengajak untuk melihat langit dan laut dan keluasan samudra di sekeliling Pulau Berhala dari ketinggian menara suar. Ajakan ini rasanya cukup menggoda. Biarlah sementara Bang Onny dan team sedang khusyuk bermain-main dengan mainan barunya, drone untuk menangkap gambar Pulau Berhala dari atas, saya memutuskan ikut bergabung dengan tim yang akan mengalahkan tangga-tangga menuju menara suar. Toh besok pagi belum tentu akan ada teman lain yang ingin menaiki menara suar.

Berbekal sebotol air minum, saya dan Andi dari kemanaaja berjalan bersama 5 orang lainnya ditambah dengan satu orang navigator penjaga pulau. Perjalanan ke menara suar terus menaik. Setelah menyelesaikan 165 anak tangga pertama, kami harus terus berjalan dan menuntaskan sekitar 615 anak tangga lagi. Wow… membayangkannya saja saya sudah teler. Tapi saya ingat lagi kata teman saya, Ridho Golap, “Jangan bayangkan jauhnya atau susahnya naik, tapi bayangkan apa yang kau dapatkan begitu sampai di puncak.” Iya, saya sadar kalimatnya benar. Saya hanya akan membayangkan apa yang akan saya lihat begitu tiba di atas puncak. Kalaupun nanti mengecewakan, saya tetap berbahagia karena saya sudah berhasil mengalahkan rasa tidak kuat atau malas dan berhasil menuntaskan rasa penasaran. Oh ya jangan kalian bayangkan kalau Ridho Golap itu bijak kali orangnya ya. Hahaha waktu ngomong seperti itu sebenarnya dia hanya ngelantur saja kok. *biggrin

Masih kuat kakak....
Masih kuat kakak….

Kami berjalan pelan-pelan, nafas sudah terasa ngos-ngosan. Beberapa kali kami berhenti menjaga jarak masing-masing dan berusaha mengatur nafas. Tangga-tangga semakin tinggi. Di kiri tangga terdapat rel dari kayu sampai ke puncak tangga untuk mengangkut muatan-muatan bahan bangunan untuk membangun menara suar dan menara komunikasi yang tengah dibangun. Anak-anak tangga sebagian terasa licin karena berlumut. Untung tidak ada hujan sore itu.

Pegangan tangga di kiri atau kanan sebagian sudah lapuk dan rusak. Langkah-langkah kami kecil saja dan hati-hati. Parada, salah satu teman tampak paling tersiksa. “Aku udahan ajalah,” katanya yang disambut suara ngos-ngosan kami sambil berkata, “Ayo, pelan-pelan aja.” Well… kami semua tiba di ujung tangga sekitar 30 menit kemudian. Si abang yang menjadi guide kami cukup sabar menghadapi nafas pendek-pendek dan langkah-langkah kecil kami.

Untuk melihat dari puncak menara, kami harus menaiki tangga lagi, sekitar 4 tingkat ruangan dengan tangga nyaris 90 derajat pada tingkat keempat. Untuk yang phobia ketinggian seperti saya dan Andi, saya salut dengan keberanian kami. Hehehe…

Jalan menuju menara suar
Jalan menuju menara suar

Di atas menara suar, angin cukup kencang membuat kadang suara hilang terbawa angin saat tengah berbicara. Langit sedang tidak terlalu bagus sore itu. Langit datar, flat, tidak ada goresan biru yang membuat indah. Langit serba abu-abu yang juga membuat laut mati warna. Laut tidak tampak biru. Tapi saya ingin tetap menikmati apapun yang saya temukan di sana. Angin, keluasan, kebebasan, dan keberanian mengalahkan rasa takut. Kami berhasil menghadapi 768 anak tangga yang tak banyak bicara tapi sangat menguras tenaga.

Kami pun bergegas pulang karena hari sudah semakin sore mendekati pukul lima. Saran dari abang guide, sebaiknya sudah tiba di bawah sebelum pukul enam karena akan sangat gelap dan tidak terlalu aman berjalan dalam gelap di tangga-tangga berlumut. Jalan turun memang tak bikin lelah tapi cukup bikin nyali ciut bila melihat ke bawah. 😀

Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.
Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.

Rumah Untuk Penyu

Keistimewaan lain Pulau Berhala adalah pulau ini merupakan tempat konservasi penyu. Penyu hijau, satwa asli pulau ini sendiri. Penangkaran penyu tersebut, menurut Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu penjaga pulau dari Angkatan Darat yang bertugas jaga, sudah mulai dilakukan sejak Pulau Berhala dikelola, sekitar tahun 2006. Sejak itu pula sudah lebih ribuan penyu yang dilepas kembali ke habitatnya, ke laut begitu mencapai usia dewasa. Penangkaran penyu yang dikelola oleh tentara ini saat ini sedang merawat lebih dari 30 tukik (anak penyu) berusia satu bulan. Saat tukik berusia tiga bulan nanti, tukik-tukik ini dilepas ke laut karena dirasa sudah cukup dewasa dan mampu menjaga dirinya bertahan dari pemangsa dan kesulitan alam. Selain tukik-tukik, di wadah penangkaran ada ratusan telur yang tengah dieramkan.

Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.
Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.

Oh ya para tentara penjaga pulau biasa berpatroli malam hari untuk mengumpulkan telur-telur penyu agar tidak sampai dimangsa oleh elang, ular atau hewan-hewan pemangsa lainnya. Dan… ternyata mereka pernah bertemu dengan penyu raksasa seberat lebih dari satu ton.

Untuk melihat penyu dewasa dan jejak-jejak mereka naik ke daratan, kita harus ke arah timur pulau, sekitar 15 menit berjalan bila melalui anak-anak tangga bila air sedang pasang atau 5 menit melalui pinggiran pantai ke arah timur bila air sedang surut. Malam itu, air sedang pasang, tak aman bila kami menyusur pinggiran pantai. Kami melalui anak-anak tangga.

Bila ingin bertemu dengan penyu, kita tidak boleh berisik. Mereka akan takut ke daratan bila mendengar suara berisik. Setiap makhluk hidup secara insting akan menghindari bahaya dan pemangsa. Meskipun niatan kami bukan sebagai pemangsa, percayalah, tak ada penyu yang bisa membaca pikiran kita, seperti kita juga tak akan pernah fasih menyelami pikiran orang lain.

Kami berjalan tenang, malam pekat. Bintang-bintang di atas langit bersinar sangat terang dan indah. Andi berusaha merekam momen bintang-bintang tersebut dengan kameranya.

Bermain-main di atas pasir.  Tukik berbahagia...
Bermain-main di atas pasir. Tukik berbahagia…

Di pasir pantai, jejak-jejak penyu terlihat beberapa. Bekas kemarin malam kata abang guide. Yang membuat takjub lagi adalah keajaiban di garis pantai. Garis pantai yang menyala terang, garis berwarna biru mengikuti lekuk sisa-sisa hempasan ombak. Garis biru yang dihasilkan plankton-plankton. Mereka bercahaya dalam gelap. Bahkan jika kakimu terhempas ombak dan mereka menempal di sandal, sendalmu kerlap seperti bintang biru. Saya suka memperhatikan mereka.

Sayang malam itu belum ada penyu yang naik ke pantai. Kami diminta untuk diam dan tenang, duduk bercakap-cakap tak jauh dari penginapan di sisi timur dermaga. Kami meringkuk di bawah jaket menunggu datangnya penyu. Namun sebelum penyu datang ke pinggiran pantai, hujan sudah mengusir kami pulang. Sudahlah, hari itu kami tidak berjodoh dengan penyu.

Dijaga Sepasang Pulau Yang Mesra

Bagian menarik lainnya dari pulau ini adalah mitos tentang dua pulau penjaga di sisi kiri dan kanan Pulau Berhala. Adalah Pulau Sokong Kakek di sebelah barat dan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur. Sepasang pulau ini dimitoskan sebagai sepasang kakek dan nenek penghuni pertama Pulau Berhala. Entah bagaimana ceritanya, saya kurang mendapatkan rinciannya.

Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar
Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar

Pulau Sokong Kakek akan terlihat jelas saat kita berada di puncak menara suar. Pulau ini bila air surut bisa disinggahi para nelayan. Tidak ada garis pantai di sini, hanya ada lubang besar seperti celah gua sangat besar yang bisa dimasuki. Tapi cukup pengap, begitu cerita nelayan yang saya dapatkan dari tentara penjaga. Bila air naik tentu saja pulau ini tidak bisa disinggahi.

Sedangkan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur, bila air sedang surut, kita bisa menyeberanginya dengan berjalan kaki dari Pulau Berhala. Pantainya menyatu dengan Pantai Pulau Berhala. Di pulau ini terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam si nenek.

Begitulah, dua hari terasa berjalan lambat di Pulau Berhala. Saya sangat menikmati keramahan tentara penjaga yang menemani berkeliling pulau dengan kapal patroli juga melihat bagian-bagian lain pualu. Saya tidak dirong-rong gadget karena memang tidak ada sinyal, saya punya banyak waktu dengan saya dan pikiran-pikiran saya saat duduk atau rebahan menikmati angin laut di pinggir pantai.

Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.
Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.

How to get there:

Untuk menuju Pulau Berhala, dari Dermaga Tanjung Beringin di Serdang Bedagei, kamu harus mengontak pos tentara untuk diizinkan menyebrang pulau. Kapal sudah disediakan oleh mereka. Untuk satu kapal bermuatan lebih dari 30 orang sekarang dikenakan biaya Rp. 4 juta (sebelum BBM naik Rp. 3 juta). Jadi memang sebaiknya beramai-ramai agar bisa sharing biaya.

Untuk penginapan hanya dikenakan biaya Rp. 30 ribu per orang. Untuk makan, bila beramai-ramai dan tak membawa bekal sendiri, kamu bisa meminta disediakan juru masak yang akan men-charge Rp. 15.000 untuk sekali makan. Silahkan hitung sendiri berapa kali kebutuhan makan kamu di pulau.

Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli
Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli

 

Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 1

Cara kami menikmati perjalanan

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

Jauh dekat 4000. Eh bukan, ini bukan angkot. Kami sedang dalam perjalanan ke Pulau Berhala. Jauh dekat, jangan pikirkan jauhnya.

Saya paling demen kalau ada yang nge-SMS atau nelpon terus nanya begini nih, “Ka, minggu depan kemana?” atau “Ka, weekend ini ada kegiatan?” Ini sih biasanya pasti ajakan jalan kemana atau ngelakuin sesuatu di akhir pekan, yang kalau memang belum ada jadwal pasti langsung saya jawab, “Belum ada rencana kok….”

Sama kayak minggu lalu waktu tiba-tiba Bang Onny Kresnawan, partner kerja dari Sineas Film Documentary (SFD) -yang banyak berkontribusi di masa-masa awal karier saya (halah)- nelpon dan melontarkan pertanyaan sejenis. Awalnya sih mikir bakal diajakin gawean bareng. Hahaha. Mikirnya udah gawean aja. Ternyata Bang Onny ngajakin liburan rame-rame dengan teman-teman media dan penulis lainnya ke Pulau Berhala.

Bang Onny dan tim SDF sedang dalam pengerjaan video pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), lokasi administratif Pulau Berhala. Karena memang kapal penumpang ke Pulau Berhala yang dikelola oleh TNI itu muatannya sampai 30-an orang, sayang kalau kosong, sekalian deh Bang Onny mengajak teman-teman dari berbagai media untuk liburan bareng dan tentu saja menuliskan cerita perjalanan ke sana. Termasuk kemanaaja.com…

Berhala Island
Berhala Island

Kecil di Keluasan Samudra

Pulau Berhala adalah satu dari sekian banyak pulau kecil yang berada di wilayah perbatasan perairan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Pulau Berhala berada di Selat Malaka, berbatasan dengan Malaysia.

Sebagai pulau terluar Indonesia, pulau ini menjadi wilayah penjagaan perairan, melihat arus masuk kapal-kapal asing, jangan sampai pula diklaim oleh negara lain.

Dari Medan kami berangkat menuju Serdang Bedagai (Sergei) menuju sebuah dermaga kecil di Desa Tanjung Beringin. Dermaga ini adalah daerah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Perkampungan menuju dermaga sangat menarik. Sebuah perkampungan tua yang kemungkinan besar dulu adalah China Town.  Dermaga dan pelabuhan selalu menjadi tempat asal mula gerak perekonomian tumbuh. Dari dermaga kami melewati muara sungai menuju lautan. Cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam. Apalagi  demi keamanan kapal dan air yang tidak sedalam lautan, kapal bergerak sangat lambat. Fuih…

Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.
Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.

Perjalanan ke Pulau Berhala lebih lama dari yang saya bayangkan, sekitar 4 jam. Saya sudah pernah ke Pulau Pandang yang juga berada di Selat Malaka. Waktu itu waktu tempuhnya berkisar 3 jam. Jadi, awalnya saya berekspektasi waktu tempuhnya juga mungkin hanya berkisar tiga jam. Sedikit bosan memang bila tidak pandai menikmati laut dan setiap keadaan. Apalagi kalau sudah mulai mabuk laut dan sesak pipis. Untuk yang pertama saya syukurnya aman. Perjalanan pulang pergi aman dari mabuk laut. Tapi tidak dengan yang kedua. Dalam perjalanan pulang saya benar-benar dihajar rasa tidak nyaman kebelet pipis yang harus saya tahan sekitar satu jam. Seperti yang saya bilang tadi, untuk situasi seperti itupun kita harus pandai-pandai menikmati keadaan.

Selo aja Ka, nggak usah pikirkan sesak pipisnya. Pikirkan yang lainlah,” kata Bang Ridho Golap seperti komentarnya juga waktu membahas perjalanan yang rasanya tak sampai-sampai waktu beberapa mulai mengeluh bosan.

“Pikirkan aja nanti kalau udah sampai apa yang bisa kita lihat,” katanya melengos sambil merokok kretek.

Oh ya tentang mengatasi mabuk laut, termasuk mabuk darat, saya sudah mendapatkan jurus jitu mengatasinya. Andi yang mengajari. April lalu saat kami berlibur ke Sabang, dalam perjalanan darat dengan bus yang AC-nya kelewat dingin, saya mabuk darat. Mabuk yang nggak perlu minum alcohol. Hahaha. Andi menyarankan saya untuk duduk menekuk lutut, lalu menekan perut dengan bantal atau tas. Cukup manjur. Pun untuk perjalanan laut, jika sudah terasa mual, saya siap mengambil jurus jitu, rebahan atau duduk dengan menekuk lutut. Ternyata jitu sodara-sodara!!!

Perjalanan berangkat kami tak terlalu diberkati dengan cuaca yang cerah. Di kejauhan langit kelihatan gelap, hujan sudah nampak di kejauhan, di berbagai sisi. Rintik-rintik, sehingga meskipun tak besar, membuat laut sedikit berombak. “Jakpot aku dua kali,” kata Amri, salah satu teman jurnalis saat sudah turun dari kapal, yang ternyata waktu di kapal tak satupun kami menyadarinya. Hihihi….

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal kayu yang aman untuk ditumpangi sampai ke tujuan. Dilengkapi pelampung dan lampu untuk malam hari tapi tidak dilengkapi dengan toilet dan atap yang mumpuni. Jadilah di tengah keluasan Selat Malaka, kami menikmati hujan di atas kapal. Sembari berhujan-hujan ria, saya, Andi, Bang Zen, Buyung, dan Bang Ridho Golap, bercakap-cakap tentang entah apa saja.

Mulai tentang Sponge Bob yang naïf, Squidward yang paling realistis sekaligus paling narsis, tentang kenapa Sandy Cheeks si tupai yang bisa ada di Bikini Bottom. Juga tentang dialog-dialog dan kalimat Mr. Crap yang mengejutkan dan sangat tidak cocok untuk tontonan anak kecil. Kami juga mencoba membayangkan bagaimana Pi bisa bertahan dengan Richard Parker di tengah lautan.

Percakapan kemudian berpindah-pindah dari tentang laut, tentang burung yang terbang mendekati kapal pencari ikan, tentang burung yang singgah beristirahat di kayu-kayu yang mengapung di tengah laut. Seperti kayu tersebut, kapal kami mengapung-apung di tengah samudra. Kami seperti burung yang duduk beristirahat menunggu tiba di pulau.

Get closer to Berhala Island
Get closer to Berhala Island

Yes… Akhirnya Tiba di Berhala

Hampir 4 jam kapal kami sudah berjalan dengan kecepatan santai. Sejam sejam lalu, Pulau Berhala sudah kelihatan. Terasa semakin dekat dan terus semakin dekat. Tampak tiga gugusan pulau. Dua pulau kecil di kiri dan kanan dengan satu pulau utama yang jauh lebih besar dari keduanya. Pulau Berhala diapit dua pulau kecil di sisi kiri dan kanannya. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek. Tentang kedua pulau ini nantikan di part selanjutnya ya. 😀

Welcome gate
Welcome gate

Usai sudah cerita kami di atas kapal yang melebar kemana-mana, dermaga Pulau Berhala yang kokoh sudah kelihatan. Di atas puncak bukit tampak menara suar dengan lambang burung garuda di atasnya. Dermaga ini kelihatan masih baru. Pantas saja, menurut marinir yang saya ajak ngobrol, dermaga tersebut baru selesai sekitar awal tahun 2014 lalu.

Garis Pantai dan air yang menggoda.
Garis Pantai dan air yang menggoda.

Langit tidak lagi semendung di perjalanan tadi. Garis kebiruan di langit tampak cantik. Pun garis pantai yang kebiruan sudah sangat menggoda untuk disentuh. Saya bahagia, akhirnya sampai dan bisa menghirup udara laut dengan leluasa dari atas dermaga. Tulisan Welcome to Berhala Island ditulis dengan warna merah putih ditemani bendera merah putih memberi tanda jika mereka yang baru saja tiba sedang berada di teritori negara Indonesia. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek kelihatan mesra menjaga Pulau Berhala. Jika dilihat dari jauh ketiganya tampak seperti tubuh penyu degan kepala, tempurung, dan kakinya.

Well, saya sudah tiba di Berhala, waktunya cuci muka, menuntaskan hajat yang tertahan selama di perjalanan dan tentu makan siang yang sudah tertunda. Selamat datang di Pulau Berhala.

Silahkan Jatuh Hati dengan Air Terjun Teroh Teroh

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Herry Dido Purba @HeryDido

Satu Destinasi dengan Banyak Keindahan

PELARUGA, pernah dengar? Objek wisata satu ini memang sedang digandrungi di Sumatera Utara. Selain letaknya yang nggak jauh dari kota Medan, bisa ditempuh dengan sekitar 1 jam, lokasi ini juga terkenal dengan kejernihan dan kesegaran air sungainya. Kolam Abadi, Air Terjun Tongkat, Teroh Teroh, semuanya dalam satu paket aliran sungai. Meskipun, paket wisatanya tentu aja berbeda. Soalnya aliran airnya panjang dan sering kali rasanya sudah cukup puas berhahahihi berseru-seruan di satu destinasinya.

Bermain bersama arus.
Bermain bersama arus.

Nah untuk mencapai lokasi wisata satu ini, dari Medan perjalanan dilanjutkan ke Binjai, kemudian ke Namu Ukur Pekan sampai tiba di Desa Rumah Galuh, singkatan dari Pelaruga. Kalau sudah tiba di Desa Rumah Galuh, dari Polres Sei Binge sekitar 400 meter kamu akan ketemu dengan Simpang Tiga, pilihlah sebelah kiri. Sekitar 12 kilometer kamu akan menemukan pamphlet Pelaruga. Nah itulah tempatnya.

Here we are....
Here we are….

Air Terjun Teroh Teroh atau Teruh Teruh atau Sampuren Teruh Teruh sering juga disebutkan orang dengan Tero Tero sebenarnya berasal dari Bahasa Karo, bahasa masyarakat mayoritas yang berdomisili di Desa Rumah Galuh. Teruh artinya bawah. Sedangkan Sampuren artinya air terjun.

The team. Nih dia teman-teman yang sudah menikmati perjalanan di Teroh Teroh. Liat dong muka mereka, bahagiaaa....
The team. Nih dia teman-teman yang sudah menikmati perjalanan di Teroh Teroh. Liat dong muka mereka, bahagiaaa….

Starting point sebelum mulai trekking
Starting point sebelum mulai trekking

Untuk menikmati keindahan air terjun cantik dengan air bening ini, pengunjung memang harus trekking selama sekitar 30 menit. Jadi, sangat disarankan untuk menggunakan perlengkapan trekking untuk memudahkan perjalanan. Akan ada perjalanan naik turun bukit, melewati tangga tanah, jalan licin bila hujan, melihat tanah berlumut, aneka tumbuhan tropis hutan dan track-nya sama kok dengan menuju Kolam Abadi. Ibaratnya sekali tepuk bisa mencapai dua destinasi. Habis satu tempat bisa ke tempat lainnya. Ikuti aja aliran sungainya, habis dari Kolam Abadi kamu bisa lanjut ke Air Terjun Teroh Teroh dengan menyusur sungai.

Bahagia itu saat bisa menikmati alam kayak gini...
Bahagia itu saat bisa menikmati alam kayak gini…
Here we are....
Here we are….

Fuih… pokoknya dijamin puas bermain dengan air segar, bersih, bening, dan adem… tambahan lagi view tebing tidak terlalu luas di sisi kiri dan kanananya bikin pemandangan makin asyik. Luar biasa cantiknya. Udara seger dari pepohonan hijau yang masih banyak di pinggiran sungai bikin paru-paru makin bahagia. Mata juga dimanjakan dengan kesegaran hijau dedaunan. Aduh… gimana nggak jatuh hati ‘kan? Berenang-renang, semacam body rafting di air sebening itu adalah kemewahan di tempat wisata yang relatif masih baru ini.

Menikmati air sepanjang jalan
Menikmati air sepanjang jalan

Mau liburan kesana? Kamu bisa hubungi kemanaaja.com. *klik kontak kita ya kakak. 😀

Swim... swim... swim...
Swim… swim… swim…

Aliran air di Pelaruga yang berada di tebing tak terlalu lebar
Aliran air di Pelaruga yang berada di tebing tak terlalu lebar

THE IMPORTANT THINGS!

  • Retribusi masuk Rp. 40.000 per orang, sudah dilengkapi dengan fasilitas lifejacket dan guide.
  • Hati-hati dengan gadget kamu, jangan lupa membawa dry bag atau sekalian deh minimalisir membawa gadget kecuali yang perlu saja.
  • Hey, kelestarian tempat ini ditentukan sama kita semua yang berlibur ke sana. Jaga kebersihannya dong, jangan buang puntung rokok, botol minuman atau sampah lainnya dengan sembarangan.
  • Di lokasi wisata ini, memang ada penjual minuman botolan di beberapa titik di pinggir sungai, tapi jangan khawatir, selama pengunjung beretiket dan sadar kebersihan, air yang dikeluarkan tebing-tebing sekitarannya bisa diminum langsung kok.

 

THE CONTRIBUTOR

Hery

Hery Dido Purba

Kontributor kali ini adalah Hery Dido Purba, fotografer yang berdomisili di Kabanjahe dan sehari-hari bekerja di kantor pemerintahan. Hobi motretnya sekarang sudah pekerjaan di akhir pekan, memotret pre wedding atau wedding. Kabarnya sih paling tersohor sekarang di Kabanjahe. Hehehe… :p

FINDING SERENITY ON PANDANG ISLAND

Text & Photo by Yulin Masdakaty @youleeneith

543477_3662230246163_562349153_n

The island is perfect if you want long lazy days throughout which to indulge in your own sacred ‘me-time’.

405937_10200512551448089_1417079856_n - Copy
Welcome to Pandang Island

MARINE tourism has for a long time been the pride of many parts of the Indonesian archipelago. Wakatobi and Raja Ampat spring to mind as stunning major players, yet they’re not the only ones. A friend of mine hauled me along on a daring adventure to Pandang Island some time ago. Though I’d never heard of this place before, I was curious about the somewhat odd moniker, Pandang, which actually means “to see” or “to look” in Indonesian.

545775_3657274562274_197928936_n

From Medan, the capital of North Sumatera, we took a minibus to Batubara Regency, while another ride brought us to an unnamed dock in Bogak Village. It didn’t take long for me to figure out how we were going to get to Pandang Island. A fishing boat, one used by fishermen to earn their daily catch, was the only available means of transportation. There goes plain sailing, I thought. Furthermore the rental was a whopping Rp. 2 million per boat. Tough luck. Travelling in large groups I reckoned was the best way to go, with the bill equally shared among the passengers.

564247_3658084022510_1117994736_n

It took four long aggravating hours to reach the island, swayed and buffeted by strong waves. But the ungodly journey paid off once I had stepped onto the fine white sand shore. The pristine natural sprawl was majestic, comprising many contrasts: grey limestone, emerald greeneries and azure sky beyond the ivory hill. Sounds of rolling waves, rustling trees and tweeting birds provided an ethereal soundtrack to this lost paradise. No pestering vendors or aggressive porter boys as far as the eyes could see… we had arrived on our own “private” island.

578291_3662079522395_1281745256_n

Pandang is a small island. Sizing over three hectares in total, anyone can walk around it in less than a day. The island sits in Tanjung Tiram District within the Batubara Regency, approximately 145 km on the southeast of Medan. What Pandang lacks in permanent inhabitants, it makes up for in commuting fishermen, and marine officers who guard the border region between Indonesia and Malaysia. As such, no inns or cafés are yet established here, making a trip to the island practically a camping adventure.

1471881_10201811721046517_1348212641_n
Fishermen and the salty morning

We brought along our own food and cooking utensils and some tents. If you’re the intrepid type, you can always lay a mattress down on the beach and sleep with the star-studded sky as your ceiling. For solid indoor comfort, you can rent one of the official residences of navy officers, which cost around Rp. 200,000 to Rp. 250,000 per night.

577549_3662481412442_600637103_n
Enjoying Sunset

The weather is pretty humid and sultry here. According to some fishermen I ran into, this was due to the island’s geographical position between two large land masses: Sumatera and the Malaysia peninsula. In the morning, the island sees fishing boats returning from the sea. During this time the saltiness of the ocean smells more pungent, yet that’s part of Pandang’s charm. In the evening, you can enjoy the warm breeze over a bonfire party.

564260_3662098642873_1007011657_n

The island is perfect if you want long lazy days throughout which to indulge in your own sacred ‘me-time’ – at least that’s what I did. Let loose and sync to the laid-back pace of the island life. Time seems to go mysteriously slowly, making it hard to keep track of time here. Even after the snorkeling and trekking I did, it was still only 2 pm; I still had the whole day ahead of me. I guess you can say the days are all yours here.

556922_3658146904082_957727588_n

Trekking

Walk around the island, let the sand tickle your toes while you enjoy the beautiful ocean view, the gentle breeze, the salty air and the sound of waves crashing of the reef. You can also trek to the eastern part of the island to enjoy the view from the top without having to take a challenging climb. If you have strong legs, climb up to the 200 stone steps to get to the top of Batu Belah – which can be loosely translated as “split rock”. At the top, you’ll find a large rock that looks like it’s nearly split in two.

536693_3657287242591_1789153999_n - Copy

Snorkeling

You don’t have to swim far out to sea to enjoy underwater beauty. You can easily see fish swimming around the shore, tempting you to take a dip. If you are interested in snorkeling or diving, don’t forget to bring your own equipment since there’s nothing available for rent here. I really enjoyed taking in the magnificent underwater scenes – following the Nemo-like clown fish or other beautiful creatures that like to play ‘hide and seek’. Once in a while some wild anglers take part.

559505_3496402620576_2042997851_n

303393_3663202030457_1574681030_n - Copy

Tarik tambang, a game which give fun to everyone
Tarik tambang, a game which give fun to everyone
Getting there

From Medan, you can take the public bus (roughly Rp, 50,000 per person) to Bogak Village in Batubara District. However, because the island is located in the vicinity of the border, sometimes you have to obtain some kind of permission from the marine officers.

When to go

Any time is best time. The waves on the Malacca Strait are not as fierce as those in some other Indonesian seas, so the waters are considerably safe the whole year round.

Where to stay

There are no hotels, inns or the like here. But the official navy residences can be rented. The rates are around Rp. 200,000 to Rp. 250,000 per night.

What to eat

You can purchase seafood fresh from the ocean from the local fishermen. There’s nothing like grilling fish on the beach while enjoying the sunset.

Killing time at Pandang Island

Teks & foto oleh Eka Dalanta @ekadalanta

Keindahan air laut yang bening di Pulau Pandang
Keindahan air laut yang bening di Pulau Pandang

“Di sini waktu telah mati.”

Di tempat ini, jauh dari keriuhan dan suara berisik lalu-lalang kendaraan bermotor, suara klakson, dan keberisikan buatan manusia. Di sini berisik hanya tersedia untuk suara kapal nelayan yang sesekali datang menangkap ikan atau membawa penumpang. Di sini berisik juga hanya berlaku untuk deburan ombak menghempas batu-batu pantai, serta desau angin yang selalu berlomba mengalahkan pecahan ombak di batu-batu besar. Di tempat ini waktu memang telah menjadi mati! Susah membedakan kamu sedang berada di jam berapa. Semuanya terasa sangat lambat dan perlahan.

Saya melewatkan waktu yang lambat dengan kelegaan yang luar biasa, sangat santai. Tidak ada gangguan pesan singkat via SMS atau BBM apalagi dering bunyi telepon. Tidak ada jaringan operator seluler manapun yang menjangkau pulau ini dengan baik. Kalaupun ada, itupun tidak konsisten, hanya akan diperolah jika mendaki bukit atau memanjat pohon. Hehehe. Purba sekali rasanya.

Pulau Pandang dari Puncak Bukit
Pulau Pandang dari Puncak Bukit

Berjarak sekitar 14 mil dari daratan besar Pulau Sumatra, pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Sumatera Utara yang berada di Selat Malaka. Pulau Pandang secara geografis berada di Kabupaten Batubara. Tepatnya di desa Bogak, Kecamatan Tanjung Tiram. Letaknya sekitar 145-an kilometer dari sebelah tenggara Kota Medan.

Perjalanan dari Medan menuju Batubara memakan waktu sekitar 4 jam. Dari sebuah dermaga kecil, dimana sebuah kapal nelayan kecil untuk menangkap ikan bisa kita tumpangi untuk menuju kesana. Tapi tidak bisa dilakukan dengan mendadak. Kita harus membuat janji karena tidak selalu ada kapal yang akan berangkat.

Kapal ini jugalah yang saya tumpangi menuju Pulau Pandang,. Pukul empat subuh, kapal kecil kami bergerak sederhana, sesederhana bentuk dan ukuran kapal serta suara mesinnya yang ribut. Membelah malam dan arus air menuju lautan. Air yang semula kelihatan kecokelatan saat masih dekat perkampungan nelayan kemudian berganti warna, terus berganti warna, menjadi semakin biru.

Bebatuan besar cantik di Pulau Pandang
Bebatuan besar cantik di Pulau Pandang

Ada aroma akrab yang menguar di udara. Amis laut, asin garam, kebebasan yang menyatu bersama kabut pagi lautan. Saya mencium kebahagiaan. Kami semua terlihat bahagia meskipun dingin malam membuat kami duduk saling merapat. Tersusun rapi seperti barisan ikan asin yang sedang dijemur.

Matahari mulai muncul, tak ada sambutan sunrise waktu itu. Sudah tiga jam lebih di lautan, kami belum tiba juga. Padahal sejak tadi pulau kecil itu sudah terlihat. “Ah Pulau Pandang, dekat dipandang aja rupanya,” guyon salah satu teman dalam perjalanan kali ini. Dalam hati, saya tertawa dan setuju.

Welcome to Pandang Island
Welcome to Pandang Island

Pulau Pandang, Here I Come…

Pukul setengah delapan pagi dan kami bersama tim Green Family Adventure sudah menjejakkan kaki di dermaga Pulau Pandang. Perjalanan yang tempuh lebih dari tiga jam. Itu karena kecepatan kami hanya 6 knot atau 6 mil/jam. Begitu kata Pak Zul, ketua tim navigasi di Pulau Pandang.

Oh ya Pulau Pandang adalah pulau yang tidak dihuni oleh masyarakat umum. Pulau seluas sekitar enam hektar ini dijaga secara tetap oleh beberapa orang petugas navigasi dari TNI Angkatan Laut serta beberapa nelayan yang secara tetap datang setiap minggu untuk menangkap ikan.

Sebuah papan kecil yang dibuat oleh TNI angkatan laut menjadi penanda. “Welcome to Pandang Island.”

Tiba di Pulau Pandang
Tiba di Pulau Pandang

Take a Time, Sun Bathing, Lay Down on The Sand

Kalau kamu bukan penggila berenang, menyelam, atau snorkeling, bukan berarti kamu tidak bisa menikmati liburan di pulau ini. setidaknya, kamu adalah penikmat pantai, aroma asinnya atau hembusan anginnya. Kamu bisa duduk santai, mencelupkan kaki ke air yang beningnya luar biasa serta bikin adem, juga pasirnya yang bikin nyaman. Duduk santai di ayunan atau hammock di pinggir pantai juga tidak kalah menyenangkannya.

Seperti saya dan teman saya, kami menghabiskan setengah hari dengan tiduran di pasir, meluruskan badan, dan berjemur di bawah sinar matahari. Memejamkan mata, merasakan hembusan angin, dan pecahan suara ombak, sangat bisa melepaskan penat. Semua penat terasa terbawa air laut saat menyapa kaki dan kemudian mundur ke lautan luas.

Atau kalau kamu sedang belajar yoga, ketenangan tempat ini sangat menjanjikan.

Tenda-tenda kami di Pulau Pandang
Tenda-tenda kami di Pulau Pandang

Trekking, Walking Around and Photo Hunting

Menjelajah pulau bisa juga menjadi alternatif kegiatan yang bisa dilakukan. Pulau ini cukup luas. Kamu bisa berjalan mengitari pulau. Kejutan seperti batu-batu besar yang indah, karang-karang serta kulit kerang yang bentuknya lucu bisa kamu temukan. 

Trekking di pagi atau sore hari bagus untuk badan. Kamu bisa trekking di bagian lain dari pulau di sebelah timur. Sedikit mendaki bukit, tanpa perjuangan yang luar biasa, kamu sudah bisa melihat wow-nya keindahan laut Indonesia. Bayangkan, kita bisa berhadapan muka dengan muka dengan Selat Malaka.

Dari ketinggian ini, mata akan lepas memandang. Jangan terlalu jauh juga menembus semak-semak kecil di atas bukit meskipun untuk mendapatkan foto terbaik, kita harus berdiri di pinggir bukit. Semak-semak kecil bisa jadi menipu mata. Pokoknya hati-hati saja.

Catch The Sunset

Sunset di Pulau Pandang
Sunset di Pulau Pandang

Ini salah satu momen yang selalu saya tunggu jika berada di pantai. Memotret senja dan menikmati jatuhnya matahari di satu titik di ujung lautan. Melihat matahari terbenam di pulau ini sangat nikmat bila duduk di salah satu bukitnya. Bukit yang menuju Batu Belah, sebuah situs yang dianggap keramat. Menaiki sekitar 50-an anak tangga, kita sudah berada di salah satu spot terbaik melihat matahari terbenam.

Meet The Folklore

Batu Belah
Batu Belah

Salah satu keajaiban Indonesia dalah segudang cerita mistis yang beredar di masyarakat. Banyak tempat wisata yang menyimpan cerita-cerita serupa. Entah memang sengaja dibangun untuk menarik perhatian atau agar tempat tersebut dijaga.

Pulau Pandang punya Batu Belah. Batu belah adalah batu berukuran besar, mungkin 5-6 pelukan tangan orang dewasa yang berada di salah satu bukit, tempat saya teman-teman menunggu matahari terbenam. Batu belah ini, seperti namanya, terbelah dengan irisan sempurna. Seolah-olah dipotong dengan pisau raksasa dengan sangat rapi. Tanpa gerigi atau kerusakan tak rata pada dua potongannya. Irisan batu ini saling menindih membentuk sudut sekitar 30 derajat.

Di celah irisannya, sejumlah sajen bisa kita temukan. Menurut Pak Zul dan beberapa nelayan yang saya ajak bercerita, batu belah bagi sebagian orang dijadikan sebagai tempat sakral. Biasa dilakukan oleh suku Tionghoa dan Jawa yang datang khusus untuk sembahyang ke tempat ini.

Snorkeling and Fishing

Snorkeling dan memancing
Snorkeling dan memancing

Inilah surga bagi penyuka lautan. Di tempat ini, tidak perlu beratus meter ke tengah laut, kamu sudah bisa snorkeling dan menikmati keindahan bawah laut. Saat duduk di pinggiran pantai, ikan-ikan sudah sangat manja menggoda buat berenang. Kalau tertarik dengan snorkeling, memancing atau berburu ikan, jangan lupa membawa peralatan sendiri.

Di pantai berair jernih ini, rasanya tidak cukup sekali saja membasahkan diri. Aneka ikan cantik selalu membuat gemas untuk melihat mereka dari dekat. Meskipun berkali-kali disengat plankton, perjalan di Pulau Pandang akan diakhiri dengan senyum puas, seluas Selat Malaka. Hehehe.

Bersantai di Pulau Pandang
Bersantai di Pulau Pandang

Guide to Pandang Island:

How to get there:

Untuk mencapai Pulau Pandang, diperlukan pemandu karena perjalanannya bukanlah perjalanan yang mudah. Dibutuhkan persiapan yang baik. Karena bukan merupakan daerah wisata komersil, sewaktu tiba di Batubara, sebaiknya sudah ada kenalan yang akan mengantarkan kepada nelayan yang menawarkan jasa ke Pulau Pandang. Sebelumnya, kamu juga harus sudah mengantongi izin dari TNI Angkatan Laut untuk masuk ke pulau terluar Sumut ini.

Important Notes:

  1. Jangan lupa membawa kebutuhan pribadi. Di tempat ini tidak ada warung apalagi swalayan. Jangan lupa juga membawa air putih secukupnya agar tidak dehidrasi, setidaknya perhitungkan 2,5 liter perharinya.
  2. Sangat banyak nyamuk di sini, jadi jangan lupa juga membawa lotion anti nyamuk.
  3. Sunblock perlu untuk menjaga kulit tidak menjadi rusak dan luka.
  4. Untuk tempat menumpang tidur, kamu bisa menumpang di rumah para penjaga navigasi yang beberapa memang disewakan. Kalau ingin tidur di tenda dekat pantai, silahkan membawa tenda sendiri.
  5. Hindari memberatkan ransel dengan membawa pakaian terlalu banyak dan barang tidak penting lainnya.
  6. Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan itu wajib. Jangan membuang sampah sembarangan di pantai ya.

5 Famous Beaches in Sabang

Teks oleh Eka Dalanta @ekadalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Perjalanan ke Sabang tak lengkap bila tak mengeksplorasi pantai-pantainya.

Menikmati sunrise di Iboih

LIMA pantai berikut ini wajib ada dalam daftar kunjungannya saat berlibur ke Sabang. Setiap pantai memiliki keunikan masing-masing. Check this out!

1. Pantai Iboih

Dermaga Iboih, tempat yang asyik menunggu matahari terbit.

Pantai ini terkenal karena menjadi salah satu spot snorkeling dan diving terbaik di Sabang. Berhadapan langsung dengan Pulau Rubiah menjadikannya lokasi yang sangat nyaman dan aman bagi jutaan spesies ikan dan penghuni laut lainnya. Duduk di dermaga penginapan atau dermaga umum Iboih, kamu dapat menyaksikan langsung aneka jenis ikan berenang-renang di pinggiran pantai. Karang-karang cantik juga dijaga di pantai ini. Bagian terbaik lainnya adalah, kita bisa menikmati momen sunrise yang membuat tubuh dan perasaan hati terasa hangat. 😀

2. Pantai Gapang

Pantai Gapang

Beberapa tahun lalu, Pantai Gapang merupakan salah satu pantai terbaik dan paling sering dikunjungi di Sabang. Tapi, April lalu saya menemukan fakta yang berbeda. Pantai ini mulai sepi dan ditinggalkan orang. Kerusakan pada pinggir pantai yang seolah tidak terawat sepertinya menjadi penyebab utamanya. Meskipun demikian, pantai ini tetap menarik untuk kamu singgahi.

Nyaman santai di Pantai Gapang

3. Pantai Sumur Tiga

Pantai landai Sumur Tiga

Yang paling saya sukai dari pantai ini adalah garis pantainya yang panjang dan betapa menyenangkannya berjalan di pinggir pantainya sambil melihat jejeran pohon kelapa berayun-ayun di pinggirannya. Ratusan, mungkin ribuan umang-umang akan selalu menarik perhatian di bawah kaki bila kita sedang berjalan. Bentuk dan warna umang-umangnya juga sangat menarik hati.

Alarm angin yang merdu

Pantai Sumur Tiga saat ini juga menjadi lokasi snorkeling dan diving favorit di Sabang. Menikmati matahari terbit atau menonton lumba-lumba di kejauhan dari resort terbaik di pantai ini, seperti Casa Nemo dan Freddie’s adalah momen berharga.

Papa pulang bawa ikan beibeh….

4. Pantai Ujung Kareung

Pantai Ujung Kareung, biru kehijauan air yang bikin tenang.

Berdiri di atas karang mati yang luasnya satu kampung, bahkan saat mengendarai sepeda motor, kamu berjalan di atas karang mati yang telah disulap menjadi jalan raya, ini pengalaman menakjubkan yang saya temukan saat dalam perjalanan mencari Benteng Jepang.

Pantai Ujung Kareung

Pantai Ujung Kareung menjadi sangat menarik saat kita berhenti di pinggiran bibir pantainya dan menatap ke bawah, ke keluasan lautnya yang biru kehijauan. Seperti zamrud yang sengaja diletakkan di dasar lautan. Di tempat ini rasa kagum tidak akan pernah terasa cukup. Seakan menjadi kecil di keluasan keindahan semesta menjadikan hati kita hangat penuh ucapan syukur.

5. Pantai Anoi Itam

Benteng Jepang yang akan dijumpai dalam perjalanan mencari Anoi Itam.

Seperti namanya, pantai ini terkenal karena pasirnya yang berwarna hitam. Berjarak sekitar 13 kilometer dari pusat kota Sabang, pemandangan saat berjalan mengitari pantai ini sangat indah. Dengan garis pantai dan bukit-bukit landai yang membuat takjub. Menemukan Benteng Jepang, sebuah peninggalan dari masa perang kemerdekaan melawan penjajah Jepang adalah catatan lain yang membuat perjalanan menuju Anoi Itam menjadi sangat menarik.

Mabuhay Philippines (Part 2)

Teks & foto oleh Melda Zhang @Melzna | Editor Eka Dalanta @EkaDalanta

Sebuah pulau dimana seksi adalah sebuah kata yang sangat pantas diucapkan berkali-kali.

Puerto Princesa – Explore Palawan

Palawan merupakan provinsi kepulauan Filipina. Ibu Kota propinsinya adalah Puerto Princessa dan juga menjadi propinsi dengan daratan terluas. Orang lokal di sana menyebut Puerto Princesa sebagai The City in the Forest. Dari sinilah titik awal menuju surga kepulauan El Nido dan Sabang yang tersohor dengan Underground River yang mendapat predikat dari UNESCO sebagai New 7 Wonders of Nature, salah satu sungai bawah tanah terpanjang di dunia.

Rumah nenek, eh bukan, ini penginapan tempat kami menumpang
Rumah nenek, eh bukan, ini penginapan tempat kami menumpang

Hanya satu malam saja kami berada di Manila, kami harus menuju Puerto Princesa dengan pesawat pagi-pagi sekali. Puerto Princesa, City in the Forest, nama kotanya terdengar sexy di telingaku. Pendaratan pertama kami disambut seorang kabayan bertampang Padang dengan model rambut mirip keluarga TheSimpson, cuma saying kurang tinggi! Airportnya sangat dekat dengan rumah kami, eh penginapan, hanya 10 menit saja sudah sampai ke D’Lucky Garden Inn. Penginapan kami kali ini seperti rumah kontrakan, jadi kita mendapat 2 rumah, masing-masing dalamnya 2 kamar yang cukup bersih dan nyaman. Ada ruang tamu pake sofa mini + kulkas + TV tapi… cuma pajangan, lalu dapur dan halaman segala. Serasa pulang ke rumah nenek! He-he-he…

Untuk menuju pusat kota juga dekat, hanya naik tricycle/becak yang tarifnya 10 Peso per orang kita sudah bisa sampai pasar dan restoran tempat makan. Restoran paling hit sepertinya si Kalui, karena makan disana harus reserve dan harus buka alas kaki. Tempatnya bagus dengan dekor kayu serta hiasan buah-buahan asli. Makanannya enak dan tidak mahal untuk ukuran restoran.

Kalui, rumah makan paling popular di sini
Kalui, rumah makan paling popular di sini

Tiangge-Tiangge adalah pasar, tempat beli oleh-oleh, souvenir, baju, ukiran kayu sampai makanan kecil khas setempat, jadi jangan lupa singgah ke sini.

Penjelajahan di Puerto Princesa kami mulai dengan Hopping Island di hari pertama dan Underground River di hari kedua sebelum melanjutkan petualangan ke El Nido.

Honda Bay – Hopping Island

Hopping Island, ke kumpulan beberapa pulau yang berdekatan (Luli Island, Pambato Reef, dan Star Fish Island) adalah tujuan tur hari pertama kami. Dari penginapan kami sudah disediakan mini van untuk 9 orang, 1 alien dan 1 spongie beserta tour guide perempuan, dan supir. Serasa turis Cina (saya Cina He-he-he) banget sekarang, biasanya backpackeran, naik angkot, tanya sana sini, kena tipu sampai nyasar tak jelas. Tapi kini serasa menjadi putri, segala urusan permit masuk lokasi wisata diurusin, dibukain pintu mobil, ooh… terlena! Makanan disediakan dengan tatanan baik, barang-barang dijagain, tapi nggak tahan selalu diingetin pake life jacket bodoh yang sangat mengganggu!

Outfit buat keliling pantai
Outfit buat keliling pantai

Menyenangkan disini, pantainya tidak rame, hanya ada kami dan beberapa wisatawan lokal dan juga beberapa bule dan pakle yang tampak bersantai di pantai. Pilifin (saya terbawa cara mereka menyebut P dan F) ini juga sangat peduli kebersihan lingkungan. Mereka membedakan jenis sampah pada tong sampahnya. Kalau di negeri kita, bayi pun ditemukan di tong sampah bercampur dengan besi tua!

 Pambato Reef – Luli Island – Starfish Island

Pambato Reef
Pambato Reef

Kapal boat yang kami gunakan untuk menjelajahi pulau-pulau di Honda Bay selama seharian penuh sangat nyaman, sayang sekali kami tidak bawa bekal cemilan. Setiap bangkit dari laut rasanya pengen telan kapal saking laparnya dan kami tidak sempat jajan cemilan sebelum datang.

Starfish untuk member nama tempt ini
Starfish untuk member nama tempt ini

Perhentian pertama kami di Pambato Reef, tempat penakaran terumbu karang dan kami snorkeling di tengah laut. Kami kemudian lanjut ke Luli Island dengan pantai yang ber-sandbar di tengah laut. Trip berakhir di Starfish Island yang sepi pengunjung, serasa pantai pribadi. Dan hanya ada 2 bintang laut di sana yang tampaknya sengaja diletakin setiap ada tamu yang dating, biar pulau itu ada namanya! (gotcha, ketipu lagi!)

Underground River – New 7 Wonders of Nature

Menuju Underground River, kita harus ke pelabuhan Sabang, namanya sama seperti pulau ujung paling barat di Sumatera dan disana akan diurusin permit masuk ke lokasi. Untuk menelusuri underground river sebaiknya daftar dari jauh hari karena mereka membatasi hanya 100 pengunjung setiap hari agar tidak merusak alam.

Sabang, menuju tujuan berikutnya
Sabang, menuju tujuan berikutnya

Boat yang kami tumpangi bisingnya mampu membungkam kecerewetan kami selama sekitar 20 menit untuk sampai ke Underground River yang tersohor itu, perjalanan naik turun van dan boat menjadi makanan kami beberapa hari ini.

Sampai di bibir pantai kita masih harus trekking membelah hutan yang sudah ditata dengan trek yang mulus dan tidak jauh untuk mencapai bibir goa. Sebelum masuk kita harus memakai perlengkapan keamanan lagi dan naik perahu lagi dan lagi, untuk menelusuri goa yang disambut dengan bau kotoran kalong yang akan nempel di kribo sampai ketek! Tapi keberuntungan kami ketika di sana, air sungainya berwarna hijau toska dan terasa dingin, ikannya banyak muncul berenang disekitar kaki, dan tentu saja kita tidak diperbolehkan berenang di sungai, lagipula tanah pasir sungainya menghisap, kalau foto ngeker lebih lama lima menit, yang difoto sudah tinggal setengah body euy! Lagi-lagi, kita harus register data saat masuk, tapi itu bagian favorit ku, bisa isi pekerjaan sebagai: Sailor, Pirate, Fire Fighter, Dream Catcher, Wanderer, Samurai, etc! Oh yee!

Tim kami
Tim kami

The Longest Navigable Underground River

Sampan menuju underground river
Sampan menuju underground river

Underground river sepanjang 8,2 Km, sementara untuk penelusuran di dalam goanya hanya 4,3 Km adalah yang terpanjang di dunia. Satu orang divujung depan kapal sebagai pemegang senter, kapten sampan paling ujung belakang mengayuh dengan pilu sambil teriak mengarahkan arah senter “up left-left-left, down-right-up-up-right” atau pekikan amukan massa “lefffffttt!! Uuuuppp!!! Downnnnn!!”

Pokoknya apapun posisi kalian sebaiknya jangan bagian yang pegang senter sialan itu, karena 10 pasang mata yang ingin melihat pemadangan goa sangat tidak sabaran, info dari 1 orang di ujung kapal sampai di ujung lagi akan menghasilkan informasi yang berbeda dan kesalahan kecil dapat kena damprat yang mengerikan dan membuat frustasi sampe pengen nyebur ke sungai!

Subterranean River National Park – Cave Tour

Gua yang membuat saya makin kribo. Hihihi
Gua yang membuat saya makin kribo. Hihihi

Memasuki goa kita akan melihat stalaktit dan stalaknit yang berbentuk macam-macam dan tentu saja itu terbentuk secara alami dan kebetulan mirip dengan objek tertentu. Karena masyarakat Pilifin mayoritas Kristen maka mereka sangat dipengaruhi budaya Kristen, jadi objek-objek yang diliat dalam goa ada yang mirip Bunda Maria, Malaikat, Yesus dalam malam perjamuan terakhir, juga ada bentuk lainnya seperti jagung, kepala Dinosaurus, pantat wanita dan entah apalagi di sepanjang perjalanan dalam goa. Si Kapten sampan tidak pakai senter tapi sudah hapal aja lokasi dia harus berhenti dan kasih tau letak objek. Untuk kapten ini, kita harus bilang “Woww.. gitu!”

Airnya segarrrrrr.....
Airnya segarrrrrr…..

Udara dalam goa sangat lembab, aku sudah merasa kriboku mulai berat, jangan-jangan sudah mulai berubah jadi brokoli ijo kalau keluar. Hi-hi-hi… Perjalanan dalam goa 45 menit dan keluar-keluar terik mentari menyambut serasa baru saja bangun tidur, “selamat pagi silahkan minum kopi!”

Sudah selesai penjelajahan hari kedua kami di Puerto Princesa, saatnya kami menuju ke El Nido dengan van dan berangkat pagi-pagi buta, tengah malem tepatnya, pukul 2 dini hari.

——-(to be continued to part 3)—–

Lombok, “Beauty” and The Beach

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Foto oleh Richard Berry G @RBerryg 

*Artikel ini pernah dimuat di Aplaus The Lifestyle

 Tak hanya pantai, Lombok juga kaya dengan kecantikan kebudayaannya.

Mawun Beach, satu dari antara pantai-pantai indah di Lombok.
Mawun Beach, satu dari antara pantai-pantai indah di Lombok.

DASAR saya yang memang selalu tertarik dengan heritage dan warisan kebudayaan, dalam memilih destinasi perjalananpun, saya selalu nggak pernah lupa mencari dan memasukkan tempat-tempat kaya nilai kebudayaan dalam daftar perjalanan. Juga saat liburan ke Lombok.

Memang sih kalau cerita soal Lombok, kebanyakan orang akan menyarankan mengunjungi destinasi-destinasi pantai yang luar biasa itu. Terutama Gili Trawangan.

Perjalanan saya ke Lombok kali ini, karena saya ingin merasakan perjalanan dengan berbagai situasi dan kondisi, termasuk the way to get there (via udara, darat, dan laut), perjalanan via udara pun kami lakukan sampai Denpasar, Bali. Demi mengandalkan perjalanan on budget dan mengejar bermalam di kapal kami, saya dan teman saya Richard tiba di Bandara Ngurah Ray hampir pukul 11 malam.

Lembar Port, Lombok.
Lembar Port, Lombok.

Pukul dua dini hari, dari Pelabuhan Padang Bay kapal yang kami tumpangi berangkat menuju Lombok. Benar kata Eci, bermalam dan menghemat biaya penginapan di atas kapal penyebrangan bukanlah ide buruk. Kapalnya cukup nyaman. Di lantai 3 kapal kami menemukan kursi panjang dan empuk untuk meluruskan badan. Tak perlu pula berebut dengan penumpang lain karena bukan sedang peak season.

Di atas kapal, saya menikmati dinginnya udara laut di malam hari juga keluasan langit dan bintang-bintang tanpa penghalang dari geladak kapal. Saya dan Richard bahkan sempat memutuskan tidur-tiduran di luar kabin penumpang sambil menunjuk-nunjuk bintang yang kami suka. Sampai akhirnya kami menyerah kalah karena udara dinginnya tak kenal ampun. Dari pada tumbang sebelum menikmati lebih banyak perjalanan, kami memutuskan tidur dengan lelap dan hangat di kabin penumpang. He-he-he…

Menunggu kapal berlabuh. Ombak membuat kami hampir mabuk.
Menunggu kapal berlabuh. Ombak membuat kami hampir mabuk.

Pagi datang, kami masih di laut. Tapi Pelabuhan Lembar sudah di depan mata. Tiang-tiang kuning khas pelabuhan sudah terlihat. Ah Lombok… kami disambut pagi dengan sinar matahari yang cukup. Sunrise yang hangat dan bersahaja.

Pantai Malimbu. Kekayaan keindahan pantai-pantai di Lombok
Pantai Malimbu. Kekayaan keindahan pantai-pantai di Lombok

“The Beauty”

Waktu yang kami miliki di Lombok hanya 4 hari. Itu hari efektif yang benar-benar akan kami habiskan untuk mengelilingi Lombok. Sejumlah tempat udah ada dalam daftar yang ingin saya ajukan kepada tiga travel partner saya yang lainnya. Juga dengan Mas Bedur, tuan rumah yang bersedia kami repotkan selama perjalanan di Lombok. Dan syukurnya, sebagian besar dari destinasi tersebut bisa terpenuhi. Kecup dulu satu-satu….He-he-he…

Untuk yang ‘cantik-cantik eksotik’ karena kebudayaannya saya memilih Desa Tradisional Sade dan Desa Suka Rara. Syukurnya selain dua tempat yang udah saya masukkan dalam daftar ini, saya mendapatkan bonus beberapa tempat lain seperti Pura Lingsar, Pura Batu Bolong, dan Taman Makam Loang Baloq.

Untuk urusan kebudayaan, masyarakat asli Lombok yang adalah suku Sasak masih sangat kental dengan pengaruh Hindu Bali. Konon kabarnya, Lombok pernah dikuasai oleh kerajaan Bali. Karena itu nggak heran, selama dalam perjalanan mengelilingi Lombok saya menemukan banyak sekali kemiripan dengan Bali, terutama atmosfer Hindu, mulai dari bentuk bangunan yang memiliki gapura, ritual penyembahan, dan pura-pura yang tersebar cukup banyak.

Selain lekat dengan atmosfer Hindu, di sebagian kawasan terutama di daerah Kota Santri, suasana Islami menggantikan atmosfer Hindu yang terasa kuat. Perjalanan di Lombok inipun menjadi sangat kaya.

Akhirnya saya tiba di Desa Sade.. :)
Akhirnya saya tiba di Desa Sade.. 🙂

Desa Sade dan Pernikahan yang Unik

Desa tradisional Sade (berada di Lombok Tengah di jalan raya Praya-Kuta) adalah sebuah desa tradisional yang sangat unik. Unik karena desa ini terikat oleh satu ikatan persaudaraan. Pernikahan mereka juga adalah pernikahan adat sesama saudara, tidak boleh dengan masyarakat luar.

Cara menikahnya pun unik, tidak boleh melamar karena itu justru dianggap sebagai penghinaan. Yang benar ada lari kawin dengan anak gadis yang disukai. Ada aturan lain juga yang berlaku di perkampungan yang masyarakatnya hidup dari pertanian dan menenun ini. Anak perempuan diperbolehkan memiliki pacar lebih dari satu, tidak dibatasi. Seberapa banyak pria yang jatuh hati padanya, maka si anak gadis bisa berpacaran dengan mereka. Tapi itu nggak pakai main belakang, Sob. Semuanya saling tahu. Jadi… ketika pas kunjungan kencan, pacar yang bertamu itu sampai bisa ngantri lho. Maksudnya jika pacar pertama datang berkencan dan kemudian pacar kedua datang, maka pacar pertama harus dengan lapang dada pamit pulang. Begitupun jika pacar ketiga datang maka pacar kedua harus segera pamit pulang. Ha-ha-ha… bisa kebayang gimana sakit hatinya kan ya…

Perkampungan Desa Sade
Perkampungan Desa Sade

Waktu bercerita-cerita dengan Amak Seni (Bapak Seni), tour guide lokal di Desa Sade, gadis yang paling cantik di kampung bisa diketahui dari banyaknya sabun (sabun mandi dong, masak sabun colek, etapi kenapa musti sabun mandi ya? –red) yang mereka terima saat hari besar atau istimewa dari pacar-pacarnya. Makin banyak sabun yang diterima biasanya berarti jumlah pacarnya banyak dong. He-he-he… Tentang jumlah sabun ini, saya bertemu dengan mbak-mbak penenun yang dulu pernah dapat 300 sabun dalam satu hari.

Tapi keunikan yang paling dikenal dari desa ini adalah tentang rumah tradisional mereka yang dibuat dari kotoran kerbau. Begitu informasi yang saya dapatkan. Faktanya, informasi awal yang saya dengar tersebut nggak sepenuhnya benar. Lantai mereka bukan dibangun dari kotoran kerbau atau sapi. Lantai rumah mereka terbuat dari tanah liat yang dipel dengan kotoran sapi dan kerbau untuk membuatnya menjadi keras, kuat, dan tahan air serta menjadikannya hangat. Anehnya sama sekali nggak meninggalkan bau lho, Sob.

Penenun Suku Sasak Desa Sade
Penenun Suku Sasak Desa Sade

Bagian terlucu dari semuanya, ah tolong izinkan saya bercerita bagian terlucu ini. Bagian yang kami berlima rekan seperjalanan nggak akan pernah melupakannya sampai kapanpun. Bagian itu adalah saat dimana Richard, teman saya, dengan sangat polosnya percaya hasutan akal bulus kami bahwa menjilat lantai yang dipel kotoran kerbau tersebut akan memberikan keberuntungan. Dan… iya… dia melakukannya sepenuh hati. Silahkan membayangkan sendiri momen mendebarkan kami menunggu membuat iya yakin, sampai kemudian ia menundukkan kepala dan dengan hikmat menjilat lantai tersebut. Oh… terberkatilah kau Richard. *ketawasetan*

Pura Batu Bolong dan Lingsar

Untuk keindahan kebudayaan lainnya, ada Pura Batu Bolong dan Pura Lingsar. Desa Suka Rara yang awalnya saya masukkan di dalam daftar justru tidak terlalu menarik minat saya. Pura Batu Bolong indah untuk menikmati senja dari atas bukit batu sembari melihat orang-orang khusyu sembahyang. Ada momen damai dalam diam senja dan debur ombak.

Pura Batu Bolong
Pura Batu Bolong

Nah kalau Pura Lingsar, pura ini cukup menarik menurut saya. Berada di Kecamatan Narmada, Lombok Barat, pura ini adalah pura tertua di Lombok. Di bagian depan pura ada 2 kolam ikan kembar yang ukurannya sama persis, melambangkan keadilan. Di pura ini juga ada banyak ritual menarik dan kepercayaan yang menurut saya sangat luar biasa.

Pura Lingsar dan cerita tentang keberuntungan
Pura Lingsar dan cerita tentang keberuntungan

Di pura ini kamu bisa melemparkan koin keberuntungan di kolam keberuntungan yang sudah disediakan. Ini tentunya kalau kamu yakin. Ada juga kumpulan batu yang disusun berjejer di antara patung dewa. Mitosnya kalau kamu berhasil menghitung tiga kali jumlah batu tersebut dan hasilnya sama, maka kamu adalah orang yang sukses di segala bidang. Saya juga melakukannya, 3 kali, dengan hasil yang sama, 37 batu. Amin… semoga itu benar. He-he-he…

Karang Bolong, pura dengan pemandangan ke laut lepas
Karang Bolong, pura dengan pemandangan ke laut lepas

The Beach

Untuk urusan pantai, tak usah ragukan lagi. Lombok memiliki sangattttttt…. banyak pantai-pantai yang indah. Jauh lebih indah dari Bali menurut saya. Selama beberapa hari di Lombok saya dan teman-teman mengunjungi banyak pantai-pantai yang indah.

Mulai dari sekadar duduk dan makan jagung di suatu senja sembari menikmati keindahan Pantai Senggigi dari atas penatapan, beradu tawar dengan anak-anak penjual aksesoris gelang tenun di Pantai Kuta Lombok, mengumpulkan pasir merica di Pantai Kuta Lombok dan tentu saja pasir merica Gili Trawangan, tertawa takjub dan berteriak-teriak kegirangan melihat biru dan ajaibnya keindahan Pantai Mawun, memotret dari atas biru dan lepasnya pandangan mata di Pantai Malimbu. Ah semuanya sangat luar biasa.

Mawun Beach dan birunya laut Lombok
Mawun Beach dan birunya laut Lombok

Di hari ketiga di Lombok, saya dan teman-teman ke Gili Trawangan. Sengaja memilih akhir pekan di sana karena kata teman ada kafe reggae yang menarik di sana. Untuk mengambil identitas yang berbeda dengan Bali, dan memang seharusnya begitu, sepertinya Lombok memilih musik reggae yang sangat identik dengan pantai. Pilihan ini justru membuat Lombok lebih menarik.

Pantai Malimbu, kalau ke Lombok singgahlah kemari
Pantai Malimbu, kalau ke Lombok singgahlah kemari

Tentang Gili Trawangan (ada dua Gili yang lain, Gili Meno dan Gili Air, oh ya Gili artinya pulau) saya awalnya tidak terlalu suka dengan pulau ini. Terlalu crowded menurut saya. Pun setelah saya berjalan ke satu sisi pulau. Iya… awalnya saya bilang begitu sebelum besok paginya saya bersepeda mengelilingi pulau dan menikmati pagi yang benar-benar menyenangkan. Menikmati keheningan dan ketenangan di bagian lain pulau. Udara pagi, matahari terbit dan jalanan yang kami lalu kemarin sore saat sedang mengejar matahari terbit. Saya benar-benar sudah jatuh cinta pada Gili Trawangan.

Gili Trawangan Beach, keindahan mana lagi yang kau dustakan?
Gili Trawangan Beach, keindahan mana lagi yang kau dustakan?

Desain jalanan pulau ini nyaman untuk bersepeda, tanahnya datar, orang-orangnya ramah, dan kamu nggak usah peduli dengan apa yang orang lain pikirkan karena tiap-tiap orang nggak sempat untuk memikirkan itu. tiap-tiap orang menikmati surganya sendiri di pulau ini. Jadi… wajar saja kalau tempat ini ramai oleh turis-turis muda, catet: muda, ada sangat banyak di pulau ini. Mereka juga gaya, tampan dan cantik. So far… saya benar-benar menyukai pantai-pantai di Lombok. Kapan-kapan saya bakal berkunjung lagi ke sini. Lain kali mungkin bareng pacar. Hi-hi-hi…

Fire Show di Gili Trawangan
Fire Show di Gili Trawangan

What to do:

Banyak yang bisa kamu lakukan di Lombok. Buat pencinta kuliner, kamu bisa coba nikmati semua makanan khas Lombok yang pedasnya super-duper. Ada ayam taliwang, ada plecing kangkung, beberuk, dan masih banyak lagi yang super. Nah, kalau kamu penyuka pantai dan bawah laut kamu bisa diving atau snorkeling. Keliling pulau di Gili Trawangan juga asyik sambil bersepeda, berburu sunset untuk sekadar menikmatinya atau untuk memotret.

Sepasang anak muda sedang menikmati sunset. Momen romantis yang bikin meleleh
Sepasang anak muda sedang menikmati sunset. Momen romantis yang bikin meleleh

How to get there:

Untuk mencapai Lombok kamu bisa melalui perjalanan udara langsung ke Lombok atau kalau mau mencoba jalur laut, dari Bali kamu bisa naik kapal laut. Sensasinya berbeda lho. Seperti saya yang saat pulang harus menunggu selama beberapa jam sebelum kapal berlabuh karena cuaca buruk. Seram-seram seru. He-he-he…

Best time to visit:

Bulan yang paling seru ngunjungin Lombok kalau menurut saya jangan di musim liburan, apalagi kalau ke Gili Trawangan, bisa crowded banget. Untuk cuaca yang baik sebenarnya bulan Juni-Juli adalah waktu kunjungan terbaik.

Gili Trawangan: Pulau Internasional yang Ramah

Teks & Foto oleh Yulin Masdakaty @youleeneith

Sejujurnya, keindahan pulau Bali jadi terasa tidak ada apa-apanya jika telah menginjakkan kaki di gili (pulau) ini.

Gili Trawangan, dimana biru laut adalah pemandangan sehari-hari
Gili Trawangan, dimana biru laut adalah pemandangan sehari-hari

GILI adalah bahasa daerah Lombok untuk menyebut pulau. Dan sebenarnya, ada banyak sekali gili-gili yang tersebar di sekeliling pulau besar ini. Tapi yang paling terkenal adalah tiga gili yang berada di wilayah Lombok Utara yaitu Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Dan pada akhirnya, yang membuat saya terhipnotis untuk mendatangi tempat ini adalah setelah menonton film Arisan! 2 yang populer beberapa tahun lalu—seperti yang kalian tahu, Gili Trawangan adalah salah satu set lokasi syutingnya. Banyaknya pantai-pantai menawan (dan katanya masih asli!) yang dipamerkan di film ini seolah semakin menarik liur saya yang memang sudah sangat ngiler ingin ke Lombok sejak dulu.

197781_10200517408449511_421515024_n
Pantai dengan pasir merica yang terkenal itu…

Begitu tiba di Denpasar, Bali, saya dan seorang teman backpacker memang sengaja langsung melanjutkan perjalanan menuju Lombok pada hari itu juga. Tujuan utama kami memang pulau ini. Jika kebanyakan wisatawan akan langsung berfoto narsis di depan papan “Selamat Datang” di depan dermaga Gili Trawangan, atau setidaknya segera mencari penginapan begitu tiba di sini, saya justru memutuskan untuk duduk nyantai-nyantai dulu di atas pasir, di depan pantai, memandangi daratan pulau Lombok yang tampak di kejauhan. Hitung-hitung “pemanasan” sebelum terkena culture shock mengingat pulau ini adalah salah satu tempat pesta paling ramai yang didatangi bule-bule.

 So, welcome to paradise!

Welcome to Gili Trawangan
Welcome to Gili Trawangan

Gili Trawangan adalah sebuah pulau kecil seluas kira-kira 360 hektar sehingga bisa dikelilingi tidak sampai satu hari. Tidak ada transportasi mesin apapun di pulau ini, tidak ada motor, apalagi mobil. Juga tidak ada anjing-anjing liar yang berkeliaran di jalanan seperti di Bali. Tempatnya benar-benar bebas polusi. Kita bisa menyewa sepeda untuk berkeliling pulau, tarifnya antara 40 ribu sampai 50 ribu per hari. Kalau mau santai, bisa naik cidomo (sejenis delman) dengan tarif sekitar 125 ribu sekali keliling.

Sepeda, transportasi ramah lingkungan yang bikin berkeliling di Gili Trawangan lebih menyenangkan
Sepeda, transportasi ramah lingkungan yang bikin berkeliling di Gili Trawangan lebih menyenangkan

Kalau punya budget lebih dan ingin merasakan sensasi ala koboi, bisa menyewa kuda untuk ditunggangi sendiri, tarifnya sekitar 400 ribuan sekali kelilling. Kalau saya, naiksepeda saja sudah cukup. Selain murah, akan lebih menyehatkan tentu saja.

Naik cidomo atau kuda adalah pilihan bagus
Naik cidomo atau kuda adalah pilihan bagus

Selain bebas polusi, Gili Trawangan juga bebas dari kapal nelayan yang ingin menangkap ikan. Kapal-kapal yang menepi di sekitar pantai hanya digunakan untuk mengantar-jemput para wisatawan. Belakangan saya tau, itu adalah salah satu “peraturan” yang dibuat di gili-gili sekitar Lombok untuk menjaga keaslian habitatnya. Jadi kalau mau menangkap ikan, para nelayan harus berlayar ke tengah laut, jauh dari wilayah lepas pantai.

Panorama laut dan pantainya sudahlah ya. Tidak usah ditanya lagi. Saya menemukan banyak sekali pantai-pantai dengan pemandangan menakjubkan terutama di bagian utara – timur pulau. Pasir putih yang lembut (kadang kita juga bisa menemui pasir berwarna pink), air laut yang benar-benar sangat biru seperti di-photoshopped dan pecahan karang-karang kecil yang unik tergerus dibawa ombak ke bibir pantai adalah privilege yang memanjakan saya untuk terus main berlama-lama di pinggir pantai, walaupun sinar  matahari juga semakin terik memanggang kulit.

Sunset, moment yang ditunggu
Sunset, moment yang ditunggu

Di sisi barat pulau, kondisinya agak kontras. Lautan pasir menghampar di sepanjang jalan sehingga mengharuskan saya untuk turun dari sepeda dan membawanya serta. Beberapa bule juga terpaksa melakukan hal serupa meskipun awalnya mereka mungkin pura-pura fit dengan terus menggowes sepeda supaya terkesan macho. Ha-ha-ha… Tapi pasir yang alot akhirnya membuat mereka menyerah. Kondisi tanah di sisi ini memang kering, abrasi terlihat di hampir sepanjang pesisir pantainya.

Fasilitas wisata yang sudah mumpuni
Fasilitas wisata yang sudah mumpuni

Gili Trawangan juga memiliki beberapa spot yang bisa dijadikan tempat snorkeling. Di dekat spot ini biasanya terdapat pos-pos penyewaan alat-alat snorkel dan life vest. Kalau mau paket “murah meriah” kita bisa ikut tur snorkeling. Hanya membayar sekitar Rp. 100 ribu kita sudah bisa snorkeling dan mengelilingi tiga gili, termasuk Gili Meno dan Gili Air.

196522_4187557019004_661368130_n
What a beautiful landscape

 It’s totally a friendly international island

Tak salah rasanya jika menyebut Gili Trawangan juga sebagai pulau internasional. Alasannya, sebagian besar wisatawan yang datang ke tempat ini memang adalah bule-bule, saya bisa menghitung dengan jari wisatawan Indonesia yang kebetulan sekali-dua kali saya temui ketika berpapasan di jalan. Sementara penduduk lokalnya yang memang berjumlah tidak terlalu banyak bekerja sebagai pengelola tourism services, itu juga beberapa usahanya (lagi-lagi) dimiliki oleh ekspatriat asal Eropa, terutama yang berhubungan dengan diving dan snorkeling centre. Luar biasa banyaknya bule di tempat ini sempat membuat saya merasa asing, seperti merasa tamu di negara sendiri.

Dian Home Stay, tempat saya menginap selama di Gili Trawangan
Dian Home Stay, tempat saya menginap selama di Gili Trawangan

Tapi meski begitu, orang-orang di sini sangat ramah. Setiap bertemu dengan orang lokalnya, saya selalu disapa dengan ucapan “Selamat pagi”, “Selamat sore” atau “Selamat malam” meskipun saya cuma sekedar lewat bersepeda saja. Seorang pria lokal yang tak saya kenal malah menyapa lucu, “Nggak bosen mba sepedaan terus?” katanya ketika saya lewat. Ha-ha-ha… Wah, dia nandain saya. Tak jarang mereka mengajak ngobrol ketika saya sedang nyantai sendirian. Kebanyakan sama kaget waktu saya bilang berasal dari Medan. “Wah, jauh sekali ya! Kirain dari Jakarta,” rata-rata berkata begitu. Keramahan mereka adalah faktor lain yang membuat saya menyenangi tempat ini.

Party, party, party!

Malam menjelang adalah waktu bagi Gili Trawangan menggeliat. Banyak bar dan restoran yang terlihat semakin hidup ketika senja datang, membuat suasana malam semakin semarak dengan lampu-lampunya yang meriah. FYI, Gili Trawangan memang memiliki party yang lebih banyak dibandingkan Gili Meno dan Gili Air. Saking banyaknya, acara-acara party ini harus dirotasi setiap malam di tempat berbeda.

Garis pantai yang panjang
Garis pantai yang panjang

Pasar Seni adalah lokasi dimana party di seluruh Gili Trawangan berpusat. Pasar Seni ini berupa jalanan sepanjang 200 meter yang dipenuhi dengan kafe/bar/pertokoan. Uniknya, masing-masing kafe/bar/pertokoan ini saling memutar musik yang berbeda dengan volume lumayan maksimal, walaupun kebanyakan yang diputar adalah reggae. Sepintas, suasananya mirip seperti Legian, Bali tapi dalam versi yang lebih sopan dan teratur.

Nyobain magic mushroom, berani?
Nyobain magic mushroom, berani?

Ada satu pasar di depan dermaga dan jalan utama yang menjajal berbagai makanan dan jajanan, mulai dari makanan internasional sampai yang khas tradisional ala Lombok. Karena lidah saya belum terbiasa dengan rasa-rasa aneh dari makanan internasional maka pasar ini adalah langganan saya ketika makan malam. Tapi, bagi saya, tetap saja kuliner apapun di sini rasanya belum ada yang mengalahkan culinary taste di Medan. Bir juga merupakan minuman utama di sini. Kebanyakan bule yang saya lihat justru minum bir ketika habis makan, bukan air putih. Seorang teman bule asal Australia bahkan tergila-gila sama Bir Bintang yang memang banyak dijual di Gili Trawangan. “This taste is really amazing. I like Binteng. Do you want Binteng?” katanya berkali-kali dan berulang-ulang sampai saya harus meneriakinya supaya berhenti. Ha-ha-ha… Yah, Gili Trawangan and its whole package will always be memorable, for me.

Lumba-lumba? Bukan... ini para turis yang snorkeling.
Lumba-lumba? Bukan… ini para turis yang snorkeling.

Getting There

Dari Medan bisa mengambil penerbangan menuju Bali. Dari Bali, kamu bisa menempuh banyak alternatif jika ingin menuju tempat ini, dengan fast-boat yang cukup merogoh isi kantong tapi cepat, dengan pesawat atau dengan pilihan banyak backpacker: kapal ferry yang ekonomis.

What to Note

▪ Meskipun Gili Trawangan adalah destinasi wisata yang cenderung mahal dalam segala hal, tapi masih ada homestay berbiaya murah di sini jika kamu mau mengeksplor masuk ke dalam gang-gang kecilnya.

▪ Makanan khas Lombok dan Gili Trawangan yang wajib dicoba adalah Sasak dan Plecing Kangkung. Tapi, siapkan lidahmu super ekstra. Pedasnya masakan Padang terasa tidak apa-apanya dibandingkan ini. LoL.

▪ Waktu terbaik untuk datang ke Gili Trawangan adalah sekitar April – Juli. Selebihnya, silahkan berhadapan dengan musim ombak. He-he-he…

Banyak kegiatan seru yang bisa kamu lakukan di sini
Banyak kegiatan seru yang bisa kamu lakukan di sini

Budget

▪ Transportasi Medan – Bali – Lombok (pergi-pulang): maksimal Rp. 2.000.000. Silakan hunting dan booking tiket pesawat jauh-jauh hari untuk mendapatkan harga promo yang lebih murah.

▪ Penginapan (kelas homestay untuk backpacker): Rp. 150.000 – Rp. 200.000

The Contributor

Yulin Masdakaty @youleeneith

Saya dan abang pengendara Cidomo
Saya dan abang pengendara Cidomo

Seorang pejalan yang menyukai fotografi, setelah lepas dari pekerjaan rutin sebagai editor di sebuah majalah gaya hidup di kota Medan, sekarang ia memutuskan sebagai freelance writer. Bisa kontak dia di akun twitternya.