Menuju Jogja, Menuju Pulang

Teks & Photo oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Tak perlu lahir dan besar di Jogja untuk mendapatkan sensasi ‘pulang’. Setiap orang pasti berbeda dalam mengartikan pulang itu sendiri. Tetapi satu hal, ada sesuatu tentang Jogja yang membuat saya ingin kembali padanya.

Saya masih ingat betul perjalanan dan ide gila yang akhirnya membawa saya kembali ke kota pelajar ini. Waktu itu, saya bersama seorang teman yang kebetulan belum pernah berkeliling Jawa ingin melakukan express traveling, dimana kota yang akan kami sambangi salah satunya adalah Jogja. Mendekati perayaan Waisak, antusiasme orang-orang meningkat untuk mengunjungi kota ini. Ya, melalui Jogja, kita bisa menuju Borobudur yang berada di Magelang.

NB : Tolong jangan bilang kalau kalian masih menganggap Candi Borobudur yang tersohor itu berada di Jogja ya..

Jalan-jalan sore di kawasan wajib senyum. Malioboro.
Jalan-jalan sore di kawasan wajib senyum. Malioboro.

Bertolak dari kota Bandung pada pagi buta, kami menumpangi kereta dan memakan waktu kurang lebih 9 jam perjalanan dan tiba pada sore hari. Selama berada di kereta, hati saya merasa adem karena sebentar lagi saya akan pulang. Iya, pulang ke Jogja. Pulang kepada keramahan dan kehangatan orang-orangnya. Ketika kembali lagi ke kota ini, senang rasanya mendapati tidak ada yang berubah. Setidaknya, tidak ada penambahan mall yang menjulang tinggi dan hampir mencakar langit.

Tanpa mengenal kata lelah, setibanya kami di stasiun Tugu, kaki langsung melangkah ke tempat dimana kita bisa menemukan ikon kota Jogja. Ya, tentu saja Malioboro. Setiap yang datang kesini selalu menyempatkan diri ke kawasan wajib senyum ini. Pedagang dan pembeli semua tumpah ruah di sepanjang jalan ini. Di sepanjang jalan juga, kita akan sering berpapasan dengan kereta kuda yang parkir atau bahkan lalu lalang di jalanan. Pemandangan seperti ini sulit ditemukan di Ibukota bukan?

Pasar yang tidak boleh dilewatkan kalau sedang main ke Malioboro. Pasar Beringharjo.
Pasar yang tidak boleh dilewatkan kalau sedang main ke Malioboro. Pasar Beringharjo.

Saya setuju dengan predikat kota pelajar yang diberikan kepada Jogja. Saya pikir, semua orang disini dilatih untuk menjadi pelajar yang ulet dan berjiwa seni tinggi. Belajar untuk membuat setiap yang datang betah dan hendak kembali lagi seperti saya.

Kedatangan kami tepat satu hari sebelum perayaan Waisak digelar. Kebetulan, waktu itu libur panjang dan semua orang dari segala penjuru daerah memadati Jogja. Niat awal perjalanan ini kami lalukan sebenarnya adalah untuk melihat dan mengikuti prosesi Waisak di pelataran candi Borobudur. Sialnya, cuaca menghentikan. Hujan serta angin deras menyambut kami malam itu. Teman saya mengatakan bahwa tidak apa kami batal ke Borobudur. Toh itu perayaan keagamaan, bukan untuk wisatawan. Saya pun mengiyakannya.

Batalnya perjalanan ke Magelang membuat kami berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh di Jogja. House of Raminten. Tempat ini sangat familiar baik dikalangan setempat maupun wisatawan. Pasalnya, selain menjual oleh-oleh khas kota Gudeg, tempat ini memiliki café yang berada di lantai 2 dan selalu mementaskan kabaret setiap Jum’at dan Sabtu. Kami memutuskan untuk makan malam ditempat itu sambil menunggu pertunjukan kabaret yang akan dimulai pada pukul 8 malam.

Salah satu menu yang segar di House of Raminten.
Salah satu menu yang segar di House of Raminten.

Pukul 8 tepat lampu-lampu mulai berubah dari terang menjadi gelap. Kemudian lampu sorot diarahkan kepanggung dan menyinari sosok manusia yang sedang mengenakan gaun hitam. Inilah pertunjukan cabaret itu. Pertunjukan yang diisi oleh sekelompok waria yang bertingkah dengan kocak hingga bisa mengocok isi perut kita. Saya tak bisa berhenti tertawa melihat pertunjukan lips sing yang mereka pertunjukkan pada malam itu. Saya rasa, siapapun yang datang ke Jogja pada akhir pekan wajib melihat pertunjukan ini.

Semacam Alda Risma ala House of Raminten.
Semacam Alda Risma ala House of Raminten.

Nicki Minaj is in the house yooo...
Nicki Minaj is in the house yooo…

Tepat sehari setelah perayaan Waisak digelar di Borobudur, kami memutuskan untuk berangkat menuju Magelang untuk melengkapi list perjalanan. Menuju candi Buddha terbesar, candi Borobudur. Menggunakan taksi sewaan seharga Rp.450.000,-, kami bertolak menuju Magelang. Sengaja kami memilih taksi karena keterbatasan waktu. Sebelumnya, kami juga sempat mengunjungi candi Prambanan. Candi hindu terbesar yang menjadi saksi perkembangan hindu di Indonesia. Wisata ke Jawa, khususnya Jogja dan sekitarnya, adalah wisata candi. Merugilah kita, jika bagian yang terbesarnya tidak kita kunjungi.

Halama belakang Prambanan emang fotoable banget gaes.
Halaman belakang Prambanan emang fotoable banget gaes.

Borobudur, Magelang atau Jogja?

Candi Borobudur adalah mahakarya yang dibangun pada masa Dinasti Wangsa Syailendra. Dibangun pada tahun yang diperkirakan 750 – 800 Masehi, candi Borobudur sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Borobudur berada 15 km di selatan Magelang atau 40 km dari Jogja. Pada tahun 1991, UNESCO mengukuhkannya sebagai salah satu situs warisan dunia.

Wisatawan yang sedang berfoto diantara stupa Borobudur.
Wisatawan yang sedang berfoto diantara stupa Borobudur.

Salah satu dari ratusan ukiran di dinding candi Borobudur yang agung.
Salah satu dari ratusan ukiran di dinding candi Borobudur yang agung.

Borobudur berarti ‘biara di perbukitan’. Menurut beberapa informasi, kata Borobudur berasal dari bukti tertulis yang ditulis oleh Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa Sir Thomas Stamford Raffles. Kata Borobudur sendiri berarti biara di perbukitan. Tak heran jika dari dulu hingga sekarang, Candi ini digunakan sebagai tempat ibadah bagi agama Buddha. Setiap tahun menjelang Waisak, tempat ini selalu dipadati oleh umat Buddha yang akan mengikuti perayaan keagamaan. Tidak hanya umat Buddha, beberapa wisatawan juga akan memadati tempat ini untuk melihat prosesi perayaan Waisak yang dipenuhi oleh biksu dan umat Buddha.

Pemandangan dari salah satu pintu keluar Candi Borobudur.
Pemandangan dari salah satu pintu keluar Candi Borobudur.

Sekembalinya dari Magelang, saya bersama teman seperjalanan menghabiskan waktu beberapa hari lagi di Jogja. Rasanya 3 hari tidak cukup untuk menuntaskan rindu. Jogja bukan hanya tentang angkringan murah, seniman ukir, batik tulis, lebih dari itu keramahan dan kehangatan orang-orang yang menyambut membuat saya merasakan pulang.

Candi Mendut. Salah satu candi yang akan kita jumpai ketika menuju ke Candi Borobudur.
Candi Mendut. Salah satu candi yang akan kita jumpai ketika menuju ke Candi Borobudur.

Kalau kembali ke Jogja, pengin duduk-duduk santai di angkringan sambil mendengarkan para pengamen mengumandangkan lagu Kla Project. Nikmati bersama, suasana Jogja.

How to get there

Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk bisa sampai di Yogyakarta. Dari Medan kita bisa menggunakan pesawat langsung kesana atau transit di Jakarta. Bisa pula dengan menempuh jalur darat kalau kebetulan bertolak dari Jakarta atau Bandung. Ambillah kereta malam atau kereta pagi.

What to do

Menilik pengalaman 2 tahun lalu ketika saya terakhir berkunjung kesana sewaktu Waisak, usahakan pergi disaat low season. High season membuat Jogja terlalu ramai. Dan jika tujuannya ingin mengikuti Waisak di Borobudur, Magelang, mohon jangan sampai mengganggu ritual keagaamannya. Bagaimanapun kita adalah orang yang menjunjung tinggi toleransi beragama. Utamakan kepentingan yang memebutuhkan yaitu umat Buddha yang mengikuti perayaan Waisak. Dan jangan lewatkan kabaret show di House of Raminten setiap Jum’at dan Sabtu. Worth to see!

Pasar Kaget dan Es Campur Kalimantan di Binjai

Teks dan Foto oleh @ekadalanta

Mie Aceh di Pasar Kaget
Mie Aceh di Pasar Kaget

Pekerjaan saya yang sekarang memberikan saya kesempatan sering-sering keluar kota. Saya menyebutnya sebagai workcation. Karena sambil bekerja saya berjalan ke tempat baru dan melihat hal-hal baru yang belum saya lihat ke sana atau hal yang tak baru tapi saya ingin kembali melihatnya. Sebuah bonus yang memang pada akhirnya menjadi biasa apalagi kalau perjalanan dinas ke sana suatu tempat yang sama sudah kesekian kalinya. He-he-he…

Binjai juga bukan merupakan kota yang baru buat saya. Tapi di perjalanan dinas terakhir saya coba menikmati kembali berjalan-jalan di kota ini dan mencicipi kulinernya, yang sebenarnya sudah pernah saya coba beberapa kali. Ada beberapa tempat yang menarik perhatian jika ingin wisata kuliner di kota ini.

Yang pertama adalah Tahu Bolak-balik. Tahu goreng enak dengan dua sisi sehingga memberi kesan bolak-balik yang diisi dengan bakso enak. Yang paling rame dikunjungi adalah yang ada di pinggiran sungai. Namanya Pondok Surya. Yang kedua yang tidak akan pernah saya lewatkan kalau sedang mampir di Binjai adalah Es Kalimantan. Di kedai es yang berada di Jalan Sudirman ini, tidak jauh dari Vihara Setia Budha, yang ditawarkan adalah es campur dan es buah. Tapi favorit saya adalah es campurnya. Rasanya sederhana. Segar sekaligus nikmat karena kesederhanaannya. Harga per porsinya Rp. 7000.

Es campur Kalimantan yang rasanya sederhana.
Es campur Kalimantan yang rasanya sederhana.

Suasana kedai ini terasa kedai tua. Kedai kopi Tionghoa atau kedai es Tionghoa zaman dulu. Memang katanya kedai ini adalah usaha keluarga yang sudah hampir 50 tahun. Pemiliknya dulu Alm. Law Aseng yang memang berasal dari Kalimantan, seperti nama kedai es ini. Saat ini usaha ini diteruskan oleh generasi selanjutnya. Biasanya ada 2-3 orang Cici dan Ai yang menjual dan melayani para pembeli. Di kedai ini, selain minum es campur dan es buahnya, kalau sedang lapar cobain juga sate yang dijual tepat di depannya. Rasanya enak. Nagasarinya juga, tidak terlalu manis dan pas. Kalau agar-agarnya, menurut saya biasa saja. He-he-he….

Pasar Kaget dengan banyak variasi makanan.
Pasar Kaget dengan banyak variasi makanan.

Satu lagi yang menarik perhatian karena memang lokasinya yang persis di tengah kota dan berada di Jalan Ahmad Yani, di jalan sepanjang tidak kurang dari 300 meter, Pasar Kaget Binjai adalah pusat jajanan rakyat, pujasera yang jadi alternatif saya dan kawan-kawan tiap kali hang out malam di Binjai. Pasar Kaget dimulai dari sore hari hingga subuh. Beberapa buka sampai tengah malam saja, beberapa buka hingga subuh. Jajanan yang dijual di tempat ini juga sangat bervariasi. Dari mie rebus, nasi goreng, martabak, nasi padang, mie goreng, aneka jus, teh tarik, dan aneka nasi untuk makan berat, nasi soto, nasi sup, dll.

Mie rebus di Pasar Kaget
Mie rebus di Pasar Kaget

15 Reasons Why You Should Go To Tangkahan!!

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

In the beauty of nature lies the spirit of hope. ~Un Known

_IMG_0515

Dalam keindahan alam hutan tropis ada jutaan kehidupan termasuk semangat dan gairah baru yang lahir sehabis menikmati liburan di sana. Tangkahan, sebuah destinasi wisata menarik yang berada di Sumatera Utara adalah salah satu keindahan alam hutan tropis yang luar biasa. Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat, dearah ekowisata ini adalah daerah ekowisata yang unik. Dikelola oleh masyarakat yang dulunya perambah hutan menjadi masyarakat yang sekarang aktif terlibat dalam pelestarian lingkungan dan menjaga daerah ekowisata Tangkahan. So, why you should go to Tangkahan?

Jembatan gantung yang menghubungkan kita ke guest house yang tenang
Jembatan gantung yang menghubungkan kita ke guest house yang tenang
Elephants Troop
Elephants Troop

1. Ecotourism

_IMG_0445
Sinar matahari yang menembus dedaunan…

Iya… berwisata di tempat ini kita bisa menikmati sebuah perjalanan tanpa was-was pada kerusakan fatal terhadap lingkungan. Masyarakat pengelolanya sudah memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Beberapa kali ke tempat ini, kami menyaksikan sendiri masyarakat yang bertugas bergantian mengumpulkan sampah-sampah yang di sekitaran sungai. Bentuk-bentuk perambahan hutan juga sudah sangat dihindarkan.

Living in the moment...
Living in the moment…
The sneaking river
The sneaking river

2. Clean Water

Di kelilingi oleh hutan tropis dengan aneka tetumbuhan membuat serapan air di sekitar hutan ini menjadi baik. Aliran air sungai yang jernih dan sejuk akan sangat memanjakan dan menggoda untuk bermain air. Berenang-renang sambil menikmati suara alam adalah sebuah kemewahan ketenangan jiwa. Air terjun-air terjun kecil yang ada di beberapa titik membuat tempat ini semakin menarik.

Air terjun yang mengalir cantik di dalam hutan
Air terjun yang mengalir cantik di dalam hutan

 

3. Natural Forest

Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ditambah dengan kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga lingkungan membuat hutan yang ada di kawasan ini terjaga dengan baik. Tipikal hutan tropis yang masih terjaga baik bisa kita temukan di sini.

_IMG_0461
Ranting pepohonan hijau
Selara-selara dan tanah lembab yang nyaman bagi aneka hewan tropis
Selara-selara dan tanah lembab yang nyaman bagi aneka hewan tropis

 

Semua yang dari alam kembali kepada alam
Semua yang dari alam kembali kepada alam

 

4. Fresh Air

Di tempat ini bebaskan paru-paru menghirup udara yang segar dan bersih. Udara yang dingin masuk melalui hidung bisa kita rasakan di pagi hari. Pokoknya segar sekali….

Langit yang biru, pepohonan hijau, dan udara segar
Langit yang biru, pepohonan hijau, dan udara segar
Dimana-mana hijau... hijau yang cantik dan teduh
Dimana-mana hijau… hijau yang cantik dan teduh

 

5. Jungle Trekking

Berjalan menyusuri hutan tropis menjadi paket wisata yang ditawarkan oleh para local tourist guide di tempat ini. Tidak akan rugi karena dengan budget sekitar Rp. 250.000 (harga yang berlaku untuk turis lokal) kita sudah mendapatkan paket ikutan dalam kegiatan memandikan gajah di pagi hari, trekking ke dalam hutan selama dua jam, menikmati pemandangan cantik di sungai kupu-kupu, makan siang ala-ala jungle, tubbing dan bermain air di Air Terjun Gelugur. Semuanya sudah dalam satu paket. Untuk bisa menikmati semua paket tersebut, sebaiknya kegiatan dimulaikan dari pagi hari.

Hutan yang 'gemuk'
Hutan yang ‘gemuk’
Bumi, air, semesta, dan kita...
Bumi, air, semesta, dan kita…

6. Keramahan Guide dan Masyarakat Lokalnya

Saya sangat nyaman dengan pemandu wisata di tempat ini yang sangat ramah dan menghormati tiap wisatawan yang datang. Bahkan masyarakat lokalnya juga ramah dan tak pelit memberikan senyum. Keramahan yang sungguh memberikan kenyamanan. Tidak di semua tempat wisata saya menemukan keramahan seperti ini. Tutur bahasa mereka juga lembut dan no tipu-tipu… He-he-he…

Saya, Andi, Vindya, dan dua pemandu lokal (Mapin dan Jempol) sehabis tubbing dan menikmati buah-buahan dari perkampungan yang kami lewati dalam perjalanan kembali ke penginapan... Oh iya yang motoin ini Kak Windy... :D
Saya, Andi, Vindya, dan dua pemandu lokal (Mapin dan Jempol) sehabis tubbing dan menikmati buah-buahan dari perkampungan yang kami lewati dalam perjalanan kembali ke penginapan… Oh iya yang motoin ini Kak Windy… 😀

 

7. Jauh dari Berisik

Siapa bilang di tempat cantik seperti ini tidak boleh hanya ingin bermalas-malasan dan duduk santai? Tapi sebaiknya itu dilakukan kalau kamu sudah pernah menyusuri keindahan hutannya dan melakukan berbagai aktivitas menarik lainnya di tempat ini. Sayang dong kalau sudah ke Tangkahan tapi cuma untuk tidur saja. He-he-he….

The sounds of nature...
The sounds of nature…

Nah, untuk beristirahat dan bersantai serta jauh dari keberisikan, tempat ini sangat nyaman. Jauh ke dalam perkampungan di pinggir hutan dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam dari kota Medan, dengan jalanan yang juga tidak terlalu mulus untuk di akses, ketenangan setelah tiba rasanya sangat membayar lunas perjalanan.

 

8. Tidak Mahal

Mega Inn, tempat kami menginap
Mega Inn, tempat kami menginap

Liburan ke tempat ini cenderung tidak mahal. Coba saya paparkan biaya yang kira-kira akan dikeluarkan bila berlibur ke tempat ini. Bila menumpang kendaraan umum Pembangunan Semesta yang dimulai dari Pinang Baris atau Kampung Lalang, ongkos yang dikeluarkan untuk per-orangnya Rp. 25.000. Setibanya di Tangkahan, akan dikenakan biaya Rp. 5000 untuk perawatan jembatan gantung. Biaya penginapan per harinya Rp. 80.000-Rp. 100.000 yang bisa di-sharing berdua. Untuk biaya makan, pintar-pintarlah mengatur sehemat mungkin, kan udah besar. He-he-he… Tarolah budget sekali makan Rp. 40.000. Untuk turis lokal, memandikan gajah, trekking dua jam ke dalam hutan, singgah di Sungai Kupu-kupu, makan siang, menikmati Hot Spring di sungai, melihat air terjun kecil, tubbing, dan singgah ke Air Terjun Gelugur biaya per orangnya sekitar Rp. 250.000. Jadi bila menginap di Tangkahan untuk 3 hari 2 malam, budget per orangnya sekitar Rp. 500.000. Worth it banget dong dengan semua fasilitas dan aktivitas yang udah didapat…

9. Aneka Tumbuhan dan Hewan Tropis yang Unik

Trekking-lah ke  dalam hutan dan silahkan takjub dengan berbagai hewan dan aneka tumbuhan serta buah-buahan unik di dalam hutan. Kekayaan alam yang pasti juga sangat memperkaya jiwa.

Kera ekor panjang yang melompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lain
Kera ekor panjang yang melompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lain
Bunga cantik yang menarik perhatian
Bunga cantik yang menarik perhatian
Buah rambe, sebangsa buah duku dan langsat.
Buah rambe, sebangsa buah duku dan langsat.

 

Pakis-pakisan (mungkin)
Pakis-pakisan (mungkin)

 

This is beautiful? Indeed!
This is beautiful? Indeed!
Jamur di batang pohon
Jamur di batang pohon

 

Buah-buahan hutan, rasanya pahit sepat dengan sedikit rasa asam.
Buah-buahan hutan, rasanya pahit sepat dengan sedikit rasa asam.

 

10. Elephant Washing

Selain hutannya yang kaya, gajah adalah daya tarik terbesar dari Tangkahan. Konservasi gajah yang dilakukan di tempat ini membuat namanya tersohor. Seperti kita ketahui, gajah adalah satwa langka yang dilindungi. Di Tangkahan, paket memandikan gajah adalah paket wisata yang paling digandrungi. Tak pernah sepi dan selalu ramai oleh puluhan wisatawan asing dan lokal (terutama asing). Jadwal memandikan gajah selalu di pagi dan sore hari. Di pagi hari sekitar jam 9 dan sore hari sekitar jam 3. Tanyakanlah informasinya kepada guide untuk memastikan jadwalnya. Harga untuk turis lokal dan asing berbeda lho. Rp. 50.000 untuk turis lokal dan Rp. 100.000 untuk turis asing. Harganya ini sudah ditetapkan menjadi harga paket wisata yang tidak bisa dimain-mainkan oleh para pemandu wisata di tempat ini.

Elephant washing...
Elephant washing…

 

Perkenalkan... Inilah eek gajah. Ehehehe
Perkenalkan… Inilah eek gajah. Ehehehe

 

Habis mandiin gajah, giliran  wisatawan yang dimandiin gajah. Seru....
Habis mandiin gajah, giliran wisatawan yang dimandiin gajah. Seru….

Kissing with elephant
Kissing with elephant

11. Elephant Trekking

Selain aktivitas memandikan gajah, kamu bisa juga trekking dengan gajah ke dalam hutan. Di tempat ini gajah diajak dan digunakan sebagai tim patroli hutan Tangkahan. Jadi sembari berjalan-jalan bersama gajah kamu bisa menikmati hutan hujan Tangkahan. Harga paket ini sekitar Rp. 650.000 untuk turis asing dan Rp. 550.000-Rp. 600.000 untuk turis lokal. Lamanya trekking ke dalam hutan sekitar 3 jam.

Saya bahagia menemukan mata bahagia gajah-gajah di tempat ini.
Saya bahagia menemukan mata bahagia gajah-gajah di tempat ini.

 

Persaudaraan gajah
Persaudaraan gajah

 

12. Tubbing

Menyusuri aliran sungai sambil duduk santai dengan pantat menempel pada ban-ban bekas sementara kaki menjuntai menekuk menyentuh air yang dingin, mata menegadah menatap langit yang jernih, udara segar, dan punggung terkena air dingin. Kalian pasti bisa membayangkan kenikmatan bersantai seperti ini.  Menyusuri Sei Buluh, kita terbawa arus… Bersama pemandu lokal yang berpengalaman, kegiatan ini dipastikan aman, bahkan untuk yang tidak terlalu pandai berenang.

Kami terbawa arus dan menikmati duduk santai di atas ban bekas yang sudah dirajut menjadi perahu.
Kami terbawa arus dan menikmati duduk santai di atas ban bekas yang sudah dirajut menjadi perahu. Foto selfie ini…

13. Pantai Kupu-kupu

Ratusan kupu-kupu? Iya… ratusan kupu-kupu berterbangan di pinggiran sungai ini. Tapi itu kalau kamu beruntung. Tidak selalu alias musiman. Katanya sih sekitar bulan Januari-Februari yang paling ramai kupu-kupu. Karena alasan itulah, tempat ini dinamai Sungai Kupu-kupu. Sayangnya beberapa kali ke sini saya belum pernah menemukan kupu-kupu sangat banyak, sebanyak itu. Sungai kupu-kupu sudah masuk ke dalam paket trekking dua jam. Nah kalau tak ingin trekking, Sungai Kupu-kupu tidak terlalu sulit dijangkau kok.

Sungai kupu-kupu
Sungai kupu-kupu

 14. Air Terjun Gelugur

Semoga Jaka Tarup tidak datang dan mencuri selendang ketiga bidadari ini. :p
Semoga Jaka Tarup tidak datang dan mencuri selendang ketiga bidadari ini. :p

Air terjun cantik ini hanya bisa ditemukan kalau kamu melakukan tubbing menyusuri sungai. Air Terjun Gelugur adalah salah satu spot pemberhentian untuk menikmati air segar dan mengagumi keajaiban bentukan bebatuan yang ada di sekitar air terjun. Begitu berhenti dan turun dari perahu ban, kita akan berjalan melewati arus kecil yang mirip dengan muara sungai, sedikit lunak tanahnya, berpasir dan sepertinya tidak menjanjikan sesuatu yang berharga. Tapi tunggu sampai kamu mendengar suara air terjun dan melihat batuan sedimen memanjang yang menjadi pijakan menuju air terjun dan laguna kecil yang dibentuknya. Batuan sediman tersebut seperti teras dari semen yang sengaja dibangun. Warnanya abu gelap dan bermotif seperti kulit buaya. Sangat memberi kesan menarik. Pun air terjunnya yang melebar bukan meninggi sehingga seperti membentuk tirai. Cantik sekali. Airnya pun sangat jernih. Lagunanya juga tidak terlalu dalam. Aman dan nyaman untuk berenang-renang santai bersama teman-teman. Seperti sebuah kolam renang di dalam hutan.

Batuan sedimen yang terbentuk di sekitar sungai dan Air Terjun Gelugur. Motifnya seperti kulit buaya tapi berwarna abu gelap.
Batuan sedimen yang terbentuk di sekitar sungai dan Air Terjun Gelugur. Motifnya seperti kulit buaya tapi berwarna abu gelap.

 

15. Hot Spring

Berada di gugusan Bukit Barisan, tak heran kalau ada banyak tempat yang memiliki kandungan belerang atau air panas atau panas bumi di seputaran Sumatra, khususnya Sumatra Utara. Pun di Tangkahan, ada spot tertentu di aliran sungai yang mengeluarkan air panas. Panasnya hangat-hangat kuku karena bercampur dengan aliran air dingin.  Agak sulit memang untuk berenang ke tepiannya dan mendekat ke sumber air panasnya karena arus sungai menuju ke sana cukup deras. Kecuali untuk yang mahir sekali berenang.

Abang bule duduk sendirian di pinggiran sungai berair hangat.
Abang bule duduk sendirian di pinggiran sungai berair hangat.

Sudah cukup ‘kan alasan untuk berlibur ke Tangkahan?

Mabuhay Philippines (Part 3 of 4)

Teks & foto oleh Melda Zhang @Melzna | Editor Eka Dalanta @EkaDalanta

Kali ini kami berpetualang di antara gugusan formasi batu dan pulau-pulau dengan pasir yang indah. 

Saat berada di sini, sangat wajib untuk teriak WOW!
Saat berada di sini, sangat wajib untuk teriak WOW!

El Nido Bumpy Road Trip Adventure

Menuju El Nido dari Puerto Princesa kami melalui jalur darat, berangkat pukul 2 dini hari dengan perjalanan selama 6 jam dalam van yang terbanting kiri kanan atas bawah. Supir mengendarai super duper ekstrim, semua semua lubang dan batu di jalanan dihajar aja. Jangan berharap bisa tidur dalam perjalanan, yang hamil pasti keguguran, apalagi para gadis yang harus menjaga keseimbangan payudara, jangan-jangan sampai tujuan payudara udah pindah posisi ke belakang maupun ke jidat! Hiks…

Sepanjang jalan kiri kanan jalan adalah hutan rimba dan gunung, rumah penduduk hanya tampak satu dua yang berjarak jauh. Babi-babi berkeliaran melenggok dengan bokong montok. Ah… andai aku punya bokong seperti itu, tulang pantatku tidak akan menderita!

Bumpy Road, jalanan yang kami perjuangkan demi sampai tujuan
Bumpy Road, jalanan yang kami perjuangkan demi sampai tujuan

Para travelnista kehilangan keceriaan, terkutuklah jalanan rusak, terkutuklah supir gila, terkutuklah jarak! Wajah dan mood serusak jalanan ini, tidak ada warung buat istirahat, pipis juga harus cari rumah penduduk yang jaraknya jauh, rumah yang masih gubuk, lantai tanah, tempat tidur hammock dan beruntung kamar mandi masih berpintu dan ada air sedikit, tidak perlu masuk ke semak-semak buat pipis. Konstruksi jalan ini katanya akan selesai di tahun 2013. Kami belum beruntung!

El Nido, The Formations Island
El Nido, The Formations Island

El Nido – Rock Formations Island

El Nido artinya Sarang Burung. Nama ini diberikan karena ditemukan banyak sarang burung walet, yang dinamai pada masa kolonial Spanyol yang akhirnya menjadi nama pulau itu. Pulau yang masih alami dan belum banyak dijamah dan dirusak untuk kepentingan pariwisata ini adalah tempat yang wajib dikunjungi sebelum mati. Pantai-pantai pasir putih yang begitu adanya tanpa disemaki resort-resort maupun lautan manusia seperti tempat wisata yang biasa kita kenal, seru untuk dijelajahi.

Cuaca disana sangat aneh, sering hujan tiba-tiba tapi hanya 10 menit lalu berubah terik lagi, dengan kelembapan yang sangat tinggi sampai-sampai pohon bisa tumbuh di atas sepatu kita. Aduh aku lebai… he-he-he….

Tebing-tebing batu di tengah lautan yang menjulang tinggi adalah daya tarik utama El Nido, sehingga terdapat banyak pantai maupun lokasi snorkeling bagus dengan ikan yang banyak dan rakus yang makan apapun yang kita beri, daging ikan yang tidak habis kita makan juga dimakan! Serta terumbu karang yang masih hidup alami.

Fish feeding
Fish feeding

Tentu saja untuk menuju setiap titik lokasi eksotis, kita lagi-lagi harus naik boat karena meskipun berdekatan tapi lokasinya di antara lautan tidak bisa dijangkau dengan berenang bebek.

Liat air jernih begini kepingin nyebur aja jadinya
Liat air jernih begini kepingin nyebur aja jadinya

Small Lagoon – Big Lagoon

Small Lagoon dan Big Lagoon ini lah yang membuat kita sampai di El Nido, dari pencarian di Google kami sudah menetapkan hati harus sampai di sini bagaimanapun caranya, setelah underground river. Setiba di tempat ini, semua kami lupa kalau belum tidur sejak perjalanan panjang. Semua kelelahan fisik maupun kegalauan hati hilang seketika di depan air berwarna biru toska dan Lagoon yang dikelilingi tebing batu kapur, seperti berenang di kolam renang super besar tapi ada banyak ikannya, ada goanya dan hamparan alam yang super indah di sekeliling sejauh mata memandang.

Juga bisa kayaking di sini, sayangnya kami tidak punya karena kami pikir bisa menyewa setiba di sini. Ternyata kami salah, kayaking anya bisa disewa dan dibawa sebelum berangkat dari tempat awal naik boat.

Keindahan El Nido
Keindahan El Nido

Small Lagoon

Dikatakan small lagoon karena menuju ke lokasi ini kita harus berenang melalui sebuah celah dinding tebing dan barulah surga kecil menyambut kita dari balik tebing tersebut, pemandangan yang menghipnotis dari satu bilik tebing menuju bilik lainnya, hanya ada kegirangan dan kepuasan, lelah-capai? Sudah tidak teringat lagi. Berenang sana sini dikelilingi keindahan yang tak terkira.

Big Lagoon

Lautan berwarna biru toska yang dikelilingi oleh tebing batu kapur menjulang tinggi, menjadi tempat berenang paling dramatis di dunia, air laut tak berombak dan jernih dengan warna biru – hijau toska yang sangat memanjakan mata, rasanya tidak ada tempat lain yang diinginkan selain di sini. Kapal yang membawa kita menuju Big Lagoon, melewati ngarai yang diapit tebing-tebing spektakuler.

This is awesome? Indeed!
This is awesome? Indeed!

Miniloc Island – Shimizu Island – 7 Commando

Pulau Miniloc

Di sinilah dibangun sebuah resort mewah di kawasan rock formations El Nido, tentu saja saya dan teman-teman hanya melewatinya dan mengambil gambar.

Pulau Matinloc

Sementara di Pulau Matinloc ini adalah pulau tempat kami beristirahat makan siang, dengan bekal yang sudah kami bawa berupa daging dan ikan segar untuk dipanggang di sana. Beristirahat dan berfoto di pulau yang tidak ada orang, serasa pulau pribadi. Di pulau yang sepi dan berpasir putih ini juga lagi-lagi dikelilingi oleh tebing batu, jadi tempat ini terasa terisolasi, tapi sekaligus eksotik tak terkira.

Karang-karang cantik
Karang-karang cantik

Snake Island

Dijuluki sebagai Snake Island ini karena memiliki sandbar panjang yang membelah dua sisi pulau, pasir yang terbentuk panjang mirip seperti ular yang meliuk di permukaan pulau. Kita bebas berenang di sisi kanan maupun sisi kiri pulau tersebut. Dan tentu saja ini merupakan tempat yang paling seru untuk berfoto-foto.

Crowded!
Crowded!

7 Commando Island

Terakhir, 7 Commando adalah pantai tempat bersantai, berjemur dan berleha-leha. Sekaligus memenuhi hasrat terpendam jajan-janan centil, karena hanya di pulau ini kami bertemu warung. Di sini ada banyak wisatawan lainnya yang juga sedang bersantai menikmati Buko (kelapa muda), pacaran, atau main voli. Main di pantai ini menjadi akhir dari penjelajahan pulau kami di rock formations El Nido.

Matahari sudah mulai terbenam ketika kami kembali ke penginapan dengan boat selama 20 menit. Sampai bertemu lagi coral dan ikan, laut toska, tebing batu dan rumput laut, semoga kami dapat kembali lagi pada surga kecil yang mempesona.

Finding Nemo... :)
Finding Nemo… 🙂

The Hotel – The Food – The Life in El Nido

The Life in El Nido

Hotel tempat kami menginap berjarak dekat dengan pantai, hanya melewati satu lorong, meskipun tidak tepat berada depan pantai, cukup bersih dan rapi. Selesai aktivitas penjelajahan pulau-pulau, saatnya kami kepo dengan kehidupan masyarakatnya. Potret kehidupan mereka persis seperti lorong daerah kampungku, rumah-rumah berdekatan, beberapa mini market kecil, toko souvenir, restoran dan warung dengan jualan super lengkap; jual ember, panci, deterjen sampai pakaian dalam berbagai ukuran dan renda erotis yang tergantung di depan warung.

Toko di El Nido
Toko di El Nido

Walaupun di kepulauan, restoran tidak banyak menjual makanan laut seperti kepiting, ikan bakar, dan sejenisnya. Kebanyakan adalah makanan western. Lebih teruk ketika kami ingin makan mie goring, dan tau apa yang kami dapatkan? Beneran mie yang digoreng sampai kering! Hilanglah selera seketika! Oh iya mereka setiap hari mengkonsumsi Baboy (Babi), dalam paket tur kami selalu disediakan makanan babi panggang. Di jalanan juga banyak ditemukan penjaja babi panggang seekoran besar.

Pork.. pork.. pork.. dimana-mana banyak pork.
Pork.. pork.. pork.. dimana-mana banyak pork.

Masyarakat di sana juga sangat ramah terhadap para wisatawan, ada banyak senyum yang menyapa kami di setiap lorong yang kami lewati, anak-anak kecil tampak bahagia dengan sesama mereka dan pastinya berbeda dengan anak-anak yang kami temui di Intramuros Manila.

***** to be continued part 4******

Lingga, The Ancient Karo Village

Sebagiannya telah ambruk dimakan waktu. Terendap di antara duka rumah-rumah adat Karo Desa Lingga. Tapi untungnya kerja keras Badan Warisan Sumatra dan dukungan banyak pihak, dua buah rumah adat Karo, Belang Ayo dan Rumah Gerga kini terpelihara dengan baik.

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Andi Gultom @andigultom

 

Rumah Gerga
Rumah Gerga

Kalau kita bercerita tentang situs kebudayaan, maka buat kamu para penyuka wisata budaya, Desa Lingga adalah salah satu desa di Sumatera Utara yang wajib masuk dalam daftar kunjung. Desa budaya ini di awal 2014 lalu mendapatkan penghargaan dari World Monument Fund, sebuah lembaga internasional yang konsen mengurusi situs-situs kebudayaan.

Desa Lingga berada di Kabupaten Karo,Sumatera Utara. Kabupaten Karo sendiri adalah salah satu Kabupaten yang berada di ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut. Karo terkenal dengan lanskap alam pengunungan dan hasil bumi seperti sayur-sayuran segar, jeruk, markisa, terong belanda, dan aneka buah lainnya. Desa Lingga berada lebih kurang 15 km dari Brastagi, kota besar di Tanah Karo dan 5 km dari Kabanjahe, ibukotaKabupaten Karo.

Perjalanan menuju Desa Lingga bisa dilakukan dengan kendaraan pribadi atau menumpang kendaraan umum. Dari Medan dapat dengan menumpang bus seperti Sinabung Jaya, Sutra, Murni, dan Serasi Borneo hingga terminal Kabanjahe. Dari sana perjalanan bisa diteruskan dengan menumpang angkutan dalam kota menuju Desa Lingga.

Kampung Karo Yang Unik

Lingga merupakan perkampungan BatakKaro yang unik. Seperti namanya, Desa ini sejak dulu berada dalam kekuasaan Sibayak Lingga, didominasi masyarakat keturunan Marga Sinulingga. Desa Lingga memiliki rumah-rumah adat Karo yang diperkirakan berumur sekitar 250 tahun. Sekitara lima tahun lalu, saat berkunjung ke sana, saya masih menemukan beberapa rumah adat Karo di sana. Menurut cerita yang saya dengar rumah adat di sana sekitar 22 rumah. Tapi saya tidak menemukan jumlah sebesar itu. Tahun lalu saat kembali berkunjung kesana, saya hanya menemukan hanya dua rumah adat utama yang tersisa di sana. Itupun dua rumah yang berada dalam pengawasan Badan Warisan Sumatra (BWS) yang bekerja keras menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, juga masyarakat setempat untuk melestarikannya.

Tentang keseluruhan bangunannya, saya memang terkesima. Kompleks ini memang sangat kaya dengan rumah-rumah adat Karo yang sudah sangat tua nan cantik dan cerdas pembuatannya. Lihat saja bentuknya. Perhitungannya yang sempurna. Nilai-nilai filosofis yang dikandungnya, ukirannya dekoratifnya, pemilihan kayu, penyusunan bentuk, keserasian dengan alam labil indonesia, tentunya telah melalui proses trial dan error yang panjang. Kekayaan tradisonal kita memang selalu masterpiece.

Rumah adat Karo yang telah lapuk. Foto ini saya ambil lebih dari lima tahun lalu.
Rumah adat Karo yang telah lapuk. Foto ini saya ambil lebih dari lima tahun lalu.

Tapi hati saya segera mencelos. Berapa lama lagikah rumah-rumah nan cantik ini akan bertahan? Rumah yang beberapa tahun lalu saya lihat hampir amburk sekarang tidak ada lagi. Saya teringat dengan rumah itu, rumah yang tidak dihuni, kayu-kayu kokohnya memperlihatkan rangka. Setahun, dua tahun, saya mencoba mereka-reka. Apa dalam rentang waktu itu, saat kembali, saya masih bisa melihatnya? Atau ini untuk terakhir kali. Bila ia, yang akan saya ingat adalah ijuk penutup atap yang sudah sompel di sana-sini, badan bangunan yang miring, dan beberapa ternak yang ditambatkan. Hati saya benar-benar mencelos waktu itu. Sinulingga, Sekretaris Desa yang menyambut kami dengan ramah ternyata mengetahui pikiran saya. “Saya juga merasakannya,” katanya memecah jeda sepi beberapa saat. Sedari tadi Bapak ini menemani saya berkeliling, bercerita banyak tentang Desa Lingga. “Biaya perawatannya sangat mahal, lagi pula tidak semua orang mau tinggal di rumah ini. Kalau tidak ada penghuninya rumah akan cepat rusak. Agar ijuknya awet harus ada kehidupan di dalam rumah,” katanya melanjutkan. Ingatan itu membuat air mata saya menetes. Tapi saya tidak tau harus berbuat apa lebih banyak. Mungkin menuliskan perasaan ini bisa bermanfaat, saya pikir.

Pak Sinulingga yang waktu itu banyak bercerita kepada saya. “Kehidupan ditandai dengan adanya asap. Ada yang memasak makanan. Asap akan membuat rumah ini awet,” lanjutnya tanpa menunggu pertanyaan dari saya. Bagi masyarakat Karo, dapur memang mempunyai arti. Dalam masyarakat Karo dikenal istilah Rakut Sitelu, silsilah persaudaraan, seperti tungku dapur yang terdiri atas tiga buah batu. Kalimbubu, anak beru, dan sembuyak. Pembagian tugas, hak, dan tanggung jawab dalam sistem kekerabatan.

Beberapa telah ambruk total dan tak berbekas. “Seperti rumah raja yang seharusnya ada dipojokan sana,”ceritanya lagi. Beberapa sisa-sisa bangunan yang telah rusak malah diangkut ke Bali dan dikonstruksi ulang di sana. Menjadi bagian Desa budaya di Bali. Entah apa tujuannya. Tapi setahu saya, menurut beberapa literatur yang pernah saya baca, Bali memiliki kesamaan budaya dengan masyarakat Karo. Terutama masyarakat Bali asli atau Bali Aga. Beberapa kosa katanya mirip, beberapa bahkan sama persis.

Rumah adat Belang Ayo
Rumah adat Belang Ayo

Ia terus bercerita. Kami terus berjalan berkeliling. Memasuki satu persatu rumah adat. Tuan rumah menyambut kami ramah. Rumahadat Karo biasanya dihuni oleh 6-8 keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Itulah sebabnya rumah ini disebut Rumah Si Waluh Jabu, artinya Rumah Delapan Rumah Tangga. Rumah adat Karo tidak memiliki ruangan atau sekat-sekat berupa dinding kayu atau lainnya. Semuanya lempang begitu saja. Tapi kini, rumah yang ada di Desa Lingga ini dibuat dengan kamar-kamar sesuai dengan jumlah keluarga yang menghuninya.

Rumah ini seperti kebanyakan rumah adat tradisional di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, dibangun dengan tiang-tiang kokoh, tanpa menggunakan paku logam sebagai perekatnya dan merupakan rumah panggung. Tingginya kira-kira 2 meter dari tanah yang ditopang oleh tiang, umumnya berjumlah 16 buah. Kolong rumah sering dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan kayu dan sebagai kandang ternak. Ciri khas masyarakat agraris.

Teras rumah yang memiliki tangga dan balai-balai
Teras rumah yang memiliki tangga dan balai-balai

Rumah ini mempunyai dua buah pintu, satu menghadap ke barat dan satu lagi menghadap ke sebelah timur. Ukuran pintunya kecil. Setiap tamu yang masuk harus menunduk tanda memberi hormat kepada pemilik rumah. Di depan masing-masing pintu terdapat serambi, dibuat dari bambu-bambu bulat. Serambi ini disebut ture, tempat bertenun, mengayam tikar atau untuk tempat naki-naki, kencan istilah sekarang.

Atap rumah adat Karo terbuat dari ijuk. Di kedua ujung atapnya terdapat anyaman bambu berbentuk segitiga, disebut ayo-ayo dengan puncaknya tanduk atau kepala kerbau dengan posisi menunduk ke bawah. Tanduk itu dipercaya sebagai penolak bala.

Desa Lingga memiliki bangunan tradisional seperti rumah adat, jambur, geriten, lesung, sapo page (sapo ganjang)dan museum karo. Geriten digunakan sebagai tempat penyimpanan kerangka jenazah leluhur. Tapi saat ini kebanyakan bangunan-bangunan itu tak ada lagi. Yang masih bisa kita temukan adalah beberapa rumah siwaluh jabu, griten, kantur-kantur,Rumah Belang Ayo, Rumah Gerga dan museum Lingga. Museum ini disebut jugaMuseum Karo Lingga. Dalam museum ini kita bisa melihat benda tradisional Karo seperti capah (piring kayu besar untuk sekeluarga), tungkat atau tongkat, dan alat-alat musik tradisional Karo.

Atap ijuk yang membuat rumah hangat saat dingin dan adem saat cuaca terik
Atap ijuk yang membuat rumah hangat saat dingin dan adem saat cuaca terik

Tahun ini, saat saya kembali melakukan perjalan ke desa ini, saya berbahagia setidaknya dua rumah ada yang ada di sana saat ini terawat dengan baik dan dihuni. Semoga untuk beratus tahun ke depan bisa tetap dilestarikan.

Puncak Kejayaan Raja-raja Lampau

Setelah berkeliling kampung, kami melepas salam dan bergegas menuju Uruk. Uruk kalau di-Indonesia-kan berarti di atas Bukit. Berdasarkan cerita yang kami dengar dari penduduk, di uruk terdapat makam raja-raja lampau Desa Lingga. Kami keluar dari Kampung melewati gapura kampung penanda daerah wisata. Tertulis di atasnya, “Selamat Datang di Desa Budaya Lingga”. Kami membalikkan badan melihat sebentar dari kejauhan.

Uruk terletak sekitar 1,5 kilometer menuju sebuah puncak bukit. Simpang menuju uruk sekitar 100 meter sebelah kiri gapura. Di seberang sebuah Sekolah Dasar. Tak ada kendaraan menuju ke sana. Mengendarai sepeda motor juga susah karena jalannya menanjak. Jalan datar hanya sekitar 500 meter. Sebelah kiri kanannya adalah perladangan milik penduduk. Lalu saat jalan makin mendaki, di kanan jalan terdapat sebuah jurang dibatasi tanaman-tanaman perdu.

Lelah juga. Kami sampai ngos-ngosan. Berhenti sebentar sekadar menarik nafas. Di tengah jalan kami bertemu dengan dua orang bapak. Mereka adalah keturunan salah satu Sibayak Lingga. Mereka bermarga Sinulingga. Kebetulan sekali mereka juga sedang menuju uruk untuk membersihkan makan. Memotong rumput dan menjaga kerapiannya. Sebuah senapan angin tersandar dipunggung Pak Sinulingga. Sambil berjalan kami bercerita, sesekali ia membidikkan senapan ke arah pohon. Membidik musang yang katanya suka merusak hasil pertanian. Jumlahnya berlebih jadi tidak masalah bila diburu, begitu katanya.

Setibanya di Uruk, Sinulingga kemudian sibuk membabat rumput, membersihkan, dan merawat. Kami sibuk memperhatikan makam, berkeliling, berpose, memotret, dan menikmati pemandangan. Kami berada di puncak tinggi Desa Lingga. Sekeliling kosong, keluasan udara. Jurang ada di sisi-sisinya. Desa Lingga terlihat tak terlalu jelas dari atas. Pepohonan mendominasi. Udara segar terasa benar. Ilalang tidak terlalu tinggi di pojok sana.

Uruk, tempat makam raja-raja Lingga
Uruk, tempat makam raja-raja Lingga

Kami memperhatikan nisan makam. Tertulis nama raja-raja masa lalu itu. Entah berapa generasi. Di satu makam tertulis “Sibayak Pa Tiran, Raja Kelelong Sinulingga, Siencikep Kerajaan Lingga, Mulai Tahun 1934-1947”. Pa Tiran nama panggilan Raja Desa Lingga yang bernama asli Raja Kelelong Sinulingga. Ia adalah penguasa (siencikep) Kerajaan Lingga pada tahun 1934-1947. Dari nisan yang ada dimakam tahulah kami, ia lahir pada tahun 1904 dan meninggal pada tahun 1963. Sekitar lima makam besar ada di sana. Sayangnya makam-makam ini tidak terkesan mistis. Biasa saja karena telah direnovasi dan dilapisi keramik.

Raja-raja atau sibayak ini adalah bentukan Belanda pada zaman penjajahan untuk bernegosiasi dengan penguasa dan masyarakat setempat. Pada jaman dahulu desa Lingga terbagi dalam beberapa sub desa yang disebut kesain.Kesain merupakan pembagian wilayah desa yang namanya disesuaikan dengan marga yang menempati wilayah tersebut. Ada Kesain Rumah Jahe, Kesain Rumah Bangun, Kesain Rumah Berteng, Kesain Rumah Julu, Kesain Rumah Mbelin, Kesain Rumah Buah, Kesain Rumah Gara, Kesain Rumah Kencanen, Kesain Rumah Tualah, kesemuanya merupakan kesain milik marga atau klan Sinulingga. Sedangkan untuk non Sinulingga terdiri dari tiga kesain, Kesain Rumah Manik, Kesain Rumah Tarigan, dan Kesain Rumah Munte.

Berkeliling kebun sayur penuduk
Berkeliling kebun sayur penuduk

Desa Lingga memang menarik secara filosofis dan budaya. Tidak bila Anda mencari kemewahan dan kenyamanan fasilitas. Liburan yang ditawarkan adalah keluhuran budaya, isu yang tengah marak dibicarakan. Postmodernisme membuat orang-orang merindukan sentuhan masa lalu. Orang beromansa dengan keindahan klasik. Mewarnai kekinian dengan keluhuran masa lalu. Para kalangan babyboomer berlomba-lomba mencari kesenangan menuju daerah-daerah berbudaya eksotik seperti Desa Lingga. Perbincangan kebudayaan dan heritage menjadi begitu seksi. Hitung-hitungan ekonomi bisa diterapkan di sini.

Kalau mau melirik bisnis ini, masih belum terlambat. Keuntungan ekonominya akan membantu pelestarian kebudayaan kita. Atau paling tidak mari kita lirik, mulai dari kita yang berusaha mencintainya. Saya tidak bisa berbuat banyak. Saya telah tuliskan, mudah-mudahan membuat kita bisa semakin mencintai dan memaknainya.

Gereta lembu, transportasi tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk berangkat ke ladang
Gereta lembu, transportasi tradisional yang banyak digunakan masyarakat untuk berangkat ke ladang

How to get there:

Desa ini tidak terlalu jauh kok dari kota Kabanjahe. Untuk menjangkaunya, dari Medan kamu bisa naik kendaraan pribadi atau menumpang kendaraan umum seperti Sutra, Sinabung Jaya, Murni atau Borneo. Dari terminal Kabanjahe kamu bisa menumpang angkutan dalam kota menuju Desa Lingga.

What to do:

Di Desa Lingga kamu bisa berkunjung ke Museum Lingga, di sana kamu bisa lihat berbagai peninggalan kebudayaan Karo yang unik. Selain itu kamu bisa melihat arsitektur rumah adat Karo yang luar biasa. Nikmati filosofi bangunannya dan kalau sempat tinggallah satu malam di sana. Rasanya akan berbeda. Seperti saya, bermainlah ke Uruk, ke makam raja-raja. Pemandangan luar biasa dari atas puncak bukit akan memanjakan mata. Dan… saat pulang kamu bisa singgah di pasar buah Berastagi, membeli beberapa buah khas Karo juga tanaman bunga-bungaan yang lucu-lucu.