8 Prediksi Wisata Tahun 2018

Mulai dari teknologi di garis terdepan hingga jalan-jalan untuk kesehatan dan setumpuk daftar perjalanan, berikut adalah tren wisata terbesar tahun 2018

Apakah Anda sedang mencari inspirasi untuk berwisata di tahun 2018? Ini dia beberapa prediksinya.

Mengandalkan Teknologi

Attractive young woman adjusting her VR headset and smiling while sitting at home

Untuk urusan traveling, orang-orang juga semakin mengandalkan teknologi. Terlebih ditahun 2018, terutama bagi para wisatawan yang biasa memanfaatkan teknologi untuk lebih mengenal lebih destinasi atau akomodasi sebelum dipesan. Kecerdasan artifisial dan teknologi digital membantu konsumen memiliki intuisi destinasi yang cerdas, membentuk kembali cara kita meneliti, memesan, dan menikmati wisata. Hampir sepertiga wisatawan global (29%) mengatakan bahwa mereka merasa nyaman membiarkan sebuah komputer merencanakan perjalanan yang akan datang berdasarkan data dari riwayat perjalanan mereka sebelumnya. Setengahnya (50%) tidak keberatan jika mereka berurusan dengan manusia atau komputer selama pertanyaan mereka terjawab. Enam dari 10 traveler (64%) mengatakan mereka ingin ‘mencoba sebelum membeli’ dengan menggunakan teknologi VR (virtual reality), sementara 50% merasa bahwa rekomendasi destinasi dan aktivitas yang harus dilakukan mendorong mereka untuk berwisata. Pada tahun 2018 teknologi akan mengambil alih keraguan dan kerepotan untuk memutuskan rencana perjalanan, terutama memilih tempat menginap dan pengalaman terbaik.

Destinasi Impian yang Menjadi Nyata

Rome Colosseum

2018 ialah tahun untuk bermimpi setinggi langit karena 45% wisatawan memiliki setumpuk daftar perjalanan dalam pikiran mereka, dan mayoritas dari mereka (82%) akan mengincar satu destinasi atau lebih dari daftar mereka di tahun yang akan datang. Kerinduan untuk memiliki pengalaman wisata dibandingkan harta benda masih akan mendorong para wisatawan ini mendapatkan pengalaman yang menakjubkan. Dengan segala sesuatu yang serba cepat dan keinginan instan yang terpenuhi oleh teknologi, wisatawan di tahun 2018 akan memanfaatkan momen yang tak pernah mereka alami sebelumnya.

Kemungkinan besar yang menonjol dari setumpuk daftar perjalanan adalah melihat salah satu keajaiban dunia, karena hampir separuh traveler (47%) mencentang ini pada tahun 2018. Lebih dari sepertiga (35%) mendambakan kelezatan lokal, 34% ingin menuju ke pulau yang indah, dan 34% adalah pencari ketegangan yang ingin mengunjungi taman hiburan terkenal di dunia. Pecandu adrenalin tersebut harus mempertimbangkan Orlando, Amerika Serikat, The Gold Coast di Australia, dan Dubai, Uni Emirat Arab sebagai destinasi utama untuk taman hiburan.

Great Wall of China. Unrestored sections at Jinshanling.

Aktivitas lainnya yang hendak dilakukan pada tahun 2018 antara lain ikut serta meramaikan acara budaya yang unik (28%), belajar keterampilan baru (27%), melakukan perjalanan epik atau perjalanan kereta api (25%), dan mengunjungi tempat yang jauh atau lokasi menantang (25%).

Mengulang masa lalu

 

Selain pengalaman baru, wisatawan akan mengunjungi kembali tempat-tempat favorit yang menjadi kenangan di masa kecil mereka sebagai bagian dari perjalanan di tahun 2018. Memadukan masa depan dengan masa lalu, wisatawan tahun depan terinspirasi untuk kembali ke destinasi yang sebelumnya pernah mereka sukai dan menjelajahinya dengan cara baru. Sepertiga dari traveler (34%) akan mempertimbangkan liburan yang mereka alami sewaktu anak-anak untuk tahun 2018.

 

Couple of friends talking at Sunset

Popularitas liburan vintage ini berasal dari perasaan nostalgia dan kebahagiaan yang dimiliki destinasi. Wisatawan mengungkap bahwa liburan keluarga memanggil kembali ingatan tentang kenangan terindah, bahkan lebih indah daripada kekasih masa kecil atau hewan peliharaan. Millennial terlihat lebih sentimental dengan 44% anak berusia 18 sampai 34 tahun tertarik untuk kembali ke destinasi favorit keluarga. Berhubung 60% wisatawan pada tahun 2018 berniat membagikan postingan di media sosial setiap hari, kita bisa berharap bahwa di masa depan kita bisa melihat tempat-tempat nostalgia dan dikunjungi kembali oleh generasi masa depan.

Ziarah budaya popular

Old harbor at Adriatic sea. Hvar island, Croatia

Karena dunia sudah berada di ujung jari, kita dapat mengandalkan banyak sumber untuk menginspirasi kita berwisata ke destinasi baru. Mengikuti hasrat adalah salah satu cara untuk membantu memilih lokasi yang paling sesuai – mulai dari budaya dan hiburan, sampai makanan dan sejarah. Pada tahun 2018, acara televisi, film, olahraga, dan media sosial semakin memiliki pengaruh besar untuk orang-orang membuat keputusan pemesana. Wisatawan beralih ke budaya pop untuk mendapatkan inspirasi perjalanan mereka. Membaca blog atau melihat rekomendasi YouTuber akan memicu ide bagi 39% wisatawan. Lokasi yang terpampang di layar televisi, film, atau video musik akan mencaplok 36% lebih wisatawan di tahun yang akan datang. Lebih dari seperlima wisatawan (22%) akan tergoda bepergian untuk menghadiri acara olahraga besar, dengan 43% dari mereka mempertimbangkan musim panas untuk menonton sepak bola di Rusia.

Lokasi program televisi teratas yang paling ingin dikunjungi wisatawan pada tahun 2018 adalah Kroasia, Spanyol, dan Islandia yang terinspirasi oleh Game of Thrones (29%), London seperti yang terlihat di Sherlock dan the Crown (21% dan 13%), New York dan Manhattan dari Billions (13%), dan Los Angeles dilihat di Entourage (10%).

Jalan-jalan untuk kesehatan

 

Kecenderungan untuk liburan sehat tidak melambat untuk tahun 2018, lantaran hampir dua kali lipat jumlah orang berencana melakukan perjalanan kesehatan dan perawatan pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2017 (satu dari 10 di tahun 2017 menjadi hampir satu dari lima di tahun 2018). Salah satu cara brilian untuk menikmati pemandangan lokal adalah dengan berjalan kaki yang menjadi cara terbaik untuk mengeksplorasi, dimana 55% wisatawan mengatakan bahwa mereka ingin berjalan kaki atau hiking pada tahun 2018. Generasi baru pejalan kaki akan mengikat tali sepatu boots mereka.

 

 

Kegiatan perawatan dan kesehatan lainnya juga akan menjadi favorit. seperti mengunjungi spa atau menerima perawatan kecantikan (33%), bersepeda (24%), kegiatan olahraga air (22%), menjalani liburan detoksifikasi tubuh penuh (17%), melakukan retret yoga (16%), berlari (16%), dan melakukan meditasi (15%). Melakukan pengalaman seperti itu sangat populer di kalangan wisatawan dimana 59% mengatakan bahwa mereka memprioritaskan pengalaman dibandingkan dengan barang-barang material saat berlibur.

Berpartisipasi dalam perjalanan kesehatan dan perawatan mungkin juga baik untuk pikiran, karena lebih dari setengah responden (55%) mengatakan bahwa berlibur adalah momen bagi mereka untuk merenungkan dan membuat pilihan gaya hidup yang lebih baik – sesuatu yang dapat dengan mudah difasilitasi melalui perjalanan kesehatan dan perawatan.

Intuisi ekonomi

Setiap tahun, wisatawan menjadi lebih cerdas, terutama ketika harus mendapatkan hasil maksimal dari uang yang mereka keluarkan. Tahun 2018 wisatawan akan lebih intuitif secara ekonomi. Hampir setengah responden (47%) akan mempertimbangkan nilai tukar mata uang saat merencanakan perjalanan mereka, dan jumlah yang hampir sama (48%) akan memikirkan iklim ekonomi suatu tujuan sebelum membuat keputusan untuk melakukan perjalanan. Kabar baik bagi industri ritel, sepertiga dari traveler (30%) juga berencana melakukan pembelian lebih banyak dari toko bebas pajak di bandara pada 2018 dan satu dari empat orang (26%) bahkan akan berlibur khusus untuk membeli barang seperti barang fashion karena lebih murah dibandingkan di negara asal mereka.

 

Lebih percaya diri untuk mengikuti intuisi mereka sendiri, wisatawan tidak terlalu berminat untuk mengikuti tren grup dimana lebih dari separuh (57%) ingin melakukan perjalanan yang lebih independen pada tahun 2018, menempatkan nilai tambah pada personalisasi, mencari kesepakatan terbaik, dan menggabungkannya dalam paket tur mereka sendiri – semuanya dengan bantuan aplikasi dan teknologi. Hampir setengah dari wisatawan (44%) akan menggunakan aplikasi perjalanan lebih banyak di tahun 2018. Teknologi memang sangat membantu. Apalagi teknologi geotaging yang mengarahkan langsung ke akomodasi, semuanya hanya dengan sekali klik dari aplikasi di smartphone. 

Liburan Seru Bareng Teman

Shot of a group of young friends walking on the beach on a sunny day

Tahun 2018 adalah tahun berwisata bareng teman-teman. Ketika ditanya ingin berwisata dengan siapa di tahun, bepergian dengan teman-teman meningkat dari 27% di tahun sebelumnya, menjadi 31%.

Tahun 2018 semuanya adalah tentang pengalaman, jalan-jalan bukan hanya tentang destinasi tetapi juga orang-orang yang berarti untuk menciptakan kenangan. Bepergian dengan teman adalah waktu sosial terpenting agar jauh dari tekanan sehari-hari, mengurangi stres, dan membangun hubungan dengan teman. Dengan dunia yang hanya sekali klik ini, sekarang sangat mudah menemukan tempat menginap yang tepat dan menjelajahinya dengan teman-teman.

Shot of a group of young tourists looking at a map while traveling

Liburan bersama teman juga memiliki keuntungan finansial karena sebanyak empat dari 10 (42%) mengatakan bahwa liburan bersama teman-teman  memungkinkan mereka tinggal di akomodasi yang tidak mungkin mereka bayar sendiri.

Menikmati Liburan ala Penduduk Lokal 

Pada tahun 2018, rumah sewa akan sangat populer – tidak hanya bagi wisatawan yang ingin menginap, tapi juga pemilik rumah yang berpikir untuk mengundang orang lain menginap di tempat tinggal mereka sendiri. Satu dari tiga wisatawan (33%) mengatakan bahwa mereka lebih suka tinggal di holiday rental (rumah liburan atau apartemen) daripada di hotel, dan satu dari lima (21%) mempertimbangkan untuk mendaftarkan rumah mereka di situs akomodasi perjalanan.

Picture of guests getting key card in hotel

Ketika berhubungan dengan tuan rumah, para wisatawan mengungkapkan bahwa mereka tidak perlu ditemani setiap saat. Wisatawan tertarik untuk memiliki pengalaman lokal dan hendak mencari tuan rumah yang memiliki pengetahuan luas, karena seperempat wisatawan mengatakan bahwa penting bagi tuan rumah mereka memiliki pengetahuan lokal yang kuat tentang makanan lokal dan tempat untuk dikunjungi (25%), namun wisatawan menginginkan fleksibilitas untuk berinteraksi dengan tuan rumah dengan persyaratan mereka sendiri. Pada tahun 2018, penting bagi wisatawan bahwa tuan rumah mereka tersedia tapi tidak terlalu sombong (30%) dan satu dari 10 (12%) menginginkan tuan rumah yang tidak perlu mereka ajak bicara sama sekali.

* Prediksi tren wisata ini berdasarkan riset Booking.com dengan melakukan riset pada 19.000 wisatawan di 26 negara di seluruh dunia. Dilakukan secara independen dengan sampel orang dewasa yang melakukan rencana perjalanan 12 bulan terakhir untuk melakukan perjalanan dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 18.509 responden disurvei (1.000+ dari Inggris, Amerika Serikat, Brasil, China, Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, India dan Rusia dan masing-masing 500+ dari Australia, Argentina, Belgia, Kanada, Denmark, Hong Kong, Kroasia, Indonesia, Jepang, Meksiko, Belanda, Selandia Baru, Swedia, Thailand dan Taiwan). Responden menyelesaikan survei online Booking.com pada Agustus 2017. (foto: koleksi foto booking.com)

 

 


 

 

 

 

Telusuri Jejak-Jejak Sejarah Kota Solo di 5 Destinasi Wisata Ini

Semua wilayah di Indonesia memiliki cerita sejarahnya masing-masing. Bandung dengan sebutan Kota Lautan Api, Semarang yang terkenal dengan Pertempuran 5 Hari, atau Surabaya yang tersohor dengan julukan Kota Pahlawan. Tidak hanya cerita masa perjuangan, Indonesia juga tak luput dari kisah kerajaan Hindu-Budha dan jaman manusia purba.

Begitu pula dengan Solo, salah satu wilayah dengan adat dan budaya keraton yang kental selain Yogyakarta. Kota ini mampu membuat para pengunjung seperti kembali pada masa kejayaan raja-raja terdahulu. Selain terkenal dengan bangunan keraton kesultanannya, ternyata kota ini juga memiliki setumpuk destinasi wisata sejarah yang tak banyak terekspos. Tak heran jika mulai banyak dibangun hotel terbaik di Solo sebagai akomodasi para pengunjung. Lalu, di mana saja jejak-jejak sejarah Kota Solo ini?

  1. Candi Sukuh
Candi Sukuh (sumber foto triptrus.com)

Destinasi pertama yang bisa Anda datangi adalah Candi Sukuh, salah satu bangunan peninggalan kerajaan Hindu. Candi ini berlokasi di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Sama halnya dengan candi Hindu lainnya, banyak ditemukan lingga dan yoni pada candi ini.

Candi Sukuh ditemukan pada masa pemerintahan Inggris oleh Johnson. Kala itu, Sir Thomas Stanford Raffles memberikan tugas kepada Johnson untuk mencari data. Salah satu daya tarik tersendiri dari Candi Sukuh adalah bentuknya yang unik dan ukiran-ukiran yang menggambarkan alat kelamin manusia pada dindingnya. Letak candi ini tidak jauh dari pusat kota sehingga Anda bisa mencari penginapan terbaik di Solo yang dekat dengan destinasi ini dengan mudah.

  1. Taman Sriwedari
Taman Sriwedari (sumber foto; indonesiakaya.com)

Taman Sriwedari merupakan tempat untuk menggelar berbagai pertunjukan seni, budaya, dan hiburan di Solo. Taman ini berlokasi di Jl. Brigjend Slamet Riyadi No. 275, Laweyan, Solo. Dahulu, taman yang dibangun sejak tahun 1877 silam ini disebut sebagai Kebon Rojo atau Taman Raja. Kabarnya, taman ini sering digunakan sebagai tempat para raja beristirahat sembari menyaksikan berbagai pertunjukan seni.

Di area taman bagian dalam, terdapat Rumah Joglo yang biasanya digunakan untuk latihan menari atau melangsungkan kegiatan lomba. Ada pula panggung yang dinaungi oleh pohon beringin. Di bagian kanan dan kiri panggung terdapat sebuah meriam. Selain itu, ada pula Gedung Wayang Orang yang khusus menampilkan pertunjukan Wayang Orang pada waktu-waktu tertentu.

  1. Benteng Vastenburg
Benteng Vastenbur (sumber foto: tribunnews.com)

Kota Solo juga tak luput dari cerita perjuangan rakyat Indonesia ketika melawan tentara Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya benteng peninggalan Belanda bernama Vastenburg, atau yang lebih dikenal dengan Fort Vastenburg. Benteng ini berlokasi di Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Kota Solo.

Dahulu, benteng yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745 ini digunakan Belanda untuk mengawasi segala aktivitas keraton. Selain sebagai tembok pertahanan, benteng ini juga digunakan sebagai tempat tinggal gubernur Belanda dan asrama perwira. Lokasi benteng berdekatan dengan Balai Kota sehingga ada banyak hotel terbaik di Solo yang bisa Anda pilih jika ingin menginap di sekitar benteng. 

  1. Candi Ceto
Candi Ceto (sumber foto: tribunnews.com)

Selain Candi Sukuh, candi lain yang ada di Solo adalah Candi Ceto. Candi ini berlokasi di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, cukup dekat dengan Candi Sukuh. Candi ini juga merupakan candi bercorak Hindu yang dibangun pada abad ke-15 Masehi, tepatnya di akhir masa Kerajaan Majapahit. Candi Ceto pertama kali ditemukan oleh Van de Villes.

Hingga kini, Candi Ceto masih digunakan sebagai tempat ziarah dan pemujaan oleh masyarakat setempat, terutama untuk pemeluk agama Hindu. Jika dilihat sekilas, memang Candi Ceto memiliki struktur bangunan yang mirip dengan Pura.

  1. Museum Pers Nasional
Museum Pers Nasional (sumber foto: wikiwand.com)

Terakhir, ada Museum Pers Nasional yang berlokasi di Jl. Gajah Mada No. 59, Solo. Museum ini menyimpan lebih dari satu juta catatan dalam bentuk buku, dokumen, dan majalah seputar perjalanan pers Indonesia sejak masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, tepatnya mulai tahun 1913 hingga 1929.

Selain buku dan catatan, Anda juga bisa melihat berbagai koleksi peralatan pers jaman dahulu, mulai dari mesin tik, kumpulan foto, kentungan, radio, jenis kamera yang digunakan, hingga seragam yang dikenakan dari masa ke masa. Sebelum menjadi museum, bangunan yang dirancang oleh Mas Abu Kasan Atmodirono atas perintah Pangeran Surakarta dan Mangkunegaran VII ini berfungsi sebagai ruang pertemuan dengan nama Societeit Sasana Soeka.

Itulah tempat-tempat wisata Solo yang sayang jika dilewatkan. Pesan tiket dan hotelmu sekarang juga yuk!

 

Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 1

Cara kami menikmati perjalanan

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

Jauh dekat 4000. Eh bukan, ini bukan angkot. Kami sedang dalam perjalanan ke Pulau Berhala. Jauh dekat, jangan pikirkan jauhnya.

Saya paling demen kalau ada yang nge-SMS atau nelpon terus nanya begini nih, “Ka, minggu depan kemana?” atau “Ka, weekend ini ada kegiatan?” Ini sih biasanya pasti ajakan jalan kemana atau ngelakuin sesuatu di akhir pekan, yang kalau memang belum ada jadwal pasti langsung saya jawab, “Belum ada rencana kok….”

Sama kayak minggu lalu waktu tiba-tiba Bang Onny Kresnawan, partner kerja dari Sineas Film Documentary (SFD) -yang banyak berkontribusi di masa-masa awal karier saya (halah)- nelpon dan melontarkan pertanyaan sejenis. Awalnya sih mikir bakal diajakin gawean bareng. Hahaha. Mikirnya udah gawean aja. Ternyata Bang Onny ngajakin liburan rame-rame dengan teman-teman media dan penulis lainnya ke Pulau Berhala.

Bang Onny dan tim SDF sedang dalam pengerjaan video pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), lokasi administratif Pulau Berhala. Karena memang kapal penumpang ke Pulau Berhala yang dikelola oleh TNI itu muatannya sampai 30-an orang, sayang kalau kosong, sekalian deh Bang Onny mengajak teman-teman dari berbagai media untuk liburan bareng dan tentu saja menuliskan cerita perjalanan ke sana. Termasuk kemanaaja.com…

Berhala Island
Berhala Island

Kecil di Keluasan Samudra

Pulau Berhala adalah satu dari sekian banyak pulau kecil yang berada di wilayah perbatasan perairan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Pulau Berhala berada di Selat Malaka, berbatasan dengan Malaysia.

Sebagai pulau terluar Indonesia, pulau ini menjadi wilayah penjagaan perairan, melihat arus masuk kapal-kapal asing, jangan sampai pula diklaim oleh negara lain.

Dari Medan kami berangkat menuju Serdang Bedagai (Sergei) menuju sebuah dermaga kecil di Desa Tanjung Beringin. Dermaga ini adalah daerah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Perkampungan menuju dermaga sangat menarik. Sebuah perkampungan tua yang kemungkinan besar dulu adalah China Town.  Dermaga dan pelabuhan selalu menjadi tempat asal mula gerak perekonomian tumbuh. Dari dermaga kami melewati muara sungai menuju lautan. Cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam. Apalagi  demi keamanan kapal dan air yang tidak sedalam lautan, kapal bergerak sangat lambat. Fuih…

Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.
Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.

Perjalanan ke Pulau Berhala lebih lama dari yang saya bayangkan, sekitar 4 jam. Saya sudah pernah ke Pulau Pandang yang juga berada di Selat Malaka. Waktu itu waktu tempuhnya berkisar 3 jam. Jadi, awalnya saya berekspektasi waktu tempuhnya juga mungkin hanya berkisar tiga jam. Sedikit bosan memang bila tidak pandai menikmati laut dan setiap keadaan. Apalagi kalau sudah mulai mabuk laut dan sesak pipis. Untuk yang pertama saya syukurnya aman. Perjalanan pulang pergi aman dari mabuk laut. Tapi tidak dengan yang kedua. Dalam perjalanan pulang saya benar-benar dihajar rasa tidak nyaman kebelet pipis yang harus saya tahan sekitar satu jam. Seperti yang saya bilang tadi, untuk situasi seperti itupun kita harus pandai-pandai menikmati keadaan.

Selo aja Ka, nggak usah pikirkan sesak pipisnya. Pikirkan yang lainlah,” kata Bang Ridho Golap seperti komentarnya juga waktu membahas perjalanan yang rasanya tak sampai-sampai waktu beberapa mulai mengeluh bosan.

“Pikirkan aja nanti kalau udah sampai apa yang bisa kita lihat,” katanya melengos sambil merokok kretek.

Oh ya tentang mengatasi mabuk laut, termasuk mabuk darat, saya sudah mendapatkan jurus jitu mengatasinya. Andi yang mengajari. April lalu saat kami berlibur ke Sabang, dalam perjalanan darat dengan bus yang AC-nya kelewat dingin, saya mabuk darat. Mabuk yang nggak perlu minum alcohol. Hahaha. Andi menyarankan saya untuk duduk menekuk lutut, lalu menekan perut dengan bantal atau tas. Cukup manjur. Pun untuk perjalanan laut, jika sudah terasa mual, saya siap mengambil jurus jitu, rebahan atau duduk dengan menekuk lutut. Ternyata jitu sodara-sodara!!!

Perjalanan berangkat kami tak terlalu diberkati dengan cuaca yang cerah. Di kejauhan langit kelihatan gelap, hujan sudah nampak di kejauhan, di berbagai sisi. Rintik-rintik, sehingga meskipun tak besar, membuat laut sedikit berombak. “Jakpot aku dua kali,” kata Amri, salah satu teman jurnalis saat sudah turun dari kapal, yang ternyata waktu di kapal tak satupun kami menyadarinya. Hihihi….

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal kayu yang aman untuk ditumpangi sampai ke tujuan. Dilengkapi pelampung dan lampu untuk malam hari tapi tidak dilengkapi dengan toilet dan atap yang mumpuni. Jadilah di tengah keluasan Selat Malaka, kami menikmati hujan di atas kapal. Sembari berhujan-hujan ria, saya, Andi, Bang Zen, Buyung, dan Bang Ridho Golap, bercakap-cakap tentang entah apa saja.

Mulai tentang Sponge Bob yang naïf, Squidward yang paling realistis sekaligus paling narsis, tentang kenapa Sandy Cheeks si tupai yang bisa ada di Bikini Bottom. Juga tentang dialog-dialog dan kalimat Mr. Crap yang mengejutkan dan sangat tidak cocok untuk tontonan anak kecil. Kami juga mencoba membayangkan bagaimana Pi bisa bertahan dengan Richard Parker di tengah lautan.

Percakapan kemudian berpindah-pindah dari tentang laut, tentang burung yang terbang mendekati kapal pencari ikan, tentang burung yang singgah beristirahat di kayu-kayu yang mengapung di tengah laut. Seperti kayu tersebut, kapal kami mengapung-apung di tengah samudra. Kami seperti burung yang duduk beristirahat menunggu tiba di pulau.

Get closer to Berhala Island
Get closer to Berhala Island

Yes… Akhirnya Tiba di Berhala

Hampir 4 jam kapal kami sudah berjalan dengan kecepatan santai. Sejam sejam lalu, Pulau Berhala sudah kelihatan. Terasa semakin dekat dan terus semakin dekat. Tampak tiga gugusan pulau. Dua pulau kecil di kiri dan kanan dengan satu pulau utama yang jauh lebih besar dari keduanya. Pulau Berhala diapit dua pulau kecil di sisi kiri dan kanannya. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek. Tentang kedua pulau ini nantikan di part selanjutnya ya. 😀

Welcome gate
Welcome gate

Usai sudah cerita kami di atas kapal yang melebar kemana-mana, dermaga Pulau Berhala yang kokoh sudah kelihatan. Di atas puncak bukit tampak menara suar dengan lambang burung garuda di atasnya. Dermaga ini kelihatan masih baru. Pantas saja, menurut marinir yang saya ajak ngobrol, dermaga tersebut baru selesai sekitar awal tahun 2014 lalu.

Garis Pantai dan air yang menggoda.
Garis Pantai dan air yang menggoda.

Langit tidak lagi semendung di perjalanan tadi. Garis kebiruan di langit tampak cantik. Pun garis pantai yang kebiruan sudah sangat menggoda untuk disentuh. Saya bahagia, akhirnya sampai dan bisa menghirup udara laut dengan leluasa dari atas dermaga. Tulisan Welcome to Berhala Island ditulis dengan warna merah putih ditemani bendera merah putih memberi tanda jika mereka yang baru saja tiba sedang berada di teritori negara Indonesia. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek kelihatan mesra menjaga Pulau Berhala. Jika dilihat dari jauh ketiganya tampak seperti tubuh penyu degan kepala, tempurung, dan kakinya.

Well, saya sudah tiba di Berhala, waktunya cuci muka, menuntaskan hajat yang tertahan selama di perjalanan dan tentu makan siang yang sudah tertunda. Selamat datang di Pulau Berhala.

RAPID KL, Totalitas transportasi umum di Kuala Lumpur

Teks & Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Setelah tahun lalu gagal berangkat, akhirnya pada tahun ini saya menjelajah negara tetangga yang masih serumpun dengan Indonesia. Inilah Kuala Lumpur. Kota yang hampir tidak pernah tidur, kota yang sibuk, kota dimana segala ekspatriat dari seluruh penjuru dunia berkumpul.

Apa yang ada di kelapa kalian ketika saya mengucapkan kata Kuala Lumpur? Dari beberapa blog dan tulisan menyatakan bahwa Kuala Lumpur adalah kota yang ramai, surga belanja tidak hanya bagi kaum hawa, tempat dimana semua barang-barang branded dari perancang kenamaan dunia hampir semua ada disini. Tapi, bukan itu yang menarik perhatian saya. Melainkan sistem transportasinya yang diam-diam membuat saya berdecak kagum.

Selama kurang lebih empat hari menjelajah, saya hampir tidak menggunakan taksi. Hanya sekali saja. Itupun dalam keadaan kepepet dimana saat itu hujan dan saya memang harus kembali ke hostel untuk suatu keperluan. Mulai dari ketibaan sampai kepulangan, transportasi umumnyalah yang saya gunakan untuk berkeliling kota ini.

Monorail MyRapid

Saya harus memuji Malaysia untuk transportasi umum yang satu ini. Selain bersih dan terawat, harganya juga cukup terjangkau disesuaikan dengan berapa jauh jarak dan pemberhentian yang dilalui oleh kereta yang satu ini. Saya menggunakan fasilitas ini dari stasiun utama KL Sentral menuju penginapan yang terletak di dekat Berjaya Times Square, salah satu mall yang nge-hits di Kuala Lumpur. Menariknya, Monorail MyRapid melalui rute-rute wisata di Kuala Lumpur. Cara membeli tiketnya juga cukup canggih. Di setiap terminal monorail terdapat vending machine yang bisa kita gunakan untuk membeli tiket monorail yang berbentuk seperti koin dan berwarna biru. Koin ini berlaku untuk sekali perjalanan. Warga lokal biasanya menggunakan kartu yang bisa di isi ulang dan dibayar perbulan. Untuk wisatawan cukup dengan membeli koinnya saja. Selain itu, terdapat setiap petugas yang berjaga di setiap stasiun monorail. Tidak usah khawatir karena petugas ini cukup ramah dan sangat membantu. Contohnya, ketika saya ingin membeli koin dari stasiun KL Sentral menuju Stasiun Imbi. Saya memasukkan selembar uang 10 ringgit ke dalam vending machine. Ternyata, si vending machine ini tidak menerima uang dalam pecahan besar. Si petugas yang daritadi mengawasi kami langsung sigap dan mengganti uang 10 ringgit tadi menjadi pecahan 5 ringgit sebanyak 2 lembar. Kejadian ini membuat kesan negara ini bertambah baik di mata saya. Jadi, jika ingin menjelajah Kuala Lumpur, monggo silakan dicoba Monorail-nya. Untuk informasi mengenai rute yang dilalui sila berkunjung ke websitenya di http://www.myrapid.com.my/rail%3Fcode%3DMRL

Penampakan Monorail di Stasiun Maharajalela
Penampakan Monorail di Stasiun Maharajalela

Rapid GoKL

Ada monorail MyRapid, ada Rapid GoKL. Kali ini bentuknya bukan kereta, melainkan bus. Tapi yang luar biasanya, rapid GoKL ini gratis saudara-saudara. YA. GRATIS TIS TIS! Kalau dipikir-pikir hari gini mana ada yang gratis. Istilah orang-orang sekarang, buang air saja bayar. Tapi di Kuala Lumpur, transportasi yang satu ini sungguh-sungguh gratis. Melewati rute-rute emas seperti Bukit Bintang, KLCC dan Pasar Seni, bus ini menjadi primadona diantara para wisatawan dan orang lokal. Jangan salah, meskipun digratiskan, bus ini bersih dan tertib. Semua orang teratur. Meski di jam-jam padat, tidak ada yang berdesakan dan mendorong satu sama lain. Kalau kebetulan sedang main di daerah Bukit Bintang dan ingin menuju ke KLCC untuk berfoto-foto eksis di Menara Kembar Petronas, kita bisa menggunakan bus ini. Bus Rapid GoKL ini akan berhenti disetiap halte dimana terdapat tulisan GoKL. Jadi, yang terbiasa dengan “pinggir bang!” tidak berlaku ya jika sedang menaiki bus ini. he..he..he..

Penampakan Bus Rapid GoKL dari dalam. Bersih cyin!
Penampakan Bus Rapid GoKL dari dalam. Bersih cyin!

KTM Komuter

Hari kedua di Kuala Lumpur, saya memutuskan untuk pergi ke Batu Caves, tempat dimana terdapat arca dewa hindu murugan yang tertinggi di dunia. Tempat ini jaraknya agak jauh dari Kuala Lumpur, jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi mungkin akan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Saya mencoba menumpang kendaraan umum. Kali ini saya mencoba KTM Komuter. KTM sendiri adalah singkatan dari Kereta Tanah Melayu.

Papan keterangan KTM Komuter.
Papan keterangan KTM Komuter.

Dioperasikan tahun 1995, kereta ini menjangkau rute yang sedikit terluar dari Kuala Lumpur. Yang saya salut, kereta ini sama sekali tidak mengganggu jalur lalu lintas kendaraan pribadi. Jadi, tidak akan ditemui palang pintu kereta yang turun setiap kali kereta mau lewat karena KTM Komuter melewati jalur bawah tanah. Perjalanan ke Batu Caves bisa ditempuh kurang lebih 30 menit. Dengan membayar ongkos senilai 2 ringgit saja. Yang menarik lagi dari KTM Komuter adalah disediakannya 3 gerbong khusus untuk perempuan saja. Pria dilarang duduk di dalam gerbong ini. Hmm, menarik ya? Kalau di Indonesia mungkin akan disamaratakan semua ya? :p

KTM Komuter. Kereta Tanah Melayu ~
KTM Komuter. Kereta Tanah Melayu ~

LRT (Light Rapid Transportation)

Hampir sama dengan monorail, LRT melewati jarak yang tidak begitu populer di kalangan wisatawan. Bergerak dari stasiun utama KL Sentral, tempat dimana semua kereta bertemu, kami menumpang LRT Kelana Jaya Line menuju stasiun Dang Wangi untuk kemudian menyambung kereta lagi ke stasiun Imbi, lokasi hostel berada. Sebenarnya tidak rumit untuk menumpang kereta seperti ini. Harus teliti saja dan perhatikan rute-rute yang dilalui. Ya, mungkin saja rute yang kita mau tidak dilewati oleh kereta ini. Mungkin kami tidak akan menumpangi LRT ini kalau saja tidak salah jalur. Seharusnya, saya dan teman seperjalanan saya, Tika bisa saja langsung menumpang Monorail MyRapid langsung menuju stasiun Imbi. Tapi karena masih bingung dan sedikit lupa jalur, kami membeli tiket LRT. Hikmahnya, kami jadi lebih teliti memperhatikan jalur dan rute yang dilalui LRT.

LRT & Monorail Stasiun. Canggih dan terawat. Wiuw ~
LRT & Monorail Stasiun. Canggih dan terawat. Wiuw ~

Malaysia membuat saya jatuh cinta pada transportasi umum dan kecanggihannya. Untuk masalah makanan, Indonesia masih juara. Saya jadi berpikir, seandainya prasarana transportasi umum di Indonesia dibenahi seperti negara tetangga, mungkin nggak ya terawat dan secanggih di Malaysia? Mungkin saja bisa. Melihat transportasi umum di Indonesia, saya sebenarnya miris dan agak pesimis Indonesia bisa tidak ya menyaingi negara tetangganya? Saya menaruh harapan besar pada pemerintahan Jokowi – JK. Indonesia bisa!

Dunia Melancong Magazine, New Travel Reference

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Liburan akan semakin mudah ketika sejumlah informasi sudah dikumpulkan. Referensi seperti majalah traveling akan sangat membantu.
Cover Dunia Melancong Edisi 2
Cover Dunia Melancong Edisi 2

Sekarang ini traveling udah jadi bagian dari gaya hidup. Makanya refrensi jalan-jalan itu udah jadi kebutuhan. Seperti kemanaaja yang menjadi refrensi buat kamu mendapatkan informasi tentang perjalanan dan pernak-perniknya, ini nih ada majalah baru yang menambah kekayaan wawasan informasi seputar jalan-jalan. Namanya Dunia Melancong.

Saya dengan majalah Dunia Melancong
Saya dengan majalah Dunia Melancong

Majalah Dunia Melancong adalah majalah traveling yang digawangi oleh anak-anak muda kota Medan. Kontennya nggak cuma lokal Sumatera Utara aja lho, tapi juga lokal dan nasional. Distribusinya juga udah sampe Jakarta. Dan… yang paling bikin ngiler itu adalah majalah ini gratis lho, free… Bisa kamu dapatkan di berbagai reading point di kota Medan dan Jakarta. Good job Dunia Melancong!

Kertasnya bagus...
Kertasnya bagus…

 

“Pernak-pernik” Traveling, Kecil Tapi Penting!!

Teks oleh Eka Rehulin @ekarehulin

 

Atas nama pencinta perjalanan, persiapkan diri saat akan “menggelandang”.

MEMILIH DESTINASI

Pilihan tempat ini bisa karena memang ambisi pribadi dan bisa juga karena ajakan teman. Kalau dengan teman, pilihlah teman yang tidak suka membandingkan tempat tujuan dengan rumahnya. He-he-he… Apapun itu, carilah dahulu informasi yang banyak soal tempat tujuan baik dari internet, buku, print magazine, mau pun dari orang lain. Tapi percayalah, jangan terlalu menelan bulat-bulat pengalaman perjalanan orang lain karena jalan-jalan itu sangat bersifat personal. Tiap orang akan punya pengalaman yang berbeda. So, ciptakan kenyamanan perjalanan kamu sendiri.

Because you belong everywhere...
Because you belong everywhere…

1. Rencanakan apa yang mau kamu lakukan di sana

Ini penting banget biar nggak mati gaya dan buang-buang waktu. Apakah mau shopping atau trekking atau mau chill out. Itu kamu yang tentukan, jangan sampai kolaps dan kehabisan tenaga. Faktor kayak cuaca, waktu dan dana yang tersedia, plus kondisi tubuh perlu kamu pertimbangkan.

2. Tentukan rute, akomodasi, dan transportasi yang mau dipakai

Kelihatannya emang simple banget tapi penting untuk mengatur perpindahan kamu dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi kalau rencananya mau keliling beberapa kota bahkan negara misalnya. Jangan ragu menggunakan transport lokal bahkan perahu sekalipun. Kamu ‘kan perlu mencoba segala hal. Tentukan juga itinerary sendiri.

3. Cek Travel Dokumen

Pelajari juga dong apa kamu butuh paspor baru atau visa. Oh ya, sebaiknya urus paspor baru kamu sebelum 6 bulan masa berlakunya habis. Antisipasi kami nggak diijinin masuk negara tujuan tertentu. Beberapa negara di Asia bahkan mensyaratkan paspor minimal berumur 3 bulan, untuk yang 6 bulan biasa berlaku di negara-negara Amerika dan Eropa. Nah untuk negara Asean seperti Laos dan Kamboja, negara ini tetap meminta visa bagi orang Indonesia. Visa bisa diperoleh secara online atau di arrival (biasa di bandara/pintu masuk utama) atau di kedutaaan negara bersangkutan.

4. Tentang penginapan

Untuk backpacker yang berpedoman bahwa bumi adalah rumah dan langit adalah atapnya, memang ini nggak bakalan jadi masalah penting. Walaupun begitu kamu nggak usah khawatir, di negara-negara yang udah jadi tujuan wisata, biasanya banyak berjejer hostel, guesthouse, dan hotel kelas melati (bukan hotel plus-plus) yang bisa kamu tumpangi. Di negara-negara kayak Thailand dan Kamboja penginapan dan hostelnya murah kok, nggak sampai Rp. 100 ribu. Ada banyak hostel yang bisa dishare untuk sekitar 8-12 orang. Mesikpun murah, kebersihan dan pelayanannya terjamin baik.

5. Jangan abaikan, be prepare for the unexpected !

Jangan berharap terlalu besar terhadap sebuah perjalanan. Itu cara terbaik menikmati kegiatan “menggelandang”. Nikmati apa adanya, pelajari kehidupan lokal, kenali budaya dan bahasa setempat. Hal yang kurang menyenangkan dalam perjalananpun jangan membuat mengeluh dan tidak menikmati perjalanan. Yang rugi diri sendiri lho.

Where ever you go, please enjoy!
Where ever you go, please enjoy!

 

TRUST ME, IT WORKS!!
  • Copy Your Identity. Semoga nggak terjadi sama kamu, tapi penting untuk melakukan ini. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi kehilangan dokumen dalam perjalanan, sebaiknya back up halaman paspor atau visa. Selain menyimpannya dalam bentuk hardcopy, baiknya simpan juga secara virtual di web atau email pribadi agar bisa diunduh di mana pun kamu berada. Simpan file dalam ukuran yang bisa di-print dengan jelas. Ingat, jangan menaruh halaman paspor di web yang setiap orang di dunia bisa melihat. Terutama di halaman yang ada bar chart (kode di bawah detail nama). Ingat lho, kejahatan dengan pencurian identitas banyak terjadi.
  • Seorang teman saya berpendapat sebaiknya jangan lebih dari 3 hari di satu tempat karena akan menimbulkan kebosanan
  • Baiknya bawa uang dalam bentuk $ US karena nilai tukarnya akan lebih tinggi di negara tujuan dan perbedaan nilai tukar itu sangat berarti bagi seorang traveler. Kecuali ringgit Malaysia, baiknya tukarkan di Indonesia.
  • Jangan lupa bawa kartu kredit. Itu lebih baik dari pada travel cek karena nilainya bisa sangat rendah.
  • Meletakkan paspor di kamar hotel atau hostel jauh lebih aman ketimbang di bawa-bawa ke mana-mana. Bawalah copy-annya saja.
  • Untuk muslim, bila keliling Indocina sebaiknya hindari makanan mengandung daging. Soalnya susah menemukan makanan tanpa pork. Apalagi terkadang komunikasi bahasa Inggris di suatu negara tetentu itu sulit sekali dilakukan. Kecuali kamu tidak terlalu khawatir dengan itu.
  • Jangan terlihat seperti orang asing yang serba nggak tahu apa-apa. Biar aman aja.
  • Agar terhindar dari pencopetan, buang kebiasaan buruk menyimpan barang berharga di saku bagian belakang. Kamu sering ‘kan seperti itu?
  • Bawa uang secukupnya saja di saku baju depan. Dengan berada di saku depan, uang lebih mudah diawasi. Akan lebih baik lagi saku ini punya tutup, saku dalam, atau pakai jaket sekalian.
  • Simpan barang-barang berharga di dalam tas tangan (daypack).  Tas tangan kamu sebaiknya pilih yang berlapis-lapis.  Kalaupun pencopet memakai pisau untuk mengoyak tas, lapisan terdalam masih tetap aman. Kalau ukuran tas ransel kamu nggak terlalu besar, tas bisa digendong di depan.
  • Banyak daerah tujuan wisata low season itu di bulan Januari, Februari, Maret, dan April. Jadi… biaya travelling di bulan-bulan ini jauh lebih miring. Silahkan buktikan sendiri!
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
MUST HAVE ITEMS!

Saat travelling apa saja sih barang-barang yang nggak boleh lupa dibawa?

  • Dokumen-dokumen penting jangan lupa!
  • Perlu bawa tas kecil, yang berisi obat-obatan, vitamin C, dan aman menyimpan semua dokumen plus uang.
  • Dilarang lupa bawa peta! Penting sekali loh. Kalau perlu, kamu juga bisa bawa travel guide kayak lonely planet.
  • Berhubung ini zaman teknologi, hand phone dan smart phone akan sangat memudahkan kamu untuk memperoleh informasi.
  • Kamera. Kalau kamu bukan orang yang konsen dengan kesempurnaan foto, pilihlah kamera yang nyaman dibawa namun memenuhi kebutuhan. Daftarkan juga barang elektronik yang kamu bawa dalam perjalanan ke luar negeri di bagian bea cukai keberangkatan di bandara. Ini supaya waktu kembali ke tanah air, barang-barang elektronik yang kamu bawa nggak dikenakan biaya masuk dan pajak. Biaya pendaftaran ini gratis kok.

DON’T BE AFRAID TO TRAVEL ALONE

“Perjalanan adalah tentang menemukan diri sendiri. Jadi sejauh apapun kakimu melangkah, kau takkan pernah kesulitan menemukan jalan pulang.”

Teks oleh Mustika T. Yuliandri @PerempuanThicka | Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

“Takut sendirian” adalah satu dari seribu alasan yang menghalangi banyak orang untuk melakukan perjalanan. Padahal, saat melakukan perjalanan, tak ada seorang pun yang benar-benar sendiri. Setiap pejalan adalah teman untuk pejalan yang lainnya. Kesulitan mendadak jadi sahabat, tersesat menjadi teman baik dan kejutan-kejutan menjelma teman main yang tak kalah asik. Beberapa orang memang tak nyaman melakukan traveling sendirian, padahal traveling sendirian itu menjadi salah satu hal yang harus dicoba at least sekali seumur hidup. Saat sendirian di sebuah tempat asing dirimu akan diuji. Diuji untuk lebih percaya kepada diri sendiri, diuji lebih peka terhadap insting, diuji menyingkirkan segudang rasa malu dan diuji untuk mau melakukan apa saja demi bertahan. Kawan, pergilah ke tempat jauh sendirian, niscaya kau akan mencintai dirimu lebih dalam saat kelak kau pulang.

_MG_3616 2

Why do you need to travel alone?

1. Because you belong everywhere. Belahan dunia manapun adalah milikmu. Tak ada tempat yang benar-benar asing saat kau melakukan perjalanan. Rasa takut yang membuat segalanya tampak seram. Namun setelah kaujelajahi dan eksplorasi kau akan menjadikan semua destinasi rumah yang menebar nyaman.

2. To make friend with anybody. Saat melakukan perjalanan sendirian kesempatan bertemu dan berteman dengan orang lain terbuka lebar. Apalagi kau memilih penginapan dormitory yang sudah jelas membuka kesempatan interaksi yang luas. Pasang senyum semanis mungkin dan berkenalan dengan para pejalan dari belahan dunia lain. Bagi pengalaman dan jalin pertemanan dengan siapa saja. Saat perjalananmu usai tak hanya tempat-tempat indah yang membuatmu tersenyum, kelak orang-orang yang kautemui juga akan menjadi kenangan yang tak kalah manis.

3. To be thankful. Saat sendirian akan banyak waktu yang kaupakai untuk merenung. Akan banyak kepingan-kepingan pemikiran yang akan ‘mengganggumu’ saat kau sendirian dan mungkin akan menjadikanmu orang yang lebih bersyukur. Terkadang, seseorang harus benar-benar sendiri untuk menyadari betapa indahnya kebersamaan. Perjalanan yang kaulakukan sendirian akan membawamu ke dalam perenungan. Indahnya pemandangan, tulusnya senyum dari mereka yang asing, makanan-makanan enak pemuas lapar, musik meriah, pasar yang riuh serta apa saja yang kaunikmati akan memberimu satu kesimpulan bahwa perjalanan memang tentang bersyukur.

How to survive?

1. Jangan takut. Jangan pikirkan hal-hal seram yang akan kauhadapi. Waspada boleh, tapi jangan parno. Percayalah akan ada orang baik dimanapun kau berada. Meskipun orang jahat tak kalah sedikit jumlahnya. Singkirkan rasa takut dan percaya bahwa kau mampu berteman dengan semesta.

2. Bawalah barang-barang kesukaanmu. Buku favorit atau benda-benda yang selalu membuatmu nyaman. Buku adalah teman paling baik di saat menunggu. Dalam perjalanan kamu akan mengalami saat-saat menunggu yang banyak dan tentunya tak terduga. Seperti pesawat yang delay, bus yang mungkin mogok atau berbagai hal menyebalkan lainnya. So, bring your favorite one with you.

3. Music. Isi iPod dengan lagu-lagu favorit pengusir jemu. Saat sekitar mulai membosankan isi duniamu sendiri dengan nada-nada pilihan. Tapi ingat, sesekali bolehlah tidak mendengarkan lagu kesukaan dan coba untuk lebih mendengar ‘nyanyian semesta’ yang mungkin hanya sekali kau nikmati seumur hidup. Suara riuh pasar malam, suara kendaraan yang lalu-lalang, suara burung-burung di pagi hari atau suara apa saja yang kebetulan mampir di sekitar.

4. Smile. Tersenyumlah, maka segala masalah akan menjelma lebih mudah. Semua manusia mengerti arti sebuah senyuman meski bahasa mereka berbeda. Jadi jangan lupa tersenyum, terutama di kantor imigrasi. You know what I mean.

5. Write down everything. Tulis apa saja yang menurutmu menarik. Jangan malas, karena dengan hanya mengingat di kepala segala detail perjalanan kemungkinan besar akan terlupa. Siapkan buku catatan dan mulailah mengumpulkan pengalaman dalam ‘kotak ajaib’ bernama kata-kata.

6.  Percayalah pada dirimu 100%. Tak ada yang bisa kaupercaya 100% di dunia ini selain Tuhan dan dirimu sendiri. Jangan percaya segala kebaikan yang bisa saja semu di perjalanan. Ada banyak kejahatan yang mengintai para turis, khususnya mereka yang traveling sendirian. So, trust yourself only!

NOTE: Yang sendirian itu dirimu, bukan perjalanan. Ada semesta dan kebaikan yang selalu mengiringi langkahmu yang berani. So, don’t be afraid to travel alone.

Menggatalkan Kaki, Mengoleksi Ingatan, Membagi Cerita!

Teks oleh Eka Dalanta @ekadalanta *artikel ini pernah dimuat di Aplaus The Lifestyle

You are still young.  Free… do yourself a favor.  Before it’s too late, without thinking too much about it first, pack a pillow and a blanket and see as much of world as you can. You will not regret it. One day it will be too late.”  -The Namesake, Jhumpa Lahiri

MESKIPUN terbilang newbie di dunia per-travel-an, saya memang si kaki gatal. Kata teman-teman, saya gadis petualang, dalam arti sesungguhnya, tentu tanpa makna ganda atau makna tambahan *wink. Saya suka berjalan, kapan saja di mana saja. Suka melihat, memperhatikan, menonton orang, dan menemukan teman-teman baru.

Dalam sebuah perjalanan
Dalam sebuah perjalanan

Itu saya sekarang! Dulu saya anak rumahan, yang menahan rasa suka kemana-mana karena dibatasi langkah kakinya. Perempuan yang suka berjalan murah ini, mendapat kepercayaan penuh sejak menjejakkan kaki di bangku kuliah. Dengan prestasi akademik yang terjaga baik, menyibukkan diri di kegiatan ekstra di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya seperti mendapatkan garansi bebas kemana saja dengan syarat wajib lapor dan pintar-pintar menjaga diri. Saya beruntung punya Mama yang rela sering ditinggal anak gadisnya dan melepasnya melihat hal-hal ajaib di luar rumah. Tapi waktu itu gerak saya masih terbatas, sebatas kemampuan saya mendapatkan sponsor dari kampus saat ada kegiatan pelatihan atau sejenisnya. Uang saku saya masih terbatas.

Singapura, perjalanan makin jauh
Singapura, langkah terus semakin bergerak

Saya nggak ingat kapan persisnya pertama kali jatuh cinta sama kegiatan perjalanan. Buat saya dulu, kegiatan perjalanan ini seperti kegiatan berlari. Saya memang senang berlari. Teman saya pernah bilang, “Nggak apa-apa kamu suka berlari, asal nggak lari dari kenyataan.” Tapi nyatanya, saya awalnya memang lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa hidup tidak sepersis apa yang diinginkan, bahwa semuanya tak berjalan semulus harapan. Halah, kok jadi curhat pulak ya! He-he-he… Tapi sekarang nggak lagi kok.

Oke, kembali ke perjalanan, saya selalu suka berjalan, sendiri ataupun dengan siapapun, dua-duanya sama menyenangkannya. Perjalanan terjauh pertama saya dimulai saat saya duduk di bangku kuliah. Tujuan pertamanya adalah kota Bandung demi sebuah pelatihan jurnalistik dari Pers Mahasiswa. Itulah sebabnya, sampai sekarang, Bandung memiliki tempat istimewa di hati dan ingatan saya. Di perjalanan pertama saya ini, Jakarta-Bandung-Semarang, saya menemukan kecintaan saya pada perjalanan. Jauh lebih besar dari sebelumnya. Dalam perjalanan ini saya belajar tentang kebodohan, gengsi, keberanian, rasa takut, cemas, rasa malu, juga belajar percaya. Dan kemudian tersenyum mensyukuri semua ketika itu sudah menjadi kenangan.

Danau Singkarak, sebuah perjalanan pada perjalanan selanjutnya
Danau Singkarak, sebuah perjalanan menuju perjalanan selanjutnya

Perjalanan pertama saya ini terbilang spektakuler untuk orang yang tidak pernah melangkah jauh. Saya tak dapat tiket kereta Bandung-Semarang, tapi terlalu gengsi untuk pulang kembali ke tempat pelatihan. And thank God, saya dapat tiket dari calo. Belajar percaya, saya naik kereta, duduk di depan pintu kereta dekat dapur, menikmati perjalanan, melihat pinggiran laut sembari duduk menekuk lutut, dan minum kopi bersama pegawai kereta. Dan ajaibnya, saya kemudian mendapatkan tempat tidur. Tak dapat kursi, saya “dianugerahi” tempat tidur. Sesuatu banget kan? Modalnya, belajar percaya pada orang baru, mensyukuri tiap peristiwa, dan tidak mengeluh pada situasi seperti apapun. Ini tentu menjadi momen luar biasa buat anak kuliahan yang baru “lepas nyusu” seperti saya. Sesederhana cerita ini, begitulah kecintaan saya pada ingatan perjalanan, juga ketika melakukannya. Begitulah… perjalanan saya kemudian dimulai. Belum terlalu jauh, belum keliling Indonesia, dan masih beberapa negara di luar Indonesia. Tapi saya suka melakukannya. Pun kalau cuma ke Berastagi di akhir pekan. Siapa bilang itu tidak bisa disebut perjalanan? Nikmati tiap detailnya dan kamu akan semakin mencintai kehidupan.

Ngapel dulu. (baca: makan apel)
Ngapel dulu. (baca: makan apel)

Buat kalian tahu!

  1. Perjalanan tak selalu membuatmu kaya secara finansial, malah menguras kantong dan tabungan. Kecuali kalau kamu memang traveler writer atau orang yang digaji untuk melakukan perjalanan. Tapi percayalah, lebih dari kekayaan finansial, kamu akan mendapatkan kekayaan pengalaman. Tahu banyak hal dan membuka pikiran kamu agar tak picik.
  2. Perjalanan juga membawamu bertemu dengan orang-orang baru. Mendapatkan teman-teman baru, keluarga baru, atau juga mungkin pacar baru. Bhikhikhikkk…
  3. Perjalanan mengajarkan kita rendah hati. Mata terbuka, melihat dunia besar, dan sadar betapa kecilnya kitas. 😀
  4. Perjalanan menghadiahkan kita cerita dan kenangan, yang tak akan habis dimakan waktu dan zaman. Selalu ada ingatan yang bikin kita senyum-senyum sendiri, kecuali kamu tiba-tiba amnesia.
  5. Ketika akan melakukan perjalanan, sebaiknya rencanakan dengan baik. Detailkan perjalanan karena itu akan sangat memudahkan kamu. Perjalanan mengajarkan kamu menjadi manager yang baik. Tapi ingat, jangan abaikan spontanitas yang membuat hidup bahagia dan berwarna.
  6. Selalu berpikiran baik. Percayalah, selalu saja ada orang baik yang bersedia kamu minta tolongin. Pikiran positif membawa kebaikan datang mendekat padamu.
  7. Jangan menunggu orang lain. Untuk merencanakan perjalanan, jangan tunggu orang lain. Waktunya kadang susah matching-nya. Kenapa takut jadi independen traveler. Tenang aja, di perjalanan, seperti keajaiban, kamu akan sering ketemu dengan rekan perjalanan yang tepat. Siapa tahu jodoh juga kan ya? Hi-hi-hi…
  8. Nikmati tiap perjalanan, jangan suka mengeluh, buang pikiran sempit. Selamat datang di dunia perjalanan. Mari menggatalkan kaki.