Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 1

Cara kami menikmati perjalanan

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

Jauh dekat 4000. Eh bukan, ini bukan angkot. Kami sedang dalam perjalanan ke Pulau Berhala. Jauh dekat, jangan pikirkan jauhnya.

Saya paling demen kalau ada yang nge-SMS atau nelpon terus nanya begini nih, “Ka, minggu depan kemana?” atau “Ka, weekend ini ada kegiatan?” Ini sih biasanya pasti ajakan jalan kemana atau ngelakuin sesuatu di akhir pekan, yang kalau memang belum ada jadwal pasti langsung saya jawab, “Belum ada rencana kok….”

Sama kayak minggu lalu waktu tiba-tiba Bang Onny Kresnawan, partner kerja dari Sineas Film Documentary (SFD) -yang banyak berkontribusi di masa-masa awal karier saya (halah)- nelpon dan melontarkan pertanyaan sejenis. Awalnya sih mikir bakal diajakin gawean bareng. Hahaha. Mikirnya udah gawean aja. Ternyata Bang Onny ngajakin liburan rame-rame dengan teman-teman media dan penulis lainnya ke Pulau Berhala.

Bang Onny dan tim SDF sedang dalam pengerjaan video pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), lokasi administratif Pulau Berhala. Karena memang kapal penumpang ke Pulau Berhala yang dikelola oleh TNI itu muatannya sampai 30-an orang, sayang kalau kosong, sekalian deh Bang Onny mengajak teman-teman dari berbagai media untuk liburan bareng dan tentu saja menuliskan cerita perjalanan ke sana. Termasuk kemanaaja.com…

Berhala Island
Berhala Island

Kecil di Keluasan Samudra

Pulau Berhala adalah satu dari sekian banyak pulau kecil yang berada di wilayah perbatasan perairan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Pulau Berhala berada di Selat Malaka, berbatasan dengan Malaysia.

Sebagai pulau terluar Indonesia, pulau ini menjadi wilayah penjagaan perairan, melihat arus masuk kapal-kapal asing, jangan sampai pula diklaim oleh negara lain.

Dari Medan kami berangkat menuju Serdang Bedagai (Sergei) menuju sebuah dermaga kecil di Desa Tanjung Beringin. Dermaga ini adalah daerah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Perkampungan menuju dermaga sangat menarik. Sebuah perkampungan tua yang kemungkinan besar dulu adalah China Town.  Dermaga dan pelabuhan selalu menjadi tempat asal mula gerak perekonomian tumbuh. Dari dermaga kami melewati muara sungai menuju lautan. Cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam. Apalagi  demi keamanan kapal dan air yang tidak sedalam lautan, kapal bergerak sangat lambat. Fuih…

Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.
Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.

Perjalanan ke Pulau Berhala lebih lama dari yang saya bayangkan, sekitar 4 jam. Saya sudah pernah ke Pulau Pandang yang juga berada di Selat Malaka. Waktu itu waktu tempuhnya berkisar 3 jam. Jadi, awalnya saya berekspektasi waktu tempuhnya juga mungkin hanya berkisar tiga jam. Sedikit bosan memang bila tidak pandai menikmati laut dan setiap keadaan. Apalagi kalau sudah mulai mabuk laut dan sesak pipis. Untuk yang pertama saya syukurnya aman. Perjalanan pulang pergi aman dari mabuk laut. Tapi tidak dengan yang kedua. Dalam perjalanan pulang saya benar-benar dihajar rasa tidak nyaman kebelet pipis yang harus saya tahan sekitar satu jam. Seperti yang saya bilang tadi, untuk situasi seperti itupun kita harus pandai-pandai menikmati keadaan.

Selo aja Ka, nggak usah pikirkan sesak pipisnya. Pikirkan yang lainlah,” kata Bang Ridho Golap seperti komentarnya juga waktu membahas perjalanan yang rasanya tak sampai-sampai waktu beberapa mulai mengeluh bosan.

“Pikirkan aja nanti kalau udah sampai apa yang bisa kita lihat,” katanya melengos sambil merokok kretek.

Oh ya tentang mengatasi mabuk laut, termasuk mabuk darat, saya sudah mendapatkan jurus jitu mengatasinya. Andi yang mengajari. April lalu saat kami berlibur ke Sabang, dalam perjalanan darat dengan bus yang AC-nya kelewat dingin, saya mabuk darat. Mabuk yang nggak perlu minum alcohol. Hahaha. Andi menyarankan saya untuk duduk menekuk lutut, lalu menekan perut dengan bantal atau tas. Cukup manjur. Pun untuk perjalanan laut, jika sudah terasa mual, saya siap mengambil jurus jitu, rebahan atau duduk dengan menekuk lutut. Ternyata jitu sodara-sodara!!!

Perjalanan berangkat kami tak terlalu diberkati dengan cuaca yang cerah. Di kejauhan langit kelihatan gelap, hujan sudah nampak di kejauhan, di berbagai sisi. Rintik-rintik, sehingga meskipun tak besar, membuat laut sedikit berombak. “Jakpot aku dua kali,” kata Amri, salah satu teman jurnalis saat sudah turun dari kapal, yang ternyata waktu di kapal tak satupun kami menyadarinya. Hihihi….

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal kayu yang aman untuk ditumpangi sampai ke tujuan. Dilengkapi pelampung dan lampu untuk malam hari tapi tidak dilengkapi dengan toilet dan atap yang mumpuni. Jadilah di tengah keluasan Selat Malaka, kami menikmati hujan di atas kapal. Sembari berhujan-hujan ria, saya, Andi, Bang Zen, Buyung, dan Bang Ridho Golap, bercakap-cakap tentang entah apa saja.

Mulai tentang Sponge Bob yang naïf, Squidward yang paling realistis sekaligus paling narsis, tentang kenapa Sandy Cheeks si tupai yang bisa ada di Bikini Bottom. Juga tentang dialog-dialog dan kalimat Mr. Crap yang mengejutkan dan sangat tidak cocok untuk tontonan anak kecil. Kami juga mencoba membayangkan bagaimana Pi bisa bertahan dengan Richard Parker di tengah lautan.

Percakapan kemudian berpindah-pindah dari tentang laut, tentang burung yang terbang mendekati kapal pencari ikan, tentang burung yang singgah beristirahat di kayu-kayu yang mengapung di tengah laut. Seperti kayu tersebut, kapal kami mengapung-apung di tengah samudra. Kami seperti burung yang duduk beristirahat menunggu tiba di pulau.

Get closer to Berhala Island
Get closer to Berhala Island

Yes… Akhirnya Tiba di Berhala

Hampir 4 jam kapal kami sudah berjalan dengan kecepatan santai. Sejam sejam lalu, Pulau Berhala sudah kelihatan. Terasa semakin dekat dan terus semakin dekat. Tampak tiga gugusan pulau. Dua pulau kecil di kiri dan kanan dengan satu pulau utama yang jauh lebih besar dari keduanya. Pulau Berhala diapit dua pulau kecil di sisi kiri dan kanannya. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek. Tentang kedua pulau ini nantikan di part selanjutnya ya. 😀

Welcome gate
Welcome gate

Usai sudah cerita kami di atas kapal yang melebar kemana-mana, dermaga Pulau Berhala yang kokoh sudah kelihatan. Di atas puncak bukit tampak menara suar dengan lambang burung garuda di atasnya. Dermaga ini kelihatan masih baru. Pantas saja, menurut marinir yang saya ajak ngobrol, dermaga tersebut baru selesai sekitar awal tahun 2014 lalu.

Garis Pantai dan air yang menggoda.
Garis Pantai dan air yang menggoda.

Langit tidak lagi semendung di perjalanan tadi. Garis kebiruan di langit tampak cantik. Pun garis pantai yang kebiruan sudah sangat menggoda untuk disentuh. Saya bahagia, akhirnya sampai dan bisa menghirup udara laut dengan leluasa dari atas dermaga. Tulisan Welcome to Berhala Island ditulis dengan warna merah putih ditemani bendera merah putih memberi tanda jika mereka yang baru saja tiba sedang berada di teritori negara Indonesia. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek kelihatan mesra menjaga Pulau Berhala. Jika dilihat dari jauh ketiganya tampak seperti tubuh penyu degan kepala, tempurung, dan kakinya.

Well, saya sudah tiba di Berhala, waktunya cuci muka, menuntaskan hajat yang tertahan selama di perjalanan dan tentu makan siang yang sudah tertunda. Selamat datang di Pulau Berhala.

RAPID KL, Totalitas transportasi umum di Kuala Lumpur

Teks & Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Setelah tahun lalu gagal berangkat, akhirnya pada tahun ini saya menjelajah negara tetangga yang masih serumpun dengan Indonesia. Inilah Kuala Lumpur. Kota yang hampir tidak pernah tidur, kota yang sibuk, kota dimana segala ekspatriat dari seluruh penjuru dunia berkumpul.

Apa yang ada di kelapa kalian ketika saya mengucapkan kata Kuala Lumpur? Dari beberapa blog dan tulisan menyatakan bahwa Kuala Lumpur adalah kota yang ramai, surga belanja tidak hanya bagi kaum hawa, tempat dimana semua barang-barang branded dari perancang kenamaan dunia hampir semua ada disini. Tapi, bukan itu yang menarik perhatian saya. Melainkan sistem transportasinya yang diam-diam membuat saya berdecak kagum.

Selama kurang lebih empat hari menjelajah, saya hampir tidak menggunakan taksi. Hanya sekali saja. Itupun dalam keadaan kepepet dimana saat itu hujan dan saya memang harus kembali ke hostel untuk suatu keperluan. Mulai dari ketibaan sampai kepulangan, transportasi umumnyalah yang saya gunakan untuk berkeliling kota ini.

Monorail MyRapid

Saya harus memuji Malaysia untuk transportasi umum yang satu ini. Selain bersih dan terawat, harganya juga cukup terjangkau disesuaikan dengan berapa jauh jarak dan pemberhentian yang dilalui oleh kereta yang satu ini. Saya menggunakan fasilitas ini dari stasiun utama KL Sentral menuju penginapan yang terletak di dekat Berjaya Times Square, salah satu mall yang nge-hits di Kuala Lumpur. Menariknya, Monorail MyRapid melalui rute-rute wisata di Kuala Lumpur. Cara membeli tiketnya juga cukup canggih. Di setiap terminal monorail terdapat vending machine yang bisa kita gunakan untuk membeli tiket monorail yang berbentuk seperti koin dan berwarna biru. Koin ini berlaku untuk sekali perjalanan. Warga lokal biasanya menggunakan kartu yang bisa di isi ulang dan dibayar perbulan. Untuk wisatawan cukup dengan membeli koinnya saja. Selain itu, terdapat setiap petugas yang berjaga di setiap stasiun monorail. Tidak usah khawatir karena petugas ini cukup ramah dan sangat membantu. Contohnya, ketika saya ingin membeli koin dari stasiun KL Sentral menuju Stasiun Imbi. Saya memasukkan selembar uang 10 ringgit ke dalam vending machine. Ternyata, si vending machine ini tidak menerima uang dalam pecahan besar. Si petugas yang daritadi mengawasi kami langsung sigap dan mengganti uang 10 ringgit tadi menjadi pecahan 5 ringgit sebanyak 2 lembar. Kejadian ini membuat kesan negara ini bertambah baik di mata saya. Jadi, jika ingin menjelajah Kuala Lumpur, monggo silakan dicoba Monorail-nya. Untuk informasi mengenai rute yang dilalui sila berkunjung ke websitenya di http://www.myrapid.com.my/rail%3Fcode%3DMRL

Penampakan Monorail di Stasiun Maharajalela
Penampakan Monorail di Stasiun Maharajalela

Rapid GoKL

Ada monorail MyRapid, ada Rapid GoKL. Kali ini bentuknya bukan kereta, melainkan bus. Tapi yang luar biasanya, rapid GoKL ini gratis saudara-saudara. YA. GRATIS TIS TIS! Kalau dipikir-pikir hari gini mana ada yang gratis. Istilah orang-orang sekarang, buang air saja bayar. Tapi di Kuala Lumpur, transportasi yang satu ini sungguh-sungguh gratis. Melewati rute-rute emas seperti Bukit Bintang, KLCC dan Pasar Seni, bus ini menjadi primadona diantara para wisatawan dan orang lokal. Jangan salah, meskipun digratiskan, bus ini bersih dan tertib. Semua orang teratur. Meski di jam-jam padat, tidak ada yang berdesakan dan mendorong satu sama lain. Kalau kebetulan sedang main di daerah Bukit Bintang dan ingin menuju ke KLCC untuk berfoto-foto eksis di Menara Kembar Petronas, kita bisa menggunakan bus ini. Bus Rapid GoKL ini akan berhenti disetiap halte dimana terdapat tulisan GoKL. Jadi, yang terbiasa dengan “pinggir bang!” tidak berlaku ya jika sedang menaiki bus ini. he..he..he..

Penampakan Bus Rapid GoKL dari dalam. Bersih cyin!
Penampakan Bus Rapid GoKL dari dalam. Bersih cyin!

KTM Komuter

Hari kedua di Kuala Lumpur, saya memutuskan untuk pergi ke Batu Caves, tempat dimana terdapat arca dewa hindu murugan yang tertinggi di dunia. Tempat ini jaraknya agak jauh dari Kuala Lumpur, jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi mungkin akan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Saya mencoba menumpang kendaraan umum. Kali ini saya mencoba KTM Komuter. KTM sendiri adalah singkatan dari Kereta Tanah Melayu.

Papan keterangan KTM Komuter.
Papan keterangan KTM Komuter.

Dioperasikan tahun 1995, kereta ini menjangkau rute yang sedikit terluar dari Kuala Lumpur. Yang saya salut, kereta ini sama sekali tidak mengganggu jalur lalu lintas kendaraan pribadi. Jadi, tidak akan ditemui palang pintu kereta yang turun setiap kali kereta mau lewat karena KTM Komuter melewati jalur bawah tanah. Perjalanan ke Batu Caves bisa ditempuh kurang lebih 30 menit. Dengan membayar ongkos senilai 2 ringgit saja. Yang menarik lagi dari KTM Komuter adalah disediakannya 3 gerbong khusus untuk perempuan saja. Pria dilarang duduk di dalam gerbong ini. Hmm, menarik ya? Kalau di Indonesia mungkin akan disamaratakan semua ya? :p

KTM Komuter. Kereta Tanah Melayu ~
KTM Komuter. Kereta Tanah Melayu ~

LRT (Light Rapid Transportation)

Hampir sama dengan monorail, LRT melewati jarak yang tidak begitu populer di kalangan wisatawan. Bergerak dari stasiun utama KL Sentral, tempat dimana semua kereta bertemu, kami menumpang LRT Kelana Jaya Line menuju stasiun Dang Wangi untuk kemudian menyambung kereta lagi ke stasiun Imbi, lokasi hostel berada. Sebenarnya tidak rumit untuk menumpang kereta seperti ini. Harus teliti saja dan perhatikan rute-rute yang dilalui. Ya, mungkin saja rute yang kita mau tidak dilewati oleh kereta ini. Mungkin kami tidak akan menumpangi LRT ini kalau saja tidak salah jalur. Seharusnya, saya dan teman seperjalanan saya, Tika bisa saja langsung menumpang Monorail MyRapid langsung menuju stasiun Imbi. Tapi karena masih bingung dan sedikit lupa jalur, kami membeli tiket LRT. Hikmahnya, kami jadi lebih teliti memperhatikan jalur dan rute yang dilalui LRT.

LRT & Monorail Stasiun. Canggih dan terawat. Wiuw ~
LRT & Monorail Stasiun. Canggih dan terawat. Wiuw ~

Malaysia membuat saya jatuh cinta pada transportasi umum dan kecanggihannya. Untuk masalah makanan, Indonesia masih juara. Saya jadi berpikir, seandainya prasarana transportasi umum di Indonesia dibenahi seperti negara tetangga, mungkin nggak ya terawat dan secanggih di Malaysia? Mungkin saja bisa. Melihat transportasi umum di Indonesia, saya sebenarnya miris dan agak pesimis Indonesia bisa tidak ya menyaingi negara tetangganya? Saya menaruh harapan besar pada pemerintahan Jokowi – JK. Indonesia bisa!

Dunia Melancong Magazine, New Travel Reference

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Liburan akan semakin mudah ketika sejumlah informasi sudah dikumpulkan. Referensi seperti majalah traveling akan sangat membantu.
Cover Dunia Melancong Edisi 2
Cover Dunia Melancong Edisi 2

Sekarang ini traveling udah jadi bagian dari gaya hidup. Makanya refrensi jalan-jalan itu udah jadi kebutuhan. Seperti kemanaaja yang menjadi refrensi buat kamu mendapatkan informasi tentang perjalanan dan pernak-perniknya, ini nih ada majalah baru yang menambah kekayaan wawasan informasi seputar jalan-jalan. Namanya Dunia Melancong.

Saya dengan majalah Dunia Melancong
Saya dengan majalah Dunia Melancong

Majalah Dunia Melancong adalah majalah traveling yang digawangi oleh anak-anak muda kota Medan. Kontennya nggak cuma lokal Sumatera Utara aja lho, tapi juga lokal dan nasional. Distribusinya juga udah sampe Jakarta. Dan… yang paling bikin ngiler itu adalah majalah ini gratis lho, free… Bisa kamu dapatkan di berbagai reading point di kota Medan dan Jakarta. Good job Dunia Melancong!

Kertasnya bagus...
Kertasnya bagus…

 

“Pernak-pernik” Traveling, Kecil Tapi Penting!!

Teks oleh Eka Rehulin @ekarehulin

 

Atas nama pencinta perjalanan, persiapkan diri saat akan “menggelandang”.

MEMILIH DESTINASI

Pilihan tempat ini bisa karena memang ambisi pribadi dan bisa juga karena ajakan teman. Kalau dengan teman, pilihlah teman yang tidak suka membandingkan tempat tujuan dengan rumahnya. He-he-he… Apapun itu, carilah dahulu informasi yang banyak soal tempat tujuan baik dari internet, buku, print magazine, mau pun dari orang lain. Tapi percayalah, jangan terlalu menelan bulat-bulat pengalaman perjalanan orang lain karena jalan-jalan itu sangat bersifat personal. Tiap orang akan punya pengalaman yang berbeda. So, ciptakan kenyamanan perjalanan kamu sendiri.

Because you belong everywhere...
Because you belong everywhere…

1. Rencanakan apa yang mau kamu lakukan di sana

Ini penting banget biar nggak mati gaya dan buang-buang waktu. Apakah mau shopping atau trekking atau mau chill out. Itu kamu yang tentukan, jangan sampai kolaps dan kehabisan tenaga. Faktor kayak cuaca, waktu dan dana yang tersedia, plus kondisi tubuh perlu kamu pertimbangkan.

2. Tentukan rute, akomodasi, dan transportasi yang mau dipakai

Kelihatannya emang simple banget tapi penting untuk mengatur perpindahan kamu dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi kalau rencananya mau keliling beberapa kota bahkan negara misalnya. Jangan ragu menggunakan transport lokal bahkan perahu sekalipun. Kamu ‘kan perlu mencoba segala hal. Tentukan juga itinerary sendiri.

3. Cek Travel Dokumen

Pelajari juga dong apa kamu butuh paspor baru atau visa. Oh ya, sebaiknya urus paspor baru kamu sebelum 6 bulan masa berlakunya habis. Antisipasi kami nggak diijinin masuk negara tujuan tertentu. Beberapa negara di Asia bahkan mensyaratkan paspor minimal berumur 3 bulan, untuk yang 6 bulan biasa berlaku di negara-negara Amerika dan Eropa. Nah untuk negara Asean seperti Laos dan Kamboja, negara ini tetap meminta visa bagi orang Indonesia. Visa bisa diperoleh secara online atau di arrival (biasa di bandara/pintu masuk utama) atau di kedutaaan negara bersangkutan.

4. Tentang penginapan

Untuk backpacker yang berpedoman bahwa bumi adalah rumah dan langit adalah atapnya, memang ini nggak bakalan jadi masalah penting. Walaupun begitu kamu nggak usah khawatir, di negara-negara yang udah jadi tujuan wisata, biasanya banyak berjejer hostel, guesthouse, dan hotel kelas melati (bukan hotel plus-plus) yang bisa kamu tumpangi. Di negara-negara kayak Thailand dan Kamboja penginapan dan hostelnya murah kok, nggak sampai Rp. 100 ribu. Ada banyak hostel yang bisa dishare untuk sekitar 8-12 orang. Mesikpun murah, kebersihan dan pelayanannya terjamin baik.

5. Jangan abaikan, be prepare for the unexpected !

Jangan berharap terlalu besar terhadap sebuah perjalanan. Itu cara terbaik menikmati kegiatan “menggelandang”. Nikmati apa adanya, pelajari kehidupan lokal, kenali budaya dan bahasa setempat. Hal yang kurang menyenangkan dalam perjalananpun jangan membuat mengeluh dan tidak menikmati perjalanan. Yang rugi diri sendiri lho.

Where ever you go, please enjoy!
Where ever you go, please enjoy!

 

TRUST ME, IT WORKS!!
  • Copy Your Identity. Semoga nggak terjadi sama kamu, tapi penting untuk melakukan ini. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi kehilangan dokumen dalam perjalanan, sebaiknya back up halaman paspor atau visa. Selain menyimpannya dalam bentuk hardcopy, baiknya simpan juga secara virtual di web atau email pribadi agar bisa diunduh di mana pun kamu berada. Simpan file dalam ukuran yang bisa di-print dengan jelas. Ingat, jangan menaruh halaman paspor di web yang setiap orang di dunia bisa melihat. Terutama di halaman yang ada bar chart (kode di bawah detail nama). Ingat lho, kejahatan dengan pencurian identitas banyak terjadi.
  • Seorang teman saya berpendapat sebaiknya jangan lebih dari 3 hari di satu tempat karena akan menimbulkan kebosanan
  • Baiknya bawa uang dalam bentuk $ US karena nilai tukarnya akan lebih tinggi di negara tujuan dan perbedaan nilai tukar itu sangat berarti bagi seorang traveler. Kecuali ringgit Malaysia, baiknya tukarkan di Indonesia.
  • Jangan lupa bawa kartu kredit. Itu lebih baik dari pada travel cek karena nilainya bisa sangat rendah.
  • Meletakkan paspor di kamar hotel atau hostel jauh lebih aman ketimbang di bawa-bawa ke mana-mana. Bawalah copy-annya saja.
  • Untuk muslim, bila keliling Indocina sebaiknya hindari makanan mengandung daging. Soalnya susah menemukan makanan tanpa pork. Apalagi terkadang komunikasi bahasa Inggris di suatu negara tetentu itu sulit sekali dilakukan. Kecuali kamu tidak terlalu khawatir dengan itu.
  • Jangan terlihat seperti orang asing yang serba nggak tahu apa-apa. Biar aman aja.
  • Agar terhindar dari pencopetan, buang kebiasaan buruk menyimpan barang berharga di saku bagian belakang. Kamu sering ‘kan seperti itu?
  • Bawa uang secukupnya saja di saku baju depan. Dengan berada di saku depan, uang lebih mudah diawasi. Akan lebih baik lagi saku ini punya tutup, saku dalam, atau pakai jaket sekalian.
  • Simpan barang-barang berharga di dalam tas tangan (daypack).  Tas tangan kamu sebaiknya pilih yang berlapis-lapis.  Kalaupun pencopet memakai pisau untuk mengoyak tas, lapisan terdalam masih tetap aman. Kalau ukuran tas ransel kamu nggak terlalu besar, tas bisa digendong di depan.
  • Banyak daerah tujuan wisata low season itu di bulan Januari, Februari, Maret, dan April. Jadi… biaya travelling di bulan-bulan ini jauh lebih miring. Silahkan buktikan sendiri!
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
MUST HAVE ITEMS!

Saat travelling apa saja sih barang-barang yang nggak boleh lupa dibawa?

  • Dokumen-dokumen penting jangan lupa!
  • Perlu bawa tas kecil, yang berisi obat-obatan, vitamin C, dan aman menyimpan semua dokumen plus uang.
  • Dilarang lupa bawa peta! Penting sekali loh. Kalau perlu, kamu juga bisa bawa travel guide kayak lonely planet.
  • Berhubung ini zaman teknologi, hand phone dan smart phone akan sangat memudahkan kamu untuk memperoleh informasi.
  • Kamera. Kalau kamu bukan orang yang konsen dengan kesempurnaan foto, pilihlah kamera yang nyaman dibawa namun memenuhi kebutuhan. Daftarkan juga barang elektronik yang kamu bawa dalam perjalanan ke luar negeri di bagian bea cukai keberangkatan di bandara. Ini supaya waktu kembali ke tanah air, barang-barang elektronik yang kamu bawa nggak dikenakan biaya masuk dan pajak. Biaya pendaftaran ini gratis kok.

DON’T BE AFRAID TO TRAVEL ALONE

“Perjalanan adalah tentang menemukan diri sendiri. Jadi sejauh apapun kakimu melangkah, kau takkan pernah kesulitan menemukan jalan pulang.”

Teks oleh Mustika T. Yuliandri @PerempuanThicka | Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

“Takut sendirian” adalah satu dari seribu alasan yang menghalangi banyak orang untuk melakukan perjalanan. Padahal, saat melakukan perjalanan, tak ada seorang pun yang benar-benar sendiri. Setiap pejalan adalah teman untuk pejalan yang lainnya. Kesulitan mendadak jadi sahabat, tersesat menjadi teman baik dan kejutan-kejutan menjelma teman main yang tak kalah asik. Beberapa orang memang tak nyaman melakukan traveling sendirian, padahal traveling sendirian itu menjadi salah satu hal yang harus dicoba at least sekali seumur hidup. Saat sendirian di sebuah tempat asing dirimu akan diuji. Diuji untuk lebih percaya kepada diri sendiri, diuji lebih peka terhadap insting, diuji menyingkirkan segudang rasa malu dan diuji untuk mau melakukan apa saja demi bertahan. Kawan, pergilah ke tempat jauh sendirian, niscaya kau akan mencintai dirimu lebih dalam saat kelak kau pulang.

_MG_3616 2

Why do you need to travel alone?

1. Because you belong everywhere. Belahan dunia manapun adalah milikmu. Tak ada tempat yang benar-benar asing saat kau melakukan perjalanan. Rasa takut yang membuat segalanya tampak seram. Namun setelah kaujelajahi dan eksplorasi kau akan menjadikan semua destinasi rumah yang menebar nyaman.

2. To make friend with anybody. Saat melakukan perjalanan sendirian kesempatan bertemu dan berteman dengan orang lain terbuka lebar. Apalagi kau memilih penginapan dormitory yang sudah jelas membuka kesempatan interaksi yang luas. Pasang senyum semanis mungkin dan berkenalan dengan para pejalan dari belahan dunia lain. Bagi pengalaman dan jalin pertemanan dengan siapa saja. Saat perjalananmu usai tak hanya tempat-tempat indah yang membuatmu tersenyum, kelak orang-orang yang kautemui juga akan menjadi kenangan yang tak kalah manis.

3. To be thankful. Saat sendirian akan banyak waktu yang kaupakai untuk merenung. Akan banyak kepingan-kepingan pemikiran yang akan ‘mengganggumu’ saat kau sendirian dan mungkin akan menjadikanmu orang yang lebih bersyukur. Terkadang, seseorang harus benar-benar sendiri untuk menyadari betapa indahnya kebersamaan. Perjalanan yang kaulakukan sendirian akan membawamu ke dalam perenungan. Indahnya pemandangan, tulusnya senyum dari mereka yang asing, makanan-makanan enak pemuas lapar, musik meriah, pasar yang riuh serta apa saja yang kaunikmati akan memberimu satu kesimpulan bahwa perjalanan memang tentang bersyukur.

How to survive?

1. Jangan takut. Jangan pikirkan hal-hal seram yang akan kauhadapi. Waspada boleh, tapi jangan parno. Percayalah akan ada orang baik dimanapun kau berada. Meskipun orang jahat tak kalah sedikit jumlahnya. Singkirkan rasa takut dan percaya bahwa kau mampu berteman dengan semesta.

2. Bawalah barang-barang kesukaanmu. Buku favorit atau benda-benda yang selalu membuatmu nyaman. Buku adalah teman paling baik di saat menunggu. Dalam perjalanan kamu akan mengalami saat-saat menunggu yang banyak dan tentunya tak terduga. Seperti pesawat yang delay, bus yang mungkin mogok atau berbagai hal menyebalkan lainnya. So, bring your favorite one with you.

3. Music. Isi iPod dengan lagu-lagu favorit pengusir jemu. Saat sekitar mulai membosankan isi duniamu sendiri dengan nada-nada pilihan. Tapi ingat, sesekali bolehlah tidak mendengarkan lagu kesukaan dan coba untuk lebih mendengar ‘nyanyian semesta’ yang mungkin hanya sekali kau nikmati seumur hidup. Suara riuh pasar malam, suara kendaraan yang lalu-lalang, suara burung-burung di pagi hari atau suara apa saja yang kebetulan mampir di sekitar.

4. Smile. Tersenyumlah, maka segala masalah akan menjelma lebih mudah. Semua manusia mengerti arti sebuah senyuman meski bahasa mereka berbeda. Jadi jangan lupa tersenyum, terutama di kantor imigrasi. You know what I mean.

5. Write down everything. Tulis apa saja yang menurutmu menarik. Jangan malas, karena dengan hanya mengingat di kepala segala detail perjalanan kemungkinan besar akan terlupa. Siapkan buku catatan dan mulailah mengumpulkan pengalaman dalam ‘kotak ajaib’ bernama kata-kata.

6.  Percayalah pada dirimu 100%. Tak ada yang bisa kaupercaya 100% di dunia ini selain Tuhan dan dirimu sendiri. Jangan percaya segala kebaikan yang bisa saja semu di perjalanan. Ada banyak kejahatan yang mengintai para turis, khususnya mereka yang traveling sendirian. So, trust yourself only!

NOTE: Yang sendirian itu dirimu, bukan perjalanan. Ada semesta dan kebaikan yang selalu mengiringi langkahmu yang berani. So, don’t be afraid to travel alone.

Menggatalkan Kaki, Mengoleksi Ingatan, Membagi Cerita!

Teks oleh Eka Dalanta @ekadalanta *artikel ini pernah dimuat di Aplaus The Lifestyle

You are still young.  Free… do yourself a favor.  Before it’s too late, without thinking too much about it first, pack a pillow and a blanket and see as much of world as you can. You will not regret it. One day it will be too late.”  -The Namesake, Jhumpa Lahiri

MESKIPUN terbilang newbie di dunia per-travel-an, saya memang si kaki gatal. Kata teman-teman, saya gadis petualang, dalam arti sesungguhnya, tentu tanpa makna ganda atau makna tambahan *wink. Saya suka berjalan, kapan saja di mana saja. Suka melihat, memperhatikan, menonton orang, dan menemukan teman-teman baru.

Dalam sebuah perjalanan
Dalam sebuah perjalanan

Itu saya sekarang! Dulu saya anak rumahan, yang menahan rasa suka kemana-mana karena dibatasi langkah kakinya. Perempuan yang suka berjalan murah ini, mendapat kepercayaan penuh sejak menjejakkan kaki di bangku kuliah. Dengan prestasi akademik yang terjaga baik, menyibukkan diri di kegiatan ekstra di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya seperti mendapatkan garansi bebas kemana saja dengan syarat wajib lapor dan pintar-pintar menjaga diri. Saya beruntung punya Mama yang rela sering ditinggal anak gadisnya dan melepasnya melihat hal-hal ajaib di luar rumah. Tapi waktu itu gerak saya masih terbatas, sebatas kemampuan saya mendapatkan sponsor dari kampus saat ada kegiatan pelatihan atau sejenisnya. Uang saku saya masih terbatas.

Singapura, perjalanan makin jauh
Singapura, langkah terus semakin bergerak

Saya nggak ingat kapan persisnya pertama kali jatuh cinta sama kegiatan perjalanan. Buat saya dulu, kegiatan perjalanan ini seperti kegiatan berlari. Saya memang senang berlari. Teman saya pernah bilang, “Nggak apa-apa kamu suka berlari, asal nggak lari dari kenyataan.” Tapi nyatanya, saya awalnya memang lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa hidup tidak sepersis apa yang diinginkan, bahwa semuanya tak berjalan semulus harapan. Halah, kok jadi curhat pulak ya! He-he-he… Tapi sekarang nggak lagi kok.

Oke, kembali ke perjalanan, saya selalu suka berjalan, sendiri ataupun dengan siapapun, dua-duanya sama menyenangkannya. Perjalanan terjauh pertama saya dimulai saat saya duduk di bangku kuliah. Tujuan pertamanya adalah kota Bandung demi sebuah pelatihan jurnalistik dari Pers Mahasiswa. Itulah sebabnya, sampai sekarang, Bandung memiliki tempat istimewa di hati dan ingatan saya. Di perjalanan pertama saya ini, Jakarta-Bandung-Semarang, saya menemukan kecintaan saya pada perjalanan. Jauh lebih besar dari sebelumnya. Dalam perjalanan ini saya belajar tentang kebodohan, gengsi, keberanian, rasa takut, cemas, rasa malu, juga belajar percaya. Dan kemudian tersenyum mensyukuri semua ketika itu sudah menjadi kenangan.

Danau Singkarak, sebuah perjalanan pada perjalanan selanjutnya
Danau Singkarak, sebuah perjalanan menuju perjalanan selanjutnya

Perjalanan pertama saya ini terbilang spektakuler untuk orang yang tidak pernah melangkah jauh. Saya tak dapat tiket kereta Bandung-Semarang, tapi terlalu gengsi untuk pulang kembali ke tempat pelatihan. And thank God, saya dapat tiket dari calo. Belajar percaya, saya naik kereta, duduk di depan pintu kereta dekat dapur, menikmati perjalanan, melihat pinggiran laut sembari duduk menekuk lutut, dan minum kopi bersama pegawai kereta. Dan ajaibnya, saya kemudian mendapatkan tempat tidur. Tak dapat kursi, saya “dianugerahi” tempat tidur. Sesuatu banget kan? Modalnya, belajar percaya pada orang baru, mensyukuri tiap peristiwa, dan tidak mengeluh pada situasi seperti apapun. Ini tentu menjadi momen luar biasa buat anak kuliahan yang baru “lepas nyusu” seperti saya. Sesederhana cerita ini, begitulah kecintaan saya pada ingatan perjalanan, juga ketika melakukannya. Begitulah… perjalanan saya kemudian dimulai. Belum terlalu jauh, belum keliling Indonesia, dan masih beberapa negara di luar Indonesia. Tapi saya suka melakukannya. Pun kalau cuma ke Berastagi di akhir pekan. Siapa bilang itu tidak bisa disebut perjalanan? Nikmati tiap detailnya dan kamu akan semakin mencintai kehidupan.

Ngapel dulu. (baca: makan apel)
Ngapel dulu. (baca: makan apel)

Buat kalian tahu!

  1. Perjalanan tak selalu membuatmu kaya secara finansial, malah menguras kantong dan tabungan. Kecuali kalau kamu memang traveler writer atau orang yang digaji untuk melakukan perjalanan. Tapi percayalah, lebih dari kekayaan finansial, kamu akan mendapatkan kekayaan pengalaman. Tahu banyak hal dan membuka pikiran kamu agar tak picik.
  2. Perjalanan juga membawamu bertemu dengan orang-orang baru. Mendapatkan teman-teman baru, keluarga baru, atau juga mungkin pacar baru. Bhikhikhikkk…
  3. Perjalanan mengajarkan kita rendah hati. Mata terbuka, melihat dunia besar, dan sadar betapa kecilnya kitas. 😀
  4. Perjalanan menghadiahkan kita cerita dan kenangan, yang tak akan habis dimakan waktu dan zaman. Selalu ada ingatan yang bikin kita senyum-senyum sendiri, kecuali kamu tiba-tiba amnesia.
  5. Ketika akan melakukan perjalanan, sebaiknya rencanakan dengan baik. Detailkan perjalanan karena itu akan sangat memudahkan kamu. Perjalanan mengajarkan kamu menjadi manager yang baik. Tapi ingat, jangan abaikan spontanitas yang membuat hidup bahagia dan berwarna.
  6. Selalu berpikiran baik. Percayalah, selalu saja ada orang baik yang bersedia kamu minta tolongin. Pikiran positif membawa kebaikan datang mendekat padamu.
  7. Jangan menunggu orang lain. Untuk merencanakan perjalanan, jangan tunggu orang lain. Waktunya kadang susah matching-nya. Kenapa takut jadi independen traveler. Tenang aja, di perjalanan, seperti keajaiban, kamu akan sering ketemu dengan rekan perjalanan yang tepat. Siapa tahu jodoh juga kan ya? Hi-hi-hi…
  8. Nikmati tiap perjalanan, jangan suka mengeluh, buang pikiran sempit. Selamat datang di dunia perjalanan. Mari menggatalkan kaki.