Telusuri Jejak-Jejak Sejarah Kota Solo di 5 Destinasi Wisata Ini

Semua wilayah di Indonesia memiliki cerita sejarahnya masing-masing. Bandung dengan sebutan Kota Lautan Api, Semarang yang terkenal dengan Pertempuran 5 Hari, atau Surabaya yang tersohor dengan julukan Kota Pahlawan. Tidak hanya cerita masa perjuangan, Indonesia juga tak luput dari kisah kerajaan Hindu-Budha dan jaman manusia purba.

Begitu pula dengan Solo, salah satu wilayah dengan adat dan budaya keraton yang kental selain Yogyakarta. Kota ini mampu membuat para pengunjung seperti kembali pada masa kejayaan raja-raja terdahulu. Selain terkenal dengan bangunan keraton kesultanannya, ternyata kota ini juga memiliki setumpuk destinasi wisata sejarah yang tak banyak terekspos. Tak heran jika mulai banyak dibangun hotel terbaik di Solo sebagai akomodasi para pengunjung. Lalu, di mana saja jejak-jejak sejarah Kota Solo ini?

  1. Candi Sukuh
Candi Sukuh (sumber foto triptrus.com)

Destinasi pertama yang bisa Anda datangi adalah Candi Sukuh, salah satu bangunan peninggalan kerajaan Hindu. Candi ini berlokasi di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Sama halnya dengan candi Hindu lainnya, banyak ditemukan lingga dan yoni pada candi ini.

Candi Sukuh ditemukan pada masa pemerintahan Inggris oleh Johnson. Kala itu, Sir Thomas Stanford Raffles memberikan tugas kepada Johnson untuk mencari data. Salah satu daya tarik tersendiri dari Candi Sukuh adalah bentuknya yang unik dan ukiran-ukiran yang menggambarkan alat kelamin manusia pada dindingnya. Letak candi ini tidak jauh dari pusat kota sehingga Anda bisa mencari penginapan terbaik di Solo yang dekat dengan destinasi ini dengan mudah.

  1. Taman Sriwedari
Taman Sriwedari (sumber foto; indonesiakaya.com)

Taman Sriwedari merupakan tempat untuk menggelar berbagai pertunjukan seni, budaya, dan hiburan di Solo. Taman ini berlokasi di Jl. Brigjend Slamet Riyadi No. 275, Laweyan, Solo. Dahulu, taman yang dibangun sejak tahun 1877 silam ini disebut sebagai Kebon Rojo atau Taman Raja. Kabarnya, taman ini sering digunakan sebagai tempat para raja beristirahat sembari menyaksikan berbagai pertunjukan seni.

Di area taman bagian dalam, terdapat Rumah Joglo yang biasanya digunakan untuk latihan menari atau melangsungkan kegiatan lomba. Ada pula panggung yang dinaungi oleh pohon beringin. Di bagian kanan dan kiri panggung terdapat sebuah meriam. Selain itu, ada pula Gedung Wayang Orang yang khusus menampilkan pertunjukan Wayang Orang pada waktu-waktu tertentu.

  1. Benteng Vastenburg
Benteng Vastenbur (sumber foto: tribunnews.com)

Kota Solo juga tak luput dari cerita perjuangan rakyat Indonesia ketika melawan tentara Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya benteng peninggalan Belanda bernama Vastenburg, atau yang lebih dikenal dengan Fort Vastenburg. Benteng ini berlokasi di Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Kota Solo.

Dahulu, benteng yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745 ini digunakan Belanda untuk mengawasi segala aktivitas keraton. Selain sebagai tembok pertahanan, benteng ini juga digunakan sebagai tempat tinggal gubernur Belanda dan asrama perwira. Lokasi benteng berdekatan dengan Balai Kota sehingga ada banyak hotel terbaik di Solo yang bisa Anda pilih jika ingin menginap di sekitar benteng. 

  1. Candi Ceto
Candi Ceto (sumber foto: tribunnews.com)

Selain Candi Sukuh, candi lain yang ada di Solo adalah Candi Ceto. Candi ini berlokasi di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, cukup dekat dengan Candi Sukuh. Candi ini juga merupakan candi bercorak Hindu yang dibangun pada abad ke-15 Masehi, tepatnya di akhir masa Kerajaan Majapahit. Candi Ceto pertama kali ditemukan oleh Van de Villes.

Hingga kini, Candi Ceto masih digunakan sebagai tempat ziarah dan pemujaan oleh masyarakat setempat, terutama untuk pemeluk agama Hindu. Jika dilihat sekilas, memang Candi Ceto memiliki struktur bangunan yang mirip dengan Pura.

  1. Museum Pers Nasional
Museum Pers Nasional (sumber foto: wikiwand.com)

Terakhir, ada Museum Pers Nasional yang berlokasi di Jl. Gajah Mada No. 59, Solo. Museum ini menyimpan lebih dari satu juta catatan dalam bentuk buku, dokumen, dan majalah seputar perjalanan pers Indonesia sejak masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, tepatnya mulai tahun 1913 hingga 1929.

Selain buku dan catatan, Anda juga bisa melihat berbagai koleksi peralatan pers jaman dahulu, mulai dari mesin tik, kumpulan foto, kentungan, radio, jenis kamera yang digunakan, hingga seragam yang dikenakan dari masa ke masa. Sebelum menjadi museum, bangunan yang dirancang oleh Mas Abu Kasan Atmodirono atas perintah Pangeran Surakarta dan Mangkunegaran VII ini berfungsi sebagai ruang pertemuan dengan nama Societeit Sasana Soeka.

Itulah tempat-tempat wisata Solo yang sayang jika dilewatkan. Pesan tiket dan hotelmu sekarang juga yuk!

 

Pesta Kopi Mandiri, Merayakan Kopi di Museum Perkebunan Sumut

Teks & foto: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Minggu ini sebuah event bagi penyuka kopi kembali diadakan. Kali ini Bank Mandiri yang menjadi penyelenggara utamanya. Event yang diberi nama Pesta Kopi Mandiri ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Seperti di Yogyakarta, Jakarta, dan Medan. Keseluruhan acara ini diselenggarakan di museum.

Kompetisi Aeropress

Di Medan, event ini diadakan di Museum Perkebunan Sumatera Utara yang terletak di Jl. Brigjend Katamso, Medan. Acara berlangsung selama 2 hari (19-20 Agustus 2017).

Perayaan kopi diramaikan dengan puluhan tentant coffeeshop, kedai kopi, dan ragam-ragam tenant yang berkaitan dengan kopi. Tidak hanya dari Medan tetapi juga dari Berastagi dan Jakarta. Sebut saja beberapa tenant yang sempat saya kunjungi dalam acara ini. Warung Kopi Wak Noer, Sensuri, Partner 8, Otten, Biji Hitam (Berastagi), Pak RM Kopi Berastagi, Coffee Smith (Jakarta), The Coffeenatics, dll.

Kopi Pak RM Berastagi

 

Partner 8 Team

 

Menyeduh Kopi

 

 

Manual Brew

Para penyuka kopi sayang untuk melewatkan event ini karena selain bisa melihat ragam jenis kopi yang dipamerkan, kamu juga bisa mencicip kopi-kopi yang dibagikan secara gratis di beberapa booth. Seperti di booth Otten Coffee, yang selama acara ini, menyeduh kopi gratis untuk para tamu yang datang.

Keseruan yang bisa kamu saksikan lagi adalah melihat kompetisi para barista yang menyeduh dengan metode aeropress, salah satu metode manual brew menyeduh kopi. 50-an barista bertanding dan menunjukkan kebolehannya dalam event ini. Para barista yang lolos dalam tahap ini akan mengikuti kompetisi selanjutnya di Jakarta. Karena merupakan kompetisi tingkat nasional, para peserta nggak cuma dari Medan saja tetapi dari kota-kota lain di Sumatera. Seru ya…. Hari ini masih ada kelanjutan eventnya. Yuk, ramekan.

Bersiap-siap mengikuti kompetisi

 

“Duel” Barista
Para penyuka kopi

 

Pengunjung dan foodies hits kota Medan. 😀

SEHARI DI GUNUNG PRAU

Teks dan Foto: Kaleb Sitompul @kalebsitompul

Editor: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Gunung Prau. Pemandangan dari ketinggian.

Mendaki gunung sudah menjadi trend masa kini. Mulai dari pendaki profesional sampai pendaki pemula (kebanyakan anak-anak muda) berlomba-lomba meluangkan waktu menikmati pemandangan dari puncak sebuah gunung. Kali ini, giliran saya dan keempat teman yang mencoba menikmatinya. Tujuan kami adalah sebuah gunung yang terletak di Desa Wisata Dieng, Jawa Tengah. Gunung dengan ketinggian 2565mdpl ini sudah terkenal sebagai gunung yang ‘menjanjikan’ pemandangan alam yang indah.

2 Agustus 2017, saya berangkat pukul 7 malam dari kota Jakarta dengan kereta api dari Stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto. Setelah 4,5 jam menumpang kereta, perjalanan saya lanjutkan dengan jasa ojek menuju shuttle bus menuju Wonosobo. Teman-teman saya sudah menunggu lebih awal di pangkalan bus karena mereka memulai perjalanan dari Kota Bandung. Jam 1 pagi saat itu udara lumayan dingin, untungnya saya sudah menyiapkan topi kupluk dan jaket sebagai penghangat. Sesampainya di Wonosobo pukul setengah 3 pagi, kami langsung beristirahat di rumah salah satu teman yang memang penduduk asli Wonosobo (lumayan ada tempat peristirahatan gratis). He-he-he…

 

Saya dan kawan-kawan, tim pendakian ke Gunung Prau.

PERSIAPAN KE GUNUNG PRAU

Keesokan paginya, saya dan teman teman mengambil alat yang sudah kita pesan sebelumnya di salah satu tempat penyewaan alat camping, Wonosobo Adventure. 2 buah tenda, 1 tas carier (untuk teman saya yang belum mempunyai tas, jadi aman tidak perlu beli), 3 buah matras, 3 buah sleeping bag, 4 tabung gas kecil, 1 kompor, dan 1 nasting untuk memasak. Semua alat sewaan ini biayanya Rp. 200 ribu. Setelah itu kami berbelanja snack, air mineral, dan mie instan untuk persediaan di puncak. Tidak lupa juga obat-obatan seperti obat masuk angin, madu, dan koyo. Bahkan obat pereda sesak nafas juga kami bawa. Arang untuk menyalakan bara dan plastik sampah juga menjadi benda wajib untuk dibawa sebelum mendaki.

 

PERJALANAN KE GUNUNG PRAU

Berhubung jumlah kami yang tidak memungkinkan menggunakan motor, akhirnya pukul 2 siang kami memutuskan menaiki bus jurusan Wonosobo–Dieng. Kami naik dari depan SMA Muhamadiyah Wonosobo. Dengan Rp. 15 ribu dan menempuh waktu 1 jam, saya dan teman teman sudah sampai di gerbang pendakian Gunung Prau via Kali Lembu. Berjalan hampir 10 menit, semua pendaki harus mendaftarkan diri sekaligus membayar tiket masuk wilayah pendakian di basecamp dengan biaya Rp 10 ribu per orang. Peta jalur dan peraturan akan diberikan sebagai panduan bagi para pendaki.

Melewati rumah warga, saya punya kesempatan melihat kehidupan warga kaki gunung yang bergantung pada kegiatan cocok tanam. Keramahan warga kaki gunung Prau sangat saya acungkan jempol. Mereka menyapa dan memberi senyum setiap kali bertemu di perjalanan. Pendakian dimulai pukul 3 sore setelah melewati gapura kayu dengan tulisan “Selamat datang di pendakian Gunung Prau“. Adrenalin saya dan teman-teman semakin terpacu, seolah-olah beban tas dan dinginnya suhu saat itu hilang.

Pepohonan yang menjulang

Ditemani lagu dari ponsel selular tak terasa kami sudah mencapai pos 1. Lelah mulai terasa (maklum kami bukan pendaki professional), akhirnya kami memilih beristirahat sejenak dan mengumpulkan tenaga sebelum mendaki lagi. Medan yang dibalut tanah dan batu membuat perjalanan sedikit mudah namun melelahkan karena tanjakan yang tinggi. Rute perjalanan di tengah hutan membuat suhu dingin semakin terasa. Kabut awan mulai turun setelah saya dan teman-teman mencapai pos 2 “Bukit Pandang”. Sebenarnya pos ini tempat yang apik untuk melihat pemandangan hutan,  namun saat itu tertutup kabut.

Pukul 5 lewat 54 menit. Saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan yang semakin mendaki dan membutuhkan tenaga lebih untuk mencapai pos 3. Pos 3 ini berada dekat dengan menara pemancar. Langit yang semakin gelap membuat saya dan teman-teman harus ekstra hati-hati karena jalur yang dilalui sudah semakin menyempit, ditambah pula angin yang kencang. Sebuah lampu bersinar di bawah pohon yang berjarak hampir 1 km dari posisi kami. Saya dan teman-teman menuju tempat perkemahan di bawah 4 pohon besar. Lokasi yang lebih aman buat mendirikan tenda agar aman dari angin yang sedang bertiup kencang.

Sudah pukul 7 malam. Beruntungnya, ada pendaki yang sudah lebih dahulu sampai. Mereka berbagi nugget ayam dan kopi panas dengan kami (horee… lumayan untuk penghilang rasa lapar).

Kesulitan saat itu adalah harus mendirikan tenda dengan penerangan minim, angin kencang, serta suhu yang seolah-olah membuat tangan dan kaki mati rasa. ‘Bergelut’ hampir setengah jam demi mendirikan 2 buah tenda, akhirnya selesai dan kami bisa menghangatkan diri. Saatnya menyantap makan malam ayam goreng dan nasi yang kami bawa dari Wonosobo.

Camping Ground di Gunung Prau

Pukul setengah 9 malam, tanpa keinginan lain, kami langsung beristirahat di dalam tenda. Sebenarnya tidur saya malam itu kurang tenang. Kaos kaki berjumlah 2 lapis serta kaos yang saya lapig juga, tidak berhasil mengalahkan dinginnya malam. Suara tenda yang menderu karena angin kencang serta dingin yang benar-benar terasa sampai ke tulang membuat saya terbangun, tidur lago, terbangun dan tidur lagi. Seperti siklus yang membosankan.

PAGI DI GUNUNG PRAU

Pukul 4 pagi, teman saya mengajak memotret bintang. Rasa ngantuk saya hilang begitu melihat ribuan bintang di langit Prau. Meskipun suhu benar-benar membuat tangan dan kaki mati rasa, tapi usaha memotret bintang menahan saya berada di atas area landai tanpa pohon. Pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing semakin terlihat saat matahari mulai bersinar dari balik awan. Seolah ‘Indah’ pun tak sanggup mewakili pemandangan yang saya saksikan pagi itu. Tapi udara dingin yang membuat tangan dan kaki hampir mati rasa, kami pun terpaksa menyerah. Kami memutuskan kembali ke tenda dan menghangatkan tubuh di bara api. Sambil memasak kopi, saya dan teman-teman menikmati sunrise dari depan tenda.

Memotret bintang
Jalan Setapak di Bukit Teletubbies

Pukul 7 pagi, saya dan teman-teman menikmati ketenangan hamparan rumput di savanna, tak jauh dari tenda. Kenarsisan pun mendadak meningkat. Hampir satu jam kami habiskan untuk berlari dan berfoto di hamparan rumput luas ini. Ha-ha-ha…

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan jika berkunjung ke gunung ini, Bukit Teletubbies. Diberi nama Bukit karena mirip dengan bukit di serial anak Teletubbies. Dari atas sini, kita bisa melihat rumah penduduk, telaga warna, serta gunung-gunung yang ada di sekitar Prau. Awan yang menyelimuti pemandangan ke bawah menandakan saya sedang berada di atas awan.

Bunga-bunga rumput cantik di Prau

 

Teman naik gunung

TURUN DARI GUNUNG PRAU

Pukul 11.48 siang, tenda dan sampah telah kami simpan. Kami sudah bersiap-siap turun. Beban tak lagi seberat mendaki gunung kemarin. Tapi rasa berat justru terletak pada kaki yang harus menahan tas carier dan jalan yang lumayan licin karena tanah lembab di pagi hari. Perjalanan turun membutuhkan waktu sekitar 1 jam dan langsung sampai di basecamp awal pendakian. Saya dan teman-teman beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan kembali ke Wonosobo dengan menggunakan bus Dieng–Wonsobo. Kali ini, kami sedikit melakukan tawar-menawar. Lumayan Rp. 12 ribu per orang tiba di Wonosobo dengan selamat (lumayan anak kos). He-he-he…

Perbukitan

 

Pulau Beralas Pasir, Surga Tropis Bintan

Teks dan foto oleh: Sahat Farida Berlian

Bersantai ramai-ramai di sini.

Pulau Beralas Pasir, lebih dikenal dengan nama White Sands Island. Objek wisata baru yang kini mulai populer dan menyasar pada wisatawan lokal. Berada di Pulau Bintan Kabupaten Bintan, satu jam berkendara darat dari kota Tanjung Pinang. Bintan merupakan pulau terbesar yang ada di Propinsi Kepulauan Riau. Di Pulau Bintan sendiri terdapat tiga pemerintahan. Pemerintahan Propinsi Kepulauan Riau, baik kantor gubernur maupun DPRD Propinsi, Pemerintahan Kota Tanjung Pinang, dan Pemerintahan Kabupaten Bintan.

Mendaftar dan membayar paket kunjungan
Menggunakan speed boat sekitar 20 menit dari konter utama ke pulau

Ada apa di Pulau Beralas Pasir? Pulau ini tidak berpenghuni, hanya petugas yang bekerja di sana yang menghuninya berganti shift. Namun begitu tamu yang berwisata tidak perlu khawatir, karena ada beberapa tawaran untuk bisa mengunjungi pulau ini, menginap ataupun kunjungan pergi pulang. Tersedia resort dan tenda-tenda di sana bagi yang hendak menginap, sebuah restoran 24 jam siap melayani. Makanan dan minuman sudah termasuk dari bagian paket wisata yang ditawarkan, belum termasuk barbeque. Ke pulau ini, pengunjung dilarang keras membawa makanan minuman dari luar. Ada sanksi yang diberlakukan jika pengunjung diketahui melanggar.

Bersantai, bermain voley pantai, berenang melihat ikan di belakang pulau, snorkeling, kayaking, diving. Dari paket wisata yang ditawarkan, pengunjung boleh menggunakan seluruh fasilitas umum yang ada di sana, kecuali fasilitas untuk snorkeling, kayaking dan diving. Ada biaya tambahan untuk ketiga jenis fasilitas ini.

Bersantai dan beneran di pantai. Hehehe

 

Ke Pulau Beralas Pasir Masuk dari bandara Raja Ali Haji Fisabilillah (penerbangan Jakarta – Tanjung Pinang). Masuk dari pelabuhan Sri Bintan Pura (jalur laut dari Batam, Singapura, Malaysia). Masuk dari pelabuhan Tanjung Uban (jalur laut dari Batam). Masuk dari pelabuhan Kijang (jalur laut kapal besar dari Jakarta) Jl. Wisata Bahari, Trikora km 38, Bintan, Indonesia

Pintu masuk untuk ke pulau ini berada tak jauh dari Hotel Sahid Bintan. Untuk bisa mendatangi pulau Beralas Pasir, kamu harus mendaftarkan diri dan membeli tiket 188.000 rupiah. Biaya ini termasuk jasa transportasi speed boat PP dan makan siang (paket kunjungan satu hari). Dari teman, saya mendapat informasi biaya 288.000 rupiah, paket kunjungan satu hari plus snorkeling. Namun petugas yang berjaga di depan menyarankan untuk membayar kegiatan snorkeling di pulau, yang ternyata, biayanya lumayan berbeda. 234.000 untuk satu jam snorkeling. Belakangan baru saya ketahui, perusahaan yang mengelola pulau ini memiliki dua manajemen untuk paket-paket wisata. Jadi, bagi kamu yang mau ke pulau ini, pastikan kamu membayar paket di konter utama, karena tarif di pulau lumayan perbedaan harganya.

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 6- END)

Teks: Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

UNPREPARED ADVENTURE TO ‘PANTAI LAUT SELATAN’.

Semoga kalian masih betah membaca perjalanan saya keliling Jawa. Ini adalah bagian akhir dari rangkaian tulisan perjalanan sebulan keliling Jawan. Setelah beristirahat satu hari, Brewok rencananya mau menguber kerjaan yang menumpuk dulu selama beberapa hari sebelum jalan-jalan lagi.

Siang itu kami makan siang di angkringan dekat ISI, nasi dan sayur ambil sepuasnya, seperti biasa. Yang dihitung hanya lauk, saya ambil sate usus dan bakso. Harganya? Masih di bawah 10 ribu. Jadi saat kami makan, Brewok menerima whatsapp dari Andrew, si kawan bule. Dia ‘otw’ ke Wonosari, menuju Pantai Selatan, dan besok dia akan terbang ke luar negeri. Dari kemarin-kemarin kami sudah berencana untuk ke Wonosari bareng-bareng. Tapi sering kali bentrok dengan jadwal saya dan Brewok mau pergi, hari ini juga, rencananya kami mau fokus berkarya saja di rumah. Sambil mengunyah, kami berdiskusi apakah bisa menyusul hari ini. Brewok harus bertanggung jawab dengan jadwal kerjanya sendiri, harus bisa menyelesaikannya tepat waktu walau hari ini berangkat. Jadilah kami berangkat mendadak, langsung setelah makan siang. Tanpa persiapan apa-apa. Jam menunjukkan pukul 12 siang, juga menghindari pulang terlalu malam.

Jalannya sungguh stressful bagi saya. Lagi-lagi naik turun terjal dan belok-belok curam, saya mual lagi. Melintasi Imogiri, Gua Maria Tritis. Memakan waktu hampir 3 jam. Mendekati pos penjualan tiket menuju tempat wisata pantai-pantai, kami dicegat saat Brewok mau melewati loket hohoho. Brewok menyebutkan nama villa milik temannya (yang memang benar adanya) seolah kami ada kepentingan dengan pemiliknya/tempat tersebut, kami dibebaskan lagi dari tiket masuk.

PANTAI INDRAYANTI
Kami tiba di Pantai Indrayanti, dari pos retribusi tadi ke pantai lumayan jauh juga, memakan waktu 20 menitan. Ada banyak pantai yang bisa dipilih di situ, Brewok lebih kenal Pantai Indrayanti. Dan sinyal hape ternyata tenggelam. Tidak bisa menghubungi Andrew, tadi sudah janjian di Pantai Indrayanti. Andrew melalui jalur kota yang lebih jauh, kami melalui rute lebih pendek. Harusnya dia sudah tiba. Kami jalan menuju pantai dulu. Ohh saya benar-benar terpesona dengan pemandangannya. Hamparan ombak yang lebih tinggi dan kencang daripada yang saya lihat di Pantai Parangtritis, batu karang di pesisir, menghipnotis saya beberapa menit menikmatinya dari jauh, sebelum saya perlahan menginjakkan kaki dia atas bebatuan karang yang berwarna hijau dan coklat karena tertutup lumut dan tanaman laut lainnya. Anehnya tidak licin, saya mengamati dari dekat, banyak makhluk-makhluk laut! Antara geli dan penasaran, kami menyentuh satu persatu, ada makhluk seperti siput tanpa cangkang, warnanya hijau kecoklatan. Kamuflase di antara baru karang, tersamar sekali, dan ternyata banyak jumlahnya, saya jadi berhati-hati berjalan. Ada juga bintang laut tapi kaki-kakinya berduri halus, Brewok iseng menarik mereka keluar dari sarang (don’t try this).

Berjalan menyusuri pantai
Berjalan menyusuri pantai
Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Ada bintang laut
Ada bintang laut

Saya berlari-lari di pasir putih halusnya, mengejar kepiting kecil berwarna putih yang terbang tertiup angin, saya senang sekali, saya tersungkur bermain dengan segala sesuatu di pantai itu! Rupanya brewok sudah jauh berjalan ke arah salah satu sisi, saya menyusul, sampai salah satu ujung, di dekat bebatuan karang besar, ada mas-mas yang memancing ikan, ada ikan-ikan kecil terlihat di air jernih itu, tetapi mereka sungguh lincah, jangan harap untuk menangkapnya. Lalu kami mulai mencari Andrew. Selangkah demi selangkah kami telusuri perjalanan hingga ke pantai sebelahnya, lalu keluar sampai ke area parkiran, tidak ketemu juga, sambil mencoba memghubungi terus. Lalu saat nyaris putus asa dan berjalan kembali ke motor kami, Andrew lewat naik motor, akhirnya kami bertemu. Dia habis dari pantai yang lain. Lalu brewok mengusulkan untuk mengunjungi satu pantai lagi, yakni Pantai Wediombo, pantai yang ada kolam alaminya di antara batu karang. Jaraknya masih sekitar 10 km lagi. Saya ikut saja.

Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Cakep
Cakep

PANTAI WEDIOMBO & INSIDEN KECIL YANG JADI PELAJARAN

Sesampainya di Wediombo, saya masih dipertemukan dengan lautan yang lebih menderu-deru ombaknya, bebatuan indah bersusun, jam menunjukkan pukul 3. Saya memotret pemandangan, Brewok dan Andrew jalan duluan sambil mengobrol. Saya ketinggalan jauh sekali, mungkin karena kaki saya pendek juga, atau saya terlalu menikmati indahnya goresan Sang Pencipta ini.

Pantai Wediombo
Pantai Wediombo

Foto 76-wediombo (3)

Saya tidak tau sampai seberapa berjalan, mereka menghilang di balik bebatuan. Karena saya mulai sibuk merekam video saat posisi dekat sekali dengan ombak. Beberapa langkah menaiki bebatuan besar, sampailah saya di sebuah kolam yang terbentuk di tengah bebatuan. Kolam kecil dan dangkal, terisi air laut sedada. Ada beberapa pengunjung juga yang sedang berenang, ber-selfie ria di atas batu karang, ada juga yang duduk menunggu. Brewok dan Andrew memanjat ke sebuah batu yang tinggi, tiba-tiba mereka berteriak, saya sampai kaget. Rupanya kena cipratan ombak yang membentur dinding batu tersebut. Pakaian mereka sedikit basah. Lalu Brewok melepaskan kaosnya dan berenang di kolam. Sedangkan Andrew berjalan jauh ke ujung lagi untuk merekam video. Saya juga mengeksplor memanjat ke batu yang tinggi walau saya sebenarnya takut. Saya merasa tempat ini berbahaya sekali. Saya merekam dari batu yang tertinggi, tiba-tiba ombak menghantam dan saya terkena cipratannya sedikit. Saya kaget sekali dan berpegangan kuat pada batu. Saya merekam sebentar lagi lalu turun, melanjutkan merekam ombak di teluk kecil di bawahnya, di samping kolam. Lalu saya menghentikan rekaman dan memperhatikan.

 Foto 77-wediombo (4)

Ombak di teluk kecil itu makin lama makin tinggi. Sepertinya mulai pasang. Ada orang yang masih bermain di atas bebatuan, saya takut ombak yang lebih kuat menghantam. Benar saja, tiba-tiba ombak yang sangat tinggi datang, yang tadinya hanya cipratan, menguyur kuat mereka, dua pemuda itu jatuh tergelincir dari batu, menuju kolam, kolam yang mendadak dalam karena volume air yang bertambah. Mereka kelihatan panik, struggle untuk meraih darat dan kemudian berhasil naik, bersiap-siap pergi dari situ. Saya, Brewok, dan Andrew juga bergegas kembali karena air mulai pasang. Kami menemui rombongan tadi tak jauh dari sana, seorang pemuda duduk berlumuran darah di kaki, betis, dan bokong. Tangan sebelah kanannya luka parah. Darahnya bercampur dengan air laut di atas batu. Dia mengigil karena shock dan kedinginan. Saya menawarkan dia memakai sweater Andrew. Seorang pemuda dari rombongan lain bersama Andrew membopongnya. 3 rombongan yang tak saling kenal dalam satu tempat tadi akhirnya berjalan bersama. Satu temannya yang juga terjatuh, tidak mengalami luka parah, hanya sedikit lecet di tangan dan kaki. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat karena jalan cukup jauh dan dia masih kesakitan. Dia sudah beruntung, tidak mengenai kepala. Jika tadi mengenai kepala, bisa berakibat kematian.

Saya sudah takut sekali saat kejadian itu. Memang lautan itu tidak boleh untuk bermain-main, mereka sudah dinasehati warga setempat agar jangan bermain terlalu lama disitu karena sudah mau pasang. Apalagi konon katanya Pantai Laut Selatan ini punya cerita mistik yang kental. Sampai di warung tepi pantai, kami basuh lukanya dengan air hangat, sembari menenangkan diri. 3 rombongan ini jadi saling berkenalan dan mengobrol. Si korban ini, asalnya jakarta. Sedang liburan di Jogja. Mereka mungkin tidak bisa melanjutkan liburan selanjutnya.

Cukup menenangkan diri, hari sudah cukup gelap. Mereka ijin pulang. Saya, Brewok, dan Andrew kelaparan. Kami makan di warung itu. Seporsi ikan nila bakar dengan satu dandang nasi yang bisa buat berdua, daaannn sambal bawangnya enak! dihargai 25 ribu. Cukup memuaskan. Kami melihat ada api dari bawah, dekat pesisir. Selesai makan kami bergegas kesitu. Kami pikir api unggun, rupanya itu sampah yang dibakar, yasudah kami sekalian menghangatkan diri sebentar sambil menatap langit. Bertabur bintang dan bulannya penuh, terang, dan besar. Indah sekali. Saya rasa saya tidak punya kesempatan untuk melihat milkyway liburan kali ini, padahal sudah berharap ada kesempatan. Jam menunjukkan pukul 6.30 saja. Tapi sudah terasa seperti jam 9 malam. Duduk-duduk sebentar dan kami diberitahu penjaga warung akan mematikan lampu warung. Wow… ternyata satu pantai sudah gelap semua. Kami bergegas pulang. Parkiran juga hanya tinggal dua motor kami.

WHAT A LOVE-HATE ROAD TO GO BACK

Keluar dari area pantai, jalur stresful tadi lebih stresful lagi kali ini. Gelap gulita! Tidak ada lampu jalan. Saya sudah teler saja. Sekitar setengah jam perjalanan, ternyata ban bocor. Kami harus cari tambal ban malam-malam, di tengah kegelapan, di desa kecil itu. Kami temui satu tambal ban, tidak ada orangnya, Brewok mengetuk pintu rumahnya. Syukurlah masnya ada, tapi menunggu dia selesai makan. Padahal selesai dia makan dia berencana pergi. Beruntung kami tidak terlambat mendatanginya. Kami dipersilakan duduk di terasnya oleh mbaknya. Mungkin istrinya. Saya permisi menggunakan kamar kecil. Kamar kecilnya tidak kecil, ada kolam besar berisi air. Seperti kolam pemandian. Hahaha. Lalu saya baru diberitahu mereka sulit air. Jadi air itu ditampung. Tak lama setelah kami duduk, mbaknya keluar membawa tiga gelas teh hangat dan satu toples krupuk. Kami tersentuh sekaliii. Ya ampun, jadi tidak enak hati.

Menunggu ban sepeda motor ditambal
Menunggu ban sepeda motor ditambal

Sungguh keramahan yang diberikan disini menghangatkan hati. Di keadaan dingin dan panik seperti ini. Tehnya nikmat sekali. Sekitar setengah jam sampai selesai pengerjaan bannya, kami berangkat pulang. Beberapa saat setelah itu saya mau buang air kecil lagi, juga kedinginan, singgah ke kantor polisi untuk pinjam toilet, berujung ngobrol dengan beberapa polisi, lalu bergerak lagi. Kembali melewati Imogiri, Andrew mau duluan karena harus packing dan berangkat pagi-pagi. Kami mau cari sate klathak lagi, hehehe, untuk ketiga kalinya. Sate klathak Pak Pong yang di pasar. Ramai sekali. Tempatnya adalah pasar tradisional yang beroperasi pagi-siang hari, jika malam tutup dan Sate Pak Pong ini beraksi. Lesehan beralaskan tikar, agak gelap. Nikmatnya tetap nomor satu. Tidak lama-lama, kami beranjak dan membayar seharga 50 ribu untuk dua porsi. Sampai di rumah pukul 11 malam. Tepar lagi.

DINNER KURANG ROMANTIS

Sore ini mau dinner romantis di resto Rosella Easy Dining di Sleman, agak jauh tapi sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Sekitar 30 menit dari Sewon, mencari-cari… menerka-nerka… saya mengetahui resto ini dari artikel yang saya baca sebelum ke Jawa. Link artikelnya: www.qraved.com/journal/restaurants/12-restoran-di-jogja-yang-harus-banget-kamu-coba/

Sebuah resto pinggir sawah dengan setting romantis. Jalan Kabupaten KM. 5, Sleman. Jalan Kabupaten lumayan panjang, kami menelusuri sampai ujung yang mendekati Ringroad Utara. Akhirnya ketemu… tapi. kok. sepi. tidak ada tanda-tanda kehidupan, saya mengintip ke dalam, memang setting yang romantis, di pinggir sawah. Tiba-tiba saya ditegur oleh tetangga di situ bahwa mereka tutup hari ini, tidak biasanya. Saya patah hati sekali, kecewa. Kami kembali, di jalan Kabupaten tadi kami melihat satu resto yang nggak kalah romantis. Dikelilingi kolam atau sungai kecil. Dengan remang-remang lampu kuning dan lilin-lilin. Tapi tutup juga, entah hari spesial apa saat itu. Lalu kami kembali ke daerah Sewon. Sesuai artikel, masih ada resto yang menarik hati selain Rosella. Kami ke jalan Tirtodipuran, mencari Mediterranea Restaurant. Sesampainya di dalam, penuh dengan turis barat. 90%nya turis barat. Saya memesan Duck Confit (steak bebek) seharga 67 ribu dan brewok memesan Beef Carpacio (irisan daging sapi yang ternyata setengah matang) seharga 55 ribu. Lalu saya tambah pasta Penne Tuna & Spinach seharga 50an ribu. Minum Ice Lime 12 ribu dan Matcha Latte 28 ribu.

Dinner yang butuh perjuangan
Dinner yang butuh perjuangan

Saya puas sekali dengan pesanan saya, daging bebeknya empuk dan gurih. Ada salad dan wedges kentang yang disajikan bersama keju dan krim. Cukup kenyang buat satu orang, bahkan bisa buat berdua. Sedangnya pesanan Brewok, Beef Carpacionya, agak mengecewakan, tidak sesuai selera kami, itu juga hanya sebagai makanan pembuka. Disajikan sepertinya setengah matang dan dingin, dan diberi asam. Tapi habis juga kami santap. Pasta Pennenya lumayan lezat, wangi. Kami duduk juga tidak lama, sampai disana saja sudah hampir pukul 10. Resto ini beroperasi pukul 11 pagi sampai 11 malam, tutup setiap hari Senin. Saat membayar, semua makanan tersebut dihargai 220 ribu. Dan tidak ada Ppn! Semua harga makanan & minuman sudah termasuk pajak dll. Saya acungi 4 jempol dari 5 jempol saya untuk resto ini. Kenyang perut, saatnya pulang dan beristirahat. Worthed untuk memperoleh buncit besok pagi. Oh ya, saya diundang Mbak Maya untuk bakar Sate Klathak besok pagi di rumahnya di Kaliurang. Jam 7 pagi, duh?! Pagi sekali.

HOMEMADE SATE KLATHAK (PART 4) DAN ICIP-ICIP KUE DI CINEMA BAKERY

Mbak Maya benar-benar menjemput saya jam 7 pagi, sampai di rumahnya di Kaliurang jam 8. Bersama satu teman Mbak Maya dari Tasikmalaya, Mbak Vina, kami bertiga langsung beraksi di dapur. Dibantu ayahnya Mbak Maya, kami memotong-motong daging domba muda, menusukkan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Dibakar oleh ayahnya Mbak Maya. Kira-kira kami dapati 35 tusuk. Habis kami santap berempat, diteras rumah Mbak May, digelar tikar, ada kolam dan banyak tanaman. Duh saya betah sekali dengan suasana-suasana seperti ini. Saya makin sedih menjelang pulang.

Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya
Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya

Yuk makan sate klathak
Yuk makan sate klathak

Jam 1 siangnya saya ada janji makan siang dengan Brewok dan temannya di dekat XXI Empire, Resto Platers. Saya diantar Mbak May lagi. Duh saya merepotkan Mbak Maya sekali, jauh dari rumahnya. Saya hanya beri hadiah kuping-kupingan kucing yang dia sukai dari Popcon Asia di Jakarta kemarin. Selesai makan siang dan chit-chat sebentar, saya dan Brewok mau nonton bioskop di XXI. Mission Impossible: Rogue Nation. Saya membayangkan nonton dengan romantis. Yang saya dapati? Dia tidur. Okay. Spesial sekali. Mungkin dia punya momen yang lebih romantis dalam mimpinya.

Cinema Bakery
Cinema Bakery

Setelah usai film, kami menyeberang, ada Cinema Bakery, beberapa hari di Jogja saya tiba-tiba ingin makan kue-kue cantik yang enak, saya diberitahu teman bahwa bakery ini enak, pemiliknya orang Prancis. Saya tahu disini tidak memiliki cafe pattiserrier sebanyak Medan. Konsep cafe ini adalah cinema, dekorasi interiornya berhubungan dengan film-film. Unik dan luas, juga nyaman. Ada ruangan yang mungkin bisa digunakan untuk nonton film bareng. Saya langsung panik memesan beberapa kue, harganya relatif murah ketimbang kue-kue cantik di Medan bahkan (maaf) banyak yang rasanya kurang sesuai dengan harga. Harga disini berkisar belasan ribu sampai 35 ribu. Saya pesan cake Tiramissu kesukaan saya, Red Velvet, dan Brewok mau Strawberry Shortcake dan sebiji macaron. Minum espresso dan lemon squash. Selesai itu, saya pesan Quiche Beef lagi. Total semua? 160 ribu sekian. Kenyang super (lagi), worthed untuk membuncit (lagi). Good days for satisfy my belly, tasted very good.

Kue-kue Cinema Bakery
Kue-kue Cinema Bakery 

LAST DAY IN JOGJA, HUTAN PINUS, DAN SATE KLATHAK (LAGI)

Hari terakhir di Jogja, saya mulai lemes. Brewok bertanya kemana lagi saya hendak pergi. Saya sudah kehabisan ide, juga tidak ingin terlalu capek. Dia punya ide mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri. Kami berangkat siang itu. Jarak ditempuh sekitar 40 menit. Di perjalanan kita bisa melihat kota Jogja dari ketinggian, Mangunan, dari celah-celah pohon kayu putih. Jalannya masih berbelok curam dan naik turun. Syukurlah tidak banyak dan tidak terlalu parah. Memasuki kawasan tersebut, disuguhi pemandangan pohon-pohon pinus yang tinggi-tinggi menjulang. Sayangnya saya kurang bisa menikmati karena di perjalanan saya kelilipan abu rokok Brewok, yang membuat saya rusak mood seharian (pemirsa sekalian, harap kurangi/ hindari rokok ya). Kami berfoto di sela-sela pohon pinus. Sesekali memandang ke atas menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh gesekan ranting di atas sana. Teduh dan tenang.

Perjalanan menuju hutan pinus
Perjalanan menuju hutan pinus
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan Pinus
Hutan Pinus
Langit-langit yang cantik ya...
Langit-langit yang cantik ya…

Tampak juga banyak pasangan yang menikmati momen romantis disana (ngenes, dapat pasangan yang nggak romantis). Ada photoshoot cosplay juga. Kami jalan menaiki bukit, ada tempat di mana mereka membangun beberapa rumah pohon tanpa atap. Cukup memancing adrenalin untuk memanjat ke atas, di terpa angin kencang dan pondoknya bergoyang, dibangun di antara dua pohon tinggi. Mood booster saya juga setelah mencoba itu. Antara excited dan ketakutan.

Berani nyoba?
Berani nyoba?

Tak lama, kemudian kami turun, menjelajahi satu jalan kecil, sekitar setengah kilo ke bawah, ada Batu Tumpeng, hanya batu-batuan yang saling bertindihan. Kami kembali ke pintu masuk, ada petunjuk suatu mata air, sekitar 1 km masuk. Kawan-kawan tidak perlu masuk, cukup jauh ke bawah, dan ternyata mata air yang sudah dimodif, bukan alami. Sudah cukup lelah kami menjelajah, kami pulang.

Melewati Imogiri, tebak apa yang saya singgahi lagi di Imogiri? Betul. Sate Klathak lagi. Ehehe, ke-6 kalinya. Tapi kali ini saya ingin Tengkleng, kata Mbak Vina itu enak sekali, klamut-klamut daging yang melekat pada tulang-tulang, mungkin iga atau semacamnya. Kami ke Pak Pong yang terkenal dan biasanya ramai itu. Terrrnyata, Tengklengnya kosong. Saya sedih dan menyesal baru ingin mencarinya sekarang, di saat-saat terakhir. Akhirnya saya pesan Tongseng saja, bentuknya potongan daging, dengan kuahnya. Brewok pesan klathak, saya pasti merampoknya. Penuh perut, dan kami pulang. Saya beberes, packing untuk pulang ke Medan besok.

Makan di Pak Pong (lagi)
Makan di Pak Pong (lagi)

PULANG KE JOGJA LAGI LAIN KALI!

Pulang? Jogjalah sebenarnya tempat saya (dan banyak orang) berpulang. Jogja adalah kota dimana semua orang merasa nyaman, hangat, dan tenang. Saya akan pulang ke Jogja lagi tahun depan, doakan. Juga berencana mengunjungi tempat-tempat lain, nominasinya Surabaya, Bromo, Bali. Sudah cukup perjalanan hampir sebulan ini, kantong juga sudah kosong, terima kasih buat kawan-kawan semua, Mbak May, terlebih tur guide saya , Mas Brewok. Hahaha. Puji kepada Tuhan dengan segala keindahan alamnya dan saya bersyukur dan pantas bisa meluangkan waktu dan hartaku untuk mengaguminya. Sampai jumpa, Java. Semoga tulisan saya ada manfaatnya bagi teman-teman yang akan mengunjungi tempat-tempat istimewa ini, indah rasanya bisa saya bagikan pengalaman berharga ini dalam tulisan panjang lebar begini supaya bisa dinikmati. Hahaha! Semoga ya….

Studionya Mas Brewok
Studionya Mas Brewok

Yang berkunjung / berdomisili di Jogja, jangan sungkan untuk mengunjungi workshop kerajinan kulit Monkey x Rabbit milik Brewok di Dusun Karangnongko, Sewon, Bantul, kontek aja 089669974368. Maaf promo dan bukan titipan sponsor. :p

(END)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 5)

Teks oleh Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

PERJALANAN KE SEMARANG DAN MUSEUM KERETA API AMBARAWA.

Rencananya berangkat ke Semarang pagi-pagi sekali tapi karena tadi malam kami kecapaian, akhirnya kami berangkat pukul 2 siang, dengan badan pegal-pegal. Saya dapat informasi kalau berangkat siang akan terjebak macet. Yasudahlah saya pasrah saja. Dari Jogja ke Semarang akan melewati Magelang, Soropadan dengan wisata pasar buahnya, Banaran, dengan kebun kopinya, Ambarawa dengan rawa bening dan museum kereta api kunonya, lalu Ungaran dengan candi Songonya.

Kami hanya singgah ke Ambarawa Railway Museum, sebuah museum kereta api kuno, dibangun tahun 1976 di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dengan membayar kalau tidak salah 10 ribu rupiah, kami berfoto ria di beberapa gerbong kereta api kuno yang dipajang, juga di bekas stasiun yang nuansanya sungguh eksotik di mata saya. Di sini juga ada fasilitas berkeliling Ambarawa dengan kereta api kuno, dengan membayar 50 ribu rupiah perorangnya, tetapi hanya beroperasi pada hari Minggu dan hari libur. Sayang sekali kami tidak bisa mencobanya. Puas menikmati, kami bergerak lagi.

Ambarawa Railway Station
Ambarawa Railway Station
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman

Sampai di Semarang, di rumah keluarganya nya Mas Brewok, di Kaligawe, salah satu jalan Pantura, kami langsung tepar. Tapi sempat dong makan ayam bakar dulu di warung kecil simpang rumah.

Besok paginya, setelah main ke rumah sebelah yang juga saudara Brewok, saya diajari menembak dengan senapan angin milik Papa Brewok, seperti janjinya. Berkutatlah saya dan Brewok dengan senapan angin dibawah terik matahari di kebun sebelah rumah, senapan ini tidak pernah dipakai untuk menembak makhluk hidup, hanya untuk olahraga. Dari sekitar 7 kali mencoba, hanya sekali, kena sasaran. Saya menyerah. Terik matahari di Semarang cukup luar biasa. Apalagi rumah Brewok di dekat pantai. Pantai yang main ke rumah. Hehehe. Maksudnya adalah air pasang yang masuk ke dalam rumah, tanah Semarang tiap tahunnya turun 5cm.

Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.
Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.

CAFE IGA BAKAR DAN ANGKRINGAN PINGGIR JALAN

Esoknya kami ada janji bertemu Febri di tempat kerjanya, di Tandhok Ribs & Coffee Jl. Papandayan. Saya jadi ingin Iga Bakar. Sekalian kopdar bareng teman-teman Semarang lainnya. Mengobrolkan gambar, pekerjaan, hobi. Saya order seporsi iga bakar seharga 45 ribu. Sebenarnya saya mau order lagi karena nafsu makan masih menggebu-gebu, tapi teralihkan karena obrolan dan candaan kami terlalu seru malam itu. Sampai cafenya tutup, saya belum ingin pulang. Pukul 10 malam, kami mutar-mutar mencari tempat tongkrongan, kami dapati angkringan yang masih buka, di simpang Jl. Menteri Supeno. Saya sungguh bersyukur, setiap saya mengunjungi Semarang, saya diajak nongkrong di pinggir jalan sungguhan seperti ini. Duduk beralaskan tikar di atas trotoar di persimpangan. Makan nasi kucing dan beberapa gorengan, tentu saja murah meriah. Sampai pukul 12 malam kami bubar. Entah kenapa momen malam itu ‘sesuatu’ sekali, saya menikmati malam, melupakan semua keluh kesah sesaat, bersama orang-orang yang menyenangkan dan jauh dari realita kota asalku. Memandang malam dan teman-teman ini, saya banyak bersyukur, walau kadang mereka ngobrol tanpa subtitle.

Iga Thandok, makan iga dulu.
Iga Thandok, makan iga dulu.
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe

MENCARI ES KRIM DI TENGAH TERIK SEMARANG

Well, sore besoknya saya bersama dua mas-mas sangar ini nongkrong di Cafe Es Grim House, saya ingin mendinginkan efek cuaca panas Semarang ini. Sepertinya agak sulit menemukan cafe yang menyediakan menu-menu es krim di sini. Dan ternyata sajiannya juga tidak terlalu istimewa seperti yang saya bayangkan, seperti tempatnya juga, yang sederhana. Tidak seperti kota Medan yang kian ramai dengan cafe-cafe cantik yang menyediakan menu es dan kue-kue yang ‘wow’, harga juga ‘wow’ sih. Harga makanan di Semarang masih tergolong standar dan cocok di kantong. Walau tak semurah Jogja.

Bosan nongkrong melihat mereka mengobrol tanpa subtitle, saya ingin mencicipi lumpia. Sempat kecewa siang tadi karena kehabisan lumpia basah (non halal) yang terkenal di Jl. Lombok, daerah Pecinan dekat kali. Jika pengen sekali, ternyata harus memesan pagi-pagi, sebelum kehabisan. Di sebelahnya ada warung es campur dan sejenisnya yang juga terkenal, banyak artis makan disitu. Dalam pencarian darurat, kami memilih Lumpia Express, di Jl. M.T.Haryono. Sebuah restoran yang menyediakan lumpia siap saji, bermacam pilihan dengan range harga belasan ribu. Singkat cerita saya tidak begitu suka, entah memang resto tersebut yang rasanya kurang enak atau rasa lumpia di Semarang itu memang seperti itu, hanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya memang tidak sempat mencicipi di tempat lain, besok kami akan melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi Dieng.

Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.
Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.

ROAD TO DIENG, DESA DI ATAS AWAN

Berangkat ke Dieng jam 7 pagi dari rumah, saya sangat mengantuk. Ini pertama kalinya saya menderita kantuk akut di atas motor, sampai membahayakan diri. Beberapa kali saya tertidur di boncengan, masih satu jam pertama. Mas Brewok setiap menyadari saya tertidur, dia pelankan motor dan membangunkan saya. Sampai kesekian kalinya, kami memutuskan untuk berhenti untuk beristirahat di depan Indomaret daerah Temanggung, yang menyediakan meja dan kursi. Saya dengan lunglai langsung duduk dan meletakkan kepala di atas dekapan tangan di atas meja. Saya tidur kurang lebih 10 menit, sampai mengences. Hahaha. Lalu kami mengemil dan minum sebotol kopi, sambil saya mengumpulkan nyawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Sudah segar. Tiga jam sisanya saya celingak-celinguk menikmati pemandangan. Dari Temanggung, menuju Wonosobo. Sepanjang perjalanan sudah banyak kebun dan barisan gunung tampak dari kejauhan. Yang perlahan mendekat. Kami memutari gunung, dataran tinggi Dieng letaknya di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Memasuki kabupaten Wonosobo, saya mulai merasakan hawa sejuk. Suhu pada siang hari berkisar 12o-20o C dan malam hari mencapai 6o-10o C, pada musim kemarau (Juli-Agustus) subuhnya terkadang mencapai 0oC! sampai membekukan embun! Ketinggian Dieng ini 2000m di atas permukaan laut. Saya sungguh tidak sabar menikmati keindahan dan petualang di atas sana.

Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.

THE LEGENDARY ‘TELAGA WARNA’

Tahu-tahu kami sudah memasuki area wisata Telaga Warna, jam menunjukkan pukul 12 siang, sesuai rencana, kami memang akan mengunjungi tempat wisata dahulu lalu beristirahat di kerabatnya Brewok di daerah Batur Banjarnegara. Membayar tiket seharga 5 ribu perorang, tak jauh dari pintu masuk, pemandangan Telaga Warna yang legendaris itu sudah menyapa. Saya dan Brewok iseng bermain turis-turisan, karena saya sering sekali dikira warga asing. Kami berbahasa enggris seharian, hahaha!

Telaga itu sedang sedikit surut karena kemarau. Kami berjalan memutari telaga, berfoto di padang rumput kering. Kami juga menyinggahi beberapa gua di situ. Tapi banyak yang sedang ditutup. Sambil berjalan santai menikmati, saya teringat, bahwa orang-orang sepertinya mengambil foto dari ketinggian, saya penasaran dimana ada jalur yang lebih tinggi, ternyata Mas Brewok juga. Tak lama berjalan, ada sebuah jalur kecil yang tampaknya menuju atas, kami langsung bergegas naik. Tanah pasir berdebu sedikit mengganggu, syukur kami punya masker. Jalannya cukup sempit dan licin karena pasirnya. Tiba di suatu ketinggian dimana tampaknya cukup bagus mengambil foto, kami berhenti, sambil ngos-ngosan. Menikmati keindahan alam ini, telaga indah yang dikelilingi bukit tinggi. Warnanya benar mempesona. Dinamai Telaga Warna ya karena konon warna air di telaga ini berubah-ubah, menjadi biru, hijau, dan kuning. Penyebabnya adalah kandungan sulfur yang tinggi.

Telaga warna
Telaga warna yang indahnya amat memanjakan mata
Masih Telaga Warna
Masih Telaga Warna

Lalu kami memandangi jalur selanjutnya, ragu dalam hati untuk melanjutkan atau tidak, karena sudah cukup lelah sampai disitu. Tak sampai semenit berpikir, kami naik, berharap mendapati kesempatan lebih bagus. Tapi sialnya, sekitar 200 meter menaiki itu, saya merasa jalur ini memang sudah di puncak bukit, tapi, arahnya ke hamparan kebun dan sawah, telaganya sama sekali tidak tampak. Sambil bernafas keras, kami turun lagi. Di depan kami ada cabang jalur. Firasat saya merupakan rute lebih singkat untuk turun, semoga tidak salah. Voila, benar… kami sampai di tepi telaga di sisi lainnya. Mendapati beberapa wisatawan sedang berjalan juga. Mendekati tempat awal kami memulai, ada penjual jagung bakar, dan tempat yang asik untuk duduk. Tentu saja kami makan jagung bakar, sebatang berdua, duduk di sebuah teras, di tepi telaga. Saya mengamati dari jauh, sebuah maskot hidup Mickey Mouse yang kesepian, jasa berfoto bersamanya dikenakan biaya 5 ribu, tak ada seorang pun menghiraukannya, aku membayangkan siapa dan bagaimana wajah dibalik kostum itu.

Beberapa meter dari si Mickey Mouse, ada sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana sambil bernyanyi, bintangnya adalah seorang gadis kecil yang berjoget ria menghibur pengunjung. Letak mereka tepat setelah pintu masuk. Iringan musik itu membuat si Mickey Mouse sedikit ikut bergoyang. Tapi tetap saja membuat saya sedih melihatnya.

Telaga Warna lagi.
Telaga Warna lagi.
Nikmati keindahan Telaga Warna
Nikmati keindahan Telaga Warna
foto 55-telaga warna (6)
Melompat dan berbahagia di pemandangan cantik seperti ini

KAWAH SIKIDANG & KOMPLEKS CANDI ARJUNA

Well, kami keluar dari situ dan mengunjungi tempat wisata selanjutnya, tak jauh dari situ. Kawah Sikidang, membayar 10 ribu sudah termasuk mengunjungi kompleks candi Arjuna yang juga terletak dekat dari situ. Memasuki area kawah, berbatu-batu, naik turun, berpasir putih, ada kuning-kuningnya, itu belerang. Ada yang sedang foto prewedding. Lumayan luas, dari kejauhan tampak asap putih, uap panasnya lumayan terasa dari jauh, beberapa rombongan juga berjalan menuju ke situ.

Di sana ada sebuah kolam yang dipagari, mata airnya mendidih dan beruap, sampai saya awalnya tidak melihat ada mata air di situ karena dikepul uap. Kawah Sikidang ini mempunyai cerita legenda tentang seorang pemuda berkepala Kijang yang dijebak dan terkubur di sana oleh wanita yang menghindari lamarannya, ini link cerita legendanya http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/264-legenda-kawah-sikidang

Kawah ini masih aktif sampai sekarang dan mengeluarkan uap panas yang berganti-ganti posisinya. Ada banyak kawah di Dieng, beberapa dijadikan pembangkit listrik tenaga uap.

Sikidang
Sikidang

Foto 57-sikidang (2)

 

Masih Sikidang
Masih Sikidang

Foto 59-sikidang (4)

Selesai dari situ, kami pergi ke Kompleks Candi Arjuna. Ada 5 candi kecil, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada. Sebuah prasasti di dekat Candi Arjuna, menunjukkan pembangunan Candi sekitar 809 SM. Wow. Kemudian kami melihat ada bapak dengan kuda, rupanya berjualan jasa menunggangi kuda, kami tergoda mencoba. Menyenangkan sekali! Tapi andai kudaku yang putih dan besar, bertanduk dan bersayap (does unicorn exist?). Saya sudah lelah, jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami bergegas menuju Batur, kediaman kerabat Brewok yang hendak kami tumpangi. Pemandangan jadi senja, dan kami menembus awan.

Desa di atas awan
Desa di atas awan
Senja yang memikat
Senja yang memikat
Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

 

Di Komplek Candi Arjuna
Di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna

 

Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. :D
Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. 😀
Candi Arjuna
Candi Arjuna

 

https://youtu.be/Mgdg-xlc8b4

https://youtu.be/Nw2e4J-nNqw

SWEET PLACE TO REST, BATUR

Perjalanan sekitar 20 menit itu kami jalani dengan tubuh mengigil. Saya sempat merekam kami menembus kabut tebal alias awan. Ya, kami memang sedang berada di desa di atas awan. Tangan saya benar-benar mati rasa sampai terasa sakit saat merekam beberapa menit. Saya langsung pakai sarung tangan kembali setelah selesai merekam. Senja dan pemandangannya itu membuat saya hanya bisa terpaku diam. Antara dingin dan sulit bernafas karena Brewok membawa kencang motornya, wajah ditampar angin yang dingin, kaki saya mengigil naik turun sendirinya. Kami memasuki sebuah perkampungan, desa Batur Kota Banjarnegara.

Setibanya di rumah saudara Brewok, saya sedikit lega karena tidak sedingin di luar. Lantainya dialasi karpet. Lantai dapurnya plasteran semen, disediakan beberapa sandal, saya coba berjalan tanpa sandal itu, diiingiin. Saya mau buang air, toiletnya di luar rumah, dengan halaman penuh bunga yang tumbuh subur di depannya. Saya coba memasukan tangan ke dalam airnya, wooww, seperti air es. Tapi percaya atau tidak, saya mandi dan keramas setelah itu. Karena tidak tahan rasanya sudah kotor dan rambut lepek hari itu. Penduduk disitu juga nggak rutin mandi setiap hari lho. Ya maksud saya, selain karena merasa kotor, juga sebagai tantangan, pengalaman berharga, toh untuk pertama dan terakhir di situ edisi tahun ini, besok pagi tampaknya tidak akan bisa mandi.

Brewok hanya berani cuci muka dan gosok gigi. Hih! Kami mengobrol sampai larut malam, sempat membuat pemanas dengan arang dibakar di dalam sebuah tungku, perapian ala kami. Lagi-lagi tidak ada subtitle yang di-instal. Baiklah lalu kami bubar dan tidur. Kasur dingin-dingin empuk dengan selimut super tebal dan berat. Seketika langsung terlelap, serasa di kamar ber-AC. Sialnya saya terbangun pukul 5 subuh dan ingin buang air kecil. Harus… keluar rumah… gelap… dan airnya dingin sekali. Tapi percayalah saya malah excited sekali. Lalu kembali tidur, menahan excited subuh-subuh itu.

Desa Batur
Desa Batur

MENUJU CURUG SI KARIM, KEMBALI KE JOGJA

Seperti biasanya kami ‘mengecas’ energi terlalu lama, tadinya akan bergerak jam 8, akhirnya kami bergerak jam 10. Menuju Air Terjun Si Karim. Kata penduduk, dari sini sudah dekat, tapi jalannya rusak parah, ada jalan lebih mulus tapi harus memutar ke kota. Brewok mau mencoba melalui rute rusak itu. Awalnya ‘biar dicoba dulu’ tapi sesampainya kami disana, suatu jalan kecil yang menurun, sepertinya tidak ada kata untuk kembali. Jalannya terjal turun dan berkelok ekstrem, masih dengan membawa ransel besar di antara kakinya. Jalannya rusak dan isinya bebatuan agak besar, kiri kanan tanaman. Saya memilih turun dan berjalan kaki di beberapa belokan terjal, sambil menenteng ranselnya, sedangkan Brewok cukup ahli pelan-pelan menyusuri jalan bebatuan itu. Ini memacu adrenalin sekali. Sepertinya Mas Brewok bukan orang yang takut mati. Sayang saya tidak sempat mengambil foto jalanan tersebut. Karena berkonsentrasi dan agak tegang. Lumayan jauh turunnya, sekitar 4 km dengan turun mengesot dan berbelok-belok ekstrem seperti itu.

Saya yakin juga sampai disana, ada jalur keluar ke kota yang disebutkan mereka, kalau untuk naik saya pesimis sekali, kelihatan mustahil. Kami sampai dan menghela nafas panjang. Sebuah tebing batu yang gersang dengan kucuran air yang… tidak terlalu deras. Ada beberapa orang yang sedang bermain air di atas sana, kemudian pergi tak lama sesudah kami sampai. Saya senang memanjat. Saya naik duluan dan duduk-duduk. Saya tanya pada Brewok apakah dia bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi itu untuk berfoto. Mas Brewok kelihatannya ragu untuk memanjat, tapi kemudian dia memanjat dengan hati-hati. Sedikit mengeluh licin karena banyak lumut, dan mulai khawatir untuk melanjutkan. Walau akhirnya dia sampai di tempat yang saya tunjuk, saya mengambil beberapa foto lalu dia kembali. Oopps… brewok tergelincir! Dia jatuh tengkurap bergantung disana. Setengah badannya sudah basah. Sebelah tangannya berpegang pada batu yang kering.

Saat itu saya masih santai melihatnya dari bawah, berharap dia masih ada kesempatan untuk bangun, tapi kelihatannya tidak. Malah dia bilang biar dia seluncuran ke bawah saja, saya bilang itu tindakan yang gila, minimal luka berat, patah tulang atau kebentur kepala, kalau dia mati atau kenapa-kenapa di situ saya bagaimana pulangnya. Tidak ada orang yang bisa menolong juga di situ. Saya pun segera memanjat, entahlah bagi saya mudah sekali memanjatnya, walau kaki sedikit basah. Tidak selicin yang dia bilang juga. Dia sempat melarang saya naik menolong. Tapi saya sudah sampai di atas dan menariknya. Saya duduk disitu, melihat-lihat pemandangan lagi. Dia turun perlahan dengan kondisi cukup kacau. Mungkin ada memar, bahu pegal, baju dan celana basah juga ada tambahan aksesoris lumut di pakaian. Kami kenakan sepatu dan siap-siap pualng. Masih tertawa-tawa dengan kejadian tadi. Syukurlah tidak kenapa-kenapa, syukurlah ada saya. Ho-Ho! *ejekBrewok

Curug Sikarim
Curug Sikarim
Curug Sikarim juga
Curug Sikarim juga

Setelah tenang, kami tancap gas keluar dari situ, keluar ke Wonosobo ‘mengisi perut’ sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Kata Brewok dari sini ke jogja hanya sisa sekitar 3 jam. Sedikit lega, walau saya memang sudah mulai terbiasa dengan perjalanan jauh seperti itu. Hanya saja punggung, pinggang sampai bokong saya yang terasa lelah sekali, banyak menahan berat badan saat jalanan naik turun terjal. Satu jam terakhir, kami sedang berada di Magelang dan beristirahat. Brewok bertanya apakah berniat untuk singgah ke Borobudur, walau kami sudah pernah mengunjunginya tahun lalu. Mungkin untuk mengusir rasa mualku di perjalanan (padahal naik motor kan), saya mengiyakan.

Membayar 30 ribu perorang, saya sempat dicurigai sebagai warga asing, karena turis asing harga tiketnya lebih mahal. Spontan dong kami tidak main bahasa inggris-inggrisan lagi, saya berbahasa dengan logat Medan yang agak kental untuk bertanya toilet di mana, barulah mbaknya yakin saya orang Indonesia. Si Mbak memberitahu bahwa tempat itu akan tutup pukul 5. Jam menunjukkan pukul 4 lewat. Saya baru sadar. Yasudah kami bergegas masuk. Yang saya keluhkan adalah jarak dari parkiran ke candinya lumayan jauh, apalagi kami sudah sangat lelah, Brewok menenteng ransel yang lumayan berat itu. Dia kelihatan lelah dan berkeringat.

Menaiki tangga depan Borobudur, kami beristirahat di bangku batu di teras di depan candi. Saya katakan bahwa saya akan berkeliling sendiri saja dan dia bisa duduk beristirahat di situ. Dia tidak mau. Saya ngotot mau jalan sendiri, dia jalannya sudah sempoyongan dan lambat. Saya akhirnya naik dan memisahkan diri. Saya naik sampai atas, saya pergi ke arah barat, di mana pemandangan senja dan matahari terbenam sungguh indah dari sana. Saya duduk, saya tahu Brewok akan ke situ juga. Beberapa menit kemudian, dia muncul. Saya ajak duduk di tepi teras, di antara stupa. Banyak bule sedang bersantai dan berfoto juga.

Semua mulai bubar setelah ada announcement tempat sudah mau tutup dan dihimbau untuk turun. Brewok rebahan beralaskan ransel, saya menikmati pemandangan beberapa saat lagi. Lalu kami bersiap-siap pulang. Rute pulang dialihkan, tidak sama dengan rute kedatangan, diputar agak jauh dan melalui pasar-pasar yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan. Juga museum. Singkat cerita, kami sampai di Jogja dan tepar sampai besok siang. (to be continued)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 4)

Teks: Sal Nath/ Foto Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

MEMBAWA PULANG ULAR DARI PASAR SATWA DAN TANAMAN HIAS

Hari itu saya bikin janji dengan Mbak Maya teman dunia maya yang menjadi nyata. Kami ke Pasty alias Pasar Satwa dan Tanaman Hias. Di jalan Bantul KM1. Tempat itu terdiri dari dua area yang terletak bersebrangan. Saya memasuki area satwa dan isinya tentu saja bermacam ragam hewan. Banyak kerajinan sangkar burung dan perlengkapan memelihara hewan. Ada aneka burung, kucing, anjing, monyet, ayam, tupai, reptil, dan kelinci. Lalu saya berhenti sejenak di sebuah toko penuh dengan ular. Saya melihat ada kumpulan ular kurus berwarna hijau terang meliuk-liuk di akuarium kecil dari salah satu pajangannya. Saya iseng meminta ijin untuk mengeluarkan ular tersebut, alhasil saya membawa pulang Ular Pucuk untuk menjadi teman main seminggu. Seharga 30 ribu (saya tawar jadi 20 ribu), Mbak Maysun tidak takut, malah ikut excited karena dia juga penyayang binatang. Teman-teman geleng-geleng saya bermain dengan ular dengan bisa level medium itu. Lucu saja. Kurus, hijau terang, meliuk-liuk. Benar-benar jadi teman bermain saya beberapa hari saat brewok sibuk bekerja.

Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja
Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja

MAKANAN JOGJA? SIAP-SIAP PANIK.

Tidak pusing mencari makan di Jogja. Tidak perlu takut mahal. Sudah tidak asing terdengar bahwa makanan Jogja itu murah meriah dan enak-enak! Suatu malam Brewok mengajak saya ke salah satu cafe (sebenarnya lebih tepat disebut warung makan) yang kata doi termasuk mahal, tapi enak. Wow benar saja, enak-enak! Saya langsung ketagihan, makan disitu hampir tiap hari. Mahal? Tidak. Ikan lele/ayam/cumi/ nila yang goreng/bakar/saus tiram/saus mentega/saus padang/ dll bisa didapati seharga 7 ribu – 13 ribu. Nasi cuma 2 ribu. Minuman ya seperti dimana-mana di Jogja itu 2 ribu sampai 5 ribu. Yah sekali makan agaknya belasan ribu saja paling mahal. Berdua sekitar 20-an ribu saja setiap makan. Eits, belum saya sebutkan namanya, namanya Cafe AngSa (Angkringan Santo) letaknya persis belakang kampus ISI Fakultas Seni Rupa, Jl. Ali Maksun itu lagi. Sebuah warung makan sederhana, banyak mahasiswa /mahasiswi ISI yang selalu nongkrong disitu, buka dari siang sampai pukul 01.00 dini hari. Wajib coba dan hati-hati ketagihan. Ada kucing manja yang selalu mengeong minta makan.

Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!
Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!

Beberapa hari disini, makan di berbagai angkringan dan warung makan, ternyata sering menjumpai sambal bawang disini, pedasnya wow. Saya jarang menemui sambal ini di Medan. Rasanya cocok sekali dengan lidah saya yang suka pedas. Setelah perut kenyang, pulang ditiup-tiup angin malam Jogja yang dingin. Sambil sesekali menegadah ke atas, melihat jernihnya langit, bertabur bintang, saya bersyukur sekali masih ada kota yang nyaman seperti Jogja ini.

PANTAI PARANGTRITIS & SATE KLATHAK IMOGIRI.

Mas Brewok mengajak ke Pantai Parangtritis di suatu sore, perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit saja dari Sewon. Rutenya sangat simpel, hanya lurus dari Jalan Parangtritis ke arah selatan. Masih jalan kota, jalan besar. Melewati Pasar Seni Gabusan, central kerajinan kulit Manding. Memasuki area retribusi, saya pikir kami harus membayar tiket masuk, tapi… Brewok… dengan santainya nyosor masuk melewati pos pembelian tiket. Ups? “Nggak usah bayar kan, pasang saja tampang sangar, percaya diri, jalan lurus, dipikir warga sini toh.” Jjjiiiah Beb, jangan sering-sering yaaa, walau tiket juga mungkin murah saja, kita terkadang juga perlu berpartisipasi mensejahterakan tempat-tempat wisata seperti ini.

Well, saya sempat beberapa kali berujar kenapa tidak tampak tanda-tanda ada pantai, karena pandangan tertutup pohon-pohon, semak belukar dan gumuk pasir, gumuk pasir adalah gurun pasir yang terbentuk dari pasir pantai yang tertiup, jadi kamu bisa berfoto disana seolah di gurun pasir, juga bisa sand-boarding. Lalu suatu ketika, ada celah dimana saya melihat, horizon yang indah! Saya langsung excited. Kami cari tempat parkir dan bergegas menuju pantai. Ada ombak yang tinggi! Ini ombak tinggi yang pertama saya lihat. Beberapa foto dijepret dekat landmark tulisan Pantai Parangtritis.

Kami sadar harus mengisi perut di salah satu warung dekat pantai. Sedihnya, pemandangan sunset tidak sempat kami nikmati lama karena kami terlalu lama di warung makan. Tapi pemandangan sehabis itu masih tidak mengecewakan saya. Indah. Refleksi langit yang jatuh ke pasir yang basah menghipnotis saya.

Selamat datang di Pantai Parangtritis
Selamat datang di Pantai Parangtritis 

Pasir halus memanjakan telapak kaki, angin sepoi-sepoi memancing kami untuk mencicipi wedang ronde yang dijual di tepi pantai itu. Kalau siang hari ada jasa menunggangi kuda di pesisir, tapi karena sudah menjelang malam, mereka sudah pada bubar. Juga ada yang berjualan jajanan seafood seperti udang dan kerang, juga sudah pada pulang. Brewok pernah bilang ini pantai yang ‘biasa-biasa’ saja disana, wah bagi saya ini sudah cukup luar biasa, nggak sabar mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul yang katanya maut sekali indahnya. Langit sudah mulai gelap, pulangnya kami melewati Imogiri, kami singgah ke rumah kawan kami di daerah Sindet. Mas Apriyadi Kusbiantoro, seorang komikus yang sedang naik daun, bukan hanya di negara sendiri tapi di Eropa, dengan komik legendarisnya, Lemuria.

Sunset yang memanjakan mata
Sunset yang memanjakan mata

Selesai ngobrol, kami mulai merasa lapar dan berencana hunting makanan lagi di perjalanan pulang, masih di daerah Imogiri, papan reklame “Sate Klathak” bertebaran sepanjang jalan, disitu memang pusatnya. Karena sate klathak terkenal Pak Pong itu sedang ramai, kami singgah ke warung klathak yang lain. Dua tusuk dengan kuah gulai, satu nasi. Seporsinya 25 ribu. Sejujurnya saya kurang kenyang, hahaha. Ini sate klathak kedua setelah mencicipi klathak pertama kali di pinggir jalan saat bersama Mbak Maya sepulang dari Pasty kemarin, sekitar jalan Parangtritis juga.

Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)
Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)

GEMBIRA LOKA ZOO DAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA DI TAMAN KULINER CONDONGCATUR

Pagi ini kami mengembalikan ular pucukku ke penjualnya di pasar satwa, tadinya mau dilepas atau dihibahkan ke teman, tapi berhubung ular ini beracun medium, takutnya membahayakan masyarakat, juga belum menemukan teman yang berminat memeliharanya. Setelah itu kami ke kebun binatang Gembira Loka, buka dari pukul 08.30 sampai 15.30. Tiket satu orangnya Rp. 20 ribu. Dibekali satu lembar map dan peraturan-peraturan di dalam. Jadi, benar bahwa gosipnya bonbin ini besar dan lengkap. Dari orang utan, harimau, beruang, buaya, macan, ikan-ikan langka, burung unta, dan ada ruang interaksi bebas dengan macam-macam burung. Ada hewan pendatang baru yang digemari masyarakat, Jack si penguin afrika. Ada jadwal show untuk si Jack yakni pukul 09.30 – 13.00 setiap hari, feeding time harimau setiap hari minggu dan libur nasional pukul 12.00. Ada juga jadwal khusus untuk menunggangi kuda, gajah, dan banyak lagi. Ada sarana Bumper Boat, berkeliling menggunakan kapal kecil, perahu kayuh, kolam tangkap, terapi ikan, sepeda sewa dan sirkuit ATV. Juga ada fasilitas mengelilingi rute bonbin dengan Taring, transpor keliling. Kami cukup lelah berjalan dan menelusuri semua sudut bonbin. Syukur ada beberapa warung di ujung perjalanan. Menengak sesuatu yang segar sambil duduk beristirahat memandangi kolam.

Kebun Binatang Gembira Loka
Kebun Binatang Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Lihat di belakang saya ada apa? :D
Lihat di belakang saya ada apa? 😀

Tak lama kemudian kami capsus ke Taman Kuliner Condongcatur. Kebetulan event Festival Kesenian Yogyakarta sedang berlangsung. Di dalamnya kami dapati banyak sekali stand yang berjualan barang-barang kerajinan dan makanan. Di tengah-tengah ada lapangan yang di-instal panggung yang cukup megah. Sebenarnya kami kemari menantikan konser dari teman saya, nama beliau Maz Inung. Sebut saja gitaris Tiga Gunung Lima Lautan. Seorang bapak dengan multi talenta yang sudah mengukir banyak prestasi. Saya belum sempat bertemu dengan beliau selama di Jogja. Hari ini berharap bisa melihat penampilannya dan menyapa walau sebentar. Sempat mengantri lama membeli sebuah jajanan minuman berkemasan dot bayi, kami duduk sambil mengenyot dot, duduk lesehan di tengah lapangan yang sudah ramai. Menonton wayang orang atau ketoprak dalam bahasa jawa, saya salut dengan penampilan mereka yang maksimal sampai akhir. Tepuk tangan meriah dari penonton, menyambut acara selanjutnya.

Pertunjukan kesenian yang memukau hati
Pertunjukan kesenian yang memukau hati

MC memperkenalkan Maz Inung yang berkostum putih ala primitif Amerika, dengan kursi roda dia tidak pernah kehilangan pesonanya. Melantunkan tembang-tembang yang kritis dan penuh motivasi untuk masyarakat jogja, dengan iringan genderang dan dayang-dayang penari. Konser beliau sungguh memukau. Saya dan Brewok segera menyusul beliau setelah penampilannya. Hanya sempat mengobrol sebentar dan beliau segera pamit karena ada urusan lagi. Benar-benar sibuk sekali. Tak lama baru datang kawan kami yang telat hadir, Mas Rangga, seorang pujakesuma (putra jawa kelahiran Sumatra, Medan juga) yang berdomisili di Bantul. Bersama anak dan istrinya yang seorang berkebangsaan Belanda. Well acara sudah habis dan banyak toko yang sudah tutup, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kami mongobrol sambil berdiri, yang akhirnya Brewok olahraga menemani Kenji, anak mereka yang sekitar 3 tahunan, main kejar-kejaran di lapangan, 2 jam. Brewok senang dengan anak kecil. Akhirnya kami pulang dan beristirahat pukul 1 dini hari. Sebenarnya besok pagi-pagi kami akan berangkat ke Semarang…. well… we made a mistake. Or not. What a good night anyway. (to be continued)

Taman Kuliner Congcat
Taman Kuliner Congcat

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 2)

Teks dan Foto: Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

CIWALK, ITB, GEDUNG SATE, JALAN ASIA- AFRIKA.

Good Morning, Bandung! Saya sudah ada janji jalan-jalan pagi ini dengan teman. Saya dijemput di depan gang, dia seorang pria besar tegap dengan Honda CB100 tuanya (katanya sih udah dimodif jadi 125). Kami jalan-jalan di Cihampelas Walk dan sekitarnya. Saat berkeliling, akhirnya kami merindukan makan siang, pilihan jatuh pada restoran Jepang, Yoshinoya, di lantai 2 Ciwalk. Saat saya mencari tempat duduk, saya melihat seorang yang sedang merokok seorang diri di bangku outdoor. “Koh Zaidi!” hahahahaha suatu kebetuan sekali bertemu Zaidi sekali lagi. Saya dan beruang –sebut saja begitu- duduk semeja dengan Zaidi dan mengobrol. Dia memang berpetualang sendiri. Jalan kaki dari stasiun ke penginapan, dari penginapan ke Ciwalk ini. Selesai makan siang kami, kami hendak melanjutkan jalan, berpamitan dengan Zaidi, apakah bakal bertemu di mana lagi?

Berkeliling Cihampelas
Berkeliling Cihampelas

Beruang mengajak saya mengunjungi kampusnya, Institut Teknologi Bandung (ITB). Jajan susu murni dan jus di depan kampus dulu baru mengarungi isi ITB. Arsitekturnya bernuansa tua dan tradisional, kata Beruang, bukannya tradisional, tapi kuno. Struktur bangunannya masih menggunakan kayu-kayu besar, bukan tiang/besi/beton. Banyak pepohonan dan tanaman yang terawat nan bersih. Di tengah-tengah ITB ada dua buah kolam, satunya namanya Indonesia Raya yang ini sudah kering kolamnya, satunya lagi namanya Indonesia tenggelam. Lalu dia mengajak saya mendekati kolam tersebut dan menjelaskan. Pola mozaik dalam kolam Indonesia Raya itu menandakan notasi lagu Indonesia Raya. Sedangkan di kolam bulat yang airnya hijau keruh itu, ternyata di dalamnya ada peta Indonesia. Hahaha, boleh… boleh….

Foto 9
Institut Teknologi Bandung

 

Ini dia kolam ITB itu
Ini dia kolam ITB itu

Setelah itu kami singgah di depan Gedung Sate, di Gasibu, sebuah lapangan, dengan beberapa anak tangga membatasinya. Kami mengambil beberapa foto dan duduk-duduk, mengobrol tentang masa lalu (tjieehh). Cerahnya langit mulai memudar, saya diantar pulang.

Gasibu
Gasibu
Foto 13
Menikmati pemandangan kota

Wajahnya Mas Brewok dan Mama sudah kusut dan jelek, karena saya pergi seharian padahal kami berencana menikmati malam di Jalan Asia–Afrika. Jalanan ini dihiasi temaram lampu jalanan yang manis, banyak tempat untuk duduk menikmati malam di sana. Banyak bar dan toko lukisan. Banyak warga dan turis juga tampak bercengkrama dengan sahabat atau keluarganya, damainya tempat ini. Tapi karena saya sudah lelah dan mengantuk, agak hilang kesadaran sambil saya berjalan. Lalu kami pulang dan beristirahat.

foto 14
Malam di Jalan Asia Afrika

TANGKUBAN PERAHU & PEMANDIAN AIR PANAS CIATER.

Kami berangkat ke Tangkuban Parahu pukul 8 pagi naik mobil keluarga, sorenya akan ke Ciater atau Sari Ater suatu tempat rekreasi dan pemandian air panas. Perjalanan pagi yang cerah dan sejuk, kami singgah mencicipi bubur ayam (saya lupa nama jalannya) rasanya enak! Tiba di Tangkuban Parahu pukul 10, membayar biaya retribusi 18 ribu per kepala. Coba menyetir sedalam-dalamnya supaya tidak lelah berjalan kaki terlalu jauh. Semakin dalam dan kabut tebal mulai menyelimuti. Sampai di suatu tempat yang tampaknya cocok memarkirkan mobil, kami berhenti. Begitu membuka pintu mobil, angin berhembussss dinginnnn. Kami langsung foto-foto di tempat itu. Kemudian jalan menyusuri tepi kawah yang dipagari. Kawah berwarna putih dan bebatuan abu-abu dan putih pucat. Mas Brewok tiba-tiba bertanya, “Mana yang bentuknya perahu,” saya tidak tahu menjawab, diam saja, dan terus berjalan sampai ujung dan tidak lupa berfoto di setiap spot yang bagus.

Gunung Tangkuban Perahu, serba putih dimana-mana
Gunung Tangkuban Perahu, serba putih dimana-mana
Saya pose juga di Tangkuban Perahu. Hehehe
Saya pose juga di Tangkuban Perahu. Hehehe

Mama saya dan keluarga juga sibuk berfoto berbagai pose. Banyak penjual menjajakan dagangan sambil berjalan sedikit mengejar-ngejar tamu, seperti strawberry, raspberry, blueberry, gelang-gelang, gantungan kunci. Ada fitur naik kuda juga! Jika malas berjalan, tamu dan anak-anak bisa naik kuda mengelilingi area tersebut. Toko oleh-oleh juga berjejer, baju, sweater, topi, berbagai kerajinan tangan, dan ternyata, harganya cukup murah apalagi pintar menawar. Saya lebih banyak duduk dan menikmati pemandangan saja.

 

Bareng Bang Brewok berlatar Tangkuban Perahu
Bareng Bang Brewok berlatar Tangkuban Perahu

Perjalanan kembali kami memutuskan untuk berpencar. Saya dan Brewok hendak melihat-lihat toko dan berniat belanja. Banyak toko yang menjual baju, oleh-oleh, kerajinan tangan dan benda unik lainnya, syukur saya sudah melatih diri untuk tidak banyak belanja apalagi benda-benda yang kurang bermanfaat. Mengingat koper bisa saja overweight seperti saat berangkat dari Medan ke Jakarta kemarin. Saya kemudian memperhatikan seorang bapak yang tampak sedang ‘mengupas’ sebuah batang kayu, saya samperin dan mengobrol sedikit. Jadi yang sedang dia kerjakan adalah pohon batik, corak yang terbentuk di pohon tersebut mempunyai pattern yang unik layaknya batik. Indahnya alam ini sampai ke dalam-dalamnya.

Pohon bonsai yang saya ceritakan
Pohon batik

Brewok mengincar sebuah pedang samurai. Saya tanya apakah itu worthed to buy, mengingat susah bawanya, mahal dan apa manfaatnya. Harga pembukaaan yang ditawarkan si penjual adalah 500 ribu. Saya punya skill tawar-menawar yang cukup baik. Di dompet saya kebetulan sisa 350 ribuan. Pecahan uang kecil pula. Jadi saya sungguhan menunjukkan isi dompet saya pada mas penjual, sembari menawar dan mengeluarkan selembar demi selembar sambil menghitung, saya bilang bahwa saya hanya bisa bayar 325 ribu. Tidak ada uang lagi, tidak ada ATM dekat sini dan butuh banyak pertimbangan untuk membawanya ke Jogja. Mungkin Masnya kasihan pada saya lalu mengiyakan, deal 325 ribu. Sisa 25 ribu saya mau jajan saya bilang. Brewok berjalan dengan senyum sumringah menenteng samurai yang sudah dibungkus rapi tersebut.

Lalu saya cemas bagaimana jika saya menemukan benda lucu yang bisa dibeli, sedangkan dompet sudah kosong. Saya harus mencari Mama yang mungkin sudah balik ke mobil. Benar saja, di ujung deretan toko, saya menemukan sebuah toko yang menarik hati. Sebuah toko dengan bonsai-bonsai lucu ber-pot-kan bongkahan kayu yang artistik! Saya amati satu persatu, saya suka yang kecil-kecil. Namun saya bingung membawanya pulang nanti. Bawa ke jogja naik KA 8 jam lalu bawa pulang Medan naik pesawat. Apakah awet, tidak akan mati. Bapak penjual mengatakan itu tidak akan mudah mati. Di bawa dalam kardus saja. Disemprot air seminggu 2-3 kali saja cukup. Saya semakin tertarik. Untuk yang kecilnya di hargai 125 ribu. Yang berukuran sedang 250 ribu. Sepertinya benda ini jarang ditemukan (ber-pot-kan bongkahan kayu) Dan saya belum tawar. Segera saya menarik tangan Brewok dan berlari mencari Mama, sampai di mobil, mereka sedang mengunyah entah apa. “MAAAAHH, minta duit! Nanti saya ganti,” saya minta 300 ribu. Saya selipkan 200 ribu dalam kantung. Dan menyisakan 125 ribu dalam dompet. Segera lagi kami kembali ke toko tersebut.

Bonsai lucu yang jadi incaran saya
Bonsai lucu yang jadi incaran saya

“Pak… saya cuma dapat 100 ribu… uang saya sisa 125 ribu… tapi saya mau yang ini…” sambil menunjuk bonsai yang agak besar yang harganya 250 ribu. Saya mau potnya diganti, ternyata bisa. Saya mau bongkahan kayu yang lebih imut. Supaya tidak makan tempat dan tidak berat. Bapak itu mengiyakan permintaan saya, cara memelas saya berhasil lagi. Sungguh senang luar biasa. Perlahan-lahan bonsai dengan tanah yang berselimut lumut itu dipindahkan ke pot kayu yang lebih kecil. Lalu di-packing dalam kardus. Saya bayar dan pergi, dengan hati riang gembira. Seperti Brewok dengan samurainya. Saya beli rapsberry dan strawberry, dua kotak buah itu saya tawar dan dapat, 20 ribu. Kembali ke mobil, semuanya tidur pulas. Hahaha. Kami bergerak ke Ciater, sambil makan raspberry dan strawberry yang kata mama sepertinya itu sudah disiram pemanis buatan. Iya juga, terasa pahit di bibir. Tapi manisnya pemandangan dan cuaca tadi, ramahnya penjual-penjual, dan manisnya bonsaiku, terasa pas. Samurai tidak manis. Tidak perlu di-mention.

Sebelum memasuki Ciater (maaf saya tidak sempat mengambil banyak foto), kami sempat ‘nge-load’ perut sebentar di warung makan terdekat. Setelah ‘full-tank’ kami masuk, membayar loket seharga 25 ribu per orang kalau tidak salah, yang menurutku lumayan merogoh kocek, karena di dalam masih ada tempat-tempat yang berbayar. Area yang pertama kami dapati adalah Curug Jodo, alias air terjun jodoh, mitosnya… buat yang kelelahan mencari jodoh, bisa coba bermain di kolam tersebut.. Cieee… Curug Jodo ini bentuknya sebuah kolam kecil, jernih dan dangkal berdasar bebatuan, dengan air mancur yang tidak terlalu besar di salah satu sisinya. Kami bergegas melepas sandal dan melipat celana, wah airnya panas sekali! Mereka menikmati kolam tersebut sampai ke tengah, saya cuma duduk merendam kaki yang sesekali diangkat. Kulit saya mungkin sedikit lebih tipis dan sensitif. Berendam sedikit saja sudah merah-merah seperti matang. Lalu saya ganti celana pendek dan kaos siap basah. Saya dan Brewok duluan melanjutkan rute, kami menemukan pondok Fish Spa Teraphy, dan sebuah lapangan dengan fasilitas panahan. Wah kami penasaran sekali ingin mencoba. Pertama kami mencoba fish teraphy dulu, dihargai cukup mahal, 40 ribu seorang. Setelah diberikan keterangan oleh penjaga, saya dan Brewok perlahan mencelupkan kaki ke kolam bulat berisi ikan-ikan kecil. Pertama, airnya dingin! Kedua, geli sangat! Tak lama kemudian Mama dan keluarga ikut mencoba, kami berteriak kegelian. Begitu juga beberapa turis lain satu kolam. Kaki Brewok tentunya kotor sekali, ikan yang hinggap jauh lebih banyak dari kami. Kurang lebih 15 menit kami beranjak.

Mama dan lainnya jalan duluan, lagi-lagi berpencar. Saya dan brewok mencoba panahan seharga 25 ribu untuk 12 anak panah, 12 ribu untuk 6 anak panah. Kami mencoba 12 anak panah saja, ganti-gantian pakainya. Walau tempat dan bow-nya tidak dibuat terlalu profesional, tapi cukup menghibur rasa penasaran sayalah bagaimana rasanya melesatkan anak panah. Tidak ada arm bracer, pelindung lengan supaya tidak tercambuk oleh ekor panah. Saya lebih ahli mengenai target dibanding Brewok, padahal ini kali pertama saya memegang panah, dan saya malah kesulitan menarik bow-nya. Selesai 12 panah, kami keluar dari lapangan dengan lengan kiri merah-merah, sedikit sakit. Hilang dalam beberapa menit.

Main panahan. Mungkin kamu perlu latihan panahan dulu sebelum memanah hati adek itu. :D
Main panahan. Mungkin kamu perlu latihan panahan dulu sebelum memanah hati adek itu. 😀

Saya dapat whatsapp dari Mama bahwa mereka di kolam Wangsa Dipa. Kami turun lagi. Masuk ke kolam pemandian air panas itu dengan membayar lagi, 25 ribu lagi seorang. Di dalam ada sebuah toko menjual celana pendek, kaos renang, celana dalam dan lain-lain, jika kamu lupa membawa pakaian renang, bisa dibeli di situ. Disana hanya terdiri dari dua kolam berendam sekitar 6x6m, dengan kedalaman yang berbeda Airnya panass… mencapai 42 derajat, mereka mengeluh-eluh kepanasan. Mengeliat keluar masuk kolam karena tidak tahan lama-lama dengan panasnya. Maksimal lama berendam adalah 15 menit, lalu masuk lagi setelah beberapa saat. Total lama berendam seperti itu maksimal 2 jam. Karena saya saja memang merasakan lemas dan pusing setelah berendam kira-kira 10 menit setengah badan saja.

Nyobain fish therapy. Ayo tebak yang mana kaki saya... :p
Nyobain fish therapy. Ayo tebak yang mana kaki saya… :p

Mau tantangan? Setelah ‘direbus’ seperti itu, silakan coba bilas badan dengan air dingin yang terletak beberapa meter dari pinggir kolam. Rasakan sensasinya, berteriak sedikit tidak dilarang. Segar-segar gimana gitu, memang lelah di tubuh langsung hilang. Hahaha. Ada penjual es krim melintas di tepi kolam, dengan harga selangit. Saya makan es krim Spongebob jelek itu, harganya 15 ribu. Yasudahlah. Oh ya saya baca ada permainan Flying Fox, tapi keburu tutup, pukul 4 saat itu. Yasudahlah. Kami bergegas pulang. Di perjalanan pulang, saya dan Brewok setelah tertidur, tiba-tiba disuguhi es lilin, terkenal enak di daerah Lembang, Mama juga beli tahu. Dan begitu sampai di rumah, kami langsung tepar. (to be continued)

[embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=ySZGWp0AK1Q[/embedyt]

SEBULAN KELILING JAWA (PART 1)

 Teks dan Foto: Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

“Hampir sebulan, kemana aja sih kamu??”

Kemana-mananya sih biar saya ceritakan disini. Mungkin tidak detail-detail setiap tempatnya yah, kalau detail saya bisa sekalian bikin novel, hahaha… Well anggap ini sebagai tips dan info buat teman-teman yang ingin mengunjungi daerah-daerah tersebut. Yang kamu butuhkan adalah, waktu cuti (liburan) yang diatur sedemikian rupa, supaya panjang maksudnya, teman yang lincah bermotor, tempat numpang tidur, persediaan uang saku, satu lagi, energi. Mungkin foto tidak begitu lengkap, saya simpan penderitaan hilangnya kamera mirrorless, mengabadikan semua ini menggunakan kamera hape ‘agak smart’. Tapi saya mengambil video sebagai penggantinya 😀 Enjoy!

THE HECTIC JAKARTA, THE AWESOME GOJEK AND THE POPCON ASIA

Jadi awalnya saya terbang ke Jakarta karena saya dan teman-teman berpartisipasi dalam event Popcon Asia 2015 tanggal 7-9 Agustus 2015 lalu. Bertempat di JCC Senayan. Saya terbang dari Medan tanggal 5 pagi, sampai disana saya dijemput teman dan ‘diletakkan’ di rumah salah satu kenalan saya bertempat di daerah Tebet Timur. Sempat cemas dengan transportasi di Jakarta, karena yang sangat menakutkan di Jakarta adalah traffic dan jauhnya satu tempat ke tempat yang lain. Di tengah kecemasan itu, datang pertolongan-pertolongan tidak terduga. Disana saya bertemu dengan partner alias mas pacaaarr yang juga menumpang di situ. Sebut saja Mas Brewok – bukan nama asli-.

Jadi malam itu saya mencoba aplikasi GoJek karena saya ada janji mau bertemu seorang teman di Pondok Indah Mall, kata teman saya itu jarak dari Tebet Timur ke Pondok Indah Mall tidak jauh (dan ternyata dia salah). Dari pukul 5 sampai pukul 6 sore aplikasinya dodol sekali, mungkin bugs atau apa, tidak merespon saat submit orderan (yang sedang promo 10 ribu kemana saja dengan jarak max 25km) dan baru ter-order pukul 6 lewat, satu jam saya menunggu. Status masih ‘mencari driver’ homaigat saya janji dengan teman saya ini pukul 5 sebenarnya, untunglah dia mengerti keadaan saya dan juga berusaha menenangkan saya yang sudah mau menangis bertemu mumetnya Jakarta. Pukul 7 lewat ada suara motor di depan, ternyata ada GoJek yang menurunkan penumpang di sebelah rumah. Beliau menawarkan untuk dia antar saja, dan meng-cancel orderan yang saya tunggu-tunggu itu. Jadi… ini pertama kalinya saya naik ojek seumur hidup. Sepanjang jalan saya mengobrol dengan beliau. Sebut saja namanya Ami –sepertinya memang nama asli- seorang bapak-bapak berparas umur 40an, sedikit oriental. Saya akui saya cukup tersanjung dengan pemandangan malam itu. Mungkin baru pertama kalinya naik ojek dan berkeliling Jakarta.

 

Jakarta di malam hari. Selamat datang...
Jakarta di malam hari. Selamat datang…

 

Saya sempat bertanya juga ada apa dengan pelayanan GoJek di smartphone itu, “Ya gimana ya bu, Pondok Indah Mall itu kan jauh sekali, Bu, dengan bayaran 10 ribu, mereka ya kalau bisa memilih ya milih yang dekat-dekat saja. Tidak munafik kan, Bu…” “Oh tentu saja,” pikirku. Lagipula para ojekers ngojek kapan saja mereka mau, kebanyakan mereka punya pekerjaan lain, begitu kata Mas Ami. Mas Ami ini ngojek-nya sore sampai malah hari saja. Seharinya bisa dapat Rp.100-150 ribu dari Senin sampai Sabtu. Kalikan saja berapa buat nambahin pemasukan.

Ternyataaa… dari Tebet Timur Dalam ke Pondok Indah Mall itu jauuuuhhhh sekali, bisa bayangkan tidak, 1,5 jam loh, Guys, ongkos yang sudah di-deal-kan tadi di awal adalah, 45 rebu. Goddam*t. Murah ya? Disitu dia meminta saya untuk menyimpan nomor hp-nya supaya bisa dipanggil saat saya butuhkan. He’s nice person. Dan memang, dia sangat membantu saya di Jakarta.

Tiba di toko teman saya di mall tersebut sudah pukul 8.30, mall akan tutup pukul 10 malam. Teman saya mengajak dinner romantis (dia cewe kok hehehe) di Tratoria, restoran Italian. Saya ditraktir sebuah steak tenderloin yang tidak ada dalam buku menu, namanya “Filleto do Manzo”, fillet tenderloin sapi yang diberi saos keju gorgonzola dan madu, that’s sweet. Yang suka manis pasti demen. Tapi, harganya, sepertinya 200 ribu seporsinya. Makan berdua dengan minuman, 560 ribu. Okay, cool. Thanks, Sis atas traktirannya. Saya di antar pulang dengan mobil, berangkat pukul 11 malam sampai di rumah jam 1.30 dini hari. She’s a quite complicated person like me, serasa ketemu kakak sendiri, hahaha. Perfectionist dan rempong. Syukurnya saya lumayan lupa dengan gundah hari itu.

Next Day!

Teman kami dari Semarang yang turut membantu, Febri –pria, nama asli- tiba di Jakarta, dan kami sudah berpesan pada si ojek Ami, untuk menjemput Febri dari stasiun Senen ke JCC. Dia stand by dan tepat waktu. Ongkos? 35 ribu. Kami mulai prepare acara sore itu, berpapasan denga tibanya Febri yang baru saja menempuh perjalanan kereta api 6 jam. Pekerjaan selesai jam 10. Ngomong-ngomong akhirnya kami pindah tumpangan lagi malam itu ke Akademi Samali, daerah jalan Guru Mughni. Karena pemilik rumah di Tebet ada urusan mendadak keluar kota. Aksam adalah sebuah studio/forum/ perpustakaan komik Indie, semacam itulah, isinya alat gambar dan komik. Setelah meminta ijin pada pemiliknya yang ramah dan naik daun sebagai komikus dan kegemarannya pada kopi. Sebut saja namanya mas Beng Rahadian –kali ini sepertinya nama asli- jadi ‘Aksam’ ini sering jadi tempat tumpangan tidur tamu luar kota, tapi ala kadarnya saja, jika beramai-ramai, seperti kemarin itu, tidurnya geletakan bertaburan di lantai. Percayalah, itu mengasikkan sekali. Warteg depan Aksam juga nikmat sekali, itu warteg pertama saya.

Hilang kecemasan saya tentang semerawut kota Jakarta, transportasi ke JCC cukup sederhana dengan TransJakarta, Rp.3.500 per-orang. Asyiknya, kami terasa ramai dan kompak. Memang beramai-ramai. Ada teman baru dari Malaysia. Namanya Zaidi. Temannya Mas Beng yang sedang berlibur ke Jakarta, dan ikut dengan kami kemana saja. Saya, Mas Brewok, Febri, Zaidi, dan beberapa mahasiswa ISI Jogja yang juga buka stand di Popcon, kebetulan sama-sama menginap di Aksam.

Begini kami numpuk di satu  'markas'
Begini kami numpuk di satu ‘markas’
Nikmatin ibukota
Nikmatin ibukota

The Popcon Day

Wow… acara Popcon berlangsung fantastis dan ramai tepat di jalur stand kami. Artist Alley, di tengah-tengah, stand kami di buka sekatnya dengan stand Digidoy dari Medan, stand kami paling cantik dan luas! Pengunjung terus berdatangan, transaksi terus jalan. Sulit bersantai (mungkin saya saja, saya tidak bisa duduk diam kalau sedang ‘jualan’). Banyak master-master gambar mengunjungi kami. Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu teman-teman dunia maya yang sudah berlangsung selama 5-6 tahun ini.

 

The Day. Popcon Day. Stand kami rame.
The Day. Popcon Day. Stand kami rame.

 

Suasana rame di Popcon Day.
Suasana rame di Popcon Day.

 

Selama 3 hari acara berlangsung, tiba di Aksam sudah malam, makan warteg terus, beramai-ramai dan bertukar cerita horor, tidur geletakan (saya mengusai sofa dong, ngomong-ngomong lagi, saya cewe sendiri), penderitaan karena AC yang terlalu ‘sejuk’ (bahasa malaysia dingin : sejuk) dan mengakibatkan kami menderita ‘kesejukan’ hahaha. Banyak kata-kata Malaysia yang terasa janggal di telinga kami dari mulut Zaidi malah jadi bercandaan. Dia juga membaur dengan kegilaan dan kocaknya kami. Walau ada beberapa peristiwa mistik, tetap terasa hangat dan menyenangkan di sana. Sampai pada tanggal 10 Agustus, sehari setelah acara, semua bersiap-siap pulang. Saya dan Brewok meneruskan perjalanan ke Bandung dengan X-trans. Febri pulang ke Semarang naik KA, dan Zaidi ke Bandung naik KA. Over all, Jakarta tasted sweet this time.

 [embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=dXqumglMHOA[/embedyt]

BANDUNG, THE NEXT CITY!

Shoot! Terjebak macet karena kami berangkat pukul 2 siang dari Jakarta, tiba di Bandung pukul 7 malam. Harusnya kami ikut ide Zaidi untuk naik KA. Tapi barang bawaan kami sungguh banyak dan berat. Agak sulit menjangkau stasiun, sedangkan pool X-Trans dekat dari Aksam. Tiba di daerah Gatot Subroto Bandung, dijemput mama saya dan keluarga disana, mama kebetulan juga sedang liburan ke Bandung. Dan kami langsung mengisi perut dan tepar. Saya siap untuk Bandung! (to be contiunued)

Experience Mikie Holiday, Tak Sekedar Berakhir Pekan

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh / Photo by : Eka Dalanta @ekarehulin

Yang hijau-hijau dan udara sejuk sudah sangat sulit kita dapatkan di perkotaan. Tapi, untuk mendapatkan hal seperti itu tidaklah sulit. Berjarak 60 Km dari kota Medan dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kita bisa menemukan pepohonan hijau, merasakan udara yang sejuk dan bersih, serta wahana bermain yang seru.

Bagi sebagian warga kota kekinian seperti saya ini (ehem) mencari tempat bermain di akhir pekan rasanya menjadi kegiatan paling menyenangkan. Iya menyenangkan karena akhir pekan adalah saat dimana kita keluar dari rutinitas yang begitu penat. Sekalipun kita mencintai pekerjaan, tetap saja yang namanya bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya akan menimbulkan sedikit kebosanan. Solusinya adalah jalan-jalan. Jalan-jalan kemana? Kan di kota yang ada mall lagi mall lagi. Mau cari yang hijau-hijau aja sulit. Semua udah disulap gedung-gedung tinggi berudara dingin buatan.

Pemandangan dari puncak Mikie Funland.
Pemandangan dari puncak Mikie Funland.

Berlokasi di dataran tinggi tanah Karo, Mikie Holiday bukan sekedar resort. Lebih dari sekedar itu, tempat ini menawarkan keramaian juga ketenangan dalam suatu waktu. Saya dan teman-teman senang bisa diberi kesempatan untuk mengunjungi hotel, resort, dan taman bermain terbesar di Sumatera Utara ini.

Saya dan teman-teman benar-benar mengapresiasi keramahan dan sambutan dari Mikie Holiday. Mr.Desmond Rozario selaku General Manager dari Mikie Holiday menyapa kami dengan hangat. Rasanya senang sekali bisa terlibat percakapan hangat dengan beliau dan Pak Deliasa Zalukhu selaku Director of Sales. Memang, belakangan mereka merasa pengunjung sedikit khawatir untuk datang ke Berastagi karena debu dari erupsi Sinabung. Tapi, tenang saja. Mikie Holiday aman untuk didatangi. Jaraknya dengan Sinabung cukup jauh. Kira-kira 2 jam perjalanan.

Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.
Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.

Dibantu dengan seorang staff, kami diajak tour keliling Mikie Holiday Resort. Dari Pak Zalukhu, kami mengetahui bahwa Mikie Holiday memiliki lebih dari 100 kamar dimana terdapat beberapa kamar yang di design khusus seperti kamar ala Prancis, Thailand, Jepang, dan China. Masing-masing 1 unit dan interior dibuat menyerupai suasana kamar dari negara asalnya. Hayoo, kapan lagi bisa menginap di kamar ala Prancis?

Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. :D
Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. 😀
Rose Room.
Rose Room.
Deluxe room.
Deluxe room.

Selain itu, terdapat kolam renang bagi yang ingin berenang di cuaca dingin. Ketika saya bertanya kepada Pak Zalukhu mengapa air kolam renangnya tidak diganti dengan air hangat, beliau malah menjawab “Air panas kan sudah biasa, di Lau debuk-debuk juga ada. Sesekali berenang di air bersuhu normal di cuaca dingin kan biar beda.” Kami dan tim pun sedikit terkekeh.

SAMSUNG CSC
Oriental room
Toiletries
Toiletries

Setelah berkeliling dan melihat interior ruangan, kami diberi kesempatan untuk bermain di Mikie Funland. Lokasinya berada tepat disebelah resort. Untuk masuk kedalam Funland, kita memerlukan satu kartu yang bisa dibeli di counter penjualan. Kartu ini merupakan akses masuk dan kita dapat menikmati seluruh wahana dengan hanya membayar sekali didepan. Keren kan? Main deh sampai kenyang dan puyeng.

Ada beberapa wahana yang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Yaitu Tsunami. Bagi yang doyan muter-muter dan terombang-ambing, dipersilakan mencoba wahana ini. Dan beberapa wahana lain seperti Dino vs Dino, Volcano, Jelly Swing, Bon Voyage dan masih banyak lagi. Saya sih cukup mencoba Pterosaurus, Dino Tracker, dan sedikit berbasah-basah ria dengan The Falls.

SAMSUNG CSC
Basah-basahan di The Falls.
Diuntang-anting The Wave.
Diuntang-anting The Wave.
Naik Pterosaurus dulu ya.
Naik Pterosaurus dulu ya.

Beberapa hal yang membuat saya tidak bosan ke Mikie Funland adalah mereka memiliki banyak wahana yang jika dicobai dalam suatu waktu tidak mungkin keburu. Mengapa? Satu. Saya belum siap terombang-ambing. Kedua, nyali saya tidak cukup kuat untuk wahana mencekam tadi. Overall, Mikie Holiday Resort & Funland worth to go! Saran saya, sebaiknya pergi di hari sabtu. Menginap semalam di Mikie Holiday dan hari minggunya seseruan di Mikie Funland.

So, are you still have another reason not to go to this cool place? Informasi lebih lanjut monggo mampir disini

Tim hore-hore Mikie Holiday.
Tim hore-hore Mikie Holiday.

What to do

Jika kalian berencan untuk berlibur bersama keluarga dan menginap. Datanglah pada akhir pekan. Pilih Family room yang view-nya mengarah ke kolam renang. Juga jangan lewatkan bermain di Mikie Funland. Bagi yang bernyali tinggi disarankan untuk mencoba wahana ektrimnya seperti Dino vs Dino, T-Rex atau bisa jadi Tsunami.

What to bring

Topi dan kalau perlu sunblock. Pada siang hari matahari begitu terik. Sedia juga jas hujan atau payung karena sewaktu-waktu bisa hujan dan cuaca tidak bisa ditebak.