SERUNYA MENJELAJAH GOA KELELAWAR BUKIT LAWANG

Teks & Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.
Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.

Sebulan yang lalu tim kemanaaja.com mengunjungi Bukit Lawang, Sumatra Utara. Bukit Lawang merupakan gugusan bukit barisan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, Nagroe Aceh Darusalam. Selama di sana, selain bersantai tim kemanaaja.com juga berkesempatan melihat salah satu goa alami yang masih natural dan terjaga keberadaannya, yaitu goa kelelawar (Bat Cave).

Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. :D
Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. 😀
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.

Goa ini dinamakan Goa Kelelawar dikarenakan ribuan koloni kelelawar tinggal di dalamnya, bukan hanya itu, ada juga koloni kecil burung walet atau burung layang-layang yang menempati bagian ujung goa. Stalaktit runcing mengerucut dari langit-langit goa, menajam lancip seakan menusuk bumi. Dinding goa berasa bagai padang lumut hijau yang menurun vertikal menuju dasar goa. Lembab dan dingin. Bebatuan alami berumur ratusan tahun terpahat alami di dalam goa. Langit-langit indah dengan pemandangan ribuan kelelawar bergelantungan menikmati istirahat siang menunggu malam datang dan memulai perburuan sebagai hewan nocturnal.

Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.
Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.

 

Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.
Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.

Banyaknya kelelawar yang terdapat dalam goa ini menandakan bahwa tidak ada perburuan besar-besaran oleh masyarakat setempat. Seperti yang kita ketahui bahwa kelelawar merupakan salah satu hewan yang banyak diperjualbelikan selama ini. Kondisi ini berdampak langsung kepada fungsi dan peran kelelawar dalam ekosistem, yaitu sebagai perantara penyerbukan bunga dari banyak buah-buahan yang ada di hutan. Itulah sebabnya pepohonan buah yang ada di sekitaran Bukit Lawang dapat berbuah rutin, banyak dan enak, salah satunya adalah durian.

Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.
Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.

Untuk dapat mengakses goa kelelawar anda harus menuju Bukit Lawang terlebih dahulu. Dimulai dari Medan melalui terminal Pinang Baris, menaiki bus atau kendaraan mini bus yang banyak terdapat di sana. Perjalanan kurang lebih dua sampai tiga jam dari terminal Pinang Baris anda akan sampai di Bukit Lawang. Pada umumnya petugas penginapan tempat anda menginap pasti mengetahui keberadaan goa kelelawar, tanyalah mereka dan minta untuk menemani anda.

Psst... ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Psst… ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.

Ongkos Pinang Baris-Bukit Lawang Rp. 25.000/orang

Upah untuk pemandu Rp. 100.000/orang termasuk makan siang dan bersantai di Sungai Landak (berdasarkan pengalaman kemanaaja.com tahun 2015)

 Tarif pengingapan Rp 100.000-150.000/malam.

Juga terdapat penginapan dengan tarif di atas 150.000

Experience Mikie Holiday, Tak Sekedar Berakhir Pekan

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh / Photo by : Eka Dalanta @ekarehulin

Yang hijau-hijau dan udara sejuk sudah sangat sulit kita dapatkan di perkotaan. Tapi, untuk mendapatkan hal seperti itu tidaklah sulit. Berjarak 60 Km dari kota Medan dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kita bisa menemukan pepohonan hijau, merasakan udara yang sejuk dan bersih, serta wahana bermain yang seru.

Bagi sebagian warga kota kekinian seperti saya ini (ehem) mencari tempat bermain di akhir pekan rasanya menjadi kegiatan paling menyenangkan. Iya menyenangkan karena akhir pekan adalah saat dimana kita keluar dari rutinitas yang begitu penat. Sekalipun kita mencintai pekerjaan, tetap saja yang namanya bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya akan menimbulkan sedikit kebosanan. Solusinya adalah jalan-jalan. Jalan-jalan kemana? Kan di kota yang ada mall lagi mall lagi. Mau cari yang hijau-hijau aja sulit. Semua udah disulap gedung-gedung tinggi berudara dingin buatan.

Pemandangan dari puncak Mikie Funland.
Pemandangan dari puncak Mikie Funland.

Berlokasi di dataran tinggi tanah Karo, Mikie Holiday bukan sekedar resort. Lebih dari sekedar itu, tempat ini menawarkan keramaian juga ketenangan dalam suatu waktu. Saya dan teman-teman senang bisa diberi kesempatan untuk mengunjungi hotel, resort, dan taman bermain terbesar di Sumatera Utara ini.

Saya dan teman-teman benar-benar mengapresiasi keramahan dan sambutan dari Mikie Holiday. Mr.Desmond Rozario selaku General Manager dari Mikie Holiday menyapa kami dengan hangat. Rasanya senang sekali bisa terlibat percakapan hangat dengan beliau dan Pak Deliasa Zalukhu selaku Director of Sales. Memang, belakangan mereka merasa pengunjung sedikit khawatir untuk datang ke Berastagi karena debu dari erupsi Sinabung. Tapi, tenang saja. Mikie Holiday aman untuk didatangi. Jaraknya dengan Sinabung cukup jauh. Kira-kira 2 jam perjalanan.

Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.
Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.

Dibantu dengan seorang staff, kami diajak tour keliling Mikie Holiday Resort. Dari Pak Zalukhu, kami mengetahui bahwa Mikie Holiday memiliki lebih dari 100 kamar dimana terdapat beberapa kamar yang di design khusus seperti kamar ala Prancis, Thailand, Jepang, dan China. Masing-masing 1 unit dan interior dibuat menyerupai suasana kamar dari negara asalnya. Hayoo, kapan lagi bisa menginap di kamar ala Prancis?

Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. :D
Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. 😀
Rose Room.
Rose Room.
Deluxe room.
Deluxe room.

Selain itu, terdapat kolam renang bagi yang ingin berenang di cuaca dingin. Ketika saya bertanya kepada Pak Zalukhu mengapa air kolam renangnya tidak diganti dengan air hangat, beliau malah menjawab “Air panas kan sudah biasa, di Lau debuk-debuk juga ada. Sesekali berenang di air bersuhu normal di cuaca dingin kan biar beda.” Kami dan tim pun sedikit terkekeh.

SAMSUNG CSC
Oriental room
Toiletries
Toiletries

Setelah berkeliling dan melihat interior ruangan, kami diberi kesempatan untuk bermain di Mikie Funland. Lokasinya berada tepat disebelah resort. Untuk masuk kedalam Funland, kita memerlukan satu kartu yang bisa dibeli di counter penjualan. Kartu ini merupakan akses masuk dan kita dapat menikmati seluruh wahana dengan hanya membayar sekali didepan. Keren kan? Main deh sampai kenyang dan puyeng.

Ada beberapa wahana yang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Yaitu Tsunami. Bagi yang doyan muter-muter dan terombang-ambing, dipersilakan mencoba wahana ini. Dan beberapa wahana lain seperti Dino vs Dino, Volcano, Jelly Swing, Bon Voyage dan masih banyak lagi. Saya sih cukup mencoba Pterosaurus, Dino Tracker, dan sedikit berbasah-basah ria dengan The Falls.

SAMSUNG CSC
Basah-basahan di The Falls.
Diuntang-anting The Wave.
Diuntang-anting The Wave.
Naik Pterosaurus dulu ya.
Naik Pterosaurus dulu ya.

Beberapa hal yang membuat saya tidak bosan ke Mikie Funland adalah mereka memiliki banyak wahana yang jika dicobai dalam suatu waktu tidak mungkin keburu. Mengapa? Satu. Saya belum siap terombang-ambing. Kedua, nyali saya tidak cukup kuat untuk wahana mencekam tadi. Overall, Mikie Holiday Resort & Funland worth to go! Saran saya, sebaiknya pergi di hari sabtu. Menginap semalam di Mikie Holiday dan hari minggunya seseruan di Mikie Funland.

So, are you still have another reason not to go to this cool place? Informasi lebih lanjut monggo mampir disini

Tim hore-hore Mikie Holiday.
Tim hore-hore Mikie Holiday.

What to do

Jika kalian berencan untuk berlibur bersama keluarga dan menginap. Datanglah pada akhir pekan. Pilih Family room yang view-nya mengarah ke kolam renang. Juga jangan lewatkan bermain di Mikie Funland. Bagi yang bernyali tinggi disarankan untuk mencoba wahana ektrimnya seperti Dino vs Dino, T-Rex atau bisa jadi Tsunami.

What to bring

Topi dan kalau perlu sunblock. Pada siang hari matahari begitu terik. Sedia juga jas hujan atau payung karena sewaktu-waktu bisa hujan dan cuaca tidak bisa ditebak.

 

Takengon, ketika kopi dan alam berbicara

Teks & Foto oleh Sarah Muksin, @sarahmuksin

Bukan hanya sekedar Serambi Mekkah, bagi saya, tempat ini merupakan teras kopi dunia. Keindahan alamnya mungkin belum setenar kopinya. Tapi ketika kau tiba disana, mungkin lain cerita.

Di awal Mei kemarin, seorang teman datang dan mengatakan bahwa akan melihat panen raya kopi Arabika yang sedang berlangsung di Takengon, Aceh tengah. Tanpa ragu saya menjawab ya dan kebetulan sudah 2 tahun rasanya tidak pernah melakukan perjalanan darat yang cukup menguras energi. Kebetulan, saya sama sekali belum pernah memijakkan kaki ke provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu.

Dua hal yang saya pikirkan selama kurang lebih 12 jam perjalanan adalah Takengon itu dingin dan disana pasti banyak tanaman kopi. Biasanya sebelum bepergian ke suatu tempat, saya akan menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang berbagai hal yang menarik dari tempat yang akan saya datangi. Tapi kali ini saya tidak mendapatkan gambaran apapun. Saya pergi dan berpikir biarlah dataran tinggi Gayo memberikan kejutannya pada saya.

Menangkap pagi di Bukit Sama.
Menangkap pagi di Bukit Sama.

Dikenal sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi Arabika terbaik di dunia, Takengon ternyata menyimpan rahasia dibalik pohon-pohon kopi yang tumbuh subur dan melimpah. Melewati medan yang tidak mudah membuat saya hampir menyerah. Belokan, tanjakan, turunan semuanya cukup mengocok perut dan membuat kami semua mual. Dan ini berlangsung kurang lebih 1,5 jam perjalanan menuju Takengon. Tak lama, mobil yang kami tumpangi melewati jalan yang lurus. Perjalanan selama 12 jam seperti tiada akhir itu terbayarkan sudah. Matahari yang kami saksikan dari ketinggian Bukit Sama perlahan-lahan memuncak dan memperlihatkan kepada kami sesuatu yang sangat indah di bawah sana. Danau Laut Tawar. Berwarna keemasan dan bercahaya karena pantulan sinar matahari pagi. Udara dingin yang menusuk kulit pun perlahan mulai berubah menjadi hangat.

Act like a model!

Mencari penginapan di Takengon ternyata cukup rumit. Beberapa hotel atau penginapan mungkin tidak akan mengizinkan yang bukan muhrim untuk menempati kamar yang sama. Kami saja sempat bingung karena salah satu hotel menolak untuk ditempati karena tidak ada satupun dari kami yang terikat hubungan darah atau saudara. Perlu diingat bahwa mungkin Takengon tidak seketat kota-kota lainnya yang ada di Aceh, tetapi tetap saja, hukum syariah berlaku. Yang bukan muhrim, dilarang tidur satu kamar. Kami bergegas mencari penginapan lain yang memungkinkan untuk ditempati.

Segelas kopi sedang menunggu untuk diteguk. Segera, setelah selesai berberes, kami mencari sarapan dan bergegas mencari kebun kopi yang bisa disinggahi. Tujuan pertama telah ditetapkan. Kami akan berkunjung ke kebun kopi milik Pak Abdullah. Terletak di kecamatan Pegasing, Pak Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak petani kopi di tanah gayo. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi banyak hal tentang kopi dengan pria paruh baya ini. Mengenal kopi sejak lahir, Pak Abdullah bercerita tentang masa kecil yang dia habiskan di kebun kopi milik keluarganya. Hingga kini, beliau mengelola kebun kopi milik keluarga dan memiliki kedai kopi yang dia beri nama Kopi Tiam Wang Feng Sen.

Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.
Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.

Hal yang paling menggembirakan dari Takengon adalah, kau tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk secangkir kopi. Di kedai kopi milik Pak Abdullah ini, secangkir kopi hitam yang nikmat bisa dicicipi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain mencicipi kopi yang harum dan nikmat, kami diajak bermain ke kebun kopi milik teman Pak Abdullah, karena kebetulan kebun kopi beliau cukup jauh sekitar 1 jam perjalanan.

Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Cinta dalam segenggam kopi.
Cinta dalam segenggam kopi.

Melihat kebun kopi dan proses pengolahannya membuat kami bersemangat dan menambah wawasan. Bahwa selama ini untuk menjadi segelas kopi, biji-biji kopi tersebut melalui proses yang panjang dan tidak mudah mulai dari dipetik, dijemur hingga disangrai.

Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.

Selesai dengan urusan kebun kopi, kami berkesempatan mengelilingi beberapa kedai kopi yang mulai menjamur disetiap sisi kota Takengon. Saya tidak pernah mengira bahwa kota kecil ini dipenuhi dengan kedai kopi yang rasanya nikmat dan diproses dengan baik. Bagaimana tidak, pemilik kedai kopi adalah juga pemilik kebun kopi yang tahu bagaimana mengolah kopi dan menjadikannya minuman yang nikmat. Hampir setiap rumah yang kami lewati di kota ini menyangrai biji kopinya sendiri dan aroma kopi itu menyergap masuk ke hidung kami.

Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!

Takengon bukan hanya tentang kopi. Kota ini juga menyimpan peninggalan bersejarah dan cerita budaya. Salah satunya ketika kami mengunjungi Gua Putri Pukes. Cerita yang berkembang di masyarakat setempat bahwa ada seorang putri yang berubah menjadi batu didalam gua tersebut.

Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.

Tak lupa, kami juga mengunjungi Ceruk Mandale. Lokasi tempat ditemukannya kerangka manusia yang diperkirakan berusia 8400 tahun. Lokasinya yang tidak mudah ditemukan membuat kami harus bertanya kepada warga lokal. Medannya juga cukup sulit karena termasuk jalan baru dan jarang dilalui oleh warga sekitar, sehingga masih sepi.

Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.

Pada tahun 2010 lalu para peneliti dan arkeolog menemukan kerangka manusia purba ini. Penelitian masih berjalan hingga sekarang.

Berkat seorang teman, kami dibawa untuk mencicipi sajian khas Aceh Tengah yang katanya hanya disajikan pada acara tertentu saja semisal pesta perkawinan. Kebetulan, ada satu resto yang menyajikan makanan ini. Namanya Asam Jing. Asam Jing sendiri mirip dengan masakan padang, Asam Padeh. Ada juga Cecah Terong Belanda. Agak aneh sebenarnya karena baru pertama kali mencicipi Terong Belanda yang tidak di jus tetapi dijadikan sambel. Ya, makannya pun harus dengan daun labu yang direbus. Rasanya? Surprisingly, enak banget.

Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!
Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!

Takengon membuat kami jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Bukan hanya pada kopi, tetapi pada keindahan alam serta keramahan orang-orangnya. Omong-omong, orang Gayo itu cantik-cantik dan tampan-tampan loh.. he.. he.. he..

How to get there

Ada baiknya kalau memang merencanakan perjalanan darat, berangkatlah pada malam hari. Selain menghindari macet, perjalanan malam lebih sejuk dan tidak membuang-buang waktu. Apabila terlalu melelahkan, ada pesawat perintis yang berangkat 3 kali seminggu dari Medan.

What to do

Minum kopi. Main ke kebun kopi. Datanglah pada saat panen raya, ketika semua orang sibuk dengan biji kopinya. Oleh-oleh terbaik dari Takengon itu adalah kopinya. Kopi Gayo. Danau Lut Tawat juga tidak boleh dilewatkan. Pemandangan paling menakjubkan bisa didapatkan dari Puncak Pantan Terong, sekitar 20 menit dari kota.

Nepal dan “Ziarah Kehidupan”

Foto oleh Vitalia Vito & Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

*Foto-foto ini juga dimuat di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015 @duniamelancong

Nepal adalah negeri pendoa, negeri dimana banyak orang datang untuk mencari Tuhan, mencari kedamaian, mencari ketenangan, mencari “Dia” yang lebih besar dari manusia, “Dia” kekuatan di luar manusia yang melampaui segala sesuatu. Perjalanan ke Nepal, bagi banyak orang adalah ziarah kehidupan.

Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di   Kathmandu (FOTO 1)
Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di Kathmandu
Pashmina khas dari bulu yak
Pashmina khas dari bulu yak
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Stupa Budha
Stupa Budha
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja    ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya

Foto-foto ini diambil oleh teman saya Vitalia Vito, dua bulan sebelum gempa bumi belum mengguncang Nepal pada 25 April 2015. Vita, seperti juga banyak wisatawan dan para peziarah kehidupan lainnya, punya rasa ketertarikan khusus untuk mengunjungi Nepal. Vita yang juga sangat tertarik dengan kebudayaan Hindu yang unik, melihat Nepal begitu Eksotik. Berada di perbatasan India dan Cina membuatnya semakin menarik. Apalagi . Di Nepal, ia melihat banyak, realitas dan juga orang-orang yang ingin bertemu Tuhan. “Sewaktu tiba di sana, aku merasa I belong to there,” kata Vita yang bercerita sambil makan roti cane karena mengaku kangen Nepal dan ingin kembali lagi kelak.

Ah Nepal memang si seksi namun punya banyak cerita sejarah, sekaligus misteri dan intrik yang masih tak kunjung selesai. Seperti gadis cantik seksi yang bapaknya galak. Hehehe Dan gempa bumi yang baru-baru ini terjadi, membuatnya semakin sulit untuk diakses. Semoga Negeri Para Peziarah Kehidupan ini lekas membaik. Dan semoga kesempatan menjejak kaki ke sana semakin dekat. 😀

 Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat

Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi     pembakaran mayat dan upacara berkabung
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi pembakaran mayat dan upacara berkabung
 Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana

Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak    kuil Hindu dan Buddha di sini
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak kuil Hindu dan Buddha di sini

 

Apa Kata Mereka Tentang Medan?

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Medan itu ramah, nggak kasar kayak yang dibilang orang-orang!

Sabtu, 08 November lalu, kemanaja diundang oleh The City Hall Club untuk menghadiri event mereka, “Fundrising For Kids With Cancer, Evening Gala Jazz & Fine Arts.” Acara yang disertai dengan makan malam bersama ini diadakan di Gedung The City Hall Club, di Jalan Balai Kota No. 1 Medan.

Acaranya benar-benar santai karena ada pertunjukan musik jazz yang musiknya bikin acara itu nyaman banget. Erucakra dari Waspada E Music adalah musisi jazz yang performa malam itu. Nah, karena acara ini tujuannya untuk penggalangan dana buat anak-anak yang berpenyakit kanker, ada juga pameran foto dari Asosiasi Fotografer Sumatera Utara (AFSU) dan pameran busana dari dua desainer pakaian tradisi, Torang Sitorus dan Erdan. Semua hasil pameran dan donasi dari kegiatan ini akan disalurkan untuk anak-anak berpenyakit kanker melalui Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM).

Pameran busana bagian dari charity.
Pameran busana bagian dari charity.

Tamu dan undangan yang hadir ada dari berbagai lembaga, komunitas, dan instansi. Kemanaaja menanyakan pendapat beberapa tamu dan undangan acara ini tentang kota Medan. Apa pendapat mereka? Check this out!

Justing Heng

Justing Heng, General Manager The City Hall Club
Justing Heng, General Manager The City Hall Club

Saya sudah dua tahun mengenal Medan dan saya sangat menikmati makanannya yang luar biasa dan teman-teman yang ramah dan menyenangkan. Medan punya street food yang luar biasa, kamu bisa makan sate, kamu bisa makan lontong, dan sangat banyak outdoor activity yang bisa dilakukan di Medan. Kamu bisa ke Bukit Lawang yang tak terlalu jauh dari Medan, melihat Orang Utan. Kamu bisa ke Danau Toba dan melihat pulaunya yang cantik, bisa berenang juga di danaunya. Hehehe

Actually, saya sangat enjoy Medan. Kalau saya perlu aktivitas, perlu kegiatan outdoor, saya hanya perlu short drive. Kalau sedang tidak bisa keluar kota, saya juga menikmati kotanya. Lagipula orang-orangnya sangat ramah ya. Saya ke Sun Plaza, Centre Point, saya ketemu dengan orang, say hi, melakukan percakapan, saya bahagia dengan itu. Beda sekali dengan negara asal saya, Singapore itu sangat kota besar, saya bilang Singapore itu adalah hutan belantara, tapi jungle without tree. Hehehe. Di negara asal saya banyak yang harus dilakukan dengan waktu yang tergesa-gesa.

Dameria Hutabarat

Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.
Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.

Paling rekomendasi buat tamu yang datang ke kota Medan itu adalah heritage-nya. Juga kalau datang ke sebuah kota, termasuk Medan, cek event-event yang ada di Medan. Karena itu orang Medan juga harus kreatif bikin event. Plus diperlukan satu media yang bisa menginfokan keseluruhan event tersebut.

Yang paling disukai dari Medan? Convenient! Kemana-mana cuma 15 menit, makanannya enak, hidupnya itu lebih santai, kalau di kota lain dalam sehari cuma bisa bikin janji cuma di satu atau dua tempat, nah di Medan bisa lebih dari 3.

Erucakra

Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara
Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara

Event di Medan? Medan itu kan sudah kota internasional. Artinya akses ke luar negeri itu udah cepat. Harusnya event-event yang dibuat juga bisa menarik para wisatawan. Apalagi Singapura dan Malaysia sangat dekat dengan kita. Undang mereka untuk datang. Medan juga harus buat event yang original, buatan sendiri. Nggak usah ngikut-ngikut Jakarata. Kita serba dekat dengan negara lain, jadi kita lebih potensial. Gampang kok Medan ini disorot sama musisi internasional. Yang penting bagaimana idenya.

Yang paling menarik di Medan, kulinernya. Ada teman saya dari luar kota yang tau banget kuliner nasi padang paling enak di Medan. Lebih tahu dari saya. He-he-he… Ternyata orang dari luar sangat menikmati dan mencari. Tapi kita juga harus melihat lebih jeli mana yang mau kita jual jadi produk pariwisata. Baju-baju kain tenun tradisi misalnya. Itu kan asset pariwisata. Saya baca juga Labuhan dan Belawan itu adalah aset kota tua. Ini kan sangat luar biasa. PR yang harus kita kerjakan.

Rizanul Arifin

Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)
Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)

Kalau ada teman yang datang ke Medan, yang paling saya rekomendasi adalah Makan. Setelah itu, makan lagi. Ha-ha-ha… Di Medan apa aja enak. Mereka bolehlah ke Tanah Karo, ke Sinabung bagus kalau sedang tidak erupsi, terus ke Merek ada pemandangan bagus, Tongging, dan lebih cepat sampe ke Danau Toba. Ada beberapa tempat luar biasa untuk rafting, Sungai Buaya, Sei Bah Bolon, Sei Binge atau yang lainnya. Semuanya aman untuk mengajak keluarga. Kalau mau pulau ada Pulau Berhala misalnya.

Tinggal di kota Medan, sekarang kurang nyaman karena jalanan yang macet. Turis akan susah dengan cara kita berkendara, sebenarnya ini memalukan. Lampu merah dihajar, lampu hijau orang hati-hati. Sudah terbalik. Harus diubahlah kebiasaan ini, kalau nggak nanti jadi rubah.

Paling disukai, saya bisa berangkat kerja siang, jaraknya semuanya dekat. Cuma akses hiburan keluarga dalam kota tak ada, dulu ada Taman Ria sekarang nggak ada apa-apa. Mall itu tidak mendidik dan buat turis juga tidak terlalu menarik. Aku kepengen di Medan ada kayak taman ria dan taman yang nyaman untuk keluarga.

dr. Daniel Irawan

dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.
dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.

Medan itu untuk pariwisata banyak kuliner yang bisa dicoba. Untuk sight seeing, ada Danau Toba. Medan juga akses yang mudah untuk ke Sabang, Aceh. Yang paling harus dicoba adalah duriannya karena durian Medan itu beda. Heritage-nya juga, masih banyak bangunan heritage. Kayak Penang ini bisa jadi keunggulan kota Medan.

Tinggal di Medan, saya suka dengan orang-orangnya yang ramah, kalau ada yang bilang orang Medan itu kasar, kayak yang selama ini kita dengar di luaran, itu nggak benar. Tapi kalau lalu lintasnya masih bermasalah. Turis biasanya ngeluh soal ini.

Silahkan Jatuh Hati dengan Air Terjun Teroh Teroh

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Herry Dido Purba @HeryDido

Satu Destinasi dengan Banyak Keindahan

PELARUGA, pernah dengar? Objek wisata satu ini memang sedang digandrungi di Sumatera Utara. Selain letaknya yang nggak jauh dari kota Medan, bisa ditempuh dengan sekitar 1 jam, lokasi ini juga terkenal dengan kejernihan dan kesegaran air sungainya. Kolam Abadi, Air Terjun Tongkat, Teroh Teroh, semuanya dalam satu paket aliran sungai. Meskipun, paket wisatanya tentu aja berbeda. Soalnya aliran airnya panjang dan sering kali rasanya sudah cukup puas berhahahihi berseru-seruan di satu destinasinya.

Bermain bersama arus.
Bermain bersama arus.

Nah untuk mencapai lokasi wisata satu ini, dari Medan perjalanan dilanjutkan ke Binjai, kemudian ke Namu Ukur Pekan sampai tiba di Desa Rumah Galuh, singkatan dari Pelaruga. Kalau sudah tiba di Desa Rumah Galuh, dari Polres Sei Binge sekitar 400 meter kamu akan ketemu dengan Simpang Tiga, pilihlah sebelah kiri. Sekitar 12 kilometer kamu akan menemukan pamphlet Pelaruga. Nah itulah tempatnya.

Here we are....
Here we are….

Air Terjun Teroh Teroh atau Teruh Teruh atau Sampuren Teruh Teruh sering juga disebutkan orang dengan Tero Tero sebenarnya berasal dari Bahasa Karo, bahasa masyarakat mayoritas yang berdomisili di Desa Rumah Galuh. Teruh artinya bawah. Sedangkan Sampuren artinya air terjun.

The team. Nih dia teman-teman yang sudah menikmati perjalanan di Teroh Teroh. Liat dong muka mereka, bahagiaaa....
The team. Nih dia teman-teman yang sudah menikmati perjalanan di Teroh Teroh. Liat dong muka mereka, bahagiaaa….

Starting point sebelum mulai trekking
Starting point sebelum mulai trekking

Untuk menikmati keindahan air terjun cantik dengan air bening ini, pengunjung memang harus trekking selama sekitar 30 menit. Jadi, sangat disarankan untuk menggunakan perlengkapan trekking untuk memudahkan perjalanan. Akan ada perjalanan naik turun bukit, melewati tangga tanah, jalan licin bila hujan, melihat tanah berlumut, aneka tumbuhan tropis hutan dan track-nya sama kok dengan menuju Kolam Abadi. Ibaratnya sekali tepuk bisa mencapai dua destinasi. Habis satu tempat bisa ke tempat lainnya. Ikuti aja aliran sungainya, habis dari Kolam Abadi kamu bisa lanjut ke Air Terjun Teroh Teroh dengan menyusur sungai.

Bahagia itu saat bisa menikmati alam kayak gini...
Bahagia itu saat bisa menikmati alam kayak gini…
Here we are....
Here we are….

Fuih… pokoknya dijamin puas bermain dengan air segar, bersih, bening, dan adem… tambahan lagi view tebing tidak terlalu luas di sisi kiri dan kanananya bikin pemandangan makin asyik. Luar biasa cantiknya. Udara seger dari pepohonan hijau yang masih banyak di pinggiran sungai bikin paru-paru makin bahagia. Mata juga dimanjakan dengan kesegaran hijau dedaunan. Aduh… gimana nggak jatuh hati ‘kan? Berenang-renang, semacam body rafting di air sebening itu adalah kemewahan di tempat wisata yang relatif masih baru ini.

Menikmati air sepanjang jalan
Menikmati air sepanjang jalan

Mau liburan kesana? Kamu bisa hubungi kemanaaja.com. *klik kontak kita ya kakak. 😀

Swim... swim... swim...
Swim… swim… swim…

Aliran air di Pelaruga yang berada di tebing tak terlalu lebar
Aliran air di Pelaruga yang berada di tebing tak terlalu lebar

THE IMPORTANT THINGS!

  • Retribusi masuk Rp. 40.000 per orang, sudah dilengkapi dengan fasilitas lifejacket dan guide.
  • Hati-hati dengan gadget kamu, jangan lupa membawa dry bag atau sekalian deh minimalisir membawa gadget kecuali yang perlu saja.
  • Hey, kelestarian tempat ini ditentukan sama kita semua yang berlibur ke sana. Jaga kebersihannya dong, jangan buang puntung rokok, botol minuman atau sampah lainnya dengan sembarangan.
  • Di lokasi wisata ini, memang ada penjual minuman botolan di beberapa titik di pinggir sungai, tapi jangan khawatir, selama pengunjung beretiket dan sadar kebersihan, air yang dikeluarkan tebing-tebing sekitarannya bisa diminum langsung kok.

 

THE CONTRIBUTOR

Hery

Hery Dido Purba

Kontributor kali ini adalah Hery Dido Purba, fotografer yang berdomisili di Kabanjahe dan sehari-hari bekerja di kantor pemerintahan. Hobi motretnya sekarang sudah pekerjaan di akhir pekan, memotret pre wedding atau wedding. Kabarnya sih paling tersohor sekarang di Kabanjahe. Hehehe… :p

15 Reasons Why You Should Go To Tangkahan!!

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

In the beauty of nature lies the spirit of hope. ~Un Known

_IMG_0515

Dalam keindahan alam hutan tropis ada jutaan kehidupan termasuk semangat dan gairah baru yang lahir sehabis menikmati liburan di sana. Tangkahan, sebuah destinasi wisata menarik yang berada di Sumatera Utara adalah salah satu keindahan alam hutan tropis yang luar biasa. Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat, dearah ekowisata ini adalah daerah ekowisata yang unik. Dikelola oleh masyarakat yang dulunya perambah hutan menjadi masyarakat yang sekarang aktif terlibat dalam pelestarian lingkungan dan menjaga daerah ekowisata Tangkahan. So, why you should go to Tangkahan?

Jembatan gantung yang menghubungkan kita ke guest house yang tenang
Jembatan gantung yang menghubungkan kita ke guest house yang tenang
Elephants Troop
Elephants Troop

1. Ecotourism

_IMG_0445
Sinar matahari yang menembus dedaunan…

Iya… berwisata di tempat ini kita bisa menikmati sebuah perjalanan tanpa was-was pada kerusakan fatal terhadap lingkungan. Masyarakat pengelolanya sudah memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Beberapa kali ke tempat ini, kami menyaksikan sendiri masyarakat yang bertugas bergantian mengumpulkan sampah-sampah yang di sekitaran sungai. Bentuk-bentuk perambahan hutan juga sudah sangat dihindarkan.

Living in the moment...
Living in the moment…
The sneaking river
The sneaking river

2. Clean Water

Di kelilingi oleh hutan tropis dengan aneka tetumbuhan membuat serapan air di sekitar hutan ini menjadi baik. Aliran air sungai yang jernih dan sejuk akan sangat memanjakan dan menggoda untuk bermain air. Berenang-renang sambil menikmati suara alam adalah sebuah kemewahan ketenangan jiwa. Air terjun-air terjun kecil yang ada di beberapa titik membuat tempat ini semakin menarik.

Air terjun yang mengalir cantik di dalam hutan
Air terjun yang mengalir cantik di dalam hutan

 

3. Natural Forest

Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ditambah dengan kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga lingkungan membuat hutan yang ada di kawasan ini terjaga dengan baik. Tipikal hutan tropis yang masih terjaga baik bisa kita temukan di sini.

_IMG_0461
Ranting pepohonan hijau
Selara-selara dan tanah lembab yang nyaman bagi aneka hewan tropis
Selara-selara dan tanah lembab yang nyaman bagi aneka hewan tropis

 

Semua yang dari alam kembali kepada alam
Semua yang dari alam kembali kepada alam

 

4. Fresh Air

Di tempat ini bebaskan paru-paru menghirup udara yang segar dan bersih. Udara yang dingin masuk melalui hidung bisa kita rasakan di pagi hari. Pokoknya segar sekali….

Langit yang biru, pepohonan hijau, dan udara segar
Langit yang biru, pepohonan hijau, dan udara segar
Dimana-mana hijau... hijau yang cantik dan teduh
Dimana-mana hijau… hijau yang cantik dan teduh

 

5. Jungle Trekking

Berjalan menyusuri hutan tropis menjadi paket wisata yang ditawarkan oleh para local tourist guide di tempat ini. Tidak akan rugi karena dengan budget sekitar Rp. 250.000 (harga yang berlaku untuk turis lokal) kita sudah mendapatkan paket ikutan dalam kegiatan memandikan gajah di pagi hari, trekking ke dalam hutan selama dua jam, menikmati pemandangan cantik di sungai kupu-kupu, makan siang ala-ala jungle, tubbing dan bermain air di Air Terjun Gelugur. Semuanya sudah dalam satu paket. Untuk bisa menikmati semua paket tersebut, sebaiknya kegiatan dimulaikan dari pagi hari.

Hutan yang 'gemuk'
Hutan yang ‘gemuk’
Bumi, air, semesta, dan kita...
Bumi, air, semesta, dan kita…

6. Keramahan Guide dan Masyarakat Lokalnya

Saya sangat nyaman dengan pemandu wisata di tempat ini yang sangat ramah dan menghormati tiap wisatawan yang datang. Bahkan masyarakat lokalnya juga ramah dan tak pelit memberikan senyum. Keramahan yang sungguh memberikan kenyamanan. Tidak di semua tempat wisata saya menemukan keramahan seperti ini. Tutur bahasa mereka juga lembut dan no tipu-tipu… He-he-he…

Saya, Andi, Vindya, dan dua pemandu lokal (Mapin dan Jempol) sehabis tubbing dan menikmati buah-buahan dari perkampungan yang kami lewati dalam perjalanan kembali ke penginapan... Oh iya yang motoin ini Kak Windy... :D
Saya, Andi, Vindya, dan dua pemandu lokal (Mapin dan Jempol) sehabis tubbing dan menikmati buah-buahan dari perkampungan yang kami lewati dalam perjalanan kembali ke penginapan… Oh iya yang motoin ini Kak Windy… 😀

 

7. Jauh dari Berisik

Siapa bilang di tempat cantik seperti ini tidak boleh hanya ingin bermalas-malasan dan duduk santai? Tapi sebaiknya itu dilakukan kalau kamu sudah pernah menyusuri keindahan hutannya dan melakukan berbagai aktivitas menarik lainnya di tempat ini. Sayang dong kalau sudah ke Tangkahan tapi cuma untuk tidur saja. He-he-he….

The sounds of nature...
The sounds of nature…

Nah, untuk beristirahat dan bersantai serta jauh dari keberisikan, tempat ini sangat nyaman. Jauh ke dalam perkampungan di pinggir hutan dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam dari kota Medan, dengan jalanan yang juga tidak terlalu mulus untuk di akses, ketenangan setelah tiba rasanya sangat membayar lunas perjalanan.

 

8. Tidak Mahal

Mega Inn, tempat kami menginap
Mega Inn, tempat kami menginap

Liburan ke tempat ini cenderung tidak mahal. Coba saya paparkan biaya yang kira-kira akan dikeluarkan bila berlibur ke tempat ini. Bila menumpang kendaraan umum Pembangunan Semesta yang dimulai dari Pinang Baris atau Kampung Lalang, ongkos yang dikeluarkan untuk per-orangnya Rp. 25.000. Setibanya di Tangkahan, akan dikenakan biaya Rp. 5000 untuk perawatan jembatan gantung. Biaya penginapan per harinya Rp. 80.000-Rp. 100.000 yang bisa di-sharing berdua. Untuk biaya makan, pintar-pintarlah mengatur sehemat mungkin, kan udah besar. He-he-he… Tarolah budget sekali makan Rp. 40.000. Untuk turis lokal, memandikan gajah, trekking dua jam ke dalam hutan, singgah di Sungai Kupu-kupu, makan siang, menikmati Hot Spring di sungai, melihat air terjun kecil, tubbing, dan singgah ke Air Terjun Gelugur biaya per orangnya sekitar Rp. 250.000. Jadi bila menginap di Tangkahan untuk 3 hari 2 malam, budget per orangnya sekitar Rp. 500.000. Worth it banget dong dengan semua fasilitas dan aktivitas yang udah didapat…

9. Aneka Tumbuhan dan Hewan Tropis yang Unik

Trekking-lah ke  dalam hutan dan silahkan takjub dengan berbagai hewan dan aneka tumbuhan serta buah-buahan unik di dalam hutan. Kekayaan alam yang pasti juga sangat memperkaya jiwa.

Kera ekor panjang yang melompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lain
Kera ekor panjang yang melompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lain
Bunga cantik yang menarik perhatian
Bunga cantik yang menarik perhatian
Buah rambe, sebangsa buah duku dan langsat.
Buah rambe, sebangsa buah duku dan langsat.

 

Pakis-pakisan (mungkin)
Pakis-pakisan (mungkin)

 

This is beautiful? Indeed!
This is beautiful? Indeed!
Jamur di batang pohon
Jamur di batang pohon

 

Buah-buahan hutan, rasanya pahit sepat dengan sedikit rasa asam.
Buah-buahan hutan, rasanya pahit sepat dengan sedikit rasa asam.

 

10. Elephant Washing

Selain hutannya yang kaya, gajah adalah daya tarik terbesar dari Tangkahan. Konservasi gajah yang dilakukan di tempat ini membuat namanya tersohor. Seperti kita ketahui, gajah adalah satwa langka yang dilindungi. Di Tangkahan, paket memandikan gajah adalah paket wisata yang paling digandrungi. Tak pernah sepi dan selalu ramai oleh puluhan wisatawan asing dan lokal (terutama asing). Jadwal memandikan gajah selalu di pagi dan sore hari. Di pagi hari sekitar jam 9 dan sore hari sekitar jam 3. Tanyakanlah informasinya kepada guide untuk memastikan jadwalnya. Harga untuk turis lokal dan asing berbeda lho. Rp. 50.000 untuk turis lokal dan Rp. 100.000 untuk turis asing. Harganya ini sudah ditetapkan menjadi harga paket wisata yang tidak bisa dimain-mainkan oleh para pemandu wisata di tempat ini.

Elephant washing...
Elephant washing…

 

Perkenalkan... Inilah eek gajah. Ehehehe
Perkenalkan… Inilah eek gajah. Ehehehe

 

Habis mandiin gajah, giliran  wisatawan yang dimandiin gajah. Seru....
Habis mandiin gajah, giliran wisatawan yang dimandiin gajah. Seru….

Kissing with elephant
Kissing with elephant

11. Elephant Trekking

Selain aktivitas memandikan gajah, kamu bisa juga trekking dengan gajah ke dalam hutan. Di tempat ini gajah diajak dan digunakan sebagai tim patroli hutan Tangkahan. Jadi sembari berjalan-jalan bersama gajah kamu bisa menikmati hutan hujan Tangkahan. Harga paket ini sekitar Rp. 650.000 untuk turis asing dan Rp. 550.000-Rp. 600.000 untuk turis lokal. Lamanya trekking ke dalam hutan sekitar 3 jam.

Saya bahagia menemukan mata bahagia gajah-gajah di tempat ini.
Saya bahagia menemukan mata bahagia gajah-gajah di tempat ini.

 

Persaudaraan gajah
Persaudaraan gajah

 

12. Tubbing

Menyusuri aliran sungai sambil duduk santai dengan pantat menempel pada ban-ban bekas sementara kaki menjuntai menekuk menyentuh air yang dingin, mata menegadah menatap langit yang jernih, udara segar, dan punggung terkena air dingin. Kalian pasti bisa membayangkan kenikmatan bersantai seperti ini.  Menyusuri Sei Buluh, kita terbawa arus… Bersama pemandu lokal yang berpengalaman, kegiatan ini dipastikan aman, bahkan untuk yang tidak terlalu pandai berenang.

Kami terbawa arus dan menikmati duduk santai di atas ban bekas yang sudah dirajut menjadi perahu.
Kami terbawa arus dan menikmati duduk santai di atas ban bekas yang sudah dirajut menjadi perahu. Foto selfie ini…

13. Pantai Kupu-kupu

Ratusan kupu-kupu? Iya… ratusan kupu-kupu berterbangan di pinggiran sungai ini. Tapi itu kalau kamu beruntung. Tidak selalu alias musiman. Katanya sih sekitar bulan Januari-Februari yang paling ramai kupu-kupu. Karena alasan itulah, tempat ini dinamai Sungai Kupu-kupu. Sayangnya beberapa kali ke sini saya belum pernah menemukan kupu-kupu sangat banyak, sebanyak itu. Sungai kupu-kupu sudah masuk ke dalam paket trekking dua jam. Nah kalau tak ingin trekking, Sungai Kupu-kupu tidak terlalu sulit dijangkau kok.

Sungai kupu-kupu
Sungai kupu-kupu

 14. Air Terjun Gelugur

Semoga Jaka Tarup tidak datang dan mencuri selendang ketiga bidadari ini. :p
Semoga Jaka Tarup tidak datang dan mencuri selendang ketiga bidadari ini. :p

Air terjun cantik ini hanya bisa ditemukan kalau kamu melakukan tubbing menyusuri sungai. Air Terjun Gelugur adalah salah satu spot pemberhentian untuk menikmati air segar dan mengagumi keajaiban bentukan bebatuan yang ada di sekitar air terjun. Begitu berhenti dan turun dari perahu ban, kita akan berjalan melewati arus kecil yang mirip dengan muara sungai, sedikit lunak tanahnya, berpasir dan sepertinya tidak menjanjikan sesuatu yang berharga. Tapi tunggu sampai kamu mendengar suara air terjun dan melihat batuan sedimen memanjang yang menjadi pijakan menuju air terjun dan laguna kecil yang dibentuknya. Batuan sediman tersebut seperti teras dari semen yang sengaja dibangun. Warnanya abu gelap dan bermotif seperti kulit buaya. Sangat memberi kesan menarik. Pun air terjunnya yang melebar bukan meninggi sehingga seperti membentuk tirai. Cantik sekali. Airnya pun sangat jernih. Lagunanya juga tidak terlalu dalam. Aman dan nyaman untuk berenang-renang santai bersama teman-teman. Seperti sebuah kolam renang di dalam hutan.

Batuan sedimen yang terbentuk di sekitar sungai dan Air Terjun Gelugur. Motifnya seperti kulit buaya tapi berwarna abu gelap.
Batuan sedimen yang terbentuk di sekitar sungai dan Air Terjun Gelugur. Motifnya seperti kulit buaya tapi berwarna abu gelap.

 

15. Hot Spring

Berada di gugusan Bukit Barisan, tak heran kalau ada banyak tempat yang memiliki kandungan belerang atau air panas atau panas bumi di seputaran Sumatra, khususnya Sumatra Utara. Pun di Tangkahan, ada spot tertentu di aliran sungai yang mengeluarkan air panas. Panasnya hangat-hangat kuku karena bercampur dengan aliran air dingin.  Agak sulit memang untuk berenang ke tepiannya dan mendekat ke sumber air panasnya karena arus sungai menuju ke sana cukup deras. Kecuali untuk yang mahir sekali berenang.

Abang bule duduk sendirian di pinggiran sungai berair hangat.
Abang bule duduk sendirian di pinggiran sungai berair hangat.

Sudah cukup ‘kan alasan untuk berlibur ke Tangkahan?

Liburan di Sabang, Santai Banget…

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

*Artikel ini juga terbit di Majalah Dunia Melancong 

 

Berlibur santai di sini tanpa merasa mati bosan.

 

April lalu dalam rangka merayakan ulang tahun sekaligus pemenuhan kebutuhan melangkahkan kaki, saya memilih Sabang sebagai destinasi perjalanan. Dan kali ini, masih dalam rangka menikmati perjalanan on budget, saya berangkat dengan menumpang kendaraan umum.

Ada banyak sekali pilihan bus menuju Banda Aceh. Kebanyakan busnya adalah bus-bus dengan kondisi yang sangat baik dan nyaman untuk perjalanan sekitar 12 jam. Kursi yang empuk, air conditioner yang sehat (bahkan kelewat dingin he-he-he), snack yang wajar, serta selimut dan bantal untuk membantu kenyamanan tidur selama perjalanan. pilihannya sebenarnya ada 2 cara untuk mencapai Banda Aceh. Pertama, lewat jalur darat seperti yang saya lakukan kali ini (tentu saja bisa dengan membawa kendaraan pribadi) dan kedua, lewat jalur udara. Perbedaan ongkosnya sebenarnya tidak terlalu mencolok, tapi dalam perjalanan terencana, biaya adalah rincian yang sudah diatur dengan baik.

Pertunjukan Gratis Lumba-lumba
Atraksi lumba-lumba di perairan Sabang.
Atraksi lumba-lumba di perairan Sabang.

Kami sudah tiba di Banda Aceh. Untuk menuju Sabang kita harus menyeberangi dari Pelabuhan Ulee Lheu menuju Pelabuhan Balohan di Sabang. Ada dua jenis layanan penyeberangan di sini. Dengan kapal lambat dan dengan kapal cepat. Kapal lambat membutuhkan waktu penyeberangan sekitar 1,5 jam dengan biaya Rp. 25.000 per orang, sedangkan kapal cepat 45 menit dengan biaya Rp. 65-85.000. Kami memililih yang kapal cepat untuk berangkat ke Sabang dan kapal lambat saat pulang. Pertimbangannya, setelah lelah seharian di jalan, kami ingin segera tiba di penginapan dan beristirahat. Sedangkan saat pulang nanti, kami ingin menikmati pemandangan laut dengan leluasa dari atas geladak kapal. Dan… tentu saja, kami ingin melihat gerombolan lumba-lumba yang sering melompat-lompat beratraksi, menjadi tontonan gratis.

Tentang lumba-lumba ini, kami sangat beruntung, dalam perjalanan kembali ke Banda Aceh, tidak hanya satu, lebih dari 5 gerombolan lumba-lumba memamerkan dirinya. Di sisi kiri kapal, sisi kanan, bagian belakang, puluhan lumba-lumba mencuri perhatian. Dalam perjalanan saya sebelumnya, saya tidak melihat lumba-lumba sebanyak ini. Bahagia sekali rasanya melihat jumlah mereka yang masih sangat banyak.

Setibanya di Pelabuhan Balohan, banyak penjual jasa becak, rental mobil, dan rental sepeda motor yang menawarkan jasa mereka. Harga rental sepeda motor di sini sekitar Rp. 100.000 – Rp. 150.000 per-hari. Sepeda motor tersebut bisa disewa sejumlah hari yang kita suka. Tapi harga ini belum termasuk bahan bakar minyak. Kami juga memilih menyewa sepeda motor.

Dari pusat kota kami memutuskan segera menuju Iboih, tempat yang kami pilih sebagai tempat menginap selama 4 hari berikutnya. Alasannya, Iboih saat ini adalah destinasi wisata paling ramah di Sabang dengan puluhan pilihan penginapan yang memberikan pemandangan laut yang indah. Begitu bangun pagi, kita bisa langsung menikmati beningnya dan birunya air laut, menonton ikan-ikan dan karang, juga duduk santai di dermaganya yang nyaman. Perjalanan menuju Iboih juga memanjakan mata dengan laut lepas di sisi kiri kita. Gugusan pulau-pulau kecil seperti Pulau Klah, Pulau Rondo dan pulau lainnya membuat kita terkagum-kagum. Semuanya photoable banget, bahkan dengan asal jepret. He-he-he…

 

Tugu Kilomerter Nol Indonesia.
Tugu Kilomerter Nol Indonesia.
Titik Nol, Indonesia Bagian Barat Bermula di Sini

Ini adalah kali kedua juga saya menginjakkan kaki di titik nol Indonesia di bagian barat. Rasanya masih tetap sama. Takjub dengan keluasan Samudera Hindia di hadapannya yang terbentang tanpa jarak. Kalau saya sanggup berenang tanpa lelah, mungkin saya bisa sampai ke Srilanka atau India dengan berenang dari sini. He-he-he…

Perjalanan menuju Titik Nol dari Iboih membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Hari sudah sore. Setelah memilih penginapan dan meletakkan barang-barang, kami langsung menuju Titik Nol. Iya… kami memang tak kenal lelah, walaupun niat awalnya ingin beristirahat, tapi godaan untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin sangat besar.

Dari atas tugu Kilometer Nol Indonesia.
Dari atas tugu Kilometer Nol Indonesia.

Mengendarai sepeda motor yang kami sewa, kami menuju Titik Nol sebelum hari menjadi gelap. Katanya, pemandangan matahari terbenam di sini sangat indah. Sayangnya, kami lupa kalau matahari cukup lama tenggelam di sini. Pukul 7 malam, matahari masih terlihat santai turun. Kami tidak terlalu beruntung karena sunset hari itu tidak terlalu bagus. Seharian memang langit tidak terlalu cerah. Di sini akhirnya kami duduk melihat laut, memotret Titik Nol dan mencicipi segelas kopi ditemani goring pisang raja. Itu tak bisa didustakan nikmatnya.

Yang paling saya suka dari perjalanan menuju Titik Nol adalah hutan-hutan hijau luar biasa di sepanjang perjalanan. Paru-paru saya rasanya menjerit bahagia kegirangan menghirup udara sangat bersih cenderung adem. Saya merentangkan tangan menikmati kehijauan hutan-hutan tropis di sepanjang pinggiran jalan. Apalagi, dedaunan luruh di jalanan itu memberikan kesan natural yang tak bisa dibantahkan.

Jalanan indah menuju Kilometer Nol Indonesia.
Jalanan indah menuju Kilometer Nol Indonesia.
Pantai-pantai Indah

Buat para pencinta pantai dan pasir, Sabang adalah sebuah kemewahan. Dengan sinar matahari yang cukup, senja yang berlangsung lebih lama, matahari terbit yang harus diburu karena pagi lebih cepat di sini, pasir, air yang bening, aneka spesies laut yang menarik, dan ketidak terburu-buruan yang ditawarkan, semuanya adalah satu kesatuan maha sempurna. Ada 4 buah pantai yang kami eksplorasi selama di Sabang, Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pantai Sumur Tiga, dan Pantai Ujung Karang (baca juga artikel sebelumnya 5 Famous Beaches in Sabang). Sebenarnya ada dua lagi pantai yang masuk dalam daftar kami, Pantai Aneuk Hitam dan Pantai Pasir Putih. Keduanya gagal kami datangi.

Menikmati matahari terbit di dermaga Iboih
Menikmati matahari terbit di dermaga Iboih

Aneuk Hitam, kami memutuskan tidak jadi ke sana setelah sekian jam berkeliling mencari-cari Benteng Jepang, kami sudah terlanjur lelah. He-he-he padahal kata kakak di peningapan tempat kami meninap, itu tidak jauh lagi dari Benteng Jepang. Salah siapa coba? Sabang kurang siap dengan penanda yang menunjukkan daerah wisatanya. Kita harus mencari-cari sendiri atau bertanya kepada orang lain, itupun jika ada. Kadang kala kita tidak menemui orang untuk ditanyakan dalam jarak yang cukup jauh. Seperti halnya kami yang kesulitan menemukan Benteng Jepang. Ya kok rasanya terlalu jauh gitu….

Nah… kalau Pantai Pasir Putih, katanya tempat ini sangat bagus untuk melihat sunset. Sayangnya pantai ini jarang sekali didatangi orang karena jaraknya yang sangat jauh. Butuh waktu 1 jam lagi dari Titik Nol. Kami terlalu takut mengambil resiko pulang terlalu malam di sana melewati jalanan berliku dengan tikungan, turunan dan tanjakan yang harus diawasi. Apalagi jalanannya tidak ramai dilewati orang. Ya… jadilah kami memutuskan mencoret pantai ini dari daftar kunjungan.

Keliling Kota Sabang Tak Kalah Asik

Tak puas bila tak melihat kehidupan sosial dari sebuah tempat. Pasar tradisional, pusat jajanan, pusat kota, dan duduk menikmati wisata kulinernya menjadi pilihan kami. Cobalah Mie Pulau Baru atau yang biasa disebut mie jalak. Mie seharga Rp. 30.000 ini memang tidak murah, tapi rasanya sangat pantas untuk harga tersebut.

Tugu Kembar Sabang-Merauke
Tugu Kembar Sabang-Merauke

Di pusat kota Sabang kita juga bisa menemukan Tugu Kembar Sabang-Merauke. Tugu yang terdapat di dua kota di Indonesia. Satu di titik awal ujung barat Indonesia, satunya lagi di titik awal ujung timur Indonesia.

Satu hal lagi yang tak kalah menarik perhatian saya, pusat kota dengan pohon trembesi (ki hujan) tua yang sangat rimbun meneduhkan kota. Mirip dengan di seputaran Lapangan Merdeka, Medan. Bedanya, pohon trembesi di sini diberi keleluasaan dan kebebasan hidup sedang yang di Medan dihimpit beton-beton dan sepertinya sengaja dibiarkan mati.

Pohon trembesi tua di tengah kota Sabang yang masih terjaga baik.
Pohon trembesi tua di tengah kota Sabang yang masih terjaga baik.

Pohon-pohon trembesi ini membuat kota Sabang menjadi sangat teduh. Terasa nikmat dan santai dengan bangunan-bangunan tuanya yang sangat kaya. Apalagi… kota ini memiliki jam bekerja dan jam istirahat. Dari jam 1 siang Anda akan sulit menemukan toko yang masih buka. Mereka akan beristirahat sejenak dan buka kembali di pukul 5 sore. Santai sekali bukan?

Bagaimanapun, selama di Sabang, saya tak berhenti merasa takjub.

10 Ways to Spend Your Weekend in Berastagi

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Yulin Masdakaty @youleeneith

Perkebunan sayuran yang segar di kaki gunung
Perkebunan sayuran yang segar di kaki gunung

AKHIR pekan selalu menjadi kesempatan yang ditunggu banyak orang. Waktunya menghilangkan jenuh dan bersenang-senang meskipun waktunya seringkali sangat singkat. Satu atau dua hari saja. Berastagi, daerah pegunungan ini banyak dipilih sebagai ‘tempat melarikan diri’ dari kepenatan tersebut. Nah… kemanaaja akan merekomendasikan beberapa kegiatan yang bisa kamu lakukan di akhir pekan di Berastagi.

Kebun stroberi organik
Kebun stroberi organik
1. Panen Stroberi Organik

Serasa panen di kebun stroberi sendiri (meskipun ujung-ujungnya tentu harus bayar sebanyak yang kamu berhasil panen). Memilih buah yang disuka sesuai dengan selera, organik pula tentu memberi kemewahan tersendiri. Di kebun-kebun stroberi organik yang banyak pilihannya, seperti di Desa Tongkoh, selain memetik sendiri buah stroberi dan melihat tanamannya, kamu bisa melihat proses penanaman, penyemaian, pembersihan atau pemupukannya. Baik juga lho untuk edukasi jika membawa anak-anak.

Stroberinya sangat menggoda kakak... :D
Stroberinya sangat menggoda kakak… 😀
2. Memilih bibit bunga yang cantik

Jika kamu menyukai bunga, aneka bunga cantik bisa kamu beli bibitnya di Berastagi. Mulai dari bunga begonia, cemara, tekwa, dan berbagai jenis bunga cantik lainnya. Harganya juga nggak mahal amat kok. Pokokya bunga-bunga dimana-mana. 😀

Berastagi juga dikenal sebagai penghasi bunga.
Berastagi juga dikenal sebagai penghasi bunga.

 

3. Jagung bakar atau rebus, view-nya alam pegunungan
Santai sore di Penatapan.
Santai sore di Penatapan.

Penatapan yang artinya tempat untuk melihat-lihat pemandangan asyik untuk menghabiskan waktu duduk-duduk meihat pemandangan pegunungan, menghirup udara sejuk dan dingin sembari menyesap teh atau kopi ditemani jagung bakar, jagung rebus atau mie instan rebus yang rasanya akan dua kali lipat lebih enak dari biasanya. He-he-he…

Jagung bakar aneka pilihan rasa.
Jagung bakar aneka pilihan rasa.
4. Cendol Panas, Wajik, dan Pecal Peceren

Jangan lewatkan juga menikmati penganan di desa Peceran. Dua kedai wajik yang ada di sisi kiri dan kanan jalan lintas utama bisa dipilih. Dua-duanya punya cita rasa dan sama-sama menyajikan cendol panas, wajik dan pecal. Rasanya tidak biasa, justru kesederhanaan rasa masakan mereka yang membuat kangen untuk mencoba lagi saat kembali.

Wajik Peceren
Wajik Peceren

5. Main Layangan di Bukit Kubu
Bermain layangan di Bukit Kubu.
Bermain layangan di Bukit Kubu.

Kalau untuk main layangan, pilihannya pasti di Bukit Kubu. Padang rumputnya yang landai plus cocok untuk berlarian plus angin yang cukup membuat suasana keceriaan sangat terasa di tempat ini. sekadar piknik bersama keluarga atau sahabat juga pasti menyenangkan.

 6. Peternakan Sapi dan Susu Asli
Peternakan Sapi Gundaling Farm
Peternakan Sapi Gundaling Farm

Gundaling Farm, berlokasi di Gundaling Berastagi jadi pilihan untuk melihat secara langsung sapi asutralia penghasil susu, melihat peternakannya dan meminum langsung susu segarnya di tempatnya langsung. Bisa menjadi edukasi juga jika membawa anak kecil. 😀

Tugu Jeruk, pusat kota Berastagi.
Tugu Jeruk, pusat kota Berastagi.
7. Belanja di Pasar Buah

Buah-buahan juga adalah salah satu hasil pertanian terbesar di tanah Karo. Buah-buahan khas seperti Markisa Berastagi, Terong Belanda, Biwa, Kesemek, Pepino adalah buah-buahan yang banyak dijual. Buahnya segar harganya juga lebih miring ketimbang di daerah lain. Pandai-pandai memilih dan menawar juga. Selain buah-buahan, aneka bunga, souvenir, penganan, dan sayuran segar juga dijual di sini.

Pasar Buah Berastagi, belanja buah dan bunga aneka rupa.
Pasar Buah Berastagi, belanja buah dan bunga aneka rupa.
8. Keliling Kota dengan Sado

Selain naik kuda di Gundaling, di pusat kota Berastagi terutama di seputaran pasar, Gundaling dan Pasar Buah, naik sado keliling kota boleh dicoba.

Keliling kota yuk...
Keliling kota yuk…
9. Taman Lumbini

Pagoda tiruan dari negeri pagoda Thailand ini termasuk salah satu yang menarik di Berastagi. Warna kuningnya sangat menarik perhatian. Denting-denting lonceng saat ditiup angina menimbulkan suara-suara yang nyaman. Di tempat ini, selain bisa merasakan kesenduan kuil budha, ketenangan alam dan kenyamanan jiwa.

Salah satu patung di Taman Lumbini
Taman Lumbini

10. Melihat Danau Toba dan Air Terjun Sipiso-piso
View Danau Toba dari Tongging
View Danau Toba dari Tongging

View terbaik Danau Toba dari Tanah Karo bisa dilihat dari Tongging. Selain itu, Air Terjun Sipiso-piso salah satu air terjun penuh keajaiban bisa menjadi destinasi yang layak kamu kunjungi. Check this picture. 😀

The Wonderful Air Terjun Sipiso-piso.
The Wonderful Air Terjun Sipiso-piso.

 

Sibayak Mountain, Celebrate Your Freedom Here!

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Dokumentasi Pribadi

Just free your self and celebrate your freedom.
Just free your self and celebrate your freedom.

 

Disebut sebagai gunung para raja, gunung ini sesungguhnya tidak terlalu “angkuh”!

Kawah Gunung Sibayak
Kawah Gunung Sibayak

 

SAYA sudah dua kali camping di gunung ini. Bukan prestasi luar biasa jika dibandingkan dengan teman-teman para pencinta alam yang selalu bersetia singgah, hidup, juga tetap menjaga gunung ini.

Saya pernah kemping sekali di arena camping ground yang untuk mencapai puncak gunung kita hanya perlu berjalan kaki sekitar 30-45 menit saja. Dan untuk perjalanan yang satu ini, saya dan keempat teman saya, Yulin (dulu teman sekantor), Boy (sepupu saya), Edy (dari Green Family Adventure) dan Alex temannya, mendirikan tenda di area puncak Gunung Sibayak.

Gunung Sinabung tampak dari puncak Gunung Sibayak.
Gunung Sinabung tampak dari puncak Gunung Sibayak.

Perjalanan berlima kami kali ini sebenarnya adalah atas permintaan saya. Iya, permintaan saya. Waktu itu saya sedang ingin melakukan sesuatu yang menarik dan menimbulkan kesan mendalam di hari ulang tahun saya. Yang terpikirkan waktu itu adalah “sepertinya akan penuh dengan ketakjuban kalau ulang tahun saya kali ini saya rayakan di puncak gunung.” Tidak perlu beramai-ramai, karena saya ingin mengambil waktu untuk diri saya sendiri dan beberapa orang teman yang akan menemani dan ikut merayakan dalam kesederhaaan kami dan kompleksitas ketakjuban kepada semesta. Maka, ide yang muncul itu saya sampaikan ke Yulin, rekan perjalanan juga sahabat di kantor (dulu).

Keindahan mana lagi yang mau kamu dustakan?
Keindahan mana lagi yang mau kamu dustakan?

Hellow Sibayak, I’am Getting Old!

30 Maret, hampir tengah malam. Berlima kami berangkat menuju Berastagi. Kali ini, kami memilih naik bus umum, Serasi Borneo. Dari pool bus di Simpang Kuala, berlima kami duduk manis di bangku tengah. Semua kebutuhan sudah kami bagi untuk membawanya. Tenda, sleeping bag, dan peralatan masak sudah aman dalam ransel Edi dan Alex (nanti selama perjalanan Edy, Alex, dan Boy, 3 lelaki di grup kami bergantian membawa ransel peralatan). Aku dan Yulin, membawa perbekalan makanan secukupnya. Tidak banyak tapi termasuk sangat royal.

Tentang bus umum yang bisa ditumpangi menuju Berastagi, sudah sangat terkenal dengan ‘keliaran’ supirnya berkendara. Kali ini pun kami membuktikannya. Edy dan Alex tak berhenti berteriak dan terkaget-kaget sagat bus melewati tikungan dan tanjakan. Sisanya yang lain, kami bertiga tertawa terbahak-bahak melihat reaksi mereka.

Kami memilih masuk melalui jalur yang mudah dan aman. Tak apa sedikit lama dan lelah berjalan. Jalur pariwisata di Desa Semangat Gunung pun menjadi pilihan kami. Pilihan rute bambu meskipun menarik hati, sudah kami skip sejak dari Medan.

Nikmati perjalan bersama udara dan angin pegunungan.
Nikmati perjalan bersama udara dan angin pegunungan.

Menumpang ojek dengan membayar Rp. 10.000 perorangnya kami berhenti di warung terakhir sebelum masuk ke jalur menuju Gunung Sibayak. Setelah istirahat sebentar dan mengisi perut karena belum makan malam, kami melanjutkan perjalanan. Berlima kami berjalan santai menikmati malam yang semakin dingin juga sunyi yang sangat terasa. Tak banyak yang berjalan bersamaan dengan kami. Hanya satu grup lain yang terdiri dari lima orang pemuda tanggung. Mereka sepertinya tidak tau jalur, kurang persiapan tanpa tenda dan sepertinya sangat ingin bergabung dan berjalan dengan kami. Tapi, rasanya nggak diributi dengan celotehan mereka yang kurang pas dengan kami. Hehehe.

Nikmati perjalanan di antara bebatuan.
Nikmati perjalanan di antara bebatuan.

Melewati pembangkit listrik, melewati jalanan beraspal yang dari datar kemudian mendaki, sedikit menurun, juga langit yang sangat indah, kami menembus malam. Desah nafas kami terdengar satu-satu. Nafas terasa hangat, badan juga pelan-pelan memanas akibat berjalan. Di atas sana, langit tetap cerah dengan cahaya pinjaman bulan dari matahari. Suara musik yang pelan diputar Yulin agar tak merusak damainya malam, sayup terdengar dibawa angin. Kami benar-benar berjalan lambat. Tak ada yang diburu. Tak juga jam 12 malam untuk perayaan tanggal baru 1 April. Kelompok pemuda tanggung tadi sudah berjalan lebih cepat, meninggalkan kami di belakang. Sepertinya mereka bosan dengan kesantaian kami. Hihihi…

Bebatuan yang akan terlihat sejauh mata memandang.
Bebatuan yang akan terlihat sejauh mata memandang.

Capek berjalan, di sebuah tanjakan yang cukup tinggi, kami berhenti sebentar menarik nafas dan mengumpulkan tenaga. “Jangan terlalu lama,” kata Edy yang menjadi ketua tim kami. Dia memang lebih berpengalaman. Selain akan membuat lelah dan malas, panas tubuh juga akan turun dan membuat kedinginan. Memang benar, bajuku telah basah oleh keringat. Dan kalau berdiam, tentu akan terasa dingin. Apalagi angina pasti akan segera membantu membuat makin kedinginan.

Desisan uap panas membuat merinding sekaligus takjub secara bersamaan.
Desisan uap panas membuat merinding sekaligus takjub secara bersamaan.

Kurang lebih 2,5 jam kami berjalan kaki sampai kemudian kami tida di area camping ground. Sudah pukul satu dini hari. Sepi… taka banyak yang kemping malam itu. Kami memutuskan tidak membuang malam di area camping ground. Kami langsung bergerak menuju puncak gunung. Jalan setapak yang sudah dibangun lumayan bagus tidak terlalu terlihat jelas karena gelap. Senter-senter yang kami bawa masing-masing menjadi penuntun. Jalanan berbatu tersebut terasa sangat berbeda keesokan paginya. Tidak sesulit saat kami berjalan dalam gelap seperti ini. Kami tetap bergerak lambat hingga sekitar 45 menit kemudian sudah tiba di puncak gunung. Edy dan Alex mencari tanah datar yang cocok untuk kami membangun tenda. Tak sengaja, kami hampir menginjak sekelompok rombongan lain yang tidur dalam gelap tanpa tenda. Ternyata malam itu, kami tak sendiri, ada 2 atau 3 rombongan lain yang telah dahulu sampai. Untungnya kami mendapatkan tempat memasang tenda yang aman dan baik. Edy yang menjadi kepala suku kami malam itu, dibantu 2 lelaki lainnya dengan cekatan memasang tenda mini kami. Ya… kami sudah ada di puncak malam dan puncak ketinggian Gunung Sibayak.

Tenda kami, kerdil di antara keluasan semesta.
Tenda kami, kerdil di antara keluasan semesta.

Gunung Sibayak yang juga disebut-sebut sebagai gunung raja (sibayak, dalam bahasa Karo, suku yang berdomisili di daerah Tanah Karo tempat Gunung Sibayak berada, berarti Raja) ini memiliki ketinggian 2.212 Meter dari permukaan laut (7.257 kaki). Gunung Sinabung memang lebih tinggi. Dan dibandingkan dengan Sinabung, perjalanan menuju Sibayak lebih mudah dan ramah. Saya pernah terserang badai sewaktu akan naik ke Sinabung. Gunung ini menghadap kota Berastagi dan masih aktif. Terakhir kali mengalami erupsi pada tahun 1881.

Tuhan menciptakan semesta dengan penuh keajaiban.
Tuhan menciptakan semesta dengan penuh keajaiban.

Puncak tertinggi dari gunung ini disebut sebagai Takal Kuda yang dalam bahasa Karo berarti kepala kuda. Konturnya sangat berbeda dengan Sinabung. Sibayak didominasi oleh bebatuan besar dan kecil yang rapuh. Tidak seperti Sinabung, tidak banyak terdapat pepohonan dalam perjalanan menuju gunung ini.

Bahkan yang kecil begini terlihat indah dan bikin meleleh air mata takjub.
Bahkan yang kecil begini terlihat indah dan bikin meleleh air mata takjub.

Dear God, Dear Universe, Dear Mom, Thank You!

Jam sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Tenda kami telah selesai dan mata sudah sangat mengantuk. Waktunya meluruskan badan dan tidur. Tapi teman-teman sudah bersiap untuk merayakan. 2 kaleng bir yang kami bawa juga cake sederhana langsung disiapkan. Tak ada lilin, maka sebagai gantinya, mancis menjadi lilin modern sebelum ditiup dan mengucapkan doa. Saya berterima kasih kepada Tuhan dan semesta yang begitu baik. Juga pada Ibu untuk kelahiran dan selalu melepas saya berjalan jauh. Doa saya hari itu, saya ingin terus berbahagia, terus berjalan dan menikmati hidup. Kami merayakannya, merayakan usia dan hidup saya di ketinggian semesta. Saya tertawa bahagia, potongan kue dan suapan-suapan kecil kami semua menelan air mata hangat yang turun pelan di mata saya. Saya bertambah usia dan saya berterima kasih karenanya.

Happy birthday My Self
Happy birthday My Self

Tidur kami sangat lelap malam itu dalam ruangan kecil yang memaksa kami berbagi ruang dan tak boleh lasak egois. Membuat kami hangat tanpa mengganggu kenyamanan tidur yang lain. Ingau-igau kecil karena kedinginan kedengaran dari mulut Boy yang memilih paksa tidur di tengah karena sudah sangat kedinginan.

Tenda mungil kami yang cukup untuk menampung kami berlima.
Tenda mungil kami yang cukup untuk menampung kami berlima.

Welcome Sunrise…

3 jam. Mungkin lebih sedikit. Itu jumlah waktu kami tidur sebelum kami bangun dengan sadar dan segera berlari ke puncak gunung, mencari titik tertinggi untuk duduk dan menikmati hangatnya matahari terbit bergantian dengan dinginnya angina yang bertiup tidak terlalu santai.

Boy, saya, dan Yulin saling berlomba dan tertawa-tawa bahagia. Kami takjub. Bergantian pandang, bergantian senyum, dan bergantian saling foto. Hahaha… sinar matahari pagi sangat indah. Langit juga cerah. Sinabung terlihat dengan sangat jelas dari tempat kami duduk dan bercerita dengan angin.

Tenda kami tampak dari kejauhan.
Tenda kami tampak dari kejauhan.

Saya berterima kasih kepada semesta yang begitu manis hari itu, yang merayakan ulang tahun saya dengan keramahan dan cuaca yang indah. Juga kepada empat orang teman yang bersedia menemani saya dalam perjalanan perayaan kehidupan saya. Sebuah momen yang akan selalu saya ingat. Sampai kapan pun. Cerita tidak akan habis dimakan waktu. Ia abadi dalam ingatan, abadi dalam benak, selama ia tidak dicuri oleh usia dan penyakit tua.

Aku mencintai kehidupan dan kalian pada waktu bersamaan waktu itu. :*

Mencari nafas dan memberi istirahat untuk kaki yang sudah lelah berjalan.
Mencari nafas dan memberi istirahat untuk kaki yang sudah lelah berjalan.

How to Get There

Simple. Dari Medan kalau tidak membawa kendaraan pribadi kalian dapat menumpang bus umum tujuan Berastagi dan Kabanjahe seperti Serasi Borneo, Sutra, Murni, atau Sinabung Jaya. Berhentilah di kota Berastagi (sekitar 2 jam perjalanan dari Medan), pilihan rute menuju Sibayak bisa melalui Desa Semangat Gunung (Raja Berneh, lokasi pemandian alam air panas yang bisa dibagi lagi melalui hutan bambu atau jalur wisata yang sudah dilengkapi jalan raya yang bisa dilalui kendaraan), melalui rute 54 (dekat dengan Penatapen yang terkenal dengan jagung rebusnya) atau melaui Desa Jaranguda yang jaraknya sekitar 500 meter dari Berastagi. Retribusi masuk biasanya sekitar Rp. 2000. Tapi waktu kami kesana tidak ada kutipan biaya.

What to Do

Di tempat ini kalian bisa kemping dekat dengan puncak gunung atau di area camping ground. Pilih tempat yang datar dan nyaman. Bawalah bekal makanan secukupnya dan jangan sungkan berbagi dengan sesama campingers yang lainnya.

Mengejar matahari terbit adalah momen yang sangat menyenangkan. Memang, dinginnya cuaca akan menarik mata untuk tidur berlama-lama di pagi hari. Tapi, melewatkan matahari di ketinggian adalah rugi besar kalau bukan dosa. Hehehe…

Kalau bosan di kota, ‘melarikan’ diri selama beberapa hari di sini mungkin bisa jadi pilihan.

Menikmati pemandangan dengan berjalan santai, jangan pernah lewatkan di sini.

Hore.. hore... siapa yang bisa melompat?
Hore.. hore… siapa yang bisa melompat?

Tips, Maybe!
  1. Jika membawa kendaraan dari Medan entah itu sepeda motor atau mobil, pilihlah kendaraan yang tarikannya kuat pada tanjakan yang luar biasa curam. Pastikan juga rem dalam keadaan baik karena turunannya cukup curam. Jangan bermain-main apalagi sedang belajar berkendara bila membawa kendaraan di sini.
  2. Kendaraan bisa dibawa sampai ke Camping Ground, jadi sudah sangat mudah dan tidak perlu repot.
  3. Bawalah air minum secukupnya. Tidak ada ketersediaan air minum selain air untuk memasak dan mencuci yang ada di areal camping ground. Itupun adalah genangan air bersih pada sebuah kolam rawa kecil.
  4. Ingat, jangan meninggalkan sampah di sini. Semua sampah yang kalian bawa datang, bawa kembalilah pulang. Memelihara dan bertanggung jawab adalah bukti responsibilitas kita kepada alam sekitar.
  5. Bawalah barang secukupnya dan yang penting saja agar tidak merepotkan perjalanan. Jangan lupa bawa jaket, jaket hujan (antisipasi bila hujan turun), senter atau head lamp (bila berjalan malam) dan sleeping bag dan tenda yang baik bila ingin menginap. Safety itu penting.
  6. Meskipun udara dingin, matahari akan sangat terik di siang hari bila musim kemarau, jadi sebaiknya bawalah lotion, sun block dan lip balm untuk mencegah kerusakan pada kulit dan bibir.
  7. Tentu, pilihlah pakaian casual dan nyaman berjalan agar tidak membuat teman seperjalanan emosi dan naik pitam. Lols. Saya punya pengalaman teman yang demikian, masuk hutan pakai dress (matik aja). *wink