SEBULAN KELILING JAWA (PART 3)

Teks: Sal Nath / Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

LUMPIA BASAH, CAT CAFE, LALU ‘PULANG’ KE JOGJA!

Saya dijemput Mas Beruang jam 10 pagi, mencari lumpia basah yang katanya enak di Simpang Dago. Benar enak, cocok dengan selera saya. Lumpia yang diisi telur, daging dan sayur-sayuran, dan belepotan kuah kentalnya. Ada banyaakk… sekali pilihan yang tertera di kaca gerobak tersebut, harga cukup terjangkau, sekitar 9 ribu sampai belasan ribu. Kenyang sekali makan satu porsi. Beruang makan seblak, makanan khas bandung juga yang merupakan kerupuk yang direbus, makaroni, bumbu, perasa, dan, pastinya, pedas! Porsinya cukup besar.

Lumpia basah
Lumpia basah

Selesai makan dan bengong sejenak kekenyangan, meratapi masa lalu lagi… saya dibawa ke Cat’s Village, sebuah kafe kucing hasil desain Mas Beruang. Bertempat di Jalan Banda. Jadi untuk bermain dan mengemil di Cat’s Village, satu jam pertama dikenakan 50 ribu satu orang. Tambahan 30 menit dikenakan 15 ribu. Atau paketan 2 jam dikenakan 75 ribu. Pada saat itu ada paket spesial, 130 ribu (belum termasuk pajak) , berdua, dengan masing-masing satu jam bermain bersama kucing, satu porsi snack (french fries/onion ring/spicy tofu) dan dua tea (classic/mint/strawberry/lemon tea). Cat area-nya berada di lantai 2, di tangga kami diharuskan menukar sepatu kami dengan sepatu khusus mereka. Fluffy!

Di lantai dua, ada sekitar 7-10 ekor kucing, yang katanya sebenarnya ada sekitar 12 kucing cantik di situ. Ada yang berjalan lenggak-lenggok kesana kemari, sisanya tidur. Ada peraturan tidak boleh mengganggu kucing yang sedang tidur, tidak boleh memaksa gendong kucing jika mereka tampak tidak mau. Syukur ada beberapa yang mau saya apa-apakan.

Cat Cafe
Cat Cafe

 

Imut banget kucing di cat cafe :D
Imut banget kucing di cat cafe 😀

Tidak mau hilang kesempatan, saya selfie dengan mereka! Jadi Mas Meruang ini juga pecinta kucing, dia sering kemari juga memantau proyek dan bermain bersama kucing, lalu kenapa saya bayari ya? Yasudahlah. Puas bermain dan menyeruput minuman sampai tetes terakhir, saya diantar pulang, di jalan saya minta berhenti dan minta difoto di atas motor antiknya, jepret! Sampai di depan rumah keluarga, saya berpamitan dengan Mas Beruang, besoknya saya akan berangkat ke Jogja, sampai ketemu lagi kapan-kapan. That was sweet moment in Bandung.

Jogja... Jogja... keliling Jogja...
Jogja… Jogja… keliling Jogja…

Pukul 4 sore kami ke Cihampelas Walk jalan-jalan sebentar untuk mengisi perut sebelum mengantar saya dan Brewok ke Stasiun Kiaracondong, kereta api pukul 7.15 malam. Kami makan di Burger King, agak kesal karena rupanya kami harus buru-buru (dan saya sebal karena mahal-mahal). Ternyata kami terjebak macet di perjalanan menuju stasiun, berangkat dari Ciwalk jam 6, sampai di stasiun jam 6.55-an, nyaris sekali. Sudah sempat panik. Sebaiknya berangkat lebih awal saja jika ada keperluan berpergian penting di Bandung. Setelah saya mengarungi Bandung, saya berpendapat bahwa Bandung itu, MACET! Dan masih ditemukan banyak pengendara yang semena-mena, tiba-tiba belok. Jalanannya juga banyak satu arah dan sempit. Bedanya dengan kota kelahiran saya itu, di Bandung masih menaati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Sampai jumpa Bandung! Kereta Api tiba di jalur pukul 7 lewat. Saya dan Brewok berangkat ke Jogja, ini kereta api perjalanan jauh pertama saya (lagi-lagi pertama).

 MY LOVELY DJOGJA!

Perjalanan 8 jam di kereta bisnis seharga 220 ribu beli via online itu ternyata tidak terlalu menyiksa saya yang takut mabok darat ini. Cukup nyaman! Mungkin juga karena excited sudah mendekati Jogja tercinta. Mungkin lain kali boleh mencoba ekonomi kalau kepepet dana. Tiba di stasiun Tugu Yogyakarta jam 4 pagi. Tidak ada kawan yang menjemput, becak tidak muat dengan dua manusia, satu koper besar, satu kardus besar, dua ransel besar. Seandainya teman-teman berkunjung sendirian dan tidak membawa banyak barang, lebih baik memilih ojek.

Kami tidak ada pilihan lain, kami jalan ke luar stasiun dengan bawaan berat ini, mencari taksi di luar stasiun dan ingat berpesan untuk memakai hitungan argo! Jika tidak, mereka menawarkan harga tinggi untuk sampai ke tujuan kami, kontrakan Mas Brewok di Sewon. Aslinya dengan argo hanya kena 30-an ribu. Saya beri 50 ribu. Tadinya supir-supir tadi menawarkan harga 65-75 ribu, hayo yah pak… Kami tiba di kediaman mas Brewok, studio Monkey x Rabbit, di dusun Karangnongko. Tidak sempat saya melihat-lihat, kami langsung tepar dan beristirahat sampai hampir siang.

 BELANJA KEBUTUHAN RUMAH

Pagi itu kami ke toko serba ada belakang kampus ISI, toko Mugiharjo, Jalan Ali Maksun. Sakti sekali lengkap dan murahnya. Saya belanja untuk melengkapi beberapa kebutuhan rumah yang tidak ada di kontrakan Brewok, saya mau nge-teh (dengan daun teh murni), tapi tak ada saringan. Dasar para lelaki lajang kos-kosan. Satu lagi yang awkward, saya hendak menyapu kontrakan brewok yang seperti kapal pecah terutama di studionya. Sapu di Jawa itu bulunya yang lentur sekali ya, menggunakan gabah, anu, batang padi, saya merasa kurang wow menyapunya jika tidak menggunakan sapu yang bulunya plastik yang agak tegang (pengaruh anak kota). Saya ngotot beli sapu plastik itu, ada satu, harganya agak mengukir penyesalan sih, 45 ribu. Yang akhirnya mereka tetap memakai sapu lembek itu, yang katanya jauh lebih bersih. Saya tetap belum terima itu.

Keliling Malioboro
Keliling Malioboro

Saya minta ke Malioboro siang itu. Tetap banyak barang-barang menggiurkan. Tapi saya sudah latihan untuk tidak boros membeli barang-barang tidak penting. Belanjanya akan saya simpan di akhir saja saat dekat tanggal pulang, menyesuaikan uang saku yang tersisa. Saya mencari reparasi jam, saya punya jam tua peninggalan nenek, umurnya sudah 50-60 tahun, masih jalan. Hanya kacanya retak sedikit dan talinya sudah usang, singkat cerita saya mencari berhari-hari dan kemana-mana di Jogja, tidak menemukan tempat yang punya perlengkapan untuk jam saya ini, mereka juga bilang bahwa tidak ada semacam itu di Jogja. Atau saya harus lebih detail mencari, tapi yasudahlah, di Medan ada, tapi mahal. Tidak ada pilihan, tidak harus juga, tidak mau buang-buang waktu. Saya berjalan-jalan sepanjang Malioboro, tidak belanja, tapi saya selalu tergiur dengan barang di dalam Hamzah Batik (Mirota Batik), saya beli celana panjang model kain perca, lucu, juga untuk persiapan ke Dieng nanti, jeng-jeng-jeng, Dieng. Harganya 60an ribu.

Sebenarnya barang-barang yang ada di Mirota Batik ini bisa didapati di luar dengan harga yang lebih murah, ada yang sama harganya. Tapi.. di tempat ini kental dengan suasana Jogjanya, barangnya pun sungguh lengkap. Mulai dari oleh-oleh kecil-besar, wayang, pakaian, koleksi kain batik, kemeja, terusan batik, barang antik, pokoknya segala jenis batik, lampu unik, harga tidak mahal. Semuanya tentang Jogja bisa kamu beli sekaligus disini kalau tidak mau repot atau capek mutar-mutar. Tapi ada beberapa barang yang tidak saya temukan di luar, maka saya beli. Saya berkali-kali mengunjungi Malioboro dan Mirota Batik selama di Jogja. Saya beli beberapa gantungan kunci unik bentuk tahu dan tempe yang mirip aslinya (ada sangat banyak gantungan kunci keren di sana), lalu suatu hari saya terpesona lagi dengan sebuah celana ponggol batik (karena baju sudah mainstream) dan beberapa dupa aromatheraphy. (to be continued) 

 

SERUNYA MENJELAJAH GOA KELELAWAR BUKIT LAWANG

Teks & Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.
Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.

Sebulan yang lalu tim kemanaaja.com mengunjungi Bukit Lawang, Sumatra Utara. Bukit Lawang merupakan gugusan bukit barisan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, Nagroe Aceh Darusalam. Selama di sana, selain bersantai tim kemanaaja.com juga berkesempatan melihat salah satu goa alami yang masih natural dan terjaga keberadaannya, yaitu goa kelelawar (Bat Cave).

Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. :D
Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. 😀
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.

Goa ini dinamakan Goa Kelelawar dikarenakan ribuan koloni kelelawar tinggal di dalamnya, bukan hanya itu, ada juga koloni kecil burung walet atau burung layang-layang yang menempati bagian ujung goa. Stalaktit runcing mengerucut dari langit-langit goa, menajam lancip seakan menusuk bumi. Dinding goa berasa bagai padang lumut hijau yang menurun vertikal menuju dasar goa. Lembab dan dingin. Bebatuan alami berumur ratusan tahun terpahat alami di dalam goa. Langit-langit indah dengan pemandangan ribuan kelelawar bergelantungan menikmati istirahat siang menunggu malam datang dan memulai perburuan sebagai hewan nocturnal.

Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.
Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.

 

Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.
Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.

Banyaknya kelelawar yang terdapat dalam goa ini menandakan bahwa tidak ada perburuan besar-besaran oleh masyarakat setempat. Seperti yang kita ketahui bahwa kelelawar merupakan salah satu hewan yang banyak diperjualbelikan selama ini. Kondisi ini berdampak langsung kepada fungsi dan peran kelelawar dalam ekosistem, yaitu sebagai perantara penyerbukan bunga dari banyak buah-buahan yang ada di hutan. Itulah sebabnya pepohonan buah yang ada di sekitaran Bukit Lawang dapat berbuah rutin, banyak dan enak, salah satunya adalah durian.

Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.
Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.

Untuk dapat mengakses goa kelelawar anda harus menuju Bukit Lawang terlebih dahulu. Dimulai dari Medan melalui terminal Pinang Baris, menaiki bus atau kendaraan mini bus yang banyak terdapat di sana. Perjalanan kurang lebih dua sampai tiga jam dari terminal Pinang Baris anda akan sampai di Bukit Lawang. Pada umumnya petugas penginapan tempat anda menginap pasti mengetahui keberadaan goa kelelawar, tanyalah mereka dan minta untuk menemani anda.

Psst... ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Psst… ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.

Ongkos Pinang Baris-Bukit Lawang Rp. 25.000/orang

Upah untuk pemandu Rp. 100.000/orang termasuk makan siang dan bersantai di Sungai Landak (berdasarkan pengalaman kemanaaja.com tahun 2015)

 Tarif pengingapan Rp 100.000-150.000/malam.

Juga terdapat penginapan dengan tarif di atas 150.000

Experience Mikie Holiday, Tak Sekedar Berakhir Pekan

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh / Photo by : Eka Dalanta @ekarehulin

Yang hijau-hijau dan udara sejuk sudah sangat sulit kita dapatkan di perkotaan. Tapi, untuk mendapatkan hal seperti itu tidaklah sulit. Berjarak 60 Km dari kota Medan dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kita bisa menemukan pepohonan hijau, merasakan udara yang sejuk dan bersih, serta wahana bermain yang seru.

Bagi sebagian warga kota kekinian seperti saya ini (ehem) mencari tempat bermain di akhir pekan rasanya menjadi kegiatan paling menyenangkan. Iya menyenangkan karena akhir pekan adalah saat dimana kita keluar dari rutinitas yang begitu penat. Sekalipun kita mencintai pekerjaan, tetap saja yang namanya bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya akan menimbulkan sedikit kebosanan. Solusinya adalah jalan-jalan. Jalan-jalan kemana? Kan di kota yang ada mall lagi mall lagi. Mau cari yang hijau-hijau aja sulit. Semua udah disulap gedung-gedung tinggi berudara dingin buatan.

Pemandangan dari puncak Mikie Funland.
Pemandangan dari puncak Mikie Funland.

Berlokasi di dataran tinggi tanah Karo, Mikie Holiday bukan sekedar resort. Lebih dari sekedar itu, tempat ini menawarkan keramaian juga ketenangan dalam suatu waktu. Saya dan teman-teman senang bisa diberi kesempatan untuk mengunjungi hotel, resort, dan taman bermain terbesar di Sumatera Utara ini.

Saya dan teman-teman benar-benar mengapresiasi keramahan dan sambutan dari Mikie Holiday. Mr.Desmond Rozario selaku General Manager dari Mikie Holiday menyapa kami dengan hangat. Rasanya senang sekali bisa terlibat percakapan hangat dengan beliau dan Pak Deliasa Zalukhu selaku Director of Sales. Memang, belakangan mereka merasa pengunjung sedikit khawatir untuk datang ke Berastagi karena debu dari erupsi Sinabung. Tapi, tenang saja. Mikie Holiday aman untuk didatangi. Jaraknya dengan Sinabung cukup jauh. Kira-kira 2 jam perjalanan.

Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.
Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.

Dibantu dengan seorang staff, kami diajak tour keliling Mikie Holiday Resort. Dari Pak Zalukhu, kami mengetahui bahwa Mikie Holiday memiliki lebih dari 100 kamar dimana terdapat beberapa kamar yang di design khusus seperti kamar ala Prancis, Thailand, Jepang, dan China. Masing-masing 1 unit dan interior dibuat menyerupai suasana kamar dari negara asalnya. Hayoo, kapan lagi bisa menginap di kamar ala Prancis?

Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. :D
Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. 😀
Rose Room.
Rose Room.
Deluxe room.
Deluxe room.

Selain itu, terdapat kolam renang bagi yang ingin berenang di cuaca dingin. Ketika saya bertanya kepada Pak Zalukhu mengapa air kolam renangnya tidak diganti dengan air hangat, beliau malah menjawab “Air panas kan sudah biasa, di Lau debuk-debuk juga ada. Sesekali berenang di air bersuhu normal di cuaca dingin kan biar beda.” Kami dan tim pun sedikit terkekeh.

SAMSUNG CSC
Oriental room
Toiletries
Toiletries

Setelah berkeliling dan melihat interior ruangan, kami diberi kesempatan untuk bermain di Mikie Funland. Lokasinya berada tepat disebelah resort. Untuk masuk kedalam Funland, kita memerlukan satu kartu yang bisa dibeli di counter penjualan. Kartu ini merupakan akses masuk dan kita dapat menikmati seluruh wahana dengan hanya membayar sekali didepan. Keren kan? Main deh sampai kenyang dan puyeng.

Ada beberapa wahana yang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Yaitu Tsunami. Bagi yang doyan muter-muter dan terombang-ambing, dipersilakan mencoba wahana ini. Dan beberapa wahana lain seperti Dino vs Dino, Volcano, Jelly Swing, Bon Voyage dan masih banyak lagi. Saya sih cukup mencoba Pterosaurus, Dino Tracker, dan sedikit berbasah-basah ria dengan The Falls.

SAMSUNG CSC
Basah-basahan di The Falls.
Diuntang-anting The Wave.
Diuntang-anting The Wave.
Naik Pterosaurus dulu ya.
Naik Pterosaurus dulu ya.

Beberapa hal yang membuat saya tidak bosan ke Mikie Funland adalah mereka memiliki banyak wahana yang jika dicobai dalam suatu waktu tidak mungkin keburu. Mengapa? Satu. Saya belum siap terombang-ambing. Kedua, nyali saya tidak cukup kuat untuk wahana mencekam tadi. Overall, Mikie Holiday Resort & Funland worth to go! Saran saya, sebaiknya pergi di hari sabtu. Menginap semalam di Mikie Holiday dan hari minggunya seseruan di Mikie Funland.

So, are you still have another reason not to go to this cool place? Informasi lebih lanjut monggo mampir disini

Tim hore-hore Mikie Holiday.
Tim hore-hore Mikie Holiday.

What to do

Jika kalian berencan untuk berlibur bersama keluarga dan menginap. Datanglah pada akhir pekan. Pilih Family room yang view-nya mengarah ke kolam renang. Juga jangan lewatkan bermain di Mikie Funland. Bagi yang bernyali tinggi disarankan untuk mencoba wahana ektrimnya seperti Dino vs Dino, T-Rex atau bisa jadi Tsunami.

What to bring

Topi dan kalau perlu sunblock. Pada siang hari matahari begitu terik. Sedia juga jas hujan atau payung karena sewaktu-waktu bisa hujan dan cuaca tidak bisa ditebak.

 

Takengon, ketika kopi dan alam berbicara

Teks & Foto oleh Sarah Muksin, @sarahmuksin

Bukan hanya sekedar Serambi Mekkah, bagi saya, tempat ini merupakan teras kopi dunia. Keindahan alamnya mungkin belum setenar kopinya. Tapi ketika kau tiba disana, mungkin lain cerita.

Di awal Mei kemarin, seorang teman datang dan mengatakan bahwa akan melihat panen raya kopi Arabika yang sedang berlangsung di Takengon, Aceh tengah. Tanpa ragu saya menjawab ya dan kebetulan sudah 2 tahun rasanya tidak pernah melakukan perjalanan darat yang cukup menguras energi. Kebetulan, saya sama sekali belum pernah memijakkan kaki ke provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu.

Dua hal yang saya pikirkan selama kurang lebih 12 jam perjalanan adalah Takengon itu dingin dan disana pasti banyak tanaman kopi. Biasanya sebelum bepergian ke suatu tempat, saya akan menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang berbagai hal yang menarik dari tempat yang akan saya datangi. Tapi kali ini saya tidak mendapatkan gambaran apapun. Saya pergi dan berpikir biarlah dataran tinggi Gayo memberikan kejutannya pada saya.

Menangkap pagi di Bukit Sama.
Menangkap pagi di Bukit Sama.

Dikenal sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi Arabika terbaik di dunia, Takengon ternyata menyimpan rahasia dibalik pohon-pohon kopi yang tumbuh subur dan melimpah. Melewati medan yang tidak mudah membuat saya hampir menyerah. Belokan, tanjakan, turunan semuanya cukup mengocok perut dan membuat kami semua mual. Dan ini berlangsung kurang lebih 1,5 jam perjalanan menuju Takengon. Tak lama, mobil yang kami tumpangi melewati jalan yang lurus. Perjalanan selama 12 jam seperti tiada akhir itu terbayarkan sudah. Matahari yang kami saksikan dari ketinggian Bukit Sama perlahan-lahan memuncak dan memperlihatkan kepada kami sesuatu yang sangat indah di bawah sana. Danau Laut Tawar. Berwarna keemasan dan bercahaya karena pantulan sinar matahari pagi. Udara dingin yang menusuk kulit pun perlahan mulai berubah menjadi hangat.

Act like a model!

Mencari penginapan di Takengon ternyata cukup rumit. Beberapa hotel atau penginapan mungkin tidak akan mengizinkan yang bukan muhrim untuk menempati kamar yang sama. Kami saja sempat bingung karena salah satu hotel menolak untuk ditempati karena tidak ada satupun dari kami yang terikat hubungan darah atau saudara. Perlu diingat bahwa mungkin Takengon tidak seketat kota-kota lainnya yang ada di Aceh, tetapi tetap saja, hukum syariah berlaku. Yang bukan muhrim, dilarang tidur satu kamar. Kami bergegas mencari penginapan lain yang memungkinkan untuk ditempati.

Segelas kopi sedang menunggu untuk diteguk. Segera, setelah selesai berberes, kami mencari sarapan dan bergegas mencari kebun kopi yang bisa disinggahi. Tujuan pertama telah ditetapkan. Kami akan berkunjung ke kebun kopi milik Pak Abdullah. Terletak di kecamatan Pegasing, Pak Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak petani kopi di tanah gayo. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi banyak hal tentang kopi dengan pria paruh baya ini. Mengenal kopi sejak lahir, Pak Abdullah bercerita tentang masa kecil yang dia habiskan di kebun kopi milik keluarganya. Hingga kini, beliau mengelola kebun kopi milik keluarga dan memiliki kedai kopi yang dia beri nama Kopi Tiam Wang Feng Sen.

Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.
Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.

Hal yang paling menggembirakan dari Takengon adalah, kau tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk secangkir kopi. Di kedai kopi milik Pak Abdullah ini, secangkir kopi hitam yang nikmat bisa dicicipi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain mencicipi kopi yang harum dan nikmat, kami diajak bermain ke kebun kopi milik teman Pak Abdullah, karena kebetulan kebun kopi beliau cukup jauh sekitar 1 jam perjalanan.

Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Cinta dalam segenggam kopi.
Cinta dalam segenggam kopi.

Melihat kebun kopi dan proses pengolahannya membuat kami bersemangat dan menambah wawasan. Bahwa selama ini untuk menjadi segelas kopi, biji-biji kopi tersebut melalui proses yang panjang dan tidak mudah mulai dari dipetik, dijemur hingga disangrai.

Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.

Selesai dengan urusan kebun kopi, kami berkesempatan mengelilingi beberapa kedai kopi yang mulai menjamur disetiap sisi kota Takengon. Saya tidak pernah mengira bahwa kota kecil ini dipenuhi dengan kedai kopi yang rasanya nikmat dan diproses dengan baik. Bagaimana tidak, pemilik kedai kopi adalah juga pemilik kebun kopi yang tahu bagaimana mengolah kopi dan menjadikannya minuman yang nikmat. Hampir setiap rumah yang kami lewati di kota ini menyangrai biji kopinya sendiri dan aroma kopi itu menyergap masuk ke hidung kami.

Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!

Takengon bukan hanya tentang kopi. Kota ini juga menyimpan peninggalan bersejarah dan cerita budaya. Salah satunya ketika kami mengunjungi Gua Putri Pukes. Cerita yang berkembang di masyarakat setempat bahwa ada seorang putri yang berubah menjadi batu didalam gua tersebut.

Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.

Tak lupa, kami juga mengunjungi Ceruk Mandale. Lokasi tempat ditemukannya kerangka manusia yang diperkirakan berusia 8400 tahun. Lokasinya yang tidak mudah ditemukan membuat kami harus bertanya kepada warga lokal. Medannya juga cukup sulit karena termasuk jalan baru dan jarang dilalui oleh warga sekitar, sehingga masih sepi.

Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.

Pada tahun 2010 lalu para peneliti dan arkeolog menemukan kerangka manusia purba ini. Penelitian masih berjalan hingga sekarang.

Berkat seorang teman, kami dibawa untuk mencicipi sajian khas Aceh Tengah yang katanya hanya disajikan pada acara tertentu saja semisal pesta perkawinan. Kebetulan, ada satu resto yang menyajikan makanan ini. Namanya Asam Jing. Asam Jing sendiri mirip dengan masakan padang, Asam Padeh. Ada juga Cecah Terong Belanda. Agak aneh sebenarnya karena baru pertama kali mencicipi Terong Belanda yang tidak di jus tetapi dijadikan sambel. Ya, makannya pun harus dengan daun labu yang direbus. Rasanya? Surprisingly, enak banget.

Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!
Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!

Takengon membuat kami jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Bukan hanya pada kopi, tetapi pada keindahan alam serta keramahan orang-orangnya. Omong-omong, orang Gayo itu cantik-cantik dan tampan-tampan loh.. he.. he.. he..

How to get there

Ada baiknya kalau memang merencanakan perjalanan darat, berangkatlah pada malam hari. Selain menghindari macet, perjalanan malam lebih sejuk dan tidak membuang-buang waktu. Apabila terlalu melelahkan, ada pesawat perintis yang berangkat 3 kali seminggu dari Medan.

What to do

Minum kopi. Main ke kebun kopi. Datanglah pada saat panen raya, ketika semua orang sibuk dengan biji kopinya. Oleh-oleh terbaik dari Takengon itu adalah kopinya. Kopi Gayo. Danau Lut Tawat juga tidak boleh dilewatkan. Pemandangan paling menakjubkan bisa didapatkan dari Puncak Pantan Terong, sekitar 20 menit dari kota.

Nepal dan “Ziarah Kehidupan”

Foto oleh Vitalia Vito & Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

*Foto-foto ini juga dimuat di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015 @duniamelancong

Nepal adalah negeri pendoa, negeri dimana banyak orang datang untuk mencari Tuhan, mencari kedamaian, mencari ketenangan, mencari “Dia” yang lebih besar dari manusia, “Dia” kekuatan di luar manusia yang melampaui segala sesuatu. Perjalanan ke Nepal, bagi banyak orang adalah ziarah kehidupan.

Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di   Kathmandu (FOTO 1)
Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di Kathmandu
Pashmina khas dari bulu yak
Pashmina khas dari bulu yak
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Stupa Budha
Stupa Budha
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja    ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya

Foto-foto ini diambil oleh teman saya Vitalia Vito, dua bulan sebelum gempa bumi belum mengguncang Nepal pada 25 April 2015. Vita, seperti juga banyak wisatawan dan para peziarah kehidupan lainnya, punya rasa ketertarikan khusus untuk mengunjungi Nepal. Vita yang juga sangat tertarik dengan kebudayaan Hindu yang unik, melihat Nepal begitu Eksotik. Berada di perbatasan India dan Cina membuatnya semakin menarik. Apalagi . Di Nepal, ia melihat banyak, realitas dan juga orang-orang yang ingin bertemu Tuhan. “Sewaktu tiba di sana, aku merasa I belong to there,” kata Vita yang bercerita sambil makan roti cane karena mengaku kangen Nepal dan ingin kembali lagi kelak.

Ah Nepal memang si seksi namun punya banyak cerita sejarah, sekaligus misteri dan intrik yang masih tak kunjung selesai. Seperti gadis cantik seksi yang bapaknya galak. Hehehe Dan gempa bumi yang baru-baru ini terjadi, membuatnya semakin sulit untuk diakses. Semoga Negeri Para Peziarah Kehidupan ini lekas membaik. Dan semoga kesempatan menjejak kaki ke sana semakin dekat. 😀

 Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat

Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi     pembakaran mayat dan upacara berkabung
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi pembakaran mayat dan upacara berkabung
 Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana

Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak    kuil Hindu dan Buddha di sini
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak kuil Hindu dan Buddha di sini

 

15 Reasons Why You Should Go To Tangkahan!!

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

In the beauty of nature lies the spirit of hope. ~Un Known

_IMG_0515

Dalam keindahan alam hutan tropis ada jutaan kehidupan termasuk semangat dan gairah baru yang lahir sehabis menikmati liburan di sana. Tangkahan, sebuah destinasi wisata menarik yang berada di Sumatera Utara adalah salah satu keindahan alam hutan tropis yang luar biasa. Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Kabupaten Langkat, dearah ekowisata ini adalah daerah ekowisata yang unik. Dikelola oleh masyarakat yang dulunya perambah hutan menjadi masyarakat yang sekarang aktif terlibat dalam pelestarian lingkungan dan menjaga daerah ekowisata Tangkahan. So, why you should go to Tangkahan?

Jembatan gantung yang menghubungkan kita ke guest house yang tenang
Jembatan gantung yang menghubungkan kita ke guest house yang tenang
Elephants Troop
Elephants Troop

1. Ecotourism

_IMG_0445
Sinar matahari yang menembus dedaunan…

Iya… berwisata di tempat ini kita bisa menikmati sebuah perjalanan tanpa was-was pada kerusakan fatal terhadap lingkungan. Masyarakat pengelolanya sudah memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Beberapa kali ke tempat ini, kami menyaksikan sendiri masyarakat yang bertugas bergantian mengumpulkan sampah-sampah yang di sekitaran sungai. Bentuk-bentuk perambahan hutan juga sudah sangat dihindarkan.

Living in the moment...
Living in the moment…
The sneaking river
The sneaking river

2. Clean Water

Di kelilingi oleh hutan tropis dengan aneka tetumbuhan membuat serapan air di sekitar hutan ini menjadi baik. Aliran air sungai yang jernih dan sejuk akan sangat memanjakan dan menggoda untuk bermain air. Berenang-renang sambil menikmati suara alam adalah sebuah kemewahan ketenangan jiwa. Air terjun-air terjun kecil yang ada di beberapa titik membuat tempat ini semakin menarik.

Air terjun yang mengalir cantik di dalam hutan
Air terjun yang mengalir cantik di dalam hutan

 

3. Natural Forest

Berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) ditambah dengan kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya menjaga lingkungan membuat hutan yang ada di kawasan ini terjaga dengan baik. Tipikal hutan tropis yang masih terjaga baik bisa kita temukan di sini.

_IMG_0461
Ranting pepohonan hijau
Selara-selara dan tanah lembab yang nyaman bagi aneka hewan tropis
Selara-selara dan tanah lembab yang nyaman bagi aneka hewan tropis

 

Semua yang dari alam kembali kepada alam
Semua yang dari alam kembali kepada alam

 

4. Fresh Air

Di tempat ini bebaskan paru-paru menghirup udara yang segar dan bersih. Udara yang dingin masuk melalui hidung bisa kita rasakan di pagi hari. Pokoknya segar sekali….

Langit yang biru, pepohonan hijau, dan udara segar
Langit yang biru, pepohonan hijau, dan udara segar
Dimana-mana hijau... hijau yang cantik dan teduh
Dimana-mana hijau… hijau yang cantik dan teduh

 

5. Jungle Trekking

Berjalan menyusuri hutan tropis menjadi paket wisata yang ditawarkan oleh para local tourist guide di tempat ini. Tidak akan rugi karena dengan budget sekitar Rp. 250.000 (harga yang berlaku untuk turis lokal) kita sudah mendapatkan paket ikutan dalam kegiatan memandikan gajah di pagi hari, trekking ke dalam hutan selama dua jam, menikmati pemandangan cantik di sungai kupu-kupu, makan siang ala-ala jungle, tubbing dan bermain air di Air Terjun Gelugur. Semuanya sudah dalam satu paket. Untuk bisa menikmati semua paket tersebut, sebaiknya kegiatan dimulaikan dari pagi hari.

Hutan yang 'gemuk'
Hutan yang ‘gemuk’
Bumi, air, semesta, dan kita...
Bumi, air, semesta, dan kita…

6. Keramahan Guide dan Masyarakat Lokalnya

Saya sangat nyaman dengan pemandu wisata di tempat ini yang sangat ramah dan menghormati tiap wisatawan yang datang. Bahkan masyarakat lokalnya juga ramah dan tak pelit memberikan senyum. Keramahan yang sungguh memberikan kenyamanan. Tidak di semua tempat wisata saya menemukan keramahan seperti ini. Tutur bahasa mereka juga lembut dan no tipu-tipu… He-he-he…

Saya, Andi, Vindya, dan dua pemandu lokal (Mapin dan Jempol) sehabis tubbing dan menikmati buah-buahan dari perkampungan yang kami lewati dalam perjalanan kembali ke penginapan... Oh iya yang motoin ini Kak Windy... :D
Saya, Andi, Vindya, dan dua pemandu lokal (Mapin dan Jempol) sehabis tubbing dan menikmati buah-buahan dari perkampungan yang kami lewati dalam perjalanan kembali ke penginapan… Oh iya yang motoin ini Kak Windy… 😀

 

7. Jauh dari Berisik

Siapa bilang di tempat cantik seperti ini tidak boleh hanya ingin bermalas-malasan dan duduk santai? Tapi sebaiknya itu dilakukan kalau kamu sudah pernah menyusuri keindahan hutannya dan melakukan berbagai aktivitas menarik lainnya di tempat ini. Sayang dong kalau sudah ke Tangkahan tapi cuma untuk tidur saja. He-he-he….

The sounds of nature...
The sounds of nature…

Nah, untuk beristirahat dan bersantai serta jauh dari keberisikan, tempat ini sangat nyaman. Jauh ke dalam perkampungan di pinggir hutan dengan jarak tempuh sekitar 5-6 jam dari kota Medan, dengan jalanan yang juga tidak terlalu mulus untuk di akses, ketenangan setelah tiba rasanya sangat membayar lunas perjalanan.

 

8. Tidak Mahal

Mega Inn, tempat kami menginap
Mega Inn, tempat kami menginap

Liburan ke tempat ini cenderung tidak mahal. Coba saya paparkan biaya yang kira-kira akan dikeluarkan bila berlibur ke tempat ini. Bila menumpang kendaraan umum Pembangunan Semesta yang dimulai dari Pinang Baris atau Kampung Lalang, ongkos yang dikeluarkan untuk per-orangnya Rp. 25.000. Setibanya di Tangkahan, akan dikenakan biaya Rp. 5000 untuk perawatan jembatan gantung. Biaya penginapan per harinya Rp. 80.000-Rp. 100.000 yang bisa di-sharing berdua. Untuk biaya makan, pintar-pintarlah mengatur sehemat mungkin, kan udah besar. He-he-he… Tarolah budget sekali makan Rp. 40.000. Untuk turis lokal, memandikan gajah, trekking dua jam ke dalam hutan, singgah di Sungai Kupu-kupu, makan siang, menikmati Hot Spring di sungai, melihat air terjun kecil, tubbing, dan singgah ke Air Terjun Gelugur biaya per orangnya sekitar Rp. 250.000. Jadi bila menginap di Tangkahan untuk 3 hari 2 malam, budget per orangnya sekitar Rp. 500.000. Worth it banget dong dengan semua fasilitas dan aktivitas yang udah didapat…

9. Aneka Tumbuhan dan Hewan Tropis yang Unik

Trekking-lah ke  dalam hutan dan silahkan takjub dengan berbagai hewan dan aneka tumbuhan serta buah-buahan unik di dalam hutan. Kekayaan alam yang pasti juga sangat memperkaya jiwa.

Kera ekor panjang yang melompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lain
Kera ekor panjang yang melompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lain
Bunga cantik yang menarik perhatian
Bunga cantik yang menarik perhatian
Buah rambe, sebangsa buah duku dan langsat.
Buah rambe, sebangsa buah duku dan langsat.

 

Pakis-pakisan (mungkin)
Pakis-pakisan (mungkin)

 

This is beautiful? Indeed!
This is beautiful? Indeed!
Jamur di batang pohon
Jamur di batang pohon

 

Buah-buahan hutan, rasanya pahit sepat dengan sedikit rasa asam.
Buah-buahan hutan, rasanya pahit sepat dengan sedikit rasa asam.

 

10. Elephant Washing

Selain hutannya yang kaya, gajah adalah daya tarik terbesar dari Tangkahan. Konservasi gajah yang dilakukan di tempat ini membuat namanya tersohor. Seperti kita ketahui, gajah adalah satwa langka yang dilindungi. Di Tangkahan, paket memandikan gajah adalah paket wisata yang paling digandrungi. Tak pernah sepi dan selalu ramai oleh puluhan wisatawan asing dan lokal (terutama asing). Jadwal memandikan gajah selalu di pagi dan sore hari. Di pagi hari sekitar jam 9 dan sore hari sekitar jam 3. Tanyakanlah informasinya kepada guide untuk memastikan jadwalnya. Harga untuk turis lokal dan asing berbeda lho. Rp. 50.000 untuk turis lokal dan Rp. 100.000 untuk turis asing. Harganya ini sudah ditetapkan menjadi harga paket wisata yang tidak bisa dimain-mainkan oleh para pemandu wisata di tempat ini.

Elephant washing...
Elephant washing…

 

Perkenalkan... Inilah eek gajah. Ehehehe
Perkenalkan… Inilah eek gajah. Ehehehe

 

Habis mandiin gajah, giliran  wisatawan yang dimandiin gajah. Seru....
Habis mandiin gajah, giliran wisatawan yang dimandiin gajah. Seru….

Kissing with elephant
Kissing with elephant

11. Elephant Trekking

Selain aktivitas memandikan gajah, kamu bisa juga trekking dengan gajah ke dalam hutan. Di tempat ini gajah diajak dan digunakan sebagai tim patroli hutan Tangkahan. Jadi sembari berjalan-jalan bersama gajah kamu bisa menikmati hutan hujan Tangkahan. Harga paket ini sekitar Rp. 650.000 untuk turis asing dan Rp. 550.000-Rp. 600.000 untuk turis lokal. Lamanya trekking ke dalam hutan sekitar 3 jam.

Saya bahagia menemukan mata bahagia gajah-gajah di tempat ini.
Saya bahagia menemukan mata bahagia gajah-gajah di tempat ini.

 

Persaudaraan gajah
Persaudaraan gajah

 

12. Tubbing

Menyusuri aliran sungai sambil duduk santai dengan pantat menempel pada ban-ban bekas sementara kaki menjuntai menekuk menyentuh air yang dingin, mata menegadah menatap langit yang jernih, udara segar, dan punggung terkena air dingin. Kalian pasti bisa membayangkan kenikmatan bersantai seperti ini.  Menyusuri Sei Buluh, kita terbawa arus… Bersama pemandu lokal yang berpengalaman, kegiatan ini dipastikan aman, bahkan untuk yang tidak terlalu pandai berenang.

Kami terbawa arus dan menikmati duduk santai di atas ban bekas yang sudah dirajut menjadi perahu.
Kami terbawa arus dan menikmati duduk santai di atas ban bekas yang sudah dirajut menjadi perahu. Foto selfie ini…

13. Pantai Kupu-kupu

Ratusan kupu-kupu? Iya… ratusan kupu-kupu berterbangan di pinggiran sungai ini. Tapi itu kalau kamu beruntung. Tidak selalu alias musiman. Katanya sih sekitar bulan Januari-Februari yang paling ramai kupu-kupu. Karena alasan itulah, tempat ini dinamai Sungai Kupu-kupu. Sayangnya beberapa kali ke sini saya belum pernah menemukan kupu-kupu sangat banyak, sebanyak itu. Sungai kupu-kupu sudah masuk ke dalam paket trekking dua jam. Nah kalau tak ingin trekking, Sungai Kupu-kupu tidak terlalu sulit dijangkau kok.

Sungai kupu-kupu
Sungai kupu-kupu

 14. Air Terjun Gelugur

Semoga Jaka Tarup tidak datang dan mencuri selendang ketiga bidadari ini. :p
Semoga Jaka Tarup tidak datang dan mencuri selendang ketiga bidadari ini. :p

Air terjun cantik ini hanya bisa ditemukan kalau kamu melakukan tubbing menyusuri sungai. Air Terjun Gelugur adalah salah satu spot pemberhentian untuk menikmati air segar dan mengagumi keajaiban bentukan bebatuan yang ada di sekitar air terjun. Begitu berhenti dan turun dari perahu ban, kita akan berjalan melewati arus kecil yang mirip dengan muara sungai, sedikit lunak tanahnya, berpasir dan sepertinya tidak menjanjikan sesuatu yang berharga. Tapi tunggu sampai kamu mendengar suara air terjun dan melihat batuan sedimen memanjang yang menjadi pijakan menuju air terjun dan laguna kecil yang dibentuknya. Batuan sediman tersebut seperti teras dari semen yang sengaja dibangun. Warnanya abu gelap dan bermotif seperti kulit buaya. Sangat memberi kesan menarik. Pun air terjunnya yang melebar bukan meninggi sehingga seperti membentuk tirai. Cantik sekali. Airnya pun sangat jernih. Lagunanya juga tidak terlalu dalam. Aman dan nyaman untuk berenang-renang santai bersama teman-teman. Seperti sebuah kolam renang di dalam hutan.

Batuan sedimen yang terbentuk di sekitar sungai dan Air Terjun Gelugur. Motifnya seperti kulit buaya tapi berwarna abu gelap.
Batuan sedimen yang terbentuk di sekitar sungai dan Air Terjun Gelugur. Motifnya seperti kulit buaya tapi berwarna abu gelap.

 

15. Hot Spring

Berada di gugusan Bukit Barisan, tak heran kalau ada banyak tempat yang memiliki kandungan belerang atau air panas atau panas bumi di seputaran Sumatra, khususnya Sumatra Utara. Pun di Tangkahan, ada spot tertentu di aliran sungai yang mengeluarkan air panas. Panasnya hangat-hangat kuku karena bercampur dengan aliran air dingin.  Agak sulit memang untuk berenang ke tepiannya dan mendekat ke sumber air panasnya karena arus sungai menuju ke sana cukup deras. Kecuali untuk yang mahir sekali berenang.

Abang bule duduk sendirian di pinggiran sungai berair hangat.
Abang bule duduk sendirian di pinggiran sungai berair hangat.

Sudah cukup ‘kan alasan untuk berlibur ke Tangkahan?

A Sweet Surprise From Georgetown

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Foto oleh Tim Kemanaaja

Pikiran acak tentang Pulau Pinang atau yang lebih dikenal dengan Penang terlintas di kepala saya beberapa saat setelah saya melihat e-mail penawaran tiket murah dari airlines yang sudah menjadi langganan saya untuk bepergian dengan biaya yang murah. Iseng mengecek harga tiket, saya malah tergiur untuk menyambangi kota kecil ini. Bukan untuk berobat, tapi untuk menuntaskan rasa penasaran.

Bicara soal Penang, tidak bisa dipungkiri bahwa mindset orang tentang kota ini adalah tentang orang sakit dan pengobatan. In my sotoy opinion, Penang jarang masuk dalam bucketlist untuk tujuan wisata orang kebanyakan. Katakanlah saya satu dari kebanyakan orang itu. Tapi, siapa sangka, Penang malah memberi saya kejutan manis.

Inilah Georgetown, sebagian kecil Penang yang penuh kejutan itu.

Deretan toko dengan arsitektur tempo dulu di sekitaran Georgetown.
Deretan toko dengan arsitektur tempo dulu di sekitaran Georgetown.

Merayakan warisan leluhur di Georgetown World Heritage Site Celebration

Satu dari beberapa hal yang mengejutkan saya dan teman-teman adalah acara Georgetown World Heritage Site Celebration yang saya baru tahu beberapa hari sebelum kami terbang ke Penang. Ya, perayaan warisan. Setelah saya mencari tahu, perayaan ini hanya terjadi setahun sekali sebagai bentuk rasa bangga orang-orang di Penang atas pengukuhan Georgetown sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO pada tanggal 7 Juli tahun 2008.

Hiasan pada World Heritage Site Celebration di Canon Square, Georgetown.
Hiasan pada World Heritage Site Celebration di Canon Square, Georgetown.

Perayaan ini rutin diadakan setiap tahun setiap tanggal 6 – 7 Juli. Pada tanggal ini, biasanya beberapa Museum atau tempat-tempat bersejarah yang biasanya mengharuskan kita membayar sejumlah tarif masuk, akan membebaskan kita dari biaya-biaya itu khusus selama perayaan warisan. Seluruh penjuru Georgetown akan menjadi warna-warni oleh hiasan-hiasan yang telah disiapkan oleh panitia. Saya dan teman-teman berdecak kagum dan saya sendiri sempat merinding karena totalitas orang-orang Penang dalam menyambut perayaan ini. Jika kalian masih mengira bahwa Penang masih tentang orang berobat, kalian harus mengunjungi Georgetown.

Salah satu gapura Perayaan Warisan di salah satu perempatan jalan di Georgetown.
Salah satu gapura Perayaan Warisan di salah satu perempatan jalan di Georgetown.
Kegiatan menganyam bambu pada World Heritage Site Celebration, Georgetown.
Kegiatan menganyam bambu pada World Heritage Site Celebration, Georgetown.
An Artsy and Walkable Place

Teriknya matahari tidak menyurutkan niat saya dan teman-teman untuk mengitari Georgetown dengan berjalan kaki. Georgetown adalah wilayah yang bersahabat bagi pejalan kaki. Trotoar yang bagus dan bersih serta deretan pertokoan dengan arsitektur yang khas tahun 1800-an memanjakan kaki dan mata. Meski bentuk bangunan yang terkesan sama, tapi setiap sudutnya menceritakan sejarah yang berbeda. Kota ini seperti sedang bercerita tentangan keanggunannya di masa lampau.

Mesjid Kapitan Keling
Mesjid Kapitan Keling, salah satu dari banyak bangunan hasil Akulturasi budaya yang masih kokoh hingga sekarang.

Satu hal yang membuat saya kagum dengan kota ini adalah ketelatenan orang-orangnya dalam menjaga bangunan-bangunan yang berusia ratusan tahun ini. Beberapa bangunan baru dibangun tanpa merusak arsitektur yang lama. Mereka tetap mempertahankan dan berusaha untuk membuat bangunan baru mirip dengan arsitektur bangunan yang lama. Bahkan beberapa sisi bangunan yang sudah mulai rapuh tetap kelihatan artsy dengan gambar-gambar yang sengaja dibuat untuk mempertahankan keindahan bangunan lama itu.

Masih deretan toko yang terjaga arsitektur kunonya.
Masih deretan toko yang terjaga arsitektur kunonya.
Rental sepeda yang banyak ditemui di setiap jalan.
Rental sepeda yang banyak ditemui di setiap jalan. Kalau capek jalan, yuk gowes!
When The Crowd Friends with Peace

Kedamaian itu tidak melulu tentang tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Bagi saya, kedamaian itu tergantung dari masing-masing orang menemukannya. Georgetown memberi saya kedamaian lewat keramaian dan hiruk pikuk kotanya. Lewat orang-orang yang menyapa kami di jalan. Lewat para pedagang street food disepanjang Lebuh Chulia. Lewat orang-orang yang memberi makan burung merpati yang ramai beterbangan di Little India.

Merpati yang banyak beterbangan di Little India.
Merpati yang banyak beterbangan di Little India.

Bagi saya, setiap perjalanan yang saya lakukan memberikan kesenangan dan kedamaian sendiri. Kali ini, Georgetown memberikan kedamaian itu dalam bentuk yang berbeda. Satu hal yang saya ambil dari perjalanan kali ini, memandang sesuatu dari sudut yang berbeda itu akan sangat menyenangkan. Saya bahagia, karena seluruh penjuru Georgetown mengizinkan saya melihat Georgetown dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa Penang bukan sekedar kota untuk berobat dan persinggahan. Georgetown adalah bentuk kecantikan lain dari Malaysia. Inilah sisi damai Malaysia. Inilah Georgetown.

Upacara pemujaan Shri Mariamman.
Upacara pemujaan Shri Mariamman.
Pedagang Jajanan ala India di Little India.
Pedagang Jajanan ala India di Little India.
Getting there

Ada banyak penerbangan langsung ke Penang. Kalian bisa menggunakan penerbangan dengan harga rendah yang tentunya-kalian-sudah-tahu 😀 Untuk bisa sampai ke Georgetown dari Bandara Bayan Lepas kita harus menumpang bus Rapid Penang dengan nomor 403 yang bisa ditunggu di terminal bandara. Dengan hanya membayar RM.2,7,-. Si Rapid Penang ini akan menurunkan kita di Lebuh Armenian. Untuk bisa mencapai pusat keramaian yaitu Love Lane, kita cukup berjalan kaki sekitar 10 menit.

What to do

Jika sedang berada di Penang, sempatkan diri kalian untuk mengunjungi Georgetown dan bangunan-bangunan bersejarahnya. Tidak ada salahnya mengunjungi museum, khususnya bagi pecinta dan penikmat fotografi, Georgetown memiliki Museum Kamera yang pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara. Biaya masuk sekitar RM.20,- untuk umum dan RM.10,- untuk pelajar yang bisa menunjukkan kartu tanda mahasiswa. Jika terlalu malas untuk berjalan kaki, kalian bisa menyewa sepeda yang biasanya banyak terdapat di pinggir jalan atau pertokoan.

When to go

Kapan saja. Kalian bisa mengunjungi Georgetown kapan saja kalian mau. Tapi saya sarankan untuk mengunjungi kota ini di awal Juli sampai akhir Agustus. Akan ada banyak festival dan perayaan lainnya.

Need to try

Jajanan malam di Lebuh Chulia. Akan ada banyak pedagang makanan ringan sampai berat yang mulai berjualan pada pukul 6 Sore. Mulai dari makanan halal sampai non halal semuanya ada. Jangan lewatkan juga kesempatan mencicipi Samosa yang endes di Little India.