Maronan

Teks oleh: Eka Dalanta & Foto oleh: Andi Gultom

 

“Selalu ada yang menarik di pasar tradisional. Kita akan menemukan realitas sehari-hari masyarakat sebuah tempat di sana.”

membersihkan-bawang

 

Saat berlibur di Danau Toba, sebuah jaminan mata Anda akan dimanjakan dengan kecantikan pemandangan alam yang luar biasa. Selain menikmati alam dan budayanya, sangat menarik juga berkunjung ke pasar tradisional di daerah yang Anda tuju di pinggiran Danau Toba.

 

Di desa-desa di pinggiran Danau Toba, pasar tradisional berlangsung sepekan sekali di tiap desa. Masyarakat Batak Toba menyebutnya dengan Onan, artinya hari pasar atau pekan. Tiap-tiap desa punya waktu yang berbeda-beda sehingga bagi para petani yang ingin menjual hasil pertanian atau kebunnya bisa pergi ke desa yang sedang menyelenggarakan onan.

Turun dari kapal membawa hasil pertanian
Turun dari kapal membawa hasil pertanian

Kali ini saya mengajak Anda ke salah satu sisi Danau Toba di Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Balige merupakan kota yang dikunjungi Presiden Jokowi dalam Karnaval Danau Toba yang diadakan baru-baru ini.

Pisang Parapat
Pisang Parapat

Onan Balige diadakan setiap hari Jumat. Pasar tradisional ini sangat ramai dan jauh lebih besar dari onan di beberapa desa lain di seputaran Danau Toba karena Balige merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa. Onan Balige di mulai dari pasar di tengah kota, dan kita akan terus berjalan menerobos keramaian onan menuju pelabuhan. Orang-orang dari berbagai desa yang berdekatan dengan Balige datang membawa hasil pertanian dan peternakan. Para pedagang dan petani juga datang dari desa-desa di Pulau Samosir yang terdekat dengan Balige.

 

Berjalanlah menuju arah pelabuhan. Kita akan melihat riuhnya para petani datang dari berbagai desa menumpang kapal-kapal kayu yang bergerak merapat. Para petani turun membawa aneka hasil bumi untuk dijual dan dibawa pulang kembali setelah menukar (membelanjakannya) dengan aneka kebutuhan pokok lainnya.

Menurunkan Kerbau dari Kapal
Menurunkan Kerbau dari Kapal

Sangat menarik berkeliling dan melihat-lihat di pasar-pasar tradisional seperti di tempat ini. Kita akan menemukan lokalitas yang sangat kental. Pada tutur kata dan bahasa, pada berbagai komoditas hasil bumi yang dijual. Di Balige kita bisa melihat aneka rerempahan khas Batak, seperti andaliman, bawang batak, bawang samosir, dan komoditas khas lokal lainnya. Pisang Parapat misalnya yang hanya bisa kita temukan di daerah di seputaran Danau Toba.

Ikan Mujair Danau Toba
Ikan Mujair Danau Toba

Oh ya saya juga melihat pedagang Raru. Kayu khas untuk membuat minuman tuak yang membuatnya mengalami fermentasi dan menciptakan rasa unik di dalamnya. Juga pedagang kayu pinus. Potongan-potongan kayu pinus biasa digunakan masyarakat di sini sebagai kayu bakar.

Pedagang Raru
Pedagang Raru

Jika sedang berkunjung ke Onan Balige, sempatkanlah pula melihat keunikan Onan Horbo atau pasar kerbau. Letaknya di ujung pelabuhan, ujung dari pasar tradisional di Onan Balige. Di pasar ini, para pedagang kerbau membawa kerbau-kerbau dari berbagai desa menuju Onan Balige dengan menumpang Kapal Kayu. Kapal kayu merupakan alat transportasi utama di Danau Toba. Puluhan kerbau diturunkan dari dalam kapal melalui danau.

Menarik Kerbau Turun
Menarik Kerbau Turun

Saat kapal sudah menepi, satu-persatu kerbau digiring turun melompat ke dalam danau. Kerbau-kerbau melompat lalu berenang menepi. Sebuah pemandangan unik yang tidak biasa.

Kayu Pinus untuk Kayu Bakar
Kayu Pinus untuk Kayu Bakar

Seperti di sini, karakteristik alam, budaya, dan lokalitas terlihat begitu polos. Sebuah alasan untuk saya selalu menyempatkan diri berkeliling dan berkenalan dengan lokalitas di tiap pasar tradisional. (Tulisan ini juga terbit di Majalah Gema Pelabuhan, Pelabuhan Indonesia 1 (Pelindo 1) Edisi Desember 2016)

 

 

 

 

 

 

SERUNYA MENJELAJAH GOA KELELAWAR BUKIT LAWANG

Teks & Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.
Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.

Sebulan yang lalu tim kemanaaja.com mengunjungi Bukit Lawang, Sumatra Utara. Bukit Lawang merupakan gugusan bukit barisan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, Nagroe Aceh Darusalam. Selama di sana, selain bersantai tim kemanaaja.com juga berkesempatan melihat salah satu goa alami yang masih natural dan terjaga keberadaannya, yaitu goa kelelawar (Bat Cave).

Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. :D
Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. 😀
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.

Goa ini dinamakan Goa Kelelawar dikarenakan ribuan koloni kelelawar tinggal di dalamnya, bukan hanya itu, ada juga koloni kecil burung walet atau burung layang-layang yang menempati bagian ujung goa. Stalaktit runcing mengerucut dari langit-langit goa, menajam lancip seakan menusuk bumi. Dinding goa berasa bagai padang lumut hijau yang menurun vertikal menuju dasar goa. Lembab dan dingin. Bebatuan alami berumur ratusan tahun terpahat alami di dalam goa. Langit-langit indah dengan pemandangan ribuan kelelawar bergelantungan menikmati istirahat siang menunggu malam datang dan memulai perburuan sebagai hewan nocturnal.

Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.
Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.

 

Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.
Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.

Banyaknya kelelawar yang terdapat dalam goa ini menandakan bahwa tidak ada perburuan besar-besaran oleh masyarakat setempat. Seperti yang kita ketahui bahwa kelelawar merupakan salah satu hewan yang banyak diperjualbelikan selama ini. Kondisi ini berdampak langsung kepada fungsi dan peran kelelawar dalam ekosistem, yaitu sebagai perantara penyerbukan bunga dari banyak buah-buahan yang ada di hutan. Itulah sebabnya pepohonan buah yang ada di sekitaran Bukit Lawang dapat berbuah rutin, banyak dan enak, salah satunya adalah durian.

Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.
Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.

Untuk dapat mengakses goa kelelawar anda harus menuju Bukit Lawang terlebih dahulu. Dimulai dari Medan melalui terminal Pinang Baris, menaiki bus atau kendaraan mini bus yang banyak terdapat di sana. Perjalanan kurang lebih dua sampai tiga jam dari terminal Pinang Baris anda akan sampai di Bukit Lawang. Pada umumnya petugas penginapan tempat anda menginap pasti mengetahui keberadaan goa kelelawar, tanyalah mereka dan minta untuk menemani anda.

Psst... ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Psst… ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.

Ongkos Pinang Baris-Bukit Lawang Rp. 25.000/orang

Upah untuk pemandu Rp. 100.000/orang termasuk makan siang dan bersantai di Sungai Landak (berdasarkan pengalaman kemanaaja.com tahun 2015)

 Tarif pengingapan Rp 100.000-150.000/malam.

Juga terdapat penginapan dengan tarif di atas 150.000

Bukit Lawang, Wisata Alam Tanpa Bosan

Teks & Foto oleh Johan Wibawa @johanwibawa

Editor Eka Dalanta @ekadalanta

IMG_4506
Saya dan kawan-kawan tim jalan-jalan ke Bukit Lawang

Menjelajahi satu tempat wisata yang sama berulang-ulang, biasanya akan membuat seseorang bosan karena aktivitas yang dilakukan di sana pasti itu-lagi-itu-lagi. Apalagi kalau untuk mencapai lokasi tersebut mesti merasakan capek terlebih dahulu. Lain ceritanya kalau jalan-jalan ke Bukit Lawang. Saya selalu suka liburan ke tempat ini.

Lokasi wisata ini terletak di kecamatan Bahorok, kabupaten Langkat, Sumatera Utara – lebih kurang 3 jam perjalanan non-stop dari Kota Medan karena jalanannya di beberapa titik masih belum teraspal dengan baik – dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser yang membentang luas sampai provinsi Aceh. Sudah beberapa kali saya ke sini, pertama kali pada malam tahun baru (2009 ke 2010) tapi saya tidak pernah bosan. Justru masih banyak sekali to-do-list yang mau saya lakukan di tempat ini pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

*Membungkuk 90 derajat* Saya sangat berterima kasih pada Regina Frey dan Monica Buerner, dua orang Zoologist berkebangsaan Swiss, yang pertama kali membangun Pusat Rehabilitasi bagi Orang Utan pada tahun 1973 di tempat ini. Keberadaan pusat rehabilitasi itu membuat Bukit Lawang menarik perhatian, ibaratnya anak gadis yang sudah belajar berbandan. Semakin banyak pulalah para peneliti mancanegara datang. Begitupun wisatawan domestik juga.

IMG_4427
Selamat datang di Bukit Lawang

Meski pernah dilanda banjir bandang pada akhir tahun 2003 yang menelan ratusan korban jiwa, Bukit Lawang lalu memerbaiki diri dan makin maju daripada sebelumnya. Bahkan sekarang Bukit Lawang sudah menjadi salah satu bagian dari UNESCO World Heritage Site! FYI, Indonesia punya 8 warisan yang masuk ke dalam warisan dunia.

Trekking masuk ke dalam hutan adalah kegiatan wajib setiap saya datang ke sini. Mungkin nggak berlebihan kalau ada yang bilang, “Loe belum sah ke Bukit Lawang kalau nggak trekking!” Memang inilah tourist attraction-nya yang paling utama. Jalan santai masuk hutan, menikmati udara segar hutan tropis, dan bertemu dengan primadonanya, Orangutan!

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ke sana lagi bersama rombongan besar, 30 orang! Biasanya saya berwisata hanya dengan jumlah orang yang masih bisa dihitung jari tangan, dan memang lebih sukanya begitu. Lebih gampang jalan dan nggak banyak maunya. Tapi syukurlah, kali ini semuanya tetap berjalan lancar, dan to be honest, we still had so much fun!

IMG_4488
Akhirnya saya bertemu dengan orangutan. Jaga jarak dengan orangutan ya. Memberi makan orangutan juga sebenarnya tidak disarankan karena orangutan dewasa harus mandiri mencari makanannya. Memberi makan juga cenderung membawa mereka keluar dari hutan. Kecuali Orangutan di penangkaran.

Untuk bisa menjelajahi hutan di sini diwajibkan menggunakan jasa guide atau ranger. Biayanya variatif, tergantung apakah kamu adalah wisatawan mancanegara atau domestik, tergantung apa saja yang mau kamu kunjungi/lakukan di dalam hutan, dan yang paling penting, tergantung juga kemampuan negosiasi kamu. Ranger yang mendampingi kami berpetualang kali ini namanya Heru – tubuhnya bidang, berkulit agak gelap, tinggi sekitar 160-an cm, wajah kotak, dan dia cukup humoris sehingga perjalanan selama di dalam hutan menjadi lebih hidup. “Bang Heru, di dalam hutan banyak nyamuk nggak?” Salah satu teman saya iseng bertanya, yang dengan santai langsung dijawab ranger kami itu, “Nggak banyak kok dek. Nyamuk di Bukit Lawang cuma satu, tapi temennya yang banyak!”

Petualangan kali ini saya dan rombongan memilih jalur panjang dengan catatan WAJIB jumpa beberapa orangutan selama perjalanan tersebut, lalu diakhiri dengan Tubing (semacam arung jeram, tapi kita hanya duduk SANTAI di dalam ban karet besar berwarna hitam yang sudah didesain dan disatukan sedemikian rupa, tugas Rangers yang duduk di paling depan dan paling belakang yang menyupirinya dengan tongkat bambu) di Sungai Bahorok yang merupakan anak Sungai Wampu!

Setelah semua personil selesai melakukan persiapan masing-masing, petualangan kami pada pagi jam 10 itu pun dimulai, dengan Hotel Rindu Alam sebagai starting point-nya. Semuanya sangat bersemangat melangkahkan kakinya pagi itu. Kamera pun tidak henti-hentinya jeprat-jepret bernarsis ria di jembatan, di jalan setapak yang diapit pohon karet, dan bahkan di depan sebuah kerangka restoran yang masih dalam tahap pembangunan. Namun napas kami mulai ngos-ngosan saat jalurnya mulai mendaki, padahal saat itu belum juga tiba di pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser! Memang tipikal orang yang terlalu lama hidup di kota, apalagi malas olahraga, gampang lelahnya. Ah… benar-benar Kampungan sekali Orang Kota ini. Hahahaha!!!

Sesungguhnya berjumpa orang utan di dalam hutan ini tergantung faktor peruntungan, sama seperti untung-untungan mendapatkan cuaca cerah saat tiba di puncak gunung. Alasannya karena mereka semua memang telah dibiarkan untuk hidup liar di hutan, dan jumlahnya juga semakin menyusut dari tahun ke tahun. Pertama kali saya trekking pada akhir tahun 2009, saya bahkan tidak berjumpa satu ekor orang utan pun. Sebagai gantinya, kami diajak ke penangkarannya untuk melihat satu orang utan yang dikandangkan karena sedang dirawat.

Tapi dalam kunjungan-kunjungan saya yang selanjutnya, akhirnya dewi fortuna sudah mulai berpihak. Minimal 3 orang utan dijumpai dalam sekali trekking, dan kadang-kadang juga jumpa dengan Thomas Leaf Monkey (monyet yang rambutnya model Mohawk). Momen paling ‘beruntung’ yang pernah saya alami adalah ketika lagi terduduk santai di tanah datar yang agak bersih karena merupakan sarang Burung Merak, terus tiba-tiba disamperin Minah (Orang utan yang paling diantisipasi karena paling agresif di Bukit Lawang dan telah dinobatkan sebagai the Queen and Legend of the Jungle. Ada bekas satu luka di dekat matanya)! Tapi tidak perlu khawatir atau panik bila hal ini terjadi karena kita selalu dikawal ranger yang berpengalaman. Mereka biasanya akan melemparkan magic item (pisang) ke arah orang utan untuk memperlambat langkah mereka, sambil melontarkan magic spell ke arahmu (LARIIIIII ke tempat yang lebih tinggi!).

Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.
Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.

Saat berjumpa dengan orangutan sebaiknya agak berhati-hati, apalagi kalau jumpanya dengan orang utan bernama Minah tadi. Ranger kami pun selalu bergerak hati-hati ketika mendengar suara daun-daun yang saling bergesekkan. “Agak mundur, agak mundur,” ucapnya pelan ke rombongan sebelum benar-benar memastikan siapa orang utan tersebut karena memang tidak semua orang utanbisa diajak ‘gaul’ (Salut dengan para rangers Bukit Lawang karena mereka bisa mengenali orang utan – orang utan yang ada di sana, padahal sekilas semuanya terlihat sama saja; bergelantungan, berkaki dan bertangan panjang, berwajah keriput hitam, dan berbulu oranye). Sekadar ngasih tahu, Orangutan dewasa 4x lebih kuat daripada Ade Rai. *Blink!

Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat berjumpa dengan orang utan di sana. Pastikan tidak ada plastik kresek di tangan, dan jangan pernah membuka resleting celana… eh, salah ketik. Maksudnya resleting tas, karena bagi mereka akan dianggap tas yang dibuka tersebut isinya adalah makanan! “Apa bedanya orangutan Sumatra dengan orangutan Kalimantan?” tanya Heru saat kami semua sedang beristirahat melepas lelah di tengah hutan. Teman-teman saya menjawab dengan jawaban-jawaban gokil karena mengira dia sedang berusaha buat lelucon lagi. Ternyata tidak, jawabannya kali ini serius, “Pongo Abelii, Orang utan Sumatra itu beraktifitasnya di pohon-pohon, jarang ada yang jalan santai di tanah kayak manusia. Kalau yang di Kalimantan, Pongo Pygmaeus, justru sebaliknya.”

Pertanyaan lagi, “Kenapa bisa begitu?” dan ternyata jawabannya serius lagi, karena di hutan Sumatra ada predator yang bernama Harimau Sumatra dan Beruang! Makanya orangutan di Bukit Lawang agak segan untuk menyentuh tanah. Ooo….

Ya, memang ada hewan buas juga di hutan ini! Tapi berdasarkan penuturan Heru, hewan-hewan tersebut biasanya hanya mangkal di pedalamaaaaaan hutan. Jadi kalau trekking-nya hanya jalur enam jam seperti yang kami tempuh, paling ‘beruntung’ kita cuma bisa bertemu jejak-jejak mereka: bekas cakar beruang di pohon-pohon, dan jejak kaki harimau.

IMG_4443
Lagi, foto rame-rame biar berasa serunya

Setelah bercapek-capek ria berjalan di dalam hutan yang jalurnya naik-turun naik-turun selama kurang lebih empat jam, akhirnya kami bisa bernapas lega saat tiba di pinggir Sungai Bahorok. Sambil menunggu ranger kami mempersiapkan ban untuk Tubing, kami semua buru-buru bergaul dengan air sungai, ada yang menyeburkan diri, ada juga yang hanya sekadar mencelup-celupkan kaki sambil menikmati pemandangan arus sungai yang dikelilingi pepohonan rindang. Tarik napas dalam-dalam! Suasana menyegarkan seperti ini memang sangat sayang untuk tidak dinikmati dengan senikmat-nikmatnya.

IMG_4501
Tubbing di Sei Bahorok bikin lelah hilang lho.

Ending perjalanan kali ini memang merupakan pengalaman yang sama sekali baru bagi saya, tapi terasa sedikit antiklimaks (bagi saya). Duduk santai di atas ban yang bergerak mengikuti arus sungai dan disupiri ranger berpengalaman, sambil menikmati pemandangan hijau bukit pepohonan di kiri-kanan, rasanya memang benar-benar sangat nyaman. Ketika melewati arus yang kencang atau spot yang agak bebatuan sekalipun, kita tetap bisa menikmati kedamaian tersebut. Hanya saja, duduk terlalu lama di sana membuat saya agak bosan (mungkin karena saya tipe yang ingin lebih banyak bergerak saat berlibur seperti ini). Biasanya perjalanan tubing akan berakhir tepat di starting point tadi, Hotel Rindu Alam, namun kali ini rombongan memilih untuk tubing lebih jauuuuuuuh melewati starting point tadi. Alhasil, kami menghabiskan ekstra satu jam untuk tubing di sepanjang Sungai Bahorok tersebut, dan harus menumpang angkot untuk kembali ke Hotel Rindu Alam.

Well, meski antiklimaks, tidak berarti saya sudah kapok dengan destinasi yang satu ini. To-do-list saya selanjutnya di sini, saya ingin coba camping di dalam hutannya dengan harapan bisa kenalan dengan hewan lain yang lebih liar daripada Orang Utan. Anyone?

*Selain Treking, Tubing, dan Camping, sebenarnya masih ada beberapa aktifitas lain yang bisa menjadi alternatif: Swimming di sungai, Ceplak-Cepluking di pinggir sungai, dan Caving (masuk goa gelap untuk menonton kelelawar tidur. FYI, ada tiga buah goa di dekat sana).

*Pssttt… Pasak bumi tumbuh liar di dalam hutan ini.

Experience Mikie Holiday, Tak Sekedar Berakhir Pekan

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh / Photo by : Eka Dalanta @ekarehulin

Yang hijau-hijau dan udara sejuk sudah sangat sulit kita dapatkan di perkotaan. Tapi, untuk mendapatkan hal seperti itu tidaklah sulit. Berjarak 60 Km dari kota Medan dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kita bisa menemukan pepohonan hijau, merasakan udara yang sejuk dan bersih, serta wahana bermain yang seru.

Bagi sebagian warga kota kekinian seperti saya ini (ehem) mencari tempat bermain di akhir pekan rasanya menjadi kegiatan paling menyenangkan. Iya menyenangkan karena akhir pekan adalah saat dimana kita keluar dari rutinitas yang begitu penat. Sekalipun kita mencintai pekerjaan, tetap saja yang namanya bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya akan menimbulkan sedikit kebosanan. Solusinya adalah jalan-jalan. Jalan-jalan kemana? Kan di kota yang ada mall lagi mall lagi. Mau cari yang hijau-hijau aja sulit. Semua udah disulap gedung-gedung tinggi berudara dingin buatan.

Pemandangan dari puncak Mikie Funland.
Pemandangan dari puncak Mikie Funland.

Berlokasi di dataran tinggi tanah Karo, Mikie Holiday bukan sekedar resort. Lebih dari sekedar itu, tempat ini menawarkan keramaian juga ketenangan dalam suatu waktu. Saya dan teman-teman senang bisa diberi kesempatan untuk mengunjungi hotel, resort, dan taman bermain terbesar di Sumatera Utara ini.

Saya dan teman-teman benar-benar mengapresiasi keramahan dan sambutan dari Mikie Holiday. Mr.Desmond Rozario selaku General Manager dari Mikie Holiday menyapa kami dengan hangat. Rasanya senang sekali bisa terlibat percakapan hangat dengan beliau dan Pak Deliasa Zalukhu selaku Director of Sales. Memang, belakangan mereka merasa pengunjung sedikit khawatir untuk datang ke Berastagi karena debu dari erupsi Sinabung. Tapi, tenang saja. Mikie Holiday aman untuk didatangi. Jaraknya dengan Sinabung cukup jauh. Kira-kira 2 jam perjalanan.

Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.
Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.

Dibantu dengan seorang staff, kami diajak tour keliling Mikie Holiday Resort. Dari Pak Zalukhu, kami mengetahui bahwa Mikie Holiday memiliki lebih dari 100 kamar dimana terdapat beberapa kamar yang di design khusus seperti kamar ala Prancis, Thailand, Jepang, dan China. Masing-masing 1 unit dan interior dibuat menyerupai suasana kamar dari negara asalnya. Hayoo, kapan lagi bisa menginap di kamar ala Prancis?

Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. :D
Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. 😀
Rose Room.
Rose Room.
Deluxe room.
Deluxe room.

Selain itu, terdapat kolam renang bagi yang ingin berenang di cuaca dingin. Ketika saya bertanya kepada Pak Zalukhu mengapa air kolam renangnya tidak diganti dengan air hangat, beliau malah menjawab “Air panas kan sudah biasa, di Lau debuk-debuk juga ada. Sesekali berenang di air bersuhu normal di cuaca dingin kan biar beda.” Kami dan tim pun sedikit terkekeh.

SAMSUNG CSC
Oriental room
Toiletries
Toiletries

Setelah berkeliling dan melihat interior ruangan, kami diberi kesempatan untuk bermain di Mikie Funland. Lokasinya berada tepat disebelah resort. Untuk masuk kedalam Funland, kita memerlukan satu kartu yang bisa dibeli di counter penjualan. Kartu ini merupakan akses masuk dan kita dapat menikmati seluruh wahana dengan hanya membayar sekali didepan. Keren kan? Main deh sampai kenyang dan puyeng.

Ada beberapa wahana yang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Yaitu Tsunami. Bagi yang doyan muter-muter dan terombang-ambing, dipersilakan mencoba wahana ini. Dan beberapa wahana lain seperti Dino vs Dino, Volcano, Jelly Swing, Bon Voyage dan masih banyak lagi. Saya sih cukup mencoba Pterosaurus, Dino Tracker, dan sedikit berbasah-basah ria dengan The Falls.

SAMSUNG CSC
Basah-basahan di The Falls.
Diuntang-anting The Wave.
Diuntang-anting The Wave.
Naik Pterosaurus dulu ya.
Naik Pterosaurus dulu ya.

Beberapa hal yang membuat saya tidak bosan ke Mikie Funland adalah mereka memiliki banyak wahana yang jika dicobai dalam suatu waktu tidak mungkin keburu. Mengapa? Satu. Saya belum siap terombang-ambing. Kedua, nyali saya tidak cukup kuat untuk wahana mencekam tadi. Overall, Mikie Holiday Resort & Funland worth to go! Saran saya, sebaiknya pergi di hari sabtu. Menginap semalam di Mikie Holiday dan hari minggunya seseruan di Mikie Funland.

So, are you still have another reason not to go to this cool place? Informasi lebih lanjut monggo mampir disini

Tim hore-hore Mikie Holiday.
Tim hore-hore Mikie Holiday.

What to do

Jika kalian berencan untuk berlibur bersama keluarga dan menginap. Datanglah pada akhir pekan. Pilih Family room yang view-nya mengarah ke kolam renang. Juga jangan lewatkan bermain di Mikie Funland. Bagi yang bernyali tinggi disarankan untuk mencoba wahana ektrimnya seperti Dino vs Dino, T-Rex atau bisa jadi Tsunami.

What to bring

Topi dan kalau perlu sunblock. Pada siang hari matahari begitu terik. Sedia juga jas hujan atau payung karena sewaktu-waktu bisa hujan dan cuaca tidak bisa ditebak.

 

Icip-icip Enak di Labuhan Batu

Teks & Foto oleh Eka Dalanta @ekadalanta

Ada banyak makanan enak di Labuhan Batu
Roti Bakar Akur
Roti Bakar Akur

Teman saya bilang, Labuhan Batu adalah salah satu kabupaten yang paling sejahtera di Sumatera Utara. Penghasilan masyarakatnya cukup besar apalagi dengan kekayaan perkebunan mereka. Masyarakatnya juga cukup royal belanja dan terbiasa makan malam di luar rumah. Begitu cerita beberapa teman. Alhasil, kota Rantau Parapat yang merupakan ibukota kabupatennya tidak cepat menjadi sepi di malam hari. Banyak pilihan jajanan dan aneka makanan enak di sana. Setengah meragukan, saya mengeksplorasi dan menemukan beberapa kuliner enak yang sempat saya kunjungi di beberapa hari perjalanan dinas. Dan karena sedang dalam rangka bekerja, waktu untuk mencoba kulinernya adalah menyempatkan diri saat pekerjaan sudah selesai. Kegiatan mencicip makanan enak di Rantau Parapat bermodal tanya-tanya teman yang sudah sering ke sana, tanya teman yang adalah orang lokal dan tanya teman di social media yang tinggal di Rantau Parapat atau tau tentang Rantau Parapat. Beberapa merekomendasi makanan enak seperti Roti Bakar Akur, Holat, Miesop Miekel, dan Ikan Asam Baung. Waduh buset banyak juga ternyata. Hehehe Sementara waktu saya di perjalanan kali ini sangat terbatas. Oke, sebatas bisa dicicip deh.

Makan malam pertama, teman-teman mengajak makan miesop yang katanya paling enak di Rantau Parapat versi orang lokal, artinya rekomendasinya terjamin. Mereka menyebutnya Miesop Daster, sebenarnya itu bukan nama asli warung miesopnya sih. Tapi karena kebiasaan si ibu dan seluruh pegawainya yang berjualan dengan daster jadilah orang-orang menyebutnya Miesop Daster. Ajaib memang. Saya awalnya tidak ngeh juga sampai teman-teman menceritakannya. Dan nggak tau juga itu disengaja atau nggak sebagai branding. Warung Miesop ini nama aslinya Warung Miesop Bu Ilam. Lokasinya tidak jauh dari Suzuya Plaza. Yang istimewa dari miesop ini rasa kuahnya sederhana, tidak berasa vetsin, tidak berlemak dan… segar!!! Saya suka dengan rasanya, seperti mencicip rasa miesop kampung dari masa kanak-kanak saya. Sate kerangnya juga menjadi andalan di sini. Berhubung saya tidak penggila sate kerang ya saya jadi tidak terlalu memburu. Yang paling bikin saya takjub adalah es timun serutnya. Rasanya segar dengan harga seribu rupiah. Bayangkan, seribu rupiah. Di belahan bumi mana harga minuman seribu rupiah. Saya senang sekali meneguknya. Sayangnya karena sudah malam saya tidak sempat meng-capture foto miesopnya.

Warung Miesop Mikel yang terkenal itu
Warung Miesop Mikel yang terkenal itu

Masih tentang miesop, miesop lain yang saya cicip juga adalah Miesop Mikel. Kepanjangan dari Miesop Keluarga. Lokasinya? Di Jalan K.H. Dewantara. Hahahah saya kurang hapal, saya hanya ikut saja dengan teman yang sudah sering ke sana. Miesop satu ini cukup famous, kalau tanya orang lokal pasti gampang untuk menemukannya. Miesop di tempat ini juga mantap rasanya. Segar. Mengingatkan miesop kampung dari masa kecil yang bikin kita ketagihan. Sate kerangnya juga menjadi andalan di sini. Miesop keluarga ini lebih ramai ketimbang Miesop Bu Ilam. Tempatnya juga lebih luas.

Kuah Miesop Mikel yang bening... Kayak kamuh... :P
Kuah Miesop Mikel yang bening… Kayak kamuh… 😛
Sate kerang nikmat Mikel. Enyak... enyak....
Sate kerang nikmat Mikel. Enyak… enyak….

Selanjutnya saya menikmati makan siang Ikan Asam Baung. Ikan asam baung ini agak mirip dengan ikan gabus bentuknya. Daging ikannya lembut. Dimasak dengan kuah asam membuat rasanya segar. Yang kami makan katanya salah satu yang terenak. Tidak terlalu mahal dan ramai pengunjung. Lokasinya berada di kantin kantor salah satu dinas pemerintahan di Rantau Parapat. Kami diajak makan oleh Bapak Wakil Bupati yang adalah teman baik bos saya. Menu makan siang lainnya yang mungkin harus dicoba lain kali adalah Holat. Saya tidak sempat mencoba kali ini walaupun sudah mendapat tawaran makan siang dengan holat. Holat adalah makanan khas Tapanuli Selatan yang dulu dikhususkan untuk para raja. Kamu bisa menemukan holat dengan mudah. Banyak rumah makan yang khusus menjual holat di Rantau Parapat dan selalu ramai terutama pada jam makan siang. Holat terbuat dari kayu Balakka, sejenis tanaman hutan yang dikupas kulitny lalu dicampur dengan pakat atau rotam muda serta ikan mas bakar. Tentang rasanya? Saya belum bisa cerita dong…

Ikan Asam Baung.
Ikan Asam Baung.

Dalam perjalanan pulang, kami singgah di Kedai Kopi Akur. Selain kopinya yang terkenal di Rantau Parapat, roti bakarnya juga sangat direkomendasi oleh teman-teman yang saya tanya melalui social media. Dan memang benar…. Kedai kopi Tionghoa yang sudah sangat lama ini memang menyajikan roti bakar yang endes banget. Selai serikayanya maknyus. Sepotong besar yang dibagi tiga harganya cuma Rp. 8000. Kopi susunya juga bikin mata melek dalam perjalanan pulang. Ajib deh.

Mengintip roti yang sedang dibakar.
Mengintip roti yang sedang dibakar.
Kental selai serikayanya sempurna.
Kental selai serikayanya sempurna.

Satu lagi cicipan menarik dalam perjalanan pulang. Siapa sangka di antara perkebunan karet, di teras sebuah masjid di daerah perkebunan Sei Dadap ada penjual jus pinang yang rasanya sedap sekali. Jus pinang dicampur susu yang rasanya lemak dan bikin ‘pusing’ kata bos saya. Pusing sekaligus panas yang sulit dijelaskan. Hehehe… selamat mencoba cicip-cicip enak di Rantau Parapat.

Jus pinang nikmat di antara perkebunan
Jus pinang nikmat di antara perkebunan

Jejak Siar Islam di Barus

Teks dan Foto dari Majalah Dunia Melancong @duniamelancong (Konten tulisan ini juga terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015) 

Barus dahulu dikenal sebagai salah satu bandar atau pelabuhan perdagangan terbesar dan teramai di dunia sehingga membuka pintu masuk agama Islam pertama kalinya di Indonesia. Beberapa jejak siar Islam di kota tua ini masih bisa dilihat hingga saat ini, menjadi destinasi wisata religi bagi para peziarah.

Kota Barus terkenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Indonesia. Sejumlah literatur mengatakan bahwa di kota pesisir barat Sumatera Utara inilah awal mula masuknya agama Islam di Indonesia. Di Barus hingga kini masih bertahan makam para syekh yang berjasa menyebarkan agama Islam di Barus. Di antaranya, Makam Mahligai di Desa Dakka, dimana dimakamkan Syekh Rukkunuddin yang diperkirakan berusia 102 tahun dan wafat di tahun 48 Hijriyah. Selain Syekh Rukkunuddin, terdapat ratusan makam lainnya, yang diyakini adalah makam para pengikut-pengikutnya.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Tiba di gerbang Makam Mahligai, akan terlihat ratusan nisan di atas tanah seluas setengah hektar yang diukir bergaya arab. Beberapa di antaranya diukir lengkap dengan lafal-lafal Islam berbahasa arab kuno. Sementara sebagian lainnya, hanya merupakan nisan batu biasa berbentuk bulat lonjong, namun tetap terkesan kuno.

Untuk masuk ke dalam makam, pengunjung tidak dipatok tarif masuk, hanya jika ingin bersedekah atau ber-infaq untuk biaya perawatan makam disediakan kotaknya dekat pintu masuk. Kepada pengunjung juga diberi beberapa larangan, di antaranya tidak diperkenankan memakai sepatu atau sendal, tidak boleh duduk di atas makam, serta himbauan untuk tidak meminta kepada arwah, karena meminta hanya kepada Allah SWT.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Komplek Makam Mahligai ini memiliki kontur tanah berbukit dan telah diberikan jalan-jalan setapak untuk memudahkan pengunjung untuk melihat-lihat. Ada sekira 215 makam yang terdapat di dalamnya dengan bentuk dan ukuran nisan yang berbeda. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh tentang sejarah situs sejarah ini di lokasi. Seorang penjaga makam yang juga bertani karet di sekitar makam menjadi sumber informasi oral sembari istirahat di bale dan menyeruput kopi panas.

Macao tua di ketinggian
Macao tua di ketinggian

Berbeda dengan Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi berada di Desa Pananggahan. Jaraknya lebih dekat dari pusat Kecamatan Barus, meski untuk menuju makam tidak semudah menuju makam Mahligai. Pasalnya selain berjalan kaki di jalan setapak sejarak 300 meter, perjalanan kaki kembali harus ditempuh menaiki 700 lebih anak tangga dengan kemiringan 70 derajat.

Tiba di lokasi makam yang berada di 200 meter di atas permukaan laut itu, tersaji pemandangan sawah, lautan dan beberapa pulau di teluk Sibolga yang cantik. Terlihat juga hamparan hutan dan sawah hijau, tak lupa sembari rehat sejenak di bawah pohon di dalam lokasi makam. Jangan lupa, saat masuk ke dalam makam, lepaskan sepatu atau sendal yang dipakai.

Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi
Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi

Di dalam makam seluas sekitar 10×20 meter di puncak bukit itu, akan terlihat makam Syekh Mahmud berukuran panjang lebih kurang 7 meter. Bersebelahan dengan makam Syekh Mahmud, terdapat 5 makam pengikutnya yang tersusun berdekatan. Bagi pengunjung yang membacakan ayat-ayat Alqur’an, di lokasi makam disediakan beberapa Alqur’an mini.

Beberapa pengunjung memiliki kebiasaan tersendiri sebelum meninggalkan makam, yakni mengikatkan kain, plastik atau tali, yang dipercaya sebagai mitos tanda sudah pernah menginjakkan kaki di lokasi spiritual itu. Seperti di lokasi tempat religi manapun terdapat aturan yang harus diikuti oleh pengunjung. Di antaranya tidak berbuat sembarangan, misalnya membuang sampah atau bahkan berfikiran dan bertindak yang senonoh.

Makam tua yang masih sering diziarahi
Makam tua yang masih sering diziarahi

Selain dua makam itu, juga terdapat sejumlah makam syekh lainnya yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Barus. Di antaranya, makam Syekh Tuan Ambar, Syekh Ibrahim Syah, Syekh Mahdum, Syekh Kayu Manang, Syekh Tuan Pinago, Syekh Tuan Kinali dan Syekh Tuan Jantikan. Kami sempat mendatangi makam Syekh Tuan Pinago di tepi sungai Aek Sirahar. Sayang, makam tersebut sudah tergerus abrasi. Sebuah nisan yang diyakini milik Syekh Tuan Pinago diikat di sebatang pohon kelapa agar tidak terbawa arus jika sekali-kali banjir kembali melanda. Sementara makam lainnya sudah tergerus dan dibawa arus sungai.

Makam di tepi sungai Aek Sirahar
Makam di tepi sungai Aek Sirahar

Salah satu makam yang juga rusak adalah makam Syekh Tuan Kinali. Makam yang terletak di Desa Kinali tersebut berada di komplek pemakaman warga. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke sana, hampir tak bisa dikenali sama sekali dimana lokasi makam tokoh penyiar agama tersebut, sebab terhimpit dengan nisan lain dan tidak ada petunjuk. Seorang petani yang tinggal di dekat komplek makam akhirnya menunjukkan nisan Syekh Tuan Kinali, yakni sebuah nisan dengan kain kafan yang menutupi kepala nisannya.

Nisan Syekh Tuan Pinago
Nisan Syekh Tuan Pinago

Sangat disayangkan minimnya perhatian terhadap situs sejarah agama di Kota Barus tersebut. Padahal makam-makam para syekh tersebut menjadi jejak penyiaran Islam di Sumatera yang harus dilestarikan. (*)

Transportasi Umum dan Penginapan//

  1. Sampri rute Medan-Barus selama 12 jam perjalanan
  2. Beberapa penginapan level melati bisa ditemui di Kota Barus dengan tarif Rp100 ribu per malam

Makan Siang Nikmat Nan Elegan di Marriott Café, Medan

Teks & Foto oleh: Eka Dalanta @EkaDalanta

Ada banyak pilihan, silahkan makan dan bersantai sepuasnya.

Dari sekian jadwal makan teratur, ritual makan siang adalah salah satu yang saya paling anggap penting. Lain halnya dengan sarapan pagi yang tidak ingin terlalu kompleks dan repot, atau makan malam yang juga tak ingin berlebihan. Makan siang buat saya berarti makan yang nikmat tanpa perlu banyak mempertimbangkan. Kecuali kebersihan dan kelengkapan kebutuhan gizi makanan.

Salah satu menu yang saya cicip.
Salah satu menu yang saya cicip.

Dari sekian banyak pertimbangan makan siang yang nikmat, Marriot Café Medan menawarkan makan siang yang nikmat sekaligus elegan. Cocok untuk menjamu tamu atau lunch meeting. Oh ya bukan berarti restaurant ini hanya menyajikan makanan untuk makan siang saja ya, Marriot Café juga open untuk breakfast dan makan malam.

Coba juga makanan nikmat dengan kuah kari ini.
Coba juga makanan nikmat dengan kuah kari ini.

Marriot café selain cocok untuk menjamu tamu bisnis, makan siang bersama keluarga juga terasa pas. Suasananya yang tenag dan elegan membuat ritual makan bisa dinikmati dengan santai.

Capcay enak. :D
Capcay enak. 😀
Sushi dengan bentuk yang lucu.
Sushi dengan bentuk yang lucu.

JW Marriott Café menyediakan makanan internasional, perpaduan dari makanan Asian, western, hingga nusantara atau tradisional Indonesia. Saya mencoba sedikit-sedikit, tetapi banyak jenis makanan. Ha-ha-ha. Mulai dari western food, makanan yang terasa India, sushi yang terasa Jepang, dan aneka kue-kue jajanan tradisional Indonesia. Silahkan makan sepuasnya namun secukupnya dan manjakan ‘perut’ kolega Anda untuk mengakrabkan ikatan kerja. Dan… percayalah, ketika mulut terbuka, maka banyak kesempatan bisnis yang juga ikut terbuka. Hi-hi-hi…

Aneka kue tradisional Indonesia.
Aneka kue tradisional Indonesia.

Oh ya, untuk makan siang per orangnya dikenakan biaya Rp. 288.000,-

 

 

 

Trip Gelombang, Menelusuri Kampung Halaman Alfa di Pusuk Buhit

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

*Tulisan ini juga terbit di majalah Dunia Melancong

“Welcome to Sianjur Mula-mula and Feel The Miracle!”

Keajaiban seringkali terwujud dengan ajaib, seperti namanya. Keajaiban tersebut, ketika mewujud, maka namanya disebut-sebut sebagai kebahagiaan. Seperti beberapa waktu lalu saat saya dan kemanaaja.com mengadakan sebuah perjalanan menelusuri kampung halaman Alfa Sagala, tokoh utama dalam novel Supernova, Gelombang karya Dee Lestari.

Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula
Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula

Sebenarnya, saya sudah sangat lama tertarik untuk berkeliling Pulau Samosir sampai ke Sianjur Mula-mula dan kaki Pusuk Buhit, sebuah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Batak. Niat itu, lama terpendam karena memikirkan jarak dan akses untuk menuju ke sana. Saya tahu dan telah membaca banyak refrensi tentang betapa menariknya dan kayanya situs-situs yang ada di sana. Banyak mitos, banyak cerita, banyak folklore, juga tinggalan-tinggalan kebudayaan yang menarik untuk dipelajari. Tapi lama sekali niat itu tertahan dan tertunda.

Kali ini saya pantas berterima kasih kepada Dee Lestari yang membangkitkan kembali keinginan tersebut. Lewat novel berseri terbarunya, Supernova Gelombang, hasrat saya tersebut seperti tergelitik kembali. Rasanya ingin menyaksikan langsung kaki Pusuk Buhit, Aek Sipitu Dai, dan Sianjur Mula-mula yang disebut-sebut di dalam novel. Saya memang sangat mudah tergoda dengan tokoh-tokoh menarik dan cerita tentang mereka dalam novel. Maafkan saya yang jika sudah jatuh hati akan melakukan banyak hal untuk mengenal dengan details keseluruhan cerita.

Ide Trip Gelombang pun menggelontor begitu saja. Bersama dengan 4 orang teman yang juga pembaca Gelombang, kami siap menjelajahi Sianjur Mula-mula dan bertemu dengan “Alfa”.

Kabut di atas Danau Toba
Kabut di atas Danau Toba

Not Easy

Iya, tidak mudah. Bukan rute perjalanan dan medannya yang tidak mudah, tapi keputusan kami untuk melakukan perjalan kali ini tidak mudah. Entah kenapa, perjalanan kali ini mengalami cukup banyak tantangan yang butuh kebulatan tekad agar bisa melakukan perjalanan spiritual ini.

Iya, kami menyebutnya perjalanan spiritual karena perjalanan kali ini adalah sebuah perjalanan untuk berkenalan dengan kampung halaman tokoh yang hidup dalam imajinasi kami. Lagi pula tempat yang kami tuju bukan tempat sembarangan, sebuah tempat yang dipercaya oleh masyarakat Batak sebagai tempat penting dan sakral. Sebuah tempat dengan sejarah panjang dan memiliki ikatan yang kuat dengan masyarakat Batak seluruh dunia. Pusuk Buhit, tempat pertama kali Debata Mula Jadi Nabolon pertama kali menurunkan orang Batak dan membangun kehidupan di sana. Begitu menurut mitos penciptaan dalam masyarakat Batak.

Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.
Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.

Seperti saya, teman saya yang lain, Melzna ternyata juga sudah sangat lama memiliki keinginan berdiri lebih dekat dengan Pusuk Buhit, paling tidak di kakinya. Bukan seperti selama ini yang hanya melihat dari jauh.

Tantangan itu mulai dari pembatalan dari teman-teman yang sudah berjanji ikut tapi tiba-tiba membatalkan. Sebagian dengan alasan yang jelas sebagian tanpa alasan. Ya… sudahlah. Jadilah kami mencari-cari teman yang lain yang ujung-ujungnya membuat saya sepakat dengan pendapat para traveler senior, “Nggak mudah menemukan teman jalan, selain belum tentu cocok waktu, juga belum tentu cocok kantong dan minatnya.” Tapi kami ya tetap go a head dong…

Tantangan berikutnya, penginapan yang sudah di-booking tapi pada hari H mendadak batal karena pemilik penginapan mengaku sudah full padahal sudah di-book malam sebelumnya. Ngeselin nggak itu?

Menara Pandang Tele
Menara Pandang Tele

Selanjutnya, salah satu tim dari kemanaaja, Thicka, pagi hari di jadwal keberangkatan tiba-tiba mengirimkan pesan kalau dia batal ikut karena mendadak jatuh sakit. Mimisan dan mendadak lemas. Kesal, marah, sedih, semuanya bercampur satu. Ingin rasanya waktu itu membatalkan saja trip yang sudah dirampungkan di malam sebelumnya. Tapi saya sudah terlanjur bertekad bulat, trip harus berjalan. Syukurnya teman-teman yang lain juga sepakat untuk lanjut terus… dan keajaiban sudah berlangsung sejak saat itu. Thicka memaksa diri untuk tetap ikut, dengan keyakinan yang sama dengan kami, perjalanan ini akan baik-baik saja buatnya.

Ada lagi, dalam perjalanan, Andi, fotografer andalan kami, dalam perjalanan mendadak didera sakit kepala hebat. Seperti dilanda gempa katanya. “Benar-benar penuh tantangan,” kata Melzna, teman saya. Thank God, kami semuanya diberkati dengan keyakinan yang kami miliki.

Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.
Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.

Sianjur Mula-mula

Setelah menempuh perjalanan dengan menginap semalam di Berastagi (karena kondisi fisik beberapa teman yang kurang baik) kamipun tiba di Sianjur Mula-mula. Kami menikmati perjalanan dan pagi yang berkabut sepanjang perjalanan di Tele. Menara Pandang Tele hari itu tidak menjanjikan pemandangan yang jernih. Tapi untungnya hari yang didominasi rintik sepanjang jalan tidak berlangsung lama. Langit di Sianjur Mula-mula sangat bersahabat. Langit jernih dengan udara segar sehabis hujan. Langit sudah terbuka. Kampung Sianjur Mula-mula yang menjadi destinasi utama kami sudah ada di depan mata. Perkampungannya kelihatan biasa saja. Jalanan sedang diperbaiki, untuk membuatnya semakin layak sebagai kawasan Geopark mungkin karena tahun 2015 Pulau Samosir dan Danau Toba yang mengelilinginya sudah akan menjadi kawasan Geopark dunia.

Perbukitan menuju Pusuk Buhit
Perbukitan menuju Pusuk Buhit

Rumah-rumah dari kayu dan beberapa berbentuk rumah panggung masih tampak di desa ini. Ada antusias melihat kampung Alfa. Kami rasanya melihat masa kecil Alfa Sagala, tokoh bermarga Sagala yang memang marga asli dari Desa Sianjur Mula-mula, juga Marga Limbong.

Entah dimanapun itu letak rumah Alfa, kami merasakan sudah berada di rumah masa kecil Alfa, bertamu dan disambut dengan ramah. Desa kecil ini dikelilingi oleh bukit-bukit indah yang menghijau tregradasi. Hijau tua, hijau muda, hijau yang menyegarkan mata.

Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai
Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai

Aek Sipitu Dai

Mata air dengan pancuran dengan tujuh rasa yang berbeda-beda, Aek Sipitu Dai. Kami menjadikan tempat ini juga sebagai destinasi wajib. Penasaran dengan rasanya yang rupa-rupa itu dan juga karena menjadi salah satu bagian yang juga dicerita-ceritakan dalam Gelombang.

Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai
Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai

Tempatnya tak seperti yang saya bayangkan. Dalam pikiran saya, lokasinya tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dan tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari karena kesakralannya. Saya agak menyayangkan hal itu. Ah seandainya kesakralan itu dijaga, tentu tempat ini akan lebih memiliki banyak daya tarik.

Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar
Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar

Sebelum mencoba cicip rasa masing-masing pancurannya, kami bertemu dengan Bapak Sagala, juru kunci Aek Sipitu Dai sekaligus pegawai Dinas Pariwisata setempat. Beliau memberikan informasi sebagai introduction, tentang sejarah Raja Batak, Sejarah Sianjur Mula-mula, dan sejarah Aek Sipitu Dai. Kepada beliau kami bercerita tentang novel Gelombang yang kami bawa serta waktu itu. Ah betapa terkesimanya beliau dengan setting yang banyak mengambil tempat di Sianjur Mula-mula sekaligus tokoh utamanya yang bermarga Sagala.

Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai
Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai

Kami pun mencoba rasa dari masing-masing pancuran air. Sebelum mencoba jangan lupa ucapkan “Horas” kata Bapak Sagala. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Mengucapkan “Horas” sebelum meminum air yang ternyata rasa dari tiap pancuran memang berbeda-beda. Ada pancuran air untuk ibu-ibu, untuk para dukun, pancuran air penyembuh, dan lain-lain. Rasanya beragam, ada yang terasa soda tawar tanpa gula, sebagian terasa manis, sebagiannya lagi rasa soda dengan kadar yang sangat sedikit. Tidak ada penjelasan ilmiah di sini. Saat dibawa ke sumber mata airnya yang tepat berada di belakang pancuran di bawah sebatang pohon hariara besar dan rimbun, aliran air tenang yang membentuk kolam panjang.

Sumber mata air Aek Sipitu Dai
Sumber mata air Aek Sipitu Dai

Setelah berfoto bersama, sebagai tanda persaudaraan kami menghadiahkan buku Gelombang untuk Bapak Sagala yang sudah sangat ramah dan sepertinya sangat tertarik dengan Gelombang.

Tanah Ponggol
Tanah Ponggol

Batu Hobon, Sopo Tatea Bulan, Huta Raja Batak di Kaki Pusuk Buhit

Batu hobon adalah bagian menarik dari Sianjur Mula-mula, sebuah situs batu yang dipercaya sebagai batu berongga tempat si Raja Batak, Guru Tatea Bulan menyimpan harta bendanya. Batu berongga ini merupakan sisa-sisa dari proses vulkanis yang terjadi pada Gunung Toba ribuan tahun silam. Konon banyak pihak yang berniat membuka tempat penyimpanan ini tetapi tidak berhasil dan justru ditimpa malapetaka.

Situs Batu Hobon
Situs Batu Hobon

Situs ini berada di sebuah tanah datar luar yang dikelilingi bukit-bukit cantik. Di bukit yang tepat berada di seberang Batu Hobon terdapat Sopo Tatea Bulan, sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat patung si Raja Batak beserta keturunan, pengawalnya, serta sejumlah kendaraan si Raja Batak seperti naga, gajah, singa, harimau, dan kuda. Di tempat ini di antara pebukitan yang indah tak sedikit orang mengadakan ritual kebudayaan dan kepercayaan. Seperti saat kami kemari, kami urung masuk karena ada yang tengah melakukan upacara.

Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon
Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon

Pemandangan menuju ke tempat ini sangat luar biasa. Pun di luasnya halamannya. Kita bisa menyaksikan bukit-bukit berbaris, bersinggungan dan berlapis-lapis yang diinterupsi air terjun di sela-selanya. Seperti terjepit. Hijaunya sangat memanjakan mata. Belum lagi barisan kerbau yang merumput di kemiringan bukit serta hamparan sawah hijau kekuningan yang sangat luas dihiasi perkampungan dengan rumah-rumah adat Batak. Sangat istimewa. Saya tidak berhenti mengagumi keindahannya, tak pula malu berteriak-teriak bahagia dan bersyukur.

Sopo Tatea Bulan
Sopo Tatea Bulan

Tak jauh dari Sopo Tatea Bulan terdapat perkampungan atau Huta Si Raja Batak, yang diyakini sebagai tempat awal di Raja Batak mendirikan perkampungan. Di tempat ini tengah dibangun pusat informasi Geopark Toba.

Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Aek Sipitu Dai
Aek Sipitu Dai
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.

Kejutan Besar

Kejutan besar yang sangat membesarkan hati datang saat kami sedang dalam penyebrangan menuju Parapat. Di atas kapal feri, sebuah notification dari instagram membuat mobil kami penuh teriakan gaduh. Dee Lestari adalah penyebab kerusahan tersebut. Postingannya membuat kami berbahagia sekaligus terharu. Dia menulis:

“Inspired by Alfa Sagala and organized by @kemanaajacom #Gelombang’s readers made a trip to Sianjur Mula-mula, the birth place of Batak civilization. They meet Pak Sagala, Juru Kunci/ guide of the village. A year ago I did the same trip and interviewed Pak Sagala. After the book was out I thought about sending him #Gelombang but I didn’t have his address. The universe worked in wondrous way. This group gave him my book upon their visit. I just knew about this last night when they tagged me. I am so touched and relieved. Alfa made his way home. Thank you, dear readers. Bless your, kindness. <3”

Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai
Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai

Dengan dukungan semesta, Alfa menemukan jalannya pulang, ke Sianjur Mula-mula, bersama-sama dengan kami. Dan Bapak Sagala sudah menerima niat yang sudah terbangun di hati Dee, melalui kami. Tawa bahagia dan keajaiban yang kami rasakan sepanjang perjalanan telah membawa kami pulang, pada hati kami. Perjalanan spiritual kali ini membawa banyak kenangan bahagia.

Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit
Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit

M For Pusuk Buhit

Teks oleh Melda Zhang @melzna

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

Pusuk Buhit, perjalanan penuh keajaiban.

A2 Café, markas besar pertemuan 5 sekawan petualang, Eka yang berdarah Andaliman, Andi berdarah Capcai campur Andaliman, Tika berdarah Rendang Balado, Sarah berdarah peyek campur Fuyunghai, dan terakhir aku, Melz berdarah-darah, Alien campur Pliek’u! Bedanya, kami tidak bertualang mencari harta karun, kami bertualang mencari keajaiban, memusnahkan kegalauan! (MKMK) *ehem! Musik di café semakin menjadi-jadi, menjadi nggak karuan, penyanyi suara sumbang terdengar horror di telinga, belum lagi pembicaraan tentang perjalanan ke Pusuk Buhit yang penuh mistis semakin pasti, binar mata menari-nari penuh semangat menyambut perjalanan menuju kampung asal muasal orang Batak pertama kali lahir. Berdasarkan buku fiksi serial Supernova, Gelombang, Dee Lestari, akhirnya 5 sekawan berangkat mencari keajaiban memusnahkan kegalauan.

Saat saya mencoba air di Aek Sipitu Dai, mencoba "Feel The Miracle"
Saat saya mencoba air di Aek Sipitu Dai, mencoba “Feel The Miracle”

Belum lagi pagi menjelang, ketika mata hampir terpejam, bunyi HP berdering, petanda pesan instant masuk, dari grup GelombangTrip, isinya, Tika si Rendang Balado, membatalkan perjalanan yang berjudul MKMK itu, sebabnya di luar dugaan, tiba-tiba Tika demam tinggi dan mimisan berdarah-darah ( ya nggak mungkin juga mimisan berdolar-dolar, semakin mistis), padahal ketika di café, semua baik-baik saja, cerah ceria walau masih tanggal tua. Galau peserta perjalanan berkurang tidak main-main, menyebabkan susah tidur dan lupa cebok, itu bisa saja terjadi, sama sekali bukan karena mistis. Rasanya pagi yang ditunggu-tunggu tidak memberi semangat penuh, satu persatu peserta yang sempat memberi harapan, berguguran, hingga siang hari peserta yang pasti ikut hanya 4 orang. Tapi tetap tidak melunturkan semangat, akhirnya dari kompor sampai penggorengan, luluh juga si Tika yang sedang demam panas dingin dan memutuskan untuk tetap berangkat bersama! Wuih itu menggembirakan sekali, bukan karena sharing cost lebih murah, bukan! Tapi kalau tak ada Tika tak ada yang nyanyi lagu India di Mobil!! Dan kami bisa mati bosan, membatu seperti Arca depan Sarkofagus di Tomok itu, dan berlumut dan basi! Ah untunglah kami “tetap” hidup meski perjalanan panjang sempat kita bunuh dengan kantuk dan tetesan iler!

Mengisi perut menjauhkan diri dari serangan cuaca dingin di Berastagi
Mengisi perut menjauhkan diri dari serangan cuaca dingin di Berastagi

Ini adalah perjalanan malam, dan gerimis, sebentar saja kami sudah tiba di Tanah Karo, cuaca terlalu dingin untuk berdiri di luar walau hanya sekadar minum bandrek dan kue pancung, aku memutuskan untuk menunggu di mobil saja. Supaya energi kami terkumpul, kami memutuskan menginap saja di Berastagi, dan besok pagi-pagi baru melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Pusuk Buhit, Desa Sianjur-Mula-mula. Hotel yang kami dapatkan malam itu kamarnya biasa saja, dingin dan seadanya, seperti tahu saja siapa tamunya, tapi halaman dan pemadangan sekitar bagus dan menyegarkan mata, seorang anak laki-laki yang melayani kami ketika tiba di hotel malam-malam, masih terlalu muda, mondar-mandir tempat tinggalnya dan kamar kami yang berjarak seberangan lapangan sepakbola, hanya untuk menjawab satu- persatu pertanyaan dari kami yang tidak sekaligus saja, entahlah. Udara pagi masih sangat segar, ibu-ibu mandi di bawah pancuran mata air yang dapat kurasakan dinginnya air itu di permukaan kulitku yang tak tahan mandi air dingin, apalagi mata air pegunungan, seketika itu juga aku akan tersihir menjadi Olaf si boneka salju! Hamparan rumput hijau dihiasi kuda-kuda yang sedang merumput, aku merasa seperti sedang di negeri lain, tapi seketika itu aku kembali ke kenyataan karena babi hutan berlenggok lincah dengan muncungnya.

Ternyata gampang sekali untuk sampai ke Desa Sianjur Mula-mula, walau Andi tiba-tiba mengalami sakit kepala berputar-putar sejak semalam, entah dia berputar kemana, katanya mungkin darah rendah, jadi dia mulai melahap telur-telur yang tersedia di warung, kenapa dia tiba-tiba jadi seperti Biawak, pemakan telur?! Hihihi… Dan dia minum susu, teh manis juga, tentu saja nasi dan indomie telur (lagi) dilahap dalam satu sesi sarapan. (Sorry saya berlebihan). Katanya dia nggak bisa tidur semalaman, kemungkinan besar karena ngorok supir yang membahana, katanya juga dia tidak bisa berdiri berlama-lama, takut tumbang, apalagi mendaki di tepi jurang! Siapapun juga kali ya! Hihihi… Aku mulai was-was, kenapa orang-orang ini mulai bersakitan satu-persatu, sampai ke tujuan pun belum, jika tiba giliranku yang sakit, aku pilih ketombean aja deh nggak apa, dari pada berputar-putar aku malas! *lho?! OK! Padahal tidak ada sedikitpun petanda tidak enak badan dari kami semua awalnya, gatal ketek pun nggak! Tapi kita sudah hampir saja tiba, tidak ada lagi kata tak jadi. Pikiranku sudah melayang berenang layaknya peri di air ajaib Aek Sipitu Dai!

Sarapan pagi di Tele saat Andi masih diterpa "gempa" di kepalanya.
Sarapan pagi di Tele saat Andi masih diterpa “gempa” di kepalanya.

Kabut menyambut kami ketika memasuki Kabupaten Samosir, seakan kami telah tiba di sebuah desa di balik kabut, desa yang sakral, yang katanya pusat kekuatan supranatural! Whoaaa aku sudah membayangkan kembali menjadi pendekar sakti di sana! Tampak sebuah plang selamat datang di Desa Sianjur Mula-mula, Pusuk Buhit, objek wisata budaya Aek Sipitu Dai, tapi sebuah kalimat terakhirlah yang menarik perhatianku, bertuliskan “Feel the Miracle” jadi aku mencoba memusatkan perhatian pada sekeliling, memperhatikan detail yang tak ingin aku lewatkan yang mana tau adalah sebuah petanda, aku terbiasa hidup dengan petanda, misalnya petanda sesak eek, petanda penuaan seperti saat ini, segala dalam hidupku adalah soal petanda! Jadi sangat penting bagiku untuk memperhatikan sebuah petanda apalagi hadir dari tempat sesakral ini, yang menawarkan keajaiban! Sumpah ini adalah keajaiban, pemandangan pertama ketika menapaki mata air Aek Sipitu Dai adalah ibu-ibu berkolor dan sedang mencuci pakaian sodara-sodara! Buyar, musnah semua khayalanku sebelum datang, mungkin juga diikuti oleh kegalauanku selama ini? Siapa tahu? Dan ini adalah pencapaian terbaik di tahun 2014, musnah segala kegalauan!

Bersama Bapak Sagala, saudara Alfa Sagala dari buku serial Supernova, Gelombang Dee Lestari
Bersama Bapak Sagala, saudara Alfa Sagala dari buku serial Supernova, Gelombang Dee Lestari

Tapi, bukan itu intinya, seorang bapak bermarga Sagalalah yang dengan serius menceritakan tentang sejarah asal muasal Raja Batak dan Aek Sipitu Dai ini, yang kebetulan beliau jugalah juru kunci daerah sana, sekaligus orang yang sama sebagai narasumber novel fiksi serial Supernova, Gelombang. Jadi kami telah bertemu dengan orang yang tepat, akhirnya sebuah buku Gelombang kami berikan kepada Pak Sagala sebagai hadiah. Kami masih menari merayakan keberhasilan mencapai tempat ini, tiba-tiba seorang kakek dengan celana gantung khas orang tua Batak beserta sebuah tongkat menghampiri kami dan mulai berceramah, dalam Bahasa Batak. Hanya Andi, di antara kami yang mengerti Bahasa Batak, tapi aku tidak dapat terjemahan langsung dari Andi, yang pasti tongkat si Kakek selalu menunjuk kepadaku pada setiap kalimatnya “Kau jaga hati kau… Kau jaga jiwa kau… kau jaga pikiran kau…” dari sekian banyak kalimatnya hanya itu yang kami pahami intinya. Aku terdiam, pucat dan gagu, jangan-jangan ini sebuah petanda, jangan-jangan aku akan dilamar konglomerat Hongkong… jangan-jangan… Sultan Hassanal Bolkiah telah mempersiapkan sebuah kapal pesiar buatku! Jangan-jangan….

Di halaman Batu Hobon, di belakang kami tampak bendera Batak dan Sopo Tatea Bulan di bukit di kejauhan.
Di halaman Batu Hobon, di belakang kami tampak bendera Batak dan Sopo Tatea Bulan di bukit di kejauhan.

Perjalanan belum selesai sampai di Aek Sipitu Dai, kami masih melanjutkan ke Batu Hobon dan tempat sakral Guru Tatea Bulan, tempat dimana pemberhentian terakhir jika kita ingin menuju puncak gunung Pusuk Buhit yang merupakan tempat di mana orang-orang meminta petunjuk kepada Raja Uti, yang diyakini memiliki kesaktian tertinggi dan penguasa di Pusuk Buhit. Perjalanan kali ini kami selesaikan hanya sampai di Pondok Guru Tatea Bulan, yang lain waktu akan kami lanjutkan untuk tiba di Puncak Gunung Pusuk Buhit, yang mana tau mendapat petunjuk sakti dari Raja Uti. Horas!!

Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 2-End)

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Paling terkesan dengan penyu, garis pantai yang bercahaya saat gelap malam, dan tentara-tentara penjaga yang ternyata ramah.

Here we are! Kami sudah tiba di Pulau Berhala.

Setelah menuntaskan agenda pribadi dan mengisi perut, kami meletakkan barang-barang di kamar-kamar yang sudah disediakan. Jangan khawatir, di Pulau Berhala, meskipun tidak ada penginapan seperti hotel atau guest house, rumah tinggal para tentara dan navigator penjaga pulau biasa digunakan jika ada tamu yang datang. Jumlahnya cukup banyak, bisa untuk menampung sekitar 200 orang dan sepertinya memang dipersiapkan untuk para wisatawan. Kamar-kamar tersebut terawat baik dengan lantai keramik yang bersih, bangunan baru, dan kasur yang empuk. Ini jauh lebih baik dari yang saya bayangkan.

Di tempat ini, jangan pernah berniat untuk menjadikannya sebagai lokasi berbulan madu karenaaaaa… ada aturan yang sudah ditetapkan. Kamar antara laki-laki dan perempuan dipisah, tidak boleh bersatu meskipun itu untuk suami istri. Ini sudah menjadi aturan baku. Tentang kenapa, katanya berpantang sekaligus mungkin demi kenyamanan penghuni pulau ya. Hehehe…

Kamu bisa nginap di sini...
Kamu bisa nginap di sini…

Nah selain bisa menginap di kamar-kamar yang sudah disediakan, tepat di depan dermaga dan kamar-kamar di sebelah timur pulau, pengunjung bisa juga menikmati sensasi berlibur out door. Ya artinya, kamu harus membawa perlengkapan berkemah sendiri. Silahkan bawa tenda dan gelar sendiri tenda di areal aman di pinggiran pantai. Pinggiran pantai yang aman dari air pasang cukup luas kok. Bisa untuk 3-5 tenda di dekat dermaga. Di dekat kamar-kamar di sebelah timur dermaga lokasi berkemah jauh lebih luas lagi.

Berkemah di pinggiran pantai pasti memberikan kesan yang berbeda. Bisa mendengar suara debur ombak secara langsung adalah suasana mahal, tidak bisa dimiliki di kota yang tiap hari dipenuhi berisik suara kendaraan sampai larut malam. Kamu bisa merasakan angin laut, melihat bintang-bintang yang terlihat jauh lebih banyak karena tidak dihajar polusi cahaya. Ahhhh… ini kemewahan luar biasa. Itulah sebabnya saya sangat menyukai duduk dekat dengan alam.

Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.
Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.

Saya dan beberapa teman-teman lain (Ayuni dan Rancid) memang tidak membawa tenda, tapi kok rasanya kalau bergabung di kamar para cewek sudah terlalu sempit. Akhirnya dengan gagah perkasa kami memutuskan tidur dengan tikar di bawah pohon beratapkan langit dan berdindingkan udara malam pinggiran pantai. Ceileh…. Ya meskipun kemudian harus tergusur karena hujan yang mendadak deras. Kami akhirnya tidur di teras kamar cowok yang cukup luas dan cukup aman dari angin. Kami menggelandang dengan leluasa di dinginnya hujan Pulau Berhala.

Garis pantai dan para diver yang baru menepi
Garis pantai dan snorkeler yang suka memancing ikan.

Oh ya… untuk kamar-kamar tersebut, setiap tamu dikenakan biaya Rp. 30.000 per orangnya. Hitungannya bukan per malam tapi per kunjungan. Jadi meskipun dalam sekali kunjungan kamu tinggal selama 1 minggu di Pulau Berhala, bayarannya tetap Rp. 30.000. Saya terkesan lagi dengan sistem pembayaran yang sangat nyaman ini.

Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok...
Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok…

Ngomong-ngomong soal aturan, ada beberapa aturan lagi yang harus dipatuhi setiap pengunjung di pulau ini. Para pengunjung berpantang membunuh setiap binatang hutan di Pulau Berhala. Baik itu burung, tupai, atau ular sekalipun. Seperti kejadian di minggu pagi saat dari arah kamar para tentara penjaga pulau terdengar suara gaduh. Ternyata seekor ular piton ingin memangsa ayam peliharaan mereka. Para tentara hanya mengusir ular tersebut pergi, mereka tidak membunuhnya. Pelestarian untuk menjaga keseimbangan alam. Sebab memang predator terbesar musuh alam semesta sesungguhnya adalah manusia dengan segala keserakahannya. Tssssah… saya ngomongnya sudah melantur. Hehehe…

Aturan lainnya adalah, para pengunjung disarankan untuk menjaga tutur dan sikap, aturan berpantang seperti pada beberapa tempat untuk membagun mitos dan sikap menjaga sekaligus menghormati diterapkan di Pulau Berhala.

Facing 768 Stairs

165 anak tangga pertama
165 anak tangga pertama

Hari belum terlalu sore saat kami tiba di Pulau Berhala. Beberapa teman langsung mengajak untuk melihat langit dan laut dan keluasan samudra di sekeliling Pulau Berhala dari ketinggian menara suar. Ajakan ini rasanya cukup menggoda. Biarlah sementara Bang Onny dan team sedang khusyuk bermain-main dengan mainan barunya, drone untuk menangkap gambar Pulau Berhala dari atas, saya memutuskan ikut bergabung dengan tim yang akan mengalahkan tangga-tangga menuju menara suar. Toh besok pagi belum tentu akan ada teman lain yang ingin menaiki menara suar.

Berbekal sebotol air minum, saya dan Andi dari kemanaaja berjalan bersama 5 orang lainnya ditambah dengan satu orang navigator penjaga pulau. Perjalanan ke menara suar terus menaik. Setelah menyelesaikan 165 anak tangga pertama, kami harus terus berjalan dan menuntaskan sekitar 615 anak tangga lagi. Wow… membayangkannya saja saya sudah teler. Tapi saya ingat lagi kata teman saya, Ridho Golap, “Jangan bayangkan jauhnya atau susahnya naik, tapi bayangkan apa yang kau dapatkan begitu sampai di puncak.” Iya, saya sadar kalimatnya benar. Saya hanya akan membayangkan apa yang akan saya lihat begitu tiba di atas puncak. Kalaupun nanti mengecewakan, saya tetap berbahagia karena saya sudah berhasil mengalahkan rasa tidak kuat atau malas dan berhasil menuntaskan rasa penasaran. Oh ya jangan kalian bayangkan kalau Ridho Golap itu bijak kali orangnya ya. Hahaha waktu ngomong seperti itu sebenarnya dia hanya ngelantur saja kok. *biggrin

Masih kuat kakak....
Masih kuat kakak….

Kami berjalan pelan-pelan, nafas sudah terasa ngos-ngosan. Beberapa kali kami berhenti menjaga jarak masing-masing dan berusaha mengatur nafas. Tangga-tangga semakin tinggi. Di kiri tangga terdapat rel dari kayu sampai ke puncak tangga untuk mengangkut muatan-muatan bahan bangunan untuk membangun menara suar dan menara komunikasi yang tengah dibangun. Anak-anak tangga sebagian terasa licin karena berlumut. Untung tidak ada hujan sore itu.

Pegangan tangga di kiri atau kanan sebagian sudah lapuk dan rusak. Langkah-langkah kami kecil saja dan hati-hati. Parada, salah satu teman tampak paling tersiksa. “Aku udahan ajalah,” katanya yang disambut suara ngos-ngosan kami sambil berkata, “Ayo, pelan-pelan aja.” Well… kami semua tiba di ujung tangga sekitar 30 menit kemudian. Si abang yang menjadi guide kami cukup sabar menghadapi nafas pendek-pendek dan langkah-langkah kecil kami.

Untuk melihat dari puncak menara, kami harus menaiki tangga lagi, sekitar 4 tingkat ruangan dengan tangga nyaris 90 derajat pada tingkat keempat. Untuk yang phobia ketinggian seperti saya dan Andi, saya salut dengan keberanian kami. Hehehe…

Jalan menuju menara suar
Jalan menuju menara suar

Di atas menara suar, angin cukup kencang membuat kadang suara hilang terbawa angin saat tengah berbicara. Langit sedang tidak terlalu bagus sore itu. Langit datar, flat, tidak ada goresan biru yang membuat indah. Langit serba abu-abu yang juga membuat laut mati warna. Laut tidak tampak biru. Tapi saya ingin tetap menikmati apapun yang saya temukan di sana. Angin, keluasan, kebebasan, dan keberanian mengalahkan rasa takut. Kami berhasil menghadapi 768 anak tangga yang tak banyak bicara tapi sangat menguras tenaga.

Kami pun bergegas pulang karena hari sudah semakin sore mendekati pukul lima. Saran dari abang guide, sebaiknya sudah tiba di bawah sebelum pukul enam karena akan sangat gelap dan tidak terlalu aman berjalan dalam gelap di tangga-tangga berlumut. Jalan turun memang tak bikin lelah tapi cukup bikin nyali ciut bila melihat ke bawah. 😀

Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.
Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.

Rumah Untuk Penyu

Keistimewaan lain Pulau Berhala adalah pulau ini merupakan tempat konservasi penyu. Penyu hijau, satwa asli pulau ini sendiri. Penangkaran penyu tersebut, menurut Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu penjaga pulau dari Angkatan Darat yang bertugas jaga, sudah mulai dilakukan sejak Pulau Berhala dikelola, sekitar tahun 2006. Sejak itu pula sudah lebih ribuan penyu yang dilepas kembali ke habitatnya, ke laut begitu mencapai usia dewasa. Penangkaran penyu yang dikelola oleh tentara ini saat ini sedang merawat lebih dari 30 tukik (anak penyu) berusia satu bulan. Saat tukik berusia tiga bulan nanti, tukik-tukik ini dilepas ke laut karena dirasa sudah cukup dewasa dan mampu menjaga dirinya bertahan dari pemangsa dan kesulitan alam. Selain tukik-tukik, di wadah penangkaran ada ratusan telur yang tengah dieramkan.

Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.
Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.

Oh ya para tentara penjaga pulau biasa berpatroli malam hari untuk mengumpulkan telur-telur penyu agar tidak sampai dimangsa oleh elang, ular atau hewan-hewan pemangsa lainnya. Dan… ternyata mereka pernah bertemu dengan penyu raksasa seberat lebih dari satu ton.

Untuk melihat penyu dewasa dan jejak-jejak mereka naik ke daratan, kita harus ke arah timur pulau, sekitar 15 menit berjalan bila melalui anak-anak tangga bila air sedang pasang atau 5 menit melalui pinggiran pantai ke arah timur bila air sedang surut. Malam itu, air sedang pasang, tak aman bila kami menyusur pinggiran pantai. Kami melalui anak-anak tangga.

Bila ingin bertemu dengan penyu, kita tidak boleh berisik. Mereka akan takut ke daratan bila mendengar suara berisik. Setiap makhluk hidup secara insting akan menghindari bahaya dan pemangsa. Meskipun niatan kami bukan sebagai pemangsa, percayalah, tak ada penyu yang bisa membaca pikiran kita, seperti kita juga tak akan pernah fasih menyelami pikiran orang lain.

Kami berjalan tenang, malam pekat. Bintang-bintang di atas langit bersinar sangat terang dan indah. Andi berusaha merekam momen bintang-bintang tersebut dengan kameranya.

Bermain-main di atas pasir.  Tukik berbahagia...
Bermain-main di atas pasir. Tukik berbahagia…

Di pasir pantai, jejak-jejak penyu terlihat beberapa. Bekas kemarin malam kata abang guide. Yang membuat takjub lagi adalah keajaiban di garis pantai. Garis pantai yang menyala terang, garis berwarna biru mengikuti lekuk sisa-sisa hempasan ombak. Garis biru yang dihasilkan plankton-plankton. Mereka bercahaya dalam gelap. Bahkan jika kakimu terhempas ombak dan mereka menempal di sandal, sendalmu kerlap seperti bintang biru. Saya suka memperhatikan mereka.

Sayang malam itu belum ada penyu yang naik ke pantai. Kami diminta untuk diam dan tenang, duduk bercakap-cakap tak jauh dari penginapan di sisi timur dermaga. Kami meringkuk di bawah jaket menunggu datangnya penyu. Namun sebelum penyu datang ke pinggiran pantai, hujan sudah mengusir kami pulang. Sudahlah, hari itu kami tidak berjodoh dengan penyu.

Dijaga Sepasang Pulau Yang Mesra

Bagian menarik lainnya dari pulau ini adalah mitos tentang dua pulau penjaga di sisi kiri dan kanan Pulau Berhala. Adalah Pulau Sokong Kakek di sebelah barat dan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur. Sepasang pulau ini dimitoskan sebagai sepasang kakek dan nenek penghuni pertama Pulau Berhala. Entah bagaimana ceritanya, saya kurang mendapatkan rinciannya.

Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar
Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar

Pulau Sokong Kakek akan terlihat jelas saat kita berada di puncak menara suar. Pulau ini bila air surut bisa disinggahi para nelayan. Tidak ada garis pantai di sini, hanya ada lubang besar seperti celah gua sangat besar yang bisa dimasuki. Tapi cukup pengap, begitu cerita nelayan yang saya dapatkan dari tentara penjaga. Bila air naik tentu saja pulau ini tidak bisa disinggahi.

Sedangkan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur, bila air sedang surut, kita bisa menyeberanginya dengan berjalan kaki dari Pulau Berhala. Pantainya menyatu dengan Pantai Pulau Berhala. Di pulau ini terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam si nenek.

Begitulah, dua hari terasa berjalan lambat di Pulau Berhala. Saya sangat menikmati keramahan tentara penjaga yang menemani berkeliling pulau dengan kapal patroli juga melihat bagian-bagian lain pualu. Saya tidak dirong-rong gadget karena memang tidak ada sinyal, saya punya banyak waktu dengan saya dan pikiran-pikiran saya saat duduk atau rebahan menikmati angin laut di pinggir pantai.

Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.
Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.

How to get there:

Untuk menuju Pulau Berhala, dari Dermaga Tanjung Beringin di Serdang Bedagei, kamu harus mengontak pos tentara untuk diizinkan menyebrang pulau. Kapal sudah disediakan oleh mereka. Untuk satu kapal bermuatan lebih dari 30 orang sekarang dikenakan biaya Rp. 4 juta (sebelum BBM naik Rp. 3 juta). Jadi memang sebaiknya beramai-ramai agar bisa sharing biaya.

Untuk penginapan hanya dikenakan biaya Rp. 30 ribu per orang. Untuk makan, bila beramai-ramai dan tak membawa bekal sendiri, kamu bisa meminta disediakan juru masak yang akan men-charge Rp. 15.000 untuk sekali makan. Silahkan hitung sendiri berapa kali kebutuhan makan kamu di pulau.

Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli
Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli