Tak Pernah Bosan ke Bali

 

Teks & Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Bali memang rasanya sangat mainstream, tapi seberapa mainstream-nya pun tidak pernah membosankan!!

Iya, Bali memang sudah sangat mainstream. Rasanya hampir semua orang di Indonesia Raya ini sudah pernah ke Bali atau sudah membuat Bali sebagai bagian destinasi wisatanya. Bali memang tidak pernah membosankan. Selain karena memang kekayaan budayanya dan alamnya yang cantik, terutama Bali punya kemasan dan siap menjadi tempat wisata yang menyenangkan.

Ini dia beberapa destinasi yang menarik untuk dikunjungi di Bali.

Pura Ulan Danu Beratan, Bedugul

Pura yang satu ini bisa ditemukan di pecahan uang biru 50.000-an kita. Nah karenanya setiba di Pura Ulan Danu Beratan, Bedugul saya juga berpose sembari memegang uang 50.000-an. Hehehe. Pura cantik yang berada di pinggiran danau ini adalah pura suci, berada di desa Bedugul yang sejuk dan adem membuatnya terasa sangat tenang. Desa ini merupakan salah satu penghasil sayur-sayuran segar di Bali. Berkeliling di desa ini melihat kecantikan pura dan menikmati makanan berkuah hangat di tengah cuaca sejuk sangat asik sekali.

Pula Ulan Danu Beratan, Bedugul
Pula Ulan Danu Beratan, Bedugul
Pulau Ulan Danu Beratan di pecahan uang 50.000
Pulau Ulan Danu Beratan di pecahan uang 50.000

Monkey Forest Ubud

Hutan yang sangat luas ini berada di Ubud, Bali. Monyet-monyet berekor panjang bebas berkeliaran dan setiap tamu bisa berjalan kaki menyusuri hutan yang trek-nya sudah diatur rapi dengan persinggahan-persinggahan yang menyenangkan.

Monkey Forest Ubud
Monkey Forest Ubud

Beli Perak dan Ukiran di Gianyar

Jika suka dengan ukiran-ukiran khas Bali dari batu dan aksesoris cantik dari perak, Gianyar punya ratusan workshop yang dengan mudah bisa ditemukan di pinggiran jalan Gianyar. Produk kesenian yang mereka hasilkan cantik dan sangat khas Bali. Harganya? Variatif!

Workshop ukiran Batu di Gianyar Bali
Workshop ukiran Batu di Gianyar Bali
Banyak pengrajin perak di Gianyar Bali
Banyak pengrajin perak di Gianyar Bali

Garuda Wisnu Kencana

Yang paling terkenal dari tempat ini tentu saja patung Garuda Wisnu Kencana yang sudah sejak lama hingga sekarang (2015) belum selesai dibangun. Patung wisnu dan garuda yang sangat besar menjadi daya tariknya dan tentu saja kompleksnya yang seperti blok tanah-tanah raksasa terkotak-kotak itu menurut saya sangat menarik. Jangan lewatkan juga bali dance dan tari kecak yang kerap ada juga dipertunjukkan di sini.

Patung Wisnu di GWK
Patung Wisnu di GWK
Komplek GWK
Komplek GWK
Bali Dance di GWK
Bali Dance di GWK

Piknik di Hutan Mangrove

Buat wistawan kebanyakan, tempat ini memang belum terlalu populis. Tapi cantiknya dan tenangnya tempat ini sangat cocok untuk piknik dalam kota dan melarikan diri ke hutan bakau. Lokasinya di Mangrove Information Centre berada di pinggiran jalan raya by pass lokasinya mudah diakses dengan harga masuk yang murah.

Mangrove Information Centre
Mangrove Information Centre

Pantai Legian

Suasana malam di pantai ini memang sangat luar biasa. Kehidupan malamnya sangat meriah dengan puluhan night club dan kafe. Tapi kecantikan pantainya untuk bersantai juga tidak bisa dilewatkan.

Santai di Pantai Legian
Santai di Pantai Legian

Pantai Nusa Dua

Pantai di tempat ini jauh lebih eksklusif ketimbang pantai Legian. Dan yang menarik di tempat ini adalah Bukit Bali Penisula tempat kita bisa duduk-duduk di padang rumput dengan pepohonan pendek sembari menatap langit yang terasa sangat dekat. Water blow yang berada di sisi-nya yang lain menjadi tempat banyak orang menunggu datangnya pecahan ombak menghantam karang yang mendebarkan hati.

Bali Penisula di Nusa Dua, Bali
Bali Penisula di Nusa Dua, Bali

Pantai Pandawa

Pantai ini baru populis belakangan ini. Seperti banyak pantai lainnya, pantai ini menarik. Yang lebih menarik adalah pasirnya yang bulat seperti merica. Di pantai ini ada banyak aneka water sport yang bisa dicoba.

Pasir Merica Pantai Pandawa
Pasir Merica Pantai Pandawa

Pantai Padang Padang

Garis pantainya tidak terlalu panjang. Tapi yang menarik dari pantai ini adalah jalan masuknya yang seperti lubang batu. Pemandangan batu besarnya juga menarik. Suasananya yang tidak terlalu ramai membuat tempat ini asik untuk duduk berlama-lama.

Pantai Padang Padang
Pantai Padang Padang

Belanja Oleh-oleh di Pasar Seni Sukawati

Untuk urusan oleh-oleh memang ada beberapa swalayan serba lengkap di pusat kota. Tapi Pasar Seni Sukawati menantang tawar-menawar mendapatkan oleh-oleh cantik aneka rupa dengan harga yang murah.

Belanja di Pasar Seni Sukawati
Belanja di Pasar Seni Sukawati

Menikmati Keheningan di Pura Uluwatu

Banyak monyet iseng di pura ini. Dan setiap ke sana semua tamu yang datang, terutama bercelana pendek atau ber-rok pendek, diharuskan memakai kain penutup aurat ungu untuk menghormati kesucian pura. Peraturan ini justru membuat turis lebih catchy difoto dan menjadi daya tarik. Selain memang puranya yang cantik dan tarian kecak dengan api yang menjadi daya tariknya, keheningan pura ini yang berada di atas ketinggian buat saya rasanya sangat luar biasa. Dari atas pura, kita bisa menatap tebing-tebing curam dan riak-riak ombak dari atas ketinggian.

Keheningan di Uluwatu
Keheningan di Uluwatu

Senja di Tanah Lot

Senja di Tanah Lot memang juara. Warna jingganya sangat luar biasa. Menunggu beberapa belas menit sampai matahari benar-benar terbenam dan jatuh di ujung pantai menjadi pekerjaan yang tidak sia-sia. Momen yang sangat berharga.

Sundowner
Sundowner

 

 

SIGIRIYA, KOTA DI ATAS BATU

Teks & Foto : Karnadi Lim

Always do what you are afraid to do. -Raplh Waldo Emerson-

Perjalanan dari Kandy ke Sigiriya kami mulai dengan menumpang bus antar kota, perjalanan selama 2,5 jam kami tempuh dengan perasaan yang tak nyaman, ini di sebabkan cara mengemudi supir-supir bus di sini sangat luar biasa, mereka seakan-akan tidak mengenal kata rem, yang ada hanya tekan gas dan banting setir kiri kanan. Demikian seterusnya hingga akhirnya kami diturunkan di terminal bus Dambulla.

Dari stasiun bus Dambulla kami kembali menumpang bus menuju Sigiriya, sebenarnya jarak yang ditempuh lumayan singkat, tetapi konsep bus di mana-mana keknya sama saja, kami harus menunggu selama 30 menit lebih hingga bus penuh. Jarak yang bisa ditempuh 20 menit akhirnya molor hingga 1 jam. Akhirnya kami mencapai Sigiriya.

Supir menurunkan kami tepat di pinggir jalan tempat penginapan yang telah kami pesan, tinggal jalan kaki memasuki lorong yang becek dan berdebu untuk sampai ke tempat. Kami menginap di Sigiriya Paradise Inn pemiliknya sangat baik sekali menyambut kami dan menjelaskan tentang Sigiriya.

Karena tidak ingin membuang waktu lagi, kami bergegas berangkat menuju ke Sigiriya Rock yang memang jalan masuknya telah nampak sewaktu melintas dengan bus, sewaktu kami sampai di persimpangan jalan masuknya kami menyempatkan bertanya ke penjaga kira-kira berapa jauh jarak ke dalam, penjaga dengan santai menjawab 500 meter.

Kami memutuskan berjalan kaki melewati jalan dari tanah merah yang sangat becek disaat matahari berada diatas kepala, memang membutuhkan perjuangan keras hingga kedalam. Ternyata jaraknya lumayan jauh, kami menghabiskan waktu 30 menit untuk jalan hingga ke tempat pembelian tiket.

Jalan masuk ke Sigiriya Rock
Jalan masuk ke Sigiriya Rock

Untungnya sesampainya di dalam, suasana lumayan adem karena dikelilingi oleh pohon-pohon dan juga taman-taman purbakalanya dengan sistem irigasi yang unik membuat kita betah berlama-lama disana. Setelah membeli tiket seharga USD 30 dan mendapatkan DVD kecil tentang Sigiriya dalam 6 bahasa. Ini merupakan tiket masuk objek wisata termahal di Sri Lanka.

Taman dan jalanan yang tedapat banyak pohon menuju ke Sigiriya Rock
Taman dan jalanan yang tedapat banyak pohon menuju ke Sigiriya Rock
Tiket masuk ke Sigiriya Rock
Tiket masuk ke Sigiriya Rock

Dari kejauhan bukit batu setinggi 200 meter telah nampak, sebenarnya saya termasuk orang yang takut akan ketinggian, karena telah sampai ke sigiriya harus memaksakan diri untuk mendaki ke atas, secara ketinggian sih tidak seberapa, cuma yang terbayang adalah curamnya jalan dan sulitnya medan yang akan dilalui.

Sigiriya Rock dari kejauhan
Sigiriya Rock dari kejauhan

Memasuki gerbang Sigiriya kita akan melewati sebuah kanal yang bentuknya masih terlihat jelas dan kita seakan-akan dibawa ke masa ribuan tahun silam ketika Sigiriya masih berupa sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raja Kashyappan I ( 477 – 495 SM ). Di depan kanal terhampar taman yang merupakan bagian dari komplek istana raja. Raja Kashyappan I sendiri memiliki 2 komplek istana yaitu istana musim panas yang letaknya di bawah bukit batu serta istana musim dingin yang letaknya di puncak bukit batu Sigiriya.

Seperti kata pepatah, selalu lakukan apa yang Anda takut untuk lakukan. Mengumpulkan segenap keberanian akhirnya jalan menapak naik kita mulai dengan menapaki tangga yang diapit oleh 2 buah batu yang gede kemudian jalanan mendaki terus dan terus hingga kita sampai di taman atas tempat untuk melepas lelah.

Jalan menuju ke atas
Jalan menuju ke atas
Jalan di punggung bukit
Jalan di punggung bukit
Jalan mendaki
Jalan mendaki

Untuk mencapai gerbang Lion’s Rock hingga menuju puncak Sigiriya Rock tentunya kita harus mendaki menyusuri anak tangga yang telah disediakan. Memang harus siap stamina untuk menaiki anak tangga tersebut karena ada beberapa bagian anak tangga yang bentuknya nyaris tegak lurus dan sangat terjal untuk didaki yang tentunya sangat menguras tenaga. Sedangkan Elephant Rock dapat dicapai tanpa harus mendaki dan Cobra Rock dicapai pada rute yang berbeda saat menuruni bukit.

Naik dan turun
Naik dan turun

Perjalanan menyusuri puncak bukit Sigiriya di antaranya harus melewati sisi punggung bukit yang telah dipasang anak tangga yang dibuat secara manual. Saat itu angin berhembus sangat kencang di atas bukit sehingga tangga yang dipijak pun akan bergoyang. Hal inilah yang membuat perasaan makin deg-degan juga apalagi kondisi tangga sangat sempit dan harus dilalui 2 arah oleh para pengunjung.

Jalan vertikal dan melingkar menambah horor perjalanan ini
Jalan vertikal dan melingkar menambah horor perjalanan ini

Setelah menyusuri beberapa bagian anak tangga vertikal yang melingkar akhirnya tiba di salah satu gua yang sangat sempit dan di dalamnya terdapat galeri lukisan yang dibuat secara handmade pada langit-langit serta dinding gua. Raja pada masa itu memiliki 500 orang istri dan satu-persatu istrinya tersebut dilukis pada langit-langit serta dinding gua tetapi lukisan wanita yang masih tersisa hanya sekitar 20-an lukisan.

Lukisan di langit-langit gua
Lukisan di langit-langit gua

Begitu turun dari Gua tersebut kami berjalan melewati dinding kaca (Mirror Wall). Dinding atau tembok tersebut terbuat dari porselen yang sangat mengkilap sehingga menyerupai kaca dan di tembok tersebut banyak terdapat tulisan-tulisan yang berisi puisi yang ditulis oleh raja sendiri. Tembok tersebut diberi pembatas sehingga pengunjung tidak diperkenankan untuk mendekat apalagi menyentuhnya. Tetapi sayang sekarang mirror wall ini sudah tidak bisa memantulkan bayangan kita lagi karena termakan usia.

Mirror wall
Mirror wall

Setelah melanjutkan perjalanan naik dan terus naik kami tiba di Lion Gate yang merupakan bagian dari Lion Rock. Lion Rock yang sekarang masih tersisa hanya berupa Tapak Kaki Singa sedangkan bagian yang lain telah hancur. Kembali kami harus menaiki anak tangga yang terbuat dari besi yang berdiri hingga ke puncak. Belum lagi ketika angin bertiup kencang semua tangga-tangga tersebut goyang ditambah lagi banyaknya pengunjung yang naik pada saat itu membuat perasaan semakin deg-deg-an, saya berhenti cukup lama sambil menunggu semua pengunjung naik atau turun duluan dan si Ahseng teman saya telah duluan naik meninggalkan saya di pertengahan tangga. Akhirnya setelah berjuang mendaki selama 1.5 jam tiba di puncak Sigiriya Rock.

Lion Gate
Lion Gate

Sesampainya di atas, kami disambut oleh sekawanan monyet liar penghuni Sigiriya Rock. Timbul rasa iseng kami untuk sekedar bermain-main sambil menggoda si monyet yang sedang menggendong anaknya, ternyata si monyet marah karena merasa diganggu, belum lagi tiba-tiba botol air minum yang kami bawa direbut paksa oleh si monyet, kami pikir daripada menjadi korban kebrutalan si monyet dengan berat hati kami melepaskan botol air minum untuk dibawa si monyet.

Monyet-monyet di Sigiriya Rock
Monyet-monyet di Sigiraya Rock

Dari puncak bukit ini kita juga dapat memandang sisa-sisa hall (ruangan) atau tempat raja dan permaisuri serta selirnya yang berjumlah 500 orang mengadakan pesta dan diakhiri dengan mandi bersama di sebuah kolam yang besar yang masih tersisa hingga sekarang.

Sisa hall ruangan
Sisa hall ruangan
Kolam tempat mandi bersama
Kolam tempat mandi bersama

Setelah puas menikmati puncak bukit Sigiriya kami turun melalui jalur berbeda dengan jalur pada saat mendaki. Waktu yang ditempuh untuk turun lebih cepat pada saat naik yaitu sekitar 30 menit. Jadi untuk mendaki Sigiriya Rock ini serta turun kembali dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Jalan di antara punggung bukit
Jalan di antara punggung bukit

Perjalanan panjang dan melelahkan telah terbayarkan dengan pemandangan dan perjalanan menuju ke atas puncak Sigiriya Rock untuk melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu, kami melangkahkan kaki meninggalkan kompleks Sigiriya Rock untuk kembali ke penginapan, dalam perjalanan balik kami menemukan sebuah pondok/ cafe yang cukup eye catching, karena perut dalam keadaan lapar berat kami makan di sana.

Makan siang di Sigiriya menjadi satu tragedi makan siang termahal selama di Sri Lanka, bayangkan saja untuk makan berdua dengan nasi dan devilled chicken (semacam ayam penyet) kami harus merogoh kocek sebesar 1250 Rupee. Dengan berat hati kami harus merogoh kocek makin dalam sedangkan persediaan uang sudah menipis karena si Ahseng membeli Batu Safire di Kandy dan kami belum sempat ke ATM.

Gua yang sempit hanya di pasang besi ke punggung bukit
Gua yang sempit hanya di pasang besi ke punggung bukit

Sesampainya di penginapan kami ditawari makan malam dengan menu khas Sri Lanka oleh pemilik penginapan dengan harga 600 Rupee per orang, karena tidak mau repot akhirnya kami menerima tawaran untuk makan di sana. Ternyata makan malam yang disajikan melebihi ekspetasi kami, kami disuguhkan nasi beras samba dengan fish curry, sayuran, kopas (opak khas Sri Lanka) dan Telur Dadar.

Perjalanan panjang dari Kandy hingga berakhir di Sigiriya menjadi penutup akhir tahun kami, kami melewati malam pergantian tahun dalam suasana yang damai ditemani oleh pemilik penginapan tanpa perayaan hura-hura, dan petasan, hanya malam yang gelap serta orang-orang yang ramah menjadi teman penutup serta pembuka tahun kami.

Jalan masuk diapit batu besar
Jalan masuk diapit batu besar

Perjalanan selanjutnya akan kami lanjutkan ke Gua Dambulla. Perjalanan kali ini telah memberikan sebuah pengalaman yang tak terlupakan, selain berjalan tanpa jadwal yang fix, kami juga mencoba berlaku layaknya orang lokal, bus umum menjadi teman kami melintasi kota demi kota, berdiri bergantungan di gerbong kereta api serta berjejer berdesak-desakan didalamnya menjadi kegiatan kami selama 10 hari di sana.

Takengon, ketika kopi dan alam berbicara

Teks & Foto oleh Sarah Muksin, @sarahmuksin

Bukan hanya sekedar Serambi Mekkah, bagi saya, tempat ini merupakan teras kopi dunia. Keindahan alamnya mungkin belum setenar kopinya. Tapi ketika kau tiba disana, mungkin lain cerita.

Di awal Mei kemarin, seorang teman datang dan mengatakan bahwa akan melihat panen raya kopi Arabika yang sedang berlangsung di Takengon, Aceh tengah. Tanpa ragu saya menjawab ya dan kebetulan sudah 2 tahun rasanya tidak pernah melakukan perjalanan darat yang cukup menguras energi. Kebetulan, saya sama sekali belum pernah memijakkan kaki ke provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu.

Dua hal yang saya pikirkan selama kurang lebih 12 jam perjalanan adalah Takengon itu dingin dan disana pasti banyak tanaman kopi. Biasanya sebelum bepergian ke suatu tempat, saya akan menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang berbagai hal yang menarik dari tempat yang akan saya datangi. Tapi kali ini saya tidak mendapatkan gambaran apapun. Saya pergi dan berpikir biarlah dataran tinggi Gayo memberikan kejutannya pada saya.

Menangkap pagi di Bukit Sama.
Menangkap pagi di Bukit Sama.

Dikenal sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi Arabika terbaik di dunia, Takengon ternyata menyimpan rahasia dibalik pohon-pohon kopi yang tumbuh subur dan melimpah. Melewati medan yang tidak mudah membuat saya hampir menyerah. Belokan, tanjakan, turunan semuanya cukup mengocok perut dan membuat kami semua mual. Dan ini berlangsung kurang lebih 1,5 jam perjalanan menuju Takengon. Tak lama, mobil yang kami tumpangi melewati jalan yang lurus. Perjalanan selama 12 jam seperti tiada akhir itu terbayarkan sudah. Matahari yang kami saksikan dari ketinggian Bukit Sama perlahan-lahan memuncak dan memperlihatkan kepada kami sesuatu yang sangat indah di bawah sana. Danau Laut Tawar. Berwarna keemasan dan bercahaya karena pantulan sinar matahari pagi. Udara dingin yang menusuk kulit pun perlahan mulai berubah menjadi hangat.

Act like a model!

Mencari penginapan di Takengon ternyata cukup rumit. Beberapa hotel atau penginapan mungkin tidak akan mengizinkan yang bukan muhrim untuk menempati kamar yang sama. Kami saja sempat bingung karena salah satu hotel menolak untuk ditempati karena tidak ada satupun dari kami yang terikat hubungan darah atau saudara. Perlu diingat bahwa mungkin Takengon tidak seketat kota-kota lainnya yang ada di Aceh, tetapi tetap saja, hukum syariah berlaku. Yang bukan muhrim, dilarang tidur satu kamar. Kami bergegas mencari penginapan lain yang memungkinkan untuk ditempati.

Segelas kopi sedang menunggu untuk diteguk. Segera, setelah selesai berberes, kami mencari sarapan dan bergegas mencari kebun kopi yang bisa disinggahi. Tujuan pertama telah ditetapkan. Kami akan berkunjung ke kebun kopi milik Pak Abdullah. Terletak di kecamatan Pegasing, Pak Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak petani kopi di tanah gayo. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi banyak hal tentang kopi dengan pria paruh baya ini. Mengenal kopi sejak lahir, Pak Abdullah bercerita tentang masa kecil yang dia habiskan di kebun kopi milik keluarganya. Hingga kini, beliau mengelola kebun kopi milik keluarga dan memiliki kedai kopi yang dia beri nama Kopi Tiam Wang Feng Sen.

Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.
Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.

Hal yang paling menggembirakan dari Takengon adalah, kau tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk secangkir kopi. Di kedai kopi milik Pak Abdullah ini, secangkir kopi hitam yang nikmat bisa dicicipi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain mencicipi kopi yang harum dan nikmat, kami diajak bermain ke kebun kopi milik teman Pak Abdullah, karena kebetulan kebun kopi beliau cukup jauh sekitar 1 jam perjalanan.

Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Cinta dalam segenggam kopi.
Cinta dalam segenggam kopi.

Melihat kebun kopi dan proses pengolahannya membuat kami bersemangat dan menambah wawasan. Bahwa selama ini untuk menjadi segelas kopi, biji-biji kopi tersebut melalui proses yang panjang dan tidak mudah mulai dari dipetik, dijemur hingga disangrai.

Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.

Selesai dengan urusan kebun kopi, kami berkesempatan mengelilingi beberapa kedai kopi yang mulai menjamur disetiap sisi kota Takengon. Saya tidak pernah mengira bahwa kota kecil ini dipenuhi dengan kedai kopi yang rasanya nikmat dan diproses dengan baik. Bagaimana tidak, pemilik kedai kopi adalah juga pemilik kebun kopi yang tahu bagaimana mengolah kopi dan menjadikannya minuman yang nikmat. Hampir setiap rumah yang kami lewati di kota ini menyangrai biji kopinya sendiri dan aroma kopi itu menyergap masuk ke hidung kami.

Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!

Takengon bukan hanya tentang kopi. Kota ini juga menyimpan peninggalan bersejarah dan cerita budaya. Salah satunya ketika kami mengunjungi Gua Putri Pukes. Cerita yang berkembang di masyarakat setempat bahwa ada seorang putri yang berubah menjadi batu didalam gua tersebut.

Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.

Tak lupa, kami juga mengunjungi Ceruk Mandale. Lokasi tempat ditemukannya kerangka manusia yang diperkirakan berusia 8400 tahun. Lokasinya yang tidak mudah ditemukan membuat kami harus bertanya kepada warga lokal. Medannya juga cukup sulit karena termasuk jalan baru dan jarang dilalui oleh warga sekitar, sehingga masih sepi.

Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.

Pada tahun 2010 lalu para peneliti dan arkeolog menemukan kerangka manusia purba ini. Penelitian masih berjalan hingga sekarang.

Berkat seorang teman, kami dibawa untuk mencicipi sajian khas Aceh Tengah yang katanya hanya disajikan pada acara tertentu saja semisal pesta perkawinan. Kebetulan, ada satu resto yang menyajikan makanan ini. Namanya Asam Jing. Asam Jing sendiri mirip dengan masakan padang, Asam Padeh. Ada juga Cecah Terong Belanda. Agak aneh sebenarnya karena baru pertama kali mencicipi Terong Belanda yang tidak di jus tetapi dijadikan sambel. Ya, makannya pun harus dengan daun labu yang direbus. Rasanya? Surprisingly, enak banget.

Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!
Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!

Takengon membuat kami jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Bukan hanya pada kopi, tetapi pada keindahan alam serta keramahan orang-orangnya. Omong-omong, orang Gayo itu cantik-cantik dan tampan-tampan loh.. he.. he.. he..

How to get there

Ada baiknya kalau memang merencanakan perjalanan darat, berangkatlah pada malam hari. Selain menghindari macet, perjalanan malam lebih sejuk dan tidak membuang-buang waktu. Apabila terlalu melelahkan, ada pesawat perintis yang berangkat 3 kali seminggu dari Medan.

What to do

Minum kopi. Main ke kebun kopi. Datanglah pada saat panen raya, ketika semua orang sibuk dengan biji kopinya. Oleh-oleh terbaik dari Takengon itu adalah kopinya. Kopi Gayo. Danau Lut Tawat juga tidak boleh dilewatkan. Pemandangan paling menakjubkan bisa didapatkan dari Puncak Pantan Terong, sekitar 20 menit dari kota.

Nepal dan “Ziarah Kehidupan”

Foto oleh Vitalia Vito & Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

*Foto-foto ini juga dimuat di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015 @duniamelancong

Nepal adalah negeri pendoa, negeri dimana banyak orang datang untuk mencari Tuhan, mencari kedamaian, mencari ketenangan, mencari “Dia” yang lebih besar dari manusia, “Dia” kekuatan di luar manusia yang melampaui segala sesuatu. Perjalanan ke Nepal, bagi banyak orang adalah ziarah kehidupan.

Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di   Kathmandu (FOTO 1)
Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di Kathmandu
Pashmina khas dari bulu yak
Pashmina khas dari bulu yak
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Stupa Budha
Stupa Budha
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja    ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya

Foto-foto ini diambil oleh teman saya Vitalia Vito, dua bulan sebelum gempa bumi belum mengguncang Nepal pada 25 April 2015. Vita, seperti juga banyak wisatawan dan para peziarah kehidupan lainnya, punya rasa ketertarikan khusus untuk mengunjungi Nepal. Vita yang juga sangat tertarik dengan kebudayaan Hindu yang unik, melihat Nepal begitu Eksotik. Berada di perbatasan India dan Cina membuatnya semakin menarik. Apalagi . Di Nepal, ia melihat banyak, realitas dan juga orang-orang yang ingin bertemu Tuhan. “Sewaktu tiba di sana, aku merasa I belong to there,” kata Vita yang bercerita sambil makan roti cane karena mengaku kangen Nepal dan ingin kembali lagi kelak.

Ah Nepal memang si seksi namun punya banyak cerita sejarah, sekaligus misteri dan intrik yang masih tak kunjung selesai. Seperti gadis cantik seksi yang bapaknya galak. Hehehe Dan gempa bumi yang baru-baru ini terjadi, membuatnya semakin sulit untuk diakses. Semoga Negeri Para Peziarah Kehidupan ini lekas membaik. Dan semoga kesempatan menjejak kaki ke sana semakin dekat. 😀

 Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat

Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi     pembakaran mayat dan upacara berkabung
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi pembakaran mayat dan upacara berkabung
 Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana

Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak    kuil Hindu dan Buddha di sini
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak kuil Hindu dan Buddha di sini

 

Jejak Siar Islam di Barus

Teks dan Foto dari Majalah Dunia Melancong @duniamelancong (Konten tulisan ini juga terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015) 

Barus dahulu dikenal sebagai salah satu bandar atau pelabuhan perdagangan terbesar dan teramai di dunia sehingga membuka pintu masuk agama Islam pertama kalinya di Indonesia. Beberapa jejak siar Islam di kota tua ini masih bisa dilihat hingga saat ini, menjadi destinasi wisata religi bagi para peziarah.

Kota Barus terkenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Indonesia. Sejumlah literatur mengatakan bahwa di kota pesisir barat Sumatera Utara inilah awal mula masuknya agama Islam di Indonesia. Di Barus hingga kini masih bertahan makam para syekh yang berjasa menyebarkan agama Islam di Barus. Di antaranya, Makam Mahligai di Desa Dakka, dimana dimakamkan Syekh Rukkunuddin yang diperkirakan berusia 102 tahun dan wafat di tahun 48 Hijriyah. Selain Syekh Rukkunuddin, terdapat ratusan makam lainnya, yang diyakini adalah makam para pengikut-pengikutnya.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Tiba di gerbang Makam Mahligai, akan terlihat ratusan nisan di atas tanah seluas setengah hektar yang diukir bergaya arab. Beberapa di antaranya diukir lengkap dengan lafal-lafal Islam berbahasa arab kuno. Sementara sebagian lainnya, hanya merupakan nisan batu biasa berbentuk bulat lonjong, namun tetap terkesan kuno.

Untuk masuk ke dalam makam, pengunjung tidak dipatok tarif masuk, hanya jika ingin bersedekah atau ber-infaq untuk biaya perawatan makam disediakan kotaknya dekat pintu masuk. Kepada pengunjung juga diberi beberapa larangan, di antaranya tidak diperkenankan memakai sepatu atau sendal, tidak boleh duduk di atas makam, serta himbauan untuk tidak meminta kepada arwah, karena meminta hanya kepada Allah SWT.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Komplek Makam Mahligai ini memiliki kontur tanah berbukit dan telah diberikan jalan-jalan setapak untuk memudahkan pengunjung untuk melihat-lihat. Ada sekira 215 makam yang terdapat di dalamnya dengan bentuk dan ukuran nisan yang berbeda. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh tentang sejarah situs sejarah ini di lokasi. Seorang penjaga makam yang juga bertani karet di sekitar makam menjadi sumber informasi oral sembari istirahat di bale dan menyeruput kopi panas.

Macao tua di ketinggian
Macao tua di ketinggian

Berbeda dengan Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi berada di Desa Pananggahan. Jaraknya lebih dekat dari pusat Kecamatan Barus, meski untuk menuju makam tidak semudah menuju makam Mahligai. Pasalnya selain berjalan kaki di jalan setapak sejarak 300 meter, perjalanan kaki kembali harus ditempuh menaiki 700 lebih anak tangga dengan kemiringan 70 derajat.

Tiba di lokasi makam yang berada di 200 meter di atas permukaan laut itu, tersaji pemandangan sawah, lautan dan beberapa pulau di teluk Sibolga yang cantik. Terlihat juga hamparan hutan dan sawah hijau, tak lupa sembari rehat sejenak di bawah pohon di dalam lokasi makam. Jangan lupa, saat masuk ke dalam makam, lepaskan sepatu atau sendal yang dipakai.

Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi
Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi

Di dalam makam seluas sekitar 10×20 meter di puncak bukit itu, akan terlihat makam Syekh Mahmud berukuran panjang lebih kurang 7 meter. Bersebelahan dengan makam Syekh Mahmud, terdapat 5 makam pengikutnya yang tersusun berdekatan. Bagi pengunjung yang membacakan ayat-ayat Alqur’an, di lokasi makam disediakan beberapa Alqur’an mini.

Beberapa pengunjung memiliki kebiasaan tersendiri sebelum meninggalkan makam, yakni mengikatkan kain, plastik atau tali, yang dipercaya sebagai mitos tanda sudah pernah menginjakkan kaki di lokasi spiritual itu. Seperti di lokasi tempat religi manapun terdapat aturan yang harus diikuti oleh pengunjung. Di antaranya tidak berbuat sembarangan, misalnya membuang sampah atau bahkan berfikiran dan bertindak yang senonoh.

Makam tua yang masih sering diziarahi
Makam tua yang masih sering diziarahi

Selain dua makam itu, juga terdapat sejumlah makam syekh lainnya yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Barus. Di antaranya, makam Syekh Tuan Ambar, Syekh Ibrahim Syah, Syekh Mahdum, Syekh Kayu Manang, Syekh Tuan Pinago, Syekh Tuan Kinali dan Syekh Tuan Jantikan. Kami sempat mendatangi makam Syekh Tuan Pinago di tepi sungai Aek Sirahar. Sayang, makam tersebut sudah tergerus abrasi. Sebuah nisan yang diyakini milik Syekh Tuan Pinago diikat di sebatang pohon kelapa agar tidak terbawa arus jika sekali-kali banjir kembali melanda. Sementara makam lainnya sudah tergerus dan dibawa arus sungai.

Makam di tepi sungai Aek Sirahar
Makam di tepi sungai Aek Sirahar

Salah satu makam yang juga rusak adalah makam Syekh Tuan Kinali. Makam yang terletak di Desa Kinali tersebut berada di komplek pemakaman warga. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke sana, hampir tak bisa dikenali sama sekali dimana lokasi makam tokoh penyiar agama tersebut, sebab terhimpit dengan nisan lain dan tidak ada petunjuk. Seorang petani yang tinggal di dekat komplek makam akhirnya menunjukkan nisan Syekh Tuan Kinali, yakni sebuah nisan dengan kain kafan yang menutupi kepala nisannya.

Nisan Syekh Tuan Pinago
Nisan Syekh Tuan Pinago

Sangat disayangkan minimnya perhatian terhadap situs sejarah agama di Kota Barus tersebut. Padahal makam-makam para syekh tersebut menjadi jejak penyiaran Islam di Sumatera yang harus dilestarikan. (*)

Transportasi Umum dan Penginapan//

  1. Sampri rute Medan-Barus selama 12 jam perjalanan
  2. Beberapa penginapan level melati bisa ditemui di Kota Barus dengan tarif Rp100 ribu per malam

Taman Nasional Bantimurung, Kerajaan Kupu-Kupu

Teks & Foto oleh: Sahat Farida @sahatfarida

Di sini berpasang-pasang kupu-kupu berlalu lalang.

Taman Nasional Bantimurung, sebuah taman nasional yang berada di propinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya kecamatan Bantimurung kabupaten Maros. Tak sulit menjangkaunya, dari Makasar berkendara darat kita akan menempuh waktu sekitar 40 menit untuk tiba di sini.

Selamat datang di Kerajaan Kupu-kupu.
Selamat datang di Kerajaan Kupu-kupu.

Menurut pemandu wisata kami, Bantimurung terdiri dari dua kata, yakni banti dan murung. Banti artinya air dan murung artinya gemuruh. Bantimurung, gemuruh air. Ya, di kawasan taman nasional seluas 43 hektar ini kita akan menemukan dua air terjun. Tak hanya gemuruh air terjun, suara air mengalir yang indah akan diperdengarkan di kawasan ini.

Berkunjung ke Bantimurung, kita tidak hanya akan disambut dengan gemuruh air. Kupu-kupu adalah daya tarik utama dari kawasan hutan lindung ini. Sayangnya, tak banyak kami saksikan kupu-kupu, meski bagi saya, kupu-kupu yang saya saksikan termasuk luar biasa. Di daerah tempat tinggal saya, Depok pinggir Jakarta, saya hanya menemukan satu atau dua kupu-kupu yang berterbangan, sementara di sini, berpasang-pasang kupu-kupu berlalu lalang. Kupu-kupu dengan aneka warna, jenis biasa maupun yang langsing panjang.

Berbagai cenderamata bernuansa kupu-kupu.
Berbagai cenderamata bernuansa kupu-kupu.

Bulan 7 dan 8, itulah bulan kupu-kupu ramai di Bantimurung. Saya membayangkan keriuhan yang riang. Meski bukan bulan musim, kupu-kupu yang saya jumpai sudah cukup menyenangkan. Masuk dari gerbang utama, patung kupu-kupu menyambut kita. Patung kupu-kupu, kemudian patung kera dengan tangan di kepala. Saya lupa menanyakan pada pemandu, maksud dari patung kera. Bisa jadi, di kawasan ini juga banyak habitat kera, atau bisa juga bentuk kera memegang kepala seperti yang ada di dalam goa.

Dari tempat parkir, kios-kios dan penjaja aksesoris semua hampir seragam. Tidak ada yang tidak menjajakan kupu-kupu. Kupu-kupu yang diawetkan kemudian dibingkai, gantungan kunci kupu-kupu, kaos sablon kupu-kupu.

Kolam Jamala.

Kolam Jamala, kolom untuk para pencinta
Kolam Jamala, kolom untuk para pencinta

Setelah  membayar tiket dan melewati penjagaan, kita akan lihat di sisi kiri, sebuah kolam, kolam Jamala. Untuk pengunjung lokal, harga tiket yang dibayarkan sebesar 25 ribu rupiah, dan pengunjung asing sebesar 255 ribu rupiah. Kolam Jamala merupakan sebuah kolam dengan sumber air dari dalam goa. Air di kolam ini mengalir sepanjang tahun. Menurut tutur masyarakat, kolam ini dahulu merupakan tempat mandi bidadari, kepercayaan lainnya adalah, air kolam memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit, serta enteng jodoh. Saya tentunya segera membasuh beberapa bagian tubuh dengan air ini.  Di seberang kolam, berdiri bangunan, museum kupu-kupu.

Pemandu mengatakan, kedatangan kami ke Bantimurung belum sah jika belum menyambangi goa batu. Kami tentu saja, bersemangat menuju ke sana. Berjalan menanjak, melewati air terjun pertama. Kupu-kupu tentu saja menyertai perjalanan kami. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan sebuah makam. Sebelumnya makam tersebut berada di sisi sungai. Banjir bandang yang melanda menginisiasi warga untuk memindahkan makam Raja Tuakal, tak terlalu jauh dari sungai.

Kami masih terus berjalan, pemandu mengatakan jarak yang kami tempuh sekitar 1 kilo 600 meter untuk pergi pulang goa. Udara sejuk  tak menghentikan deru nafas kami yang berjalan menanjak.

Goa Batu.

Goa stalaktit, goa cantik tempat banyak peziarah bersemedi.
Goa stalaktit, goa cantik tempat banyak peziarah bersemedi.

Goa stalaktit cantik yang luas. Memasuki goa ini, kami diminta untuk mengucap salam dalam tata cara Islam dan berdoa dalam hati, menyampaikan niat hajat baik dengan melakukan kunjungan ini. Kami masuk ke dalam goa.

Di dalam gua. Ada batu berbentuk lonjong di atas sisi kiri, batu tersebut ditutup kain merah. Pemandu kami mengatakan bahwa itu adalah batu jodoh. Masyarakat di sini mempercayai bahwa menyatakan niat hajat dengan memegang batu tersebut, maka hajat akan dimakbulkan. Tak ada satupun dari kami yang naik ke atas karena licin. Hujan yang kerap turun menyebabkan kondisi goa semakin lembab dan stalaktit semakin basah. Pemandu menjelaskan panjang gua sekita 400 meter, dan ini barulah permukaan.

Peta Taman Wisata Bantimurung.
Peta Taman Wisata Bantimurung.

Kami terus  memasuki kawasan goa, berjalan merendah, merangkak melewati ceruk stalaktit. Pemandu mengantarkan kami ke dalam sebuah ruang goa yang dipercayai masyarakat sebagai tempat bertapa. Benar saja, ada ceruk lainnya, berukuran sebuah tubuh yang sedang duduk bersila, bertapa. Ruang goa ini cukup luas, dengan stalaktit yang unik. Di rongga goa yang sama, terdapat sumber mata air.

Pemandu mengarahkan kami untuk mencuci muka di sini, air awet muda. Saya dan rombongan tentunya tidak melewatkan kisah unik ini, mencuci muka dengan harapan menjadi awet muda. Tempat terakhir yang kami kunjungi dalam goa, ceruk agak besar yang dikisahkan sebagai tempat ibadah pertapa. Kunjungan goa berakhir di sini. Goa tidak memiliki jalan tembus, pengunjung harus berbalik ke arah semula. Tentunya, berjalan menuju goa dan kembali ke tempat semula memiliki sensasi yang berbeda.

Mari berkunjung ke Bantimurung, hilanglah hati yang murung.

Trip Gelombang, Menelusuri Kampung Halaman Alfa di Pusuk Buhit

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

*Tulisan ini juga terbit di majalah Dunia Melancong

“Welcome to Sianjur Mula-mula and Feel The Miracle!”

Keajaiban seringkali terwujud dengan ajaib, seperti namanya. Keajaiban tersebut, ketika mewujud, maka namanya disebut-sebut sebagai kebahagiaan. Seperti beberapa waktu lalu saat saya dan kemanaaja.com mengadakan sebuah perjalanan menelusuri kampung halaman Alfa Sagala, tokoh utama dalam novel Supernova, Gelombang karya Dee Lestari.

Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula
Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula

Sebenarnya, saya sudah sangat lama tertarik untuk berkeliling Pulau Samosir sampai ke Sianjur Mula-mula dan kaki Pusuk Buhit, sebuah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Batak. Niat itu, lama terpendam karena memikirkan jarak dan akses untuk menuju ke sana. Saya tahu dan telah membaca banyak refrensi tentang betapa menariknya dan kayanya situs-situs yang ada di sana. Banyak mitos, banyak cerita, banyak folklore, juga tinggalan-tinggalan kebudayaan yang menarik untuk dipelajari. Tapi lama sekali niat itu tertahan dan tertunda.

Kali ini saya pantas berterima kasih kepada Dee Lestari yang membangkitkan kembali keinginan tersebut. Lewat novel berseri terbarunya, Supernova Gelombang, hasrat saya tersebut seperti tergelitik kembali. Rasanya ingin menyaksikan langsung kaki Pusuk Buhit, Aek Sipitu Dai, dan Sianjur Mula-mula yang disebut-sebut di dalam novel. Saya memang sangat mudah tergoda dengan tokoh-tokoh menarik dan cerita tentang mereka dalam novel. Maafkan saya yang jika sudah jatuh hati akan melakukan banyak hal untuk mengenal dengan details keseluruhan cerita.

Ide Trip Gelombang pun menggelontor begitu saja. Bersama dengan 4 orang teman yang juga pembaca Gelombang, kami siap menjelajahi Sianjur Mula-mula dan bertemu dengan “Alfa”.

Kabut di atas Danau Toba
Kabut di atas Danau Toba

Not Easy

Iya, tidak mudah. Bukan rute perjalanan dan medannya yang tidak mudah, tapi keputusan kami untuk melakukan perjalan kali ini tidak mudah. Entah kenapa, perjalanan kali ini mengalami cukup banyak tantangan yang butuh kebulatan tekad agar bisa melakukan perjalanan spiritual ini.

Iya, kami menyebutnya perjalanan spiritual karena perjalanan kali ini adalah sebuah perjalanan untuk berkenalan dengan kampung halaman tokoh yang hidup dalam imajinasi kami. Lagi pula tempat yang kami tuju bukan tempat sembarangan, sebuah tempat yang dipercaya oleh masyarakat Batak sebagai tempat penting dan sakral. Sebuah tempat dengan sejarah panjang dan memiliki ikatan yang kuat dengan masyarakat Batak seluruh dunia. Pusuk Buhit, tempat pertama kali Debata Mula Jadi Nabolon pertama kali menurunkan orang Batak dan membangun kehidupan di sana. Begitu menurut mitos penciptaan dalam masyarakat Batak.

Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.
Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.

Seperti saya, teman saya yang lain, Melzna ternyata juga sudah sangat lama memiliki keinginan berdiri lebih dekat dengan Pusuk Buhit, paling tidak di kakinya. Bukan seperti selama ini yang hanya melihat dari jauh.

Tantangan itu mulai dari pembatalan dari teman-teman yang sudah berjanji ikut tapi tiba-tiba membatalkan. Sebagian dengan alasan yang jelas sebagian tanpa alasan. Ya… sudahlah. Jadilah kami mencari-cari teman yang lain yang ujung-ujungnya membuat saya sepakat dengan pendapat para traveler senior, “Nggak mudah menemukan teman jalan, selain belum tentu cocok waktu, juga belum tentu cocok kantong dan minatnya.” Tapi kami ya tetap go a head dong…

Tantangan berikutnya, penginapan yang sudah di-booking tapi pada hari H mendadak batal karena pemilik penginapan mengaku sudah full padahal sudah di-book malam sebelumnya. Ngeselin nggak itu?

Menara Pandang Tele
Menara Pandang Tele

Selanjutnya, salah satu tim dari kemanaaja, Thicka, pagi hari di jadwal keberangkatan tiba-tiba mengirimkan pesan kalau dia batal ikut karena mendadak jatuh sakit. Mimisan dan mendadak lemas. Kesal, marah, sedih, semuanya bercampur satu. Ingin rasanya waktu itu membatalkan saja trip yang sudah dirampungkan di malam sebelumnya. Tapi saya sudah terlanjur bertekad bulat, trip harus berjalan. Syukurnya teman-teman yang lain juga sepakat untuk lanjut terus… dan keajaiban sudah berlangsung sejak saat itu. Thicka memaksa diri untuk tetap ikut, dengan keyakinan yang sama dengan kami, perjalanan ini akan baik-baik saja buatnya.

Ada lagi, dalam perjalanan, Andi, fotografer andalan kami, dalam perjalanan mendadak didera sakit kepala hebat. Seperti dilanda gempa katanya. “Benar-benar penuh tantangan,” kata Melzna, teman saya. Thank God, kami semuanya diberkati dengan keyakinan yang kami miliki.

Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.
Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.

Sianjur Mula-mula

Setelah menempuh perjalanan dengan menginap semalam di Berastagi (karena kondisi fisik beberapa teman yang kurang baik) kamipun tiba di Sianjur Mula-mula. Kami menikmati perjalanan dan pagi yang berkabut sepanjang perjalanan di Tele. Menara Pandang Tele hari itu tidak menjanjikan pemandangan yang jernih. Tapi untungnya hari yang didominasi rintik sepanjang jalan tidak berlangsung lama. Langit di Sianjur Mula-mula sangat bersahabat. Langit jernih dengan udara segar sehabis hujan. Langit sudah terbuka. Kampung Sianjur Mula-mula yang menjadi destinasi utama kami sudah ada di depan mata. Perkampungannya kelihatan biasa saja. Jalanan sedang diperbaiki, untuk membuatnya semakin layak sebagai kawasan Geopark mungkin karena tahun 2015 Pulau Samosir dan Danau Toba yang mengelilinginya sudah akan menjadi kawasan Geopark dunia.

Perbukitan menuju Pusuk Buhit
Perbukitan menuju Pusuk Buhit

Rumah-rumah dari kayu dan beberapa berbentuk rumah panggung masih tampak di desa ini. Ada antusias melihat kampung Alfa. Kami rasanya melihat masa kecil Alfa Sagala, tokoh bermarga Sagala yang memang marga asli dari Desa Sianjur Mula-mula, juga Marga Limbong.

Entah dimanapun itu letak rumah Alfa, kami merasakan sudah berada di rumah masa kecil Alfa, bertamu dan disambut dengan ramah. Desa kecil ini dikelilingi oleh bukit-bukit indah yang menghijau tregradasi. Hijau tua, hijau muda, hijau yang menyegarkan mata.

Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai
Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai

Aek Sipitu Dai

Mata air dengan pancuran dengan tujuh rasa yang berbeda-beda, Aek Sipitu Dai. Kami menjadikan tempat ini juga sebagai destinasi wajib. Penasaran dengan rasanya yang rupa-rupa itu dan juga karena menjadi salah satu bagian yang juga dicerita-ceritakan dalam Gelombang.

Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai
Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai

Tempatnya tak seperti yang saya bayangkan. Dalam pikiran saya, lokasinya tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dan tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari karena kesakralannya. Saya agak menyayangkan hal itu. Ah seandainya kesakralan itu dijaga, tentu tempat ini akan lebih memiliki banyak daya tarik.

Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar
Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar

Sebelum mencoba cicip rasa masing-masing pancurannya, kami bertemu dengan Bapak Sagala, juru kunci Aek Sipitu Dai sekaligus pegawai Dinas Pariwisata setempat. Beliau memberikan informasi sebagai introduction, tentang sejarah Raja Batak, Sejarah Sianjur Mula-mula, dan sejarah Aek Sipitu Dai. Kepada beliau kami bercerita tentang novel Gelombang yang kami bawa serta waktu itu. Ah betapa terkesimanya beliau dengan setting yang banyak mengambil tempat di Sianjur Mula-mula sekaligus tokoh utamanya yang bermarga Sagala.

Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai
Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai

Kami pun mencoba rasa dari masing-masing pancuran air. Sebelum mencoba jangan lupa ucapkan “Horas” kata Bapak Sagala. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Mengucapkan “Horas” sebelum meminum air yang ternyata rasa dari tiap pancuran memang berbeda-beda. Ada pancuran air untuk ibu-ibu, untuk para dukun, pancuran air penyembuh, dan lain-lain. Rasanya beragam, ada yang terasa soda tawar tanpa gula, sebagian terasa manis, sebagiannya lagi rasa soda dengan kadar yang sangat sedikit. Tidak ada penjelasan ilmiah di sini. Saat dibawa ke sumber mata airnya yang tepat berada di belakang pancuran di bawah sebatang pohon hariara besar dan rimbun, aliran air tenang yang membentuk kolam panjang.

Sumber mata air Aek Sipitu Dai
Sumber mata air Aek Sipitu Dai

Setelah berfoto bersama, sebagai tanda persaudaraan kami menghadiahkan buku Gelombang untuk Bapak Sagala yang sudah sangat ramah dan sepertinya sangat tertarik dengan Gelombang.

Tanah Ponggol
Tanah Ponggol

Batu Hobon, Sopo Tatea Bulan, Huta Raja Batak di Kaki Pusuk Buhit

Batu hobon adalah bagian menarik dari Sianjur Mula-mula, sebuah situs batu yang dipercaya sebagai batu berongga tempat si Raja Batak, Guru Tatea Bulan menyimpan harta bendanya. Batu berongga ini merupakan sisa-sisa dari proses vulkanis yang terjadi pada Gunung Toba ribuan tahun silam. Konon banyak pihak yang berniat membuka tempat penyimpanan ini tetapi tidak berhasil dan justru ditimpa malapetaka.

Situs Batu Hobon
Situs Batu Hobon

Situs ini berada di sebuah tanah datar luar yang dikelilingi bukit-bukit cantik. Di bukit yang tepat berada di seberang Batu Hobon terdapat Sopo Tatea Bulan, sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat patung si Raja Batak beserta keturunan, pengawalnya, serta sejumlah kendaraan si Raja Batak seperti naga, gajah, singa, harimau, dan kuda. Di tempat ini di antara pebukitan yang indah tak sedikit orang mengadakan ritual kebudayaan dan kepercayaan. Seperti saat kami kemari, kami urung masuk karena ada yang tengah melakukan upacara.

Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon
Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon

Pemandangan menuju ke tempat ini sangat luar biasa. Pun di luasnya halamannya. Kita bisa menyaksikan bukit-bukit berbaris, bersinggungan dan berlapis-lapis yang diinterupsi air terjun di sela-selanya. Seperti terjepit. Hijaunya sangat memanjakan mata. Belum lagi barisan kerbau yang merumput di kemiringan bukit serta hamparan sawah hijau kekuningan yang sangat luas dihiasi perkampungan dengan rumah-rumah adat Batak. Sangat istimewa. Saya tidak berhenti mengagumi keindahannya, tak pula malu berteriak-teriak bahagia dan bersyukur.

Sopo Tatea Bulan
Sopo Tatea Bulan

Tak jauh dari Sopo Tatea Bulan terdapat perkampungan atau Huta Si Raja Batak, yang diyakini sebagai tempat awal di Raja Batak mendirikan perkampungan. Di tempat ini tengah dibangun pusat informasi Geopark Toba.

Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Aek Sipitu Dai
Aek Sipitu Dai
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.

Kejutan Besar

Kejutan besar yang sangat membesarkan hati datang saat kami sedang dalam penyebrangan menuju Parapat. Di atas kapal feri, sebuah notification dari instagram membuat mobil kami penuh teriakan gaduh. Dee Lestari adalah penyebab kerusahan tersebut. Postingannya membuat kami berbahagia sekaligus terharu. Dia menulis:

“Inspired by Alfa Sagala and organized by @kemanaajacom #Gelombang’s readers made a trip to Sianjur Mula-mula, the birth place of Batak civilization. They meet Pak Sagala, Juru Kunci/ guide of the village. A year ago I did the same trip and interviewed Pak Sagala. After the book was out I thought about sending him #Gelombang but I didn’t have his address. The universe worked in wondrous way. This group gave him my book upon their visit. I just knew about this last night when they tagged me. I am so touched and relieved. Alfa made his way home. Thank you, dear readers. Bless your, kindness. <3”

Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai
Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai

Dengan dukungan semesta, Alfa menemukan jalannya pulang, ke Sianjur Mula-mula, bersama-sama dengan kami. Dan Bapak Sagala sudah menerima niat yang sudah terbangun di hati Dee, melalui kami. Tawa bahagia dan keajaiban yang kami rasakan sepanjang perjalanan telah membawa kami pulang, pada hati kami. Perjalanan spiritual kali ini membawa banyak kenangan bahagia.

Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit
Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit

M For Pusuk Buhit

Teks oleh Melda Zhang @melzna

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

Pusuk Buhit, perjalanan penuh keajaiban.

A2 Café, markas besar pertemuan 5 sekawan petualang, Eka yang berdarah Andaliman, Andi berdarah Capcai campur Andaliman, Tika berdarah Rendang Balado, Sarah berdarah peyek campur Fuyunghai, dan terakhir aku, Melz berdarah-darah, Alien campur Pliek’u! Bedanya, kami tidak bertualang mencari harta karun, kami bertualang mencari keajaiban, memusnahkan kegalauan! (MKMK) *ehem! Musik di café semakin menjadi-jadi, menjadi nggak karuan, penyanyi suara sumbang terdengar horror di telinga, belum lagi pembicaraan tentang perjalanan ke Pusuk Buhit yang penuh mistis semakin pasti, binar mata menari-nari penuh semangat menyambut perjalanan menuju kampung asal muasal orang Batak pertama kali lahir. Berdasarkan buku fiksi serial Supernova, Gelombang, Dee Lestari, akhirnya 5 sekawan berangkat mencari keajaiban memusnahkan kegalauan.

Saat saya mencoba air di Aek Sipitu Dai, mencoba "Feel The Miracle"
Saat saya mencoba air di Aek Sipitu Dai, mencoba “Feel The Miracle”

Belum lagi pagi menjelang, ketika mata hampir terpejam, bunyi HP berdering, petanda pesan instant masuk, dari grup GelombangTrip, isinya, Tika si Rendang Balado, membatalkan perjalanan yang berjudul MKMK itu, sebabnya di luar dugaan, tiba-tiba Tika demam tinggi dan mimisan berdarah-darah ( ya nggak mungkin juga mimisan berdolar-dolar, semakin mistis), padahal ketika di café, semua baik-baik saja, cerah ceria walau masih tanggal tua. Galau peserta perjalanan berkurang tidak main-main, menyebabkan susah tidur dan lupa cebok, itu bisa saja terjadi, sama sekali bukan karena mistis. Rasanya pagi yang ditunggu-tunggu tidak memberi semangat penuh, satu persatu peserta yang sempat memberi harapan, berguguran, hingga siang hari peserta yang pasti ikut hanya 4 orang. Tapi tetap tidak melunturkan semangat, akhirnya dari kompor sampai penggorengan, luluh juga si Tika yang sedang demam panas dingin dan memutuskan untuk tetap berangkat bersama! Wuih itu menggembirakan sekali, bukan karena sharing cost lebih murah, bukan! Tapi kalau tak ada Tika tak ada yang nyanyi lagu India di Mobil!! Dan kami bisa mati bosan, membatu seperti Arca depan Sarkofagus di Tomok itu, dan berlumut dan basi! Ah untunglah kami “tetap” hidup meski perjalanan panjang sempat kita bunuh dengan kantuk dan tetesan iler!

Mengisi perut menjauhkan diri dari serangan cuaca dingin di Berastagi
Mengisi perut menjauhkan diri dari serangan cuaca dingin di Berastagi

Ini adalah perjalanan malam, dan gerimis, sebentar saja kami sudah tiba di Tanah Karo, cuaca terlalu dingin untuk berdiri di luar walau hanya sekadar minum bandrek dan kue pancung, aku memutuskan untuk menunggu di mobil saja. Supaya energi kami terkumpul, kami memutuskan menginap saja di Berastagi, dan besok pagi-pagi baru melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Pusuk Buhit, Desa Sianjur-Mula-mula. Hotel yang kami dapatkan malam itu kamarnya biasa saja, dingin dan seadanya, seperti tahu saja siapa tamunya, tapi halaman dan pemadangan sekitar bagus dan menyegarkan mata, seorang anak laki-laki yang melayani kami ketika tiba di hotel malam-malam, masih terlalu muda, mondar-mandir tempat tinggalnya dan kamar kami yang berjarak seberangan lapangan sepakbola, hanya untuk menjawab satu- persatu pertanyaan dari kami yang tidak sekaligus saja, entahlah. Udara pagi masih sangat segar, ibu-ibu mandi di bawah pancuran mata air yang dapat kurasakan dinginnya air itu di permukaan kulitku yang tak tahan mandi air dingin, apalagi mata air pegunungan, seketika itu juga aku akan tersihir menjadi Olaf si boneka salju! Hamparan rumput hijau dihiasi kuda-kuda yang sedang merumput, aku merasa seperti sedang di negeri lain, tapi seketika itu aku kembali ke kenyataan karena babi hutan berlenggok lincah dengan muncungnya.

Ternyata gampang sekali untuk sampai ke Desa Sianjur Mula-mula, walau Andi tiba-tiba mengalami sakit kepala berputar-putar sejak semalam, entah dia berputar kemana, katanya mungkin darah rendah, jadi dia mulai melahap telur-telur yang tersedia di warung, kenapa dia tiba-tiba jadi seperti Biawak, pemakan telur?! Hihihi… Dan dia minum susu, teh manis juga, tentu saja nasi dan indomie telur (lagi) dilahap dalam satu sesi sarapan. (Sorry saya berlebihan). Katanya dia nggak bisa tidur semalaman, kemungkinan besar karena ngorok supir yang membahana, katanya juga dia tidak bisa berdiri berlama-lama, takut tumbang, apalagi mendaki di tepi jurang! Siapapun juga kali ya! Hihihi… Aku mulai was-was, kenapa orang-orang ini mulai bersakitan satu-persatu, sampai ke tujuan pun belum, jika tiba giliranku yang sakit, aku pilih ketombean aja deh nggak apa, dari pada berputar-putar aku malas! *lho?! OK! Padahal tidak ada sedikitpun petanda tidak enak badan dari kami semua awalnya, gatal ketek pun nggak! Tapi kita sudah hampir saja tiba, tidak ada lagi kata tak jadi. Pikiranku sudah melayang berenang layaknya peri di air ajaib Aek Sipitu Dai!

Sarapan pagi di Tele saat Andi masih diterpa "gempa" di kepalanya.
Sarapan pagi di Tele saat Andi masih diterpa “gempa” di kepalanya.

Kabut menyambut kami ketika memasuki Kabupaten Samosir, seakan kami telah tiba di sebuah desa di balik kabut, desa yang sakral, yang katanya pusat kekuatan supranatural! Whoaaa aku sudah membayangkan kembali menjadi pendekar sakti di sana! Tampak sebuah plang selamat datang di Desa Sianjur Mula-mula, Pusuk Buhit, objek wisata budaya Aek Sipitu Dai, tapi sebuah kalimat terakhirlah yang menarik perhatianku, bertuliskan “Feel the Miracle” jadi aku mencoba memusatkan perhatian pada sekeliling, memperhatikan detail yang tak ingin aku lewatkan yang mana tau adalah sebuah petanda, aku terbiasa hidup dengan petanda, misalnya petanda sesak eek, petanda penuaan seperti saat ini, segala dalam hidupku adalah soal petanda! Jadi sangat penting bagiku untuk memperhatikan sebuah petanda apalagi hadir dari tempat sesakral ini, yang menawarkan keajaiban! Sumpah ini adalah keajaiban, pemandangan pertama ketika menapaki mata air Aek Sipitu Dai adalah ibu-ibu berkolor dan sedang mencuci pakaian sodara-sodara! Buyar, musnah semua khayalanku sebelum datang, mungkin juga diikuti oleh kegalauanku selama ini? Siapa tahu? Dan ini adalah pencapaian terbaik di tahun 2014, musnah segala kegalauan!

Bersama Bapak Sagala, saudara Alfa Sagala dari buku serial Supernova, Gelombang Dee Lestari
Bersama Bapak Sagala, saudara Alfa Sagala dari buku serial Supernova, Gelombang Dee Lestari

Tapi, bukan itu intinya, seorang bapak bermarga Sagalalah yang dengan serius menceritakan tentang sejarah asal muasal Raja Batak dan Aek Sipitu Dai ini, yang kebetulan beliau jugalah juru kunci daerah sana, sekaligus orang yang sama sebagai narasumber novel fiksi serial Supernova, Gelombang. Jadi kami telah bertemu dengan orang yang tepat, akhirnya sebuah buku Gelombang kami berikan kepada Pak Sagala sebagai hadiah. Kami masih menari merayakan keberhasilan mencapai tempat ini, tiba-tiba seorang kakek dengan celana gantung khas orang tua Batak beserta sebuah tongkat menghampiri kami dan mulai berceramah, dalam Bahasa Batak. Hanya Andi, di antara kami yang mengerti Bahasa Batak, tapi aku tidak dapat terjemahan langsung dari Andi, yang pasti tongkat si Kakek selalu menunjuk kepadaku pada setiap kalimatnya “Kau jaga hati kau… Kau jaga jiwa kau… kau jaga pikiran kau…” dari sekian banyak kalimatnya hanya itu yang kami pahami intinya. Aku terdiam, pucat dan gagu, jangan-jangan ini sebuah petanda, jangan-jangan aku akan dilamar konglomerat Hongkong… jangan-jangan… Sultan Hassanal Bolkiah telah mempersiapkan sebuah kapal pesiar buatku! Jangan-jangan….

Di halaman Batu Hobon, di belakang kami tampak bendera Batak dan Sopo Tatea Bulan di bukit di kejauhan.
Di halaman Batu Hobon, di belakang kami tampak bendera Batak dan Sopo Tatea Bulan di bukit di kejauhan.

Perjalanan belum selesai sampai di Aek Sipitu Dai, kami masih melanjutkan ke Batu Hobon dan tempat sakral Guru Tatea Bulan, tempat dimana pemberhentian terakhir jika kita ingin menuju puncak gunung Pusuk Buhit yang merupakan tempat di mana orang-orang meminta petunjuk kepada Raja Uti, yang diyakini memiliki kesaktian tertinggi dan penguasa di Pusuk Buhit. Perjalanan kali ini kami selesaikan hanya sampai di Pondok Guru Tatea Bulan, yang lain waktu akan kami lanjutkan untuk tiba di Puncak Gunung Pusuk Buhit, yang mana tau mendapat petunjuk sakti dari Raja Uti. Horas!!

Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 2-End)

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Paling terkesan dengan penyu, garis pantai yang bercahaya saat gelap malam, dan tentara-tentara penjaga yang ternyata ramah.

Here we are! Kami sudah tiba di Pulau Berhala.

Setelah menuntaskan agenda pribadi dan mengisi perut, kami meletakkan barang-barang di kamar-kamar yang sudah disediakan. Jangan khawatir, di Pulau Berhala, meskipun tidak ada penginapan seperti hotel atau guest house, rumah tinggal para tentara dan navigator penjaga pulau biasa digunakan jika ada tamu yang datang. Jumlahnya cukup banyak, bisa untuk menampung sekitar 200 orang dan sepertinya memang dipersiapkan untuk para wisatawan. Kamar-kamar tersebut terawat baik dengan lantai keramik yang bersih, bangunan baru, dan kasur yang empuk. Ini jauh lebih baik dari yang saya bayangkan.

Di tempat ini, jangan pernah berniat untuk menjadikannya sebagai lokasi berbulan madu karenaaaaa… ada aturan yang sudah ditetapkan. Kamar antara laki-laki dan perempuan dipisah, tidak boleh bersatu meskipun itu untuk suami istri. Ini sudah menjadi aturan baku. Tentang kenapa, katanya berpantang sekaligus mungkin demi kenyamanan penghuni pulau ya. Hehehe…

Kamu bisa nginap di sini...
Kamu bisa nginap di sini…

Nah selain bisa menginap di kamar-kamar yang sudah disediakan, tepat di depan dermaga dan kamar-kamar di sebelah timur pulau, pengunjung bisa juga menikmati sensasi berlibur out door. Ya artinya, kamu harus membawa perlengkapan berkemah sendiri. Silahkan bawa tenda dan gelar sendiri tenda di areal aman di pinggiran pantai. Pinggiran pantai yang aman dari air pasang cukup luas kok. Bisa untuk 3-5 tenda di dekat dermaga. Di dekat kamar-kamar di sebelah timur dermaga lokasi berkemah jauh lebih luas lagi.

Berkemah di pinggiran pantai pasti memberikan kesan yang berbeda. Bisa mendengar suara debur ombak secara langsung adalah suasana mahal, tidak bisa dimiliki di kota yang tiap hari dipenuhi berisik suara kendaraan sampai larut malam. Kamu bisa merasakan angin laut, melihat bintang-bintang yang terlihat jauh lebih banyak karena tidak dihajar polusi cahaya. Ahhhh… ini kemewahan luar biasa. Itulah sebabnya saya sangat menyukai duduk dekat dengan alam.

Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.
Sore dengan matahari yang malu-malu menjadi senja yang biru cantik dan sendu.

Saya dan beberapa teman-teman lain (Ayuni dan Rancid) memang tidak membawa tenda, tapi kok rasanya kalau bergabung di kamar para cewek sudah terlalu sempit. Akhirnya dengan gagah perkasa kami memutuskan tidur dengan tikar di bawah pohon beratapkan langit dan berdindingkan udara malam pinggiran pantai. Ceileh…. Ya meskipun kemudian harus tergusur karena hujan yang mendadak deras. Kami akhirnya tidur di teras kamar cowok yang cukup luas dan cukup aman dari angin. Kami menggelandang dengan leluasa di dinginnya hujan Pulau Berhala.

Garis pantai dan para diver yang baru menepi
Garis pantai dan snorkeler yang suka memancing ikan.

Oh ya… untuk kamar-kamar tersebut, setiap tamu dikenakan biaya Rp. 30.000 per orangnya. Hitungannya bukan per malam tapi per kunjungan. Jadi meskipun dalam sekali kunjungan kamu tinggal selama 1 minggu di Pulau Berhala, bayarannya tetap Rp. 30.000. Saya terkesan lagi dengan sistem pembayaran yang sangat nyaman ini.

Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok...
Ikan hasil tangkapan. Memancing ikan boleh kok…

Ngomong-ngomong soal aturan, ada beberapa aturan lagi yang harus dipatuhi setiap pengunjung di pulau ini. Para pengunjung berpantang membunuh setiap binatang hutan di Pulau Berhala. Baik itu burung, tupai, atau ular sekalipun. Seperti kejadian di minggu pagi saat dari arah kamar para tentara penjaga pulau terdengar suara gaduh. Ternyata seekor ular piton ingin memangsa ayam peliharaan mereka. Para tentara hanya mengusir ular tersebut pergi, mereka tidak membunuhnya. Pelestarian untuk menjaga keseimbangan alam. Sebab memang predator terbesar musuh alam semesta sesungguhnya adalah manusia dengan segala keserakahannya. Tssssah… saya ngomongnya sudah melantur. Hehehe…

Aturan lainnya adalah, para pengunjung disarankan untuk menjaga tutur dan sikap, aturan berpantang seperti pada beberapa tempat untuk membagun mitos dan sikap menjaga sekaligus menghormati diterapkan di Pulau Berhala.

Facing 768 Stairs

165 anak tangga pertama
165 anak tangga pertama

Hari belum terlalu sore saat kami tiba di Pulau Berhala. Beberapa teman langsung mengajak untuk melihat langit dan laut dan keluasan samudra di sekeliling Pulau Berhala dari ketinggian menara suar. Ajakan ini rasanya cukup menggoda. Biarlah sementara Bang Onny dan team sedang khusyuk bermain-main dengan mainan barunya, drone untuk menangkap gambar Pulau Berhala dari atas, saya memutuskan ikut bergabung dengan tim yang akan mengalahkan tangga-tangga menuju menara suar. Toh besok pagi belum tentu akan ada teman lain yang ingin menaiki menara suar.

Berbekal sebotol air minum, saya dan Andi dari kemanaaja berjalan bersama 5 orang lainnya ditambah dengan satu orang navigator penjaga pulau. Perjalanan ke menara suar terus menaik. Setelah menyelesaikan 165 anak tangga pertama, kami harus terus berjalan dan menuntaskan sekitar 615 anak tangga lagi. Wow… membayangkannya saja saya sudah teler. Tapi saya ingat lagi kata teman saya, Ridho Golap, “Jangan bayangkan jauhnya atau susahnya naik, tapi bayangkan apa yang kau dapatkan begitu sampai di puncak.” Iya, saya sadar kalimatnya benar. Saya hanya akan membayangkan apa yang akan saya lihat begitu tiba di atas puncak. Kalaupun nanti mengecewakan, saya tetap berbahagia karena saya sudah berhasil mengalahkan rasa tidak kuat atau malas dan berhasil menuntaskan rasa penasaran. Oh ya jangan kalian bayangkan kalau Ridho Golap itu bijak kali orangnya ya. Hahaha waktu ngomong seperti itu sebenarnya dia hanya ngelantur saja kok. *biggrin

Masih kuat kakak....
Masih kuat kakak….

Kami berjalan pelan-pelan, nafas sudah terasa ngos-ngosan. Beberapa kali kami berhenti menjaga jarak masing-masing dan berusaha mengatur nafas. Tangga-tangga semakin tinggi. Di kiri tangga terdapat rel dari kayu sampai ke puncak tangga untuk mengangkut muatan-muatan bahan bangunan untuk membangun menara suar dan menara komunikasi yang tengah dibangun. Anak-anak tangga sebagian terasa licin karena berlumut. Untung tidak ada hujan sore itu.

Pegangan tangga di kiri atau kanan sebagian sudah lapuk dan rusak. Langkah-langkah kami kecil saja dan hati-hati. Parada, salah satu teman tampak paling tersiksa. “Aku udahan ajalah,” katanya yang disambut suara ngos-ngosan kami sambil berkata, “Ayo, pelan-pelan aja.” Well… kami semua tiba di ujung tangga sekitar 30 menit kemudian. Si abang yang menjadi guide kami cukup sabar menghadapi nafas pendek-pendek dan langkah-langkah kecil kami.

Untuk melihat dari puncak menara, kami harus menaiki tangga lagi, sekitar 4 tingkat ruangan dengan tangga nyaris 90 derajat pada tingkat keempat. Untuk yang phobia ketinggian seperti saya dan Andi, saya salut dengan keberanian kami. Hehehe…

Jalan menuju menara suar
Jalan menuju menara suar

Di atas menara suar, angin cukup kencang membuat kadang suara hilang terbawa angin saat tengah berbicara. Langit sedang tidak terlalu bagus sore itu. Langit datar, flat, tidak ada goresan biru yang membuat indah. Langit serba abu-abu yang juga membuat laut mati warna. Laut tidak tampak biru. Tapi saya ingin tetap menikmati apapun yang saya temukan di sana. Angin, keluasan, kebebasan, dan keberanian mengalahkan rasa takut. Kami berhasil menghadapi 768 anak tangga yang tak banyak bicara tapi sangat menguras tenaga.

Kami pun bergegas pulang karena hari sudah semakin sore mendekati pukul lima. Saran dari abang guide, sebaiknya sudah tiba di bawah sebelum pukul enam karena akan sangat gelap dan tidak terlalu aman berjalan dalam gelap di tangga-tangga berlumut. Jalan turun memang tak bikin lelah tapi cukup bikin nyali ciut bila melihat ke bawah. 😀

Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.
Bangunan menara suar di atas puncak anak tangga.

Rumah Untuk Penyu

Keistimewaan lain Pulau Berhala adalah pulau ini merupakan tempat konservasi penyu. Penyu hijau, satwa asli pulau ini sendiri. Penangkaran penyu tersebut, menurut Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu penjaga pulau dari Angkatan Darat yang bertugas jaga, sudah mulai dilakukan sejak Pulau Berhala dikelola, sekitar tahun 2006. Sejak itu pula sudah lebih ribuan penyu yang dilepas kembali ke habitatnya, ke laut begitu mencapai usia dewasa. Penangkaran penyu yang dikelola oleh tentara ini saat ini sedang merawat lebih dari 30 tukik (anak penyu) berusia satu bulan. Saat tukik berusia tiga bulan nanti, tukik-tukik ini dilepas ke laut karena dirasa sudah cukup dewasa dan mampu menjaga dirinya bertahan dari pemangsa dan kesulitan alam. Selain tukik-tukik, di wadah penangkaran ada ratusan telur yang tengah dieramkan.

Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.
Diajari cara memegang tukik agar tukiknya tidak meronta.

Oh ya para tentara penjaga pulau biasa berpatroli malam hari untuk mengumpulkan telur-telur penyu agar tidak sampai dimangsa oleh elang, ular atau hewan-hewan pemangsa lainnya. Dan… ternyata mereka pernah bertemu dengan penyu raksasa seberat lebih dari satu ton.

Untuk melihat penyu dewasa dan jejak-jejak mereka naik ke daratan, kita harus ke arah timur pulau, sekitar 15 menit berjalan bila melalui anak-anak tangga bila air sedang pasang atau 5 menit melalui pinggiran pantai ke arah timur bila air sedang surut. Malam itu, air sedang pasang, tak aman bila kami menyusur pinggiran pantai. Kami melalui anak-anak tangga.

Bila ingin bertemu dengan penyu, kita tidak boleh berisik. Mereka akan takut ke daratan bila mendengar suara berisik. Setiap makhluk hidup secara insting akan menghindari bahaya dan pemangsa. Meskipun niatan kami bukan sebagai pemangsa, percayalah, tak ada penyu yang bisa membaca pikiran kita, seperti kita juga tak akan pernah fasih menyelami pikiran orang lain.

Kami berjalan tenang, malam pekat. Bintang-bintang di atas langit bersinar sangat terang dan indah. Andi berusaha merekam momen bintang-bintang tersebut dengan kameranya.

Bermain-main di atas pasir.  Tukik berbahagia...
Bermain-main di atas pasir. Tukik berbahagia…

Di pasir pantai, jejak-jejak penyu terlihat beberapa. Bekas kemarin malam kata abang guide. Yang membuat takjub lagi adalah keajaiban di garis pantai. Garis pantai yang menyala terang, garis berwarna biru mengikuti lekuk sisa-sisa hempasan ombak. Garis biru yang dihasilkan plankton-plankton. Mereka bercahaya dalam gelap. Bahkan jika kakimu terhempas ombak dan mereka menempal di sandal, sendalmu kerlap seperti bintang biru. Saya suka memperhatikan mereka.

Sayang malam itu belum ada penyu yang naik ke pantai. Kami diminta untuk diam dan tenang, duduk bercakap-cakap tak jauh dari penginapan di sisi timur dermaga. Kami meringkuk di bawah jaket menunggu datangnya penyu. Namun sebelum penyu datang ke pinggiran pantai, hujan sudah mengusir kami pulang. Sudahlah, hari itu kami tidak berjodoh dengan penyu.

Dijaga Sepasang Pulau Yang Mesra

Bagian menarik lainnya dari pulau ini adalah mitos tentang dua pulau penjaga di sisi kiri dan kanan Pulau Berhala. Adalah Pulau Sokong Kakek di sebelah barat dan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur. Sepasang pulau ini dimitoskan sebagai sepasang kakek dan nenek penghuni pertama Pulau Berhala. Entah bagaimana ceritanya, saya kurang mendapatkan rinciannya.

Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar
Pulau Sokong Kakek dari Puncak Menara Suar

Pulau Sokong Kakek akan terlihat jelas saat kita berada di puncak menara suar. Pulau ini bila air surut bisa disinggahi para nelayan. Tidak ada garis pantai di sini, hanya ada lubang besar seperti celah gua sangat besar yang bisa dimasuki. Tapi cukup pengap, begitu cerita nelayan yang saya dapatkan dari tentara penjaga. Bila air naik tentu saja pulau ini tidak bisa disinggahi.

Sedangkan Pulau Sokong Nenek di sebelah timur, bila air sedang surut, kita bisa menyeberanginya dengan berjalan kaki dari Pulau Berhala. Pantainya menyatu dengan Pantai Pulau Berhala. Di pulau ini terdapat sebuah makam yang dipercaya sebagai makam si nenek.

Begitulah, dua hari terasa berjalan lambat di Pulau Berhala. Saya sangat menikmati keramahan tentara penjaga yang menemani berkeliling pulau dengan kapal patroli juga melihat bagian-bagian lain pualu. Saya tidak dirong-rong gadget karena memang tidak ada sinyal, saya punya banyak waktu dengan saya dan pikiran-pikiran saya saat duduk atau rebahan menikmati angin laut di pinggir pantai.

Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.
Bersama Sersan Sinaga, Pemimpin Satuan Regu Penjaga yang sudah sangat ramah dan berbaik hati mengajak kami berkeliling pulau.

How to get there:

Untuk menuju Pulau Berhala, dari Dermaga Tanjung Beringin di Serdang Bedagei, kamu harus mengontak pos tentara untuk diizinkan menyebrang pulau. Kapal sudah disediakan oleh mereka. Untuk satu kapal bermuatan lebih dari 30 orang sekarang dikenakan biaya Rp. 4 juta (sebelum BBM naik Rp. 3 juta). Jadi memang sebaiknya beramai-ramai agar bisa sharing biaya.

Untuk penginapan hanya dikenakan biaya Rp. 30 ribu per orang. Untuk makan, bila beramai-ramai dan tak membawa bekal sendiri, kamu bisa meminta disediakan juru masak yang akan men-charge Rp. 15.000 untuk sekali makan. Silahkan hitung sendiri berapa kali kebutuhan makan kamu di pulau.

Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli
Berkeliling pulau dengan perahu karet patroli

 

Pulau Berhala, Sensasi Berlibur di Pulau Terluar Indonesia (Part 1

Cara kami menikmati perjalanan

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

Jauh dekat 4000. Eh bukan, ini bukan angkot. Kami sedang dalam perjalanan ke Pulau Berhala. Jauh dekat, jangan pikirkan jauhnya.

Saya paling demen kalau ada yang nge-SMS atau nelpon terus nanya begini nih, “Ka, minggu depan kemana?” atau “Ka, weekend ini ada kegiatan?” Ini sih biasanya pasti ajakan jalan kemana atau ngelakuin sesuatu di akhir pekan, yang kalau memang belum ada jadwal pasti langsung saya jawab, “Belum ada rencana kok….”

Sama kayak minggu lalu waktu tiba-tiba Bang Onny Kresnawan, partner kerja dari Sineas Film Documentary (SFD) -yang banyak berkontribusi di masa-masa awal karier saya (halah)- nelpon dan melontarkan pertanyaan sejenis. Awalnya sih mikir bakal diajakin gawean bareng. Hahaha. Mikirnya udah gawean aja. Ternyata Bang Onny ngajakin liburan rame-rame dengan teman-teman media dan penulis lainnya ke Pulau Berhala.

Bang Onny dan tim SDF sedang dalam pengerjaan video pariwisata Kabupaten Serdang Bedagai (Sergei), lokasi administratif Pulau Berhala. Karena memang kapal penumpang ke Pulau Berhala yang dikelola oleh TNI itu muatannya sampai 30-an orang, sayang kalau kosong, sekalian deh Bang Onny mengajak teman-teman dari berbagai media untuk liburan bareng dan tentu saja menuliskan cerita perjalanan ke sana. Termasuk kemanaaja.com…

Berhala Island
Berhala Island

Kecil di Keluasan Samudra

Pulau Berhala adalah satu dari sekian banyak pulau kecil yang berada di wilayah perbatasan perairan Indonesia dengan negara-negara tetangga. Pulau Berhala berada di Selat Malaka, berbatasan dengan Malaysia.

Sebagai pulau terluar Indonesia, pulau ini menjadi wilayah penjagaan perairan, melihat arus masuk kapal-kapal asing, jangan sampai pula diklaim oleh negara lain.

Dari Medan kami berangkat menuju Serdang Bedagai (Sergei) menuju sebuah dermaga kecil di Desa Tanjung Beringin. Dermaga ini adalah daerah Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Perkampungan menuju dermaga sangat menarik. Sebuah perkampungan tua yang kemungkinan besar dulu adalah China Town.  Dermaga dan pelabuhan selalu menjadi tempat asal mula gerak perekonomian tumbuh. Dari dermaga kami melewati muara sungai menuju lautan. Cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam. Apalagi  demi keamanan kapal dan air yang tidak sedalam lautan, kapal bergerak sangat lambat. Fuih…

Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.
Perkampungan nelayan di Tanjung Beringin. Kami sedang menyusuri muara.

Perjalanan ke Pulau Berhala lebih lama dari yang saya bayangkan, sekitar 4 jam. Saya sudah pernah ke Pulau Pandang yang juga berada di Selat Malaka. Waktu itu waktu tempuhnya berkisar 3 jam. Jadi, awalnya saya berekspektasi waktu tempuhnya juga mungkin hanya berkisar tiga jam. Sedikit bosan memang bila tidak pandai menikmati laut dan setiap keadaan. Apalagi kalau sudah mulai mabuk laut dan sesak pipis. Untuk yang pertama saya syukurnya aman. Perjalanan pulang pergi aman dari mabuk laut. Tapi tidak dengan yang kedua. Dalam perjalanan pulang saya benar-benar dihajar rasa tidak nyaman kebelet pipis yang harus saya tahan sekitar satu jam. Seperti yang saya bilang tadi, untuk situasi seperti itupun kita harus pandai-pandai menikmati keadaan.

Selo aja Ka, nggak usah pikirkan sesak pipisnya. Pikirkan yang lainlah,” kata Bang Ridho Golap seperti komentarnya juga waktu membahas perjalanan yang rasanya tak sampai-sampai waktu beberapa mulai mengeluh bosan.

“Pikirkan aja nanti kalau udah sampai apa yang bisa kita lihat,” katanya melengos sambil merokok kretek.

Oh ya tentang mengatasi mabuk laut, termasuk mabuk darat, saya sudah mendapatkan jurus jitu mengatasinya. Andi yang mengajari. April lalu saat kami berlibur ke Sabang, dalam perjalanan darat dengan bus yang AC-nya kelewat dingin, saya mabuk darat. Mabuk yang nggak perlu minum alcohol. Hahaha. Andi menyarankan saya untuk duduk menekuk lutut, lalu menekan perut dengan bantal atau tas. Cukup manjur. Pun untuk perjalanan laut, jika sudah terasa mual, saya siap mengambil jurus jitu, rebahan atau duduk dengan menekuk lutut. Ternyata jitu sodara-sodara!!!

Perjalanan berangkat kami tak terlalu diberkati dengan cuaca yang cerah. Di kejauhan langit kelihatan gelap, hujan sudah nampak di kejauhan, di berbagai sisi. Rintik-rintik, sehingga meskipun tak besar, membuat laut sedikit berombak. “Jakpot aku dua kali,” kata Amri, salah satu teman jurnalis saat sudah turun dari kapal, yang ternyata waktu di kapal tak satupun kami menyadarinya. Hihihi….

Kapal yang kami tumpangi adalah kapal kayu yang aman untuk ditumpangi sampai ke tujuan. Dilengkapi pelampung dan lampu untuk malam hari tapi tidak dilengkapi dengan toilet dan atap yang mumpuni. Jadilah di tengah keluasan Selat Malaka, kami menikmati hujan di atas kapal. Sembari berhujan-hujan ria, saya, Andi, Bang Zen, Buyung, dan Bang Ridho Golap, bercakap-cakap tentang entah apa saja.

Mulai tentang Sponge Bob yang naïf, Squidward yang paling realistis sekaligus paling narsis, tentang kenapa Sandy Cheeks si tupai yang bisa ada di Bikini Bottom. Juga tentang dialog-dialog dan kalimat Mr. Crap yang mengejutkan dan sangat tidak cocok untuk tontonan anak kecil. Kami juga mencoba membayangkan bagaimana Pi bisa bertahan dengan Richard Parker di tengah lautan.

Percakapan kemudian berpindah-pindah dari tentang laut, tentang burung yang terbang mendekati kapal pencari ikan, tentang burung yang singgah beristirahat di kayu-kayu yang mengapung di tengah laut. Seperti kayu tersebut, kapal kami mengapung-apung di tengah samudra. Kami seperti burung yang duduk beristirahat menunggu tiba di pulau.

Get closer to Berhala Island
Get closer to Berhala Island

Yes… Akhirnya Tiba di Berhala

Hampir 4 jam kapal kami sudah berjalan dengan kecepatan santai. Sejam sejam lalu, Pulau Berhala sudah kelihatan. Terasa semakin dekat dan terus semakin dekat. Tampak tiga gugusan pulau. Dua pulau kecil di kiri dan kanan dengan satu pulau utama yang jauh lebih besar dari keduanya. Pulau Berhala diapit dua pulau kecil di sisi kiri dan kanannya. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek. Tentang kedua pulau ini nantikan di part selanjutnya ya. 😀

Welcome gate
Welcome gate

Usai sudah cerita kami di atas kapal yang melebar kemana-mana, dermaga Pulau Berhala yang kokoh sudah kelihatan. Di atas puncak bukit tampak menara suar dengan lambang burung garuda di atasnya. Dermaga ini kelihatan masih baru. Pantas saja, menurut marinir yang saya ajak ngobrol, dermaga tersebut baru selesai sekitar awal tahun 2014 lalu.

Garis Pantai dan air yang menggoda.
Garis Pantai dan air yang menggoda.

Langit tidak lagi semendung di perjalanan tadi. Garis kebiruan di langit tampak cantik. Pun garis pantai yang kebiruan sudah sangat menggoda untuk disentuh. Saya bahagia, akhirnya sampai dan bisa menghirup udara laut dengan leluasa dari atas dermaga. Tulisan Welcome to Berhala Island ditulis dengan warna merah putih ditemani bendera merah putih memberi tanda jika mereka yang baru saja tiba sedang berada di teritori negara Indonesia. Pulau Sokong Kakek dan Pulau Sokong Nenek kelihatan mesra menjaga Pulau Berhala. Jika dilihat dari jauh ketiganya tampak seperti tubuh penyu degan kepala, tempurung, dan kakinya.

Well, saya sudah tiba di Berhala, waktunya cuci muka, menuntaskan hajat yang tertahan selama di perjalanan dan tentu makan siang yang sudah tertunda. Selamat datang di Pulau Berhala.