8 Prediksi Wisata Tahun 2018

Mulai dari teknologi di garis terdepan hingga jalan-jalan untuk kesehatan dan setumpuk daftar perjalanan, berikut adalah tren wisata terbesar tahun 2018

Apakah Anda sedang mencari inspirasi untuk berwisata di tahun 2018? Ini dia beberapa prediksinya.

Mengandalkan Teknologi

Attractive young woman adjusting her VR headset and smiling while sitting at home

Untuk urusan traveling, orang-orang juga semakin mengandalkan teknologi. Terlebih ditahun 2018, terutama bagi para wisatawan yang biasa memanfaatkan teknologi untuk lebih mengenal lebih destinasi atau akomodasi sebelum dipesan. Kecerdasan artifisial dan teknologi digital membantu konsumen memiliki intuisi destinasi yang cerdas, membentuk kembali cara kita meneliti, memesan, dan menikmati wisata. Hampir sepertiga wisatawan global (29%) mengatakan bahwa mereka merasa nyaman membiarkan sebuah komputer merencanakan perjalanan yang akan datang berdasarkan data dari riwayat perjalanan mereka sebelumnya. Setengahnya (50%) tidak keberatan jika mereka berurusan dengan manusia atau komputer selama pertanyaan mereka terjawab. Enam dari 10 traveler (64%) mengatakan mereka ingin ‘mencoba sebelum membeli’ dengan menggunakan teknologi VR (virtual reality), sementara 50% merasa bahwa rekomendasi destinasi dan aktivitas yang harus dilakukan mendorong mereka untuk berwisata. Pada tahun 2018 teknologi akan mengambil alih keraguan dan kerepotan untuk memutuskan rencana perjalanan, terutama memilih tempat menginap dan pengalaman terbaik.

Destinasi Impian yang Menjadi Nyata

Rome Colosseum

2018 ialah tahun untuk bermimpi setinggi langit karena 45% wisatawan memiliki setumpuk daftar perjalanan dalam pikiran mereka, dan mayoritas dari mereka (82%) akan mengincar satu destinasi atau lebih dari daftar mereka di tahun yang akan datang. Kerinduan untuk memiliki pengalaman wisata dibandingkan harta benda masih akan mendorong para wisatawan ini mendapatkan pengalaman yang menakjubkan. Dengan segala sesuatu yang serba cepat dan keinginan instan yang terpenuhi oleh teknologi, wisatawan di tahun 2018 akan memanfaatkan momen yang tak pernah mereka alami sebelumnya.

Kemungkinan besar yang menonjol dari setumpuk daftar perjalanan adalah melihat salah satu keajaiban dunia, karena hampir separuh traveler (47%) mencentang ini pada tahun 2018. Lebih dari sepertiga (35%) mendambakan kelezatan lokal, 34% ingin menuju ke pulau yang indah, dan 34% adalah pencari ketegangan yang ingin mengunjungi taman hiburan terkenal di dunia. Pecandu adrenalin tersebut harus mempertimbangkan Orlando, Amerika Serikat, The Gold Coast di Australia, dan Dubai, Uni Emirat Arab sebagai destinasi utama untuk taman hiburan.

Great Wall of China. Unrestored sections at Jinshanling.

Aktivitas lainnya yang hendak dilakukan pada tahun 2018 antara lain ikut serta meramaikan acara budaya yang unik (28%), belajar keterampilan baru (27%), melakukan perjalanan epik atau perjalanan kereta api (25%), dan mengunjungi tempat yang jauh atau lokasi menantang (25%).

Mengulang masa lalu

 

Selain pengalaman baru, wisatawan akan mengunjungi kembali tempat-tempat favorit yang menjadi kenangan di masa kecil mereka sebagai bagian dari perjalanan di tahun 2018. Memadukan masa depan dengan masa lalu, wisatawan tahun depan terinspirasi untuk kembali ke destinasi yang sebelumnya pernah mereka sukai dan menjelajahinya dengan cara baru. Sepertiga dari traveler (34%) akan mempertimbangkan liburan yang mereka alami sewaktu anak-anak untuk tahun 2018.

 

Couple of friends talking at Sunset

Popularitas liburan vintage ini berasal dari perasaan nostalgia dan kebahagiaan yang dimiliki destinasi. Wisatawan mengungkap bahwa liburan keluarga memanggil kembali ingatan tentang kenangan terindah, bahkan lebih indah daripada kekasih masa kecil atau hewan peliharaan. Millennial terlihat lebih sentimental dengan 44% anak berusia 18 sampai 34 tahun tertarik untuk kembali ke destinasi favorit keluarga. Berhubung 60% wisatawan pada tahun 2018 berniat membagikan postingan di media sosial setiap hari, kita bisa berharap bahwa di masa depan kita bisa melihat tempat-tempat nostalgia dan dikunjungi kembali oleh generasi masa depan.

Ziarah budaya popular

Old harbor at Adriatic sea. Hvar island, Croatia

Karena dunia sudah berada di ujung jari, kita dapat mengandalkan banyak sumber untuk menginspirasi kita berwisata ke destinasi baru. Mengikuti hasrat adalah salah satu cara untuk membantu memilih lokasi yang paling sesuai – mulai dari budaya dan hiburan, sampai makanan dan sejarah. Pada tahun 2018, acara televisi, film, olahraga, dan media sosial semakin memiliki pengaruh besar untuk orang-orang membuat keputusan pemesana. Wisatawan beralih ke budaya pop untuk mendapatkan inspirasi perjalanan mereka. Membaca blog atau melihat rekomendasi YouTuber akan memicu ide bagi 39% wisatawan. Lokasi yang terpampang di layar televisi, film, atau video musik akan mencaplok 36% lebih wisatawan di tahun yang akan datang. Lebih dari seperlima wisatawan (22%) akan tergoda bepergian untuk menghadiri acara olahraga besar, dengan 43% dari mereka mempertimbangkan musim panas untuk menonton sepak bola di Rusia.

Lokasi program televisi teratas yang paling ingin dikunjungi wisatawan pada tahun 2018 adalah Kroasia, Spanyol, dan Islandia yang terinspirasi oleh Game of Thrones (29%), London seperti yang terlihat di Sherlock dan the Crown (21% dan 13%), New York dan Manhattan dari Billions (13%), dan Los Angeles dilihat di Entourage (10%).

Jalan-jalan untuk kesehatan

 

Kecenderungan untuk liburan sehat tidak melambat untuk tahun 2018, lantaran hampir dua kali lipat jumlah orang berencana melakukan perjalanan kesehatan dan perawatan pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2017 (satu dari 10 di tahun 2017 menjadi hampir satu dari lima di tahun 2018). Salah satu cara brilian untuk menikmati pemandangan lokal adalah dengan berjalan kaki yang menjadi cara terbaik untuk mengeksplorasi, dimana 55% wisatawan mengatakan bahwa mereka ingin berjalan kaki atau hiking pada tahun 2018. Generasi baru pejalan kaki akan mengikat tali sepatu boots mereka.

 

 

Kegiatan perawatan dan kesehatan lainnya juga akan menjadi favorit. seperti mengunjungi spa atau menerima perawatan kecantikan (33%), bersepeda (24%), kegiatan olahraga air (22%), menjalani liburan detoksifikasi tubuh penuh (17%), melakukan retret yoga (16%), berlari (16%), dan melakukan meditasi (15%). Melakukan pengalaman seperti itu sangat populer di kalangan wisatawan dimana 59% mengatakan bahwa mereka memprioritaskan pengalaman dibandingkan dengan barang-barang material saat berlibur.

Berpartisipasi dalam perjalanan kesehatan dan perawatan mungkin juga baik untuk pikiran, karena lebih dari setengah responden (55%) mengatakan bahwa berlibur adalah momen bagi mereka untuk merenungkan dan membuat pilihan gaya hidup yang lebih baik – sesuatu yang dapat dengan mudah difasilitasi melalui perjalanan kesehatan dan perawatan.

Intuisi ekonomi

Setiap tahun, wisatawan menjadi lebih cerdas, terutama ketika harus mendapatkan hasil maksimal dari uang yang mereka keluarkan. Tahun 2018 wisatawan akan lebih intuitif secara ekonomi. Hampir setengah responden (47%) akan mempertimbangkan nilai tukar mata uang saat merencanakan perjalanan mereka, dan jumlah yang hampir sama (48%) akan memikirkan iklim ekonomi suatu tujuan sebelum membuat keputusan untuk melakukan perjalanan. Kabar baik bagi industri ritel, sepertiga dari traveler (30%) juga berencana melakukan pembelian lebih banyak dari toko bebas pajak di bandara pada 2018 dan satu dari empat orang (26%) bahkan akan berlibur khusus untuk membeli barang seperti barang fashion karena lebih murah dibandingkan di negara asal mereka.

 

Lebih percaya diri untuk mengikuti intuisi mereka sendiri, wisatawan tidak terlalu berminat untuk mengikuti tren grup dimana lebih dari separuh (57%) ingin melakukan perjalanan yang lebih independen pada tahun 2018, menempatkan nilai tambah pada personalisasi, mencari kesepakatan terbaik, dan menggabungkannya dalam paket tur mereka sendiri – semuanya dengan bantuan aplikasi dan teknologi. Hampir setengah dari wisatawan (44%) akan menggunakan aplikasi perjalanan lebih banyak di tahun 2018. Teknologi memang sangat membantu. Apalagi teknologi geotaging yang mengarahkan langsung ke akomodasi, semuanya hanya dengan sekali klik dari aplikasi di smartphone. 

Liburan Seru Bareng Teman

Shot of a group of young friends walking on the beach on a sunny day

Tahun 2018 adalah tahun berwisata bareng teman-teman. Ketika ditanya ingin berwisata dengan siapa di tahun, bepergian dengan teman-teman meningkat dari 27% di tahun sebelumnya, menjadi 31%.

Tahun 2018 semuanya adalah tentang pengalaman, jalan-jalan bukan hanya tentang destinasi tetapi juga orang-orang yang berarti untuk menciptakan kenangan. Bepergian dengan teman adalah waktu sosial terpenting agar jauh dari tekanan sehari-hari, mengurangi stres, dan membangun hubungan dengan teman. Dengan dunia yang hanya sekali klik ini, sekarang sangat mudah menemukan tempat menginap yang tepat dan menjelajahinya dengan teman-teman.

Shot of a group of young tourists looking at a map while traveling

Liburan bersama teman juga memiliki keuntungan finansial karena sebanyak empat dari 10 (42%) mengatakan bahwa liburan bersama teman-teman  memungkinkan mereka tinggal di akomodasi yang tidak mungkin mereka bayar sendiri.

Menikmati Liburan ala Penduduk Lokal 

Pada tahun 2018, rumah sewa akan sangat populer – tidak hanya bagi wisatawan yang ingin menginap, tapi juga pemilik rumah yang berpikir untuk mengundang orang lain menginap di tempat tinggal mereka sendiri. Satu dari tiga wisatawan (33%) mengatakan bahwa mereka lebih suka tinggal di holiday rental (rumah liburan atau apartemen) daripada di hotel, dan satu dari lima (21%) mempertimbangkan untuk mendaftarkan rumah mereka di situs akomodasi perjalanan.

Picture of guests getting key card in hotel

Ketika berhubungan dengan tuan rumah, para wisatawan mengungkapkan bahwa mereka tidak perlu ditemani setiap saat. Wisatawan tertarik untuk memiliki pengalaman lokal dan hendak mencari tuan rumah yang memiliki pengetahuan luas, karena seperempat wisatawan mengatakan bahwa penting bagi tuan rumah mereka memiliki pengetahuan lokal yang kuat tentang makanan lokal dan tempat untuk dikunjungi (25%), namun wisatawan menginginkan fleksibilitas untuk berinteraksi dengan tuan rumah dengan persyaratan mereka sendiri. Pada tahun 2018, penting bagi wisatawan bahwa tuan rumah mereka tersedia tapi tidak terlalu sombong (30%) dan satu dari 10 (12%) menginginkan tuan rumah yang tidak perlu mereka ajak bicara sama sekali.

* Prediksi tren wisata ini berdasarkan riset Booking.com dengan melakukan riset pada 19.000 wisatawan di 26 negara di seluruh dunia. Dilakukan secara independen dengan sampel orang dewasa yang melakukan rencana perjalanan 12 bulan terakhir untuk melakukan perjalanan dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 18.509 responden disurvei (1.000+ dari Inggris, Amerika Serikat, Brasil, China, Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, India dan Rusia dan masing-masing 500+ dari Australia, Argentina, Belgia, Kanada, Denmark, Hong Kong, Kroasia, Indonesia, Jepang, Meksiko, Belanda, Selandia Baru, Swedia, Thailand dan Taiwan). Responden menyelesaikan survei online Booking.com pada Agustus 2017. (foto: koleksi foto booking.com)

 

 


 

 

 

 

Festival Danau Toba 2014, Belum Seluarbiasa Seharusnya

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

*Tulisan tentang FDT 2014 dari penulis juga akan terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Desember

Saya selalu percaya bahwa Danau Toba adalah salah satu keajaiban terbesar untuk pariwisata Sumatera Utara.

View cantik di Balige
View cantik di Balige

Sehingga rasanya sangat pantas sekali Danau Toba dikelola dengan baik, dikemas dengan sangat baik, difasilitasi dengan baik agar dapat dijadikan sebuah destinasi wisata yang tak kehabisan daya tarik.

Begitulah, September lalu, saya dan teman-teman dengan antusias merencanakan perjalanan ke salah satu daerah pinggir Danau Toba, Balige. Kali ini dalam rangka menghadiri Festival Danau Toba 2014. Diadakan pada 17-21 September, festival ini adalah kali kedua diselenggarakan, setelah yang pertama tahun lalu dan dideklarasikan sebagai pengganti Pesta Danau Toba yang dengan anehnya pula tahun ini kembali diselenggarakan di waktu yang bersamaan. Festival Danau Toba 2014 di Balige dan langsung dikoordinasikan dengan pemerintah pusat dan Pesta Danau Toba 2014 di Parapat yang dikelola oleh pemerintah kabupaten. Tumpah tindih yang menurut saya sangat aneh.

Oke, mari kita abaikan sebentar keanehan tersebut. Saya dan 3 orang teman, Andi dari kemanaaja dan 2 orang teman perjalanan lainnya, Melda dan Kak Lolo. Melda adalah teman baik yang juga beberapa kali sudah menulis untuk kemanaaja.com. Iya… Melda si Kribo yang kocak itu. Tapi sekarang dia nggak kribo lagi. He-he-he… Kak Lolo adalah teman Mel, kami baru berkenalan dan perjalanan memang selalu mengajak kita bertemu, berkenalan dan kemudian mempunyai teman-teman baru.

Berempat kami menumpang mobil travel menuju Balige, tuan rumah Festival Danau Toba (FDT) 2014. Balige yang berada di Kabupaten Tobasa adalah salah satu Kabupaten yang mengelilingi Danau Toba. Perjalanan, seperti biasanya, membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam. Jalanannya lumayan bagus sampai kemudian setelah melewati Parapat, jalanan sedikit rusak dan membuat tidak nyaman. Penyelenggaraan event internasional yang tidak didukung infrasturktur yang memadai. Izinkan saya menulis dengan jujur.

Ngomong-ngomong soal infrasturktur pariwisata Danau Toba saya selalu berandai-andai seandainya ada lapangan terbang di Pulau Samosir atau paling tidak sebuah jalan tol menuju Parapat. Sesuatu yang meringkas waktu, menjadikan Danau Toba destinasi akhir pekan yang tak membuat lelah, dan tentu menarik lebih banyak wisatawan. Tapi, ya saya masih berandai-andai saja kok.

Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan
Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan

Kami sudah tiba di Balige, Balige sangat ramai hari itu. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai sentra lokasi FDT juga cukup ramai oleh orang-orang, terutama di Lapangan Sisingamangaraja dan Dermaga. Dua lokasi penyelenggaraan event lainnya adalah TB Silalahi Centre dan Sekolah Del.

Keriuhan sudah tampak dalam kerumunan yang bergembira. Hilir mudik mobil memberikan woro-woro mengundang orang-orang untuk menonton di salah satu titik acara. Berulang-ulang. Mengingatkan dan memudahkan para penonton memilih ingin menonton apa.

Kami menginap di Ompu Herti, salah satu hotel di pinggiran Danau Toba. View-nya memang tak langsung menghadap Danau Toba. Kalau mau duduk menikmati Danau Toba, silahkan bersantai di restoran hotel yang tepat berada di seberang hotel. Di restoran ini, semua tamu hotel bisa menikmati ketenangan Danau Toba sembari menikmati sarapan pagi, bagian dari fasilitas hotel.

Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.
Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.

Tepat di samping restoran, adalah dermaga yang menjadi salah satu pusat aktivitas FDT 2014, perlombaan Solu Bolon dan renang 1 kilometer.

Sayang memang saya dan teman-teman tidak sempat menyaksikan acara pembukaan. Tapi cerita dari Liston, teman, seorang jurnalis yang sudah sejak hari pertama mengikuti acaranya. Pembukaan diadakan di TB Silalahi Centre dan Lapangan Sisingamangaraja. Ratusan siswa SMA 1 Balige berbaris cantik di sepanjang jalan menuju TB Silalahi Centre sembari membentangkan ulos Sadum, ulos indah dengan warna-warna cerah sepanjang 226 meter. Ada sekitar 210 siswa yang dilibatkan dan membuat kegiatan ini masuk ke dalam rekor MURI sebagai ulos terpanjang. Liston juga cerita kalau ada permainan margalah dan tarian-tarian tradisional dari berbagai suku di Indonesia. Tortor cawan (tarian dengan mangkuk yang diisi air dan dedaunan) yang ditampilkan secara kolosal memberi sentuhan sendiri pada acara pembukaan ini.

Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional
Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional

Masih Kurang Luar Biasa

Ada banyak rangkaian acara lagi yang mengisi FDT 2014. Festival pemilihan penyanyi, pameran tenun tradisional batak, kompetisi solun bolon, lomba renang, lomba arung jeram, fashion show, tari tortor massal, lomba foto landscape Danau Toba, pameran foto, seminar pariwisata dan lain sebagainya.

Solu Bolon, salah satu atraksi kebudayaan yang sudah turun-temurun menjadi salah satu pertunjukan menarik yang ingin saya saksikan. Agendanya jatuh pada hari Sabtu (20/9). Di dermaga, para peserta sudah siap bertanding. Antusias masyarakat tak kalah besarnya dengan para atlet. Teriakan-teriakan pemberian dukungan terdengar membuat riuh. Para atlet terlihat gagah dilatari riak kecil Danau Toba. Gerakan tangan yang serentak mengayuh, ritme yang sangat enak dilihat. Saya penonton yang tekun. Dan Kabupaten Samosir jadi bintang dalam perlombaaan ini. Tiga posisi besar berhasil mereka bawa pulang.

Peserta solu bolon yang semangat buat menang
Peserta solu bolon yang semangat buat menang

Di antara menyaksikan berbagai pertunjukan, pagi harinya, kami masih mengejar matahari pagi dan menikmati jalan berkeliling di pinggiran Danau Toba. Balige lebih menarik dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Kami juga menumpang kapal wisata dari dermaga untuk sekadar berkeliling Danau Toba dan merasakan rambut dan pipi digoda manja angin danau. Sisi Danau Toba di sini tak kalah cantik.

Pohon hariara dan Danau Toba
Pohon hariara dan Danau Toba

Keramaian masih terus bertambah dan belum surut. Apalagi di malam terakhir acara. Di Lapangan Sisingamangaraja, keramaian di luar Lapangan berubah seperti pasar malam. Puluhan pedagang membuka lapak jualan. Aneka mainan anak-anak, makanan, dan entah apalagi yang mungkin orang tertarik untuk membeli. Roda perekonomian berputar. Dan sepertinya cukup kencang malam itu.

Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja
Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja

Di dalam Lapangan Sisingamangaraja, malam itu dua layar besar dibentangkan dan memutar 2 film nasional yang berbeda. Seperti layar tancap. Filmnya cukup menarik tapi sayangnya tak cukup kondusif untuk ditonton. Perhatian terbagi antara mau menonton layar tancap atau melihat performa di atas panggung.

Saya juga tertarik dengan diskusi fotografi dan pameran foto yang diadakan di Lapangan DI Panjaitan. Apalagi teman Kak Lolo, Mas Barry Kusuma menjadi salah satu juri dan pembicara diskusi fotografinya. Kami pun meninggalkan keramaian di Lapangan Sisingamangaraja menuju keramaian lainnya di Lapangan DI Panjaitan.

Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014
Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014

Di Sini keramaian tidak terlalu hingar. Puluhan foto peserta lomba dipamerkan dengan pencahayaan yang cukup. Setelah acara diskusi fotografi, anak-anak muda ramai merapat. Ah rupanya Bang Tongam Sirait, musisi Batak yang lagu-lagunya juga menjadi koleksi iPod saya menjadi bintang tamu. Saya, seperti banyak anak muda Batak lainnya sangat antusias. Saya bahagia melihat keriaan anak-anak muda sekaligus lagu-lagu dan cara bernyanyi Bang Tongam yang asyik. Ada semangat dan kebahagiaan saya lihat malam itu.

Sebagai wisatawan lokal, saya sangat menikmati lagu-lagu Bang Tongam, tapi belum dengan keseluruhan kemasan FDT 2014. Diskusi fotografi dengan pembicara berpengalaman seperti kekurangan cahaya. Cahaya listrik dalam arti sesungguhnya. Performa Bang Tongam samar dalam redup cahaya taman. Dan lagi, saya tak melihat banyak tamu luar kota apalagi tamu internasional. Mungkin promosi dan persiapan masih kurang mumpuni. Kalau menurut pikiran sok tau saya, akan lebih baik kalau agenda tahunan ini sudah masuk kalender event jauh-jauh hari dengan paket-paket wisata yang menjanjikan kemudahan sekaligus kebahagiaan. Toh sesungguhnya promo pariwisata kita tak kekurangan biaya ‘kan? Harusnya! Semoga FDT tahun depan bisa lebih baik.

Apa Kata Mereka Tentang Medan?

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Medan itu ramah, nggak kasar kayak yang dibilang orang-orang!

Sabtu, 08 November lalu, kemanaja diundang oleh The City Hall Club untuk menghadiri event mereka, “Fundrising For Kids With Cancer, Evening Gala Jazz & Fine Arts.” Acara yang disertai dengan makan malam bersama ini diadakan di Gedung The City Hall Club, di Jalan Balai Kota No. 1 Medan.

Acaranya benar-benar santai karena ada pertunjukan musik jazz yang musiknya bikin acara itu nyaman banget. Erucakra dari Waspada E Music adalah musisi jazz yang performa malam itu. Nah, karena acara ini tujuannya untuk penggalangan dana buat anak-anak yang berpenyakit kanker, ada juga pameran foto dari Asosiasi Fotografer Sumatera Utara (AFSU) dan pameran busana dari dua desainer pakaian tradisi, Torang Sitorus dan Erdan. Semua hasil pameran dan donasi dari kegiatan ini akan disalurkan untuk anak-anak berpenyakit kanker melalui Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM).

Pameran busana bagian dari charity.
Pameran busana bagian dari charity.

Tamu dan undangan yang hadir ada dari berbagai lembaga, komunitas, dan instansi. Kemanaaja menanyakan pendapat beberapa tamu dan undangan acara ini tentang kota Medan. Apa pendapat mereka? Check this out!

Justing Heng

Justing Heng, General Manager The City Hall Club
Justing Heng, General Manager The City Hall Club

Saya sudah dua tahun mengenal Medan dan saya sangat menikmati makanannya yang luar biasa dan teman-teman yang ramah dan menyenangkan. Medan punya street food yang luar biasa, kamu bisa makan sate, kamu bisa makan lontong, dan sangat banyak outdoor activity yang bisa dilakukan di Medan. Kamu bisa ke Bukit Lawang yang tak terlalu jauh dari Medan, melihat Orang Utan. Kamu bisa ke Danau Toba dan melihat pulaunya yang cantik, bisa berenang juga di danaunya. Hehehe

Actually, saya sangat enjoy Medan. Kalau saya perlu aktivitas, perlu kegiatan outdoor, saya hanya perlu short drive. Kalau sedang tidak bisa keluar kota, saya juga menikmati kotanya. Lagipula orang-orangnya sangat ramah ya. Saya ke Sun Plaza, Centre Point, saya ketemu dengan orang, say hi, melakukan percakapan, saya bahagia dengan itu. Beda sekali dengan negara asal saya, Singapore itu sangat kota besar, saya bilang Singapore itu adalah hutan belantara, tapi jungle without tree. Hehehe. Di negara asal saya banyak yang harus dilakukan dengan waktu yang tergesa-gesa.

Dameria Hutabarat

Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.
Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.

Paling rekomendasi buat tamu yang datang ke kota Medan itu adalah heritage-nya. Juga kalau datang ke sebuah kota, termasuk Medan, cek event-event yang ada di Medan. Karena itu orang Medan juga harus kreatif bikin event. Plus diperlukan satu media yang bisa menginfokan keseluruhan event tersebut.

Yang paling disukai dari Medan? Convenient! Kemana-mana cuma 15 menit, makanannya enak, hidupnya itu lebih santai, kalau di kota lain dalam sehari cuma bisa bikin janji cuma di satu atau dua tempat, nah di Medan bisa lebih dari 3.

Erucakra

Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara
Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara

Event di Medan? Medan itu kan sudah kota internasional. Artinya akses ke luar negeri itu udah cepat. Harusnya event-event yang dibuat juga bisa menarik para wisatawan. Apalagi Singapura dan Malaysia sangat dekat dengan kita. Undang mereka untuk datang. Medan juga harus buat event yang original, buatan sendiri. Nggak usah ngikut-ngikut Jakarata. Kita serba dekat dengan negara lain, jadi kita lebih potensial. Gampang kok Medan ini disorot sama musisi internasional. Yang penting bagaimana idenya.

Yang paling menarik di Medan, kulinernya. Ada teman saya dari luar kota yang tau banget kuliner nasi padang paling enak di Medan. Lebih tahu dari saya. He-he-he… Ternyata orang dari luar sangat menikmati dan mencari. Tapi kita juga harus melihat lebih jeli mana yang mau kita jual jadi produk pariwisata. Baju-baju kain tenun tradisi misalnya. Itu kan asset pariwisata. Saya baca juga Labuhan dan Belawan itu adalah aset kota tua. Ini kan sangat luar biasa. PR yang harus kita kerjakan.

Rizanul Arifin

Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)
Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)

Kalau ada teman yang datang ke Medan, yang paling saya rekomendasi adalah Makan. Setelah itu, makan lagi. Ha-ha-ha… Di Medan apa aja enak. Mereka bolehlah ke Tanah Karo, ke Sinabung bagus kalau sedang tidak erupsi, terus ke Merek ada pemandangan bagus, Tongging, dan lebih cepat sampe ke Danau Toba. Ada beberapa tempat luar biasa untuk rafting, Sungai Buaya, Sei Bah Bolon, Sei Binge atau yang lainnya. Semuanya aman untuk mengajak keluarga. Kalau mau pulau ada Pulau Berhala misalnya.

Tinggal di kota Medan, sekarang kurang nyaman karena jalanan yang macet. Turis akan susah dengan cara kita berkendara, sebenarnya ini memalukan. Lampu merah dihajar, lampu hijau orang hati-hati. Sudah terbalik. Harus diubahlah kebiasaan ini, kalau nggak nanti jadi rubah.

Paling disukai, saya bisa berangkat kerja siang, jaraknya semuanya dekat. Cuma akses hiburan keluarga dalam kota tak ada, dulu ada Taman Ria sekarang nggak ada apa-apa. Mall itu tidak mendidik dan buat turis juga tidak terlalu menarik. Aku kepengen di Medan ada kayak taman ria dan taman yang nyaman untuk keluarga.

dr. Daniel Irawan

dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.
dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.

Medan itu untuk pariwisata banyak kuliner yang bisa dicoba. Untuk sight seeing, ada Danau Toba. Medan juga akses yang mudah untuk ke Sabang, Aceh. Yang paling harus dicoba adalah duriannya karena durian Medan itu beda. Heritage-nya juga, masih banyak bangunan heritage. Kayak Penang ini bisa jadi keunggulan kota Medan.

Tinggal di Medan, saya suka dengan orang-orangnya yang ramah, kalau ada yang bilang orang Medan itu kasar, kayak yang selama ini kita dengar di luaran, itu nggak benar. Tapi kalau lalu lintasnya masih bermasalah. Turis biasanya ngeluh soal ini.

Liburan ke Medan, Ngapain Aja?

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

“Check Your Calender…”

Liburan nggak melulu tentang melihat keindahan objek wisata dan landscape. Tiap kota juga punya karakteristik dan keunikan objek wisatanya sendiri. Nah, kalau kamu punya rencana liburan ke Medan dalam waktu dekat, bisa ngelakuin apa aja sih?

  1. Wisata Kuliner

kuliner

Woopp… tau dong kalau Medan memang terknal banget dengan kulinernya. Kalau kata teman saya, makanan di Medan itu cuma ada dua. Enak dan enak banget! Hihihi. Ada banyak pilihan tempat kuliner yang wajib kamu coba. Mulai dari wisata kuliner per kawasan seperti Kawasan Jl. Surabaya, Merdeka Walk, Kawasan Jl. Dr. Mansyur, Jl. Halat, duh… masih ada banyak yang lainnya sampai ke tempat-tempat makan tunggal yang udah terkenal enak seperti Soto Sinar Pagi, Tip Top Restaurant, dan Lontong Kak Lin.

  1. Wisata Heritage

heritage

Kalau kita berjalan ke kawasan inti kota Medan, di titik nol kota Medan, kita akan langsung melihat bangunan-bangunan bersejarah peninggalan sejarah perkebunan dan sejarah lainnya kota Medan. Ada beberapa bangunan yang penting untuk kamu kunjungi karena punya sejarah penting kota Medan. Istana Maimoon, Mesjid Raya, Lapangan Merdeka, Kantor Pos Pusat, Bank Indonesia, Kantor Balaikota Lama, Gedung PT. Lonsum, dan Tjong A Fie Mansion untuk menyebut sebagiannya.

  1. Wisata Landscape

landscape

Kalau mau melihat landsekap yang cantik, kamu bisa melarikan diri sekitar satu atau dua jam dari kota Medan. Berastagi atau Bukit Lawang adalah pilihan yang paling mudah. Di Berastagi kamu bisa melihat landsekap pegunungan dan udara yang segar serta berbagai daya tarik pesona alam pegunungan. Nah kalau di Bukit Lawang, kamu bisa menikmati udara hutan lindung Taman Nasional Gunung Leuser sembari melakukan beberapa aktivitas seperti trekking, melihat orang utan, dan tubbing.

  1. Events

aston2

Layaknya kota-kota besar lainnya, di Medan juga banyak event-event yang digelar. Mulai dari event entertainment kayak music pop, rock (Medan suka banget sama rock), event music indie, event fashion, event night life, sampai ke event-event kebudayaan, pendidikan, dan charity.

Nah kalau kamu tertarik dengan perpaduan musik jazz, fashion show, eksibisi dan pelelangan foto untuk charity, di tanggal 8 November nanti bakal ada event Evening Gala Jazz & Fine Arts yang diadakan oleh Aston City Hall Club. Selain bisa bersantai dengar musik jazz, akan ada exebisi dan pelelangan foto dari teman-teman fotografer AFSU. Juga akan dimeriahkan oleh dua designer etnik kondang Torang Sitorus dan Erdan. Semua penjualan tiket dan hasil pelelangan akan disumbangkan untuk membantu adik-adik penderita kanker yang diwakili oleh Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM).

Acaranya bakal digelar di Grand Aston City Hall, City Hall Club Medan dari jam setengah 7 malam. Nggak mahal kok. Dengan tiket Rp. 200.000 sudah termasuk food and beverages, kamu ikut dalam kegiatan amal ini. So, be there, Guys. 😀

Dunia Melancong Magazine, New Travel Reference

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Liburan akan semakin mudah ketika sejumlah informasi sudah dikumpulkan. Referensi seperti majalah traveling akan sangat membantu.
Cover Dunia Melancong Edisi 2
Cover Dunia Melancong Edisi 2

Sekarang ini traveling udah jadi bagian dari gaya hidup. Makanya refrensi jalan-jalan itu udah jadi kebutuhan. Seperti kemanaaja yang menjadi refrensi buat kamu mendapatkan informasi tentang perjalanan dan pernak-perniknya, ini nih ada majalah baru yang menambah kekayaan wawasan informasi seputar jalan-jalan. Namanya Dunia Melancong.

Saya dengan majalah Dunia Melancong
Saya dengan majalah Dunia Melancong

Majalah Dunia Melancong adalah majalah traveling yang digawangi oleh anak-anak muda kota Medan. Kontennya nggak cuma lokal Sumatera Utara aja lho, tapi juga lokal dan nasional. Distribusinya juga udah sampe Jakarta. Dan… yang paling bikin ngiler itu adalah majalah ini gratis lho, free… Bisa kamu dapatkan di berbagai reading point di kota Medan dan Jakarta. Good job Dunia Melancong!

Kertasnya bagus...
Kertasnya bagus…

 

“Pernak-pernik” Traveling, Kecil Tapi Penting!!

Teks oleh Eka Rehulin @ekarehulin

 

Atas nama pencinta perjalanan, persiapkan diri saat akan “menggelandang”.

MEMILIH DESTINASI

Pilihan tempat ini bisa karena memang ambisi pribadi dan bisa juga karena ajakan teman. Kalau dengan teman, pilihlah teman yang tidak suka membandingkan tempat tujuan dengan rumahnya. He-he-he… Apapun itu, carilah dahulu informasi yang banyak soal tempat tujuan baik dari internet, buku, print magazine, mau pun dari orang lain. Tapi percayalah, jangan terlalu menelan bulat-bulat pengalaman perjalanan orang lain karena jalan-jalan itu sangat bersifat personal. Tiap orang akan punya pengalaman yang berbeda. So, ciptakan kenyamanan perjalanan kamu sendiri.

Because you belong everywhere...
Because you belong everywhere…

1. Rencanakan apa yang mau kamu lakukan di sana

Ini penting banget biar nggak mati gaya dan buang-buang waktu. Apakah mau shopping atau trekking atau mau chill out. Itu kamu yang tentukan, jangan sampai kolaps dan kehabisan tenaga. Faktor kayak cuaca, waktu dan dana yang tersedia, plus kondisi tubuh perlu kamu pertimbangkan.

2. Tentukan rute, akomodasi, dan transportasi yang mau dipakai

Kelihatannya emang simple banget tapi penting untuk mengatur perpindahan kamu dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi kalau rencananya mau keliling beberapa kota bahkan negara misalnya. Jangan ragu menggunakan transport lokal bahkan perahu sekalipun. Kamu ‘kan perlu mencoba segala hal. Tentukan juga itinerary sendiri.

3. Cek Travel Dokumen

Pelajari juga dong apa kamu butuh paspor baru atau visa. Oh ya, sebaiknya urus paspor baru kamu sebelum 6 bulan masa berlakunya habis. Antisipasi kami nggak diijinin masuk negara tujuan tertentu. Beberapa negara di Asia bahkan mensyaratkan paspor minimal berumur 3 bulan, untuk yang 6 bulan biasa berlaku di negara-negara Amerika dan Eropa. Nah untuk negara Asean seperti Laos dan Kamboja, negara ini tetap meminta visa bagi orang Indonesia. Visa bisa diperoleh secara online atau di arrival (biasa di bandara/pintu masuk utama) atau di kedutaaan negara bersangkutan.

4. Tentang penginapan

Untuk backpacker yang berpedoman bahwa bumi adalah rumah dan langit adalah atapnya, memang ini nggak bakalan jadi masalah penting. Walaupun begitu kamu nggak usah khawatir, di negara-negara yang udah jadi tujuan wisata, biasanya banyak berjejer hostel, guesthouse, dan hotel kelas melati (bukan hotel plus-plus) yang bisa kamu tumpangi. Di negara-negara kayak Thailand dan Kamboja penginapan dan hostelnya murah kok, nggak sampai Rp. 100 ribu. Ada banyak hostel yang bisa dishare untuk sekitar 8-12 orang. Mesikpun murah, kebersihan dan pelayanannya terjamin baik.

5. Jangan abaikan, be prepare for the unexpected !

Jangan berharap terlalu besar terhadap sebuah perjalanan. Itu cara terbaik menikmati kegiatan “menggelandang”. Nikmati apa adanya, pelajari kehidupan lokal, kenali budaya dan bahasa setempat. Hal yang kurang menyenangkan dalam perjalananpun jangan membuat mengeluh dan tidak menikmati perjalanan. Yang rugi diri sendiri lho.

Where ever you go, please enjoy!
Where ever you go, please enjoy!

 

TRUST ME, IT WORKS!!
  • Copy Your Identity. Semoga nggak terjadi sama kamu, tapi penting untuk melakukan ini. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi kehilangan dokumen dalam perjalanan, sebaiknya back up halaman paspor atau visa. Selain menyimpannya dalam bentuk hardcopy, baiknya simpan juga secara virtual di web atau email pribadi agar bisa diunduh di mana pun kamu berada. Simpan file dalam ukuran yang bisa di-print dengan jelas. Ingat, jangan menaruh halaman paspor di web yang setiap orang di dunia bisa melihat. Terutama di halaman yang ada bar chart (kode di bawah detail nama). Ingat lho, kejahatan dengan pencurian identitas banyak terjadi.
  • Seorang teman saya berpendapat sebaiknya jangan lebih dari 3 hari di satu tempat karena akan menimbulkan kebosanan
  • Baiknya bawa uang dalam bentuk $ US karena nilai tukarnya akan lebih tinggi di negara tujuan dan perbedaan nilai tukar itu sangat berarti bagi seorang traveler. Kecuali ringgit Malaysia, baiknya tukarkan di Indonesia.
  • Jangan lupa bawa kartu kredit. Itu lebih baik dari pada travel cek karena nilainya bisa sangat rendah.
  • Meletakkan paspor di kamar hotel atau hostel jauh lebih aman ketimbang di bawa-bawa ke mana-mana. Bawalah copy-annya saja.
  • Untuk muslim, bila keliling Indocina sebaiknya hindari makanan mengandung daging. Soalnya susah menemukan makanan tanpa pork. Apalagi terkadang komunikasi bahasa Inggris di suatu negara tetentu itu sulit sekali dilakukan. Kecuali kamu tidak terlalu khawatir dengan itu.
  • Jangan terlihat seperti orang asing yang serba nggak tahu apa-apa. Biar aman aja.
  • Agar terhindar dari pencopetan, buang kebiasaan buruk menyimpan barang berharga di saku bagian belakang. Kamu sering ‘kan seperti itu?
  • Bawa uang secukupnya saja di saku baju depan. Dengan berada di saku depan, uang lebih mudah diawasi. Akan lebih baik lagi saku ini punya tutup, saku dalam, atau pakai jaket sekalian.
  • Simpan barang-barang berharga di dalam tas tangan (daypack).  Tas tangan kamu sebaiknya pilih yang berlapis-lapis.  Kalaupun pencopet memakai pisau untuk mengoyak tas, lapisan terdalam masih tetap aman. Kalau ukuran tas ransel kamu nggak terlalu besar, tas bisa digendong di depan.
  • Banyak daerah tujuan wisata low season itu di bulan Januari, Februari, Maret, dan April. Jadi… biaya travelling di bulan-bulan ini jauh lebih miring. Silahkan buktikan sendiri!
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
MUST HAVE ITEMS!

Saat travelling apa saja sih barang-barang yang nggak boleh lupa dibawa?

  • Dokumen-dokumen penting jangan lupa!
  • Perlu bawa tas kecil, yang berisi obat-obatan, vitamin C, dan aman menyimpan semua dokumen plus uang.
  • Dilarang lupa bawa peta! Penting sekali loh. Kalau perlu, kamu juga bisa bawa travel guide kayak lonely planet.
  • Berhubung ini zaman teknologi, hand phone dan smart phone akan sangat memudahkan kamu untuk memperoleh informasi.
  • Kamera. Kalau kamu bukan orang yang konsen dengan kesempurnaan foto, pilihlah kamera yang nyaman dibawa namun memenuhi kebutuhan. Daftarkan juga barang elektronik yang kamu bawa dalam perjalanan ke luar negeri di bagian bea cukai keberangkatan di bandara. Ini supaya waktu kembali ke tanah air, barang-barang elektronik yang kamu bawa nggak dikenakan biaya masuk dan pajak. Biaya pendaftaran ini gratis kok.

Menggatalkan Kaki, Mengoleksi Ingatan, Membagi Cerita!

Teks oleh Eka Dalanta @ekadalanta *artikel ini pernah dimuat di Aplaus The Lifestyle

You are still young.  Free… do yourself a favor.  Before it’s too late, without thinking too much about it first, pack a pillow and a blanket and see as much of world as you can. You will not regret it. One day it will be too late.”  -The Namesake, Jhumpa Lahiri

MESKIPUN terbilang newbie di dunia per-travel-an, saya memang si kaki gatal. Kata teman-teman, saya gadis petualang, dalam arti sesungguhnya, tentu tanpa makna ganda atau makna tambahan *wink. Saya suka berjalan, kapan saja di mana saja. Suka melihat, memperhatikan, menonton orang, dan menemukan teman-teman baru.

Dalam sebuah perjalanan
Dalam sebuah perjalanan

Itu saya sekarang! Dulu saya anak rumahan, yang menahan rasa suka kemana-mana karena dibatasi langkah kakinya. Perempuan yang suka berjalan murah ini, mendapat kepercayaan penuh sejak menjejakkan kaki di bangku kuliah. Dengan prestasi akademik yang terjaga baik, menyibukkan diri di kegiatan ekstra di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya seperti mendapatkan garansi bebas kemana saja dengan syarat wajib lapor dan pintar-pintar menjaga diri. Saya beruntung punya Mama yang rela sering ditinggal anak gadisnya dan melepasnya melihat hal-hal ajaib di luar rumah. Tapi waktu itu gerak saya masih terbatas, sebatas kemampuan saya mendapatkan sponsor dari kampus saat ada kegiatan pelatihan atau sejenisnya. Uang saku saya masih terbatas.

Singapura, perjalanan makin jauh
Singapura, langkah terus semakin bergerak

Saya nggak ingat kapan persisnya pertama kali jatuh cinta sama kegiatan perjalanan. Buat saya dulu, kegiatan perjalanan ini seperti kegiatan berlari. Saya memang senang berlari. Teman saya pernah bilang, “Nggak apa-apa kamu suka berlari, asal nggak lari dari kenyataan.” Tapi nyatanya, saya awalnya memang lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa hidup tidak sepersis apa yang diinginkan, bahwa semuanya tak berjalan semulus harapan. Halah, kok jadi curhat pulak ya! He-he-he… Tapi sekarang nggak lagi kok.

Oke, kembali ke perjalanan, saya selalu suka berjalan, sendiri ataupun dengan siapapun, dua-duanya sama menyenangkannya. Perjalanan terjauh pertama saya dimulai saat saya duduk di bangku kuliah. Tujuan pertamanya adalah kota Bandung demi sebuah pelatihan jurnalistik dari Pers Mahasiswa. Itulah sebabnya, sampai sekarang, Bandung memiliki tempat istimewa di hati dan ingatan saya. Di perjalanan pertama saya ini, Jakarta-Bandung-Semarang, saya menemukan kecintaan saya pada perjalanan. Jauh lebih besar dari sebelumnya. Dalam perjalanan ini saya belajar tentang kebodohan, gengsi, keberanian, rasa takut, cemas, rasa malu, juga belajar percaya. Dan kemudian tersenyum mensyukuri semua ketika itu sudah menjadi kenangan.

Danau Singkarak, sebuah perjalanan pada perjalanan selanjutnya
Danau Singkarak, sebuah perjalanan menuju perjalanan selanjutnya

Perjalanan pertama saya ini terbilang spektakuler untuk orang yang tidak pernah melangkah jauh. Saya tak dapat tiket kereta Bandung-Semarang, tapi terlalu gengsi untuk pulang kembali ke tempat pelatihan. And thank God, saya dapat tiket dari calo. Belajar percaya, saya naik kereta, duduk di depan pintu kereta dekat dapur, menikmati perjalanan, melihat pinggiran laut sembari duduk menekuk lutut, dan minum kopi bersama pegawai kereta. Dan ajaibnya, saya kemudian mendapatkan tempat tidur. Tak dapat kursi, saya “dianugerahi” tempat tidur. Sesuatu banget kan? Modalnya, belajar percaya pada orang baru, mensyukuri tiap peristiwa, dan tidak mengeluh pada situasi seperti apapun. Ini tentu menjadi momen luar biasa buat anak kuliahan yang baru “lepas nyusu” seperti saya. Sesederhana cerita ini, begitulah kecintaan saya pada ingatan perjalanan, juga ketika melakukannya. Begitulah… perjalanan saya kemudian dimulai. Belum terlalu jauh, belum keliling Indonesia, dan masih beberapa negara di luar Indonesia. Tapi saya suka melakukannya. Pun kalau cuma ke Berastagi di akhir pekan. Siapa bilang itu tidak bisa disebut perjalanan? Nikmati tiap detailnya dan kamu akan semakin mencintai kehidupan.

Ngapel dulu. (baca: makan apel)
Ngapel dulu. (baca: makan apel)

Buat kalian tahu!

  1. Perjalanan tak selalu membuatmu kaya secara finansial, malah menguras kantong dan tabungan. Kecuali kalau kamu memang traveler writer atau orang yang digaji untuk melakukan perjalanan. Tapi percayalah, lebih dari kekayaan finansial, kamu akan mendapatkan kekayaan pengalaman. Tahu banyak hal dan membuka pikiran kamu agar tak picik.
  2. Perjalanan juga membawamu bertemu dengan orang-orang baru. Mendapatkan teman-teman baru, keluarga baru, atau juga mungkin pacar baru. Bhikhikhikkk…
  3. Perjalanan mengajarkan kita rendah hati. Mata terbuka, melihat dunia besar, dan sadar betapa kecilnya kitas. 😀
  4. Perjalanan menghadiahkan kita cerita dan kenangan, yang tak akan habis dimakan waktu dan zaman. Selalu ada ingatan yang bikin kita senyum-senyum sendiri, kecuali kamu tiba-tiba amnesia.
  5. Ketika akan melakukan perjalanan, sebaiknya rencanakan dengan baik. Detailkan perjalanan karena itu akan sangat memudahkan kamu. Perjalanan mengajarkan kamu menjadi manager yang baik. Tapi ingat, jangan abaikan spontanitas yang membuat hidup bahagia dan berwarna.
  6. Selalu berpikiran baik. Percayalah, selalu saja ada orang baik yang bersedia kamu minta tolongin. Pikiran positif membawa kebaikan datang mendekat padamu.
  7. Jangan menunggu orang lain. Untuk merencanakan perjalanan, jangan tunggu orang lain. Waktunya kadang susah matching-nya. Kenapa takut jadi independen traveler. Tenang aja, di perjalanan, seperti keajaiban, kamu akan sering ketemu dengan rekan perjalanan yang tepat. Siapa tahu jodoh juga kan ya? Hi-hi-hi…
  8. Nikmati tiap perjalanan, jangan suka mengeluh, buang pikiran sempit. Selamat datang di dunia perjalanan. Mari menggatalkan kaki.