Festival Danau Toba 2014, Belum Seluarbiasa Seharusnya

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

*Tulisan tentang FDT 2014 dari penulis juga akan terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Desember

Saya selalu percaya bahwa Danau Toba adalah salah satu keajaiban terbesar untuk pariwisata Sumatera Utara.

View cantik di Balige
View cantik di Balige

Sehingga rasanya sangat pantas sekali Danau Toba dikelola dengan baik, dikemas dengan sangat baik, difasilitasi dengan baik agar dapat dijadikan sebuah destinasi wisata yang tak kehabisan daya tarik.

Begitulah, September lalu, saya dan teman-teman dengan antusias merencanakan perjalanan ke salah satu daerah pinggir Danau Toba, Balige. Kali ini dalam rangka menghadiri Festival Danau Toba 2014. Diadakan pada 17-21 September, festival ini adalah kali kedua diselenggarakan, setelah yang pertama tahun lalu dan dideklarasikan sebagai pengganti Pesta Danau Toba yang dengan anehnya pula tahun ini kembali diselenggarakan di waktu yang bersamaan. Festival Danau Toba 2014 di Balige dan langsung dikoordinasikan dengan pemerintah pusat dan Pesta Danau Toba 2014 di Parapat yang dikelola oleh pemerintah kabupaten. Tumpah tindih yang menurut saya sangat aneh.

Oke, mari kita abaikan sebentar keanehan tersebut. Saya dan 3 orang teman, Andi dari kemanaaja dan 2 orang teman perjalanan lainnya, Melda dan Kak Lolo. Melda adalah teman baik yang juga beberapa kali sudah menulis untuk kemanaaja.com. Iya… Melda si Kribo yang kocak itu. Tapi sekarang dia nggak kribo lagi. He-he-he… Kak Lolo adalah teman Mel, kami baru berkenalan dan perjalanan memang selalu mengajak kita bertemu, berkenalan dan kemudian mempunyai teman-teman baru.

Berempat kami menumpang mobil travel menuju Balige, tuan rumah Festival Danau Toba (FDT) 2014. Balige yang berada di Kabupaten Tobasa adalah salah satu Kabupaten yang mengelilingi Danau Toba. Perjalanan, seperti biasanya, membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam. Jalanannya lumayan bagus sampai kemudian setelah melewati Parapat, jalanan sedikit rusak dan membuat tidak nyaman. Penyelenggaraan event internasional yang tidak didukung infrasturktur yang memadai. Izinkan saya menulis dengan jujur.

Ngomong-ngomong soal infrasturktur pariwisata Danau Toba saya selalu berandai-andai seandainya ada lapangan terbang di Pulau Samosir atau paling tidak sebuah jalan tol menuju Parapat. Sesuatu yang meringkas waktu, menjadikan Danau Toba destinasi akhir pekan yang tak membuat lelah, dan tentu menarik lebih banyak wisatawan. Tapi, ya saya masih berandai-andai saja kok.

Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan
Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan

Kami sudah tiba di Balige, Balige sangat ramai hari itu. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai sentra lokasi FDT juga cukup ramai oleh orang-orang, terutama di Lapangan Sisingamangaraja dan Dermaga. Dua lokasi penyelenggaraan event lainnya adalah TB Silalahi Centre dan Sekolah Del.

Keriuhan sudah tampak dalam kerumunan yang bergembira. Hilir mudik mobil memberikan woro-woro mengundang orang-orang untuk menonton di salah satu titik acara. Berulang-ulang. Mengingatkan dan memudahkan para penonton memilih ingin menonton apa.

Kami menginap di Ompu Herti, salah satu hotel di pinggiran Danau Toba. View-nya memang tak langsung menghadap Danau Toba. Kalau mau duduk menikmati Danau Toba, silahkan bersantai di restoran hotel yang tepat berada di seberang hotel. Di restoran ini, semua tamu hotel bisa menikmati ketenangan Danau Toba sembari menikmati sarapan pagi, bagian dari fasilitas hotel.

Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.
Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.

Tepat di samping restoran, adalah dermaga yang menjadi salah satu pusat aktivitas FDT 2014, perlombaan Solu Bolon dan renang 1 kilometer.

Sayang memang saya dan teman-teman tidak sempat menyaksikan acara pembukaan. Tapi cerita dari Liston, teman, seorang jurnalis yang sudah sejak hari pertama mengikuti acaranya. Pembukaan diadakan di TB Silalahi Centre dan Lapangan Sisingamangaraja. Ratusan siswa SMA 1 Balige berbaris cantik di sepanjang jalan menuju TB Silalahi Centre sembari membentangkan ulos Sadum, ulos indah dengan warna-warna cerah sepanjang 226 meter. Ada sekitar 210 siswa yang dilibatkan dan membuat kegiatan ini masuk ke dalam rekor MURI sebagai ulos terpanjang. Liston juga cerita kalau ada permainan margalah dan tarian-tarian tradisional dari berbagai suku di Indonesia. Tortor cawan (tarian dengan mangkuk yang diisi air dan dedaunan) yang ditampilkan secara kolosal memberi sentuhan sendiri pada acara pembukaan ini.

Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional
Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional

Masih Kurang Luar Biasa

Ada banyak rangkaian acara lagi yang mengisi FDT 2014. Festival pemilihan penyanyi, pameran tenun tradisional batak, kompetisi solun bolon, lomba renang, lomba arung jeram, fashion show, tari tortor massal, lomba foto landscape Danau Toba, pameran foto, seminar pariwisata dan lain sebagainya.

Solu Bolon, salah satu atraksi kebudayaan yang sudah turun-temurun menjadi salah satu pertunjukan menarik yang ingin saya saksikan. Agendanya jatuh pada hari Sabtu (20/9). Di dermaga, para peserta sudah siap bertanding. Antusias masyarakat tak kalah besarnya dengan para atlet. Teriakan-teriakan pemberian dukungan terdengar membuat riuh. Para atlet terlihat gagah dilatari riak kecil Danau Toba. Gerakan tangan yang serentak mengayuh, ritme yang sangat enak dilihat. Saya penonton yang tekun. Dan Kabupaten Samosir jadi bintang dalam perlombaaan ini. Tiga posisi besar berhasil mereka bawa pulang.

Peserta solu bolon yang semangat buat menang
Peserta solu bolon yang semangat buat menang

Di antara menyaksikan berbagai pertunjukan, pagi harinya, kami masih mengejar matahari pagi dan menikmati jalan berkeliling di pinggiran Danau Toba. Balige lebih menarik dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Kami juga menumpang kapal wisata dari dermaga untuk sekadar berkeliling Danau Toba dan merasakan rambut dan pipi digoda manja angin danau. Sisi Danau Toba di sini tak kalah cantik.

Pohon hariara dan Danau Toba
Pohon hariara dan Danau Toba

Keramaian masih terus bertambah dan belum surut. Apalagi di malam terakhir acara. Di Lapangan Sisingamangaraja, keramaian di luar Lapangan berubah seperti pasar malam. Puluhan pedagang membuka lapak jualan. Aneka mainan anak-anak, makanan, dan entah apalagi yang mungkin orang tertarik untuk membeli. Roda perekonomian berputar. Dan sepertinya cukup kencang malam itu.

Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja
Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja

Di dalam Lapangan Sisingamangaraja, malam itu dua layar besar dibentangkan dan memutar 2 film nasional yang berbeda. Seperti layar tancap. Filmnya cukup menarik tapi sayangnya tak cukup kondusif untuk ditonton. Perhatian terbagi antara mau menonton layar tancap atau melihat performa di atas panggung.

Saya juga tertarik dengan diskusi fotografi dan pameran foto yang diadakan di Lapangan DI Panjaitan. Apalagi teman Kak Lolo, Mas Barry Kusuma menjadi salah satu juri dan pembicara diskusi fotografinya. Kami pun meninggalkan keramaian di Lapangan Sisingamangaraja menuju keramaian lainnya di Lapangan DI Panjaitan.

Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014
Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014

Di Sini keramaian tidak terlalu hingar. Puluhan foto peserta lomba dipamerkan dengan pencahayaan yang cukup. Setelah acara diskusi fotografi, anak-anak muda ramai merapat. Ah rupanya Bang Tongam Sirait, musisi Batak yang lagu-lagunya juga menjadi koleksi iPod saya menjadi bintang tamu. Saya, seperti banyak anak muda Batak lainnya sangat antusias. Saya bahagia melihat keriaan anak-anak muda sekaligus lagu-lagu dan cara bernyanyi Bang Tongam yang asyik. Ada semangat dan kebahagiaan saya lihat malam itu.

Sebagai wisatawan lokal, saya sangat menikmati lagu-lagu Bang Tongam, tapi belum dengan keseluruhan kemasan FDT 2014. Diskusi fotografi dengan pembicara berpengalaman seperti kekurangan cahaya. Cahaya listrik dalam arti sesungguhnya. Performa Bang Tongam samar dalam redup cahaya taman. Dan lagi, saya tak melihat banyak tamu luar kota apalagi tamu internasional. Mungkin promosi dan persiapan masih kurang mumpuni. Kalau menurut pikiran sok tau saya, akan lebih baik kalau agenda tahunan ini sudah masuk kalender event jauh-jauh hari dengan paket-paket wisata yang menjanjikan kemudahan sekaligus kebahagiaan. Toh sesungguhnya promo pariwisata kita tak kekurangan biaya ‘kan? Harusnya! Semoga FDT tahun depan bisa lebih baik.

Apa Kata Mereka Tentang Medan?

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Medan itu ramah, nggak kasar kayak yang dibilang orang-orang!

Sabtu, 08 November lalu, kemanaja diundang oleh The City Hall Club untuk menghadiri event mereka, “Fundrising For Kids With Cancer, Evening Gala Jazz & Fine Arts.” Acara yang disertai dengan makan malam bersama ini diadakan di Gedung The City Hall Club, di Jalan Balai Kota No. 1 Medan.

Acaranya benar-benar santai karena ada pertunjukan musik jazz yang musiknya bikin acara itu nyaman banget. Erucakra dari Waspada E Music adalah musisi jazz yang performa malam itu. Nah, karena acara ini tujuannya untuk penggalangan dana buat anak-anak yang berpenyakit kanker, ada juga pameran foto dari Asosiasi Fotografer Sumatera Utara (AFSU) dan pameran busana dari dua desainer pakaian tradisi, Torang Sitorus dan Erdan. Semua hasil pameran dan donasi dari kegiatan ini akan disalurkan untuk anak-anak berpenyakit kanker melalui Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM).

Pameran busana bagian dari charity.
Pameran busana bagian dari charity.

Tamu dan undangan yang hadir ada dari berbagai lembaga, komunitas, dan instansi. Kemanaaja menanyakan pendapat beberapa tamu dan undangan acara ini tentang kota Medan. Apa pendapat mereka? Check this out!

Justing Heng

Justing Heng, General Manager The City Hall Club
Justing Heng, General Manager The City Hall Club

Saya sudah dua tahun mengenal Medan dan saya sangat menikmati makanannya yang luar biasa dan teman-teman yang ramah dan menyenangkan. Medan punya street food yang luar biasa, kamu bisa makan sate, kamu bisa makan lontong, dan sangat banyak outdoor activity yang bisa dilakukan di Medan. Kamu bisa ke Bukit Lawang yang tak terlalu jauh dari Medan, melihat Orang Utan. Kamu bisa ke Danau Toba dan melihat pulaunya yang cantik, bisa berenang juga di danaunya. Hehehe

Actually, saya sangat enjoy Medan. Kalau saya perlu aktivitas, perlu kegiatan outdoor, saya hanya perlu short drive. Kalau sedang tidak bisa keluar kota, saya juga menikmati kotanya. Lagipula orang-orangnya sangat ramah ya. Saya ke Sun Plaza, Centre Point, saya ketemu dengan orang, say hi, melakukan percakapan, saya bahagia dengan itu. Beda sekali dengan negara asal saya, Singapore itu sangat kota besar, saya bilang Singapore itu adalah hutan belantara, tapi jungle without tree. Hehehe. Di negara asal saya banyak yang harus dilakukan dengan waktu yang tergesa-gesa.

Dameria Hutabarat

Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.
Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.

Paling rekomendasi buat tamu yang datang ke kota Medan itu adalah heritage-nya. Juga kalau datang ke sebuah kota, termasuk Medan, cek event-event yang ada di Medan. Karena itu orang Medan juga harus kreatif bikin event. Plus diperlukan satu media yang bisa menginfokan keseluruhan event tersebut.

Yang paling disukai dari Medan? Convenient! Kemana-mana cuma 15 menit, makanannya enak, hidupnya itu lebih santai, kalau di kota lain dalam sehari cuma bisa bikin janji cuma di satu atau dua tempat, nah di Medan bisa lebih dari 3.

Erucakra

Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara
Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara

Event di Medan? Medan itu kan sudah kota internasional. Artinya akses ke luar negeri itu udah cepat. Harusnya event-event yang dibuat juga bisa menarik para wisatawan. Apalagi Singapura dan Malaysia sangat dekat dengan kita. Undang mereka untuk datang. Medan juga harus buat event yang original, buatan sendiri. Nggak usah ngikut-ngikut Jakarata. Kita serba dekat dengan negara lain, jadi kita lebih potensial. Gampang kok Medan ini disorot sama musisi internasional. Yang penting bagaimana idenya.

Yang paling menarik di Medan, kulinernya. Ada teman saya dari luar kota yang tau banget kuliner nasi padang paling enak di Medan. Lebih tahu dari saya. He-he-he… Ternyata orang dari luar sangat menikmati dan mencari. Tapi kita juga harus melihat lebih jeli mana yang mau kita jual jadi produk pariwisata. Baju-baju kain tenun tradisi misalnya. Itu kan asset pariwisata. Saya baca juga Labuhan dan Belawan itu adalah aset kota tua. Ini kan sangat luar biasa. PR yang harus kita kerjakan.

Rizanul Arifin

Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)
Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)

Kalau ada teman yang datang ke Medan, yang paling saya rekomendasi adalah Makan. Setelah itu, makan lagi. Ha-ha-ha… Di Medan apa aja enak. Mereka bolehlah ke Tanah Karo, ke Sinabung bagus kalau sedang tidak erupsi, terus ke Merek ada pemandangan bagus, Tongging, dan lebih cepat sampe ke Danau Toba. Ada beberapa tempat luar biasa untuk rafting, Sungai Buaya, Sei Bah Bolon, Sei Binge atau yang lainnya. Semuanya aman untuk mengajak keluarga. Kalau mau pulau ada Pulau Berhala misalnya.

Tinggal di kota Medan, sekarang kurang nyaman karena jalanan yang macet. Turis akan susah dengan cara kita berkendara, sebenarnya ini memalukan. Lampu merah dihajar, lampu hijau orang hati-hati. Sudah terbalik. Harus diubahlah kebiasaan ini, kalau nggak nanti jadi rubah.

Paling disukai, saya bisa berangkat kerja siang, jaraknya semuanya dekat. Cuma akses hiburan keluarga dalam kota tak ada, dulu ada Taman Ria sekarang nggak ada apa-apa. Mall itu tidak mendidik dan buat turis juga tidak terlalu menarik. Aku kepengen di Medan ada kayak taman ria dan taman yang nyaman untuk keluarga.

dr. Daniel Irawan

dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.
dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.

Medan itu untuk pariwisata banyak kuliner yang bisa dicoba. Untuk sight seeing, ada Danau Toba. Medan juga akses yang mudah untuk ke Sabang, Aceh. Yang paling harus dicoba adalah duriannya karena durian Medan itu beda. Heritage-nya juga, masih banyak bangunan heritage. Kayak Penang ini bisa jadi keunggulan kota Medan.

Tinggal di Medan, saya suka dengan orang-orangnya yang ramah, kalau ada yang bilang orang Medan itu kasar, kayak yang selama ini kita dengar di luaran, itu nggak benar. Tapi kalau lalu lintasnya masih bermasalah. Turis biasanya ngeluh soal ini.

Liburan ke Medan, Ngapain Aja?

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

“Check Your Calender…”

Liburan nggak melulu tentang melihat keindahan objek wisata dan landscape. Tiap kota juga punya karakteristik dan keunikan objek wisatanya sendiri. Nah, kalau kamu punya rencana liburan ke Medan dalam waktu dekat, bisa ngelakuin apa aja sih?

  1. Wisata Kuliner

kuliner

Woopp… tau dong kalau Medan memang terknal banget dengan kulinernya. Kalau kata teman saya, makanan di Medan itu cuma ada dua. Enak dan enak banget! Hihihi. Ada banyak pilihan tempat kuliner yang wajib kamu coba. Mulai dari wisata kuliner per kawasan seperti Kawasan Jl. Surabaya, Merdeka Walk, Kawasan Jl. Dr. Mansyur, Jl. Halat, duh… masih ada banyak yang lainnya sampai ke tempat-tempat makan tunggal yang udah terkenal enak seperti Soto Sinar Pagi, Tip Top Restaurant, dan Lontong Kak Lin.

  1. Wisata Heritage

heritage

Kalau kita berjalan ke kawasan inti kota Medan, di titik nol kota Medan, kita akan langsung melihat bangunan-bangunan bersejarah peninggalan sejarah perkebunan dan sejarah lainnya kota Medan. Ada beberapa bangunan yang penting untuk kamu kunjungi karena punya sejarah penting kota Medan. Istana Maimoon, Mesjid Raya, Lapangan Merdeka, Kantor Pos Pusat, Bank Indonesia, Kantor Balaikota Lama, Gedung PT. Lonsum, dan Tjong A Fie Mansion untuk menyebut sebagiannya.

  1. Wisata Landscape

landscape

Kalau mau melihat landsekap yang cantik, kamu bisa melarikan diri sekitar satu atau dua jam dari kota Medan. Berastagi atau Bukit Lawang adalah pilihan yang paling mudah. Di Berastagi kamu bisa melihat landsekap pegunungan dan udara yang segar serta berbagai daya tarik pesona alam pegunungan. Nah kalau di Bukit Lawang, kamu bisa menikmati udara hutan lindung Taman Nasional Gunung Leuser sembari melakukan beberapa aktivitas seperti trekking, melihat orang utan, dan tubbing.

  1. Events

aston2

Layaknya kota-kota besar lainnya, di Medan juga banyak event-event yang digelar. Mulai dari event entertainment kayak music pop, rock (Medan suka banget sama rock), event music indie, event fashion, event night life, sampai ke event-event kebudayaan, pendidikan, dan charity.

Nah kalau kamu tertarik dengan perpaduan musik jazz, fashion show, eksibisi dan pelelangan foto untuk charity, di tanggal 8 November nanti bakal ada event Evening Gala Jazz & Fine Arts yang diadakan oleh Aston City Hall Club. Selain bisa bersantai dengar musik jazz, akan ada exebisi dan pelelangan foto dari teman-teman fotografer AFSU. Juga akan dimeriahkan oleh dua designer etnik kondang Torang Sitorus dan Erdan. Semua penjualan tiket dan hasil pelelangan akan disumbangkan untuk membantu adik-adik penderita kanker yang diwakili oleh Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM).

Acaranya bakal digelar di Grand Aston City Hall, City Hall Club Medan dari jam setengah 7 malam. Nggak mahal kok. Dengan tiket Rp. 200.000 sudah termasuk food and beverages, kamu ikut dalam kegiatan amal ini. So, be there, Guys. 😀

Dunia Melancong Magazine, New Travel Reference

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Liburan akan semakin mudah ketika sejumlah informasi sudah dikumpulkan. Referensi seperti majalah traveling akan sangat membantu.
Cover Dunia Melancong Edisi 2
Cover Dunia Melancong Edisi 2

Sekarang ini traveling udah jadi bagian dari gaya hidup. Makanya refrensi jalan-jalan itu udah jadi kebutuhan. Seperti kemanaaja yang menjadi refrensi buat kamu mendapatkan informasi tentang perjalanan dan pernak-perniknya, ini nih ada majalah baru yang menambah kekayaan wawasan informasi seputar jalan-jalan. Namanya Dunia Melancong.

Saya dengan majalah Dunia Melancong
Saya dengan majalah Dunia Melancong

Majalah Dunia Melancong adalah majalah traveling yang digawangi oleh anak-anak muda kota Medan. Kontennya nggak cuma lokal Sumatera Utara aja lho, tapi juga lokal dan nasional. Distribusinya juga udah sampe Jakarta. Dan… yang paling bikin ngiler itu adalah majalah ini gratis lho, free… Bisa kamu dapatkan di berbagai reading point di kota Medan dan Jakarta. Good job Dunia Melancong!

Kertasnya bagus...
Kertasnya bagus…

 

“Pernak-pernik” Traveling, Kecil Tapi Penting!!

Teks oleh Eka Rehulin @ekarehulin

 

Atas nama pencinta perjalanan, persiapkan diri saat akan “menggelandang”.

MEMILIH DESTINASI

Pilihan tempat ini bisa karena memang ambisi pribadi dan bisa juga karena ajakan teman. Kalau dengan teman, pilihlah teman yang tidak suka membandingkan tempat tujuan dengan rumahnya. He-he-he… Apapun itu, carilah dahulu informasi yang banyak soal tempat tujuan baik dari internet, buku, print magazine, mau pun dari orang lain. Tapi percayalah, jangan terlalu menelan bulat-bulat pengalaman perjalanan orang lain karena jalan-jalan itu sangat bersifat personal. Tiap orang akan punya pengalaman yang berbeda. So, ciptakan kenyamanan perjalanan kamu sendiri.

Because you belong everywhere...
Because you belong everywhere…

1. Rencanakan apa yang mau kamu lakukan di sana

Ini penting banget biar nggak mati gaya dan buang-buang waktu. Apakah mau shopping atau trekking atau mau chill out. Itu kamu yang tentukan, jangan sampai kolaps dan kehabisan tenaga. Faktor kayak cuaca, waktu dan dana yang tersedia, plus kondisi tubuh perlu kamu pertimbangkan.

2. Tentukan rute, akomodasi, dan transportasi yang mau dipakai

Kelihatannya emang simple banget tapi penting untuk mengatur perpindahan kamu dari satu tempat ke tempat lain. Apalagi kalau rencananya mau keliling beberapa kota bahkan negara misalnya. Jangan ragu menggunakan transport lokal bahkan perahu sekalipun. Kamu ‘kan perlu mencoba segala hal. Tentukan juga itinerary sendiri.

3. Cek Travel Dokumen

Pelajari juga dong apa kamu butuh paspor baru atau visa. Oh ya, sebaiknya urus paspor baru kamu sebelum 6 bulan masa berlakunya habis. Antisipasi kami nggak diijinin masuk negara tujuan tertentu. Beberapa negara di Asia bahkan mensyaratkan paspor minimal berumur 3 bulan, untuk yang 6 bulan biasa berlaku di negara-negara Amerika dan Eropa. Nah untuk negara Asean seperti Laos dan Kamboja, negara ini tetap meminta visa bagi orang Indonesia. Visa bisa diperoleh secara online atau di arrival (biasa di bandara/pintu masuk utama) atau di kedutaaan negara bersangkutan.

4. Tentang penginapan

Untuk backpacker yang berpedoman bahwa bumi adalah rumah dan langit adalah atapnya, memang ini nggak bakalan jadi masalah penting. Walaupun begitu kamu nggak usah khawatir, di negara-negara yang udah jadi tujuan wisata, biasanya banyak berjejer hostel, guesthouse, dan hotel kelas melati (bukan hotel plus-plus) yang bisa kamu tumpangi. Di negara-negara kayak Thailand dan Kamboja penginapan dan hostelnya murah kok, nggak sampai Rp. 100 ribu. Ada banyak hostel yang bisa dishare untuk sekitar 8-12 orang. Mesikpun murah, kebersihan dan pelayanannya terjamin baik.

5. Jangan abaikan, be prepare for the unexpected !

Jangan berharap terlalu besar terhadap sebuah perjalanan. Itu cara terbaik menikmati kegiatan “menggelandang”. Nikmati apa adanya, pelajari kehidupan lokal, kenali budaya dan bahasa setempat. Hal yang kurang menyenangkan dalam perjalananpun jangan membuat mengeluh dan tidak menikmati perjalanan. Yang rugi diri sendiri lho.

Where ever you go, please enjoy!
Where ever you go, please enjoy!

 

TRUST ME, IT WORKS!!
  • Copy Your Identity. Semoga nggak terjadi sama kamu, tapi penting untuk melakukan ini. Untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi kehilangan dokumen dalam perjalanan, sebaiknya back up halaman paspor atau visa. Selain menyimpannya dalam bentuk hardcopy, baiknya simpan juga secara virtual di web atau email pribadi agar bisa diunduh di mana pun kamu berada. Simpan file dalam ukuran yang bisa di-print dengan jelas. Ingat, jangan menaruh halaman paspor di web yang setiap orang di dunia bisa melihat. Terutama di halaman yang ada bar chart (kode di bawah detail nama). Ingat lho, kejahatan dengan pencurian identitas banyak terjadi.
  • Seorang teman saya berpendapat sebaiknya jangan lebih dari 3 hari di satu tempat karena akan menimbulkan kebosanan
  • Baiknya bawa uang dalam bentuk $ US karena nilai tukarnya akan lebih tinggi di negara tujuan dan perbedaan nilai tukar itu sangat berarti bagi seorang traveler. Kecuali ringgit Malaysia, baiknya tukarkan di Indonesia.
  • Jangan lupa bawa kartu kredit. Itu lebih baik dari pada travel cek karena nilainya bisa sangat rendah.
  • Meletakkan paspor di kamar hotel atau hostel jauh lebih aman ketimbang di bawa-bawa ke mana-mana. Bawalah copy-annya saja.
  • Untuk muslim, bila keliling Indocina sebaiknya hindari makanan mengandung daging. Soalnya susah menemukan makanan tanpa pork. Apalagi terkadang komunikasi bahasa Inggris di suatu negara tetentu itu sulit sekali dilakukan. Kecuali kamu tidak terlalu khawatir dengan itu.
  • Jangan terlihat seperti orang asing yang serba nggak tahu apa-apa. Biar aman aja.
  • Agar terhindar dari pencopetan, buang kebiasaan buruk menyimpan barang berharga di saku bagian belakang. Kamu sering ‘kan seperti itu?
  • Bawa uang secukupnya saja di saku baju depan. Dengan berada di saku depan, uang lebih mudah diawasi. Akan lebih baik lagi saku ini punya tutup, saku dalam, atau pakai jaket sekalian.
  • Simpan barang-barang berharga di dalam tas tangan (daypack).  Tas tangan kamu sebaiknya pilih yang berlapis-lapis.  Kalaupun pencopet memakai pisau untuk mengoyak tas, lapisan terdalam masih tetap aman. Kalau ukuran tas ransel kamu nggak terlalu besar, tas bisa digendong di depan.
  • Banyak daerah tujuan wisata low season itu di bulan Januari, Februari, Maret, dan April. Jadi… biaya travelling di bulan-bulan ini jauh lebih miring. Silahkan buktikan sendiri!
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
Jangan lupa bawa peta atau buku panduan perjalanan
MUST HAVE ITEMS!

Saat travelling apa saja sih barang-barang yang nggak boleh lupa dibawa?

  • Dokumen-dokumen penting jangan lupa!
  • Perlu bawa tas kecil, yang berisi obat-obatan, vitamin C, dan aman menyimpan semua dokumen plus uang.
  • Dilarang lupa bawa peta! Penting sekali loh. Kalau perlu, kamu juga bisa bawa travel guide kayak lonely planet.
  • Berhubung ini zaman teknologi, hand phone dan smart phone akan sangat memudahkan kamu untuk memperoleh informasi.
  • Kamera. Kalau kamu bukan orang yang konsen dengan kesempurnaan foto, pilihlah kamera yang nyaman dibawa namun memenuhi kebutuhan. Daftarkan juga barang elektronik yang kamu bawa dalam perjalanan ke luar negeri di bagian bea cukai keberangkatan di bandara. Ini supaya waktu kembali ke tanah air, barang-barang elektronik yang kamu bawa nggak dikenakan biaya masuk dan pajak. Biaya pendaftaran ini gratis kok.

DON’T BE AFRAID TO TRAVEL ALONE

“Perjalanan adalah tentang menemukan diri sendiri. Jadi sejauh apapun kakimu melangkah, kau takkan pernah kesulitan menemukan jalan pulang.”

Teks oleh Mustika T. Yuliandri @PerempuanThicka | Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

“Takut sendirian” adalah satu dari seribu alasan yang menghalangi banyak orang untuk melakukan perjalanan. Padahal, saat melakukan perjalanan, tak ada seorang pun yang benar-benar sendiri. Setiap pejalan adalah teman untuk pejalan yang lainnya. Kesulitan mendadak jadi sahabat, tersesat menjadi teman baik dan kejutan-kejutan menjelma teman main yang tak kalah asik. Beberapa orang memang tak nyaman melakukan traveling sendirian, padahal traveling sendirian itu menjadi salah satu hal yang harus dicoba at least sekali seumur hidup. Saat sendirian di sebuah tempat asing dirimu akan diuji. Diuji untuk lebih percaya kepada diri sendiri, diuji lebih peka terhadap insting, diuji menyingkirkan segudang rasa malu dan diuji untuk mau melakukan apa saja demi bertahan. Kawan, pergilah ke tempat jauh sendirian, niscaya kau akan mencintai dirimu lebih dalam saat kelak kau pulang.

_MG_3616 2

Why do you need to travel alone?

1. Because you belong everywhere. Belahan dunia manapun adalah milikmu. Tak ada tempat yang benar-benar asing saat kau melakukan perjalanan. Rasa takut yang membuat segalanya tampak seram. Namun setelah kaujelajahi dan eksplorasi kau akan menjadikan semua destinasi rumah yang menebar nyaman.

2. To make friend with anybody. Saat melakukan perjalanan sendirian kesempatan bertemu dan berteman dengan orang lain terbuka lebar. Apalagi kau memilih penginapan dormitory yang sudah jelas membuka kesempatan interaksi yang luas. Pasang senyum semanis mungkin dan berkenalan dengan para pejalan dari belahan dunia lain. Bagi pengalaman dan jalin pertemanan dengan siapa saja. Saat perjalananmu usai tak hanya tempat-tempat indah yang membuatmu tersenyum, kelak orang-orang yang kautemui juga akan menjadi kenangan yang tak kalah manis.

3. To be thankful. Saat sendirian akan banyak waktu yang kaupakai untuk merenung. Akan banyak kepingan-kepingan pemikiran yang akan ‘mengganggumu’ saat kau sendirian dan mungkin akan menjadikanmu orang yang lebih bersyukur. Terkadang, seseorang harus benar-benar sendiri untuk menyadari betapa indahnya kebersamaan. Perjalanan yang kaulakukan sendirian akan membawamu ke dalam perenungan. Indahnya pemandangan, tulusnya senyum dari mereka yang asing, makanan-makanan enak pemuas lapar, musik meriah, pasar yang riuh serta apa saja yang kaunikmati akan memberimu satu kesimpulan bahwa perjalanan memang tentang bersyukur.

How to survive?

1. Jangan takut. Jangan pikirkan hal-hal seram yang akan kauhadapi. Waspada boleh, tapi jangan parno. Percayalah akan ada orang baik dimanapun kau berada. Meskipun orang jahat tak kalah sedikit jumlahnya. Singkirkan rasa takut dan percaya bahwa kau mampu berteman dengan semesta.

2. Bawalah barang-barang kesukaanmu. Buku favorit atau benda-benda yang selalu membuatmu nyaman. Buku adalah teman paling baik di saat menunggu. Dalam perjalanan kamu akan mengalami saat-saat menunggu yang banyak dan tentunya tak terduga. Seperti pesawat yang delay, bus yang mungkin mogok atau berbagai hal menyebalkan lainnya. So, bring your favorite one with you.

3. Music. Isi iPod dengan lagu-lagu favorit pengusir jemu. Saat sekitar mulai membosankan isi duniamu sendiri dengan nada-nada pilihan. Tapi ingat, sesekali bolehlah tidak mendengarkan lagu kesukaan dan coba untuk lebih mendengar ‘nyanyian semesta’ yang mungkin hanya sekali kau nikmati seumur hidup. Suara riuh pasar malam, suara kendaraan yang lalu-lalang, suara burung-burung di pagi hari atau suara apa saja yang kebetulan mampir di sekitar.

4. Smile. Tersenyumlah, maka segala masalah akan menjelma lebih mudah. Semua manusia mengerti arti sebuah senyuman meski bahasa mereka berbeda. Jadi jangan lupa tersenyum, terutama di kantor imigrasi. You know what I mean.

5. Write down everything. Tulis apa saja yang menurutmu menarik. Jangan malas, karena dengan hanya mengingat di kepala segala detail perjalanan kemungkinan besar akan terlupa. Siapkan buku catatan dan mulailah mengumpulkan pengalaman dalam ‘kotak ajaib’ bernama kata-kata.

6.  Percayalah pada dirimu 100%. Tak ada yang bisa kaupercaya 100% di dunia ini selain Tuhan dan dirimu sendiri. Jangan percaya segala kebaikan yang bisa saja semu di perjalanan. Ada banyak kejahatan yang mengintai para turis, khususnya mereka yang traveling sendirian. So, trust yourself only!

NOTE: Yang sendirian itu dirimu, bukan perjalanan. Ada semesta dan kebaikan yang selalu mengiringi langkahmu yang berani. So, don’t be afraid to travel alone.

Menggatalkan Kaki, Mengoleksi Ingatan, Membagi Cerita!

Teks oleh Eka Dalanta @ekadalanta *artikel ini pernah dimuat di Aplaus The Lifestyle

You are still young.  Free… do yourself a favor.  Before it’s too late, without thinking too much about it first, pack a pillow and a blanket and see as much of world as you can. You will not regret it. One day it will be too late.”  -The Namesake, Jhumpa Lahiri

MESKIPUN terbilang newbie di dunia per-travel-an, saya memang si kaki gatal. Kata teman-teman, saya gadis petualang, dalam arti sesungguhnya, tentu tanpa makna ganda atau makna tambahan *wink. Saya suka berjalan, kapan saja di mana saja. Suka melihat, memperhatikan, menonton orang, dan menemukan teman-teman baru.

Dalam sebuah perjalanan
Dalam sebuah perjalanan

Itu saya sekarang! Dulu saya anak rumahan, yang menahan rasa suka kemana-mana karena dibatasi langkah kakinya. Perempuan yang suka berjalan murah ini, mendapat kepercayaan penuh sejak menjejakkan kaki di bangku kuliah. Dengan prestasi akademik yang terjaga baik, menyibukkan diri di kegiatan ekstra di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) saya seperti mendapatkan garansi bebas kemana saja dengan syarat wajib lapor dan pintar-pintar menjaga diri. Saya beruntung punya Mama yang rela sering ditinggal anak gadisnya dan melepasnya melihat hal-hal ajaib di luar rumah. Tapi waktu itu gerak saya masih terbatas, sebatas kemampuan saya mendapatkan sponsor dari kampus saat ada kegiatan pelatihan atau sejenisnya. Uang saku saya masih terbatas.

Singapura, perjalanan makin jauh
Singapura, langkah terus semakin bergerak

Saya nggak ingat kapan persisnya pertama kali jatuh cinta sama kegiatan perjalanan. Buat saya dulu, kegiatan perjalanan ini seperti kegiatan berlari. Saya memang senang berlari. Teman saya pernah bilang, “Nggak apa-apa kamu suka berlari, asal nggak lari dari kenyataan.” Tapi nyatanya, saya awalnya memang lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa hidup tidak sepersis apa yang diinginkan, bahwa semuanya tak berjalan semulus harapan. Halah, kok jadi curhat pulak ya! He-he-he… Tapi sekarang nggak lagi kok.

Oke, kembali ke perjalanan, saya selalu suka berjalan, sendiri ataupun dengan siapapun, dua-duanya sama menyenangkannya. Perjalanan terjauh pertama saya dimulai saat saya duduk di bangku kuliah. Tujuan pertamanya adalah kota Bandung demi sebuah pelatihan jurnalistik dari Pers Mahasiswa. Itulah sebabnya, sampai sekarang, Bandung memiliki tempat istimewa di hati dan ingatan saya. Di perjalanan pertama saya ini, Jakarta-Bandung-Semarang, saya menemukan kecintaan saya pada perjalanan. Jauh lebih besar dari sebelumnya. Dalam perjalanan ini saya belajar tentang kebodohan, gengsi, keberanian, rasa takut, cemas, rasa malu, juga belajar percaya. Dan kemudian tersenyum mensyukuri semua ketika itu sudah menjadi kenangan.

Danau Singkarak, sebuah perjalanan pada perjalanan selanjutnya
Danau Singkarak, sebuah perjalanan menuju perjalanan selanjutnya

Perjalanan pertama saya ini terbilang spektakuler untuk orang yang tidak pernah melangkah jauh. Saya tak dapat tiket kereta Bandung-Semarang, tapi terlalu gengsi untuk pulang kembali ke tempat pelatihan. And thank God, saya dapat tiket dari calo. Belajar percaya, saya naik kereta, duduk di depan pintu kereta dekat dapur, menikmati perjalanan, melihat pinggiran laut sembari duduk menekuk lutut, dan minum kopi bersama pegawai kereta. Dan ajaibnya, saya kemudian mendapatkan tempat tidur. Tak dapat kursi, saya “dianugerahi” tempat tidur. Sesuatu banget kan? Modalnya, belajar percaya pada orang baru, mensyukuri tiap peristiwa, dan tidak mengeluh pada situasi seperti apapun. Ini tentu menjadi momen luar biasa buat anak kuliahan yang baru “lepas nyusu” seperti saya. Sesederhana cerita ini, begitulah kecintaan saya pada ingatan perjalanan, juga ketika melakukannya. Begitulah… perjalanan saya kemudian dimulai. Belum terlalu jauh, belum keliling Indonesia, dan masih beberapa negara di luar Indonesia. Tapi saya suka melakukannya. Pun kalau cuma ke Berastagi di akhir pekan. Siapa bilang itu tidak bisa disebut perjalanan? Nikmati tiap detailnya dan kamu akan semakin mencintai kehidupan.

Ngapel dulu. (baca: makan apel)
Ngapel dulu. (baca: makan apel)

Buat kalian tahu!

  1. Perjalanan tak selalu membuatmu kaya secara finansial, malah menguras kantong dan tabungan. Kecuali kalau kamu memang traveler writer atau orang yang digaji untuk melakukan perjalanan. Tapi percayalah, lebih dari kekayaan finansial, kamu akan mendapatkan kekayaan pengalaman. Tahu banyak hal dan membuka pikiran kamu agar tak picik.
  2. Perjalanan juga membawamu bertemu dengan orang-orang baru. Mendapatkan teman-teman baru, keluarga baru, atau juga mungkin pacar baru. Bhikhikhikkk…
  3. Perjalanan mengajarkan kita rendah hati. Mata terbuka, melihat dunia besar, dan sadar betapa kecilnya kitas. 😀
  4. Perjalanan menghadiahkan kita cerita dan kenangan, yang tak akan habis dimakan waktu dan zaman. Selalu ada ingatan yang bikin kita senyum-senyum sendiri, kecuali kamu tiba-tiba amnesia.
  5. Ketika akan melakukan perjalanan, sebaiknya rencanakan dengan baik. Detailkan perjalanan karena itu akan sangat memudahkan kamu. Perjalanan mengajarkan kamu menjadi manager yang baik. Tapi ingat, jangan abaikan spontanitas yang membuat hidup bahagia dan berwarna.
  6. Selalu berpikiran baik. Percayalah, selalu saja ada orang baik yang bersedia kamu minta tolongin. Pikiran positif membawa kebaikan datang mendekat padamu.
  7. Jangan menunggu orang lain. Untuk merencanakan perjalanan, jangan tunggu orang lain. Waktunya kadang susah matching-nya. Kenapa takut jadi independen traveler. Tenang aja, di perjalanan, seperti keajaiban, kamu akan sering ketemu dengan rekan perjalanan yang tepat. Siapa tahu jodoh juga kan ya? Hi-hi-hi…
  8. Nikmati tiap perjalanan, jangan suka mengeluh, buang pikiran sempit. Selamat datang di dunia perjalanan. Mari menggatalkan kaki.