Telusuri Jejak-Jejak Sejarah Kota Solo di 5 Destinasi Wisata Ini

Semua wilayah di Indonesia memiliki cerita sejarahnya masing-masing. Bandung dengan sebutan Kota Lautan Api, Semarang yang terkenal dengan Pertempuran 5 Hari, atau Surabaya yang tersohor dengan julukan Kota Pahlawan. Tidak hanya cerita masa perjuangan, Indonesia juga tak luput dari kisah kerajaan Hindu-Budha dan jaman manusia purba.

Begitu pula dengan Solo, salah satu wilayah dengan adat dan budaya keraton yang kental selain Yogyakarta. Kota ini mampu membuat para pengunjung seperti kembali pada masa kejayaan raja-raja terdahulu. Selain terkenal dengan bangunan keraton kesultanannya, ternyata kota ini juga memiliki setumpuk destinasi wisata sejarah yang tak banyak terekspos. Tak heran jika mulai banyak dibangun hotel terbaik di Solo sebagai akomodasi para pengunjung. Lalu, di mana saja jejak-jejak sejarah Kota Solo ini?

  1. Candi Sukuh
Candi Sukuh (sumber foto triptrus.com)

Destinasi pertama yang bisa Anda datangi adalah Candi Sukuh, salah satu bangunan peninggalan kerajaan Hindu. Candi ini berlokasi di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Sama halnya dengan candi Hindu lainnya, banyak ditemukan lingga dan yoni pada candi ini.

Candi Sukuh ditemukan pada masa pemerintahan Inggris oleh Johnson. Kala itu, Sir Thomas Stanford Raffles memberikan tugas kepada Johnson untuk mencari data. Salah satu daya tarik tersendiri dari Candi Sukuh adalah bentuknya yang unik dan ukiran-ukiran yang menggambarkan alat kelamin manusia pada dindingnya. Letak candi ini tidak jauh dari pusat kota sehingga Anda bisa mencari penginapan terbaik di Solo yang dekat dengan destinasi ini dengan mudah.

  1. Taman Sriwedari
Taman Sriwedari (sumber foto; indonesiakaya.com)

Taman Sriwedari merupakan tempat untuk menggelar berbagai pertunjukan seni, budaya, dan hiburan di Solo. Taman ini berlokasi di Jl. Brigjend Slamet Riyadi No. 275, Laweyan, Solo. Dahulu, taman yang dibangun sejak tahun 1877 silam ini disebut sebagai Kebon Rojo atau Taman Raja. Kabarnya, taman ini sering digunakan sebagai tempat para raja beristirahat sembari menyaksikan berbagai pertunjukan seni.

Di area taman bagian dalam, terdapat Rumah Joglo yang biasanya digunakan untuk latihan menari atau melangsungkan kegiatan lomba. Ada pula panggung yang dinaungi oleh pohon beringin. Di bagian kanan dan kiri panggung terdapat sebuah meriam. Selain itu, ada pula Gedung Wayang Orang yang khusus menampilkan pertunjukan Wayang Orang pada waktu-waktu tertentu.

  1. Benteng Vastenburg
Benteng Vastenbur (sumber foto: tribunnews.com)

Kota Solo juga tak luput dari cerita perjuangan rakyat Indonesia ketika melawan tentara Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya benteng peninggalan Belanda bernama Vastenburg, atau yang lebih dikenal dengan Fort Vastenburg. Benteng ini berlokasi di Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Kota Solo.

Dahulu, benteng yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745 ini digunakan Belanda untuk mengawasi segala aktivitas keraton. Selain sebagai tembok pertahanan, benteng ini juga digunakan sebagai tempat tinggal gubernur Belanda dan asrama perwira. Lokasi benteng berdekatan dengan Balai Kota sehingga ada banyak hotel terbaik di Solo yang bisa Anda pilih jika ingin menginap di sekitar benteng. 

  1. Candi Ceto
Candi Ceto (sumber foto: tribunnews.com)

Selain Candi Sukuh, candi lain yang ada di Solo adalah Candi Ceto. Candi ini berlokasi di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, cukup dekat dengan Candi Sukuh. Candi ini juga merupakan candi bercorak Hindu yang dibangun pada abad ke-15 Masehi, tepatnya di akhir masa Kerajaan Majapahit. Candi Ceto pertama kali ditemukan oleh Van de Villes.

Hingga kini, Candi Ceto masih digunakan sebagai tempat ziarah dan pemujaan oleh masyarakat setempat, terutama untuk pemeluk agama Hindu. Jika dilihat sekilas, memang Candi Ceto memiliki struktur bangunan yang mirip dengan Pura.

  1. Museum Pers Nasional
Museum Pers Nasional (sumber foto: wikiwand.com)

Terakhir, ada Museum Pers Nasional yang berlokasi di Jl. Gajah Mada No. 59, Solo. Museum ini menyimpan lebih dari satu juta catatan dalam bentuk buku, dokumen, dan majalah seputar perjalanan pers Indonesia sejak masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, tepatnya mulai tahun 1913 hingga 1929.

Selain buku dan catatan, Anda juga bisa melihat berbagai koleksi peralatan pers jaman dahulu, mulai dari mesin tik, kumpulan foto, kentungan, radio, jenis kamera yang digunakan, hingga seragam yang dikenakan dari masa ke masa. Sebelum menjadi museum, bangunan yang dirancang oleh Mas Abu Kasan Atmodirono atas perintah Pangeran Surakarta dan Mangkunegaran VII ini berfungsi sebagai ruang pertemuan dengan nama Societeit Sasana Soeka.

Itulah tempat-tempat wisata Solo yang sayang jika dilewatkan. Pesan tiket dan hotelmu sekarang juga yuk!

 

Pesta Kopi Mandiri, Merayakan Kopi di Museum Perkebunan Sumut

Teks & foto: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Minggu ini sebuah event bagi penyuka kopi kembali diadakan. Kali ini Bank Mandiri yang menjadi penyelenggara utamanya. Event yang diberi nama Pesta Kopi Mandiri ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Seperti di Yogyakarta, Jakarta, dan Medan. Keseluruhan acara ini diselenggarakan di museum.

Kompetisi Aeropress

Di Medan, event ini diadakan di Museum Perkebunan Sumatera Utara yang terletak di Jl. Brigjend Katamso, Medan. Acara berlangsung selama 2 hari (19-20 Agustus 2017).

Perayaan kopi diramaikan dengan puluhan tentant coffeeshop, kedai kopi, dan ragam-ragam tenant yang berkaitan dengan kopi. Tidak hanya dari Medan tetapi juga dari Berastagi dan Jakarta. Sebut saja beberapa tenant yang sempat saya kunjungi dalam acara ini. Warung Kopi Wak Noer, Sensuri, Partner 8, Otten, Biji Hitam (Berastagi), Pak RM Kopi Berastagi, Coffee Smith (Jakarta), The Coffeenatics, dll.

Kopi Pak RM Berastagi

 

Partner 8 Team

 

Menyeduh Kopi

 

 

Manual Brew

Para penyuka kopi sayang untuk melewatkan event ini karena selain bisa melihat ragam jenis kopi yang dipamerkan, kamu juga bisa mencicip kopi-kopi yang dibagikan secara gratis di beberapa booth. Seperti di booth Otten Coffee, yang selama acara ini, menyeduh kopi gratis untuk para tamu yang datang.

Keseruan yang bisa kamu saksikan lagi adalah melihat kompetisi para barista yang menyeduh dengan metode aeropress, salah satu metode manual brew menyeduh kopi. 50-an barista bertanding dan menunjukkan kebolehannya dalam event ini. Para barista yang lolos dalam tahap ini akan mengikuti kompetisi selanjutnya di Jakarta. Karena merupakan kompetisi tingkat nasional, para peserta nggak cuma dari Medan saja tetapi dari kota-kota lain di Sumatera. Seru ya…. Hari ini masih ada kelanjutan eventnya. Yuk, ramekan.

Bersiap-siap mengikuti kompetisi

 

“Duel” Barista
Para penyuka kopi

 

Pengunjung dan foodies hits kota Medan. 😀

Ayo ke Tana Toraja

Eksotik mistik, begitulah Tana Toraja dikenal. Salah satu bukti nyata sejarah peradaban animisme yang pernah ada di Nusantara. Bagian panorama, Toraja juga tidak kalah. Pegunungan, bukit, goa dan lembah menghiasinya.

 

Berpose di depan rumah Toraja
Berpose di depan rumah Toraja

Teks dan foto oleh: Sahat Farida @sahatfarida | Editor: Eka Dalanta @ekadalanta

Dari Jakarta menggunakan transportasi udara kami menuju bandara Sultan Hasanudin, Makasar. Dari Makasar menggunakan transportasi darat kami melewati beberapa kota, Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, dan Enrekang. Lepas dari Enrekang barulah kami tiba di Tana Toraja. Kira-kira 10 jam perjalanan santai hingga kami tiba di sana. Untuk perjalanan pulang, kami memilih menggunakan pesawat dari Bandara Potingku ke Makasar. Sekitar 45 menit lama waktu perjalanannya.

Desember 2016, kali kedua saya berkesempatan menginjakkan kaki di Tana Toraja. Desember merupakan bulan baik untuk melakukan kunjungan ke Tana Toraja. Pemerintah Kabupaten sepertinya menyiapkan betul program pariwisata untuk menarik wisatawan datang ke daerah ini. Di bulan Desember, Tana Toraja memiliki kegiatan rutin yang mulai populer dan banyak diminati para wisatawan untuk disaksikan, namanya Lovely December.

Lovely December merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja sebagai promosi wisata. Festival lagu Toraja, pameran kuliner, Ring Road, Toraja Night Colour Run merupakan rangkaian acara dari kegiatan Lovely December. Utamanya, Tana Toraja memberikan tawaran objek wisata yang telah populer mendunia.

Kemeriahan Lovely December di Toraja
Kemeriahan Lovely December di Toraja

Makale dan Rante Pao, saya melihat kendaraan roda empat dengan performance off road banyak berlalu lalang. Ya, wilayah Tana Toraja memang menarik untuk eksplore olahraga ekstrem seperti kegiatan Ring Road. Salah satu kegiatan dalam rangkaian Lovely December yang memiliki peminat khusus.

Selain wilayah ibukota kabupaten, saya masih belum bisa membedakan, apakah saya berada di Tana Toraja atau Toraja Utara. Tana Toraja beribukotakan Makale, dan Toraja Utara beribukotakan Rante Pao. Toraja Utara merupakan kabupaten pemekaran Tana Toraja yang ditetapkan dalam UU RI Nomor 28 Tahun 2008. Jalan raya tanpa kemacetan merupakan hal yang membuat jarak tempuh menjadi ringan, antara Makale dan Rante Pao.

Toraja #1

Objek wisata yang hukumnya wajib dikunjungi di sini adalah Londa, Kete Kesu, dan Lemo. Ada kemiripan mendasar dari tiga objek wisata ini, yang sangat mencirikan Toraja, kuburan! Ya, Toraja selama ini dikenal dengan pesona mistiknya. Adat kebudayaan yang hingga saat ini masih dijalankan sebagian besar masyarakatnya adalah pesta adat kematian, yang pada akhirnya adalah menempatkan jenasah ke makam. Tak sampai di situ, jenasah di makampun masih mendapatkan perlakuan yang sangat khas Toraja.

Lemo. Di Lemo, kita bisa menyaksikan tebing yang menyimpan jenasah. Sisi tebing dipahat menjadi goa buatan, disanalah para jenasah disimpan. Di sisi luar goa, terdapat puluhan patung, lelaki perempuan, tua muda berjajar di sana. Patung yang menyimbolkan para jenasah yang menghuni tebing. Beberapa pengunjung biasanya mencoba naik ke sebagian sisi tebing, untuk bisa lebih dekat ke patung-patung yang terpampang di sana. Berfoto jadi lebih ekstrem.

Tebing tempat jenazah disemayamkan
Tebing tempat jenazah dimakamian

Londa. Londa adalah sebuah goa, di bagian atas tak hanya patung-patung simbol para penghuni goa, namun juga peti mati yang seperti disangkutkan di ceruk goa. Tak perlu khawatir dengan suasana gelap di dalam goa, karena para pemandu yang menemani kita mengelilingi goa masing-masing membawa lampu petromak.

Di goa alami Londa, jenasah tersimpan di sana. Baik yang di dalam peti, ataupun tulang belulang dan tengkorak yang sepertinya tampak berserak. Ada dua pintu goa di sini, memiliki jalur terhubung, namun tentunya sulit untuk dilewati untuk ukuran tubuh orang dewasa. Jika Shakespeare dalam narasinya menceritakan cinta terlarang hingga berakhir kematian, pemandu di sini juga akan membawa kita pada belulang pasangan cinta terlarang, yang berujung pada kematian. Dua insan, lelaki dan perempuan, masih sepupu, jatuh cinta dan tak mendapat restu. Di Toraja, berlaku hukum bebas untuk saling berkasih jika sudah lepas dari empat pupu.

Kete Kesu. Rumah adat, Tongkonan yang dilengkapi lumbung menyambut di halaman utama ketika kita berkunjung ke Kete Kesu. Barisan Tongkonan adalah salah satu view yang menjadi favorit untuk mengambil gambar. Rumah-rumah adat, lengkap dengan ukiran khas dan tanduk-tanduk kerbau. Di sini, tanduk kerbau yang terpasang di Tongkonan menjadi salah satu ukuran prestise masyarakat.

Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik bisa kamu lihat.
Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik itu bisa kamu lihat.

Masuk ke dalam, kios-kios pedagang souvenir berderet rapi di sana, sebelum akhirnya kita sampai ke pemakaman. Sebagian makam di dalam goa, berpagar dan tak sembarang orang bisa membuka. Sebagian besar makam tersimpan dalam rumah-rumah, lengkap dengan patung simbol jenasah. Unik-unik bentuk rumah jenasah.

Toraja #2

Jika Toraja #1 adalah objek wisata yang memang sudah sangat umum, saya senang sekali berkesempatan berkunjung ke Toraja #2. Pembagian yang saya buat sendiri untuk menjelaskan objek wisata yang baru dipopulerkan. Perlahan mengikis wajah pariwisata Tana Toraja yang sepertinya menampilkan hal-hal yang seram, berkaitan dengan kematian.

Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja
Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja

Lolai. Lolai, atau negeri di atas awan merupakan destinasi baru di Tana Toraja. Saat ini pemerintah kabupaten tampak sedang membangun perluasan dan perbaikan jalan menuju Lolai. Ya, Lolai saat ini memang menjadi primadona. Pemandangan tak biasa bisa kita dapatkan di sana, seperti namanya, negeri di atas awan.

Sebelum sampai di bukit paling atas, di sisi kanan tampak sudah dibuka juga dataran untuk para pengunjung yang hendak menikmati panorama. Saya dan rombongan melanjutkan ke atas, Tongkonan Lempe. Ketika saya datang, tarif masuk dan tarif parkir sudah diberlakukan, masing-masing Rp 10.000. Saya bersama Datu, warga lokal yang sudah beberapa kali berkunjung ke Lolai namun belum pernah mendapatkan pemandangan awan lengkap. “Lempe, Lempe” sebutnya. Dan kami pun masuk tanpa harus membayar tiket. Masyarakat mengatakan jika malam turun hujan, maka awan pagi akan tampak sangat menakjubkan. Namun hati-hati, saat ini kondisi jalan kurang baik jika dilalui jika dalam kondisi basah.

Ramai di Lolai
Ramai di Lolai

Di dalam kawasan, pengunjung sudah ramai dan padat. Tak banyak ruang kosong yang tersedia, apalagi di tepi jurang tempat paling bagus untuk menikmati pemandangan. Di sini, selain rumah keluarga pemilik Tongkonan, juga telah tersedia warung-warung dan puluhan tenda kemping bagi para pengunjung yang hendak bermalam. Tampak kelompok komunitas motor yang saat itu menggunakan tenda-tenda.

Tenda-tenda di Lolai
Tenda-tenda di Lolai

Bukit Pasir Sumalu. Setelah puas sepagian menikmati Lolai, meskipun tak banyak mendapatkan pemandangan gumpalan awan, saya dan rombongan bergerak menuju bukit pasir Sumalu. Jarak dari Lolai ke sini bukanlah dekat. Ditambah kondisi jalan yang membuat adrenalin merasa senang. Selama perjalanan, kami berpapasan dengan mobil-mobil peserta ring road. Untuk pecinta olahraga ekstrem, Toraja merupakan salah satu tempat yang bisa dicoba.

Tilanga. Tilanga adalah sebuah kolam besar, di dalamnya terdapat belut bertelinga. Saya sempat melihatnya, moa seukuran lengan orang dewasa, dengan mata berwarna biru. Bergidik, karena baru itulah pertama kali melihatnya. Dalam hati saya merasa senang, konon, siapapun yang melihat binatang tersebut akan mendapatkan keberuntungan. Boleh dong saya menitip harap pada kearifan lokal di sini.

Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat
Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat

Di kolam ini, banyak anak-anak penduduk lokal yang bermain di kolam. Mereka menunjukkan atraksi lompat ke dalam air dari tebing di sisi kolam dengan harapan pengunjung memberikan uang. Lima ribu rupiah untuk sekali lompatan. Tak berani melompat, saya memilih terjun ke air, berenang dan menyelam. Meski dalam hati was-was, khawatir berjumpa kembali dengan Moa.

Begitulah kunjungan saya ke Tana Toraja di Desember 2016. Ada satu lagi yang saya saksikan, Rambu Solo, Pesta Adat Kematian khas masyarakat Tana Toraja. Tentunya cerita menyaksikan Rambu Solo akan saya tuangkan di halaman yang berbeda.

Kiranya 2017 ini kita mendapatkan berkah dan keberuntungan. Dan anda yang ingin namun belum pernah menginjakkan kaki di Tana Toraja dapat segera mengunjunginya. Salam hangat.

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 5)

Teks oleh Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

PERJALANAN KE SEMARANG DAN MUSEUM KERETA API AMBARAWA.

Rencananya berangkat ke Semarang pagi-pagi sekali tapi karena tadi malam kami kecapaian, akhirnya kami berangkat pukul 2 siang, dengan badan pegal-pegal. Saya dapat informasi kalau berangkat siang akan terjebak macet. Yasudahlah saya pasrah saja. Dari Jogja ke Semarang akan melewati Magelang, Soropadan dengan wisata pasar buahnya, Banaran, dengan kebun kopinya, Ambarawa dengan rawa bening dan museum kereta api kunonya, lalu Ungaran dengan candi Songonya.

Kami hanya singgah ke Ambarawa Railway Museum, sebuah museum kereta api kuno, dibangun tahun 1976 di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dengan membayar kalau tidak salah 10 ribu rupiah, kami berfoto ria di beberapa gerbong kereta api kuno yang dipajang, juga di bekas stasiun yang nuansanya sungguh eksotik di mata saya. Di sini juga ada fasilitas berkeliling Ambarawa dengan kereta api kuno, dengan membayar 50 ribu rupiah perorangnya, tetapi hanya beroperasi pada hari Minggu dan hari libur. Sayang sekali kami tidak bisa mencobanya. Puas menikmati, kami bergerak lagi.

Ambarawa Railway Station
Ambarawa Railway Station
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman

Sampai di Semarang, di rumah keluarganya nya Mas Brewok, di Kaligawe, salah satu jalan Pantura, kami langsung tepar. Tapi sempat dong makan ayam bakar dulu di warung kecil simpang rumah.

Besok paginya, setelah main ke rumah sebelah yang juga saudara Brewok, saya diajari menembak dengan senapan angin milik Papa Brewok, seperti janjinya. Berkutatlah saya dan Brewok dengan senapan angin dibawah terik matahari di kebun sebelah rumah, senapan ini tidak pernah dipakai untuk menembak makhluk hidup, hanya untuk olahraga. Dari sekitar 7 kali mencoba, hanya sekali, kena sasaran. Saya menyerah. Terik matahari di Semarang cukup luar biasa. Apalagi rumah Brewok di dekat pantai. Pantai yang main ke rumah. Hehehe. Maksudnya adalah air pasang yang masuk ke dalam rumah, tanah Semarang tiap tahunnya turun 5cm.

Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.
Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.

CAFE IGA BAKAR DAN ANGKRINGAN PINGGIR JALAN

Esoknya kami ada janji bertemu Febri di tempat kerjanya, di Tandhok Ribs & Coffee Jl. Papandayan. Saya jadi ingin Iga Bakar. Sekalian kopdar bareng teman-teman Semarang lainnya. Mengobrolkan gambar, pekerjaan, hobi. Saya order seporsi iga bakar seharga 45 ribu. Sebenarnya saya mau order lagi karena nafsu makan masih menggebu-gebu, tapi teralihkan karena obrolan dan candaan kami terlalu seru malam itu. Sampai cafenya tutup, saya belum ingin pulang. Pukul 10 malam, kami mutar-mutar mencari tempat tongkrongan, kami dapati angkringan yang masih buka, di simpang Jl. Menteri Supeno. Saya sungguh bersyukur, setiap saya mengunjungi Semarang, saya diajak nongkrong di pinggir jalan sungguhan seperti ini. Duduk beralaskan tikar di atas trotoar di persimpangan. Makan nasi kucing dan beberapa gorengan, tentu saja murah meriah. Sampai pukul 12 malam kami bubar. Entah kenapa momen malam itu ‘sesuatu’ sekali, saya menikmati malam, melupakan semua keluh kesah sesaat, bersama orang-orang yang menyenangkan dan jauh dari realita kota asalku. Memandang malam dan teman-teman ini, saya banyak bersyukur, walau kadang mereka ngobrol tanpa subtitle.

Iga Thandok, makan iga dulu.
Iga Thandok, makan iga dulu.
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe

MENCARI ES KRIM DI TENGAH TERIK SEMARANG

Well, sore besoknya saya bersama dua mas-mas sangar ini nongkrong di Cafe Es Grim House, saya ingin mendinginkan efek cuaca panas Semarang ini. Sepertinya agak sulit menemukan cafe yang menyediakan menu-menu es krim di sini. Dan ternyata sajiannya juga tidak terlalu istimewa seperti yang saya bayangkan, seperti tempatnya juga, yang sederhana. Tidak seperti kota Medan yang kian ramai dengan cafe-cafe cantik yang menyediakan menu es dan kue-kue yang ‘wow’, harga juga ‘wow’ sih. Harga makanan di Semarang masih tergolong standar dan cocok di kantong. Walau tak semurah Jogja.

Bosan nongkrong melihat mereka mengobrol tanpa subtitle, saya ingin mencicipi lumpia. Sempat kecewa siang tadi karena kehabisan lumpia basah (non halal) yang terkenal di Jl. Lombok, daerah Pecinan dekat kali. Jika pengen sekali, ternyata harus memesan pagi-pagi, sebelum kehabisan. Di sebelahnya ada warung es campur dan sejenisnya yang juga terkenal, banyak artis makan disitu. Dalam pencarian darurat, kami memilih Lumpia Express, di Jl. M.T.Haryono. Sebuah restoran yang menyediakan lumpia siap saji, bermacam pilihan dengan range harga belasan ribu. Singkat cerita saya tidak begitu suka, entah memang resto tersebut yang rasanya kurang enak atau rasa lumpia di Semarang itu memang seperti itu, hanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya memang tidak sempat mencicipi di tempat lain, besok kami akan melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi Dieng.

Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.
Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.

ROAD TO DIENG, DESA DI ATAS AWAN

Berangkat ke Dieng jam 7 pagi dari rumah, saya sangat mengantuk. Ini pertama kalinya saya menderita kantuk akut di atas motor, sampai membahayakan diri. Beberapa kali saya tertidur di boncengan, masih satu jam pertama. Mas Brewok setiap menyadari saya tertidur, dia pelankan motor dan membangunkan saya. Sampai kesekian kalinya, kami memutuskan untuk berhenti untuk beristirahat di depan Indomaret daerah Temanggung, yang menyediakan meja dan kursi. Saya dengan lunglai langsung duduk dan meletakkan kepala di atas dekapan tangan di atas meja. Saya tidur kurang lebih 10 menit, sampai mengences. Hahaha. Lalu kami mengemil dan minum sebotol kopi, sambil saya mengumpulkan nyawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Sudah segar. Tiga jam sisanya saya celingak-celinguk menikmati pemandangan. Dari Temanggung, menuju Wonosobo. Sepanjang perjalanan sudah banyak kebun dan barisan gunung tampak dari kejauhan. Yang perlahan mendekat. Kami memutari gunung, dataran tinggi Dieng letaknya di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Memasuki kabupaten Wonosobo, saya mulai merasakan hawa sejuk. Suhu pada siang hari berkisar 12o-20o C dan malam hari mencapai 6o-10o C, pada musim kemarau (Juli-Agustus) subuhnya terkadang mencapai 0oC! sampai membekukan embun! Ketinggian Dieng ini 2000m di atas permukaan laut. Saya sungguh tidak sabar menikmati keindahan dan petualang di atas sana.

Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.

THE LEGENDARY ‘TELAGA WARNA’

Tahu-tahu kami sudah memasuki area wisata Telaga Warna, jam menunjukkan pukul 12 siang, sesuai rencana, kami memang akan mengunjungi tempat wisata dahulu lalu beristirahat di kerabatnya Brewok di daerah Batur Banjarnegara. Membayar tiket seharga 5 ribu perorang, tak jauh dari pintu masuk, pemandangan Telaga Warna yang legendaris itu sudah menyapa. Saya dan Brewok iseng bermain turis-turisan, karena saya sering sekali dikira warga asing. Kami berbahasa enggris seharian, hahaha!

Telaga itu sedang sedikit surut karena kemarau. Kami berjalan memutari telaga, berfoto di padang rumput kering. Kami juga menyinggahi beberapa gua di situ. Tapi banyak yang sedang ditutup. Sambil berjalan santai menikmati, saya teringat, bahwa orang-orang sepertinya mengambil foto dari ketinggian, saya penasaran dimana ada jalur yang lebih tinggi, ternyata Mas Brewok juga. Tak lama berjalan, ada sebuah jalur kecil yang tampaknya menuju atas, kami langsung bergegas naik. Tanah pasir berdebu sedikit mengganggu, syukur kami punya masker. Jalannya cukup sempit dan licin karena pasirnya. Tiba di suatu ketinggian dimana tampaknya cukup bagus mengambil foto, kami berhenti, sambil ngos-ngosan. Menikmati keindahan alam ini, telaga indah yang dikelilingi bukit tinggi. Warnanya benar mempesona. Dinamai Telaga Warna ya karena konon warna air di telaga ini berubah-ubah, menjadi biru, hijau, dan kuning. Penyebabnya adalah kandungan sulfur yang tinggi.

Telaga warna
Telaga warna yang indahnya amat memanjakan mata
Masih Telaga Warna
Masih Telaga Warna

Lalu kami memandangi jalur selanjutnya, ragu dalam hati untuk melanjutkan atau tidak, karena sudah cukup lelah sampai disitu. Tak sampai semenit berpikir, kami naik, berharap mendapati kesempatan lebih bagus. Tapi sialnya, sekitar 200 meter menaiki itu, saya merasa jalur ini memang sudah di puncak bukit, tapi, arahnya ke hamparan kebun dan sawah, telaganya sama sekali tidak tampak. Sambil bernafas keras, kami turun lagi. Di depan kami ada cabang jalur. Firasat saya merupakan rute lebih singkat untuk turun, semoga tidak salah. Voila, benar… kami sampai di tepi telaga di sisi lainnya. Mendapati beberapa wisatawan sedang berjalan juga. Mendekati tempat awal kami memulai, ada penjual jagung bakar, dan tempat yang asik untuk duduk. Tentu saja kami makan jagung bakar, sebatang berdua, duduk di sebuah teras, di tepi telaga. Saya mengamati dari jauh, sebuah maskot hidup Mickey Mouse yang kesepian, jasa berfoto bersamanya dikenakan biaya 5 ribu, tak ada seorang pun menghiraukannya, aku membayangkan siapa dan bagaimana wajah dibalik kostum itu.

Beberapa meter dari si Mickey Mouse, ada sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana sambil bernyanyi, bintangnya adalah seorang gadis kecil yang berjoget ria menghibur pengunjung. Letak mereka tepat setelah pintu masuk. Iringan musik itu membuat si Mickey Mouse sedikit ikut bergoyang. Tapi tetap saja membuat saya sedih melihatnya.

Telaga Warna lagi.
Telaga Warna lagi.
Nikmati keindahan Telaga Warna
Nikmati keindahan Telaga Warna
foto 55-telaga warna (6)
Melompat dan berbahagia di pemandangan cantik seperti ini

KAWAH SIKIDANG & KOMPLEKS CANDI ARJUNA

Well, kami keluar dari situ dan mengunjungi tempat wisata selanjutnya, tak jauh dari situ. Kawah Sikidang, membayar 10 ribu sudah termasuk mengunjungi kompleks candi Arjuna yang juga terletak dekat dari situ. Memasuki area kawah, berbatu-batu, naik turun, berpasir putih, ada kuning-kuningnya, itu belerang. Ada yang sedang foto prewedding. Lumayan luas, dari kejauhan tampak asap putih, uap panasnya lumayan terasa dari jauh, beberapa rombongan juga berjalan menuju ke situ.

Di sana ada sebuah kolam yang dipagari, mata airnya mendidih dan beruap, sampai saya awalnya tidak melihat ada mata air di situ karena dikepul uap. Kawah Sikidang ini mempunyai cerita legenda tentang seorang pemuda berkepala Kijang yang dijebak dan terkubur di sana oleh wanita yang menghindari lamarannya, ini link cerita legendanya http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/264-legenda-kawah-sikidang

Kawah ini masih aktif sampai sekarang dan mengeluarkan uap panas yang berganti-ganti posisinya. Ada banyak kawah di Dieng, beberapa dijadikan pembangkit listrik tenaga uap.

Sikidang
Sikidang

Foto 57-sikidang (2)

 

Masih Sikidang
Masih Sikidang

Foto 59-sikidang (4)

Selesai dari situ, kami pergi ke Kompleks Candi Arjuna. Ada 5 candi kecil, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada. Sebuah prasasti di dekat Candi Arjuna, menunjukkan pembangunan Candi sekitar 809 SM. Wow. Kemudian kami melihat ada bapak dengan kuda, rupanya berjualan jasa menunggangi kuda, kami tergoda mencoba. Menyenangkan sekali! Tapi andai kudaku yang putih dan besar, bertanduk dan bersayap (does unicorn exist?). Saya sudah lelah, jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami bergegas menuju Batur, kediaman kerabat Brewok yang hendak kami tumpangi. Pemandangan jadi senja, dan kami menembus awan.

Desa di atas awan
Desa di atas awan
Senja yang memikat
Senja yang memikat
Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

 

Di Komplek Candi Arjuna
Di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna

 

Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. :D
Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. 😀
Candi Arjuna
Candi Arjuna

 

https://youtu.be/Mgdg-xlc8b4

https://youtu.be/Nw2e4J-nNqw

SWEET PLACE TO REST, BATUR

Perjalanan sekitar 20 menit itu kami jalani dengan tubuh mengigil. Saya sempat merekam kami menembus kabut tebal alias awan. Ya, kami memang sedang berada di desa di atas awan. Tangan saya benar-benar mati rasa sampai terasa sakit saat merekam beberapa menit. Saya langsung pakai sarung tangan kembali setelah selesai merekam. Senja dan pemandangannya itu membuat saya hanya bisa terpaku diam. Antara dingin dan sulit bernafas karena Brewok membawa kencang motornya, wajah ditampar angin yang dingin, kaki saya mengigil naik turun sendirinya. Kami memasuki sebuah perkampungan, desa Batur Kota Banjarnegara.

Setibanya di rumah saudara Brewok, saya sedikit lega karena tidak sedingin di luar. Lantainya dialasi karpet. Lantai dapurnya plasteran semen, disediakan beberapa sandal, saya coba berjalan tanpa sandal itu, diiingiin. Saya mau buang air, toiletnya di luar rumah, dengan halaman penuh bunga yang tumbuh subur di depannya. Saya coba memasukan tangan ke dalam airnya, wooww, seperti air es. Tapi percaya atau tidak, saya mandi dan keramas setelah itu. Karena tidak tahan rasanya sudah kotor dan rambut lepek hari itu. Penduduk disitu juga nggak rutin mandi setiap hari lho. Ya maksud saya, selain karena merasa kotor, juga sebagai tantangan, pengalaman berharga, toh untuk pertama dan terakhir di situ edisi tahun ini, besok pagi tampaknya tidak akan bisa mandi.

Brewok hanya berani cuci muka dan gosok gigi. Hih! Kami mengobrol sampai larut malam, sempat membuat pemanas dengan arang dibakar di dalam sebuah tungku, perapian ala kami. Lagi-lagi tidak ada subtitle yang di-instal. Baiklah lalu kami bubar dan tidur. Kasur dingin-dingin empuk dengan selimut super tebal dan berat. Seketika langsung terlelap, serasa di kamar ber-AC. Sialnya saya terbangun pukul 5 subuh dan ingin buang air kecil. Harus… keluar rumah… gelap… dan airnya dingin sekali. Tapi percayalah saya malah excited sekali. Lalu kembali tidur, menahan excited subuh-subuh itu.

Desa Batur
Desa Batur

MENUJU CURUG SI KARIM, KEMBALI KE JOGJA

Seperti biasanya kami ‘mengecas’ energi terlalu lama, tadinya akan bergerak jam 8, akhirnya kami bergerak jam 10. Menuju Air Terjun Si Karim. Kata penduduk, dari sini sudah dekat, tapi jalannya rusak parah, ada jalan lebih mulus tapi harus memutar ke kota. Brewok mau mencoba melalui rute rusak itu. Awalnya ‘biar dicoba dulu’ tapi sesampainya kami disana, suatu jalan kecil yang menurun, sepertinya tidak ada kata untuk kembali. Jalannya terjal turun dan berkelok ekstrem, masih dengan membawa ransel besar di antara kakinya. Jalannya rusak dan isinya bebatuan agak besar, kiri kanan tanaman. Saya memilih turun dan berjalan kaki di beberapa belokan terjal, sambil menenteng ranselnya, sedangkan Brewok cukup ahli pelan-pelan menyusuri jalan bebatuan itu. Ini memacu adrenalin sekali. Sepertinya Mas Brewok bukan orang yang takut mati. Sayang saya tidak sempat mengambil foto jalanan tersebut. Karena berkonsentrasi dan agak tegang. Lumayan jauh turunnya, sekitar 4 km dengan turun mengesot dan berbelok-belok ekstrem seperti itu.

Saya yakin juga sampai disana, ada jalur keluar ke kota yang disebutkan mereka, kalau untuk naik saya pesimis sekali, kelihatan mustahil. Kami sampai dan menghela nafas panjang. Sebuah tebing batu yang gersang dengan kucuran air yang… tidak terlalu deras. Ada beberapa orang yang sedang bermain air di atas sana, kemudian pergi tak lama sesudah kami sampai. Saya senang memanjat. Saya naik duluan dan duduk-duduk. Saya tanya pada Brewok apakah dia bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi itu untuk berfoto. Mas Brewok kelihatannya ragu untuk memanjat, tapi kemudian dia memanjat dengan hati-hati. Sedikit mengeluh licin karena banyak lumut, dan mulai khawatir untuk melanjutkan. Walau akhirnya dia sampai di tempat yang saya tunjuk, saya mengambil beberapa foto lalu dia kembali. Oopps… brewok tergelincir! Dia jatuh tengkurap bergantung disana. Setengah badannya sudah basah. Sebelah tangannya berpegang pada batu yang kering.

Saat itu saya masih santai melihatnya dari bawah, berharap dia masih ada kesempatan untuk bangun, tapi kelihatannya tidak. Malah dia bilang biar dia seluncuran ke bawah saja, saya bilang itu tindakan yang gila, minimal luka berat, patah tulang atau kebentur kepala, kalau dia mati atau kenapa-kenapa di situ saya bagaimana pulangnya. Tidak ada orang yang bisa menolong juga di situ. Saya pun segera memanjat, entahlah bagi saya mudah sekali memanjatnya, walau kaki sedikit basah. Tidak selicin yang dia bilang juga. Dia sempat melarang saya naik menolong. Tapi saya sudah sampai di atas dan menariknya. Saya duduk disitu, melihat-lihat pemandangan lagi. Dia turun perlahan dengan kondisi cukup kacau. Mungkin ada memar, bahu pegal, baju dan celana basah juga ada tambahan aksesoris lumut di pakaian. Kami kenakan sepatu dan siap-siap pualng. Masih tertawa-tawa dengan kejadian tadi. Syukurlah tidak kenapa-kenapa, syukurlah ada saya. Ho-Ho! *ejekBrewok

Curug Sikarim
Curug Sikarim
Curug Sikarim juga
Curug Sikarim juga

Setelah tenang, kami tancap gas keluar dari situ, keluar ke Wonosobo ‘mengisi perut’ sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Kata Brewok dari sini ke jogja hanya sisa sekitar 3 jam. Sedikit lega, walau saya memang sudah mulai terbiasa dengan perjalanan jauh seperti itu. Hanya saja punggung, pinggang sampai bokong saya yang terasa lelah sekali, banyak menahan berat badan saat jalanan naik turun terjal. Satu jam terakhir, kami sedang berada di Magelang dan beristirahat. Brewok bertanya apakah berniat untuk singgah ke Borobudur, walau kami sudah pernah mengunjunginya tahun lalu. Mungkin untuk mengusir rasa mualku di perjalanan (padahal naik motor kan), saya mengiyakan.

Membayar 30 ribu perorang, saya sempat dicurigai sebagai warga asing, karena turis asing harga tiketnya lebih mahal. Spontan dong kami tidak main bahasa inggris-inggrisan lagi, saya berbahasa dengan logat Medan yang agak kental untuk bertanya toilet di mana, barulah mbaknya yakin saya orang Indonesia. Si Mbak memberitahu bahwa tempat itu akan tutup pukul 5. Jam menunjukkan pukul 4 lewat. Saya baru sadar. Yasudah kami bergegas masuk. Yang saya keluhkan adalah jarak dari parkiran ke candinya lumayan jauh, apalagi kami sudah sangat lelah, Brewok menenteng ransel yang lumayan berat itu. Dia kelihatan lelah dan berkeringat.

Menaiki tangga depan Borobudur, kami beristirahat di bangku batu di teras di depan candi. Saya katakan bahwa saya akan berkeliling sendiri saja dan dia bisa duduk beristirahat di situ. Dia tidak mau. Saya ngotot mau jalan sendiri, dia jalannya sudah sempoyongan dan lambat. Saya akhirnya naik dan memisahkan diri. Saya naik sampai atas, saya pergi ke arah barat, di mana pemandangan senja dan matahari terbenam sungguh indah dari sana. Saya duduk, saya tahu Brewok akan ke situ juga. Beberapa menit kemudian, dia muncul. Saya ajak duduk di tepi teras, di antara stupa. Banyak bule sedang bersantai dan berfoto juga.

Semua mulai bubar setelah ada announcement tempat sudah mau tutup dan dihimbau untuk turun. Brewok rebahan beralaskan ransel, saya menikmati pemandangan beberapa saat lagi. Lalu kami bersiap-siap pulang. Rute pulang dialihkan, tidak sama dengan rute kedatangan, diputar agak jauh dan melalui pasar-pasar yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan. Juga museum. Singkat cerita, kami sampai di Jogja dan tepar sampai besok siang. (to be continued)

Jalan-jalan Ke Grand Palace Yuk…

Teks & Foto: Sahat Farida @sahatfarida

Istana Ajaib Raja Thailand!

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan datang ke Bangkok, Thailand. Undangan kegiatan dari Asia Pasific Women Law and Development. Selama seminggu berkegiatan, hanya memiliki kesempatan yang sangat sedikit untuk berjalan-jalan. Itupun mencuri waktu jam makan siang sesi persidangan.

Crowded turis memasuki Grand Palace
Crowded turis memasuki Grand Palace

Dari gedung United Nations, Bangkok, yang bertempat di jalan 76 Rajadamnern Nok Ave, saya dan dua orang teman peserta kegiatan naik taksi menuju Grand Palace. Beruntungnya kami, karena mendapatkan supir taksi yang tidak menembak harga. Sebelumnya, saat pertama menginjakkan kaki di Thailand, dari Suvarnabhumi saya menggunakan taksi terdaftar. Namun ketika di tengah jalan, di dalam tol, supir taksi mematikan argo meter dan meminta tarif yang fantastis. Di dalam mobil kami berdebat, saya potret nomor taksi dan wajah supir taksi, dan mengancam akan melaporkan ke perusahaan tempatnya bekerja. Argo kembali dinyalakan. Dengan perasaan yang kesal, supir taksi mengantarkan saya ke tempat tujuan. Saya merasa menang, meski kesal. Kejadian ini tak membuat saya menilai general semua supir taksi di sini. Kebetulan saja saya dapat yang kurang baik.

Kembali ke tema awal, dari kantor UN ke Grand Palace, kami hanya membayar argo taksi sebanyak 60 bath. 55 bath argo resmi, 5 bath sebagai tip untuk supir taksi yang baik. Kami hanya punya waktu satu jam untuk berjalan-jalan meninggalkan arena sidang. Sekitar 15 menit di perjalanan, tibalah kami, Grand Palace. Sebuah kawasan istana, dahulu digunakan sebagai tempat tinggal raja, di dalamnya juga terdapat kuil Budha, yang sangat indah.

Counter tiket, tiket masuknya seharga 500 bath
Counter tiket, tiket masuknya seharga 500 bath

500 bath, itulah uang yang kami tukarkan untuk sebuah tiket mengunjungi kawasan ini. Cukup mahal bagi saya, mengingat waktu yang sangat singkat untuk kami bisa bereksplorasi di sini. Pengunjung ramai sekali siang itu, keluar masuk cukup berdesakan. Cuaca terik khas tropis dan pengunjung yang pada tak membuat kami surut semangat. Kami hanya memiliki waktu yang singkat.

Komplek Grand Palace
Komplek Grand Palace

Kawasan ini besar, sangat besar. Rasanya akan lebih menyenangkan jika memiliki waktu seharian untuk berjalan-jalan. Mengnikmati semua yang tersedia di sini, patung, ukiran, doa, dan nyanyian. Kami berjalan cepat, memanfaatkan waktu yang singkat. Memandang, berfoto, kemudian kembali berjalan. Tak semua kami kunjungi. Hanya bagian-bagian yang rasanya diperlukan dan kami anggap menarik.

Saya dan teman saya siap berkeliling Grand Palace
Saya dan teman saya siap berkeliling Grand Palace

Orang-orang masih ramai, rata-rata berwajah Asia, sebagian besar dari mereka mungkin saja penganut Budha. Kami berfoto, berjalan, berfoto.

Di dalam kuil. Rasanya inilah waktu yang saya paksakan untuk bisa sedikit lengang untuk tenang. Menyaksikan ukiran-ukiran yang disajikan di sini. Menyaksikan kilau keemasan. Dominan emas dan merah warna-warni di dalam kuil. Jika Anda masuk ke dalam kuil, hormatilah kuil ini, meskipun Anda tidak beragama.

Ukiran di dinding kuil
Ukiran di dinding kuil

Saya menyaksikan beberapa pengunjung yang masih nakal, tidak menaati peraturan dari pengelola. Misal, menggunakan pakaian mini (baik lelaki maupun perempuan) meskipun di depan petugas sudah melarang, dan juga menjalankan fungsi mereka untuk mengeliminir pengunjung yang menggunakan pakaian mini. Sebagian pengunjung juga masih ada yang sibuk memotret di dalam kuil. Ada banyak papan larangan untuk tidak memotret di dalam kuil. Jika ketahuan, kamera Anda akan disita. Petugas tidak akan ragu menyita kamera Anda, dan tidak akan peduli rengekan Anda meminta kamera kembali. Anda harus berurusan dengan kantor pengelola jika mau kamera kembali.

Sebagai pengunjung, saya juga kurang berkenan menyaksikan pengunjung lain yang memotret area dalam kuil. Jika boleh, potretlah isi dalam kuil melalui ingatan dan perasaan saja.

Patung-patung di dalam kuil
Patung-patung di dalam kuil

“Come on Sahat.” Teman-teman saya sudah berisik, mengajak saya untuk kembali berjalan. Saya ucapkan terimakasih kepada kuil, dengan harapan kelak saya bisa kembali ke sini dan sungguh-sungguh menikmati. Berulang kali mereka memanggil, berbisik-bisik tentunya, saya pun beranjak bangkit mengikuti mereka. Kami berdiskusi, tepatnya tentang waktu yang menipis karena harus kembali ke kantor UN.

Tipikal bangunan suci di Thailand
Tipikal bangunan suci di Thailand

Dari kuil kami teruskan berjalan, kini tak lagi masuk ke dalam ruangan dan menghikmati. Hanya sekedar tahu saja tentan ornamen yang tersedia di sini. Kelompok perempuan duduk rapi merapalkan mantra yang indah, kami hanya melewatinya. Kami sibuk mencari pintu keluar. Di setiap sisi padat dengan manusia. Terburu-buru kami berlari, mencari sebuah pintu. Setelah agak sedikit tersasar (kami malah mendapati pintu ke kawasan tempat tinggal para biksu) kami kembali berlari. Pintu kedua, kami dapati pintu yang kami lalui ketika masuk tadi. Tidak bisa lewat pintu ini. Terengah-engah. Berkeringat. Kami dapati pintu keluar. Di luar, masih ada beberapa bangunan indah bersejarah yang terpaksa tidak kami pedulikan. Kami harus segera menuju gerbang keluar. Berdesak-desakan, akhirnya kami keluar, segera mencari taksi. Hati-hati menawar taksi di sini. Tak semua supir taksi seperti supir taksi yang mengantarkan kami tadi. Rata-rata mereka minta harga lebih dari 100% untuk mengantarkan kami kembali. Begitupun supir tuk-tuk. Meski waktu masuk ruang sidang, kami nekat untuk mencari supir taksi dengan harga bersahabat, minimal sesuai argo meter.

Grand Palace, akhirnya saya berkeliling di dalamnya
Grand Palace, akhirnya saya berkeliling di dalamnya

Gedung UN, Bangkok, Thailand. Udara sejuk begitu kontras dengan keadaan di luar. Setibanya kami di gedung ini, kami sempatkan tertawa terlebih dahulu. Tentang kegilaan, tiket 500 bath dan waktu yang sangat singkat. Lain kali, kami akan kembali berkunjung dengan lebih hikmat. Semoga!

Tak Pernah Bosan ke Bali

 

Teks & Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Bali memang rasanya sangat mainstream, tapi seberapa mainstream-nya pun tidak pernah membosankan!!

Iya, Bali memang sudah sangat mainstream. Rasanya hampir semua orang di Indonesia Raya ini sudah pernah ke Bali atau sudah membuat Bali sebagai bagian destinasi wisatanya. Bali memang tidak pernah membosankan. Selain karena memang kekayaan budayanya dan alamnya yang cantik, terutama Bali punya kemasan dan siap menjadi tempat wisata yang menyenangkan.

Ini dia beberapa destinasi yang menarik untuk dikunjungi di Bali.

Pura Ulan Danu Beratan, Bedugul

Pura yang satu ini bisa ditemukan di pecahan uang biru 50.000-an kita. Nah karenanya setiba di Pura Ulan Danu Beratan, Bedugul saya juga berpose sembari memegang uang 50.000-an. Hehehe. Pura cantik yang berada di pinggiran danau ini adalah pura suci, berada di desa Bedugul yang sejuk dan adem membuatnya terasa sangat tenang. Desa ini merupakan salah satu penghasil sayur-sayuran segar di Bali. Berkeliling di desa ini melihat kecantikan pura dan menikmati makanan berkuah hangat di tengah cuaca sejuk sangat asik sekali.

Pula Ulan Danu Beratan, Bedugul
Pula Ulan Danu Beratan, Bedugul
Pulau Ulan Danu Beratan di pecahan uang 50.000
Pulau Ulan Danu Beratan di pecahan uang 50.000

Monkey Forest Ubud

Hutan yang sangat luas ini berada di Ubud, Bali. Monyet-monyet berekor panjang bebas berkeliaran dan setiap tamu bisa berjalan kaki menyusuri hutan yang trek-nya sudah diatur rapi dengan persinggahan-persinggahan yang menyenangkan.

Monkey Forest Ubud
Monkey Forest Ubud

Beli Perak dan Ukiran di Gianyar

Jika suka dengan ukiran-ukiran khas Bali dari batu dan aksesoris cantik dari perak, Gianyar punya ratusan workshop yang dengan mudah bisa ditemukan di pinggiran jalan Gianyar. Produk kesenian yang mereka hasilkan cantik dan sangat khas Bali. Harganya? Variatif!

Workshop ukiran Batu di Gianyar Bali
Workshop ukiran Batu di Gianyar Bali
Banyak pengrajin perak di Gianyar Bali
Banyak pengrajin perak di Gianyar Bali

Garuda Wisnu Kencana

Yang paling terkenal dari tempat ini tentu saja patung Garuda Wisnu Kencana yang sudah sejak lama hingga sekarang (2015) belum selesai dibangun. Patung wisnu dan garuda yang sangat besar menjadi daya tariknya dan tentu saja kompleksnya yang seperti blok tanah-tanah raksasa terkotak-kotak itu menurut saya sangat menarik. Jangan lewatkan juga bali dance dan tari kecak yang kerap ada juga dipertunjukkan di sini.

Patung Wisnu di GWK
Patung Wisnu di GWK
Komplek GWK
Komplek GWK
Bali Dance di GWK
Bali Dance di GWK

Piknik di Hutan Mangrove

Buat wistawan kebanyakan, tempat ini memang belum terlalu populis. Tapi cantiknya dan tenangnya tempat ini sangat cocok untuk piknik dalam kota dan melarikan diri ke hutan bakau. Lokasinya di Mangrove Information Centre berada di pinggiran jalan raya by pass lokasinya mudah diakses dengan harga masuk yang murah.

Mangrove Information Centre
Mangrove Information Centre

Pantai Legian

Suasana malam di pantai ini memang sangat luar biasa. Kehidupan malamnya sangat meriah dengan puluhan night club dan kafe. Tapi kecantikan pantainya untuk bersantai juga tidak bisa dilewatkan.

Santai di Pantai Legian
Santai di Pantai Legian

Pantai Nusa Dua

Pantai di tempat ini jauh lebih eksklusif ketimbang pantai Legian. Dan yang menarik di tempat ini adalah Bukit Bali Penisula tempat kita bisa duduk-duduk di padang rumput dengan pepohonan pendek sembari menatap langit yang terasa sangat dekat. Water blow yang berada di sisi-nya yang lain menjadi tempat banyak orang menunggu datangnya pecahan ombak menghantam karang yang mendebarkan hati.

Bali Penisula di Nusa Dua, Bali
Bali Penisula di Nusa Dua, Bali

Pantai Pandawa

Pantai ini baru populis belakangan ini. Seperti banyak pantai lainnya, pantai ini menarik. Yang lebih menarik adalah pasirnya yang bulat seperti merica. Di pantai ini ada banyak aneka water sport yang bisa dicoba.

Pasir Merica Pantai Pandawa
Pasir Merica Pantai Pandawa

Pantai Padang Padang

Garis pantainya tidak terlalu panjang. Tapi yang menarik dari pantai ini adalah jalan masuknya yang seperti lubang batu. Pemandangan batu besarnya juga menarik. Suasananya yang tidak terlalu ramai membuat tempat ini asik untuk duduk berlama-lama.

Pantai Padang Padang
Pantai Padang Padang

Belanja Oleh-oleh di Pasar Seni Sukawati

Untuk urusan oleh-oleh memang ada beberapa swalayan serba lengkap di pusat kota. Tapi Pasar Seni Sukawati menantang tawar-menawar mendapatkan oleh-oleh cantik aneka rupa dengan harga yang murah.

Belanja di Pasar Seni Sukawati
Belanja di Pasar Seni Sukawati

Menikmati Keheningan di Pura Uluwatu

Banyak monyet iseng di pura ini. Dan setiap ke sana semua tamu yang datang, terutama bercelana pendek atau ber-rok pendek, diharuskan memakai kain penutup aurat ungu untuk menghormati kesucian pura. Peraturan ini justru membuat turis lebih catchy difoto dan menjadi daya tarik. Selain memang puranya yang cantik dan tarian kecak dengan api yang menjadi daya tariknya, keheningan pura ini yang berada di atas ketinggian buat saya rasanya sangat luar biasa. Dari atas pura, kita bisa menatap tebing-tebing curam dan riak-riak ombak dari atas ketinggian.

Keheningan di Uluwatu
Keheningan di Uluwatu

Senja di Tanah Lot

Senja di Tanah Lot memang juara. Warna jingganya sangat luar biasa. Menunggu beberapa belas menit sampai matahari benar-benar terbenam dan jatuh di ujung pantai menjadi pekerjaan yang tidak sia-sia. Momen yang sangat berharga.

Sundowner
Sundowner

 

 

SIGIRIYA, KOTA DI ATAS BATU

Teks & Foto : Karnadi Lim

Always do what you are afraid to do. -Raplh Waldo Emerson-

Perjalanan dari Kandy ke Sigiriya kami mulai dengan menumpang bus antar kota, perjalanan selama 2,5 jam kami tempuh dengan perasaan yang tak nyaman, ini di sebabkan cara mengemudi supir-supir bus di sini sangat luar biasa, mereka seakan-akan tidak mengenal kata rem, yang ada hanya tekan gas dan banting setir kiri kanan. Demikian seterusnya hingga akhirnya kami diturunkan di terminal bus Dambulla.

Dari stasiun bus Dambulla kami kembali menumpang bus menuju Sigiriya, sebenarnya jarak yang ditempuh lumayan singkat, tetapi konsep bus di mana-mana keknya sama saja, kami harus menunggu selama 30 menit lebih hingga bus penuh. Jarak yang bisa ditempuh 20 menit akhirnya molor hingga 1 jam. Akhirnya kami mencapai Sigiriya.

Supir menurunkan kami tepat di pinggir jalan tempat penginapan yang telah kami pesan, tinggal jalan kaki memasuki lorong yang becek dan berdebu untuk sampai ke tempat. Kami menginap di Sigiriya Paradise Inn pemiliknya sangat baik sekali menyambut kami dan menjelaskan tentang Sigiriya.

Karena tidak ingin membuang waktu lagi, kami bergegas berangkat menuju ke Sigiriya Rock yang memang jalan masuknya telah nampak sewaktu melintas dengan bus, sewaktu kami sampai di persimpangan jalan masuknya kami menyempatkan bertanya ke penjaga kira-kira berapa jauh jarak ke dalam, penjaga dengan santai menjawab 500 meter.

Kami memutuskan berjalan kaki melewati jalan dari tanah merah yang sangat becek disaat matahari berada diatas kepala, memang membutuhkan perjuangan keras hingga kedalam. Ternyata jaraknya lumayan jauh, kami menghabiskan waktu 30 menit untuk jalan hingga ke tempat pembelian tiket.

Jalan masuk ke Sigiriya Rock
Jalan masuk ke Sigiriya Rock

Untungnya sesampainya di dalam, suasana lumayan adem karena dikelilingi oleh pohon-pohon dan juga taman-taman purbakalanya dengan sistem irigasi yang unik membuat kita betah berlama-lama disana. Setelah membeli tiket seharga USD 30 dan mendapatkan DVD kecil tentang Sigiriya dalam 6 bahasa. Ini merupakan tiket masuk objek wisata termahal di Sri Lanka.

Taman dan jalanan yang tedapat banyak pohon menuju ke Sigiriya Rock
Taman dan jalanan yang tedapat banyak pohon menuju ke Sigiriya Rock
Tiket masuk ke Sigiriya Rock
Tiket masuk ke Sigiriya Rock

Dari kejauhan bukit batu setinggi 200 meter telah nampak, sebenarnya saya termasuk orang yang takut akan ketinggian, karena telah sampai ke sigiriya harus memaksakan diri untuk mendaki ke atas, secara ketinggian sih tidak seberapa, cuma yang terbayang adalah curamnya jalan dan sulitnya medan yang akan dilalui.

Sigiriya Rock dari kejauhan
Sigiriya Rock dari kejauhan

Memasuki gerbang Sigiriya kita akan melewati sebuah kanal yang bentuknya masih terlihat jelas dan kita seakan-akan dibawa ke masa ribuan tahun silam ketika Sigiriya masih berupa sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raja Kashyappan I ( 477 – 495 SM ). Di depan kanal terhampar taman yang merupakan bagian dari komplek istana raja. Raja Kashyappan I sendiri memiliki 2 komplek istana yaitu istana musim panas yang letaknya di bawah bukit batu serta istana musim dingin yang letaknya di puncak bukit batu Sigiriya.

Seperti kata pepatah, selalu lakukan apa yang Anda takut untuk lakukan. Mengumpulkan segenap keberanian akhirnya jalan menapak naik kita mulai dengan menapaki tangga yang diapit oleh 2 buah batu yang gede kemudian jalanan mendaki terus dan terus hingga kita sampai di taman atas tempat untuk melepas lelah.

Jalan menuju ke atas
Jalan menuju ke atas
Jalan di punggung bukit
Jalan di punggung bukit
Jalan mendaki
Jalan mendaki

Untuk mencapai gerbang Lion’s Rock hingga menuju puncak Sigiriya Rock tentunya kita harus mendaki menyusuri anak tangga yang telah disediakan. Memang harus siap stamina untuk menaiki anak tangga tersebut karena ada beberapa bagian anak tangga yang bentuknya nyaris tegak lurus dan sangat terjal untuk didaki yang tentunya sangat menguras tenaga. Sedangkan Elephant Rock dapat dicapai tanpa harus mendaki dan Cobra Rock dicapai pada rute yang berbeda saat menuruni bukit.

Naik dan turun
Naik dan turun

Perjalanan menyusuri puncak bukit Sigiriya di antaranya harus melewati sisi punggung bukit yang telah dipasang anak tangga yang dibuat secara manual. Saat itu angin berhembus sangat kencang di atas bukit sehingga tangga yang dipijak pun akan bergoyang. Hal inilah yang membuat perasaan makin deg-degan juga apalagi kondisi tangga sangat sempit dan harus dilalui 2 arah oleh para pengunjung.

Jalan vertikal dan melingkar menambah horor perjalanan ini
Jalan vertikal dan melingkar menambah horor perjalanan ini

Setelah menyusuri beberapa bagian anak tangga vertikal yang melingkar akhirnya tiba di salah satu gua yang sangat sempit dan di dalamnya terdapat galeri lukisan yang dibuat secara handmade pada langit-langit serta dinding gua. Raja pada masa itu memiliki 500 orang istri dan satu-persatu istrinya tersebut dilukis pada langit-langit serta dinding gua tetapi lukisan wanita yang masih tersisa hanya sekitar 20-an lukisan.

Lukisan di langit-langit gua
Lukisan di langit-langit gua

Begitu turun dari Gua tersebut kami berjalan melewati dinding kaca (Mirror Wall). Dinding atau tembok tersebut terbuat dari porselen yang sangat mengkilap sehingga menyerupai kaca dan di tembok tersebut banyak terdapat tulisan-tulisan yang berisi puisi yang ditulis oleh raja sendiri. Tembok tersebut diberi pembatas sehingga pengunjung tidak diperkenankan untuk mendekat apalagi menyentuhnya. Tetapi sayang sekarang mirror wall ini sudah tidak bisa memantulkan bayangan kita lagi karena termakan usia.

Mirror wall
Mirror wall

Setelah melanjutkan perjalanan naik dan terus naik kami tiba di Lion Gate yang merupakan bagian dari Lion Rock. Lion Rock yang sekarang masih tersisa hanya berupa Tapak Kaki Singa sedangkan bagian yang lain telah hancur. Kembali kami harus menaiki anak tangga yang terbuat dari besi yang berdiri hingga ke puncak. Belum lagi ketika angin bertiup kencang semua tangga-tangga tersebut goyang ditambah lagi banyaknya pengunjung yang naik pada saat itu membuat perasaan semakin deg-deg-an, saya berhenti cukup lama sambil menunggu semua pengunjung naik atau turun duluan dan si Ahseng teman saya telah duluan naik meninggalkan saya di pertengahan tangga. Akhirnya setelah berjuang mendaki selama 1.5 jam tiba di puncak Sigiriya Rock.

Lion Gate
Lion Gate

Sesampainya di atas, kami disambut oleh sekawanan monyet liar penghuni Sigiriya Rock. Timbul rasa iseng kami untuk sekedar bermain-main sambil menggoda si monyet yang sedang menggendong anaknya, ternyata si monyet marah karena merasa diganggu, belum lagi tiba-tiba botol air minum yang kami bawa direbut paksa oleh si monyet, kami pikir daripada menjadi korban kebrutalan si monyet dengan berat hati kami melepaskan botol air minum untuk dibawa si monyet.

Monyet-monyet di Sigiriya Rock
Monyet-monyet di Sigiraya Rock

Dari puncak bukit ini kita juga dapat memandang sisa-sisa hall (ruangan) atau tempat raja dan permaisuri serta selirnya yang berjumlah 500 orang mengadakan pesta dan diakhiri dengan mandi bersama di sebuah kolam yang besar yang masih tersisa hingga sekarang.

Sisa hall ruangan
Sisa hall ruangan
Kolam tempat mandi bersama
Kolam tempat mandi bersama

Setelah puas menikmati puncak bukit Sigiriya kami turun melalui jalur berbeda dengan jalur pada saat mendaki. Waktu yang ditempuh untuk turun lebih cepat pada saat naik yaitu sekitar 30 menit. Jadi untuk mendaki Sigiriya Rock ini serta turun kembali dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Jalan di antara punggung bukit
Jalan di antara punggung bukit

Perjalanan panjang dan melelahkan telah terbayarkan dengan pemandangan dan perjalanan menuju ke atas puncak Sigiriya Rock untuk melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu, kami melangkahkan kaki meninggalkan kompleks Sigiriya Rock untuk kembali ke penginapan, dalam perjalanan balik kami menemukan sebuah pondok/ cafe yang cukup eye catching, karena perut dalam keadaan lapar berat kami makan di sana.

Makan siang di Sigiriya menjadi satu tragedi makan siang termahal selama di Sri Lanka, bayangkan saja untuk makan berdua dengan nasi dan devilled chicken (semacam ayam penyet) kami harus merogoh kocek sebesar 1250 Rupee. Dengan berat hati kami harus merogoh kocek makin dalam sedangkan persediaan uang sudah menipis karena si Ahseng membeli Batu Safire di Kandy dan kami belum sempat ke ATM.

Gua yang sempit hanya di pasang besi ke punggung bukit
Gua yang sempit hanya di pasang besi ke punggung bukit

Sesampainya di penginapan kami ditawari makan malam dengan menu khas Sri Lanka oleh pemilik penginapan dengan harga 600 Rupee per orang, karena tidak mau repot akhirnya kami menerima tawaran untuk makan di sana. Ternyata makan malam yang disajikan melebihi ekspetasi kami, kami disuguhkan nasi beras samba dengan fish curry, sayuran, kopas (opak khas Sri Lanka) dan Telur Dadar.

Perjalanan panjang dari Kandy hingga berakhir di Sigiriya menjadi penutup akhir tahun kami, kami melewati malam pergantian tahun dalam suasana yang damai ditemani oleh pemilik penginapan tanpa perayaan hura-hura, dan petasan, hanya malam yang gelap serta orang-orang yang ramah menjadi teman penutup serta pembuka tahun kami.

Jalan masuk diapit batu besar
Jalan masuk diapit batu besar

Perjalanan selanjutnya akan kami lanjutkan ke Gua Dambulla. Perjalanan kali ini telah memberikan sebuah pengalaman yang tak terlupakan, selain berjalan tanpa jadwal yang fix, kami juga mencoba berlaku layaknya orang lokal, bus umum menjadi teman kami melintasi kota demi kota, berdiri bergantungan di gerbong kereta api serta berjejer berdesak-desakan didalamnya menjadi kegiatan kami selama 10 hari di sana.

Nepal dan “Ziarah Kehidupan”

Foto oleh Vitalia Vito & Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

*Foto-foto ini juga dimuat di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015 @duniamelancong

Nepal adalah negeri pendoa, negeri dimana banyak orang datang untuk mencari Tuhan, mencari kedamaian, mencari ketenangan, mencari “Dia” yang lebih besar dari manusia, “Dia” kekuatan di luar manusia yang melampaui segala sesuatu. Perjalanan ke Nepal, bagi banyak orang adalah ziarah kehidupan.

Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di   Kathmandu (FOTO 1)
Bendera doa yang dipasang hampir di seluruh jalan di Kathmandu
Pashmina khas dari bulu yak
Pashmina khas dari bulu yak
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Makanan di Nepal tidak jauh berbeda dengan makanan India
Stupa Budha
Stupa Budha
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja    ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya
Ini patung Hanoman di Durbar Square yang matanya sengaja ditutup supaya tidak tergoda dengan pahatan Kamasutra di kuil di dekatnya

Foto-foto ini diambil oleh teman saya Vitalia Vito, dua bulan sebelum gempa bumi belum mengguncang Nepal pada 25 April 2015. Vita, seperti juga banyak wisatawan dan para peziarah kehidupan lainnya, punya rasa ketertarikan khusus untuk mengunjungi Nepal. Vita yang juga sangat tertarik dengan kebudayaan Hindu yang unik, melihat Nepal begitu Eksotik. Berada di perbatasan India dan Cina membuatnya semakin menarik. Apalagi . Di Nepal, ia melihat banyak, realitas dan juga orang-orang yang ingin bertemu Tuhan. “Sewaktu tiba di sana, aku merasa I belong to there,” kata Vita yang bercerita sambil makan roti cane karena mengaku kangen Nepal dan ingin kembali lagi kelak.

Ah Nepal memang si seksi namun punya banyak cerita sejarah, sekaligus misteri dan intrik yang masih tak kunjung selesai. Seperti gadis cantik seksi yang bapaknya galak. Hehehe Dan gempa bumi yang baru-baru ini terjadi, membuatnya semakin sulit untuk diakses. Semoga Negeri Para Peziarah Kehidupan ini lekas membaik. Dan semoga kesempatan menjejak kaki ke sana semakin dekat. 😀

 Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat

Kuil Pasupatinath tempat umat Hindu melakukan ritual pembakaran mayat
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi     pembakaran mayat dan upacara berkabung
Sungai di Pasupatinath tempat dilakukannya prosesi pembakaran mayat dan upacara berkabung
 Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana

Salah satu kuil di Durbar Square tempat para hippie di tahun 1970-an dulu menghisap mariyuana
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak    kuil Hindu dan Buddha di sini
Wajar jika Nepal dijuluki negeri seribu kuil ada banyak kuil Hindu dan Buddha di sini

 

Jejak Siar Islam di Barus

Teks dan Foto dari Majalah Dunia Melancong @duniamelancong (Konten tulisan ini juga terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Maret-April 2015) 

Barus dahulu dikenal sebagai salah satu bandar atau pelabuhan perdagangan terbesar dan teramai di dunia sehingga membuka pintu masuk agama Islam pertama kalinya di Indonesia. Beberapa jejak siar Islam di kota tua ini masih bisa dilihat hingga saat ini, menjadi destinasi wisata religi bagi para peziarah.

Kota Barus terkenal sebagai salah satu tujuan wisata religi di Indonesia. Sejumlah literatur mengatakan bahwa di kota pesisir barat Sumatera Utara inilah awal mula masuknya agama Islam di Indonesia. Di Barus hingga kini masih bertahan makam para syekh yang berjasa menyebarkan agama Islam di Barus. Di antaranya, Makam Mahligai di Desa Dakka, dimana dimakamkan Syekh Rukkunuddin yang diperkirakan berusia 102 tahun dan wafat di tahun 48 Hijriyah. Selain Syekh Rukkunuddin, terdapat ratusan makam lainnya, yang diyakini adalah makam para pengikut-pengikutnya.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Tiba di gerbang Makam Mahligai, akan terlihat ratusan nisan di atas tanah seluas setengah hektar yang diukir bergaya arab. Beberapa di antaranya diukir lengkap dengan lafal-lafal Islam berbahasa arab kuno. Sementara sebagian lainnya, hanya merupakan nisan batu biasa berbentuk bulat lonjong, namun tetap terkesan kuno.

Untuk masuk ke dalam makam, pengunjung tidak dipatok tarif masuk, hanya jika ingin bersedekah atau ber-infaq untuk biaya perawatan makam disediakan kotaknya dekat pintu masuk. Kepada pengunjung juga diberi beberapa larangan, di antaranya tidak diperkenankan memakai sepatu atau sendal, tidak boleh duduk di atas makam, serta himbauan untuk tidak meminta kepada arwah, karena meminta hanya kepada Allah SWT.

Makam Mahligai
Makam Mahligai

Komplek Makam Mahligai ini memiliki kontur tanah berbukit dan telah diberikan jalan-jalan setapak untuk memudahkan pengunjung untuk melihat-lihat. Ada sekira 215 makam yang terdapat di dalamnya dengan bentuk dan ukuran nisan yang berbeda. Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh tentang sejarah situs sejarah ini di lokasi. Seorang penjaga makam yang juga bertani karet di sekitar makam menjadi sumber informasi oral sembari istirahat di bale dan menyeruput kopi panas.

Macao tua di ketinggian
Macao tua di ketinggian

Berbeda dengan Makam Mahligai, Makam Papan Tinggi berada di Desa Pananggahan. Jaraknya lebih dekat dari pusat Kecamatan Barus, meski untuk menuju makam tidak semudah menuju makam Mahligai. Pasalnya selain berjalan kaki di jalan setapak sejarak 300 meter, perjalanan kaki kembali harus ditempuh menaiki 700 lebih anak tangga dengan kemiringan 70 derajat.

Tiba di lokasi makam yang berada di 200 meter di atas permukaan laut itu, tersaji pemandangan sawah, lautan dan beberapa pulau di teluk Sibolga yang cantik. Terlihat juga hamparan hutan dan sawah hijau, tak lupa sembari rehat sejenak di bawah pohon di dalam lokasi makam. Jangan lupa, saat masuk ke dalam makam, lepaskan sepatu atau sendal yang dipakai.

Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi
Pemandangan dari atas Makam Papan Tinggi

Di dalam makam seluas sekitar 10×20 meter di puncak bukit itu, akan terlihat makam Syekh Mahmud berukuran panjang lebih kurang 7 meter. Bersebelahan dengan makam Syekh Mahmud, terdapat 5 makam pengikutnya yang tersusun berdekatan. Bagi pengunjung yang membacakan ayat-ayat Alqur’an, di lokasi makam disediakan beberapa Alqur’an mini.

Beberapa pengunjung memiliki kebiasaan tersendiri sebelum meninggalkan makam, yakni mengikatkan kain, plastik atau tali, yang dipercaya sebagai mitos tanda sudah pernah menginjakkan kaki di lokasi spiritual itu. Seperti di lokasi tempat religi manapun terdapat aturan yang harus diikuti oleh pengunjung. Di antaranya tidak berbuat sembarangan, misalnya membuang sampah atau bahkan berfikiran dan bertindak yang senonoh.

Makam tua yang masih sering diziarahi
Makam tua yang masih sering diziarahi

Selain dua makam itu, juga terdapat sejumlah makam syekh lainnya yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Barus. Di antaranya, makam Syekh Tuan Ambar, Syekh Ibrahim Syah, Syekh Mahdum, Syekh Kayu Manang, Syekh Tuan Pinago, Syekh Tuan Kinali dan Syekh Tuan Jantikan. Kami sempat mendatangi makam Syekh Tuan Pinago di tepi sungai Aek Sirahar. Sayang, makam tersebut sudah tergerus abrasi. Sebuah nisan yang diyakini milik Syekh Tuan Pinago diikat di sebatang pohon kelapa agar tidak terbawa arus jika sekali-kali banjir kembali melanda. Sementara makam lainnya sudah tergerus dan dibawa arus sungai.

Makam di tepi sungai Aek Sirahar
Makam di tepi sungai Aek Sirahar

Salah satu makam yang juga rusak adalah makam Syekh Tuan Kinali. Makam yang terletak di Desa Kinali tersebut berada di komplek pemakaman warga. Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke sana, hampir tak bisa dikenali sama sekali dimana lokasi makam tokoh penyiar agama tersebut, sebab terhimpit dengan nisan lain dan tidak ada petunjuk. Seorang petani yang tinggal di dekat komplek makam akhirnya menunjukkan nisan Syekh Tuan Kinali, yakni sebuah nisan dengan kain kafan yang menutupi kepala nisannya.

Nisan Syekh Tuan Pinago
Nisan Syekh Tuan Pinago

Sangat disayangkan minimnya perhatian terhadap situs sejarah agama di Kota Barus tersebut. Padahal makam-makam para syekh tersebut menjadi jejak penyiaran Islam di Sumatera yang harus dilestarikan. (*)

Transportasi Umum dan Penginapan//

  1. Sampri rute Medan-Barus selama 12 jam perjalanan
  2. Beberapa penginapan level melati bisa ditemui di Kota Barus dengan tarif Rp100 ribu per malam

Taman Nasional Bantimurung, Kerajaan Kupu-Kupu

Teks & Foto oleh: Sahat Farida @sahatfarida

Di sini berpasang-pasang kupu-kupu berlalu lalang.

Taman Nasional Bantimurung, sebuah taman nasional yang berada di propinsi Sulawesi Selatan. Tepatnya kecamatan Bantimurung kabupaten Maros. Tak sulit menjangkaunya, dari Makasar berkendara darat kita akan menempuh waktu sekitar 40 menit untuk tiba di sini.

Selamat datang di Kerajaan Kupu-kupu.
Selamat datang di Kerajaan Kupu-kupu.

Menurut pemandu wisata kami, Bantimurung terdiri dari dua kata, yakni banti dan murung. Banti artinya air dan murung artinya gemuruh. Bantimurung, gemuruh air. Ya, di kawasan taman nasional seluas 43 hektar ini kita akan menemukan dua air terjun. Tak hanya gemuruh air terjun, suara air mengalir yang indah akan diperdengarkan di kawasan ini.

Berkunjung ke Bantimurung, kita tidak hanya akan disambut dengan gemuruh air. Kupu-kupu adalah daya tarik utama dari kawasan hutan lindung ini. Sayangnya, tak banyak kami saksikan kupu-kupu, meski bagi saya, kupu-kupu yang saya saksikan termasuk luar biasa. Di daerah tempat tinggal saya, Depok pinggir Jakarta, saya hanya menemukan satu atau dua kupu-kupu yang berterbangan, sementara di sini, berpasang-pasang kupu-kupu berlalu lalang. Kupu-kupu dengan aneka warna, jenis biasa maupun yang langsing panjang.

Berbagai cenderamata bernuansa kupu-kupu.
Berbagai cenderamata bernuansa kupu-kupu.

Bulan 7 dan 8, itulah bulan kupu-kupu ramai di Bantimurung. Saya membayangkan keriuhan yang riang. Meski bukan bulan musim, kupu-kupu yang saya jumpai sudah cukup menyenangkan. Masuk dari gerbang utama, patung kupu-kupu menyambut kita. Patung kupu-kupu, kemudian patung kera dengan tangan di kepala. Saya lupa menanyakan pada pemandu, maksud dari patung kera. Bisa jadi, di kawasan ini juga banyak habitat kera, atau bisa juga bentuk kera memegang kepala seperti yang ada di dalam goa.

Dari tempat parkir, kios-kios dan penjaja aksesoris semua hampir seragam. Tidak ada yang tidak menjajakan kupu-kupu. Kupu-kupu yang diawetkan kemudian dibingkai, gantungan kunci kupu-kupu, kaos sablon kupu-kupu.

Kolam Jamala.

Kolam Jamala, kolom untuk para pencinta
Kolam Jamala, kolom untuk para pencinta

Setelah  membayar tiket dan melewati penjagaan, kita akan lihat di sisi kiri, sebuah kolam, kolam Jamala. Untuk pengunjung lokal, harga tiket yang dibayarkan sebesar 25 ribu rupiah, dan pengunjung asing sebesar 255 ribu rupiah. Kolam Jamala merupakan sebuah kolam dengan sumber air dari dalam goa. Air di kolam ini mengalir sepanjang tahun. Menurut tutur masyarakat, kolam ini dahulu merupakan tempat mandi bidadari, kepercayaan lainnya adalah, air kolam memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit, serta enteng jodoh. Saya tentunya segera membasuh beberapa bagian tubuh dengan air ini.  Di seberang kolam, berdiri bangunan, museum kupu-kupu.

Pemandu mengatakan, kedatangan kami ke Bantimurung belum sah jika belum menyambangi goa batu. Kami tentu saja, bersemangat menuju ke sana. Berjalan menanjak, melewati air terjun pertama. Kupu-kupu tentu saja menyertai perjalanan kami. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan sebuah makam. Sebelumnya makam tersebut berada di sisi sungai. Banjir bandang yang melanda menginisiasi warga untuk memindahkan makam Raja Tuakal, tak terlalu jauh dari sungai.

Kami masih terus berjalan, pemandu mengatakan jarak yang kami tempuh sekitar 1 kilo 600 meter untuk pergi pulang goa. Udara sejuk  tak menghentikan deru nafas kami yang berjalan menanjak.

Goa Batu.

Goa stalaktit, goa cantik tempat banyak peziarah bersemedi.
Goa stalaktit, goa cantik tempat banyak peziarah bersemedi.

Goa stalaktit cantik yang luas. Memasuki goa ini, kami diminta untuk mengucap salam dalam tata cara Islam dan berdoa dalam hati, menyampaikan niat hajat baik dengan melakukan kunjungan ini. Kami masuk ke dalam goa.

Di dalam gua. Ada batu berbentuk lonjong di atas sisi kiri, batu tersebut ditutup kain merah. Pemandu kami mengatakan bahwa itu adalah batu jodoh. Masyarakat di sini mempercayai bahwa menyatakan niat hajat dengan memegang batu tersebut, maka hajat akan dimakbulkan. Tak ada satupun dari kami yang naik ke atas karena licin. Hujan yang kerap turun menyebabkan kondisi goa semakin lembab dan stalaktit semakin basah. Pemandu menjelaskan panjang gua sekita 400 meter, dan ini barulah permukaan.

Peta Taman Wisata Bantimurung.
Peta Taman Wisata Bantimurung.

Kami terus  memasuki kawasan goa, berjalan merendah, merangkak melewati ceruk stalaktit. Pemandu mengantarkan kami ke dalam sebuah ruang goa yang dipercayai masyarakat sebagai tempat bertapa. Benar saja, ada ceruk lainnya, berukuran sebuah tubuh yang sedang duduk bersila, bertapa. Ruang goa ini cukup luas, dengan stalaktit yang unik. Di rongga goa yang sama, terdapat sumber mata air.

Pemandu mengarahkan kami untuk mencuci muka di sini, air awet muda. Saya dan rombongan tentunya tidak melewatkan kisah unik ini, mencuci muka dengan harapan menjadi awet muda. Tempat terakhir yang kami kunjungi dalam goa, ceruk agak besar yang dikisahkan sebagai tempat ibadah pertapa. Kunjungan goa berakhir di sini. Goa tidak memiliki jalan tembus, pengunjung harus berbalik ke arah semula. Tentunya, berjalan menuju goa dan kembali ke tempat semula memiliki sensasi yang berbeda.

Mari berkunjung ke Bantimurung, hilanglah hati yang murung.