Pesta Kopi Mandiri, Merayakan Kopi di Museum Perkebunan Sumut

Teks & foto: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Minggu ini sebuah event bagi penyuka kopi kembali diadakan. Kali ini Bank Mandiri yang menjadi penyelenggara utamanya. Event yang diberi nama Pesta Kopi Mandiri ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Seperti di Yogyakarta, Jakarta, dan Medan. Keseluruhan acara ini diselenggarakan di museum.

Kompetisi Aeropress

Di Medan, event ini diadakan di Museum Perkebunan Sumatera Utara yang terletak di Jl. Brigjend Katamso, Medan. Acara berlangsung selama 2 hari (19-20 Agustus 2017).

Perayaan kopi diramaikan dengan puluhan tentant coffeeshop, kedai kopi, dan ragam-ragam tenant yang berkaitan dengan kopi. Tidak hanya dari Medan tetapi juga dari Berastagi dan Jakarta. Sebut saja beberapa tenant yang sempat saya kunjungi dalam acara ini. Warung Kopi Wak Noer, Sensuri, Partner 8, Otten, Biji Hitam (Berastagi), Pak RM Kopi Berastagi, Coffee Smith (Jakarta), The Coffeenatics, dll.

Kopi Pak RM Berastagi

 

Partner 8 Team

 

Menyeduh Kopi

 

 

Manual Brew

Para penyuka kopi sayang untuk melewatkan event ini karena selain bisa melihat ragam jenis kopi yang dipamerkan, kamu juga bisa mencicip kopi-kopi yang dibagikan secara gratis di beberapa booth. Seperti di booth Otten Coffee, yang selama acara ini, menyeduh kopi gratis untuk para tamu yang datang.

Keseruan yang bisa kamu saksikan lagi adalah melihat kompetisi para barista yang menyeduh dengan metode aeropress, salah satu metode manual brew menyeduh kopi. 50-an barista bertanding dan menunjukkan kebolehannya dalam event ini. Para barista yang lolos dalam tahap ini akan mengikuti kompetisi selanjutnya di Jakarta. Karena merupakan kompetisi tingkat nasional, para peserta nggak cuma dari Medan saja tetapi dari kota-kota lain di Sumatera. Seru ya…. Hari ini masih ada kelanjutan eventnya. Yuk, ramekan.

Bersiap-siap mengikuti kompetisi

 

“Duel” Barista
Para penyuka kopi

 

Pengunjung dan foodies hits kota Medan. 😀

SEBULAN KELILING JAWA (PART 6- END)

Teks: Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

UNPREPARED ADVENTURE TO ‘PANTAI LAUT SELATAN’.

Semoga kalian masih betah membaca perjalanan saya keliling Jawa. Ini adalah bagian akhir dari rangkaian tulisan perjalanan sebulan keliling Jawan. Setelah beristirahat satu hari, Brewok rencananya mau menguber kerjaan yang menumpuk dulu selama beberapa hari sebelum jalan-jalan lagi.

Siang itu kami makan siang di angkringan dekat ISI, nasi dan sayur ambil sepuasnya, seperti biasa. Yang dihitung hanya lauk, saya ambil sate usus dan bakso. Harganya? Masih di bawah 10 ribu. Jadi saat kami makan, Brewok menerima whatsapp dari Andrew, si kawan bule. Dia ‘otw’ ke Wonosari, menuju Pantai Selatan, dan besok dia akan terbang ke luar negeri. Dari kemarin-kemarin kami sudah berencana untuk ke Wonosari bareng-bareng. Tapi sering kali bentrok dengan jadwal saya dan Brewok mau pergi, hari ini juga, rencananya kami mau fokus berkarya saja di rumah. Sambil mengunyah, kami berdiskusi apakah bisa menyusul hari ini. Brewok harus bertanggung jawab dengan jadwal kerjanya sendiri, harus bisa menyelesaikannya tepat waktu walau hari ini berangkat. Jadilah kami berangkat mendadak, langsung setelah makan siang. Tanpa persiapan apa-apa. Jam menunjukkan pukul 12 siang, juga menghindari pulang terlalu malam.

Jalannya sungguh stressful bagi saya. Lagi-lagi naik turun terjal dan belok-belok curam, saya mual lagi. Melintasi Imogiri, Gua Maria Tritis. Memakan waktu hampir 3 jam. Mendekati pos penjualan tiket menuju tempat wisata pantai-pantai, kami dicegat saat Brewok mau melewati loket hohoho. Brewok menyebutkan nama villa milik temannya (yang memang benar adanya) seolah kami ada kepentingan dengan pemiliknya/tempat tersebut, kami dibebaskan lagi dari tiket masuk.

PANTAI INDRAYANTI
Kami tiba di Pantai Indrayanti, dari pos retribusi tadi ke pantai lumayan jauh juga, memakan waktu 20 menitan. Ada banyak pantai yang bisa dipilih di situ, Brewok lebih kenal Pantai Indrayanti. Dan sinyal hape ternyata tenggelam. Tidak bisa menghubungi Andrew, tadi sudah janjian di Pantai Indrayanti. Andrew melalui jalur kota yang lebih jauh, kami melalui rute lebih pendek. Harusnya dia sudah tiba. Kami jalan menuju pantai dulu. Ohh saya benar-benar terpesona dengan pemandangannya. Hamparan ombak yang lebih tinggi dan kencang daripada yang saya lihat di Pantai Parangtritis, batu karang di pesisir, menghipnotis saya beberapa menit menikmatinya dari jauh, sebelum saya perlahan menginjakkan kaki dia atas bebatuan karang yang berwarna hijau dan coklat karena tertutup lumut dan tanaman laut lainnya. Anehnya tidak licin, saya mengamati dari dekat, banyak makhluk-makhluk laut! Antara geli dan penasaran, kami menyentuh satu persatu, ada makhluk seperti siput tanpa cangkang, warnanya hijau kecoklatan. Kamuflase di antara baru karang, tersamar sekali, dan ternyata banyak jumlahnya, saya jadi berhati-hati berjalan. Ada juga bintang laut tapi kaki-kakinya berduri halus, Brewok iseng menarik mereka keluar dari sarang (don’t try this).

Berjalan menyusuri pantai
Berjalan menyusuri pantai
Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Ada bintang laut
Ada bintang laut

Saya berlari-lari di pasir putih halusnya, mengejar kepiting kecil berwarna putih yang terbang tertiup angin, saya senang sekali, saya tersungkur bermain dengan segala sesuatu di pantai itu! Rupanya brewok sudah jauh berjalan ke arah salah satu sisi, saya menyusul, sampai salah satu ujung, di dekat bebatuan karang besar, ada mas-mas yang memancing ikan, ada ikan-ikan kecil terlihat di air jernih itu, tetapi mereka sungguh lincah, jangan harap untuk menangkapnya. Lalu kami mulai mencari Andrew. Selangkah demi selangkah kami telusuri perjalanan hingga ke pantai sebelahnya, lalu keluar sampai ke area parkiran, tidak ketemu juga, sambil mencoba memghubungi terus. Lalu saat nyaris putus asa dan berjalan kembali ke motor kami, Andrew lewat naik motor, akhirnya kami bertemu. Dia habis dari pantai yang lain. Lalu brewok mengusulkan untuk mengunjungi satu pantai lagi, yakni Pantai Wediombo, pantai yang ada kolam alaminya di antara batu karang. Jaraknya masih sekitar 10 km lagi. Saya ikut saja.

Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Cakep
Cakep

PANTAI WEDIOMBO & INSIDEN KECIL YANG JADI PELAJARAN

Sesampainya di Wediombo, saya masih dipertemukan dengan lautan yang lebih menderu-deru ombaknya, bebatuan indah bersusun, jam menunjukkan pukul 3. Saya memotret pemandangan, Brewok dan Andrew jalan duluan sambil mengobrol. Saya ketinggalan jauh sekali, mungkin karena kaki saya pendek juga, atau saya terlalu menikmati indahnya goresan Sang Pencipta ini.

Pantai Wediombo
Pantai Wediombo

Foto 76-wediombo (3)

Saya tidak tau sampai seberapa berjalan, mereka menghilang di balik bebatuan. Karena saya mulai sibuk merekam video saat posisi dekat sekali dengan ombak. Beberapa langkah menaiki bebatuan besar, sampailah saya di sebuah kolam yang terbentuk di tengah bebatuan. Kolam kecil dan dangkal, terisi air laut sedada. Ada beberapa pengunjung juga yang sedang berenang, ber-selfie ria di atas batu karang, ada juga yang duduk menunggu. Brewok dan Andrew memanjat ke sebuah batu yang tinggi, tiba-tiba mereka berteriak, saya sampai kaget. Rupanya kena cipratan ombak yang membentur dinding batu tersebut. Pakaian mereka sedikit basah. Lalu Brewok melepaskan kaosnya dan berenang di kolam. Sedangkan Andrew berjalan jauh ke ujung lagi untuk merekam video. Saya juga mengeksplor memanjat ke batu yang tinggi walau saya sebenarnya takut. Saya merasa tempat ini berbahaya sekali. Saya merekam dari batu yang tertinggi, tiba-tiba ombak menghantam dan saya terkena cipratannya sedikit. Saya kaget sekali dan berpegangan kuat pada batu. Saya merekam sebentar lagi lalu turun, melanjutkan merekam ombak di teluk kecil di bawahnya, di samping kolam. Lalu saya menghentikan rekaman dan memperhatikan.

 Foto 77-wediombo (4)

Ombak di teluk kecil itu makin lama makin tinggi. Sepertinya mulai pasang. Ada orang yang masih bermain di atas bebatuan, saya takut ombak yang lebih kuat menghantam. Benar saja, tiba-tiba ombak yang sangat tinggi datang, yang tadinya hanya cipratan, menguyur kuat mereka, dua pemuda itu jatuh tergelincir dari batu, menuju kolam, kolam yang mendadak dalam karena volume air yang bertambah. Mereka kelihatan panik, struggle untuk meraih darat dan kemudian berhasil naik, bersiap-siap pergi dari situ. Saya, Brewok, dan Andrew juga bergegas kembali karena air mulai pasang. Kami menemui rombongan tadi tak jauh dari sana, seorang pemuda duduk berlumuran darah di kaki, betis, dan bokong. Tangan sebelah kanannya luka parah. Darahnya bercampur dengan air laut di atas batu. Dia mengigil karena shock dan kedinginan. Saya menawarkan dia memakai sweater Andrew. Seorang pemuda dari rombongan lain bersama Andrew membopongnya. 3 rombongan yang tak saling kenal dalam satu tempat tadi akhirnya berjalan bersama. Satu temannya yang juga terjatuh, tidak mengalami luka parah, hanya sedikit lecet di tangan dan kaki. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat karena jalan cukup jauh dan dia masih kesakitan. Dia sudah beruntung, tidak mengenai kepala. Jika tadi mengenai kepala, bisa berakibat kematian.

Saya sudah takut sekali saat kejadian itu. Memang lautan itu tidak boleh untuk bermain-main, mereka sudah dinasehati warga setempat agar jangan bermain terlalu lama disitu karena sudah mau pasang. Apalagi konon katanya Pantai Laut Selatan ini punya cerita mistik yang kental. Sampai di warung tepi pantai, kami basuh lukanya dengan air hangat, sembari menenangkan diri. 3 rombongan ini jadi saling berkenalan dan mengobrol. Si korban ini, asalnya jakarta. Sedang liburan di Jogja. Mereka mungkin tidak bisa melanjutkan liburan selanjutnya.

Cukup menenangkan diri, hari sudah cukup gelap. Mereka ijin pulang. Saya, Brewok, dan Andrew kelaparan. Kami makan di warung itu. Seporsi ikan nila bakar dengan satu dandang nasi yang bisa buat berdua, daaannn sambal bawangnya enak! dihargai 25 ribu. Cukup memuaskan. Kami melihat ada api dari bawah, dekat pesisir. Selesai makan kami bergegas kesitu. Kami pikir api unggun, rupanya itu sampah yang dibakar, yasudah kami sekalian menghangatkan diri sebentar sambil menatap langit. Bertabur bintang dan bulannya penuh, terang, dan besar. Indah sekali. Saya rasa saya tidak punya kesempatan untuk melihat milkyway liburan kali ini, padahal sudah berharap ada kesempatan. Jam menunjukkan pukul 6.30 saja. Tapi sudah terasa seperti jam 9 malam. Duduk-duduk sebentar dan kami diberitahu penjaga warung akan mematikan lampu warung. Wow… ternyata satu pantai sudah gelap semua. Kami bergegas pulang. Parkiran juga hanya tinggal dua motor kami.

WHAT A LOVE-HATE ROAD TO GO BACK

Keluar dari area pantai, jalur stresful tadi lebih stresful lagi kali ini. Gelap gulita! Tidak ada lampu jalan. Saya sudah teler saja. Sekitar setengah jam perjalanan, ternyata ban bocor. Kami harus cari tambal ban malam-malam, di tengah kegelapan, di desa kecil itu. Kami temui satu tambal ban, tidak ada orangnya, Brewok mengetuk pintu rumahnya. Syukurlah masnya ada, tapi menunggu dia selesai makan. Padahal selesai dia makan dia berencana pergi. Beruntung kami tidak terlambat mendatanginya. Kami dipersilakan duduk di terasnya oleh mbaknya. Mungkin istrinya. Saya permisi menggunakan kamar kecil. Kamar kecilnya tidak kecil, ada kolam besar berisi air. Seperti kolam pemandian. Hahaha. Lalu saya baru diberitahu mereka sulit air. Jadi air itu ditampung. Tak lama setelah kami duduk, mbaknya keluar membawa tiga gelas teh hangat dan satu toples krupuk. Kami tersentuh sekaliii. Ya ampun, jadi tidak enak hati.

Menunggu ban sepeda motor ditambal
Menunggu ban sepeda motor ditambal

Sungguh keramahan yang diberikan disini menghangatkan hati. Di keadaan dingin dan panik seperti ini. Tehnya nikmat sekali. Sekitar setengah jam sampai selesai pengerjaan bannya, kami berangkat pulang. Beberapa saat setelah itu saya mau buang air kecil lagi, juga kedinginan, singgah ke kantor polisi untuk pinjam toilet, berujung ngobrol dengan beberapa polisi, lalu bergerak lagi. Kembali melewati Imogiri, Andrew mau duluan karena harus packing dan berangkat pagi-pagi. Kami mau cari sate klathak lagi, hehehe, untuk ketiga kalinya. Sate klathak Pak Pong yang di pasar. Ramai sekali. Tempatnya adalah pasar tradisional yang beroperasi pagi-siang hari, jika malam tutup dan Sate Pak Pong ini beraksi. Lesehan beralaskan tikar, agak gelap. Nikmatnya tetap nomor satu. Tidak lama-lama, kami beranjak dan membayar seharga 50 ribu untuk dua porsi. Sampai di rumah pukul 11 malam. Tepar lagi.

DINNER KURANG ROMANTIS

Sore ini mau dinner romantis di resto Rosella Easy Dining di Sleman, agak jauh tapi sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Sekitar 30 menit dari Sewon, mencari-cari… menerka-nerka… saya mengetahui resto ini dari artikel yang saya baca sebelum ke Jawa. Link artikelnya: www.qraved.com/journal/restaurants/12-restoran-di-jogja-yang-harus-banget-kamu-coba/

Sebuah resto pinggir sawah dengan setting romantis. Jalan Kabupaten KM. 5, Sleman. Jalan Kabupaten lumayan panjang, kami menelusuri sampai ujung yang mendekati Ringroad Utara. Akhirnya ketemu… tapi. kok. sepi. tidak ada tanda-tanda kehidupan, saya mengintip ke dalam, memang setting yang romantis, di pinggir sawah. Tiba-tiba saya ditegur oleh tetangga di situ bahwa mereka tutup hari ini, tidak biasanya. Saya patah hati sekali, kecewa. Kami kembali, di jalan Kabupaten tadi kami melihat satu resto yang nggak kalah romantis. Dikelilingi kolam atau sungai kecil. Dengan remang-remang lampu kuning dan lilin-lilin. Tapi tutup juga, entah hari spesial apa saat itu. Lalu kami kembali ke daerah Sewon. Sesuai artikel, masih ada resto yang menarik hati selain Rosella. Kami ke jalan Tirtodipuran, mencari Mediterranea Restaurant. Sesampainya di dalam, penuh dengan turis barat. 90%nya turis barat. Saya memesan Duck Confit (steak bebek) seharga 67 ribu dan brewok memesan Beef Carpacio (irisan daging sapi yang ternyata setengah matang) seharga 55 ribu. Lalu saya tambah pasta Penne Tuna & Spinach seharga 50an ribu. Minum Ice Lime 12 ribu dan Matcha Latte 28 ribu.

Dinner yang butuh perjuangan
Dinner yang butuh perjuangan

Saya puas sekali dengan pesanan saya, daging bebeknya empuk dan gurih. Ada salad dan wedges kentang yang disajikan bersama keju dan krim. Cukup kenyang buat satu orang, bahkan bisa buat berdua. Sedangnya pesanan Brewok, Beef Carpacionya, agak mengecewakan, tidak sesuai selera kami, itu juga hanya sebagai makanan pembuka. Disajikan sepertinya setengah matang dan dingin, dan diberi asam. Tapi habis juga kami santap. Pasta Pennenya lumayan lezat, wangi. Kami duduk juga tidak lama, sampai disana saja sudah hampir pukul 10. Resto ini beroperasi pukul 11 pagi sampai 11 malam, tutup setiap hari Senin. Saat membayar, semua makanan tersebut dihargai 220 ribu. Dan tidak ada Ppn! Semua harga makanan & minuman sudah termasuk pajak dll. Saya acungi 4 jempol dari 5 jempol saya untuk resto ini. Kenyang perut, saatnya pulang dan beristirahat. Worthed untuk memperoleh buncit besok pagi. Oh ya, saya diundang Mbak Maya untuk bakar Sate Klathak besok pagi di rumahnya di Kaliurang. Jam 7 pagi, duh?! Pagi sekali.

HOMEMADE SATE KLATHAK (PART 4) DAN ICIP-ICIP KUE DI CINEMA BAKERY

Mbak Maya benar-benar menjemput saya jam 7 pagi, sampai di rumahnya di Kaliurang jam 8. Bersama satu teman Mbak Maya dari Tasikmalaya, Mbak Vina, kami bertiga langsung beraksi di dapur. Dibantu ayahnya Mbak Maya, kami memotong-motong daging domba muda, menusukkan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Dibakar oleh ayahnya Mbak Maya. Kira-kira kami dapati 35 tusuk. Habis kami santap berempat, diteras rumah Mbak May, digelar tikar, ada kolam dan banyak tanaman. Duh saya betah sekali dengan suasana-suasana seperti ini. Saya makin sedih menjelang pulang.

Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya
Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya

Yuk makan sate klathak
Yuk makan sate klathak

Jam 1 siangnya saya ada janji makan siang dengan Brewok dan temannya di dekat XXI Empire, Resto Platers. Saya diantar Mbak May lagi. Duh saya merepotkan Mbak Maya sekali, jauh dari rumahnya. Saya hanya beri hadiah kuping-kupingan kucing yang dia sukai dari Popcon Asia di Jakarta kemarin. Selesai makan siang dan chit-chat sebentar, saya dan Brewok mau nonton bioskop di XXI. Mission Impossible: Rogue Nation. Saya membayangkan nonton dengan romantis. Yang saya dapati? Dia tidur. Okay. Spesial sekali. Mungkin dia punya momen yang lebih romantis dalam mimpinya.

Cinema Bakery
Cinema Bakery

Setelah usai film, kami menyeberang, ada Cinema Bakery, beberapa hari di Jogja saya tiba-tiba ingin makan kue-kue cantik yang enak, saya diberitahu teman bahwa bakery ini enak, pemiliknya orang Prancis. Saya tahu disini tidak memiliki cafe pattiserrier sebanyak Medan. Konsep cafe ini adalah cinema, dekorasi interiornya berhubungan dengan film-film. Unik dan luas, juga nyaman. Ada ruangan yang mungkin bisa digunakan untuk nonton film bareng. Saya langsung panik memesan beberapa kue, harganya relatif murah ketimbang kue-kue cantik di Medan bahkan (maaf) banyak yang rasanya kurang sesuai dengan harga. Harga disini berkisar belasan ribu sampai 35 ribu. Saya pesan cake Tiramissu kesukaan saya, Red Velvet, dan Brewok mau Strawberry Shortcake dan sebiji macaron. Minum espresso dan lemon squash. Selesai itu, saya pesan Quiche Beef lagi. Total semua? 160 ribu sekian. Kenyang super (lagi), worthed untuk membuncit (lagi). Good days for satisfy my belly, tasted very good.

Kue-kue Cinema Bakery
Kue-kue Cinema Bakery 

LAST DAY IN JOGJA, HUTAN PINUS, DAN SATE KLATHAK (LAGI)

Hari terakhir di Jogja, saya mulai lemes. Brewok bertanya kemana lagi saya hendak pergi. Saya sudah kehabisan ide, juga tidak ingin terlalu capek. Dia punya ide mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri. Kami berangkat siang itu. Jarak ditempuh sekitar 40 menit. Di perjalanan kita bisa melihat kota Jogja dari ketinggian, Mangunan, dari celah-celah pohon kayu putih. Jalannya masih berbelok curam dan naik turun. Syukurlah tidak banyak dan tidak terlalu parah. Memasuki kawasan tersebut, disuguhi pemandangan pohon-pohon pinus yang tinggi-tinggi menjulang. Sayangnya saya kurang bisa menikmati karena di perjalanan saya kelilipan abu rokok Brewok, yang membuat saya rusak mood seharian (pemirsa sekalian, harap kurangi/ hindari rokok ya). Kami berfoto di sela-sela pohon pinus. Sesekali memandang ke atas menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh gesekan ranting di atas sana. Teduh dan tenang.

Perjalanan menuju hutan pinus
Perjalanan menuju hutan pinus
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan Pinus
Hutan Pinus
Langit-langit yang cantik ya...
Langit-langit yang cantik ya…

Tampak juga banyak pasangan yang menikmati momen romantis disana (ngenes, dapat pasangan yang nggak romantis). Ada photoshoot cosplay juga. Kami jalan menaiki bukit, ada tempat di mana mereka membangun beberapa rumah pohon tanpa atap. Cukup memancing adrenalin untuk memanjat ke atas, di terpa angin kencang dan pondoknya bergoyang, dibangun di antara dua pohon tinggi. Mood booster saya juga setelah mencoba itu. Antara excited dan ketakutan.

Berani nyoba?
Berani nyoba?

Tak lama, kemudian kami turun, menjelajahi satu jalan kecil, sekitar setengah kilo ke bawah, ada Batu Tumpeng, hanya batu-batuan yang saling bertindihan. Kami kembali ke pintu masuk, ada petunjuk suatu mata air, sekitar 1 km masuk. Kawan-kawan tidak perlu masuk, cukup jauh ke bawah, dan ternyata mata air yang sudah dimodif, bukan alami. Sudah cukup lelah kami menjelajah, kami pulang.

Melewati Imogiri, tebak apa yang saya singgahi lagi di Imogiri? Betul. Sate Klathak lagi. Ehehe, ke-6 kalinya. Tapi kali ini saya ingin Tengkleng, kata Mbak Vina itu enak sekali, klamut-klamut daging yang melekat pada tulang-tulang, mungkin iga atau semacamnya. Kami ke Pak Pong yang terkenal dan biasanya ramai itu. Terrrnyata, Tengklengnya kosong. Saya sedih dan menyesal baru ingin mencarinya sekarang, di saat-saat terakhir. Akhirnya saya pesan Tongseng saja, bentuknya potongan daging, dengan kuahnya. Brewok pesan klathak, saya pasti merampoknya. Penuh perut, dan kami pulang. Saya beberes, packing untuk pulang ke Medan besok.

Makan di Pak Pong (lagi)
Makan di Pak Pong (lagi)

PULANG KE JOGJA LAGI LAIN KALI!

Pulang? Jogjalah sebenarnya tempat saya (dan banyak orang) berpulang. Jogja adalah kota dimana semua orang merasa nyaman, hangat, dan tenang. Saya akan pulang ke Jogja lagi tahun depan, doakan. Juga berencana mengunjungi tempat-tempat lain, nominasinya Surabaya, Bromo, Bali. Sudah cukup perjalanan hampir sebulan ini, kantong juga sudah kosong, terima kasih buat kawan-kawan semua, Mbak May, terlebih tur guide saya , Mas Brewok. Hahaha. Puji kepada Tuhan dengan segala keindahan alamnya dan saya bersyukur dan pantas bisa meluangkan waktu dan hartaku untuk mengaguminya. Sampai jumpa, Java. Semoga tulisan saya ada manfaatnya bagi teman-teman yang akan mengunjungi tempat-tempat istimewa ini, indah rasanya bisa saya bagikan pengalaman berharga ini dalam tulisan panjang lebar begini supaya bisa dinikmati. Hahaha! Semoga ya….

Studionya Mas Brewok
Studionya Mas Brewok

Yang berkunjung / berdomisili di Jogja, jangan sungkan untuk mengunjungi workshop kerajinan kulit Monkey x Rabbit milik Brewok di Dusun Karangnongko, Sewon, Bantul, kontek aja 089669974368. Maaf promo dan bukan titipan sponsor. :p

(END)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 4)

Teks: Sal Nath/ Foto Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

MEMBAWA PULANG ULAR DARI PASAR SATWA DAN TANAMAN HIAS

Hari itu saya bikin janji dengan Mbak Maya teman dunia maya yang menjadi nyata. Kami ke Pasty alias Pasar Satwa dan Tanaman Hias. Di jalan Bantul KM1. Tempat itu terdiri dari dua area yang terletak bersebrangan. Saya memasuki area satwa dan isinya tentu saja bermacam ragam hewan. Banyak kerajinan sangkar burung dan perlengkapan memelihara hewan. Ada aneka burung, kucing, anjing, monyet, ayam, tupai, reptil, dan kelinci. Lalu saya berhenti sejenak di sebuah toko penuh dengan ular. Saya melihat ada kumpulan ular kurus berwarna hijau terang meliuk-liuk di akuarium kecil dari salah satu pajangannya. Saya iseng meminta ijin untuk mengeluarkan ular tersebut, alhasil saya membawa pulang Ular Pucuk untuk menjadi teman main seminggu. Seharga 30 ribu (saya tawar jadi 20 ribu), Mbak Maysun tidak takut, malah ikut excited karena dia juga penyayang binatang. Teman-teman geleng-geleng saya bermain dengan ular dengan bisa level medium itu. Lucu saja. Kurus, hijau terang, meliuk-liuk. Benar-benar jadi teman bermain saya beberapa hari saat brewok sibuk bekerja.

Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja
Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja

MAKANAN JOGJA? SIAP-SIAP PANIK.

Tidak pusing mencari makan di Jogja. Tidak perlu takut mahal. Sudah tidak asing terdengar bahwa makanan Jogja itu murah meriah dan enak-enak! Suatu malam Brewok mengajak saya ke salah satu cafe (sebenarnya lebih tepat disebut warung makan) yang kata doi termasuk mahal, tapi enak. Wow benar saja, enak-enak! Saya langsung ketagihan, makan disitu hampir tiap hari. Mahal? Tidak. Ikan lele/ayam/cumi/ nila yang goreng/bakar/saus tiram/saus mentega/saus padang/ dll bisa didapati seharga 7 ribu – 13 ribu. Nasi cuma 2 ribu. Minuman ya seperti dimana-mana di Jogja itu 2 ribu sampai 5 ribu. Yah sekali makan agaknya belasan ribu saja paling mahal. Berdua sekitar 20-an ribu saja setiap makan. Eits, belum saya sebutkan namanya, namanya Cafe AngSa (Angkringan Santo) letaknya persis belakang kampus ISI Fakultas Seni Rupa, Jl. Ali Maksun itu lagi. Sebuah warung makan sederhana, banyak mahasiswa /mahasiswi ISI yang selalu nongkrong disitu, buka dari siang sampai pukul 01.00 dini hari. Wajib coba dan hati-hati ketagihan. Ada kucing manja yang selalu mengeong minta makan.

Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!
Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!

Beberapa hari disini, makan di berbagai angkringan dan warung makan, ternyata sering menjumpai sambal bawang disini, pedasnya wow. Saya jarang menemui sambal ini di Medan. Rasanya cocok sekali dengan lidah saya yang suka pedas. Setelah perut kenyang, pulang ditiup-tiup angin malam Jogja yang dingin. Sambil sesekali menegadah ke atas, melihat jernihnya langit, bertabur bintang, saya bersyukur sekali masih ada kota yang nyaman seperti Jogja ini.

PANTAI PARANGTRITIS & SATE KLATHAK IMOGIRI.

Mas Brewok mengajak ke Pantai Parangtritis di suatu sore, perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit saja dari Sewon. Rutenya sangat simpel, hanya lurus dari Jalan Parangtritis ke arah selatan. Masih jalan kota, jalan besar. Melewati Pasar Seni Gabusan, central kerajinan kulit Manding. Memasuki area retribusi, saya pikir kami harus membayar tiket masuk, tapi… Brewok… dengan santainya nyosor masuk melewati pos pembelian tiket. Ups? “Nggak usah bayar kan, pasang saja tampang sangar, percaya diri, jalan lurus, dipikir warga sini toh.” Jjjiiiah Beb, jangan sering-sering yaaa, walau tiket juga mungkin murah saja, kita terkadang juga perlu berpartisipasi mensejahterakan tempat-tempat wisata seperti ini.

Well, saya sempat beberapa kali berujar kenapa tidak tampak tanda-tanda ada pantai, karena pandangan tertutup pohon-pohon, semak belukar dan gumuk pasir, gumuk pasir adalah gurun pasir yang terbentuk dari pasir pantai yang tertiup, jadi kamu bisa berfoto disana seolah di gurun pasir, juga bisa sand-boarding. Lalu suatu ketika, ada celah dimana saya melihat, horizon yang indah! Saya langsung excited. Kami cari tempat parkir dan bergegas menuju pantai. Ada ombak yang tinggi! Ini ombak tinggi yang pertama saya lihat. Beberapa foto dijepret dekat landmark tulisan Pantai Parangtritis.

Kami sadar harus mengisi perut di salah satu warung dekat pantai. Sedihnya, pemandangan sunset tidak sempat kami nikmati lama karena kami terlalu lama di warung makan. Tapi pemandangan sehabis itu masih tidak mengecewakan saya. Indah. Refleksi langit yang jatuh ke pasir yang basah menghipnotis saya.

Selamat datang di Pantai Parangtritis
Selamat datang di Pantai Parangtritis 

Pasir halus memanjakan telapak kaki, angin sepoi-sepoi memancing kami untuk mencicipi wedang ronde yang dijual di tepi pantai itu. Kalau siang hari ada jasa menunggangi kuda di pesisir, tapi karena sudah menjelang malam, mereka sudah pada bubar. Juga ada yang berjualan jajanan seafood seperti udang dan kerang, juga sudah pada pulang. Brewok pernah bilang ini pantai yang ‘biasa-biasa’ saja disana, wah bagi saya ini sudah cukup luar biasa, nggak sabar mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul yang katanya maut sekali indahnya. Langit sudah mulai gelap, pulangnya kami melewati Imogiri, kami singgah ke rumah kawan kami di daerah Sindet. Mas Apriyadi Kusbiantoro, seorang komikus yang sedang naik daun, bukan hanya di negara sendiri tapi di Eropa, dengan komik legendarisnya, Lemuria.

Sunset yang memanjakan mata
Sunset yang memanjakan mata

Selesai ngobrol, kami mulai merasa lapar dan berencana hunting makanan lagi di perjalanan pulang, masih di daerah Imogiri, papan reklame “Sate Klathak” bertebaran sepanjang jalan, disitu memang pusatnya. Karena sate klathak terkenal Pak Pong itu sedang ramai, kami singgah ke warung klathak yang lain. Dua tusuk dengan kuah gulai, satu nasi. Seporsinya 25 ribu. Sejujurnya saya kurang kenyang, hahaha. Ini sate klathak kedua setelah mencicipi klathak pertama kali di pinggir jalan saat bersama Mbak Maya sepulang dari Pasty kemarin, sekitar jalan Parangtritis juga.

Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)
Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)

GEMBIRA LOKA ZOO DAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA DI TAMAN KULINER CONDONGCATUR

Pagi ini kami mengembalikan ular pucukku ke penjualnya di pasar satwa, tadinya mau dilepas atau dihibahkan ke teman, tapi berhubung ular ini beracun medium, takutnya membahayakan masyarakat, juga belum menemukan teman yang berminat memeliharanya. Setelah itu kami ke kebun binatang Gembira Loka, buka dari pukul 08.30 sampai 15.30. Tiket satu orangnya Rp. 20 ribu. Dibekali satu lembar map dan peraturan-peraturan di dalam. Jadi, benar bahwa gosipnya bonbin ini besar dan lengkap. Dari orang utan, harimau, beruang, buaya, macan, ikan-ikan langka, burung unta, dan ada ruang interaksi bebas dengan macam-macam burung. Ada hewan pendatang baru yang digemari masyarakat, Jack si penguin afrika. Ada jadwal show untuk si Jack yakni pukul 09.30 – 13.00 setiap hari, feeding time harimau setiap hari minggu dan libur nasional pukul 12.00. Ada juga jadwal khusus untuk menunggangi kuda, gajah, dan banyak lagi. Ada sarana Bumper Boat, berkeliling menggunakan kapal kecil, perahu kayuh, kolam tangkap, terapi ikan, sepeda sewa dan sirkuit ATV. Juga ada fasilitas mengelilingi rute bonbin dengan Taring, transpor keliling. Kami cukup lelah berjalan dan menelusuri semua sudut bonbin. Syukur ada beberapa warung di ujung perjalanan. Menengak sesuatu yang segar sambil duduk beristirahat memandangi kolam.

Kebun Binatang Gembira Loka
Kebun Binatang Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Lihat di belakang saya ada apa? :D
Lihat di belakang saya ada apa? 😀

Tak lama kemudian kami capsus ke Taman Kuliner Condongcatur. Kebetulan event Festival Kesenian Yogyakarta sedang berlangsung. Di dalamnya kami dapati banyak sekali stand yang berjualan barang-barang kerajinan dan makanan. Di tengah-tengah ada lapangan yang di-instal panggung yang cukup megah. Sebenarnya kami kemari menantikan konser dari teman saya, nama beliau Maz Inung. Sebut saja gitaris Tiga Gunung Lima Lautan. Seorang bapak dengan multi talenta yang sudah mengukir banyak prestasi. Saya belum sempat bertemu dengan beliau selama di Jogja. Hari ini berharap bisa melihat penampilannya dan menyapa walau sebentar. Sempat mengantri lama membeli sebuah jajanan minuman berkemasan dot bayi, kami duduk sambil mengenyot dot, duduk lesehan di tengah lapangan yang sudah ramai. Menonton wayang orang atau ketoprak dalam bahasa jawa, saya salut dengan penampilan mereka yang maksimal sampai akhir. Tepuk tangan meriah dari penonton, menyambut acara selanjutnya.

Pertunjukan kesenian yang memukau hati
Pertunjukan kesenian yang memukau hati

MC memperkenalkan Maz Inung yang berkostum putih ala primitif Amerika, dengan kursi roda dia tidak pernah kehilangan pesonanya. Melantunkan tembang-tembang yang kritis dan penuh motivasi untuk masyarakat jogja, dengan iringan genderang dan dayang-dayang penari. Konser beliau sungguh memukau. Saya dan Brewok segera menyusul beliau setelah penampilannya. Hanya sempat mengobrol sebentar dan beliau segera pamit karena ada urusan lagi. Benar-benar sibuk sekali. Tak lama baru datang kawan kami yang telat hadir, Mas Rangga, seorang pujakesuma (putra jawa kelahiran Sumatra, Medan juga) yang berdomisili di Bantul. Bersama anak dan istrinya yang seorang berkebangsaan Belanda. Well acara sudah habis dan banyak toko yang sudah tutup, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kami mongobrol sambil berdiri, yang akhirnya Brewok olahraga menemani Kenji, anak mereka yang sekitar 3 tahunan, main kejar-kejaran di lapangan, 2 jam. Brewok senang dengan anak kecil. Akhirnya kami pulang dan beristirahat pukul 1 dini hari. Sebenarnya besok pagi-pagi kami akan berangkat ke Semarang…. well… we made a mistake. Or not. What a good night anyway. (to be continued)

Taman Kuliner Congcat
Taman Kuliner Congcat

 

Icip-icip Enak di Labuhan Batu

Teks & Foto oleh Eka Dalanta @ekadalanta

Ada banyak makanan enak di Labuhan Batu
Roti Bakar Akur
Roti Bakar Akur

Teman saya bilang, Labuhan Batu adalah salah satu kabupaten yang paling sejahtera di Sumatera Utara. Penghasilan masyarakatnya cukup besar apalagi dengan kekayaan perkebunan mereka. Masyarakatnya juga cukup royal belanja dan terbiasa makan malam di luar rumah. Begitu cerita beberapa teman. Alhasil, kota Rantau Parapat yang merupakan ibukota kabupatennya tidak cepat menjadi sepi di malam hari. Banyak pilihan jajanan dan aneka makanan enak di sana. Setengah meragukan, saya mengeksplorasi dan menemukan beberapa kuliner enak yang sempat saya kunjungi di beberapa hari perjalanan dinas. Dan karena sedang dalam rangka bekerja, waktu untuk mencoba kulinernya adalah menyempatkan diri saat pekerjaan sudah selesai. Kegiatan mencicip makanan enak di Rantau Parapat bermodal tanya-tanya teman yang sudah sering ke sana, tanya teman yang adalah orang lokal dan tanya teman di social media yang tinggal di Rantau Parapat atau tau tentang Rantau Parapat. Beberapa merekomendasi makanan enak seperti Roti Bakar Akur, Holat, Miesop Miekel, dan Ikan Asam Baung. Waduh buset banyak juga ternyata. Hehehe Sementara waktu saya di perjalanan kali ini sangat terbatas. Oke, sebatas bisa dicicip deh.

Makan malam pertama, teman-teman mengajak makan miesop yang katanya paling enak di Rantau Parapat versi orang lokal, artinya rekomendasinya terjamin. Mereka menyebutnya Miesop Daster, sebenarnya itu bukan nama asli warung miesopnya sih. Tapi karena kebiasaan si ibu dan seluruh pegawainya yang berjualan dengan daster jadilah orang-orang menyebutnya Miesop Daster. Ajaib memang. Saya awalnya tidak ngeh juga sampai teman-teman menceritakannya. Dan nggak tau juga itu disengaja atau nggak sebagai branding. Warung Miesop ini nama aslinya Warung Miesop Bu Ilam. Lokasinya tidak jauh dari Suzuya Plaza. Yang istimewa dari miesop ini rasa kuahnya sederhana, tidak berasa vetsin, tidak berlemak dan… segar!!! Saya suka dengan rasanya, seperti mencicip rasa miesop kampung dari masa kanak-kanak saya. Sate kerangnya juga menjadi andalan di sini. Berhubung saya tidak penggila sate kerang ya saya jadi tidak terlalu memburu. Yang paling bikin saya takjub adalah es timun serutnya. Rasanya segar dengan harga seribu rupiah. Bayangkan, seribu rupiah. Di belahan bumi mana harga minuman seribu rupiah. Saya senang sekali meneguknya. Sayangnya karena sudah malam saya tidak sempat meng-capture foto miesopnya.

Warung Miesop Mikel yang terkenal itu
Warung Miesop Mikel yang terkenal itu

Masih tentang miesop, miesop lain yang saya cicip juga adalah Miesop Mikel. Kepanjangan dari Miesop Keluarga. Lokasinya? Di Jalan K.H. Dewantara. Hahahah saya kurang hapal, saya hanya ikut saja dengan teman yang sudah sering ke sana. Miesop satu ini cukup famous, kalau tanya orang lokal pasti gampang untuk menemukannya. Miesop di tempat ini juga mantap rasanya. Segar. Mengingatkan miesop kampung dari masa kecil yang bikin kita ketagihan. Sate kerangnya juga menjadi andalan di sini. Miesop keluarga ini lebih ramai ketimbang Miesop Bu Ilam. Tempatnya juga lebih luas.

Kuah Miesop Mikel yang bening... Kayak kamuh... :P
Kuah Miesop Mikel yang bening… Kayak kamuh… 😛
Sate kerang nikmat Mikel. Enyak... enyak....
Sate kerang nikmat Mikel. Enyak… enyak….

Selanjutnya saya menikmati makan siang Ikan Asam Baung. Ikan asam baung ini agak mirip dengan ikan gabus bentuknya. Daging ikannya lembut. Dimasak dengan kuah asam membuat rasanya segar. Yang kami makan katanya salah satu yang terenak. Tidak terlalu mahal dan ramai pengunjung. Lokasinya berada di kantin kantor salah satu dinas pemerintahan di Rantau Parapat. Kami diajak makan oleh Bapak Wakil Bupati yang adalah teman baik bos saya. Menu makan siang lainnya yang mungkin harus dicoba lain kali adalah Holat. Saya tidak sempat mencoba kali ini walaupun sudah mendapat tawaran makan siang dengan holat. Holat adalah makanan khas Tapanuli Selatan yang dulu dikhususkan untuk para raja. Kamu bisa menemukan holat dengan mudah. Banyak rumah makan yang khusus menjual holat di Rantau Parapat dan selalu ramai terutama pada jam makan siang. Holat terbuat dari kayu Balakka, sejenis tanaman hutan yang dikupas kulitny lalu dicampur dengan pakat atau rotam muda serta ikan mas bakar. Tentang rasanya? Saya belum bisa cerita dong…

Ikan Asam Baung.
Ikan Asam Baung.

Dalam perjalanan pulang, kami singgah di Kedai Kopi Akur. Selain kopinya yang terkenal di Rantau Parapat, roti bakarnya juga sangat direkomendasi oleh teman-teman yang saya tanya melalui social media. Dan memang benar…. Kedai kopi Tionghoa yang sudah sangat lama ini memang menyajikan roti bakar yang endes banget. Selai serikayanya maknyus. Sepotong besar yang dibagi tiga harganya cuma Rp. 8000. Kopi susunya juga bikin mata melek dalam perjalanan pulang. Ajib deh.

Mengintip roti yang sedang dibakar.
Mengintip roti yang sedang dibakar.
Kental selai serikayanya sempurna.
Kental selai serikayanya sempurna.

Satu lagi cicipan menarik dalam perjalanan pulang. Siapa sangka di antara perkebunan karet, di teras sebuah masjid di daerah perkebunan Sei Dadap ada penjual jus pinang yang rasanya sedap sekali. Jus pinang dicampur susu yang rasanya lemak dan bikin ‘pusing’ kata bos saya. Pusing sekaligus panas yang sulit dijelaskan. Hehehe… selamat mencoba cicip-cicip enak di Rantau Parapat.

Jus pinang nikmat di antara perkebunan
Jus pinang nikmat di antara perkebunan

Takengon, ketika kopi dan alam berbicara

Teks & Foto oleh Sarah Muksin, @sarahmuksin

Bukan hanya sekedar Serambi Mekkah, bagi saya, tempat ini merupakan teras kopi dunia. Keindahan alamnya mungkin belum setenar kopinya. Tapi ketika kau tiba disana, mungkin lain cerita.

Di awal Mei kemarin, seorang teman datang dan mengatakan bahwa akan melihat panen raya kopi Arabika yang sedang berlangsung di Takengon, Aceh tengah. Tanpa ragu saya menjawab ya dan kebetulan sudah 2 tahun rasanya tidak pernah melakukan perjalanan darat yang cukup menguras energi. Kebetulan, saya sama sekali belum pernah memijakkan kaki ke provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu.

Dua hal yang saya pikirkan selama kurang lebih 12 jam perjalanan adalah Takengon itu dingin dan disana pasti banyak tanaman kopi. Biasanya sebelum bepergian ke suatu tempat, saya akan menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang berbagai hal yang menarik dari tempat yang akan saya datangi. Tapi kali ini saya tidak mendapatkan gambaran apapun. Saya pergi dan berpikir biarlah dataran tinggi Gayo memberikan kejutannya pada saya.

Menangkap pagi di Bukit Sama.
Menangkap pagi di Bukit Sama.

Dikenal sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi Arabika terbaik di dunia, Takengon ternyata menyimpan rahasia dibalik pohon-pohon kopi yang tumbuh subur dan melimpah. Melewati medan yang tidak mudah membuat saya hampir menyerah. Belokan, tanjakan, turunan semuanya cukup mengocok perut dan membuat kami semua mual. Dan ini berlangsung kurang lebih 1,5 jam perjalanan menuju Takengon. Tak lama, mobil yang kami tumpangi melewati jalan yang lurus. Perjalanan selama 12 jam seperti tiada akhir itu terbayarkan sudah. Matahari yang kami saksikan dari ketinggian Bukit Sama perlahan-lahan memuncak dan memperlihatkan kepada kami sesuatu yang sangat indah di bawah sana. Danau Laut Tawar. Berwarna keemasan dan bercahaya karena pantulan sinar matahari pagi. Udara dingin yang menusuk kulit pun perlahan mulai berubah menjadi hangat.

Act like a model!

Mencari penginapan di Takengon ternyata cukup rumit. Beberapa hotel atau penginapan mungkin tidak akan mengizinkan yang bukan muhrim untuk menempati kamar yang sama. Kami saja sempat bingung karena salah satu hotel menolak untuk ditempati karena tidak ada satupun dari kami yang terikat hubungan darah atau saudara. Perlu diingat bahwa mungkin Takengon tidak seketat kota-kota lainnya yang ada di Aceh, tetapi tetap saja, hukum syariah berlaku. Yang bukan muhrim, dilarang tidur satu kamar. Kami bergegas mencari penginapan lain yang memungkinkan untuk ditempati.

Segelas kopi sedang menunggu untuk diteguk. Segera, setelah selesai berberes, kami mencari sarapan dan bergegas mencari kebun kopi yang bisa disinggahi. Tujuan pertama telah ditetapkan. Kami akan berkunjung ke kebun kopi milik Pak Abdullah. Terletak di kecamatan Pegasing, Pak Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak petani kopi di tanah gayo. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi banyak hal tentang kopi dengan pria paruh baya ini. Mengenal kopi sejak lahir, Pak Abdullah bercerita tentang masa kecil yang dia habiskan di kebun kopi milik keluarganya. Hingga kini, beliau mengelola kebun kopi milik keluarga dan memiliki kedai kopi yang dia beri nama Kopi Tiam Wang Feng Sen.

Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.
Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.

Hal yang paling menggembirakan dari Takengon adalah, kau tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk secangkir kopi. Di kedai kopi milik Pak Abdullah ini, secangkir kopi hitam yang nikmat bisa dicicipi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain mencicipi kopi yang harum dan nikmat, kami diajak bermain ke kebun kopi milik teman Pak Abdullah, karena kebetulan kebun kopi beliau cukup jauh sekitar 1 jam perjalanan.

Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Cinta dalam segenggam kopi.
Cinta dalam segenggam kopi.

Melihat kebun kopi dan proses pengolahannya membuat kami bersemangat dan menambah wawasan. Bahwa selama ini untuk menjadi segelas kopi, biji-biji kopi tersebut melalui proses yang panjang dan tidak mudah mulai dari dipetik, dijemur hingga disangrai.

Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.

Selesai dengan urusan kebun kopi, kami berkesempatan mengelilingi beberapa kedai kopi yang mulai menjamur disetiap sisi kota Takengon. Saya tidak pernah mengira bahwa kota kecil ini dipenuhi dengan kedai kopi yang rasanya nikmat dan diproses dengan baik. Bagaimana tidak, pemilik kedai kopi adalah juga pemilik kebun kopi yang tahu bagaimana mengolah kopi dan menjadikannya minuman yang nikmat. Hampir setiap rumah yang kami lewati di kota ini menyangrai biji kopinya sendiri dan aroma kopi itu menyergap masuk ke hidung kami.

Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!

Takengon bukan hanya tentang kopi. Kota ini juga menyimpan peninggalan bersejarah dan cerita budaya. Salah satunya ketika kami mengunjungi Gua Putri Pukes. Cerita yang berkembang di masyarakat setempat bahwa ada seorang putri yang berubah menjadi batu didalam gua tersebut.

Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.

Tak lupa, kami juga mengunjungi Ceruk Mandale. Lokasi tempat ditemukannya kerangka manusia yang diperkirakan berusia 8400 tahun. Lokasinya yang tidak mudah ditemukan membuat kami harus bertanya kepada warga lokal. Medannya juga cukup sulit karena termasuk jalan baru dan jarang dilalui oleh warga sekitar, sehingga masih sepi.

Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.

Pada tahun 2010 lalu para peneliti dan arkeolog menemukan kerangka manusia purba ini. Penelitian masih berjalan hingga sekarang.

Berkat seorang teman, kami dibawa untuk mencicipi sajian khas Aceh Tengah yang katanya hanya disajikan pada acara tertentu saja semisal pesta perkawinan. Kebetulan, ada satu resto yang menyajikan makanan ini. Namanya Asam Jing. Asam Jing sendiri mirip dengan masakan padang, Asam Padeh. Ada juga Cecah Terong Belanda. Agak aneh sebenarnya karena baru pertama kali mencicipi Terong Belanda yang tidak di jus tetapi dijadikan sambel. Ya, makannya pun harus dengan daun labu yang direbus. Rasanya? Surprisingly, enak banget.

Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!
Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!

Takengon membuat kami jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Bukan hanya pada kopi, tetapi pada keindahan alam serta keramahan orang-orangnya. Omong-omong, orang Gayo itu cantik-cantik dan tampan-tampan loh.. he.. he.. he..

How to get there

Ada baiknya kalau memang merencanakan perjalanan darat, berangkatlah pada malam hari. Selain menghindari macet, perjalanan malam lebih sejuk dan tidak membuang-buang waktu. Apabila terlalu melelahkan, ada pesawat perintis yang berangkat 3 kali seminggu dari Medan.

What to do

Minum kopi. Main ke kebun kopi. Datanglah pada saat panen raya, ketika semua orang sibuk dengan biji kopinya. Oleh-oleh terbaik dari Takengon itu adalah kopinya. Kopi Gayo. Danau Lut Tawat juga tidak boleh dilewatkan. Pemandangan paling menakjubkan bisa didapatkan dari Puncak Pantan Terong, sekitar 20 menit dari kota.

Makan Siang Nikmat Nan Elegan di Marriott Café, Medan

Teks & Foto oleh: Eka Dalanta @EkaDalanta

Ada banyak pilihan, silahkan makan dan bersantai sepuasnya.

Dari sekian jadwal makan teratur, ritual makan siang adalah salah satu yang saya paling anggap penting. Lain halnya dengan sarapan pagi yang tidak ingin terlalu kompleks dan repot, atau makan malam yang juga tak ingin berlebihan. Makan siang buat saya berarti makan yang nikmat tanpa perlu banyak mempertimbangkan. Kecuali kebersihan dan kelengkapan kebutuhan gizi makanan.

Salah satu menu yang saya cicip.
Salah satu menu yang saya cicip.

Dari sekian banyak pertimbangan makan siang yang nikmat, Marriot Café Medan menawarkan makan siang yang nikmat sekaligus elegan. Cocok untuk menjamu tamu atau lunch meeting. Oh ya bukan berarti restaurant ini hanya menyajikan makanan untuk makan siang saja ya, Marriot Café juga open untuk breakfast dan makan malam.

Coba juga makanan nikmat dengan kuah kari ini.
Coba juga makanan nikmat dengan kuah kari ini.

Marriot café selain cocok untuk menjamu tamu bisnis, makan siang bersama keluarga juga terasa pas. Suasananya yang tenag dan elegan membuat ritual makan bisa dinikmati dengan santai.

Capcay enak. :D
Capcay enak. 😀
Sushi dengan bentuk yang lucu.
Sushi dengan bentuk yang lucu.

JW Marriott Café menyediakan makanan internasional, perpaduan dari makanan Asian, western, hingga nusantara atau tradisional Indonesia. Saya mencoba sedikit-sedikit, tetapi banyak jenis makanan. Ha-ha-ha. Mulai dari western food, makanan yang terasa India, sushi yang terasa Jepang, dan aneka kue-kue jajanan tradisional Indonesia. Silahkan makan sepuasnya namun secukupnya dan manjakan ‘perut’ kolega Anda untuk mengakrabkan ikatan kerja. Dan… percayalah, ketika mulut terbuka, maka banyak kesempatan bisnis yang juga ikut terbuka. Hi-hi-hi…

Aneka kue tradisional Indonesia.
Aneka kue tradisional Indonesia.

Oh ya, untuk makan siang per orangnya dikenakan biaya Rp. 288.000,-

 

 

 

Suku Karo, Pesta Tahunan, dan Beras

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Andi Gultom @andigultom

Masyarakat kita adalah masyarakat agraris, maka beras menjadi salah satu corak kebudayaan kita. Termasuk Karo!

Rumah adat tradisional Karo di Desa Lingga
Rumah adat tradisional Karo di Desa Lingga

Setiap bulan Agustus lalu, tepatnya 17 Agustus, keluarga besar saya dari pihak ibu beramai-ramai pulang kampung. Agenda ini adalah agenda tahunan yang sebisa mungkin dipenuhi. Kewajibannya tak kalah besar dengan kehadiran di saat Tahun Baru atau perayaan keagamaan.

Merayakan 17-an di kampung halaman? Nasionalis benar!!! Merayakan 17-an memang jadi salah satu tujuannya, tapi agenda utamanya adalah pesta tahunan yang dalam masyarakat Karo, suku saya, salah satu suku di Sumatera Utara yang tersebar di Dataran Tinggi Karo dan sekitarnya, disebut dengan kerja tahun atau merdang merdem.

Kerja tahun atau merdang merdem adalah sebuah perayaan tradisi yang hingga kini masih diselenggarakan masyarakat Karo setahun sekali. Waktu pelaksanaannya di tiap daerah dalam kebudayaan Karo berbeda-beda. Seperti kampung halaman ibu saya yang merayakannya di setiap 17 Agustus. Saya pernah pula menghadiri beberapa acara kerja tahun di kampung halaman teman dengan waktu yang berbeda. Ada yang di bulan Juli, ada juga di bulan Oktober.

Lalu apa yang menarik dari keseluruhan rangkaian aktivitas kebudayaan ini? Saya menemukan benang merah pengikat antara tujuan pelaksanaan perayaan dengan ragam penganan (kuliner) sepanjang acara sebagai simbol selebrasi. Merdang merdem, dulunya adalah sebuah upacara selebrasi yang dilaksanakan setelah acara menaman padi di sawah. Karena itu dilakukan setahun sekali, ingat zaman dulu sistem pertanian kita masih mengandalkan musim. Keberhasilan musim tanam juga sangat ditentukan oleh curah hujan dan cuaca.

Seperti halnya sebagian besar masyarakat Indonesia dengan  corak dan kebudayaan agraris, Legenda Dewi Sri yang ada dalam sistem kepercayaan masyarakat Jawa sebagai simbol Dewi Kesuburan dan pertanian, pun berlaku di kelompok masyarakat agraris Suku Karo.

Refleksi kepercayaan yang sama juga ada dalam Suku Karo di Sumatera Utara sebagai bagian dari masyarakat agraris nusantara. Pesta tahunan merdang merdem adalah satu tradisi yang merefleksikannya. Kerja tahun adalah sebuah ritual atau upacara penyembahan kepada Sang Pencipta, Beraspati Taneh (yang dalam kepercayaan Pemena, kepercayaan asli Suku Karo, sebagai penguasa tanah). Tujuannya agar setiap aktivitas pertanian yang dilakukan bisa menghasilkan panen yang berlimpah. Ada doa-doa yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta agar tanaman padi diberkati, bebas dari hama dan menghasilkan panen yang berlimpah.

Kalau upacara dilakukan pada masa panen (ngerires), ini yang biasa dilakukan di kampung halaman ibu saya juga di daerah Batu Karang , maka tradisi ini sebagai wujud ucapan syukur kepada sang pencipta penguasa alam semesta dan keseluruhan semesta karena panen yang berhasil. Rasa-rasanya hampir sama halnya dengan perayaan thanksgiving di Amerika dan Kanada. Oh ya, kerja dalam bahasa Karo berarti pesta lho.

Selain di masa awal penanaman atau merdang merdem (biasa dilakukan di sekitar wilayah Kabanjahe, Berastagi, dan Simpang Empat) dan pada masa panen (ngerires), beberapa daerah melakukannya lengkap mulai dari masa awal penanaman, pertumbuhan (nimpa bunga benih),  masa menjelang panen atau mahpah (biasa dilakukan di Barus Jahe dan Tiga Panah) hingga masa panen (ngerires).

Momen yang melibatkan seluruh warga kampung ini biasanya juga dimanfaatkan anak-anak muda untuk mencari jodoh. He-he-he… Karena perayaan biasanya dimeriahkan dengan gendang guro-guro aron, acara tari tradisional Karo yang melibatkan pasangan muda-mudi. Pokoknya meriahlah…

Rangkaian kegiatan tradisi kerja tahun ini biasanya dilaksanakan selama enam hari. Cukup panjang ya? Iya! Selama enam hari akan ada kegiatan yang berbeda-beda. Hari pertama disebut juga cikor-kor, penanda  pelaksanaan kerja tahun. Ditandai dengan kegiatan mencari kor-kor (sejenis serangga yang tinggal dalam tanah) di ladang. Hari kedua atau cikurung, penduduk mencari kurung (sejenis hewan sawah) di areal persawahan. Hari ketiga, disebut ndurung, orang-orang mencari nurung (ikan) di sungai. Pada hari keempat aktifitas diisi kegiatan mantem atau penyembelihan lembu dan atau babi.

Hari kelima atau matana adalah puncak upacara perayaan kerja tahun. Di hari ini rasa syukur ditunjukkan dengan saling mengunjungi sesama warga. Di hari ini, semua penganan disajikan. Pada hari keenam dilaksanakanlah nimpa atau kegiatan membuat cimpa (makanan khas Karo yang terbuat dari beras atau ketan). Tapi sekarang, di hampir seluruh daerah dengan kebudayan Karo, rangkaian kegiatan itu sudah mengalami penyederhanaan. Kerja tahun hanya berlangsung dalam satu atau dua hari saja.

Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya, sebagai upacara perayaan dan ucapan syukur, keseluruhan rangkaian acara dirayakan dengan ragam kuliner dari beras. Mendoakan tanaman padi agar tumbuh subur dan memberikan hasil panen yang berlimpah dirayakan dengan aneka penganan dari beras.

Ada beberapa peganan yang menjadi kuliner khas perayaan acara-acara adat Suku Karo, terutama pada saat kerja tahun. Dan… semuanya terbuat dari beras berikut turunannya, tepung beras maksud saya. He-he-he… Ada beberapa penganan yang selalu ada di acara-acara istimewa tersebut.

Cimpa
Cimpa ini paling enak bagian intinya, gula merah dengan kelapa yang dicampur lada dan rempah lainnya.
Cimpa ini paling enak bagian intinya, gula merah dengan kelapa yang dicampur lada dan rempah lainnya.

Cimpa yang paling banyak dikenal adalah penganan yang terbuat dari beras ketan sebagai bahan utamanya dan sebagai intinya adalah campuran gula dan kelapa parut. Cimpa dibungkus dengan daun pisang. Tapi akan lebih afdol rasanya kalau cimpa dibungkus dengan daun singkut. Sejenis tanaman berdaun lebar yang tumbuh di daerah pegunungan dan biasa digunakan sebagai ganti tali pengikat juga obat-obatan. Saya sulit menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia untuk menyebutkan jenis daun ini. Tapi yang pasti, penggunaan daun ini membuat cimpa menjadi sangat khas.

Sebenarnya cimpa terbagi atas beberapa jenis. Tapi cimpa jenis ini adalah salah satu yang menjadi favorit saya. Makanan dari ketan dengan inti kelapa dan gula merah yang sangat sedap. Campuran lada dan garam yang pas membuat rasanya tidak hambar. Kalau masyarakat Karo menyebut makanan tersebut la mbergeh. Jenis cimpa lainnya yang juga favorit saya adalah cimpa matah. Seperti namanya matah, yang berarti mentah, mengolah jenis cimpa satu ini tidak memerlukan bantuan api. Tidak perlu dimasak. Wah… gimana caranya? Apa enaknya beras yang tidak dimasak? Hey, jangan protes dulu sebelum Anda mencobanya sendiri. Percayalah nenek moyang kita sangat jenius! Ada banyak penemuan luar biasa yang telah mereka hasilkan dari hasil trial and error beratus ataupun mungkin berjuta kali sampai kemudian menemukan formula yang tepat dan meninggalkannya sebagai warisan kebudayaan. Kali ini kita berbicara tentang warisan budaya kuliner.

Cimpa matah terbuat dari tepung pulut putih, dicampur dengan merica, kelapa, dan gula merah yang ditumbuk menjadi satu dalam sebuah wadah yang disebut lesung. Nikmatnya penganan yang satu ini sangat sebanding dengan kerja keras dan lelah menumbuk dan menjadikan keseluruhan adonan menyatu sempurna menjadi makanan. Campuran yang telah menjadi merata tersebut kemudian dibuat sekepal-sekepal. Dalam masyarakat Batak Toba mirip dengan penganan pohul-pohul.

Jenis cimpa lainnya adalah cimpa unung-unung. Namanya, buat saya terkesan agak aneh. Cimpa jenis ini dibuat dari tepung pulut hitam atau tepung pulut putih yang dicampur dengan santan dan gula merah lalu dibungkus dengan daun pisang sebelum dikukus sampai matang. Saya tidak terlalu suka dengan jenis cimpa yang satu ini. Terlalu biasa dan tidak senikmat cimpa biasa yang memiliki inti kelapa dan gula merah di tengahnya.

Adalagi cimpa tuang. Penganan yang satu ini nggak akan bosan memakannya. Tapi sudah agak jarang ada. Terbuat dari tepung pulut putih, sagu, telur, kelapa, dan gula merah yang dicampur menjadi satu adonan. Adonan ini lalu digoreng di atas panci yang sudah diolesi daging lemak sapi. Rasanya… saya hampir lupa rasanya karena terakhir kali memakannya sewaktu masih kecil. He-he-he…

Cimpa Bohan, salah satu cimpa yang dimasak di dalam bambu.
Cimpa Bohan, salah satu cimpa yang dimasak di dalam bambu.

Sewaktu menghadiri kerja tahun di kampung salah satu teman saya di Desa Munte, hem… sekitar 3-4 tahun lalu, saya juga menemukan cimpa bohan. Seperti namanya cimpa ini dimasak dengan cara dimasukkan ke dalam buluh bambu kemudian di panggang di atas api sampai matang benar. Unik sekali cara pengolahannya. Memasak cimpa bohan ini lebih lama dibandingkan dengan lemang. Dan… karena kandungan airnya jauh lebih sedikit, maka ruas-ruas batang bambu yang sudah diisi adonan harus dimasak dekat dengan api. Tapi harus dijaga agar masaknya merata dan sampai ke dalam.

Seperti halnya cimpa yang lainnya, cimpa bohan juga terbuat dari tepung beras ketan hitam ataupun putih dicampur dengan kelapa dan gula.

Lemang

Jenis makanan lainnya, Lemang. Lemang sebenarnya bukan makanan yang menjadi milik Suku Karo satu-satunya. Beberapa masyarakat kebudayan lain di Indonesia juga mengenal jenis penganan ini. Masyarakat Minang misalnya. Bahkan jenis makanan yang terbuat dari beras pulut (ketan) yang dimasak dalam bungkusan daun pisang dalam buku bambu ini juga ditemukan di negara tetangga, Malaysia. Biasanya sebagai makanan pada hari raya Idul Fitri.

Lemang atau dalam bahasa Karo disebut rires, bisa dinikmati dengan berbagai saus pelengkap. Pada musim durian, sausnya akan dicampur dengan durian. Tapi pada masyarakat Karo biasa dimakan dengan saus yang disebut tengguli, terbuat dari gula merah. Hampir mirip dengan lupislah. Tapi lupis dimasak dengan dikukus sementara lemang dengan dipanggang dalam buku bambu. Nah, kalau di kampung halaman ibu saya, teman memakan lemang adalah cincang ikan atau babi yang  juga dimasak dalam buluh bambu.

Lemang dan tengguli. Enaknya bikin tamboh-tamboh.
Lemang dan tengguli. Enaknya bikin tamboh-tamboh.

Masyarakat Karo memang telah mencoba berbagai cara untuk mengolah beras. Termasuk dengan membakarnya, yang merupakan cara memasak untuk kalangan para raja. Luar biasa bukan?

Keistimewaan lemang masyarakat Karo adalah lemangnya biasa dimasak dengan kunyit, merica, dan lada hitam. Jadi warnanya kekuningan, bukan putih pucat. Aromanya juga sangat nikmat.

Tape

Tape. Olahan beras lainnya yang juga sangat biasa dihidangkan di berbagai acara kerja tahun. Untuk tape, rasa kecut manisnya beras ketan yang telah difermentasikan yang dibungkus dengan dedaunan, tentu kita semua sudah pernah merasakannya. Semakin baik menyimpan dan menjauhkan dari cahaya matahari, tentu rasa manisnya tape akan meningkat.

Tape ketan merah, satu lagi perayaan dengan beras.
Tape ketan merah, satu lagi perayaan dengan beras.

Negara kita sangat kaya. Seperti uraian saya di atas tentang tradisi kerja tahun dan penganan untuk selebrasinya. Kerja tahun adalah bentuk gotong-royong dalam masyarakat Karo, gotong-royong dalam bertani, sekaligus bentuk kedaulatan pangan, ucapan syukur dan penghargaan kepada alam dan penciptanya. Budaya agraris masyarakat Karo ini adalah sebuah social heritage yang perlu dijaga.

10 Ways to Spend Your Weekend in Berastagi

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta & Yulin Masdakaty @youleeneith

Perkebunan sayuran yang segar di kaki gunung
Perkebunan sayuran yang segar di kaki gunung

AKHIR pekan selalu menjadi kesempatan yang ditunggu banyak orang. Waktunya menghilangkan jenuh dan bersenang-senang meskipun waktunya seringkali sangat singkat. Satu atau dua hari saja. Berastagi, daerah pegunungan ini banyak dipilih sebagai ‘tempat melarikan diri’ dari kepenatan tersebut. Nah… kemanaaja akan merekomendasikan beberapa kegiatan yang bisa kamu lakukan di akhir pekan di Berastagi.

Kebun stroberi organik
Kebun stroberi organik
1. Panen Stroberi Organik

Serasa panen di kebun stroberi sendiri (meskipun ujung-ujungnya tentu harus bayar sebanyak yang kamu berhasil panen). Memilih buah yang disuka sesuai dengan selera, organik pula tentu memberi kemewahan tersendiri. Di kebun-kebun stroberi organik yang banyak pilihannya, seperti di Desa Tongkoh, selain memetik sendiri buah stroberi dan melihat tanamannya, kamu bisa melihat proses penanaman, penyemaian, pembersihan atau pemupukannya. Baik juga lho untuk edukasi jika membawa anak-anak.

Stroberinya sangat menggoda kakak... :D
Stroberinya sangat menggoda kakak… 😀
2. Memilih bibit bunga yang cantik

Jika kamu menyukai bunga, aneka bunga cantik bisa kamu beli bibitnya di Berastagi. Mulai dari bunga begonia, cemara, tekwa, dan berbagai jenis bunga cantik lainnya. Harganya juga nggak mahal amat kok. Pokokya bunga-bunga dimana-mana. 😀

Berastagi juga dikenal sebagai penghasi bunga.
Berastagi juga dikenal sebagai penghasi bunga.

 

3. Jagung bakar atau rebus, view-nya alam pegunungan
Santai sore di Penatapan.
Santai sore di Penatapan.

Penatapan yang artinya tempat untuk melihat-lihat pemandangan asyik untuk menghabiskan waktu duduk-duduk meihat pemandangan pegunungan, menghirup udara sejuk dan dingin sembari menyesap teh atau kopi ditemani jagung bakar, jagung rebus atau mie instan rebus yang rasanya akan dua kali lipat lebih enak dari biasanya. He-he-he…

Jagung bakar aneka pilihan rasa.
Jagung bakar aneka pilihan rasa.
4. Cendol Panas, Wajik, dan Pecal Peceren

Jangan lewatkan juga menikmati penganan di desa Peceran. Dua kedai wajik yang ada di sisi kiri dan kanan jalan lintas utama bisa dipilih. Dua-duanya punya cita rasa dan sama-sama menyajikan cendol panas, wajik dan pecal. Rasanya tidak biasa, justru kesederhanaan rasa masakan mereka yang membuat kangen untuk mencoba lagi saat kembali.

Wajik Peceren
Wajik Peceren

5. Main Layangan di Bukit Kubu
Bermain layangan di Bukit Kubu.
Bermain layangan di Bukit Kubu.

Kalau untuk main layangan, pilihannya pasti di Bukit Kubu. Padang rumputnya yang landai plus cocok untuk berlarian plus angin yang cukup membuat suasana keceriaan sangat terasa di tempat ini. sekadar piknik bersama keluarga atau sahabat juga pasti menyenangkan.

 6. Peternakan Sapi dan Susu Asli
Peternakan Sapi Gundaling Farm
Peternakan Sapi Gundaling Farm

Gundaling Farm, berlokasi di Gundaling Berastagi jadi pilihan untuk melihat secara langsung sapi asutralia penghasil susu, melihat peternakannya dan meminum langsung susu segarnya di tempatnya langsung. Bisa menjadi edukasi juga jika membawa anak kecil. 😀

Tugu Jeruk, pusat kota Berastagi.
Tugu Jeruk, pusat kota Berastagi.
7. Belanja di Pasar Buah

Buah-buahan juga adalah salah satu hasil pertanian terbesar di tanah Karo. Buah-buahan khas seperti Markisa Berastagi, Terong Belanda, Biwa, Kesemek, Pepino adalah buah-buahan yang banyak dijual. Buahnya segar harganya juga lebih miring ketimbang di daerah lain. Pandai-pandai memilih dan menawar juga. Selain buah-buahan, aneka bunga, souvenir, penganan, dan sayuran segar juga dijual di sini.

Pasar Buah Berastagi, belanja buah dan bunga aneka rupa.
Pasar Buah Berastagi, belanja buah dan bunga aneka rupa.
8. Keliling Kota dengan Sado

Selain naik kuda di Gundaling, di pusat kota Berastagi terutama di seputaran pasar, Gundaling dan Pasar Buah, naik sado keliling kota boleh dicoba.

Keliling kota yuk...
Keliling kota yuk…
9. Taman Lumbini

Pagoda tiruan dari negeri pagoda Thailand ini termasuk salah satu yang menarik di Berastagi. Warna kuningnya sangat menarik perhatian. Denting-denting lonceng saat ditiup angina menimbulkan suara-suara yang nyaman. Di tempat ini, selain bisa merasakan kesenduan kuil budha, ketenangan alam dan kenyamanan jiwa.

Salah satu patung di Taman Lumbini
Taman Lumbini

10. Melihat Danau Toba dan Air Terjun Sipiso-piso
View Danau Toba dari Tongging
View Danau Toba dari Tongging

View terbaik Danau Toba dari Tanah Karo bisa dilihat dari Tongging. Selain itu, Air Terjun Sipiso-piso salah satu air terjun penuh keajaiban bisa menjadi destinasi yang layak kamu kunjungi. Check this picture. 😀

The Wonderful Air Terjun Sipiso-piso.
The Wonderful Air Terjun Sipiso-piso.

 

A Sweet Surprise From Georgetown

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Foto oleh Tim Kemanaaja

Pikiran acak tentang Pulau Pinang atau yang lebih dikenal dengan Penang terlintas di kepala saya beberapa saat setelah saya melihat e-mail penawaran tiket murah dari airlines yang sudah menjadi langganan saya untuk bepergian dengan biaya yang murah. Iseng mengecek harga tiket, saya malah tergiur untuk menyambangi kota kecil ini. Bukan untuk berobat, tapi untuk menuntaskan rasa penasaran.

Bicara soal Penang, tidak bisa dipungkiri bahwa mindset orang tentang kota ini adalah tentang orang sakit dan pengobatan. In my sotoy opinion, Penang jarang masuk dalam bucketlist untuk tujuan wisata orang kebanyakan. Katakanlah saya satu dari kebanyakan orang itu. Tapi, siapa sangka, Penang malah memberi saya kejutan manis.

Inilah Georgetown, sebagian kecil Penang yang penuh kejutan itu.

Deretan toko dengan arsitektur tempo dulu di sekitaran Georgetown.
Deretan toko dengan arsitektur tempo dulu di sekitaran Georgetown.

Merayakan warisan leluhur di Georgetown World Heritage Site Celebration

Satu dari beberapa hal yang mengejutkan saya dan teman-teman adalah acara Georgetown World Heritage Site Celebration yang saya baru tahu beberapa hari sebelum kami terbang ke Penang. Ya, perayaan warisan. Setelah saya mencari tahu, perayaan ini hanya terjadi setahun sekali sebagai bentuk rasa bangga orang-orang di Penang atas pengukuhan Georgetown sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO pada tanggal 7 Juli tahun 2008.

Hiasan pada World Heritage Site Celebration di Canon Square, Georgetown.
Hiasan pada World Heritage Site Celebration di Canon Square, Georgetown.

Perayaan ini rutin diadakan setiap tahun setiap tanggal 6 – 7 Juli. Pada tanggal ini, biasanya beberapa Museum atau tempat-tempat bersejarah yang biasanya mengharuskan kita membayar sejumlah tarif masuk, akan membebaskan kita dari biaya-biaya itu khusus selama perayaan warisan. Seluruh penjuru Georgetown akan menjadi warna-warni oleh hiasan-hiasan yang telah disiapkan oleh panitia. Saya dan teman-teman berdecak kagum dan saya sendiri sempat merinding karena totalitas orang-orang Penang dalam menyambut perayaan ini. Jika kalian masih mengira bahwa Penang masih tentang orang berobat, kalian harus mengunjungi Georgetown.

Salah satu gapura Perayaan Warisan di salah satu perempatan jalan di Georgetown.
Salah satu gapura Perayaan Warisan di salah satu perempatan jalan di Georgetown.
Kegiatan menganyam bambu pada World Heritage Site Celebration, Georgetown.
Kegiatan menganyam bambu pada World Heritage Site Celebration, Georgetown.
An Artsy and Walkable Place

Teriknya matahari tidak menyurutkan niat saya dan teman-teman untuk mengitari Georgetown dengan berjalan kaki. Georgetown adalah wilayah yang bersahabat bagi pejalan kaki. Trotoar yang bagus dan bersih serta deretan pertokoan dengan arsitektur yang khas tahun 1800-an memanjakan kaki dan mata. Meski bentuk bangunan yang terkesan sama, tapi setiap sudutnya menceritakan sejarah yang berbeda. Kota ini seperti sedang bercerita tentangan keanggunannya di masa lampau.

Mesjid Kapitan Keling
Mesjid Kapitan Keling, salah satu dari banyak bangunan hasil Akulturasi budaya yang masih kokoh hingga sekarang.

Satu hal yang membuat saya kagum dengan kota ini adalah ketelatenan orang-orangnya dalam menjaga bangunan-bangunan yang berusia ratusan tahun ini. Beberapa bangunan baru dibangun tanpa merusak arsitektur yang lama. Mereka tetap mempertahankan dan berusaha untuk membuat bangunan baru mirip dengan arsitektur bangunan yang lama. Bahkan beberapa sisi bangunan yang sudah mulai rapuh tetap kelihatan artsy dengan gambar-gambar yang sengaja dibuat untuk mempertahankan keindahan bangunan lama itu.

Masih deretan toko yang terjaga arsitektur kunonya.
Masih deretan toko yang terjaga arsitektur kunonya.
Rental sepeda yang banyak ditemui di setiap jalan.
Rental sepeda yang banyak ditemui di setiap jalan. Kalau capek jalan, yuk gowes!
When The Crowd Friends with Peace

Kedamaian itu tidak melulu tentang tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Bagi saya, kedamaian itu tergantung dari masing-masing orang menemukannya. Georgetown memberi saya kedamaian lewat keramaian dan hiruk pikuk kotanya. Lewat orang-orang yang menyapa kami di jalan. Lewat para pedagang street food disepanjang Lebuh Chulia. Lewat orang-orang yang memberi makan burung merpati yang ramai beterbangan di Little India.

Merpati yang banyak beterbangan di Little India.
Merpati yang banyak beterbangan di Little India.

Bagi saya, setiap perjalanan yang saya lakukan memberikan kesenangan dan kedamaian sendiri. Kali ini, Georgetown memberikan kedamaian itu dalam bentuk yang berbeda. Satu hal yang saya ambil dari perjalanan kali ini, memandang sesuatu dari sudut yang berbeda itu akan sangat menyenangkan. Saya bahagia, karena seluruh penjuru Georgetown mengizinkan saya melihat Georgetown dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa Penang bukan sekedar kota untuk berobat dan persinggahan. Georgetown adalah bentuk kecantikan lain dari Malaysia. Inilah sisi damai Malaysia. Inilah Georgetown.

Upacara pemujaan Shri Mariamman.
Upacara pemujaan Shri Mariamman.
Pedagang Jajanan ala India di Little India.
Pedagang Jajanan ala India di Little India.
Getting there

Ada banyak penerbangan langsung ke Penang. Kalian bisa menggunakan penerbangan dengan harga rendah yang tentunya-kalian-sudah-tahu 😀 Untuk bisa sampai ke Georgetown dari Bandara Bayan Lepas kita harus menumpang bus Rapid Penang dengan nomor 403 yang bisa ditunggu di terminal bandara. Dengan hanya membayar RM.2,7,-. Si Rapid Penang ini akan menurunkan kita di Lebuh Armenian. Untuk bisa mencapai pusat keramaian yaitu Love Lane, kita cukup berjalan kaki sekitar 10 menit.

What to do

Jika sedang berada di Penang, sempatkan diri kalian untuk mengunjungi Georgetown dan bangunan-bangunan bersejarahnya. Tidak ada salahnya mengunjungi museum, khususnya bagi pecinta dan penikmat fotografi, Georgetown memiliki Museum Kamera yang pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara. Biaya masuk sekitar RM.20,- untuk umum dan RM.10,- untuk pelajar yang bisa menunjukkan kartu tanda mahasiswa. Jika terlalu malas untuk berjalan kaki, kalian bisa menyewa sepeda yang biasanya banyak terdapat di pinggir jalan atau pertokoan.

When to go

Kapan saja. Kalian bisa mengunjungi Georgetown kapan saja kalian mau. Tapi saya sarankan untuk mengunjungi kota ini di awal Juli sampai akhir Agustus. Akan ada banyak festival dan perayaan lainnya.

Need to try

Jajanan malam di Lebuh Chulia. Akan ada banyak pedagang makanan ringan sampai berat yang mulai berjualan pada pukul 6 Sore. Mulai dari makanan halal sampai non halal semuanya ada. Jangan lewatkan juga kesempatan mencicipi Samosa yang endes di Little India.

Lampung Barat Antara Kopi, Danau, dan Megalitik

Teks & Foto oleh D’Jenni @saragih_diana

Hati-hati ‘mabuk’ kopi di sini. 😉

biji kopi siap jual

 

Lampung Barat. Kabupaten di kaki pulau Sumatra ini bisa jadi belum begitu kesohor sebagai destinasi wisata. Tapi potensi pariwisata daerah ini cukup lengkap. Selain sebagai penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia, semua ada di sini. Mulai dari wisata alam, sejarah, budaya, maupun event tahunan yang diadakan oleh Pemkab Lampung Barat, sebagai upaya untuk menaikkan citra daerah. Dikelilingi pegunungan Bukit Barisan Selatan, Kabupaten Lampung Barat menawarkan cuaca dan udara yang sejuk. Sangat cocok jika disanding dengan secangkir kopi panas. Mau kopi luwak atau kopi organik, kita sudah tiba di sumbernya.

kopi organik biasa disanding dengan pisang sale goreng

Kekayaan ekosistem lembah dan pantai serta kehidupan kemasyarakatannya, memberi banyak pilihan pada pengunjung untuk menikmati perjalanan. Keragaman objek dan daya tarik wisata yang didominasi alam, diperkaya dengan khasanah seni budaya dan kehidupan kemasyarakatan. Ini menjanjikan beragam kombinasi paket atraksi wisata untuk dieksplorasi.

Adat budaya Lampung Barat sangatlah khas, mengingat daerah ini merupakan asal-usul Lampung atau dikenal dengan The Origin of Lampung. Masyarakat sangat menjaga adat istiadat. Di sini kita bisa melihat panorama rumah-rumah panggung besar di kanan kiri jalan menuju ibukota kabupaten, Liwa. Rumah-rumah tersebut terbuat dari kayu dan biasanya dicat berwarna alam.

rumah-rumah tradisional warga Lampung Barat

Melihat ini saja, kita sudah seperti terlempar ke suatu dekade lampau. Sangat jarang kita menemui rumah tradisional yang masih dipakai mayoritas masyarakat suatu daerah. Menurut warga setempat, rumah panggung sebagai tempat tinggal warga sengaja dibangun besar, agar mampu menampung seluruh sanak famili jika ada hajatan di rumah, seperti pesta pernikahan atau acara adat lainnya. Kehadiran kerabat dan jamuan bagi warga desa sangat penting bagi martabat warga Lampung Barat selaku tuan rumah. Sejumlah upacara adat sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Lampung Barat, di antaranya upacara pada saat Menyambut Tamu Agung (Nyambai Agung), Alam Gemisikh, Pengangkatan Raja, Pernikahan.

Nah, bagi yang suka dengan festival budaya, di Lampung Barat terdapat Pesta Sekura yang diadakan setiap hari Lebaran dan Festival Teluk Stabas yang diadakan setiap bulan Juli. Kegiatan pada Festival Teluk Stabas meliputi Arung Jeram, Jelajah Alam, Kebut Wisata Liwa, Layang-layang, Atraksi Damar, Volley Pantai, Kebut Gunung Pesagi, Pacu Kambing, Muayak, Lomba tari Kreasi, Lomba Lagu Daerah, Lomba Muli-Mekhanai. Masyarakat sangat antusias dengan acara tersebut. Sebab, minimnya tempat hiburan di daerah ini membuat acara festival semacam ini sangat ditunggu-tunggu. Pun bagi warga luar Lampung.

panorama alam Danau Ranau

Untuk wisata alam, Lampung Barat memiliki Danau Ranau, Lumbok, yang merupakan danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba. Saat ini kawasan Danau Ranau terbagi menjadi dua bagian kepemilikan daerah yaitu Palembang dan Lampung Barat. Danau Ranau bagian Lampung Barat terletak di desa Lumbok sekitar 24 km dari Liwa, di kelilingi bukit bukit dan Gunung Seminung. Di kawasan masih minim fasilitas hotel dan tempat makan. Hanya ada satu hotel milik pemerintah daerah yang dilengkapi dengan fasilitas ruang rapat, ruang santai serta cottage – cottage yang berciri khas rumah adat yang tersebar di tepi danau.

Untuk rekreasi mengelilingi danau disediakan perahu motor dengan kapasitas lebih kurang 10 orang, dan perahu dayung (jukung) jika ingin lebih santai dan tenang, memandang gagahnya Gunung Seminung di barisan perbukitan di sekitar danau. Atau ingin menikmati gurihnya ikan air tawar khas Danau Ranau, dipanggang atau digoreng? Nikmatnya luar biasa. fresh from the lake.

mayoritas warga Lampung Barat hidup dari bertani

Pesona Danau Ranau tidak sampai di situ saja. Bagi yang ingin massage alam, kita dapat menikmati pemandian air panas alami dari mata air di kaki Gunung Seminung. Biasanya tempat ini akan ramai di akhir pekan atau hari libur. Tempatnya yang tidak begitu luas membuat pengunjung harus datang lebih awal agar kebagian lapak. Tapi jangan khawatir, wisata air tidak hanya stop di danau dan air panas. Di Lampung barat juga terdapat air terjun yang fenomenal, yakni Air Terjun Purajaya setinggi 20 meter, terletak di Desa Purajaya, sekitar 60 km dari Liwa. Ciri khas air terjun ini adalah air yang jatuh bertingkat tiga.

Panorama alam menuju lokasi sangat mempesona, dengan hamparan areal persawahan yang menghijau dengan diselingi tambak. Untuk menuju lokasi tersebut sebaiknya menggunakan sepeda motor dan super hati-hati, karena akses jalannya masih kurang baik dan membutuhkan perhatian pemerintah setempat untuk mengelolanya.

Selain itu, di Lampung Barat juga terdapat situs purbakala yakni peninggalan kuno yang terletak di Desa Purawiwitan, 60 km dari kota Liwa. Artefak berupa komplek Batu Menhir yang tersusun rapi yang diduga merupakan tempat pertemuan dan pemujaan leluhur pada zaman purbakala. Ada juga situs prasejarah Batu Brak, situs prasejarah Batu Jagur, situs Batu Temang Purajaya.

Di kabupaten ini juga terdapat sebuah makam tua yang terletak di Pugung Tampak. Dipercaya merupakan Makam Maha Patih Kerajaan Majapahit yang terkenal yaitu Patih Gajah Mada. Konon dahulu kala kapal yang ditumpangi Patih Gajah Mada tenggelam di perairan Pugung. Begitu tiba di daratan Pugung, Patih Gajah Mada jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di desa itu. Sayangnya, kita belum bisa menemukan literature yang menguatkan legenda ini.

Biji kopi robusta siap panen
Biji kopi robusta siap panen

Tidak mudah menemukan guide untuk menjelaskan seluruh situs-situs sejarah yang begitu banyak di Lampung Barat ini. Kita harus terlebih dahulu meriset literatur sebelum berkunjung ke sini. Saya tidak tahu apakah karena situs-situs purba tersebut belum dilirik sebagai wisata sejarah yang sangat potensial sehingga pengunjungnya masih sangat jarang, atau memang masyarakat kita tidak menganggap situs sejarah itu sebagai suatu perhiasan waktu yang penuh cerita dan pesan. Semoga di tahun-tahun mendatang, situs-situs tersebut masih bisa dijumpai utuh.

Nah, silakan mencoba icip-icip wisata Lampung Barat bersama kopi panasnya ya. (*)