Pesta Kopi Mandiri, Merayakan Kopi di Museum Perkebunan Sumut

Teks & foto: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Minggu ini sebuah event bagi penyuka kopi kembali diadakan. Kali ini Bank Mandiri yang menjadi penyelenggara utamanya. Event yang diberi nama Pesta Kopi Mandiri ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Seperti di Yogyakarta, Jakarta, dan Medan. Keseluruhan acara ini diselenggarakan di museum.

Kompetisi Aeropress

Di Medan, event ini diadakan di Museum Perkebunan Sumatera Utara yang terletak di Jl. Brigjend Katamso, Medan. Acara berlangsung selama 2 hari (19-20 Agustus 2017).

Perayaan kopi diramaikan dengan puluhan tentant coffeeshop, kedai kopi, dan ragam-ragam tenant yang berkaitan dengan kopi. Tidak hanya dari Medan tetapi juga dari Berastagi dan Jakarta. Sebut saja beberapa tenant yang sempat saya kunjungi dalam acara ini. Warung Kopi Wak Noer, Sensuri, Partner 8, Otten, Biji Hitam (Berastagi), Pak RM Kopi Berastagi, Coffee Smith (Jakarta), The Coffeenatics, dll.

Kopi Pak RM Berastagi

 

Partner 8 Team

 

Menyeduh Kopi

 

 

Manual Brew

Para penyuka kopi sayang untuk melewatkan event ini karena selain bisa melihat ragam jenis kopi yang dipamerkan, kamu juga bisa mencicip kopi-kopi yang dibagikan secara gratis di beberapa booth. Seperti di booth Otten Coffee, yang selama acara ini, menyeduh kopi gratis untuk para tamu yang datang.

Keseruan yang bisa kamu saksikan lagi adalah melihat kompetisi para barista yang menyeduh dengan metode aeropress, salah satu metode manual brew menyeduh kopi. 50-an barista bertanding dan menunjukkan kebolehannya dalam event ini. Para barista yang lolos dalam tahap ini akan mengikuti kompetisi selanjutnya di Jakarta. Karena merupakan kompetisi tingkat nasional, para peserta nggak cuma dari Medan saja tetapi dari kota-kota lain di Sumatera. Seru ya…. Hari ini masih ada kelanjutan eventnya. Yuk, ramekan.

Bersiap-siap mengikuti kompetisi

 

“Duel” Barista
Para penyuka kopi

 

Pengunjung dan foodies hits kota Medan. 😀

Kejuaraan Selancar di Pulau Krui, Surga Selancar Baru Dunia

Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Selatan Sumatera semakin mendunia. Hamparan keindahan pantai di Krui kini bukan lagi lokasi wisata, tetapi telah menjelma menjadi surga bagi para peselancar internasional. Krui terpilih menghelat kejuaraan berselancar berskala internasional, bertajuk Krui Pro 2017 World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS). Kompetisi ini terselenggara berkat sinergi antara Pemerintah Daerah Lampung Barat, Kementerian Pariwisata, World Surf League, Asian Surfing Championship, dan Persatuan Selancar Ombak Indonesia.

Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain
Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain

Matahari mulai tenggelam dan gulungan ombak setinggi 4-6 kaki menutup sesi terakhir Krui Pro yang sangat bersejarah. Para pemenang World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS) dinobatkan pertama kalinya di Selatan Sumatera, Indonesia. Kedua pemenang dari kategori pria dan wanita liga internasional ini, Keijiro Nishi (Jepang) dan Lucy Callister (Australia), merupakan pemenang baru di liga WSL QS.

 

Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain
Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain

Lucy Callister menunjukkan kemampuan terbaiknya di antara seluruh peselancar wanita dari Australia dan berhasil mengalahkan Ellie Francis di babak final. Callister dan Francis telah banyak mencuri perhatian selama ajang ini berlangsung, dengan kemampuan kedua peselancar menggunakan tangan bagian belakang mereka untuk menempatkan mereka di babak final. Di babak final, Callister sangat selaras dengan ombak di Krui, yang menempatkan dirinya berada di ombak terbaik dan memperoleh nilai yang tertinggi.

Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain
Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Ini bukan haya kemenangan pertama saya di QS, tetapi ini juga pertama kalinya saya berhasil masuk ke babak final QS dan saya merasa sangat senang,” kata Callister. “Saya hanya memiliki sedikit kesempatan di ajang Junior tahun lalu dan saya tahu bahwa saya harus bekerja keras untuk mendapatkan kesempatan untuk menang. Saya memiliki beberapa hasil buruk di awal tahun ini dan saya sempat merasa ragu terhadap kemampuan saya dalam berselencar dan berlomba. Namun, saya memutuskan untuk mengikuti beberapa ajang QS 1000 untuk memperoleh kepercayaan diri saya kembali dan berhasil. Saya merasa sangat senang dan semangat untuk terus mengikuti ajang ini.

Sebagian besar peselancar datang ke Selatan Sumatera tanpa kehadiran keluarga mereka, namun Callister mengikuti ajang ini sebagai bagian dari acara liburan keluarga dirinya. “Saya juga sangat senang keluarga saya ada disini, kami sampai di Sumatera lebih dahulu untuk liburan keluarga dan ajang ini. Sekarang, saya sangat semangat untuk pulang ke rumah membawa piala, ini adlah liburan terbaik saya. Saya merasa sangat spesial atas kehadiran Ibu, Ayah, Kakak, dan Adik saya di sini,” katanya.

Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain
Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain

Keijiro Nishi dari Jepang berhasil memenangkan WSL QS untuk kategori pria dengan gaya berselancarnya yang unik, kencang, dan keras. Pria yang lucu ini berhasil mencuri perhatian seluruh penonton sepanjang minggu ini. Posisi pertama di babak final diperebutkan oleh Nishi dan Moses Le Grice, namun Nishi berhasil memenangkan babak ini dengan mendapatkan nilai 9.00 di ombak terakhirnya.

Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain
Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Kemenangan ini sangat luar biasa!” seru Nishi. “Kami semua mendapatkan ombak yang bagus di minggu ini, namun ombak terbesar dan terbaik dapat kami rasakan pada saat babak final, kami sangat beruntung. Saya tahu bahwa saya harus menemukan ombak yang terbuka untuk melakukan beberapa putaran besar dan saya mendapatkannya di akhir perlombaan sehingga saya dapat memenangkan pertandingan ini. Saya masih tidak percaya. Saya mencintai Krui, saya akan kembali lagi kesini tahun depan,” katanya lagi.

 

Moses Le Grice berhasil memasuki babak final setelah berhasil mengalahkan Jean Da Silva di babak semi final. Le Grice memulai minggu ini dengan pelan tapi penonton dapat melihat bahwa dia mengalami peningkatan di setiap babak dan dalam setiap ombak yang dia arungi kepercayaan diri Le Grice terus bertambah.

 

“Saya mengalami kesulitan terhadap ombak yang saya arungi di awal-awal ajang ini,” kata Le Grice. “Namun, di babak pertama, saya berusaha tenang dan mencoba untuk bersenang-senang di ajang ini dan kemudian saya baru merasa lebih baik dan mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Krui Pro merupakan ajang yang sangat bagus, kualitas ombak dan berselancar disini sangat tinggi sehingga ketika saya berhasil memasuki babak final hal itu membuat saya semakin percaya diri.

Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain
Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain

Ellie Francis menggunakan kemampuan tangan bagian belakangnya dengan lembut dan kuat untuk membawa dirinya ke babak final, namun mendapatkan dirinya tidak begitu selaras dengan ombak, Francis kehilangan beberapa kesempatan dan pada akhirnya gagal melakukan berbagai aksi yang bagus.

 

“Saya merasa frustasi sudah sampai di babak final tapi kalah karena saya merasa sangat dekat untuk dapat memenangkan ajang ini,” kata Francis. “Namun, saya tetap merasa senang karena kami memperoleh ombak terbaik di ajang ini dan sekarang saya merasa sangat percaya diri untuk turus mengikuti kejuaraan WSL QS,” pungkas Francis. (rel)

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 4)

Teks: Sal Nath/ Foto Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

MEMBAWA PULANG ULAR DARI PASAR SATWA DAN TANAMAN HIAS

Hari itu saya bikin janji dengan Mbak Maya teman dunia maya yang menjadi nyata. Kami ke Pasty alias Pasar Satwa dan Tanaman Hias. Di jalan Bantul KM1. Tempat itu terdiri dari dua area yang terletak bersebrangan. Saya memasuki area satwa dan isinya tentu saja bermacam ragam hewan. Banyak kerajinan sangkar burung dan perlengkapan memelihara hewan. Ada aneka burung, kucing, anjing, monyet, ayam, tupai, reptil, dan kelinci. Lalu saya berhenti sejenak di sebuah toko penuh dengan ular. Saya melihat ada kumpulan ular kurus berwarna hijau terang meliuk-liuk di akuarium kecil dari salah satu pajangannya. Saya iseng meminta ijin untuk mengeluarkan ular tersebut, alhasil saya membawa pulang Ular Pucuk untuk menjadi teman main seminggu. Seharga 30 ribu (saya tawar jadi 20 ribu), Mbak Maysun tidak takut, malah ikut excited karena dia juga penyayang binatang. Teman-teman geleng-geleng saya bermain dengan ular dengan bisa level medium itu. Lucu saja. Kurus, hijau terang, meliuk-liuk. Benar-benar jadi teman bermain saya beberapa hari saat brewok sibuk bekerja.

Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja
Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja

MAKANAN JOGJA? SIAP-SIAP PANIK.

Tidak pusing mencari makan di Jogja. Tidak perlu takut mahal. Sudah tidak asing terdengar bahwa makanan Jogja itu murah meriah dan enak-enak! Suatu malam Brewok mengajak saya ke salah satu cafe (sebenarnya lebih tepat disebut warung makan) yang kata doi termasuk mahal, tapi enak. Wow benar saja, enak-enak! Saya langsung ketagihan, makan disitu hampir tiap hari. Mahal? Tidak. Ikan lele/ayam/cumi/ nila yang goreng/bakar/saus tiram/saus mentega/saus padang/ dll bisa didapati seharga 7 ribu – 13 ribu. Nasi cuma 2 ribu. Minuman ya seperti dimana-mana di Jogja itu 2 ribu sampai 5 ribu. Yah sekali makan agaknya belasan ribu saja paling mahal. Berdua sekitar 20-an ribu saja setiap makan. Eits, belum saya sebutkan namanya, namanya Cafe AngSa (Angkringan Santo) letaknya persis belakang kampus ISI Fakultas Seni Rupa, Jl. Ali Maksun itu lagi. Sebuah warung makan sederhana, banyak mahasiswa /mahasiswi ISI yang selalu nongkrong disitu, buka dari siang sampai pukul 01.00 dini hari. Wajib coba dan hati-hati ketagihan. Ada kucing manja yang selalu mengeong minta makan.

Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!
Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!

Beberapa hari disini, makan di berbagai angkringan dan warung makan, ternyata sering menjumpai sambal bawang disini, pedasnya wow. Saya jarang menemui sambal ini di Medan. Rasanya cocok sekali dengan lidah saya yang suka pedas. Setelah perut kenyang, pulang ditiup-tiup angin malam Jogja yang dingin. Sambil sesekali menegadah ke atas, melihat jernihnya langit, bertabur bintang, saya bersyukur sekali masih ada kota yang nyaman seperti Jogja ini.

PANTAI PARANGTRITIS & SATE KLATHAK IMOGIRI.

Mas Brewok mengajak ke Pantai Parangtritis di suatu sore, perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit saja dari Sewon. Rutenya sangat simpel, hanya lurus dari Jalan Parangtritis ke arah selatan. Masih jalan kota, jalan besar. Melewati Pasar Seni Gabusan, central kerajinan kulit Manding. Memasuki area retribusi, saya pikir kami harus membayar tiket masuk, tapi… Brewok… dengan santainya nyosor masuk melewati pos pembelian tiket. Ups? “Nggak usah bayar kan, pasang saja tampang sangar, percaya diri, jalan lurus, dipikir warga sini toh.” Jjjiiiah Beb, jangan sering-sering yaaa, walau tiket juga mungkin murah saja, kita terkadang juga perlu berpartisipasi mensejahterakan tempat-tempat wisata seperti ini.

Well, saya sempat beberapa kali berujar kenapa tidak tampak tanda-tanda ada pantai, karena pandangan tertutup pohon-pohon, semak belukar dan gumuk pasir, gumuk pasir adalah gurun pasir yang terbentuk dari pasir pantai yang tertiup, jadi kamu bisa berfoto disana seolah di gurun pasir, juga bisa sand-boarding. Lalu suatu ketika, ada celah dimana saya melihat, horizon yang indah! Saya langsung excited. Kami cari tempat parkir dan bergegas menuju pantai. Ada ombak yang tinggi! Ini ombak tinggi yang pertama saya lihat. Beberapa foto dijepret dekat landmark tulisan Pantai Parangtritis.

Kami sadar harus mengisi perut di salah satu warung dekat pantai. Sedihnya, pemandangan sunset tidak sempat kami nikmati lama karena kami terlalu lama di warung makan. Tapi pemandangan sehabis itu masih tidak mengecewakan saya. Indah. Refleksi langit yang jatuh ke pasir yang basah menghipnotis saya.

Selamat datang di Pantai Parangtritis
Selamat datang di Pantai Parangtritis 

Pasir halus memanjakan telapak kaki, angin sepoi-sepoi memancing kami untuk mencicipi wedang ronde yang dijual di tepi pantai itu. Kalau siang hari ada jasa menunggangi kuda di pesisir, tapi karena sudah menjelang malam, mereka sudah pada bubar. Juga ada yang berjualan jajanan seafood seperti udang dan kerang, juga sudah pada pulang. Brewok pernah bilang ini pantai yang ‘biasa-biasa’ saja disana, wah bagi saya ini sudah cukup luar biasa, nggak sabar mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul yang katanya maut sekali indahnya. Langit sudah mulai gelap, pulangnya kami melewati Imogiri, kami singgah ke rumah kawan kami di daerah Sindet. Mas Apriyadi Kusbiantoro, seorang komikus yang sedang naik daun, bukan hanya di negara sendiri tapi di Eropa, dengan komik legendarisnya, Lemuria.

Sunset yang memanjakan mata
Sunset yang memanjakan mata

Selesai ngobrol, kami mulai merasa lapar dan berencana hunting makanan lagi di perjalanan pulang, masih di daerah Imogiri, papan reklame “Sate Klathak” bertebaran sepanjang jalan, disitu memang pusatnya. Karena sate klathak terkenal Pak Pong itu sedang ramai, kami singgah ke warung klathak yang lain. Dua tusuk dengan kuah gulai, satu nasi. Seporsinya 25 ribu. Sejujurnya saya kurang kenyang, hahaha. Ini sate klathak kedua setelah mencicipi klathak pertama kali di pinggir jalan saat bersama Mbak Maya sepulang dari Pasty kemarin, sekitar jalan Parangtritis juga.

Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)
Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)

GEMBIRA LOKA ZOO DAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA DI TAMAN KULINER CONDONGCATUR

Pagi ini kami mengembalikan ular pucukku ke penjualnya di pasar satwa, tadinya mau dilepas atau dihibahkan ke teman, tapi berhubung ular ini beracun medium, takutnya membahayakan masyarakat, juga belum menemukan teman yang berminat memeliharanya. Setelah itu kami ke kebun binatang Gembira Loka, buka dari pukul 08.30 sampai 15.30. Tiket satu orangnya Rp. 20 ribu. Dibekali satu lembar map dan peraturan-peraturan di dalam. Jadi, benar bahwa gosipnya bonbin ini besar dan lengkap. Dari orang utan, harimau, beruang, buaya, macan, ikan-ikan langka, burung unta, dan ada ruang interaksi bebas dengan macam-macam burung. Ada hewan pendatang baru yang digemari masyarakat, Jack si penguin afrika. Ada jadwal show untuk si Jack yakni pukul 09.30 – 13.00 setiap hari, feeding time harimau setiap hari minggu dan libur nasional pukul 12.00. Ada juga jadwal khusus untuk menunggangi kuda, gajah, dan banyak lagi. Ada sarana Bumper Boat, berkeliling menggunakan kapal kecil, perahu kayuh, kolam tangkap, terapi ikan, sepeda sewa dan sirkuit ATV. Juga ada fasilitas mengelilingi rute bonbin dengan Taring, transpor keliling. Kami cukup lelah berjalan dan menelusuri semua sudut bonbin. Syukur ada beberapa warung di ujung perjalanan. Menengak sesuatu yang segar sambil duduk beristirahat memandangi kolam.

Kebun Binatang Gembira Loka
Kebun Binatang Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Lihat di belakang saya ada apa? :D
Lihat di belakang saya ada apa? 😀

Tak lama kemudian kami capsus ke Taman Kuliner Condongcatur. Kebetulan event Festival Kesenian Yogyakarta sedang berlangsung. Di dalamnya kami dapati banyak sekali stand yang berjualan barang-barang kerajinan dan makanan. Di tengah-tengah ada lapangan yang di-instal panggung yang cukup megah. Sebenarnya kami kemari menantikan konser dari teman saya, nama beliau Maz Inung. Sebut saja gitaris Tiga Gunung Lima Lautan. Seorang bapak dengan multi talenta yang sudah mengukir banyak prestasi. Saya belum sempat bertemu dengan beliau selama di Jogja. Hari ini berharap bisa melihat penampilannya dan menyapa walau sebentar. Sempat mengantri lama membeli sebuah jajanan minuman berkemasan dot bayi, kami duduk sambil mengenyot dot, duduk lesehan di tengah lapangan yang sudah ramai. Menonton wayang orang atau ketoprak dalam bahasa jawa, saya salut dengan penampilan mereka yang maksimal sampai akhir. Tepuk tangan meriah dari penonton, menyambut acara selanjutnya.

Pertunjukan kesenian yang memukau hati
Pertunjukan kesenian yang memukau hati

MC memperkenalkan Maz Inung yang berkostum putih ala primitif Amerika, dengan kursi roda dia tidak pernah kehilangan pesonanya. Melantunkan tembang-tembang yang kritis dan penuh motivasi untuk masyarakat jogja, dengan iringan genderang dan dayang-dayang penari. Konser beliau sungguh memukau. Saya dan Brewok segera menyusul beliau setelah penampilannya. Hanya sempat mengobrol sebentar dan beliau segera pamit karena ada urusan lagi. Benar-benar sibuk sekali. Tak lama baru datang kawan kami yang telat hadir, Mas Rangga, seorang pujakesuma (putra jawa kelahiran Sumatra, Medan juga) yang berdomisili di Bantul. Bersama anak dan istrinya yang seorang berkebangsaan Belanda. Well acara sudah habis dan banyak toko yang sudah tutup, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kami mongobrol sambil berdiri, yang akhirnya Brewok olahraga menemani Kenji, anak mereka yang sekitar 3 tahunan, main kejar-kejaran di lapangan, 2 jam. Brewok senang dengan anak kecil. Akhirnya kami pulang dan beristirahat pukul 1 dini hari. Sebenarnya besok pagi-pagi kami akan berangkat ke Semarang…. well… we made a mistake. Or not. What a good night anyway. (to be continued)

Taman Kuliner Congcat
Taman Kuliner Congcat

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 1)

 Teks dan Foto: Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

“Hampir sebulan, kemana aja sih kamu??”

Kemana-mananya sih biar saya ceritakan disini. Mungkin tidak detail-detail setiap tempatnya yah, kalau detail saya bisa sekalian bikin novel, hahaha… Well anggap ini sebagai tips dan info buat teman-teman yang ingin mengunjungi daerah-daerah tersebut. Yang kamu butuhkan adalah, waktu cuti (liburan) yang diatur sedemikian rupa, supaya panjang maksudnya, teman yang lincah bermotor, tempat numpang tidur, persediaan uang saku, satu lagi, energi. Mungkin foto tidak begitu lengkap, saya simpan penderitaan hilangnya kamera mirrorless, mengabadikan semua ini menggunakan kamera hape ‘agak smart’. Tapi saya mengambil video sebagai penggantinya 😀 Enjoy!

THE HECTIC JAKARTA, THE AWESOME GOJEK AND THE POPCON ASIA

Jadi awalnya saya terbang ke Jakarta karena saya dan teman-teman berpartisipasi dalam event Popcon Asia 2015 tanggal 7-9 Agustus 2015 lalu. Bertempat di JCC Senayan. Saya terbang dari Medan tanggal 5 pagi, sampai disana saya dijemput teman dan ‘diletakkan’ di rumah salah satu kenalan saya bertempat di daerah Tebet Timur. Sempat cemas dengan transportasi di Jakarta, karena yang sangat menakutkan di Jakarta adalah traffic dan jauhnya satu tempat ke tempat yang lain. Di tengah kecemasan itu, datang pertolongan-pertolongan tidak terduga. Disana saya bertemu dengan partner alias mas pacaaarr yang juga menumpang di situ. Sebut saja Mas Brewok – bukan nama asli-.

Jadi malam itu saya mencoba aplikasi GoJek karena saya ada janji mau bertemu seorang teman di Pondok Indah Mall, kata teman saya itu jarak dari Tebet Timur ke Pondok Indah Mall tidak jauh (dan ternyata dia salah). Dari pukul 5 sampai pukul 6 sore aplikasinya dodol sekali, mungkin bugs atau apa, tidak merespon saat submit orderan (yang sedang promo 10 ribu kemana saja dengan jarak max 25km) dan baru ter-order pukul 6 lewat, satu jam saya menunggu. Status masih ‘mencari driver’ homaigat saya janji dengan teman saya ini pukul 5 sebenarnya, untunglah dia mengerti keadaan saya dan juga berusaha menenangkan saya yang sudah mau menangis bertemu mumetnya Jakarta. Pukul 7 lewat ada suara motor di depan, ternyata ada GoJek yang menurunkan penumpang di sebelah rumah. Beliau menawarkan untuk dia antar saja, dan meng-cancel orderan yang saya tunggu-tunggu itu. Jadi… ini pertama kalinya saya naik ojek seumur hidup. Sepanjang jalan saya mengobrol dengan beliau. Sebut saja namanya Ami –sepertinya memang nama asli- seorang bapak-bapak berparas umur 40an, sedikit oriental. Saya akui saya cukup tersanjung dengan pemandangan malam itu. Mungkin baru pertama kalinya naik ojek dan berkeliling Jakarta.

 

Jakarta di malam hari. Selamat datang...
Jakarta di malam hari. Selamat datang…

 

Saya sempat bertanya juga ada apa dengan pelayanan GoJek di smartphone itu, “Ya gimana ya bu, Pondok Indah Mall itu kan jauh sekali, Bu, dengan bayaran 10 ribu, mereka ya kalau bisa memilih ya milih yang dekat-dekat saja. Tidak munafik kan, Bu…” “Oh tentu saja,” pikirku. Lagipula para ojekers ngojek kapan saja mereka mau, kebanyakan mereka punya pekerjaan lain, begitu kata Mas Ami. Mas Ami ini ngojek-nya sore sampai malah hari saja. Seharinya bisa dapat Rp.100-150 ribu dari Senin sampai Sabtu. Kalikan saja berapa buat nambahin pemasukan.

Ternyataaa… dari Tebet Timur Dalam ke Pondok Indah Mall itu jauuuuhhhh sekali, bisa bayangkan tidak, 1,5 jam loh, Guys, ongkos yang sudah di-deal-kan tadi di awal adalah, 45 rebu. Goddam*t. Murah ya? Disitu dia meminta saya untuk menyimpan nomor hp-nya supaya bisa dipanggil saat saya butuhkan. He’s nice person. Dan memang, dia sangat membantu saya di Jakarta.

Tiba di toko teman saya di mall tersebut sudah pukul 8.30, mall akan tutup pukul 10 malam. Teman saya mengajak dinner romantis (dia cewe kok hehehe) di Tratoria, restoran Italian. Saya ditraktir sebuah steak tenderloin yang tidak ada dalam buku menu, namanya “Filleto do Manzo”, fillet tenderloin sapi yang diberi saos keju gorgonzola dan madu, that’s sweet. Yang suka manis pasti demen. Tapi, harganya, sepertinya 200 ribu seporsinya. Makan berdua dengan minuman, 560 ribu. Okay, cool. Thanks, Sis atas traktirannya. Saya di antar pulang dengan mobil, berangkat pukul 11 malam sampai di rumah jam 1.30 dini hari. She’s a quite complicated person like me, serasa ketemu kakak sendiri, hahaha. Perfectionist dan rempong. Syukurnya saya lumayan lupa dengan gundah hari itu.

Next Day!

Teman kami dari Semarang yang turut membantu, Febri –pria, nama asli- tiba di Jakarta, dan kami sudah berpesan pada si ojek Ami, untuk menjemput Febri dari stasiun Senen ke JCC. Dia stand by dan tepat waktu. Ongkos? 35 ribu. Kami mulai prepare acara sore itu, berpapasan denga tibanya Febri yang baru saja menempuh perjalanan kereta api 6 jam. Pekerjaan selesai jam 10. Ngomong-ngomong akhirnya kami pindah tumpangan lagi malam itu ke Akademi Samali, daerah jalan Guru Mughni. Karena pemilik rumah di Tebet ada urusan mendadak keluar kota. Aksam adalah sebuah studio/forum/ perpustakaan komik Indie, semacam itulah, isinya alat gambar dan komik. Setelah meminta ijin pada pemiliknya yang ramah dan naik daun sebagai komikus dan kegemarannya pada kopi. Sebut saja namanya mas Beng Rahadian –kali ini sepertinya nama asli- jadi ‘Aksam’ ini sering jadi tempat tumpangan tidur tamu luar kota, tapi ala kadarnya saja, jika beramai-ramai, seperti kemarin itu, tidurnya geletakan bertaburan di lantai. Percayalah, itu mengasikkan sekali. Warteg depan Aksam juga nikmat sekali, itu warteg pertama saya.

Hilang kecemasan saya tentang semerawut kota Jakarta, transportasi ke JCC cukup sederhana dengan TransJakarta, Rp.3.500 per-orang. Asyiknya, kami terasa ramai dan kompak. Memang beramai-ramai. Ada teman baru dari Malaysia. Namanya Zaidi. Temannya Mas Beng yang sedang berlibur ke Jakarta, dan ikut dengan kami kemana saja. Saya, Mas Brewok, Febri, Zaidi, dan beberapa mahasiswa ISI Jogja yang juga buka stand di Popcon, kebetulan sama-sama menginap di Aksam.

Begini kami numpuk di satu  'markas'
Begini kami numpuk di satu ‘markas’
Nikmatin ibukota
Nikmatin ibukota

The Popcon Day

Wow… acara Popcon berlangsung fantastis dan ramai tepat di jalur stand kami. Artist Alley, di tengah-tengah, stand kami di buka sekatnya dengan stand Digidoy dari Medan, stand kami paling cantik dan luas! Pengunjung terus berdatangan, transaksi terus jalan. Sulit bersantai (mungkin saya saja, saya tidak bisa duduk diam kalau sedang ‘jualan’). Banyak master-master gambar mengunjungi kami. Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu teman-teman dunia maya yang sudah berlangsung selama 5-6 tahun ini.

 

The Day. Popcon Day. Stand kami rame.
The Day. Popcon Day. Stand kami rame.

 

Suasana rame di Popcon Day.
Suasana rame di Popcon Day.

 

Selama 3 hari acara berlangsung, tiba di Aksam sudah malam, makan warteg terus, beramai-ramai dan bertukar cerita horor, tidur geletakan (saya mengusai sofa dong, ngomong-ngomong lagi, saya cewe sendiri), penderitaan karena AC yang terlalu ‘sejuk’ (bahasa malaysia dingin : sejuk) dan mengakibatkan kami menderita ‘kesejukan’ hahaha. Banyak kata-kata Malaysia yang terasa janggal di telinga kami dari mulut Zaidi malah jadi bercandaan. Dia juga membaur dengan kegilaan dan kocaknya kami. Walau ada beberapa peristiwa mistik, tetap terasa hangat dan menyenangkan di sana. Sampai pada tanggal 10 Agustus, sehari setelah acara, semua bersiap-siap pulang. Saya dan Brewok meneruskan perjalanan ke Bandung dengan X-trans. Febri pulang ke Semarang naik KA, dan Zaidi ke Bandung naik KA. Over all, Jakarta tasted sweet this time.

 [embedyt] http://www.youtube.com/watch?v=dXqumglMHOA[/embedyt]

BANDUNG, THE NEXT CITY!

Shoot! Terjebak macet karena kami berangkat pukul 2 siang dari Jakarta, tiba di Bandung pukul 7 malam. Harusnya kami ikut ide Zaidi untuk naik KA. Tapi barang bawaan kami sungguh banyak dan berat. Agak sulit menjangkau stasiun, sedangkan pool X-Trans dekat dari Aksam. Tiba di daerah Gatot Subroto Bandung, dijemput mama saya dan keluarga disana, mama kebetulan juga sedang liburan ke Bandung. Dan kami langsung mengisi perut dan tepar. Saya siap untuk Bandung! (to be contiunued)

Rupa-rupa Indonesia di Indonesian Cultural and Nationalism (ICN) Festival 2015

Teks oleh Eka Dalanta @ekadalanta

Speakernya keren-keren
Speakernya keren-keren

Event tahunan yang diadakan oleh Prasetiya Mulya School of Business and Economics ini adalah sebuah event yang dilandasi semangat nasionalisme dan kesadaran serta rasa bangga akan kekayaan budaya Indonesia. Event ini juga selalu mengusung ide-ide kreatif anak-anak muda Indonesia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, event ini diisi dengan berbagai rangkaian acara seru sekaligus menarik dan bermanfaat. Diselenggarakan sejak 27 Mei lalu di Auditorium Prasetiya Mulya School of Business and Economics BSD, food exhibiton mengisi rangkaian acara dengan aneka kuliner unik dank has dari seluruh Indonesia. Ada juga performance dari Teja Sumendra. Rangkaian kegiatan selanjutnya mengajak delegasi anak-anak muda dari 34 provinsi di Indonesia dalam kegiatan ICN Conference yang diadakan pada 28 Mei.

ICN Festival 2015 menghadirkan pembicara-pembicara ternama dalam dua sesi seminar pada 30 Mei 2015. Ada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Anies Baswedan, Andy F. Noya Host Kick Andy Show, Lani Rahayu Marketing Communication Manager Blibli.com, Barry Likumahua seorang musisi dan artpreneur, dan Leonard Theosubrata Founder Indoestri Makerspace. Kalau sedang di Jakarta boleh banget ikuti event ini. For more information: Felicia (081219957277)

Ngobrol Seru Bareng Trinity The Naked Traveler

Teks dan Foto oleh Eka Dalanta @EkaDalanta 

Traveler blogger yang sangat fenomenal ini baru saja mengeluarkan sepasang sandal jepit baru (eh buku deng maksudnya) setelah perjalanan mengelilingi 22 negara selama satu tahun penuh.

Buku ke-10 dan 11-nya ini diberi judul 1 Year Round-the-World Trip Part 1 dan 2. Isinya, pasti dong travelogue atau catatan-catatan perjalanan selama mengelilingi 22 negara bareng sahabatnya, Yasmin. Dan… dalam rangka promosi buku baru ini juga, Trinity menyempatkan diri buat ngobrol dengan pembaca buku-bukunya di beberapa kota, termasuk Medan. Sambil terus membiarkan sosok Yasmin tetap menjadi misteri. *evilgrin *jutekinmbaktrinity

kemanaaja.com setelah acara meet and greet dan book signing beruntung bisa ngobrol dan rekam video pendapat Mbak Trinity tentang kota Medan (video di postingan selanjutnya ya… :D). Ini nih hasil obrolan seru bareng Mbak Trinity di sepanjang acara yang diadakan 13 November lalu di Toko Buku Gramedia Gajah Mada, Medan.

Saat diskusi dengan pembaca TNT
Saat diskusi dengan pembaca TNT

Semua negara punya kesannya masing-masing, tapi Kuba memang luar biasa ya. Negara ini kan diembargo oleh Amerika. Mereka tidak menggunakan dan tidak bisa menggunakan produk-produk buatan Amerika. Kayak gmail, facebook, dll. Untuk email mereka pakai yahoo yang buatan Spanyol. Awalnya ya memang agak seram, satu bulan nggak bisa diakses sama yang lain. Sampai Mama almarhum waktu itu juga minta ke abang saya yang memang kerja sebagai polisi, “Itu coba cari dulu adik kamu ada dimana sekarang…” Kuba memang menyenangkan dan cantik, tapi agak sulit. Karena dunianya terbagi dua antara orang lokal dan turis. Mata uangnya juga dua, turis hanya boleh memakai fasilitas turis. Sehingga agak susah untuk blend in atau gaul.

Orang tua saya nggak apa-apa karena memang sudah menjadi pekerjaan saya. Full time traveler, freelance writer. Lagian rencana jalannya sudah di sounding jauh-jauh hari. Dari tahun 2012 sudah dikasi tau mau jalan-jalan setahun penuh. Paling ditanya aja kayak gini, nanti kamu di sana gimana, uang gimana, ini itu gimana, saya bilang beres. Ya udah mereka nggak perlu khawatir.

Orang tua saya dan orang tua Yasmin dari kami kecil nggak pernah nakut-nakutin. Didikannya yang penting bebas bertanggung jawab. Tapi memang sebelum pergi setahun ini kami sudah siapain surat warisan, eh wasiat. Emangnya gue punya apa yang bisa diwarisin. Hahaha. Semuanya itu kami cc-in ke Ibu dan keluarga. Sampai sedetail itu. Yasmin misalnya kalau dia kenapa-napa nah dia bilang bawa aja ke Islamic Centre terdekat biar nggak ngerepotin. Jadi kita sampai siapin asuransi dan lain sebagainya deh.

Ibu saya baca semua buku-buku saya. Kuncinya sebenarnya biar orang tua nggak terlalu khawatir, kalau jalan jangan cerita yang buruk-buruk. Cerita yang baik-baik saja.

Pasti budgeting. Perjalanan setahun ini juga. Sama aja kayak jalan-jalan biasa seminggu atau dua minggu, budget itu dihitung per hari. Misalnya kayak di Peru, 30 dolar sehari. 10 dolar untuk tinggal, 15 dollar untuk makan dan sisanya ya untuk transportasi dll. Kalau udah kelebihan kita stop dan besok harus hemat lagi. Jangan lupa juga bawa debit card dan kartu kredit, kartu kredit itu penting untuk booking-booking.

Saya nggak perlu hipnotis Yasmin buat ngajak jalan setahun karena memang udah niat jalan-jalan sama. Mencari teman jalan yang pas pasti sulit, pertama, duitnya nggak sama, cutinya juga nggak sama. Yasmin itu adalah satu dari sekian banyak teman yang saling udah tau, berapa rekeningnya juga saya udah tau. Kita berangkat dari jumlah uang yang sama jadi mudah hitungannya. Untuk nemu teman yang kayak gitu butuh proses. Mulai dari zaman kuliah, kerja dan sampai jalan kayak kemarin itu. Nah dia juga pernah nanya, “Kalau misalnya gue nggak ikut, elu jalan nggak?” Saya pasti akan tetap jalan, cuma belum belum tau juga bisa sampe 22 negara atau nggak.

Biar hemat tiap hari kita masak. Kami cari hostel yang perabotnya lengkap dan bisa untuk masak. Jadi kita tinggal belanja di pasar atau super market. Yang masak pasti tetap Yasmin. Hahaha. Perjalanan ini juga bikin kami sadar kalau masakan Indonesia itu ribet banget. Kalau bule seribet-ribetnya paling sandwich atau spaggeti, itupun pake saos tomat kalengan. Kalau kita minimal harus 3 ya, ada nasi, lauk, sayur dan begitu siap masak, wuihhhh peralatannya numpuk sampe yang lain nggak bisa masak nungguin kita. Biar mudah, kami bawa bumbu instan kayak bumbu ayam goreng, sambal pecal, sambal terasi sachet. Yasmin bawa itu sekitar 20 sachet. Ada pengalaman lucu seputar sambel terasi. Terasi itu ternyata bau banget jadi harus nunggu sepi dulu baru masak. Sampe suatu hari, kejadian juga. Kirain udah sepi eh ternyata ada dua bule yang masuk. Mereka bilang gini nih, “Ini kayaknya ada tikus mati deh,” yang satu lagi bilang, “Bukan deh ini kayaknya bau kaki.” Hahaha…

kemanaaja.com dan blogger-blogger Medan yang hadir di acara Meet and Geet bareng Trintiy
kemanaaja.com dan blogger-blogger Medan yang hadir di acara Meet and Geet bareng Trintiy

Makanan paling enak itu di Medan. Taste-nya itu dan nggak pelit bumbu. Mau yang halal nggak halal semuanya enak banget. Pokoknya kalau ke Medan bawa obat anti kolesterol gitu deh.

Pengalaman lucu di Amerika Latin, karena udah bulan ke sepuluh, kami pun mau menghemat belanja. Paling murah di sana itu jeroan, jadi kita beli paket jeroan yang 7000 udah dapat seplastik jeroan, mau bentuknya udah acak kadut ya bodo amat. Rencananya mau beli ati karena mau buat sambel goreng ati. Pas ke pasar pesannya pakai bahasa Spanyol, Corazon yang kami pikir artinya hati. Yang dikasi itu bukannya ati, bentuknya gede banget warna itam, rupanya dikasi jantung. Corazon itu jantung. Ya… karena sense of survival-nya lebih tinggi ketimbang kejijikan tetap dimakan dong…

Orang bilang bahwa perjalanan adalah menemukan diri sendiri, tapi buat aku, aku bisa bilang kalau aku nggak seromantis itu. Buatku traveling is traveling, the great affair is to move. Sepulang berjalan aku malah semakin prihatin sama Indonesia kalau dibandingan sama negara yang kita anggap kecil dan miskin. Ternyata mereka lebih maju terutama soal mental. Mereka mengantri, konsen sama lingkungan hidup, nggak buang sampah sembarangan, kalau belanja mereka nggak sediain kantongan plastic. Perjalanan ngasi kita ‘mata baru’. Aku terinspirasi dari film The Motorcycle Diaries, setelah perjalanan keliling Amerika Latin, Che Guevara itu langsung bikin revolusi. Saya juga, tapi bingung mau revolusi apa di Indonesia. Hehehe…

Kita di Indonesia itu terlalu nyaman di comfort zone yang kadang justru itu jadi ironi. Dalam kekacauan Indonesia kita justru menikmatinya. Semuanya gampang, nyebrang sembarangan, buang sampah sembarangan, mau jungkir balik ya semuanya sesuka hati.

Ngomongin cowok, cowok Italia ganteng tapi gatal. Turki itu ganteng memang tapi gampangan, kalau Brazil, ganteng, ramah, terus hangat, mereka bau testesteron. Aura maskulin dan seksualitasnya menguar. Hahaha… Cuma masalahnya di Brazil bukan cuma cowoknya, cewek-ceweknya juga cakep banget. Mau bersaing jadi nggak pede. Kalau Kuba bedanya lagi mereka benar-benar negara yang tertutup, jadi cowok-cowoknya itu nggak ada pengaruh dari Amerika. Mereka itu cowok-cowok yang orisinal, sedikit kampung, nggak tau merek, berhubung aku penggemar cowok daerah bukan Jakarta atau kota, jadi mereka itu waduhhhh… bener-benar cakepnya bikin bergetar. Cuma mereka agak tertutup, susah bergaul dengan mereka. Justru itu bikin tambah termehek-mehek. Hesteknya gemez, pakai z. Hehehe….

Oh ya aku nggak nulis guide book karena aku itu messy banget, nggak detail. Jadi sebelum memutuskan nulis aku kenali diri sendiri makanya milih jadi penulis cerita pendek tentang perjalanan.

Sesi foto bareng pembaca dan book signing
Sesi foto bareng pembaca dan book signing

Perjalanan memang bikin kita makin kenal sama teman kita. Yang jelek dari Yasmin, Yasmin itu orangnya jutek, benar-benar jutek apalagi kalau lagi PMS. Tapi marahnya ya masih masuk akal. Kadang kalau ada yang isengin, gue tinggal senggol dia aja, jadilah dia marah-marah. Juteknya dia ini dibanding semua kebaikan dan have fun jalan bareng, ketutuplah. Kalau aku, yang paling bikin sebel Yasmin itu, aku orangnya nggak bisa ngitung. Paling payah. Dia kan logis banget anaknya. Dia yang rajin nyatet semua pengeluaran kami. Tiap hitungan pengeluaran, dia pasti langsung bilang, “Nggak bisa ngitung lagi?” sambil mulai deh juteknya. Hahaha…

Saya sering nulis di blog dan social media tentang bagaimana negara yang saya kunjungi mengelola wisata mereka. Aku justru nggak punya koneksi dengan dinas pariwisata apapun di Indonesia. Herannya lagi sampe sekarang aku nggak ada dihubungi sama dinas pariwisata apapun. Padalah aku sering diundang Tourism Board negara asing buat nulis tentang wisata mereka. Aku ngelakuin apa yang aku bisa, semoga didengar. Tapi ya kayaknya seringan dianggap resek. Tantangan paling besar sebagai penulis itu aku kalau nulis tentang Indonesia, ternyata nggak semua bisa dan sudah terbuka. Misalnya dulu aku nulis tentang Gorontalo, aku dihajar habis-habisan sama orang Gorontalo. Mereka bilang, “Enak aja, kantor gubernur kita dikatain warna pink kayak Disneyland.” Lha bukannya bener, kok gue yang dimarahin. Begitupun di Jambi, masuk satu situs di museumnya kita dikunciin, yah mereka marah-marah, bilang itu nggak bener. Sampe sekarang aku juga nggak nulis tentang Medan, Sumatera Utara, dan Danau Toba, mungkin juga karena takut kali ya… hehehe… Orang batak pulak, atut aku. Hehehe… (Hem… gimana pendapat anak Medan? *wink)

Festival Danau Toba 2014, Belum Seluarbiasa Seharusnya

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom & Eka Dalanta @EkaDalanta

*Tulisan tentang FDT 2014 dari penulis juga akan terbit di Majalah Dunia Melancong Edisi Desember

Saya selalu percaya bahwa Danau Toba adalah salah satu keajaiban terbesar untuk pariwisata Sumatera Utara.

View cantik di Balige
View cantik di Balige

Sehingga rasanya sangat pantas sekali Danau Toba dikelola dengan baik, dikemas dengan sangat baik, difasilitasi dengan baik agar dapat dijadikan sebuah destinasi wisata yang tak kehabisan daya tarik.

Begitulah, September lalu, saya dan teman-teman dengan antusias merencanakan perjalanan ke salah satu daerah pinggir Danau Toba, Balige. Kali ini dalam rangka menghadiri Festival Danau Toba 2014. Diadakan pada 17-21 September, festival ini adalah kali kedua diselenggarakan, setelah yang pertama tahun lalu dan dideklarasikan sebagai pengganti Pesta Danau Toba yang dengan anehnya pula tahun ini kembali diselenggarakan di waktu yang bersamaan. Festival Danau Toba 2014 di Balige dan langsung dikoordinasikan dengan pemerintah pusat dan Pesta Danau Toba 2014 di Parapat yang dikelola oleh pemerintah kabupaten. Tumpah tindih yang menurut saya sangat aneh.

Oke, mari kita abaikan sebentar keanehan tersebut. Saya dan 3 orang teman, Andi dari kemanaaja dan 2 orang teman perjalanan lainnya, Melda dan Kak Lolo. Melda adalah teman baik yang juga beberapa kali sudah menulis untuk kemanaaja.com. Iya… Melda si Kribo yang kocak itu. Tapi sekarang dia nggak kribo lagi. He-he-he… Kak Lolo adalah teman Mel, kami baru berkenalan dan perjalanan memang selalu mengajak kita bertemu, berkenalan dan kemudian mempunyai teman-teman baru.

Berempat kami menumpang mobil travel menuju Balige, tuan rumah Festival Danau Toba (FDT) 2014. Balige yang berada di Kabupaten Tobasa adalah salah satu Kabupaten yang mengelilingi Danau Toba. Perjalanan, seperti biasanya, membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam. Jalanannya lumayan bagus sampai kemudian setelah melewati Parapat, jalanan sedikit rusak dan membuat tidak nyaman. Penyelenggaraan event internasional yang tidak didukung infrasturktur yang memadai. Izinkan saya menulis dengan jujur.

Ngomong-ngomong soal infrasturktur pariwisata Danau Toba saya selalu berandai-andai seandainya ada lapangan terbang di Pulau Samosir atau paling tidak sebuah jalan tol menuju Parapat. Sesuatu yang meringkas waktu, menjadikan Danau Toba destinasi akhir pekan yang tak membuat lelah, dan tentu menarik lebih banyak wisatawan. Tapi, ya saya masih berandai-andai saja kok.

Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan
Ceria bersama anak-anak di dermaga tempat pertandingan solu bolon diadakan

Kami sudah tiba di Balige, Balige sangat ramai hari itu. Tempat-tempat yang dijadikan sebagai sentra lokasi FDT juga cukup ramai oleh orang-orang, terutama di Lapangan Sisingamangaraja dan Dermaga. Dua lokasi penyelenggaraan event lainnya adalah TB Silalahi Centre dan Sekolah Del.

Keriuhan sudah tampak dalam kerumunan yang bergembira. Hilir mudik mobil memberikan woro-woro mengundang orang-orang untuk menonton di salah satu titik acara. Berulang-ulang. Mengingatkan dan memudahkan para penonton memilih ingin menonton apa.

Kami menginap di Ompu Herti, salah satu hotel di pinggiran Danau Toba. View-nya memang tak langsung menghadap Danau Toba. Kalau mau duduk menikmati Danau Toba, silahkan bersantai di restoran hotel yang tepat berada di seberang hotel. Di restoran ini, semua tamu hotel bisa menikmati ketenangan Danau Toba sembari menikmati sarapan pagi, bagian dari fasilitas hotel.

Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.
Saya dan teman-teman pejalan lainnya, Mel dan Kak Lolo. Rekan perjalanan yang asik.

Tepat di samping restoran, adalah dermaga yang menjadi salah satu pusat aktivitas FDT 2014, perlombaan Solu Bolon dan renang 1 kilometer.

Sayang memang saya dan teman-teman tidak sempat menyaksikan acara pembukaan. Tapi cerita dari Liston, teman, seorang jurnalis yang sudah sejak hari pertama mengikuti acaranya. Pembukaan diadakan di TB Silalahi Centre dan Lapangan Sisingamangaraja. Ratusan siswa SMA 1 Balige berbaris cantik di sepanjang jalan menuju TB Silalahi Centre sembari membentangkan ulos Sadum, ulos indah dengan warna-warna cerah sepanjang 226 meter. Ada sekitar 210 siswa yang dilibatkan dan membuat kegiatan ini masuk ke dalam rekor MURI sebagai ulos terpanjang. Liston juga cerita kalau ada permainan margalah dan tarian-tarian tradisional dari berbagai suku di Indonesia. Tortor cawan (tarian dengan mangkuk yang diisi air dan dedaunan) yang ditampilkan secara kolosal memberi sentuhan sendiri pada acara pembukaan ini.

Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional
Andi dan para peserta FDT berbusana pakaian tradisional

Masih Kurang Luar Biasa

Ada banyak rangkaian acara lagi yang mengisi FDT 2014. Festival pemilihan penyanyi, pameran tenun tradisional batak, kompetisi solun bolon, lomba renang, lomba arung jeram, fashion show, tari tortor massal, lomba foto landscape Danau Toba, pameran foto, seminar pariwisata dan lain sebagainya.

Solu Bolon, salah satu atraksi kebudayaan yang sudah turun-temurun menjadi salah satu pertunjukan menarik yang ingin saya saksikan. Agendanya jatuh pada hari Sabtu (20/9). Di dermaga, para peserta sudah siap bertanding. Antusias masyarakat tak kalah besarnya dengan para atlet. Teriakan-teriakan pemberian dukungan terdengar membuat riuh. Para atlet terlihat gagah dilatari riak kecil Danau Toba. Gerakan tangan yang serentak mengayuh, ritme yang sangat enak dilihat. Saya penonton yang tekun. Dan Kabupaten Samosir jadi bintang dalam perlombaaan ini. Tiga posisi besar berhasil mereka bawa pulang.

Peserta solu bolon yang semangat buat menang
Peserta solu bolon yang semangat buat menang

Di antara menyaksikan berbagai pertunjukan, pagi harinya, kami masih mengejar matahari pagi dan menikmati jalan berkeliling di pinggiran Danau Toba. Balige lebih menarik dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Kami juga menumpang kapal wisata dari dermaga untuk sekadar berkeliling Danau Toba dan merasakan rambut dan pipi digoda manja angin danau. Sisi Danau Toba di sini tak kalah cantik.

Pohon hariara dan Danau Toba
Pohon hariara dan Danau Toba

Keramaian masih terus bertambah dan belum surut. Apalagi di malam terakhir acara. Di Lapangan Sisingamangaraja, keramaian di luar Lapangan berubah seperti pasar malam. Puluhan pedagang membuka lapak jualan. Aneka mainan anak-anak, makanan, dan entah apalagi yang mungkin orang tertarik untuk membeli. Roda perekonomian berputar. Dan sepertinya cukup kencang malam itu.

Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja
Panggung acara FDT di Lapangan Sisingamangaraja

Di dalam Lapangan Sisingamangaraja, malam itu dua layar besar dibentangkan dan memutar 2 film nasional yang berbeda. Seperti layar tancap. Filmnya cukup menarik tapi sayangnya tak cukup kondusif untuk ditonton. Perhatian terbagi antara mau menonton layar tancap atau melihat performa di atas panggung.

Saya juga tertarik dengan diskusi fotografi dan pameran foto yang diadakan di Lapangan DI Panjaitan. Apalagi teman Kak Lolo, Mas Barry Kusuma menjadi salah satu juri dan pembicara diskusi fotografinya. Kami pun meninggalkan keramaian di Lapangan Sisingamangaraja menuju keramaian lainnya di Lapangan DI Panjaitan.

Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014
Bersama Barry Kusuma, salah satu fotograger travel yang menjadi juri lomba foto landscape pada FDT 2014

Di Sini keramaian tidak terlalu hingar. Puluhan foto peserta lomba dipamerkan dengan pencahayaan yang cukup. Setelah acara diskusi fotografi, anak-anak muda ramai merapat. Ah rupanya Bang Tongam Sirait, musisi Batak yang lagu-lagunya juga menjadi koleksi iPod saya menjadi bintang tamu. Saya, seperti banyak anak muda Batak lainnya sangat antusias. Saya bahagia melihat keriaan anak-anak muda sekaligus lagu-lagu dan cara bernyanyi Bang Tongam yang asyik. Ada semangat dan kebahagiaan saya lihat malam itu.

Sebagai wisatawan lokal, saya sangat menikmati lagu-lagu Bang Tongam, tapi belum dengan keseluruhan kemasan FDT 2014. Diskusi fotografi dengan pembicara berpengalaman seperti kekurangan cahaya. Cahaya listrik dalam arti sesungguhnya. Performa Bang Tongam samar dalam redup cahaya taman. Dan lagi, saya tak melihat banyak tamu luar kota apalagi tamu internasional. Mungkin promosi dan persiapan masih kurang mumpuni. Kalau menurut pikiran sok tau saya, akan lebih baik kalau agenda tahunan ini sudah masuk kalender event jauh-jauh hari dengan paket-paket wisata yang menjanjikan kemudahan sekaligus kebahagiaan. Toh sesungguhnya promo pariwisata kita tak kekurangan biaya ‘kan? Harusnya! Semoga FDT tahun depan bisa lebih baik.

Apa Kata Mereka Tentang Medan?

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

Medan itu ramah, nggak kasar kayak yang dibilang orang-orang!

Sabtu, 08 November lalu, kemanaja diundang oleh The City Hall Club untuk menghadiri event mereka, “Fundrising For Kids With Cancer, Evening Gala Jazz & Fine Arts.” Acara yang disertai dengan makan malam bersama ini diadakan di Gedung The City Hall Club, di Jalan Balai Kota No. 1 Medan.

Acaranya benar-benar santai karena ada pertunjukan musik jazz yang musiknya bikin acara itu nyaman banget. Erucakra dari Waspada E Music adalah musisi jazz yang performa malam itu. Nah, karena acara ini tujuannya untuk penggalangan dana buat anak-anak yang berpenyakit kanker, ada juga pameran foto dari Asosiasi Fotografer Sumatera Utara (AFSU) dan pameran busana dari dua desainer pakaian tradisi, Torang Sitorus dan Erdan. Semua hasil pameran dan donasi dari kegiatan ini akan disalurkan untuk anak-anak berpenyakit kanker melalui Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM).

Pameran busana bagian dari charity.
Pameran busana bagian dari charity.

Tamu dan undangan yang hadir ada dari berbagai lembaga, komunitas, dan instansi. Kemanaaja menanyakan pendapat beberapa tamu dan undangan acara ini tentang kota Medan. Apa pendapat mereka? Check this out!

Justing Heng

Justing Heng, General Manager The City Hall Club
Justing Heng, General Manager The City Hall Club

Saya sudah dua tahun mengenal Medan dan saya sangat menikmati makanannya yang luar biasa dan teman-teman yang ramah dan menyenangkan. Medan punya street food yang luar biasa, kamu bisa makan sate, kamu bisa makan lontong, dan sangat banyak outdoor activity yang bisa dilakukan di Medan. Kamu bisa ke Bukit Lawang yang tak terlalu jauh dari Medan, melihat Orang Utan. Kamu bisa ke Danau Toba dan melihat pulaunya yang cantik, bisa berenang juga di danaunya. Hehehe

Actually, saya sangat enjoy Medan. Kalau saya perlu aktivitas, perlu kegiatan outdoor, saya hanya perlu short drive. Kalau sedang tidak bisa keluar kota, saya juga menikmati kotanya. Lagipula orang-orangnya sangat ramah ya. Saya ke Sun Plaza, Centre Point, saya ketemu dengan orang, say hi, melakukan percakapan, saya bahagia dengan itu. Beda sekali dengan negara asal saya, Singapore itu sangat kota besar, saya bilang Singapore itu adalah hutan belantara, tapi jungle without tree. Hehehe. Di negara asal saya banyak yang harus dilakukan dengan waktu yang tergesa-gesa.

Dameria Hutabarat

Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.
Dameria Hutabarat, malam itu tampil cantik dengan gaun hitam.

Paling rekomendasi buat tamu yang datang ke kota Medan itu adalah heritage-nya. Juga kalau datang ke sebuah kota, termasuk Medan, cek event-event yang ada di Medan. Karena itu orang Medan juga harus kreatif bikin event. Plus diperlukan satu media yang bisa menginfokan keseluruhan event tersebut.

Yang paling disukai dari Medan? Convenient! Kemana-mana cuma 15 menit, makanannya enak, hidupnya itu lebih santai, kalau di kota lain dalam sehari cuma bisa bikin janji cuma di satu atau dua tempat, nah di Medan bisa lebih dari 3.

Erucakra

Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara
Erucakra, musisi jazz yang mengisi acara

Event di Medan? Medan itu kan sudah kota internasional. Artinya akses ke luar negeri itu udah cepat. Harusnya event-event yang dibuat juga bisa menarik para wisatawan. Apalagi Singapura dan Malaysia sangat dekat dengan kita. Undang mereka untuk datang. Medan juga harus buat event yang original, buatan sendiri. Nggak usah ngikut-ngikut Jakarata. Kita serba dekat dengan negara lain, jadi kita lebih potensial. Gampang kok Medan ini disorot sama musisi internasional. Yang penting bagaimana idenya.

Yang paling menarik di Medan, kulinernya. Ada teman saya dari luar kota yang tau banget kuliner nasi padang paling enak di Medan. Lebih tahu dari saya. He-he-he… Ternyata orang dari luar sangat menikmati dan mencari. Tapi kita juga harus melihat lebih jeli mana yang mau kita jual jadi produk pariwisata. Baju-baju kain tenun tradisi misalnya. Itu kan asset pariwisata. Saya baca juga Labuhan dan Belawan itu adalah aset kota tua. Ini kan sangat luar biasa. PR yang harus kita kerjakan.

Rizanul Arifin

Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)
Bang Rizanul Arifin, Ketua Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM)

Kalau ada teman yang datang ke Medan, yang paling saya rekomendasi adalah Makan. Setelah itu, makan lagi. Ha-ha-ha… Di Medan apa aja enak. Mereka bolehlah ke Tanah Karo, ke Sinabung bagus kalau sedang tidak erupsi, terus ke Merek ada pemandangan bagus, Tongging, dan lebih cepat sampe ke Danau Toba. Ada beberapa tempat luar biasa untuk rafting, Sungai Buaya, Sei Bah Bolon, Sei Binge atau yang lainnya. Semuanya aman untuk mengajak keluarga. Kalau mau pulau ada Pulau Berhala misalnya.

Tinggal di kota Medan, sekarang kurang nyaman karena jalanan yang macet. Turis akan susah dengan cara kita berkendara, sebenarnya ini memalukan. Lampu merah dihajar, lampu hijau orang hati-hati. Sudah terbalik. Harus diubahlah kebiasaan ini, kalau nggak nanti jadi rubah.

Paling disukai, saya bisa berangkat kerja siang, jaraknya semuanya dekat. Cuma akses hiburan keluarga dalam kota tak ada, dulu ada Taman Ria sekarang nggak ada apa-apa. Mall itu tidak mendidik dan buat turis juga tidak terlalu menarik. Aku kepengen di Medan ada kayak taman ria dan taman yang nyaman untuk keluarga.

dr. Daniel Irawan

dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.
dr. Daniel Irawan, dokter yang juga pencinta film dan penikmat musik jazz.

Medan itu untuk pariwisata banyak kuliner yang bisa dicoba. Untuk sight seeing, ada Danau Toba. Medan juga akses yang mudah untuk ke Sabang, Aceh. Yang paling harus dicoba adalah duriannya karena durian Medan itu beda. Heritage-nya juga, masih banyak bangunan heritage. Kayak Penang ini bisa jadi keunggulan kota Medan.

Tinggal di Medan, saya suka dengan orang-orangnya yang ramah, kalau ada yang bilang orang Medan itu kasar, kayak yang selama ini kita dengar di luaran, itu nggak benar. Tapi kalau lalu lintasnya masih bermasalah. Turis biasanya ngeluh soal ini.

Liburan ke Medan, Ngapain Aja?

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

“Check Your Calender…”

Liburan nggak melulu tentang melihat keindahan objek wisata dan landscape. Tiap kota juga punya karakteristik dan keunikan objek wisatanya sendiri. Nah, kalau kamu punya rencana liburan ke Medan dalam waktu dekat, bisa ngelakuin apa aja sih?

  1. Wisata Kuliner

kuliner

Woopp… tau dong kalau Medan memang terknal banget dengan kulinernya. Kalau kata teman saya, makanan di Medan itu cuma ada dua. Enak dan enak banget! Hihihi. Ada banyak pilihan tempat kuliner yang wajib kamu coba. Mulai dari wisata kuliner per kawasan seperti Kawasan Jl. Surabaya, Merdeka Walk, Kawasan Jl. Dr. Mansyur, Jl. Halat, duh… masih ada banyak yang lainnya sampai ke tempat-tempat makan tunggal yang udah terkenal enak seperti Soto Sinar Pagi, Tip Top Restaurant, dan Lontong Kak Lin.

  1. Wisata Heritage

heritage

Kalau kita berjalan ke kawasan inti kota Medan, di titik nol kota Medan, kita akan langsung melihat bangunan-bangunan bersejarah peninggalan sejarah perkebunan dan sejarah lainnya kota Medan. Ada beberapa bangunan yang penting untuk kamu kunjungi karena punya sejarah penting kota Medan. Istana Maimoon, Mesjid Raya, Lapangan Merdeka, Kantor Pos Pusat, Bank Indonesia, Kantor Balaikota Lama, Gedung PT. Lonsum, dan Tjong A Fie Mansion untuk menyebut sebagiannya.

  1. Wisata Landscape

landscape

Kalau mau melihat landsekap yang cantik, kamu bisa melarikan diri sekitar satu atau dua jam dari kota Medan. Berastagi atau Bukit Lawang adalah pilihan yang paling mudah. Di Berastagi kamu bisa melihat landsekap pegunungan dan udara yang segar serta berbagai daya tarik pesona alam pegunungan. Nah kalau di Bukit Lawang, kamu bisa menikmati udara hutan lindung Taman Nasional Gunung Leuser sembari melakukan beberapa aktivitas seperti trekking, melihat orang utan, dan tubbing.

  1. Events

aston2

Layaknya kota-kota besar lainnya, di Medan juga banyak event-event yang digelar. Mulai dari event entertainment kayak music pop, rock (Medan suka banget sama rock), event music indie, event fashion, event night life, sampai ke event-event kebudayaan, pendidikan, dan charity.

Nah kalau kamu tertarik dengan perpaduan musik jazz, fashion show, eksibisi dan pelelangan foto untuk charity, di tanggal 8 November nanti bakal ada event Evening Gala Jazz & Fine Arts yang diadakan oleh Aston City Hall Club. Selain bisa bersantai dengar musik jazz, akan ada exebisi dan pelelangan foto dari teman-teman fotografer AFSU. Juga akan dimeriahkan oleh dua designer etnik kondang Torang Sitorus dan Erdan. Semua penjualan tiket dan hasil pelelangan akan disumbangkan untuk membantu adik-adik penderita kanker yang diwakili oleh Yayasan Onkologi Anak Medan (YOAM).

Acaranya bakal digelar di Grand Aston City Hall, City Hall Club Medan dari jam setengah 7 malam. Nggak mahal kok. Dengan tiket Rp. 200.000 sudah termasuk food and beverages, kamu ikut dalam kegiatan amal ini. So, be there, Guys. 😀