SEHARI DI GUNUNG PRAU

Teks dan Foto: Kaleb Sitompul @kalebsitompul

Editor: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Gunung Prau. Pemandangan dari ketinggian.

Mendaki gunung sudah menjadi trend masa kini. Mulai dari pendaki profesional sampai pendaki pemula (kebanyakan anak-anak muda) berlomba-lomba meluangkan waktu menikmati pemandangan dari puncak sebuah gunung. Kali ini, giliran saya dan keempat teman yang mencoba menikmatinya. Tujuan kami adalah sebuah gunung yang terletak di Desa Wisata Dieng, Jawa Tengah. Gunung dengan ketinggian 2565mdpl ini sudah terkenal sebagai gunung yang ‘menjanjikan’ pemandangan alam yang indah.

2 Agustus 2017, saya berangkat pukul 7 malam dari kota Jakarta dengan kereta api dari Stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto. Setelah 4,5 jam menumpang kereta, perjalanan saya lanjutkan dengan jasa ojek menuju shuttle bus menuju Wonosobo. Teman-teman saya sudah menunggu lebih awal di pangkalan bus karena mereka memulai perjalanan dari Kota Bandung. Jam 1 pagi saat itu udara lumayan dingin, untungnya saya sudah menyiapkan topi kupluk dan jaket sebagai penghangat. Sesampainya di Wonosobo pukul setengah 3 pagi, kami langsung beristirahat di rumah salah satu teman yang memang penduduk asli Wonosobo (lumayan ada tempat peristirahatan gratis). He-he-he…

 

Saya dan kawan-kawan, tim pendakian ke Gunung Prau.

PERSIAPAN KE GUNUNG PRAU

Keesokan paginya, saya dan teman teman mengambil alat yang sudah kita pesan sebelumnya di salah satu tempat penyewaan alat camping, Wonosobo Adventure. 2 buah tenda, 1 tas carier (untuk teman saya yang belum mempunyai tas, jadi aman tidak perlu beli), 3 buah matras, 3 buah sleeping bag, 4 tabung gas kecil, 1 kompor, dan 1 nasting untuk memasak. Semua alat sewaan ini biayanya Rp. 200 ribu. Setelah itu kami berbelanja snack, air mineral, dan mie instan untuk persediaan di puncak. Tidak lupa juga obat-obatan seperti obat masuk angin, madu, dan koyo. Bahkan obat pereda sesak nafas juga kami bawa. Arang untuk menyalakan bara dan plastik sampah juga menjadi benda wajib untuk dibawa sebelum mendaki.

 

PERJALANAN KE GUNUNG PRAU

Berhubung jumlah kami yang tidak memungkinkan menggunakan motor, akhirnya pukul 2 siang kami memutuskan menaiki bus jurusan Wonosobo–Dieng. Kami naik dari depan SMA Muhamadiyah Wonosobo. Dengan Rp. 15 ribu dan menempuh waktu 1 jam, saya dan teman teman sudah sampai di gerbang pendakian Gunung Prau via Kali Lembu. Berjalan hampir 10 menit, semua pendaki harus mendaftarkan diri sekaligus membayar tiket masuk wilayah pendakian di basecamp dengan biaya Rp 10 ribu per orang. Peta jalur dan peraturan akan diberikan sebagai panduan bagi para pendaki.

Melewati rumah warga, saya punya kesempatan melihat kehidupan warga kaki gunung yang bergantung pada kegiatan cocok tanam. Keramahan warga kaki gunung Prau sangat saya acungkan jempol. Mereka menyapa dan memberi senyum setiap kali bertemu di perjalanan. Pendakian dimulai pukul 3 sore setelah melewati gapura kayu dengan tulisan “Selamat datang di pendakian Gunung Prau“. Adrenalin saya dan teman-teman semakin terpacu, seolah-olah beban tas dan dinginnya suhu saat itu hilang.

Pepohonan yang menjulang

Ditemani lagu dari ponsel selular tak terasa kami sudah mencapai pos 1. Lelah mulai terasa (maklum kami bukan pendaki professional), akhirnya kami memilih beristirahat sejenak dan mengumpulkan tenaga sebelum mendaki lagi. Medan yang dibalut tanah dan batu membuat perjalanan sedikit mudah namun melelahkan karena tanjakan yang tinggi. Rute perjalanan di tengah hutan membuat suhu dingin semakin terasa. Kabut awan mulai turun setelah saya dan teman-teman mencapai pos 2 “Bukit Pandang”. Sebenarnya pos ini tempat yang apik untuk melihat pemandangan hutan,  namun saat itu tertutup kabut.

Pukul 5 lewat 54 menit. Saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan yang semakin mendaki dan membutuhkan tenaga lebih untuk mencapai pos 3. Pos 3 ini berada dekat dengan menara pemancar. Langit yang semakin gelap membuat saya dan teman-teman harus ekstra hati-hati karena jalur yang dilalui sudah semakin menyempit, ditambah pula angin yang kencang. Sebuah lampu bersinar di bawah pohon yang berjarak hampir 1 km dari posisi kami. Saya dan teman-teman menuju tempat perkemahan di bawah 4 pohon besar. Lokasi yang lebih aman buat mendirikan tenda agar aman dari angin yang sedang bertiup kencang.

Sudah pukul 7 malam. Beruntungnya, ada pendaki yang sudah lebih dahulu sampai. Mereka berbagi nugget ayam dan kopi panas dengan kami (horee… lumayan untuk penghilang rasa lapar).

Kesulitan saat itu adalah harus mendirikan tenda dengan penerangan minim, angin kencang, serta suhu yang seolah-olah membuat tangan dan kaki mati rasa. ‘Bergelut’ hampir setengah jam demi mendirikan 2 buah tenda, akhirnya selesai dan kami bisa menghangatkan diri. Saatnya menyantap makan malam ayam goreng dan nasi yang kami bawa dari Wonosobo.

Camping Ground di Gunung Prau

Pukul setengah 9 malam, tanpa keinginan lain, kami langsung beristirahat di dalam tenda. Sebenarnya tidur saya malam itu kurang tenang. Kaos kaki berjumlah 2 lapis serta kaos yang saya lapig juga, tidak berhasil mengalahkan dinginnya malam. Suara tenda yang menderu karena angin kencang serta dingin yang benar-benar terasa sampai ke tulang membuat saya terbangun, tidur lago, terbangun dan tidur lagi. Seperti siklus yang membosankan.

PAGI DI GUNUNG PRAU

Pukul 4 pagi, teman saya mengajak memotret bintang. Rasa ngantuk saya hilang begitu melihat ribuan bintang di langit Prau. Meskipun suhu benar-benar membuat tangan dan kaki mati rasa, tapi usaha memotret bintang menahan saya berada di atas area landai tanpa pohon. Pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing semakin terlihat saat matahari mulai bersinar dari balik awan. Seolah ‘Indah’ pun tak sanggup mewakili pemandangan yang saya saksikan pagi itu. Tapi udara dingin yang membuat tangan dan kaki hampir mati rasa, kami pun terpaksa menyerah. Kami memutuskan kembali ke tenda dan menghangatkan tubuh di bara api. Sambil memasak kopi, saya dan teman-teman menikmati sunrise dari depan tenda.

Memotret bintang
Jalan Setapak di Bukit Teletubbies

Pukul 7 pagi, saya dan teman-teman menikmati ketenangan hamparan rumput di savanna, tak jauh dari tenda. Kenarsisan pun mendadak meningkat. Hampir satu jam kami habiskan untuk berlari dan berfoto di hamparan rumput luas ini. Ha-ha-ha…

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan jika berkunjung ke gunung ini, Bukit Teletubbies. Diberi nama Bukit karena mirip dengan bukit di serial anak Teletubbies. Dari atas sini, kita bisa melihat rumah penduduk, telaga warna, serta gunung-gunung yang ada di sekitar Prau. Awan yang menyelimuti pemandangan ke bawah menandakan saya sedang berada di atas awan.

Bunga-bunga rumput cantik di Prau

 

Teman naik gunung

TURUN DARI GUNUNG PRAU

Pukul 11.48 siang, tenda dan sampah telah kami simpan. Kami sudah bersiap-siap turun. Beban tak lagi seberat mendaki gunung kemarin. Tapi rasa berat justru terletak pada kaki yang harus menahan tas carier dan jalan yang lumayan licin karena tanah lembab di pagi hari. Perjalanan turun membutuhkan waktu sekitar 1 jam dan langsung sampai di basecamp awal pendakian. Saya dan teman-teman beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan kembali ke Wonosobo dengan menggunakan bus Dieng–Wonsobo. Kali ini, kami sedikit melakukan tawar-menawar. Lumayan Rp. 12 ribu per orang tiba di Wonosobo dengan selamat (lumayan anak kos). He-he-he…

Perbukitan

 

Kejuaraan Selancar di Pulau Krui, Surga Selancar Baru Dunia

Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Selatan Sumatera semakin mendunia. Hamparan keindahan pantai di Krui kini bukan lagi lokasi wisata, tetapi telah menjelma menjadi surga bagi para peselancar internasional. Krui terpilih menghelat kejuaraan berselancar berskala internasional, bertajuk Krui Pro 2017 World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS). Kompetisi ini terselenggara berkat sinergi antara Pemerintah Daerah Lampung Barat, Kementerian Pariwisata, World Surf League, Asian Surfing Championship, dan Persatuan Selancar Ombak Indonesia.

Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain
Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain

Matahari mulai tenggelam dan gulungan ombak setinggi 4-6 kaki menutup sesi terakhir Krui Pro yang sangat bersejarah. Para pemenang World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS) dinobatkan pertama kalinya di Selatan Sumatera, Indonesia. Kedua pemenang dari kategori pria dan wanita liga internasional ini, Keijiro Nishi (Jepang) dan Lucy Callister (Australia), merupakan pemenang baru di liga WSL QS.

 

Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain
Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain

Lucy Callister menunjukkan kemampuan terbaiknya di antara seluruh peselancar wanita dari Australia dan berhasil mengalahkan Ellie Francis di babak final. Callister dan Francis telah banyak mencuri perhatian selama ajang ini berlangsung, dengan kemampuan kedua peselancar menggunakan tangan bagian belakang mereka untuk menempatkan mereka di babak final. Di babak final, Callister sangat selaras dengan ombak di Krui, yang menempatkan dirinya berada di ombak terbaik dan memperoleh nilai yang tertinggi.

Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain
Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Ini bukan haya kemenangan pertama saya di QS, tetapi ini juga pertama kalinya saya berhasil masuk ke babak final QS dan saya merasa sangat senang,” kata Callister. “Saya hanya memiliki sedikit kesempatan di ajang Junior tahun lalu dan saya tahu bahwa saya harus bekerja keras untuk mendapatkan kesempatan untuk menang. Saya memiliki beberapa hasil buruk di awal tahun ini dan saya sempat merasa ragu terhadap kemampuan saya dalam berselencar dan berlomba. Namun, saya memutuskan untuk mengikuti beberapa ajang QS 1000 untuk memperoleh kepercayaan diri saya kembali dan berhasil. Saya merasa sangat senang dan semangat untuk terus mengikuti ajang ini.

Sebagian besar peselancar datang ke Selatan Sumatera tanpa kehadiran keluarga mereka, namun Callister mengikuti ajang ini sebagai bagian dari acara liburan keluarga dirinya. “Saya juga sangat senang keluarga saya ada disini, kami sampai di Sumatera lebih dahulu untuk liburan keluarga dan ajang ini. Sekarang, saya sangat semangat untuk pulang ke rumah membawa piala, ini adlah liburan terbaik saya. Saya merasa sangat spesial atas kehadiran Ibu, Ayah, Kakak, dan Adik saya di sini,” katanya.

Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain
Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain

Keijiro Nishi dari Jepang berhasil memenangkan WSL QS untuk kategori pria dengan gaya berselancarnya yang unik, kencang, dan keras. Pria yang lucu ini berhasil mencuri perhatian seluruh penonton sepanjang minggu ini. Posisi pertama di babak final diperebutkan oleh Nishi dan Moses Le Grice, namun Nishi berhasil memenangkan babak ini dengan mendapatkan nilai 9.00 di ombak terakhirnya.

Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain
Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Kemenangan ini sangat luar biasa!” seru Nishi. “Kami semua mendapatkan ombak yang bagus di minggu ini, namun ombak terbesar dan terbaik dapat kami rasakan pada saat babak final, kami sangat beruntung. Saya tahu bahwa saya harus menemukan ombak yang terbuka untuk melakukan beberapa putaran besar dan saya mendapatkannya di akhir perlombaan sehingga saya dapat memenangkan pertandingan ini. Saya masih tidak percaya. Saya mencintai Krui, saya akan kembali lagi kesini tahun depan,” katanya lagi.

 

Moses Le Grice berhasil memasuki babak final setelah berhasil mengalahkan Jean Da Silva di babak semi final. Le Grice memulai minggu ini dengan pelan tapi penonton dapat melihat bahwa dia mengalami peningkatan di setiap babak dan dalam setiap ombak yang dia arungi kepercayaan diri Le Grice terus bertambah.

 

“Saya mengalami kesulitan terhadap ombak yang saya arungi di awal-awal ajang ini,” kata Le Grice. “Namun, di babak pertama, saya berusaha tenang dan mencoba untuk bersenang-senang di ajang ini dan kemudian saya baru merasa lebih baik dan mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Krui Pro merupakan ajang yang sangat bagus, kualitas ombak dan berselancar disini sangat tinggi sehingga ketika saya berhasil memasuki babak final hal itu membuat saya semakin percaya diri.

Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain
Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain

Ellie Francis menggunakan kemampuan tangan bagian belakangnya dengan lembut dan kuat untuk membawa dirinya ke babak final, namun mendapatkan dirinya tidak begitu selaras dengan ombak, Francis kehilangan beberapa kesempatan dan pada akhirnya gagal melakukan berbagai aksi yang bagus.

 

“Saya merasa frustasi sudah sampai di babak final tapi kalah karena saya merasa sangat dekat untuk dapat memenangkan ajang ini,” kata Francis. “Namun, saya tetap merasa senang karena kami memperoleh ombak terbaik di ajang ini dan sekarang saya merasa sangat percaya diri untuk turus mengikuti kejuaraan WSL QS,” pungkas Francis. (rel)

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 6- END)

Teks: Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

UNPREPARED ADVENTURE TO ‘PANTAI LAUT SELATAN’.

Semoga kalian masih betah membaca perjalanan saya keliling Jawa. Ini adalah bagian akhir dari rangkaian tulisan perjalanan sebulan keliling Jawan. Setelah beristirahat satu hari, Brewok rencananya mau menguber kerjaan yang menumpuk dulu selama beberapa hari sebelum jalan-jalan lagi.

Siang itu kami makan siang di angkringan dekat ISI, nasi dan sayur ambil sepuasnya, seperti biasa. Yang dihitung hanya lauk, saya ambil sate usus dan bakso. Harganya? Masih di bawah 10 ribu. Jadi saat kami makan, Brewok menerima whatsapp dari Andrew, si kawan bule. Dia ‘otw’ ke Wonosari, menuju Pantai Selatan, dan besok dia akan terbang ke luar negeri. Dari kemarin-kemarin kami sudah berencana untuk ke Wonosari bareng-bareng. Tapi sering kali bentrok dengan jadwal saya dan Brewok mau pergi, hari ini juga, rencananya kami mau fokus berkarya saja di rumah. Sambil mengunyah, kami berdiskusi apakah bisa menyusul hari ini. Brewok harus bertanggung jawab dengan jadwal kerjanya sendiri, harus bisa menyelesaikannya tepat waktu walau hari ini berangkat. Jadilah kami berangkat mendadak, langsung setelah makan siang. Tanpa persiapan apa-apa. Jam menunjukkan pukul 12 siang, juga menghindari pulang terlalu malam.

Jalannya sungguh stressful bagi saya. Lagi-lagi naik turun terjal dan belok-belok curam, saya mual lagi. Melintasi Imogiri, Gua Maria Tritis. Memakan waktu hampir 3 jam. Mendekati pos penjualan tiket menuju tempat wisata pantai-pantai, kami dicegat saat Brewok mau melewati loket hohoho. Brewok menyebutkan nama villa milik temannya (yang memang benar adanya) seolah kami ada kepentingan dengan pemiliknya/tempat tersebut, kami dibebaskan lagi dari tiket masuk.

PANTAI INDRAYANTI
Kami tiba di Pantai Indrayanti, dari pos retribusi tadi ke pantai lumayan jauh juga, memakan waktu 20 menitan. Ada banyak pantai yang bisa dipilih di situ, Brewok lebih kenal Pantai Indrayanti. Dan sinyal hape ternyata tenggelam. Tidak bisa menghubungi Andrew, tadi sudah janjian di Pantai Indrayanti. Andrew melalui jalur kota yang lebih jauh, kami melalui rute lebih pendek. Harusnya dia sudah tiba. Kami jalan menuju pantai dulu. Ohh saya benar-benar terpesona dengan pemandangannya. Hamparan ombak yang lebih tinggi dan kencang daripada yang saya lihat di Pantai Parangtritis, batu karang di pesisir, menghipnotis saya beberapa menit menikmatinya dari jauh, sebelum saya perlahan menginjakkan kaki dia atas bebatuan karang yang berwarna hijau dan coklat karena tertutup lumut dan tanaman laut lainnya. Anehnya tidak licin, saya mengamati dari dekat, banyak makhluk-makhluk laut! Antara geli dan penasaran, kami menyentuh satu persatu, ada makhluk seperti siput tanpa cangkang, warnanya hijau kecoklatan. Kamuflase di antara baru karang, tersamar sekali, dan ternyata banyak jumlahnya, saya jadi berhati-hati berjalan. Ada juga bintang laut tapi kaki-kakinya berduri halus, Brewok iseng menarik mereka keluar dari sarang (don’t try this).

Berjalan menyusuri pantai
Berjalan menyusuri pantai
Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Ada bintang laut
Ada bintang laut

Saya berlari-lari di pasir putih halusnya, mengejar kepiting kecil berwarna putih yang terbang tertiup angin, saya senang sekali, saya tersungkur bermain dengan segala sesuatu di pantai itu! Rupanya brewok sudah jauh berjalan ke arah salah satu sisi, saya menyusul, sampai salah satu ujung, di dekat bebatuan karang besar, ada mas-mas yang memancing ikan, ada ikan-ikan kecil terlihat di air jernih itu, tetapi mereka sungguh lincah, jangan harap untuk menangkapnya. Lalu kami mulai mencari Andrew. Selangkah demi selangkah kami telusuri perjalanan hingga ke pantai sebelahnya, lalu keluar sampai ke area parkiran, tidak ketemu juga, sambil mencoba memghubungi terus. Lalu saat nyaris putus asa dan berjalan kembali ke motor kami, Andrew lewat naik motor, akhirnya kami bertemu. Dia habis dari pantai yang lain. Lalu brewok mengusulkan untuk mengunjungi satu pantai lagi, yakni Pantai Wediombo, pantai yang ada kolam alaminya di antara batu karang. Jaraknya masih sekitar 10 km lagi. Saya ikut saja.

Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Cakep
Cakep

PANTAI WEDIOMBO & INSIDEN KECIL YANG JADI PELAJARAN

Sesampainya di Wediombo, saya masih dipertemukan dengan lautan yang lebih menderu-deru ombaknya, bebatuan indah bersusun, jam menunjukkan pukul 3. Saya memotret pemandangan, Brewok dan Andrew jalan duluan sambil mengobrol. Saya ketinggalan jauh sekali, mungkin karena kaki saya pendek juga, atau saya terlalu menikmati indahnya goresan Sang Pencipta ini.

Pantai Wediombo
Pantai Wediombo

Foto 76-wediombo (3)

Saya tidak tau sampai seberapa berjalan, mereka menghilang di balik bebatuan. Karena saya mulai sibuk merekam video saat posisi dekat sekali dengan ombak. Beberapa langkah menaiki bebatuan besar, sampailah saya di sebuah kolam yang terbentuk di tengah bebatuan. Kolam kecil dan dangkal, terisi air laut sedada. Ada beberapa pengunjung juga yang sedang berenang, ber-selfie ria di atas batu karang, ada juga yang duduk menunggu. Brewok dan Andrew memanjat ke sebuah batu yang tinggi, tiba-tiba mereka berteriak, saya sampai kaget. Rupanya kena cipratan ombak yang membentur dinding batu tersebut. Pakaian mereka sedikit basah. Lalu Brewok melepaskan kaosnya dan berenang di kolam. Sedangkan Andrew berjalan jauh ke ujung lagi untuk merekam video. Saya juga mengeksplor memanjat ke batu yang tinggi walau saya sebenarnya takut. Saya merasa tempat ini berbahaya sekali. Saya merekam dari batu yang tertinggi, tiba-tiba ombak menghantam dan saya terkena cipratannya sedikit. Saya kaget sekali dan berpegangan kuat pada batu. Saya merekam sebentar lagi lalu turun, melanjutkan merekam ombak di teluk kecil di bawahnya, di samping kolam. Lalu saya menghentikan rekaman dan memperhatikan.

 Foto 77-wediombo (4)

Ombak di teluk kecil itu makin lama makin tinggi. Sepertinya mulai pasang. Ada orang yang masih bermain di atas bebatuan, saya takut ombak yang lebih kuat menghantam. Benar saja, tiba-tiba ombak yang sangat tinggi datang, yang tadinya hanya cipratan, menguyur kuat mereka, dua pemuda itu jatuh tergelincir dari batu, menuju kolam, kolam yang mendadak dalam karena volume air yang bertambah. Mereka kelihatan panik, struggle untuk meraih darat dan kemudian berhasil naik, bersiap-siap pergi dari situ. Saya, Brewok, dan Andrew juga bergegas kembali karena air mulai pasang. Kami menemui rombongan tadi tak jauh dari sana, seorang pemuda duduk berlumuran darah di kaki, betis, dan bokong. Tangan sebelah kanannya luka parah. Darahnya bercampur dengan air laut di atas batu. Dia mengigil karena shock dan kedinginan. Saya menawarkan dia memakai sweater Andrew. Seorang pemuda dari rombongan lain bersama Andrew membopongnya. 3 rombongan yang tak saling kenal dalam satu tempat tadi akhirnya berjalan bersama. Satu temannya yang juga terjatuh, tidak mengalami luka parah, hanya sedikit lecet di tangan dan kaki. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat karena jalan cukup jauh dan dia masih kesakitan. Dia sudah beruntung, tidak mengenai kepala. Jika tadi mengenai kepala, bisa berakibat kematian.

Saya sudah takut sekali saat kejadian itu. Memang lautan itu tidak boleh untuk bermain-main, mereka sudah dinasehati warga setempat agar jangan bermain terlalu lama disitu karena sudah mau pasang. Apalagi konon katanya Pantai Laut Selatan ini punya cerita mistik yang kental. Sampai di warung tepi pantai, kami basuh lukanya dengan air hangat, sembari menenangkan diri. 3 rombongan ini jadi saling berkenalan dan mengobrol. Si korban ini, asalnya jakarta. Sedang liburan di Jogja. Mereka mungkin tidak bisa melanjutkan liburan selanjutnya.

Cukup menenangkan diri, hari sudah cukup gelap. Mereka ijin pulang. Saya, Brewok, dan Andrew kelaparan. Kami makan di warung itu. Seporsi ikan nila bakar dengan satu dandang nasi yang bisa buat berdua, daaannn sambal bawangnya enak! dihargai 25 ribu. Cukup memuaskan. Kami melihat ada api dari bawah, dekat pesisir. Selesai makan kami bergegas kesitu. Kami pikir api unggun, rupanya itu sampah yang dibakar, yasudah kami sekalian menghangatkan diri sebentar sambil menatap langit. Bertabur bintang dan bulannya penuh, terang, dan besar. Indah sekali. Saya rasa saya tidak punya kesempatan untuk melihat milkyway liburan kali ini, padahal sudah berharap ada kesempatan. Jam menunjukkan pukul 6.30 saja. Tapi sudah terasa seperti jam 9 malam. Duduk-duduk sebentar dan kami diberitahu penjaga warung akan mematikan lampu warung. Wow… ternyata satu pantai sudah gelap semua. Kami bergegas pulang. Parkiran juga hanya tinggal dua motor kami.

WHAT A LOVE-HATE ROAD TO GO BACK

Keluar dari area pantai, jalur stresful tadi lebih stresful lagi kali ini. Gelap gulita! Tidak ada lampu jalan. Saya sudah teler saja. Sekitar setengah jam perjalanan, ternyata ban bocor. Kami harus cari tambal ban malam-malam, di tengah kegelapan, di desa kecil itu. Kami temui satu tambal ban, tidak ada orangnya, Brewok mengetuk pintu rumahnya. Syukurlah masnya ada, tapi menunggu dia selesai makan. Padahal selesai dia makan dia berencana pergi. Beruntung kami tidak terlambat mendatanginya. Kami dipersilakan duduk di terasnya oleh mbaknya. Mungkin istrinya. Saya permisi menggunakan kamar kecil. Kamar kecilnya tidak kecil, ada kolam besar berisi air. Seperti kolam pemandian. Hahaha. Lalu saya baru diberitahu mereka sulit air. Jadi air itu ditampung. Tak lama setelah kami duduk, mbaknya keluar membawa tiga gelas teh hangat dan satu toples krupuk. Kami tersentuh sekaliii. Ya ampun, jadi tidak enak hati.

Menunggu ban sepeda motor ditambal
Menunggu ban sepeda motor ditambal

Sungguh keramahan yang diberikan disini menghangatkan hati. Di keadaan dingin dan panik seperti ini. Tehnya nikmat sekali. Sekitar setengah jam sampai selesai pengerjaan bannya, kami berangkat pulang. Beberapa saat setelah itu saya mau buang air kecil lagi, juga kedinginan, singgah ke kantor polisi untuk pinjam toilet, berujung ngobrol dengan beberapa polisi, lalu bergerak lagi. Kembali melewati Imogiri, Andrew mau duluan karena harus packing dan berangkat pagi-pagi. Kami mau cari sate klathak lagi, hehehe, untuk ketiga kalinya. Sate klathak Pak Pong yang di pasar. Ramai sekali. Tempatnya adalah pasar tradisional yang beroperasi pagi-siang hari, jika malam tutup dan Sate Pak Pong ini beraksi. Lesehan beralaskan tikar, agak gelap. Nikmatnya tetap nomor satu. Tidak lama-lama, kami beranjak dan membayar seharga 50 ribu untuk dua porsi. Sampai di rumah pukul 11 malam. Tepar lagi.

DINNER KURANG ROMANTIS

Sore ini mau dinner romantis di resto Rosella Easy Dining di Sleman, agak jauh tapi sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Sekitar 30 menit dari Sewon, mencari-cari… menerka-nerka… saya mengetahui resto ini dari artikel yang saya baca sebelum ke Jawa. Link artikelnya: www.qraved.com/journal/restaurants/12-restoran-di-jogja-yang-harus-banget-kamu-coba/

Sebuah resto pinggir sawah dengan setting romantis. Jalan Kabupaten KM. 5, Sleman. Jalan Kabupaten lumayan panjang, kami menelusuri sampai ujung yang mendekati Ringroad Utara. Akhirnya ketemu… tapi. kok. sepi. tidak ada tanda-tanda kehidupan, saya mengintip ke dalam, memang setting yang romantis, di pinggir sawah. Tiba-tiba saya ditegur oleh tetangga di situ bahwa mereka tutup hari ini, tidak biasanya. Saya patah hati sekali, kecewa. Kami kembali, di jalan Kabupaten tadi kami melihat satu resto yang nggak kalah romantis. Dikelilingi kolam atau sungai kecil. Dengan remang-remang lampu kuning dan lilin-lilin. Tapi tutup juga, entah hari spesial apa saat itu. Lalu kami kembali ke daerah Sewon. Sesuai artikel, masih ada resto yang menarik hati selain Rosella. Kami ke jalan Tirtodipuran, mencari Mediterranea Restaurant. Sesampainya di dalam, penuh dengan turis barat. 90%nya turis barat. Saya memesan Duck Confit (steak bebek) seharga 67 ribu dan brewok memesan Beef Carpacio (irisan daging sapi yang ternyata setengah matang) seharga 55 ribu. Lalu saya tambah pasta Penne Tuna & Spinach seharga 50an ribu. Minum Ice Lime 12 ribu dan Matcha Latte 28 ribu.

Dinner yang butuh perjuangan
Dinner yang butuh perjuangan

Saya puas sekali dengan pesanan saya, daging bebeknya empuk dan gurih. Ada salad dan wedges kentang yang disajikan bersama keju dan krim. Cukup kenyang buat satu orang, bahkan bisa buat berdua. Sedangnya pesanan Brewok, Beef Carpacionya, agak mengecewakan, tidak sesuai selera kami, itu juga hanya sebagai makanan pembuka. Disajikan sepertinya setengah matang dan dingin, dan diberi asam. Tapi habis juga kami santap. Pasta Pennenya lumayan lezat, wangi. Kami duduk juga tidak lama, sampai disana saja sudah hampir pukul 10. Resto ini beroperasi pukul 11 pagi sampai 11 malam, tutup setiap hari Senin. Saat membayar, semua makanan tersebut dihargai 220 ribu. Dan tidak ada Ppn! Semua harga makanan & minuman sudah termasuk pajak dll. Saya acungi 4 jempol dari 5 jempol saya untuk resto ini. Kenyang perut, saatnya pulang dan beristirahat. Worthed untuk memperoleh buncit besok pagi. Oh ya, saya diundang Mbak Maya untuk bakar Sate Klathak besok pagi di rumahnya di Kaliurang. Jam 7 pagi, duh?! Pagi sekali.

HOMEMADE SATE KLATHAK (PART 4) DAN ICIP-ICIP KUE DI CINEMA BAKERY

Mbak Maya benar-benar menjemput saya jam 7 pagi, sampai di rumahnya di Kaliurang jam 8. Bersama satu teman Mbak Maya dari Tasikmalaya, Mbak Vina, kami bertiga langsung beraksi di dapur. Dibantu ayahnya Mbak Maya, kami memotong-motong daging domba muda, menusukkan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Dibakar oleh ayahnya Mbak Maya. Kira-kira kami dapati 35 tusuk. Habis kami santap berempat, diteras rumah Mbak May, digelar tikar, ada kolam dan banyak tanaman. Duh saya betah sekali dengan suasana-suasana seperti ini. Saya makin sedih menjelang pulang.

Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya
Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya

Yuk makan sate klathak
Yuk makan sate klathak

Jam 1 siangnya saya ada janji makan siang dengan Brewok dan temannya di dekat XXI Empire, Resto Platers. Saya diantar Mbak May lagi. Duh saya merepotkan Mbak Maya sekali, jauh dari rumahnya. Saya hanya beri hadiah kuping-kupingan kucing yang dia sukai dari Popcon Asia di Jakarta kemarin. Selesai makan siang dan chit-chat sebentar, saya dan Brewok mau nonton bioskop di XXI. Mission Impossible: Rogue Nation. Saya membayangkan nonton dengan romantis. Yang saya dapati? Dia tidur. Okay. Spesial sekali. Mungkin dia punya momen yang lebih romantis dalam mimpinya.

Cinema Bakery
Cinema Bakery

Setelah usai film, kami menyeberang, ada Cinema Bakery, beberapa hari di Jogja saya tiba-tiba ingin makan kue-kue cantik yang enak, saya diberitahu teman bahwa bakery ini enak, pemiliknya orang Prancis. Saya tahu disini tidak memiliki cafe pattiserrier sebanyak Medan. Konsep cafe ini adalah cinema, dekorasi interiornya berhubungan dengan film-film. Unik dan luas, juga nyaman. Ada ruangan yang mungkin bisa digunakan untuk nonton film bareng. Saya langsung panik memesan beberapa kue, harganya relatif murah ketimbang kue-kue cantik di Medan bahkan (maaf) banyak yang rasanya kurang sesuai dengan harga. Harga disini berkisar belasan ribu sampai 35 ribu. Saya pesan cake Tiramissu kesukaan saya, Red Velvet, dan Brewok mau Strawberry Shortcake dan sebiji macaron. Minum espresso dan lemon squash. Selesai itu, saya pesan Quiche Beef lagi. Total semua? 160 ribu sekian. Kenyang super (lagi), worthed untuk membuncit (lagi). Good days for satisfy my belly, tasted very good.

Kue-kue Cinema Bakery
Kue-kue Cinema Bakery 

LAST DAY IN JOGJA, HUTAN PINUS, DAN SATE KLATHAK (LAGI)

Hari terakhir di Jogja, saya mulai lemes. Brewok bertanya kemana lagi saya hendak pergi. Saya sudah kehabisan ide, juga tidak ingin terlalu capek. Dia punya ide mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri. Kami berangkat siang itu. Jarak ditempuh sekitar 40 menit. Di perjalanan kita bisa melihat kota Jogja dari ketinggian, Mangunan, dari celah-celah pohon kayu putih. Jalannya masih berbelok curam dan naik turun. Syukurlah tidak banyak dan tidak terlalu parah. Memasuki kawasan tersebut, disuguhi pemandangan pohon-pohon pinus yang tinggi-tinggi menjulang. Sayangnya saya kurang bisa menikmati karena di perjalanan saya kelilipan abu rokok Brewok, yang membuat saya rusak mood seharian (pemirsa sekalian, harap kurangi/ hindari rokok ya). Kami berfoto di sela-sela pohon pinus. Sesekali memandang ke atas menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh gesekan ranting di atas sana. Teduh dan tenang.

Perjalanan menuju hutan pinus
Perjalanan menuju hutan pinus
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan Pinus
Hutan Pinus
Langit-langit yang cantik ya...
Langit-langit yang cantik ya…

Tampak juga banyak pasangan yang menikmati momen romantis disana (ngenes, dapat pasangan yang nggak romantis). Ada photoshoot cosplay juga. Kami jalan menaiki bukit, ada tempat di mana mereka membangun beberapa rumah pohon tanpa atap. Cukup memancing adrenalin untuk memanjat ke atas, di terpa angin kencang dan pondoknya bergoyang, dibangun di antara dua pohon tinggi. Mood booster saya juga setelah mencoba itu. Antara excited dan ketakutan.

Berani nyoba?
Berani nyoba?

Tak lama, kemudian kami turun, menjelajahi satu jalan kecil, sekitar setengah kilo ke bawah, ada Batu Tumpeng, hanya batu-batuan yang saling bertindihan. Kami kembali ke pintu masuk, ada petunjuk suatu mata air, sekitar 1 km masuk. Kawan-kawan tidak perlu masuk, cukup jauh ke bawah, dan ternyata mata air yang sudah dimodif, bukan alami. Sudah cukup lelah kami menjelajah, kami pulang.

Melewati Imogiri, tebak apa yang saya singgahi lagi di Imogiri? Betul. Sate Klathak lagi. Ehehe, ke-6 kalinya. Tapi kali ini saya ingin Tengkleng, kata Mbak Vina itu enak sekali, klamut-klamut daging yang melekat pada tulang-tulang, mungkin iga atau semacamnya. Kami ke Pak Pong yang terkenal dan biasanya ramai itu. Terrrnyata, Tengklengnya kosong. Saya sedih dan menyesal baru ingin mencarinya sekarang, di saat-saat terakhir. Akhirnya saya pesan Tongseng saja, bentuknya potongan daging, dengan kuahnya. Brewok pesan klathak, saya pasti merampoknya. Penuh perut, dan kami pulang. Saya beberes, packing untuk pulang ke Medan besok.

Makan di Pak Pong (lagi)
Makan di Pak Pong (lagi)

PULANG KE JOGJA LAGI LAIN KALI!

Pulang? Jogjalah sebenarnya tempat saya (dan banyak orang) berpulang. Jogja adalah kota dimana semua orang merasa nyaman, hangat, dan tenang. Saya akan pulang ke Jogja lagi tahun depan, doakan. Juga berencana mengunjungi tempat-tempat lain, nominasinya Surabaya, Bromo, Bali. Sudah cukup perjalanan hampir sebulan ini, kantong juga sudah kosong, terima kasih buat kawan-kawan semua, Mbak May, terlebih tur guide saya , Mas Brewok. Hahaha. Puji kepada Tuhan dengan segala keindahan alamnya dan saya bersyukur dan pantas bisa meluangkan waktu dan hartaku untuk mengaguminya. Sampai jumpa, Java. Semoga tulisan saya ada manfaatnya bagi teman-teman yang akan mengunjungi tempat-tempat istimewa ini, indah rasanya bisa saya bagikan pengalaman berharga ini dalam tulisan panjang lebar begini supaya bisa dinikmati. Hahaha! Semoga ya….

Studionya Mas Brewok
Studionya Mas Brewok

Yang berkunjung / berdomisili di Jogja, jangan sungkan untuk mengunjungi workshop kerajinan kulit Monkey x Rabbit milik Brewok di Dusun Karangnongko, Sewon, Bantul, kontek aja 089669974368. Maaf promo dan bukan titipan sponsor. :p

(END)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 5)

Teks oleh Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

PERJALANAN KE SEMARANG DAN MUSEUM KERETA API AMBARAWA.

Rencananya berangkat ke Semarang pagi-pagi sekali tapi karena tadi malam kami kecapaian, akhirnya kami berangkat pukul 2 siang, dengan badan pegal-pegal. Saya dapat informasi kalau berangkat siang akan terjebak macet. Yasudahlah saya pasrah saja. Dari Jogja ke Semarang akan melewati Magelang, Soropadan dengan wisata pasar buahnya, Banaran, dengan kebun kopinya, Ambarawa dengan rawa bening dan museum kereta api kunonya, lalu Ungaran dengan candi Songonya.

Kami hanya singgah ke Ambarawa Railway Museum, sebuah museum kereta api kuno, dibangun tahun 1976 di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dengan membayar kalau tidak salah 10 ribu rupiah, kami berfoto ria di beberapa gerbong kereta api kuno yang dipajang, juga di bekas stasiun yang nuansanya sungguh eksotik di mata saya. Di sini juga ada fasilitas berkeliling Ambarawa dengan kereta api kuno, dengan membayar 50 ribu rupiah perorangnya, tetapi hanya beroperasi pada hari Minggu dan hari libur. Sayang sekali kami tidak bisa mencobanya. Puas menikmati, kami bergerak lagi.

Ambarawa Railway Station
Ambarawa Railway Station
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman

Sampai di Semarang, di rumah keluarganya nya Mas Brewok, di Kaligawe, salah satu jalan Pantura, kami langsung tepar. Tapi sempat dong makan ayam bakar dulu di warung kecil simpang rumah.

Besok paginya, setelah main ke rumah sebelah yang juga saudara Brewok, saya diajari menembak dengan senapan angin milik Papa Brewok, seperti janjinya. Berkutatlah saya dan Brewok dengan senapan angin dibawah terik matahari di kebun sebelah rumah, senapan ini tidak pernah dipakai untuk menembak makhluk hidup, hanya untuk olahraga. Dari sekitar 7 kali mencoba, hanya sekali, kena sasaran. Saya menyerah. Terik matahari di Semarang cukup luar biasa. Apalagi rumah Brewok di dekat pantai. Pantai yang main ke rumah. Hehehe. Maksudnya adalah air pasang yang masuk ke dalam rumah, tanah Semarang tiap tahunnya turun 5cm.

Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.
Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.

CAFE IGA BAKAR DAN ANGKRINGAN PINGGIR JALAN

Esoknya kami ada janji bertemu Febri di tempat kerjanya, di Tandhok Ribs & Coffee Jl. Papandayan. Saya jadi ingin Iga Bakar. Sekalian kopdar bareng teman-teman Semarang lainnya. Mengobrolkan gambar, pekerjaan, hobi. Saya order seporsi iga bakar seharga 45 ribu. Sebenarnya saya mau order lagi karena nafsu makan masih menggebu-gebu, tapi teralihkan karena obrolan dan candaan kami terlalu seru malam itu. Sampai cafenya tutup, saya belum ingin pulang. Pukul 10 malam, kami mutar-mutar mencari tempat tongkrongan, kami dapati angkringan yang masih buka, di simpang Jl. Menteri Supeno. Saya sungguh bersyukur, setiap saya mengunjungi Semarang, saya diajak nongkrong di pinggir jalan sungguhan seperti ini. Duduk beralaskan tikar di atas trotoar di persimpangan. Makan nasi kucing dan beberapa gorengan, tentu saja murah meriah. Sampai pukul 12 malam kami bubar. Entah kenapa momen malam itu ‘sesuatu’ sekali, saya menikmati malam, melupakan semua keluh kesah sesaat, bersama orang-orang yang menyenangkan dan jauh dari realita kota asalku. Memandang malam dan teman-teman ini, saya banyak bersyukur, walau kadang mereka ngobrol tanpa subtitle.

Iga Thandok, makan iga dulu.
Iga Thandok, makan iga dulu.
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe

MENCARI ES KRIM DI TENGAH TERIK SEMARANG

Well, sore besoknya saya bersama dua mas-mas sangar ini nongkrong di Cafe Es Grim House, saya ingin mendinginkan efek cuaca panas Semarang ini. Sepertinya agak sulit menemukan cafe yang menyediakan menu-menu es krim di sini. Dan ternyata sajiannya juga tidak terlalu istimewa seperti yang saya bayangkan, seperti tempatnya juga, yang sederhana. Tidak seperti kota Medan yang kian ramai dengan cafe-cafe cantik yang menyediakan menu es dan kue-kue yang ‘wow’, harga juga ‘wow’ sih. Harga makanan di Semarang masih tergolong standar dan cocok di kantong. Walau tak semurah Jogja.

Bosan nongkrong melihat mereka mengobrol tanpa subtitle, saya ingin mencicipi lumpia. Sempat kecewa siang tadi karena kehabisan lumpia basah (non halal) yang terkenal di Jl. Lombok, daerah Pecinan dekat kali. Jika pengen sekali, ternyata harus memesan pagi-pagi, sebelum kehabisan. Di sebelahnya ada warung es campur dan sejenisnya yang juga terkenal, banyak artis makan disitu. Dalam pencarian darurat, kami memilih Lumpia Express, di Jl. M.T.Haryono. Sebuah restoran yang menyediakan lumpia siap saji, bermacam pilihan dengan range harga belasan ribu. Singkat cerita saya tidak begitu suka, entah memang resto tersebut yang rasanya kurang enak atau rasa lumpia di Semarang itu memang seperti itu, hanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya memang tidak sempat mencicipi di tempat lain, besok kami akan melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi Dieng.

Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.
Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.

ROAD TO DIENG, DESA DI ATAS AWAN

Berangkat ke Dieng jam 7 pagi dari rumah, saya sangat mengantuk. Ini pertama kalinya saya menderita kantuk akut di atas motor, sampai membahayakan diri. Beberapa kali saya tertidur di boncengan, masih satu jam pertama. Mas Brewok setiap menyadari saya tertidur, dia pelankan motor dan membangunkan saya. Sampai kesekian kalinya, kami memutuskan untuk berhenti untuk beristirahat di depan Indomaret daerah Temanggung, yang menyediakan meja dan kursi. Saya dengan lunglai langsung duduk dan meletakkan kepala di atas dekapan tangan di atas meja. Saya tidur kurang lebih 10 menit, sampai mengences. Hahaha. Lalu kami mengemil dan minum sebotol kopi, sambil saya mengumpulkan nyawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Sudah segar. Tiga jam sisanya saya celingak-celinguk menikmati pemandangan. Dari Temanggung, menuju Wonosobo. Sepanjang perjalanan sudah banyak kebun dan barisan gunung tampak dari kejauhan. Yang perlahan mendekat. Kami memutari gunung, dataran tinggi Dieng letaknya di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Memasuki kabupaten Wonosobo, saya mulai merasakan hawa sejuk. Suhu pada siang hari berkisar 12o-20o C dan malam hari mencapai 6o-10o C, pada musim kemarau (Juli-Agustus) subuhnya terkadang mencapai 0oC! sampai membekukan embun! Ketinggian Dieng ini 2000m di atas permukaan laut. Saya sungguh tidak sabar menikmati keindahan dan petualang di atas sana.

Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.

THE LEGENDARY ‘TELAGA WARNA’

Tahu-tahu kami sudah memasuki area wisata Telaga Warna, jam menunjukkan pukul 12 siang, sesuai rencana, kami memang akan mengunjungi tempat wisata dahulu lalu beristirahat di kerabatnya Brewok di daerah Batur Banjarnegara. Membayar tiket seharga 5 ribu perorang, tak jauh dari pintu masuk, pemandangan Telaga Warna yang legendaris itu sudah menyapa. Saya dan Brewok iseng bermain turis-turisan, karena saya sering sekali dikira warga asing. Kami berbahasa enggris seharian, hahaha!

Telaga itu sedang sedikit surut karena kemarau. Kami berjalan memutari telaga, berfoto di padang rumput kering. Kami juga menyinggahi beberapa gua di situ. Tapi banyak yang sedang ditutup. Sambil berjalan santai menikmati, saya teringat, bahwa orang-orang sepertinya mengambil foto dari ketinggian, saya penasaran dimana ada jalur yang lebih tinggi, ternyata Mas Brewok juga. Tak lama berjalan, ada sebuah jalur kecil yang tampaknya menuju atas, kami langsung bergegas naik. Tanah pasir berdebu sedikit mengganggu, syukur kami punya masker. Jalannya cukup sempit dan licin karena pasirnya. Tiba di suatu ketinggian dimana tampaknya cukup bagus mengambil foto, kami berhenti, sambil ngos-ngosan. Menikmati keindahan alam ini, telaga indah yang dikelilingi bukit tinggi. Warnanya benar mempesona. Dinamai Telaga Warna ya karena konon warna air di telaga ini berubah-ubah, menjadi biru, hijau, dan kuning. Penyebabnya adalah kandungan sulfur yang tinggi.

Telaga warna
Telaga warna yang indahnya amat memanjakan mata
Masih Telaga Warna
Masih Telaga Warna

Lalu kami memandangi jalur selanjutnya, ragu dalam hati untuk melanjutkan atau tidak, karena sudah cukup lelah sampai disitu. Tak sampai semenit berpikir, kami naik, berharap mendapati kesempatan lebih bagus. Tapi sialnya, sekitar 200 meter menaiki itu, saya merasa jalur ini memang sudah di puncak bukit, tapi, arahnya ke hamparan kebun dan sawah, telaganya sama sekali tidak tampak. Sambil bernafas keras, kami turun lagi. Di depan kami ada cabang jalur. Firasat saya merupakan rute lebih singkat untuk turun, semoga tidak salah. Voila, benar… kami sampai di tepi telaga di sisi lainnya. Mendapati beberapa wisatawan sedang berjalan juga. Mendekati tempat awal kami memulai, ada penjual jagung bakar, dan tempat yang asik untuk duduk. Tentu saja kami makan jagung bakar, sebatang berdua, duduk di sebuah teras, di tepi telaga. Saya mengamati dari jauh, sebuah maskot hidup Mickey Mouse yang kesepian, jasa berfoto bersamanya dikenakan biaya 5 ribu, tak ada seorang pun menghiraukannya, aku membayangkan siapa dan bagaimana wajah dibalik kostum itu.

Beberapa meter dari si Mickey Mouse, ada sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana sambil bernyanyi, bintangnya adalah seorang gadis kecil yang berjoget ria menghibur pengunjung. Letak mereka tepat setelah pintu masuk. Iringan musik itu membuat si Mickey Mouse sedikit ikut bergoyang. Tapi tetap saja membuat saya sedih melihatnya.

Telaga Warna lagi.
Telaga Warna lagi.
Nikmati keindahan Telaga Warna
Nikmati keindahan Telaga Warna
foto 55-telaga warna (6)
Melompat dan berbahagia di pemandangan cantik seperti ini

KAWAH SIKIDANG & KOMPLEKS CANDI ARJUNA

Well, kami keluar dari situ dan mengunjungi tempat wisata selanjutnya, tak jauh dari situ. Kawah Sikidang, membayar 10 ribu sudah termasuk mengunjungi kompleks candi Arjuna yang juga terletak dekat dari situ. Memasuki area kawah, berbatu-batu, naik turun, berpasir putih, ada kuning-kuningnya, itu belerang. Ada yang sedang foto prewedding. Lumayan luas, dari kejauhan tampak asap putih, uap panasnya lumayan terasa dari jauh, beberapa rombongan juga berjalan menuju ke situ.

Di sana ada sebuah kolam yang dipagari, mata airnya mendidih dan beruap, sampai saya awalnya tidak melihat ada mata air di situ karena dikepul uap. Kawah Sikidang ini mempunyai cerita legenda tentang seorang pemuda berkepala Kijang yang dijebak dan terkubur di sana oleh wanita yang menghindari lamarannya, ini link cerita legendanya http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/264-legenda-kawah-sikidang

Kawah ini masih aktif sampai sekarang dan mengeluarkan uap panas yang berganti-ganti posisinya. Ada banyak kawah di Dieng, beberapa dijadikan pembangkit listrik tenaga uap.

Sikidang
Sikidang

Foto 57-sikidang (2)

 

Masih Sikidang
Masih Sikidang

Foto 59-sikidang (4)

Selesai dari situ, kami pergi ke Kompleks Candi Arjuna. Ada 5 candi kecil, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada. Sebuah prasasti di dekat Candi Arjuna, menunjukkan pembangunan Candi sekitar 809 SM. Wow. Kemudian kami melihat ada bapak dengan kuda, rupanya berjualan jasa menunggangi kuda, kami tergoda mencoba. Menyenangkan sekali! Tapi andai kudaku yang putih dan besar, bertanduk dan bersayap (does unicorn exist?). Saya sudah lelah, jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami bergegas menuju Batur, kediaman kerabat Brewok yang hendak kami tumpangi. Pemandangan jadi senja, dan kami menembus awan.

Desa di atas awan
Desa di atas awan
Senja yang memikat
Senja yang memikat
Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

 

Di Komplek Candi Arjuna
Di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna

 

Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. :D
Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. 😀
Candi Arjuna
Candi Arjuna

 

https://youtu.be/Mgdg-xlc8b4

https://youtu.be/Nw2e4J-nNqw

SWEET PLACE TO REST, BATUR

Perjalanan sekitar 20 menit itu kami jalani dengan tubuh mengigil. Saya sempat merekam kami menembus kabut tebal alias awan. Ya, kami memang sedang berada di desa di atas awan. Tangan saya benar-benar mati rasa sampai terasa sakit saat merekam beberapa menit. Saya langsung pakai sarung tangan kembali setelah selesai merekam. Senja dan pemandangannya itu membuat saya hanya bisa terpaku diam. Antara dingin dan sulit bernafas karena Brewok membawa kencang motornya, wajah ditampar angin yang dingin, kaki saya mengigil naik turun sendirinya. Kami memasuki sebuah perkampungan, desa Batur Kota Banjarnegara.

Setibanya di rumah saudara Brewok, saya sedikit lega karena tidak sedingin di luar. Lantainya dialasi karpet. Lantai dapurnya plasteran semen, disediakan beberapa sandal, saya coba berjalan tanpa sandal itu, diiingiin. Saya mau buang air, toiletnya di luar rumah, dengan halaman penuh bunga yang tumbuh subur di depannya. Saya coba memasukan tangan ke dalam airnya, wooww, seperti air es. Tapi percaya atau tidak, saya mandi dan keramas setelah itu. Karena tidak tahan rasanya sudah kotor dan rambut lepek hari itu. Penduduk disitu juga nggak rutin mandi setiap hari lho. Ya maksud saya, selain karena merasa kotor, juga sebagai tantangan, pengalaman berharga, toh untuk pertama dan terakhir di situ edisi tahun ini, besok pagi tampaknya tidak akan bisa mandi.

Brewok hanya berani cuci muka dan gosok gigi. Hih! Kami mengobrol sampai larut malam, sempat membuat pemanas dengan arang dibakar di dalam sebuah tungku, perapian ala kami. Lagi-lagi tidak ada subtitle yang di-instal. Baiklah lalu kami bubar dan tidur. Kasur dingin-dingin empuk dengan selimut super tebal dan berat. Seketika langsung terlelap, serasa di kamar ber-AC. Sialnya saya terbangun pukul 5 subuh dan ingin buang air kecil. Harus… keluar rumah… gelap… dan airnya dingin sekali. Tapi percayalah saya malah excited sekali. Lalu kembali tidur, menahan excited subuh-subuh itu.

Desa Batur
Desa Batur

MENUJU CURUG SI KARIM, KEMBALI KE JOGJA

Seperti biasanya kami ‘mengecas’ energi terlalu lama, tadinya akan bergerak jam 8, akhirnya kami bergerak jam 10. Menuju Air Terjun Si Karim. Kata penduduk, dari sini sudah dekat, tapi jalannya rusak parah, ada jalan lebih mulus tapi harus memutar ke kota. Brewok mau mencoba melalui rute rusak itu. Awalnya ‘biar dicoba dulu’ tapi sesampainya kami disana, suatu jalan kecil yang menurun, sepertinya tidak ada kata untuk kembali. Jalannya terjal turun dan berkelok ekstrem, masih dengan membawa ransel besar di antara kakinya. Jalannya rusak dan isinya bebatuan agak besar, kiri kanan tanaman. Saya memilih turun dan berjalan kaki di beberapa belokan terjal, sambil menenteng ranselnya, sedangkan Brewok cukup ahli pelan-pelan menyusuri jalan bebatuan itu. Ini memacu adrenalin sekali. Sepertinya Mas Brewok bukan orang yang takut mati. Sayang saya tidak sempat mengambil foto jalanan tersebut. Karena berkonsentrasi dan agak tegang. Lumayan jauh turunnya, sekitar 4 km dengan turun mengesot dan berbelok-belok ekstrem seperti itu.

Saya yakin juga sampai disana, ada jalur keluar ke kota yang disebutkan mereka, kalau untuk naik saya pesimis sekali, kelihatan mustahil. Kami sampai dan menghela nafas panjang. Sebuah tebing batu yang gersang dengan kucuran air yang… tidak terlalu deras. Ada beberapa orang yang sedang bermain air di atas sana, kemudian pergi tak lama sesudah kami sampai. Saya senang memanjat. Saya naik duluan dan duduk-duduk. Saya tanya pada Brewok apakah dia bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi itu untuk berfoto. Mas Brewok kelihatannya ragu untuk memanjat, tapi kemudian dia memanjat dengan hati-hati. Sedikit mengeluh licin karena banyak lumut, dan mulai khawatir untuk melanjutkan. Walau akhirnya dia sampai di tempat yang saya tunjuk, saya mengambil beberapa foto lalu dia kembali. Oopps… brewok tergelincir! Dia jatuh tengkurap bergantung disana. Setengah badannya sudah basah. Sebelah tangannya berpegang pada batu yang kering.

Saat itu saya masih santai melihatnya dari bawah, berharap dia masih ada kesempatan untuk bangun, tapi kelihatannya tidak. Malah dia bilang biar dia seluncuran ke bawah saja, saya bilang itu tindakan yang gila, minimal luka berat, patah tulang atau kebentur kepala, kalau dia mati atau kenapa-kenapa di situ saya bagaimana pulangnya. Tidak ada orang yang bisa menolong juga di situ. Saya pun segera memanjat, entahlah bagi saya mudah sekali memanjatnya, walau kaki sedikit basah. Tidak selicin yang dia bilang juga. Dia sempat melarang saya naik menolong. Tapi saya sudah sampai di atas dan menariknya. Saya duduk disitu, melihat-lihat pemandangan lagi. Dia turun perlahan dengan kondisi cukup kacau. Mungkin ada memar, bahu pegal, baju dan celana basah juga ada tambahan aksesoris lumut di pakaian. Kami kenakan sepatu dan siap-siap pualng. Masih tertawa-tawa dengan kejadian tadi. Syukurlah tidak kenapa-kenapa, syukurlah ada saya. Ho-Ho! *ejekBrewok

Curug Sikarim
Curug Sikarim
Curug Sikarim juga
Curug Sikarim juga

Setelah tenang, kami tancap gas keluar dari situ, keluar ke Wonosobo ‘mengisi perut’ sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Kata Brewok dari sini ke jogja hanya sisa sekitar 3 jam. Sedikit lega, walau saya memang sudah mulai terbiasa dengan perjalanan jauh seperti itu. Hanya saja punggung, pinggang sampai bokong saya yang terasa lelah sekali, banyak menahan berat badan saat jalanan naik turun terjal. Satu jam terakhir, kami sedang berada di Magelang dan beristirahat. Brewok bertanya apakah berniat untuk singgah ke Borobudur, walau kami sudah pernah mengunjunginya tahun lalu. Mungkin untuk mengusir rasa mualku di perjalanan (padahal naik motor kan), saya mengiyakan.

Membayar 30 ribu perorang, saya sempat dicurigai sebagai warga asing, karena turis asing harga tiketnya lebih mahal. Spontan dong kami tidak main bahasa inggris-inggrisan lagi, saya berbahasa dengan logat Medan yang agak kental untuk bertanya toilet di mana, barulah mbaknya yakin saya orang Indonesia. Si Mbak memberitahu bahwa tempat itu akan tutup pukul 5. Jam menunjukkan pukul 4 lewat. Saya baru sadar. Yasudah kami bergegas masuk. Yang saya keluhkan adalah jarak dari parkiran ke candinya lumayan jauh, apalagi kami sudah sangat lelah, Brewok menenteng ransel yang lumayan berat itu. Dia kelihatan lelah dan berkeringat.

Menaiki tangga depan Borobudur, kami beristirahat di bangku batu di teras di depan candi. Saya katakan bahwa saya akan berkeliling sendiri saja dan dia bisa duduk beristirahat di situ. Dia tidak mau. Saya ngotot mau jalan sendiri, dia jalannya sudah sempoyongan dan lambat. Saya akhirnya naik dan memisahkan diri. Saya naik sampai atas, saya pergi ke arah barat, di mana pemandangan senja dan matahari terbenam sungguh indah dari sana. Saya duduk, saya tahu Brewok akan ke situ juga. Beberapa menit kemudian, dia muncul. Saya ajak duduk di tepi teras, di antara stupa. Banyak bule sedang bersantai dan berfoto juga.

Semua mulai bubar setelah ada announcement tempat sudah mau tutup dan dihimbau untuk turun. Brewok rebahan beralaskan ransel, saya menikmati pemandangan beberapa saat lagi. Lalu kami bersiap-siap pulang. Rute pulang dialihkan, tidak sama dengan rute kedatangan, diputar agak jauh dan melalui pasar-pasar yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan. Juga museum. Singkat cerita, kami sampai di Jogja dan tepar sampai besok siang. (to be continued)

SERUNYA MENJELAJAH GOA KELELAWAR BUKIT LAWANG

Teks & Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.
Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.

Sebulan yang lalu tim kemanaaja.com mengunjungi Bukit Lawang, Sumatra Utara. Bukit Lawang merupakan gugusan bukit barisan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, Nagroe Aceh Darusalam. Selama di sana, selain bersantai tim kemanaaja.com juga berkesempatan melihat salah satu goa alami yang masih natural dan terjaga keberadaannya, yaitu goa kelelawar (Bat Cave).

Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. :D
Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. 😀
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.

Goa ini dinamakan Goa Kelelawar dikarenakan ribuan koloni kelelawar tinggal di dalamnya, bukan hanya itu, ada juga koloni kecil burung walet atau burung layang-layang yang menempati bagian ujung goa. Stalaktit runcing mengerucut dari langit-langit goa, menajam lancip seakan menusuk bumi. Dinding goa berasa bagai padang lumut hijau yang menurun vertikal menuju dasar goa. Lembab dan dingin. Bebatuan alami berumur ratusan tahun terpahat alami di dalam goa. Langit-langit indah dengan pemandangan ribuan kelelawar bergelantungan menikmati istirahat siang menunggu malam datang dan memulai perburuan sebagai hewan nocturnal.

Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.
Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.

 

Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.
Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.

Banyaknya kelelawar yang terdapat dalam goa ini menandakan bahwa tidak ada perburuan besar-besaran oleh masyarakat setempat. Seperti yang kita ketahui bahwa kelelawar merupakan salah satu hewan yang banyak diperjualbelikan selama ini. Kondisi ini berdampak langsung kepada fungsi dan peran kelelawar dalam ekosistem, yaitu sebagai perantara penyerbukan bunga dari banyak buah-buahan yang ada di hutan. Itulah sebabnya pepohonan buah yang ada di sekitaran Bukit Lawang dapat berbuah rutin, banyak dan enak, salah satunya adalah durian.

Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.
Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.

Untuk dapat mengakses goa kelelawar anda harus menuju Bukit Lawang terlebih dahulu. Dimulai dari Medan melalui terminal Pinang Baris, menaiki bus atau kendaraan mini bus yang banyak terdapat di sana. Perjalanan kurang lebih dua sampai tiga jam dari terminal Pinang Baris anda akan sampai di Bukit Lawang. Pada umumnya petugas penginapan tempat anda menginap pasti mengetahui keberadaan goa kelelawar, tanyalah mereka dan minta untuk menemani anda.

Psst... ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Psst… ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.

Ongkos Pinang Baris-Bukit Lawang Rp. 25.000/orang

Upah untuk pemandu Rp. 100.000/orang termasuk makan siang dan bersantai di Sungai Landak (berdasarkan pengalaman kemanaaja.com tahun 2015)

 Tarif pengingapan Rp 100.000-150.000/malam.

Juga terdapat penginapan dengan tarif di atas 150.000

Bukit Lawang, Wisata Alam Tanpa Bosan

Teks & Foto oleh Johan Wibawa @johanwibawa

Editor Eka Dalanta @ekadalanta

IMG_4506
Saya dan kawan-kawan tim jalan-jalan ke Bukit Lawang

Menjelajahi satu tempat wisata yang sama berulang-ulang, biasanya akan membuat seseorang bosan karena aktivitas yang dilakukan di sana pasti itu-lagi-itu-lagi. Apalagi kalau untuk mencapai lokasi tersebut mesti merasakan capek terlebih dahulu. Lain ceritanya kalau jalan-jalan ke Bukit Lawang. Saya selalu suka liburan ke tempat ini.

Lokasi wisata ini terletak di kecamatan Bahorok, kabupaten Langkat, Sumatera Utara – lebih kurang 3 jam perjalanan non-stop dari Kota Medan karena jalanannya di beberapa titik masih belum teraspal dengan baik – dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser yang membentang luas sampai provinsi Aceh. Sudah beberapa kali saya ke sini, pertama kali pada malam tahun baru (2009 ke 2010) tapi saya tidak pernah bosan. Justru masih banyak sekali to-do-list yang mau saya lakukan di tempat ini pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

*Membungkuk 90 derajat* Saya sangat berterima kasih pada Regina Frey dan Monica Buerner, dua orang Zoologist berkebangsaan Swiss, yang pertama kali membangun Pusat Rehabilitasi bagi Orang Utan pada tahun 1973 di tempat ini. Keberadaan pusat rehabilitasi itu membuat Bukit Lawang menarik perhatian, ibaratnya anak gadis yang sudah belajar berbandan. Semakin banyak pulalah para peneliti mancanegara datang. Begitupun wisatawan domestik juga.

IMG_4427
Selamat datang di Bukit Lawang

Meski pernah dilanda banjir bandang pada akhir tahun 2003 yang menelan ratusan korban jiwa, Bukit Lawang lalu memerbaiki diri dan makin maju daripada sebelumnya. Bahkan sekarang Bukit Lawang sudah menjadi salah satu bagian dari UNESCO World Heritage Site! FYI, Indonesia punya 8 warisan yang masuk ke dalam warisan dunia.

Trekking masuk ke dalam hutan adalah kegiatan wajib setiap saya datang ke sini. Mungkin nggak berlebihan kalau ada yang bilang, “Loe belum sah ke Bukit Lawang kalau nggak trekking!” Memang inilah tourist attraction-nya yang paling utama. Jalan santai masuk hutan, menikmati udara segar hutan tropis, dan bertemu dengan primadonanya, Orangutan!

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ke sana lagi bersama rombongan besar, 30 orang! Biasanya saya berwisata hanya dengan jumlah orang yang masih bisa dihitung jari tangan, dan memang lebih sukanya begitu. Lebih gampang jalan dan nggak banyak maunya. Tapi syukurlah, kali ini semuanya tetap berjalan lancar, dan to be honest, we still had so much fun!

IMG_4488
Akhirnya saya bertemu dengan orangutan. Jaga jarak dengan orangutan ya. Memberi makan orangutan juga sebenarnya tidak disarankan karena orangutan dewasa harus mandiri mencari makanannya. Memberi makan juga cenderung membawa mereka keluar dari hutan. Kecuali Orangutan di penangkaran.

Untuk bisa menjelajahi hutan di sini diwajibkan menggunakan jasa guide atau ranger. Biayanya variatif, tergantung apakah kamu adalah wisatawan mancanegara atau domestik, tergantung apa saja yang mau kamu kunjungi/lakukan di dalam hutan, dan yang paling penting, tergantung juga kemampuan negosiasi kamu. Ranger yang mendampingi kami berpetualang kali ini namanya Heru – tubuhnya bidang, berkulit agak gelap, tinggi sekitar 160-an cm, wajah kotak, dan dia cukup humoris sehingga perjalanan selama di dalam hutan menjadi lebih hidup. “Bang Heru, di dalam hutan banyak nyamuk nggak?” Salah satu teman saya iseng bertanya, yang dengan santai langsung dijawab ranger kami itu, “Nggak banyak kok dek. Nyamuk di Bukit Lawang cuma satu, tapi temennya yang banyak!”

Petualangan kali ini saya dan rombongan memilih jalur panjang dengan catatan WAJIB jumpa beberapa orangutan selama perjalanan tersebut, lalu diakhiri dengan Tubing (semacam arung jeram, tapi kita hanya duduk SANTAI di dalam ban karet besar berwarna hitam yang sudah didesain dan disatukan sedemikian rupa, tugas Rangers yang duduk di paling depan dan paling belakang yang menyupirinya dengan tongkat bambu) di Sungai Bahorok yang merupakan anak Sungai Wampu!

Setelah semua personil selesai melakukan persiapan masing-masing, petualangan kami pada pagi jam 10 itu pun dimulai, dengan Hotel Rindu Alam sebagai starting point-nya. Semuanya sangat bersemangat melangkahkan kakinya pagi itu. Kamera pun tidak henti-hentinya jeprat-jepret bernarsis ria di jembatan, di jalan setapak yang diapit pohon karet, dan bahkan di depan sebuah kerangka restoran yang masih dalam tahap pembangunan. Namun napas kami mulai ngos-ngosan saat jalurnya mulai mendaki, padahal saat itu belum juga tiba di pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser! Memang tipikal orang yang terlalu lama hidup di kota, apalagi malas olahraga, gampang lelahnya. Ah… benar-benar Kampungan sekali Orang Kota ini. Hahahaha!!!

Sesungguhnya berjumpa orang utan di dalam hutan ini tergantung faktor peruntungan, sama seperti untung-untungan mendapatkan cuaca cerah saat tiba di puncak gunung. Alasannya karena mereka semua memang telah dibiarkan untuk hidup liar di hutan, dan jumlahnya juga semakin menyusut dari tahun ke tahun. Pertama kali saya trekking pada akhir tahun 2009, saya bahkan tidak berjumpa satu ekor orang utan pun. Sebagai gantinya, kami diajak ke penangkarannya untuk melihat satu orang utan yang dikandangkan karena sedang dirawat.

Tapi dalam kunjungan-kunjungan saya yang selanjutnya, akhirnya dewi fortuna sudah mulai berpihak. Minimal 3 orang utan dijumpai dalam sekali trekking, dan kadang-kadang juga jumpa dengan Thomas Leaf Monkey (monyet yang rambutnya model Mohawk). Momen paling ‘beruntung’ yang pernah saya alami adalah ketika lagi terduduk santai di tanah datar yang agak bersih karena merupakan sarang Burung Merak, terus tiba-tiba disamperin Minah (Orang utan yang paling diantisipasi karena paling agresif di Bukit Lawang dan telah dinobatkan sebagai the Queen and Legend of the Jungle. Ada bekas satu luka di dekat matanya)! Tapi tidak perlu khawatir atau panik bila hal ini terjadi karena kita selalu dikawal ranger yang berpengalaman. Mereka biasanya akan melemparkan magic item (pisang) ke arah orang utan untuk memperlambat langkah mereka, sambil melontarkan magic spell ke arahmu (LARIIIIII ke tempat yang lebih tinggi!).

Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.
Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.

Saat berjumpa dengan orangutan sebaiknya agak berhati-hati, apalagi kalau jumpanya dengan orang utan bernama Minah tadi. Ranger kami pun selalu bergerak hati-hati ketika mendengar suara daun-daun yang saling bergesekkan. “Agak mundur, agak mundur,” ucapnya pelan ke rombongan sebelum benar-benar memastikan siapa orang utan tersebut karena memang tidak semua orang utanbisa diajak ‘gaul’ (Salut dengan para rangers Bukit Lawang karena mereka bisa mengenali orang utan – orang utan yang ada di sana, padahal sekilas semuanya terlihat sama saja; bergelantungan, berkaki dan bertangan panjang, berwajah keriput hitam, dan berbulu oranye). Sekadar ngasih tahu, Orangutan dewasa 4x lebih kuat daripada Ade Rai. *Blink!

Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat berjumpa dengan orang utan di sana. Pastikan tidak ada plastik kresek di tangan, dan jangan pernah membuka resleting celana… eh, salah ketik. Maksudnya resleting tas, karena bagi mereka akan dianggap tas yang dibuka tersebut isinya adalah makanan! “Apa bedanya orangutan Sumatra dengan orangutan Kalimantan?” tanya Heru saat kami semua sedang beristirahat melepas lelah di tengah hutan. Teman-teman saya menjawab dengan jawaban-jawaban gokil karena mengira dia sedang berusaha buat lelucon lagi. Ternyata tidak, jawabannya kali ini serius, “Pongo Abelii, Orang utan Sumatra itu beraktifitasnya di pohon-pohon, jarang ada yang jalan santai di tanah kayak manusia. Kalau yang di Kalimantan, Pongo Pygmaeus, justru sebaliknya.”

Pertanyaan lagi, “Kenapa bisa begitu?” dan ternyata jawabannya serius lagi, karena di hutan Sumatra ada predator yang bernama Harimau Sumatra dan Beruang! Makanya orangutan di Bukit Lawang agak segan untuk menyentuh tanah. Ooo….

Ya, memang ada hewan buas juga di hutan ini! Tapi berdasarkan penuturan Heru, hewan-hewan tersebut biasanya hanya mangkal di pedalamaaaaaan hutan. Jadi kalau trekking-nya hanya jalur enam jam seperti yang kami tempuh, paling ‘beruntung’ kita cuma bisa bertemu jejak-jejak mereka: bekas cakar beruang di pohon-pohon, dan jejak kaki harimau.

IMG_4443
Lagi, foto rame-rame biar berasa serunya

Setelah bercapek-capek ria berjalan di dalam hutan yang jalurnya naik-turun naik-turun selama kurang lebih empat jam, akhirnya kami bisa bernapas lega saat tiba di pinggir Sungai Bahorok. Sambil menunggu ranger kami mempersiapkan ban untuk Tubing, kami semua buru-buru bergaul dengan air sungai, ada yang menyeburkan diri, ada juga yang hanya sekadar mencelup-celupkan kaki sambil menikmati pemandangan arus sungai yang dikelilingi pepohonan rindang. Tarik napas dalam-dalam! Suasana menyegarkan seperti ini memang sangat sayang untuk tidak dinikmati dengan senikmat-nikmatnya.

IMG_4501
Tubbing di Sei Bahorok bikin lelah hilang lho.

Ending perjalanan kali ini memang merupakan pengalaman yang sama sekali baru bagi saya, tapi terasa sedikit antiklimaks (bagi saya). Duduk santai di atas ban yang bergerak mengikuti arus sungai dan disupiri ranger berpengalaman, sambil menikmati pemandangan hijau bukit pepohonan di kiri-kanan, rasanya memang benar-benar sangat nyaman. Ketika melewati arus yang kencang atau spot yang agak bebatuan sekalipun, kita tetap bisa menikmati kedamaian tersebut. Hanya saja, duduk terlalu lama di sana membuat saya agak bosan (mungkin karena saya tipe yang ingin lebih banyak bergerak saat berlibur seperti ini). Biasanya perjalanan tubing akan berakhir tepat di starting point tadi, Hotel Rindu Alam, namun kali ini rombongan memilih untuk tubing lebih jauuuuuuuh melewati starting point tadi. Alhasil, kami menghabiskan ekstra satu jam untuk tubing di sepanjang Sungai Bahorok tersebut, dan harus menumpang angkot untuk kembali ke Hotel Rindu Alam.

Well, meski antiklimaks, tidak berarti saya sudah kapok dengan destinasi yang satu ini. To-do-list saya selanjutnya di sini, saya ingin coba camping di dalam hutannya dengan harapan bisa kenalan dengan hewan lain yang lebih liar daripada Orang Utan. Anyone?

*Selain Treking, Tubing, dan Camping, sebenarnya masih ada beberapa aktifitas lain yang bisa menjadi alternatif: Swimming di sungai, Ceplak-Cepluking di pinggir sungai, dan Caving (masuk goa gelap untuk menonton kelelawar tidur. FYI, ada tiga buah goa di dekat sana).

*Pssttt… Pasak bumi tumbuh liar di dalam hutan ini.

Experience Mikie Holiday, Tak Sekedar Berakhir Pekan

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh / Photo by : Eka Dalanta @ekarehulin

Yang hijau-hijau dan udara sejuk sudah sangat sulit kita dapatkan di perkotaan. Tapi, untuk mendapatkan hal seperti itu tidaklah sulit. Berjarak 60 Km dari kota Medan dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kita bisa menemukan pepohonan hijau, merasakan udara yang sejuk dan bersih, serta wahana bermain yang seru.

Bagi sebagian warga kota kekinian seperti saya ini (ehem) mencari tempat bermain di akhir pekan rasanya menjadi kegiatan paling menyenangkan. Iya menyenangkan karena akhir pekan adalah saat dimana kita keluar dari rutinitas yang begitu penat. Sekalipun kita mencintai pekerjaan, tetap saja yang namanya bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya akan menimbulkan sedikit kebosanan. Solusinya adalah jalan-jalan. Jalan-jalan kemana? Kan di kota yang ada mall lagi mall lagi. Mau cari yang hijau-hijau aja sulit. Semua udah disulap gedung-gedung tinggi berudara dingin buatan.

Pemandangan dari puncak Mikie Funland.
Pemandangan dari puncak Mikie Funland.

Berlokasi di dataran tinggi tanah Karo, Mikie Holiday bukan sekedar resort. Lebih dari sekedar itu, tempat ini menawarkan keramaian juga ketenangan dalam suatu waktu. Saya dan teman-teman senang bisa diberi kesempatan untuk mengunjungi hotel, resort, dan taman bermain terbesar di Sumatera Utara ini.

Saya dan teman-teman benar-benar mengapresiasi keramahan dan sambutan dari Mikie Holiday. Mr.Desmond Rozario selaku General Manager dari Mikie Holiday menyapa kami dengan hangat. Rasanya senang sekali bisa terlibat percakapan hangat dengan beliau dan Pak Deliasa Zalukhu selaku Director of Sales. Memang, belakangan mereka merasa pengunjung sedikit khawatir untuk datang ke Berastagi karena debu dari erupsi Sinabung. Tapi, tenang saja. Mikie Holiday aman untuk didatangi. Jaraknya dengan Sinabung cukup jauh. Kira-kira 2 jam perjalanan.

Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.
Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.

Dibantu dengan seorang staff, kami diajak tour keliling Mikie Holiday Resort. Dari Pak Zalukhu, kami mengetahui bahwa Mikie Holiday memiliki lebih dari 100 kamar dimana terdapat beberapa kamar yang di design khusus seperti kamar ala Prancis, Thailand, Jepang, dan China. Masing-masing 1 unit dan interior dibuat menyerupai suasana kamar dari negara asalnya. Hayoo, kapan lagi bisa menginap di kamar ala Prancis?

Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. :D
Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. 😀
Rose Room.
Rose Room.
Deluxe room.
Deluxe room.

Selain itu, terdapat kolam renang bagi yang ingin berenang di cuaca dingin. Ketika saya bertanya kepada Pak Zalukhu mengapa air kolam renangnya tidak diganti dengan air hangat, beliau malah menjawab “Air panas kan sudah biasa, di Lau debuk-debuk juga ada. Sesekali berenang di air bersuhu normal di cuaca dingin kan biar beda.” Kami dan tim pun sedikit terkekeh.

SAMSUNG CSC
Oriental room
Toiletries
Toiletries

Setelah berkeliling dan melihat interior ruangan, kami diberi kesempatan untuk bermain di Mikie Funland. Lokasinya berada tepat disebelah resort. Untuk masuk kedalam Funland, kita memerlukan satu kartu yang bisa dibeli di counter penjualan. Kartu ini merupakan akses masuk dan kita dapat menikmati seluruh wahana dengan hanya membayar sekali didepan. Keren kan? Main deh sampai kenyang dan puyeng.

Ada beberapa wahana yang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Yaitu Tsunami. Bagi yang doyan muter-muter dan terombang-ambing, dipersilakan mencoba wahana ini. Dan beberapa wahana lain seperti Dino vs Dino, Volcano, Jelly Swing, Bon Voyage dan masih banyak lagi. Saya sih cukup mencoba Pterosaurus, Dino Tracker, dan sedikit berbasah-basah ria dengan The Falls.

SAMSUNG CSC
Basah-basahan di The Falls.
Diuntang-anting The Wave.
Diuntang-anting The Wave.
Naik Pterosaurus dulu ya.
Naik Pterosaurus dulu ya.

Beberapa hal yang membuat saya tidak bosan ke Mikie Funland adalah mereka memiliki banyak wahana yang jika dicobai dalam suatu waktu tidak mungkin keburu. Mengapa? Satu. Saya belum siap terombang-ambing. Kedua, nyali saya tidak cukup kuat untuk wahana mencekam tadi. Overall, Mikie Holiday Resort & Funland worth to go! Saran saya, sebaiknya pergi di hari sabtu. Menginap semalam di Mikie Holiday dan hari minggunya seseruan di Mikie Funland.

So, are you still have another reason not to go to this cool place? Informasi lebih lanjut monggo mampir disini

Tim hore-hore Mikie Holiday.
Tim hore-hore Mikie Holiday.

What to do

Jika kalian berencan untuk berlibur bersama keluarga dan menginap. Datanglah pada akhir pekan. Pilih Family room yang view-nya mengarah ke kolam renang. Juga jangan lewatkan bermain di Mikie Funland. Bagi yang bernyali tinggi disarankan untuk mencoba wahana ektrimnya seperti Dino vs Dino, T-Rex atau bisa jadi Tsunami.

What to bring

Topi dan kalau perlu sunblock. Pada siang hari matahari begitu terik. Sedia juga jas hujan atau payung karena sewaktu-waktu bisa hujan dan cuaca tidak bisa ditebak.

 

SIGIRIYA, KOTA DI ATAS BATU

Teks & Foto : Karnadi Lim

Always do what you are afraid to do. -Raplh Waldo Emerson-

Perjalanan dari Kandy ke Sigiriya kami mulai dengan menumpang bus antar kota, perjalanan selama 2,5 jam kami tempuh dengan perasaan yang tak nyaman, ini di sebabkan cara mengemudi supir-supir bus di sini sangat luar biasa, mereka seakan-akan tidak mengenal kata rem, yang ada hanya tekan gas dan banting setir kiri kanan. Demikian seterusnya hingga akhirnya kami diturunkan di terminal bus Dambulla.

Dari stasiun bus Dambulla kami kembali menumpang bus menuju Sigiriya, sebenarnya jarak yang ditempuh lumayan singkat, tetapi konsep bus di mana-mana keknya sama saja, kami harus menunggu selama 30 menit lebih hingga bus penuh. Jarak yang bisa ditempuh 20 menit akhirnya molor hingga 1 jam. Akhirnya kami mencapai Sigiriya.

Supir menurunkan kami tepat di pinggir jalan tempat penginapan yang telah kami pesan, tinggal jalan kaki memasuki lorong yang becek dan berdebu untuk sampai ke tempat. Kami menginap di Sigiriya Paradise Inn pemiliknya sangat baik sekali menyambut kami dan menjelaskan tentang Sigiriya.

Karena tidak ingin membuang waktu lagi, kami bergegas berangkat menuju ke Sigiriya Rock yang memang jalan masuknya telah nampak sewaktu melintas dengan bus, sewaktu kami sampai di persimpangan jalan masuknya kami menyempatkan bertanya ke penjaga kira-kira berapa jauh jarak ke dalam, penjaga dengan santai menjawab 500 meter.

Kami memutuskan berjalan kaki melewati jalan dari tanah merah yang sangat becek disaat matahari berada diatas kepala, memang membutuhkan perjuangan keras hingga kedalam. Ternyata jaraknya lumayan jauh, kami menghabiskan waktu 30 menit untuk jalan hingga ke tempat pembelian tiket.

Jalan masuk ke Sigiriya Rock
Jalan masuk ke Sigiriya Rock

Untungnya sesampainya di dalam, suasana lumayan adem karena dikelilingi oleh pohon-pohon dan juga taman-taman purbakalanya dengan sistem irigasi yang unik membuat kita betah berlama-lama disana. Setelah membeli tiket seharga USD 30 dan mendapatkan DVD kecil tentang Sigiriya dalam 6 bahasa. Ini merupakan tiket masuk objek wisata termahal di Sri Lanka.

Taman dan jalanan yang tedapat banyak pohon menuju ke Sigiriya Rock
Taman dan jalanan yang tedapat banyak pohon menuju ke Sigiriya Rock
Tiket masuk ke Sigiriya Rock
Tiket masuk ke Sigiriya Rock

Dari kejauhan bukit batu setinggi 200 meter telah nampak, sebenarnya saya termasuk orang yang takut akan ketinggian, karena telah sampai ke sigiriya harus memaksakan diri untuk mendaki ke atas, secara ketinggian sih tidak seberapa, cuma yang terbayang adalah curamnya jalan dan sulitnya medan yang akan dilalui.

Sigiriya Rock dari kejauhan
Sigiriya Rock dari kejauhan

Memasuki gerbang Sigiriya kita akan melewati sebuah kanal yang bentuknya masih terlihat jelas dan kita seakan-akan dibawa ke masa ribuan tahun silam ketika Sigiriya masih berupa sebuah kerajaan yang didirikan oleh Raja Kashyappan I ( 477 – 495 SM ). Di depan kanal terhampar taman yang merupakan bagian dari komplek istana raja. Raja Kashyappan I sendiri memiliki 2 komplek istana yaitu istana musim panas yang letaknya di bawah bukit batu serta istana musim dingin yang letaknya di puncak bukit batu Sigiriya.

Seperti kata pepatah, selalu lakukan apa yang Anda takut untuk lakukan. Mengumpulkan segenap keberanian akhirnya jalan menapak naik kita mulai dengan menapaki tangga yang diapit oleh 2 buah batu yang gede kemudian jalanan mendaki terus dan terus hingga kita sampai di taman atas tempat untuk melepas lelah.

Jalan menuju ke atas
Jalan menuju ke atas
Jalan di punggung bukit
Jalan di punggung bukit
Jalan mendaki
Jalan mendaki

Untuk mencapai gerbang Lion’s Rock hingga menuju puncak Sigiriya Rock tentunya kita harus mendaki menyusuri anak tangga yang telah disediakan. Memang harus siap stamina untuk menaiki anak tangga tersebut karena ada beberapa bagian anak tangga yang bentuknya nyaris tegak lurus dan sangat terjal untuk didaki yang tentunya sangat menguras tenaga. Sedangkan Elephant Rock dapat dicapai tanpa harus mendaki dan Cobra Rock dicapai pada rute yang berbeda saat menuruni bukit.

Naik dan turun
Naik dan turun

Perjalanan menyusuri puncak bukit Sigiriya di antaranya harus melewati sisi punggung bukit yang telah dipasang anak tangga yang dibuat secara manual. Saat itu angin berhembus sangat kencang di atas bukit sehingga tangga yang dipijak pun akan bergoyang. Hal inilah yang membuat perasaan makin deg-degan juga apalagi kondisi tangga sangat sempit dan harus dilalui 2 arah oleh para pengunjung.

Jalan vertikal dan melingkar menambah horor perjalanan ini
Jalan vertikal dan melingkar menambah horor perjalanan ini

Setelah menyusuri beberapa bagian anak tangga vertikal yang melingkar akhirnya tiba di salah satu gua yang sangat sempit dan di dalamnya terdapat galeri lukisan yang dibuat secara handmade pada langit-langit serta dinding gua. Raja pada masa itu memiliki 500 orang istri dan satu-persatu istrinya tersebut dilukis pada langit-langit serta dinding gua tetapi lukisan wanita yang masih tersisa hanya sekitar 20-an lukisan.

Lukisan di langit-langit gua
Lukisan di langit-langit gua

Begitu turun dari Gua tersebut kami berjalan melewati dinding kaca (Mirror Wall). Dinding atau tembok tersebut terbuat dari porselen yang sangat mengkilap sehingga menyerupai kaca dan di tembok tersebut banyak terdapat tulisan-tulisan yang berisi puisi yang ditulis oleh raja sendiri. Tembok tersebut diberi pembatas sehingga pengunjung tidak diperkenankan untuk mendekat apalagi menyentuhnya. Tetapi sayang sekarang mirror wall ini sudah tidak bisa memantulkan bayangan kita lagi karena termakan usia.

Mirror wall
Mirror wall

Setelah melanjutkan perjalanan naik dan terus naik kami tiba di Lion Gate yang merupakan bagian dari Lion Rock. Lion Rock yang sekarang masih tersisa hanya berupa Tapak Kaki Singa sedangkan bagian yang lain telah hancur. Kembali kami harus menaiki anak tangga yang terbuat dari besi yang berdiri hingga ke puncak. Belum lagi ketika angin bertiup kencang semua tangga-tangga tersebut goyang ditambah lagi banyaknya pengunjung yang naik pada saat itu membuat perasaan semakin deg-deg-an, saya berhenti cukup lama sambil menunggu semua pengunjung naik atau turun duluan dan si Ahseng teman saya telah duluan naik meninggalkan saya di pertengahan tangga. Akhirnya setelah berjuang mendaki selama 1.5 jam tiba di puncak Sigiriya Rock.

Lion Gate
Lion Gate

Sesampainya di atas, kami disambut oleh sekawanan monyet liar penghuni Sigiriya Rock. Timbul rasa iseng kami untuk sekedar bermain-main sambil menggoda si monyet yang sedang menggendong anaknya, ternyata si monyet marah karena merasa diganggu, belum lagi tiba-tiba botol air minum yang kami bawa direbut paksa oleh si monyet, kami pikir daripada menjadi korban kebrutalan si monyet dengan berat hati kami melepaskan botol air minum untuk dibawa si monyet.

Monyet-monyet di Sigiriya Rock
Monyet-monyet di Sigiraya Rock

Dari puncak bukit ini kita juga dapat memandang sisa-sisa hall (ruangan) atau tempat raja dan permaisuri serta selirnya yang berjumlah 500 orang mengadakan pesta dan diakhiri dengan mandi bersama di sebuah kolam yang besar yang masih tersisa hingga sekarang.

Sisa hall ruangan
Sisa hall ruangan
Kolam tempat mandi bersama
Kolam tempat mandi bersama

Setelah puas menikmati puncak bukit Sigiriya kami turun melalui jalur berbeda dengan jalur pada saat mendaki. Waktu yang ditempuh untuk turun lebih cepat pada saat naik yaitu sekitar 30 menit. Jadi untuk mendaki Sigiriya Rock ini serta turun kembali dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Jalan di antara punggung bukit
Jalan di antara punggung bukit

Perjalanan panjang dan melelahkan telah terbayarkan dengan pemandangan dan perjalanan menuju ke atas puncak Sigiriya Rock untuk melihat sisa-sisa kejayaan masa lalu, kami melangkahkan kaki meninggalkan kompleks Sigiriya Rock untuk kembali ke penginapan, dalam perjalanan balik kami menemukan sebuah pondok/ cafe yang cukup eye catching, karena perut dalam keadaan lapar berat kami makan di sana.

Makan siang di Sigiriya menjadi satu tragedi makan siang termahal selama di Sri Lanka, bayangkan saja untuk makan berdua dengan nasi dan devilled chicken (semacam ayam penyet) kami harus merogoh kocek sebesar 1250 Rupee. Dengan berat hati kami harus merogoh kocek makin dalam sedangkan persediaan uang sudah menipis karena si Ahseng membeli Batu Safire di Kandy dan kami belum sempat ke ATM.

Gua yang sempit hanya di pasang besi ke punggung bukit
Gua yang sempit hanya di pasang besi ke punggung bukit

Sesampainya di penginapan kami ditawari makan malam dengan menu khas Sri Lanka oleh pemilik penginapan dengan harga 600 Rupee per orang, karena tidak mau repot akhirnya kami menerima tawaran untuk makan di sana. Ternyata makan malam yang disajikan melebihi ekspetasi kami, kami disuguhkan nasi beras samba dengan fish curry, sayuran, kopas (opak khas Sri Lanka) dan Telur Dadar.

Perjalanan panjang dari Kandy hingga berakhir di Sigiriya menjadi penutup akhir tahun kami, kami melewati malam pergantian tahun dalam suasana yang damai ditemani oleh pemilik penginapan tanpa perayaan hura-hura, dan petasan, hanya malam yang gelap serta orang-orang yang ramah menjadi teman penutup serta pembuka tahun kami.

Jalan masuk diapit batu besar
Jalan masuk diapit batu besar

Perjalanan selanjutnya akan kami lanjutkan ke Gua Dambulla. Perjalanan kali ini telah memberikan sebuah pengalaman yang tak terlupakan, selain berjalan tanpa jadwal yang fix, kami juga mencoba berlaku layaknya orang lokal, bus umum menjadi teman kami melintasi kota demi kota, berdiri bergantungan di gerbong kereta api serta berjejer berdesak-desakan didalamnya menjadi kegiatan kami selama 10 hari di sana.

Takengon, ketika kopi dan alam berbicara

Teks & Foto oleh Sarah Muksin, @sarahmuksin

Bukan hanya sekedar Serambi Mekkah, bagi saya, tempat ini merupakan teras kopi dunia. Keindahan alamnya mungkin belum setenar kopinya. Tapi ketika kau tiba disana, mungkin lain cerita.

Di awal Mei kemarin, seorang teman datang dan mengatakan bahwa akan melihat panen raya kopi Arabika yang sedang berlangsung di Takengon, Aceh tengah. Tanpa ragu saya menjawab ya dan kebetulan sudah 2 tahun rasanya tidak pernah melakukan perjalanan darat yang cukup menguras energi. Kebetulan, saya sama sekali belum pernah memijakkan kaki ke provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu.

Dua hal yang saya pikirkan selama kurang lebih 12 jam perjalanan adalah Takengon itu dingin dan disana pasti banyak tanaman kopi. Biasanya sebelum bepergian ke suatu tempat, saya akan menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang berbagai hal yang menarik dari tempat yang akan saya datangi. Tapi kali ini saya tidak mendapatkan gambaran apapun. Saya pergi dan berpikir biarlah dataran tinggi Gayo memberikan kejutannya pada saya.

Menangkap pagi di Bukit Sama.
Menangkap pagi di Bukit Sama.

Dikenal sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi Arabika terbaik di dunia, Takengon ternyata menyimpan rahasia dibalik pohon-pohon kopi yang tumbuh subur dan melimpah. Melewati medan yang tidak mudah membuat saya hampir menyerah. Belokan, tanjakan, turunan semuanya cukup mengocok perut dan membuat kami semua mual. Dan ini berlangsung kurang lebih 1,5 jam perjalanan menuju Takengon. Tak lama, mobil yang kami tumpangi melewati jalan yang lurus. Perjalanan selama 12 jam seperti tiada akhir itu terbayarkan sudah. Matahari yang kami saksikan dari ketinggian Bukit Sama perlahan-lahan memuncak dan memperlihatkan kepada kami sesuatu yang sangat indah di bawah sana. Danau Laut Tawar. Berwarna keemasan dan bercahaya karena pantulan sinar matahari pagi. Udara dingin yang menusuk kulit pun perlahan mulai berubah menjadi hangat.

Act like a model!

Mencari penginapan di Takengon ternyata cukup rumit. Beberapa hotel atau penginapan mungkin tidak akan mengizinkan yang bukan muhrim untuk menempati kamar yang sama. Kami saja sempat bingung karena salah satu hotel menolak untuk ditempati karena tidak ada satupun dari kami yang terikat hubungan darah atau saudara. Perlu diingat bahwa mungkin Takengon tidak seketat kota-kota lainnya yang ada di Aceh, tetapi tetap saja, hukum syariah berlaku. Yang bukan muhrim, dilarang tidur satu kamar. Kami bergegas mencari penginapan lain yang memungkinkan untuk ditempati.

Segelas kopi sedang menunggu untuk diteguk. Segera, setelah selesai berberes, kami mencari sarapan dan bergegas mencari kebun kopi yang bisa disinggahi. Tujuan pertama telah ditetapkan. Kami akan berkunjung ke kebun kopi milik Pak Abdullah. Terletak di kecamatan Pegasing, Pak Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak petani kopi di tanah gayo. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi banyak hal tentang kopi dengan pria paruh baya ini. Mengenal kopi sejak lahir, Pak Abdullah bercerita tentang masa kecil yang dia habiskan di kebun kopi milik keluarganya. Hingga kini, beliau mengelola kebun kopi milik keluarga dan memiliki kedai kopi yang dia beri nama Kopi Tiam Wang Feng Sen.

Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.
Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.

Hal yang paling menggembirakan dari Takengon adalah, kau tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk secangkir kopi. Di kedai kopi milik Pak Abdullah ini, secangkir kopi hitam yang nikmat bisa dicicipi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain mencicipi kopi yang harum dan nikmat, kami diajak bermain ke kebun kopi milik teman Pak Abdullah, karena kebetulan kebun kopi beliau cukup jauh sekitar 1 jam perjalanan.

Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Cinta dalam segenggam kopi.
Cinta dalam segenggam kopi.

Melihat kebun kopi dan proses pengolahannya membuat kami bersemangat dan menambah wawasan. Bahwa selama ini untuk menjadi segelas kopi, biji-biji kopi tersebut melalui proses yang panjang dan tidak mudah mulai dari dipetik, dijemur hingga disangrai.

Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.

Selesai dengan urusan kebun kopi, kami berkesempatan mengelilingi beberapa kedai kopi yang mulai menjamur disetiap sisi kota Takengon. Saya tidak pernah mengira bahwa kota kecil ini dipenuhi dengan kedai kopi yang rasanya nikmat dan diproses dengan baik. Bagaimana tidak, pemilik kedai kopi adalah juga pemilik kebun kopi yang tahu bagaimana mengolah kopi dan menjadikannya minuman yang nikmat. Hampir setiap rumah yang kami lewati di kota ini menyangrai biji kopinya sendiri dan aroma kopi itu menyergap masuk ke hidung kami.

Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!

Takengon bukan hanya tentang kopi. Kota ini juga menyimpan peninggalan bersejarah dan cerita budaya. Salah satunya ketika kami mengunjungi Gua Putri Pukes. Cerita yang berkembang di masyarakat setempat bahwa ada seorang putri yang berubah menjadi batu didalam gua tersebut.

Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.

Tak lupa, kami juga mengunjungi Ceruk Mandale. Lokasi tempat ditemukannya kerangka manusia yang diperkirakan berusia 8400 tahun. Lokasinya yang tidak mudah ditemukan membuat kami harus bertanya kepada warga lokal. Medannya juga cukup sulit karena termasuk jalan baru dan jarang dilalui oleh warga sekitar, sehingga masih sepi.

Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.

Pada tahun 2010 lalu para peneliti dan arkeolog menemukan kerangka manusia purba ini. Penelitian masih berjalan hingga sekarang.

Berkat seorang teman, kami dibawa untuk mencicipi sajian khas Aceh Tengah yang katanya hanya disajikan pada acara tertentu saja semisal pesta perkawinan. Kebetulan, ada satu resto yang menyajikan makanan ini. Namanya Asam Jing. Asam Jing sendiri mirip dengan masakan padang, Asam Padeh. Ada juga Cecah Terong Belanda. Agak aneh sebenarnya karena baru pertama kali mencicipi Terong Belanda yang tidak di jus tetapi dijadikan sambel. Ya, makannya pun harus dengan daun labu yang direbus. Rasanya? Surprisingly, enak banget.

Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!
Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!

Takengon membuat kami jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Bukan hanya pada kopi, tetapi pada keindahan alam serta keramahan orang-orangnya. Omong-omong, orang Gayo itu cantik-cantik dan tampan-tampan loh.. he.. he.. he..

How to get there

Ada baiknya kalau memang merencanakan perjalanan darat, berangkatlah pada malam hari. Selain menghindari macet, perjalanan malam lebih sejuk dan tidak membuang-buang waktu. Apabila terlalu melelahkan, ada pesawat perintis yang berangkat 3 kali seminggu dari Medan.

What to do

Minum kopi. Main ke kebun kopi. Datanglah pada saat panen raya, ketika semua orang sibuk dengan biji kopinya. Oleh-oleh terbaik dari Takengon itu adalah kopinya. Kopi Gayo. Danau Lut Tawat juga tidak boleh dilewatkan. Pemandangan paling menakjubkan bisa didapatkan dari Puncak Pantan Terong, sekitar 20 menit dari kota.

Trip Gelombang, Menelusuri Kampung Halaman Alfa di Pusuk Buhit

Teks oleh Eka Dalanta @EkaDalanta

Foto oleh Andi Gultom @andigultom

*Tulisan ini juga terbit di majalah Dunia Melancong

“Welcome to Sianjur Mula-mula and Feel The Miracle!”

Keajaiban seringkali terwujud dengan ajaib, seperti namanya. Keajaiban tersebut, ketika mewujud, maka namanya disebut-sebut sebagai kebahagiaan. Seperti beberapa waktu lalu saat saya dan kemanaaja.com mengadakan sebuah perjalanan menelusuri kampung halaman Alfa Sagala, tokoh utama dalam novel Supernova, Gelombang karya Dee Lestari.

Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula
Perbukitan cantik di perjalanan menuju Sianjur Mula-mula

Sebenarnya, saya sudah sangat lama tertarik untuk berkeliling Pulau Samosir sampai ke Sianjur Mula-mula dan kaki Pusuk Buhit, sebuah gunung yang dianggap sakral oleh masyarakat Batak. Niat itu, lama terpendam karena memikirkan jarak dan akses untuk menuju ke sana. Saya tahu dan telah membaca banyak refrensi tentang betapa menariknya dan kayanya situs-situs yang ada di sana. Banyak mitos, banyak cerita, banyak folklore, juga tinggalan-tinggalan kebudayaan yang menarik untuk dipelajari. Tapi lama sekali niat itu tertahan dan tertunda.

Kali ini saya pantas berterima kasih kepada Dee Lestari yang membangkitkan kembali keinginan tersebut. Lewat novel berseri terbarunya, Supernova Gelombang, hasrat saya tersebut seperti tergelitik kembali. Rasanya ingin menyaksikan langsung kaki Pusuk Buhit, Aek Sipitu Dai, dan Sianjur Mula-mula yang disebut-sebut di dalam novel. Saya memang sangat mudah tergoda dengan tokoh-tokoh menarik dan cerita tentang mereka dalam novel. Maafkan saya yang jika sudah jatuh hati akan melakukan banyak hal untuk mengenal dengan details keseluruhan cerita.

Ide Trip Gelombang pun menggelontor begitu saja. Bersama dengan 4 orang teman yang juga pembaca Gelombang, kami siap menjelajahi Sianjur Mula-mula dan bertemu dengan “Alfa”.

Kabut di atas Danau Toba
Kabut di atas Danau Toba

Not Easy

Iya, tidak mudah. Bukan rute perjalanan dan medannya yang tidak mudah, tapi keputusan kami untuk melakukan perjalan kali ini tidak mudah. Entah kenapa, perjalanan kali ini mengalami cukup banyak tantangan yang butuh kebulatan tekad agar bisa melakukan perjalanan spiritual ini.

Iya, kami menyebutnya perjalanan spiritual karena perjalanan kali ini adalah sebuah perjalanan untuk berkenalan dengan kampung halaman tokoh yang hidup dalam imajinasi kami. Lagi pula tempat yang kami tuju bukan tempat sembarangan, sebuah tempat yang dipercaya oleh masyarakat Batak sebagai tempat penting dan sakral. Sebuah tempat dengan sejarah panjang dan memiliki ikatan yang kuat dengan masyarakat Batak seluruh dunia. Pusuk Buhit, tempat pertama kali Debata Mula Jadi Nabolon pertama kali menurunkan orang Batak dan membangun kehidupan di sana. Begitu menurut mitos penciptaan dalam masyarakat Batak.

Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.
Makan malam di Pasar Kaget Berastagi. Karena sudah malam, kami memutuskan bermalam di Berastagi sebelum melanjutkan perjalanan ke Tele.

Seperti saya, teman saya yang lain, Melzna ternyata juga sudah sangat lama memiliki keinginan berdiri lebih dekat dengan Pusuk Buhit, paling tidak di kakinya. Bukan seperti selama ini yang hanya melihat dari jauh.

Tantangan itu mulai dari pembatalan dari teman-teman yang sudah berjanji ikut tapi tiba-tiba membatalkan. Sebagian dengan alasan yang jelas sebagian tanpa alasan. Ya… sudahlah. Jadilah kami mencari-cari teman yang lain yang ujung-ujungnya membuat saya sepakat dengan pendapat para traveler senior, “Nggak mudah menemukan teman jalan, selain belum tentu cocok waktu, juga belum tentu cocok kantong dan minatnya.” Tapi kami ya tetap go a head dong…

Tantangan berikutnya, penginapan yang sudah di-booking tapi pada hari H mendadak batal karena pemilik penginapan mengaku sudah full padahal sudah di-book malam sebelumnya. Ngeselin nggak itu?

Menara Pandang Tele
Menara Pandang Tele

Selanjutnya, salah satu tim dari kemanaaja, Thicka, pagi hari di jadwal keberangkatan tiba-tiba mengirimkan pesan kalau dia batal ikut karena mendadak jatuh sakit. Mimisan dan mendadak lemas. Kesal, marah, sedih, semuanya bercampur satu. Ingin rasanya waktu itu membatalkan saja trip yang sudah dirampungkan di malam sebelumnya. Tapi saya sudah terlanjur bertekad bulat, trip harus berjalan. Syukurnya teman-teman yang lain juga sepakat untuk lanjut terus… dan keajaiban sudah berlangsung sejak saat itu. Thicka memaksa diri untuk tetap ikut, dengan keyakinan yang sama dengan kami, perjalanan ini akan baik-baik saja buatnya.

Ada lagi, dalam perjalanan, Andi, fotografer andalan kami, dalam perjalanan mendadak didera sakit kepala hebat. Seperti dilanda gempa katanya. “Benar-benar penuh tantangan,” kata Melzna, teman saya. Thank God, kami semuanya diberkati dengan keyakinan yang kami miliki.

Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.
Akhirnya tiba di Tele. Waktunya makan siang. Di dekat menara pandang Tele ada satu-satunya warung yang menjual teh, kopi, dan mie rebus.

Sianjur Mula-mula

Setelah menempuh perjalanan dengan menginap semalam di Berastagi (karena kondisi fisik beberapa teman yang kurang baik) kamipun tiba di Sianjur Mula-mula. Kami menikmati perjalanan dan pagi yang berkabut sepanjang perjalanan di Tele. Menara Pandang Tele hari itu tidak menjanjikan pemandangan yang jernih. Tapi untungnya hari yang didominasi rintik sepanjang jalan tidak berlangsung lama. Langit di Sianjur Mula-mula sangat bersahabat. Langit jernih dengan udara segar sehabis hujan. Langit sudah terbuka. Kampung Sianjur Mula-mula yang menjadi destinasi utama kami sudah ada di depan mata. Perkampungannya kelihatan biasa saja. Jalanan sedang diperbaiki, untuk membuatnya semakin layak sebagai kawasan Geopark mungkin karena tahun 2015 Pulau Samosir dan Danau Toba yang mengelilinginya sudah akan menjadi kawasan Geopark dunia.

Perbukitan menuju Pusuk Buhit
Perbukitan menuju Pusuk Buhit

Rumah-rumah dari kayu dan beberapa berbentuk rumah panggung masih tampak di desa ini. Ada antusias melihat kampung Alfa. Kami rasanya melihat masa kecil Alfa Sagala, tokoh bermarga Sagala yang memang marga asli dari Desa Sianjur Mula-mula, juga Marga Limbong.

Entah dimanapun itu letak rumah Alfa, kami merasakan sudah berada di rumah masa kecil Alfa, bertamu dan disambut dengan ramah. Desa kecil ini dikelilingi oleh bukit-bukit indah yang menghijau tregradasi. Hijau tua, hijau muda, hijau yang menyegarkan mata.

Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai
Pusuk Buhit dilihat dari Aek Sipitu Dai

Aek Sipitu Dai

Mata air dengan pancuran dengan tujuh rasa yang berbeda-beda, Aek Sipitu Dai. Kami menjadikan tempat ini juga sebagai destinasi wajib. Penasaran dengan rasanya yang rupa-rupa itu dan juga karena menjadi salah satu bagian yang juga dicerita-ceritakan dalam Gelombang.

Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai
Gapura selamat datang di Aek Sipitu Dai

Tempatnya tak seperti yang saya bayangkan. Dalam pikiran saya, lokasinya tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk dan tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari karena kesakralannya. Saya agak menyayangkan hal itu. Ah seandainya kesakralan itu dijaga, tentu tempat ini akan lebih memiliki banyak daya tarik.

Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar
Duduk bersantai menikmati bukit yang cantik dan angin yang segar

Sebelum mencoba cicip rasa masing-masing pancurannya, kami bertemu dengan Bapak Sagala, juru kunci Aek Sipitu Dai sekaligus pegawai Dinas Pariwisata setempat. Beliau memberikan informasi sebagai introduction, tentang sejarah Raja Batak, Sejarah Sianjur Mula-mula, dan sejarah Aek Sipitu Dai. Kepada beliau kami bercerita tentang novel Gelombang yang kami bawa serta waktu itu. Ah betapa terkesimanya beliau dengan setting yang banyak mengambil tempat di Sianjur Mula-mula sekaligus tokoh utamanya yang bermarga Sagala.

Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai
Mencicip rasa air Aek Sipitu Dai

Kami pun mencoba rasa dari masing-masing pancuran air. Sebelum mencoba jangan lupa ucapkan “Horas” kata Bapak Sagala. Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Mengucapkan “Horas” sebelum meminum air yang ternyata rasa dari tiap pancuran memang berbeda-beda. Ada pancuran air untuk ibu-ibu, untuk para dukun, pancuran air penyembuh, dan lain-lain. Rasanya beragam, ada yang terasa soda tawar tanpa gula, sebagian terasa manis, sebagiannya lagi rasa soda dengan kadar yang sangat sedikit. Tidak ada penjelasan ilmiah di sini. Saat dibawa ke sumber mata airnya yang tepat berada di belakang pancuran di bawah sebatang pohon hariara besar dan rimbun, aliran air tenang yang membentuk kolam panjang.

Sumber mata air Aek Sipitu Dai
Sumber mata air Aek Sipitu Dai

Setelah berfoto bersama, sebagai tanda persaudaraan kami menghadiahkan buku Gelombang untuk Bapak Sagala yang sudah sangat ramah dan sepertinya sangat tertarik dengan Gelombang.

Tanah Ponggol
Tanah Ponggol

Batu Hobon, Sopo Tatea Bulan, Huta Raja Batak di Kaki Pusuk Buhit

Batu hobon adalah bagian menarik dari Sianjur Mula-mula, sebuah situs batu yang dipercaya sebagai batu berongga tempat si Raja Batak, Guru Tatea Bulan menyimpan harta bendanya. Batu berongga ini merupakan sisa-sisa dari proses vulkanis yang terjadi pada Gunung Toba ribuan tahun silam. Konon banyak pihak yang berniat membuka tempat penyimpanan ini tetapi tidak berhasil dan justru ditimpa malapetaka.

Situs Batu Hobon
Situs Batu Hobon

Situs ini berada di sebuah tanah datar luar yang dikelilingi bukit-bukit cantik. Di bukit yang tepat berada di seberang Batu Hobon terdapat Sopo Tatea Bulan, sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat patung si Raja Batak beserta keturunan, pengawalnya, serta sejumlah kendaraan si Raja Batak seperti naga, gajah, singa, harimau, dan kuda. Di tempat ini di antara pebukitan yang indah tak sedikit orang mengadakan ritual kebudayaan dan kepercayaan. Seperti saat kami kemari, kami urung masuk karena ada yang tengah melakukan upacara.

Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon
Sopo Tatea Bulan dilihat dari Batu Hobon

Pemandangan menuju ke tempat ini sangat luar biasa. Pun di luasnya halamannya. Kita bisa menyaksikan bukit-bukit berbaris, bersinggungan dan berlapis-lapis yang diinterupsi air terjun di sela-selanya. Seperti terjepit. Hijaunya sangat memanjakan mata. Belum lagi barisan kerbau yang merumput di kemiringan bukit serta hamparan sawah hijau kekuningan yang sangat luas dihiasi perkampungan dengan rumah-rumah adat Batak. Sangat istimewa. Saya tidak berhenti mengagumi keindahannya, tak pula malu berteriak-teriak bahagia dan bersyukur.

Sopo Tatea Bulan
Sopo Tatea Bulan

Tak jauh dari Sopo Tatea Bulan terdapat perkampungan atau Huta Si Raja Batak, yang diyakini sebagai tempat awal di Raja Batak mendirikan perkampungan. Di tempat ini tengah dibangun pusat informasi Geopark Toba.

Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Foto di depan Batu Hobon dengan bendera Batak
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Jalanan menuju Pusuk Buhit
Aek Sipitu Dai
Aek Sipitu Dai
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Ada berapa kerbaukah di bukit ini?
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.
Panguruan, kampung Martin Limbong dalam cerita Gelombang.

Kejutan Besar

Kejutan besar yang sangat membesarkan hati datang saat kami sedang dalam penyebrangan menuju Parapat. Di atas kapal feri, sebuah notification dari instagram membuat mobil kami penuh teriakan gaduh. Dee Lestari adalah penyebab kerusahan tersebut. Postingannya membuat kami berbahagia sekaligus terharu. Dia menulis:

“Inspired by Alfa Sagala and organized by @kemanaajacom #Gelombang’s readers made a trip to Sianjur Mula-mula, the birth place of Batak civilization. They meet Pak Sagala, Juru Kunci/ guide of the village. A year ago I did the same trip and interviewed Pak Sagala. After the book was out I thought about sending him #Gelombang but I didn’t have his address. The universe worked in wondrous way. This group gave him my book upon their visit. I just knew about this last night when they tagged me. I am so touched and relieved. Alfa made his way home. Thank you, dear readers. Bless your, kindness. <3”

Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai
Bersama Bapak Sagala, Juru Kunci Aek Sipitu Dai

Dengan dukungan semesta, Alfa menemukan jalannya pulang, ke Sianjur Mula-mula, bersama-sama dengan kami. Dan Bapak Sagala sudah menerima niat yang sudah terbangun di hati Dee, melalui kami. Tawa bahagia dan keajaiban yang kami rasakan sepanjang perjalanan telah membawa kami pulang, pada hati kami. Perjalanan spiritual kali ini membawa banyak kenangan bahagia.

Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit
Bernarsis dikit di kaki Pusuk Buhit