Bukit Lawang, Wisata Alam Tanpa Bosan

Teks & Foto oleh Johan Wibawa @johanwibawa

Editor Eka Dalanta @ekadalanta

IMG_4506
Saya dan kawan-kawan tim jalan-jalan ke Bukit Lawang

Menjelajahi satu tempat wisata yang sama berulang-ulang, biasanya akan membuat seseorang bosan karena aktivitas yang dilakukan di sana pasti itu-lagi-itu-lagi. Apalagi kalau untuk mencapai lokasi tersebut mesti merasakan capek terlebih dahulu. Lain ceritanya kalau jalan-jalan ke Bukit Lawang. Saya selalu suka liburan ke tempat ini.

Lokasi wisata ini terletak di kecamatan Bahorok, kabupaten Langkat, Sumatera Utara – lebih kurang 3 jam perjalanan non-stop dari Kota Medan karena jalanannya di beberapa titik masih belum teraspal dengan baik – dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser yang membentang luas sampai provinsi Aceh. Sudah beberapa kali saya ke sini, pertama kali pada malam tahun baru (2009 ke 2010) tapi saya tidak pernah bosan. Justru masih banyak sekali to-do-list yang mau saya lakukan di tempat ini pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

*Membungkuk 90 derajat* Saya sangat berterima kasih pada Regina Frey dan Monica Buerner, dua orang Zoologist berkebangsaan Swiss, yang pertama kali membangun Pusat Rehabilitasi bagi Orang Utan pada tahun 1973 di tempat ini. Keberadaan pusat rehabilitasi itu membuat Bukit Lawang menarik perhatian, ibaratnya anak gadis yang sudah belajar berbandan. Semakin banyak pulalah para peneliti mancanegara datang. Begitupun wisatawan domestik juga.

IMG_4427
Selamat datang di Bukit Lawang

Meski pernah dilanda banjir bandang pada akhir tahun 2003 yang menelan ratusan korban jiwa, Bukit Lawang lalu memerbaiki diri dan makin maju daripada sebelumnya. Bahkan sekarang Bukit Lawang sudah menjadi salah satu bagian dari UNESCO World Heritage Site! FYI, Indonesia punya 8 warisan yang masuk ke dalam warisan dunia.

Trekking masuk ke dalam hutan adalah kegiatan wajib setiap saya datang ke sini. Mungkin nggak berlebihan kalau ada yang bilang, “Loe belum sah ke Bukit Lawang kalau nggak trekking!” Memang inilah tourist attraction-nya yang paling utama. Jalan santai masuk hutan, menikmati udara segar hutan tropis, dan bertemu dengan primadonanya, Orangutan!

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ke sana lagi bersama rombongan besar, 30 orang! Biasanya saya berwisata hanya dengan jumlah orang yang masih bisa dihitung jari tangan, dan memang lebih sukanya begitu. Lebih gampang jalan dan nggak banyak maunya. Tapi syukurlah, kali ini semuanya tetap berjalan lancar, dan to be honest, we still had so much fun!

IMG_4488
Akhirnya saya bertemu dengan orangutan. Jaga jarak dengan orangutan ya. Memberi makan orangutan juga sebenarnya tidak disarankan karena orangutan dewasa harus mandiri mencari makanannya. Memberi makan juga cenderung membawa mereka keluar dari hutan. Kecuali Orangutan di penangkaran.

Untuk bisa menjelajahi hutan di sini diwajibkan menggunakan jasa guide atau ranger. Biayanya variatif, tergantung apakah kamu adalah wisatawan mancanegara atau domestik, tergantung apa saja yang mau kamu kunjungi/lakukan di dalam hutan, dan yang paling penting, tergantung juga kemampuan negosiasi kamu. Ranger yang mendampingi kami berpetualang kali ini namanya Heru – tubuhnya bidang, berkulit agak gelap, tinggi sekitar 160-an cm, wajah kotak, dan dia cukup humoris sehingga perjalanan selama di dalam hutan menjadi lebih hidup. “Bang Heru, di dalam hutan banyak nyamuk nggak?” Salah satu teman saya iseng bertanya, yang dengan santai langsung dijawab ranger kami itu, “Nggak banyak kok dek. Nyamuk di Bukit Lawang cuma satu, tapi temennya yang banyak!”

Petualangan kali ini saya dan rombongan memilih jalur panjang dengan catatan WAJIB jumpa beberapa orangutan selama perjalanan tersebut, lalu diakhiri dengan Tubing (semacam arung jeram, tapi kita hanya duduk SANTAI di dalam ban karet besar berwarna hitam yang sudah didesain dan disatukan sedemikian rupa, tugas Rangers yang duduk di paling depan dan paling belakang yang menyupirinya dengan tongkat bambu) di Sungai Bahorok yang merupakan anak Sungai Wampu!

Setelah semua personil selesai melakukan persiapan masing-masing, petualangan kami pada pagi jam 10 itu pun dimulai, dengan Hotel Rindu Alam sebagai starting point-nya. Semuanya sangat bersemangat melangkahkan kakinya pagi itu. Kamera pun tidak henti-hentinya jeprat-jepret bernarsis ria di jembatan, di jalan setapak yang diapit pohon karet, dan bahkan di depan sebuah kerangka restoran yang masih dalam tahap pembangunan. Namun napas kami mulai ngos-ngosan saat jalurnya mulai mendaki, padahal saat itu belum juga tiba di pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser! Memang tipikal orang yang terlalu lama hidup di kota, apalagi malas olahraga, gampang lelahnya. Ah… benar-benar Kampungan sekali Orang Kota ini. Hahahaha!!!

Sesungguhnya berjumpa orang utan di dalam hutan ini tergantung faktor peruntungan, sama seperti untung-untungan mendapatkan cuaca cerah saat tiba di puncak gunung. Alasannya karena mereka semua memang telah dibiarkan untuk hidup liar di hutan, dan jumlahnya juga semakin menyusut dari tahun ke tahun. Pertama kali saya trekking pada akhir tahun 2009, saya bahkan tidak berjumpa satu ekor orang utan pun. Sebagai gantinya, kami diajak ke penangkarannya untuk melihat satu orang utan yang dikandangkan karena sedang dirawat.

Tapi dalam kunjungan-kunjungan saya yang selanjutnya, akhirnya dewi fortuna sudah mulai berpihak. Minimal 3 orang utan dijumpai dalam sekali trekking, dan kadang-kadang juga jumpa dengan Thomas Leaf Monkey (monyet yang rambutnya model Mohawk). Momen paling ‘beruntung’ yang pernah saya alami adalah ketika lagi terduduk santai di tanah datar yang agak bersih karena merupakan sarang Burung Merak, terus tiba-tiba disamperin Minah (Orang utan yang paling diantisipasi karena paling agresif di Bukit Lawang dan telah dinobatkan sebagai the Queen and Legend of the Jungle. Ada bekas satu luka di dekat matanya)! Tapi tidak perlu khawatir atau panik bila hal ini terjadi karena kita selalu dikawal ranger yang berpengalaman. Mereka biasanya akan melemparkan magic item (pisang) ke arah orang utan untuk memperlambat langkah mereka, sambil melontarkan magic spell ke arahmu (LARIIIIII ke tempat yang lebih tinggi!).

Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.
Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.

Saat berjumpa dengan orangutan sebaiknya agak berhati-hati, apalagi kalau jumpanya dengan orang utan bernama Minah tadi. Ranger kami pun selalu bergerak hati-hati ketika mendengar suara daun-daun yang saling bergesekkan. “Agak mundur, agak mundur,” ucapnya pelan ke rombongan sebelum benar-benar memastikan siapa orang utan tersebut karena memang tidak semua orang utanbisa diajak ‘gaul’ (Salut dengan para rangers Bukit Lawang karena mereka bisa mengenali orang utan – orang utan yang ada di sana, padahal sekilas semuanya terlihat sama saja; bergelantungan, berkaki dan bertangan panjang, berwajah keriput hitam, dan berbulu oranye). Sekadar ngasih tahu, Orangutan dewasa 4x lebih kuat daripada Ade Rai. *Blink!

Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat berjumpa dengan orang utan di sana. Pastikan tidak ada plastik kresek di tangan, dan jangan pernah membuka resleting celana… eh, salah ketik. Maksudnya resleting tas, karena bagi mereka akan dianggap tas yang dibuka tersebut isinya adalah makanan! “Apa bedanya orangutan Sumatra dengan orangutan Kalimantan?” tanya Heru saat kami semua sedang beristirahat melepas lelah di tengah hutan. Teman-teman saya menjawab dengan jawaban-jawaban gokil karena mengira dia sedang berusaha buat lelucon lagi. Ternyata tidak, jawabannya kali ini serius, “Pongo Abelii, Orang utan Sumatra itu beraktifitasnya di pohon-pohon, jarang ada yang jalan santai di tanah kayak manusia. Kalau yang di Kalimantan, Pongo Pygmaeus, justru sebaliknya.”

Pertanyaan lagi, “Kenapa bisa begitu?” dan ternyata jawabannya serius lagi, karena di hutan Sumatra ada predator yang bernama Harimau Sumatra dan Beruang! Makanya orangutan di Bukit Lawang agak segan untuk menyentuh tanah. Ooo….

Ya, memang ada hewan buas juga di hutan ini! Tapi berdasarkan penuturan Heru, hewan-hewan tersebut biasanya hanya mangkal di pedalamaaaaaan hutan. Jadi kalau trekking-nya hanya jalur enam jam seperti yang kami tempuh, paling ‘beruntung’ kita cuma bisa bertemu jejak-jejak mereka: bekas cakar beruang di pohon-pohon, dan jejak kaki harimau.

IMG_4443
Lagi, foto rame-rame biar berasa serunya

Setelah bercapek-capek ria berjalan di dalam hutan yang jalurnya naik-turun naik-turun selama kurang lebih empat jam, akhirnya kami bisa bernapas lega saat tiba di pinggir Sungai Bahorok. Sambil menunggu ranger kami mempersiapkan ban untuk Tubing, kami semua buru-buru bergaul dengan air sungai, ada yang menyeburkan diri, ada juga yang hanya sekadar mencelup-celupkan kaki sambil menikmati pemandangan arus sungai yang dikelilingi pepohonan rindang. Tarik napas dalam-dalam! Suasana menyegarkan seperti ini memang sangat sayang untuk tidak dinikmati dengan senikmat-nikmatnya.

IMG_4501
Tubbing di Sei Bahorok bikin lelah hilang lho.

Ending perjalanan kali ini memang merupakan pengalaman yang sama sekali baru bagi saya, tapi terasa sedikit antiklimaks (bagi saya). Duduk santai di atas ban yang bergerak mengikuti arus sungai dan disupiri ranger berpengalaman, sambil menikmati pemandangan hijau bukit pepohonan di kiri-kanan, rasanya memang benar-benar sangat nyaman. Ketika melewati arus yang kencang atau spot yang agak bebatuan sekalipun, kita tetap bisa menikmati kedamaian tersebut. Hanya saja, duduk terlalu lama di sana membuat saya agak bosan (mungkin karena saya tipe yang ingin lebih banyak bergerak saat berlibur seperti ini). Biasanya perjalanan tubing akan berakhir tepat di starting point tadi, Hotel Rindu Alam, namun kali ini rombongan memilih untuk tubing lebih jauuuuuuuh melewati starting point tadi. Alhasil, kami menghabiskan ekstra satu jam untuk tubing di sepanjang Sungai Bahorok tersebut, dan harus menumpang angkot untuk kembali ke Hotel Rindu Alam.

Well, meski antiklimaks, tidak berarti saya sudah kapok dengan destinasi yang satu ini. To-do-list saya selanjutnya di sini, saya ingin coba camping di dalam hutannya dengan harapan bisa kenalan dengan hewan lain yang lebih liar daripada Orang Utan. Anyone?

*Selain Treking, Tubing, dan Camping, sebenarnya masih ada beberapa aktifitas lain yang bisa menjadi alternatif: Swimming di sungai, Ceplak-Cepluking di pinggir sungai, dan Caving (masuk goa gelap untuk menonton kelelawar tidur. FYI, ada tiga buah goa di dekat sana).

*Pssttt… Pasak bumi tumbuh liar di dalam hutan ini.

One thought on “Bukit Lawang, Wisata Alam Tanpa Bosan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *