Ayo ke Tana Toraja

Eksotik mistik, begitulah Tana Toraja dikenal. Salah satu bukti nyata sejarah peradaban animisme yang pernah ada di Nusantara. Bagian panorama, Toraja juga tidak kalah. Pegunungan, bukit, goa dan lembah menghiasinya.

 

Berpose di depan rumah Toraja
Berpose di depan rumah Toraja

Teks dan foto oleh: Sahat Farida @sahatfarida | Editor: Eka Dalanta @ekadalanta

Dari Jakarta menggunakan transportasi udara kami menuju bandara Sultan Hasanudin, Makasar. Dari Makasar menggunakan transportasi darat kami melewati beberapa kota, Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, dan Enrekang. Lepas dari Enrekang barulah kami tiba di Tana Toraja. Kira-kira 10 jam perjalanan santai hingga kami tiba di sana. Untuk perjalanan pulang, kami memilih menggunakan pesawat dari Bandara Potingku ke Makasar. Sekitar 45 menit lama waktu perjalanannya.

Desember 2016, kali kedua saya berkesempatan menginjakkan kaki di Tana Toraja. Desember merupakan bulan baik untuk melakukan kunjungan ke Tana Toraja. Pemerintah Kabupaten sepertinya menyiapkan betul program pariwisata untuk menarik wisatawan datang ke daerah ini. Di bulan Desember, Tana Toraja memiliki kegiatan rutin yang mulai populer dan banyak diminati para wisatawan untuk disaksikan, namanya Lovely December.

Lovely December merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja sebagai promosi wisata. Festival lagu Toraja, pameran kuliner, Ring Road, Toraja Night Colour Run merupakan rangkaian acara dari kegiatan Lovely December. Utamanya, Tana Toraja memberikan tawaran objek wisata yang telah populer mendunia.

Kemeriahan Lovely December di Toraja
Kemeriahan Lovely December di Toraja

Makale dan Rante Pao, saya melihat kendaraan roda empat dengan performance off road banyak berlalu lalang. Ya, wilayah Tana Toraja memang menarik untuk eksplore olahraga ekstrem seperti kegiatan Ring Road. Salah satu kegiatan dalam rangkaian Lovely December yang memiliki peminat khusus.

Selain wilayah ibukota kabupaten, saya masih belum bisa membedakan, apakah saya berada di Tana Toraja atau Toraja Utara. Tana Toraja beribukotakan Makale, dan Toraja Utara beribukotakan Rante Pao. Toraja Utara merupakan kabupaten pemekaran Tana Toraja yang ditetapkan dalam UU RI Nomor 28 Tahun 2008. Jalan raya tanpa kemacetan merupakan hal yang membuat jarak tempuh menjadi ringan, antara Makale dan Rante Pao.

Toraja #1

Objek wisata yang hukumnya wajib dikunjungi di sini adalah Londa, Kete Kesu, dan Lemo. Ada kemiripan mendasar dari tiga objek wisata ini, yang sangat mencirikan Toraja, kuburan! Ya, Toraja selama ini dikenal dengan pesona mistiknya. Adat kebudayaan yang hingga saat ini masih dijalankan sebagian besar masyarakatnya adalah pesta adat kematian, yang pada akhirnya adalah menempatkan jenasah ke makam. Tak sampai di situ, jenasah di makampun masih mendapatkan perlakuan yang sangat khas Toraja.

Lemo. Di Lemo, kita bisa menyaksikan tebing yang menyimpan jenasah. Sisi tebing dipahat menjadi goa buatan, disanalah para jenasah disimpan. Di sisi luar goa, terdapat puluhan patung, lelaki perempuan, tua muda berjajar di sana. Patung yang menyimbolkan para jenasah yang menghuni tebing. Beberapa pengunjung biasanya mencoba naik ke sebagian sisi tebing, untuk bisa lebih dekat ke patung-patung yang terpampang di sana. Berfoto jadi lebih ekstrem.

Tebing tempat jenazah disemayamkan
Tebing tempat jenazah dimakamian

Londa. Londa adalah sebuah goa, di bagian atas tak hanya patung-patung simbol para penghuni goa, namun juga peti mati yang seperti disangkutkan di ceruk goa. Tak perlu khawatir dengan suasana gelap di dalam goa, karena para pemandu yang menemani kita mengelilingi goa masing-masing membawa lampu petromak.

Di goa alami Londa, jenasah tersimpan di sana. Baik yang di dalam peti, ataupun tulang belulang dan tengkorak yang sepertinya tampak berserak. Ada dua pintu goa di sini, memiliki jalur terhubung, namun tentunya sulit untuk dilewati untuk ukuran tubuh orang dewasa. Jika Shakespeare dalam narasinya menceritakan cinta terlarang hingga berakhir kematian, pemandu di sini juga akan membawa kita pada belulang pasangan cinta terlarang, yang berujung pada kematian. Dua insan, lelaki dan perempuan, masih sepupu, jatuh cinta dan tak mendapat restu. Di Toraja, berlaku hukum bebas untuk saling berkasih jika sudah lepas dari empat pupu.

Kete Kesu. Rumah adat, Tongkonan yang dilengkapi lumbung menyambut di halaman utama ketika kita berkunjung ke Kete Kesu. Barisan Tongkonan adalah salah satu view yang menjadi favorit untuk mengambil gambar. Rumah-rumah adat, lengkap dengan ukiran khas dan tanduk-tanduk kerbau. Di sini, tanduk kerbau yang terpasang di Tongkonan menjadi salah satu ukuran prestise masyarakat.

Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik bisa kamu lihat.
Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik itu bisa kamu lihat.

Masuk ke dalam, kios-kios pedagang souvenir berderet rapi di sana, sebelum akhirnya kita sampai ke pemakaman. Sebagian makam di dalam goa, berpagar dan tak sembarang orang bisa membuka. Sebagian besar makam tersimpan dalam rumah-rumah, lengkap dengan patung simbol jenasah. Unik-unik bentuk rumah jenasah.

Toraja #2

Jika Toraja #1 adalah objek wisata yang memang sudah sangat umum, saya senang sekali berkesempatan berkunjung ke Toraja #2. Pembagian yang saya buat sendiri untuk menjelaskan objek wisata yang baru dipopulerkan. Perlahan mengikis wajah pariwisata Tana Toraja yang sepertinya menampilkan hal-hal yang seram, berkaitan dengan kematian.

Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja
Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja

Lolai. Lolai, atau negeri di atas awan merupakan destinasi baru di Tana Toraja. Saat ini pemerintah kabupaten tampak sedang membangun perluasan dan perbaikan jalan menuju Lolai. Ya, Lolai saat ini memang menjadi primadona. Pemandangan tak biasa bisa kita dapatkan di sana, seperti namanya, negeri di atas awan.

Sebelum sampai di bukit paling atas, di sisi kanan tampak sudah dibuka juga dataran untuk para pengunjung yang hendak menikmati panorama. Saya dan rombongan melanjutkan ke atas, Tongkonan Lempe. Ketika saya datang, tarif masuk dan tarif parkir sudah diberlakukan, masing-masing Rp 10.000. Saya bersama Datu, warga lokal yang sudah beberapa kali berkunjung ke Lolai namun belum pernah mendapatkan pemandangan awan lengkap. “Lempe, Lempe” sebutnya. Dan kami pun masuk tanpa harus membayar tiket. Masyarakat mengatakan jika malam turun hujan, maka awan pagi akan tampak sangat menakjubkan. Namun hati-hati, saat ini kondisi jalan kurang baik jika dilalui jika dalam kondisi basah.

Ramai di Lolai
Ramai di Lolai

Di dalam kawasan, pengunjung sudah ramai dan padat. Tak banyak ruang kosong yang tersedia, apalagi di tepi jurang tempat paling bagus untuk menikmati pemandangan. Di sini, selain rumah keluarga pemilik Tongkonan, juga telah tersedia warung-warung dan puluhan tenda kemping bagi para pengunjung yang hendak bermalam. Tampak kelompok komunitas motor yang saat itu menggunakan tenda-tenda.

Tenda-tenda di Lolai
Tenda-tenda di Lolai

Bukit Pasir Sumalu. Setelah puas sepagian menikmati Lolai, meskipun tak banyak mendapatkan pemandangan gumpalan awan, saya dan rombongan bergerak menuju bukit pasir Sumalu. Jarak dari Lolai ke sini bukanlah dekat. Ditambah kondisi jalan yang membuat adrenalin merasa senang. Selama perjalanan, kami berpapasan dengan mobil-mobil peserta ring road. Untuk pecinta olahraga ekstrem, Toraja merupakan salah satu tempat yang bisa dicoba.

Tilanga. Tilanga adalah sebuah kolam besar, di dalamnya terdapat belut bertelinga. Saya sempat melihatnya, moa seukuran lengan orang dewasa, dengan mata berwarna biru. Bergidik, karena baru itulah pertama kali melihatnya. Dalam hati saya merasa senang, konon, siapapun yang melihat binatang tersebut akan mendapatkan keberuntungan. Boleh dong saya menitip harap pada kearifan lokal di sini.

Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat
Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat

Di kolam ini, banyak anak-anak penduduk lokal yang bermain di kolam. Mereka menunjukkan atraksi lompat ke dalam air dari tebing di sisi kolam dengan harapan pengunjung memberikan uang. Lima ribu rupiah untuk sekali lompatan. Tak berani melompat, saya memilih terjun ke air, berenang dan menyelam. Meski dalam hati was-was, khawatir berjumpa kembali dengan Moa.

Begitulah kunjungan saya ke Tana Toraja di Desember 2016. Ada satu lagi yang saya saksikan, Rambu Solo, Pesta Adat Kematian khas masyarakat Tana Toraja. Tentunya cerita menyaksikan Rambu Solo akan saya tuangkan di halaman yang berbeda.

Kiranya 2017 ini kita mendapatkan berkah dan keberuntungan. Dan anda yang ingin namun belum pernah menginjakkan kaki di Tana Toraja dapat segera mengunjunginya. Salam hangat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *