Experience Mikie Holiday, Tak Sekedar Berakhir Pekan

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh / Photo by : Eka Dalanta @ekarehulin

Yang hijau-hijau dan udara sejuk sudah sangat sulit kita dapatkan di perkotaan. Tapi, untuk mendapatkan hal seperti itu tidaklah sulit. Berjarak 60 Km dari kota Medan dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, kita bisa menemukan pepohonan hijau, merasakan udara yang sejuk dan bersih, serta wahana bermain yang seru.

Bagi sebagian warga kota kekinian seperti saya ini (ehem) mencari tempat bermain di akhir pekan rasanya menjadi kegiatan paling menyenangkan. Iya menyenangkan karena akhir pekan adalah saat dimana kita keluar dari rutinitas yang begitu penat. Sekalipun kita mencintai pekerjaan, tetap saja yang namanya bekerja dan melakukan hal yang sama setiap harinya akan menimbulkan sedikit kebosanan. Solusinya adalah jalan-jalan. Jalan-jalan kemana? Kan di kota yang ada mall lagi mall lagi. Mau cari yang hijau-hijau aja sulit. Semua udah disulap gedung-gedung tinggi berudara dingin buatan.

Pemandangan dari puncak Mikie Funland.
Pemandangan dari puncak Mikie Funland.

Berlokasi di dataran tinggi tanah Karo, Mikie Holiday bukan sekedar resort. Lebih dari sekedar itu, tempat ini menawarkan keramaian juga ketenangan dalam suatu waktu. Saya dan teman-teman senang bisa diberi kesempatan untuk mengunjungi hotel, resort, dan taman bermain terbesar di Sumatera Utara ini.

Saya dan teman-teman benar-benar mengapresiasi keramahan dan sambutan dari Mikie Holiday. Mr.Desmond Rozario selaku General Manager dari Mikie Holiday menyapa kami dengan hangat. Rasanya senang sekali bisa terlibat percakapan hangat dengan beliau dan Pak Deliasa Zalukhu selaku Director of Sales. Memang, belakangan mereka merasa pengunjung sedikit khawatir untuk datang ke Berastagi karena debu dari erupsi Sinabung. Tapi, tenang saja. Mikie Holiday aman untuk didatangi. Jaraknya dengan Sinabung cukup jauh. Kira-kira 2 jam perjalanan.

Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.
Tim dan Mr. Desmond yang ramah dan komunikatif.

Dibantu dengan seorang staff, kami diajak tour keliling Mikie Holiday Resort. Dari Pak Zalukhu, kami mengetahui bahwa Mikie Holiday memiliki lebih dari 100 kamar dimana terdapat beberapa kamar yang di design khusus seperti kamar ala Prancis, Thailand, Jepang, dan China. Masing-masing 1 unit dan interior dibuat menyerupai suasana kamar dari negara asalnya. Hayoo, kapan lagi bisa menginap di kamar ala Prancis?

Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. :D
Kamar ala Prancis. Berasa nginap sama vampire. 😀
Rose Room.
Rose Room.
Deluxe room.
Deluxe room.

Selain itu, terdapat kolam renang bagi yang ingin berenang di cuaca dingin. Ketika saya bertanya kepada Pak Zalukhu mengapa air kolam renangnya tidak diganti dengan air hangat, beliau malah menjawab “Air panas kan sudah biasa, di Lau debuk-debuk juga ada. Sesekali berenang di air bersuhu normal di cuaca dingin kan biar beda.” Kami dan tim pun sedikit terkekeh.

SAMSUNG CSC
Oriental room
Toiletries
Toiletries

Setelah berkeliling dan melihat interior ruangan, kami diberi kesempatan untuk bermain di Mikie Funland. Lokasinya berada tepat disebelah resort. Untuk masuk kedalam Funland, kita memerlukan satu kartu yang bisa dibeli di counter penjualan. Kartu ini merupakan akses masuk dan kita dapat menikmati seluruh wahana dengan hanya membayar sekali didepan. Keren kan? Main deh sampai kenyang dan puyeng.

Ada beberapa wahana yang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Yaitu Tsunami. Bagi yang doyan muter-muter dan terombang-ambing, dipersilakan mencoba wahana ini. Dan beberapa wahana lain seperti Dino vs Dino, Volcano, Jelly Swing, Bon Voyage dan masih banyak lagi. Saya sih cukup mencoba Pterosaurus, Dino Tracker, dan sedikit berbasah-basah ria dengan The Falls.

SAMSUNG CSC
Basah-basahan di The Falls.
Diuntang-anting The Wave.
Diuntang-anting The Wave.
Naik Pterosaurus dulu ya.
Naik Pterosaurus dulu ya.

Beberapa hal yang membuat saya tidak bosan ke Mikie Funland adalah mereka memiliki banyak wahana yang jika dicobai dalam suatu waktu tidak mungkin keburu. Mengapa? Satu. Saya belum siap terombang-ambing. Kedua, nyali saya tidak cukup kuat untuk wahana mencekam tadi. Overall, Mikie Holiday Resort & Funland worth to go! Saran saya, sebaiknya pergi di hari sabtu. Menginap semalam di Mikie Holiday dan hari minggunya seseruan di Mikie Funland.

So, are you still have another reason not to go to this cool place? Informasi lebih lanjut monggo mampir disini

Tim hore-hore Mikie Holiday.
Tim hore-hore Mikie Holiday.

What to do

Jika kalian berencan untuk berlibur bersama keluarga dan menginap. Datanglah pada akhir pekan. Pilih Family room yang view-nya mengarah ke kolam renang. Juga jangan lewatkan bermain di Mikie Funland. Bagi yang bernyali tinggi disarankan untuk mencoba wahana ektrimnya seperti Dino vs Dino, T-Rex atau bisa jadi Tsunami.

What to bring

Topi dan kalau perlu sunblock. Pada siang hari matahari begitu terik. Sedia juga jas hujan atau payung karena sewaktu-waktu bisa hujan dan cuaca tidak bisa ditebak.

 

Menuju Jogja, Menuju Pulang

Teks & Photo oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Tak perlu lahir dan besar di Jogja untuk mendapatkan sensasi ‘pulang’. Setiap orang pasti berbeda dalam mengartikan pulang itu sendiri. Tetapi satu hal, ada sesuatu tentang Jogja yang membuat saya ingin kembali padanya.

Saya masih ingat betul perjalanan dan ide gila yang akhirnya membawa saya kembali ke kota pelajar ini. Waktu itu, saya bersama seorang teman yang kebetulan belum pernah berkeliling Jawa ingin melakukan express traveling, dimana kota yang akan kami sambangi salah satunya adalah Jogja. Mendekati perayaan Waisak, antusiasme orang-orang meningkat untuk mengunjungi kota ini. Ya, melalui Jogja, kita bisa menuju Borobudur yang berada di Magelang.

NB : Tolong jangan bilang kalau kalian masih menganggap Candi Borobudur yang tersohor itu berada di Jogja ya..

Jalan-jalan sore di kawasan wajib senyum. Malioboro.
Jalan-jalan sore di kawasan wajib senyum. Malioboro.

Bertolak dari kota Bandung pada pagi buta, kami menumpangi kereta dan memakan waktu kurang lebih 9 jam perjalanan dan tiba pada sore hari. Selama berada di kereta, hati saya merasa adem karena sebentar lagi saya akan pulang. Iya, pulang ke Jogja. Pulang kepada keramahan dan kehangatan orang-orangnya. Ketika kembali lagi ke kota ini, senang rasanya mendapati tidak ada yang berubah. Setidaknya, tidak ada penambahan mall yang menjulang tinggi dan hampir mencakar langit.

Tanpa mengenal kata lelah, setibanya kami di stasiun Tugu, kaki langsung melangkah ke tempat dimana kita bisa menemukan ikon kota Jogja. Ya, tentu saja Malioboro. Setiap yang datang kesini selalu menyempatkan diri ke kawasan wajib senyum ini. Pedagang dan pembeli semua tumpah ruah di sepanjang jalan ini. Di sepanjang jalan juga, kita akan sering berpapasan dengan kereta kuda yang parkir atau bahkan lalu lalang di jalanan. Pemandangan seperti ini sulit ditemukan di Ibukota bukan?

Pasar yang tidak boleh dilewatkan kalau sedang main ke Malioboro. Pasar Beringharjo.
Pasar yang tidak boleh dilewatkan kalau sedang main ke Malioboro. Pasar Beringharjo.

Saya setuju dengan predikat kota pelajar yang diberikan kepada Jogja. Saya pikir, semua orang disini dilatih untuk menjadi pelajar yang ulet dan berjiwa seni tinggi. Belajar untuk membuat setiap yang datang betah dan hendak kembali lagi seperti saya.

Kedatangan kami tepat satu hari sebelum perayaan Waisak digelar. Kebetulan, waktu itu libur panjang dan semua orang dari segala penjuru daerah memadati Jogja. Niat awal perjalanan ini kami lalukan sebenarnya adalah untuk melihat dan mengikuti prosesi Waisak di pelataran candi Borobudur. Sialnya, cuaca menghentikan. Hujan serta angin deras menyambut kami malam itu. Teman saya mengatakan bahwa tidak apa kami batal ke Borobudur. Toh itu perayaan keagamaan, bukan untuk wisatawan. Saya pun mengiyakannya.

Batalnya perjalanan ke Magelang membuat kami berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan oleh-oleh di Jogja. House of Raminten. Tempat ini sangat familiar baik dikalangan setempat maupun wisatawan. Pasalnya, selain menjual oleh-oleh khas kota Gudeg, tempat ini memiliki café yang berada di lantai 2 dan selalu mementaskan kabaret setiap Jum’at dan Sabtu. Kami memutuskan untuk makan malam ditempat itu sambil menunggu pertunjukan kabaret yang akan dimulai pada pukul 8 malam.

Salah satu menu yang segar di House of Raminten.
Salah satu menu yang segar di House of Raminten.

Pukul 8 tepat lampu-lampu mulai berubah dari terang menjadi gelap. Kemudian lampu sorot diarahkan kepanggung dan menyinari sosok manusia yang sedang mengenakan gaun hitam. Inilah pertunjukan cabaret itu. Pertunjukan yang diisi oleh sekelompok waria yang bertingkah dengan kocak hingga bisa mengocok isi perut kita. Saya tak bisa berhenti tertawa melihat pertunjukan lips sing yang mereka pertunjukkan pada malam itu. Saya rasa, siapapun yang datang ke Jogja pada akhir pekan wajib melihat pertunjukan ini.

Semacam Alda Risma ala House of Raminten.
Semacam Alda Risma ala House of Raminten.

Nicki Minaj is in the house yooo...
Nicki Minaj is in the house yooo…

Tepat sehari setelah perayaan Waisak digelar di Borobudur, kami memutuskan untuk berangkat menuju Magelang untuk melengkapi list perjalanan. Menuju candi Buddha terbesar, candi Borobudur. Menggunakan taksi sewaan seharga Rp.450.000,-, kami bertolak menuju Magelang. Sengaja kami memilih taksi karena keterbatasan waktu. Sebelumnya, kami juga sempat mengunjungi candi Prambanan. Candi hindu terbesar yang menjadi saksi perkembangan hindu di Indonesia. Wisata ke Jawa, khususnya Jogja dan sekitarnya, adalah wisata candi. Merugilah kita, jika bagian yang terbesarnya tidak kita kunjungi.

Halama belakang Prambanan emang fotoable banget gaes.
Halaman belakang Prambanan emang fotoable banget gaes.

Borobudur, Magelang atau Jogja?

Candi Borobudur adalah mahakarya yang dibangun pada masa Dinasti Wangsa Syailendra. Dibangun pada tahun yang diperkirakan 750 – 800 Masehi, candi Borobudur sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Borobudur berada 15 km di selatan Magelang atau 40 km dari Jogja. Pada tahun 1991, UNESCO mengukuhkannya sebagai salah satu situs warisan dunia.

Wisatawan yang sedang berfoto diantara stupa Borobudur.
Wisatawan yang sedang berfoto diantara stupa Borobudur.

Salah satu dari ratusan ukiran di dinding candi Borobudur yang agung.
Salah satu dari ratusan ukiran di dinding candi Borobudur yang agung.

Borobudur berarti ‘biara di perbukitan’. Menurut beberapa informasi, kata Borobudur berasal dari bukti tertulis yang ditulis oleh Gubernur Jendral Britania Raya di Jawa Sir Thomas Stamford Raffles. Kata Borobudur sendiri berarti biara di perbukitan. Tak heran jika dari dulu hingga sekarang, Candi ini digunakan sebagai tempat ibadah bagi agama Buddha. Setiap tahun menjelang Waisak, tempat ini selalu dipadati oleh umat Buddha yang akan mengikuti perayaan keagamaan. Tidak hanya umat Buddha, beberapa wisatawan juga akan memadati tempat ini untuk melihat prosesi perayaan Waisak yang dipenuhi oleh biksu dan umat Buddha.

Pemandangan dari salah satu pintu keluar Candi Borobudur.
Pemandangan dari salah satu pintu keluar Candi Borobudur.

Sekembalinya dari Magelang, saya bersama teman seperjalanan menghabiskan waktu beberapa hari lagi di Jogja. Rasanya 3 hari tidak cukup untuk menuntaskan rindu. Jogja bukan hanya tentang angkringan murah, seniman ukir, batik tulis, lebih dari itu keramahan dan kehangatan orang-orang yang menyambut membuat saya merasakan pulang.

Candi Mendut. Salah satu candi yang akan kita jumpai ketika menuju ke Candi Borobudur.
Candi Mendut. Salah satu candi yang akan kita jumpai ketika menuju ke Candi Borobudur.

Kalau kembali ke Jogja, pengin duduk-duduk santai di angkringan sambil mendengarkan para pengamen mengumandangkan lagu Kla Project. Nikmati bersama, suasana Jogja.

How to get there

Ada banyak cara yang bisa ditempuh untuk bisa sampai di Yogyakarta. Dari Medan kita bisa menggunakan pesawat langsung kesana atau transit di Jakarta. Bisa pula dengan menempuh jalur darat kalau kebetulan bertolak dari Jakarta atau Bandung. Ambillah kereta malam atau kereta pagi.

What to do

Menilik pengalaman 2 tahun lalu ketika saya terakhir berkunjung kesana sewaktu Waisak, usahakan pergi disaat low season. High season membuat Jogja terlalu ramai. Dan jika tujuannya ingin mengikuti Waisak di Borobudur, Magelang, mohon jangan sampai mengganggu ritual keagaamannya. Bagaimanapun kita adalah orang yang menjunjung tinggi toleransi beragama. Utamakan kepentingan yang memebutuhkan yaitu umat Buddha yang mengikuti perayaan Waisak. Dan jangan lewatkan kabaret show di House of Raminten setiap Jum’at dan Sabtu. Worth to see!

Takengon, ketika kopi dan alam berbicara

Teks & Foto oleh Sarah Muksin, @sarahmuksin

Bukan hanya sekedar Serambi Mekkah, bagi saya, tempat ini merupakan teras kopi dunia. Keindahan alamnya mungkin belum setenar kopinya. Tapi ketika kau tiba disana, mungkin lain cerita.

Di awal Mei kemarin, seorang teman datang dan mengatakan bahwa akan melihat panen raya kopi Arabika yang sedang berlangsung di Takengon, Aceh tengah. Tanpa ragu saya menjawab ya dan kebetulan sudah 2 tahun rasanya tidak pernah melakukan perjalanan darat yang cukup menguras energi. Kebetulan, saya sama sekali belum pernah memijakkan kaki ke provinsi yang dijuluki Serambi Mekkah itu.

Dua hal yang saya pikirkan selama kurang lebih 12 jam perjalanan adalah Takengon itu dingin dan disana pasti banyak tanaman kopi. Biasanya sebelum bepergian ke suatu tempat, saya akan menyempatkan diri untuk mencari tahu tentang berbagai hal yang menarik dari tempat yang akan saya datangi. Tapi kali ini saya tidak mendapatkan gambaran apapun. Saya pergi dan berpikir biarlah dataran tinggi Gayo memberikan kejutannya pada saya.

Menangkap pagi di Bukit Sama.
Menangkap pagi di Bukit Sama.

Dikenal sebagai salah satu daerah penghasil biji kopi Arabika terbaik di dunia, Takengon ternyata menyimpan rahasia dibalik pohon-pohon kopi yang tumbuh subur dan melimpah. Melewati medan yang tidak mudah membuat saya hampir menyerah. Belokan, tanjakan, turunan semuanya cukup mengocok perut dan membuat kami semua mual. Dan ini berlangsung kurang lebih 1,5 jam perjalanan menuju Takengon. Tak lama, mobil yang kami tumpangi melewati jalan yang lurus. Perjalanan selama 12 jam seperti tiada akhir itu terbayarkan sudah. Matahari yang kami saksikan dari ketinggian Bukit Sama perlahan-lahan memuncak dan memperlihatkan kepada kami sesuatu yang sangat indah di bawah sana. Danau Laut Tawar. Berwarna keemasan dan bercahaya karena pantulan sinar matahari pagi. Udara dingin yang menusuk kulit pun perlahan mulai berubah menjadi hangat.

Act like a model!

Mencari penginapan di Takengon ternyata cukup rumit. Beberapa hotel atau penginapan mungkin tidak akan mengizinkan yang bukan muhrim untuk menempati kamar yang sama. Kami saja sempat bingung karena salah satu hotel menolak untuk ditempati karena tidak ada satupun dari kami yang terikat hubungan darah atau saudara. Perlu diingat bahwa mungkin Takengon tidak seketat kota-kota lainnya yang ada di Aceh, tetapi tetap saja, hukum syariah berlaku. Yang bukan muhrim, dilarang tidur satu kamar. Kami bergegas mencari penginapan lain yang memungkinkan untuk ditempati.

Segelas kopi sedang menunggu untuk diteguk. Segera, setelah selesai berberes, kami mencari sarapan dan bergegas mencari kebun kopi yang bisa disinggahi. Tujuan pertama telah ditetapkan. Kami akan berkunjung ke kebun kopi milik Pak Abdullah. Terletak di kecamatan Pegasing, Pak Abdullah adalah salah satu dari sekian banyak petani kopi di tanah gayo. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi banyak hal tentang kopi dengan pria paruh baya ini. Mengenal kopi sejak lahir, Pak Abdullah bercerita tentang masa kecil yang dia habiskan di kebun kopi milik keluarganya. Hingga kini, beliau mengelola kebun kopi milik keluarga dan memiliki kedai kopi yang dia beri nama Kopi Tiam Wang Feng Sen.

Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.
Pak Abdullah, pemilik Kopi Tiam Wang Feng Sen dan Kebun Kopi.

Hal yang paling menggembirakan dari Takengon adalah, kau tidak perlu merogoh kantong dalam-dalam hanya untuk secangkir kopi. Di kedai kopi milik Pak Abdullah ini, secangkir kopi hitam yang nikmat bisa dicicipi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain mencicipi kopi yang harum dan nikmat, kami diajak bermain ke kebun kopi milik teman Pak Abdullah, karena kebetulan kebun kopi beliau cukup jauh sekitar 1 jam perjalanan.

Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Biji kopi yang siap panen. Ihiy!
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Dipetik kopinya bang, dipetik~
Cinta dalam segenggam kopi.
Cinta dalam segenggam kopi.

Melihat kebun kopi dan proses pengolahannya membuat kami bersemangat dan menambah wawasan. Bahwa selama ini untuk menjadi segelas kopi, biji-biji kopi tersebut melalui proses yang panjang dan tidak mudah mulai dari dipetik, dijemur hingga disangrai.

Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Jalanan yang dipenuhi biji kopi yang sedang dijemur.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji yang telah siap untuk di roasting.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.
Biji kopi yang sedang diroasting. Wanginya sampe ke ulu hati.

Selesai dengan urusan kebun kopi, kami berkesempatan mengelilingi beberapa kedai kopi yang mulai menjamur disetiap sisi kota Takengon. Saya tidak pernah mengira bahwa kota kecil ini dipenuhi dengan kedai kopi yang rasanya nikmat dan diproses dengan baik. Bagaimana tidak, pemilik kedai kopi adalah juga pemilik kebun kopi yang tahu bagaimana mengolah kopi dan menjadikannya minuman yang nikmat. Hampir setiap rumah yang kami lewati di kota ini menyangrai biji kopinya sendiri dan aroma kopi itu menyergap masuk ke hidung kami.

Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Secangkir cappuccino yang dihiasi dibuat dengan sepenuh cinta.
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!
Erwin, pemilik ARB Coffee Shop. Salah satu kedai kopi yang recommended. Worth to try!

Takengon bukan hanya tentang kopi. Kota ini juga menyimpan peninggalan bersejarah dan cerita budaya. Salah satunya ketika kami mengunjungi Gua Putri Pukes. Cerita yang berkembang di masyarakat setempat bahwa ada seorang putri yang berubah menjadi batu didalam gua tersebut.

Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Pintu masuk ke Gua Putri Pukes.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.
Batu yang diduga jelmaan sang putri.

Tak lupa, kami juga mengunjungi Ceruk Mandale. Lokasi tempat ditemukannya kerangka manusia yang diperkirakan berusia 8400 tahun. Lokasinya yang tidak mudah ditemukan membuat kami harus bertanya kepada warga lokal. Medannya juga cukup sulit karena termasuk jalan baru dan jarang dilalui oleh warga sekitar, sehingga masih sepi.

Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Salah satu dari 3 kerangka manusia purba yang berhasil digali.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.
Lokasi ditemukannya kerangka manusia purba.

Pada tahun 2010 lalu para peneliti dan arkeolog menemukan kerangka manusia purba ini. Penelitian masih berjalan hingga sekarang.

Berkat seorang teman, kami dibawa untuk mencicipi sajian khas Aceh Tengah yang katanya hanya disajikan pada acara tertentu saja semisal pesta perkawinan. Kebetulan, ada satu resto yang menyajikan makanan ini. Namanya Asam Jing. Asam Jing sendiri mirip dengan masakan padang, Asam Padeh. Ada juga Cecah Terong Belanda. Agak aneh sebenarnya karena baru pertama kali mencicipi Terong Belanda yang tidak di jus tetapi dijadikan sambel. Ya, makannya pun harus dengan daun labu yang direbus. Rasanya? Surprisingly, enak banget.

Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!
Asam Jing Mujair dan Cecah Terong Belanda. YAM!

Takengon membuat kami jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Bukan hanya pada kopi, tetapi pada keindahan alam serta keramahan orang-orangnya. Omong-omong, orang Gayo itu cantik-cantik dan tampan-tampan loh.. he.. he.. he..

How to get there

Ada baiknya kalau memang merencanakan perjalanan darat, berangkatlah pada malam hari. Selain menghindari macet, perjalanan malam lebih sejuk dan tidak membuang-buang waktu. Apabila terlalu melelahkan, ada pesawat perintis yang berangkat 3 kali seminggu dari Medan.

What to do

Minum kopi. Main ke kebun kopi. Datanglah pada saat panen raya, ketika semua orang sibuk dengan biji kopinya. Oleh-oleh terbaik dari Takengon itu adalah kopinya. Kopi Gayo. Danau Lut Tawat juga tidak boleh dilewatkan. Pemandangan paling menakjubkan bisa didapatkan dari Puncak Pantan Terong, sekitar 20 menit dari kota.

RAPID KL, Totalitas transportasi umum di Kuala Lumpur

Teks & Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Setelah tahun lalu gagal berangkat, akhirnya pada tahun ini saya menjelajah negara tetangga yang masih serumpun dengan Indonesia. Inilah Kuala Lumpur. Kota yang hampir tidak pernah tidur, kota yang sibuk, kota dimana segala ekspatriat dari seluruh penjuru dunia berkumpul.

Apa yang ada di kelapa kalian ketika saya mengucapkan kata Kuala Lumpur? Dari beberapa blog dan tulisan menyatakan bahwa Kuala Lumpur adalah kota yang ramai, surga belanja tidak hanya bagi kaum hawa, tempat dimana semua barang-barang branded dari perancang kenamaan dunia hampir semua ada disini. Tapi, bukan itu yang menarik perhatian saya. Melainkan sistem transportasinya yang diam-diam membuat saya berdecak kagum.

Selama kurang lebih empat hari menjelajah, saya hampir tidak menggunakan taksi. Hanya sekali saja. Itupun dalam keadaan kepepet dimana saat itu hujan dan saya memang harus kembali ke hostel untuk suatu keperluan. Mulai dari ketibaan sampai kepulangan, transportasi umumnyalah yang saya gunakan untuk berkeliling kota ini.

Monorail MyRapid

Saya harus memuji Malaysia untuk transportasi umum yang satu ini. Selain bersih dan terawat, harganya juga cukup terjangkau disesuaikan dengan berapa jauh jarak dan pemberhentian yang dilalui oleh kereta yang satu ini. Saya menggunakan fasilitas ini dari stasiun utama KL Sentral menuju penginapan yang terletak di dekat Berjaya Times Square, salah satu mall yang nge-hits di Kuala Lumpur. Menariknya, Monorail MyRapid melalui rute-rute wisata di Kuala Lumpur. Cara membeli tiketnya juga cukup canggih. Di setiap terminal monorail terdapat vending machine yang bisa kita gunakan untuk membeli tiket monorail yang berbentuk seperti koin dan berwarna biru. Koin ini berlaku untuk sekali perjalanan. Warga lokal biasanya menggunakan kartu yang bisa di isi ulang dan dibayar perbulan. Untuk wisatawan cukup dengan membeli koinnya saja. Selain itu, terdapat setiap petugas yang berjaga di setiap stasiun monorail. Tidak usah khawatir karena petugas ini cukup ramah dan sangat membantu. Contohnya, ketika saya ingin membeli koin dari stasiun KL Sentral menuju Stasiun Imbi. Saya memasukkan selembar uang 10 ringgit ke dalam vending machine. Ternyata, si vending machine ini tidak menerima uang dalam pecahan besar. Si petugas yang daritadi mengawasi kami langsung sigap dan mengganti uang 10 ringgit tadi menjadi pecahan 5 ringgit sebanyak 2 lembar. Kejadian ini membuat kesan negara ini bertambah baik di mata saya. Jadi, jika ingin menjelajah Kuala Lumpur, monggo silakan dicoba Monorail-nya. Untuk informasi mengenai rute yang dilalui sila berkunjung ke websitenya di http://www.myrapid.com.my/rail%3Fcode%3DMRL

Penampakan Monorail di Stasiun Maharajalela
Penampakan Monorail di Stasiun Maharajalela

Rapid GoKL

Ada monorail MyRapid, ada Rapid GoKL. Kali ini bentuknya bukan kereta, melainkan bus. Tapi yang luar biasanya, rapid GoKL ini gratis saudara-saudara. YA. GRATIS TIS TIS! Kalau dipikir-pikir hari gini mana ada yang gratis. Istilah orang-orang sekarang, buang air saja bayar. Tapi di Kuala Lumpur, transportasi yang satu ini sungguh-sungguh gratis. Melewati rute-rute emas seperti Bukit Bintang, KLCC dan Pasar Seni, bus ini menjadi primadona diantara para wisatawan dan orang lokal. Jangan salah, meskipun digratiskan, bus ini bersih dan tertib. Semua orang teratur. Meski di jam-jam padat, tidak ada yang berdesakan dan mendorong satu sama lain. Kalau kebetulan sedang main di daerah Bukit Bintang dan ingin menuju ke KLCC untuk berfoto-foto eksis di Menara Kembar Petronas, kita bisa menggunakan bus ini. Bus Rapid GoKL ini akan berhenti disetiap halte dimana terdapat tulisan GoKL. Jadi, yang terbiasa dengan “pinggir bang!” tidak berlaku ya jika sedang menaiki bus ini. he..he..he..

Penampakan Bus Rapid GoKL dari dalam. Bersih cyin!
Penampakan Bus Rapid GoKL dari dalam. Bersih cyin!

KTM Komuter

Hari kedua di Kuala Lumpur, saya memutuskan untuk pergi ke Batu Caves, tempat dimana terdapat arca dewa hindu murugan yang tertinggi di dunia. Tempat ini jaraknya agak jauh dari Kuala Lumpur, jika ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi mungkin akan memakan waktu kurang lebih 1 jam. Saya mencoba menumpang kendaraan umum. Kali ini saya mencoba KTM Komuter. KTM sendiri adalah singkatan dari Kereta Tanah Melayu.

Papan keterangan KTM Komuter.
Papan keterangan KTM Komuter.

Dioperasikan tahun 1995, kereta ini menjangkau rute yang sedikit terluar dari Kuala Lumpur. Yang saya salut, kereta ini sama sekali tidak mengganggu jalur lalu lintas kendaraan pribadi. Jadi, tidak akan ditemui palang pintu kereta yang turun setiap kali kereta mau lewat karena KTM Komuter melewati jalur bawah tanah. Perjalanan ke Batu Caves bisa ditempuh kurang lebih 30 menit. Dengan membayar ongkos senilai 2 ringgit saja. Yang menarik lagi dari KTM Komuter adalah disediakannya 3 gerbong khusus untuk perempuan saja. Pria dilarang duduk di dalam gerbong ini. Hmm, menarik ya? Kalau di Indonesia mungkin akan disamaratakan semua ya? :p

KTM Komuter. Kereta Tanah Melayu ~
KTM Komuter. Kereta Tanah Melayu ~

LRT (Light Rapid Transportation)

Hampir sama dengan monorail, LRT melewati jarak yang tidak begitu populer di kalangan wisatawan. Bergerak dari stasiun utama KL Sentral, tempat dimana semua kereta bertemu, kami menumpang LRT Kelana Jaya Line menuju stasiun Dang Wangi untuk kemudian menyambung kereta lagi ke stasiun Imbi, lokasi hostel berada. Sebenarnya tidak rumit untuk menumpang kereta seperti ini. Harus teliti saja dan perhatikan rute-rute yang dilalui. Ya, mungkin saja rute yang kita mau tidak dilewati oleh kereta ini. Mungkin kami tidak akan menumpangi LRT ini kalau saja tidak salah jalur. Seharusnya, saya dan teman seperjalanan saya, Tika bisa saja langsung menumpang Monorail MyRapid langsung menuju stasiun Imbi. Tapi karena masih bingung dan sedikit lupa jalur, kami membeli tiket LRT. Hikmahnya, kami jadi lebih teliti memperhatikan jalur dan rute yang dilalui LRT.

LRT & Monorail Stasiun. Canggih dan terawat. Wiuw ~
LRT & Monorail Stasiun. Canggih dan terawat. Wiuw ~

Malaysia membuat saya jatuh cinta pada transportasi umum dan kecanggihannya. Untuk masalah makanan, Indonesia masih juara. Saya jadi berpikir, seandainya prasarana transportasi umum di Indonesia dibenahi seperti negara tetangga, mungkin nggak ya terawat dan secanggih di Malaysia? Mungkin saja bisa. Melihat transportasi umum di Indonesia, saya sebenarnya miris dan agak pesimis Indonesia bisa tidak ya menyaingi negara tetangganya? Saya menaruh harapan besar pada pemerintahan Jokowi – JK. Indonesia bisa!

3 Hours in Banda Aceh

Teks oleh Mustika T. Yuliandri @PerempuanThicka

Foto oleh Donna Havard 

Lama tak ke Banda Aceh, kota ini masih sama indahnya, sama bersihnya dan sama memukaunya.

Sebagai pejalan yang handal, kamu harus mampu memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk melihat lebih banyak. Dengan kata lain “lihatlah sebanyak-banyaknya dalam waktu sesingkat-singkatnya”. Itulah yang saya dan sahabat saya Donna Havard lakukan waktu kami berkunjung (lagi) ke Banda Aceh.

OKTOBER kemarin akhirnya saya dan seorang sahabat akhirnya kembali mampir ke tanah Serambi Mekah yang tersohor. Sebenarnya tujuan utama kami adalah Sabang. Tetapi karena berbagai alasan kami harus menginap semalam di Banda Aceh sebelum lanjut sore harinya menyeberang ke Sabang. Meskipun kami sudah pernah ke Banda Aceh sebelumnya dan mengunjungi beberapa tempat di sana, tak ada salahnya jika kami kembali berkeliling Banda Aceh. Apalagi kami memang memiliki waktu kurang lebih tiga jam sebelum jadwal kapal untuk berangkat ke Sabang tiba. Nah, dengan prinsip “manfaatkan waktu sebaik-baiknya demi masa depan lebih baik”, akhirnya saya dan Donna menyewa sebuah becak motor dengan harga seratus ribu saja. Biaya becak motor sudah termasuk berkeliling ke tempat-tempat yang kami mau, menunggu kami makan siang, mengantar kami kembali ke hotel untuk check out plus mengantar kami ke Pelabuhan Ulee Lheue. Kalau kalian bisa menawar lebih jago mungkin harga yang didapat bisa lebih murah. Hi-hi-hi.

 

1. Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami, salah satu museum mengagumkan di Indonesia.
Museum Tsunami, salah satu museum mengagumkan di Indonesia.

Setelah berhasil mendapatkan becak motor yang mau diajak keliling kota, tujuan utama kami adalah Museum Tsunami Aceh yang terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda. Museum yang satu ini merupakan museum dengan arsitektur keren yang nyaman banget. Ada banyak sekali ruangan yang memberikan kenangan atas duka panjang akibat tsunami di sini. Saat saya memasuki ruangan Praying Chamber ada sedih dan seram yang tiba-tiba hadir. Entahlah mungkin saya yang terlalu sensitif. Bagi yang suka foto-foto museum ini tak boleh dilewatkan. Banyak sekali spot keren yang sayang untuk tak diabadikan.

Para pengunjung Museum Tsunami yang ingin mengenang keluarga mereka yang hilang saat tsunami.
Para pengunjung Museum Tsunami yang ingin mengenang keluarga mereka yang hilang saat tsunami.

Oh iya, kamu juga bisa nonton film dokumenter tentang tsunami yang akan memutar kembali memori kamu tentang peristiwa yang mencengangkan seluruh dunia. Selain itu, di sini ada kolam ikan besar yang asik banget dipakai buat nongkrong dan bersantai setelah keliling museum. Intinya, kalau ke Banda Aceh harus harus harus datang ke museum ini.

Museum Tsunami yang memiliki arsitektur keren ini juga memiliki kolam ikan yang tak kalah asik buat tempat bersantai.
Museum Tsunami yang memiliki arsitektur keren ini juga memiliki kolam ikan yang tak kalah asik buat tempat bersantai.

 

2. PLTD Apung

Puas sekali mengeksplorasi Museum Tsunami Aceh, tujuan selanjutnya adalah PLTD Apung yang tersohor itu. Bagaimana tidak tersohor, kapal yang merupakan generator listrik berbobot 2.600 ton ini adalah saksi bisu betapa dahsyatnya kekuatan tsunami yang menghantam Aceh. Kapal ini terseret ke daratan sejauh 2 sampai 3 kilometer dari Samudera Hindia. Waktu saya ke sini pada tahun 2011, situs tsunami yang satu ini belum sebagus sekarang. Sekarang banyak sekali infrastruktur yang dibangun di sekeliling PLTD Apung. Menjadikannya sangat nyaman untuk wisatawan yang mau berfoto dari berbagai sudut.

PLTD Apung: kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh, Indonesia, yang saat ini dijadikan tempat wisata karena merupakan situs tsunami.
PLTD Apung: kapal generator listrik milik PLN di Banda Aceh, Indonesia, yang saat ini dijadikan tempat wisata karena merupakan situs tsunami.

 

3. Mesjid Raya Baiturrahman

Melipir ke Banda Aceh rasanya kurang lengkap kalau tak mampir ke Mesjid Raya Baiturrahman yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh ini. Oleh karena itu, setelah main di PLTD Apung, becak motor kami pun berhenti ke mesjid ini. Oh iya, kalau ke sini kamu harus mengenakan pakaian sopan dan penutup kepala yang, girls. Kalau tidak nanti bisa ditegur sama abang-abangnya. Hi-hi-hi. Mesjid Baiturrahman masih sama indahnya seperti waktu pertama kali saya mengunjunginya. Masih berdiri megah dengan keindahan yang khas. Kalau kamu ada waktu boleh lho mampir ke mesjid yang menjadi saksi bisu tsunami 2004 lalu.

Masjid Raya Baiturahman yang ikonik.
Masjid Raya Baiturahman yang ikonik.

 

4. Rumoh Aceh

Sayang sekali waktu kami datang ke Rumoh Aceh bertepatan dengan jadwal salat dzuhur. Jadi seperti yang diketahui, di waktu salat dzuhur semua kantor dan tempat-tempat wisata harus ditutup sampai jam dua siang. Alhasil kami tidak bisa masuk ke dalam Rumoh Aceh yang konon sekarang menjadi museum yang menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah dan prasejarah masa lampau. Meskipun tak bisa masuk ke dalam Rumoh Aceh, kami harus berbesar hati dengan hanya foto-foto di depannya saja. Yah meskipun tak bisa mengabadikan dalamnya, luarnya pun bolehlah.

Rumoh Aceh. Rumah Adat Aceh yang warna-warni ini memang menjadi salah satu objek wisata di Banda Aceh.
Rumoh Aceh. Rumah Adat Aceh yang warna-warni ini memang menjadi salah satu objek wisata di Banda Aceh.

 

5. Gunongan

Setelah makan siang dan mengobati kekecewaan akibat Rumoh Aceh yang tutup, becak motor akhirnya berhenti di sebuah bangunan unik yang mencuri perhatian saya. Bangunan berwarna putih ini ternyata adalah bangunan yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda setelah Pahang ditaklukkan oleh Kerajaan Aceh Darussalam. Bangunan putih yang mirip mahkota raja ini sungguh unik dan memiliki nilai sejarah dan cerita yang panjang. Waktu kami ke sini hanya kami sendiri pengunjungnya. Dan karena tak ada pengunjung lain rasanya menyenangan bisa eksplor dan foto-foto di tempat ini sendirian.

Gunongan: Sebuah bangunan unik yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda atas pemintaan Putroe Phang dari Pahang.
Gunongan: Sebuah bangunan unik yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda atas pemintaan Putroe Phang dari Pahang.

Sekian dulu jalan-jalan tiga jam kami di Banda Aceh. Kapal menuju Sabang sudah menunggu dan ingat, manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk melihat lebih banyak. Jadi kalau hanya punya waktu singkat di Banda Aceh, kamu boleh intip-intip artikel ini untuk jadi inspirasi.

 

NOTES!

– Banda Aceh adalah wilayah yang memakai hukum syariah Islam, jadi khususnya buat para cewek, pakaian harus sopan kalau tidak mau ditegur sama polisi syariah. Bawa juga kerudung untuk berjaga-jaga.

– Kalau traveling berdua atau sendirian, sebaiknya sewa becak motor biar lebih hemat. Rental mobil tidak disarankan kecuali kamu travelingnya emang rame-rame.

– Jangan mengunjungi tempat wisata di waktu salat karena semua tempat wisata akan tutup dan kamu bakalan diusir. Hi-hi-hi.

– Sempatkan minum kopi kalau ke Banda Aceh. Kopi Gayo memberi sensasi yang menyenangkan. Cielah!

Backpacking to Indochina ; The Untold Story

Teks & Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Sengaja atau tidak, setiap kali melakukan perjalanan, selalu ada hal-hal ajaib yang terjadi. Entah itu menyedihkan, menggelikan, mengecewakan, apapun itu, pastinya selalu terjadi tanpa kita rencanakan sebelumnya. Hal-hal seperti ini selalu mendasari mengapa saya menyenangi perjalanan. Kejutan.

Sekembalinya saya dari perjalanan, biasanya saya akan menuliskan beberapa peristiwa yang terjadi selama saya traveling. Itupun saya pilah-pilah, karena ada beberapa adegan atau kejadian yang saya sensor. Kalau dalam pembuatan film saja ada behind the scene-nya maka begitu juga ketika saya sedang jalan-jalan.

1. Perkara 500 baht di Thailand

Kejadian ini sebenarnya adalah murni ketololan saya. Entahlah. Apakah tolol atau teledor. Waktu itu saya dan teman seperjalanan, Tika tidak memiliki uang baht dalam pecahan kecil untuk kami bayarkan ke supir taxi. Ketika si supir taxi menurunkan kami di Khaosarn Road, saya pun bergegas mencari minimarket terdekat untuk membelanjakan uang pecahan 1000 baht. Saya membeli minuman ringan dan sisir. Ya, sisir karena mengingat saya lupa membawa sisir dari rumah. Saya menyerahkan uang 1000 baht kepada kasir, lalu tanpa basa basi saya pun bergegas meninggalkan minimarket tersebut. Saya menyerahkan uang sejumlah tagihan yang tertera pada argometer taxi kepada si supir. Si supir pun pergi.

Sesampainya di hotel saya mengeluarkan uang pecahan kecil kembalian dari minimarket tadi. Tika yang melihat uang saya sontak menegur saya dan menanyakan “loh, bukannya uang kamu tadi 1000 baht? Kalau belanjaan kamu hanya 193 baht harusnya ada pecahan 500 baht satu lembar. Lalu, mana 500 baht lagi?” ASTAGA! Saya mengeplak kepala saya sendiri. Saya menyerahkan uang senilai 250 baht kepada supir taxi, mengapa di kantong saya hanya ada 57 baht saja?

Untungnya minimarket itu tidak terlalu jauh dari penginapan kami. Saya berlari lagi menuju minimarket tersebut dan berusaha menjelaskan kronologis perkara 500 baht ini kepada kasir yang mengembalikan uang saya. Syukurnya, mereka mengerti dan memberi saya selembar 500 baht. Hah! Anggap saja ini ujian pertama dalam traveling. 😀

 

Penyebab bangun kesiangan dan ketinggalan bus.
Penyebab bangun kesiangan dan ketinggalan bus.

 2. Ketinggalan bus regular menuju Siem Reap

Bahaya memang jika menginap di seputaran Khaosarn Road. Selain banyak godaan untuk tidak cepat-cepat kembali ke hostel, Khaosarn Road memang tidak bisa dilewatkan untuk hiburan malam di Thailand. Saya menghabiskan dua botol bir dalam semalam dan efeknya ternyata berhasil membuat saya keenakan tidur hingga pukul 7.30 pagi. ASTAGA! (lagi). Bus yang akan kami tumpangi berangkat dari terminal Mo Chit pukul 9 pagi dan saya baru terbangun pukul 7.30?? Saya dan Tika lalu bergegas beberes dan mengepak kembali backpack kami (tentunya kami mandi dan bersih-bersih dahulu).

Perjalanan dari Khaosarn Road ke Mo Chit Terminal sebenarnya memakan waktu sekitar 20 menit dengan menggunakan taxi. Karena menghindari macet, si supir menggunakan jalur highway dan tentunya ada biaya tambahan untuk ini. Sesampainya di Mo Chit, kami berlari menuju ke loket pembelian tiket bus ke Siem Reap. Sebelumnya, saya sempat mencari informasi (googling) dan mendapatkan info bahwa bus regular seharga 750 baht yang akan membawa kami langsung menuju Siem Reap sudah berangkat tepat pukul 09.00. Bak disambar petir, ekspresi kami berdua pun berubah. Panik? Tentu saja. Mau tidak mau, suka tidak suka, rencana pun berubah. Bus regular sudah berangkat memaksa kami mencari alternatif bus lain.

Dari info yang kami dapatkan di pusat informasi terminal, bahwa ada satu bus terakhir yang akan berangkat pukul 09.30 menuju Poipet. Lalu, dari Poipet kami harus menyambung dengan minibus selama 3 jam lagi menuju Siem Reap. Waktu di arloji saya menunjukkan pukul 09.20, itu berarti ada 10 menit untuk mendapatkan tiket bus ke Poipet. Hanjirrr. Kami berlari lagi menuju lantai dasar terminal untuk mencari loket pembelian tiket. Saya berkomat-kamit semoga kami tidak kehabisan tiket.

Setelah sampai di loket, 2 lembar tiket seharga 330 baht telah kami kantongi. Barulah saya bisa lega. Tak lama setelah tiket dibeli, terdengar suara di speaker terminal memanggil penumpang bus biru menuju Poipet. Aha! That’s our bus! Tepat waktu. Ternyata setelah kami kalkulasikan, lebih murah dengan cara membeli tiket ke Poipet lalu disambung dengan minibus ketimbang menggunakan bus regular. Thank you Universe!

 

Bus terakhir ke Poipet.
Bus terakhir ke Poipet.

 3. Peristiwa hilangnya Tika di Pub Street

Dari awal perjalanan ini dimulai, kami sepakat jika kemanapun kami pergi, itu harus bersama-sama. Kecuali mandi dan buang air. Kalaupun harus berpisah, kami akan menunjuk satu titik dimana kami harus bertemu kembali. Benar saja, selama bepergian ke Thailand, Kamboja, dan Vietnam kami selalu bersama-sama sampai tiba pada suatu malam Tika mendadak hilang di tengah keramaian.

Saya hendak membeli pancake pada suatu persimpangan jalan di Pub Street, area backpacker di Siem Reap. Pada waktu pancake selesai dibungkus dan saya telah membayar, mendadak saya tidak menemukan Tika yang sedari tadi berada di sebelah saya. Wah! Saya panik. Melayangkan pandangan kesana-kemari berusaha mencari makhluk berbadan kecil ditengah keramaian ekspatriat seperti ini bukanlah perkara mudah. Kemana saya harus mengadu? Karena ini bukan mall tentulah tidak ada yang namanya pusat informasi. Saya hampir menangis dan seperti orang linglung ditengah keramaian hingga kelinglungan saya berakhir ketika saya melihat Tika keluar dari pusat penjualan souvenir sambil ketawa. MUKE GILE! Saya hampir mendatangi Kedubes Indonesia di Siem Reap (emang ada?) untuk mengadukan hal ini. Ternyata peristiwa hilangnya Tika ini adalah salah satu dari skenarionya untuk mengejutkan saya di hari ulang tahun saya.

Beberapa menit setelah foto ini diambil, do'i hilang.
Beberapa menit setelah foto ini diambil, do’i hilang.

PS : Tepat pukul 00.00 dia tiba-tiba membangunkan saya yang sedang asyik bermimpi dengan sepiring pancake dan sebatang lilin (beraroma terapi). Yak! Ternyata dia hilang untuk mencari lilin pemirsah!

 4. Mengejar kembali tripod ke Hostel

Menunggu itu memang seni. Seni untuk lebih bersabar dan lebih peka dengan keadaan sekitar. Mengenai menunggu, kami sudah hampir basi menunggu sleeping bus yang akan kami tumpangi untuk menempuh perjalanan selanjutnya. Ho Chi Minh. Pasalnya, kami sudah check out dari hostel pukul 14.00 dan bus malam akan berangkat pada pukul 00.00. masih ada rentang waktu sekitar 10 jam menuju tengah malam. Masih ada waktu untuk mengeksplor Siem Reap. Kami menitipkan barang ke resepsionis lalu kami jalan kaki keliling seputaran Pub Street pada siang hari. Ternyata, Pub street terlihat seperti pasar dan pertokoan pada siang hingga sore hari. Berubah menjadi anggun juga perkasa pada malam hari. Sambil mencari restoran untuk mengisi perut, kami juga melihat aktivitas warga Siem Reap. Kota kecil ini cukup bergemuruh dan berabu pada siang hari.

Pub Street di malam hari
Pub Street di malam hari

Selesai dengan urusan perut, kami kembali lagi ke hostel untuk menunggu sampai malam hingga bus datang. Malam pun tiba. Suasana hostel mulai sepi dan bus tidak menampakkan tanda-tanda akan hadir. Menjelang dini hari, seorang supir tuktuk datang ke hostel untuk menjemput dan mengantarkan kami menuju tempat persinggahan bus. Kami bergegas naik ke tuktuk tersebut. Ketika sudah sampai di lokasi parkir bus yang kira-kira ditempuh selama 10 menit itu, saya menyadari bahwa tentengan saya berkurang satu. Apa ya? Sembari mengingat, Tika menanyakan “Tripod kamu mana?” Jederr! Itu ternyata yang ketinggalan. Dengan menumpangi tuktuk lagi (yang saya bayar lagi seharga 2 dollar) saya kembali ke hostel untuk mengambil tripod. Astaga! keleleran ini memang tidak pernah hilang. Untunglah si supir bus mau menunggu saya untuk kembali lagi ke hostel dan menyelamatkan tripod saya yang saya lupakan itu.

5. Terlibat perdebatan hebat dengan Imigrasi Viet Nam

Menempuh perjalanan menggunakan jalur darat ternyata menguras energi. Maklum, namanya juga perjalanan ber-budget. Kami memutuskan kembali ke Bangkok dengan menggunakan pesawat terbang. Kebetulan, tiket Ho chi Minh – Bangkok sudah kami booking jauh hari sebelum kami tiba di Ho Chi Minh.

Bandara Tan Son Nhat ini cukup besar dan mewah. Sekilas mirip dengan KNIA di Medan. Saya cukup terpukau dengan bandara ini sampai saya terlibat dalam satu insiden dengan pihak imigrasi Viet Nam di Tan Son Nhat Airport. Memasuki ruang tunggu, semua barang wajib memasuki ban berjalan untuk kemudian dilakukan proses scanning.Saya meletakkan carrier dan Tika meletakkan tripod. Setelah keluar dari mesin scan, si petugas Airport menahan tripod beserta paspor teman saya, Tika. Sontak saya kaget dan menanyakan apa yang terjadi. Tika lalu berbincang menggunakan bahasa inggris dengan petugas Airport. Si petugas perempuan ini berwajah jutek dan kelihatannya tidak kooperatif. Kami diminta untuk menandatangai buku berita acara yang berbahasa Viet Nam dan kami bahkan tidak mengerti apa artinya. Kami menolak menandatangani sesuatu yang kami tidak mengerti.

Tika mulai geram dan mengatakan bahwa ambil saja tripod itu dan kembalikan paspornya. Toh kami tidak begitu memerlukan tripod itu. Paspor adalah nyawa. Jika nyawa kami ditahan, bagaimana kami hendak pulang? Setelah perdebatan hebat mengenai tripod dan penahanan paspor ini, Tika diminta untuk menghadap ke counter check in dan menemui manajer maskapai. Kami diminta untuk membeli bagasi seharga USD.35,- untuk sebatang tripod. Saya menolak, saya mengatakan ambil saja tripod itu dan kembalikan paspor teman saya.

Tan Son Nhat Airport. Tempat segala insiden itu terjadi.
Tan Son Nhat Airport. Tempat segala insiden itu terjadi.

Wajah saya memucat. Ternyata tripod adalah benda berbahaya (versi Airport Tan Son Nhat, Viet Nam) sehingga harus masuk bagasi dan tidak diperbolehkan masuk ke cabin. Waktu kami tidak banyak, pesawat akan berangkat pada pukul 17.00 sedang jam dinding menunjukkan angka 16.20. jantung saya berdebar sampai Tika datang dan urusan selesai dengan catatan tripod saya ditahan dan paspor Tika akhirnya dikembalikan. Kami berlari menuju ruang tunggu karena pesawat telah datang. Ini sungguh kejadian yang membuat kami berdua terkejut mengingat selama perjalanan darat yang kami tempuh tidak mengalami kendala dalam hal bagasi. Bahkan ketika memasuki perbatasan Kamboja – Vietnam, tripod saya bisa lewat dengan aduhainya. Pelajaran ini sungguh sebuah peringatan kepada saya untuk membaca lagi peraturan-peraturan dan ketentuan muatan cabin dari setiap Airport yang mungkin saya singgahi yang tidak memperbolehkan tripod masuk ke dalam cabin.

 

Ya, seperti itulah sekelumit behind the scene yang-kalau-dibuang-sayang. Saya yakin, bahwa setiap kita mengantongi kisah berbeda dari setiap perjalanan. Apapun itu, semoga tidak membuat kapok dan menjadi pengalaman yang berharga.

 

DON’T BE AFRAID TO TRAVEL ALONE

“Perjalanan adalah tentang menemukan diri sendiri. Jadi sejauh apapun kakimu melangkah, kau takkan pernah kesulitan menemukan jalan pulang.”

Teks oleh Mustika T. Yuliandri @PerempuanThicka | Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

“Takut sendirian” adalah satu dari seribu alasan yang menghalangi banyak orang untuk melakukan perjalanan. Padahal, saat melakukan perjalanan, tak ada seorang pun yang benar-benar sendiri. Setiap pejalan adalah teman untuk pejalan yang lainnya. Kesulitan mendadak jadi sahabat, tersesat menjadi teman baik dan kejutan-kejutan menjelma teman main yang tak kalah asik. Beberapa orang memang tak nyaman melakukan traveling sendirian, padahal traveling sendirian itu menjadi salah satu hal yang harus dicoba at least sekali seumur hidup. Saat sendirian di sebuah tempat asing dirimu akan diuji. Diuji untuk lebih percaya kepada diri sendiri, diuji lebih peka terhadap insting, diuji menyingkirkan segudang rasa malu dan diuji untuk mau melakukan apa saja demi bertahan. Kawan, pergilah ke tempat jauh sendirian, niscaya kau akan mencintai dirimu lebih dalam saat kelak kau pulang.

_MG_3616 2

Why do you need to travel alone?

1. Because you belong everywhere. Belahan dunia manapun adalah milikmu. Tak ada tempat yang benar-benar asing saat kau melakukan perjalanan. Rasa takut yang membuat segalanya tampak seram. Namun setelah kaujelajahi dan eksplorasi kau akan menjadikan semua destinasi rumah yang menebar nyaman.

2. To make friend with anybody. Saat melakukan perjalanan sendirian kesempatan bertemu dan berteman dengan orang lain terbuka lebar. Apalagi kau memilih penginapan dormitory yang sudah jelas membuka kesempatan interaksi yang luas. Pasang senyum semanis mungkin dan berkenalan dengan para pejalan dari belahan dunia lain. Bagi pengalaman dan jalin pertemanan dengan siapa saja. Saat perjalananmu usai tak hanya tempat-tempat indah yang membuatmu tersenyum, kelak orang-orang yang kautemui juga akan menjadi kenangan yang tak kalah manis.

3. To be thankful. Saat sendirian akan banyak waktu yang kaupakai untuk merenung. Akan banyak kepingan-kepingan pemikiran yang akan ‘mengganggumu’ saat kau sendirian dan mungkin akan menjadikanmu orang yang lebih bersyukur. Terkadang, seseorang harus benar-benar sendiri untuk menyadari betapa indahnya kebersamaan. Perjalanan yang kaulakukan sendirian akan membawamu ke dalam perenungan. Indahnya pemandangan, tulusnya senyum dari mereka yang asing, makanan-makanan enak pemuas lapar, musik meriah, pasar yang riuh serta apa saja yang kaunikmati akan memberimu satu kesimpulan bahwa perjalanan memang tentang bersyukur.

How to survive?

1. Jangan takut. Jangan pikirkan hal-hal seram yang akan kauhadapi. Waspada boleh, tapi jangan parno. Percayalah akan ada orang baik dimanapun kau berada. Meskipun orang jahat tak kalah sedikit jumlahnya. Singkirkan rasa takut dan percaya bahwa kau mampu berteman dengan semesta.

2. Bawalah barang-barang kesukaanmu. Buku favorit atau benda-benda yang selalu membuatmu nyaman. Buku adalah teman paling baik di saat menunggu. Dalam perjalanan kamu akan mengalami saat-saat menunggu yang banyak dan tentunya tak terduga. Seperti pesawat yang delay, bus yang mungkin mogok atau berbagai hal menyebalkan lainnya. So, bring your favorite one with you.

3. Music. Isi iPod dengan lagu-lagu favorit pengusir jemu. Saat sekitar mulai membosankan isi duniamu sendiri dengan nada-nada pilihan. Tapi ingat, sesekali bolehlah tidak mendengarkan lagu kesukaan dan coba untuk lebih mendengar ‘nyanyian semesta’ yang mungkin hanya sekali kau nikmati seumur hidup. Suara riuh pasar malam, suara kendaraan yang lalu-lalang, suara burung-burung di pagi hari atau suara apa saja yang kebetulan mampir di sekitar.

4. Smile. Tersenyumlah, maka segala masalah akan menjelma lebih mudah. Semua manusia mengerti arti sebuah senyuman meski bahasa mereka berbeda. Jadi jangan lupa tersenyum, terutama di kantor imigrasi. You know what I mean.

5. Write down everything. Tulis apa saja yang menurutmu menarik. Jangan malas, karena dengan hanya mengingat di kepala segala detail perjalanan kemungkinan besar akan terlupa. Siapkan buku catatan dan mulailah mengumpulkan pengalaman dalam ‘kotak ajaib’ bernama kata-kata.

6.  Percayalah pada dirimu 100%. Tak ada yang bisa kaupercaya 100% di dunia ini selain Tuhan dan dirimu sendiri. Jangan percaya segala kebaikan yang bisa saja semu di perjalanan. Ada banyak kejahatan yang mengintai para turis, khususnya mereka yang traveling sendirian. So, trust yourself only!

NOTE: Yang sendirian itu dirimu, bukan perjalanan. Ada semesta dan kebaikan yang selalu mengiringi langkahmu yang berani. So, don’t be afraid to travel alone.

Sepotong kedamaian bernama Tangkahan

Teks dan Foto oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Coba ingat, kapan terakhir kali kamu pergi ketempat yang jauh dari keramaian? Ketempat dimana kamu bisa menemukan alam sedang bernyanyi.. Ketempat dimana kamu benar-benar menghirup udara yang segar.. Ketempat dimana kamu bisa mendengarkan air yang bergemiricik tanpa henti setiap hari..

_MG_9969
Tangkahan. Tempat persembunyian yang aman.

Dari sederetan kata yang ada dalam hidup saya, kata liburan menjadi salah satu yang saya sukai. Pasalnya, liburan adalah dimana saya bisa keluar dari rutinitas saya sehari-hari. Ketika memilih tempat untuk berlibur, saya pun memilih tempat yang menawarkan ketenangan. Tempat yang memberi saya rasa damai. Tempat itu bernama Tangkahan.

Sebenarnya, Tangkahan ada pilihan kedua setelah saya dan ketiga teman saya tidak menemukan penginapan di Danau Toba pada libur imlek 2014. Cerita tentang Tangkahan sudah lama saya dengar dan tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa kita tidak akan menyesal pergi kesana. Ya, saya memang tidak menyesal. Satu hal yang sedikit menggoyahkan keyakinan saya untuk kembali kesana adalah aksesnya yang sedikit susah. Minimnya transportasi umum menjadi salah satu penyebabnya. Dalam satu hari, hanya ada satu bus umum yang berangkat dari terminal Pinang Baris dan keadaan busnya pun sedikit memprihatinkan. Ternyata untuk berburu kedamaian harus melalu jalan yang tidak damai dulu ya? Kami harus menempuh jalanan dengan medan yang tidak mudah. Melewati jalan perkebunan sawit yang belum di aspal, bersiaplah untuk merasakan guncangan di dalam bus.

Let’s go!

Menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam dari Kota Medan, kami berangkat dengan menggunakan bus umum berlabel Pembangunan Semesta jurusan Medan-Tangkahan yang bisa ditunggu di terminal Pinang Baris. Kawasan Ekowisata ini berada di kabupaten Langkat dan diapit oleh dua desa yaitu Namo Sialang dan Sei Buluh, Tangkahan menjadi tujuan ekowisata yang paling diincar setelah salah satu daerah yang sudah mendahului ketenarannya yaitu Bukit Lawang.

Didalam diamnya Tangkahan, tersembunyi keindahan.
Didalam diamnya Tangkahan, tersembunyi keindahan.

Ada beberapa anak muda dengan tujuan yang sama didalam bus yang kami tumpangi. Tangkahan adalah tujuan akhir bus ini. Sebelumnya, ada beberapa penumpang yang sudah turun terlebih dahulu dan keadaan bus menjadi sedikit lebih longgar ketika jumlah penumpang perlahan-lahan menyusut. Tiba di tujuan akhir, disalah satu warung, kami dijemput oleh petugas penginapan tempat kami menginap untuk dua hari kedepan. Nampaknya, warga setempat sadar bahwa Tangkahan mulai menjadi sorotan wisata sehingga kita dapat menemukan beberapa penginapan. Tetapi, untuk memastikan tempat, ada baiknya dilakukan pemesanan kamar beberapa hari sebelum berangkat mengingat terbatasnya penginapan yang ada di Tangkahan.

Mega Inn. Penginapan nyaman selama berada di Tangkahan.

Kalau kalian menyukai Bukit Lawang, kalian akan berpotensi menyukai Tangkahan juga. Dalam diam dan ketenangannya, Tangkahan menjadi habitat bagi hewan-hewan yang dilindungi pemerintah seperti Orang Utan, Thomas Leaf Monkey, dan Gajah Sumatera. Atraksi yang ditawarkan oleh daerah yang berada didalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ini pun beragam. Mulai dari Trekking, Camping, Caving, Tubbing, sampai memandikan dan menunggangi Gajah Sumatera. Karena pada awalnya niat kami melarikan dari keramaian kota, Tangkahan berhasil memberikan apa yang kami butuhkan. Ketenangan dan kedamaian.Selain untuk bersantai, Tangkahan bisa menjadi rumah bagi para petualang. Ada banyak wisatawan mancanegara yang datang ke hutan hujan tropis ini untuk menjajal jalur trekking dan camping. Jika sedang beruntung, para penjelajah hutan dapat menemui Orang Utan, Thomas Leaf Monkey dan hewan-hewan yang dilindungi lainnya. Kami sengaja tidak mencoba untuk trekking karena tujuan awal kami memang untuk bersantai.

Eh, ada penghuni asli nih!
Eh, ada penghuni asli nih!
Waktunya selingkuh dari gadget!

Jauhkan gadgetmu karena suara arus air sungai ternyata lebih menarik daripada bunyi-bunyian yang ditimbulkan oleh mesin. Benar saja, ketika memasuki kawasan ekowisata ini, sinyal telepon genggam seketika timbul tenggelam. Sepertinya, alam tidak ingin diduakan dengan alat-alat komunikasi dan alat-alat elektronik lainnya. Saya dan ketiga teman lainnya malah menikmati suasana ini. Kapan lagi bercengkrama dengan alam yang indah seperti ini?

_MG_0151
Aktivitas di pinggiran sungai.

Bersantai di tepi sungai menjadi pilihan yang tepat disaat kaki terlalu berat untuk melangkah. Air sungai sangat jernih sampai dasar. Bahkan, kita bisa melihat batu kerikil yang ada didasar sungai. Ada beberapa pedagang makanan serta minuman ringan yang menawarkan dagangannya di pinggir sungai. Mereka sadar bahwa kebersihan menjadi salah satu faktor yang harus dipertahankan sehingga mereka menyediakan tempat sampah agar kita tidak membuang sampah sembarangan. Lagian, alam yang cantik sebegininya masih tega dikotori? Ya. Mungkin ada sih beberapa tangan-tangan jahil. Tapi semoga kalian tidak menjadi salah satunya.

Jika beruntung, bisa bertemu Nicholas Saputra yang sedang menunggangi Gajah. ahey!
Jika beruntung, bisa bertemu Nicholas Saputra yang sedang menunggangi Gajah. ahey!

Jika sedang memasuki musimnya, atraksi yang paling tidak boleh dilewatkan disini adalah mengunjungi pantai kupu-kupu. Disebut pantai kupu-kupu karena akan ada ratusan kupu-kupu cantik yang beterbangan. Jaraknya sekitar satu jam jika berjalan kaki sepanjang penginapan tempat kami menginap yaitu Mega Inn. Sayang, waktu kami kesana tidak banyak kupu-kupu yang menghiasi langit Tangkahan. Mungkin ini akan kami jadikan alasan untuk kembali lagi kesini.

Malam hari suasana akan menjadi lebih sejuk. Kami memutuskan untuk duduk-duduk didepan kamar. Tidak jarang kami menemukan suara-suara dari Thomas Leaf Monkey yang mencoba memanggil koloninya. Terkadang, mereka malah kelihatan di pohon-pohon sekitar kamar kami. Karena mereka masih liar, pemilik penginapan tidak lupa memasang peringatan agar jangan meninggalkan benda apapun di teras kamar karena mereka akan.. mencurinya. Agak nakal ya mereka?

Pedagang mie cepat saji. Lapar di tepian sungai? Bisa langsung hap!
Pedagang mie cepat saji. Lapar di tepian sungai? Bisa langsung hap!

Jangan terkejut jika malam hari kalian akan mendengarkan suara Tokek yang terasa dekat sekali dengan telinga. Tokek-tokek berukuran cukup besar itu hinggap di dinding luar kamar. Tika, teman sekamar saya yang sudah tidur nyenyak pun secara refleks terbangun dan mengejutkan saya juga. Jadilah kepalanya menjadi sasaran hantaman tangan saya karena saya juga terkejut. Maaf ya Tik! 😀

Tangkahan menjadi tempat yang manis untuk sebuah pelarian dari ramainya perkotaan. Alamnya yang bersih, air sungai yang jernih serta nyanyian-nyanyian hutan dapat menjadi terapi untuk jiwa-jiwa yang mendamba sunyi. Terkadang, saya berpikir biarlah Tangkahan seperti ini. Susah dicapai dan tetap menjadi asri. Kalau sudah banyak yang datang, takutnya malah semakin kotor ya? Eh. Kok jadi egois ya? 😀

How to get there

Dari Medan, hanya ada satu kali bus umum yang berangkat dalam sehari dari terminal Pinang Baris. Jika kalian ingin menumpangi kendaraan umum, nama PO bus ini adalah Pembangunan Semesta. Kalian juga bisa menunggunya didepan toko kue Mawar di Kampung Lalang. Jika ingin mencoba membawa kendaraan pribadi, persiapkan kendaraan seprima mungkin karena jalanan belum begitu bagus. Kendaraan off road akan sangat cocok dengan medan yang dilalui.

What to do

Kalau baru pertama kali kemari, cobalah untuk trekking kedalam hutan. Biayanya beragam. Beberapa penginapan menawarkan paket trekking, camping, caving serta memandikan dan menunggangi gajah. Kalau hanya mau berleyeh-leyeh, kalian juga bisa sekedar duduk di tepi sungai sambil menikmati mie instan.

When to go

Kalau ada yang menanyakan kapan tepatnya pergi ke Tangkahan, dengan mantap saya akan menjawab hari libur dan hari dimana kalian bisa mendapatkan cuti :D. Sebenarnya saat-saat terbaik untuk ke Tangkahan adalah Maret sampai ke Juli. Pasalnya, pada musim hujan volume air akan bertambah sehingga kita mungkin akan menemukan kendala jika ingin duduk-duduk santai atau berjalan di sepanjang pinggiran sungai.

 

Cerita Tentang Pesta Kemerdekaan

Teks oleh Mustika T. Yuliandri @PerempuanThicka | Foto oleh Andi P. Gultom @andigultom

SAYA mungkin sudah pernah berjalan jauh. Tapi tak pernah sekalipun saya uji diri saya menaklukkan gunung-gunung yang angkuh. Tapi kali ini berbeda. Di perayaan kemerdekaan Indonesia saya tantang diri ini untuk menaklukkan Gunung Sibayak yang kata mereka ramah dan mudah dijamah. Bersama 24 orang lainnya perjalanan menaklukkan ketinggian (dan diri sendiri) akhirnya dimulai tepat tengah malam.

 

Pertama seumur hidup: mengibarkan bendera di Puncak Sibayak.
Pertama seumur hidup: mengibarkan bendera di Puncak Sibayak.

ADA banyak cara untuk merayakan kemerdekaan. Kebetulan kemanaaja.com memliki ide seru untuk merayakannya. Gayung bersambut dengan XL dan akhirnya diplihlah Gunung Sibayak sebagai tempat perayaan kemerdekaan yang menjanjikan seru dan haru sekaligus. Tak hanya itu, kemanaaja.com dan XL juga berniat untuk mengibarkan Sang Merah-Putih dan melakukan aksi kutip sampah dan membawa turun gunung dalam rangka membersihkan Sibayak agar anggunnya tak tercemar. Apalah artinya merayakan jika hanya sendiri. Berdasarkan sabda barusan kemanaaja.com dan XL pun akhirnya mengundang teman-teman Blogger Medan untuk bersama-sama melakukan perayaan dan aksi bersih-bersih yang menyenangkan. 25 orang akhirnya berkumpul di Graha XL hampir tengah malam. Semuanya antusias sekali mengingat sebagian dari kami memang belum pernah naik gunung sama sekali. See? Meskipun tergolong amatir, kami sedikitpun tak gentar menuju puncak dan melihat matahari pertama di ulang tahun Indonesia. Here we are, ready to hike the mountain!

 

Siluet manusia di Puncak Sibayak
Siluet manusia di Puncak Sibayak

Sesampainya di kaki gunung ternyata sudah banyak sekali kendaraan yang terparkir rapi. Saya yang tidak punya pengalaman sama sekali di dunia ‘pergunungan’ tentu saja shock melihat antusiasme pendaki menjalang Hari Merdeka. Tengah malam di kaki gunung memberi sejuk sampai ke tulang. Jaket saya kencangkan. Ada gigil yang terasa pelan-pelan. Setelah berbagi tugas barang bawaan, kami akhirnya menuju tantangan pertama untuk mencapai camping ground. Jangan salah kawan, menuju camping ground yang tak seberapa itu adalah tantangan luar biasa untuk seseorang yang tak pernah mendaki. Apalagi di tengah malam buta seperti ini. Baru beberapa tanjakan lutut dan paha saya sudah bergetar mau lepas. Belum lagi tadi pendakian dimulai tanpa pemanasan. Camping ground terasa jauh sekali di saat tubuhmu berangsur lemah dan tengkukmu terasa berat luar biasa. Di tikungan keempat tubuh saya sudah tak sanggup lagi. Entah karena masuk angin atau tubuh yang lagi melakukan penyesuaian terhadap suhu gunung, akhirnya saya muntah. Jackpot, guys! Herannya setelah muntah yang sungguh tidak seksi tadi keadaan saya justru membaik. Berarti benar, saya memang masuk angin.

Setelah sampai di camping ground kami melakukan aksi leyeh-leyeh. Mengitari api unggun sambil minum kopi ternyata sedap juga. Saya tentu saja tidak melewatkan kesempatan untuk merenggangkan pinggang. Berbaring di atas tikar di ketinggian seperti ini adalah peristiwa langka yang pantas untuk dirayakan. Setelah puas istirahat kami pun melanjutkan pendakian di jalan setapak yang tantangannya tak kalah seru.

Warna-warni tenda para pendaki.
Warna-warni tenda para pendaki.

Perjalanan di lanjutkan dengan bantuan senter pas-pasan. Di pendakian kami bertemu banyak pendaki lain yang bertujuan satu: melakukan upacara di Puncak Sibayak saat subuh. Tak menyangka ternyata di jalan-jalan setapak kau menemukan aneka rupa wajah manusia dengan segala dandanan dan tingkahnya yang beragam. Ada yang mengenakan wedges, ada yang mengenakan flat-shoes dan tentu ada yang mengenakan oxford shoes keluaraan terkini yang keren sekali. Sayangnya tidak keren karena dia mengenakannya di gunung. Di beberapa tikungan ternyata terjadi kemacetan. Konon katanya pada malam itu pendaki mencapai 2000 orang. Beberapa jalan setapak ada juga yang dipenuhi lumpur membuat jalan sedikit tersendat-sendat karena para pendaki nan amat amatir sekali tidak bersedia terkena lumpur. “Dek, kalo nggak mau kena lumpur, jangan naik gunung. Naik tempat tidur aja,” kata seorang pendaki kepada pacarnya yang masih ABG. Saya senyum-senyum saja mendengar obrolan mereka. Ya itung-itung hiburan untuk sejenak melupakan kaki yang pegalnya tak terkira.

Gunungan manusia di atas gunung.
Gunungan manusia di atas gunung.

Kelompok kami berjalan terpisah. Ke-25 orang terbagi menjadi beberapa kelompok dikarenakan tingkat stamina dan kecepatan mendaki yang berbeda-beda. Saya tentu saja menjadi salah satu orang yang mendakinya paling belakang. Bagaimana tidak, jika kaki pegal tak tertahankan saya pasti beristirahat sejenak. Maklum, saya cuma amatir yang mencoba jadi anak gunung. Setelah melewati berpuluh tikungan, akhirnya saya melihat cahaya dari puncak gunung. Cahaya yang berasal dari senter dan api unggun para pendaki. Ah, ternyata hampir sampai. Langit subuh pun sudah mulai terang. Di kiri-kanan saya kini penuh dengan tenda warna-warni. Beberapa pendaki memang sudah berkemah di sana sejak berhari-hari. Dan meskipun langit tampaknya mendung dan matahari terbit tak seindah yang dibayangkan, keharuan tentu saja memeluk hati saya dengan hangatnya. Saya, si perempuan yang tak pernah naik gunung akhirnya hampir sampai ke puncak. Sebuah prestasi yang membuat bangga diri sendiri.

Lingkaran merah-putih di dasar kawah.
Lingkaran merah-putih di dasar kawah.
Here we are, the solid team!
Here we are, the solid team!

Sesampainya di puncak teman-teman yang sudah duluan sampai tak lupa mengabadikan momen dengan kameranya masing-masing. Di kejauhan terlihat bendera berkibar-kibar. Di dasar kawah juga dilakukan upacara dan menyanyikan lagu Indonesia Raya yang diikuti oleh semua pendaki. Bayangkan, sekitar 2000 ribu pendaki bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu nasional lainnya. Seketika pegal di seluruh tubuh saya terangkat begitu saja. Tergantikan oleh suasana khidmat dan haru yang tak bisa saya uraikan di sini. Ada semangat kebersamaan atas bangsa yang besar. Pendaki-pendaki lain yang tidak dikenal pun melebur menjadi kesatuan oleh harmoni lagu nasional yang pecah di langit Sibayak pagi itu.

"Because you belong everywhere."
“Because you belong everywhere.”

Hari makin siang. Kebahagiaan saya belum habis meski waktu menginginkan saya untuk pulang. Tak menyesal saya melakukan pendakian untuk merayaan kemerdekaan. Teman-teman dari kemanaaja.com, XL dan blogger juga luar biasa sekali. Semangat kebersamaan tak pernah saya rasakan sebesar ini. Di perjalanan turun gunung, kami melakukan aksi kutip sampah yang memang menjadi rencana awal. Beberapa orang memandang haru, ada yang mengernyit dan tak sedikit pula yang terinspirasi. Sayang rasanya kalau gunung seindah ini di sepuluh tahun mendatang hanya akan menjadi kebohongan untuk anak-cucu kita. Karena cerita kita di masa depan hanya tinggal sejarah jika manusia-manusia masa depan hanya melihat Sibayak sebagai sebuah gunung penuh sampah yang kehilangan pesonanya. Seperti seorang bijak bilang “jangan ambil apapun kecuali gambar. Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak”.

Terima kasih untuk tim kemanaaja.com yang menjadi penggagas aksi ini. Terima kasih XL yang telah mewujudkannya. Terima kasih teman-teman blogger yang telah berbagi semangat dan tulisan yang luar biasa. Saya menunggu keseruan berikutnya.

A Sweet Surprise From Georgetown

Teks oleh Sarah Muksin @sarahokeh

Foto oleh Tim Kemanaaja

Pikiran acak tentang Pulau Pinang atau yang lebih dikenal dengan Penang terlintas di kepala saya beberapa saat setelah saya melihat e-mail penawaran tiket murah dari airlines yang sudah menjadi langganan saya untuk bepergian dengan biaya yang murah. Iseng mengecek harga tiket, saya malah tergiur untuk menyambangi kota kecil ini. Bukan untuk berobat, tapi untuk menuntaskan rasa penasaran.

Bicara soal Penang, tidak bisa dipungkiri bahwa mindset orang tentang kota ini adalah tentang orang sakit dan pengobatan. In my sotoy opinion, Penang jarang masuk dalam bucketlist untuk tujuan wisata orang kebanyakan. Katakanlah saya satu dari kebanyakan orang itu. Tapi, siapa sangka, Penang malah memberi saya kejutan manis.

Inilah Georgetown, sebagian kecil Penang yang penuh kejutan itu.

Deretan toko dengan arsitektur tempo dulu di sekitaran Georgetown.
Deretan toko dengan arsitektur tempo dulu di sekitaran Georgetown.

Merayakan warisan leluhur di Georgetown World Heritage Site Celebration

Satu dari beberapa hal yang mengejutkan saya dan teman-teman adalah acara Georgetown World Heritage Site Celebration yang saya baru tahu beberapa hari sebelum kami terbang ke Penang. Ya, perayaan warisan. Setelah saya mencari tahu, perayaan ini hanya terjadi setahun sekali sebagai bentuk rasa bangga orang-orang di Penang atas pengukuhan Georgetown sebagai salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO pada tanggal 7 Juli tahun 2008.

Hiasan pada World Heritage Site Celebration di Canon Square, Georgetown.
Hiasan pada World Heritage Site Celebration di Canon Square, Georgetown.

Perayaan ini rutin diadakan setiap tahun setiap tanggal 6 – 7 Juli. Pada tanggal ini, biasanya beberapa Museum atau tempat-tempat bersejarah yang biasanya mengharuskan kita membayar sejumlah tarif masuk, akan membebaskan kita dari biaya-biaya itu khusus selama perayaan warisan. Seluruh penjuru Georgetown akan menjadi warna-warni oleh hiasan-hiasan yang telah disiapkan oleh panitia. Saya dan teman-teman berdecak kagum dan saya sendiri sempat merinding karena totalitas orang-orang Penang dalam menyambut perayaan ini. Jika kalian masih mengira bahwa Penang masih tentang orang berobat, kalian harus mengunjungi Georgetown.

Salah satu gapura Perayaan Warisan di salah satu perempatan jalan di Georgetown.
Salah satu gapura Perayaan Warisan di salah satu perempatan jalan di Georgetown.
Kegiatan menganyam bambu pada World Heritage Site Celebration, Georgetown.
Kegiatan menganyam bambu pada World Heritage Site Celebration, Georgetown.
An Artsy and Walkable Place

Teriknya matahari tidak menyurutkan niat saya dan teman-teman untuk mengitari Georgetown dengan berjalan kaki. Georgetown adalah wilayah yang bersahabat bagi pejalan kaki. Trotoar yang bagus dan bersih serta deretan pertokoan dengan arsitektur yang khas tahun 1800-an memanjakan kaki dan mata. Meski bentuk bangunan yang terkesan sama, tapi setiap sudutnya menceritakan sejarah yang berbeda. Kota ini seperti sedang bercerita tentangan keanggunannya di masa lampau.

Mesjid Kapitan Keling
Mesjid Kapitan Keling, salah satu dari banyak bangunan hasil Akulturasi budaya yang masih kokoh hingga sekarang.

Satu hal yang membuat saya kagum dengan kota ini adalah ketelatenan orang-orangnya dalam menjaga bangunan-bangunan yang berusia ratusan tahun ini. Beberapa bangunan baru dibangun tanpa merusak arsitektur yang lama. Mereka tetap mempertahankan dan berusaha untuk membuat bangunan baru mirip dengan arsitektur bangunan yang lama. Bahkan beberapa sisi bangunan yang sudah mulai rapuh tetap kelihatan artsy dengan gambar-gambar yang sengaja dibuat untuk mempertahankan keindahan bangunan lama itu.

Masih deretan toko yang terjaga arsitektur kunonya.
Masih deretan toko yang terjaga arsitektur kunonya.
Rental sepeda yang banyak ditemui di setiap jalan.
Rental sepeda yang banyak ditemui di setiap jalan. Kalau capek jalan, yuk gowes!
When The Crowd Friends with Peace

Kedamaian itu tidak melulu tentang tempat yang sunyi dan jauh dari keramaian. Bagi saya, kedamaian itu tergantung dari masing-masing orang menemukannya. Georgetown memberi saya kedamaian lewat keramaian dan hiruk pikuk kotanya. Lewat orang-orang yang menyapa kami di jalan. Lewat para pedagang street food disepanjang Lebuh Chulia. Lewat orang-orang yang memberi makan burung merpati yang ramai beterbangan di Little India.

Merpati yang banyak beterbangan di Little India.
Merpati yang banyak beterbangan di Little India.

Bagi saya, setiap perjalanan yang saya lakukan memberikan kesenangan dan kedamaian sendiri. Kali ini, Georgetown memberikan kedamaian itu dalam bentuk yang berbeda. Satu hal yang saya ambil dari perjalanan kali ini, memandang sesuatu dari sudut yang berbeda itu akan sangat menyenangkan. Saya bahagia, karena seluruh penjuru Georgetown mengizinkan saya melihat Georgetown dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa Penang bukan sekedar kota untuk berobat dan persinggahan. Georgetown adalah bentuk kecantikan lain dari Malaysia. Inilah sisi damai Malaysia. Inilah Georgetown.

Upacara pemujaan Shri Mariamman.
Upacara pemujaan Shri Mariamman.
Pedagang Jajanan ala India di Little India.
Pedagang Jajanan ala India di Little India.
Getting there

Ada banyak penerbangan langsung ke Penang. Kalian bisa menggunakan penerbangan dengan harga rendah yang tentunya-kalian-sudah-tahu 😀 Untuk bisa sampai ke Georgetown dari Bandara Bayan Lepas kita harus menumpang bus Rapid Penang dengan nomor 403 yang bisa ditunggu di terminal bandara. Dengan hanya membayar RM.2,7,-. Si Rapid Penang ini akan menurunkan kita di Lebuh Armenian. Untuk bisa mencapai pusat keramaian yaitu Love Lane, kita cukup berjalan kaki sekitar 10 menit.

What to do

Jika sedang berada di Penang, sempatkan diri kalian untuk mengunjungi Georgetown dan bangunan-bangunan bersejarahnya. Tidak ada salahnya mengunjungi museum, khususnya bagi pecinta dan penikmat fotografi, Georgetown memiliki Museum Kamera yang pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara. Biaya masuk sekitar RM.20,- untuk umum dan RM.10,- untuk pelajar yang bisa menunjukkan kartu tanda mahasiswa. Jika terlalu malas untuk berjalan kaki, kalian bisa menyewa sepeda yang biasanya banyak terdapat di pinggir jalan atau pertokoan.

When to go

Kapan saja. Kalian bisa mengunjungi Georgetown kapan saja kalian mau. Tapi saya sarankan untuk mengunjungi kota ini di awal Juli sampai akhir Agustus. Akan ada banyak festival dan perayaan lainnya.

Need to try

Jajanan malam di Lebuh Chulia. Akan ada banyak pedagang makanan ringan sampai berat yang mulai berjualan pada pukul 6 Sore. Mulai dari makanan halal sampai non halal semuanya ada. Jangan lewatkan juga kesempatan mencicipi Samosa yang endes di Little India.