Ayo ke Tana Toraja

Eksotik mistik, begitulah Tana Toraja dikenal. Salah satu bukti nyata sejarah peradaban animisme yang pernah ada di Nusantara. Bagian panorama, Toraja juga tidak kalah. Pegunungan, bukit, goa dan lembah menghiasinya.

 

Berpose di depan rumah Toraja
Berpose di depan rumah Toraja

Teks dan foto oleh: Sahat Farida @sahatfarida | Editor: Eka Dalanta @ekadalanta

Dari Jakarta menggunakan transportasi udara kami menuju bandara Sultan Hasanudin, Makasar. Dari Makasar menggunakan transportasi darat kami melewati beberapa kota, Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, dan Enrekang. Lepas dari Enrekang barulah kami tiba di Tana Toraja. Kira-kira 10 jam perjalanan santai hingga kami tiba di sana. Untuk perjalanan pulang, kami memilih menggunakan pesawat dari Bandara Potingku ke Makasar. Sekitar 45 menit lama waktu perjalanannya.

Desember 2016, kali kedua saya berkesempatan menginjakkan kaki di Tana Toraja. Desember merupakan bulan baik untuk melakukan kunjungan ke Tana Toraja. Pemerintah Kabupaten sepertinya menyiapkan betul program pariwisata untuk menarik wisatawan datang ke daerah ini. Di bulan Desember, Tana Toraja memiliki kegiatan rutin yang mulai populer dan banyak diminati para wisatawan untuk disaksikan, namanya Lovely December.

Lovely December merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja sebagai promosi wisata. Festival lagu Toraja, pameran kuliner, Ring Road, Toraja Night Colour Run merupakan rangkaian acara dari kegiatan Lovely December. Utamanya, Tana Toraja memberikan tawaran objek wisata yang telah populer mendunia.

Kemeriahan Lovely December di Toraja
Kemeriahan Lovely December di Toraja

Makale dan Rante Pao, saya melihat kendaraan roda empat dengan performance off road banyak berlalu lalang. Ya, wilayah Tana Toraja memang menarik untuk eksplore olahraga ekstrem seperti kegiatan Ring Road. Salah satu kegiatan dalam rangkaian Lovely December yang memiliki peminat khusus.

Selain wilayah ibukota kabupaten, saya masih belum bisa membedakan, apakah saya berada di Tana Toraja atau Toraja Utara. Tana Toraja beribukotakan Makale, dan Toraja Utara beribukotakan Rante Pao. Toraja Utara merupakan kabupaten pemekaran Tana Toraja yang ditetapkan dalam UU RI Nomor 28 Tahun 2008. Jalan raya tanpa kemacetan merupakan hal yang membuat jarak tempuh menjadi ringan, antara Makale dan Rante Pao.

Toraja #1

Objek wisata yang hukumnya wajib dikunjungi di sini adalah Londa, Kete Kesu, dan Lemo. Ada kemiripan mendasar dari tiga objek wisata ini, yang sangat mencirikan Toraja, kuburan! Ya, Toraja selama ini dikenal dengan pesona mistiknya. Adat kebudayaan yang hingga saat ini masih dijalankan sebagian besar masyarakatnya adalah pesta adat kematian, yang pada akhirnya adalah menempatkan jenasah ke makam. Tak sampai di situ, jenasah di makampun masih mendapatkan perlakuan yang sangat khas Toraja.

Lemo. Di Lemo, kita bisa menyaksikan tebing yang menyimpan jenasah. Sisi tebing dipahat menjadi goa buatan, disanalah para jenasah disimpan. Di sisi luar goa, terdapat puluhan patung, lelaki perempuan, tua muda berjajar di sana. Patung yang menyimbolkan para jenasah yang menghuni tebing. Beberapa pengunjung biasanya mencoba naik ke sebagian sisi tebing, untuk bisa lebih dekat ke patung-patung yang terpampang di sana. Berfoto jadi lebih ekstrem.

Tebing tempat jenazah disemayamkan
Tebing tempat jenazah dimakamian

Londa. Londa adalah sebuah goa, di bagian atas tak hanya patung-patung simbol para penghuni goa, namun juga peti mati yang seperti disangkutkan di ceruk goa. Tak perlu khawatir dengan suasana gelap di dalam goa, karena para pemandu yang menemani kita mengelilingi goa masing-masing membawa lampu petromak.

Di goa alami Londa, jenasah tersimpan di sana. Baik yang di dalam peti, ataupun tulang belulang dan tengkorak yang sepertinya tampak berserak. Ada dua pintu goa di sini, memiliki jalur terhubung, namun tentunya sulit untuk dilewati untuk ukuran tubuh orang dewasa. Jika Shakespeare dalam narasinya menceritakan cinta terlarang hingga berakhir kematian, pemandu di sini juga akan membawa kita pada belulang pasangan cinta terlarang, yang berujung pada kematian. Dua insan, lelaki dan perempuan, masih sepupu, jatuh cinta dan tak mendapat restu. Di Toraja, berlaku hukum bebas untuk saling berkasih jika sudah lepas dari empat pupu.

Kete Kesu. Rumah adat, Tongkonan yang dilengkapi lumbung menyambut di halaman utama ketika kita berkunjung ke Kete Kesu. Barisan Tongkonan adalah salah satu view yang menjadi favorit untuk mengambil gambar. Rumah-rumah adat, lengkap dengan ukiran khas dan tanduk-tanduk kerbau. Di sini, tanduk kerbau yang terpasang di Tongkonan menjadi salah satu ukuran prestise masyarakat.

Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik bisa kamu lihat.
Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik itu bisa kamu lihat.

Masuk ke dalam, kios-kios pedagang souvenir berderet rapi di sana, sebelum akhirnya kita sampai ke pemakaman. Sebagian makam di dalam goa, berpagar dan tak sembarang orang bisa membuka. Sebagian besar makam tersimpan dalam rumah-rumah, lengkap dengan patung simbol jenasah. Unik-unik bentuk rumah jenasah.

Toraja #2

Jika Toraja #1 adalah objek wisata yang memang sudah sangat umum, saya senang sekali berkesempatan berkunjung ke Toraja #2. Pembagian yang saya buat sendiri untuk menjelaskan objek wisata yang baru dipopulerkan. Perlahan mengikis wajah pariwisata Tana Toraja yang sepertinya menampilkan hal-hal yang seram, berkaitan dengan kematian.

Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja
Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja

Lolai. Lolai, atau negeri di atas awan merupakan destinasi baru di Tana Toraja. Saat ini pemerintah kabupaten tampak sedang membangun perluasan dan perbaikan jalan menuju Lolai. Ya, Lolai saat ini memang menjadi primadona. Pemandangan tak biasa bisa kita dapatkan di sana, seperti namanya, negeri di atas awan.

Sebelum sampai di bukit paling atas, di sisi kanan tampak sudah dibuka juga dataran untuk para pengunjung yang hendak menikmati panorama. Saya dan rombongan melanjutkan ke atas, Tongkonan Lempe. Ketika saya datang, tarif masuk dan tarif parkir sudah diberlakukan, masing-masing Rp 10.000. Saya bersama Datu, warga lokal yang sudah beberapa kali berkunjung ke Lolai namun belum pernah mendapatkan pemandangan awan lengkap. “Lempe, Lempe” sebutnya. Dan kami pun masuk tanpa harus membayar tiket. Masyarakat mengatakan jika malam turun hujan, maka awan pagi akan tampak sangat menakjubkan. Namun hati-hati, saat ini kondisi jalan kurang baik jika dilalui jika dalam kondisi basah.

Ramai di Lolai
Ramai di Lolai

Di dalam kawasan, pengunjung sudah ramai dan padat. Tak banyak ruang kosong yang tersedia, apalagi di tepi jurang tempat paling bagus untuk menikmati pemandangan. Di sini, selain rumah keluarga pemilik Tongkonan, juga telah tersedia warung-warung dan puluhan tenda kemping bagi para pengunjung yang hendak bermalam. Tampak kelompok komunitas motor yang saat itu menggunakan tenda-tenda.

Tenda-tenda di Lolai
Tenda-tenda di Lolai

Bukit Pasir Sumalu. Setelah puas sepagian menikmati Lolai, meskipun tak banyak mendapatkan pemandangan gumpalan awan, saya dan rombongan bergerak menuju bukit pasir Sumalu. Jarak dari Lolai ke sini bukanlah dekat. Ditambah kondisi jalan yang membuat adrenalin merasa senang. Selama perjalanan, kami berpapasan dengan mobil-mobil peserta ring road. Untuk pecinta olahraga ekstrem, Toraja merupakan salah satu tempat yang bisa dicoba.

Tilanga. Tilanga adalah sebuah kolam besar, di dalamnya terdapat belut bertelinga. Saya sempat melihatnya, moa seukuran lengan orang dewasa, dengan mata berwarna biru. Bergidik, karena baru itulah pertama kali melihatnya. Dalam hati saya merasa senang, konon, siapapun yang melihat binatang tersebut akan mendapatkan keberuntungan. Boleh dong saya menitip harap pada kearifan lokal di sini.

Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat
Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat

Di kolam ini, banyak anak-anak penduduk lokal yang bermain di kolam. Mereka menunjukkan atraksi lompat ke dalam air dari tebing di sisi kolam dengan harapan pengunjung memberikan uang. Lima ribu rupiah untuk sekali lompatan. Tak berani melompat, saya memilih terjun ke air, berenang dan menyelam. Meski dalam hati was-was, khawatir berjumpa kembali dengan Moa.

Begitulah kunjungan saya ke Tana Toraja di Desember 2016. Ada satu lagi yang saya saksikan, Rambu Solo, Pesta Adat Kematian khas masyarakat Tana Toraja. Tentunya cerita menyaksikan Rambu Solo akan saya tuangkan di halaman yang berbeda.

Kiranya 2017 ini kita mendapatkan berkah dan keberuntungan. Dan anda yang ingin namun belum pernah menginjakkan kaki di Tana Toraja dapat segera mengunjunginya. Salam hangat.

 

Maronan

Teks oleh: Eka Dalanta & Foto oleh: Andi Gultom

 

“Selalu ada yang menarik di pasar tradisional. Kita akan menemukan realitas sehari-hari masyarakat sebuah tempat di sana.”

membersihkan-bawang

 

Saat berlibur di Danau Toba, sebuah jaminan mata Anda akan dimanjakan dengan kecantikan pemandangan alam yang luar biasa. Selain menikmati alam dan budayanya, sangat menarik juga berkunjung ke pasar tradisional di daerah yang Anda tuju di pinggiran Danau Toba.

 

Di desa-desa di pinggiran Danau Toba, pasar tradisional berlangsung sepekan sekali di tiap desa. Masyarakat Batak Toba menyebutnya dengan Onan, artinya hari pasar atau pekan. Tiap-tiap desa punya waktu yang berbeda-beda sehingga bagi para petani yang ingin menjual hasil pertanian atau kebunnya bisa pergi ke desa yang sedang menyelenggarakan onan.

Turun dari kapal membawa hasil pertanian
Turun dari kapal membawa hasil pertanian

Kali ini saya mengajak Anda ke salah satu sisi Danau Toba di Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Balige merupakan kota yang dikunjungi Presiden Jokowi dalam Karnaval Danau Toba yang diadakan baru-baru ini.

Pisang Parapat
Pisang Parapat

Onan Balige diadakan setiap hari Jumat. Pasar tradisional ini sangat ramai dan jauh lebih besar dari onan di beberapa desa lain di seputaran Danau Toba karena Balige merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa. Onan Balige di mulai dari pasar di tengah kota, dan kita akan terus berjalan menerobos keramaian onan menuju pelabuhan. Orang-orang dari berbagai desa yang berdekatan dengan Balige datang membawa hasil pertanian dan peternakan. Para pedagang dan petani juga datang dari desa-desa di Pulau Samosir yang terdekat dengan Balige.

 

Berjalanlah menuju arah pelabuhan. Kita akan melihat riuhnya para petani datang dari berbagai desa menumpang kapal-kapal kayu yang bergerak merapat. Para petani turun membawa aneka hasil bumi untuk dijual dan dibawa pulang kembali setelah menukar (membelanjakannya) dengan aneka kebutuhan pokok lainnya.

Menurunkan Kerbau dari Kapal
Menurunkan Kerbau dari Kapal

Sangat menarik berkeliling dan melihat-lihat di pasar-pasar tradisional seperti di tempat ini. Kita akan menemukan lokalitas yang sangat kental. Pada tutur kata dan bahasa, pada berbagai komoditas hasil bumi yang dijual. Di Balige kita bisa melihat aneka rerempahan khas Batak, seperti andaliman, bawang batak, bawang samosir, dan komoditas khas lokal lainnya. Pisang Parapat misalnya yang hanya bisa kita temukan di daerah di seputaran Danau Toba.

Ikan Mujair Danau Toba
Ikan Mujair Danau Toba

Oh ya saya juga melihat pedagang Raru. Kayu khas untuk membuat minuman tuak yang membuatnya mengalami fermentasi dan menciptakan rasa unik di dalamnya. Juga pedagang kayu pinus. Potongan-potongan kayu pinus biasa digunakan masyarakat di sini sebagai kayu bakar.

Pedagang Raru
Pedagang Raru

Jika sedang berkunjung ke Onan Balige, sempatkanlah pula melihat keunikan Onan Horbo atau pasar kerbau. Letaknya di ujung pelabuhan, ujung dari pasar tradisional di Onan Balige. Di pasar ini, para pedagang kerbau membawa kerbau-kerbau dari berbagai desa menuju Onan Balige dengan menumpang Kapal Kayu. Kapal kayu merupakan alat transportasi utama di Danau Toba. Puluhan kerbau diturunkan dari dalam kapal melalui danau.

Menarik Kerbau Turun
Menarik Kerbau Turun

Saat kapal sudah menepi, satu-persatu kerbau digiring turun melompat ke dalam danau. Kerbau-kerbau melompat lalu berenang menepi. Sebuah pemandangan unik yang tidak biasa.

Kayu Pinus untuk Kayu Bakar
Kayu Pinus untuk Kayu Bakar

Seperti di sini, karakteristik alam, budaya, dan lokalitas terlihat begitu polos. Sebuah alasan untuk saya selalu menyempatkan diri berkeliling dan berkenalan dengan lokalitas di tiap pasar tradisional. (Tulisan ini juga terbit di Majalah Gema Pelabuhan, Pelabuhan Indonesia 1 (Pelindo 1) Edisi Desember 2016)

 

 

 

 

 

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 6- END)

Teks: Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

UNPREPARED ADVENTURE TO ‘PANTAI LAUT SELATAN’.

Semoga kalian masih betah membaca perjalanan saya keliling Jawa. Ini adalah bagian akhir dari rangkaian tulisan perjalanan sebulan keliling Jawan. Setelah beristirahat satu hari, Brewok rencananya mau menguber kerjaan yang menumpuk dulu selama beberapa hari sebelum jalan-jalan lagi.

Siang itu kami makan siang di angkringan dekat ISI, nasi dan sayur ambil sepuasnya, seperti biasa. Yang dihitung hanya lauk, saya ambil sate usus dan bakso. Harganya? Masih di bawah 10 ribu. Jadi saat kami makan, Brewok menerima whatsapp dari Andrew, si kawan bule. Dia ‘otw’ ke Wonosari, menuju Pantai Selatan, dan besok dia akan terbang ke luar negeri. Dari kemarin-kemarin kami sudah berencana untuk ke Wonosari bareng-bareng. Tapi sering kali bentrok dengan jadwal saya dan Brewok mau pergi, hari ini juga, rencananya kami mau fokus berkarya saja di rumah. Sambil mengunyah, kami berdiskusi apakah bisa menyusul hari ini. Brewok harus bertanggung jawab dengan jadwal kerjanya sendiri, harus bisa menyelesaikannya tepat waktu walau hari ini berangkat. Jadilah kami berangkat mendadak, langsung setelah makan siang. Tanpa persiapan apa-apa. Jam menunjukkan pukul 12 siang, juga menghindari pulang terlalu malam.

Jalannya sungguh stressful bagi saya. Lagi-lagi naik turun terjal dan belok-belok curam, saya mual lagi. Melintasi Imogiri, Gua Maria Tritis. Memakan waktu hampir 3 jam. Mendekati pos penjualan tiket menuju tempat wisata pantai-pantai, kami dicegat saat Brewok mau melewati loket hohoho. Brewok menyebutkan nama villa milik temannya (yang memang benar adanya) seolah kami ada kepentingan dengan pemiliknya/tempat tersebut, kami dibebaskan lagi dari tiket masuk.

PANTAI INDRAYANTI
Kami tiba di Pantai Indrayanti, dari pos retribusi tadi ke pantai lumayan jauh juga, memakan waktu 20 menitan. Ada banyak pantai yang bisa dipilih di situ, Brewok lebih kenal Pantai Indrayanti. Dan sinyal hape ternyata tenggelam. Tidak bisa menghubungi Andrew, tadi sudah janjian di Pantai Indrayanti. Andrew melalui jalur kota yang lebih jauh, kami melalui rute lebih pendek. Harusnya dia sudah tiba. Kami jalan menuju pantai dulu. Ohh saya benar-benar terpesona dengan pemandangannya. Hamparan ombak yang lebih tinggi dan kencang daripada yang saya lihat di Pantai Parangtritis, batu karang di pesisir, menghipnotis saya beberapa menit menikmatinya dari jauh, sebelum saya perlahan menginjakkan kaki dia atas bebatuan karang yang berwarna hijau dan coklat karena tertutup lumut dan tanaman laut lainnya. Anehnya tidak licin, saya mengamati dari dekat, banyak makhluk-makhluk laut! Antara geli dan penasaran, kami menyentuh satu persatu, ada makhluk seperti siput tanpa cangkang, warnanya hijau kecoklatan. Kamuflase di antara baru karang, tersamar sekali, dan ternyata banyak jumlahnya, saya jadi berhati-hati berjalan. Ada juga bintang laut tapi kaki-kakinya berduri halus, Brewok iseng menarik mereka keluar dari sarang (don’t try this).

Berjalan menyusuri pantai
Berjalan menyusuri pantai
Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Ada bintang laut
Ada bintang laut

Saya berlari-lari di pasir putih halusnya, mengejar kepiting kecil berwarna putih yang terbang tertiup angin, saya senang sekali, saya tersungkur bermain dengan segala sesuatu di pantai itu! Rupanya brewok sudah jauh berjalan ke arah salah satu sisi, saya menyusul, sampai salah satu ujung, di dekat bebatuan karang besar, ada mas-mas yang memancing ikan, ada ikan-ikan kecil terlihat di air jernih itu, tetapi mereka sungguh lincah, jangan harap untuk menangkapnya. Lalu kami mulai mencari Andrew. Selangkah demi selangkah kami telusuri perjalanan hingga ke pantai sebelahnya, lalu keluar sampai ke area parkiran, tidak ketemu juga, sambil mencoba memghubungi terus. Lalu saat nyaris putus asa dan berjalan kembali ke motor kami, Andrew lewat naik motor, akhirnya kami bertemu. Dia habis dari pantai yang lain. Lalu brewok mengusulkan untuk mengunjungi satu pantai lagi, yakni Pantai Wediombo, pantai yang ada kolam alaminya di antara batu karang. Jaraknya masih sekitar 10 km lagi. Saya ikut saja.

Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Cakep
Cakep

PANTAI WEDIOMBO & INSIDEN KECIL YANG JADI PELAJARAN

Sesampainya di Wediombo, saya masih dipertemukan dengan lautan yang lebih menderu-deru ombaknya, bebatuan indah bersusun, jam menunjukkan pukul 3. Saya memotret pemandangan, Brewok dan Andrew jalan duluan sambil mengobrol. Saya ketinggalan jauh sekali, mungkin karena kaki saya pendek juga, atau saya terlalu menikmati indahnya goresan Sang Pencipta ini.

Pantai Wediombo
Pantai Wediombo

Foto 76-wediombo (3)

Saya tidak tau sampai seberapa berjalan, mereka menghilang di balik bebatuan. Karena saya mulai sibuk merekam video saat posisi dekat sekali dengan ombak. Beberapa langkah menaiki bebatuan besar, sampailah saya di sebuah kolam yang terbentuk di tengah bebatuan. Kolam kecil dan dangkal, terisi air laut sedada. Ada beberapa pengunjung juga yang sedang berenang, ber-selfie ria di atas batu karang, ada juga yang duduk menunggu. Brewok dan Andrew memanjat ke sebuah batu yang tinggi, tiba-tiba mereka berteriak, saya sampai kaget. Rupanya kena cipratan ombak yang membentur dinding batu tersebut. Pakaian mereka sedikit basah. Lalu Brewok melepaskan kaosnya dan berenang di kolam. Sedangkan Andrew berjalan jauh ke ujung lagi untuk merekam video. Saya juga mengeksplor memanjat ke batu yang tinggi walau saya sebenarnya takut. Saya merasa tempat ini berbahaya sekali. Saya merekam dari batu yang tertinggi, tiba-tiba ombak menghantam dan saya terkena cipratannya sedikit. Saya kaget sekali dan berpegangan kuat pada batu. Saya merekam sebentar lagi lalu turun, melanjutkan merekam ombak di teluk kecil di bawahnya, di samping kolam. Lalu saya menghentikan rekaman dan memperhatikan.

 Foto 77-wediombo (4)

Ombak di teluk kecil itu makin lama makin tinggi. Sepertinya mulai pasang. Ada orang yang masih bermain di atas bebatuan, saya takut ombak yang lebih kuat menghantam. Benar saja, tiba-tiba ombak yang sangat tinggi datang, yang tadinya hanya cipratan, menguyur kuat mereka, dua pemuda itu jatuh tergelincir dari batu, menuju kolam, kolam yang mendadak dalam karena volume air yang bertambah. Mereka kelihatan panik, struggle untuk meraih darat dan kemudian berhasil naik, bersiap-siap pergi dari situ. Saya, Brewok, dan Andrew juga bergegas kembali karena air mulai pasang. Kami menemui rombongan tadi tak jauh dari sana, seorang pemuda duduk berlumuran darah di kaki, betis, dan bokong. Tangan sebelah kanannya luka parah. Darahnya bercampur dengan air laut di atas batu. Dia mengigil karena shock dan kedinginan. Saya menawarkan dia memakai sweater Andrew. Seorang pemuda dari rombongan lain bersama Andrew membopongnya. 3 rombongan yang tak saling kenal dalam satu tempat tadi akhirnya berjalan bersama. Satu temannya yang juga terjatuh, tidak mengalami luka parah, hanya sedikit lecet di tangan dan kaki. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat karena jalan cukup jauh dan dia masih kesakitan. Dia sudah beruntung, tidak mengenai kepala. Jika tadi mengenai kepala, bisa berakibat kematian.

Saya sudah takut sekali saat kejadian itu. Memang lautan itu tidak boleh untuk bermain-main, mereka sudah dinasehati warga setempat agar jangan bermain terlalu lama disitu karena sudah mau pasang. Apalagi konon katanya Pantai Laut Selatan ini punya cerita mistik yang kental. Sampai di warung tepi pantai, kami basuh lukanya dengan air hangat, sembari menenangkan diri. 3 rombongan ini jadi saling berkenalan dan mengobrol. Si korban ini, asalnya jakarta. Sedang liburan di Jogja. Mereka mungkin tidak bisa melanjutkan liburan selanjutnya.

Cukup menenangkan diri, hari sudah cukup gelap. Mereka ijin pulang. Saya, Brewok, dan Andrew kelaparan. Kami makan di warung itu. Seporsi ikan nila bakar dengan satu dandang nasi yang bisa buat berdua, daaannn sambal bawangnya enak! dihargai 25 ribu. Cukup memuaskan. Kami melihat ada api dari bawah, dekat pesisir. Selesai makan kami bergegas kesitu. Kami pikir api unggun, rupanya itu sampah yang dibakar, yasudah kami sekalian menghangatkan diri sebentar sambil menatap langit. Bertabur bintang dan bulannya penuh, terang, dan besar. Indah sekali. Saya rasa saya tidak punya kesempatan untuk melihat milkyway liburan kali ini, padahal sudah berharap ada kesempatan. Jam menunjukkan pukul 6.30 saja. Tapi sudah terasa seperti jam 9 malam. Duduk-duduk sebentar dan kami diberitahu penjaga warung akan mematikan lampu warung. Wow… ternyata satu pantai sudah gelap semua. Kami bergegas pulang. Parkiran juga hanya tinggal dua motor kami.

WHAT A LOVE-HATE ROAD TO GO BACK

Keluar dari area pantai, jalur stresful tadi lebih stresful lagi kali ini. Gelap gulita! Tidak ada lampu jalan. Saya sudah teler saja. Sekitar setengah jam perjalanan, ternyata ban bocor. Kami harus cari tambal ban malam-malam, di tengah kegelapan, di desa kecil itu. Kami temui satu tambal ban, tidak ada orangnya, Brewok mengetuk pintu rumahnya. Syukurlah masnya ada, tapi menunggu dia selesai makan. Padahal selesai dia makan dia berencana pergi. Beruntung kami tidak terlambat mendatanginya. Kami dipersilakan duduk di terasnya oleh mbaknya. Mungkin istrinya. Saya permisi menggunakan kamar kecil. Kamar kecilnya tidak kecil, ada kolam besar berisi air. Seperti kolam pemandian. Hahaha. Lalu saya baru diberitahu mereka sulit air. Jadi air itu ditampung. Tak lama setelah kami duduk, mbaknya keluar membawa tiga gelas teh hangat dan satu toples krupuk. Kami tersentuh sekaliii. Ya ampun, jadi tidak enak hati.

Menunggu ban sepeda motor ditambal
Menunggu ban sepeda motor ditambal

Sungguh keramahan yang diberikan disini menghangatkan hati. Di keadaan dingin dan panik seperti ini. Tehnya nikmat sekali. Sekitar setengah jam sampai selesai pengerjaan bannya, kami berangkat pulang. Beberapa saat setelah itu saya mau buang air kecil lagi, juga kedinginan, singgah ke kantor polisi untuk pinjam toilet, berujung ngobrol dengan beberapa polisi, lalu bergerak lagi. Kembali melewati Imogiri, Andrew mau duluan karena harus packing dan berangkat pagi-pagi. Kami mau cari sate klathak lagi, hehehe, untuk ketiga kalinya. Sate klathak Pak Pong yang di pasar. Ramai sekali. Tempatnya adalah pasar tradisional yang beroperasi pagi-siang hari, jika malam tutup dan Sate Pak Pong ini beraksi. Lesehan beralaskan tikar, agak gelap. Nikmatnya tetap nomor satu. Tidak lama-lama, kami beranjak dan membayar seharga 50 ribu untuk dua porsi. Sampai di rumah pukul 11 malam. Tepar lagi.

DINNER KURANG ROMANTIS

Sore ini mau dinner romantis di resto Rosella Easy Dining di Sleman, agak jauh tapi sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Sekitar 30 menit dari Sewon, mencari-cari… menerka-nerka… saya mengetahui resto ini dari artikel yang saya baca sebelum ke Jawa. Link artikelnya: www.qraved.com/journal/restaurants/12-restoran-di-jogja-yang-harus-banget-kamu-coba/

Sebuah resto pinggir sawah dengan setting romantis. Jalan Kabupaten KM. 5, Sleman. Jalan Kabupaten lumayan panjang, kami menelusuri sampai ujung yang mendekati Ringroad Utara. Akhirnya ketemu… tapi. kok. sepi. tidak ada tanda-tanda kehidupan, saya mengintip ke dalam, memang setting yang romantis, di pinggir sawah. Tiba-tiba saya ditegur oleh tetangga di situ bahwa mereka tutup hari ini, tidak biasanya. Saya patah hati sekali, kecewa. Kami kembali, di jalan Kabupaten tadi kami melihat satu resto yang nggak kalah romantis. Dikelilingi kolam atau sungai kecil. Dengan remang-remang lampu kuning dan lilin-lilin. Tapi tutup juga, entah hari spesial apa saat itu. Lalu kami kembali ke daerah Sewon. Sesuai artikel, masih ada resto yang menarik hati selain Rosella. Kami ke jalan Tirtodipuran, mencari Mediterranea Restaurant. Sesampainya di dalam, penuh dengan turis barat. 90%nya turis barat. Saya memesan Duck Confit (steak bebek) seharga 67 ribu dan brewok memesan Beef Carpacio (irisan daging sapi yang ternyata setengah matang) seharga 55 ribu. Lalu saya tambah pasta Penne Tuna & Spinach seharga 50an ribu. Minum Ice Lime 12 ribu dan Matcha Latte 28 ribu.

Dinner yang butuh perjuangan
Dinner yang butuh perjuangan

Saya puas sekali dengan pesanan saya, daging bebeknya empuk dan gurih. Ada salad dan wedges kentang yang disajikan bersama keju dan krim. Cukup kenyang buat satu orang, bahkan bisa buat berdua. Sedangnya pesanan Brewok, Beef Carpacionya, agak mengecewakan, tidak sesuai selera kami, itu juga hanya sebagai makanan pembuka. Disajikan sepertinya setengah matang dan dingin, dan diberi asam. Tapi habis juga kami santap. Pasta Pennenya lumayan lezat, wangi. Kami duduk juga tidak lama, sampai disana saja sudah hampir pukul 10. Resto ini beroperasi pukul 11 pagi sampai 11 malam, tutup setiap hari Senin. Saat membayar, semua makanan tersebut dihargai 220 ribu. Dan tidak ada Ppn! Semua harga makanan & minuman sudah termasuk pajak dll. Saya acungi 4 jempol dari 5 jempol saya untuk resto ini. Kenyang perut, saatnya pulang dan beristirahat. Worthed untuk memperoleh buncit besok pagi. Oh ya, saya diundang Mbak Maya untuk bakar Sate Klathak besok pagi di rumahnya di Kaliurang. Jam 7 pagi, duh?! Pagi sekali.

HOMEMADE SATE KLATHAK (PART 4) DAN ICIP-ICIP KUE DI CINEMA BAKERY

Mbak Maya benar-benar menjemput saya jam 7 pagi, sampai di rumahnya di Kaliurang jam 8. Bersama satu teman Mbak Maya dari Tasikmalaya, Mbak Vina, kami bertiga langsung beraksi di dapur. Dibantu ayahnya Mbak Maya, kami memotong-motong daging domba muda, menusukkan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Dibakar oleh ayahnya Mbak Maya. Kira-kira kami dapati 35 tusuk. Habis kami santap berempat, diteras rumah Mbak May, digelar tikar, ada kolam dan banyak tanaman. Duh saya betah sekali dengan suasana-suasana seperti ini. Saya makin sedih menjelang pulang.

Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya
Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya

Yuk makan sate klathak
Yuk makan sate klathak

Jam 1 siangnya saya ada janji makan siang dengan Brewok dan temannya di dekat XXI Empire, Resto Platers. Saya diantar Mbak May lagi. Duh saya merepotkan Mbak Maya sekali, jauh dari rumahnya. Saya hanya beri hadiah kuping-kupingan kucing yang dia sukai dari Popcon Asia di Jakarta kemarin. Selesai makan siang dan chit-chat sebentar, saya dan Brewok mau nonton bioskop di XXI. Mission Impossible: Rogue Nation. Saya membayangkan nonton dengan romantis. Yang saya dapati? Dia tidur. Okay. Spesial sekali. Mungkin dia punya momen yang lebih romantis dalam mimpinya.

Cinema Bakery
Cinema Bakery

Setelah usai film, kami menyeberang, ada Cinema Bakery, beberapa hari di Jogja saya tiba-tiba ingin makan kue-kue cantik yang enak, saya diberitahu teman bahwa bakery ini enak, pemiliknya orang Prancis. Saya tahu disini tidak memiliki cafe pattiserrier sebanyak Medan. Konsep cafe ini adalah cinema, dekorasi interiornya berhubungan dengan film-film. Unik dan luas, juga nyaman. Ada ruangan yang mungkin bisa digunakan untuk nonton film bareng. Saya langsung panik memesan beberapa kue, harganya relatif murah ketimbang kue-kue cantik di Medan bahkan (maaf) banyak yang rasanya kurang sesuai dengan harga. Harga disini berkisar belasan ribu sampai 35 ribu. Saya pesan cake Tiramissu kesukaan saya, Red Velvet, dan Brewok mau Strawberry Shortcake dan sebiji macaron. Minum espresso dan lemon squash. Selesai itu, saya pesan Quiche Beef lagi. Total semua? 160 ribu sekian. Kenyang super (lagi), worthed untuk membuncit (lagi). Good days for satisfy my belly, tasted very good.

Kue-kue Cinema Bakery
Kue-kue Cinema Bakery 

LAST DAY IN JOGJA, HUTAN PINUS, DAN SATE KLATHAK (LAGI)

Hari terakhir di Jogja, saya mulai lemes. Brewok bertanya kemana lagi saya hendak pergi. Saya sudah kehabisan ide, juga tidak ingin terlalu capek. Dia punya ide mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri. Kami berangkat siang itu. Jarak ditempuh sekitar 40 menit. Di perjalanan kita bisa melihat kota Jogja dari ketinggian, Mangunan, dari celah-celah pohon kayu putih. Jalannya masih berbelok curam dan naik turun. Syukurlah tidak banyak dan tidak terlalu parah. Memasuki kawasan tersebut, disuguhi pemandangan pohon-pohon pinus yang tinggi-tinggi menjulang. Sayangnya saya kurang bisa menikmati karena di perjalanan saya kelilipan abu rokok Brewok, yang membuat saya rusak mood seharian (pemirsa sekalian, harap kurangi/ hindari rokok ya). Kami berfoto di sela-sela pohon pinus. Sesekali memandang ke atas menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh gesekan ranting di atas sana. Teduh dan tenang.

Perjalanan menuju hutan pinus
Perjalanan menuju hutan pinus
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan Pinus
Hutan Pinus
Langit-langit yang cantik ya...
Langit-langit yang cantik ya…

Tampak juga banyak pasangan yang menikmati momen romantis disana (ngenes, dapat pasangan yang nggak romantis). Ada photoshoot cosplay juga. Kami jalan menaiki bukit, ada tempat di mana mereka membangun beberapa rumah pohon tanpa atap. Cukup memancing adrenalin untuk memanjat ke atas, di terpa angin kencang dan pondoknya bergoyang, dibangun di antara dua pohon tinggi. Mood booster saya juga setelah mencoba itu. Antara excited dan ketakutan.

Berani nyoba?
Berani nyoba?

Tak lama, kemudian kami turun, menjelajahi satu jalan kecil, sekitar setengah kilo ke bawah, ada Batu Tumpeng, hanya batu-batuan yang saling bertindihan. Kami kembali ke pintu masuk, ada petunjuk suatu mata air, sekitar 1 km masuk. Kawan-kawan tidak perlu masuk, cukup jauh ke bawah, dan ternyata mata air yang sudah dimodif, bukan alami. Sudah cukup lelah kami menjelajah, kami pulang.

Melewati Imogiri, tebak apa yang saya singgahi lagi di Imogiri? Betul. Sate Klathak lagi. Ehehe, ke-6 kalinya. Tapi kali ini saya ingin Tengkleng, kata Mbak Vina itu enak sekali, klamut-klamut daging yang melekat pada tulang-tulang, mungkin iga atau semacamnya. Kami ke Pak Pong yang terkenal dan biasanya ramai itu. Terrrnyata, Tengklengnya kosong. Saya sedih dan menyesal baru ingin mencarinya sekarang, di saat-saat terakhir. Akhirnya saya pesan Tongseng saja, bentuknya potongan daging, dengan kuahnya. Brewok pesan klathak, saya pasti merampoknya. Penuh perut, dan kami pulang. Saya beberes, packing untuk pulang ke Medan besok.

Makan di Pak Pong (lagi)
Makan di Pak Pong (lagi)

PULANG KE JOGJA LAGI LAIN KALI!

Pulang? Jogjalah sebenarnya tempat saya (dan banyak orang) berpulang. Jogja adalah kota dimana semua orang merasa nyaman, hangat, dan tenang. Saya akan pulang ke Jogja lagi tahun depan, doakan. Juga berencana mengunjungi tempat-tempat lain, nominasinya Surabaya, Bromo, Bali. Sudah cukup perjalanan hampir sebulan ini, kantong juga sudah kosong, terima kasih buat kawan-kawan semua, Mbak May, terlebih tur guide saya , Mas Brewok. Hahaha. Puji kepada Tuhan dengan segala keindahan alamnya dan saya bersyukur dan pantas bisa meluangkan waktu dan hartaku untuk mengaguminya. Sampai jumpa, Java. Semoga tulisan saya ada manfaatnya bagi teman-teman yang akan mengunjungi tempat-tempat istimewa ini, indah rasanya bisa saya bagikan pengalaman berharga ini dalam tulisan panjang lebar begini supaya bisa dinikmati. Hahaha! Semoga ya….

Studionya Mas Brewok
Studionya Mas Brewok

Yang berkunjung / berdomisili di Jogja, jangan sungkan untuk mengunjungi workshop kerajinan kulit Monkey x Rabbit milik Brewok di Dusun Karangnongko, Sewon, Bantul, kontek aja 089669974368. Maaf promo dan bukan titipan sponsor. :p

(END)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 5)

Teks oleh Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

PERJALANAN KE SEMARANG DAN MUSEUM KERETA API AMBARAWA.

Rencananya berangkat ke Semarang pagi-pagi sekali tapi karena tadi malam kami kecapaian, akhirnya kami berangkat pukul 2 siang, dengan badan pegal-pegal. Saya dapat informasi kalau berangkat siang akan terjebak macet. Yasudahlah saya pasrah saja. Dari Jogja ke Semarang akan melewati Magelang, Soropadan dengan wisata pasar buahnya, Banaran, dengan kebun kopinya, Ambarawa dengan rawa bening dan museum kereta api kunonya, lalu Ungaran dengan candi Songonya.

Kami hanya singgah ke Ambarawa Railway Museum, sebuah museum kereta api kuno, dibangun tahun 1976 di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dengan membayar kalau tidak salah 10 ribu rupiah, kami berfoto ria di beberapa gerbong kereta api kuno yang dipajang, juga di bekas stasiun yang nuansanya sungguh eksotik di mata saya. Di sini juga ada fasilitas berkeliling Ambarawa dengan kereta api kuno, dengan membayar 50 ribu rupiah perorangnya, tetapi hanya beroperasi pada hari Minggu dan hari libur. Sayang sekali kami tidak bisa mencobanya. Puas menikmati, kami bergerak lagi.

Ambarawa Railway Station
Ambarawa Railway Station
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman

Sampai di Semarang, di rumah keluarganya nya Mas Brewok, di Kaligawe, salah satu jalan Pantura, kami langsung tepar. Tapi sempat dong makan ayam bakar dulu di warung kecil simpang rumah.

Besok paginya, setelah main ke rumah sebelah yang juga saudara Brewok, saya diajari menembak dengan senapan angin milik Papa Brewok, seperti janjinya. Berkutatlah saya dan Brewok dengan senapan angin dibawah terik matahari di kebun sebelah rumah, senapan ini tidak pernah dipakai untuk menembak makhluk hidup, hanya untuk olahraga. Dari sekitar 7 kali mencoba, hanya sekali, kena sasaran. Saya menyerah. Terik matahari di Semarang cukup luar biasa. Apalagi rumah Brewok di dekat pantai. Pantai yang main ke rumah. Hehehe. Maksudnya adalah air pasang yang masuk ke dalam rumah, tanah Semarang tiap tahunnya turun 5cm.

Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.
Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.

CAFE IGA BAKAR DAN ANGKRINGAN PINGGIR JALAN

Esoknya kami ada janji bertemu Febri di tempat kerjanya, di Tandhok Ribs & Coffee Jl. Papandayan. Saya jadi ingin Iga Bakar. Sekalian kopdar bareng teman-teman Semarang lainnya. Mengobrolkan gambar, pekerjaan, hobi. Saya order seporsi iga bakar seharga 45 ribu. Sebenarnya saya mau order lagi karena nafsu makan masih menggebu-gebu, tapi teralihkan karena obrolan dan candaan kami terlalu seru malam itu. Sampai cafenya tutup, saya belum ingin pulang. Pukul 10 malam, kami mutar-mutar mencari tempat tongkrongan, kami dapati angkringan yang masih buka, di simpang Jl. Menteri Supeno. Saya sungguh bersyukur, setiap saya mengunjungi Semarang, saya diajak nongkrong di pinggir jalan sungguhan seperti ini. Duduk beralaskan tikar di atas trotoar di persimpangan. Makan nasi kucing dan beberapa gorengan, tentu saja murah meriah. Sampai pukul 12 malam kami bubar. Entah kenapa momen malam itu ‘sesuatu’ sekali, saya menikmati malam, melupakan semua keluh kesah sesaat, bersama orang-orang yang menyenangkan dan jauh dari realita kota asalku. Memandang malam dan teman-teman ini, saya banyak bersyukur, walau kadang mereka ngobrol tanpa subtitle.

Iga Thandok, makan iga dulu.
Iga Thandok, makan iga dulu.
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe

MENCARI ES KRIM DI TENGAH TERIK SEMARANG

Well, sore besoknya saya bersama dua mas-mas sangar ini nongkrong di Cafe Es Grim House, saya ingin mendinginkan efek cuaca panas Semarang ini. Sepertinya agak sulit menemukan cafe yang menyediakan menu-menu es krim di sini. Dan ternyata sajiannya juga tidak terlalu istimewa seperti yang saya bayangkan, seperti tempatnya juga, yang sederhana. Tidak seperti kota Medan yang kian ramai dengan cafe-cafe cantik yang menyediakan menu es dan kue-kue yang ‘wow’, harga juga ‘wow’ sih. Harga makanan di Semarang masih tergolong standar dan cocok di kantong. Walau tak semurah Jogja.

Bosan nongkrong melihat mereka mengobrol tanpa subtitle, saya ingin mencicipi lumpia. Sempat kecewa siang tadi karena kehabisan lumpia basah (non halal) yang terkenal di Jl. Lombok, daerah Pecinan dekat kali. Jika pengen sekali, ternyata harus memesan pagi-pagi, sebelum kehabisan. Di sebelahnya ada warung es campur dan sejenisnya yang juga terkenal, banyak artis makan disitu. Dalam pencarian darurat, kami memilih Lumpia Express, di Jl. M.T.Haryono. Sebuah restoran yang menyediakan lumpia siap saji, bermacam pilihan dengan range harga belasan ribu. Singkat cerita saya tidak begitu suka, entah memang resto tersebut yang rasanya kurang enak atau rasa lumpia di Semarang itu memang seperti itu, hanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya memang tidak sempat mencicipi di tempat lain, besok kami akan melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi Dieng.

Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.
Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.

ROAD TO DIENG, DESA DI ATAS AWAN

Berangkat ke Dieng jam 7 pagi dari rumah, saya sangat mengantuk. Ini pertama kalinya saya menderita kantuk akut di atas motor, sampai membahayakan diri. Beberapa kali saya tertidur di boncengan, masih satu jam pertama. Mas Brewok setiap menyadari saya tertidur, dia pelankan motor dan membangunkan saya. Sampai kesekian kalinya, kami memutuskan untuk berhenti untuk beristirahat di depan Indomaret daerah Temanggung, yang menyediakan meja dan kursi. Saya dengan lunglai langsung duduk dan meletakkan kepala di atas dekapan tangan di atas meja. Saya tidur kurang lebih 10 menit, sampai mengences. Hahaha. Lalu kami mengemil dan minum sebotol kopi, sambil saya mengumpulkan nyawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Sudah segar. Tiga jam sisanya saya celingak-celinguk menikmati pemandangan. Dari Temanggung, menuju Wonosobo. Sepanjang perjalanan sudah banyak kebun dan barisan gunung tampak dari kejauhan. Yang perlahan mendekat. Kami memutari gunung, dataran tinggi Dieng letaknya di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Memasuki kabupaten Wonosobo, saya mulai merasakan hawa sejuk. Suhu pada siang hari berkisar 12o-20o C dan malam hari mencapai 6o-10o C, pada musim kemarau (Juli-Agustus) subuhnya terkadang mencapai 0oC! sampai membekukan embun! Ketinggian Dieng ini 2000m di atas permukaan laut. Saya sungguh tidak sabar menikmati keindahan dan petualang di atas sana.

Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.

THE LEGENDARY ‘TELAGA WARNA’

Tahu-tahu kami sudah memasuki area wisata Telaga Warna, jam menunjukkan pukul 12 siang, sesuai rencana, kami memang akan mengunjungi tempat wisata dahulu lalu beristirahat di kerabatnya Brewok di daerah Batur Banjarnegara. Membayar tiket seharga 5 ribu perorang, tak jauh dari pintu masuk, pemandangan Telaga Warna yang legendaris itu sudah menyapa. Saya dan Brewok iseng bermain turis-turisan, karena saya sering sekali dikira warga asing. Kami berbahasa enggris seharian, hahaha!

Telaga itu sedang sedikit surut karena kemarau. Kami berjalan memutari telaga, berfoto di padang rumput kering. Kami juga menyinggahi beberapa gua di situ. Tapi banyak yang sedang ditutup. Sambil berjalan santai menikmati, saya teringat, bahwa orang-orang sepertinya mengambil foto dari ketinggian, saya penasaran dimana ada jalur yang lebih tinggi, ternyata Mas Brewok juga. Tak lama berjalan, ada sebuah jalur kecil yang tampaknya menuju atas, kami langsung bergegas naik. Tanah pasir berdebu sedikit mengganggu, syukur kami punya masker. Jalannya cukup sempit dan licin karena pasirnya. Tiba di suatu ketinggian dimana tampaknya cukup bagus mengambil foto, kami berhenti, sambil ngos-ngosan. Menikmati keindahan alam ini, telaga indah yang dikelilingi bukit tinggi. Warnanya benar mempesona. Dinamai Telaga Warna ya karena konon warna air di telaga ini berubah-ubah, menjadi biru, hijau, dan kuning. Penyebabnya adalah kandungan sulfur yang tinggi.

Telaga warna
Telaga warna yang indahnya amat memanjakan mata
Masih Telaga Warna
Masih Telaga Warna

Lalu kami memandangi jalur selanjutnya, ragu dalam hati untuk melanjutkan atau tidak, karena sudah cukup lelah sampai disitu. Tak sampai semenit berpikir, kami naik, berharap mendapati kesempatan lebih bagus. Tapi sialnya, sekitar 200 meter menaiki itu, saya merasa jalur ini memang sudah di puncak bukit, tapi, arahnya ke hamparan kebun dan sawah, telaganya sama sekali tidak tampak. Sambil bernafas keras, kami turun lagi. Di depan kami ada cabang jalur. Firasat saya merupakan rute lebih singkat untuk turun, semoga tidak salah. Voila, benar… kami sampai di tepi telaga di sisi lainnya. Mendapati beberapa wisatawan sedang berjalan juga. Mendekati tempat awal kami memulai, ada penjual jagung bakar, dan tempat yang asik untuk duduk. Tentu saja kami makan jagung bakar, sebatang berdua, duduk di sebuah teras, di tepi telaga. Saya mengamati dari jauh, sebuah maskot hidup Mickey Mouse yang kesepian, jasa berfoto bersamanya dikenakan biaya 5 ribu, tak ada seorang pun menghiraukannya, aku membayangkan siapa dan bagaimana wajah dibalik kostum itu.

Beberapa meter dari si Mickey Mouse, ada sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana sambil bernyanyi, bintangnya adalah seorang gadis kecil yang berjoget ria menghibur pengunjung. Letak mereka tepat setelah pintu masuk. Iringan musik itu membuat si Mickey Mouse sedikit ikut bergoyang. Tapi tetap saja membuat saya sedih melihatnya.

Telaga Warna lagi.
Telaga Warna lagi.
Nikmati keindahan Telaga Warna
Nikmati keindahan Telaga Warna
foto 55-telaga warna (6)
Melompat dan berbahagia di pemandangan cantik seperti ini

KAWAH SIKIDANG & KOMPLEKS CANDI ARJUNA

Well, kami keluar dari situ dan mengunjungi tempat wisata selanjutnya, tak jauh dari situ. Kawah Sikidang, membayar 10 ribu sudah termasuk mengunjungi kompleks candi Arjuna yang juga terletak dekat dari situ. Memasuki area kawah, berbatu-batu, naik turun, berpasir putih, ada kuning-kuningnya, itu belerang. Ada yang sedang foto prewedding. Lumayan luas, dari kejauhan tampak asap putih, uap panasnya lumayan terasa dari jauh, beberapa rombongan juga berjalan menuju ke situ.

Di sana ada sebuah kolam yang dipagari, mata airnya mendidih dan beruap, sampai saya awalnya tidak melihat ada mata air di situ karena dikepul uap. Kawah Sikidang ini mempunyai cerita legenda tentang seorang pemuda berkepala Kijang yang dijebak dan terkubur di sana oleh wanita yang menghindari lamarannya, ini link cerita legendanya http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/264-legenda-kawah-sikidang

Kawah ini masih aktif sampai sekarang dan mengeluarkan uap panas yang berganti-ganti posisinya. Ada banyak kawah di Dieng, beberapa dijadikan pembangkit listrik tenaga uap.

Sikidang
Sikidang

Foto 57-sikidang (2)

 

Masih Sikidang
Masih Sikidang

Foto 59-sikidang (4)

Selesai dari situ, kami pergi ke Kompleks Candi Arjuna. Ada 5 candi kecil, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada. Sebuah prasasti di dekat Candi Arjuna, menunjukkan pembangunan Candi sekitar 809 SM. Wow. Kemudian kami melihat ada bapak dengan kuda, rupanya berjualan jasa menunggangi kuda, kami tergoda mencoba. Menyenangkan sekali! Tapi andai kudaku yang putih dan besar, bertanduk dan bersayap (does unicorn exist?). Saya sudah lelah, jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami bergegas menuju Batur, kediaman kerabat Brewok yang hendak kami tumpangi. Pemandangan jadi senja, dan kami menembus awan.

Desa di atas awan
Desa di atas awan
Senja yang memikat
Senja yang memikat
Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

 

Di Komplek Candi Arjuna
Di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna

 

Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. :D
Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. :D
Candi Arjuna
Candi Arjuna

 

https://youtu.be/Mgdg-xlc8b4

https://youtu.be/Nw2e4J-nNqw

SWEET PLACE TO REST, BATUR

Perjalanan sekitar 20 menit itu kami jalani dengan tubuh mengigil. Saya sempat merekam kami menembus kabut tebal alias awan. Ya, kami memang sedang berada di desa di atas awan. Tangan saya benar-benar mati rasa sampai terasa sakit saat merekam beberapa menit. Saya langsung pakai sarung tangan kembali setelah selesai merekam. Senja dan pemandangannya itu membuat saya hanya bisa terpaku diam. Antara dingin dan sulit bernafas karena Brewok membawa kencang motornya, wajah ditampar angin yang dingin, kaki saya mengigil naik turun sendirinya. Kami memasuki sebuah perkampungan, desa Batur Kota Banjarnegara.

Setibanya di rumah saudara Brewok, saya sedikit lega karena tidak sedingin di luar. Lantainya dialasi karpet. Lantai dapurnya plasteran semen, disediakan beberapa sandal, saya coba berjalan tanpa sandal itu, diiingiin. Saya mau buang air, toiletnya di luar rumah, dengan halaman penuh bunga yang tumbuh subur di depannya. Saya coba memasukan tangan ke dalam airnya, wooww, seperti air es. Tapi percaya atau tidak, saya mandi dan keramas setelah itu. Karena tidak tahan rasanya sudah kotor dan rambut lepek hari itu. Penduduk disitu juga nggak rutin mandi setiap hari lho. Ya maksud saya, selain karena merasa kotor, juga sebagai tantangan, pengalaman berharga, toh untuk pertama dan terakhir di situ edisi tahun ini, besok pagi tampaknya tidak akan bisa mandi.

Brewok hanya berani cuci muka dan gosok gigi. Hih! Kami mengobrol sampai larut malam, sempat membuat pemanas dengan arang dibakar di dalam sebuah tungku, perapian ala kami. Lagi-lagi tidak ada subtitle yang di-instal. Baiklah lalu kami bubar dan tidur. Kasur dingin-dingin empuk dengan selimut super tebal dan berat. Seketika langsung terlelap, serasa di kamar ber-AC. Sialnya saya terbangun pukul 5 subuh dan ingin buang air kecil. Harus… keluar rumah… gelap… dan airnya dingin sekali. Tapi percayalah saya malah excited sekali. Lalu kembali tidur, menahan excited subuh-subuh itu.

Desa Batur
Desa Batur

MENUJU CURUG SI KARIM, KEMBALI KE JOGJA

Seperti biasanya kami ‘mengecas’ energi terlalu lama, tadinya akan bergerak jam 8, akhirnya kami bergerak jam 10. Menuju Air Terjun Si Karim. Kata penduduk, dari sini sudah dekat, tapi jalannya rusak parah, ada jalan lebih mulus tapi harus memutar ke kota. Brewok mau mencoba melalui rute rusak itu. Awalnya ‘biar dicoba dulu’ tapi sesampainya kami disana, suatu jalan kecil yang menurun, sepertinya tidak ada kata untuk kembali. Jalannya terjal turun dan berkelok ekstrem, masih dengan membawa ransel besar di antara kakinya. Jalannya rusak dan isinya bebatuan agak besar, kiri kanan tanaman. Saya memilih turun dan berjalan kaki di beberapa belokan terjal, sambil menenteng ranselnya, sedangkan Brewok cukup ahli pelan-pelan menyusuri jalan bebatuan itu. Ini memacu adrenalin sekali. Sepertinya Mas Brewok bukan orang yang takut mati. Sayang saya tidak sempat mengambil foto jalanan tersebut. Karena berkonsentrasi dan agak tegang. Lumayan jauh turunnya, sekitar 4 km dengan turun mengesot dan berbelok-belok ekstrem seperti itu.

Saya yakin juga sampai disana, ada jalur keluar ke kota yang disebutkan mereka, kalau untuk naik saya pesimis sekali, kelihatan mustahil. Kami sampai dan menghela nafas panjang. Sebuah tebing batu yang gersang dengan kucuran air yang… tidak terlalu deras. Ada beberapa orang yang sedang bermain air di atas sana, kemudian pergi tak lama sesudah kami sampai. Saya senang memanjat. Saya naik duluan dan duduk-duduk. Saya tanya pada Brewok apakah dia bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi itu untuk berfoto. Mas Brewok kelihatannya ragu untuk memanjat, tapi kemudian dia memanjat dengan hati-hati. Sedikit mengeluh licin karena banyak lumut, dan mulai khawatir untuk melanjutkan. Walau akhirnya dia sampai di tempat yang saya tunjuk, saya mengambil beberapa foto lalu dia kembali. Oopps… brewok tergelincir! Dia jatuh tengkurap bergantung disana. Setengah badannya sudah basah. Sebelah tangannya berpegang pada batu yang kering.

Saat itu saya masih santai melihatnya dari bawah, berharap dia masih ada kesempatan untuk bangun, tapi kelihatannya tidak. Malah dia bilang biar dia seluncuran ke bawah saja, saya bilang itu tindakan yang gila, minimal luka berat, patah tulang atau kebentur kepala, kalau dia mati atau kenapa-kenapa di situ saya bagaimana pulangnya. Tidak ada orang yang bisa menolong juga di situ. Saya pun segera memanjat, entahlah bagi saya mudah sekali memanjatnya, walau kaki sedikit basah. Tidak selicin yang dia bilang juga. Dia sempat melarang saya naik menolong. Tapi saya sudah sampai di atas dan menariknya. Saya duduk disitu, melihat-lihat pemandangan lagi. Dia turun perlahan dengan kondisi cukup kacau. Mungkin ada memar, bahu pegal, baju dan celana basah juga ada tambahan aksesoris lumut di pakaian. Kami kenakan sepatu dan siap-siap pualng. Masih tertawa-tawa dengan kejadian tadi. Syukurlah tidak kenapa-kenapa, syukurlah ada saya. Ho-Ho! *ejekBrewok

Curug Sikarim
Curug Sikarim
Curug Sikarim juga
Curug Sikarim juga

Setelah tenang, kami tancap gas keluar dari situ, keluar ke Wonosobo ‘mengisi perut’ sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Kata Brewok dari sini ke jogja hanya sisa sekitar 3 jam. Sedikit lega, walau saya memang sudah mulai terbiasa dengan perjalanan jauh seperti itu. Hanya saja punggung, pinggang sampai bokong saya yang terasa lelah sekali, banyak menahan berat badan saat jalanan naik turun terjal. Satu jam terakhir, kami sedang berada di Magelang dan beristirahat. Brewok bertanya apakah berniat untuk singgah ke Borobudur, walau kami sudah pernah mengunjunginya tahun lalu. Mungkin untuk mengusir rasa mualku di perjalanan (padahal naik motor kan), saya mengiyakan.

Membayar 30 ribu perorang, saya sempat dicurigai sebagai warga asing, karena turis asing harga tiketnya lebih mahal. Spontan dong kami tidak main bahasa inggris-inggrisan lagi, saya berbahasa dengan logat Medan yang agak kental untuk bertanya toilet di mana, barulah mbaknya yakin saya orang Indonesia. Si Mbak memberitahu bahwa tempat itu akan tutup pukul 5. Jam menunjukkan pukul 4 lewat. Saya baru sadar. Yasudah kami bergegas masuk. Yang saya keluhkan adalah jarak dari parkiran ke candinya lumayan jauh, apalagi kami sudah sangat lelah, Brewok menenteng ransel yang lumayan berat itu. Dia kelihatan lelah dan berkeringat.

Menaiki tangga depan Borobudur, kami beristirahat di bangku batu di teras di depan candi. Saya katakan bahwa saya akan berkeliling sendiri saja dan dia bisa duduk beristirahat di situ. Dia tidak mau. Saya ngotot mau jalan sendiri, dia jalannya sudah sempoyongan dan lambat. Saya akhirnya naik dan memisahkan diri. Saya naik sampai atas, saya pergi ke arah barat, di mana pemandangan senja dan matahari terbenam sungguh indah dari sana. Saya duduk, saya tahu Brewok akan ke situ juga. Beberapa menit kemudian, dia muncul. Saya ajak duduk di tepi teras, di antara stupa. Banyak bule sedang bersantai dan berfoto juga.

Semua mulai bubar setelah ada announcement tempat sudah mau tutup dan dihimbau untuk turun. Brewok rebahan beralaskan ransel, saya menikmati pemandangan beberapa saat lagi. Lalu kami bersiap-siap pulang. Rute pulang dialihkan, tidak sama dengan rute kedatangan, diputar agak jauh dan melalui pasar-pasar yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan. Juga museum. Singkat cerita, kami sampai di Jogja dan tepar sampai besok siang. (to be continued)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 4)

Teks: Sal Nath/ Foto Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

MEMBAWA PULANG ULAR DARI PASAR SATWA DAN TANAMAN HIAS

Hari itu saya bikin janji dengan Mbak Maya teman dunia maya yang menjadi nyata. Kami ke Pasty alias Pasar Satwa dan Tanaman Hias. Di jalan Bantul KM1. Tempat itu terdiri dari dua area yang terletak bersebrangan. Saya memasuki area satwa dan isinya tentu saja bermacam ragam hewan. Banyak kerajinan sangkar burung dan perlengkapan memelihara hewan. Ada aneka burung, kucing, anjing, monyet, ayam, tupai, reptil, dan kelinci. Lalu saya berhenti sejenak di sebuah toko penuh dengan ular. Saya melihat ada kumpulan ular kurus berwarna hijau terang meliuk-liuk di akuarium kecil dari salah satu pajangannya. Saya iseng meminta ijin untuk mengeluarkan ular tersebut, alhasil saya membawa pulang Ular Pucuk untuk menjadi teman main seminggu. Seharga 30 ribu (saya tawar jadi 20 ribu), Mbak Maysun tidak takut, malah ikut excited karena dia juga penyayang binatang. Teman-teman geleng-geleng saya bermain dengan ular dengan bisa level medium itu. Lucu saja. Kurus, hijau terang, meliuk-liuk. Benar-benar jadi teman bermain saya beberapa hari saat brewok sibuk bekerja.

Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja
Ular hijau yang menjadi teman saya selama di Jogja

MAKANAN JOGJA? SIAP-SIAP PANIK.

Tidak pusing mencari makan di Jogja. Tidak perlu takut mahal. Sudah tidak asing terdengar bahwa makanan Jogja itu murah meriah dan enak-enak! Suatu malam Brewok mengajak saya ke salah satu cafe (sebenarnya lebih tepat disebut warung makan) yang kata doi termasuk mahal, tapi enak. Wow benar saja, enak-enak! Saya langsung ketagihan, makan disitu hampir tiap hari. Mahal? Tidak. Ikan lele/ayam/cumi/ nila yang goreng/bakar/saus tiram/saus mentega/saus padang/ dll bisa didapati seharga 7 ribu – 13 ribu. Nasi cuma 2 ribu. Minuman ya seperti dimana-mana di Jogja itu 2 ribu sampai 5 ribu. Yah sekali makan agaknya belasan ribu saja paling mahal. Berdua sekitar 20-an ribu saja setiap makan. Eits, belum saya sebutkan namanya, namanya Cafe AngSa (Angkringan Santo) letaknya persis belakang kampus ISI Fakultas Seni Rupa, Jl. Ali Maksun itu lagi. Sebuah warung makan sederhana, banyak mahasiswa /mahasiswi ISI yang selalu nongkrong disitu, buka dari siang sampai pukul 01.00 dini hari. Wajib coba dan hati-hati ketagihan. Ada kucing manja yang selalu mengeong minta makan.

Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!
Makanan enak di Angkringan Santo (AngSa). Enak dan murah!!!

Beberapa hari disini, makan di berbagai angkringan dan warung makan, ternyata sering menjumpai sambal bawang disini, pedasnya wow. Saya jarang menemui sambal ini di Medan. Rasanya cocok sekali dengan lidah saya yang suka pedas. Setelah perut kenyang, pulang ditiup-tiup angin malam Jogja yang dingin. Sambil sesekali menegadah ke atas, melihat jernihnya langit, bertabur bintang, saya bersyukur sekali masih ada kota yang nyaman seperti Jogja ini.

PANTAI PARANGTRITIS & SATE KLATHAK IMOGIRI.

Mas Brewok mengajak ke Pantai Parangtritis di suatu sore, perjalanan yang ditempuh sekitar 30 menit saja dari Sewon. Rutenya sangat simpel, hanya lurus dari Jalan Parangtritis ke arah selatan. Masih jalan kota, jalan besar. Melewati Pasar Seni Gabusan, central kerajinan kulit Manding. Memasuki area retribusi, saya pikir kami harus membayar tiket masuk, tapi… Brewok… dengan santainya nyosor masuk melewati pos pembelian tiket. Ups? “Nggak usah bayar kan, pasang saja tampang sangar, percaya diri, jalan lurus, dipikir warga sini toh.” Jjjiiiah Beb, jangan sering-sering yaaa, walau tiket juga mungkin murah saja, kita terkadang juga perlu berpartisipasi mensejahterakan tempat-tempat wisata seperti ini.

Well, saya sempat beberapa kali berujar kenapa tidak tampak tanda-tanda ada pantai, karena pandangan tertutup pohon-pohon, semak belukar dan gumuk pasir, gumuk pasir adalah gurun pasir yang terbentuk dari pasir pantai yang tertiup, jadi kamu bisa berfoto disana seolah di gurun pasir, juga bisa sand-boarding. Lalu suatu ketika, ada celah dimana saya melihat, horizon yang indah! Saya langsung excited. Kami cari tempat parkir dan bergegas menuju pantai. Ada ombak yang tinggi! Ini ombak tinggi yang pertama saya lihat. Beberapa foto dijepret dekat landmark tulisan Pantai Parangtritis.

Kami sadar harus mengisi perut di salah satu warung dekat pantai. Sedihnya, pemandangan sunset tidak sempat kami nikmati lama karena kami terlalu lama di warung makan. Tapi pemandangan sehabis itu masih tidak mengecewakan saya. Indah. Refleksi langit yang jatuh ke pasir yang basah menghipnotis saya.

Selamat datang di Pantai Parangtritis
Selamat datang di Pantai Parangtritis 

Pasir halus memanjakan telapak kaki, angin sepoi-sepoi memancing kami untuk mencicipi wedang ronde yang dijual di tepi pantai itu. Kalau siang hari ada jasa menunggangi kuda di pesisir, tapi karena sudah menjelang malam, mereka sudah pada bubar. Juga ada yang berjualan jajanan seafood seperti udang dan kerang, juga sudah pada pulang. Brewok pernah bilang ini pantai yang ‘biasa-biasa’ saja disana, wah bagi saya ini sudah cukup luar biasa, nggak sabar mengunjungi pantai-pantai di Gunung Kidul yang katanya maut sekali indahnya. Langit sudah mulai gelap, pulangnya kami melewati Imogiri, kami singgah ke rumah kawan kami di daerah Sindet. Mas Apriyadi Kusbiantoro, seorang komikus yang sedang naik daun, bukan hanya di negara sendiri tapi di Eropa, dengan komik legendarisnya, Lemuria.

Sunset yang memanjakan mata
Sunset yang memanjakan mata

Selesai ngobrol, kami mulai merasa lapar dan berencana hunting makanan lagi di perjalanan pulang, masih di daerah Imogiri, papan reklame “Sate Klathak” bertebaran sepanjang jalan, disitu memang pusatnya. Karena sate klathak terkenal Pak Pong itu sedang ramai, kami singgah ke warung klathak yang lain. Dua tusuk dengan kuah gulai, satu nasi. Seporsinya 25 ribu. Sejujurnya saya kurang kenyang, hahaha. Ini sate klathak kedua setelah mencicipi klathak pertama kali di pinggir jalan saat bersama Mbak Maya sepulang dari Pasty kemarin, sekitar jalan Parangtritis juga.

Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)
Suasana hati bikin kita makin jatuh cinta dengan suatu tempat. Di tempat ini saya bahagia dengan pemandangannya yang luar biasa. (Apalagi bareng Mas Brewok ya? :p)

GEMBIRA LOKA ZOO DAN FESTIVAL KESENIAN YOGYAKARTA DI TAMAN KULINER CONDONGCATUR

Pagi ini kami mengembalikan ular pucukku ke penjualnya di pasar satwa, tadinya mau dilepas atau dihibahkan ke teman, tapi berhubung ular ini beracun medium, takutnya membahayakan masyarakat, juga belum menemukan teman yang berminat memeliharanya. Setelah itu kami ke kebun binatang Gembira Loka, buka dari pukul 08.30 sampai 15.30. Tiket satu orangnya Rp. 20 ribu. Dibekali satu lembar map dan peraturan-peraturan di dalam. Jadi, benar bahwa gosipnya bonbin ini besar dan lengkap. Dari orang utan, harimau, beruang, buaya, macan, ikan-ikan langka, burung unta, dan ada ruang interaksi bebas dengan macam-macam burung. Ada hewan pendatang baru yang digemari masyarakat, Jack si penguin afrika. Ada jadwal show untuk si Jack yakni pukul 09.30 – 13.00 setiap hari, feeding time harimau setiap hari minggu dan libur nasional pukul 12.00. Ada juga jadwal khusus untuk menunggangi kuda, gajah, dan banyak lagi. Ada sarana Bumper Boat, berkeliling menggunakan kapal kecil, perahu kayuh, kolam tangkap, terapi ikan, sepeda sewa dan sirkuit ATV. Juga ada fasilitas mengelilingi rute bonbin dengan Taring, transpor keliling. Kami cukup lelah berjalan dan menelusuri semua sudut bonbin. Syukur ada beberapa warung di ujung perjalanan. Menengak sesuatu yang segar sambil duduk beristirahat memandangi kolam.

Kebun Binatang Gembira Loka
Kebun Binatang Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Masih di Gembira Loka
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Gembira loka dan keceriaan satwanya
Lihat di belakang saya ada apa? :D
Lihat di belakang saya ada apa? :D

Tak lama kemudian kami capsus ke Taman Kuliner Condongcatur. Kebetulan event Festival Kesenian Yogyakarta sedang berlangsung. Di dalamnya kami dapati banyak sekali stand yang berjualan barang-barang kerajinan dan makanan. Di tengah-tengah ada lapangan yang di-instal panggung yang cukup megah. Sebenarnya kami kemari menantikan konser dari teman saya, nama beliau Maz Inung. Sebut saja gitaris Tiga Gunung Lima Lautan. Seorang bapak dengan multi talenta yang sudah mengukir banyak prestasi. Saya belum sempat bertemu dengan beliau selama di Jogja. Hari ini berharap bisa melihat penampilannya dan menyapa walau sebentar. Sempat mengantri lama membeli sebuah jajanan minuman berkemasan dot bayi, kami duduk sambil mengenyot dot, duduk lesehan di tengah lapangan yang sudah ramai. Menonton wayang orang atau ketoprak dalam bahasa jawa, saya salut dengan penampilan mereka yang maksimal sampai akhir. Tepuk tangan meriah dari penonton, menyambut acara selanjutnya.

Pertunjukan kesenian yang memukau hati
Pertunjukan kesenian yang memukau hati

MC memperkenalkan Maz Inung yang berkostum putih ala primitif Amerika, dengan kursi roda dia tidak pernah kehilangan pesonanya. Melantunkan tembang-tembang yang kritis dan penuh motivasi untuk masyarakat jogja, dengan iringan genderang dan dayang-dayang penari. Konser beliau sungguh memukau. Saya dan Brewok segera menyusul beliau setelah penampilannya. Hanya sempat mengobrol sebentar dan beliau segera pamit karena ada urusan lagi. Benar-benar sibuk sekali. Tak lama baru datang kawan kami yang telat hadir, Mas Rangga, seorang pujakesuma (putra jawa kelahiran Sumatra, Medan juga) yang berdomisili di Bantul. Bersama anak dan istrinya yang seorang berkebangsaan Belanda. Well acara sudah habis dan banyak toko yang sudah tutup, waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kami mongobrol sambil berdiri, yang akhirnya Brewok olahraga menemani Kenji, anak mereka yang sekitar 3 tahunan, main kejar-kejaran di lapangan, 2 jam. Brewok senang dengan anak kecil. Akhirnya kami pulang dan beristirahat pukul 1 dini hari. Sebenarnya besok pagi-pagi kami akan berangkat ke Semarang…. well… we made a mistake. Or not. What a good night anyway. (to be continued)

Taman Kuliner Congcat
Taman Kuliner Congcat

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 3)

Teks: Sal Nath / Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

LUMPIA BASAH, CAT CAFE, LALU ‘PULANG’ KE JOGJA!

Saya dijemput Mas Beruang jam 10 pagi, mencari lumpia basah yang katanya enak di Simpang Dago. Benar enak, cocok dengan selera saya. Lumpia yang diisi telur, daging dan sayur-sayuran, dan belepotan kuah kentalnya. Ada banyaakk… sekali pilihan yang tertera di kaca gerobak tersebut, harga cukup terjangkau, sekitar 9 ribu sampai belasan ribu. Kenyang sekali makan satu porsi. Beruang makan seblak, makanan khas bandung juga yang merupakan kerupuk yang direbus, makaroni, bumbu, perasa, dan, pastinya, pedas! Porsinya cukup besar.

Lumpia basah
Lumpia basah

Selesai makan dan bengong sejenak kekenyangan, meratapi masa lalu lagi… saya dibawa ke Cat’s Village, sebuah kafe kucing hasil desain Mas Beruang. Bertempat di Jalan Banda. Jadi untuk bermain dan mengemil di Cat’s Village, satu jam pertama dikenakan 50 ribu satu orang. Tambahan 30 menit dikenakan 15 ribu. Atau paketan 2 jam dikenakan 75 ribu. Pada saat itu ada paket spesial, 130 ribu (belum termasuk pajak) , berdua, dengan masing-masing satu jam bermain bersama kucing, satu porsi snack (french fries/onion ring/spicy tofu) dan dua tea (classic/mint/strawberry/lemon tea). Cat area-nya berada di lantai 2, di tangga kami diharuskan menukar sepatu kami dengan sepatu khusus mereka. Fluffy!

Di lantai dua, ada sekitar 7-10 ekor kucing, yang katanya sebenarnya ada sekitar 12 kucing cantik di situ. Ada yang berjalan lenggak-lenggok kesana kemari, sisanya tidur. Ada peraturan tidak boleh mengganggu kucing yang sedang tidur, tidak boleh memaksa gendong kucing jika mereka tampak tidak mau. Syukur ada beberapa yang mau saya apa-apakan.

Cat Cafe
Cat Cafe

 

Imut banget kucing di cat cafe :D
Imut banget kucing di cat cafe :D

Tidak mau hilang kesempatan, saya selfie dengan mereka! Jadi Mas Meruang ini juga pecinta kucing, dia sering kemari juga memantau proyek dan bermain bersama kucing, lalu kenapa saya bayari ya? Yasudahlah. Puas bermain dan menyeruput minuman sampai tetes terakhir, saya diantar pulang, di jalan saya minta berhenti dan minta difoto di atas motor antiknya, jepret! Sampai di depan rumah keluarga, saya berpamitan dengan Mas Beruang, besoknya saya akan berangkat ke Jogja, sampai ketemu lagi kapan-kapan. That was sweet moment in Bandung.

Jogja... Jogja... keliling Jogja...
Jogja… Jogja… keliling Jogja…

Pukul 4 sore kami ke Cihampelas Walk jalan-jalan sebentar untuk mengisi perut sebelum mengantar saya dan Brewok ke Stasiun Kiaracondong, kereta api pukul 7.15 malam. Kami makan di Burger King, agak kesal karena rupanya kami harus buru-buru (dan saya sebal karena mahal-mahal). Ternyata kami terjebak macet di perjalanan menuju stasiun, berangkat dari Ciwalk jam 6, sampai di stasiun jam 6.55-an, nyaris sekali. Sudah sempat panik. Sebaiknya berangkat lebih awal saja jika ada keperluan berpergian penting di Bandung. Setelah saya mengarungi Bandung, saya berpendapat bahwa Bandung itu, MACET! Dan masih ditemukan banyak pengendara yang semena-mena, tiba-tiba belok. Jalanannya juga banyak satu arah dan sempit. Bedanya dengan kota kelahiran saya itu, di Bandung masih menaati peraturan dan rambu-rambu lalu lintas. Sampai jumpa Bandung! Kereta Api tiba di jalur pukul 7 lewat. Saya dan Brewok berangkat ke Jogja, ini kereta api perjalanan jauh pertama saya (lagi-lagi pertama).

 MY LOVELY DJOGJA!

Perjalanan 8 jam di kereta bisnis seharga 220 ribu beli via online itu ternyata tidak terlalu menyiksa saya yang takut mabok darat ini. Cukup nyaman! Mungkin juga karena excited sudah mendekati Jogja tercinta. Mungkin lain kali boleh mencoba ekonomi kalau kepepet dana. Tiba di stasiun Tugu Yogyakarta jam 4 pagi. Tidak ada kawan yang menjemput, becak tidak muat dengan dua manusia, satu koper besar, satu kardus besar, dua ransel besar. Seandainya teman-teman berkunjung sendirian dan tidak membawa banyak barang, lebih baik memilih ojek.

Kami tidak ada pilihan lain, kami jalan ke luar stasiun dengan bawaan berat ini, mencari taksi di luar stasiun dan ingat berpesan untuk memakai hitungan argo! Jika tidak, mereka menawarkan harga tinggi untuk sampai ke tujuan kami, kontrakan Mas Brewok di Sewon. Aslinya dengan argo hanya kena 30-an ribu. Saya beri 50 ribu. Tadinya supir-supir tadi menawarkan harga 65-75 ribu, hayo yah pak… Kami tiba di kediaman mas Brewok, studio Monkey x Rabbit, di dusun Karangnongko. Tidak sempat saya melihat-lihat, kami langsung tepar dan beristirahat sampai hampir siang.

 BELANJA KEBUTUHAN RUMAH

Pagi itu kami ke toko serba ada belakang kampus ISI, toko Mugiharjo, Jalan Ali Maksun. Sakti sekali lengkap dan murahnya. Saya belanja untuk melengkapi beberapa kebutuhan rumah yang tidak ada di kontrakan Brewok, saya mau nge-teh (dengan daun teh murni), tapi tak ada saringan. Dasar para lelaki lajang kos-kosan. Satu lagi yang awkward, saya hendak menyapu kontrakan brewok yang seperti kapal pecah terutama di studionya. Sapu di Jawa itu bulunya yang lentur sekali ya, menggunakan gabah, anu, batang padi, saya merasa kurang wow menyapunya jika tidak menggunakan sapu yang bulunya plastik yang agak tegang (pengaruh anak kota). Saya ngotot beli sapu plastik itu, ada satu, harganya agak mengukir penyesalan sih, 45 ribu. Yang akhirnya mereka tetap memakai sapu lembek itu, yang katanya jauh lebih bersih. Saya tetap belum terima itu.

Keliling Malioboro
Keliling Malioboro

Saya minta ke Malioboro siang itu. Tetap banyak barang-barang menggiurkan. Tapi saya sudah latihan untuk tidak boros membeli barang-barang tidak penting. Belanjanya akan saya simpan di akhir saja saat dekat tanggal pulang, menyesuaikan uang saku yang tersisa. Saya mencari reparasi jam, saya punya jam tua peninggalan nenek, umurnya sudah 50-60 tahun, masih jalan. Hanya kacanya retak sedikit dan talinya sudah usang, singkat cerita saya mencari berhari-hari dan kemana-mana di Jogja, tidak menemukan tempat yang punya perlengkapan untuk jam saya ini, mereka juga bilang bahwa tidak ada semacam itu di Jogja. Atau saya harus lebih detail mencari, tapi yasudahlah, di Medan ada, tapi mahal. Tidak ada pilihan, tidak harus juga, tidak mau buang-buang waktu. Saya berjalan-jalan sepanjang Malioboro, tidak belanja, tapi saya selalu tergiur dengan barang di dalam Hamzah Batik (Mirota Batik), saya beli celana panjang model kain perca, lucu, juga untuk persiapan ke Dieng nanti, jeng-jeng-jeng, Dieng. Harganya 60an ribu.

Sebenarnya barang-barang yang ada di Mirota Batik ini bisa didapati di luar dengan harga yang lebih murah, ada yang sama harganya. Tapi.. di tempat ini kental dengan suasana Jogjanya, barangnya pun sungguh lengkap. Mulai dari oleh-oleh kecil-besar, wayang, pakaian, koleksi kain batik, kemeja, terusan batik, barang antik, pokoknya segala jenis batik, lampu unik, harga tidak mahal. Semuanya tentang Jogja bisa kamu beli sekaligus disini kalau tidak mau repot atau capek mutar-mutar. Tapi ada beberapa barang yang tidak saya temukan di luar, maka saya beli. Saya berkali-kali mengunjungi Malioboro dan Mirota Batik selama di Jogja. Saya beli beberapa gantungan kunci unik bentuk tahu dan tempe yang mirip aslinya (ada sangat banyak gantungan kunci keren di sana), lalu suatu hari saya terpesona lagi dengan sebuah celana ponggol batik (karena baju sudah mainstream) dan beberapa dupa aromatheraphy. (to be continued) 

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 2)

Teks dan Foto: Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

CIWALK, ITB, GEDUNG SATE, JALAN ASIA- AFRIKA.

Good Morning, Bandung! Saya sudah ada janji jalan-jalan pagi ini dengan teman. Saya dijemput di depan gang, dia seorang pria besar tegap dengan Honda CB100 tuanya (katanya sih udah dimodif jadi 125). Kami jalan-jalan di Cihampelas Walk dan sekitarnya. Saat berkeliling, akhirnya kami merindukan makan siang, pilihan jatuh pada restoran Jepang, Yoshinoya, di lantai 2 Ciwalk. Saat saya mencari tempat duduk, saya melihat seorang yang sedang merokok seorang diri di bangku outdoor. “Koh Zaidi!” hahahahaha suatu kebetuan sekali bertemu Zaidi sekali lagi. Saya dan beruang –sebut saja begitu- duduk semeja dengan Zaidi dan mengobrol. Dia memang berpetualang sendiri. Jalan kaki dari stasiun ke penginapan, dari penginapan ke Ciwalk ini. Selesai makan siang kami, kami hendak melanjutkan jalan, berpamitan dengan Zaidi, apakah bakal bertemu di mana lagi?

Berkeliling Cihampelas
Berkeliling Cihampelas

Beruang mengajak saya mengunjungi kampusnya, Institut Teknologi Bandung (ITB). Jajan susu murni dan jus di depan kampus dulu baru mengarungi isi ITB. Arsitekturnya bernuansa tua dan tradisional, kata Beruang, bukannya tradisional, tapi kuno. Struktur bangunannya masih menggunakan kayu-kayu besar, bukan tiang/besi/beton. Banyak pepohonan dan tanaman yang terawat nan bersih. Di tengah-tengah ITB ada dua buah kolam, satunya namanya Indonesia Raya yang ini sudah kering kolamnya, satunya lagi namanya Indonesia tenggelam. Lalu dia mengajak saya mendekati kolam tersebut dan menjelaskan. Pola mozaik dalam kolam Indonesia Raya itu menandakan notasi lagu Indonesia Raya. Sedangkan di kolam bulat yang airnya hijau keruh itu, ternyata di dalamnya ada peta Indonesia. Hahaha, boleh… boleh….

Foto 9
Institut Teknologi Bandung

 

Ini dia kolam ITB itu
Ini dia kolam ITB itu

Setelah itu kami singgah di depan Gedung Sate, di Gasibu, sebuah lapangan, dengan beberapa anak tangga membatasinya. Kami mengambil beberapa foto dan duduk-duduk, mengobrol tentang masa lalu (tjieehh). Cerahnya langit mulai memudar, saya diantar pulang.

Gasibu
Gasibu
Foto 13
Menikmati pemandangan kota

Wajahnya Mas Brewok dan Mama sudah kusut dan jelek, karena saya pergi seharian padahal kami berencana menikmati malam di Jalan Asia–Afrika. Jalanan ini dihiasi temaram lampu jalanan yang manis, banyak tempat untuk duduk menikmati malam di sana. Banyak bar dan toko lukisan. Banyak warga dan turis juga tampak bercengkrama dengan sahabat atau keluarganya, damainya tempat ini. Tapi karena saya sudah lelah dan mengantuk, agak hilang kesadaran sambil saya berjalan. Lalu kami pulang dan beristirahat.

foto 14
Malam di Jalan Asia Afrika

TANGKUBAN PERAHU & PEMANDIAN AIR PANAS CIATER.

Kami berangkat ke Tangkuban Parahu pukul 8 pagi naik mobil keluarga, sorenya akan ke Ciater atau Sari Ater suatu tempat rekreasi dan pemandian air panas. Perjalanan pagi yang cerah dan sejuk, kami singgah mencicipi bubur ayam (saya lupa nama jalannya) rasanya enak! Tiba di Tangkuban Parahu pukul 10, membayar biaya retribusi 18 ribu per kepala. Coba menyetir sedalam-dalamnya supaya tidak lelah berjalan kaki terlalu jauh. Semakin dalam dan kabut tebal mulai menyelimuti. Sampai di suatu tempat yang tampaknya cocok memarkirkan mobil, kami berhenti. Begitu membuka pintu mobil, angin berhembussss dinginnnn. Kami langsung foto-foto di tempat itu. Kemudian jalan menyusuri tepi kawah yang dipagari. Kawah berwarna putih dan bebatuan abu-abu dan putih pucat. Mas Brewok tiba-tiba bertanya, “Mana yang bentuknya perahu,” saya tidak tahu menjawab, diam saja, dan terus berjalan sampai ujung dan tidak lupa berfoto di setiap spot yang bagus.

Gunung Tangkuban Perahu, serba putih dimana-mana
Gunung Tangkuban Perahu, serba putih dimana-mana
Saya pose juga di Tangkuban Perahu. Hehehe
Saya pose juga di Tangkuban Perahu. Hehehe

Mama saya dan keluarga juga sibuk berfoto berbagai pose. Banyak penjual menjajakan dagangan sambil berjalan sedikit mengejar-ngejar tamu, seperti strawberry, raspberry, blueberry, gelang-gelang, gantungan kunci. Ada fitur naik kuda juga! Jika malas berjalan, tamu dan anak-anak bisa naik kuda mengelilingi area tersebut. Toko oleh-oleh juga berjejer, baju, sweater, topi, berbagai kerajinan tangan, dan ternyata, harganya cukup murah apalagi pintar menawar. Saya lebih banyak duduk dan menikmati pemandangan saja.

 

Bareng Bang Brewok berlatar Tangkuban Perahu
Bareng Bang Brewok berlatar Tangkuban Perahu

Perjalanan kembali kami memutuskan untuk berpencar. Saya dan Brewok hendak melihat-lihat toko dan berniat belanja. Banyak toko yang menjual baju, oleh-oleh, kerajinan tangan dan benda unik lainnya, syukur saya sudah melatih diri untuk tidak banyak belanja apalagi benda-benda yang kurang bermanfaat. Mengingat koper bisa saja overweight seperti saat berangkat dari Medan ke Jakarta kemarin. Saya kemudian memperhatikan seorang bapak yang tampak sedang ‘mengupas’ sebuah batang kayu, saya samperin dan mengobrol sedikit. Jadi yang sedang dia kerjakan adalah pohon batik, corak yang terbentuk di pohon tersebut mempunyai pattern yang unik layaknya batik. Indahnya alam ini sampai ke dalam-dalamnya.

Pohon bonsai yang saya ceritakan
Pohon batik

Brewok mengincar sebuah pedang samurai. Saya tanya apakah itu worthed to buy, mengingat susah bawanya, mahal dan apa manfaatnya. Harga pembukaaan yang ditawarkan si penjual adalah 500 ribu. Saya punya skill tawar-menawar yang cukup baik. Di dompet saya kebetulan sisa 350 ribuan. Pecahan uang kecil pula. Jadi saya sungguhan menunjukkan isi dompet saya pada mas penjual, sembari menawar dan mengeluarkan selembar demi selembar sambil menghitung, saya bilang bahwa saya hanya bisa bayar 325 ribu. Tidak ada uang lagi, tidak ada ATM dekat sini dan butuh banyak pertimbangan untuk membawanya ke Jogja. Mungkin Masnya kasihan pada saya lalu mengiyakan, deal 325 ribu. Sisa 25 ribu saya mau jajan saya bilang. Brewok berjalan dengan senyum sumringah menenteng samurai yang sudah dibungkus rapi tersebut.

Lalu saya cemas bagaimana jika saya menemukan benda lucu yang bisa dibeli, sedangkan dompet sudah kosong. Saya harus mencari Mama yang mungkin sudah balik ke mobil. Benar saja, di ujung deretan toko, saya menemukan sebuah toko yang menarik hati. Sebuah toko dengan bonsai-bonsai lucu ber-pot-kan bongkahan kayu yang artistik! Saya amati satu persatu, saya suka yang kecil-kecil. Namun saya bingung membawanya pulang nanti. Bawa ke jogja naik KA 8 jam lalu bawa pulang Medan naik pesawat. Apakah awet, tidak akan mati. Bapak penjual mengatakan itu tidak akan mudah mati. Di bawa dalam kardus saja. Disemprot air seminggu 2-3 kali saja cukup. Saya semakin tertarik. Untuk yang kecilnya di hargai 125 ribu. Yang berukuran sedang 250 ribu. Sepertinya benda ini jarang ditemukan (ber-pot-kan bongkahan kayu) Dan saya belum tawar. Segera saya menarik tangan Brewok dan berlari mencari Mama, sampai di mobil, mereka sedang mengunyah entah apa. “MAAAAHH, minta duit! Nanti saya ganti,” saya minta 300 ribu. Saya selipkan 200 ribu dalam kantung. Dan menyisakan 125 ribu dalam dompet. Segera lagi kami kembali ke toko tersebut.

Bonsai lucu yang jadi incaran saya
Bonsai lucu yang jadi incaran saya

“Pak… saya cuma dapat 100 ribu… uang saya sisa 125 ribu… tapi saya mau yang ini…” sambil menunjuk bonsai yang agak besar yang harganya 250 ribu. Saya mau potnya diganti, ternyata bisa. Saya mau bongkahan kayu yang lebih imut. Supaya tidak makan tempat dan tidak berat. Bapak itu mengiyakan permintaan saya, cara memelas saya berhasil lagi. Sungguh senang luar biasa. Perlahan-lahan bonsai dengan tanah yang berselimut lumut itu dipindahkan ke pot kayu yang lebih kecil. Lalu di-packing dalam kardus. Saya bayar dan pergi, dengan hati riang gembira. Seperti Brewok dengan samurainya. Saya beli rapsberry dan strawberry, dua kotak buah itu saya tawar dan dapat, 20 ribu. Kembali ke mobil, semuanya tidur pulas. Hahaha. Kami bergerak ke Ciater, sambil makan raspberry dan strawberry yang kata mama sepertinya itu sudah disiram pemanis buatan. Iya juga, terasa pahit di bibir. Tapi manisnya pemandangan dan cuaca tadi, ramahnya penjual-penjual, dan manisnya bonsaiku, terasa pas. Samurai tidak manis. Tidak perlu di-mention.

Sebelum memasuki Ciater (maaf saya tidak sempat mengambil banyak foto), kami sempat ‘nge-load’ perut sebentar di warung makan terdekat. Setelah ‘full-tank’ kami masuk, membayar loket seharga 25 ribu per orang kalau tidak salah, yang menurutku lumayan merogoh kocek, karena di dalam masih ada tempat-tempat yang berbayar. Area yang pertama kami dapati adalah Curug Jodo, alias air terjun jodoh, mitosnya… buat yang kelelahan mencari jodoh, bisa coba bermain di kolam tersebut.. Cieee… Curug Jodo ini bentuknya sebuah kolam kecil, jernih dan dangkal berdasar bebatuan, dengan air mancur yang tidak terlalu besar di salah satu sisinya. Kami bergegas melepas sandal dan melipat celana, wah airnya panas sekali! Mereka menikmati kolam tersebut sampai ke tengah, saya cuma duduk merendam kaki yang sesekali diangkat. Kulit saya mungkin sedikit lebih tipis dan sensitif. Berendam sedikit saja sudah merah-merah seperti matang. Lalu saya ganti celana pendek dan kaos siap basah. Saya dan Brewok duluan melanjutkan rute, kami menemukan pondok Fish Spa Teraphy, dan sebuah lapangan dengan fasilitas panahan. Wah kami penasaran sekali ingin mencoba. Pertama kami mencoba fish teraphy dulu, dihargai cukup mahal, 40 ribu seorang. Setelah diberikan keterangan oleh penjaga, saya dan Brewok perlahan mencelupkan kaki ke kolam bulat berisi ikan-ikan kecil. Pertama, airnya dingin! Kedua, geli sangat! Tak lama kemudian Mama dan keluarga ikut mencoba, kami berteriak kegelian. Begitu juga beberapa turis lain satu kolam. Kaki Brewok tentunya kotor sekali, ikan yang hinggap jauh lebih banyak dari kami. Kurang lebih 15 menit kami beranjak.

Mama dan lainnya jalan duluan, lagi-lagi berpencar. Saya dan brewok mencoba panahan seharga 25 ribu untuk 12 anak panah, 12 ribu untuk 6 anak panah. Kami mencoba 12 anak panah saja, ganti-gantian pakainya. Walau tempat dan bow-nya tidak dibuat terlalu profesional, tapi cukup menghibur rasa penasaran sayalah bagaimana rasanya melesatkan anak panah. Tidak ada arm bracer, pelindung lengan supaya tidak tercambuk oleh ekor panah. Saya lebih ahli mengenai target dibanding Brewok, padahal ini kali pertama saya memegang panah, dan saya malah kesulitan menarik bow-nya. Selesai 12 panah, kami keluar dari lapangan dengan lengan kiri merah-merah, sedikit sakit. Hilang dalam beberapa menit.

Main panahan. Mungkin kamu perlu latihan panahan dulu sebelum memanah hati adek itu. :D
Main panahan. Mungkin kamu perlu latihan panahan dulu sebelum memanah hati adek itu. :D

Saya dapat whatsapp dari Mama bahwa mereka di kolam Wangsa Dipa. Kami turun lagi. Masuk ke kolam pemandian air panas itu dengan membayar lagi, 25 ribu lagi seorang. Di dalam ada sebuah toko menjual celana pendek, kaos renang, celana dalam dan lain-lain, jika kamu lupa membawa pakaian renang, bisa dibeli di situ. Disana hanya terdiri dari dua kolam berendam sekitar 6x6m, dengan kedalaman yang berbeda Airnya panass… mencapai 42 derajat, mereka mengeluh-eluh kepanasan. Mengeliat keluar masuk kolam karena tidak tahan lama-lama dengan panasnya. Maksimal lama berendam adalah 15 menit, lalu masuk lagi setelah beberapa saat. Total lama berendam seperti itu maksimal 2 jam. Karena saya saja memang merasakan lemas dan pusing setelah berendam kira-kira 10 menit setengah badan saja.

Nyobain fish therapy. Ayo tebak yang mana kaki saya... :p
Nyobain fish therapy. Ayo tebak yang mana kaki saya… :p

Mau tantangan? Setelah ‘direbus’ seperti itu, silakan coba bilas badan dengan air dingin yang terletak beberapa meter dari pinggir kolam. Rasakan sensasinya, berteriak sedikit tidak dilarang. Segar-segar gimana gitu, memang lelah di tubuh langsung hilang. Hahaha. Ada penjual es krim melintas di tepi kolam, dengan harga selangit. Saya makan es krim Spongebob jelek itu, harganya 15 ribu. Yasudahlah. Oh ya saya baca ada permainan Flying Fox, tapi keburu tutup, pukul 4 saat itu. Yasudahlah. Kami bergegas pulang. Di perjalanan pulang, saya dan Brewok setelah tertidur, tiba-tiba disuguhi es lilin, terkenal enak di daerah Lembang, Mama juga beli tahu. Dan begitu sampai di rumah, kami langsung tepar. (to be continued)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 1)

 Teks dan Foto: Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

“Hampir sebulan, kemana aja sih kamu??”

Kemana-mananya sih biar saya ceritakan disini. Mungkin tidak detail-detail setiap tempatnya yah, kalau detail saya bisa sekalian bikin novel, hahaha… Well anggap ini sebagai tips dan info buat teman-teman yang ingin mengunjungi daerah-daerah tersebut. Yang kamu butuhkan adalah, waktu cuti (liburan) yang diatur sedemikian rupa, supaya panjang maksudnya, teman yang lincah bermotor, tempat numpang tidur, persediaan uang saku, satu lagi, energi. Mungkin foto tidak begitu lengkap, saya simpan penderitaan hilangnya kamera mirrorless, mengabadikan semua ini menggunakan kamera hape ‘agak smart’. Tapi saya mengambil video sebagai penggantinya 😀 Enjoy!

THE HECTIC JAKARTA, THE AWESOME GOJEK AND THE POPCON ASIA

Jadi awalnya saya terbang ke Jakarta karena saya dan teman-teman berpartisipasi dalam event Popcon Asia 2015 tanggal 7-9 Agustus 2015 lalu. Bertempat di JCC Senayan. Saya terbang dari Medan tanggal 5 pagi, sampai disana saya dijemput teman dan ‘diletakkan’ di rumah salah satu kenalan saya bertempat di daerah Tebet Timur. Sempat cemas dengan transportasi di Jakarta, karena yang sangat menakutkan di Jakarta adalah traffic dan jauhnya satu tempat ke tempat yang lain. Di tengah kecemasan itu, datang pertolongan-pertolongan tidak terduga. Disana saya bertemu dengan partner alias mas pacaaarr yang juga menumpang di situ. Sebut saja Mas Brewok – bukan nama asli-.

Jadi malam itu saya mencoba aplikasi GoJek karena saya ada janji mau bertemu seorang teman di Pondok Indah Mall, kata teman saya itu jarak dari Tebet Timur ke Pondok Indah Mall tidak jauh (dan ternyata dia salah). Dari pukul 5 sampai pukul 6 sore aplikasinya dodol sekali, mungkin bugs atau apa, tidak merespon saat submit orderan (yang sedang promo 10 ribu kemana saja dengan jarak max 25km) dan baru ter-order pukul 6 lewat, satu jam saya menunggu. Status masih ‘mencari driver’ homaigat saya janji dengan teman saya ini pukul 5 sebenarnya, untunglah dia mengerti keadaan saya dan juga berusaha menenangkan saya yang sudah mau menangis bertemu mumetnya Jakarta. Pukul 7 lewat ada suara motor di depan, ternyata ada GoJek yang menurunkan penumpang di sebelah rumah. Beliau menawarkan untuk dia antar saja, dan meng-cancel orderan yang saya tunggu-tunggu itu. Jadi… ini pertama kalinya saya naik ojek seumur hidup. Sepanjang jalan saya mengobrol dengan beliau. Sebut saja namanya Ami –sepertinya memang nama asli- seorang bapak-bapak berparas umur 40an, sedikit oriental. Saya akui saya cukup tersanjung dengan pemandangan malam itu. Mungkin baru pertama kalinya naik ojek dan berkeliling Jakarta.

 

Jakarta di malam hari. Selamat datang...
Jakarta di malam hari. Selamat datang…

 

Saya sempat bertanya juga ada apa dengan pelayanan GoJek di smartphone itu, “Ya gimana ya bu, Pondok Indah Mall itu kan jauh sekali, Bu, dengan bayaran 10 ribu, mereka ya kalau bisa memilih ya milih yang dekat-dekat saja. Tidak munafik kan, Bu…” “Oh tentu saja,” pikirku. Lagipula para ojekers ngojek kapan saja mereka mau, kebanyakan mereka punya pekerjaan lain, begitu kata Mas Ami. Mas Ami ini ngojek-nya sore sampai malah hari saja. Seharinya bisa dapat Rp.100-150 ribu dari Senin sampai Sabtu. Kalikan saja berapa buat nambahin pemasukan.

Ternyataaa… dari Tebet Timur Dalam ke Pondok Indah Mall itu jauuuuhhhh sekali, bisa bayangkan tidak, 1,5 jam loh, Guys, ongkos yang sudah di-deal-kan tadi di awal adalah, 45 rebu. Goddam*t. Murah ya? Disitu dia meminta saya untuk menyimpan nomor hp-nya supaya bisa dipanggil saat saya butuhkan. He’s nice person. Dan memang, dia sangat membantu saya di Jakarta.

Tiba di toko teman saya di mall tersebut sudah pukul 8.30, mall akan tutup pukul 10 malam. Teman saya mengajak dinner romantis (dia cewe kok hehehe) di Tratoria, restoran Italian. Saya ditraktir sebuah steak tenderloin yang tidak ada dalam buku menu, namanya “Filleto do Manzo”, fillet tenderloin sapi yang diberi saos keju gorgonzola dan madu, that’s sweet. Yang suka manis pasti demen. Tapi, harganya, sepertinya 200 ribu seporsinya. Makan berdua dengan minuman, 560 ribu. Okay, cool. Thanks, Sis atas traktirannya. Saya di antar pulang dengan mobil, berangkat pukul 11 malam sampai di rumah jam 1.30 dini hari. She’s a quite complicated person like me, serasa ketemu kakak sendiri, hahaha. Perfectionist dan rempong. Syukurnya saya lumayan lupa dengan gundah hari itu.

Next Day!

Teman kami dari Semarang yang turut membantu, Febri –pria, nama asli- tiba di Jakarta, dan kami sudah berpesan pada si ojek Ami, untuk menjemput Febri dari stasiun Senen ke JCC. Dia stand by dan tepat waktu. Ongkos? 35 ribu. Kami mulai prepare acara sore itu, berpapasan denga tibanya Febri yang baru saja menempuh perjalanan kereta api 6 jam. Pekerjaan selesai jam 10. Ngomong-ngomong akhirnya kami pindah tumpangan lagi malam itu ke Akademi Samali, daerah jalan Guru Mughni. Karena pemilik rumah di Tebet ada urusan mendadak keluar kota. Aksam adalah sebuah studio/forum/ perpustakaan komik Indie, semacam itulah, isinya alat gambar dan komik. Setelah meminta ijin pada pemiliknya yang ramah dan naik daun sebagai komikus dan kegemarannya pada kopi. Sebut saja namanya mas Beng Rahadian –kali ini sepertinya nama asli- jadi ‘Aksam’ ini sering jadi tempat tumpangan tidur tamu luar kota, tapi ala kadarnya saja, jika beramai-ramai, seperti kemarin itu, tidurnya geletakan bertaburan di lantai. Percayalah, itu mengasikkan sekali. Warteg depan Aksam juga nikmat sekali, itu warteg pertama saya.

Hilang kecemasan saya tentang semerawut kota Jakarta, transportasi ke JCC cukup sederhana dengan TransJakarta, Rp.3.500 per-orang. Asyiknya, kami terasa ramai dan kompak. Memang beramai-ramai. Ada teman baru dari Malaysia. Namanya Zaidi. Temannya Mas Beng yang sedang berlibur ke Jakarta, dan ikut dengan kami kemana saja. Saya, Mas Brewok, Febri, Zaidi, dan beberapa mahasiswa ISI Jogja yang juga buka stand di Popcon, kebetulan sama-sama menginap di Aksam.

Begini kami numpuk di satu  'markas'
Begini kami numpuk di satu ‘markas’
Nikmatin ibukota
Nikmatin ibukota

The Popcon Day

Wow… acara Popcon berlangsung fantastis dan ramai tepat di jalur stand kami. Artist Alley, di tengah-tengah, stand kami di buka sekatnya dengan stand Digidoy dari Medan, stand kami paling cantik dan luas! Pengunjung terus berdatangan, transaksi terus jalan. Sulit bersantai (mungkin saya saja, saya tidak bisa duduk diam kalau sedang ‘jualan’). Banyak master-master gambar mengunjungi kami. Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu teman-teman dunia maya yang sudah berlangsung selama 5-6 tahun ini.

 

The Day. Popcon Day. Stand kami rame.
The Day. Popcon Day. Stand kami rame.

 

Suasana rame di Popcon Day.
Suasana rame di Popcon Day.

 

Selama 3 hari acara berlangsung, tiba di Aksam sudah malam, makan warteg terus, beramai-ramai dan bertukar cerita horor, tidur geletakan (saya mengusai sofa dong, ngomong-ngomong lagi, saya cewe sendiri), penderitaan karena AC yang terlalu ‘sejuk’ (bahasa malaysia dingin : sejuk) dan mengakibatkan kami menderita ‘kesejukan’ hahaha. Banyak kata-kata Malaysia yang terasa janggal di telinga kami dari mulut Zaidi malah jadi bercandaan. Dia juga membaur dengan kegilaan dan kocaknya kami. Walau ada beberapa peristiwa mistik, tetap terasa hangat dan menyenangkan di sana. Sampai pada tanggal 10 Agustus, sehari setelah acara, semua bersiap-siap pulang. Saya dan Brewok meneruskan perjalanan ke Bandung dengan X-trans. Febri pulang ke Semarang naik KA, dan Zaidi ke Bandung naik KA. Over all, Jakarta tasted sweet this time.

 

BANDUNG, THE NEXT CITY!

Shoot! Terjebak macet karena kami berangkat pukul 2 siang dari Jakarta, tiba di Bandung pukul 7 malam. Harusnya kami ikut ide Zaidi untuk naik KA. Tapi barang bawaan kami sungguh banyak dan berat. Agak sulit menjangkau stasiun, sedangkan pool X-Trans dekat dari Aksam. Tiba di daerah Gatot Subroto Bandung, dijemput mama saya dan keluarga disana, mama kebetulan juga sedang liburan ke Bandung. Dan kami langsung mengisi perut dan tepar. Saya siap untuk Bandung! (to be contiunued)

SERUNYA MENJELAJAH GOA KELELAWAR BUKIT LAWANG

Teks & Foto oleh Andi Gultom @andigultom 

Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.
Panahan cahaya matahari yang masuk ke dalam gua, membawa udara segar juga hangat, juga terang yang memudahkan jalan.

Sebulan yang lalu tim kemanaaja.com mengunjungi Bukit Lawang, Sumatra Utara. Bukit Lawang merupakan gugusan bukit barisan yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, Nagroe Aceh Darusalam. Selama di sana, selain bersantai tim kemanaaja.com juga berkesempatan melihat salah satu goa alami yang masih natural dan terjaga keberadaannya, yaitu goa kelelawar (Bat Cave).

Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. :D
Menjelajah gua juga harus pake senyum dong. :D
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Memanjat dinding gua dan memasuki lubang kecil, tidak terlalu memanjat.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.
Batu-batu dibagian gua yang terkena cahaya matahari ditumbuhi lumut.

Goa ini dinamakan Goa Kelelawar dikarenakan ribuan koloni kelelawar tinggal di dalamnya, bukan hanya itu, ada juga koloni kecil burung walet atau burung layang-layang yang menempati bagian ujung goa. Stalaktit runcing mengerucut dari langit-langit goa, menajam lancip seakan menusuk bumi. Dinding goa berasa bagai padang lumut hijau yang menurun vertikal menuju dasar goa. Lembab dan dingin. Bebatuan alami berumur ratusan tahun terpahat alami di dalam goa. Langit-langit indah dengan pemandangan ribuan kelelawar bergelantungan menikmati istirahat siang menunggu malam datang dan memulai perburuan sebagai hewan nocturnal.

Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.
Barisan kelelawar mengantung, istirahat pada siang hari. Karena sedang musim durian, waktu itu gua dipenuhi aroma durian. Kelelawar merupakan hewan yang membantu penyerbukan buah durian.

 

Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.
Cantiknya ruangan-ruangan di dalam gua. Ruangan alami bentukan alam.

Banyaknya kelelawar yang terdapat dalam goa ini menandakan bahwa tidak ada perburuan besar-besaran oleh masyarakat setempat. Seperti yang kita ketahui bahwa kelelawar merupakan salah satu hewan yang banyak diperjualbelikan selama ini. Kondisi ini berdampak langsung kepada fungsi dan peran kelelawar dalam ekosistem, yaitu sebagai perantara penyerbukan bunga dari banyak buah-buahan yang ada di hutan. Itulah sebabnya pepohonan buah yang ada di sekitaran Bukit Lawang dapat berbuah rutin, banyak dan enak, salah satunya adalah durian.

Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.
Batu-batu dengan berbagai bentuk lucu di dalam gua.

Untuk dapat mengakses goa kelelawar anda harus menuju Bukit Lawang terlebih dahulu. Dimulai dari Medan melalui terminal Pinang Baris, menaiki bus atau kendaraan mini bus yang banyak terdapat di sana. Perjalanan kurang lebih dua sampai tiga jam dari terminal Pinang Baris anda akan sampai di Bukit Lawang. Pada umumnya petugas penginapan tempat anda menginap pasti mengetahui keberadaan goa kelelawar, tanyalah mereka dan minta untuk menemani anda.

Psst... ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Psst… ada juga burung layang-layang dan walet yang bersarang di dalam. Tapi ini dilindungi lho. Perburuan burung ini di sini merupakan tindakan yang dilarang.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.
Setelah berjalan melewati beberapa ruangan besar di gua, kita akan menyembul keluar dan menghirup udara segar hutan.

Ongkos Pinang Baris-Bukit Lawang Rp. 25.000/orang

Upah untuk pemandu Rp. 100.000/orang termasuk makan siang dan bersantai di Sungai Landak (berdasarkan pengalaman kemanaaja.com tahun 2015)

 Tarif pengingapan Rp 100.000-150.000/malam.

Juga terdapat penginapan dengan tarif di atas 150.000

Bukit Lawang, Wisata Alam Tanpa Bosan

Teks & Foto oleh Johan Wibawa @johanwibawa

Editor Eka Dalanta @ekadalanta

IMG_4506
Saya dan kawan-kawan tim jalan-jalan ke Bukit Lawang

Menjelajahi satu tempat wisata yang sama berulang-ulang, biasanya akan membuat seseorang bosan karena aktivitas yang dilakukan di sana pasti itu-lagi-itu-lagi. Apalagi kalau untuk mencapai lokasi tersebut mesti merasakan capek terlebih dahulu. Lain ceritanya kalau jalan-jalan ke Bukit Lawang. Saya selalu suka liburan ke tempat ini.

Lokasi wisata ini terletak di kecamatan Bahorok, kabupaten Langkat, Sumatera Utara – lebih kurang 3 jam perjalanan non-stop dari Kota Medan karena jalanannya di beberapa titik masih belum teraspal dengan baik – dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser yang membentang luas sampai provinsi Aceh. Sudah beberapa kali saya ke sini, pertama kali pada malam tahun baru (2009 ke 2010) tapi saya tidak pernah bosan. Justru masih banyak sekali to-do-list yang mau saya lakukan di tempat ini pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

*Membungkuk 90 derajat* Saya sangat berterima kasih pada Regina Frey dan Monica Buerner, dua orang Zoologist berkebangsaan Swiss, yang pertama kali membangun Pusat Rehabilitasi bagi Orang Utan pada tahun 1973 di tempat ini. Keberadaan pusat rehabilitasi itu membuat Bukit Lawang menarik perhatian, ibaratnya anak gadis yang sudah belajar berbandan. Semakin banyak pulalah para peneliti mancanegara datang. Begitupun wisatawan domestik juga.

IMG_4427
Selamat datang di Bukit Lawang

Meski pernah dilanda banjir bandang pada akhir tahun 2003 yang menelan ratusan korban jiwa, Bukit Lawang lalu memerbaiki diri dan makin maju daripada sebelumnya. Bahkan sekarang Bukit Lawang sudah menjadi salah satu bagian dari UNESCO World Heritage Site! FYI, Indonesia punya 8 warisan yang masuk ke dalam warisan dunia.

Trekking masuk ke dalam hutan adalah kegiatan wajib setiap saya datang ke sini. Mungkin nggak berlebihan kalau ada yang bilang, “Loe belum sah ke Bukit Lawang kalau nggak trekking!” Memang inilah tourist attraction-nya yang paling utama. Jalan santai masuk hutan, menikmati udara segar hutan tropis, dan bertemu dengan primadonanya, Orangutan!

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ke sana lagi bersama rombongan besar, 30 orang! Biasanya saya berwisata hanya dengan jumlah orang yang masih bisa dihitung jari tangan, dan memang lebih sukanya begitu. Lebih gampang jalan dan nggak banyak maunya. Tapi syukurlah, kali ini semuanya tetap berjalan lancar, dan to be honest, we still had so much fun!

IMG_4488
Akhirnya saya bertemu dengan orangutan. Jaga jarak dengan orangutan ya. Memberi makan orangutan juga sebenarnya tidak disarankan karena orangutan dewasa harus mandiri mencari makanannya. Memberi makan juga cenderung membawa mereka keluar dari hutan. Kecuali Orangutan di penangkaran.

Untuk bisa menjelajahi hutan di sini diwajibkan menggunakan jasa guide atau ranger. Biayanya variatif, tergantung apakah kamu adalah wisatawan mancanegara atau domestik, tergantung apa saja yang mau kamu kunjungi/lakukan di dalam hutan, dan yang paling penting, tergantung juga kemampuan negosiasi kamu. Ranger yang mendampingi kami berpetualang kali ini namanya Heru – tubuhnya bidang, berkulit agak gelap, tinggi sekitar 160-an cm, wajah kotak, dan dia cukup humoris sehingga perjalanan selama di dalam hutan menjadi lebih hidup. “Bang Heru, di dalam hutan banyak nyamuk nggak?” Salah satu teman saya iseng bertanya, yang dengan santai langsung dijawab ranger kami itu, “Nggak banyak kok dek. Nyamuk di Bukit Lawang cuma satu, tapi temennya yang banyak!”

Petualangan kali ini saya dan rombongan memilih jalur panjang dengan catatan WAJIB jumpa beberapa orangutan selama perjalanan tersebut, lalu diakhiri dengan Tubing (semacam arung jeram, tapi kita hanya duduk SANTAI di dalam ban karet besar berwarna hitam yang sudah didesain dan disatukan sedemikian rupa, tugas Rangers yang duduk di paling depan dan paling belakang yang menyupirinya dengan tongkat bambu) di Sungai Bahorok yang merupakan anak Sungai Wampu!

Setelah semua personil selesai melakukan persiapan masing-masing, petualangan kami pada pagi jam 10 itu pun dimulai, dengan Hotel Rindu Alam sebagai starting point-nya. Semuanya sangat bersemangat melangkahkan kakinya pagi itu. Kamera pun tidak henti-hentinya jeprat-jepret bernarsis ria di jembatan, di jalan setapak yang diapit pohon karet, dan bahkan di depan sebuah kerangka restoran yang masih dalam tahap pembangunan. Namun napas kami mulai ngos-ngosan saat jalurnya mulai mendaki, padahal saat itu belum juga tiba di pintu masuk Taman Nasional Gunung Leuser! Memang tipikal orang yang terlalu lama hidup di kota, apalagi malas olahraga, gampang lelahnya. Ah… benar-benar Kampungan sekali Orang Kota ini. Hahahaha!!!

Sesungguhnya berjumpa orang utan di dalam hutan ini tergantung faktor peruntungan, sama seperti untung-untungan mendapatkan cuaca cerah saat tiba di puncak gunung. Alasannya karena mereka semua memang telah dibiarkan untuk hidup liar di hutan, dan jumlahnya juga semakin menyusut dari tahun ke tahun. Pertama kali saya trekking pada akhir tahun 2009, saya bahkan tidak berjumpa satu ekor orang utan pun. Sebagai gantinya, kami diajak ke penangkarannya untuk melihat satu orang utan yang dikandangkan karena sedang dirawat.

Tapi dalam kunjungan-kunjungan saya yang selanjutnya, akhirnya dewi fortuna sudah mulai berpihak. Minimal 3 orang utan dijumpai dalam sekali trekking, dan kadang-kadang juga jumpa dengan Thomas Leaf Monkey (monyet yang rambutnya model Mohawk). Momen paling ‘beruntung’ yang pernah saya alami adalah ketika lagi terduduk santai di tanah datar yang agak bersih karena merupakan sarang Burung Merak, terus tiba-tiba disamperin Minah (Orang utan yang paling diantisipasi karena paling agresif di Bukit Lawang dan telah dinobatkan sebagai the Queen and Legend of the Jungle. Ada bekas satu luka di dekat matanya)! Tapi tidak perlu khawatir atau panik bila hal ini terjadi karena kita selalu dikawal ranger yang berpengalaman. Mereka biasanya akan melemparkan magic item (pisang) ke arah orang utan untuk memperlambat langkah mereka, sambil melontarkan magic spell ke arahmu (LARIIIIII ke tempat yang lebih tinggi!).

Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.
Rame-rame, foto bareng untuk jadi kenangan dong.

Saat berjumpa dengan orangutan sebaiknya agak berhati-hati, apalagi kalau jumpanya dengan orang utan bernama Minah tadi. Ranger kami pun selalu bergerak hati-hati ketika mendengar suara daun-daun yang saling bergesekkan. “Agak mundur, agak mundur,” ucapnya pelan ke rombongan sebelum benar-benar memastikan siapa orang utan tersebut karena memang tidak semua orang utanbisa diajak ‘gaul’ (Salut dengan para rangers Bukit Lawang karena mereka bisa mengenali orang utan – orang utan yang ada di sana, padahal sekilas semuanya terlihat sama saja; bergelantungan, berkaki dan bertangan panjang, berwajah keriput hitam, dan berbulu oranye). Sekadar ngasih tahu, Orangutan dewasa 4x lebih kuat daripada Ade Rai. *Blink!

Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan saat berjumpa dengan orang utan di sana. Pastikan tidak ada plastik kresek di tangan, dan jangan pernah membuka resleting celana… eh, salah ketik. Maksudnya resleting tas, karena bagi mereka akan dianggap tas yang dibuka tersebut isinya adalah makanan! “Apa bedanya orangutan Sumatra dengan orangutan Kalimantan?” tanya Heru saat kami semua sedang beristirahat melepas lelah di tengah hutan. Teman-teman saya menjawab dengan jawaban-jawaban gokil karena mengira dia sedang berusaha buat lelucon lagi. Ternyata tidak, jawabannya kali ini serius, “Pongo Abelii, Orang utan Sumatra itu beraktifitasnya di pohon-pohon, jarang ada yang jalan santai di tanah kayak manusia. Kalau yang di Kalimantan, Pongo Pygmaeus, justru sebaliknya.”

Pertanyaan lagi, “Kenapa bisa begitu?” dan ternyata jawabannya serius lagi, karena di hutan Sumatra ada predator yang bernama Harimau Sumatra dan Beruang! Makanya orangutan di Bukit Lawang agak segan untuk menyentuh tanah. Ooo….

Ya, memang ada hewan buas juga di hutan ini! Tapi berdasarkan penuturan Heru, hewan-hewan tersebut biasanya hanya mangkal di pedalamaaaaaan hutan. Jadi kalau trekking-nya hanya jalur enam jam seperti yang kami tempuh, paling ‘beruntung’ kita cuma bisa bertemu jejak-jejak mereka: bekas cakar beruang di pohon-pohon, dan jejak kaki harimau.

IMG_4443
Lagi, foto rame-rame biar berasa serunya

Setelah bercapek-capek ria berjalan di dalam hutan yang jalurnya naik-turun naik-turun selama kurang lebih empat jam, akhirnya kami bisa bernapas lega saat tiba di pinggir Sungai Bahorok. Sambil menunggu ranger kami mempersiapkan ban untuk Tubing, kami semua buru-buru bergaul dengan air sungai, ada yang menyeburkan diri, ada juga yang hanya sekadar mencelup-celupkan kaki sambil menikmati pemandangan arus sungai yang dikelilingi pepohonan rindang. Tarik napas dalam-dalam! Suasana menyegarkan seperti ini memang sangat sayang untuk tidak dinikmati dengan senikmat-nikmatnya.

IMG_4501
Tubbing di Sei Bahorok bikin lelah hilang lho.

Ending perjalanan kali ini memang merupakan pengalaman yang sama sekali baru bagi saya, tapi terasa sedikit antiklimaks (bagi saya). Duduk santai di atas ban yang bergerak mengikuti arus sungai dan disupiri ranger berpengalaman, sambil menikmati pemandangan hijau bukit pepohonan di kiri-kanan, rasanya memang benar-benar sangat nyaman. Ketika melewati arus yang kencang atau spot yang agak bebatuan sekalipun, kita tetap bisa menikmati kedamaian tersebut. Hanya saja, duduk terlalu lama di sana membuat saya agak bosan (mungkin karena saya tipe yang ingin lebih banyak bergerak saat berlibur seperti ini). Biasanya perjalanan tubing akan berakhir tepat di starting point tadi, Hotel Rindu Alam, namun kali ini rombongan memilih untuk tubing lebih jauuuuuuuh melewati starting point tadi. Alhasil, kami menghabiskan ekstra satu jam untuk tubing di sepanjang Sungai Bahorok tersebut, dan harus menumpang angkot untuk kembali ke Hotel Rindu Alam.

Well, meski antiklimaks, tidak berarti saya sudah kapok dengan destinasi yang satu ini. To-do-list saya selanjutnya di sini, saya ingin coba camping di dalam hutannya dengan harapan bisa kenalan dengan hewan lain yang lebih liar daripada Orang Utan. Anyone?

*Selain Treking, Tubing, dan Camping, sebenarnya masih ada beberapa aktifitas lain yang bisa menjadi alternatif: Swimming di sungai, Ceplak-Cepluking di pinggir sungai, dan Caving (masuk goa gelap untuk menonton kelelawar tidur. FYI, ada tiga buah goa di dekat sana).

*Pssttt… Pasak bumi tumbuh liar di dalam hutan ini.