8 Prediksi Wisata Tahun 2018

Mulai dari teknologi di garis terdepan hingga jalan-jalan untuk kesehatan dan setumpuk daftar perjalanan, berikut adalah tren wisata terbesar tahun 2018

Apakah Anda sedang mencari inspirasi untuk berwisata di tahun 2018? Ini dia beberapa prediksinya.

Mengandalkan Teknologi

Attractive young woman adjusting her VR headset and smiling while sitting at home

Untuk urusan traveling, orang-orang juga semakin mengandalkan teknologi. Terlebih ditahun 2018, terutama bagi para wisatawan yang biasa memanfaatkan teknologi untuk lebih mengenal lebih destinasi atau akomodasi sebelum dipesan. Kecerdasan artifisial dan teknologi digital membantu konsumen memiliki intuisi destinasi yang cerdas, membentuk kembali cara kita meneliti, memesan, dan menikmati wisata. Hampir sepertiga wisatawan global (29%) mengatakan bahwa mereka merasa nyaman membiarkan sebuah komputer merencanakan perjalanan yang akan datang berdasarkan data dari riwayat perjalanan mereka sebelumnya. Setengahnya (50%) tidak keberatan jika mereka berurusan dengan manusia atau komputer selama pertanyaan mereka terjawab. Enam dari 10 traveler (64%) mengatakan mereka ingin ‘mencoba sebelum membeli’ dengan menggunakan teknologi VR (virtual reality), sementara 50% merasa bahwa rekomendasi destinasi dan aktivitas yang harus dilakukan mendorong mereka untuk berwisata. Pada tahun 2018 teknologi akan mengambil alih keraguan dan kerepotan untuk memutuskan rencana perjalanan, terutama memilih tempat menginap dan pengalaman terbaik.

Destinasi Impian yang Menjadi Nyata

Rome Colosseum

2018 ialah tahun untuk bermimpi setinggi langit karena 45% wisatawan memiliki setumpuk daftar perjalanan dalam pikiran mereka, dan mayoritas dari mereka (82%) akan mengincar satu destinasi atau lebih dari daftar mereka di tahun yang akan datang. Kerinduan untuk memiliki pengalaman wisata dibandingkan harta benda masih akan mendorong para wisatawan ini mendapatkan pengalaman yang menakjubkan. Dengan segala sesuatu yang serba cepat dan keinginan instan yang terpenuhi oleh teknologi, wisatawan di tahun 2018 akan memanfaatkan momen yang tak pernah mereka alami sebelumnya.

Kemungkinan besar yang menonjol dari setumpuk daftar perjalanan adalah melihat salah satu keajaiban dunia, karena hampir separuh traveler (47%) mencentang ini pada tahun 2018. Lebih dari sepertiga (35%) mendambakan kelezatan lokal, 34% ingin menuju ke pulau yang indah, dan 34% adalah pencari ketegangan yang ingin mengunjungi taman hiburan terkenal di dunia. Pecandu adrenalin tersebut harus mempertimbangkan Orlando, Amerika Serikat, The Gold Coast di Australia, dan Dubai, Uni Emirat Arab sebagai destinasi utama untuk taman hiburan.

Great Wall of China. Unrestored sections at Jinshanling.

Aktivitas lainnya yang hendak dilakukan pada tahun 2018 antara lain ikut serta meramaikan acara budaya yang unik (28%), belajar keterampilan baru (27%), melakukan perjalanan epik atau perjalanan kereta api (25%), dan mengunjungi tempat yang jauh atau lokasi menantang (25%).

Mengulang masa lalu

 

Selain pengalaman baru, wisatawan akan mengunjungi kembali tempat-tempat favorit yang menjadi kenangan di masa kecil mereka sebagai bagian dari perjalanan di tahun 2018. Memadukan masa depan dengan masa lalu, wisatawan tahun depan terinspirasi untuk kembali ke destinasi yang sebelumnya pernah mereka sukai dan menjelajahinya dengan cara baru. Sepertiga dari traveler (34%) akan mempertimbangkan liburan yang mereka alami sewaktu anak-anak untuk tahun 2018.

 

Couple of friends talking at Sunset

Popularitas liburan vintage ini berasal dari perasaan nostalgia dan kebahagiaan yang dimiliki destinasi. Wisatawan mengungkap bahwa liburan keluarga memanggil kembali ingatan tentang kenangan terindah, bahkan lebih indah daripada kekasih masa kecil atau hewan peliharaan. Millennial terlihat lebih sentimental dengan 44% anak berusia 18 sampai 34 tahun tertarik untuk kembali ke destinasi favorit keluarga. Berhubung 60% wisatawan pada tahun 2018 berniat membagikan postingan di media sosial setiap hari, kita bisa berharap bahwa di masa depan kita bisa melihat tempat-tempat nostalgia dan dikunjungi kembali oleh generasi masa depan.

Ziarah budaya popular

Old harbor at Adriatic sea. Hvar island, Croatia

Karena dunia sudah berada di ujung jari, kita dapat mengandalkan banyak sumber untuk menginspirasi kita berwisata ke destinasi baru. Mengikuti hasrat adalah salah satu cara untuk membantu memilih lokasi yang paling sesuai – mulai dari budaya dan hiburan, sampai makanan dan sejarah. Pada tahun 2018, acara televisi, film, olahraga, dan media sosial semakin memiliki pengaruh besar untuk orang-orang membuat keputusan pemesana. Wisatawan beralih ke budaya pop untuk mendapatkan inspirasi perjalanan mereka. Membaca blog atau melihat rekomendasi YouTuber akan memicu ide bagi 39% wisatawan. Lokasi yang terpampang di layar televisi, film, atau video musik akan mencaplok 36% lebih wisatawan di tahun yang akan datang. Lebih dari seperlima wisatawan (22%) akan tergoda bepergian untuk menghadiri acara olahraga besar, dengan 43% dari mereka mempertimbangkan musim panas untuk menonton sepak bola di Rusia.

Lokasi program televisi teratas yang paling ingin dikunjungi wisatawan pada tahun 2018 adalah Kroasia, Spanyol, dan Islandia yang terinspirasi oleh Game of Thrones (29%), London seperti yang terlihat di Sherlock dan the Crown (21% dan 13%), New York dan Manhattan dari Billions (13%), dan Los Angeles dilihat di Entourage (10%).

Jalan-jalan untuk kesehatan

 

Kecenderungan untuk liburan sehat tidak melambat untuk tahun 2018, lantaran hampir dua kali lipat jumlah orang berencana melakukan perjalanan kesehatan dan perawatan pada tahun 2018 dibandingkan tahun 2017 (satu dari 10 di tahun 2017 menjadi hampir satu dari lima di tahun 2018). Salah satu cara brilian untuk menikmati pemandangan lokal adalah dengan berjalan kaki yang menjadi cara terbaik untuk mengeksplorasi, dimana 55% wisatawan mengatakan bahwa mereka ingin berjalan kaki atau hiking pada tahun 2018. Generasi baru pejalan kaki akan mengikat tali sepatu boots mereka.

 

 

Kegiatan perawatan dan kesehatan lainnya juga akan menjadi favorit. seperti mengunjungi spa atau menerima perawatan kecantikan (33%), bersepeda (24%), kegiatan olahraga air (22%), menjalani liburan detoksifikasi tubuh penuh (17%), melakukan retret yoga (16%), berlari (16%), dan melakukan meditasi (15%). Melakukan pengalaman seperti itu sangat populer di kalangan wisatawan dimana 59% mengatakan bahwa mereka memprioritaskan pengalaman dibandingkan dengan barang-barang material saat berlibur.

Berpartisipasi dalam perjalanan kesehatan dan perawatan mungkin juga baik untuk pikiran, karena lebih dari setengah responden (55%) mengatakan bahwa berlibur adalah momen bagi mereka untuk merenungkan dan membuat pilihan gaya hidup yang lebih baik – sesuatu yang dapat dengan mudah difasilitasi melalui perjalanan kesehatan dan perawatan.

Intuisi ekonomi

Setiap tahun, wisatawan menjadi lebih cerdas, terutama ketika harus mendapatkan hasil maksimal dari uang yang mereka keluarkan. Tahun 2018 wisatawan akan lebih intuitif secara ekonomi. Hampir setengah responden (47%) akan mempertimbangkan nilai tukar mata uang saat merencanakan perjalanan mereka, dan jumlah yang hampir sama (48%) akan memikirkan iklim ekonomi suatu tujuan sebelum membuat keputusan untuk melakukan perjalanan. Kabar baik bagi industri ritel, sepertiga dari traveler (30%) juga berencana melakukan pembelian lebih banyak dari toko bebas pajak di bandara pada 2018 dan satu dari empat orang (26%) bahkan akan berlibur khusus untuk membeli barang seperti barang fashion karena lebih murah dibandingkan di negara asal mereka.

 

Lebih percaya diri untuk mengikuti intuisi mereka sendiri, wisatawan tidak terlalu berminat untuk mengikuti tren grup dimana lebih dari separuh (57%) ingin melakukan perjalanan yang lebih independen pada tahun 2018, menempatkan nilai tambah pada personalisasi, mencari kesepakatan terbaik, dan menggabungkannya dalam paket tur mereka sendiri – semuanya dengan bantuan aplikasi dan teknologi. Hampir setengah dari wisatawan (44%) akan menggunakan aplikasi perjalanan lebih banyak di tahun 2018. Teknologi memang sangat membantu. Apalagi teknologi geotaging yang mengarahkan langsung ke akomodasi, semuanya hanya dengan sekali klik dari aplikasi di smartphone. 

Liburan Seru Bareng Teman

Shot of a group of young friends walking on the beach on a sunny day

Tahun 2018 adalah tahun berwisata bareng teman-teman. Ketika ditanya ingin berwisata dengan siapa di tahun, bepergian dengan teman-teman meningkat dari 27% di tahun sebelumnya, menjadi 31%.

Tahun 2018 semuanya adalah tentang pengalaman, jalan-jalan bukan hanya tentang destinasi tetapi juga orang-orang yang berarti untuk menciptakan kenangan. Bepergian dengan teman adalah waktu sosial terpenting agar jauh dari tekanan sehari-hari, mengurangi stres, dan membangun hubungan dengan teman. Dengan dunia yang hanya sekali klik ini, sekarang sangat mudah menemukan tempat menginap yang tepat dan menjelajahinya dengan teman-teman.

Shot of a group of young tourists looking at a map while traveling

Liburan bersama teman juga memiliki keuntungan finansial karena sebanyak empat dari 10 (42%) mengatakan bahwa liburan bersama teman-teman  memungkinkan mereka tinggal di akomodasi yang tidak mungkin mereka bayar sendiri.

Menikmati Liburan ala Penduduk Lokal 

Pada tahun 2018, rumah sewa akan sangat populer – tidak hanya bagi wisatawan yang ingin menginap, tapi juga pemilik rumah yang berpikir untuk mengundang orang lain menginap di tempat tinggal mereka sendiri. Satu dari tiga wisatawan (33%) mengatakan bahwa mereka lebih suka tinggal di holiday rental (rumah liburan atau apartemen) daripada di hotel, dan satu dari lima (21%) mempertimbangkan untuk mendaftarkan rumah mereka di situs akomodasi perjalanan.

Picture of guests getting key card in hotel

Ketika berhubungan dengan tuan rumah, para wisatawan mengungkapkan bahwa mereka tidak perlu ditemani setiap saat. Wisatawan tertarik untuk memiliki pengalaman lokal dan hendak mencari tuan rumah yang memiliki pengetahuan luas, karena seperempat wisatawan mengatakan bahwa penting bagi tuan rumah mereka memiliki pengetahuan lokal yang kuat tentang makanan lokal dan tempat untuk dikunjungi (25%), namun wisatawan menginginkan fleksibilitas untuk berinteraksi dengan tuan rumah dengan persyaratan mereka sendiri. Pada tahun 2018, penting bagi wisatawan bahwa tuan rumah mereka tersedia tapi tidak terlalu sombong (30%) dan satu dari 10 (12%) menginginkan tuan rumah yang tidak perlu mereka ajak bicara sama sekali.

* Prediksi tren wisata ini berdasarkan riset Booking.com dengan melakukan riset pada 19.000 wisatawan di 26 negara di seluruh dunia. Dilakukan secara independen dengan sampel orang dewasa yang melakukan rencana perjalanan 12 bulan terakhir untuk melakukan perjalanan dalam 12 bulan ke depan. Sebanyak 18.509 responden disurvei (1.000+ dari Inggris, Amerika Serikat, Brasil, China, Jerman, Italia, Spanyol, Prancis, India dan Rusia dan masing-masing 500+ dari Australia, Argentina, Belgia, Kanada, Denmark, Hong Kong, Kroasia, Indonesia, Jepang, Meksiko, Belanda, Selandia Baru, Swedia, Thailand dan Taiwan). Responden menyelesaikan survei online Booking.com pada Agustus 2017. (foto: koleksi foto booking.com)

 

 


 

 

 

 

Telusuri Jejak-Jejak Sejarah Kota Solo di 5 Destinasi Wisata Ini

Semua wilayah di Indonesia memiliki cerita sejarahnya masing-masing. Bandung dengan sebutan Kota Lautan Api, Semarang yang terkenal dengan Pertempuran 5 Hari, atau Surabaya yang tersohor dengan julukan Kota Pahlawan. Tidak hanya cerita masa perjuangan, Indonesia juga tak luput dari kisah kerajaan Hindu-Budha dan jaman manusia purba.

Begitu pula dengan Solo, salah satu wilayah dengan adat dan budaya keraton yang kental selain Yogyakarta. Kota ini mampu membuat para pengunjung seperti kembali pada masa kejayaan raja-raja terdahulu. Selain terkenal dengan bangunan keraton kesultanannya, ternyata kota ini juga memiliki setumpuk destinasi wisata sejarah yang tak banyak terekspos. Tak heran jika mulai banyak dibangun hotel terbaik di Solo sebagai akomodasi para pengunjung. Lalu, di mana saja jejak-jejak sejarah Kota Solo ini?

  1. Candi Sukuh
Candi Sukuh (sumber foto triptrus.com)

Destinasi pertama yang bisa Anda datangi adalah Candi Sukuh, salah satu bangunan peninggalan kerajaan Hindu. Candi ini berlokasi di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Sama halnya dengan candi Hindu lainnya, banyak ditemukan lingga dan yoni pada candi ini.

Candi Sukuh ditemukan pada masa pemerintahan Inggris oleh Johnson. Kala itu, Sir Thomas Stanford Raffles memberikan tugas kepada Johnson untuk mencari data. Salah satu daya tarik tersendiri dari Candi Sukuh adalah bentuknya yang unik dan ukiran-ukiran yang menggambarkan alat kelamin manusia pada dindingnya. Letak candi ini tidak jauh dari pusat kota sehingga Anda bisa mencari penginapan terbaik di Solo yang dekat dengan destinasi ini dengan mudah.

  1. Taman Sriwedari
Taman Sriwedari (sumber foto; indonesiakaya.com)

Taman Sriwedari merupakan tempat untuk menggelar berbagai pertunjukan seni, budaya, dan hiburan di Solo. Taman ini berlokasi di Jl. Brigjend Slamet Riyadi No. 275, Laweyan, Solo. Dahulu, taman yang dibangun sejak tahun 1877 silam ini disebut sebagai Kebon Rojo atau Taman Raja. Kabarnya, taman ini sering digunakan sebagai tempat para raja beristirahat sembari menyaksikan berbagai pertunjukan seni.

Di area taman bagian dalam, terdapat Rumah Joglo yang biasanya digunakan untuk latihan menari atau melangsungkan kegiatan lomba. Ada pula panggung yang dinaungi oleh pohon beringin. Di bagian kanan dan kiri panggung terdapat sebuah meriam. Selain itu, ada pula Gedung Wayang Orang yang khusus menampilkan pertunjukan Wayang Orang pada waktu-waktu tertentu.

  1. Benteng Vastenburg
Benteng Vastenbur (sumber foto: tribunnews.com)

Kota Solo juga tak luput dari cerita perjuangan rakyat Indonesia ketika melawan tentara Belanda. Hal ini dibuktikan dengan adanya benteng peninggalan Belanda bernama Vastenburg, atau yang lebih dikenal dengan Fort Vastenburg. Benteng ini berlokasi di Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Kota Solo.

Dahulu, benteng yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron van Imhoff pada tahun 1745 ini digunakan Belanda untuk mengawasi segala aktivitas keraton. Selain sebagai tembok pertahanan, benteng ini juga digunakan sebagai tempat tinggal gubernur Belanda dan asrama perwira. Lokasi benteng berdekatan dengan Balai Kota sehingga ada banyak hotel terbaik di Solo yang bisa Anda pilih jika ingin menginap di sekitar benteng. 

  1. Candi Ceto
Candi Ceto (sumber foto: tribunnews.com)

Selain Candi Sukuh, candi lain yang ada di Solo adalah Candi Ceto. Candi ini berlokasi di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, cukup dekat dengan Candi Sukuh. Candi ini juga merupakan candi bercorak Hindu yang dibangun pada abad ke-15 Masehi, tepatnya di akhir masa Kerajaan Majapahit. Candi Ceto pertama kali ditemukan oleh Van de Villes.

Hingga kini, Candi Ceto masih digunakan sebagai tempat ziarah dan pemujaan oleh masyarakat setempat, terutama untuk pemeluk agama Hindu. Jika dilihat sekilas, memang Candi Ceto memiliki struktur bangunan yang mirip dengan Pura.

  1. Museum Pers Nasional
Museum Pers Nasional (sumber foto: wikiwand.com)

Terakhir, ada Museum Pers Nasional yang berlokasi di Jl. Gajah Mada No. 59, Solo. Museum ini menyimpan lebih dari satu juta catatan dalam bentuk buku, dokumen, dan majalah seputar perjalanan pers Indonesia sejak masa penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, tepatnya mulai tahun 1913 hingga 1929.

Selain buku dan catatan, Anda juga bisa melihat berbagai koleksi peralatan pers jaman dahulu, mulai dari mesin tik, kumpulan foto, kentungan, radio, jenis kamera yang digunakan, hingga seragam yang dikenakan dari masa ke masa. Sebelum menjadi museum, bangunan yang dirancang oleh Mas Abu Kasan Atmodirono atas perintah Pangeran Surakarta dan Mangkunegaran VII ini berfungsi sebagai ruang pertemuan dengan nama Societeit Sasana Soeka.

Itulah tempat-tempat wisata Solo yang sayang jika dilewatkan. Pesan tiket dan hotelmu sekarang juga yuk!

 

Pesta Kopi Mandiri, Merayakan Kopi di Museum Perkebunan Sumut

Teks & foto: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Minggu ini sebuah event bagi penyuka kopi kembali diadakan. Kali ini Bank Mandiri yang menjadi penyelenggara utamanya. Event yang diberi nama Pesta Kopi Mandiri ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia. Seperti di Yogyakarta, Jakarta, dan Medan. Keseluruhan acara ini diselenggarakan di museum.

Kompetisi Aeropress

Di Medan, event ini diadakan di Museum Perkebunan Sumatera Utara yang terletak di Jl. Brigjend Katamso, Medan. Acara berlangsung selama 2 hari (19-20 Agustus 2017).

Perayaan kopi diramaikan dengan puluhan tentant coffeeshop, kedai kopi, dan ragam-ragam tenant yang berkaitan dengan kopi. Tidak hanya dari Medan tetapi juga dari Berastagi dan Jakarta. Sebut saja beberapa tenant yang sempat saya kunjungi dalam acara ini. Warung Kopi Wak Noer, Sensuri, Partner 8, Otten, Biji Hitam (Berastagi), Pak RM Kopi Berastagi, Coffee Smith (Jakarta), The Coffeenatics, dll.

Kopi Pak RM Berastagi

 

Partner 8 Team

 

Menyeduh Kopi

 

 

Manual Brew

Para penyuka kopi sayang untuk melewatkan event ini karena selain bisa melihat ragam jenis kopi yang dipamerkan, kamu juga bisa mencicip kopi-kopi yang dibagikan secara gratis di beberapa booth. Seperti di booth Otten Coffee, yang selama acara ini, menyeduh kopi gratis untuk para tamu yang datang.

Keseruan yang bisa kamu saksikan lagi adalah melihat kompetisi para barista yang menyeduh dengan metode aeropress, salah satu metode manual brew menyeduh kopi. 50-an barista bertanding dan menunjukkan kebolehannya dalam event ini. Para barista yang lolos dalam tahap ini akan mengikuti kompetisi selanjutnya di Jakarta. Karena merupakan kompetisi tingkat nasional, para peserta nggak cuma dari Medan saja tetapi dari kota-kota lain di Sumatera. Seru ya…. Hari ini masih ada kelanjutan eventnya. Yuk, ramekan.

Bersiap-siap mengikuti kompetisi

 

“Duel” Barista
Para penyuka kopi

 

Pengunjung dan foodies hits kota Medan. 😀

SEHARI DI GUNUNG PRAU

Teks dan Foto: Kaleb Sitompul @kalebsitompul

Editor: Eka Dalanta @ekadalanta

 

Gunung Prau. Pemandangan dari ketinggian.

Mendaki gunung sudah menjadi trend masa kini. Mulai dari pendaki profesional sampai pendaki pemula (kebanyakan anak-anak muda) berlomba-lomba meluangkan waktu menikmati pemandangan dari puncak sebuah gunung. Kali ini, giliran saya dan keempat teman yang mencoba menikmatinya. Tujuan kami adalah sebuah gunung yang terletak di Desa Wisata Dieng, Jawa Tengah. Gunung dengan ketinggian 2565mdpl ini sudah terkenal sebagai gunung yang ‘menjanjikan’ pemandangan alam yang indah.

2 Agustus 2017, saya berangkat pukul 7 malam dari kota Jakarta dengan kereta api dari Stasiun Pasar Senen menuju stasiun Purwokerto. Setelah 4,5 jam menumpang kereta, perjalanan saya lanjutkan dengan jasa ojek menuju shuttle bus menuju Wonosobo. Teman-teman saya sudah menunggu lebih awal di pangkalan bus karena mereka memulai perjalanan dari Kota Bandung. Jam 1 pagi saat itu udara lumayan dingin, untungnya saya sudah menyiapkan topi kupluk dan jaket sebagai penghangat. Sesampainya di Wonosobo pukul setengah 3 pagi, kami langsung beristirahat di rumah salah satu teman yang memang penduduk asli Wonosobo (lumayan ada tempat peristirahatan gratis). He-he-he…

 

Saya dan kawan-kawan, tim pendakian ke Gunung Prau.

PERSIAPAN KE GUNUNG PRAU

Keesokan paginya, saya dan teman teman mengambil alat yang sudah kita pesan sebelumnya di salah satu tempat penyewaan alat camping, Wonosobo Adventure. 2 buah tenda, 1 tas carier (untuk teman saya yang belum mempunyai tas, jadi aman tidak perlu beli), 3 buah matras, 3 buah sleeping bag, 4 tabung gas kecil, 1 kompor, dan 1 nasting untuk memasak. Semua alat sewaan ini biayanya Rp. 200 ribu. Setelah itu kami berbelanja snack, air mineral, dan mie instan untuk persediaan di puncak. Tidak lupa juga obat-obatan seperti obat masuk angin, madu, dan koyo. Bahkan obat pereda sesak nafas juga kami bawa. Arang untuk menyalakan bara dan plastik sampah juga menjadi benda wajib untuk dibawa sebelum mendaki.

 

PERJALANAN KE GUNUNG PRAU

Berhubung jumlah kami yang tidak memungkinkan menggunakan motor, akhirnya pukul 2 siang kami memutuskan menaiki bus jurusan Wonosobo–Dieng. Kami naik dari depan SMA Muhamadiyah Wonosobo. Dengan Rp. 15 ribu dan menempuh waktu 1 jam, saya dan teman teman sudah sampai di gerbang pendakian Gunung Prau via Kali Lembu. Berjalan hampir 10 menit, semua pendaki harus mendaftarkan diri sekaligus membayar tiket masuk wilayah pendakian di basecamp dengan biaya Rp 10 ribu per orang. Peta jalur dan peraturan akan diberikan sebagai panduan bagi para pendaki.

Melewati rumah warga, saya punya kesempatan melihat kehidupan warga kaki gunung yang bergantung pada kegiatan cocok tanam. Keramahan warga kaki gunung Prau sangat saya acungkan jempol. Mereka menyapa dan memberi senyum setiap kali bertemu di perjalanan. Pendakian dimulai pukul 3 sore setelah melewati gapura kayu dengan tulisan “Selamat datang di pendakian Gunung Prau“. Adrenalin saya dan teman-teman semakin terpacu, seolah-olah beban tas dan dinginnya suhu saat itu hilang.

Pepohonan yang menjulang

Ditemani lagu dari ponsel selular tak terasa kami sudah mencapai pos 1. Lelah mulai terasa (maklum kami bukan pendaki professional), akhirnya kami memilih beristirahat sejenak dan mengumpulkan tenaga sebelum mendaki lagi. Medan yang dibalut tanah dan batu membuat perjalanan sedikit mudah namun melelahkan karena tanjakan yang tinggi. Rute perjalanan di tengah hutan membuat suhu dingin semakin terasa. Kabut awan mulai turun setelah saya dan teman-teman mencapai pos 2 “Bukit Pandang”. Sebenarnya pos ini tempat yang apik untuk melihat pemandangan hutan,  namun saat itu tertutup kabut.

Pukul 5 lewat 54 menit. Saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan yang semakin mendaki dan membutuhkan tenaga lebih untuk mencapai pos 3. Pos 3 ini berada dekat dengan menara pemancar. Langit yang semakin gelap membuat saya dan teman-teman harus ekstra hati-hati karena jalur yang dilalui sudah semakin menyempit, ditambah pula angin yang kencang. Sebuah lampu bersinar di bawah pohon yang berjarak hampir 1 km dari posisi kami. Saya dan teman-teman menuju tempat perkemahan di bawah 4 pohon besar. Lokasi yang lebih aman buat mendirikan tenda agar aman dari angin yang sedang bertiup kencang.

Sudah pukul 7 malam. Beruntungnya, ada pendaki yang sudah lebih dahulu sampai. Mereka berbagi nugget ayam dan kopi panas dengan kami (horee… lumayan untuk penghilang rasa lapar).

Kesulitan saat itu adalah harus mendirikan tenda dengan penerangan minim, angin kencang, serta suhu yang seolah-olah membuat tangan dan kaki mati rasa. ‘Bergelut’ hampir setengah jam demi mendirikan 2 buah tenda, akhirnya selesai dan kami bisa menghangatkan diri. Saatnya menyantap makan malam ayam goreng dan nasi yang kami bawa dari Wonosobo.

Camping Ground di Gunung Prau

Pukul setengah 9 malam, tanpa keinginan lain, kami langsung beristirahat di dalam tenda. Sebenarnya tidur saya malam itu kurang tenang. Kaos kaki berjumlah 2 lapis serta kaos yang saya lapig juga, tidak berhasil mengalahkan dinginnya malam. Suara tenda yang menderu karena angin kencang serta dingin yang benar-benar terasa sampai ke tulang membuat saya terbangun, tidur lago, terbangun dan tidur lagi. Seperti siklus yang membosankan.

PAGI DI GUNUNG PRAU

Pukul 4 pagi, teman saya mengajak memotret bintang. Rasa ngantuk saya hilang begitu melihat ribuan bintang di langit Prau. Meskipun suhu benar-benar membuat tangan dan kaki mati rasa, tapi usaha memotret bintang menahan saya berada di atas area landai tanpa pohon. Pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing semakin terlihat saat matahari mulai bersinar dari balik awan. Seolah ‘Indah’ pun tak sanggup mewakili pemandangan yang saya saksikan pagi itu. Tapi udara dingin yang membuat tangan dan kaki hampir mati rasa, kami pun terpaksa menyerah. Kami memutuskan kembali ke tenda dan menghangatkan tubuh di bara api. Sambil memasak kopi, saya dan teman-teman menikmati sunrise dari depan tenda.

Memotret bintang
Jalan Setapak di Bukit Teletubbies

Pukul 7 pagi, saya dan teman-teman menikmati ketenangan hamparan rumput di savanna, tak jauh dari tenda. Kenarsisan pun mendadak meningkat. Hampir satu jam kami habiskan untuk berlari dan berfoto di hamparan rumput luas ini. Ha-ha-ha…

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan jika berkunjung ke gunung ini, Bukit Teletubbies. Diberi nama Bukit karena mirip dengan bukit di serial anak Teletubbies. Dari atas sini, kita bisa melihat rumah penduduk, telaga warna, serta gunung-gunung yang ada di sekitar Prau. Awan yang menyelimuti pemandangan ke bawah menandakan saya sedang berada di atas awan.

Bunga-bunga rumput cantik di Prau

 

Teman naik gunung

TURUN DARI GUNUNG PRAU

Pukul 11.48 siang, tenda dan sampah telah kami simpan. Kami sudah bersiap-siap turun. Beban tak lagi seberat mendaki gunung kemarin. Tapi rasa berat justru terletak pada kaki yang harus menahan tas carier dan jalan yang lumayan licin karena tanah lembab di pagi hari. Perjalanan turun membutuhkan waktu sekitar 1 jam dan langsung sampai di basecamp awal pendakian. Saya dan teman-teman beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan kembali ke Wonosobo dengan menggunakan bus Dieng–Wonsobo. Kali ini, kami sedikit melakukan tawar-menawar. Lumayan Rp. 12 ribu per orang tiba di Wonosobo dengan selamat (lumayan anak kos). He-he-he…

Perbukitan

 

Pulau Beralas Pasir, Surga Tropis Bintan

Teks dan foto oleh: Sahat Farida Berlian

Bersantai ramai-ramai di sini.

Pulau Beralas Pasir, lebih dikenal dengan nama White Sands Island. Objek wisata baru yang kini mulai populer dan menyasar pada wisatawan lokal. Berada di Pulau Bintan Kabupaten Bintan, satu jam berkendara darat dari kota Tanjung Pinang. Bintan merupakan pulau terbesar yang ada di Propinsi Kepulauan Riau. Di Pulau Bintan sendiri terdapat tiga pemerintahan. Pemerintahan Propinsi Kepulauan Riau, baik kantor gubernur maupun DPRD Propinsi, Pemerintahan Kota Tanjung Pinang, dan Pemerintahan Kabupaten Bintan.

Mendaftar dan membayar paket kunjungan
Menggunakan speed boat sekitar 20 menit dari konter utama ke pulau

Ada apa di Pulau Beralas Pasir? Pulau ini tidak berpenghuni, hanya petugas yang bekerja di sana yang menghuninya berganti shift. Namun begitu tamu yang berwisata tidak perlu khawatir, karena ada beberapa tawaran untuk bisa mengunjungi pulau ini, menginap ataupun kunjungan pergi pulang. Tersedia resort dan tenda-tenda di sana bagi yang hendak menginap, sebuah restoran 24 jam siap melayani. Makanan dan minuman sudah termasuk dari bagian paket wisata yang ditawarkan, belum termasuk barbeque. Ke pulau ini, pengunjung dilarang keras membawa makanan minuman dari luar. Ada sanksi yang diberlakukan jika pengunjung diketahui melanggar.

Bersantai, bermain voley pantai, berenang melihat ikan di belakang pulau, snorkeling, kayaking, diving. Dari paket wisata yang ditawarkan, pengunjung boleh menggunakan seluruh fasilitas umum yang ada di sana, kecuali fasilitas untuk snorkeling, kayaking dan diving. Ada biaya tambahan untuk ketiga jenis fasilitas ini.

Bersantai dan beneran di pantai. Hehehe

 

Ke Pulau Beralas Pasir Masuk dari bandara Raja Ali Haji Fisabilillah (penerbangan Jakarta – Tanjung Pinang). Masuk dari pelabuhan Sri Bintan Pura (jalur laut dari Batam, Singapura, Malaysia). Masuk dari pelabuhan Tanjung Uban (jalur laut dari Batam). Masuk dari pelabuhan Kijang (jalur laut kapal besar dari Jakarta) Jl. Wisata Bahari, Trikora km 38, Bintan, Indonesia

Pintu masuk untuk ke pulau ini berada tak jauh dari Hotel Sahid Bintan. Untuk bisa mendatangi pulau Beralas Pasir, kamu harus mendaftarkan diri dan membeli tiket 188.000 rupiah. Biaya ini termasuk jasa transportasi speed boat PP dan makan siang (paket kunjungan satu hari). Dari teman, saya mendapat informasi biaya 288.000 rupiah, paket kunjungan satu hari plus snorkeling. Namun petugas yang berjaga di depan menyarankan untuk membayar kegiatan snorkeling di pulau, yang ternyata, biayanya lumayan berbeda. 234.000 untuk satu jam snorkeling. Belakangan baru saya ketahui, perusahaan yang mengelola pulau ini memiliki dua manajemen untuk paket-paket wisata. Jadi, bagi kamu yang mau ke pulau ini, pastikan kamu membayar paket di konter utama, karena tarif di pulau lumayan perbedaan harganya.

 

Kejuaraan Selancar di Pulau Krui, Surga Selancar Baru Dunia

Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Selatan Sumatera semakin mendunia. Hamparan keindahan pantai di Krui kini bukan lagi lokasi wisata, tetapi telah menjelma menjadi surga bagi para peselancar internasional. Krui terpilih menghelat kejuaraan berselancar berskala internasional, bertajuk Krui Pro 2017 World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS). Kompetisi ini terselenggara berkat sinergi antara Pemerintah Daerah Lampung Barat, Kementerian Pariwisata, World Surf League, Asian Surfing Championship, dan Persatuan Selancar Ombak Indonesia.

Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain
Callister terkenal dengan kemampuan forehand attack, namun kemampuan backhand yang dimilikinya menempatkan dirinya di posisi terbaik di Krui – WSL/ Tim Hain

Matahari mulai tenggelam dan gulungan ombak setinggi 4-6 kaki menutup sesi terakhir Krui Pro yang sangat bersejarah. Para pemenang World Surf League Qualifying Series 1000 (WSL QS) dinobatkan pertama kalinya di Selatan Sumatera, Indonesia. Kedua pemenang dari kategori pria dan wanita liga internasional ini, Keijiro Nishi (Jepang) dan Lucy Callister (Australia), merupakan pemenang baru di liga WSL QS.

 

Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain
Podium wanita di Krui terdiri dari beberapa wajah pemenang baru – WSL / Tim Hain

Lucy Callister menunjukkan kemampuan terbaiknya di antara seluruh peselancar wanita dari Australia dan berhasil mengalahkan Ellie Francis di babak final. Callister dan Francis telah banyak mencuri perhatian selama ajang ini berlangsung, dengan kemampuan kedua peselancar menggunakan tangan bagian belakang mereka untuk menempatkan mereka di babak final. Di babak final, Callister sangat selaras dengan ombak di Krui, yang menempatkan dirinya berada di ombak terbaik dan memperoleh nilai yang tertinggi.

Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain
Nishi dan Le Grice berada di podium Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Ini bukan haya kemenangan pertama saya di QS, tetapi ini juga pertama kalinya saya berhasil masuk ke babak final QS dan saya merasa sangat senang,” kata Callister. “Saya hanya memiliki sedikit kesempatan di ajang Junior tahun lalu dan saya tahu bahwa saya harus bekerja keras untuk mendapatkan kesempatan untuk menang. Saya memiliki beberapa hasil buruk di awal tahun ini dan saya sempat merasa ragu terhadap kemampuan saya dalam berselencar dan berlomba. Namun, saya memutuskan untuk mengikuti beberapa ajang QS 1000 untuk memperoleh kepercayaan diri saya kembali dan berhasil. Saya merasa sangat senang dan semangat untuk terus mengikuti ajang ini.

Sebagian besar peselancar datang ke Selatan Sumatera tanpa kehadiran keluarga mereka, namun Callister mengikuti ajang ini sebagai bagian dari acara liburan keluarga dirinya. “Saya juga sangat senang keluarga saya ada disini, kami sampai di Sumatera lebih dahulu untuk liburan keluarga dan ajang ini. Sekarang, saya sangat semangat untuk pulang ke rumah membawa piala, ini adlah liburan terbaik saya. Saya merasa sangat spesial atas kehadiran Ibu, Ayah, Kakak, dan Adik saya di sini,” katanya.

Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain
Moses Le Grice melakukan buckets di babak final di Krui Pro. WSL / Tim Hain

Keijiro Nishi dari Jepang berhasil memenangkan WSL QS untuk kategori pria dengan gaya berselancarnya yang unik, kencang, dan keras. Pria yang lucu ini berhasil mencuri perhatian seluruh penonton sepanjang minggu ini. Posisi pertama di babak final diperebutkan oleh Nishi dan Moses Le Grice, namun Nishi berhasil memenangkan babak ini dengan mendapatkan nilai 9.00 di ombak terakhirnya.

Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain
Ellie Francis berada di posisi terbaiknya selama karirnya ketika mengikuti Krui Pro. WSL / Tim Hain

“Kemenangan ini sangat luar biasa!” seru Nishi. “Kami semua mendapatkan ombak yang bagus di minggu ini, namun ombak terbesar dan terbaik dapat kami rasakan pada saat babak final, kami sangat beruntung. Saya tahu bahwa saya harus menemukan ombak yang terbuka untuk melakukan beberapa putaran besar dan saya mendapatkannya di akhir perlombaan sehingga saya dapat memenangkan pertandingan ini. Saya masih tidak percaya. Saya mencintai Krui, saya akan kembali lagi kesini tahun depan,” katanya lagi.

 

Moses Le Grice berhasil memasuki babak final setelah berhasil mengalahkan Jean Da Silva di babak semi final. Le Grice memulai minggu ini dengan pelan tapi penonton dapat melihat bahwa dia mengalami peningkatan di setiap babak dan dalam setiap ombak yang dia arungi kepercayaan diri Le Grice terus bertambah.

 

“Saya mengalami kesulitan terhadap ombak yang saya arungi di awal-awal ajang ini,” kata Le Grice. “Namun, di babak pertama, saya berusaha tenang dan mencoba untuk bersenang-senang di ajang ini dan kemudian saya baru merasa lebih baik dan mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Krui Pro merupakan ajang yang sangat bagus, kualitas ombak dan berselancar disini sangat tinggi sehingga ketika saya berhasil memasuki babak final hal itu membuat saya semakin percaya diri.

Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain
Lucy Callister mencuri perhartian selama Krui Pro 2017 berlangsung dengan kemampuan berselancarnya – WSL / Tim Hain

Ellie Francis menggunakan kemampuan tangan bagian belakangnya dengan lembut dan kuat untuk membawa dirinya ke babak final, namun mendapatkan dirinya tidak begitu selaras dengan ombak, Francis kehilangan beberapa kesempatan dan pada akhirnya gagal melakukan berbagai aksi yang bagus.

 

“Saya merasa frustasi sudah sampai di babak final tapi kalah karena saya merasa sangat dekat untuk dapat memenangkan ajang ini,” kata Francis. “Namun, saya tetap merasa senang karena kami memperoleh ombak terbaik di ajang ini dan sekarang saya merasa sangat percaya diri untuk turus mengikuti kejuaraan WSL QS,” pungkas Francis. (rel)

 

Ayo ke Tana Toraja

Eksotik mistik, begitulah Tana Toraja dikenal. Salah satu bukti nyata sejarah peradaban animisme yang pernah ada di Nusantara. Bagian panorama, Toraja juga tidak kalah. Pegunungan, bukit, goa dan lembah menghiasinya.

 

Berpose di depan rumah Toraja
Berpose di depan rumah Toraja

Teks dan foto oleh: Sahat Farida @sahatfarida | Editor: Eka Dalanta @ekadalanta

Dari Jakarta menggunakan transportasi udara kami menuju bandara Sultan Hasanudin, Makasar. Dari Makasar menggunakan transportasi darat kami melewati beberapa kota, Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, dan Enrekang. Lepas dari Enrekang barulah kami tiba di Tana Toraja. Kira-kira 10 jam perjalanan santai hingga kami tiba di sana. Untuk perjalanan pulang, kami memilih menggunakan pesawat dari Bandara Potingku ke Makasar. Sekitar 45 menit lama waktu perjalanannya.

Desember 2016, kali kedua saya berkesempatan menginjakkan kaki di Tana Toraja. Desember merupakan bulan baik untuk melakukan kunjungan ke Tana Toraja. Pemerintah Kabupaten sepertinya menyiapkan betul program pariwisata untuk menarik wisatawan datang ke daerah ini. Di bulan Desember, Tana Toraja memiliki kegiatan rutin yang mulai populer dan banyak diminati para wisatawan untuk disaksikan, namanya Lovely December.

Lovely December merupakan program rutin yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten Tana Toraja sebagai promosi wisata. Festival lagu Toraja, pameran kuliner, Ring Road, Toraja Night Colour Run merupakan rangkaian acara dari kegiatan Lovely December. Utamanya, Tana Toraja memberikan tawaran objek wisata yang telah populer mendunia.

Kemeriahan Lovely December di Toraja
Kemeriahan Lovely December di Toraja

Makale dan Rante Pao, saya melihat kendaraan roda empat dengan performance off road banyak berlalu lalang. Ya, wilayah Tana Toraja memang menarik untuk eksplore olahraga ekstrem seperti kegiatan Ring Road. Salah satu kegiatan dalam rangkaian Lovely December yang memiliki peminat khusus.

Selain wilayah ibukota kabupaten, saya masih belum bisa membedakan, apakah saya berada di Tana Toraja atau Toraja Utara. Tana Toraja beribukotakan Makale, dan Toraja Utara beribukotakan Rante Pao. Toraja Utara merupakan kabupaten pemekaran Tana Toraja yang ditetapkan dalam UU RI Nomor 28 Tahun 2008. Jalan raya tanpa kemacetan merupakan hal yang membuat jarak tempuh menjadi ringan, antara Makale dan Rante Pao.

Toraja #1

Objek wisata yang hukumnya wajib dikunjungi di sini adalah Londa, Kete Kesu, dan Lemo. Ada kemiripan mendasar dari tiga objek wisata ini, yang sangat mencirikan Toraja, kuburan! Ya, Toraja selama ini dikenal dengan pesona mistiknya. Adat kebudayaan yang hingga saat ini masih dijalankan sebagian besar masyarakatnya adalah pesta adat kematian, yang pada akhirnya adalah menempatkan jenasah ke makam. Tak sampai di situ, jenasah di makampun masih mendapatkan perlakuan yang sangat khas Toraja.

Lemo. Di Lemo, kita bisa menyaksikan tebing yang menyimpan jenasah. Sisi tebing dipahat menjadi goa buatan, disanalah para jenasah disimpan. Di sisi luar goa, terdapat puluhan patung, lelaki perempuan, tua muda berjajar di sana. Patung yang menyimbolkan para jenasah yang menghuni tebing. Beberapa pengunjung biasanya mencoba naik ke sebagian sisi tebing, untuk bisa lebih dekat ke patung-patung yang terpampang di sana. Berfoto jadi lebih ekstrem.

Tebing tempat jenazah disemayamkan
Tebing tempat jenazah dimakamian

Londa. Londa adalah sebuah goa, di bagian atas tak hanya patung-patung simbol para penghuni goa, namun juga peti mati yang seperti disangkutkan di ceruk goa. Tak perlu khawatir dengan suasana gelap di dalam goa, karena para pemandu yang menemani kita mengelilingi goa masing-masing membawa lampu petromak.

Di goa alami Londa, jenasah tersimpan di sana. Baik yang di dalam peti, ataupun tulang belulang dan tengkorak yang sepertinya tampak berserak. Ada dua pintu goa di sini, memiliki jalur terhubung, namun tentunya sulit untuk dilewati untuk ukuran tubuh orang dewasa. Jika Shakespeare dalam narasinya menceritakan cinta terlarang hingga berakhir kematian, pemandu di sini juga akan membawa kita pada belulang pasangan cinta terlarang, yang berujung pada kematian. Dua insan, lelaki dan perempuan, masih sepupu, jatuh cinta dan tak mendapat restu. Di Toraja, berlaku hukum bebas untuk saling berkasih jika sudah lepas dari empat pupu.

Kete Kesu. Rumah adat, Tongkonan yang dilengkapi lumbung menyambut di halaman utama ketika kita berkunjung ke Kete Kesu. Barisan Tongkonan adalah salah satu view yang menjadi favorit untuk mengambil gambar. Rumah-rumah adat, lengkap dengan ukiran khas dan tanduk-tanduk kerbau. Di sini, tanduk kerbau yang terpasang di Tongkonan menjadi salah satu ukuran prestise masyarakat.

Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik bisa kamu lihat.
Kete Kesu, di sini rumah adat Toraja yang cantik itu bisa kamu lihat.

Masuk ke dalam, kios-kios pedagang souvenir berderet rapi di sana, sebelum akhirnya kita sampai ke pemakaman. Sebagian makam di dalam goa, berpagar dan tak sembarang orang bisa membuka. Sebagian besar makam tersimpan dalam rumah-rumah, lengkap dengan patung simbol jenasah. Unik-unik bentuk rumah jenasah.

Toraja #2

Jika Toraja #1 adalah objek wisata yang memang sudah sangat umum, saya senang sekali berkesempatan berkunjung ke Toraja #2. Pembagian yang saya buat sendiri untuk menjelaskan objek wisata yang baru dipopulerkan. Perlahan mengikis wajah pariwisata Tana Toraja yang sepertinya menampilkan hal-hal yang seram, berkaitan dengan kematian.

Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja
Lolai, negeri di atas awan, destinasi baru Tana Toraja

Lolai. Lolai, atau negeri di atas awan merupakan destinasi baru di Tana Toraja. Saat ini pemerintah kabupaten tampak sedang membangun perluasan dan perbaikan jalan menuju Lolai. Ya, Lolai saat ini memang menjadi primadona. Pemandangan tak biasa bisa kita dapatkan di sana, seperti namanya, negeri di atas awan.

Sebelum sampai di bukit paling atas, di sisi kanan tampak sudah dibuka juga dataran untuk para pengunjung yang hendak menikmati panorama. Saya dan rombongan melanjutkan ke atas, Tongkonan Lempe. Ketika saya datang, tarif masuk dan tarif parkir sudah diberlakukan, masing-masing Rp 10.000. Saya bersama Datu, warga lokal yang sudah beberapa kali berkunjung ke Lolai namun belum pernah mendapatkan pemandangan awan lengkap. “Lempe, Lempe” sebutnya. Dan kami pun masuk tanpa harus membayar tiket. Masyarakat mengatakan jika malam turun hujan, maka awan pagi akan tampak sangat menakjubkan. Namun hati-hati, saat ini kondisi jalan kurang baik jika dilalui jika dalam kondisi basah.

Ramai di Lolai
Ramai di Lolai

Di dalam kawasan, pengunjung sudah ramai dan padat. Tak banyak ruang kosong yang tersedia, apalagi di tepi jurang tempat paling bagus untuk menikmati pemandangan. Di sini, selain rumah keluarga pemilik Tongkonan, juga telah tersedia warung-warung dan puluhan tenda kemping bagi para pengunjung yang hendak bermalam. Tampak kelompok komunitas motor yang saat itu menggunakan tenda-tenda.

Tenda-tenda di Lolai
Tenda-tenda di Lolai

Bukit Pasir Sumalu. Setelah puas sepagian menikmati Lolai, meskipun tak banyak mendapatkan pemandangan gumpalan awan, saya dan rombongan bergerak menuju bukit pasir Sumalu. Jarak dari Lolai ke sini bukanlah dekat. Ditambah kondisi jalan yang membuat adrenalin merasa senang. Selama perjalanan, kami berpapasan dengan mobil-mobil peserta ring road. Untuk pecinta olahraga ekstrem, Toraja merupakan salah satu tempat yang bisa dicoba.

Tilanga. Tilanga adalah sebuah kolam besar, di dalamnya terdapat belut bertelinga. Saya sempat melihatnya, moa seukuran lengan orang dewasa, dengan mata berwarna biru. Bergidik, karena baru itulah pertama kali melihatnya. Dalam hati saya merasa senang, konon, siapapun yang melihat binatang tersebut akan mendapatkan keberuntungan. Boleh dong saya menitip harap pada kearifan lokal di sini.

Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat
Tilanga, tempat belut bertelinga bisa kamu lihat

Di kolam ini, banyak anak-anak penduduk lokal yang bermain di kolam. Mereka menunjukkan atraksi lompat ke dalam air dari tebing di sisi kolam dengan harapan pengunjung memberikan uang. Lima ribu rupiah untuk sekali lompatan. Tak berani melompat, saya memilih terjun ke air, berenang dan menyelam. Meski dalam hati was-was, khawatir berjumpa kembali dengan Moa.

Begitulah kunjungan saya ke Tana Toraja di Desember 2016. Ada satu lagi yang saya saksikan, Rambu Solo, Pesta Adat Kematian khas masyarakat Tana Toraja. Tentunya cerita menyaksikan Rambu Solo akan saya tuangkan di halaman yang berbeda.

Kiranya 2017 ini kita mendapatkan berkah dan keberuntungan. Dan anda yang ingin namun belum pernah menginjakkan kaki di Tana Toraja dapat segera mengunjunginya. Salam hangat.

 

Maronan

Teks oleh: Eka Dalanta & Foto oleh: Andi Gultom

 

“Selalu ada yang menarik di pasar tradisional. Kita akan menemukan realitas sehari-hari masyarakat sebuah tempat di sana.”

membersihkan-bawang

 

Saat berlibur di Danau Toba, sebuah jaminan mata Anda akan dimanjakan dengan kecantikan pemandangan alam yang luar biasa. Selain menikmati alam dan budayanya, sangat menarik juga berkunjung ke pasar tradisional di daerah yang Anda tuju di pinggiran Danau Toba.

 

Di desa-desa di pinggiran Danau Toba, pasar tradisional berlangsung sepekan sekali di tiap desa. Masyarakat Batak Toba menyebutnya dengan Onan, artinya hari pasar atau pekan. Tiap-tiap desa punya waktu yang berbeda-beda sehingga bagi para petani yang ingin menjual hasil pertanian atau kebunnya bisa pergi ke desa yang sedang menyelenggarakan onan.

Turun dari kapal membawa hasil pertanian
Turun dari kapal membawa hasil pertanian

Kali ini saya mengajak Anda ke salah satu sisi Danau Toba di Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Balige merupakan kota yang dikunjungi Presiden Jokowi dalam Karnaval Danau Toba yang diadakan baru-baru ini.

Pisang Parapat
Pisang Parapat

Onan Balige diadakan setiap hari Jumat. Pasar tradisional ini sangat ramai dan jauh lebih besar dari onan di beberapa desa lain di seputaran Danau Toba karena Balige merupakan ibu kota Kabupaten Tobasa. Onan Balige di mulai dari pasar di tengah kota, dan kita akan terus berjalan menerobos keramaian onan menuju pelabuhan. Orang-orang dari berbagai desa yang berdekatan dengan Balige datang membawa hasil pertanian dan peternakan. Para pedagang dan petani juga datang dari desa-desa di Pulau Samosir yang terdekat dengan Balige.

 

Berjalanlah menuju arah pelabuhan. Kita akan melihat riuhnya para petani datang dari berbagai desa menumpang kapal-kapal kayu yang bergerak merapat. Para petani turun membawa aneka hasil bumi untuk dijual dan dibawa pulang kembali setelah menukar (membelanjakannya) dengan aneka kebutuhan pokok lainnya.

Menurunkan Kerbau dari Kapal
Menurunkan Kerbau dari Kapal

Sangat menarik berkeliling dan melihat-lihat di pasar-pasar tradisional seperti di tempat ini. Kita akan menemukan lokalitas yang sangat kental. Pada tutur kata dan bahasa, pada berbagai komoditas hasil bumi yang dijual. Di Balige kita bisa melihat aneka rerempahan khas Batak, seperti andaliman, bawang batak, bawang samosir, dan komoditas khas lokal lainnya. Pisang Parapat misalnya yang hanya bisa kita temukan di daerah di seputaran Danau Toba.

Ikan Mujair Danau Toba
Ikan Mujair Danau Toba

Oh ya saya juga melihat pedagang Raru. Kayu khas untuk membuat minuman tuak yang membuatnya mengalami fermentasi dan menciptakan rasa unik di dalamnya. Juga pedagang kayu pinus. Potongan-potongan kayu pinus biasa digunakan masyarakat di sini sebagai kayu bakar.

Pedagang Raru
Pedagang Raru

Jika sedang berkunjung ke Onan Balige, sempatkanlah pula melihat keunikan Onan Horbo atau pasar kerbau. Letaknya di ujung pelabuhan, ujung dari pasar tradisional di Onan Balige. Di pasar ini, para pedagang kerbau membawa kerbau-kerbau dari berbagai desa menuju Onan Balige dengan menumpang Kapal Kayu. Kapal kayu merupakan alat transportasi utama di Danau Toba. Puluhan kerbau diturunkan dari dalam kapal melalui danau.

Menarik Kerbau Turun
Menarik Kerbau Turun

Saat kapal sudah menepi, satu-persatu kerbau digiring turun melompat ke dalam danau. Kerbau-kerbau melompat lalu berenang menepi. Sebuah pemandangan unik yang tidak biasa.

Kayu Pinus untuk Kayu Bakar
Kayu Pinus untuk Kayu Bakar

Seperti di sini, karakteristik alam, budaya, dan lokalitas terlihat begitu polos. Sebuah alasan untuk saya selalu menyempatkan diri berkeliling dan berkenalan dengan lokalitas di tiap pasar tradisional. (Tulisan ini juga terbit di Majalah Gema Pelabuhan, Pelabuhan Indonesia 1 (Pelindo 1) Edisi Desember 2016)

 

 

 

 

 

 

SEBULAN KELILING JAWA (PART 6- END)

Teks: Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

UNPREPARED ADVENTURE TO ‘PANTAI LAUT SELATAN’.

Semoga kalian masih betah membaca perjalanan saya keliling Jawa. Ini adalah bagian akhir dari rangkaian tulisan perjalanan sebulan keliling Jawan. Setelah beristirahat satu hari, Brewok rencananya mau menguber kerjaan yang menumpuk dulu selama beberapa hari sebelum jalan-jalan lagi.

Siang itu kami makan siang di angkringan dekat ISI, nasi dan sayur ambil sepuasnya, seperti biasa. Yang dihitung hanya lauk, saya ambil sate usus dan bakso. Harganya? Masih di bawah 10 ribu. Jadi saat kami makan, Brewok menerima whatsapp dari Andrew, si kawan bule. Dia ‘otw’ ke Wonosari, menuju Pantai Selatan, dan besok dia akan terbang ke luar negeri. Dari kemarin-kemarin kami sudah berencana untuk ke Wonosari bareng-bareng. Tapi sering kali bentrok dengan jadwal saya dan Brewok mau pergi, hari ini juga, rencananya kami mau fokus berkarya saja di rumah. Sambil mengunyah, kami berdiskusi apakah bisa menyusul hari ini. Brewok harus bertanggung jawab dengan jadwal kerjanya sendiri, harus bisa menyelesaikannya tepat waktu walau hari ini berangkat. Jadilah kami berangkat mendadak, langsung setelah makan siang. Tanpa persiapan apa-apa. Jam menunjukkan pukul 12 siang, juga menghindari pulang terlalu malam.

Jalannya sungguh stressful bagi saya. Lagi-lagi naik turun terjal dan belok-belok curam, saya mual lagi. Melintasi Imogiri, Gua Maria Tritis. Memakan waktu hampir 3 jam. Mendekati pos penjualan tiket menuju tempat wisata pantai-pantai, kami dicegat saat Brewok mau melewati loket hohoho. Brewok menyebutkan nama villa milik temannya (yang memang benar adanya) seolah kami ada kepentingan dengan pemiliknya/tempat tersebut, kami dibebaskan lagi dari tiket masuk.

PANTAI INDRAYANTI
Kami tiba di Pantai Indrayanti, dari pos retribusi tadi ke pantai lumayan jauh juga, memakan waktu 20 menitan. Ada banyak pantai yang bisa dipilih di situ, Brewok lebih kenal Pantai Indrayanti. Dan sinyal hape ternyata tenggelam. Tidak bisa menghubungi Andrew, tadi sudah janjian di Pantai Indrayanti. Andrew melalui jalur kota yang lebih jauh, kami melalui rute lebih pendek. Harusnya dia sudah tiba. Kami jalan menuju pantai dulu. Ohh saya benar-benar terpesona dengan pemandangannya. Hamparan ombak yang lebih tinggi dan kencang daripada yang saya lihat di Pantai Parangtritis, batu karang di pesisir, menghipnotis saya beberapa menit menikmatinya dari jauh, sebelum saya perlahan menginjakkan kaki dia atas bebatuan karang yang berwarna hijau dan coklat karena tertutup lumut dan tanaman laut lainnya. Anehnya tidak licin, saya mengamati dari dekat, banyak makhluk-makhluk laut! Antara geli dan penasaran, kami menyentuh satu persatu, ada makhluk seperti siput tanpa cangkang, warnanya hijau kecoklatan. Kamuflase di antara baru karang, tersamar sekali, dan ternyata banyak jumlahnya, saya jadi berhati-hati berjalan. Ada juga bintang laut tapi kaki-kakinya berduri halus, Brewok iseng menarik mereka keluar dari sarang (don’t try this).

Berjalan menyusuri pantai
Berjalan menyusuri pantai
Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Ada bintang laut
Ada bintang laut

Saya berlari-lari di pasir putih halusnya, mengejar kepiting kecil berwarna putih yang terbang tertiup angin, saya senang sekali, saya tersungkur bermain dengan segala sesuatu di pantai itu! Rupanya brewok sudah jauh berjalan ke arah salah satu sisi, saya menyusul, sampai salah satu ujung, di dekat bebatuan karang besar, ada mas-mas yang memancing ikan, ada ikan-ikan kecil terlihat di air jernih itu, tetapi mereka sungguh lincah, jangan harap untuk menangkapnya. Lalu kami mulai mencari Andrew. Selangkah demi selangkah kami telusuri perjalanan hingga ke pantai sebelahnya, lalu keluar sampai ke area parkiran, tidak ketemu juga, sambil mencoba memghubungi terus. Lalu saat nyaris putus asa dan berjalan kembali ke motor kami, Andrew lewat naik motor, akhirnya kami bertemu. Dia habis dari pantai yang lain. Lalu brewok mengusulkan untuk mengunjungi satu pantai lagi, yakni Pantai Wediombo, pantai yang ada kolam alaminya di antara batu karang. Jaraknya masih sekitar 10 km lagi. Saya ikut saja.

Pantai Indrayanti
Pantai Indrayanti
Cakep
Cakep

PANTAI WEDIOMBO & INSIDEN KECIL YANG JADI PELAJARAN

Sesampainya di Wediombo, saya masih dipertemukan dengan lautan yang lebih menderu-deru ombaknya, bebatuan indah bersusun, jam menunjukkan pukul 3. Saya memotret pemandangan, Brewok dan Andrew jalan duluan sambil mengobrol. Saya ketinggalan jauh sekali, mungkin karena kaki saya pendek juga, atau saya terlalu menikmati indahnya goresan Sang Pencipta ini.

Pantai Wediombo
Pantai Wediombo

Foto 76-wediombo (3)

Saya tidak tau sampai seberapa berjalan, mereka menghilang di balik bebatuan. Karena saya mulai sibuk merekam video saat posisi dekat sekali dengan ombak. Beberapa langkah menaiki bebatuan besar, sampailah saya di sebuah kolam yang terbentuk di tengah bebatuan. Kolam kecil dan dangkal, terisi air laut sedada. Ada beberapa pengunjung juga yang sedang berenang, ber-selfie ria di atas batu karang, ada juga yang duduk menunggu. Brewok dan Andrew memanjat ke sebuah batu yang tinggi, tiba-tiba mereka berteriak, saya sampai kaget. Rupanya kena cipratan ombak yang membentur dinding batu tersebut. Pakaian mereka sedikit basah. Lalu Brewok melepaskan kaosnya dan berenang di kolam. Sedangkan Andrew berjalan jauh ke ujung lagi untuk merekam video. Saya juga mengeksplor memanjat ke batu yang tinggi walau saya sebenarnya takut. Saya merasa tempat ini berbahaya sekali. Saya merekam dari batu yang tertinggi, tiba-tiba ombak menghantam dan saya terkena cipratannya sedikit. Saya kaget sekali dan berpegangan kuat pada batu. Saya merekam sebentar lagi lalu turun, melanjutkan merekam ombak di teluk kecil di bawahnya, di samping kolam. Lalu saya menghentikan rekaman dan memperhatikan.

 Foto 77-wediombo (4)

Ombak di teluk kecil itu makin lama makin tinggi. Sepertinya mulai pasang. Ada orang yang masih bermain di atas bebatuan, saya takut ombak yang lebih kuat menghantam. Benar saja, tiba-tiba ombak yang sangat tinggi datang, yang tadinya hanya cipratan, menguyur kuat mereka, dua pemuda itu jatuh tergelincir dari batu, menuju kolam, kolam yang mendadak dalam karena volume air yang bertambah. Mereka kelihatan panik, struggle untuk meraih darat dan kemudian berhasil naik, bersiap-siap pergi dari situ. Saya, Brewok, dan Andrew juga bergegas kembali karena air mulai pasang. Kami menemui rombongan tadi tak jauh dari sana, seorang pemuda duduk berlumuran darah di kaki, betis, dan bokong. Tangan sebelah kanannya luka parah. Darahnya bercampur dengan air laut di atas batu. Dia mengigil karena shock dan kedinginan. Saya menawarkan dia memakai sweater Andrew. Seorang pemuda dari rombongan lain bersama Andrew membopongnya. 3 rombongan yang tak saling kenal dalam satu tempat tadi akhirnya berjalan bersama. Satu temannya yang juga terjatuh, tidak mengalami luka parah, hanya sedikit lecet di tangan dan kaki. Sesekali kami berhenti untuk beristirahat karena jalan cukup jauh dan dia masih kesakitan. Dia sudah beruntung, tidak mengenai kepala. Jika tadi mengenai kepala, bisa berakibat kematian.

Saya sudah takut sekali saat kejadian itu. Memang lautan itu tidak boleh untuk bermain-main, mereka sudah dinasehati warga setempat agar jangan bermain terlalu lama disitu karena sudah mau pasang. Apalagi konon katanya Pantai Laut Selatan ini punya cerita mistik yang kental. Sampai di warung tepi pantai, kami basuh lukanya dengan air hangat, sembari menenangkan diri. 3 rombongan ini jadi saling berkenalan dan mengobrol. Si korban ini, asalnya jakarta. Sedang liburan di Jogja. Mereka mungkin tidak bisa melanjutkan liburan selanjutnya.

Cukup menenangkan diri, hari sudah cukup gelap. Mereka ijin pulang. Saya, Brewok, dan Andrew kelaparan. Kami makan di warung itu. Seporsi ikan nila bakar dengan satu dandang nasi yang bisa buat berdua, daaannn sambal bawangnya enak! dihargai 25 ribu. Cukup memuaskan. Kami melihat ada api dari bawah, dekat pesisir. Selesai makan kami bergegas kesitu. Kami pikir api unggun, rupanya itu sampah yang dibakar, yasudah kami sekalian menghangatkan diri sebentar sambil menatap langit. Bertabur bintang dan bulannya penuh, terang, dan besar. Indah sekali. Saya rasa saya tidak punya kesempatan untuk melihat milkyway liburan kali ini, padahal sudah berharap ada kesempatan. Jam menunjukkan pukul 6.30 saja. Tapi sudah terasa seperti jam 9 malam. Duduk-duduk sebentar dan kami diberitahu penjaga warung akan mematikan lampu warung. Wow… ternyata satu pantai sudah gelap semua. Kami bergegas pulang. Parkiran juga hanya tinggal dua motor kami.

WHAT A LOVE-HATE ROAD TO GO BACK

Keluar dari area pantai, jalur stresful tadi lebih stresful lagi kali ini. Gelap gulita! Tidak ada lampu jalan. Saya sudah teler saja. Sekitar setengah jam perjalanan, ternyata ban bocor. Kami harus cari tambal ban malam-malam, di tengah kegelapan, di desa kecil itu. Kami temui satu tambal ban, tidak ada orangnya, Brewok mengetuk pintu rumahnya. Syukurlah masnya ada, tapi menunggu dia selesai makan. Padahal selesai dia makan dia berencana pergi. Beruntung kami tidak terlambat mendatanginya. Kami dipersilakan duduk di terasnya oleh mbaknya. Mungkin istrinya. Saya permisi menggunakan kamar kecil. Kamar kecilnya tidak kecil, ada kolam besar berisi air. Seperti kolam pemandian. Hahaha. Lalu saya baru diberitahu mereka sulit air. Jadi air itu ditampung. Tak lama setelah kami duduk, mbaknya keluar membawa tiga gelas teh hangat dan satu toples krupuk. Kami tersentuh sekaliii. Ya ampun, jadi tidak enak hati.

Menunggu ban sepeda motor ditambal
Menunggu ban sepeda motor ditambal

Sungguh keramahan yang diberikan disini menghangatkan hati. Di keadaan dingin dan panik seperti ini. Tehnya nikmat sekali. Sekitar setengah jam sampai selesai pengerjaan bannya, kami berangkat pulang. Beberapa saat setelah itu saya mau buang air kecil lagi, juga kedinginan, singgah ke kantor polisi untuk pinjam toilet, berujung ngobrol dengan beberapa polisi, lalu bergerak lagi. Kembali melewati Imogiri, Andrew mau duluan karena harus packing dan berangkat pagi-pagi. Kami mau cari sate klathak lagi, hehehe, untuk ketiga kalinya. Sate klathak Pak Pong yang di pasar. Ramai sekali. Tempatnya adalah pasar tradisional yang beroperasi pagi-siang hari, jika malam tutup dan Sate Pak Pong ini beraksi. Lesehan beralaskan tikar, agak gelap. Nikmatnya tetap nomor satu. Tidak lama-lama, kami beranjak dan membayar seharga 50 ribu untuk dua porsi. Sampai di rumah pukul 11 malam. Tepar lagi.

DINNER KURANG ROMANTIS

Sore ini mau dinner romantis di resto Rosella Easy Dining di Sleman, agak jauh tapi sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Sekitar 30 menit dari Sewon, mencari-cari… menerka-nerka… saya mengetahui resto ini dari artikel yang saya baca sebelum ke Jawa. Link artikelnya: www.qraved.com/journal/restaurants/12-restoran-di-jogja-yang-harus-banget-kamu-coba/

Sebuah resto pinggir sawah dengan setting romantis. Jalan Kabupaten KM. 5, Sleman. Jalan Kabupaten lumayan panjang, kami menelusuri sampai ujung yang mendekati Ringroad Utara. Akhirnya ketemu… tapi. kok. sepi. tidak ada tanda-tanda kehidupan, saya mengintip ke dalam, memang setting yang romantis, di pinggir sawah. Tiba-tiba saya ditegur oleh tetangga di situ bahwa mereka tutup hari ini, tidak biasanya. Saya patah hati sekali, kecewa. Kami kembali, di jalan Kabupaten tadi kami melihat satu resto yang nggak kalah romantis. Dikelilingi kolam atau sungai kecil. Dengan remang-remang lampu kuning dan lilin-lilin. Tapi tutup juga, entah hari spesial apa saat itu. Lalu kami kembali ke daerah Sewon. Sesuai artikel, masih ada resto yang menarik hati selain Rosella. Kami ke jalan Tirtodipuran, mencari Mediterranea Restaurant. Sesampainya di dalam, penuh dengan turis barat. 90%nya turis barat. Saya memesan Duck Confit (steak bebek) seharga 67 ribu dan brewok memesan Beef Carpacio (irisan daging sapi yang ternyata setengah matang) seharga 55 ribu. Lalu saya tambah pasta Penne Tuna & Spinach seharga 50an ribu. Minum Ice Lime 12 ribu dan Matcha Latte 28 ribu.

Dinner yang butuh perjuangan
Dinner yang butuh perjuangan

Saya puas sekali dengan pesanan saya, daging bebeknya empuk dan gurih. Ada salad dan wedges kentang yang disajikan bersama keju dan krim. Cukup kenyang buat satu orang, bahkan bisa buat berdua. Sedangnya pesanan Brewok, Beef Carpacionya, agak mengecewakan, tidak sesuai selera kami, itu juga hanya sebagai makanan pembuka. Disajikan sepertinya setengah matang dan dingin, dan diberi asam. Tapi habis juga kami santap. Pasta Pennenya lumayan lezat, wangi. Kami duduk juga tidak lama, sampai disana saja sudah hampir pukul 10. Resto ini beroperasi pukul 11 pagi sampai 11 malam, tutup setiap hari Senin. Saat membayar, semua makanan tersebut dihargai 220 ribu. Dan tidak ada Ppn! Semua harga makanan & minuman sudah termasuk pajak dll. Saya acungi 4 jempol dari 5 jempol saya untuk resto ini. Kenyang perut, saatnya pulang dan beristirahat. Worthed untuk memperoleh buncit besok pagi. Oh ya, saya diundang Mbak Maya untuk bakar Sate Klathak besok pagi di rumahnya di Kaliurang. Jam 7 pagi, duh?! Pagi sekali.

HOMEMADE SATE KLATHAK (PART 4) DAN ICIP-ICIP KUE DI CINEMA BAKERY

Mbak Maya benar-benar menjemput saya jam 7 pagi, sampai di rumahnya di Kaliurang jam 8. Bersama satu teman Mbak Maya dari Tasikmalaya, Mbak Vina, kami bertiga langsung beraksi di dapur. Dibantu ayahnya Mbak Maya, kami memotong-motong daging domba muda, menusukkan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Dibakar oleh ayahnya Mbak Maya. Kira-kira kami dapati 35 tusuk. Habis kami santap berempat, diteras rumah Mbak May, digelar tikar, ada kolam dan banyak tanaman. Duh saya betah sekali dengan suasana-suasana seperti ini. Saya makin sedih menjelang pulang.

Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya
Sate Klathak Party di rumah Mbak Maya

Yuk makan sate klathak
Yuk makan sate klathak

Jam 1 siangnya saya ada janji makan siang dengan Brewok dan temannya di dekat XXI Empire, Resto Platers. Saya diantar Mbak May lagi. Duh saya merepotkan Mbak Maya sekali, jauh dari rumahnya. Saya hanya beri hadiah kuping-kupingan kucing yang dia sukai dari Popcon Asia di Jakarta kemarin. Selesai makan siang dan chit-chat sebentar, saya dan Brewok mau nonton bioskop di XXI. Mission Impossible: Rogue Nation. Saya membayangkan nonton dengan romantis. Yang saya dapati? Dia tidur. Okay. Spesial sekali. Mungkin dia punya momen yang lebih romantis dalam mimpinya.

Cinema Bakery
Cinema Bakery

Setelah usai film, kami menyeberang, ada Cinema Bakery, beberapa hari di Jogja saya tiba-tiba ingin makan kue-kue cantik yang enak, saya diberitahu teman bahwa bakery ini enak, pemiliknya orang Prancis. Saya tahu disini tidak memiliki cafe pattiserrier sebanyak Medan. Konsep cafe ini adalah cinema, dekorasi interiornya berhubungan dengan film-film. Unik dan luas, juga nyaman. Ada ruangan yang mungkin bisa digunakan untuk nonton film bareng. Saya langsung panik memesan beberapa kue, harganya relatif murah ketimbang kue-kue cantik di Medan bahkan (maaf) banyak yang rasanya kurang sesuai dengan harga. Harga disini berkisar belasan ribu sampai 35 ribu. Saya pesan cake Tiramissu kesukaan saya, Red Velvet, dan Brewok mau Strawberry Shortcake dan sebiji macaron. Minum espresso dan lemon squash. Selesai itu, saya pesan Quiche Beef lagi. Total semua? 160 ribu sekian. Kenyang super (lagi), worthed untuk membuncit (lagi). Good days for satisfy my belly, tasted very good.

Kue-kue Cinema Bakery
Kue-kue Cinema Bakery 

LAST DAY IN JOGJA, HUTAN PINUS, DAN SATE KLATHAK (LAGI)

Hari terakhir di Jogja, saya mulai lemes. Brewok bertanya kemana lagi saya hendak pergi. Saya sudah kehabisan ide, juga tidak ingin terlalu capek. Dia punya ide mengunjungi Hutan Pinus di Imogiri. Kami berangkat siang itu. Jarak ditempuh sekitar 40 menit. Di perjalanan kita bisa melihat kota Jogja dari ketinggian, Mangunan, dari celah-celah pohon kayu putih. Jalannya masih berbelok curam dan naik turun. Syukurlah tidak banyak dan tidak terlalu parah. Memasuki kawasan tersebut, disuguhi pemandangan pohon-pohon pinus yang tinggi-tinggi menjulang. Sayangnya saya kurang bisa menikmati karena di perjalanan saya kelilipan abu rokok Brewok, yang membuat saya rusak mood seharian (pemirsa sekalian, harap kurangi/ hindari rokok ya). Kami berfoto di sela-sela pohon pinus. Sesekali memandang ke atas menikmati suara-suara yang dihasilkan oleh gesekan ranting di atas sana. Teduh dan tenang.

Perjalanan menuju hutan pinus
Perjalanan menuju hutan pinus
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan pinus yang udaranya sejukkkkkkkk segarrrr
Hutan Pinus
Hutan Pinus
Langit-langit yang cantik ya...
Langit-langit yang cantik ya…

Tampak juga banyak pasangan yang menikmati momen romantis disana (ngenes, dapat pasangan yang nggak romantis). Ada photoshoot cosplay juga. Kami jalan menaiki bukit, ada tempat di mana mereka membangun beberapa rumah pohon tanpa atap. Cukup memancing adrenalin untuk memanjat ke atas, di terpa angin kencang dan pondoknya bergoyang, dibangun di antara dua pohon tinggi. Mood booster saya juga setelah mencoba itu. Antara excited dan ketakutan.

Berani nyoba?
Berani nyoba?

Tak lama, kemudian kami turun, menjelajahi satu jalan kecil, sekitar setengah kilo ke bawah, ada Batu Tumpeng, hanya batu-batuan yang saling bertindihan. Kami kembali ke pintu masuk, ada petunjuk suatu mata air, sekitar 1 km masuk. Kawan-kawan tidak perlu masuk, cukup jauh ke bawah, dan ternyata mata air yang sudah dimodif, bukan alami. Sudah cukup lelah kami menjelajah, kami pulang.

Melewati Imogiri, tebak apa yang saya singgahi lagi di Imogiri? Betul. Sate Klathak lagi. Ehehe, ke-6 kalinya. Tapi kali ini saya ingin Tengkleng, kata Mbak Vina itu enak sekali, klamut-klamut daging yang melekat pada tulang-tulang, mungkin iga atau semacamnya. Kami ke Pak Pong yang terkenal dan biasanya ramai itu. Terrrnyata, Tengklengnya kosong. Saya sedih dan menyesal baru ingin mencarinya sekarang, di saat-saat terakhir. Akhirnya saya pesan Tongseng saja, bentuknya potongan daging, dengan kuahnya. Brewok pesan klathak, saya pasti merampoknya. Penuh perut, dan kami pulang. Saya beberes, packing untuk pulang ke Medan besok.

Makan di Pak Pong (lagi)
Makan di Pak Pong (lagi)

PULANG KE JOGJA LAGI LAIN KALI!

Pulang? Jogjalah sebenarnya tempat saya (dan banyak orang) berpulang. Jogja adalah kota dimana semua orang merasa nyaman, hangat, dan tenang. Saya akan pulang ke Jogja lagi tahun depan, doakan. Juga berencana mengunjungi tempat-tempat lain, nominasinya Surabaya, Bromo, Bali. Sudah cukup perjalanan hampir sebulan ini, kantong juga sudah kosong, terima kasih buat kawan-kawan semua, Mbak May, terlebih tur guide saya , Mas Brewok. Hahaha. Puji kepada Tuhan dengan segala keindahan alamnya dan saya bersyukur dan pantas bisa meluangkan waktu dan hartaku untuk mengaguminya. Sampai jumpa, Java. Semoga tulisan saya ada manfaatnya bagi teman-teman yang akan mengunjungi tempat-tempat istimewa ini, indah rasanya bisa saya bagikan pengalaman berharga ini dalam tulisan panjang lebar begini supaya bisa dinikmati. Hahaha! Semoga ya….

Studionya Mas Brewok
Studionya Mas Brewok

Yang berkunjung / berdomisili di Jogja, jangan sungkan untuk mengunjungi workshop kerajinan kulit Monkey x Rabbit milik Brewok di Dusun Karangnongko, Sewon, Bantul, kontek aja 089669974368. Maaf promo dan bukan titipan sponsor. :p

(END)

SEBULAN KELILING JAWA (PART 5)

Teks oleh Sal Nath

Foto: Dokumentasi Pribadi Sal Nath

Editor: Eka Dalanta @EkaDalanta

PERJALANAN KE SEMARANG DAN MUSEUM KERETA API AMBARAWA.

Rencananya berangkat ke Semarang pagi-pagi sekali tapi karena tadi malam kami kecapaian, akhirnya kami berangkat pukul 2 siang, dengan badan pegal-pegal. Saya dapat informasi kalau berangkat siang akan terjebak macet. Yasudahlah saya pasrah saja. Dari Jogja ke Semarang akan melewati Magelang, Soropadan dengan wisata pasar buahnya, Banaran, dengan kebun kopinya, Ambarawa dengan rawa bening dan museum kereta api kunonya, lalu Ungaran dengan candi Songonya.

Kami hanya singgah ke Ambarawa Railway Museum, sebuah museum kereta api kuno, dibangun tahun 1976 di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Dengan membayar kalau tidak salah 10 ribu rupiah, kami berfoto ria di beberapa gerbong kereta api kuno yang dipajang, juga di bekas stasiun yang nuansanya sungguh eksotik di mata saya. Di sini juga ada fasilitas berkeliling Ambarawa dengan kereta api kuno, dengan membayar 50 ribu rupiah perorangnya, tetapi hanya beroperasi pada hari Minggu dan hari libur. Sayang sekali kami tidak bisa mencobanya. Puas menikmati, kami bergerak lagi.

Ambarawa Railway Station
Ambarawa Railway Station
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Foto-foto di gerbong tua kereta api
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Duduk menikmati suasana stasiun kereta yang sudah tua.
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman
Suasana masa lalu yang membuat perasaan nyaman

Sampai di Semarang, di rumah keluarganya nya Mas Brewok, di Kaligawe, salah satu jalan Pantura, kami langsung tepar. Tapi sempat dong makan ayam bakar dulu di warung kecil simpang rumah.

Besok paginya, setelah main ke rumah sebelah yang juga saudara Brewok, saya diajari menembak dengan senapan angin milik Papa Brewok, seperti janjinya. Berkutatlah saya dan Brewok dengan senapan angin dibawah terik matahari di kebun sebelah rumah, senapan ini tidak pernah dipakai untuk menembak makhluk hidup, hanya untuk olahraga. Dari sekitar 7 kali mencoba, hanya sekali, kena sasaran. Saya menyerah. Terik matahari di Semarang cukup luar biasa. Apalagi rumah Brewok di dekat pantai. Pantai yang main ke rumah. Hehehe. Maksudnya adalah air pasang yang masuk ke dalam rumah, tanah Semarang tiap tahunnya turun 5cm.

Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.
Belajar menembak dengan senapan angin milik Papa Mas Brewok.

CAFE IGA BAKAR DAN ANGKRINGAN PINGGIR JALAN

Esoknya kami ada janji bertemu Febri di tempat kerjanya, di Tandhok Ribs & Coffee Jl. Papandayan. Saya jadi ingin Iga Bakar. Sekalian kopdar bareng teman-teman Semarang lainnya. Mengobrolkan gambar, pekerjaan, hobi. Saya order seporsi iga bakar seharga 45 ribu. Sebenarnya saya mau order lagi karena nafsu makan masih menggebu-gebu, tapi teralihkan karena obrolan dan candaan kami terlalu seru malam itu. Sampai cafenya tutup, saya belum ingin pulang. Pukul 10 malam, kami mutar-mutar mencari tempat tongkrongan, kami dapati angkringan yang masih buka, di simpang Jl. Menteri Supeno. Saya sungguh bersyukur, setiap saya mengunjungi Semarang, saya diajak nongkrong di pinggir jalan sungguhan seperti ini. Duduk beralaskan tikar di atas trotoar di persimpangan. Makan nasi kucing dan beberapa gorengan, tentu saja murah meriah. Sampai pukul 12 malam kami bubar. Entah kenapa momen malam itu ‘sesuatu’ sekali, saya menikmati malam, melupakan semua keluh kesah sesaat, bersama orang-orang yang menyenangkan dan jauh dari realita kota asalku. Memandang malam dan teman-teman ini, saya banyak bersyukur, walau kadang mereka ngobrol tanpa subtitle.

Iga Thandok, makan iga dulu.
Iga Thandok, makan iga dulu.
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe
Makan di angkringan pinggir jalan selalu menyenangkan. Dengan teman-teman lokal yang terkadang ngomong tanpa subtitle. Hehehe

MENCARI ES KRIM DI TENGAH TERIK SEMARANG

Well, sore besoknya saya bersama dua mas-mas sangar ini nongkrong di Cafe Es Grim House, saya ingin mendinginkan efek cuaca panas Semarang ini. Sepertinya agak sulit menemukan cafe yang menyediakan menu-menu es krim di sini. Dan ternyata sajiannya juga tidak terlalu istimewa seperti yang saya bayangkan, seperti tempatnya juga, yang sederhana. Tidak seperti kota Medan yang kian ramai dengan cafe-cafe cantik yang menyediakan menu es dan kue-kue yang ‘wow’, harga juga ‘wow’ sih. Harga makanan di Semarang masih tergolong standar dan cocok di kantong. Walau tak semurah Jogja.

Bosan nongkrong melihat mereka mengobrol tanpa subtitle, saya ingin mencicipi lumpia. Sempat kecewa siang tadi karena kehabisan lumpia basah (non halal) yang terkenal di Jl. Lombok, daerah Pecinan dekat kali. Jika pengen sekali, ternyata harus memesan pagi-pagi, sebelum kehabisan. Di sebelahnya ada warung es campur dan sejenisnya yang juga terkenal, banyak artis makan disitu. Dalam pencarian darurat, kami memilih Lumpia Express, di Jl. M.T.Haryono. Sebuah restoran yang menyediakan lumpia siap saji, bermacam pilihan dengan range harga belasan ribu. Singkat cerita saya tidak begitu suka, entah memang resto tersebut yang rasanya kurang enak atau rasa lumpia di Semarang itu memang seperti itu, hanya kurang cocok dengan lidah saya. Saya memang tidak sempat mencicipi di tempat lain, besok kami akan melanjutkan perjalanan ke dataran tinggi Dieng.

Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.
Lumpia express. Semoga lain kali bisa nikmatin lumpia dan menemukan rasa terbaiknya.

ROAD TO DIENG, DESA DI ATAS AWAN

Berangkat ke Dieng jam 7 pagi dari rumah, saya sangat mengantuk. Ini pertama kalinya saya menderita kantuk akut di atas motor, sampai membahayakan diri. Beberapa kali saya tertidur di boncengan, masih satu jam pertama. Mas Brewok setiap menyadari saya tertidur, dia pelankan motor dan membangunkan saya. Sampai kesekian kalinya, kami memutuskan untuk berhenti untuk beristirahat di depan Indomaret daerah Temanggung, yang menyediakan meja dan kursi. Saya dengan lunglai langsung duduk dan meletakkan kepala di atas dekapan tangan di atas meja. Saya tidur kurang lebih 10 menit, sampai mengences. Hahaha. Lalu kami mengemil dan minum sebotol kopi, sambil saya mengumpulkan nyawa.

Kami melanjutkan perjalanan. Sudah segar. Tiga jam sisanya saya celingak-celinguk menikmati pemandangan. Dari Temanggung, menuju Wonosobo. Sepanjang perjalanan sudah banyak kebun dan barisan gunung tampak dari kejauhan. Yang perlahan mendekat. Kami memutari gunung, dataran tinggi Dieng letaknya di balik Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Memasuki kabupaten Wonosobo, saya mulai merasakan hawa sejuk. Suhu pada siang hari berkisar 12o-20o C dan malam hari mencapai 6o-10o C, pada musim kemarau (Juli-Agustus) subuhnya terkadang mencapai 0oC! sampai membekukan embun! Ketinggian Dieng ini 2000m di atas permukaan laut. Saya sungguh tidak sabar menikmati keindahan dan petualang di atas sana.

Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Gunung Sumbing, dalam perjalanan menuju Dieng.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.
Desa di atas awan. Pemandangan yang memukau.

THE LEGENDARY ‘TELAGA WARNA’

Tahu-tahu kami sudah memasuki area wisata Telaga Warna, jam menunjukkan pukul 12 siang, sesuai rencana, kami memang akan mengunjungi tempat wisata dahulu lalu beristirahat di kerabatnya Brewok di daerah Batur Banjarnegara. Membayar tiket seharga 5 ribu perorang, tak jauh dari pintu masuk, pemandangan Telaga Warna yang legendaris itu sudah menyapa. Saya dan Brewok iseng bermain turis-turisan, karena saya sering sekali dikira warga asing. Kami berbahasa enggris seharian, hahaha!

Telaga itu sedang sedikit surut karena kemarau. Kami berjalan memutari telaga, berfoto di padang rumput kering. Kami juga menyinggahi beberapa gua di situ. Tapi banyak yang sedang ditutup. Sambil berjalan santai menikmati, saya teringat, bahwa orang-orang sepertinya mengambil foto dari ketinggian, saya penasaran dimana ada jalur yang lebih tinggi, ternyata Mas Brewok juga. Tak lama berjalan, ada sebuah jalur kecil yang tampaknya menuju atas, kami langsung bergegas naik. Tanah pasir berdebu sedikit mengganggu, syukur kami punya masker. Jalannya cukup sempit dan licin karena pasirnya. Tiba di suatu ketinggian dimana tampaknya cukup bagus mengambil foto, kami berhenti, sambil ngos-ngosan. Menikmati keindahan alam ini, telaga indah yang dikelilingi bukit tinggi. Warnanya benar mempesona. Dinamai Telaga Warna ya karena konon warna air di telaga ini berubah-ubah, menjadi biru, hijau, dan kuning. Penyebabnya adalah kandungan sulfur yang tinggi.

Telaga warna
Telaga warna yang indahnya amat memanjakan mata
Masih Telaga Warna
Masih Telaga Warna

Lalu kami memandangi jalur selanjutnya, ragu dalam hati untuk melanjutkan atau tidak, karena sudah cukup lelah sampai disitu. Tak sampai semenit berpikir, kami naik, berharap mendapati kesempatan lebih bagus. Tapi sialnya, sekitar 200 meter menaiki itu, saya merasa jalur ini memang sudah di puncak bukit, tapi, arahnya ke hamparan kebun dan sawah, telaganya sama sekali tidak tampak. Sambil bernafas keras, kami turun lagi. Di depan kami ada cabang jalur. Firasat saya merupakan rute lebih singkat untuk turun, semoga tidak salah. Voila, benar… kami sampai di tepi telaga di sisi lainnya. Mendapati beberapa wisatawan sedang berjalan juga. Mendekati tempat awal kami memulai, ada penjual jagung bakar, dan tempat yang asik untuk duduk. Tentu saja kami makan jagung bakar, sebatang berdua, duduk di sebuah teras, di tepi telaga. Saya mengamati dari jauh, sebuah maskot hidup Mickey Mouse yang kesepian, jasa berfoto bersamanya dikenakan biaya 5 ribu, tak ada seorang pun menghiraukannya, aku membayangkan siapa dan bagaimana wajah dibalik kostum itu.

Beberapa meter dari si Mickey Mouse, ada sekelompok orang yang memainkan alat musik sederhana sambil bernyanyi, bintangnya adalah seorang gadis kecil yang berjoget ria menghibur pengunjung. Letak mereka tepat setelah pintu masuk. Iringan musik itu membuat si Mickey Mouse sedikit ikut bergoyang. Tapi tetap saja membuat saya sedih melihatnya.

Telaga Warna lagi.
Telaga Warna lagi.
Nikmati keindahan Telaga Warna
Nikmati keindahan Telaga Warna
foto 55-telaga warna (6)
Melompat dan berbahagia di pemandangan cantik seperti ini

KAWAH SIKIDANG & KOMPLEKS CANDI ARJUNA

Well, kami keluar dari situ dan mengunjungi tempat wisata selanjutnya, tak jauh dari situ. Kawah Sikidang, membayar 10 ribu sudah termasuk mengunjungi kompleks candi Arjuna yang juga terletak dekat dari situ. Memasuki area kawah, berbatu-batu, naik turun, berpasir putih, ada kuning-kuningnya, itu belerang. Ada yang sedang foto prewedding. Lumayan luas, dari kejauhan tampak asap putih, uap panasnya lumayan terasa dari jauh, beberapa rombongan juga berjalan menuju ke situ.

Di sana ada sebuah kolam yang dipagari, mata airnya mendidih dan beruap, sampai saya awalnya tidak melihat ada mata air di situ karena dikepul uap. Kawah Sikidang ini mempunyai cerita legenda tentang seorang pemuda berkepala Kijang yang dijebak dan terkubur di sana oleh wanita yang menghindari lamarannya, ini link cerita legendanya http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/264-legenda-kawah-sikidang

Kawah ini masih aktif sampai sekarang dan mengeluarkan uap panas yang berganti-ganti posisinya. Ada banyak kawah di Dieng, beberapa dijadikan pembangkit listrik tenaga uap.

Sikidang
Sikidang

Foto 57-sikidang (2)

 

Masih Sikidang
Masih Sikidang

Foto 59-sikidang (4)

Selesai dari situ, kami pergi ke Kompleks Candi Arjuna. Ada 5 candi kecil, yaitu Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembrada. Sebuah prasasti di dekat Candi Arjuna, menunjukkan pembangunan Candi sekitar 809 SM. Wow. Kemudian kami melihat ada bapak dengan kuda, rupanya berjualan jasa menunggangi kuda, kami tergoda mencoba. Menyenangkan sekali! Tapi andai kudaku yang putih dan besar, bertanduk dan bersayap (does unicorn exist?). Saya sudah lelah, jam menunjukkan pukul 5 sore. Kami bergegas menuju Batur, kediaman kerabat Brewok yang hendak kami tumpangi. Pemandangan jadi senja, dan kami menembus awan.

Desa di atas awan
Desa di atas awan
Senja yang memikat
Senja yang memikat
Komplek Candi Arjuna
Komplek Candi Arjuna

 

Di Komplek Candi Arjuna
Di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna
Kuda-kuda di Komplek Candi Arjuna

 

Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. :D
Ada Cowboy di Komplek Candi Arjuna. 😀
Candi Arjuna
Candi Arjuna

 

https://youtu.be/Mgdg-xlc8b4

https://youtu.be/Nw2e4J-nNqw

SWEET PLACE TO REST, BATUR

Perjalanan sekitar 20 menit itu kami jalani dengan tubuh mengigil. Saya sempat merekam kami menembus kabut tebal alias awan. Ya, kami memang sedang berada di desa di atas awan. Tangan saya benar-benar mati rasa sampai terasa sakit saat merekam beberapa menit. Saya langsung pakai sarung tangan kembali setelah selesai merekam. Senja dan pemandangannya itu membuat saya hanya bisa terpaku diam. Antara dingin dan sulit bernafas karena Brewok membawa kencang motornya, wajah ditampar angin yang dingin, kaki saya mengigil naik turun sendirinya. Kami memasuki sebuah perkampungan, desa Batur Kota Banjarnegara.

Setibanya di rumah saudara Brewok, saya sedikit lega karena tidak sedingin di luar. Lantainya dialasi karpet. Lantai dapurnya plasteran semen, disediakan beberapa sandal, saya coba berjalan tanpa sandal itu, diiingiin. Saya mau buang air, toiletnya di luar rumah, dengan halaman penuh bunga yang tumbuh subur di depannya. Saya coba memasukan tangan ke dalam airnya, wooww, seperti air es. Tapi percaya atau tidak, saya mandi dan keramas setelah itu. Karena tidak tahan rasanya sudah kotor dan rambut lepek hari itu. Penduduk disitu juga nggak rutin mandi setiap hari lho. Ya maksud saya, selain karena merasa kotor, juga sebagai tantangan, pengalaman berharga, toh untuk pertama dan terakhir di situ edisi tahun ini, besok pagi tampaknya tidak akan bisa mandi.

Brewok hanya berani cuci muka dan gosok gigi. Hih! Kami mengobrol sampai larut malam, sempat membuat pemanas dengan arang dibakar di dalam sebuah tungku, perapian ala kami. Lagi-lagi tidak ada subtitle yang di-instal. Baiklah lalu kami bubar dan tidur. Kasur dingin-dingin empuk dengan selimut super tebal dan berat. Seketika langsung terlelap, serasa di kamar ber-AC. Sialnya saya terbangun pukul 5 subuh dan ingin buang air kecil. Harus… keluar rumah… gelap… dan airnya dingin sekali. Tapi percayalah saya malah excited sekali. Lalu kembali tidur, menahan excited subuh-subuh itu.

Desa Batur
Desa Batur

MENUJU CURUG SI KARIM, KEMBALI KE JOGJA

Seperti biasanya kami ‘mengecas’ energi terlalu lama, tadinya akan bergerak jam 8, akhirnya kami bergerak jam 10. Menuju Air Terjun Si Karim. Kata penduduk, dari sini sudah dekat, tapi jalannya rusak parah, ada jalan lebih mulus tapi harus memutar ke kota. Brewok mau mencoba melalui rute rusak itu. Awalnya ‘biar dicoba dulu’ tapi sesampainya kami disana, suatu jalan kecil yang menurun, sepertinya tidak ada kata untuk kembali. Jalannya terjal turun dan berkelok ekstrem, masih dengan membawa ransel besar di antara kakinya. Jalannya rusak dan isinya bebatuan agak besar, kiri kanan tanaman. Saya memilih turun dan berjalan kaki di beberapa belokan terjal, sambil menenteng ranselnya, sedangkan Brewok cukup ahli pelan-pelan menyusuri jalan bebatuan itu. Ini memacu adrenalin sekali. Sepertinya Mas Brewok bukan orang yang takut mati. Sayang saya tidak sempat mengambil foto jalanan tersebut. Karena berkonsentrasi dan agak tegang. Lumayan jauh turunnya, sekitar 4 km dengan turun mengesot dan berbelok-belok ekstrem seperti itu.

Saya yakin juga sampai disana, ada jalur keluar ke kota yang disebutkan mereka, kalau untuk naik saya pesimis sekali, kelihatan mustahil. Kami sampai dan menghela nafas panjang. Sebuah tebing batu yang gersang dengan kucuran air yang… tidak terlalu deras. Ada beberapa orang yang sedang bermain air di atas sana, kemudian pergi tak lama sesudah kami sampai. Saya senang memanjat. Saya naik duluan dan duduk-duduk. Saya tanya pada Brewok apakah dia bisa memanjat ke tempat yang lebih tinggi itu untuk berfoto. Mas Brewok kelihatannya ragu untuk memanjat, tapi kemudian dia memanjat dengan hati-hati. Sedikit mengeluh licin karena banyak lumut, dan mulai khawatir untuk melanjutkan. Walau akhirnya dia sampai di tempat yang saya tunjuk, saya mengambil beberapa foto lalu dia kembali. Oopps… brewok tergelincir! Dia jatuh tengkurap bergantung disana. Setengah badannya sudah basah. Sebelah tangannya berpegang pada batu yang kering.

Saat itu saya masih santai melihatnya dari bawah, berharap dia masih ada kesempatan untuk bangun, tapi kelihatannya tidak. Malah dia bilang biar dia seluncuran ke bawah saja, saya bilang itu tindakan yang gila, minimal luka berat, patah tulang atau kebentur kepala, kalau dia mati atau kenapa-kenapa di situ saya bagaimana pulangnya. Tidak ada orang yang bisa menolong juga di situ. Saya pun segera memanjat, entahlah bagi saya mudah sekali memanjatnya, walau kaki sedikit basah. Tidak selicin yang dia bilang juga. Dia sempat melarang saya naik menolong. Tapi saya sudah sampai di atas dan menariknya. Saya duduk disitu, melihat-lihat pemandangan lagi. Dia turun perlahan dengan kondisi cukup kacau. Mungkin ada memar, bahu pegal, baju dan celana basah juga ada tambahan aksesoris lumut di pakaian. Kami kenakan sepatu dan siap-siap pualng. Masih tertawa-tawa dengan kejadian tadi. Syukurlah tidak kenapa-kenapa, syukurlah ada saya. Ho-Ho! *ejekBrewok

Curug Sikarim
Curug Sikarim
Curug Sikarim juga
Curug Sikarim juga

Setelah tenang, kami tancap gas keluar dari situ, keluar ke Wonosobo ‘mengisi perut’ sebentar lalu melanjutkan perjalanan. Kata Brewok dari sini ke jogja hanya sisa sekitar 3 jam. Sedikit lega, walau saya memang sudah mulai terbiasa dengan perjalanan jauh seperti itu. Hanya saja punggung, pinggang sampai bokong saya yang terasa lelah sekali, banyak menahan berat badan saat jalanan naik turun terjal. Satu jam terakhir, kami sedang berada di Magelang dan beristirahat. Brewok bertanya apakah berniat untuk singgah ke Borobudur, walau kami sudah pernah mengunjunginya tahun lalu. Mungkin untuk mengusir rasa mualku di perjalanan (padahal naik motor kan), saya mengiyakan.

Membayar 30 ribu perorang, saya sempat dicurigai sebagai warga asing, karena turis asing harga tiketnya lebih mahal. Spontan dong kami tidak main bahasa inggris-inggrisan lagi, saya berbahasa dengan logat Medan yang agak kental untuk bertanya toilet di mana, barulah mbaknya yakin saya orang Indonesia. Si Mbak memberitahu bahwa tempat itu akan tutup pukul 5. Jam menunjukkan pukul 4 lewat. Saya baru sadar. Yasudah kami bergegas masuk. Yang saya keluhkan adalah jarak dari parkiran ke candinya lumayan jauh, apalagi kami sudah sangat lelah, Brewok menenteng ransel yang lumayan berat itu. Dia kelihatan lelah dan berkeringat.

Menaiki tangga depan Borobudur, kami beristirahat di bangku batu di teras di depan candi. Saya katakan bahwa saya akan berkeliling sendiri saja dan dia bisa duduk beristirahat di situ. Dia tidak mau. Saya ngotot mau jalan sendiri, dia jalannya sudah sempoyongan dan lambat. Saya akhirnya naik dan memisahkan diri. Saya naik sampai atas, saya pergi ke arah barat, di mana pemandangan senja dan matahari terbenam sungguh indah dari sana. Saya duduk, saya tahu Brewok akan ke situ juga. Beberapa menit kemudian, dia muncul. Saya ajak duduk di tepi teras, di antara stupa. Banyak bule sedang bersantai dan berfoto juga.

Semua mulai bubar setelah ada announcement tempat sudah mau tutup dan dihimbau untuk turun. Brewok rebahan beralaskan ransel, saya menikmati pemandangan beberapa saat lagi. Lalu kami bersiap-siap pulang. Rute pulang dialihkan, tidak sama dengan rute kedatangan, diputar agak jauh dan melalui pasar-pasar yang menjual oleh-oleh dan kerajinan tangan. Juga museum. Singkat cerita, kami sampai di Jogja dan tepar sampai besok siang. (to be continued)